• Tidak ada hasil yang ditemukan

pengaruh berbagai konsetrasi dan metode pemberian pupuk

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "pengaruh berbagai konsetrasi dan metode pemberian pupuk"

Copied!
59
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH BERBAGAI KONSETRASI DAN METODE PEMBERIAN PUPUK CAIR HI TECH 19 TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI

TANAMAN TERONG UNGU (Solanum melongene L.)

SKRIPSI

CHRISTINA REGINA YTU 45 14 03 10 114

PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS BOSOWA 2019

(2)

PENGARUH BERBAGAI KONSETRASI DAN METODE PEMBERIAN PUPUK CAIR HI TECH 19 TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI

TANAMAN TERONG UNGU (Solanum melongene L.)

SKRIPSI

CHRISTINA REGINA YTU 45 14 03 10 114

Skripsi Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Serjana Pada Program Studi Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Bosowa

PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS BOSOWA

(3)
(4)

RINGKASAN

CHRISTINA REGINA YTU (4514031014),“Pengaruh Berbagai Konsetrasi dan Metode Pemberian Pupuk Cair HI Tech 19 Terhadap Pertumbuhan dan Produksi Tanaman Terong Ungu (Solanum melongene L.)” di bawah bimbingan Jeferson Bolling dan Bakri Giding Nur.

Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari dan mengetahui pengaruh pemberian pupuk organik cair HI Tech 19 terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman terong ungu. Hasil dari penelitian ini diharapkan bisa menjadi salah satu bahan informasi dalam pengembangan budidaya tanaman terong dan sebagai bahan perbandinagan untuk penelitian selanjutnya. Penelitian dilaksanakan selama mulai Februari 2019 sampai April 2019 bertempat di Kelurahan Berua Kecamatan Biringkanaya Kota Makassar Provinsi Sulawesi Selatan.

Penelitian ini menggunakan metode Rancangan Acak Kelompok (RAK) dalam faktorial. Faktor pertama adalah konsentrasi Pupuk H1 Tech 19 dengan tiga taraf dan Faktor kedua adalah metode pemberian Pupuk H1 Tech 19 dengan tiga taraf setiap perlakuan diulang sebanyak tiga kali sehingga terdapat 9 kombinasi.

Tiap kombinasi diulang tiga kali sehingga diperoleh 27 unit percobaan. Data yang diperoleh diolah dengan analisis ragam dan uji lanjut dengan menggunakan uji Beda Nyata Terkecil. Kombinasi terbaik terdapat pada K3M3 (2,0 cc / liter air diberikan melalui daun dan tanah) pada variable pengamatan tinggi tanaman, jumlah daun, jumlah buah dan diameter buah.

(5)

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan yang maha Esa, atas segala rahmat dan cinta kasih-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas akhir ini, dengan judul “Metode Pemberian Pupuk Cair H1 Tech 19 Terhadap Pertumbuhan dan Produksi Tanaman Terong Ungu (Solanum melongene L.).

Dalam penyusunan tugas akhir ini penulis mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada ;

Kedua organgtua tercinta atas semua dukungan dan kasih sayang yang diberikan, baik moril maupun materil serta Doa yang selalu mengalir tanpa henti untuk penulis.

1. Ir. Jeferson Boling, MP Sebagai Pembimbing I dan Ir. Bakri Giding Nur, MP Sebagai Pembimbing II yang senantiasa memberikan arahan, bimbingan, dan motivasi selama melakukan penulisan tugas akhir ini.

2. Dr. Ir. Syarifuddin, S.Pt, M.P. Selaku Dekan Fakultas Pertanian Universitas Bosowa Makassar sebagai Pimpinan Fakultas.

3. Seluruh Dosen pengasuh Jurusan Agroteknologi yang telah member penulis arahan, bimbingan dan nasehat selama penilis menjadi mahasiswa samapai penelitian terselesaikan.

4. Kedua orang tua tercinta Martinus Josef Nong dan Maria Du’e Dheo serta kedua kakak Vera dan Rosy, yang selalu memberikan kasih sayang, doa, nasehat, motivasi saran dukungan dan dorongan moril dan material.

5. Keluarga besar Himpunan Mahasiswa Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Bosowa Makassar yang selalu member support dan semangat kedapa penulis.

6. Semua pihak, baik itu teman-teman seperjuangan yang telah membantu dan memberikan dukungannya sehingga tugas akhir ini dapat terselesaikan dengan baik..

Akhirnya dengan segala kerendahan hati penulis selalu terbuka untuk menerima kritikan dan saran yang bersifat membangun demi penyempurnaan

(6)

tugas akhir ini. Tentunya penulis berharap agar kasrya tulis dapat bermanfaat bagi semua orang dan khususnya bagi penulis sendiri.

Makassar, Agustus 2019

Penulis

(7)

DAFTAR ISI

HALAMAN PENGESAHAN... i

KATA PENGANTAR ... ii

DAFTAR ISI... iii

DAFTAR TABEL ... iv

PENDAHULUAN Latar Belakang... 1

Hipotesis ... 4

Tujuan Penelitian ... 5

Kegunaan Penelitian ... 5

TINJAUAN PUSTAKA Botani Terong Ungu ... 6

Syarat Tumbuh... 7

Mekanisme Kerja... 10

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian... 13

Bahan dan Alat ... 13

Metode Penelitian ... 13

Pelaksanaan Penelitian... 14

Parameter Pengamatan... 15

HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil... 16

Pembahasan ... 23

KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan ... 28

Saran ... 28 DAFTAR PUSTAKA

DENAH PERCOBAAN LAMPIRAN

LAMPIRAN GAMBAR

(8)

DAFTAR TABEL

No. Teks Halaman

1. Tabel 1. Rataan Tinggi Tanaman (cm) dalam Kosentrasi Pemberian pupuk dan metode pemberian pupuk pada umur 14 HST... 16 2. Tabel 2. Rataan Tinggi Tanaman (cm) dalam Kosentrasi Pemberian pupuk metode pemberian pupuk pada umur 28 HST ... 17 3. Gambar 1. Rataan Tinggi Tanaman (cm) dalam Kosentrasi Pemberian pupuk metode pemberian pupuk pada umur 42 HST ... 17 4. Tabel 3. Rataan Jumlah daun (Helai) dalam Kosentrasi Pemberian pupuk

metode pemberian pupuk pada umur 14 HST ... 19 5. Tabel 4. Rataan Jumlah daun (Helai) dalam Kosentrasi Pemberian pupuk metode pemberian pupuk pada umur 28 HST ... 19 6. Tabel 5.. Rataan Jumlah daun (Helai) dalam Kosentrasi Pemberian pupuk metode pemberian pupuk pada umur 42 HST ... 19 7. Gambar 2. Rataan Umur Berbunga (Hari) dalam Kosentrasi Pemberian pupuk metode pemberian pupuk pada umur 14 HST ... 21 8. Tabel 6. Rataan Umur Berbunga (Hari) dalam Kosentrasi Pemberian pupuk metode pemberian pupuk pada umur 28 HST ... 22 9. Tabel 7. Rataan Umur Berbunga (Hari) dalam Kosentrasi Pemberian pupuk metode pemberian pupuk pada umur 42 HST ... 22 10. Tabel 8. Rataan Jumlah Buah Pertanaman dalam Kosentrasi Pemberian pupuk metode pemberian pupuk pada umur 14 HST ... 24 11. Tabel 9. Rataan Jumlah Buah Pertanaman dalam Kosentrasi Pemberian pupuk metode pemberian pupuk pada umur 28 HST ... 24 12. Tabel 10. Rataan Jumlah Buah Pertanaman dalam Kosentrasi Pemberian pupuk metode pemberian pupuk pada umur 42 HST ... 24 13. Tabel 11. Rataan diameter buah dalam kosentrasi Pemberian pupuk metode pemberian pupuk pada umur 14 HST ... 26 14. Tabel 12. Rataan diameter buah dalam kosentrasi Pemberian pupuk metode

(9)

15. Tabel 13. Rataan diameter buah dalam kosentrasi pemberian pupuk metode

pemberian pupuk pada umur 42 HST ... 27

No. Lampiran Halaman 1. Lampiran 1a. Hasil Pengamatan Tinggi Tanaman 14 HST ... 40

2. Lampiran 1b. Sidik Ragam Pengamatan Tinggi Tanaman 14 HST... 40

3. Lampiran 2a. Hasil Pengamatan Tinggi Tanaman 28 HST ... 41

4. Lampiran 2b. Sidik Ragam Pengamatan Tinggi Tanaman 28 HST... 41

5. Lampiran 3a. Hasil Pengamatan Tinggi Tanaman 42 HST ... 42

6. Lampiran 3b. Sidik Ragam Pengamatan Tinggi Tanaman 42 HST... 42

7. Lampiran 4a. Hasil Pengamangat Jumlah Daun (Helai) 14 HST ... 43

8. Lampiran 4b. Sidik Ragam Pengamangat Jumlah Daun (Helai) 14 HST. 43 9. Lampiran 5a. Hasil Pengamangat Jumlah Daun (Helai) 28 HST ... 44

10. Lampiran 5b. Lampir Sidik Ragam Pengamangat Jumlah Daun (Helai) 28 HST ... 44

11. Lampiran 6a. Hasil Pengamangat Jumlah Daun (Helai) 42 HST ... 45

12. Lampiran 6b. Sidik Ragam Pengamangat Jumlah Daun (Helai) 42 HST. 45 13. Lampiran 7a. Hasil Pengamatan Umur berbunga 50% 14 HST ... 46

