PENGARUH KEPUASAN KONSUMEN, BRAND AWARENESS DAN SIKAP KONSUMEN TERHADAP BRAND SWITCHING PRODUK PEMBERSIH WAJAH
BIORE MENUJU PEMBERSIH WAJAH MEREK POND’S
Jurnal
FITRI AYUNINGSIH 12090080
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN EKONOMI
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDDIKAN (STKIP PGRI) SUMATERA BARAT
PADANG
2016
PENGARUH KEPUASAN KONSUMEN, BRAND AWARENESS DAN SIKAP KONSUMEN TERHADAP BRAND SWITCHING PRODUK PEMBERSIH WAJAH BIORE MENUJU
PEMBERSIH WAJAH MEREK POND’S Oleh
Fitri AyuNingsih1 , Syailendra Eka Saputra2, Wati 3
1) Mahasiswa Program Studi Pendidikan Ekonomi
STKIP PGRI Sumatera Barat
2, 3) Dosen Program Studi Pendidikan Ekonomi STKIP PGRI Sumatera Barat
Email:[email protected] ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pengaruh kepuasan konsumen, brand awareness dan sikap konsumen terhadap brand switching produk pembersih wajah biore menuju pembersih wajah merek pond’s.Hasil analisa data menunjukkan bahwa (1) Kepuasan secara parsial berpengaruh positif dan signifikan terhadap brand switching produk pembersih wajah biore menuju pembersih wajah merek pond’skarenathitung (-2,572) > ttabel (1,98498); (2)Brand awareness secara parsial berpengaruh positif dan signifikan terhadap terhadap brand switching produk pembersih wajah biore menuju pembersih wajah merek pond’skarenathitung (-4,285) > ttabel (1,98498); (3)Sikap konsumen secara parsial berpengaruh negatif dan signifikan terhadap terhadap brand switching produk pembersih wajah biore menuju pembersih wajah merek pond’skarenathitung (-5,224) > ttabel (1,98498); (4) kepuasan, brand awarenss dan sikap konsumen secara simultan berpengaruh signifikan terhadap terhadap brand switching produk pembersih wajah biore menuju pembersih wajah merek pond’skarenaFhitung (15,761) > dari Ftabel (3,09). Besarnya sumbangan variabel kepuasan, brand awareness dan sikap konsumensecara simultan terhadap terhadap brand switching produk pembersih wajah biore menuju pembersih wajah merek pond’syaitu 33% dan sisanya 67% dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak dimasukan dalam penelitian ini.
Kata kunci : Brand Switching, Kepuasan Konsumen, Brand Awareness dan Sikap Konsumen
ABSTRACT
This study aims to determine the effect the effect of customer satisfaction, brand awareness and consumer attitudes to brand switching cleaning products Biore facial cleanser to the pond's brand.The results of data analysis showed that (1) Satisfaction partially positive and significant impact on brand switching cleaning products Biore facial cleanser to the pond's brand because thitung (- 2.572)> t table (1.98498); (2) Brand awareness is partially positive and significant impact on the brand switching cleaning products Biore facial cleanser to the pond's brand because thitung (-4.285)>
t table (1.98498); (3) Consumer attitude is partially a significant negative effect on the brand switching cleaning products Biore facial cleanser to the pond's brand because t hitung (-5.224)> t table (1.98498); (4) satisfaction, brand awarenss and consumer attitudes simultaneously significantly influence on brand switching cleaning products Biore facial cleanser to the pond's brand because of F (15.761)> from F table (3.09). The amount of variable contribution satisfaction, brand awareness and consumer attitudes toward the brand simultaneous switching cleaning products Biore facial cleanser to the pond's brand is 33% and the remaining 67% are influenced by other factors not included in this study.
Keywords: Brand Switching, Customer Satisfaction, Brand Awareness and Consumer Attitudes
PENDAHULUAN
Dunia bisnis pada saat ini menghadapi persaingan global yang ketat, keadaan tersebut disebabkan oleh kemajuan teknologi, liberalisasi perdagangan, serta faktor-faktor lain.
