PENGARUH KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH, LINGKUNGAN KERJA FISIK, PENDIDIKAN, PELATIHAN DAN MOTIVASI
KERJAGURU TERHADAP KINERJA GURU DI SMA NEGERI 1 RAO KABUPATEN
PASAMAN
JURNAL
Oleh:
WIL ELMIZA 12090289
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN EKONOMI
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (STKIP) PGRI SUMATERA BARAT
PADANG 2017
HAL,TMAN PENGESAHAII JURNAL
FENGARUH KEPEN{IMPINAN KEPAI,A SEKoLAH, LINGKTINGAN KEIIJA FISIK, PENDIDIKAN, PELATI}IA]\ DAN MOTIVASI
KERJA TERI{ADAP KINERJA GUIIU DI SMA NEGERI 1 RAO KABUPATEN PAS,AMAN
]'lar-na ]'tPM
Program Studi I rstitusi
Pernbrmbing I
:Wil
Ehniza: i2090289
: I'endidikan Ekonorni
: Sekolah T'inggi Keguman dan Ihnu Pendidikan (SI'KIP') PGRI Sumatera Barat
Padang,
Januari 2017Disetujui Oleh:
Pembimbing II
M.Si) MBA)
PENGARUH KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH, LINGKUNGAN KERJA FISIK, PENDIDIKAN, PELATIHAN DAN MOTIVASI
KERJA TERHADAP KINERJA GURU DI SMA NEGERI 1 RAO KABUPATEN PASAMAN
Oleh :
, Ansofino,2Hayu Yolanda Utami,3
1,Wil Elmiza dan2,3Dosen program studi pendidikan ekonomi STKIP PGRI Sumatera Barat
[email protected],[email protected],[email protected]
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kepemimpinan kepala sekolah, lingkungan kerja fisik, pendidikan, pelatihan dan motivasi kerja secara parsial dan simultan terhadap kinerja guru SMA Negeri 1 Rao Kabupaten Pasaman. Hasil analisa data menunjukkan bahwa (1) kepemimpinan kepala sekolah secara persial berpengaruh signifikan terhadap kinerja guru SMA Negeri 1 Rao Kabupaten Pasaman karena thitung (10,077) > ttabel (1,67591); (2) Lingkungan kerja fisik secara parsial berpengaruh signifikan kinerja guru SMA Negeri 1 Rao Kabupaten Pasaman karena thitung (1,983) > ttabel (1,67591); (3) pendidikan secara parsial berpengaruh signifikan terhadap kinerja guru SMA Negeri 1 Rao Kabupaten Pasaman karena thitung (2,827) > ttabel(1,67591); (4) Pelatihan secara parsial berpengaruh signifikan kinerja guru SMA Negeri 1 Rao Kabupaten Pasaman karena thitung(3,551) > ttabel(1,67591); (5) Motivasi Kerja parsial berpengaruh signifikan kinerja guru SMA Negeri 1 Rao Kabupaten Pasaman karena thitung(2,594)
> ttabel(1,67591); (6) kepemimpinan kepala sekolah, lingkungan kerja fisik, pendidikan, pelatihan dan motivasi kerja secara silmutan berpengaruh signifikan terhadap kinerja guru SMA Negeri 1 Rao Kabupaten Pasaman karena Fhitung30,402> dari Ftabel2,55).
Kata Kunci: Kinerja Guru, Kepemimpinan Kepala Sekolah, Lingkungan Kerja Fisik, Pendidikan, Pelatihan Dan Motivasi Kerja
ABSTRACT
This study aimed to determine the effect of school leadership, the physical working environment, education, training and work motivation partially and simultaneously on teacher performance SMA Negeri 1 Rao Pasaman district. The results of data analysis showed that (1) the principal's leadership partially significant effect on teacher performance SMA Negeri 1 Rao Pasaman is because thitung (10.077)> t table (1.67591); (2) the physical working environment is partially significant effect teacher performance SMA Negeri 1 Rao Pasaman is because thitung (1.983)> t table (1.67591); (3) educational partially significant effect on teacher performance SMA Negeri 1 Rao Pasaman is because thitung (2.827)> t table (1.67591); (4) Training partially significant effect teacher performance SMA Negeri 1 Rao Pasaman is because thitung (3.551)> t table (1.67591); (5) Work Motivation partially significant teacher performance SMA Negeri 1 Rao Pasaman is because thitung (2.594)> t table (1.67591); (6) the principal's leadership, the physical working environment, education, training and work motivation silmutan significant impact on teacher performance SMA Negeri 1 Rao Pasaman is because of F 30.402> F table 2.55).
Keywords: Teacher Performance, Leadership Principals, Physical Work Environment, Education, Training and Work Motivation
PENDAHULUAN
Menurut “Undang-Undang Republik Indonesia No.14 tentang Guru dan Dosen,” (2005) guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mrengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan usia dini, pendidikan dasar dan pendidikan menengah”.
Dalam Undang-undang No 14, (2005) menjelaskan bahwa: “ guru mempunyai kedudukan sebagai tenaga profesional pada jenjang pendidikan usia dini, pendidikan dasar dan pendidikan menengah, pada jalur pendidikan formal yang diangkat sesuai dengan peraturan perundang-undangan. (Pasal 2 UU RI No. 14:2005).
Menurut Supardi (2013) kinerja adalah salah satu kegiatan yang dilakukan untuk melaksanakan, menyelesaikan tugas dan tanggung jawab sesuai dengan harapan dan tujuan yang telah ditetapkan. Siagian (2012) berpendapat bahwa “ kinerja merupakan suatu pencapaian pekerjaaan tertentu yang akhirnyan secara langsung dapat dicerminkan dari keluaran yang dihasilkan:. Keluaran yang dihasilkan dapat berupa fisik, hal yang ditegaskan oleh nawawi (2012:27) yang menyebutkan kineja dengan istilah karya, yaitu “suatu hasil pelaksanaan pekerjaan baik bersifat fisik maupun non fisik.
