PENGARUH MAKRO EKONOMI DAN HARGA EMAS DUNIA TERHADAP INDEKS HARGA SAHAM SYARIAH DI INDONESIA
(Studi Kasus pada Bursa Efek Indonesia Tahun 2020-2022) PROPOSAL SKRIPSI
Diajukan Guna Memenuhi Salah Satu Syarat Persyaratan Untuk memperoleh Gelar Sarjana
Pada Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Ahmad Dahlan
Yogyakarta
Oleh :
RELITA FIRMANDA NIM: 2000011022
PROGRAM STUDI MANAJEMEN
FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS AHMAD DAHLAN YOGYAKARTA
NOVEMBER 2022
PENGARUH MAKRO EKONOMI DAN HARGA EMAS DUNIA TERHADAP INDEKS HARGA SAHAM SYARIAH DI INDONESIA
(Studi Kasus pada Bursa Efek Indonesia Tahun 2020-2022)
Diajukan Oleh : RELITA FIRMANDA
NIM : 2000011022
Telah disetujui oleh
Pembimbing
Deny Ismanto, S.E., M.M.
Tanggal:
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Indonesia merupakan negara dengan jumlah penduduk muslim yang tinggi di dunia, mempunyai potensi yang besar sebagai pusat pengembangan keuangan syariah dunia termasuk pasar modal syariah. Banyak negara yang mementigkan pasar modal karena mempunyai peranan strategis yang penting dalam stabilitas perekonomian suatu negara. Salah satu produk pasar modal yang memiliki daya tarik tinggi bagi investor adalah saham yang dijadikan sebagai pilihan investasi, karena saham mampu memberikan keuntungan yang menarik.
Saham syariah dapat menjadi solusi bagi para investor, khususnya investor muslim. Pada saat Indonesia digegerkan dengan maraknya COVID-19, pasar saham syariah justru tumbuh saat pandemi ini. Direktur Pengembangan Bursa Efek Indonesia, Hasan Fawzi, dalam CNBC Indonesia mengatakan bahwa meskipun dalam masa pandemi namun permintaan dan penawaran di pasar modal syariah Indonesia tak surut.
Di tengah kondisi pandemi COVID-19 yang menghantam banyak sektor, total pengumpulan dana melalui pasar modal syariah tercatat lebih dari Rp 77 triliun. Saham syariah terus tumbuh di tengah pandemi. PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat saham syariah mencapai 63% di tengah pandemi COVID-19. Hal tersebut menjadi alasan BEI meraih penghargaan internasional Global Islamic Finance Award (GIFA) 2020 sebagai penghargaan kategori the
best Islamic capital market dari GIFA secara virtual. Data BEI per Agustus 2020 menunjukkan pasar saham syariah di Indonesia mendominasi dengan persentase jumlah saham syariah sebesar 63% dari total saham yang tercatat di BEI (Mediaindonesia.com, 2020).
Indeks harga saham merupakan suatu indikator yang menunjukkan pergerakan saham. Pergerakan nilai indeks akan menunjukkan perubahan suatu kondisi pasar. Di Indonesia terdapat dua indeks saham syariah, yaitu Jakarta Islamic Index (JII) dan Indonesia Sharia Stock Index (ISSI). Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) merupakan indeks saham yang mencerminkan keseluruhan saham syariah yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI).Indonesia Sharia Stock Index (ISSI) merupakan suatu indeks yang konstituennya semua saham syariah yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia dan lolos dalam proses seleksi Daftar Efek Syariah (DES) yang diterbitkan oleh OJK.
Teori sinyal atau yang kerap kali dikenal dengan signalling theory, pertama kali dikemukakan oleh Michael Spence, teori ini melibatkan dua aspek yaitu pihak dalam suatu perusahaan yang berperan dalam memberikan sinyal dan pihak luar yang berperan sebagai investor dalam menerima sinyal. Secara umum teori sinyal membahas tentang bagaimana sebuah sinyal (informasi) yang berasal dari pihak perusahaan disampaikan kepada pihak investor pengguna pengguna laporan keuangan perusahaan yang nantinya dapat mempengaruhi investor dalam mempertimbangkan maupun memutuskan untuk membeli saham pada perusahaan tersebut atau tidak.
Inflasi merupakan peristiwa dimana tingkat harga yang yang terus meningkat. Inflasi yang tinggi memberikan dampak yang signifikan terhadap perekonomian, hal ini terlihat dari meningkatnya biaya produksi yang harus ditanggung oleh dunia usaha akibat kenaikan harga bahan baku, sedangkan dunia usaha terus menghadapi risiko berkurangnya permintaan atas barang yang mereka produksi akibat meningkatnya biaya bahan baku. Harga melonjak lebih tinggi. Tingkat inflasi suatu negara sangat berpengaruh terhadap tingkat investasi pada negara tersebut. Menurut Elfiswandi & Hendri (2021) inflasi yang tinggi biasanya menggambarkan perekonomian yang terlalu panas, di mana permintaan terhadap barang atau jasa melebihi penawaran produk dengan meningkatnya permintaan barang membuat harga produksi mengalami kenaikan sehingga menyebabkan menurunya daya beli.
