Terima kasih kepada mitra kerja PA (Pemimpin Adat) Khalid Bin Walid Siti Khadijah UIN Mataram yang telah membantu, menyemangati dan sering menjadi teman di UKM tercinta hingga saat ini. Akhir kata, terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penulisan skripsi ini, semoga amal baik yang diberikan dicatat sebagai amal baik oleh Allah SWT.
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana implementasi ketentuan Pasal 44 Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2013 Tentang Administrasi Kependudukan Sebagai Bukti Memperoleh Harta Waris oleh Pengadilan Agama Praya, dalam penelitian ini tujuan penulis pada dasarnya adalah untuk memperoleh data dan informasi mengenai alat bukti sebagai alat bukti untuk memperoleh harta guna mengungkap mengapa Pengadilan Agama Praya tidak menerapkan Pasal 424 Undang-Undang tentang hal-hal yang tidak berkaitan dengan hakikat hukum. Menurut Pasal 44 Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2013 tentang Kedudukan Administrasi Pendapatan terdapat ketidaksesuaian dalam pelaksanaannya dan untuk mengetahui upaya hukum yang timbul dari ketidaksesuaian tersebut dari keputusan penetapan yang dikeluarkan oleh Badan Registrasi Nasional. Hasil kajian terhadap ketentuan Pasal 44 Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2013 tentang Administrasi Kependudukan sebagai bukti memperoleh waris di pengadilan agama telah menyimpulkan bahwa dalam proses pembuktian yang diadakan di Pengadilan Agama Praya Kelas 1-B memenuhi ketentuan, ada pihak yang menerima putusan, dan tentu saja ada pihak yang menerima putusan tersebut, dan tentunya ada pihak yang tidak menerima, hal itu terungkap karena tidak menerima, hal itu terungkap. menimbulkan tuntutan hukum berupa gugatan (contentiosa).
PENDAHULUAN
- Konteks Penelitian
- Fokus Penelitian
- Tujuan Dan Manfaat
- Telaah Pustaka
- Kerangka Teoritik
Apa faktor yang menyebabkan PA Praya tidak melaksanakan UU No. 24 Tahun 2013 Sebagai Bukti Warisan? Manfaat Praktis Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan praktis kepada masyarakat tentang pentingnya akta kematian sebagai alat bukti untuk memperoleh warisan.
د ْ دح
Sebagai ajaran, Hukum Pusaka Islam yang biasa disebut "Faraid" di kalangan ulama terdahulu, mewajibkan umat Islam menjadikannya sebagai garis panduan dalam melakukan perkara yang selaras dengan harta pusaka. Apabila berlaku kematian dalam kalangan orang Islam dan si mati meninggalkan harta, orang Islam hendaklah merujuk kepada ajaran agama yang tertulis dalam faraid, seperti mana yang berlaku dalam ajaran lain, mengenai ke mana dan bagaimana harta si mati dipindahkan.
ع طي ٌْنم
Jika dia beramal dengan apa yang diajarkan agama tentang harta pusaka, dia akan mendapat galakan dan pujian daripada Allah seperti yang terdapat dalam al-Quran, Surah An-Nisa’ ayat 13;.
لْ سر ٌّٰ
هْ خْدي ٌ ه
تٰنج
ي رْجت
ن م تْحت
ز ْ فْلا
ي ظعْلا
Metode Penelitian
- Jenis dan Pendekatan Penelitian
- Kehadiran peneliti
- Lokasi penelitian
- Sumber dan Jenis Data
- Prosedur Pengumpulan Data
- Analisis data
- Validitas Data
Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif, yaitu suatu pendekatan penelitian yang mengungkapkan secara akurat situasi sosial tertentu, dibentuk dengan kata-kata berdasarkan teknik pengumpulan dan analisis data yang relevan yang diperoleh dari situasi yang alami. Data sekunder, yaitu data yang diterima atau dikumpulkan oleh orang yang melakukan penelitian dari sumber yang ada.34 dari bahan pustaka berupa peraturan perundang-undangan, buku, dokumen yang berkaitan dengan obyek penelitian dan subyek penelitian. Tujuan peneliti adalah untuk menjaring beberapa sumber data di atas sehingga dapat diperoleh data yang handal dan akurat.
Adapun sumber data berupa dokumen atau arsip digunakan sumber dokumenter yaitu untuk mengetahui bagaimana kaitannya dengan penerapan UU No. 24 Tahun 2013. Observasi adalah pengamatan terhadap suatu objek yang secara langsung atau tidak langsung diteliti untuk memperoleh data yang akan dikumpulkan dalam penelitian.35. Dokumen-dokumen dalam penelitian ini yang akan penulis gunakan berupa catatan atau dokumen di Pengadilan Agama Praya.