14. Lampiran 7b. Sidik Ragam Pengamatan Umur Bunga 50% 14 HST .... 46

15. Lampiran 8a. Hasil Pengamatan Umur berbunga 50% 28 HST ... 47

16. Lampiran 8b. Sidik Ragam Pengamatan Umur berbunga 50% 28 HST.. 47

17. Lampiran 9a. Hasil Pengamatan Umur berbunga 50% 42 HST ... 48

18. Lampiran 9b. Sidik Ragam Pengamatan Umur berbunga 50% 42 HST.. 48

19. Lampiran 10a. Hasil Pengamatan Jumlah Buah 14 HST... 49

20. Lampiran 10b. Sidik Ragam Pengamatan Jumlah Buah 14 HST ... 49

21. Lampiran 11a. Hasil Pengamatan Jumlah Buah 28 HST... 50

22. Lampiran 11b. Sidik Ragam Pengamatan Jumlah Buah 28 HST ... 50

23. Lampiran 12a. Hasil Pengamatan Jumlah Buah 42 HST... 51

24. Lampiran 12b. Sidik Ragam Pengamatan Jumlah Buah 42 HST ... 51

25. Lampiran 13a. Hasil Pengamatan Diameter Buah 14 HST ... 52

26. Lampiran 13b. Sidik Ragam Pengamatan Diameter Buah 14 HST ... 52

(10)

27. Lampiran 14a. Hasil Pengamatan Diameter Buah 28 HST ... 53

28. Lampiran 14b. Sidik Ragam Pengamatan Diameter Buah 28 HST... 53

29. Lampiran 15a. Hasil Pengamatan Diameter Buah 42 HST ... 54

30. Lampiran 15b. Sidik Ragam Pengamatan Diameter Buah 42 HST... 54

(11)

BAB I PENDAHULUAN

Latar Belakang

Tanaman terung ungu (Solanum melogena L.) merupakan salah satu jenis tanaman sayuran yang digemari oleh masyarakat karena selain memeliki rasa yang enak, juga banyak mengandung vitamin dan gizi. Permintaan terhadap buah terung selama ini terus meningkat sejalan dengan pertambahn penduduk yang diikuti dengan meningkatnya kesadaran akan manfaat sayur-sayuran dalam memenuhi gizi keluarga. Penggunaan pupuk kimia yang belebihan dapat merusak kualitas tanah sehingga tanaman akan kekeuranagn asupan hara yang diperlukan, lebih parah, tanah-tanah dapat mengalami pencemaran. Pupuk organik merupaknan salah satu upaya untuk mengurangi damapak negatif akibat dari pengunaan pupuk anorganik secara terus menerus.

Walaupun belum ditemukan keterangan atau data yang pasti mengenai kapan terung ungu mulai dibudidayakan oleh manusia. Namun ada petunjuk bahwa pada abad ke V tanaman terung banyak tumbuh di Cina. Dari daerah ini kemudian dibahwa ke Spanyol, dan disebar luaskan ke negara-negara lain di kawasan Eropa. Daerah penyeberang tanaman terung pada mulanya terkonsentrasi di beberapa negara antara lain di Kariba, Malaysia, Afrika Barat, Afrika Tengah, Afrika Timur,dan Amerika Selatan. Lambat laun tanaman ini menyebar keseluruh dunia, baik negara-nrgara yang beriklim panas (tropis) maupun iklim sub-tropis (Rahmat Rukmana, 1994). Pengembangan budidaya terung paling pesat di Asia Tengara, termaksud Indonesia. Pengembangan

(12)

budidaya terung merupakan salah satu andalan sayuran di dataran rendah. Hampir semua propinsi di Indonesia terdapat pertanaman terung. Sentra pertanaman terung masih berpusat di Pulau Jawa dan Sumatra. Lima propinsi yang paling luas areal pertanaman terungnya adalah propinsi Jawa Barat, Sulawesi Selatatan, Bengkulu, Jawa Timur dan Jawa Tengah.

Terung memiliki sarat daging yang halus dan lembut sehingga rasanya enak saat di komsumsi sebagai bahan makan, dijadiakan lalap segar ataupun masakan, sayur lodeh dan opor. Terung memilki kandungan yang cukup tinggi, dalam tiap 100 gram terung segar terdapat kandungan zat sebagai berikut : 24,00 kal, 1,00 g protein, 0,20 g lemak, 5,70 g karbohidat, 0,80 g serat, 30,00 mg, kalsium, 27,00 mg fosfor, 0,60 mg zat besi, 4,00 mg natrium, 223,000 mg kalium, 130,00 SI vitamin A, 10,00 mg vitamin B1, 0,05 mg vitamin B2, 5,00 mg vitamin C, 0,06 mg niacin, 92,70 g air (Direktorat Gizi Depkes RI,1995).

Selain memiliki kandungan gizi yang tertinggi terung juga berhasiat sebagai bahan pengamatan tradisional yang bias mengobati wasir, retak tulang, pelancar air seni, demam, raja singa dan untuk menyembuhkan gusi bengkak dan peradanagan pada mulut (Herminia De Gusman Ladion, 1995). Nilai ekonomi dan sosial terung cukup tingg, produksi terung ini hanya laku di pasaran dalam negeri tetapi juga sudah menjadi mata dagang ekspor. Prospek pengembangan budidaya tanaman terung makin baik di kelola secara intensif dan komersial dalam sekalan agribisnis, produksi terung terutama produk olahanyaberupa terung asinan dan manisan sudah merambah pasaran luas negeri. Berdasarkan hal tersebut maka

(13)

baik dari pemerintahan maupun pelaku budidaya tanaman terung itu sendiri, jika dibandingkan hasil rata-rata tanaman terung secara nasional dengan negara lain, ini menunjukan produktifitas terung di Indonesia masilah rendah, untuk meningkatkan produksi terung baik secara kuantitas maupun kualitasnya, maka teknik budidaya meliputi teknik penanaman, pengendalian Hamadan penyakit, serta pemupukan harus diperbaiki.

Salah satu aspek budidaya yang paling banyak digunakan oleh petani dalam peningkatan produksi adalah penmupukan, namun hal ini belumlah disertai pengetahuan yang tetep tentang penggunaan pupuk baik jenis, cara dan waktu pemberian yang tepat. Pada umumnya petani melakukan pemupukan berdasarkan tradisi dan kebiasaan secara turun temurun tampa memperhatikan pemberian dosis dan konsentrasi secara tepat yang mengakibatkan kesuburan lahan pertanian mereka menjadi menurun. Kebisaan ini ternyata tidak sejalan dengan tujuan pemupukan untuk memperbaiaki tingakat kesuburan tanah agar tanaman mendapatkan nuitrisi yang cukup dan meningkatkan kuantitas serta kualitas pertumbuhan dan produktivitas tanaman itu sendiri.

Penggunan pupuk yang tidak tepat, terutama pemberian pupuk organic yang berlebihan hanya akan menyebapkan lahan pertanian menjadi kurang subur karena unsur hara di dalam tanah yang di butuhkan tanaman semakin berkurang, sejalan dengan hal tersebut maka efektifitas pemupukan perlu di perhatikan untuk mendapatkan hasil budidaya maksimal yang berkelanjutan, penggunaan pupuk organic merupakan solusi yang tepat karena pemakaian pupuk organik dapat menetralisir zat kimia yang beracun, menggemburkan tanah dan menyuburkan

(14)

tanah. Salah satu pemberian pupuk yang tepat adalah pupuk cair yang bisa di berikan melalui daun sehingga unsure hara yang di butuhkan tanaman cepat meresap, karena berbentuk cair dan lebih ringan di banding dengan pupuk yang padat. (Lingga dan Marsono, 2004)

Salah satu pupuk organic cair yang berkualitas dan bisa di jadikan alternative untuk meningkatkan hasil dan kualitas budidaya tanaman terung adalah dengan pemberian pupuk cair HI Tech 19. Pupuk HI Tech 19, banyak mengandung unsure hara baik hara makro, di antaranya Nitrogen, Posfor,kalium, Dan Sulfur maupun hara Mikro seperti Mn, Zn,Bo,Fe, Cu,Co, I dan Se yang di perlukan tanaman terutama pada awal fase vegetative tanaman terung, pupuk HI Tech 19 mengandung asam amino yang bisa menjadi nutrisi pada tanaman karena unsur ini bisa di serap langsung oleh tanaman tanpa melalui peruraian.(Brosus pupuk HI Tech 19).

` Penggunaan pupuk HI Tech 19 sudah pernah di lakukan di berbagai tanaman di daerah lain seperti pada tanaman kakao,kopi, jagung, padi, kubis kentang,wortel dan memberikan hasil yang cukup maksimal dan di harapkan penggunaan pupuk ini bisa memberikan hasil yang sama terhadap tanaman terung di kecamatan kaluku, kabupaten mamuju, propinsi Sulawesi Barat.

Hipotesis

1. Salah satu konsentrasi pupuk HI Tech 19 berpengaruh baik terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman terung ungu.

(15)

2. Salah satu motode pemberian pupuk HI Tech 19 akan berpengaruh baik terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman terung ungu.

3. Terdapat interaksi antara konsentrasi dan metode pemberian pupuk HI Tech 19 akan berpengaruh baik terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman terung ungu.

Tujuan Penelitian

1. Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana pada Fakultas Pertanian Program Studi Agroteknologi

2. Mengetahui pengaruh berbagai konsentrasi dan metode pemberian pupuk organik cair HI Tech 19 terhadap respon pertumbuhan dan produksi tananm terong ungu.

3. Hasil dari penelitian ini diharapkan bisa menjadi salah satu bahan informasi dalam pengembangan budidaya tanaman terong dan sebagai bahan perbandingan untuk penelitian selanjutnya.

Kegunaan Penelitian

Kegunan dari percobaan ini diharapkan menjadi bahan informasi dalam rangka pengembangan tanam terung ungu dan sebagai bahan perbandingan untuk percoabaan selanjutnya.

(16)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA Botani

Dalam tata nama (sistematika), tanaman terung diklasifikasi sebagai berikut:

Divisio : Spermatophta Sub divisio : Angiospermaes Kelas : Dycotyledonae Ordo : Tubiflorae Famili : Solanaceae Genus : Solanum

Spesies : Solanummelogena L.

