• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengaruh Kepercayaan Diri (Self-Confidence) Terhadap Prestasi Akademik

N/A
N/A
Harun Syamsul

Academic year: 2024

Membagikan "Pengaruh Kepercayaan Diri (Self-Confidence) Terhadap Prestasi Akademik "

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

TUGAS BAB II 6 Oktober 2023

Dosen Pengampu:

Dr. Resekiani Mas Bakar, S. Psi., M. Psi., Psikolog.

Dr. Asniar Khumas, S. Psi., M. Si.

Nur Akmal, S. Psi., M. A

Pengaruh Kepercayaan Diri (Self-Confidence) Terhadap Prestasi Akademik Mahasiswa

HARUN SYAMSUL 200701552018

08/ H

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR 2023

(2)

BAB II

KAJIAN PUSTAKA A. Definisi Prestasi Akademik

Prestasi akademik terdiri dari 2 kata, yaitu prestasi dan akademik.

Kata prestasi dalam bahasa Inggris adalah prestasi atau untuk mencapai yang berarti prestasi atau prestasi. Menurut KBBI, kata prestasi memiliki arti dari hasil yang telah dicapai, dari apa yang telah dilakukan, dilakukan dan sebagainya. Sedangkan akademik berasal dari kata akademi yang memiliki makna lembaga pendidikan tinggi setingkat dengan sekolah tinggi, universitas atau institusi. Kata akademik mengacu pada kata sifat yang menunjuk pada arah yang bersifat ilmiah. Jadi, secara istilah prestasi akademik adalah pencapaian atau hasil yang telah dicapai oleh seorang mahasiswa berdasarkan apa yang telah dilakukan selama proses perkuliahan.

Menurut Suryabrata (2002), prestasi akademik adalah semua hasil pembelajaran (prestasi) yang telah diraih mahasiswa melalui proses perkuliahan. Sementara itu, menurut Bloom (dalam Azwar, 2005), prestasi akademik adalah pengungkapan keberhasilan seorang siswa dalam kuliah.

Sehingga, prestasi akademik ini dapat dijadikan tolok ukur sejauh mana siswa memahami bahan ajar yang telah diajarkan dan dipelajari.

Selanjutnya, menurut Suryabrata (2006), prestasi akademik merupakan hasil pembelajaran terakhir yang diperoleh siswa berdasarkan jangka waktu yang telah ditentukan. Prestasi atau hasil belajar biasanya ditentukan menggunakan simbol atau angka. Menurut Sobur (2006), prestasi akademik merupakan tanda bukti yang merupakan hasil upaya mahasiswa selama periode tertentu dalam perkuliahan dilihat melalui indeks prestasi kumulatif.

Berdasarkan berbagai definisi prestasi akademik menurut para ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa prestasi akademik merupakan hasil pembelajaran yang diperoleh siswa dalam jangka waktu tertentu berupa simbol atau angka dalam format indeks prestasi kumulatif, dimana hasil

(3)

pembelajaran dapat dijadikan tolok ukur sejauh mana siswa memahami bahan ajar yang diajarkan.

B. Aspek-Aspek Prestasi Akademik

Crow (1989) mengklasifikasikan prestasi akademik menjadi tiga bagian, yaitu:

1. Keterampilan bahasa

Semakin seseorang berkembang mengharuskan dia untuk memiliki penalaran yang lebih tinggi, itu benar-benar tergantung pada penggunaan bahasa. Menurut Judd (1938) bahasa adalah alat untuk membangun dan membentuk hubungan yang berkembang pengetahuan.

2. kemampuan matematika

Menurut Wrightstone (1950) kemampuan berhitung memiliki fungsi, yaitu menekankan berpikir dalam menghadapi situasi yang membutuhkan pengalaman yang berhubungan dengan nomor.

3. Keterampilan ilmu pengetahuan/sains

Di dunia yang penuh dengan produk karya ilmiah, Literasi sains merupakan keharusan bagi setiap orang. Setiap orang perlu menggunakan informasi ilmiah untuk melakukan pilihan yang mereka hadapi setiap hari. Melalui studi ilmu pengetahuan meningkatkan pengetahuan siswa tentang dunia.