Jumlah uang yang beredar merupakan semua jenis uang yang berada dalam perekonomian, dengan kata lain jumlah uang dalam peredaran ditambah dengan uang giral dalam bank. Jumlah uang beredar adalah hasil kali uang primer dengan pengganda uang. Jumlah uang yang beredar dalam masyarakat dapat mengambarkan bagaimana kondisi perekonomian suatu negara. Kondisi perekonomian ini yang nantinya dapat mempengaruhi tingkat investasi pada negara yang bersangkutan, karena sebelum investor melakukan investasi pada suatu negara maka mereka akan melihat bagaimana perekonomian negara tersebut, Jumlah uang beredar (money supply) dapat mempengaruhi fluktuasi harga saham. Ketika jumlah uang yang beredar meningkat, masyarakat cenderung menginvestasikan uangnya pada saham karena akan mendapatkan
return sesuai ekspektasinya. Jika terlalu banyak uang yang beredar dapat menyebabkan inflasi dan mengganggu pertumbuhan ekonomi. Selain itu, rendahnya jumlah uang beredar menyebabkan perekonomian tertekan, sehingga mempengaruhi kesejahteraan masyarakat, sehingga terus menurun.
Harga emas diduga menjadi salah satu komiditi yang mempengaruhi ISSI. Emas bukan hanya sekedar perhiasaan, emas merupakan logam mulia yang sangat dikenal dan diminati oleh masyarakat. Ketertarikan seseorang untuk memiliki emas tidak hanya karena bentuknya yang menarik serta mampu membuat pemiliknya lebih percaya diri dengan penampilan yang lebih elegan dengan menggunakan perhiasan emas, tetapi emas juga banyak juga dijadikan sebagai alternatif investasi. Masyarakat yang memiliki dana saat ini cenderung menggunakan dananya untuk membeli emas guna mendapat keuntungan yang lebih tinggi. Keuntungan investasi emas adalah daya tahannya terhadap inflasi.
Emas mungkin satusatunya barang yang dapat mempertahankan nilainya dalam jangka panjang dan mengatasi inflasi. Kenaikan emas makin signifikan di saat investor semakin diliputi kepanikan, seperti saat virus corona mewabah, membuat banyaknya permintaan emas yang akhirnya mendongkrak harga logam mulia ini.
Naiknya nilai emas bukan dianggap sebagai keuntungan, namun untuk menjaga aset dari gerusan nilai inflasi dalam jangka waktu yang lama.
Dari perbedaan hasil penelitian terdahulu dan pentingnya indeks harga saham syariah di Indonesia terhadap kelangsungan hidup negara, maka peneliti termotivasi untuk meneliti pengaruh inflasi, jumlah uang yang beredar, dan harga emas dunia pada Bursa Efek Indonesia pada tahun 2020-2022.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah di uraikan di atas, maka rumusan masalah yang dapat disusun dalam penelitian ini sebagai berikut :
1. Bagaimana pengaruh inflasi terhadap indeks saham syariah di Bursa Efek Indonesia?
2. Bagaimana pengaruh jumlah uang yang beredar terhadap indeks harga saham syariah di Busa Efek Indonesia?
3. Bagaimana pengaruh harga emas dunia terhadap indeks harga saham syariah di Bursa Efek Indonesia?
C. Batasan Masalah
Berdasarkan latar belakang rumusan masalah yang ada di atas, terdapat batasan masalah terkait dengan faktor-faktor yang mempengaruhi indeks harga saham syariah yang meliputi :
1. Peneliti hanya menggunakan variabel inflasi, jumlah uang yang beredar, harga emas dunia dan indeks harga saham syariah di Indonesia.
2. Sampel yang diteliti, yaitu hanya meneliti perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia
3. Periode penelitian dalam penelitian ini hanya meneliti pada periode 2020-2022
D. Tujuan Penelitian
Berdasarkan uraian rumusan masalah yang ada di atas, maka dapat diambil tujuan penelitian sebagai berikut:
1. Untuk menganalisis pengaruh inflasi terhadap indeks harga saham di Bursa Efek Indonesia
2. Untuk menganalisis pengaruh jumlah uang yang beredar terhadap indeks harga saham di Bursa Efek Indonesia
3. Untuk menganalisis pengaruh harga emas dunia terhadap indeks harga saham di Bursa Efek Indonesia.
E. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi berbagai pihak yaitu : 1. Bagi perusahaan
Dengan adanya penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan terhadap perusahaan dan dengan berbagai aspek tersebut dapat membantu meningkatkan harga saham.
2. Bagi peneliti
Dengan adanya penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan bagi peneliti sehingga dapat memahami tentang pengaruh inflasi, jumlah uang yang beredar, dam harga emas dunia terhadap indeks harga saham syariah di Indonesia.
3. Bagi pembaca
Dengan adanya penelitian ini diharapkan hasil dari penelitian ini bermanfaat bagi pembaca mengenai aspek-aspek yang dapat mempengaruhi indeks harga saham syariah di Indonesia dan untuk peneliti selanjutnya diharapkan penelitian ini dapat dijadikan referensi dan bisa membantu melengkapi informasi yang dibutuhkan.