Terong (Solonummelogenae L.) merupakan tanam setahun. Sejenis perdu yang dapat tumbuh hingga mencapai tinggi 60-90 cm. Daun tanaman ini lebar dan berbentuk telinga. Bunganya berwarna ungu dan merupakan bunga yang sempurna, biasanya terpisah dan berbentuk dalam tandan bunga (Nazarudin,1993).

Permukaan kulit batang, cabang atau pun daun tertupup oleh bulu-bulu halus. Daunnya berbentuk bulat panjang dengan pangkal daun ujung sempit.

Namun bagian tengahnya lebar, letak daun berselang-seling dan bertangkai pendek.

(17)

Bunga terung bentuknya mirip bintang, warna biru atau lebar yang cerah sampai warna lebih gelap. Bunga terung tidak mekar serempak dan penyerbukan bunga dapat berlangsung secara sendiri-sendiri ataupun menyebuk silang.

Buah terung sangat beragam ,baik dalam bentuk maupun ukuran serta warna kulitnya. Dari bentuk buahnya ada yang bulat, bulat panjang, dan setengah bulat. Ukuran buah kecil, sedang samapai besar. Sedangkan warna kulit buah umumnya ungu, hijau keputih-putihan, putih keungu-unguan, putih, dan unggu tua. Buah yang menghasilkan biji ukuranya kecil-kecil berbentuk pipih dan berwarna coklat muda. Biji ini merupakan alat reproduksi atau perbanyakan tanaman secara generatif.

Syarat Tumbuh Iklim

Tanaman terung dapat tumbuh dan berproduksi baik di dataran rendah sampai dataran Tinggi ± 1.000 meter dari permukaan laut. Selama pertumbuhannya tanaman terung menghendaki suhu udara antara 22oC-30oC.

Pada cuaca panas akan merangsang dan mempercepat proses pembungaan dan pembuahan. Namun bila suhu udara tinggi, (diatas 32oC), pembungaan dan pembuahan tanaman terung akan terganggu yakni, bunga dan buah berguguran (Rahmat Rukmana, 1994).

Pada awal pertumbuhannya, tanaman terung membutuhkan air yang banyak sehingga curah hujan yang tinggi ( tidak lebih dari 1.200 mm/ tahun), sangat di harapkan pada bulan pertama pertumbuhan. Dan curah hujan yang tinggi tersebut tidak di harapkan lagi pada waktu memasuki fase pembungaan karena

(18)

curahan air yang lebat dapat menyebabkan gugurnya bunga. Hal inilah yang menjadi dasar dalam menetukan jadwal tanaman terutama jika tanaman tersebut akan di usahakan di lahan yang luas. ( Adi Soetasaddan Sri Muryanti, 2006).

Tanah.

Tanaman terung dapat tumbuh pada hampir semua jenis tanah. Tetapi, tanah yang paling baik untuk tanaman terung adalah jenis lempung berpasir, subur, kaya akan bahan Organik, aerase dan drainasenya yang baik serta pada pH antara 6,8-7,3. Tanah yang memiliki pH kurang dari 6,0, kurang cocok untuk di Tanami terung jika sebelumnya tidak dilakukan pengapuran. Hal ini dapat menyebabkan tanaman terung kurang memperoleh unsur hara, utamanya unsur fosfor yang banyak terikat pada tanah yang tingkat pH yang demikian, sedangkan tanah dengan pH lebih, dari 7,5 akan menyebabkan tanaman mengalami defesit unsur hara mikroseperti Fe, Mn, Co, tetapi justru kelebihan ( keracunan) unsur Co akan sangat merugikan pertumbuhan dan produksi tanaman (Adi Soetasad dan Sri Muryanti, 2006).

Tekstur tanah lempung berpasir merupakan kondisi tanah yang paling baik untuk ditanami tanaman terung, hal ini karena tekstur tanah memungkin kan tersedianya air dan udara di dalam tanah sekitar peran tanaman cukup besar, sehingga proses respirasi akar tidak terhambat. Jika terung di tanam pada tanah berpasir, maka pertumbuhan tanaman terung akan kerdil, apalagi jika tidak di lakukan penyiraman yang intensif. Tanah berpasir memiliki prositasi yang tinggi sehingga mengakibatkan tanah cepat kehilangan air. Demikian pula pada cuaca

(19)

perkembang anakar. Sebaliknya tanah yang liat menyebabkan akar sulit memperoleh oksigen yang cukup karena tanah seperti ini memiliki ruang pori yang sangat kecil dan padat sehingga peredaran Udara di dalamnya sangat kecil.

Hal ini akan merugikan tanaman terung ungu. ( Rahmat Rukmana, 2004 ).

Pemupukan

Pemupukan adalah pemberian unsur hara kedalam tanah dengan maksud untuk memperbaiki sifat-sifat fisika, kimia, dan biologi tanah, bahan-bahan yang di berikan bermacam macam baik berupa pupuk kandang maupun pupuk organik cair dan padat. Pemberian pupuk disesuaikan dengan kebutuhan tanaman, agar tumbuhan mendapat nutrisi yang seimbang, tidak lebih atau tidak kurang zat makanan yang di butuhkan, karen aitu, sifatpupuk yang di berikan perlu di perhatikan.

Pupuk dapat diberikan melalui daun dengan cara di semprotkan ataupun di siram ke tanah. Pemupukan lewat daun umumnya di lakukan dengan cara melarutkan pupuk tersebut ke dalam air lalu di semprotkan. Sedangakan lewat tanah, dengan cara menyiramkan lansung ke perakaran tanaman.(Setiamidjaya, D, 2006).

Pupuk cair Hi tech 19 dapat memperbaiki kondisi tanah karena bahan-bahan yang terkandung di dalamnya dapat menguraikan tanah-tanah yang jenuh akibat bahan kimia, dan melepaskan semua molekul- molekul bahan kimia yang diikat oleh media tanah tersebut sehingga tanah kembali di gembur dan menetralisir racun- racun yang ada di dalam tanah, pupk Hi Tech 19 memberi unsur nutrisi dan asam

(20)

amino pada tanaman di mana unsur ini langsung diserap oleh tanaman melalui proses peruraian.

Adapun unsure hara yang terkandung di dalanm pupuk Hi Tech 19 yaitu :N 0,18%, P 0,92%, K 1,01%, H 5,89%, Mn 1,0 ppm, B 0,15 ppm, C Organik 5,22%, Fe 64 ppm, Zn 0,5 ppm ( Pb, Cd, Co, Cu, As, Hg, Mo ) dalam satuan ppm tidak terdeteksi. ( brosur pupuk organic cair Hi Tech 19 )

Mekanisme Kerja

Cara kerja mikro-organisme dengan teknologi pupuk cair HI Tech 19 di dalam tanah, mikroorganisme itu menambah penyediaan unsur hara yang dapat diserap pada tanaman dari sumber yang tidak tersedia melalui penyerapan keseimbangan energy di lingkungan, produksi ikatan organik aktif mineralisasi bentuk unsur hara terikat secara kompleks dalam bahan organik, pelapukan senyawa organik, dan fixasi senyawa nitrogen udara sehingga menjalankan fungsi kompos hamparan dan bio fabrication ( pabrik hara hidup) secara alami.

Mikro-organisme unggul berguna yang di semprotkan pada permukaan daun dan ranting hidup dari cairan gutasi dan bekal nutrisi daun unsur hara sebelumnya telah di tambakan di daun. Mikro-organisme selanjutnya memproduksi berbagai senyawa organik sederhana yang dapat di manfaatkan oleh tanaman dan mikro-biota tanah. Bio- aktif selanjutnya menghasilkan senyawa ionic dan energy siap serap, dan membantu masuknya hara, mengiatkan mitosis- mitosis diferensiasi sel, memperlancar transfer energy kinetic dan meningkatkan ( mengaktifkan jalur hill) fotosintesis.

(21)

Aplikasi

Aplikasi pupuk cair HI Tech 19 berupa larutan yang di semprotkan dan/

atau di siram ke tanah dan permukaan daun dan jaringan tumbuh serta ranting tanaman dan/ atau kombinasinya dengan memanfaatkan efek sinergi hasil interaksi pupu khayati ( kultur campuran mikroorganisme berguna dengan stimulatannya).

Manfaat penggunaan pupuk cair HI Tech 19 1. Untuk tanaman

 Meningkatkan dan melipatgandakan hasil panen.

 Memicu produksi maksimal sesuai sifat unggul tanaman

 Meningkatkan kesehatan dan toleransi tanaman

 Memicu fotosintesis jalur hijauan secara efisien

 Meningkatkan efisiensi dan efektifitas pemupukan.

 Memacu pertumbuhan vegetative dan generative tanaman.

2. Untuk Tanah

 Menstabilkan tanah, meningkatkan Phsecara alami (mikrobiologis) meningkatkan kesuburan fisik, kimia dan biologis yang berimbang dan berkelanjutan

 Biofabrikasi hara” secara mikrobiologis yang memperkaya ketersediaan unsur hara/nutrisi lengkap dan berimbang dalam tanah, bermanfaat bagi tanah marginal/ kritis

 Mempercepat terurainya residu pupuk kimia penghambat menjadi bermanfaat dan tersedia bagi tanaman

(22)

 Merendam/ menetralkan anasir penghambat dalam tanah baik dari logam beracun, alkali, lagam/ gas tereduksi beracun yang mengganggu pertumbuhan tanaman.

 Mendukung kehidupan ekologis bersinergi dengan mikroba berguna indogeneus penyubur tanah sangat baik untuk persiapan perkebunan dan reklamasi.

(23)

BAB III

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu

Penelitian ini di laksanakan pada bulan Februari sampai April 2019, bertempat di Kelurahan Berua KecamatanBiringkanaya Kota Makassar Provinsi Sulawesi Selatan.

Bahan dan Alat

Bahan-bahan yang akan di gunakan adalah benih TanamanTerong Ungu, pupuk cair HI Tech 19 dan pupuk kandang sapi. Sedangkan alat yang di gunakan adalah alat tulis menulis, Meter, Kamera handphone, Batang bambu, Label, Jangka sorong, Tali Rapia, Polybag, selang air, Cangkul, Pot bunga plastik, hand spayer.