Menurut Bloom (Sudjana, 2016), aspek prestasi akademik terdiri dari:

1. Aspek kognitif

Aspek kognitif berkaitan dengan intelegensi dan penalaran, misalnya pengetahuan, analisis, pemahaman, sintesis, penetapan dan evaluasi (Taksonomi Bloom). Siswa harus mampu mencapai keenam aspek tersebut mulai dari pemahaman pengetahuan hingga penerapannya dalam pembelajaran dan kehidupan sehari-hari.

2. Aspek afektif

(4)

Aspek psikomotorik memiliki 5 tahapan, yaitu menerima, merespon, menilai, mengorganisasi, kategorisasi (Taksonomi Kartwohl). Pada tahapan ini, individu akan memberikan respon terhadap stimulus yang diterima, kemudian menginternalisasi nilai kedalam dirinya.

3. Aspek psikomotorik

Aspek afektif memiliki lima tahapan, yaitu pengamatan, pertanyaan, percobaan, asosiasi dan menciptakan (Taksonomi Dyers). Pada aspek ini, individu diarahkan untuk bertanya terkait hal yang diamati, melakukan percobaan terhadap yang diamati dan kemudian mengasosiasikan atau menciptakan hasil yang baru.

Berdasarkan aspek prestasi akademik diatas, peneliti tertarik untuk menggunakan aspek yang dikemukakan oleh Crow (1989). Aspek- aspek prestasi akademik tersebut terdiri dari keterampilan bahasa, kemampuan matematika, dan keterampilan ilmu pengetahuan.

C. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Prestasi Akademik

Menurut Tesa & Agus (2018) dalam penelitiannya, salah satu faktor yang mempengaruhi prestasi akademik adalah difficulty quotient (AQ). Ada pengaruh yang signifikan antara AQ dan prestasi akademik di Mahasiswa Psikologi UIN Sunan Gunung Djati Bandung angkatan 2013.

Semakin tinggi nilai AQ siswa, semakin tinggi prestasi akademik (IPK) siswa. AQ adalah teori yang dirumuskan oleh Paul G. Stoltz, Ph.D.

Menurut Stoltz (2005), AQ adalah kemampuan untuk mengubah rintangan menjadi peluang agar berhasil mencapai tujuan, menguji kemampuan seseorang untuk bertahan dari kesulitan yang dialami dan mampu menangani kesulitan ini.

Menurut Hasibuan (2020), ada 3 faktor yang dapat mempengaruhi prestasi akademik siswa, yaitu Konsep Diri, Keyakinan, dan Interaksi Sosial. Konsep diri dan kepercayaan diri dapat mempengaruhi kinerja akademik siswa secara langsung dan tidak langsung. Sementara interaksi sosial dapat mempengaruhi prestasi akademik secara langsung. Siswa

(5)

yang memiliki konsep diri yang positif dan kepercayaan diri yang tinggi akan dapat melakukan interaksi sosial yang positif juga. Misalnya, dalam proses pembelajaran dan kegiatan di sekitarnya, adanya interaksi yang baik akan membentuk suasana yang nyaman dalam belajar dan akan membawa siswa untuk berprestasi.

Sementara itu, menurut Irsyad, Damayanti, Arrizky, Rahmah &

Faridah (2021), ada 3 faktor yang mempengaruhi prestasi akademik, yaitu kepercayaan diri, motivasi dan literasi. Ketiga faktor ini memiliki pengaruh positif terhadap prestasi akademik, namun pengaruh literasi memiliki persentase yang lebih rendah, yaitu hanya 14%. Oleh karena itu, diharapkan akan ada dorongan kepada mahasiswa tentang budaya literasi dengan meningkatkan kualitas sarana dan prasarana di lingkungan perkuliahan untuk mendorong meningkatnya prestasi akademik mahasiswa.

Dari beberapa hasil penelitian di atas, dapat disimpulkan bahwa percaya diri merupakan salah satu faktor penting yang dapat mempengaruhi kinerja akademik siswa. Faktor-faktor ini saling mendukung dalam pengaruhnya terhadap prestasi akademik siswa.

Semakin tinggi tingkat AQ, kepercayaan diri, konsep diri, interaksi sosial, motivasi dan literasi, maka prestasi akademik siswa juga akan meningkat.

Peneliti memilih factor kepercayaan diri untuk menguji pengaruhnya terhadap prestasi akademik.

