• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengaruh Modernisasi Beragama Terhadap Radikalisme dan Ekstrimisme

N/A
N/A
ROEMAH DHIRA

Academic year: 2025

Membagikan "Pengaruh Modernisasi Beragama Terhadap Radikalisme dan Ekstrimisme"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH MODERNISASI BERAGAMA TERHADAP RADIKALISME DAN EKSTRIMISME

DISUSUN OLEH : KELOMPOK 2 DINA FEBRIANI

NURFADILA VINA ELIS TIANI

IRHAM JUMAIDIN

IZZA AFKARINA MUFIDA WINDA EKA LESTARI

AGILLA RAHMA ALIYA

SMA NEGERI 1 POSO PESISIR UTARA

TAHUN AJARAN 2024/2025

(2)

KATA PENGANTAR

Pertama-tama marilah kita panjatkan puji syukur kehadirat Tuhan Allah Subhanahu Waa Taala., karena atas berkat rahmat dan hidayah-Nya sehingga Penyusun dapat menyelesaikan tugas makalah “Pengaruh Modernisasi Beragama terhadap Radikalisme dan Ekstrimisme

tepat waktu dan semaksimal mungkin.

Dalam makalah ini mungkin di dalamnya masih banyak kekurangan baik dari segi materi maupun tata bahasanya. Untuk itu, saran dan kritik yang sifatnya membangun sangat penyusun harapkan guna kesempurnaan di waktu yang akan datang.

Harapan yang paling besar dari penyusunan makalah ini ialah mudah-mudahan apa yang kami susun ini penuh manfaat, baik untuk pribadi, teman-teman, serta orang lain yang ingin mengambil atau menyempurnakan lagi atau mengambil hikmah dari judul ini sebagai tambahan dalam menambah referensi yang telah ada.

Bakti Agung, Januari 2025

Penyusun

(3)

ii DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ... i DAFTAR ISI ... ii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang ... 1 B. Rumusan Masalah ... 3 C. Tujuan ... 3

BAB II PEMBAHASAN

A. Agama ... 4 B. Modernisasi ... 4 C. Pandangan Islam terhadap Modernisasi ... 6 D. Hubungan Modernisasi terhadap pemrmasalahan agama yang timbul . 6 E. Radikalisme dan Ektrimisme ... 8

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan ... 10 B. Saran ... 10

DAFTAR PUSTAKA

(4)

1.1Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN

Perbincangan tentang modernisasi telah menyita konsentrasi para sarjana baik muslim maupun non-muslim dibuktikan dengan telah lahirnya beragam karya dan pemikiran dibidang ini menunjukkan modernisasi telah mendapat tempat yang cukup proporsional dalam kajian global bahkan ditambah lagi dengan intensnya upaya-upaya pembaruan tersebut dilakukan secara serentak dan kompak baik dunia islam sendiri maupun diluar dunianya merupakan suatu arus deras yang tidak dapat dihentikan demi menciptakan perbaikan dalam segala bidang kemanusiannya. Semakin hari kian terasa bahwa kehidupan manusia makin menjurus kearah pengejaran segala sesuatu yang bermakna fisik-material dimana dalam kajian sosiologi kecenderungan semacam ini disebut sebagai proses “reifikasi”, yaitu ketika manusia saling mengejar apa saja yang bernilai “material”. Bagi mereka kehidupan ini dimaknai hanya sekedar untuk mengisi “perut” dan memenuhi segala macam kesenangan yang nyaris mengabaikan segala aspek yang berdimensi spiritual. Agama hampir dapat dipastikan akan mengalami dampak yang cukup mengancam kelangsungn hidupnya ketika sekularisasi besar-besaran telah menggusur ikatan yang bersifat

“sakral,suci dan transenden”, sehngga afinitas keagamaan makin pudar dan luntur bahkan kadar keberagamaan dapat menghilang sama sekali dalam pergaulan hidup manusian era modern, inilah salah satu ciri dan dampak dari era yang disebut “zaman teknik”. Memang harus diakui bahwa manusia telah melalui suatu perjalanan panjang dalam pencarian hakekat dan makna hidupnya, pengalaman demi pengalaman telah dilalui yang pada akhirnya manusia telah sampai kepada puncak kemajuan melalui pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK), dimana