MetodePenelitian

Penelitian ini dilaksanakan dalam bentuk percobaan yang disusun menurut rancangan faktorial dalam rancangan acak kelompok.

Faktor pertama adalah konsentrasi pupuk HI Tech 19 dengan tiga taraf yaitu 1,0 cc/ liter air (K1), 1,5 cc/liter air (K2), 2,0 cc/liter air (K3). Faktor kedua adalah metode pemberian pupuk HI Tech 19 dengan tiga taraf yaitu pemberian melalui daun (M1), pemberian melalui tanah (M2) dan pemberian melalui daun dan tanah (M3). Sehingga terdapat 9 kombinasi perlakuan yaitu :

K1 M1 = 1,0 cc/l air diberikan melalui tanah K1 M2 = 1,0 cc/l air diberikan melalui tanah K1 M3 = 1,0 cc/l air diberikan melalui tanah

(24)

K2 M1 = 1,5 cc/l air diberikan melalui daun K2 M2 = 1,5 cc/l air diberikan melalui daun K2 M3 = 1,5 cc/l air diberikan melalui daun

K3 M1 = 2,0 cc/l air diberikan melalui daun dan tanah K3 M2 = 2,0 cc/l air diberikan melalui daun dan tanah K3 M3 = 2,0 cc/l air diberikan melalui daun dan tanah

Tiap kombinasi perlakuan diulang tiga kali sehingga di peroleh (27) dua puluh tujuh unit perlakuan. Denah percobaan terlampir

Pelaksanaan Persemain

Biji terung unggu disemaiakan ditempat yang sudah dipersiapkan didalam polibag kecil, kurang lebih delapan atau sepuluh hari biji terung akan tumbuh secara merata, setelah sudah cukup besar sekitar umur tiga puluh hari bibit telah siap dipindahkan.

Penanaman

Sebelum bibit dipindahkan, tanah yang sudah diolah dan dimasukan ke dalam polybag dan jarak antar polybag 40 cm dan diberikan pupuk kandang sesuai kebutuhan tanaman per polybagnya, bibit yang dipindah tanamkan adalah bibit yang sudah diseleksi sebelumnya yaitu yang tumbuhnya sehat dan seragam pertumbuhannya.

Pemberian Perlakuan

Pupuk organik cair HI Tech 19 diberikan setiap minggu sesuai perlakuan,

(25)

tanaman disemprotkan melalui daun sampai tajuk basah sisanya disiramkan ke polybag hingga perakaran.

Pemeliharaan

Tanman terung yang sudah ditanam, setiap harinya mesti disiangi agar bersih dari gulma dan rumput-rumput, kegumburan tanah mesti diperhatikan dan penyiraman dilakukan setiap hari yaitu pagi dan sore.

Pengamatan

Komponen tumbuh dan produksi yang diamati adalah :

1. Tinggi tanaman (cm), diukur dari permukaan tanah hingga titik tumbuh tertinggi diukur setiap dua minggu.

2. Jumlah daun (helai), menghitung semua daun yang tumbuh dan sudah membuka penuh di hitung setaip dua minggu.

3. Umur berbunga 50% (hari), menghitung jumlah bunga pada saat pembungaan 50% diamati dua minggu sekali.

4. Jumlah buah (cm) pertanaman, jumlah buah di ukur setiap dua minggu sekali

5. Dia meter buah (cm), mengukur diameter buah menggunakan mistar geser diamati saat panen.

(26)

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil

Tinggi Tanaman (cm)

Hasil pengamatan tinggi tanaman umur 14, 28, dan 42 HST dan sidik ragamnya disajikan pada Tabel Lampiran 1a, 1b 2a dan 2b, serta 3a dan 3b.

Analisis sidik ragam memperlihatkan bahwa Kosentrasi pupuk H1 Tcch 19 dan interaksinya berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman pada umur 14, dan 28 HST, tetapi Metode pemberian tidak berpengaruh nyata.

Hasil uji BNJ pada Tabel 1. memperlihatkan bahwa perlakuan K3 berbeda nyata dengan perlakuan K2 dan K1. Perlakuan K2 berbeda nyata dengan perlakuan K1 pada semua metode pemberian.

Tabel 1. Rataan Tinggi Tanaman (cm) dengan Berbagai Kosentrasi dan Metode Pemberian pupuk dan HI Tech 19 umur 14 HST

Perlakuan Rata-Rata BNJ 0.05

K1 M1 10.27cz

0.05

K1 M2 10.80az

K1 M3 10.50bz

K2 M1 11.50cy

K2 M2 11.73by

K2 M3 12.10ay

K3 M1 13.17ax

K3 M2 11.90cx

K3 M3 13.10bx

Keterangan : Angka yang diikuti oleh huruf yang sama menunjukan tidak berbeda nyata pada taraf α 0,05

(27)

Hasil uji BNJ pada Tabel 2. memperlihatkan bahwa perlakuan K3 berbeda nyata dengan perlakuan K2 dan K1. Perlakuan K2 berbeda nyata dengan perlakuan K1 pada semua metode pemberian H1 Tecch 19.

Tabel 2. Rataan Tinggi Tanaman (cm) dengan Berbagai Kosentrasi dan Metode Pemberian Pupuk HI Tech 19 umur 28 HST

Perlakuan Rata-Rata BNJ 0.05

K1 M1 28.73

0.05

K1 M2 29.37

K1 M3 30.30

K2 M1 31.30

K2 M2 30.97

K2 M3 32.20

K3 M1 33.13

K3 M2 31.97

K3 M3 32.77

K3 M1 33.13a

0.05

K3 M3 32.77b

K2 M3 32.20b

K3 M2 31.97c

K2 M1 31.30d

K2 M2 30.97e

K1 M3 30.30f

K1 M2 29.37g

K1 M1 28.73h

Keterangan : Angka yang diikuti oleh huruf yang sama menunjukan tidak berbeda nyata pada taraf α 0,05

(28)

Gambar 1. Histogram Tinggi Tanaman (cm) dengan Berbagai Kosentrasi dan Metode Pemberian Pupuk HI Tech 19 umur 42 HST

Jumlah Daun (Helai)

Dari Hasil pengamatan jumlah daun pada Umur 14, 28, dan 42 HST dan sidik ragamnya disajikan pada tabel lampiran 4a, 4b dan 5a, 5b serta 6a, 6b.

Analisis sidik ragam memprlihatkan bahwa kosentrasipemberianpupuk H1 Tcch 19 menunjukan berpengaruh sangat nyata sedangkan interaksinya berpengaruh nyata, tetapai tidak berpengaruh nyata terhadap metode pemberian pupuk H1 tcch 19 pada umur 14, 28 dan 42 HST.

Hasil uji BNJ pada Tabel 3. memperlihatkan bahwaperlakuan K3 berbeda nyata dengan perlakuan K2, tetapi K2 tidak berbeda nyata dengan K1. Perlakuan M3 tidak berbeda nyata dengan perlakuan M2, tetapi berbeda nyata dengan M1.

26 27 28 29 30 31 32 33 34

K1 M1 K1 M2 K1 M3 K2 M1 K2 M2 K2 M3 K3 M1 K3 M2 K3 M3

Histogram Rata-rata Tinggi Tanaman 42 Hst

(29)

Tabel 3. Rataan Jumlah daun (Helai) dengan Berbagai Kosentrasi dan Metode Pemberian Pupuk HI Tech 19 umur 14 HST

Perlakuan Rata-Rata BNJ 0.05

K1 M1 6.00

0.05

K1 M2 6.00

K1 M3 6.33

K2 M1 6.33

K2 M2 7.00

K2 M3 7.33

K3 M1 7.67

K3 M2 8.67

K3 M3 9.00

K3 M3 9.00a

0.05

K3 M2 8.67b

K3 M1 7.67c

K2 M3 7.33d

K2 M2 7.00e

K2 M1 6.33f

K1 M3 6.33g

K1 M2 6.00h

K1 M1 6.00i

Keterangan : Angka yang diikuti oleh huruf yang sama menunjukan tidak berbeda nyata pada taraf α 0,05

Hasil uji BNJ pada Tabel 4. umur 28 HST memperlihatkan bahwa perlakuan K3 berbeda nyata dengan perlakuan K2 dan K1. Tetapi pada perlakuan K2 tidak berbeda nyata dengan K1 pada semua metode pemberian.

Tabel 4. Rataan Jumlah daun (Helai) dengan Berbagai Kosentrasi dan Metode Pemberian Pupuk HI Tech 19 umur 28 HST

Perlakuan Rata-Rata PBNJ 0.05

K1 M1 17.67

0.05

K1 M2 18.00

K1 M3 18.33

K2 M1 23.00

(30)

K2 M2 20.33

K2 M3 21.00

K3 M1 23.33

K3 M2 22.00

K3 M3 23.33

K3 M1 23.33a

0.05

K3 M3 23.33b

K2 M1 23.00b

K3 M2 22.00c

K2 M3 21.00d

K2 M2 20.33e

K1 M3 18.33f

K1 M2 18.00g

K1 M1 17.67h

Keterangan : Angka yang diikuti oleh huruf yang sama menunjukan tidak berbedanyata pada taraf α 0,05

Hasil uji BNJ pada Tabel 5. umur 42 HST memperlihatkan bahwa perlakuan K3 berbeda nyata dengan perlakuan K2 dan K1. Tetapi pada perlakuan K2 tidak berbeda nyata dengan K1 pada semua metode pemberian.