D. Teori Prestasi Akademik

Pemuasan kebutuhan (prestasi akademik) adalah tujuan dari motif mendorong perilaku seseorang. Motivasi dapat dilihat sebagai reaksi berantai yang dimulai dari kebutuhan, kemudian muncul keinginan untuk memuaskannya. Individu akan terdorong untuk melakukan sesuatu ketika mereka merasa ada sesuatu perlu dipenuhi. Kebutuhan ini muncul karena keadaan tidak seimbang yang menuntut kepuasan. jika sudah seimbang dan terpenuhi, kepuasan berarti terpenuhinya suatu kebutuhan diinginkan,

(6)

maka aktivitas pemenuhan kebutuhan akan berkurang. Dan sesuai dengan dinamika kehidupan manusia, akan ada tuntutan kebutuhan baru.

Kebutuhan manusia selalu berubah, begitu pula motivasi yang berkaitan dengan kebutuhan akan selalu berubah atau bersifat dinamis sesuai dengan keinginan dan perhatian manusia. Berhubungan dengan Dengan adanya kebutuhan tersebut maka muncullah teori motivasi. Teori motivasi lahir dan awal perkembangannya antara psikolog. Menurut para psikolog dijelaskan bahwa dalam motivasi, ada hierarki, level.

Teori hierarki kebutuhan (hierarchy of needs) dikembangkan Maslow memandang kebutuhan manusia secara bertahap dari yang paling terendah hingga tertinggi, dimana jika suatu tingkat kebutuhan telah terpenuhi, maka kebutuhan tidak lagi berfungsi sebagai motivator. Hirarki kebutuhan Maslow yaitu kebutuhan fisiologis, kebutuhan rasa aman, kebutuhan rasa cinta dan memiliki, kebutuhan harga diri dan penghargaan, hingga aktualisasi diri (Maslow, 1993).

E. Definisi Kepercayaan Diri

Kepercayaan diri terdiri dari dua kata, yaitu percaya diri dan diri.

Kata kepercayaan berasal dari kata percaya yang berarti mengakui dan percaya bahwa sesuatu itu benar atau nyata. Keyakinan berarti asumsi atau keyakinan bahwa sesuatu yang harus dipercaya adalah benar atau nyata.

Sedangkan kata diri (diri) berarti satu orang (terpisah dari orang lain);

badan. Secara istilah, kepercayaan diri dapat diartikan sebagai keyakinan atau mengakui sesuatu yang ada di dalam diri Anda.

Menurut Thursan (2002), mendefinisikan kepercayaan diri hanya sebagai keyakinan atau keyakinan bahwa seseorang memiliki keuntungan yang dimiliki individu dan keyakinan atau keyakinan itu membuatnya merasa mampu mencapai tujuan hidupnya. Brennecke dan Amich (dalam Karyo, 2013) mendefinisikan kepercayaan diri sebagai sikap atau perasaan tidak perlu membandingkan diri Anda dengan orang lain karena mereka

(7)

merasa diri mereka sudah cukup dan mampu mengetahui apa yang dibutuhkan dalam hidup.

Menurut Perry (dalam Rombe, 2014), kepercayaan diri adalah kemampuan untuk mempercayai kemampuan diri dan selalu merasa seperti dia dapat melakukan sesuatu dan tidak merasa khawatir dan cemas tentang apa yang tidak dapat dia lakukan. Selain itu, kepercayaan diri juga diartikan sebagai salah satu aspek kepribadian dan konsep diri yang memiliki posisi penting dalam kehidupan setiap individu, karena dengan kepercayaan diri, individu dapat menggali segala potensi yang ada dalam dirinya (Lauster dalam Longkutoy, 2015).

Sementara itu, menurut Hakim (dalam Wahyuni, 2014), kepercayaan diri adalah keyakinan pada semua kelebihan yang dimiliki oleh individu, di mana keyakinan tersebut membuat individu selalu merasa mampu dan dapat mencapai tujuan hidupnya. Dari beberapa definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa percaya diri (self-confidence) adalah sikap percaya diri dan percaya pada kelebihan yang dimiliki, tidak merasa cemas terhadap sesuatu dan tidak membandingkan diri dengan orang lain sehingga membuat individu mampu menggali semua potensi yang ada dalam dirinya.