Knight (Dalam Putro, 2014) mengungkapkan bahwa dalam era globalisasi, jumlah merek dan produk yang bersaing dalam pasar menjadi sangat banyak sehingga konsumen memiliki beragam pilihan dan alternatif produk atau jasa yang dapat memenuhi kebutuhannya.
Menurut Yim (dalam Wardani, 2010) dengan adanya perkembangan teknologi maka posisi tawar konsumen terhadap produsen menjadi lebih kuat karena konsumen mampu mengakses dan menjangkau produk atau jasa yang diinginkan meskipun produk atau jasa tersebut terletak jauh dari tempat dimana konsumen tersebut.
Agar dapat hidup dan bertahan di dalam persaingan bisnis, setiap perusahaan harus memiliki merek yang kuat untuk di jual kepada masyarakat supaya masyarakat tidak melakukan berpindahan merek dari merek yang satu ke merek lainnya. Dari merek tersebut perusahaan akan memperoleh penghasilan yang menjadi sumber utama dalam pengembangan perusahaan. Perusahaan yang tidak memiliki merek yang akan di jual kepada masyarakat dapat mengakibatkan perusahaan tidak dapat hidup dan mempertahankan keberadaannya. Dengan merek yang berkualitas maka konsumen
akan puas dengan merek apapun yang dikeluarkan oleh perusahaan tersebut.
Tujuan utama perusahaan adalah untuk mendapatkan laba optimal dan dapat menjamin kelangsungan pertumbuhan dan perkembangan perusahaan dimasa mendatang. Tujuan itu akan tercapai apabila pengelola perusahaan akan memperhatikan tingkat efisien dan efektifitas faktor- faktor produksi perusahaan tersebut.
Salah satu kelompok industri pada saat ini yang mengalami persaingan ketat adalah industri kecantikan khususnya pada merek pembersih Biore. dalam kehidupan sehari-hari pembersih merupakan kebutuhan masyarakat untuk menjaga keindahan wajah dari polusi udara, debu, dan asap rokok. Keindahan wajah sangat diinginkan bagi setiap orang baik wanita maupun pria. Memiiki wajah rupawan tidak selalu indah di pandang, karena seseorang selain memiliki wajah rupawan harus menebar senyum ketulusan yang akan menjadikan wajah seseorang indah di pandang apabila ditunjang dengan kulit bersih dan sehat. Membersihkan dan menjaga wajah tetap indah dapat dilakukan dengan memakai pembersih wajah.
Maka perusahaan banyak memproduksi produk yang berkaitan dengan masalah kulit yaitu, kulit berkomedo, jerawat, kerutan kulit, hingga kulit putih yang menyenangkan dan produk yang paling tren di indonesia pada saat ini adalah produk pond’s karena konsumen banyak yang berpindah merek dari merek yang satu ke merek yang lain seperti dari produk biore ke produk merek
pond’s. dengan adanya perpindahan merek tersebut maka konsumen akan merasa puas dengan apa yang mereka miliki.
Peralihan merek (Brand Switching) adalah pola pembelian yang dikarakteristikkan dengan perubahan atau pergantian dari satu merek ke merek yang lain. Prilakau perpindah merek terjadi karena beragamnya produk yang ada dipasaran sehingga menyebabkan adanya
prilaku memilih produk yang sesuai dengan kebutuhan.
Menurut Srivanasan (dalam Wardani, 2010) Perilaku perpindahan merek pada pelanggan merupakan suatu fenomena yang komplek dipengaruhi faktor-faktor keprilakuan, persaingan, dan waktu. Sedangkan menurut Asael (dalam Wardani, 2010) perpindahan merek dilakukan oleh konsumen terjadi pada produk-produk dengan karakteristik keterlibatan pembelian yang rendah, yaitu
tipe perilaku konsumen dalam pengambilan keputusan pembelian yang cenderung melakukan perpindahan merek dan sangat rentan berpindah terhadap merek pesaing.
Menurut Aaker dan Keller (2008:147) mengungkapkan berpindahan merek brand switching dipengaruhi oleh sejumlah variabel yaitu kepuasan konsumen, kesadaran merek dan sikap konsumen. Dari pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa kepuasan konsumen, kesadaran merek dan sikap sangat mempengaruhi perpindahan merek.