Kinerja guru merupakan seluruh usaha guru untuk mengantarkan proses pembelajaran mencapai tujuan pendidikan. Adapun kinerja guru meliputi seluruh kegiatan yang menyangkut tugas profesionalnya
sebagai guru dan tugas pengembangan pribadi guru. Tugas Profesional guru mencakup suatu kegiatan berantai dimulai dari merencanakan pembelajaran, melaksanakan, mengevaluasi sampai dengan tindak lanjut evaluasi. Selain itu guru juga dituntut untuk memiliki pemahaman wawasan kependidikan, pemahaman terhadap peserta didik serta harus mampu mengembangkan potensi peserta didik.
Jika dikaitkan dengan guru adalah tingkat kemampuan guru untuk mengelola, menemukan berbagai permasalahan dalam tugas dan mampu secara mandiri menyelesaikannya.
Artinya kinerja guru adalah segala upaya atau kemampuan yang dimiliki seseorang dalam melakukan tugasnya.
Profesi serta motivasi dalam mengelola, melaksanakan dan menyelesaikan semua tugas secara optimal dan maksimal.
SMA Negeri 1 Rao merupakan salah satu sekolah yang terfavorit kedua di Kabupaten Pasaman. Selain itu lokasi menuju sekolah berada di jalan lintas Sumatera (Padang-Medan) dimana mayoritas siswa bertempat tinggal jauh dari lokasi sekolah yang diduga dapat berpengaruh terhadap hasil belajar karena pada nilai UN sekolah jurusan IPS dan Bahasa Inggris dengan nilai UN terendah jika dibandingkan dengan jurusan IPA. Hal ini diduga dipengaruhi oleh kinerja guru.
Penulis memperoleh informasi beberapa data mengenai kinerja guru se- kabupaten Pasaman yang dinilai dengan jumlah guru sertifikasi, guru yang belum sertifikasi yang dapat dilihat pada tabel 1 dibawah ini:
Tabel 1. Data Guru
SMA Negeri dan SMA Swasta se-Kabupaten Pasaman No Sekolah/Kecamatan Jumlah Guru
Sertifikasi
Jumlah Guru Yang Belum
Sertifikasi
Jumlah Guru
1. SMA Negeri 1 Dua Koto 19 35 54
2. SMA Negeri 1 Lubuk Sikaping
46 15 61
3. SMA Negeri 1 Panti 29 38 67
4. SMAS Yappas Pasaman - 14
5. SMAN 1 Tigo Nagari 18 16 34
6. SMA N 2 Lubuk Sikaping 21 18 39
7. SMA N Mapat Tunggul 1 25 26
8. SMAS PGRI Rao Selatan - 9 9
9. SMAN 1 Bonjol 33 26 59
10. SMA N 1 Padang Gelugur 20 38 58
11. SMA N Mapat Tunggul Selatan
1 16 17
12. SMAS Imam Bonjol 1 9 10
13. SMA N 1 Rao 34 32 66
14. SMA N 1 Rao Utara 2 22 24
Jumlah Keseluruhan 228 308 536
Sumber:Website Resmi Kemdibud Tahun 2016 Berdasarkan tabel 1 diatas terlihat
bahwa dari 14 sekolah SMA Negeri dan SMA Swasta yang berada di Kabupaten Pasaman, jumlah guru sertifikasi sebanyak 228 orang dan yang belumsertifikasi sebanyak 308 orang dengan jumlah guru yaitu sebanyak 535 orang. Dari 228 orang guru yang sertifikasi yang paling banyak terdapat di SMA Negeri 1 Lubuk Sikaping dan paling sedikit di SMA N Mapat Tunggul, SMA N Mapat Tunggul Selatan dan SMAS Imam Bonjol yang masih terdapat 1 orang guru sertifikasi.
Pada SMAS Yappas Pasaman dan SMAS PGRI Rao Selatan tidak terdapat guru sertifikasi dan hanya guru yang belum sertifikasi sebanyak 14 orang di SMAS Yappas Pasaman dan 9 orang di SMA PGRI Rao Selatan.
Kepemimpinan pendidikan menurut Mulyasa (2004) adalah proses mempengaruhi, mengerakkan, memberi motivasi dan mengarahkan orang-orang
yang ada dalam organisasi pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan.
Selain kepemimpinan, faktor lain yang diduga mempengaruhi kinerja guru adalah lingkungan kinerja fisik. Karena dengan adanya lingkungan kerja yang baik/kondusif diduga dapat meningkatkan mutu kerja dan kinerja guru. Menurut Anoraga (2006:58) menyatakan bahwa lingkungan kerja yang baik akan mempengaruhi kinerja yang baik pula pada segala pihak, baik pada para pekerja, pimpinan atau hasil pada pekerjaannya.
Selain lingkungan kerja fisik faktor lain yang diduga berpengaruh terhadap kinerja guru adalah pendidikan.
Mulyasa (2009:139) menyatakan bahwa pada umumnya orang yang mempunyai pendidikan lebih tinggi akan memiliki wawasan yang lebih luas, terutama penghayatan akan arti penting produktivitas.
Selain kepemimpinan kepala sekolah, lingkungan kerja fisik,
pendidikan, pelatihan, motivasi juga diduga berpengaruh terhadap kinerja guru. Motivasi terbentuk dari sikap (attitude) karyawan dalam menghadapi situasi kerja di perusahaan. Motivasi merupakan kondisi atau energi yang menggerakan diri karyawan yang terarah dan tertuju untuk mencapai tujuan organisasi perusahaan Mangkunegara, (2010:61). Menurut Hasibuan, (2010:95) motivasi adalah pemberian daya penggerak yang menciptakan kegairahan kerja seseorang, agar mereka mau bekerja sama, bekerja efektif dan terintegrasi dengan segala daya upayanya untuk mencapai kepuasan.