F. Aspek-Aspek Kepercayaan Diri

Pandangan Lauster (2003), terdapat 5 aspek dari kepercayaan diri yaitu sebagai berikut:

1. Yakin dengan kemampuan yang dimiliki, yaitu individu sadar dan bersungguh-sungguh terhadap apa yang dilakukan.

2. Optimis, yaitu sikap positif dengan selalu berprasangka baik dengan hal-hal yang berhubungan dengan dirinya.

3. Objektif, yaitu memandang permasalahan atau hal yang terjadi Sesuai dengan kebenaran yang sesungguhnya

4. Bertanggung jawab, yaitu kesediaan individu untuk menanggung konsekuensi dari apa yang dilakukannya.

(8)

5. Rasional, yaitu mampu menganalisa masalah, kejadian, dengan menggunakan pemikiran yang mampu diterima oleh akal dan sesuai dengan kenyataan.

Menurut Mardatillah (2010), kepercayaan diri tentu memiliki karakteristik sebagai berikut:

1. Pahami kekurangan dan kelebihan untuk mengembangkan potensi diri.

2. Tetapkan standar untuk mencapai tujuan Jika hidupnya maka pahala Sukses, jika tidak tercapai, berhasil lagi.

3. Jangan menyalahkan orang lain atas kegagalan atau kegagalan Anda tetapi lebih banyak refleksi diri.

4. Kemampuan untuk mengatasi depresi, kekecewaan, dan ketidakpuasan yang dirasakan.

5. Kemampuan mengatasi kecemasan Diri.

6. Tenang.

7. Berpikir positif.

8. Selalu optimis.

Dijelaskan dari beberapa karakteristik kepercayaan diri diatas, peneliti menggunakan aspek kepercayaan diri dari Lauster (2003) sebagai tolak ukur untuk menilai kepercayaan diri mahasiswa tinggi atau rendah. Aspek tersebut terdiri dari yakin dengan kemampuan yang dimiliki, optimis, objektif, bertanggung jawab dan rasional. Aspek ini dapat dengan mudah diamati di kehidupan sehari-hari, hasil dari ini lebih efektif jika digunakan sebagai dasar untuk penelitian.

G. Teori Kepercayaan Diri

1. Teori Pendekatan Humanistik Maslow

Pendekatan humanistik adalah pendekatan yang lebih berfokus pada aspek perkembangan kepribadian manusia. Pendekatan ini melihat peristiwa, bagaimana manusia membangun diri untuk melakukan hal-hal positif. Mendekati humanis memanifestasikan

(9)

dirinya dalam bentuk yang berbeda dari dua pandangan pertama, yaitu perbedaan antara pandangan psikoanalitik dan behavioris dalam menjelaskan perilaku didasarkan pada asumsi bahwa pandangan psikoanalitik terlalu pesimis dan putus asa, sedangkan pandangan behavioris Manusia dianggap terlalu kaku (mekanis), pasif, statis, dan tunduk ketika menggambarkan manusia (Goble, 1992)

Humanisme berkaitan dengan bagaimana setiap individu dipengaruhi dan dipandu oleh niat pribadi yang terkait dengan pengalaman mereka sendiri. Selain itu, humanisme menegaskan bahwa harkat dan martabat manusia memiliki kapasitas total untuk mengekspresikan diri (aktualisasi diri). Humanisme percaya bahwa manusia sendiri memiliki potensi untuk pengembangan yang sehat dan kreatif, dan bahwa jika orang bersedia bertanggung jawab atas kehidupan mereka sendiri, mereka akan menyadari potensi mereka, mengatasi pengaruh kuat dari pengasuhan, sekolah, dan tekanan sosial lainnya. (Goble, 1992)

2. Teori Piramida Kebutuhan Maslow

Menurut Monte & Sollod (2003) Maslow percaya bahwa Motivasi manusia diatur dalam hierarki kebutuhan, yaitu pengaturan kebutuhan yang sistematis, yaitu kebutuhan dasar yang harus dipenuhi sebelum kebutuhan dasar lainnya muncul, yang naluriah dan dapat mengaktifkan atau membimbing perilaku manusia. Meskipun kebutuhan ini naluriah, perilaku yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan ini dipelajari, yang menyebabkan perbedaan dalam cara setiap orang berperilaku dalam cara memenuhi kebutuhan ini.