Kepuasan konsumen adalah perasaan senang atau nyaman yang timbul karena membandingkan kinerja
yang dipersepsikan produk (atau hasil) terhadap ekspetasi mereka. Jika kinerja gagal memenuhi ekspetasi, pelanggan akan tidak puas. Jika kinerja sesuai dengan ekspetasi pelanggan akan puas.
Jika kinerja melebihi ekspetasi pelanggan akan sangat puas atau senang (Kotler dan Keller ,2009:139).
Menurut Armstrong (2008:176) sikap (attitude) menggambarkan evaluasi, perasaan, dan tendensi yang relatif konsisten dari seseorang terhadap sebuah objek atau ide. Sikap menempatkan orang ke dalam suatu kerangka pikiran untuk menyukai atau tidak menyukai sesuatu, untuk bergerak menuju atas meninggalkan sesuatu.
KAJIAN PUSTAKA
Pengertian Perpindahan Merek (Brand Switching)
Menurut Setiyaningrum (dalam Gunawan, 2010). Peralihan merek (Brand Switching) adalah pola pembelian yang dikarakteristikkan dengan perubahan atau pergantian dari suatu merek ke merek yang lain. Prilakau perpindah merek terjadi karena beragamnya produk yang ada dipasaran sehingga menyebabkan adanya prilaku memilih produk yang sesuai dengan kebutuhan.
Faktor - Faktor Brand Swicthing Menurut Chatrin & karlina (dalam Gunawan, 2010) Brand Switching dipengaruhi oleh faktor-faktor sebagai berikut:
1). Munculnya Produk-Produk Baru konsumen berpindah untuk mengkonsumsi produk baru dan
meninggalkan produk lama untuk mendapatkan kualitas dan kepuasan yang lebih baik dari produk sebelumnya
2). Kualitas
Kualitas pelayanan adalah tingkat keunggulan yang di harapkan dan pengendalian atas tingkat keunggulan tersebut untuk memenuhi keinginan konsumen. Dengan kata lain ada dua faktor utama yang mempengaruhi kualitas jasa, yaitu expected service dan perceived service atau kualitas jasa yang diharapkan dan kualitas jasa yang di terima atau dirasakan 3). Promosi
promosi adalah suatu komunikasi dari penjual dan pembeli yang berasal dari informasi yang tepat yang bertujuan untuk merubah sikap konsumen dan tingkah laku pembeli, yang tadinya tidak mengenal menjadi mengenal sehingga menjadi pembeli dan tetap mengingat produk.
Indikator brand switching
Indikator berpindahan merek menurut Lestari (Dalam Oktariko 2011).
1). Keinginan Berpindah merek
2). Kesediaan memakai kembali produk yang sudah di pakai
3). Kecendrungan mempercepat penghentian merek yang telah dipakai
Pengertian Kepuasan Konsumen Kepuasan adalah perasaan senang atau nyaman seseorang yang timbul karena membandingkan kinerja yang dipersepsikan (produk atau hasil) terhadap ekspektasi mereka. Jika kinerja gagal memenuhi ekspektasi, pelanggan akan tidak puas. jika kinerja sesuai dengan ekspektasi pelanggan akan puas.
Penilaian pelanggan atas kinerja produk tergantung pada banyak faktor, yaitu jenis hubungan loyalitas yang dimiliki pelanggan dengan sebuah merek, konsumen sering membentuk persepsi yang lebih menyenangkan tentang sebuah poduk dengan merek yang sudah mereka anggap positif (Kotler dan Keller ,2009:139).
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kepuasan Konsumen
Menurut Cravens (dalam Tanaya, 2004) kepuasan konsumen dipengaruhi oleh faktor-faktor sebagai berikut:
1).
Sistem pengiriman.Memindahkan produk dari produsen ke konsumen atau pemakai akhir dalam bisnis biasanya meliputi saluran distribusi dari para pemasok, pabrikan dan perantara untuk dapat memuaskan konsumen.
2).
Performa dan keunggulan suatu produk/jasa sangatlah penting dalam mempengaruhi kepuasan konsumen. Keberhasilan perusahaan dalam suatu produk sangat tinggi.3).