4. Bagi Investor
Dengan adanya penelitian ini diharapkan hasil dari penelitian ini bermanfaat bagi investor untuk dapat dijadikan sebagai salah satu pertimbangan dalam memutuskan untuk berinvestasi.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Landasan Teori
Landasan teori merupakan teori dasar yang digunakan dalam sebuah penelitian, dalam penelitian ini yang digunakan sebagai landasan teori yaitu konsep dasar mengenai indeks harga saham syariah dan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi indeks harga saham syariah serta teori yang dikemukakan oleh para ahli.
1. Teori Sinyal (Signalling Theory)
Teori sinyal atau signalling theory pertama kali dikemukakan oleh Michael Spence, teori ini membahas mengenai bagaimana sebuah perushaan memberikan sinyal kepada pengguna laporan keuangan. Teori ini melibatkan dua aspek yaitu pihak dalam yang berperan dalam memberikan sinyal kepada pihak luar yang berperan sebagai investor dalam menerima sinyal. Dalam hal ini sinyal yang dimaksud adalah suatu aktivitas yang diambil oleh perusahaan untuk memberikan petunjuk bagi investor tentang bagaimana aktivitas manajemen. Apabila sebuah informasi yang diperoleh pihak luar perusahaan dirasa kurang maka akan mengakibatkan turunnya harga saham. Oleh karena itu perusahaan akan memberikan sinyal kepada pihak luar perusahaan dan cenderung akan memberikan sinyal yang mengindikasikan prospek perusahaan yang cerah agar menaikkan harga saham (Brigham & Houston, 2017). Teori sinyal menganalisi dampak kenaikan dan penurunan harga saham
dalam pasar terhadap keputusan yang diambil oleh para investor. Perubahan harga saham dalam pasar sebagai sinyal yang dapat memberikan petunjuk atau informasi kepada investor, sehingga dapat mempengaruhi keputusan investor.
2. Indeks Harga Saham Syariah
Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) merupakan indeks saham yang mencerminkan keseluruhan saham syariah yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI).Indonesia Sharia Stock Index (ISSI) merupakan suatu indeks yang konstituennya semua saham syariah yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia dan lolos dalam proses seleksi Daftar Efek Syariah (DES) yang diterbitkan oleh OJK.
3. Inflasi
Ebert dan Griffin dalam Murhadi (2009: 21) mengemukakan inflasi merupakan suatu kondisi dimana jumlah barang yang beredar lebih sedikit dibandingkan dengan jumlah permintaan sehingga akan mengakibatkan terjadinya kenaikan harga yang meluas dalam sistem perekonomian secara keseluruhan. Secara umum, definisi dari inflasi adalah kenaikan suatu tingkat harga barang maupun jasa dalam periode tertentu. Inflasi yang tinggi memberikan dampak yang signifikan terhadap perekonomian, hal ini terlihat dari meningkatnya biaya produksi yang harus ditanggung oleh dunia usaha akibat kenaikan harga bahan baku, sedangkan dunia usaha terus menghadapi risiko berkurangnya permintaan atas barang yang mereka produksi akibat meningkatnya biaya bahan baku.
4. Jumlah Uang yang Beredar
Jumlah uang yang beredar dapat menggambarkan keadaan perekonomian suatu negara. Kondisi perekonomian ini yang mempengaruhi tingkat investasi karena pemilik modal terlebih dahulu memahami kondisi perekonomian sebelum memutuskan untuk berinvestasi di suatu negara. Jumlah uang beredar (money supply) dapat mempengaruhi fluktuasi harga saham. Ketika jumlah uang yang beredar meningkat, masyarakat cenderung menginvestasikan uangnya pada saham karena akan mendapatkan return sesuai ekspektasinya.
5. Harga Emas Dunia
Harga emas diduga menjadi salah satu komiditi yang mempengaruhi ISSI.
Emas bukan hanya sekedar perhiasaan, emas merupakan logam mulia yang sangat dikenal dan diminati oleh masyarakat. . Masyarakat yang memiliki dana saat ini cenderung menggunakan dananya untuk membeli emas guna mendapat keuntungan yang lebih tinggi. Keuntungan investasi emas adalah daya tahannya terhadap inflasi. Emas mungkin satusatunya barang yang dapat mempertahankan nilainya dalam jangka panjang dan mengatasi inflasi, dengan nilai yang meningkat seiring dengan biaya hidup, seringkali mencapai nilai tertingginya selama periode inflasi tinggi
B. Penelitian Terdahulu
Penelitian ini didasarkan pada hasil penelitian sebelumnya yang mengambil topik mengenai pengaruh dari inflasi, jumlah uang yang beredar dan harga emas dunia terhadap indeks harga saham syariah di Indonesia
No Penel Judul An Hasil
iti Penelitian alis
is Penelitian
1. Antya
Nur Wula n (2020 )
Analisis Pengaruh Indikator Makroekon omi
Terhadap Indeks Harga Saham Syariah Di Indonesia
An alis is EC M (Er ror Co rre cti on Mo del )
Hasil penelitian menunjukk an bahwa dalam jangka panjang nilai tukar dan harga emas berpengaru h negatif terhadap ISSI dan jumlah uang beredar berpengaru h positif terhadap ISSI
2. Syaist
a Nur dan Nur Fatwa (2022 )
Analisis Pengaruh Indikator Makroekon omi
Terhadap Indeks Saham Syariah Indonesia
An alis is Re gre si Lin ier Ber gan da
Hasil penelitian menunjukk an bahwa inflasi, BI7DRR, nilai tukar dan IHSG berpengaru h positif terhadap ISSI
3. Rizky
Aulia dan Azhar Latief
Pengaruh Inflasi dan BI Rate terhadap Indeks
An alis is Re gre
Hasil penelitian menunjukk an bahwa inflasi
(2020 )
Saham Syariah Indonesia (ISSI)
si Lin ier Ber gan da
tidak berpengaru h terhadap ISSI, sedangkan BI Rate berpengaru h terhadap ISSI
4. Fifi A
fiyant i Trip uspito rini (2021 )
Analisis Pengaruh Inflasi, Nilai Tukar Rupiah, dan BI-Rate terhadap Harga Indeks Saham Syariah Indonesia
An alis is Par tial Le ast Sq uar e (P LS )
Hasil penelitian menunjukk an bahwa inflasi dan nilai tukar rupiah tidak berpengaru h terhadap harga saham ISSI.