Tabel 5. Rataan Jumlah daun (Helai) dengan Berbagai Kosentrasi dan Metode Pemberian Pupuk HI Tech 19 umur 42 HST

Perlakuan Rata-Rata PBNJ 0.05

K1 M1 21.00

0.05

K1 M2 22.33

K1 M3 23.33

K2 M1 21.67

K2 M2 24.33

K2 M3 24.33

K3 M1 23.67

K3 M2 25.33

K3 M3 26.33

K3 M3 26.33a

K3 M2 25.33b

(31)

K1 M3 23.33c

K1 M2 22.33c

K2 M1 21.67d

K1 M1 21.00e

Keterangan : Angka yang diikuti oleh huruf yang sama menunjukan tidak berbeda nyata pada taraf α 0,05

Umur Berbunga 50%

Dari Hasil pengamatan umur berbunga 50% pada umur 14, 28 , dan 42 HST dan sidik ragamnya disajikan pada Tabel Lampiran 7a, 7b dan 8a, 8b serta 9a, 9b. Analisis sidik ragam memperlihatkan bahwa kosentrasi pemberian , metode pemberian pupuk H1 Tcch 19 dan interaksinya menunjukan berpengaruh nyata pada umur 28 dan 42 HST, tetapi tidak berpengaruh nyata pada umur 14 HST.

Hasil uji histogram pada Gambar 2. memperlihat bahwa pemberian konsentrasi pemberian pupuk H1 Tcch 19 dan interaksinya tidak berbeda nyata.

Gambar 2. Histogram Umur Berbunga (Hari) dengan Berbagai Kosentrasi dan Metode Pemberian Pupuk HI Tech 19 umur 14 HST

0.00 0.50 1.00 1.50 2.00 2.50 3.00 3.50 4.00

K1 M1` K1 M2 K1 M3 K2 M1 K2 M2 K2 M3 K3 M1 K3 M2 K3 M3

Histogram Rata-rata Umur Berbunga tanaman 14 Hst

(32)

Hasil uji BNJ pada Tabel 6. umur 28 HST memperlihatkan bahwa perlakuan K3 berbeda nyata dengan K2 dan K1. Perlakuan K2 tidak berbeda nyata dengan perlakuan K1 pada semua pemberian.

Tabel 6. Rataan Umur Berbunga (Hari) dengan Berbagai Kosentrasi dan Metode Pemberian Pupuk HI Tech 19 umur 28 HST

Perlakuan Rata-Rata PBNJ 0.05

K1 M1 3.83

0.05

K1 M2 4.27

K1 M3 4.73

K2 M1 4.63

K2 M2 4.73

K2 M3 5.27

K3 M1 4.73

K3 M2 5.03

K3 M3 5.27

K3 M3 5.27a

0.05

K2 M3 5.27b

K3 M2 5.03b

K3 M1 4.73c

K2 M2 4.73c

K1 M3 4.73c

K2 M1 4.63d

K1 M1 3.83e

K1 M2 4.27f

Keterangan : Angka yang diikuti oleh huruf yang sama menunjukan tidak berbedanyata pada taraf α 0,05

Hasil uji BNJ pada Tabel 7. umur 42 HST memperlihatkan bahwa perlakuan K3 berbeda nyata dengan K2 dan K1. Perlakuan K2 tidak berbeda nyata dengan perlakuan K1 pada semua pemberian.

(33)

Tabel 7. Rataan Umur Berbunga (Hari) dengan Berbagai Kosentrasi dan Metode Pemberian Pupuk HI Tech 19 umur 42 HST

Perlakuan Rata-Rata PBNJ 0.05

K1 M1 6.53

0.05

K1 M2 6.90

K1 M3 7.13

K2 M1 6.57

K2 M2 7.50

K2 M3 7.60

K3 M1 7.57

K3 M2 8.03

K3 M3 8.33

K3 M3 8.33a

0.05

K3 M2 8.03b

K2 M3 7.60b

K3 M1 7.57c

K2 M2 7.50d

K1 M3 7.13d

K1 M2 6.90d

K2 M1 6.57e

K1 M1 6.53f

Keterangan : Angka yang diikuti oleh huruf yang sama menunjukan tidak berbedanyata pada taraf α 0,05

Jumlah Buah

Dari Hasil pengamatani Jumlah Buah pada Umur 42 HST dan sidik ragamnya disajikan pada tabel lampiran 10, 10b dan 11a, 11b serta 12a 12b.

Analisis sidik ragam memperlihatkan bahwa perlakuan Kosentrasi pemberian, metode pupuk H1 Tcch 19 dan interaksi keduanya menunjukan berpengaruh sangat nyata terhadap jumlah buah pada umur 42 HST.

Hasil uji BNJ pada Tabel 8. memperlihatkan bahwa perlakuan K3 berbeda nyata dengan K2 dan K2. Perlakuan K2 tidak berbeda nyata dengan perlakuan K1 pada semua pemberian.

(34)

Tabel 8. Rataan Jumlah Buah Pertanaman dengan Berbagai Kosentrasi dan Metode Pemberian Pupuk HI Tech 19 umur 42 HST

Perlakuan Rata-Rata PBNJ 0.05

K1 M1 19.33

0.05

K1 M2 19.49

K1 M3 20.26

K2 M1 19.94

K2 M2 20.40

K2 M3 20.60

K3 M1 20.26

K3 M2 20.73

K3 M3 21.21

K3 M3 21.21a

0.05

K3 M2 20.73b

K2 M3 20.60b

K3 M1 20.26c

K2 M2 20.40d

K1 M3 20.26d

K2 M1 19.94e

K1 M2 19.49f

K1 M1 19.33g

Keterangan : Angka yang diikuti oleh huruf yang sama menunjukan tidak berbeda nyata pada taraf α 0,05

Diameter Buah

Dari Hasil pengamatan diameter buah pada Umur 42 HST dan sidik ragamnya disajikan pada tabel lamp iran 13a, 13b dan 14a, 14b serta5a, 15b.

Analisis sidik ragam menunjukan bahwa perlakuan pemberiankosentrasi, metode pemberian pupuk H1 Tcch 19 dan interaksinya berpengaruh nyata terhadap diameter buah pada umur 42 HST, tetapi tidak berpengaruh nyata terhadapan konsentrasi dan interaksi pada umur 42 HST. Hasil uji BNJ pada Tabel 9

(35)

Tabel 9: Rataan diameter buah dengan Berbagai kosentrasi dan Metode Pemberian Pupuk HI Tech 19 umur 42 HST

Perlakuan Rata-Rata PBNJ 0.05

K1 M1 4.92

0.05

K1 M2 5.74

K1 M3 5.55

K2 M1 5.16

K2 M2 5.79

K2 M3 5.90

K3 M1 5.73

K3 M2 5.84

K3 M3 6.03

K3 M3 6.03a

0.05

K2 M3 5.90b

K3 M2 5.84b

K2 M2 5.79b

K3 M1 5.73c

K1 M3 5.55d

K1 M2 5.74d

K2 M1 5.16e

K1 M1 4.92f

Keterangan : Angka yang diikuti oleh huruf yang sama menunjukan tidak berbeda nyata pada taraf α 0,05

Pembahasan Tinggi Tanaman

Pertumbuhan adalah proses dalam kehidupan tumbuhan yang RRmengakibatkan perubahan ukuran tanaman semaki n besar dan juga yang menentukan hasil tanaman (Sitompul dan Guritno, 1995). Pengukuran tinggi tanaman dilakukan dengan cara mengukur tinggi tanaman dari leher akar sampai dengan titik tumbuh terakhir.

Berdasarkan tabel 1 s/d 3 diatas dapat dilihat bahwa interaksi keduanya menunjukan tanaman tertinggi terdapat pada perlakuan K3M1 (rata-rata 13.17 cm) dan terendah terdapat pada perlakuan K1M1 (rata-rata 10.27 cm) pada umur 1 HST. Pada parameter 28 HST tanaman tertinggi terdapat pada perlakuan K3M1

(36)

(rata-rata 33.13 cm) dan terendah terdapat pada perlakuan K1M1 (rata-rata 28.73 cm). Pada parameter 42 HST tanaman tertinggi terdapat pada perlakuan K3M3 (rata-rata 47.67 cm) dan terendah terdapat pada perlakuan K1M1 (rata-rata 45.18 cm). Berdasarkan analisis stastistik kombinasi keduanya menunjukan berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman pada umur 14 dan 28 HST dan tidak berpengaruh nyata pada umur 42 HST.

Tinggi tanaman sangat dipengaruhi oleh proses metabolisme dalam tubuh tanaman itu sendiri. Dimana dalam melangsungkan aktivitas metabolisme tersebut tanaman membutuhkan nutrisi yang dapat diperoleh dari pemupukan baik melalui media tanam. Pertumbuhan vegetatif tanaman membutuhkan unsur N yang tinggi untuk membantu dalam proses pertumbuhan dan pembelahan sel. Pada masa pertumbuhan vegetatif tanaman terong ungu sangat memerlukan ketersediaan unsur hara baik itu unsur hara makro terutama unsur nitrogen. Fungsi nitrogen adalah untuk memacu pertumbuhan daun, batang dan membantu pembentukan akar. Dalam jumlah unsur nitrogen yang tinggi dapat menyebabkan pertumbuhan vegetatifnya semakin meningkat.

Jumlah Daun

Daun yang disokong oleh batang merupakan pabrik karbohidrat bagi tanaman budidaya. Daun diperlukan untuk penyerapan dan pengubahan energi cahaya untuk pertumbuhan dan menghasilkan panen melalui fotosintesis (Gardner et al., 1991).

Berdasarkan tabel 4 s/d 6 diatas dapat dilihat interaksi keduanya

(37)

helai) dan yang sedikit terdapat pada perlakuan K1M1 dan K1M2 (rata-rata 6.00 helai) pada umur 14 HST. Pada parameter 28 HST jumlah daun terbanyak terdapata pada perlakuan K3M1 dan K3M3 (rata-rata 23.33 helai) dan yang sedikit terdapat pada perlakuan K1M2 (rata-rata 18.00 helai). Pada parameter 42 HST jumlah daun terbanyak terdapat pada perlakuan K3M3 (rata-rata 26.33 helai) dan yang sedikit terdapat pada perlakuan K1M1 (rata-rata 21.00 helai).