(5)

2 IPTEK mendominasi segala aspek kehidupan. Kemoderenan selalu identik dengan kehidupan keserbaadaan , sedangkan modernisasi itu sendiri merupakan salah satu ciri umum peradaban maju yang dalam sosiologi berkonotasi perubahan sosial masyarakat yang kurang maju atau primitive untuk mencapai tahap yang telah dialami oleh masyarakat maju atau berperadaban. Mungkin modernitas memang suatu keharusan sejarah manusia, modernisasi merupakan faktor yang sangat berpengaruh dalam kehidupan baik individual maupun kemasyarakatan.tidak kurang filosof eksistensialis menyebut era ini sebagai

“kehancuran”. Elliot menyebutnya sebagai era kecemasan, bahkan bagi para seniman era ini disebut sebagai keterasingan baru dan pemenjaraan yang paling menakutkan. Jadi memang harus dipahami bahwa zaman modern harus dipandang sebagai suatu kelanjutan yang wajar dan logis dalam perkembangan kehidupan manusia yang ditandai oleh kreatifitas manusia dalam mencari jalan mengatasi kesulitan hidupnya di dunia ini dan harus dipahami pula bahwa betapapun kreatifnya manusia di zaman modern, namun kreatifitas itu dalam perspektif sejarah dunia dan umat manusia secara keseluruhan masih merupakan kelanjutan hasil usaha umat manusia sebelumnya. Karena itulah modernitas sesuatu yang tidak dapat dihindarkan lambat ataupun cepat modernitas tentu pasti muncul dikalangan umat manusia entah kapan dan dibagian mana di muka bumi ini. Jika kebetulan momentum zaman modern dimulai oleh eropa barat laut sekitar 2 abad yang lalu maka sebetulnya telah terjadipula kebetulan serupa sebelumnya, yaitu dimulainya momentum zaman agrarian dari lembah Mesopotamia sekitar lima ribu tahun yang lalu yang disebut juga sebagai zaman permulaan sejarah, dan zaman sebelumnya disebut zaman prasejarah yang tanpa peradaban karena itu lembah Mesopotamia dianggap sebagai tempat buaian peradaban manusia. Bagaimana peran agama di tengah era modern, penulis mencoba untuk mengungkap dalam makalah ini.

(6)

1.2Rumusan Masalah

1. Masalah yang kerap kali timbul dalam modernisasi adalah sikap kurangnya sportifitas, radikalisme serta ekstrimisme

2. Sebagian besar dari kita akan melupakan suatu kewajiban yang seharusnya kita jalani baik dalam kehidupan beragama,bermasyarakat maupun berumah tangga .

1.3Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian yang kami lakukan adalah untuk mencari suatu pembuktian maupun solusi untuk mengatasi masalah modernisasi dalam agama,selain itu tujuan kami selanjutnya adalah belajar dan mengetahui cara memperbarui pemahaman islam dengan berjuang membebaskan negeri-negeri islam dari penjajahan dalam bentuk apapun jadi dimasa modernisasi yang akan datang kita harus melakukan perbuatan yang tidak boleh keluar dari norma- norma islam.

(7)

4 BAB II

PEMBAHASAN 2.1Pengertian Agama

Berdasarkan sudut pandang kebahasaan (Indonesia) pada umumnya

“agama” dianggap sebagai kata yang berasal dari sansekerta yang diambil dari dua akar suku kata yaitu A yang berarti “tidak” dan GAMA yang berarti

“kacau”. Agama adalah suatu peraturan yang mengatur kehidupan manusia agar tidak kacau. Agama dalam pengertian sosiologi adalah gejala sosial yang umum dan dimiliki oleh seluruh masyarakat di dunia ini tanpa terkecuali.