sedangkan BI rate berpengaru h negatif signifikan terhadap harga saham ISSI
5. Mieta
Nurza in (2021 )
Pengaruh Variabel Makro terhadap Indeks Harga Saham Syariah Periode September
An alis is Re gre si Lin ier Ber gan
Hasil penelitian menunjukk an bahwa semua variabel makroekon omi yaitu inflasi, BI Rate,
2015 – Desember 2019
da jumlah
uang beredar, dan nilai tukar secara parsial berpengaru h terhadap Indeks Saham Syariah (ISSI)
6. Fauza
n Fahmi Hasib uan, Andri Soemi tra, dan Rahm at Daim Harah ap (2023 )
Pengaruh Inflasi, Nilai Tukar, Harga Minyak Dunia Dan Harga Emas Dunia Terhadap Indeks Saham Syariah Indonesia
An alis is Re gre si Lin ier Ber gan da
Hasil penelitian menunjukk an bahwa nilai tukar, harga minyak dunia dan harga emas dunia berpengaru h secara simultan terhadap ISSI
7. Annis
a Masru ri Zaims yah, Alvira
‘Aina Ayun, Khofi dlotur
Pengaruh Variabel Makroekon omi
Terhadap Index Harga Saham Syariah
An alis is Re gre si Lin ier Ber gan da
Hasil penelitian menunjukk an bahwa inflaasi dan nilai tukar tidak berpengaru h terhadap harga saham
Rofi’a h, Sri Heria ningr um (2020 )
syariah, sedangkan tingkat bunga memiliki efek negatif
8. Qodir
Muan dan Edi Susilo (2022 )
Pengaruh Makroekon omi
Terhadap Pergerakan Indeks Harga Saham Pada Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) Di Bursa Efek Indonesia (BEI) Periode Mei 2015 - Mei 2021
An alis is Re gre si Lin ier Ber gan da
Hasil penelitian menunjukk an bahwa nilai tukar, suku bunga, inflasi, dan harga minyak dunia berpengaru h
signifikan terhadap Indeks Saham Syariah Indonesia
9. Yusuf
Wijay a dan Happ y Febria na Hariy ani (2022 )
Pengaruh Nilai Tukar, Jumlah Uang Beredar, Suku Bunga Terhadap Indeks Harga Saham Syariah Selama Covid-19
An alis is Re gre si Lin ier Ber gan da
Hasil penelitian ini adalah Nilai Tukar berpengaru h negatif signifikan terhadap indeks harga saham syariah, jumlah
uang beredar berpengaru h positif terhadap indeks harga saham syariah, dan suku bunga berpengaru h positif terhadap indeks saham syariah.
10. Violet a Andri yani dan Septia n Arief Budi man (2021 )
Pengaruh Harga Minyak Dunia, Harga Emas Dunia, Dan Jumlah Uang Beredar Terhadap Indeks Saham Syariah Indonesia
An alis is Re gre si Lin ier Ber gan da
Hasil penelitian menunjukk an bahwa harga minyak dunia dan harga emas dunia berpengaru h negatif dan
signifikan, sedangkan jumlah uang beredar berpengaru h positif dan
signifikan.
