PENGARUH PEMANFAATAN KOLEKSI PERPUSTAKAAN SEKOLAH DAN KEMANDIRIAN BELAJAR TERHADAP PRESTASI BELAJAR SISWA KELAS XII IPS SMA SWASTA ERIA MEDAN TAHUN AJARAN
2022/2023
PROPOSAL
DISUSUN OLEH : SRI RAHAYU
PROGRAM STUDI ILMU PERPUSTAKAAN FAKULTAS ILMU SOSIAL
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUMATERA UTARA MEDAN
2022/2023
i DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang ... 1
B. Identifikasi Masalah ... 4
C. Batasan Masalah ... 4
D. Rumusan Masalah ... 5
E. Tujuan Penelitian ... 5
F. Manfaat Penelitian ... 5
G. Sistemarika Pembahasan ... 6
BAB II KAJIAN PUSTAKA ... 7
A. Pemanfaatan Koleksi Perpustakaan Sekolah ... 7
1. Pengertian Perpustakaan Sekolah ... 7
2. Tujuan Perpustakaan Sekolah ... 8
3. Fungsi Perpustakaan Sekolah ... 9
4. Pemanfaatan Koleksi Perpustakaan Sekolah ... 10
5. Koleksi Perpustakaan Sekolah ... 13
B. Kemandirian Belajar ... 15
1. Pengertian Kemandirian Belajar ... 15
2. Ciri-Ciri Kemandirian Belajar ... 16
3. Keuntungan Kemandirian Belajar ... 18
4. Faktor Yang Mempengaruhi Kemandirian Belajar ... 18
C. Prestasi Belajar ... 20
1. Pengertian Prestasi Belajar... 20
2. Faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar ... 21
3. Upaya Meningkatkan Prestasi Belajar ... 24
ii
D. Kerangka Pikir ... 26
E. Penelitian Yang Relevan ... 26
F. Hipotesis... 28
BAB III METODE PENELITIAN... 29
A. Jenis dan Pendekatan Penelitian ... 29
B. Lokasi dan Waktu Penelitian ... 29
C. Subjek Penelitian ... 30
D. Populasi dan Sampel ... 30
E. Teknik Pengumpulan Data ... 30
1. Teknik Pengumpulan Data ... 30
2. Instrumen Penelitian ... 31
F. Definisi Operasional ... 31
G. Teknik Analisis Data ... 32
H. Teknik Keabsahan Data (Validitas dan Realibilitas) ... 32
1. Validitas Instrumen ... 32
2. Realibilitas Instrumen ... 33
DAFTAR PUSTAKA ... 34
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
Pendidikan tidak dapat disempurnakan tanpa dukungan sumber belajar.
Pendidikan di sekolah sangat penting dalam mendorong kemajuan bangsa untuk generasi mendatang. Siswa tidak hanya belajar, tetapi harus memahami semua yang dipelajari di kelas. Nilai sebagai hasil dari proses dimana siswa mencapai hasil belajar. Prioritas pengembangan bidang pendidikan adalah mengelola pemanfaatan perpustakaan secara terus menerus oleh peserta didik dalam proses pembelajaran yang diselenggarakan oleh lembaga pendidikan sekolah. Upaya penataan perpustakaan sekolah merupakan upaya untuk memelihara dan meningkatkan efektivitas perpustakaan itu sendiri. Perpustakaan sekolah dikelola sepenuhnya oleh sekolah, dan tujuan utamanya adalah membantu sekolah mencapai tujuan sekolah tertentu dan tujuan pendidikan secara keseluruhan. Pengelolaan perpustakaan terbatas pada porsi sekolah, termasuk siswa, guru, dan staf sekolah.
Perpustakaan merupakan tempat dimana siswa berinteraksi dengan buku, sehingga perpustakaan memiliki banyak pengaruh dalam proses pembelajaran.