Menurut peristiwa Maslow, hierarki kebutuhan manusia dipecah menjadi tujuh tingkat kebutuhan, tetapi sebagian orang berpikir bahwa hanya ada lima tingkat, tidak ada kebutuhan kognitif dan kebutuhan estetika. Ketujuh persyaratan Berikut ini sebagai berikut:

a) Kebutuhan fisiologis

(10)

Kebutuhan ini adalah kebutuhan manusia yang paling mendasar: kebutuhan untuk mempertahankan kehidupan secara fisik: makanan, minuman, seks, istirahat (tidur), dan oksigen.

Maslow berpendapat bahwa manusia adalah hewan yang berhasrat dan jarang mencapai kepuasan penuh kecuali untuk waktu yang terbatas. Ketika keinginan terpenuhi, keinginan lain muncul di tempat itu.

b) Kebutuhan Keamanan (Safety Needs)

Perlunya rasa aman, yaitu perlunya mendorong individu untuk tenang dari kondisi lingkungan dan mendapatkan kepastian dan ketertiban. Kebutuhan ini sangat penting bagi anak-anak, remaja dan orang dewasa. Untuk memenuhi kebutuhan akan rasa aman, yang secara langsung menanggapi sesuatu yang mengancamnya, perlu untuk menciptakan lingkungan hidup yang dapat memberikan kebebasan berekspresi serta kebebasan berekspresi.Hal ini membutuhkan bimbingan orang tua karena anak belum memiliki kemampuan untuk mengarahkan perilaku dengan baik dan benar.

c) Kebutuhan akan cinta dan kepemilikan (Cinta dan Kepemilikan)

Kebutuhan akan cinta dan atribusi adalah kebutuhan untuk mendorong individu untuk memiliki hubungan emosional atau keterikatan dengan individu lain. Ketika kebutuhan fisiologis dan keamanan terpenuhi, individu perlu diakui, dicintai, atau dicintai. Kebutuhan ini dapat diungkapkan dengan berbagai cara, termasuk persahabatan, romansa, atau masyarakat luas.

d) Kebutuhan Penghargaan (Kebutuhan Harga Diri)

Ketika tiga kelas pertama kebutuhan terpenuhi, kebutuhan akan harga bisa menjadi dominan. Ini melibatkan kebutuhan baik untuk harga diri dan untuk satu untuk dihargai oleh orang lain. Manusia memiliki kebutuhan untuk bersikap tegas,

(11)

berdasarkan, tingkat stabilisasi diri yang tinggi, dan rasa hormat dari orang lain. Ketika kebutuhan ini terpenuhi, orang merasa percaya diri dan berharga sebagai orang di dunia.

Ketika kebutuhan frustrasi, orang merasa rendah, lemah, tidak berdaya dan tidak berharga.

e) Aktualisasi Diri

Merupakan puncak dari hierarki kebutuhan manusia, yaitu pengembangan atau realisasi potensi dan kapasitas penuh.

Maslow berpendapat bahwa manusia termotivasi untuk menjadi segala sesuatu yang dia mampu. Meskipun kebutuhan lain terpenuhi, jika kebutuhan aktualisasi diri tidak terpenuhi, tidak berkembang atau tidak dapat menggunakan kemampuan bawaan mereka sepenuhnya, seseorang akan mengalami kecemasan, ketidaksenangan atau frustrasi. Kebutuhan untuk mengekspresikan diri atau mengaktualisasikan diri adalah kebutuhan manusia tertinggi dalam teori Maslow, kebutuhan ini muncul ketika kebutuhan di bawah ini telah terpenuhi.

3. Teori Maslow tentang Kebutuhan Hadiah dan Aktualisasi Diri

Teori kebutuhan apresiasi memiliki 2 komponen, yaitu: a) harga diri (self respect) adalah kebutuhan untuk memiliki, penguasaan, kebebasan, kekuatan, pencapaian, kompetensi, agama diri, kemandirian, &Orang membutuhkan pengetahuan tentang diri mereka sendiri, bahwa mereka berharga untuk dapat menguasai tugas biologis

&tantangan. b) menerima penghargaan berdasarkan orang lain (rasa hormat dari orang lain) adalah kebutuhan akan penghargaan berdasarkan orang lain, ketenaran, dominasi, sebagai orang penting, kehormatan &penghargaan. Kebutuhan akan harga diri jika puas akan menyebabkan canggung, lemah, pasif, tergantung pada orang lain, pemalu, tidak mampu mengatasi tuntutan hidup &inferioritas untuk bergaul. Menurut Maslow harga diri berdasarkan orang lain harus diperoleh dari penghargaan diri kepada diri sendiri. Orang harus

(12)

mendapatkan harga diri berdasarkan kemampuan mereka sendiri, bukan berdasarkan ketenaran eksternal yang tidak dapat mereka kendalikan, yang membuatnya bergantung pada orang lain (Alwisol 2004).