Berdasarkan analisis stastistik kombinasi keduanya menunjukan tidak pengaruh nyata terhadap tinggi tanaman pada umur 14 HST, tetapi berpengaruh nyata pada umur 28 dan 42 HST.

Umur berbunga

Pembungaan merupakan masa transisi tanaman dari fase vegetatif menuju fase generatif, yaitu dengan terbentuknya kuncup-kuncup bunga. Pada umumnya proses fisiologis dan morfologis yang mengarah pada pembungaan dan pembuahan merupakan respon terhadap fotoperiode (panjang hari) dan temperatur (Gardner et al., 1991). Pengamatan saat muncul bunga pertama dilakukan hanya sekali yaitu ketika bunga pertama pada tanaman terong ungu muncul.

Perhitungan saat berbunga dilakukan dengan mencatat jumlah hari saat bunga mekar tiap tanaman dinyatakan dalam satuan hari setelah tanam. Dari hasil analisis ragam taraf 5% (Lampiran 1.6) menunjukkan bahwa perlakuan macam pupuk terhadap muncul bunga pertama berpengaruh nyata, sedangkan pada macam varietas tidak berpengaruh nyata terhadap saat muncul bunga pertama, dan interaksi antara macam pupuk dengan macam varietas berpengaruh tidak nyata.

(38)

Saat berbunga berkaitan erat dengan pemenuhan unsur hara terutama unsur phospat (P) yang berfungsi untuk mendorong tanaman masuk ke fase generatif. Fase generatif ditandai dengan terbentuknya primordial bunga dan berkembang menjadi bunga yang siap mengadakan penyerbukan (Yunus dan Tri Haryanto, 1986).

Pembungaan merupakan masa transisi tanaman dari fase vegetatif menuju fase generatif yaitu dengan terbentuknya kuncup-kuncup bunga. Pada umumnya proses fisiologis dan morfologis yang mengarah fotoperiode (panjang hari) dan temperatur (Gardner, et al., 1991).

Jumlah Buah

Buah terong merupakan buah sejati tunggal dan tidak akan pecah jika buah telah masak. Kulit buah luar berupa lapisan-lapisan tipis berwarna ungu gelap yang mengkilap daging buah tebal, lunak dan berair, buah menggantung di ketiak daun. Pengamatan jumlah buah yang dipanen dilakukan setiap dijumpai apabila buah yang sudah berwarna ungu kehitam-hitaman akan siap di panen atau sekitar 23 HST sekali, dengan menghitung banyaknya buah yang dihasilkan oleh tanaman.

Darjanto dan Satifah (1990) mengatakan bahwa untuk pertumbuhan buah diperlukan zat hara terutama nitrogen, fosfor dan kalium. Kekurangan zat tersebut dapat menggangu pertumbuhan buah. Unsur nitrogen diperlukan untuk pembentukan protein. Unsur fosfor untuk pembentukan protein dan sel baru.

Fosfor juga membantu dalam mempercepat pertumbuhan bunga, buah dan biji.

(39)

Kalium juga dapat memperlancar pengangkutan karbohidrat dan memegang peranan penting dalam pembelahan sel, mempengaruhi pembentukan dan pertumbuhan buah sampai menjadi masak

Diameter buah

Menurut Rostani et al., (2006) secara genotipik dan fenotipik, semakin lebar mahkota semakin tinggi mahkota maka semakin besar diameter buah dan panjang buah, karena mahkota memiliki khlorofil untuk melakukan proses fotosintesis dari mahkota digunakan untuk perkembangan buah. Diameter buah meningkat sesuai dengan peningkatan kosenterasi pupuk yang diberikan seperti halnya pada berat buah. Adanya peningkatan suplai unsure hara yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan dapat menyebabkan produktivitas tanaman yang optimal (Roesmayanti, 2004).

Berdasarkan tabel 13 s/d 15 diatas dapat dilihat bahwa interaksi keduanya menunjukan diameter buah terbesar terdapat pada perlakuan K3M3 (rata-rata 3.50 cm) dan yang sedikit terdapat pada perlakuan K2M1 (rata-rata 1.72 cm) pada umur 14 HST. Pada parameter 42 HST jumlah buah terbanyak terdapat spada perlakuan K3M3 (rata-rata 6.03 cm) dan yang sedikit terdapat pada perlakuan K1M1 (rata-rata 4.92 cm). Berdasarkan analisis stastistik kombinasi keduanya menunjukan berpengaruh sangat nyata terhadap diameter buah pada parameter 14 HST, tetapi tidak berpengaruh nyata pada parameter 42 HST.

(40)

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

1. Perlakuan pemberian konsentrasi dan metode pemberian pupuk H1 Tech 19 mampu meningkatkan pertumbuhan tanaman terong ungu meliputi saat muncul bunga pertama dan jumlah buah pertanaman

2. Perlakuan pemberian konsentrasi dan metode pemberian pupuk H1 Tech 19 mampu meningkatkan pertumbuhan dan hasil, variable tinggi tanaman, jumlah daun, dan diameter buah tanaman terong ungu.

3. Interaksi antara Perlakuan Pemberian konsentrasi dengan metode pemberian pupuk H1 Tech 19 berpengaruh nyata terhadap diameter buah peningkatan tinggi tanaman, jumlah daun, saat berbunga, jumlah pertanaman, dan diameter buah.

4. Hasil tertinggi dicapai pada variable jumlah buah pertanaman dengan pemberian konsentrasi yaitu K3 20,73, sedangkan hasil terendah dicapai pemberian kosentrasi K1 19.33.

Saran

Perlunya diadakan penelitian lebih lanjut dengan menggunakan perlakuan pemberian konsentrasi dan metode pemberian pupuk H1 Tech 19 dan kombinasi perlakuan terong ungu agar hasilnya dapat optimum.

(41)

DAFTAR PUSTAKA

Buckman, H.O and N.C Brady. 1982. Ilmu Tanah. Terjemahan. Bhrathara Karya Aksara. Jakarta.

Cahyono, B. 1995. Pisang Budidaya dan Analisis Usaha Tani. Kanisius.

Yogyakarta.

Darjanto dan S. Satifah.1990. Pengetahuan Dasar Biologi Bunga dan Teknik Penyerbukan Silang Buatan. Gramedia. Jakarta.

Djojosoewardhono, A.S. 2002. Sumbangan Pikiran Mendukung Kebijaksanaan Pemerintah dalam Upaya Khusus Produksi Sayur di Indonesia. Pusat Penelitian Sayur Indonesia. Kep. Riau.

Dwijoseputro. D. 1986. Pengantar Fisiologi Tumbuhan. Gramedia. Jakarta.

Gardner, F.P., Pearce and R.L Mitcel. 1991. Fisiologi Tanaman. Universitas Indonesia Press. Jakarta.

Haryadi, S. S. 1990. Pengantar Agronomi. Gramedia. Jakarta.

Herlambang, T. 2002. Ekonomi Manajerial dan Strategi Bersaing. Raja Citrafindo Persada. Jakarta.

Hillel. D. 1997. Pengantar Fisika Tanah. Mitra Gama Widya.Yogyakarta.

Imdad, H.P. dan A.A. Nawangsih. 1999. Sayuran Jepang. Penebar Swadaya.

Jakarta.

Isbandi, D. 1983. Pertumbuhan dan Perkembangan Tanaman. Fakultas Pertanian UGM. Yogyakarta.

Isdarmanto. 2009. Pengaruh Macam Pupuk Organik dan Kosentrasi Pupuk Daun Terhadap Pertumbuhan Dan Hasil Tanaman Cabai Merah (Capsicum annum L.) Dalam Budidaya Sistem Pot. Skripsi. Fakultas Pertanian.

Universitas Sebelas Maret. Surakarta.

Novizan. 2002. Petunjuk Pemupukan yang Efektif. Agro Media Pustaka. Jakarta.

Reinsema, W.T. 1993. Pupuk dan Cara Pemupukan. Bhratara Niaga Media.

Jakarta.

Rosmarkam, A. dan N.W. Yuwono. 2002. Ilmu Kesuburan Tanah. Kanisius.

Yogyakarta.

(42)

Roemayanti, E. 2004. Pengaruh Kosenterasi Pupuk Pelengkap dan asam Giberelat (GA3) terhadap Pertumbuhan dan Hasil Terung Jepang ( Solanum Melongena L. ) secara Hidroponik. Skripsi. Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret. Surakarta.

Rukmana, R. 1994. Bertanam Terung. Kanisisus. Yogyakarta.

Sabiham, S. 1996. Prinsip-Prinsip Dasar Uji Tanah dalam Pelatihan Optimalisasi dalam Pemupukan. Proyek Pembinaan Kelembagaan Litbang Pertanian Bekerjasama dengan Faperta, IPB, Bogor.

Siswandi. 2006. Budidaya Tanaman Saturan. Citra Aji Parama. Yogyakarta Sitompul, S. M dan B. Guritno. 1995. Analisis Pertumbuhan Tanaman.

Universitas Gajah Mada press. Yogyakarta.

Sunarjono. 2008. Bertanam 30 Jenis Sayuran. Penebar Swadaya. Jakarta.

Sutanto, R. 1998. Kesuburan Tanah Sebagai Landasan Pertanian Lestari. Makalah Seminar Paguyuban Tani HPS Seluruh Indonesia. Ambarawa.

Sutejo, M.M. 2002. Pupuk dan Cara Pemupukan. Rienekacipta. Jakarta.

Syarief, E.S. 1986. Ilmu Tanah Pertanian. Pustaka Buana. Bandung.