CitraPara eksekutif bisnis mengakui bahwa citra atau merek perusahaan yang baik merupakan keunggulan bersaing yang mempengaruhi tingkat kepuasan konsumen dari sudut positif.
Terbentuknnya Citra merek (brand image ) dan nilai merek (kepuasan konsumen) adalah pada saat konsumen memperoleh
pengalaman yang menyenangkan dengan produk.
Indikator Kepuasan Konsumen Menurut Pujiastuti (2007) bahwa indikator kepuasan konsumen dapat disimpulkan sebagai berikut :
1). Kualitas produk tidak berubah 2). Puas atas layanan
3). Puas dalam mengkonsumsi 4). Tidak memiliki keluhan Pengertian Brand Awareness
Menurut Ambadar (dalam Kurniawati, 2014) brand awareness adalah ukuran kegiatan ekstensi suatu merek dibenak pelanggan, brand awareness ini mencakup brand recognition (merek yang pernah diketahui pelanggan), brand recall (merek apa saja yang pernah diingat oleh pelanggan untuk kategori tertentu ), top of mind (merek pertama apa yang disebut pelanggan untuk satu produk tertentu) dan dominan brand (satu- satunya merek yang diingat pelanggan), dengan demikian seorang pelanggan yang memiliki kesadran terhadap sebuah merek akan secara otomatis mampu menguraikan elemen-elemen merek tanpa harus dibantu.
Indikator Brand Awareness
Menurut Durianto (dalam Kusuma, 2014) bahwa indikator kepuasan dapat disimpulkan sebagai berikut:
1) Kemanpuan mengingat merek dengan cepat
2) Kemampuan mengingat logo atau simbol sebuah merek tertentu
3) Kemampuan mengenali merek diantara merek pesaing
Pengertian Sikap Konsumen
Menurut Setiadi (2013:146) sikap sebagai suatu evaluasi yang menyeluruh yang memungkinkan orang berespon dengan cara menguntungkan
atau tidak menguntungkan secara konsisten berkenaan dengan objek atau alternatif yang terikat. Sikap adalah suatu mental dan syaraf sehubungan dengan kesiapan untuk menanggapi, diorganisasi melalui pengalaman dan memiliki pengaruh yang mengarahkan dan atau dinamis terhadap perilaku ( Setiadi, 2008:214).
Faktor yang Mempengaruhi Sikap Konsumen
Faktor yang mempengaruhi sikap konsumen menurut Kotler dan Keller (2008:25) terdiri dari:
1) Faktor Kebudayaan
Faktor kebudayaan berpengaruh luas dan mendalam terhadap prilaku konsumen, faktor kebudayaan terdiri dari budaya, sub budaya, kelas sosial.
2) Faktor sosial selain faktor budaya, perilaku seorang konsumen dipengaruhi faktor sosial seperti kelompok acuan, keluarga serta status sosia.
3) Faktor Pribadi
Faktor pribadi yang memberikan kontribusi terhadap perilaku konsumen terdiri dari: usia dan tahap siklus hidup, pekerjaan dan lingkunga ekonomi, gaya hidup, kepribadian dan konsep diri.
4) Faktor Psikologis
Pilihan pembelian seseorang dipengaruhi oleh empat faktor psikologi utama yaitu motivasi, persepsi, pembelajaran.
Indikator Sikap Konsumen
Indikator sikap konsumen menurut Schifman dan Kanuk (dalam Edi, 2013) sebagai berikut:
1). Komponen kognitif (kepercayaan merek)
Pengetahuan dan persepsi yang diperoleh berdasarkan kombinasi pengalaman secara langsung
dengan obyek sikap dan informasi yang berkaitan dari berbagai sumber.
2). Komponen efektif (evaluasi merek) emosi atau perasaan konsumen mengenai suatu produk atau merek tertentu merupakan komponen afektif dari sikap tertentu. Emosi dan perasaan ini sering dianggap oleh para peneliti konsumen sangat evaluatif sifatnya, yaitu mencakup penilaian seseorang terhadap obyek sikap secara langsung dan menyeluruh.