11. Anisa
Ainun
Pengaruh Inflasi,
An alis
Hasil penelitian
Nalda dan Rusdi (2023 )
Jumlah Uang Beredar, Dan Sertifikat Bank Indonesia Syariah Terhadap Indeks Saham Syariah di Jakarta Islamic Index
is Re gre si Lin ier Ber gan da
menunjukk an bahwa inflasi dan sertifikat bank Indonesia syariah tidak berpengaru h
signifikan, sedangkan jumlah uang beredar berpengaru h negatif terhadap Jakarta Islamic Index
12. Ivahz
ada M arella Edgin a (2020 )
Pengaruh Harga Minyak Dunia, Harga Emas Dunia, DJIA Dan Inflasi Terhadap Index Saham Syariah
Re gre si Lin ier Ber gan da
Hasil penelitia menunjukk an bahwa secara simultan harga emas dunia, harga minyak, DJIA dan inflasi berpengaru h
signifikan terhadap Jakarta Islamic Index, FTSE
Bursa Malaysia Hijrah Shariah and the FTSE NASDAQ Dubai 10 Shariah
13. Dinda
Azzah roh Fathi miyah dan Bayu Arie Fianto (2020 )
Pengaruh Variabel Makro Ekonomi Dan Dow Jones Islamic Market Index Terhadap Harga Saham Pada Indeks Saham Syariah Indonesia (Issi) Tahun 2012-2019
An alis is EC M (Er ror Co rre cti on Mo del )
Hasil penelitian menunjukk an bahwa inflasi dan harga minyak dunia dalam jangka panjang berpengaru h
signifikan positif terhadap harga saham ISSI.
Sedangkan harga emas dunia dalam jangka panjang berpengaru h
signifikan negatif terhadap harga
saham ISSI.
Namun, variabel nilai tukar dan DJIM tidak berpengaru h
signifikan terhadap harga saham ISSI
14. Umar
Sidhi Waha b dan Muha mmad Anwa r Fatho ni
Pengaruh Bitcoin, Harga Emas, Dan Harga Minyak Dunia Terhadap Jakarta Islamic Index (JII)
An alis is Re gre si Lin ier Ber gan da
Hasil penelitian menunjukk an bahwa harga emas berpengaru h signfikan terhadap JII, sementara variabel bitcoin dan harga minyak dunia tidak berpengaru h
signifikan terhadap saham JII
15. Ilham
Rama dhan Ersya fdi dan Nurul
Dampak Covid-19 Terhadap Tren Sektoral Harga Saham
Fauzi yyah (2021 )
Syariah di Indonesia
C. Hipotesis
1. Pengaruh Inflasi terhadap Indeks Harga Saham Syariah di Indonesia Inflasi merupakan peristiwa dimana tingkat harga yang yang terus meningkat. Peningkatan inflasi juga dapat menaikkan biaya dan pendapatan perusahaan. Apabila pendapatan total emiten lebih rendah dari keseluruhan jumlah yang dikeluarkan, maka keuntungan emiten akan mendapatkan laba yang lebih sedikit. Adanya penurunan keuntungan perusahaan mengakibatkan dividen yang diberikan akan menurun, sehingga investor kurang berminat melakukan investasi di instrumen saham yang ditawarkan. Pada saat periode pengamatan tingkat inflasi tidak mempengaruhi keputusan investor untuk berinvestasi dalam bentuk saham secara langsung atau tidak terjadi dalam jangka waktu yang singkat.
Ketika inflasi bulanan diumumkan dan terjadi kenaikan atau penurunan, maka dampak ke pasar saham tidak akan terasa pada saat itu juga. Tetapi, jika inflasi mengalami kenaikan secara terus – menerus secara tidak wajar, akan menganggu kondisi perekonomian dan dengan perlahan indeks harga saham pasti akan turun (Mieta Murzain:2021). Dalam penelitian yang dilakukan oleh Anyta Nur Wulan (2020) mengemukakan bahwa inflasi memiliki pengaruh negative terhadap Indeks Saham Syariah Indonesia.
2. Pengaruh Jumlah Uang yang Beredar terhadap Indeks Harga Saham Syariah di Indonesia
Apabila Jumlah uang beredar mengalami kenaikan maka akan menyebabkan daya beli masyarakat naik juga. Sehingga memicu terjadinya kenaikan harga secara terus menerus jika tidak dilakukan tindakan lebih lanjut. Naiknya biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan akan menyebabkan turunya minat investor untuk berinvestasi di pasar modal, sehingga akan memicu anjloknya harga saham yang berdampak pada turunya profitabilitas yang dihasilkan oleh perusahaan. Pernyataan tersebut didukung oleh penelitian Anisa Ainun Nalda dan Rusdi (2023) bahwa jumlah uang yang beredar berpengaruh negative terhadap Indeks Saham Syariah Indonesia.
3. Pengaruh Harga Emas Dunia terhadap Indeks Harga Saham Syariah di Indonesia
Pada masa globalisasi saat ini, banyak investor memilih untuk berinvestasi pada sektor pertambangan, khususnya emas. Emas merupakan global currency yang nilainya diakuisecara universal. Emas memiliki nilai intrinsik yang tetap dan standar sehingga bisa dibeli dan dicairkan dimana saja. Emas bersifat tidak terpengaruh oleh inflasi (zero inflation) sehingga harga emas selalu mengikuti pergerakan inflasi. Peningkatan harga emas dari tahun ke tahun dan kecilnya tingkat resiko ini diperkirakan dapat mempengaruhi pergerakan indeks harga saham. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Umar Sidhi Wahab dan Muhammad Anwar Fathoni
menunjukkan bahwa harga emas dunia berpengaruh terhadap Indeks Saham Syariah Indonesia.