Maksimalkan potensi Anda sendiri (aktualisasi diri) Apa pun dia menjadi kreatif dan bebas untuk mencapai puncak potensi kinerja Anda. Perlu aktualisasi diri, yaitu ingin berkembang, ingin berubah, saya ingin mengalami perubahan yang lebih berarti (Alwisol 2004).

Kebutuhan ini berada di puncak hierarki kebutuhan manusia yang mengembangkan atau mewujudkan potensi dan kemampuan penuh mereka. Orang-orang mengaku termotivasi untuk menjadi apa yang Anda bisa menjadi apa yang Anda inginkan. Jika sudah terpenuhi, namun kebutuhan aktualisasi diri tidak terpenuhi Anda akan mengalami kecemasan, dendam dan frustasi (Syamsu &Juntika 2007).

H. Pengaruh Kepercayaan Diri Terhadap Prestasi Akademik Mahasiswa Dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh Mustofa Rifki (2008) bertujuan untuk mengetahui bagaimana tingkat kepercayaan diri dan prestasi belajar siswa dan pengaruh kepercayaan diri dalam prestasi belajar siswa, Ditemukan bahwa penelitian ini menunjukkan pengaruh positif atau signifikan antara kepercayaan terhadap prestasi belajar siswa di SMA Islam Almaarif Singosari Malang. Ini berarti bahwa semakin kuat atau tinggi kepercayaan diri siswa, semakin sulit pencapaian belajar.

Dalam studi lain yang dilakukan oleh Nabiel Irsyad, dkk. (2021) Yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh kepercayaan diri, motivasi dan literasi terhadap prestasi akademik mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta di masa pandemi Covid-19, penelitian menunjukkan bahwa pengaruh kepercayaan diri, motivasi dan literasi terhadap prestasi akademik mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta selama pandemi Covid-19 memiliki pengaruh positif.

(13)

Kemudian dalam penelitian Hasibuan (2020) yang bertujuan untuk melihat kontribusi konsep diri, kepercayaan diri, dan interaksi sosial terhadap prestasi akademik mahasiswa, diperoleh bahwa prestasi akademik siswa dipengaruhi oleh konsep diri, kepercayaan diri, dan interaksi sosial. Oleh karena itu, diharapkan semua pihak memperhatikan konsep diri, kepercayaan diri, dan interaksi sosial sebagai upaya meningkatkan prestasi akademik mahasiswa.

Dari beberapa hasil penelitian di atas, peneliti percaya bahwa kepercayaan diri memiliki pengaruh pada kinerja akademik siswa. Siswa dengan kepercayaan diri yang tinggi lebih mungkin untuk dapat berinteraksi dengan baik dengan lingkungan kuliah mereka. Dengan interaksi yang baik, dapat meningkatkan motivasi belajar siswa sehingga mempengaruhi prestasi akademik para siswa tersebut.

(14)

I. Kerangka Teori

Berdasarkan landasan teori dari para ahli dan temuan penelitian dari para peneliti sebelumnya, maka peneliti menentukan hipotesis sebagai acuan dalam membuat kerangka penelitian ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kepercayaan diri terhadap prestasi akademik mahasiswa. Berikut ini kerangka pikiran dari peneliti:

Gambar 1.1

J. Hipotesis

Hipotesis adalah sebuah jawaban dari seorang peneliti terhadap masalah penelitian yang sifatnya masih sementara dan membutuhkan pembuktian melalui data-data yang akan dikumpulkan oleh penulis. Jadi

Mahasiswa

Kepercayaan Diri (IV) Aspek (Lauster, 2003) yaitu:

1) Yakin dengan kemampuan yang dimiliki, 2) Optimis, 3) Objektif, 4) Bertanggung jawab, 5) Rasional

Rendah Tinggi

Prestasi Akademik (DV) Aspek (Crow, 1989) yaitu:

1) Keterampilan bahasa, 2) Kemampuan matematika, 3) Keterampilan ilmu pengetahuan/

sains.

