Jurnal Internasional Manajemen (IJM)
Jilid 11, Edisi 6, Juni 2020, hlm. 1957-1962, ID Artikel: IJM_11_06_179 Tersedia online di http://iaeme.com/Home/issue/IJM?Volume=11&Issue=6 ISSN Cetak:
0976-6502 dan ISSN Online : 0976-6510 DOI: 10.34218/IJM.11.6.2020.179
Β© Publikasi IAEME
Terindeks ScopusPENGARUH EKONOMI DAN
INFRASTRUKTUR SOSIAL TERHADAP PERTUMBUHAN EKONOMI DI TIMUR
INDONESIA
Niyara Tria Indah Kusumawati
Departemen Ilmu Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Airlangga, Surabaya-60286, Indonesia
Atik Purmiyati*
Departemen Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga Kampus B UNAIR Jl. Airlangga 4-6, Surabaya- 60286, Indonesia
* Email Penulis Koresponden: [email protected]
ABSTRAK
Terwujudnya pelayanan publik antara Indonesia bagian barat dan timur, khususnya infrastruktur dan fasilitas umum, jelas masih belum merata. Berbagai pelayanan publik seperti kesehatan, pendidikan, air bersih, dan jalan di kawasan timur Indonesia masih tertinggal jauh.
Tingkat keberhasilan pembangunan nasional dapat diukur melalui pertumbuhan ekonomi dengan membandingkan aspek peningkatan perekonomian lokal terhadap kualitas dan kuantitas
infrastruktur antara kedua wilayah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh infrastruktur ekonomi dan sosial terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia Timur secara simultan dan parsial. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan menggunakan regresi data panel dengan metode Random Effect Model (REM). Penelitian ini menggunakan 96 observasi yang terdiri dari data time series tahunan mulai tahun 2010 hingga 2015 dan data lintas sektor 16 provinsi di Kawasan Timur Indonesia (KTI). Variabel ikatannya adalah pertumbuhan ekonomi yang diukur dengan Produk Domestik Regional Bruto atau PDRB. Sedangkan variabel independennya adalah infrastruktur jalan, infrastruktur udara, infrastruktur listrik, infrastruktur kesehatan, infrastruktur pendidikan, dan tenaga kerja. Nilai variabel koefisien konstan infrastruktur jalan, udara, listrik, kesehatan, pendidikan, dan tenaga kerja masing-masing sebesar 3,8951-; 0,59706;
-0,1395; 0,78033; 0,06913; dan -0,8351. Berdasarkan hasil uji F diperoleh nilai probabilitas F-statistik
sebesar 0,000 lebih kecil dari taraf signifikansi (Ξ± = 0,05). Seluruh variabel independen berpengaruh
secara simultan terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia Timur pada tahun 2010 sampai
dengan tahun 2015. Variabel infrastruktur jalan dan air bersih secara parsial mempunyai pengaruh
yang positif dan tidak signifikan, sedangkan variabel infrastruktur kesehatan dan pendidikan serta
ketenagakerjaan mempunyai pengaruh yang cukup positif dan signifikan.
Indonesia
Kata kunci: infrastruktur ekonomi dan sosial, pertumbuhan ekonomi, pembangunan nasional
Kutip Artikel ini: Niyara Tria Indah Kusumawati dan Atik Purmiyati, Pengaruh Infrastruktur Ekonomi dan Sosial terhadap Pertumbuhan Ekonomi di Indonesia Timur,Jurnal Internasional Manajemen,11(6), 2020, hlm.1957-1962. http://
iaeme.com/Home/issue/IJM?Volume=11&Issue=6
1. PERKENALAN
Akselerasi pertumbuhan ekonomi yang tinggi akan mendorong pembangunan nasional suatu negara. Di Indonesia, pertumbuhan ekonomi yang tinggi menjadi sasaran utama perekonomian karena jumlah penduduk yang besar, diperparah dengan banyaknya penduduk yang berada di bawah garis kemiskinan sejak awal berkembangnya Repelita 1 pada tahun 1979 sampai dengan tahun 1974. Pertumbuhan ekonomi memegang peranan penting sebagai prioritas pembangunan jangka pendek. [1]. Namun jika dibandingkan Indonesia Bagian Barat (KBI) dengan Indonesia Timur (KTI), pembangunan di Indonesia masih belum merata. Dari segi infrastruktur dan fasilitas umum, terlihat jelas antara kedua wilayah ini. Berbagai pelayanan publik di KTI seperti kesehatan, pendidikan, air bersih, dan jalan masih tertinggal dari KBI.