D. Model Penelitian
Gambar 2.1 MODEL PENELITIAN Inflasi
Jumlah Uang yang Beredar
Harga Emas Dunia
Indeks Harga Saham Syariah
H1
H2
H3
BAB III
METODE PENELITIAN A. Populasi dan Sampel
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh saham perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Sampel yang digunakan adalah Indeks Saham Syariah Indonesia yang terdaftar di BEI pada periode 2020-2022
B. Teknik Pengambilan Sampel
Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan metode purposive sampling.
C. Teknik Pengumpulan Data
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder, yaitu sumber data penelitian yang diperoleh secara tidak langsung yang diperoleh menggunakan teknik dokumentasi yang didapat melalui publikasi laporan keuangan lengkap yang dilakukan oleh perusahaan manufaktur di website Bursa Efek Indonesia (www.idx.co.id.)
D. Pengukuran Variabel
Pada penelitian ini akan menjelaskan definisi secara operasional mengenai variabel dependen maupun varibael independent, serta alat pengukuran yang digunakan dalam penelitian ini ditiap-tiap variable
1. Indeks Harga Saham Syariah
Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) adalah suatu indeks saham yang terdiri dari seluruh saham yang tergabung dalam Bursa Efek Indonesia dan juga
terdaftar pada Daftar Efek Syariah (www.idx.co.id). Pengukuran yang digunakan adalah dengan satuan point.
2. Inflasi
Inflasi adalah kenaikan suatu tingkat harga barang maupun jasa dalam periode tertentu. Tingkat inflasi yang digunakan adalah tingkat inflasi yang diperoleh dari Indeks Harga konsumen (IHK). Pengukuran yang digunakan adalah satua n persen (%).
3. Jumlah Uang yang Beredar
Jumlah uang beredar (money supply) dapat mempengaruhi fluktuasi harga saham. Ketika jumlah uang yang beredar meningkat, masyarakat cenderung menginvestasikan uangnya pada saham karena akan mendapatkan return sesuai ekspektasinya. Pengukuran yang digunakan adalah satuan rupiah.
4. Harga Emas Dunia
E. Teknik Analisis Data
Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis statistic yang perhitungannya dilakukan dengan menggunakan aplikasi SPSS, dengan menggunakan teknik analisis ini maka akan mengetahui apakah ada pengaruh antara variabel yang diteliti.
1. Uji Asumsi Klasik
Syarat pengujian statastik yang harus dipenuhi terlebih dahulu dalam analisis regresi linier tersebut adalah uji asumsi klasik. Model yang ada dalam penelitian ini harus bebas dari asumsi klasik seperti: normalitas,
multikolinearitas, heteroskedastisitas, dan autokorelasi. Dalam penelitian ini uji asumsi klasik yang digunakan adalah sebagai berikut :
a. Uji Normalitas
Uji normalitas bertujuan untuk untuk menentukan apakah distribusi suatu data mengikuti dan mendekati pola distribusi normal. Dengan melakukan uji ini, peneliti dapat menilai sejauh mana data tersebut sesuai dengan karakteristik distribusi normal. Model regresi yang baik adalah model regresi yang menunjukkan distribusi yang normal atau mendekati normal, sehingga memungkinkan dilakukannya pengujian statistic dengan tepat. Uji normalitas pada penelitian ini dilakukan dengan menggunakan uji One-Sample Kolmogorov-Smirnov test. Dalam menggunakan uji statistic One-Sample Kolmogorov-Smirnov test, keputusan didasarkan pada prinsip – prinsip sebagai berikut :
1) Jika hasil uji One-Sample Kolmogorov-Smirnov berada di atas tingkat signifikansi 0,05 maka menunjukkan bahwa pola distribusi normal, dan hasilnya model regresi dianggap memenuhi asumsi normalitas.
2) Jika hasil uji One-Sample Kolmogorov-Smirnov berada di bawah tingkat signifikansi 0,05 maka menunjukkan bahwa pola distribusi tidak normal, dan hasilnya model regresi tidak memenuhi asumsi normalitas
b. Uji Multikolinieritas
Uji multikolinieritas bertujuan untuk menilai apakah terdapat korelasi di antara variabel independen (variabel bebas) dalam model regresi. Uji
multikolinearitas ini dilakukan untuk mengevaluasi sejauh mana variabel bebas saling berhubungan satu sama lain dalam konteks analisis regresi.
Model regresi yang efektif seharusnya tidak menunjukkan adanya korelasi antar variabel indepeden. Variabel bebas dalam model regresi seharusnya tidak saling terkolerasi satu sama lain, hal ini bertujuan untuk meminimalkan masalah multikolinearitas yang dapat mempengaruhi interpretasi hasil analisis regresi. Uji multikolinearitas dilakukan dengan melakukan regresi pada model analisis dan menguji korelasi antar variabel independen dengan menggunakan Tolerance Value dan Varians Inflating Factor (VIF). Tolerance mengindikasikan sejauh mana variabilitas dari suatu variabel independen yang di pilih tidak dijelaskan oleh variabel independen lainnya. Adapun ketentuan untuk menilai adanya multikolinearitas dengan menggunakan Tolerance dan Varians Inflating Factor (VIF) adalah sebagai berikut :
1) Jika nilai tolerance < 0,10 dan VIF > 10, maka terjadi multikolinearitas.