Perpustakaan berusaha untuk mempertahankan dan meningkatkan efisiensi dan efektivitas proses pengajaran. Perpustakaan yang tertata dengan baik dan sistematis dapat secara langsung maupun tidak langsung memfasilitasi proses pengajaran di sekolah. Kemajuan di bidang pendidikan dan perbaikan metode belajar mengajar dianggap tidak dapat dipisahkan dari penyediaan sarana dan prasarana pendidikan.
Penyelenggaraan perpustakaan sekolah tidak hanya fokus pada pengumpulan dan penyimpanan bahan pustaka, tetapi diharapkan siswa dapat terus menikmati kesenangan membaca. Membaca merupakan sarana belajar di dalam dan di luar sekolah. Sebagai salah satu sarana pendidikan yang menunjang kegiatan belajar siswa, perpustakaan memegang peranan yang sangat penting dalam mendorong terwujudnya tujuan pendidikan sekolah. Untuk mencapai hasil belajar di kelas, siswa harus memanfaatkan sarana dan prasarana sekolah yang ada yang akan membantu siswa mencapai hasil belajar yang memuaskan di kelas.
Dilihat dari peran perpustakaan sekolah, pengembangan perpustakaan memerlukan banyak upaya, antara lain memperbanyak buku ilmu pengetahuan dan alat peraga yang sesuai dengan kurikulum, menyediakan berbagai sumber informasi, menyediakan multimedia untuk menunjang minat belajar siswa, sehingga siswa tidak bosan dengan buku pelajaran. Semua upaya tersebut ditujukan agar guru dan siswa dapat memanfaatkan perpustakaan sekolah dengan sebaik- baiknya, yang dapat berdampak positif bagi prestasi belajar siswa.
Prestasi akademik merupakan salah satu indikator keberhasilan dalam proses pembelajaran, meskipun masih banyak yang lain seperti keterampilan, keyakinan, budi pekerti, tanggung jawab, dan lain-lain dalam proses pendidikan.
Semua kegiatan belajar mengajar dilakukan untuk hasil belajar yang optimal.
Beberapa siswa memiliki masalah belajar yang mencegah mereka mencapai prestasi akademik terbaik mereka. Untuk mengatasi masalah tersebut, perlu diperhatikan beberapa faktor yang mempengaruhi prestasi akademik.
Untuk mencapai prestasi akademik yang tinggi, orang telah melakukan berbagai upaya, namun apa yang terjadi tidak selalu seperti yang kita harapkan. Hal ini dibuktikan dengan rendahnya nilai siswa Kelas XII IPS SMA SWASTA ERIA MEDAN, dari siswa yang nilai tugas ujiannya masih jauh dari standar ketuntasan minimal. Prestasi akademik yang hebat tidak dapat dicapai tanpa beberapa faktor.
Oleh karena itu, faktor-faktor ini harus dipertimbangkan karena mempengaruhi prestasi akademik. Keberhasilan belajar dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. Faktor internal merujuk pada faktor-faktor seperti keterampilan siswa, motivasi, minat, sikap, dan gaya belajar. Faktor eksternal, atau faktor dari luar individu, meliputi faktor lingkungan dan faktor instrumental. Faktor lingkungan, yaitu lingkungan sosial dan fisik. Faktor instrumental meliputi kurikulum, materi, guru, fasilitas, media pembelajaran, operasional, dan manajemen.
Dalam kaitannya dengan keseluruhan proses pembelajaran di sekolah, perpustakaan sebagai sarana pendidikan dan teknis pendidikan bersama-sama dengan unsur pendidikan lainnya turut menentukan proses pengajaran. Dalam upaya mencapai tujuan tersebut, sekolah harus menyediakan ruang perpustakaan sekolah yang memenuhi standar, yaitu meliputi berbagai macam buku, tidak hanya
3
buku pelajaran, tetapi juga dilengkapi dengan buku bacaan yang dapat menunjang hasil belajar siswa, agar perpustakaan benar-benar dapat dimanfaatkan secara efektif dan memenuhi tujuan.