Pertumbuhan ekonomi, pemerataan, kualitas hidup, dan kerusakan lingkungan merupakan empat indikator yang menjadi tolok ukur dan aspek mendasar dalam berhasil tidaknya pembangunan suatu negara. Pertumbuhan ekonomi merupakan suatu indikator yang dapat digunakan untuk mengukur pencapaian suatu negara atau suatu daerah, yang bermanfaat dalam menentukan arah pembangunan di masa depan. Pertumbuhan ekonomi yang positif menunjukkan rendahnya peningkatan perekonomian; Di sisi lain, pertumbuhan ekonomi negatif menunjukkan penurunan. Seperti yang dijelaskan oleh Sukirno, [3], pembangunan ekonomi adalah suatu proses usaha dalam meningkatkan pendapatan per kapita atau pendapatan suatu negara dengan cara mengolah potensi ekonomi ke dalam bentuk aslinya. Hal ini dapat dilakukan melalui lima tahapan penting, yaitu investasi, pemanfaatan teknologi, perolehan pengetahuan, pengelolaan keterampilan, dan peningkatan keterampilan organisasi. Melalui lima tahapan tersebut, pembangunan ekonomi dapat berjalan dan tumbuh dengan baik.
Salah satu indikator yang dapat digunakan untuk mengukur pertumbuhan ekonomi adalah produk domestik regional bruto, karena produk ini merupakan besarnya nilai tambah yang dihasilkan oleh seluruh kegiatan produksi dalam perekonomian. Artinya, peningkatan produk domestik regional bruto juga mencerminkan ketidakseimbangan terhadap faktor-faktor produksi yang digunakan dalam kegiatan produksi. Selain itu, batasan PDBB adalah wilayah domestik. Hal ini memungkinkan kita untuk mendorong sejauh mana kebijakan ekonomi yang diambil pemerintah dalam mendorong kegiatan perekonomian dalam negeri.
Infrastruktur merupakan indikator utama pembangunan dan pertumbuhan ekonomi nasional dan daerah.
Pembangunan infrastruktur memberikan kontribusinya terhadap pertumbuhan ekonomi dan peningkatan kualitas hidup masyarakat [4]. Penelitian sebelumnya menyatakan bahwa infrastruktur transportasi memegang peranan penting dalam kinerja keuangan suatu negara [5] karena infrastruktur ini berpengaruh positif terhadap produk domestik bruto per kapita atau GDPPC. Pengaruh infrastruktur terhadap peningkatan kualitas hidup adalah peningkatan nilai konsumsi, produktivitas tenaga kerja, ketersediaan lapangan kerja, dan kesejahteraan hidup masyarakat. Infrastruktur mempunyai peranan yang cukup besar dalam meningkatkan perekonomian suatu daerah. Saat ini, pemerintah masih mengalami beberapa kendala dalam penyediaan infrastruktur, seperti masalah efisiensi investasi, keterbatasan dana, dan pilihan skala prioritas. Namun wilayah Indonesia Timur masih memerlukan analisis lebih lanjut untuk mengetahui apakah infrastruktur dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi atau tidak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh simultan dan parsial infrastruktur ekonomi dan sosial terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia Timur.
2. METODE
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan menganalisis model ekonometrik regresi data panel. Variabel yang terikat dalam penelitian ini adalah pertumbuhan ekonomi yang diukur dengan PDRB. Sedangkan variabel independennya adalah infrastruktur jalan, udara, listrik, kesehatan, pendidikan, dan tenaga kerja. Penelitian ini menggunakan data sekunder yang diperoleh dari publikasi Badan Pusat Statistik Indonesia dan Kementerian Kesehatan RI. Studi literatur dari buku, jurnal ekonomi, internet, dan sumber lain yang relevan dilakukan sebagai perdebatan pendukung untuk melengkapi argumen penelitian ini. Analisis statistik yang digunakan dalam pengumpulan data adalah regresi data panel, uji t-statistik, uji F-statistik, dan analisis koefisien determinasi.