Berdasarkan fenomena di atas maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang “Pengaruh Kepemimpinan Kepala Sekolah, Lingkungan Kerja Fisik, Pendidikan, Pelatihan dan Motivasi kerja Terhadap Kinerja Guru Di SMA Negeri 1 Rao KabupatenPasaman”.
KAJIAN PUSTAKA Teori Kinerja Guru
Kinerja merupakan terjemah dari bahasa inggris work performance atau job performance atau performance saja.
Dalam kamus besar bahasa indonesia
“Kinerja adalah suatu yang dicapai, prestasi yang diperlihatkan dalam kemampuan kerja” (Depdiknas, 2003).
Kinerja sangat berkaitan dengan hasil kerja. Hasibuan dan Malayu,(2003:94) menyatakan bahwa kinerja atau prestasi kerja adalah suatu hasil kerja yang dicapai seseorang dalam melaksanakan tugas yang dibebankan kepadanya yang didasarkan atas kecakapan, pengalaman dan kesungguhan serta waktu. Menurut Rusyan, Tabrani, (2000) kinerja guru adalah melaksanakan proses pembelajaran baik dilakukan di dalam kelas maupun di luar kelas di samping mengerjakan kegiatan-kegiatan lainnya, seperti mengerjakan administrasi sekolah dan administrasi pembelajaran, melaksanakan bimbingan dan layanan
pada para siswa, serta melaksanakan penilaian. Berdasarkan uraian diatas dapat ditarik kesimpulan kinerja guru merupakan suatu proses melaksanakan, menyelesaikan tugas, dan tanggung jawab seorang guru dalam melaksanakan tugas dan kegiatan- kegiatan lain yang berhubungan dengan sekolah.
Indikator penilaian terhadap kinerja guru dilakukan terhadap tiga kegiatan pembelajaran dikelas (Sudjana, 2004:107) yaitu:
1.
Perencanaan Program Kegiatan Pembelajaran2.
Pelaksanaan KegiatanPembelajaran
3.
Evaluasi/Penilaian Pembelajaran Teori Kepemimpinan Kepala SekolahMulyasa (2012:17) Kinerja kepemimpin kepala sekolah merupakan upaya yang dilakukan dan hasil yang dapat dicapai oleh kepala sekolah dalam mengimplementasikan manajemen sekolah untuk mewujudkan tujuan pendidikan secara efektif dan efisien, produktif dan akuntabel. Menurut Martin dan Millower (2001) , Willower dan Kmetz (2007), dalam Mulyasa, (2012) berdasarkan hasil-hasil kajiannya pada berbagai sekolah unggulan yang telah sukses mengembangkan program- programnya, mengemukakan indikator kepala sekolah efektif sebagai berikut.
1. Menerapkan pendekatan
kepemimpinan partisipatif terutama dalam proses pengambilan keputusan.
2. Memiliki gaya kepemimpinan yang demokratis, lugas, dan terbuka.
3. Memiliki visi yang kuat tentang masa depan sekolah.
4. Menunjukkan sikap dan prilaku teladan yang dapat menjadi panutan atau model bagi guru, peserta didik dan seluruh warga sekolah.
5. Mengarahkan perubahan dan inovasi dalam organisasi.
Teori Lingkungan Kerja Fisik
Sedarmayanti (2011: 26) menjelaskan lingkungan kerja fisik adalah semua keadaan berbentuk fisik yang terdapat di sekitar tampat kerja yang dapat mempengaruhi guru baik secara langsung maupun tidak lansung.
Lingkungan kerja yang baik akan memberikan kenyamanan pribadi maupun dalam membangkitkan semangat kerja guru sehingga dapat mengerjakan tugas-tugas dengan baik.
Disamping itu guru akan lebih senang dan nyaman dalam bekerja apabila fasilitas yang ada cukup memadai serta relatif modern.
Indikator lingkungan kerja fisik menurut Ahmadi dan Supriono dalam Yanti, (2014:20) :
1.
Ruangan2.
Tersedianya fasilitas kerja3.
Pertukaran udaraTeori Pendidikan
Pendidikan menurut “undang- undang Nomor 20 tahun 2003,”
diartikan sebagai usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara Mulyasa dalam Alfhan,(2009: 139) menyatakan bahwa pada umumnya orang yang mempunyai pendidikan lebih tinggi akan memiliki wawasan yang lebih luas, terutama penghayatan akan arti penting produktivitas.
Pendidikan yang dimaksud disini adalah pendidikan formal. Pendidikan Formal adalah jalur pendidikan yang terstruktur dan berjenjang yang terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi (UU nomor 20 Tahun 2005).
Teori Pelatihan
Menurut Rae dalam Sofyandi (2008:113) Pelatihan adalah suatu usaha untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan karyawan dalam melaksanakan pekerjaannya lebih efektif dan efisien. Program pelatihan adalah serangkaian program yang dirancang untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan karyawan dalam hubungannya dalam pekerjaannya.
Pelatihan merupakan upaya pengembangan sumber daya manusia (guru). Berdasarkan Pedoman Penyusunan Portofolio 2009, maka indikator yang akan dipakai untuk program pelatihan antara lain :
1. Lama pelatihan 2. Tingkat pelatihan 3. Relevansi
Teori Motivasi Kerja Guru
Motivasi berasal dari kata latin
“Movere” yang berarti “dorongan atau daya penggerak”. Motivasi ini hanya diberikan kepada manusia, khususnya kepada para bawahan atau pengikut (Hasibuan, 2010:92). Motivasi terbentuk dari sikap (attitude) karyawan dalam menghadapi situasi kerja di perusahaan.