3). Komponen konatif (maksud untuk membeli) komponen ini
berhubungan dengan
kemungkinan atau kecenderungan bahwa individu akan melakukan tindakan khusus atau berperilaku dengan cara tertentu terhadap suatu obyek tertentu.
HIPOTESIS
1. Diduga kepuasan konsumen (X1) berpengaruh secara negatif terhadap brand switching (Y).
2. Diduga brand awareness (X2) berpengaruh secara negatif terhadap brand switching (Y).
3. Diduga sikap konsumen (X3) berpengaruh secara negatif terhadap brand switching (Y).
4. Diduga kepuasan konsumen (X1), brand awareness (X2), dan sikap konsumen (X3) berpengaruh signifikan secara bersama-sama terhadap brand switching (Y).
METODOLOGI PENELITIAN
jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif dan asosiatif. Penelitian deskriptif adalah penelitian yang dimaksudkan untuk menyelidiki keadaan, kondisi, atau hal-hal lain terhadap suatu objek atau wilayah yang diteliti. Sedangkan penelitian Asosiatif adalah ssuatu penelitian yang mencari hubungan antara satu variabel dengan variabel lain, yaitu simetris kausal dan interaktif. Dengan
desain penelitian deskriptif dan asosiatif, maka penelitian memungkinkan untuk menggambarkan hubun gan antar variabel, menguji hipotesis, mengembangkan
generalisasi, dan mengembangkan teori yang memiliki validitas yang universal (Arikunto,(2010: 3)
Tabel 1. Kisi-Kisi Instrumen Penelitian
No Variabel Indikator Nomor Item
+ -
1 1. Brand Switching (Y)
1. Keinginan berpindah merek 1,2,3
2. Kesediaan memakai kembali produk yang sudah di pakai
1 3. Kecendrungan mempercepat
penghentian merek yang telah di pakai
2 2. Kepuasan konsumen (X1)
1. Kualitas produk tidak berubah 1,2,3, 4 2. Puas atas layanan
3. Puas dalam mengkonsumsi 4. Tidak memiliki keluhan 3 3. Brand Awareness
(X2)
1. Kemampuan mengingat merek dengan cepat
1,2,3 2. Kemanpuan mengingat logo
atau simbol sebuah merek tertentu
3. Kemampuan mengenali merek diantara merek pesaing
4 4. Sikap konsumen (X4)
1. Kepercayaan merek 1,2,3
2. Evaluasi merek 3. Membeli merek
Tabel 2. Hasil Uji Validitas
Vaiabel
Keterangan Valid Tidak Valid
Y 7 0
X1 8 0
X2 6 0
X3 6 0
Sumber: Olahan Data Primer Tahun 201
Tabel 3. Hasil Uji Reliabilitas
No. Variabel Cronbach’s Alpha No Items
1. Brand Switching (Y) 0,845 7
2. Kepuasan (X1) 0,793 8
3. Brand Awareness (X2) 0,777 6
4. Sikap Konsumen (X3) 0,849 6
Sumber: Olahan Data Primer 2016
Uji Asumsi Klasik a. Hasil Uji Normalitas
Uji ini merupakan uji normalitas yang didasarkan pada koefisien keruncingan (Kurtosis) dan koefisien kemiringan (Skewness). Krikteria pengujian dilakukan dengan membandingkan nilai JB dengan
X2tabel.Jika nilai JB
X2tabel
>X
2hitungmaka nilai residual terstandarisasi berdistribusi normal dan sebaliknya.
Kriteria nilai probality yang terkecil dari α = 0,05 tolak (Ho) distribusi normal, terima H
1distribusi tidak normal. Adapun hasil pengujian dapat dilihat di bawah ini:
Tabel 4. Hasil Uji Normalitas
Descriptive Statistics
N Skewness Kurtosis
Statistic Statistic Std.
Error Statistic Std. Error
Standardized Residual 100 .022 .241 -.405 .478
Valid N (listwise) 100
b. Hasil Uji Multikolinearitas
Salah satu cara untuk menguji gejala multikolinearitas dalam model regresi adalah dengan melihat nilai TOL (Tolerance) dangan VIF
(Varians Inflation Factor) dari masing-masingvariabel bebas (Suliyanto 2011:82).
