• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penetapan hukum di Indonesia

N/A
N/A
Agnesca Noelani Rouw Banua

Academic year: 2024

Membagikan "Penetapan hukum di Indonesia "

Copied!
3
0
0

Teks penuh

(1)

1. Penetapan hukum di Indonesia tentunya mengalami banyak di kaliku dan perubahan etika yang muncul. Banyak sekali penetapan hukuman yang diberikan sudah sesuai dengan pedoman hukum republik Indonesia dengan tindak perbuatan yang telah dilakukan oleh pelaku, tetapi tidak sedikit pula penatapan hukuman yang diberikan oleh hakim tidak sesuai dengan pedoman hukum di Indonesia beserta tindakan yang dilakukan oleh pelaku. Berikut merupakan kasus yang digolongkan baik sudah sesuai (+) dan kurang baik/ belum sesuai (-) dalam penetapan hukuman di Indonesia;

a. Kasus pertama yang kurang baik (-), yakni tidak pidana korupsi yang sedang ramai diperbincangakan pada saat pandemi covid-19, yakni korupsi terkait dengan Bansos Covid-19. Juliari Batubara adalah Menteri Sosial (Mensos) Kabinet Indonesia Maju yang terjerat oleh kasus korupsi bantuan sosial covid-19 Bansos pada 6 Desember 2020 oleh KPK. Kasusnya terungkap dan ramai diperbincangkan di sosial media dan media masa. Kasus korupsi bantuan sosial kofit 19 tidak hanya dilakukan oleh Julian batubara akan tetapi juga menyeret beberapa orang yang turut ikut serta dalam kegiatan korupsi tersebut yakni adalah Matheus Joko Santoso, Adi Wahyono, Ardian I M dan Harry Sidabuk. Bansos yang bernilai Rp. 5,9 Triliun yang diberlakukan selama 2 periode didapati kecurangan dengan pengambilan fee sebesar Rp. 10.000/ paket dengan total paket yakni 300.000 oleh maheus yang kemudia diberikan kepada Adi sebesar Rp. 12 miliar. Dari hasil tersebut senilai Rp. 8,2 miliar diberikan kepada Juliari oleh Adi yang kemdian digunakan untuk keperluan pribadi. Di periode kedua dilakukan kembali penyelewang dana hingga Rp. 8,8 miliar sehingga total yang didapatkan Juliari menurut KPK yakni sebesar Rp. 20 miliar.4

Juliari atas perbuatan yang dilakukannya dijerat dengan 12 Tahun penjara dan denda sebesar Rp. 500 juta oleh majelis hakim. Juliari disangka telah melanggar Pasal 12 huruf a atau Pasal 12 huruf b atau Pasal 11 Undang-Undang (UU) Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas UU Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Jo Pasal 55 ayat 1 ke 1 KUHP.

Wacana awal yang diberikan oleh hakim yakni adalah hukuman mati, akan tetapi karena adanya dukungan Julian Batubara yang cukup kuat dari golongan/perusahaan tertentu membuat hal tersebut tidak terlaksana. Majelis hakim juga memberikan ataupun menjatuhkan sebuah hukuman terhadap Julia di batubara yakni 12 tahun penjara dengan denda sebesar 500 juta yang dibebankan

(2)

kepada juliari batubara untuk membayar uang pengganti dengan jumlah Rp 14.590.450.000 atau sekitar Rp 14,59 miliar. Pidana tambahan yang diberikan apabila oleh juliari tidak diganti makan akan juliari akan dipenjara selama 2 tahun dan pencabutan hak atas politik selama 4 tahun. Selain itu Hakim memtuskan bahwa sanksi yang dijatuhkan kepada juliari sudah cukup adil karena sudah cukup menderita akibat dari sudah dicerca, dihina, dan dimaki oleh masyarakat Indonesia, alasan tersebut justru dinilai tidak masuk akal oleh masyarakat Indonesia sehingga banyak yang kecewa tterhadap keputusan hakim yang dirasa tidak masuk diakal.4

Masyarakat Indonesia banyak yang kecewa akan putusan yang diberikan oleh hakim. Hal tersebut masih kurang sepadan akan perbuatan yang dilakukan oleh juliari. Korupsi uang bansos sebanyak R. 32 M dan jualiari hanya membayar denda sebanyak Rp. 14 M dirasa masih jauh dari kata adil. Hukuman pidana penjara yang hanya diberikan selama 4 tahun juga sangat disayangkan karena masih dianggap tidak sepadan dengan nominal uang negara yang telah dikorupsi oleh Juliari.

b. Kasus penetapan hukuman (+) ke dua ialah, Pembunuhan Nasrudin. Nasrudin ditembak di kepala usai bermain golf di Tangerang, Banten, pada 14 Maret 2009.