Data yang diperoleh dari lapangan cukup banyak, sehingga perlu dicatat dengan cermat dan detail.Mereduksi data berarti meringkas, memilih hal-hal yang paling penting, memfokuskan pada hal-hal yang penting, mencari tema dan pola. Triangulasi dalam penelitian ini adalah mengecek data tertentu dengan cara membandingkan data yang diperoleh dengan sumber lain. Dengan demikian data yang disajikan dalam laporan penelitian benar-benar valid, karena telah didiskusikan secara seksama dengan orang-orang yang pernah dan sedang melakukan penelitian serta yang secara rasional memahami masalah penelitian.
Jenis dan jumlah Perkara Gugatan dan permohonan Pengadilan Agama Praya klas 1 B Tahun 2014-2016 Agama Praya klas 1 B Tahun 2014-2016
Pengakuan yang dibuat dihadapan hakim dan merupakan alat bukti yang sempurna diatur dalam pasal 174 HIR. Macam-macam alat bukti yang harus dibuktikan di muka sidang di Pengadilan Agama sebagaimana terdapat dalam hukum acara perdata untuk membuktikan suatu peristiwa, ada beberapa cara yang harus ditempuh, beberapa di antaranya diatur secara tegas dalam KUH Perdata, seperti Pasal 1866 BW yaitu alat bukti tertulis, alat bukti saksi, alat bukti dugaan, alat bukti pengakuan dan alat bukti sumpah. Wawancara Muniroh S.H : dalam pembuktian harta peninggalan disini hakim menggunakan akta kematian sebagai alat bukti untuk mendapatkan harta peninggalan, namun terkadang hakim dalam pengurusan perkara pewarisan juga tidak fokus pada pembuktian tersebut, disini hakim juga memeriksa keterangan ahli dimana keterangan ahli merupakan pihak ketiga dari saksi.
Selain berbagai alat bukti yang peneliti sebutkan di atas, terdapat alat bukti lain yang dapat digunakan untuk memperoleh kepastian tentang kebenaran suatu peristiwa yang dipersengketakan, yaitu yang disebut keterangan ahli” adalah keterangan pihak ketiga yang bukan merupakan saksi yang bersifat objektif dan bertujuan untuk membantu hakim. Dari ketiga jenis surat yang telah dijelaskan di atas, surat digunakan sebagai alat bukti untuk meyakinkan hakim dan surat dibuat dihadapan pemerintah. Pembuktian pengakuan dalam arti penggugat memberikan keterangan yang tegas untuk memberikan kepastian kepada hakim tentang kebenaran suatu peristiwa, sedangkan pembuktian sumpah adalah pernyataan yang dibuat pada saat penggugat dan tergugat memberikan kesaksian.
Hasanudin bin Bapak Insih berumur 65 tahun, beragama Islam, bekerja sebagai petani, tinggal di Dusun Setanggor, Desa Tampak Siring, Kecamatan Batukliang, Kabupaten Lombok Tengah. Rumenah bin Amaq Muderah, 64, Muslim, petani, warga Dusun Mea Tema, Desa Elebung, Kecamatan Batukliang, Kabupaten Lombok Tengah. 50. Faktor Latar Belakang PA Praya tidak melaksanakan Pasal 44 UU No. 24 Tahun 2013 sebagai bukti penerimaan warisan no. 24 Tahun 2013 sebagai bukti penerimaan warisan.
Fotokopi silsilah Almarhum H.JAELANI tanggal 18 September 2015 yang dibuat oleh Hj.RAODAH dan diketahui oleh Kepala Desa Tampak Siring, dibubuhi stempel dan dicocokkan dengan aslinya dan dinyatakan sesuai, Ketua Majelis diberikan Kode Bukti P.1;. Fotokopi Surat Jual Beli Sawah tertanggal 15 Maret 1981 yang dibuat oleh pihak pertama dan pihak kedua diketahui oleh Kepala Desa Manggar, dicap dan dicocokkan dengan aslinya dan dianggap sesuai. Ketua Sidang Umum mendapat barang bukti kode P.2;. Amaq Yunus Alias Mr. Bidin, 70 tahun, beragama Islam, berprofesi sebagai petani, tinggal di Dusun Sanuk, Desa Tampak Siring, Kecamatan Batu Keliang, Kabupaten Lombok Tengah.