(43)

LAMPIRAN

(44)

Tabel1a :Hasil Pengamatan Tinggi Tanaman 14 HST

PERLAKUAN ULANGAN

JUMLAH RATA-RATA

I II III

K1M1 10.50 10.00 10.30 30.80 10.27

K1M2 11.00 10.40 11.00 32.40 10.80

K1M3 10.00 10.50 11.00 31.50 10.50

K2M1 12.00 11.50 11.00 34.50 11.50

K2M2 11.70 12.00 11.50 35.20 11.73

K2M3 12.20 11.70 12.40 36.30 12.10

K3M1 13.50 12.50 13.50 39.50 13.17

K3M2 11.70 12.00 12.00 35.70 11.90

K3M3 13.90 12.50 12.90 39.30 13.10

TOTAL 106.50 103.10 105.60 315.20 105.07

Tabel1b :Sidik Ragam Pengamatan Tinggi Tanaman 14 HST

SK DB JK KT F.hit F.tabel

0.05 0.01

KELOMPOK 2 0.69 0.34 1.95 tn 3.63 6.23

PERLAKUAN 8 25.95 3.24 18.34 * 2.59 3.89

K 2 21.93 10.96 61.97 ** 3.63 6.23

M 2 1.00 0.50 2.83 tn 3.63 6.23

KxM 4 3.03 0.76 4.28 * 3.01 4.77

GALAT 16 2.83 0.18

TOTAL 26 29.47

KK 0.03

Keterangan :

** :Berpengaruh Sangat Nyata

* :Berpengaruh Nyata

tn :Tidak Berppengaruh Nyata

(45)

Tabel 2a :Hasil Pengamatan Tinggi Tanaman 28 HST

PERLAKUAN ULANGAN

JUMLAH RATA-RATA

I II III

K1M1 28.20 28.70 29.30 86.20 28.73

K1M2 28.50 29.00 30.60 88.10 29.37

K1M3 29.00 30.10 31.80 90.90 30.30

K2M1 30.10 31.30 32.50 93.90 31.30

K2M2 31.00 30.50 31.40 92.90 30.97

K2M3 30.50 32.20 33.90 96.60 32.20

K3M1 32.00 33.30 34.10 99.40 33.13

K3M2 31.50 31.80 32.60 95.90 31.97

K3M3 32.20 32.90 33.20 98.30 32.77

TOTAL 273.00 279.80 289.40 842.20 280.73

Tabel2b :Sidik Ragam Pengamatan Tinggi Tanaman 28 HST

SK DB JK KT F.hit F.tabel

0.05 0.01

KELOMPOK 2 15.09 7.54 27.48 ** 3.63 6.23

PERLAKUAN 8 54.30 6.79 24.72 ** 2.59 3.89

K 2 45.99 23.00 83.77 ** 3.63 6.23

M 2 1.00 0.50 1.82 tn 3.63 6.23

KxM 4 7.30 1.83 6.65 * 3.01 4.77

GALAT 16 4.39 0.27

TOTAL 26 73.78

KK 0.03

Keterangan :

** :Berpengaruh Sangat Nyata

* :Berpengaruh Nyata tn :Tidak Berpengaruh Nyata

(46)

Tabel 3a :Hasil Pengamatan Tinggi Tanaman 42 HST

PERLAKUAN ULANGAN

JUMLAH RATA-RATA

I II III

K1M1 44.35 45.10 46.10 135.55 45.18

K1M2 45.70 47.30 48.40 141.40 47.13

K1M3 45.00 45.20 48.00 138.20 46.07

K2M1 46.00 45.00 47.60 138.60 46.20

K2M2 45.80 48.10 47.00 140.90 46.97

K2M3 46.50 48.00 48.10 142.60 47.53

K3M1 46.50 45.40 48.20 140.10 46.70

K3M2 47.30 48.30 46.60 142.20 47.40

K3M3 47.00 49.00 47.00 143.00 47.67

TOTAL 414.15 421.40 427.00 1262.55 420.85

Tabel 3b :Sidik Ragam Pengamatan Tinggi Tanaman 42 HST

SK DB JK KT F.hit F.tabel

0.05 0.01

KELOMPOK 2 9.22 4.61 4.23 * 3.63 6.23

PERLAKUAN 8 15.89 1.99 1.82 tn 2.59 3.89

K 2 5.98 2.99 2.75 tn 3.63 6.23

M 2 1.00 0.50 0.46 tn 3.63 6.23

KxM 4 8.90 2.23 2.04 tn 3.01 4.77

GALAT 16 17.43 1.09

TOTAL 26 42.54

KK 0.28

Keterangan :

** :Berpengaruh Sangat Nyata

* :Berpengaruh Nyata tn :Tidak Berpengaruh Nyata

(47)

Tabel 4a :Hasil Pengamatan Jumlah Daun (Helai) 14 HST

PERLAKUAN ULANGAN

JUMLAH RATA-RATA

I II III

K1M1 5.00 6.00 7.00 18.00 6.00

K1M2 6.00 6.00 6.00 18.00 6.00

K1M3 5.00 7.00 7.00 19.00 6.33

K2M1 6.00 6.00 7.00 19.00 6.33

K2M2 6.00 7.00 8.00 21.00 7.00

K2M3 7.00 7.00 8.00 22.00 7.33

K3M1 7.00 7.00 9.00 23.00 7.67

K3M2 8.00 8.00 10.00 26.00 8.67

K3M3 8.00 10.00 9.00 27.00 9.00

TOTAL 58.00 64.00 71.00 193.00 64.33

Tabel 4b :Sidik Ragam Pengamatan Jumlah Daun (Helai) 14 HST

SK DB JK KT F.hit F.tabel

0.05 0.01

KELOMPOK 2 9.41 4.70 12.70 ** 3.63 6.23

PERLAKUAN 8 30.07 3.76 10.15 ** 2.59 3.89

K 2 25.41 12.70 34.30 ** 3.63 6.23

M 2 1.00 0.50 1.35 tn 3.63 6.23

KxM 4 3.66 0.92 2.47 tn 3.01 4.77

GALAT 16 5.93 0.37

TOTAL 26 45.41

KK 0.21

Keterangan :

** :Berpengaruh Sangat Nyata

* :Berpengaruh Nyata tn :Tidak Berpengaruh Nyata

(48)

Tabel 5a :Hasil Pengamatan Jumlah Daun (Helai) 28 HST

PERLAKUAN ULANGAN

JUMLAH RATA-RATA

I II III

K1M1 18.00 18.00 17.00 53.00 17.67

K1M2 19.00 19.00 16.00 54.00 18.00

K1M3 18.00 18.00 19.00 55.00 18.33

K2M1 23.00 23.00 23.00 69.00 23.00

K2M2 20.00 21.00 20.00 61.00 20.33

K2M3 21.00 21.00 21.00 63.00 21.00

K3M1 24.00 23.00 23.00 70.00 23.33

K3M2 23.00 22.00 21.00 66.00 22.00

K3M3 23.00 23.00 24.00 70.00 23.33

TOTAL 189.00 188.00 184.00 561.00 187.00

Tabel 5b :Sidik Ragam Pengamangat Jumlah Daun (Helai) 28 HST

SK DB JK KT F.hit F.tabel

0.05 0.01

KELOMPOK 2 1.56 0.78 1.27 tn 3.63 6.23

PERLAKUAN 8 129.33 16.17 26.45 ** 2.59 3.89

K 2 113.56 56.78 92.91 ** 3.63 6.23

M 2 1.00 0.50 0.82 tn 3.63 6.23

KxM 4 14.78 3.69 6.05 * 3.01 4.77

GALAT 16 9.78 0.61

TOTAL 26 140.67

KK 0.20

Keterangan :

** :Berpengaruh Sangat Nyata

* :Berpengaruh Nyata tn :Tidak Berpengaruh Nyata

(49)

Tabel 6a : Hasil Pengamatan Jumlah Daun (Helai) 42 HST

PERLAKUAN ULANGAN

JUMLAH RATA-RATA

I II III

K1M1 19.00 20.00 24.00 63.00 21.00

K1M2 22.00 19.00 26.00 67.00 22.33

K1M3 20.00 23.00 27.00 70.00 23.33

K2M1 20.00 22.00 23.00 65.00 21.67

K2M2 24.00 21.00 28.00 73.00 24.33

K2M3 21.00 24.00 28.00 73.00 24.33

K3M1 22.00 22.00 27.00 71.00 23.67

K3M2 23.00 24.00 29.00 76.00 25.33

K3M3 25.00 24.00 30.00 79.00 26.33

TOTAL 196.00 199.00 242.00 637.00 212.33

Tabel 6b : Sidik Ragam Pengamatan Jumlah Daun (Helai) 42 HST

SK DB JK KT F.hit F.tabel

0.05 0.01

KELOMPOK 2 147.19 73.59 41.83 ** 3.63 6.23

PERLAKUAN 8 71.19 8.90 5.06 * 2.59 3.89

K 2 37.85 18.93 10.76 ** 3.63 6.23

M 2 1.00 0.50 0.28 tn 3.63 6.23

KxM 4 32.33 8.08 4.59 * 3.01 4.77

GALAT 16 28.15 1.76

TOTAL 26 246.52

KK 1.46

Keterangan :

** :Berpengaruh Sangat Nyata

* :Berpengaruh Nyata tn :Tidak Berpengaruh Nyata

(50)

Tabel 7a : Hasil Pengamatan Umur berbunga 50% 14 HST

PERLAKUAN ULANGAN

JUMLAH RATA-RATA

I II III

K1M1 1.00 2.00 3.00 6.00 2.00

K1M2 2.00 2.20 3.00 7.20 2.40

K1M3 3.60 2.50 3.10 9.20 3.07

K2M1 2.20 2.40 3.60 8.20 2.73

K2M2 3.00 2.00 3.90 8.90 2.97

K2M3 2.50 3.00 4.00 9.50 3.17

K3M1 3.00 3.00 3.50 9.50 3.17

K3M2 2.70 3.20 3.10 9.00 3.00

K3M3 3.20 3.30 4.00 10.50 3.50

TOTAL 23.20 23.60 31.20 78.00 26.00

Tabel 7b : Sidik Ragam Pengamatan Umur berbunga 50% 14 HST

SK DB JK KT F.hit F.tabel

0.05 0.01

KELOMPOK 2 4.52 2.26 10.45 ** 3.63 6.23

PERLAKUAN 8 4.89 0.61 2.83 tn 2.59 3.89

K 2 2.48 1.24 5.74 tn 3.63 6.23

M 2 1.01 0.50 2.33 tn 3.63 6.23

KxM 4 1.41 0.35 1.63 tn 3.01 4.77

GALAT 16 3.46 0.22

TOTAL 26 12.87

KK 0.18

Keterangan :