Pemanfaatan koleksi perpustakaan sekolah diharapkan dapat memberikan layanan informasi bagi proses belajar mengajar di sekolah, baik pendalaman ilmu pengetahuan, penguasaan keterampilan, maupun penyerapan dan pengembangan nilai-nilai kehidupan siswa. Fungsi perpustakaan sekolah tidak lagi terpisah dari proses pendidikan itu sendiri, tetapi harus ikut serta dalam proses pembelajaran.
Perpustakaan sekolah di SMA SWASTA ERIA MEDAN belum dimanfaatkan secara optimal. Siswa lebih memilih membeli makanan dan minuman di kantin sekolah atau mengobrol dengan teman lain saat jam istirahat daripada pergi ke perpustakaan untuk membaca buku. Selain itu, beberapa siswa hanya meminjam buku pelajaran saat guru memberikan pekerjaan rumah. .Ruang di perpustakaan sekolah kurang memadai, apalagi buku-buku di rak buku tidak tertata rapi dan batas-batasnya tidak jelas sehingga membuat siswa kurang nyaman berada di perpustakaan. Beberapa siswa tidak percaya diri dalam mengerjakan pekerjaan rumah, memiliki kebiasaan menyontek dan menyontek saat ujian, serta mengandalkan kehadiran guru untuk belajar di kelas.
Salah satu penentu keberhasilan proses belajar mengajar adalah siswa sebagai peserta dalam kegiatan pembelajaran. Proses pengajaran tidak akan berhasil tanpa adanya kesadaran, kemauan dan partisipasi siswa. Oleh karena itu, dalam proses belajar mengajar, siswa dituntut untuk memiliki sikap mandiri, yaitu siswa harus memiliki kesadaran diri, kemauan, dan motivasi dari dalam hati, agar tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan lancar sesuai jadwal. Kemandirian Belajar menekankan kegiatan belajar yang bertanggung jawab untuk hasil belajar yang optimal. Selain pemanfaatan perpustakaan sekolah, prestasi akademik siswa Kelas XII IPS SMA SWASTA ERIA MEDAN juga dipengaruhi oleh kemandirian belajar. Kemandirian belajar siswa Kelas XII IPS SMA SWASTA ERIA MEDAN pada kenyataannya belum optimal, hal ini dapat dibuktikan dengan adanya siswa dengan kemandirian belajar yang rendah, seperti kurangnya usaha siswa untuk memperoleh ilmu pada waktu ekstrakurikuler, ada siswa yang tidak percaya diri
dalam mengerjakan tugas-tugasnya, kebiasaan mencontek tugas atau mencontek pada saat ujian, dan ketergantungan pada kehadiran guru untuk belajar di kelas.
Berdasarkan uraian di atas, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang “Pengaruh Pemanfaatan Koleksi Perpustakaan Sekolah dan Kemandirian Belajar Terhadap Prestasi Belajar Siswa Kelas XII IPS SMA SWASTA ERIA MEDAN”.
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan di atas, dapat diidentifikasikan masalah sebagai berikut:
1. Prestasi belajar pada sebagian siswa kelas XII IPS SMA SWASTA ERIA MEDAN belum optimal.
2. Pemanfaatan Koleksi Perpustakaan Sekolah di SMA SWASTA ERIA MEDAN belum optimal, hal ini dibuktikan dengan sebagian siswa meminjam buku pelajaran hanya bila ada tugas dari guru saja.
3. Ruang perpustakaan sekolah yang kurang memadai terutama buku-buku di dalam rak yang tidak tersusun dengan rapi dan tidak terdefinisi dengan jelas sehingga membuat siswa kurang nyaman berada di ruang perpustakaan.
4. Siswa tidak percaya diri dan mempunyai ketergantungan terhadap siswa lain yang mempunyai kemampuan lebih saat mengerjakan tugas dan mengejakan ulangan.
C. Batasan Masalah
Mengingat banyaknya masalah berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka dibuat batasan masalah. Hal ini dimaksudkan untuk memperjelas permasalahan yang akan diteliti. Dalam hal ini lebih difokuskan pada permasalahan yang menyangkut Pemanfaatan Koleksi Perpustakaan Sekolah dan Kemandirian Belajar. Kedua faktor tersebut yang diduga dominan berpengaruh terhadap Prestasi Belajar Siswa Kelas XII IPS SMA SWASTA ERIA MEDAN.