Adapun menurut para ahli,pengertian agama yaitu:

- Cicero (abad 15 SM) pembuat hukum romawi,bahwa agama adalah anutan yang menghubungkan antara manusia dengan tuhan.

- Herbert spencer (sosiolog inggris) bahwa faktor utama dalam agama adalah iman akan adanya kekuasaan tak terbatas atau kekuasaan yang tidak bisa digambarkan batas waktu atau tempatnya.

- Emanuel kant (filosof jerman) mengatakan bahwa agama adalah perasaan berkewajiban melaksanakan perintah-perintah tuhan.

- E.B. Taylor (antropolog budaya) bahwa agama adalah keyakinan makhluk spiritual (roh).

- James redfield, bahwa agama adalah pengarahan manusia agar tingkah lakunya sesuai dengan perasaan tentang adanya hubungan antara jiwanya dan jiwa yang tersembunyi.

2.2Pengertian Modernisasi

Kata modernisasi secara etimologi berasal dari kata modern, kata modern dalam kamus umum bahasa Indonesia adalah yang berarti: baru,terbaru,cara baru atau mutakhir dapat juga diartikan maju,baik. Kata modernisasi merupakan kata benda dari bahasa latin “modernus” atau model baru dalam bahasa perancis disebut moderne. Modernisasi adalah proses pergeseran sikap

(8)

dan mentalitas sebagai warga masyarakat untuk bisa hidup sesuai dengan tuntutan hidup masa kini. Modernism adalah pikiran,aliran,gerakan-gerakan dan usaha untuk merubah faham-faham,adat istiadat,institusi-institusi lama dan sebagainya. Untuk desesuaikan dengan suasana baru yang ditimbulkan oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi modern.modernisme dalam kamus bahasa Indonesia berarti pembaruan mempunyai pedoman kata dalam bahasa arab tajdid,ashriy,hadits bukan bid’ah ,ibda atau ibtida yang berarti kebaruan,pembaruan atau pembuatan hal baru dalam bahasa inggris innovation , konotasinya negative karena secara semantik mengandung arti pembuatan hal baru dalam agama. Adapun modernisasi secara terminologi terdapat banyak arti dari berbagai sudut pandang yang berbeda dari banyak ahli :

 Menurut Daniel Lerner, modernisasi adalah istilah baru untuk satu proses panjang proses perubahan social dimana masyarakat yang kurang berkembang memperoleh ciri-ciri yang biasa bagi masyarakat yang lebih berkembang.

 Light dan keller, mengartikan bahwa modernisasi sebagai perubahan nilai- nilai , lembaga-lembaga dan pandangan yang memindahkan masyarakat tradisional kearah industrialisasi dan urbanisasi. Atau seperti ditegaskan zanden, modernisasi merupakan suatu proses yang melaluinya suatu masyarakat beralih dari dari pengaturan sosial dan ekonomi tradisional atau preindustrial ke masyarakat yang bercirikan industrial. Industrialisasi sering digunakan dalam arti luas sebagai ekuivalen dengan bentuk modernisasi ekonomi. Definisi senada diungkap nurcholish madjid, yang mengatakan bahwa “zaman modern” adalah “zaman teknik” bila dilihat dari hakikat intinya karena pada zaman ini peran sentral teknikalisme serta bentuk- bentuk kemasyarakatan yang terkait dengan teknikalisme sangat kental wujud keterkaitan antar segi teknologis diacu sebagai dorongan besar pertama umat manusia memasuki zaman sekarang ini, yaitu revolusi industri di inggris dan revolusi perancis di perancis.

(9)

6 2.3Pandangan Islam Terhadap Modernisasi

Dalam menyikapi modernisasi, menurut DR.Yusuf al-qaradhawi dalam bukunya al-muslimin wal aulamah kaum muslimin terbagi dalam tiga kelompok.