Jika nilai VIF kurang dari nilai (VIF <
10) maka akan disimpulkan bahwa model tersebut tidak memiliki gejala multikolinearitas
Tabel 5. Hasil Uji Multikolinearitas
Model R R Square Adjusted Adjusted R Square
Std. Error of the Estimate
X1=X2-X3 .216a .047 .027 4.098
X2=X1-X3 .220a .048 .029 4.073
X3=X1-X2 .171a .029 .009 3.521
Sumber: Olahan Data Primer 2016 Dari Tabel diatas menunjukkan bahwa
variabel kepuasan konsumen (X1)
memiliki R Square 0,047,
brand awareness (X2) memiliki R Square0,048 dan sikap konsumen (X3) memiliki R Square 0,029.
c. Hasil Uji Heteroskedastisitas Uji heteroskedastisitas ada penelitian ini dilakukan dengan metode Glejser. Gejala heteroskedastisitas ditunjukan oleh koefisien regresi dari masing-masing variabel bebas terhadap nilai absolute residualnya.
Pengambilan keputusan diambil
berdasarkan nilai signifikansi, jika nilai Sig ≥ α (0,05) maka dapat dipastikan model tidak mengalami gejala heteroskedastisitas. Hasil analisa heteroskedastisitas pada penelitian ini dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 6. Hasil Uji Heteroskedastisitas
Coefficientsa
Model
Unstandardized Coefficients
Standardized Coefficients
t Sig.
B Std. Error Beta
1 (Constant) 3.535 .818 4.321 .000
Kepuasan
konsumen -.048 .032 -.153 -1.500 .137
Brand
awareness -.042 .032 -.135 -1.321 .190
Sikap
konsumen -.043 .037 -.118 -1.163 .248
a. Dependent Variable: Abres
Sumber: Olahan Data Primer 2016 Berdasarkan analisis di atas gejala heteroskedastisitas ditunjukkan oleh koefisien regresi dari masing- masing variabel bebas terhadap nilai absolut residual. Jika nilai probabilitas lebih besar dari nilai Alpha atau (Sig >
0,05), maka dipastikan hasil uji di atas tidak terjadi heteroskedastisitas.
Berdasarkan tabel diatas diperoleh nilai
signifikan variabel kepuasan konsumen (X1) adalah 0,137 > 0,05 maka tidak terjadi gejala heteroskedastisitas, variabel brand awareness (X2) dengan nilai sig 0,190 > 0,05 tidak terjadi gejala heteroskedastisitas, dan sikap konsumen (X3) dengan nilai sig 0,248
> 0,05 maka tidak terjadi gejala heteroskedastisitas.
d. Hasil Uji Autokorelasi
Uji autokorelasi bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi linear baerganda ada korelasi antara kesalahan penganggu pada periode berjalan dngan kesalahan pada
periode sebelumnya. Autokorelasi dalam penelitian ini menggunakan uji Statistik
Durbin Watson (DW).Langkah awal pendekteksian ini
adalah mencari nilai dL dan dU pada
tabel dengan kriteria tertentu. Berikut ini adalah tabel hasil pengujian
autokorelasi Durbi-Watson.
Tabel 7. Hasil Uji Autokorelasi
Model Summaryb
Model R R Square
Adjusted R Square
Std. Error of the Estimate
Durbin- Watson
1 .574a .330 .309 2.229 1.854
a. Predictors: (Constant), Sikap konsumen, Kepuasan konsumen, Brand awareness
b. Dependent Variable: Brand swiching
Sumber: Olahan Data Primer 2016 Dengan demikian dapat
disimpulkan bahwa {1,7364 < 1,854 <
2,2636} artinya dalam model regresi ini tidak terdapat autokorelasi positif
maupun negatif. Sehingga tahapan pengolahan data lebih lanjut dapat dilakukan.
PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Berdasarkan Tabel 17 diperoleh informasi bahwa rata-rata skor jawaban responden untuk variabel kepuasan konsumen adalah 4,09 dengan tingkat capaian responden sebesar 81,75% dan termasuk baik. Dapat dikatakan bahwa responden yang terdiri dari mahasiswa STKIP PGRI Sumbar sudah memiliki kepuasan konsumen yang baik terhadap produk pond’s.
Koefisien Determinasi (R2 )
Berdasarkan Tabel 27, diketahui bahwa hasil regresi Rsquare memiliki nilai sebesar 0,330 atau 33% yang artinya sumbangan dari variabel kepuasan konsumen, brand awareness dan sikap konsumen terhadap brand switching adalah sebesar 33%, sedangkan sisanya sebesar 67% dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak termasuk dalam penelitian ini
Hasil Uji Hipotesis
pengaruh masing-masing variabel terikat yang mempengaruhi variabel bebas adalah:
Hasil Uji t
1) Hipotesis 1, terdapat pengaruh negatif antara kepuasan konsumen (X1) terhadap brand switching (Y).
Untuk variabel kepuasan konsumen diperoleh thitung sebesar 2,572 > ttabel 1,98498 dengan nilai signifikan 0,012 < 0,05 berarti Ha diterima dan Ho ditolak. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa terdapat pengaruh negatif antara kepuasan konsumen terhadap brand switching produk pembersih wajah biore menuju pembersih wajah merek pond’s.
a. Hipotesis 2, terdapat pengaruh negatif antara brand awareness (X2) terhadap brand switching (Y). Untuk variabel brand awarenesJika sampel dipecah ke dalam sub sampel pria/wanita, junior/senior, dan sebagainya. Ukuran sampel minimal 30 untuk tiap kategori adalah tepat
b. Dalam penelitian multivariate (termasuk analisis regresi berganda) ukuran sampel sebaiknya 10 x lebih besar dari jumlah variabel dalam penelitian.
2) Untuk penelitian eksprimental sederhana dengan kontrol eksprimen yang ketat, penelitian yang sukses adalah mungkin dengan ukuran sampel kecil antara 10 sampai dengan 20s diperoleh thitung sebesar 4,285 > ttabel
1,98498 dengan nilai signifikan 0,000
< 0,05 berarti Ha diterima dan Ho ditolak. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa terdapat pengaruh negatif antara brand awareness terhadap brand switching produk pembersih wajah biore menuju pembersih wajah merek pond’s.
3) Hipotesis 3, terdapat pengaruh negatif antara sikap konsumen (X3) terhadap brand switching (Y). Untuk variabel sikap konsumen diperoleh thitung sebesar 5,224 > ttabel 1,98498 4) dengan nilai signifikan 0,000 < 0,05
berarti Ha diterima dan Ho ditolak.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa terdapat pengaruh negatif antara sikap konsumen terhadap
brand switching produk pembersih wajah biore menuju pembersih wajah merek pond’s
Hasil Uji F
Uji Statistik F pada dasarnya menunjukkan apakah semua variabel bebas yang dimasukkan dalam model mempunyai pengaruh secara bersama-sama terhadap variabel terikat. Cara untuk mengetahuinya yaitu dengan membandingkan nilai Fhitung dengan nilai Ftabel atau Sig dengan Alpha (α = 0,05). Dimana nilai Ftabel sebesar 3,09 yang diperoleh dari (k-1), (n-k) atau (31), (100-3).
PENUTUP
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa:
1. Kepuasan konsumen berpengaruh negatif terhadap brand switching produk pembersih wajah biore menuju pembersih wajah merek 2.
pond’s. yang dibuktikan dengan nilai koefisien regresi sebesar -0,142. Secara statistik juga diperoleh nilai thitung sebesar 2,572 > ttabel 1,98498 atau signifikan 0,012 < 0,05 maka keputusannnya adalah Ha diterima dan Ho ditolak. Sehingga dapat
disimpulkan bahwa kepuasan konsumen berpengaruh negatif dan signifikan terhadap brand switching produk pembersih wajah biore menuju pembersih wajah merek pond’s.
3. Brand awareness berpengaruh negatif terhadap brand switching produk pembersih wajah biore menuju pembersih wajah merek pond’s. Hal ini terlihat pada nilai uji thitung sebesar 4,285 > ttabel 1,98498 dengan nilai signifikan 0,000 < 0,05 berarti Ha diterima dan Ho ditolak.