Motivasi merupakan kondisi atau energi yang menggerakan diri karyawan yang terarah dan tertuju untuk mencapai tujuan organisasi perusahaan (Mangkunegara, 2010:61). Sedangkan menurut Robbins (2007:166), motivasi adalah kesediaan untuk mengeluarkan tingkat upaya yang tinggi untuk tujuan organisasi yang dikondisikan oleh kemampuan upaya itu dalam memenuhi beberapa kebutuhan individual. Menurut Hasibuan (2010:95), motivasi adalah pemberian daya penggerak yang menciptakan kegairahan kerja seseorang, agar mereka mau bekerja sama, bekerja efektif dan terintegrasi dengan segala daya upayanya untuk mencapai kepuasan. Selanjutnya Moskowits dalam Hasibuan (2010:96), motivasi secara umum didefinisikan
sebagai inisiatif dan pengarahan tingkah laku. Dalam penelitian ini motivasi kerja memiliki indikator-indikator menurut Sagir dalam Siswanto, (2005: 97) indikator motivasi yaitu:
1. Penghargaan (Recognition) 2. Tantangan (Challenge)
3. Tanggung jawab (resposibility) 4. Pengembangan (development) 5. Keterlibatan (involvement) 6. Kesempatan (opportunity) Hipotesis
Sesuai dengan perumusan masalah dan landasan teori, maka hipotesis penelitian ini dapat disusun sebagai berikut:
1. Diduga kepemimpinan kepala sekolah (X1) berpengaruh signifikan terhadap kinerja guru sertifikasi SMA Negeri 1 Rao Ha :ᵝ₁= 0
Ho:ᵝ₁≠ 0
2. Diduga lingkungan kerja fisik berpengaruh signifikan antara terhadap kinerja guru sertifikasi SMA Negeri 1 Rao
Ha = 2 = 0 Ho: 2 ≠ 0
3. Diduga pendidik berpengaruh signifikan antara pendidikan terhadap kinerja guru sertifikasi SMA Negeri 1 Rao
Ha = 3 = 0 Ho = 3 ≠ 0
4. Diduga pelatihan berpengaruh signifikan terhadap kinerja guru sertifikasi SMA Negeri 1 Rao Ha : 4 = 0
Ho : 4 ≠ 0
5. Diduga motivasi kerja berpengaruh singnifikan terhadap kineja guru sertifikasi SMA Negeri 1 Rao
Ha : 5 = 0 Ho : 5 ≠ 0
6. Diduga pengaruh signifikan antara kepemimpinan kepala sekolah, lingkungan kerja fisik, pendidikan, pelatihan, dan
motivasi terhadap kinerja guru sertifikasi SMA Negeri 1 Rao.
Ha : 1, 2, 4, 5= 0 Ho : 1, 2, 4, 5≠ 0 METODE PENELITIAN
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dan asosiatif, penelitian deskriptif adalah penelitian yang dilakukan untuk mengetahui nilai variabel mandiri, baik satu variabel atau lebih (independent) tanpa membuat perbandingan atau perhubungan dengan variabel yang lain, sedangkan penelitian asosiatif merupakan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui hubungan antara dua variabel atau lebih (Siregar, 2013:15). Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian. Berdasarkan data yang didapat dari tata Usaha SMA Negeri 1 Rao maka jumlah populasi dalam seluruh guru yang mengajar di SMA Negeri 1 Rao berjumlah 66 orang guru.
Menurut Arikunto (2010:174) sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti. Dalam penelitian ini teknik pengambilan sampel sampling berkelompok menggunakan Statifid Random Sampling atau sampel secara acak distratifikasikan yaitu pengambilan anggota sampel dari populasi dilakukan secara acak tanpa memperhatikan strata yang ada dalam populasi itu, menurut Sugiyono, (2016).
Teknis Analisis Data 1. Analisis Deskriptif 2. Analisis Induktif 3. Uji Asumsi Klasik
Pengujian hipotesis dilakukan dengan menggunakan model analisis regresi variabel independen terhadap variabel dependen. Adapun persamaan regresi, yaitu: Y = f (x) = + +
+ + + +
Sebelum melakukan penelitian terhadap responden, terlebih dahulu dilakukan uji coba penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui validitas dan realibilitas.
Menurut Arikunto (2010:211) validitas adalah suatu ukuran yang menunjukan tingkat-tingkat kevakidan atau kesahihan
suatu instrumen, suatu instrumen dikatakan valid atau sahih mempunyai validitas tinggi. Sebaliknya instrumen yang kurang valid berarti memiliki validitas yang rendah. Uji validitas data bertujuan untuk mengetahui sejauh mana validitas yang didapat dari penyebaran angket (kusioner). Validitas
menggambarkan bahwa pernyataan yang
digunakan mampu untuk
menggungkapkan sesuai yang akan diukr (valid). Uji validitas ini dilakukan dengan menggunakan komputer melalui program SPSS (Statistical Product Service Solution).
Tabel 2. Hasil Uji Validitas
Variabel Keterangan
Valid Tidak Valid
Y 18 0
X1 15 0
X2 9 0
X3 6 0
X4 9 0
X5 18 0
Sumber: Olahan Data Primer Bulan November 2016
Tabel 3. Hasil Analisa Uji Reliabilitas Uji Coba Angket
No Variabel r alpha Batas
Nilai
Keterangan
1 Kinerja Guru 0,887 0,70 Reliabel
2 Kepemimpina Kepala Sekolah 0,920 0,70 Reliabel
3 Lingkungan Kerja Fisik 0.857 0,70 Reliabel
4 Pendidikan 0.825 0,70 Reliabel
5 Pelatihan 0.806 0,70 Reliabel
6 Motivasi Kerja 0.919 0,70 Reliabel
Sumber: Olahan Data Primer Bulan November 2016
HASIL PENELITIAN DAN
PEMBAHASAN
A. Hasil TCR Variabel Kinerja Guru Dari hasil TCR dapat diperoleh rata-rata skor jawaban responden untuk variabel kinerja guru adalah 3,65 dengan tingkat capaian responden sebesar 73,07% dan termasuk kategori baik. Skor perindikator variabel kinerja guru antara lain: perencanaan program pengajaran dengan rata-rata skor sebesar 3,69 dengan tingkat capaian responden sebesar 73,71% dan termasuk kategori baik. Indikator yang memiliki nilai tingkat capaian responden terendah pada variabel kinerja guru adalah evaluasi atau penilaian dengan rata-rata skor sebesar 3,02 dengan tingkat capaian
responden sebesar 60,36% dan termasuk kategori cukup baik.