2) Jika nilai tolerance > 0,10 dan VIF < 10, maka tidak terjadi multikolinearitas
c. Uji Heteroskedastisitas
Uji heteroskedastisitas digunakan untuk menentukan apakah ada variasi yang tidak sama dalam residu suatu model regresi antar pengamatan. Jika variasi residual dari satu observasi ke observasi yang lain tetap disebut homokedastisitas, sementara jika variasi tersebut berbeda maka disebut heteroskedastisitas. Model regresi yang baik adalah model yang tidak mengalami heteroskedastisitas atau yang di kenal dengan istilah
homokedastisitas. Uji heteroskedastisitas pada penelitian ini menggunakan uji rank-Spearman atau uji Spearman Rho. Uji ini melibatkan korelasi antara antara nilai absolute residual yang dihasilkan dari regresi dengan semua variabel bebas. Adapun ketentuan untuk menilai adanya heteroskedastisitas adalah sebagai berikut :
1) Jika nilai probabilitas hasil korelasi < 0,05 (5%) maka persamaan regresi mengalami masalah heteroskedastisitas.
2) Jika nilai probabilitas hasil korelasi > 0,05 (5%) maka persamaan regresi tidak mengalami masalah keteroskedastisitas atau disebut dengan homokedastisitas.
d. Uji Autokorelasi
Uji autokorelasi bertujuan untuk menilai apakah terdapat korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode t dengan kesalahan pengganggu pada periode t-1 dalam model regresi. Jika terdapat korelasi, maka kondisi tersebut dikenal sebagai masalah autokorelasi. Autokorelasi timbul karena adanya keterkaitan antara pengamatan berturut – turut dari waktu ke waktu.
Autokorelasi di uji menggunakan Durbin-Watson. Adapun kriteria dalam pengambilan keputusan ada atau tidaknya autokorelasi adalah sebagai berikut :
Hipotesis nol Keputusan Jika
Tidak ada autokorelasi positif
Tolak 0<d<dl Tidak ada autokorelasi
positif
Tanpa kesimpulan dl<d<du Tidak ada autokorelasi
negatif
Tolak 4-dl<d<4 Tidak ada autokorelasi
negatif
Tanpa kesimpulan 4-du<d<4-dl
Tidak ada autokorelasi positif dan negatif
Tidak ditolak du<d<4-du 2. Analisis Regresi Linier Berganda
Analisis regesi linier berganda digunakan untuk mengidentifikasi keterkaitan antara suatu variabel dependen (terikat) dan variabel independen (bebas).
Analisis regresi linier berganda bertujuan untuk mengukur nilai variabel dependen dengan memanfaatkan informasi dari dua atau lebih variabel independen yang sudah diketahui. Analisis regresi linier berganda mempunyai tujuan yaitu untuk melakukan prediksi terhadap nilai variabel dependen berdasarkan nilai – nilai variabel independen yang telah di observasi. Pada penelitian ini menggunakan analisis regresi linier berganda karena penelitian ini menggunakan tiga variabel independen yaitu inflasi (X1), jumlah uang yang beredar (X2), dan harga emas dunia (X3), serta satu variabel dependen yaitu indeks harga saham syariah (Y), maka persamaaan regresi linier berganda pada penelitian ini adalah sebagai berikut :
Y = α + βX1 + βX2 + βX3 + e Keterangan :
Y : Indeks Harga Saham Syariah α : Intercept
βX1 : Inflasi
βX2 : Jumlah Uang yang Beredar βX3 : Harga Emas Dunia
e : Tingkat Kesalahan (Error) 3. Uji Hipotesis
Uji hipotesis merupakan pengujian terhadap suatu pernyataan dengan menggunakan metode statistik sehingga hasil pengujian tersebut dapat dinyatakan secara signifikan secara statistic.
a. Uji T (Parsial)
Dalam penelitian ini, digunakan pengujian hipotesis dengan menggunakan metode uji parsial (uji t). Pengujian hipotesis dalam penelitian ini, peneliti menetapkan tingkat signifikansi tertentu dan merumuskan hipotesis alternatif (Ha) dan hipotesis nol (H0) sesuai dengan tujuan analisis yang diinginkan. Uji t adalah suatu metode yang digunakan untuk menguji koefisien regresi dari setiap variabel independen terhadap variabel dependen, yang bertujuan untuk menilai sejauh mana variabel independen mempengaruhi variabel dependen dalam model regresi. Hipotesis akan ditolak jika tingkat signifikansi (a) > 0,05 dan hipotesis akan diterima jika tingkat signifikansi (a) < 0,05. Taraf signifikansi 0,05 digunakan sebagai batas untuk menentukan apakah hasil uji statistic cukup kuat untuk mendukung atau menolak hipotesis yang diajukan.
Adapun kriteria yang digunakan untuk uji parsial (uji t) adalah sebagai berikut:
1) Jika t hitung > t tabel maka H0 ditolak dan Ha diterima, yang artinya bahwa terdapat pengaruh antara variabel independen terhadap variabel dependen.
2) Jika t hitung < t tabel maka H0 diterima dan Ha ditolak, yang artinya bahwa tidak terdapat pengaruh antara variabel independen terhadap variabel dependen.
Atau :
1) Jika p-value < 0,05 maka H0 ditolak dan Ha diterima.