3. HASIL
Berdasarkan hasil penelitian, analisis deskriptif masing-masing variabel dijelaskan pada Tabel 1. Terlihat pada tabel 1 bahwa variabel tenaga kerja mempunyai nilai mean tertinggi (439,0026), sedangkan nilai mean terendah terdapat pada bidang kesehatan. variabel infrastruktur (0,092396).
Tabel 1 Analisis deskriptif masing-masing variabel
N
Minimum Maksimal BerartiStd.
Deviasi
Pertumbuhan ekonomi
96
96 96 96 96 96 96
9316,79 1.68920596 4.88012047
91,26 0,03688346 0,80914342
414214,1 10,820425
34354,82 4,88012
47702,84951 0,191703013 infrastruktur jalan
Infrastruktur air bersih Infrastruktur listrik Infrastruktur kesehatan
0,191703 45,14651 2,763615071 804,4
0,1965168 2,2941653
324.116 0,092396 1,283033
15.48167515 0,003644218 0,031273855 3,563106626
Infrastruktur pendidikan
Tenaga Kerja 363,00893 539,78536 439.0026
Nilai koefisien pada uji regresi data panel (rem) dapat dilihat pada Tabel 2. Nilai koefisien tertinggi terdapat pada variabel tenaga kerja (1,57087). Jika terjadi peningkatan tenaga kerja sebesar 1 persen, maka pertumbuhan ekonomi di Indonesia Timur akan meningkat sebesar 1,57087 persen.
Tabel 2 Hasil regresi data panel Random Effect Model
Variabel Koefisien Kesalahan Standar t-Statistik Masalah
Konstan
Infrastruktur Jalan
- 3,8951 4,81101 - 0,81 0,418
0,59706 0,28249
0,1224 0,13753
0,2531
2,11
0,0350,255 0,000 0,785
Infrastruktur Udara - 0,1395 - 1,14
Infrastruktur Ketenagalistrikan Infrastruktur Kesehatan Tenaga Kerja Infrastruktur Pendidikan
0,78033 0,06913
5,67 0,27
- 0,8351 0,32818
0,77154
- 2,54 0,011
0,042
1,57087
2,04
Uji F atau uji simultan dilakukan untuk menguji hipotesis. Berdasarkan hasil uji F diperoleh nilai probabilitas F-statistik sebesar 0,000 lebih kecil dari taraf signifikansi (Ξ± = 0,05). Hal ini menunjukkan bahwa infrastruktur jalan, udara, kesehatan, dan pendidikan, serta tenaga kerja berpengaruh secara signifikan dan simultan (bersamaan) terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia Timur pada tahun 2010 hingga tahun 2015.
Indonesia
4. DISKUSI
Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara simultan atau kebetulan variabel-variabel yaitu infrastruktur jalan, air bersih, kesehatan, pendidikan, dan tenaga kerja mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia Timur (KTI) pada tahun 2010 hingga 2015. Penelitian ini sejalan dengan teori pertumbuhan ekonomi Neo- Klasik (Solow-Swan) yang menjelaskan bahwa pertumbuhan stok modal dan tenaga kerja mempengaruhi jumlah output barang dan jasa di suatu wilayah atau negara. Penelitian ini terhenti dengan penelitian sebelumnya [6,7].