B.Hasil TCR Variabel Kepemimpinan Kepala Sekolah
Dari hasil TCR dapat diperoleh rata-rata skor jawaban responden untuk variabel kepemimpinan kepala sekolah adalah 3,67 dengan tingkat capaian responden sebesar 73,48% dan termasuk kategori baik. Indikator yang memiliki nilai tingkat capaian responden tertinggi pada variabel kepemimpinan kepala sekolah adalah memiliki gaya kepemimpinan dengan rata-rata skor sebesar 3,77 dengan tingkat capaian responden sebesar 75,48% dan termasuk kategori baik. Indikator yang memiliki nilai tingkat capaian responden terendah pada
variabel kepemimpinan kepala sekolah adalah menerapkan pendekatan dengan rata-rata skor masing-masing sebesar 3,38 dengan tingkat capaian responden sebesar 67,50% dan termasuk kategori cukup baik.
C. Hasil TCR Variabel Lingkungan Kerja Fisik
rata-rata skor jawaban responden untuk variabel lingkungan kerja fisik adalah 4,08 dengan tingkat capaian responden sebesar 81,63% dan termasuk kategori baik. Indikator yang memiliki nilai tingkat capaian responden tertinggi pada variabel lingkungan kerja fisik adalah tersediannya fasilitas kerja dengan rata- rata skor sebesar 4,48 dengan tingkat capaian responden sebesar 89,64% dan termasuk kategori baik. Indikator yang memiliki nilai tingkat capaian responden terendah pada variabel lingkungan kerja fisik adalah ruangan dengan rata-rata skor sebesar 3,86 dengan tingkat capaian responden sebesar 77,26% dan termasuk kategori baik.
D. Hasil TCR Variabel Pendidikan Dari hasil TCR diperoleh rata-rata skor jawaban responden untuk variabel pendidikan adalah 3,72 dengan tingkat capaian responden sebesar 74,40% dan termasuk kategori baik. Indikator yang memiliki nilai tingkat capaian responden tertinggi pada variabel pendidikan adalah tingkat pendidikan dengan rata- rata skor sebesar 3,73 dengan tingkat capaian responden sebesar 74,64 % dan termasuk kategori baik. Indikator yang memiliki nilai tingkat capaian responden terendah pada variabel pendidikan adalah kesesuaian program studi dengan rata-rata skor sebesar 3,71 dengan tingkat capaian responden sebesar 74,17% dan termasuk kategori baik.
E. Hasil TCR Variabel Pelatihan Dari hasil TCR diperoleh rata-rata skor jawaban responden untuk variabel
pelatihan adalah 3,66 dengan tingkat capaian responden sebesar 73,21% dan termasuk kategori baik. Indikator yang memiliki nilai tingkat capaian responden tertinggi pada variabel pelatihan adalah tingkat pelatihan dengan rata-rata skor sebesar 3,58 dengan tingkat capaian responden sebesar 71,55 % dan termasuk kategori baik. Indikator yang memiliki nilai tingkat capaian responden terendah pada variabel pelatihan adalah relevansi dengan rata-rata skor sebesar 3,77 dengan tingkat capaian responden sebesar 75,36% dan termasuk kategori baik.
F. Hasil TCR Variabel Motivasi Kerja Dari hasil TCR diperoleh rata-rata skor jawaban responden untuk variabel pendidikan adalah 3,32 dengan tingkat capaian responden sebesar 66,31% dan termasuk kategori cukup baik. Indikator yang memiliki nilai tingkat capaian responden tertinggi pada variabel motivasi kerja adalah keterlibatan dengan rata-rata skor sebesar 4,07 dengan tingkat capaian responden sebesar 81,43 % dan termasuk kategori baik. Indikator yang memiliki nilai tingkat capaian responden terendah pada variabel motivasi kerja adalah penghargaan dan kesempatan dengan rata-rata skor masing-masing sama yaitu sebesar 3,92 dengan tingkat capaian responden sebesar 78,45% dan termasuk kategori baik.
HASIL UJI ASUMSI KLASIK 1. Hasil Uji Normalitas
Uji normalitas berguna untuk menentukan data yang telah dikumpulkan berdistribusi normal atau diambil dari populasi normal. Pengujian ini menggunakan metode Jarque-Bera Test (JB Test). Uji ini merupakan uji normalitas yang didasarkan pada koefisien keruncingan (Kurtosis) dan koefisien kemiringan (Skewness).
Kriteria pengujian dilakukan dengan membandingkan nilia JB dengan χ2tabel.
Jika nilai JB ≤ χ2tabel maka nilai residual terstandarisasi berdistribusi normal dan
sebaliknya.
Tabel 4. Hasil Uji Normalitas
Descriptive Statistics
N Skewness Kurtosis
Statistic Statistic Std. Error Statistic Std. Error Standardized
Residual 56 -.155 .319 -.029 .628
Valid N (listwise) 56 Sumber: Olahan Data Primer 2016 2. Hasil Uji Normalitas
Menurut Ansofino,dkk (2016: 28) Multikolinearitas adalah adanya hubungan yang erat antara variabel independen di dalam suatu model regresi. Tujuan dari pengujian ini yaitu untuk mengetahui hubungan linier antar
variabel indipenden dalam model regresi, prasyarat yang harus dipenuhi dalam model regresi adalah tidak adanya gejala multikolinearitas. Berikut hasil uji multikolinearitas yang diperoleh dari analisa data penelitian sebagai berikut:
Tabel 5. Hasil Analisa Uji Multikoelinieritas
Model R R Square Adjusted
R Square
Std. Error of the Estimate
X1 dan X2-X3-X4-X5 0.459a 0.211 0.149 4.579
X2 dan X3-X4-X5-X1 0.446a 0.199 0.136 4.657
X3 dan X4-X5-X1-X2 0.360a 0.130 0.062 3.945
X4 dan X5-X1-X2-X3 0.407a 0.166 0.100 3.830
X5 dan X1-X2-X3-X4 0.475a 0.225 0.165 5.917
Sumber: Olahan Data Primer 2016 3. Hasil Uji Heteroskedasitisitas
Tujuan dari pengujian ini yaitu untuk mengetahui adanya ketidaksamaan varian dari residual untuk semua pengamatan pada model regresi. Uji heteroskedastisitas pada penelitian ini dilakukan dengan metode Glejser.