5
D. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah, identifikasi masalah, dan pembatasan masalah di atas, maka rumusan masalah penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Apakah ada pengaruh Pemanfaatan Koleksi Perpustakaan Sekolah terhadap Prestasi Belajar Siswa Kelas XII IPS SMA SWASTA ERIA MEDAN?
2. Apakah ada pengaruh Kemandirian Belajar terhadap Prestasi Belajar Siswa Kelas XII IPS SMA SWASTA ERIA MEDAN?
E. Tujuan Penelitian
Berdasarkan permasalahan yang akan dibahas, penelitian ini bertujuan untuk:
1. Untuk mengetahui pengaruh Pemanfaatan Koleksi Perpustakaan Sekolah terhadap Prestasi Belajar Siswa Kelas XII IPS SMA SWASTA ERIA MEDAN.
2. Untuk mengetahui pengaruh Kemandirian Belajar terhadap Prestasi Belajar Siswa Kelas XII IPS SMA SWASTA ERIA MEDAN.
F. Manfaat Penelitian Adapun manfaat penelitan yaitu :
1. Manfaat Teoristis
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi ilmu pengetahuan dan pendidikan, terutama mengenai “Pengaruh Pemanfaatan Koleksi Perpustakaan Sekolah dan Kemandirian Belajar Terhadap Prestasi Belajar Siswa Kelas XII IPS SMA SWASTA ERIA MEDAN”.
2. Manfaat Praktis a. Bagi Penulis
Penelitian ini diharapkan dapat menambah dan meningkatkan wawasan, pengetahuan serta sebagai ajang latihan dalam menerapkan teori-teori yang pernah dipelajari di bangku kuliah.
b. Bagi Sekolah
Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan masukan dan pertimbangan dalam rangka peningkatan mutu pendidikan dengan memaksimalkan fungsi dari siswa yaitu dalam hal peningkatan prestasi belajar.
G. Sistemarika Pembahasan
Sistematika pembahasan terdiri atas tiga bagian, yaitu Bagian Pendahuluan, Bagian Kajian Pustaka, dan Bagian Metodologi Penelitian.
Bab I Pendahuluan, peneliti menggunakan gambaran singkat untuk mencapai tujuan penulisan dan penelitian, meliputi: Latar belakang masalah, identifikasi masalah, batasan masalah, rumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, dan sistematika pembahasan.
Bab II Kajian Pustaka, terdapat penjelasan mengenai pemanfaatan koleksi perpustakaan sekolah, kemandirian belajar, prestasi belajar, kerangka pikir, penelitian terdahulu, dan pengujian hipotesis.
Bab III Metode Penelitian menjelaskan mengenai jenis penelitian dan pendekatan, lokasi dan waktu penelitian, populasi, sampel dan teknik sampling, teknik pengumpulan data, definisi operasional, teknik analisis data, dan teknik keabsahan data (validitas dan realibilitas).
7 BAB II
KAJIAN PUSTAKA
1. Landasan Teori
A. Pemanfaatan Koleksi Perpustakaan Sekolah 1. Pengertian Perpustakaan Sekolah
Perpustakaan sekolah adalah perpustakaan yang diselenggarakan oleh sekolah. Penyelenggaraan perpustakaan sekolah dapat dikatakan berhasil dan efektif jika perpustakaan sekolah digunakan dan diakses oleh pengguna. Pengguna perpustakaan sekolah adalah semua anggota sekolah, termasuk siswa, guru, dan administrator. Perpustakaan adalah suatu lembaga atau unit kerja tertentu dari suatu lembaga yang mengelola bahan pustaka, baik buku maupun bahan non buku, yang mengikuti aturan tertentu sehingga setiap pemakai dapat menggunakannya sebagai sumber daya (Badafal, 2009, p. 3).