Variabel lain yang signifikan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi adalah infrastruktur jalan, yang juga menghambat penelitian sebelumnya [7,8]. Namun hal tersebut bertentangan dengan teori pertumbuhan ekonomi Neo-Klasik (Solow-Swan) yang menjelaskan bahwa berbagai jenis pertumbuhan modal dan stok modal mempengaruhi jumlah output barang dan jasa di suatu wilayah atau negara. Perusahaan swasta berinvestasi dalam bentuk ekuitas standar, sedangkan pemerintah juga berinvestasi pada berbagai jenis investasi publik, seperti infrastruktur jalan, air bersih, kesehatan, dan pendidikan. Penelitian ini berbeda dengan hasil penelitian sebelumnya yang meneliti pengaruh infrastruktur terhadap pertumbuhan ekonomi di Jawa Barat pada tahun 2000 hingga 2007 [6]. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa infrastruktur jalan memberikan dampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi di Jawa Barat. Namun hal tersebut tidak terlalu signifikan karena saat ini jalan panjang sudah tidak lagi menjadi penopang utama dalam membangun aspek perekonomian di Indonesia.
Kuantitas dan kualitas cara-cara yang digunakan secara luas di masyarakat saat ini memainkan peran penting dalam pembentukan perekonomian. Area penelitian yang berbeda diasumsikan menjadi alasan di balik perbedaan yang ditemukan dalam hasil penelitian tersebut [6-8].
Hasilnya menunjukkan bahwa infrastruktur air bersih berpengaruh positif terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia Timur pada tahun 2010 hingga 2015. Namun pengaruh tersebut tidak signifikan karena kelangkaan air bersih dan kenaikan tarif air di Indonesia Timur. Hasil penelitian tersebut sejalan dengan penelitian
sebelumnya [9] yang meneliti pengaruh infrastruktur air bersih terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia.
Meski begitu, hal tersebut belum cukup signifikan karena infrastruktur air bersih bukan lagi satu-satunya infrastruktur yang mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Infrastruktur lain yang juga bisa
mendongkrak pertumbuhan ekonomi menyebabkan jumlah udara di wilayah tersebut sudah langka. Penelitian ini sejalan dengan teori pertumbuhan ekonomi Neo-Klasik (Solow-Swan) yang menyatakan bahwa modal pertumbuhan mempengaruhi jumlah output barang dan jasa di suatu wilayah atau negara. Namun penelitian lain menunjukkan bahwa infrastruktur udara memberikan pengaruh positif terhadap pertumbuhan
perekonomian di Indonesia pada tahun 2000 hingga 2007 karena dengan perbaikan infrastruktur udara masyarakat dapat melakukan berbagai aktivitas rumah tangga yang dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi.
Di sisi lain, infrastruktur ketenagalistrikan mempunyai pengaruh yang positif dan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia Timur pada tahun 2010 hingga 2015. Hal ini disebabkan dengan perbaikan infrastruktur kesehatan akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan kemampuan memperoleh pendapatan yang tinggi. Penelitian ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang menjelaskan bahwa variabel infrastruktur berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi di Provinsi Bengkulu pada tahun 1996-2008 [7] karena listrik merupakan energi yang berharga dalam proses produksi.
Penelitian ini, didukung oleh penelitian-penelitian sebelumnya, menunjukkan bahwa infrastruktur kesehatan mempunyai pengaruh yang merugikan dan tidak signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi di Jawa Barat. Infrastruktur kesehatan dan pertumbuhan tidak ada semuanya sama lain karena peningkatan infrastruktur kesehatan menyebabkan mahalnya biaya pengobatan dan rawat inap, serta pasangan masyarakat yang tinggal di dataran rendah di Jawa Barat untuk mengakses layanan kesehatan di rumah sakit [6]. Namun hasil ini bertentangan dengan teori pertumbuhan ekonomi Neo-Klasik (Solow-Swan) yang menjelaskan bahwa modal pertumbuhan mempengaruhi jumlah output. Dengan kata lain, ketika infrastruktur kesehatan meningkat maka pertumbuhan ekonomi juga akan meningkat. Perusahaan swasta berinvestasi dalam standar
bentuk modal sedangkan di sisi lain, pemerintah melakukan investasi pada berbagai bentuk infrastruktur modal publik seperti jalan, air bersih, kesehatan, dan pendidikan.
Infrastruktur pendidikan menunjukkan dampak positif dan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia Timur pada tahun 2010 hingga 2015. Peningkatan jumlah unit infrastruktur pendidikan merupakan salah satu upaya untuk
mendongkrak pertumbuhan ekonomi. Infrastruktur pendidikan dan pertumbuhan ekonomi berjalan beriringan karena masyarakat memperoleh ilmu pengetahuan dan meningkatkan pendapatannya melalui pemerataan pendidikan. Dampaknya, tingkat pertumbuhan dan kesejahteraan pun meningkat.