Gejala heteroskedastisitas ditunjukkan oleh koefisien regresi dari masing- masing variabel bebas terhadap nilai
absolute residualnya. Pengambilan keputusan diambil berdasarkan nilai signifikansi, jika nilai Sig ≥ α (0,05) maka dapat dipastikan model tidak mengalami gejala heteroskedastisitas.
Hasil analisa heteroskedasitisitas pada penelitian ini dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 6. Hasil Uji Heteroskedastisitas
Coefficientsa
Model
Unstandardized Coefficients
Standardized Coefficients
t Sig.
B Std. Error Beta
1 (Constant) 4.560 4.353 1.048 .300
kepemimpinan kepsek -.010 .060 -.027 -.174 .863
lingkungan kerja fisik -.081 .059 -.211 -1.371 .176
Pendidikan -.012 .069 -.026 -.178 .859
Pelatihan .040 .071 .085 .561 .577
motivasi kerja .003 .046 .009 .057 .955
a. Dependent Variable: ABRES Sumber: Olahan Data Primer 2016 4. Hasil Uji Autokorelasi
Menurut Ansofino, dkk.
(2016:57) Autokorelasi merupakan korelasi antara variabel satu variabel gangguan dengan variabel ganguan lainnya. Salah satu asumsi penting OLS berkaitan dengan variabel gangguan adalah tidak adanya hubungan antara variabel gangguan satu dengan variabel gangguan yang lain. Uji autokorelasi bertujuan untuk menguji apakah dalam
model regresi linear berganda ada korelasi antara kesalahan pengangagu pada periode berjalan dengan kesalahan pada periode sebelumnya. Autokorelasi dalam penelitian ini menggunakan Uji Statistik Durbin Watson (DW). Langkah awal pendeteksian ini adalah mencari nilai dl dan du pada tabel dengan kriteria tertentu. Berikut ini adalah adalah tabel hasil pengujian autokorelasi Durbin- Watson.
Tabel 7. Hasil Uji Autokorelasi Model Summaryb Model R R Square Adjusted R Square
Std. Error of the Estimate
Durbin- Watson
1 .867a .752 .728 3.123 1.974
a. Predictors: (Constant), motivasi kerja, kepemimpinan kepsek, pendidikan, pelatihan, lingkungan kerja fisik
b. Dependent Variable: kinerja guru
Sumber: Olahan Data Primer 2016 HASIL UJI HIPOTESIS
1. Pengaruh kepemimpinan kepala sekolah terhadap kinerja guru di SMA Negeri 1 Rao Kabupaten Pasaman.
Nilai koefesien regresi kepemimpinan kepala sekolah (b1) sebesar 0,962 satuan. Sedangkan nilai
thitung regresi Pengaruh kepemimpinan
kepala sekolah terhadap terhadap kinerja guru di SMA Negeri 1 Rao Kabupaten Pasaman sebesar 10,077. Hasil analisis menunjukkan bahwa nilai thitung(10,077)
> nilai ttabel(1,67591), sehingga hipotesis nol ditolak dan hipotesis alternatif diterima. Artinya, apabila kepemimpinan kepala sekolah sebesar satu satuan, maka kinerja guru di SMA
Negeri 1 Rao Kabupaten Pasaman akan meningkat sebesar 0,962 satuan. Dapat disimpulkan bahwa kepemimpinan kepala sekolah secara parsial berpengaruh signifikan terhadap terhadap kinerja guru di SMA Negeri 1 Rao Kabupaten Pasaman.
2. Pengaruh lingkungan kerja fisik terhadap terhadap kinerja guru di SMA Negeri 1 Rao Kabupaten Pasaman.
Nilai koefesien regresi lingkungan kerja fisik (b2) sebesar 0,036 satuan.
Sedangkan nilai thitung regresi Pengaruh lingkungan kerja fisik terhadap terhadap kinerja guru di SMA Negeri 1 Rao Kabupaten Pasaman sebesar 1,983.
Hasil analisis menunjukkan bahwa nilai thitung (1,983) > nilai ttabel (1,67591), sehingga hipotesis nol ditolak dan hipotesis alternatif diterima. Artinya, apabila lingkungan kerja giisk meningkat sebesar satu satuan maka kinerja guru di SMA Negeri 1 Rao Kabupaten Pasaman akan meningkat sebesar 0,0962 satuan. Dapat disimpulkan bahwa lingkungan kerja fisik secara parsial berpengaruh signifikan terhadap terhadap kinerja guru di SMA Negeri 1 Rao Kabupaten Pasaman.
3. Pengaruh pendidikan terhadap terhadap kinerja guru di SMA Negeri 1 Rao Kabupaten Pasaman.
Nilai koefesien regresi pendidikan (b3) sebesar 0,092 satuan. Sedangan nilai
thitung regresi pendidikan terhadap
terhadap kinerja guru di SMA Negeri 1 Rao Kabupaten Pasaman sebesar 2,827.
Hasil analisis menunjukkan bahwa nilai thitung (2,827) > nilai ttabel (1,67591), sehingga hipotesis nol ditolak dan hipotesis alternatif diterima. Artinya, apabila pendidikan meningkat sebesar satu satuan maka maka kinerja guru di SMA Negeri 1 Rao Kabupaten Pasaman
akan meningkat sebesar 0,092 satuan.
