DAMPAK MODUL SCREENING PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN TERHADAP EFEKTIVITAS SCREENING PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN ANAK Studi eksperimen pada kader di Puskesmas Merdeka dan Puskesmas Bogor Timur. Penelitian ini bertujuan untuk melihat dampak modul skrining tumbuh kembang terhadap peningkatan efektivitas petugas dalam melakukan skrining tumbuh kembang anak usia dini. Pemberdayaan staf dapat dicapai dengan beberapa cara, salah satunya adalah dengan menawarkan modul tinjauan pertumbuhan dan perkembangan.
Keterampilan staf diukur dengan mengamati staf dalam mengukur tumbuh kembang anak sebelum dan sesudah menyelesaikan modul skrining tumbuh kembang staf. Modul asesmen tumbuh kembang staf dapat meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan efektifitas staf dalam asesmen tumbuh kembang anak usia dini. Diperlukan media yang lebih mudah dibawa dan digunakan oleh kader untuk memantau tumbuh kembang anak usia dini di masyarakat.
ISI JURNAL
Di antara kader yang berbeda, belum semua kader posyandu di Puskesmas Bogor Timur dan Merdeka telah mendapatkan modul pemberdayaan atau skrining tumbuh kembang untuk skrining tumbuh kembang balita. Pemaparan penelitian ini mengenai pengaruh modul skrining tumbuh kembang terhadap peningkatan efektivitas eksekutif dalam melaksanakan skrining tumbuh kembang pada balita. Hasil dari penelitian ini adalah perlu diadakannya modul skrining tumbuh kembang kader pada kader posyandu secara merata dan berkala untuk meningkatkan kemampuannya dalam mendeteksi tumbuh kembang balita.
Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa ternyata seluruh kader posyandu di Puskesmas Bogor Timur dan Merdeka tidak mendapatkan modul pemberdayaan atau modul skrining tumbuh kembang untuk menyaring tumbuh kembang balita. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat dampak modul skrining tumbuh kembang terhadap peningkatan efisiensi petugas dalam pelaksanaan skrining tumbuh kembang balita. Modul skrining pertumbuhan dan perkembangan dianggap efektif dalam meningkatkan keterampilan jika keterampilan minimal 10 (30%) staf berubah dari buruk menjadi baik setelah intervensi.
Hasil uji statistik menunjukkan terdapat pengaruh modul skrining tumbuh kembang kader terhadap pengetahuan (p-value = 0,039), keterampilan (p-value = 0,013), dan efektivitas skrining tumbuh kembang prasekolah yang dilakukan oleh kader dengan nilai p = 0,007. Saran: Perlu diadakan modul skrining tumbuh kembang kader secara merata dan berkala bagi kader posyandu untuk meningkatkan kemampuannya dalam melacak tumbuh kembang balita. Untuk memasukkan peran kader maka perlu dilakukan peningkatan kemampuan kader dalam memantau tumbuh kembang anak yang disebut dengan modul skrining tumbuh kembang kader (Kementerian Kesehatan, 2014).
Pemeriksaan tumbuh kembang secara rutin dan berkala sangat penting dilakukan untuk mendeteksi adanya kelainan tumbuh kembang pada balita sedini mungkin. Memiliki pengetahuan yang cukup mengenai cara melakukan skrining tumbuh kembang pada anak akan mendorong para eksekutif untuk lebih aktif melakukan skrining tumbuh kembang. Tabel 1 menunjukkan bahwa penerapan modul skrining tumbuh kembang eksekutif memberikan pengaruh yang signifikan secara statistik terhadap peningkatan pengetahuan, keterampilan dan efektivitas eksekutif dalam melakukan skrining tumbuh kembang balita.
Berdasarkan hasil penelitian Atmarina diketahui bahwa dari segi SDM (Sumber Daya Manusia), jumlah personel yang melakukan skrining tumbuh kembang balita sudah mencukupi, namun belum dari segi kualitas. Deteksi dini tumbuh kembang merupakan hal yang penting bagi balita, untuk memperoleh tumbuh kembang anak yang optimal. Hasil penelitian Sengkey SW (2015) di Puskesmas Panaiki Manado menunjukkan bahwa kinerja pelaksana berupa hasil kerja yang dicapai oleh pengurus posyandu sudah sesuai dengan tanggung jawabnya masing-masing, walaupun masih ada beberapa pengurus yang belum maksimal dalam melaksanakannya. tugas mereka. dalam melaksanakan tugasnya (Sengkey & Pangemanan 2015), dan dalam melakukan skrining tumbuh kembang balita.