2) Jika p-value > 0,05 maka H0 diterima dan Ha ditolak.
b. Uji Koefisien Determinasi (R2)
Koefisien determinasi atau yang disimbolkan dengan R2 adalah suatu ukuran signifikan dalam analisis regresi karena dapat mencerminkan kemampuan variabel dependen. Koefisien determinasi (R2) memberikan informasi mengenai sejauh mana variabilitas variabel dependen dapat dijelaskan oleh variabel independen dalam model regresi. Semakin tinggi nilai R2 maka semakin baik model regresi dapat menjelaskan variasi dalam variabel dependen. Pengujian ini bertujuan untuk menentukan presentase perubahan dalam variabel dependen (Y) yang disebabkan oleh variabel independen (X) atau untuk mengukur seberapa besar variabel independen berkontribusi terhadap perubahan variabel dependen dalam suatu hubungan atau model.
Semakin besar nilai R2 maka presentase perubahan dalam variabel dependen (Y) yang disebabkan oleh variabel independen (X) akan semakin tinggi, sebaliknya jika nilai R2 semakin kecil maka presentase perubahan dalam variabel dependen (Y) yang disebabkan oleh variabel independen (X) akan semakin rendah. Koefisien determinasi (R2) mencerminkan sejauh mana variabel independen mampu menjelaskan variasi dalam variabel dependen
DAFTAR PUSTAKA
Andriyani, V., & Budiman, S. A. (2021). Pengaruh Harga Minyak Dunia, Harga Emas Dunia, Dan Jumlah Uang Beredar Terhadap Indeks Saham Syariah Indonesia. Prosiding Sarjana Akuntansi Tugas Akhir Secara Berkala, 1(1).
Aulia Rizki., & Azhar Latief (2020). Pengaruh Inflasi dan BI Rate terhadap Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI). Borneo Student Research, 1(3).
Edgina, I. M. (2020). Pengaruh Harga Minyak Dunia, Harga Emas Dunia, Djia Dan Inflasi Terhadap Index Saham Syariah. Jurnal Akuntansi Dan Bisns Krisnadwipayana, 7(2).
Ersyafdi, I. R., & Fauziah, N. (2021). Dampak Covid-19 Terhadap Tren Sektoral Harga Saham Syariah di Indonesia. Jurnal Iqtisaduna, 7(2), 1-16.
Fathimiyah, D. A., & Fianto. B. A. (2020). Pengaruh Variabel Makro Ekonomi Dan Dow Jones Islamic Market Index Terhadap Harga Saham Pada Indeks Saham Syariah Indonesia. Jurnal Ekonomi Syariah Teori dan Terapan, 7(11), 2183-2191.
Hasibuan, F. F., Soemitra, A., Harahap, R. D. (2023). Pengaruh Inflasi, Nilai Tukar, Harga Minyak Dunia Dan Harga Emas Dunia Terhadap Indeks Saham Syariah Indonesia. Jurnal Manajemen Akuntansi, 3(1), 707-717.
Muan, Q., & Susilo, E (2022). Pengaruh Makroekonomi Terhadap Pergerakan Indeks Harga Saham Pada Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) Di Bursa Efek Indonesia (BEI). Journal of Aswaja and Islamic Economics, 1(1).
Nalda, A. A., & Rusdi (2023). Pengaruh Inflasi, Jumlah Uang Beredar, Dan Sertifikat Bank Indonesia Syariah Terhadap Indeks Saham Syariah di Jakarta Islamic Index. Jurnal Ekonomi Syariah Pelita Bangsa, 8(1).
Nur, S., & Nur Fatwa (2022). Analisis Pengaruh Indikator Makroekonomi Terhadap Indeks Saham Syariah Indonesia. Islamic Banking and Finance, 5 (1).
Nurzain, M (2021). Pengaruh Variabel Makro terhadap Indeks Harga Saham Syariah. Journal Riset Ilmu Ekonomi dan Bisnis, 1(2), 95-100.
Tripuspitorini, F. A. (2021). Analisis Pengaruh Inflasi, Nilai Tukar Rupiah, dan BI-Rate terhadap Harga Indeks Saham Syariah Indonesia. Jurnal Manajemen Perbankan Syariah, 4(2), 112-121.
Wijaya, Y., & Hariyani, H. F. (2022). Pengaruh Nilai Tukar, Jumlah Uang Beredar, Suku Bunga Terhadap Indeks Harga Saham Syariah Selama Covid-19, Journal of Financial Economics & Investment, 2(3), 1440152.
Wahab, U. S., & Fathoni, M. A. (2023). Pengaruh Bitcoin, Harga Emas, Dan Harga Minyak Dunia Terhadap Jakarta Islamic Index. Islamic Economics and Business Review, 2(1), 59-74.
Wulan, A. N. (2020). Analisis Pengaruh Indikator Makroekonomi Terhadap Indeks Saham Syariah Indonesia. Journal of Islamic Economics, Finance and Banking, 4(2).
Zaimsyah, A. M., et all (2020). Pengaruh Variabel Makroekonomi Terhadap Index Harga Saham Syariah. Jurnal Ekonomi, 25(1), 1-17.