Dapat disimpulkan bahwa pendidikan secara parsial berpengaruh signifikan terhadap terhadap kinerja guru di SMA Negeri 1 Rao Kabupaten Pasaman.
4. Pengaruh pelatihan terhadap terhadap kinerja guru di SMA Negeri 1 Rao Kabupaten Pasaman.
Nilai koefesien pelatihan (b4) sebesar 0,219 satuan. Sedangkan nilai thitungregresi pelatihan terhadap terhadap kinerja guru di SMA Negeri 1 Rao Kabupaten Pasaman sebesar 3,551.
Hasil analisis menunjukkan bahwa nilai thitung (3,551) > nilai ttabel (1,67591), sehingga hipotesis nol ditolak dan hipotesis alternatif diterima. Artinya, apabila pelatihan meningkat sebesar satu satuan maka maka kinerja guru di SMA Negeri 1 Rao Kabupaten Pasaman akan meningkat sebesar 0,219 satuan. Dapat disimpulkan bahwa pelatihan secara parsial berpengaruh signifikan terhadap terhadap kinerja guru di SMA Negeri 1 Rao Kabupaten Pasaman.
5. Pengaruh motivasi kerja terhadap terhadap kinerja guru di SMA Negeri 1 Rao Kabupaten Pasaman.
Nilai koefesien motivasi kerja (b5) sebesar 0,279 satuan. Sedangkan nilai thitung regresi motivasi kerja terhadap terhadap kinerja guru di SMA Negeri 1 Rao Kabupaten Pasaman sebesar 2,594.
Hasil analisis menunjukkan bahwa nilai thitung (2,594) > nilai ttabel (1,67591), sehingga hipotesis nol ditolak dan hipotesis alternatif diterima. Artinya, apabila motivasi kerja meningkat sebesar satu satuan maka maka kinerja guru di SMA Negeri 1 Rao Kabupaten Pasaman akan meningkat sebesar 0,279 satuan. Dapat disimpulkan bahwa motivasi kerjasecara parsial berpengaruh signifikan terhadap terhadap kinerja guru di SMA Negeri 1 Rao Kabupaten Pasaman.
6. Pendidikan, Pelatihan dan Motivasi Kerja Terhadap Kinerja guru Di SMA Negeri 1 Rao Kabupaten Pasaman
Berdasarkan pengujian
hipotesis diketahui
Kepemimpinan Kepala Sekolah, Lingkungan Kerja Fisik, Pendidikan, Pelatihan dan Motivasi Kerja secara simultan berpengaruh terhadap Kinerja guru Di SMA Negeri 1 Rao Kabupaten Pasaman. Hal ini dibuktikan dengan hasil penelitian yang menyatakan bahwa nilai F
hitung(30,402) > dari F
tabel(2,55), sehingga H
05ditolak dan H
a5diterima
.Hasil analisa koefisien determinasi menunjukkan nilia R
squaresebesar 0,752. Hal ini berarti 75,2% Kinerja guru Di SMA Negeri 1 Rao Kabupaten Pasaman dipengaruhi variabel d Kepemimpinan Kepala Sekolah, Lingkungan Kerja Fisik, Pendidikan, Pelatihan dan Motivasi Kerja, sedangkan sisanya 24,8% dijelas oleh faktor- faktor lain yang tidak dimasukkan ke dalam penelitian ini.
PENUTUP
Berdasarkan hasil analisis data yang telah dilakukan dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:
1. Lebih besar pengaruh kepemimpinan kepala sekolah terhadap kinerja guru yang belum sertifikasi dibanding guru yang sertifikasi dengan nilai koefisiennya pada guru yang belum sertifikasi adalah 1,082, nilai koefisien ini signifikan karena nilai thitung sebesar 7,752 lebih besar dari
ttabel sebesar 1,67591, sedangkan
kompetensi guru sertifikasi dengan nilai koefisien 0,9548 nilai koefisien
ini signifikan karena nilai thitung
sebesar 6,816 lebih besar dari ttabel
sebesar 1,67591. Artinya apabila kepemimpinan kepala sekolah terhadap guru belum sertifikasi meningkat 1% maka kinerja guru akan meningkat pula sebesar 1,082, dan apabila kepemimpinan kepala sekolah terhadap guru sertifikasi meningkat sebesar 1% maka kinerja guru sertifikasi akan meningkat pula sebesar 0,954.
2. Lebih besar pengaruh lingkungan kerja fisik terhadap kinerja guru yang sudah sertifikasi dibanding guru yang belum sertifikasi dengan nilai koefisiennya pada guru yang sudah sertifikasi adalah 0,260, nilai koefisien ini signifikan karena nilai thitung sebesar 2,922 lebih besar dari
ttabel sebesar 1,67591, sedangkan
disiplin guru tidak sertifikasi dengan nilai koefisien 0,139 nilai koefisien ini signifikan karena nilai thitung
sebesar 2,156 lebih besar dari ttabel
sebesar 1,67591. Artinya apabila lingkungan kerja fisik terhadap guru sertifikasi meningkat 1% maka kinerja guru akan meningkat pula sebesar 0,260, dan apabila lingkungan kerja fisik terhadsp guru non sertifikasi meningkat sebesar 1%
maka kinerja guru non sertifikasi akan meningkat pula sebesar 0,139.
3. Lebih besar pengaruh pendidikan terhadap kinerja guru yang sudah sertifikasi dibanding guru yang belum sertifikasi dengan nilai koefisiennya pada guru yang sudah sertifikasi adalah 0,0,220, nilai koefisien ini signifikan karena nilai thitung sebesar 2,098 lebih besar dari
ttabel sebesar 1,67591, sedangkan
pendidikan guru yang belum sertifikasi dengan nilai koefisien 0,164 nilai koefisien ini signifikan karena nilai thitungsebesar 2,167 lebih besar dari ttabel sebesar 1,67591.
Artinya apabila pendidikan guru sertifikasi meningkat 1% maka
kinerja guru akan meningkat pula sebesar 0,220, dan apabila pendidikan guru non sertifikasi meningkat sebesar 1% maka kinerja guru non sertifikasi akan meningkat pula sebesar 0,164.