TELAAH JURNAL
TINJAUAN PUSTAKA
Definisi Pertumbuhan dan Perkembangan
Pertumbuhan adalah pertambahan ukuran dan jumlah sel serta jaringan antar sel, yang berarti pertambahan ukuran fisik dan struktur tubuh sebagian atau seluruhnya, sehingga dapat diukur dalam satuan panjang dan berat. Perkembangan adalah bertambahnya struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam kemampuan gerak kasar, gerak halus, bicara dan bahasa, serta sosialisasi dan kemandirian.
Ciri-ciri dan Prinsip-prinsip Tumbuh Kembang Anak
Berbeda dengan pertumbuhan, perkembangan merupakan hasil interaksi pematangan susunan saraf pusat dengan organ-organ yang dipengaruhinya, misalnya perkembangan sistem neuromuskular, kemampuan berbicara, emosi, dan sosialisasi. Seperti halnya pertumbuhan, perkembangan juga mempunyai kecepatan yang berbeda-beda, baik pertumbuhan fisik maupun perkembangan fungsi dan perkembangan organ tubuh pada setiap anak. Tahapan-tahapan tersebut tidak bisa terjadi secara terbalik, misalnya anak mampu terlebih dahulu menggambar lingkaran sebelum dapat menggambar kotak, anak mampu berdiri sebelum berjalan dan seterusnya. Proses tumbuh kembang anak juga mempunyai prinsip-prinsip yang saling berkaitan.
Faktor Kualias Tumbuh Kembang Anak
Paparan radium dan sinar-X dapat menyebabkan kelainan pada janin seperti mikrosefali, spinabifida, keterbelakangan mental dan kelainan anggota tubuh, kelainan mata bawaan, dan kelainan jantung. Erytoblastosis fetishis terjadi atas dasar perbedaan golongan darah janin dan ibu, sehingga ibu membentuk antibodi terhadap sel darah merah janin, kemudian melalui plasenta masuk ke aliran darah janin dan menyebabkan hemolisis, yang selanjutnya menyebabkan hiperbilirubinemia dan chemicterus, yang akan menyebabkan kerusakan pada jaringan otak. Gizi yang cukup sangat diperlukan untuk tumbuh kembang bayi.1 Penelitian menunjukkan bahwa pertambahan berat badan bayi prematur yang mendapat ASI eksklusif lebih besar (710,07 gram) dan rata-rata pertambahan berat badan bayi prematur yang mendapat ASI non-eksklusif. ASI adalah (647,19 gram). 4.
Dengan pemberian ASI, kejadian radang saluran cerna pada bayi prematur yang mendapat ASI lebih rendah dibandingkan dengan bayi yang mendapat ASI.Risiko terjadinya radang saluran cerna meningkat 6-10 kali lipat pada bayi yang mendapat ASI dan meningkat 3 masukkan ke dalam susu campur. . Selain itu ASI juga merangsang kolonisasi organisme menguntungkan seperti Bifidobacterium dan Lactobacillus sehingga memberikan manfaat yaitu menurunkan resiko terjadinya peradangan saluran cerna 5 2) Penyakit kronis/kelainan bawaan, TBC, anemia,. Sanitasi lingkungan yang buruk, kurangnya sinar matahari, paparan sinar radioaktif, bahan kimia tertentu (rokok, merkuri, dll) berdampak negatif terhadap tumbuh kembang anak.
Anak yang orang tuanya tidak menginginkannya, atau anak yang selalu stres, akan mengalami hambatan dalam tumbuh kembangnya. Kemiskinan selalu dikaitkan dengan kekurangan pangan, kesehatan lingkungan yang buruk dan ketidaktahuan, sehingga akan mempengaruhi tumbuh kembang anak.
Aspek-aspek perkembangan yang dipantau
Periode Tumbuh Kembang Anak
Pada masa ini terjadi adaptasi terhadap lingkungan dan terjadi perubahan peredaran darah serta organ-organ mulai berfungsi. Beruntungnya bayi mempunyai orang tua yang hidup rukun, bahagia dan memberikan yang terbaik untuk anaknya. Pada masa ini perlu adanya pemeliharaan kesehatan bayi, pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan penuh, dan pengenalan makanan pendamping ASI.
Masa bayi merupakan masa terjalinnya kontak erat antara ibu dan anak, sehingga pengaruh ibu dalam membesarkan anak pada masa ini sangat besar. Pada titik ini laju pertumbuhan mulai menurun dan terjadi kemajuan dalam perkembangan motorik (gerakan kasar dan halus) dan fungsi ekskresi. Pada masa balita, perkembangan kemampuan berbicara dan berbahasa, kreativitas, kesadaran sosial, emosi dan kecerdasan berlangsung sangat cepat dan menjadi landasan bagi perkembangan selanjutnya.