Rendah Tinggi

(15)

dapat disimpulkan bahwa hipotesis masih itu bersifat sementara dan harus dibuktikan sesuai dengan judul yang diangkat penulis. Hipotesis dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.

H1: Ada pengaruh kepercayaan pada prestasi akademik mahasiswa

H0: Tidak ada pengaruh kepercayaan pada prestasi akademik mahasiswa.

Hipotesis yang diangkat dalam penelitian ini adalah "Ada pengaruh yang signifikan antara kepercayaan diri dan prestasi akademik siswa"

(16)

DAFTAR PUSTAKA

Abraham H. Maslow. (1993). Motivasi dan Kepribadian. Jakarta: PT. Pustaka.

Binawan Presindo.

Alwisol. (2004). Psikologi Kepribadian / Alwisol. Malang: Universitas Muhammadiyah Malang.

A. Crow, L. Crow. (1989). Psikologi Pendidikan. Alih Bahasa. Abd. Rachman.

Abror. Yogyakarta: Nur Cahaya. Achmad, S. S.

Azizy, I. V., Mustikawati, I. F., & Ulfa, M. (2019). Hubungan Antara Tipe Kepribadian Dan Tingkat Kecemasan Dengan Prestasi Akademik Mahasiswa Program Studi Pendidikan Dokter Universitas Muhammadiyah Purwokerto.

Jurnal Saintika Media, 78–83.

F. Maulida. (2020). Hubungan Antara Body Image Dengan Kepercayaan Diri Pada Mahasiswa, Liq. Cryst., 21(1), 1–17.

Gainau, M. B. (2020, Desember 1). Remaja dan Krisis Kepercayaan Diri.

Retrieved 9 15, 2023, from Kompasiana: https://www.kompasiana.com/.

Garkaz, M. Banimahd, B., & Esmaeli, H. (2011). Factor Affecting Students’

Performance: The Case of Students at The Islamic Azad University.

International Conference on Education and Educational Psychology.

Elsevier.

Goble., F. G. 1992. Mazhab Ketiga Psikologi Humanistik Abraham Maslow.

(diterjemahkan oleh Drs. A. Supratiknya). Yogyakarta: Kanisius.

Hasibuan, A. H. (2020). Pengaruh Konsep Diri, Percaya Diri, dan Keterampilan Interaksi Sosial terhadap Prestasi Akademik. Jurnal Pendidikan Dan Konseling, 149-159.

Irsyad, N., Damayanti, N., Arrizky, N. M., Za'idah, K., & Faridah, R. A. (2021).

Pengaruh Kepercayaan Diri, Motivasi dan Literasi Terhadap Prestasi

(17)

Akademik Mahasiswa Ums Masa Pandemi Covid-19. Jurnal Ilmu Pendidikan, 77-82.

Karyo. (2013). “Hubungan pola asuh orang tua dengan kepercayaan diri pada remaja (usia 15-17) tahun siswa kelas XI di SMA PGRI 3 Tuban tahun 2013”, Jurnal Stikes.

Lindenfield, Gael. 1997. Mendidik Anak Agar Percaya Diri. Jakarta. Arcan.

LN, S. Y., & Nurihsan, A. J. (2007). Teori Kepribadian. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Mardatillah. (2010). Pengembangan Diri. STIE Balikpapan: Madani.

Mediawati, E. (2010). Pengaruh Motivasi Belajar Mahasiswa Dan Kompetensi Dosen Terhadap Pretasi Belajar. Jurnal Pendidikan Ekonomi Dinamika Pendidikan, 1(1), 134–146. https://doi.org/10.47467/reslaj.v1i1.67

Monte, C. F., & Sollod, R. N. (2003). Beneath the mask: An introduction to theories of personality. United States of America: John Wiley & Sons, Inc.

Murray, H. A. (1938). Exploration in Personality. New York: Oxford Univesity Press.

Rahmawati, S., Indriayu, M., & Sabandi, M. (t.thn.). Pengaruh Tekanan Akademik Terhadap Prestasi Akademik Mahasiswa Pendidikan Ekonomi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret. 1-16.