Hasil penelitian menunjukkan semakin menurun brand awareness maka semakin menurun pula brand switching produk pembersih wajah biore menuju pembersih wajah merek pond’s.
4. Sikap konsumen berpengaruh negatif terhadap brand switching produk
pembersih wajah biore menuju pembersih wajah merek pond’s. Hal ini terlihat pada nilai uji thitung sebesar 5,224
> ttabel 1,98498 dengan nilai signifikan 0,000 < 0,05 berarti Ha diterima dan Ho ditolak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin menurun sikap konsumen maka akan semakin menurun pula brand switching produk pembersih wajah biore menuju pembersih wajah merek pond’s.
5. Kepuasan konsumen, brand awareness dan sikap konsumen berpengaruh negatif dan signifikan terhadap brand switching produk pembersih wajah biore menuju pembersih wajah merek pond’s. Hal ini terlihat pada nilai uji Fhitung 15,761 > Ftabel 3,09 dan nilai signifikan 0,000 < α = 0,05. Hal ini berarti H0 ditolah dan Ha diterima
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, Suharsimi. (2013). Manajemen Penelitian. Jakarta: Rineka cipta.
Armstrong, Dkk. (2008). Prinsip- Prinsip Pemasaran. Jakarta: Erlangga.
Sarwo Edi. (2013). Pengaruh Citra Merek Sikap Konsumen dan Asosiasi Merek Terhadap Proses Keputusan Pembelian Konsumen (Studi Empiris Pertimbangan Mahasiswa Unnes Dalam Pembelian Laptop Toshiba). Skripsi.
Gunawan dan Fransiscus. (2010). Pengaruh Persepsi Merek Dan Kepercayaan Konsumen Atas Produk Terhadap Brand Switching Atas Produk SMARTPHONE (Blacberry) Pada Mahasiswa UNP, 1–11 jurnal.
kotler, keller. (2009). Manajemen Pemasaran Jakarta: Erlangga.
(2008). Manajemen Pemasaran.
jakarta: Erlangga.
Kurniawati, Dkk. (2014). Pengaruh Iklan Terhadap Brand Awareness Dan Dampaknya Terhadap Keputusan Pembelian (Studi Pada Mahasiswa Fakultas Ilmu Administrasi (FIA) Jurusan Administrasi Bisnis Universitas Brawijaya Angkatan 2012-2013 yang Menggunakan Produk Sabun Mandi Merek Lefebuoy, 16 (1) Jurnal.
Kusuma Dkk. (2014). Analisis Pengaruh Citra Merek dan Kesadaran Merek Terhadap
Ekuitas Merek Melalui Loyalitas Merek Sebagai Variabel Intervening (Studi Pada Anak Muda Di Kota Semarang).
Skripsi.
Setiadi Nugroho. (2013). Perilaku Konsumen.
Bandung: Kencana Predana Media Group.
Pujiastuti Dkk. (2007). Pengaruh Ekuitas Merek terhadap Kepuasan Konsumen Pada Rumah Makan STEAK & SHAKE Di Semarang 1–11. Jurnal .
Putro dan Ismail Wahyudi. (2014). Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Prilaku Berpindahan Merek Melalui Kepuasan Konsumen Sebagai Variabel Intervening (Studi Pada Bekas Konsumen Pembersih Wajah Pond’s di Kota Semarang ) Jurnal.
Tanaya dan Agus Hery. (2004). Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kepuasan Konsumen terhadap Sepeda Motor China di Bali (Studi Kasus pada Merek Sanex Motor. Tesis.
Wardani dan Hafizha Pramudsa. (2010).
Analisis Pengaruh Ketidakpuasan Konsumen, Kebutuhan Mencari Variasi Produk,Harga Produk dan Iklan Produk Pesaing terhadap Keputusan Perpindahan Merek Dari Sabun Pembersih Wajah Biore (Studi Pada Mantan Pengguna Sabun Pembersih Wajah Biore di Fakultas Ekononomi Jakarta. Skripsi.