Perkembangan moral dan landasan kepribadian anak juga terbentuk pada masa ini sehingga penyimpangan/kelainan sekecil apa pun jika tidak ditemukan apalagi ditanggulangi dengan baik akan mengurangi kualitas potensi manusia di kemudian hari. Pada masa ini, selain lingkungan dalam rumah, lingkungan luar rumah juga mulai dikenalkan. Anak-anak mulai menjalin pertemanan bahkan banyak keluarga yang menghabiskan sebagian besar waktu anaknya bermain di alam terbuka dengan mengajak anaknya ke taman bermain, taman kota atau tempat-tempat yang menyediakan fasilitas bermain untuk anak.
Pada masa ini anak sudah siap untuk bersekolah, oleh karena itu panca indera dan sistem reseptor yang menerima rangsangan serta proses memori harus siap agar anak mampu belajar dengan baik. Orang tua dan keluarga diharapkan dapat memantau tumbuh kembang anaknya, sehingga dapat dilakukan intervensi sejak dini apabila anak mengalami penyimpangan atau kelainan.
Penatalaksanaan Skrining Pemeriksaan Perkembangan Anak
Alat bantu pemeriksaan
- Cara menggunakan KPSP
Interpretasi hasil KPSP
Intervensi
Kriteria inklusi: pernah mengikuti pelatihan skrining tumbuh kembang, bekerja sebagai ibu rumah tangga, kelompok umur 20-45 tahun, pendidikan minimal SMA atau sederajat, aktif sebagai kader posyandu minimal 1 tahun. Sedangkan yang dimaksud dengan efisiensi baik adalah apabila skor pengetahuan dan keterampilan lebih besar dari rata-rata dan responden mampu mengukur pertumbuhan dan perkembangan serta menginterpretasikannya dengan benar. . modul skrining tumbuh kembang balita. Salah satu bagian kesehatan masyarakat yang menjadi tanggung jawab pemerintah dan masyarakat adalah kesehatan anak, yang meliputi pemantauan tumbuh kembang anak.
Oleh karena itu, modul skrining tumbuh kembang bagi para pelaksana dalam melakukan skrining tumbuh kembang balita sangat diperlukan sebagai pengungkit untuk mengawali kerjasama antara tenaga kesehatan dan masyarakat untuk meningkatkan optimalisasi tumbuh kembang balita. Melalui penelitian ini diharapkan kader yang merupakan perpanjangan tangan tenaga kesehatan di wilayah operasi Puskesmas Bogor Timur dan Puskesmas Merdeka Kota Bogor dapat berdaya dalam melakukan skrining tumbuh kembang balita. rutin setiap 6 bulan sekali untuk memberikan pelayanan yang optimal. Kriteria inklusi: belum pernah mengikuti pelatihan skrining tumbuh kembang, bekerja sebagai ibu rumah tangga, rentang usia 20-45 tahun, pendidikan minimal SMA atau sederajat, aktif sebagai kader posyandu minimal 1 tahun.
Hal ini terlihat dari peserta modul skrining tumbuh kembang yang sudah beberapa kali mengikuti modul skrining tumbuh kembang, dan materi yang disampaikan selalu sama. Padahal, jika petugas mempunyai pengetahuan dan keterampilan yang sesuai dalam melakukan skrining tumbuh kembang balita, diharapkan mampu memberikan bimbingan kepada ibu balita dalam upayanya mencapai tumbuh kembang yang optimal. Tabel 1 menunjukkan bahwa dari 15 orang (50%) personel yang mengalami kekurangan keterampilan sebelum modul skrining tumbuh kembang, hanya 4 orang (13,3%) yang masih mengalami kekurangan pada akhir modul skrining tumbuh kembang. .
Maka modul skrining tumbuh kembang kader mengenai skrining tumbuh kembang penting untuk dilakukan karena berdasarkan penelitian Dewi (2012) di Purwokerto Selatan, DDTK efektif dalam meningkatkan deteksi dini gangguan tumbuh kembang pada anak balita. Dewi 2012) Sehingga intervensi dini dapat dilakukan dengan hasil yang jauh lebih baik. Perlu dilakukan penguatan kader secara merata dan berkala oleh pihak terkait (dinas kesehatan dan puskesmas setempat) untuk meningkatkan keterampilan skrining tumbuh kembang yang dilakukan kader. Efektivitas SDIDTK dalam meningkatkan angka deteksi dini gangguan tumbuh kembang pada anak balita di Posyandu Teluk wilayah Puskesmas Purwokerto Selatan.
Upaya peningkatan pengetahuan dan keterampilan deteksi dini dan stimulasi tumbuh kembang anak pada kader Posyandu di Puskesmas Manyaran Semarang.
PENUTUP