Saparti bin Bpk. Rusdi, 60 tahun, muslim, petani, tinggal di Dusun Sangguk, Desa Tampak Siring, Kecamatan Batu Keliang, Kabupaten Lombok Tengah. Atas dasar berita acara tersebut dalam alinea pertama, pegawai catatan sipil memasukkan akta kematian ke dalam buku register dan mengeluarkan kutipan dari akta kematian itu. Dalam hasil wawancara yang dilakukan disini, hal tersebut bertentangan dengan Pasal 44 Undang-Undang Nomor 24 Undang-Undang Administrasi Kependudukan Tahun 2013, dimana peneliti menjelaskan dengan sangat gamblang bagaimana Peradilan Agama tidak menerapkan undang-undang tersebut karena menurut Peradilan setempat cukup menggunakan silsilah dan penyidikan letak benda atau harta warisan yang terlantar sebagai bukti yang kuat untuk membagi harta peninggalan tersebut kepada ahli waris.
Selain penggunaan survei dan silsilah, saksi dan sumpah juga digunakan untuk memperkuat bukti di persidangan.52 karena menurut badan peradilan, dengan saksi, bukti dan sumpah, keputusan hakim sah, tetapi di sini kita kembali ke aturan yang diberikan oleh negara untuk cara pelaksanaannya di masing-masing lembaga peradilan tersebut. Maka menurut pandangan peneliti tentang kendala yang diungkapkan oleh bagian tata usaha di Pengadilan Agama Praya, menurut peneliti penting dalam mengajukan perkara ada bukti-bukti yang jelas agar bagian tata usaha dapat dengan mudah memproses pengajuan dari penggugat dan tergugat/pemohon serta termohon, sebagaimana diatur dalam UU No. rukun tetangga, dengan nama lain di tempat tinggal penduduk, kepada instansi pelaksana paling lambat 30 (tiga puluh) hari sejak tanggal meninggalnya. Peneliti merasa perlunya lembaga Pengadilan Agama Praya menerapkan aturan dalam memutus perkara waris sesuai dengan aturan yang dibuat oleh catatan sipil.
PEMBAHASAN PEMBAHASAN
Yang dimaksud dengan alat bukti adalah yang dapat memberikan informasi dan penjelasan atas masalah yang diadili di pengadilan. Berdasarkan informasi dan penjelasan yang diberikan alat bukti, hakim akan menilai pihak mana yang memiliki alat bukti terbaik. Jenis alat bukti yang digunakan sampai saat ini merupakan alat bukti yang diakui dalam perkara pidana dan perdata.
Dalam pemeriksaan perkara pidana, sesuai dengan ketentuan Pasal 184 KUHAP, alat bukti yang diakui secara ringkas terdiri atas keterangan saksi, keterangan ahli, surat, petunjuk dan keterangan terdakwa. Dan setelah dibuktikan dengan survey lapangan, peneliti dapat menggunakannya sebagai acuan untuk membandingkan bagaimana lembaga peradilan ini menggunakan teknik pembuktian tanpa melanggar Pasal 44 UU No. 24 Tahun 2013 tentang administrasi kependudukan untuk digunakan sebagai bukti perolehan harta warisan. Menurut analisa para peneliti disini, survey sebagai alat bukti dalam pembagian harta warisan memang cukup sebagai alat bukti otentik, yaitu suatu akta yang dibuat dihadapan pejabat yang berwenang memang akta otentik ini mempunyai kekuatan pembuktian yang sempurna selama tidak dapat dibuktikan oleh orang lain.
Faktor latar belakang PA Praya tidak sesuai Pasal 44 UU No. 24 Tahun 2013 lalu sebagai Bukti Perolehan Warisan 24 Tahun 2013 sebagai Bukti Perolehan Warisan tidak. Dalam proses pembuktian pembagian harta waris di Pengadilan Agama Praya, hakim hanya melihat alat bukti seperti sumpah dan pemeriksaan setempat (survey) yang diajukan ahli waris tanpa menyertakan akta kematian, sehingga Pengadilan Agama Praya tidak menggunakan akta kematian sebagai bukti memperoleh harta warisan. Cukup dengan menggunakan survey lapangan (penyelidikan lokal) sebagai alat bukti, maka dengan demikian hakim di Pengadilan Agama Praya menggunakan silsilah keturunan sebagai alat bukti untuk mendapatkan harta warisan. Latar belakang para hakim di Pengadilan Agama Praya dalam memutus sengketa ahli waris di Pengadilan Agama Praya tidak terpaku pada UU No. 24 pasal 44 tahun 2013 tentang Administrasi Kependudukan, karena sudah memiliki kekuatan alat bukti, seperti saksi tertulis dan sumpah.
SARAN