Tenaga kerja mempunyai pertumbuhan yang positif dan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia Timur pada tahun 2010 hingga tahun 2015 karena tersedianya lapangan kerja di suatu daerah dapat meningkatkan jumlah tenaga kerja dan pertumbuhan ekonomi. Penelitian ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang meneliti pengaruh tenaga kerja terhadap pertumbuhan ekonomi [6,10]. Hasil penelitian menyatakan bahwa kerja angkatan kerja berpengaruh positif dan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi. Hal ini menunjukkan bahwa perekonomian Indonesia lebih bersifat padat karya dibandingkan padat modal[12-13-14].
Berdasarkan hasil di atas, pemerintah dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi di Indonesia Timur dengan meningkatkan infrastruktur jalan, listrik, dan pendidikan. Selain itu, pemerintah juga dapat menambah angkatan kerja dengan meningkatkan tingkat partisipasi angkatan kerja di Indonesia Timur.
5. KESIMPULAN
Infrastruktur jalan, infrastruktur air bersih, infrastruktur ketenagalistrikan, infrastruktur kesehatan, infrastruktur pendidikan, dan tenaga kerja secara simultan mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia Timur (KTI) pada tahun 2010 sampai dengan tahun 2015. Namun secara parsial variabel infrastruktur air bersih mempunyai pengaruh yang negatif dan tidak signifikan. dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi.
Sedangkan infrastruktur kesehatan mempunyai pengaruh yang agak positif dan tidak signifikan. Variabel prasarana pendidikan secara parsial mempunyai pengaruh negatif dan signifikan. Sebaliknya infrastruktur jalan, infrastruktur ketenagalistrikan, dan ketenagakerjaan mempunyai pengaruh positif dan signifikan secara parsial terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia Timur (KTI) pada tahun 2010 sampai dengan tahun 2015.
REFERENSI
[1]
Tambunan T. (2006) Perekonomian Indonesia sejak Orde Lama hingga pasca krisis. Pustaka Kuantum[2]
[3]
Budiman A. (1995) Teori pembangunan Dunia Ketiga. Gramedia Pustaka Utama;
Sukirno S. (2000) Makroekonomi Modern: perkembangan pemikiran klasik hingga keynesian baru. Jakarta Raja Graf Persada.
[4]
Setiadi E. (2006) Pengaruh Pembangunan Infrastruktur Dasar terhadap Pertumbuhan Ekonomi Regional Indonesia (8 Provinsi Di Sumatera). FEUI, Jakarta[5]
Galdeano, D., Ahmed, U., Fati, M., Rehan, R., & Ahmed, A. (2019). Kinerja keuangan dan tanggung jawab sosial perusahaan di perbankan sektor Bahrain: Dapatkah keterlibatan dimoderasi?. Surat Ilmu Manajemen, 9(10), hlm.1529-1542.[6] Zhao, Y. (2020). Analisis Jalur Pengaruh Perceived Value Terhadap Kepuasan Belanja Pelanggan Online Dilihat Dari Mental Accounting. Revista Argentina de ClΓnica PsicolΓ³gica, 29(2), hlm.9-21.
[7] Wong MC, Yip TL. (2019) Pengaruh infrastruktur transportasi terhadap hubungan antar institusi dan kinerja perekonomian. Pendeta Bus Marit; 4(4):395β412.
[8]
Maqin A. (2014) Pengaruh Kondisi infrastruktur terhadap pertumbuhan ekonomi di jawaIndonesia
[9]
Pranessy L, Ridwan N, Merri A. (2012) Pengaruh Pembangunan Infrastruktur Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Provinsi Bengkulu. J Ekon dan Perenc Pembang. 4(3):49β60.[10] Suminar HA, Hanim A, Wahyu F. (2016) Pengaruh pembangunan infrastruktur terhadap pendapatan daerah Kabupaten Jembe. Artikel Ilm Mhs.