1) Menerima ide barat secara mutlak 2) Yang menolak sama sekali ide barat 3) Yang menerima secara selektif

Kelompok ketiga oleh ulama internasional yang juga murid dari imam hasan al-banna pendiri al-ikhwan al-muslimun mesir itu disebut dengan “kelompok moderat”. Barat modern juga sebenarnya maju karena pengaruh kemajuan islam begitu juga islam dalam konteks kekinian perlu saling mengambil manfaat tapi tetap dalam kaidah kebersamaan sesama umat manusia secara selektif.

Ide seperti ini tampaknya belum banyak diaplikasi oleh umat islam, kita bisa lihat dalam realitas. Budaya barat yang negatif pun diambil juga kenapa bukan budaya membaca atau yang bernuansa kreatif-inovatif?tampaknya umat islam juga masih ada yang mengalami rasa inferiority complex adalah karena belum memiliki keyakinan terhadap budaya islam secara hakiki. Modernisme haruslah dimaknai dengan saling bersahabat antar sesama anak manusia kelak ketika umat manusia bersaru maka tak ada lagi barat dan timur, semua satu menuju yang maha satu entah kapan hal itu akan tejadi.

2.4Hubungan Modernisasi dengan Persoalan Agama Yang Timbul

Di Indonesia reaktualisasi lebih berciri mengedepankan penafsiran, menyimak dan mengkajikembali al-qur’an dan nilai-nilai yang pernah dipraktikkan rasul Muhammad SAW, sehingga dipastikan proses modernisasi itu berjalan dengan susah dan penuh goncangan dinamika. Dinamika modernisasi itu selain berhadapan secara intern terhadap kelompok umat islam tradisional yang memegang teguh adat tradisional yang pernah mereka anut,

(10)

juga harus berhadapan dengan kekuatan bangsa lain yang berusaha meredam gerakan modernisasi di itu. Disinilah proses modernisasi di Indonesia mendapat tantangan yang sungguh-sungguh sangat berbeda dibandingkan dengan Negara- negara islam lainnya yang memperjuangkan gerakan modern.

Adapun sebab-sebab secara kongkret mengenal timbulnya pembaruan Indonesia, antara lain:

1. Campur aduknya hubungan kehidupan beragam dalam islam.

2. Aktivitas misi katolik dan protestan yang dikembangkan oleh penjajah dan missionaries pasca kemerdekaan.

3. Keadaan politis,ekonomi,sosial,pendidikan sebagai akibat adanya keadaan Indonesia yang sangat lama menjadi negeri penjajah.

Berdasarkan sebab-sebab diatas, maka usaha untuk mengembalikan ajaran agama islam dan umatnya kepada nilai dan propasi sebenarnya, Dan hal ini merupakan proyek modernism pasca kemerdekaan. Ada beberapa hal harus dilakukan antara lain:

1. Membersihkan paham islam di Indonesia dari segala pengaruh, tradisi, budaya dan pola pikir yang keliru.

2. Reformasi sistim dan ajaran-ajaran pendidikan islam.

3. Mempertahankan islam dari pengaruh dan serangan-serangan dari luar terutama penyusupan paham yang sangat halus namun amat berbahaya terhadap doktrin islam, baik ketika mau melepaskan diri dari pengaruh penjajah maupun setelah fase kemerdekaan.

Kemajuan teknologi terutama dalam dunia kedokteran seringkali ditemukan kasus-kasus pemindahan anggota badan baik dari manusia yang sudah mati maupun yang masih hidup kepada pasien, seperti pemindahan ginjal,tranfusi darah,jantung,rambut dan lain-lain. Padahal pemindahan anggota badan baik berupa pencangkokan, tranfusi, donor dan sebagainya, merupakan konsekuensi

(11)

8 Proses pemindahan itu secara medis biasa dilakukan terhadap orang yang masih hidup dan orang yang yang sudah mati.yang terjadi didalam umat beragama islam yang sebagian besar kurang berpedoman kepada al-qur’an terutama dikalangan anak remaja.