Ketika mobil yang ia tumpangi bergerak lambat di tepian danau di dekat lapangan golf, tiba-tiba dua pria dengan sepeda motor muncul dari arah belakang kiri mmobil Salah satu pria kemudian mengeluarkan senjarta api laras pendek dan menambak Nasrudin sebanyak dua kali. Peluru bersarang di pelipis kiri korban. Akibat hal tersebut korban sempat dilarikan kerumahnsakit, sayangnya nyawanya sudah tidak tertolong.

Antasari pun dijerat dengan dijerat pasal 340 KUHP dengan ancaman maksimal hukuman mati.Pada 19 Januari 2010, Antasari dituntut hukuman mati oleh jaksa penuntut umum yang dipimpin Cirus Sinaga.Majelis Hakim PN Jaksel yang dipimpin Herry Swantoro pada akhirnya memvonis Antasari dengan hukuman penjara selama 18 tahun pada Januari 2010. Antasari terus mengajukan berbagai upaya hukum demi dibebaskan meski banding, kasasi, hingga peninjauan kembali (PK) telah ditolak.

Pada Selasa (28/4/2015), tim kuasa hukum Antasari mengajukan permohonan grasi ke Presiden Joko Widodo. Upaya tersebut didukung oleh keluarga Nasrudin. Hanya saja ditolak oleh presiden Jokowi. Antasari terus menjalankan hukumannya hingga selesai. Kasus diadili saat adilnya guna untuk memberikan efek jerawat kepada para pelaku pembunuhan dan hukum di Indonesia tidak mudah untuk dianggap ringan.

(3)

2. Menurut pendapat saya peradilan di Indonesia waktu ditegakkan kembali. Seluruh aturan maupun pedoman sudah ditetapkan pada undang-undang dasar negara republik Indonesia 1945, dan masih banyak lagi yang lainnya. Hanya saja di Indonesia dalam penetapan hukum man kepada para tersangka maupun para pelaku tindak pidana masih dirasa terkadang belum seimbang ataupun belum adil. Justru keadilan akan terus digali ataupun menekan para rakyat kelas bawah dan memberikan hukuman yang ringan kepada para elit politik maupun seseorang yang memiliki jabatan dan uang. Sebenarnya dasar hukum maupun landasan hukum di Indonesia sudah cukup baik hanya saja di Indonesia masih kekurangan orang yang jujur. Pada dasarnya Indonesia tidak kekurangan orang pintar, Indonesia hanya kekurangan orang jujur dalam mengemban suatu amanat ataupun memberikan keadilan yang menyeluruh kepada semua masyarakat ataupun semua pihak. Para pemegang kekuasaan ataupun para penegak hukum di Indonesia cenderung lemah terhadap uang, sehingga seperti inilah yang membuat Indonesia sulit untuk maju dan pemerataan keadilan belum tercapai secara sempurna.

Referensi

Dokumen terkait

Rahmad Parulian : Penetapan Sementara Pengadilan Niaga Dalam Hukum Merek Di Indonesia, 2006 USU Repository © 2008... Rahmad Parulian : Penetapan Sementara Pengadilan Niaga Dalam

PROSES PENYIDIKAN TERHADAP ANGGOTA POLISI REPUBLIK INDONESIA PELAKU TINDAK..

Sesuai dengan ketentuan Pasal 25 angka 1 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2018, proses hukum pelaku tindak pidana terorisme dalam sistem peradilan pidana di Indonesia

Terahir dalam kasus perbuatan yang dapat diberikan sanksi pidana ta’zir adalah hukuman yang diberikan kepada mereka yang melakukan perbuaatan melawan hukum atau perbuatan

d) kepolisian negara Republik Indonesia bertugas melakukan penyidikan terhadap semua tindak pidana korupsi sesuai hukum acara pidana dan peraturan perundang-undangan serta pasal2

Dalam Hukum Islam sanksi yang dijatuhkan adalah hukuman hudud yaitu hukuman mati atau diperangi, dalam Hukum Positif yang memberikan pidana mati kepada pelaku tindak

Dalam teori ini, pelaku jarimah dikenakan satu hukuman, meskipun melakukan tindak pidana ganda, karena perbuatan satu dengan yang lainnya dianggap saling

AKIBAT HUKUM TERHADAP PELAKU TINDAK PIDANA TERORISME DALAM PERSPEKTIF HUKUM POSITIF DAN HUKUM ISLAM DI INDONESIA Bagus Sulaksono Fakultas Hukum,Jurusan Ilmu Hukum Universitas 17