** :Berpengaruh Sangat Nyata

* :Berpengaruh Nyata tn :Tidak Berpengaruh Nyata

(51)

Tabel 8a : Hasil Pengamatan Umur berbunga 50% 28 HST

PERLAKUAN ULANGAN

JUMLAH RATA- I II III RATA

K1M1 3.60 3.90 4.00 11.50 3.83

K1M2 3.90 4.00 4.90 12.80 4.27

K1M3 4.30 4.80 5.10 14.20 4.73

K2M1 4.00 4.40 5.50 13.90 4.63

K2M2 3.70 4.70 5.80 14.20 4.73

K2M3 4.60 5.20 6.00 15.80 5.27

K3M1 3.60 5.00 5.60 14.20 4.73

K3M2 4.10 5.00 6.00 15.10 5.03

K3M3 4.40 5.20 6.20 15.80 5.27

TOTAL 36.20 42.20 49.10 127.50 42.50

Tabel 8b : Sidik Ragam Pengamatan Umur berbunga 50% 28 HST

SK DB JK KT F.hit F.tabel

0.05 0.01

KELOMPOK 2 9.26 4.63 43.58 ** 3.63 6.23

PERLAKUAN 8 5.09 0.64 5.98 * 2.59 3.89

K 2 2.75 1.37 12.93 ** 3.63 6.23

M 2 1.00 0.50 4.72 * 3.63 6.23

KxM 4 1.34 0.33 3.14 * 3.01 4.77

GALAT 16 1.70 0.11

TOTAL 26 16.05

KK 0.03

Keterangan :

** :Berpengaruh Sangat Nyata

* :Berpengaruh Nyata tn :Tidak Berpengaruh Nyata

(52)

Tabel 9a : Hasil Pengamatan Umur berbunga 50% 42 HST

PERLAKUAN ULANGAN

JUMLAH RATA- I II III RATA

K1M1 5.70 6.30 7.60 19.60 6.53

K1M2 6.70 6.00 8.00 20.70 6.90

K1M3 6.10 7.10 8.20 21.40 7.13

K2M1 6.00 6.50 7.20 19.70 6.57

K2M2 6.60 7.40 8.50 22.50 7.50

K2M3 7.00 7.00 8.80 22.80 7.60

K3M1 6.90 7.00 8.80 22.70 7.57

K3M2 7.00 7.70 9.40 24.10 8.03

K3M3 7.20 7.90 9.90 25.00 8.33

TOTAL 59.20 62.90 76.40 198.50 66.17

Tabel 9b :Sidik Ragam Pengamatan Umur berbunga 50% 42 HST

SK DB JK KT F.hit F.tabel

0.05 0.01

KELOMPOK 2 18.21 9.11 76.45 ** 3.63 6.23

PERLAKUAN 8 9.29 1.16 9.75 * 2.59 3.89

K 2 5.89 2.95 24.74 ** 3.63 6.23

M 2 1.00 0.50 4.21 * 3.63 6.23

KxM 4 2.39 0.60 5.02 * 3.01 4.77

GALAT 16 1.91 0.12

TOTAL 26 29.41

KK 0.02

Keterangan :

** :Berpengaruh Sangat Nyata

* :Berpengaruh Nyata tn :Tidak Berpengaruh Nyata

(53)

Tabel 10a :Hasil Pengamatan Jumlah Buah 42 HST

PERLAKUAN ULANGAN

JUMLAH RATA-RATA

I II III

K1M1 18.47 19.29 20.22 57.98 19.33

K1M2 18.23 20.00 20.25 58.48 19.49

K1M3 19.34 20.45 21.00 60.79 20.26

K2M1 19.21 20.23 20.37 59.81 19.94

K2M2 19.43 20.34 21.43 61.20 20.40

K2M3 20.00 20.36 21.45 61.81 20.60

K3M1 19.27 20.19 21.32 60.78 20.26

K3M2 19.45 20.45 22.28 62.18 20.73

K3M3 20.22 21.00 22.42 63.64 21.21

TOTAL 173.62 182.31 190.74 546.67 182.22

Tabel 10b : Sidik Ragam Pengamatan Jumlah Buah 42 HST

SK DB JK KT F.hit F.tabel

0.05 0.01

KELOMPOK 2 16.28 8.14 73.69 ** 3.63 6.23

PERLAKUAN 8 8.48 1.06 9.59 * 2.59 3.89

K 2 4.92 2.46 22.25 ** 3.63 6.23

M 2 1.00 0.50 4.53 * 3.63 6.23

KxM 4 2.56 0.64 5.80 * 3.01 4.77

GALAT 16 1.77 0.11

TOTAL 26 26.53

KK 0.01

Keterangan :

** :Berpengaruh Sangat Nyata

* :Berpengaruh Nyata tn :Tidak Berpengaruh Nyata

(54)

Tabel 11a : Hasil Pengamatan Diameter Buah 42 HST

PERLAKUAN ULANGAN

JUMLAH RATA- I II III RATA

K1M1 4.13 5.32 5.31 14.76 4.92

K1M2 5.70 5.15 6.36 17.21 5.74

K1M3 5.00 5.21 6.45 16.66 5.55

K2M1 4.18 5.20 6.10 15.48 5.16

K2M2 5.80 5.22 6.34 17.36 5.79

K2M3 5.34 6.00 6.36 17.70 5.90

K3M1 5.00 5.70 6.50 17.20 5.73

K3M2 5.11 6.00 6.41 17.52 5.84

K3M3 5.42 6.20 6.46 18.08 6.03

TOTAL 45.68 50.00 56.29 151.97 50.66

Tabel 11b : Sidik Ragam Pengamatan Diameter Buah 42 HST

SK DB JK KT F.hit F.tabel

0.05 0.01

KELOMPOK 2 6.33 3.16 23.25 ** 3.63 6.23

PERLAKUAN 8 3.16 0.39 2.90 * 2.59 3.89

K 2 0.97 0.48 3.56 * 3.63 6.23

M 2 1.00 0.50 3.68 * 3.63 6.23

KxM 4 1.19 0.30 2.18 tn 3.01 4.77

GALAT 16 2.18 0.14

TOTAL 26 11.66

KK 0.04

Keterangan :

** :Berpengaruh Sangat Nyata

* :Berpengaruh Nyata tn :Tidak Berpengaruh Nyata

(55)

Lampiran 3.Dokumentasi

Gambar 1. Peyemaian Bibit Terung Ungu pada Media Pot Plasitik

Gambar 2. Pemberian Pupuk dan Persiapan Media Tanam Polybag

(56)

Gambar 3. Pemindahan Bibit ke Media Tanam Polybag

Gambar 4. Pemberian Pupuk serta Perlakuan pada Tanah dan Daun

(57)

Gambar 5. Umur 14 HST Terung Ungu

Gambar 4. Hasil Tanaman Terung Ungu Umur 42 HSTp

(58)

LAMPIRAN

Gambar lampiran 1. Denah Percobaan di lapangan

U

S

K1M1 K2M1 K3M3

K1M3 K2M2 K3M2

K1M2 K2M3 K3M1

(59)

Gambar

1. Tabel  1.  Rataan Tinggi Tanaman  (cm)  dalam  Kosentrasi  Pemberian  pupuk dan metode pemberian pupuk pada umur 14 HST...................................
Tabel 1. Rataan Tinggi Tanaman (cm)  dengan Berbagai Kosentrasi dan Metode Pemberian pupuk dan HI  Tech 19 umur 14 HST
Tabel  2. Rataan Tinggi Tanaman  (cm) dengan  Berbagai Kosentrasi dan  Metode Pemberian Pupuk  HI Tech 19 umur 28 HST
Gambar  1. Histogram Tinggi Tanaman  (cm)  dengan  Berbagai Kosentrasi dan Metode Pemberian Pupuk HI Tech 19 umur 42 HST
+7

Referensi

Dokumen terkait

Perlakuan pemberian pupuk berpengaruh nyata terhadap parameter tinggi tanaman 14 HST, 28 HST, 35 HST, jumlah daun 21 HST, 28 HST, 35 HST, umur berbunga, jumlah cabang

Hasil sidik ragam menunjukkan bahwa pemberian pupuk kandang ayam memberikan pengaruh nyata pada tinggi tanaman 20 dan 30 HST, jumlah daun umur 20 dan 30 HST, berat segar per

Hasil sidik ragam menunjukkan bahwa pemberian pupuk kandang ayam memberikan pengaruh nyata pada tinggi tanaman 20 dan 30 HST, jumlah daun umur 20 dan 30 HST, berat segar per

Terdapat pengaruh interaksi antara kosnetrasi pupuk cair organik dengan pemotongan umbi bibir pada panjang tanaman umur 35, 42 dan 49 HST, jumlah daun tanaman umur

Hasil sidik ragam menunjukkan bahwa pemberian pupuk kandang ayam memberikan pengaruh nyata pada tinggi tanaman 20 dan 30 HST, jumlah daun umur 20 dan 30 HST, berat segar per

Dari (Tabel 3), Pengaruh pemberian mulsa jerami terhadap jumlah daun (helai) pada umur 14 hst yang tertinggi terdapat pada perlakuan M 1 sebesar 10,88 helai

Terdapat pengaruh interaksi antara kosnetrasi pupuk cair organik dengan pemotongan umbi bibir pada panjang tanaman umur 35, 42 dan 49 HST, jumlah daun tanaman umur

Data A\val Jumlah Daun Helai Pada Saat Pemindahan Tanaman Di Persemaian Ke Lahan Penelitian 0 HST.. Data Awal Jumlah Daun Helai Pada Saat Sebelum Aplikasi Perl ak uan 10