4. Lebih besar pengaruh pelatihan terhadap kinerja guru yang sudah sertifikasi dibanding guru yang belum sertifikasi dengan nilai koefisiennya pada guru yang sudah sertifikasi adalah 0,439, nilai koefisien ini signifikan karena nilai thitung sebesar 3,415 lebih besar dari
ttabel sebesar 1,67591, sedangkan
pelatihan terhadap guru tidak sertifikasi dengan nilai koefisien 0,219 nilai koefisien ini signifikan karena nilai thitungsebesar 3,284 lebih besar dari ttabel sebesar 1,67591.
Artinya apabila pelatihan guru sertifikasi meningkat 1% maka kinerja guru akan meningkat pula sebesar 0,439, dan apabila pelatihan guru non sertifikasi meningkat sebesar 1% maka kinerja guru non sertifikasi akan meningkat pula sebesar 0,219.
5. Lebih besar pengaruh motivasi kerja terhadap kinerja guru yang belum sertifikasi dibanding guru yang sertifikasi dengan nilai koefisiennya pada guru yang belum sertifikasi adalah 0,279, nilai koefisien ini signifikan karena nilai thitung sebesar 2,645 lebih besar dari ttabel sebesar 1,67591, sedangkan motivasi kerja terhadap guru sertifikasi dengan nilai koefisien 0,101 nilai koefisien ini signifikan karena nilai thitung sebesar 2,139 lebih besar dari ttabel sebesar 1,67591. Artinya apabila motivasi kerja guru non sertifikasi meningkat 1% maka kinerja guru non sertifikasi akan meningkat pula sebesar 0,279, dan apabila motivasi kerja guru sertifikasi meningkat sebesar 1%
maka kinerja guru sertifikasi akan meningkat pula sebesar 0,101.
6. Secara stimultan kepemimpinan kepala sekolah, lingkungan kerja fisik, pendidikan, pelatihan dan motivasi kerja berpengaruh signifikan terhadap kinerja guru dengan nilai Fhitung30,402> Ftabel2,55 dan nilai signifikan 0,000< 0,05.
Berdasarkan kesimpulan di atas maka penulis dapat memberikan saran atau masukan sebagai berikut:
1. TCR terendah pada variabel kinerja guru adalah penilaian atau evaluasi.
Maka disarankan kepada guru untuk lebih data menilai ulangan maupun tugas siswa dengan lebih teliti dan cermat tanpa melakukan kesalahan.
Dan juga disarankan kepada guru untuk dapat selalu melakukan evaluasi pembelajaran agar siswa tau berapa besar kemampuannya dalam belajar setelah guru melakukan evaluasi atau penilaian
2. TCR terendah pada variabel kepemimpinan kepala sekolah adalah kualitas. Maka disarankan kepada kepala sekolah untuk dapat meningkatkan kualitas guru yang berbakat dan berprestasi dalam melakukan kinerja, dengan meningkatnya kualitas guru maka akan memberikan dampak pada kinerja guru tersebut.
3. TCR terendah pada variabel lingkungan kerja fisik adalah ventilasi udara. Maka disarankan agar sekolah dapat memfasilitasi guru dalam bekerja atau mengajar agar terciptanya suasana belajar mengajar yang baik dengan cara melengkapi kursi dan meja dalam bekerja. Dan ruangan untuk guru harus selalu dilengkapi ventilasi udara agar sirkulasi udara dapat dengan mudah masuk.
4. TCR terendah pada variabel pendidikan adalah kesesuaian progran studi. Maka disarankan kepada pihak sekolah untuk selalu menempatkan guru sesuai dengan
pendidikan dan program studi yang ditekuni agar guru lebih efesien dalam mengajar dan lebih professional
5. TCR terendah pada variabel pelatihan adalah ketepatan waktu.
Maka disarankan kepada guru untuk dapat melakukan pelatihan yang sesuai dengan waktu yang ditentukan agar guru menjadi lebih tekun
6. TCR terendah pada variabel motivasi kerja adalah ke ikut sertaan maka disarankan kepada guru untuk selalu ikut serta dalam semua kegiatan yang diadakan oleh sekolah. Agar dapat ,meningkatkan kinerja, dan juga diharapkan kepada guru untuk dapat termotivasi dalam bekerja karna diberi kesempatan oleh sekolah untuk dapat melanjutkan pendidikan yang sesuai dengan jenjang karir.
DAFTAR PUSTAKA
Alfhan Rizalil. (2013). Pengaruh pendidikan, pelatihan dan motivasi kerja guru terhadap kinerja guru ekonomi akuntansi SMA Negeri dan Swasta Se- Kabupaten Kedal. Skipsi.
Ansofino,Dkk.(2016).Buku Ajar Ekonometrik.Yokyakarta.
Deepublish.
Anoraga, P. (2009). Psikologi Kerja.
Jakarta: Rineka Cipta
Arikunto. (2010). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta.
Hasibuan. (2010). motivasi. jakarta:
Bumi Aksara.
Hasibuan dan Malayu. (2003).
Manajemen Sumber Daya Manusia (Vol. 8). Jakarta: Bumi Aksara.
Mangkunegara. (2010). motivasi kerja. Bandung: PT Remaja
Rosdakarya.
Martin dan Millower
; serta Willowerdan Kmetz dalam Mulyasa.
(2012). Manajemen dan Kepemimpinan Kepala Sekolah.
Jakarta: PT. Bumi Aksara.
Mulyasa dalam Rizalil Alfhan.
(2009). pendidikan. Bandung:
Remaja Rosdakarya.
Mulyasa. 2012. Manajemen Dan Kepemimpinan Kepala Sekolah.
Jakarta : PT.Bumi Aksara.
Nawawi, Ismail. (2012). Metoda Penelitian Kualitatif. Jakarta:
Dwiputra Pustaka Jaya