Kesadaran harus mulai terwujud bagi manusia yang hidup pada zaman modern ini dengan menyadari betapa pentingnya mewujudkan kehidupan yang baik dengan tidak selalu mengartikan dan memahami modernitas dengan gaya dan standar hidup masyarakat barat dan harus diingat bahwa setiap budaya yang muncul dalam suatu negeri memiliki pola dan corak yang pasti berbeda dari negeri lainnya, oleh karena itu mengapresiasi budaya dalam negeri sendiri dengan memberikan corak-corak keislaman lebih baik daripada mengadopsi budaya yang lahir dari negeri lain (barat) dan menjadikannya sebagai ukuran maju atau mundurnya suatu bangsa. Menjadi modern berarti harus mampu mengapresiasi nilai-nilai budaya baik lama ataupun baru dan yang muncul dari manapun dengan nilai-nilai agama atau nilai-nilai keislaman.

2.5Radikalisme dan Ekstrimisme 1. Radikalisme

Radikalisme berasal dari bahasa Latin radix yang berarti akar. Maksudnya yakni berpikir secara mendalam terhadap sesuatu sampai ke akar-akarnya.

Merupakan istilah yang digunakan pada akhir abad ke-18 untuk pendukung gerakan radikal.1 Radikalisme merupakan suatu paham yang menghendaki adanya perubahan, pergantian, dan penjebolan terhadap suatu sistem di masyarakat sampai ke akarnya. Radikalisme menginginkan adanya perubahan secara total terhadap suatu kondisi atau semua aspek kehidupan masyarakat. Tentu saja melakukan perubahan (pembaruan) merupakan hal yang wajar dilakukan bahkan harus dilakukan demi menuju masa depan yang lebih baik. Namun perubahan yang sifatnya revolusioner sering kali

“memakan korban” lebih banyak sementara keberhasilannya tidak sebanding. Sebagian ilmuwan sosial menyarankan perubahan dilakukan secara perlahan-lahan, tetapi kontinu dan sistematik, ketimbang revolusioner tetapi tergesa-gesa.

(12)

Radikalisme merupakan paham atau aliran yang mengingikan perubahan atau pembaharuan sosial dan politik dengan cara kekerasan atau drastis.

Esensi radikalisme adalah konsep sikap jiwa dalam mengusung perubahan.

Sementara itu Radikalisme Menurut Wikipedia adalah suatu paham yang dibuat-buat oleh sekelompok orang yang menginginkan perubahan atau pembaharuan sosial dan politik secara drastis dengan menggunakan cara- cara kekerasan

Apabila dilihat dari sudut pandang keagamaan dapat diartikan sebagai paham keagamaan yang mengacu pada fondasi agama yang sangat mendasar dengan fanatisme keagamaan yang sangat tinggi, sehingga tidak jarang penganut dari paham/aliran tersebut menggunakan kekerasan kepada orang yang berbeda paham/aliran untuk mengaktualisasikan paham keagamaan yang dianut dan dipercayainya untuk diterima secara paksa.

Adapun yang dimaksud dengan radikalisme adalah gerakan yang berpandangan kolot dan sering menggunakan kekerasan dalam mengajarkan keyakinan mereka. Sementara Islam merupakan agama kedamaian. Islam tidak pernah membenarkan praktek penggunaan kekerasan dalam menyebarkan agama, paham keagamaan serta paham politik.

2. Ekstrimisme

Ekstremisme, dalam politik berarti tergolong kepada kelompok-kelompok Kiri radikal, Ekstrem kiri atau Ekstrem kanan. Ekstremisme juga adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan sebuah doktrin atau sikap baik politik maupun agama dalam menyerukan aksi dengan segala cara untuk mencapai tujuannya. Ekstremisme adalah berlebih-lebihan dalam beragama, tepatnya menerapkan agama secara kaku dan keras hingga melewati batas kewajaran.