Rifki, M. (2008). Pengaruh Percaya Diri Terhadap Prestasi Belajar Siswa Di Sma Islam Almaarif Singosari Malang. Malang: Fakultas Tarbiyah Universitas Islam Negeri (UIN) Malang.

Rombe, S. (2014). “Hubungan body image dan kepercayaan diri dengan perilaku konsumtif pada remaja putri di SMA negeri 5 Samarinda”, E-Journal Psikologi.

Slameto.(2010). Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta:

(18)

Rineka Cipta.

Sobur, A. (2006). Psikologi Umum. Bandung: Pustaka Setia.

Stoltz, P. G. (2000). Faktor Paling Penting dalam Meraih Sukses: Adversity Quotient Mengubah Hambatan Menjadi Peluang, Jakarta: Grasindo.

Sudarmono. (2018) Tingkat Kepercayaan Diri Mahasiswa Ditinjau Dari Public Speaking, Paedagogie, 6(1), 1–9.

Suryabrata, S. (2002). Psikologi pendidikan.Yogyakarta: PT. Raja grafindo persada.

Suryabrata, 2004. Psikologi Pendidikan. Jakarta. Raja Grafindo Persada.

Suryabrata, S. (2006). Psikologi Pendidikan. Jakarta: PT. Raja Grafindo Perkasa.

Susanto, E., Rusdi, & Susanta, A. (2020). Peningkatan Kepercayaan Diri Mahasiswa Dalam Pembelajaran Statistika Dasar Melalui Problem-Based Learning. Jurnal THEOREMS, 179- 184.

Vitasari, P., Wahab, M. N., Othman, A., Herawan, T., & Sinnadurai, S. K. (2010).

The Relationship between Study Anxiety and Academic Performance among Engineering Students. International Conference on Mathematics Education Research, 490–497.

Wahyudi, H. (2015). Analisis Faktor-Faktor yang Menyebabkan Prestasi Akademik Rendah pada Mahasiswa Non-Pendas di UPBJJ-UT Denpasar.

Seminar Nasional Riset Inovatif III, 52–58.

Wahyuni, S. (2014). “Hubungan Antara Kepercayaan Diri dengan Kecemasan Berbicara di Depan Umum pada Mahasiswa Psikologi”, 2, 1, e-journal Psikologi.

Wirantasa, U. (2017). Pengaruh Kedisiplinan Siswa Terhadap Prestasi Belajar Matematika. Formatif: Jurnal Ilmiah Pendidikan MIPA, 7(1), 83–95.

https://doi.org/10.30998/formatif.v7i1.1272 .

(19)

Wrightstone, J. W. (1950). Evaluation in Modern Education. New York:

American Book Co.

Referensi

Dokumen terkait

pengaruh terhadap tingkat self confidence siswa. Adapun saran dalam penelitian ini yaitu, untuk meningkatkan self confidence siswa salah satu media

Kepercayaan diri diartikan sebagai suatu sikap dan keyakinan terhadap kemampuan yang dimiliki sehingga individu tersebut tidak merasa cemas dalam setiap tindakannya,

Menurut Lauster (2012:12-14) Self-confidence (kepercayaan diri) merupakan suatu sikap atau perasaan yakin atas kemampuan yang dimiliki sehingga individu yang

Pemilihan aspek psikologis yaitu self-confidence dalam penelitian ini karena menurut Suhardita (2011) siswa akan memperoleh rasa percaya diri dari pengalaman hidup dan berhubungan

Jawaban Siswa Dengan Self Confidence yang Kurang Pada Gambar 2 di atas siswa langsung mencantumkan penyelesaiannya saja, dan terdapat kekeliruan pada proses dalam mengidentifikasi soal

SELF-CONFIDENCE PADA WANITA PENDERITA KANKER PAYUDARA PASCA OPERASI MASTEKTOMI Miftahul Fitri Nasution 11.860.0217 ABSTRAK Self-Confidence menurut Anthony 1992 adalah sikap pada

Ekstrakurikuler pramuka di MI Islamiyah Dawu membantu siswa dalam melatih self confidence percaya diri, dari siswa yang se- belumnya tidak memiliki rasa percaya diri pada dirinya

Berdasarkan data kevalidan dan kepraktisan aplikasi SCT, dapat disimpulkan bahwa aplikasi SCT berbasis web merupakan sebuah aplikasi tes sikap percaya diri dalam pembelajaran matematika