Ekstremisme bukan monopoli satu agama semata. Dalam sejarah Islam berderet nama gerakan ekstrem pernah timbul dan tenggelam. Dikatakan pakar sejarah Islam dari Nottigham University, Inggris, Prof. Hugh Goddard, Ph D, tidak hanya agama Islam dan kristen yang mengikuti sikap

(13)

10 BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Modernisasi beragama adalah kehidupan umat manusia yang terkait dengan perilaku menjalankan ajaran agamanya dipengaruhi oleh perubahan sistem politik, keagamaan, ekonomi psikologi, ilmu pegetahuan, kemajuan teknologi dan informasi. Salah satu dampak yang ditimbulkan adalah terciptanya generasi yang cenderung bersifat skeptis dan sinis, memiliki ketergantungan tinggi terhadap teknologi, serta menjunjung tinggi privasi,

Radikalisme tidak sesuai degan ajaran Islam sehingga tidak patut untuk ditujukan dalam agama Islam karena sesungguhnya dalam Islam tidak ada yang namanya radikalisme. Dalam Al Qur’an dan Hadits sendiri memerintahkan umatnya untuk saling menghormati dan menyayangi serta bersikap lemah lembut kepada orang lain meskipun orang itu penganut agama lain.

3.2Saran

a. Walaupun kita sebagai individu yang mengikuti perkembangan zaman tetapi sebagai seorang muslim yang baik kita harus tetap menjadikan agama sebagai landasan hidup dan tidak menjadikan ego kita sebagai penuntun hidup, karena ego kita seringkali bertolak belakang dengan norma-norma yang berlaku.

b. Sebaiknya kita harus bisa membagi waktu dengan sebaik-baiknya dengan maksud jika pada saatnya beribadah gunakanlah waktu itu untuk beribadah janganlah gunakan waktu itu untuk kepentingan yang lain , karena biasanya penyesalan itu akan datang pada saat akhir.

(14)

DAFTAR PUSTAKA

Rahmat,jalaludin 1994. Keluarga muslim dalam masyarakat modern, bandung:rosda

Mahfudh,sahal 2003.solusi problematika umat. Surabaya:ampel suci Al-ghazaliy, Muhammad 1993. Fiqush sirah.bandung:pt.alma’arif

Billah arif, Muhammad 2006. Memperbarui pemahaman islam. Jakarta:hizbut tahrir Indonesia

Al-jawi shiddiq, kiai haji Muhammad 2006. Merekonstruksi sistim kehidupan islam:hizbut tahrir Indonesia.

Referensi

Dokumen terkait

Mengetahui pengaruh antara modernisasi struktur organisasi, proses bisnis, manajemen sumber daya manusia, dan good governance pada penerapan modernisasi administrasi

Dari berbagai analisis di atas dapat dilihat bahwa modernisasi perpajakan mempunyai pengaruh signifikan terhadap tingkat kepatuhan pengusaha kena pajak, sehingga

Moderasi beragama adalah sikap beragama yang seimbang antara pengamalan agama sendiri (eksklusif) dan penghormatan praktik agama lain yang berbeda kepercayaan (inklusif)

Saran pada penelitian ini adalah perlu ditingkatkan penguatan moderasi beragama di lingkungan masyarakat agar memiliki nilai-nilai moderat dalam beragama, sehingga

Islam yang sejatinya samhah (ringan) dengan menganggap ibadah sunnah seakan-akan wajib dan makruh seakan- akan haram. Radikalisme dicirikan dengan perilaku beragama

iii PENGARUH TAX AMNESTY, MODERNISASI ADMINISTRASI PERPAJAKAN, DAN TRANSPARANSI BELANJA PAJAK TERHADAP MINIMALISASI TAX EVASION Studi pada KPP Bandung Bojonagara Ditulis Oleh :

Modernisasi memberikan pengaruh pada Pancasila sebagai budaya bangsa Indonesia, yakni pengaruh disorganisasi masyarakat akibat individualisme yang dibawa oleh proses modernisasi..

Pengaruh Modernisasi Terhadap Rusaknya Moral Generasi Bangsa| 1 PENGARUH MODERNISASI DAN GLOBALISASI TERHADAP PERUBAHAN SOSIAL BUDAYA DI INDONESIA EFFECT OF MODERNIZATION AND