Seperti disebutkan di atas, perpustakaan adalah unit kerja. Perpustakaan sekolah dengan demikian merupakan unit kerja sekolah yang menyelenggarakannya.
Beberapa pengertian perpustakaan sekolah dari para ahli, yaitu:
Perpustakaan sekolah adalah perpustakaan yang diselenggarakan di suatu sekolah untuk menunjang program belajar mengajar pada lembaga pendidikan sekolah formal, yang meliputi sekolah dasar dan menengah, sekolah negeri, dan sekolah tinggi (Badafal, 2009, p. 4). Perpustakaan sekolah adalah suatu kesatuan kerja, bagian yang tidak terpisahkan dari lembaga pendidikan sekolah berupa kumpulan bahan pustaka yang disimpan dan digunakan oleh siswa dan guru sebagai sumber informasi dalam beberapa cara untuk mendukung program pengajaran sekolah (Suryosubroto, 2002, p. 205). Perpustakaan sekolah adalah kumpulan bahan pustaka, baik cetak maupun bentuk rekaman lainnya, yang disusun sedemikian rupa sehingga masyarakat dapat lebih mudah mencari informasi yang dibutuhkannya dan yang tujuan utamanya adalah untuk melayani kebutuhan informasi warga sekolah dan bukan untuk diperdagangkan (Dian Sinaga, 2011, p. 22).
Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa perpustakaan sekolah adalah unit kerja lembaga pendidikan sekolah yang diselenggarakan secara sistematis untuk menyimpan koleksi bahan pustaka baik dalam bentuk buku maupun non buku sebagai sarana bagi guru dan siswa untuk menunjang sekolah.
proses pembelajaran Sumber Informasi.
2. Tujuan Perpustakaan Sekolah
Tujuan didirikannya perpustakaan sekolah tidak terlepas dari tujuan keseluruhan penyelenggaraan pendidikan sekolah, yaitu membekali siswa/siswi dengan keterampilan dasar dan mempersiapkan mereka untuk mengikuti kegiatan pengajaran. Oleh karena itu, semua bahan pustaka yang dimiliki perpustakaan sekolah harus dapat menunjang proses pengajaran, sehingga bahan pustaka yang dibeli harus memperhatikan kurikulum sekolah, serta preferensi pembaca (dalam hal ini siswa). dan mempersiapkan mereka untuk berpartisipasi dalam kegiatan pengajaran. Dengan pengadaan bahan pustaka yang mendukung kurikulum, diharapkan siswa memiliki kesempatan untuk meningkatkan daya serap dan penalaran dalam proses pendidikan. Tujuan dibukanya perpustakaan sekolah adalah untuk memenuhi kebutuhan informasi masyarakat di lingkungan sekolah yang bersangkutan, khususnya kebutuhan informasi guru dan siswa, serta sebagai media dan sarana penunjang kegiatan belajar mengajar di sekolah. tingkat sekolah. Oleh karena itu, harapannya Guru memperluas wawasan pengetahuan dalam kegiatan mengajar (Pawit M. Yusuf, 2007, p. 3).
Akhirnya secara sederhana dapat dikatakan bahwa tujuan perpustakaan sekolah adalah untuk meningkatkan kualitas dan kemampuan ilmiah siswa dalam proses pengajaran, serta membantu guru memperluas wawasan berpikirnya.
Perpustakaan sekolah dirancang untuk meningkatkan daya serap dan kapasitas siswa dalam proses pendidikan serta membantu memperluas wawasan intelektual guru atau staf dan lingkungan pendidikan (Milburga, 2010, p. 58). Dari sini dapat disimpulkan bahwa buku sekolah paviliun bertujuan untuk meningkatkan mutu dan kompetensi keilmuan siswa dalam proses pengajaran serta membantu memperluas wawasan berpikir guru di lingkungan sekolah.
9
3. Fungsi Perpustakaan Sekolah
Fungsi perpustakaan sekolah (Badafal, 2009, pp. 6–9) antara lain:
1) Fungsi edukatif, Di dalam perpustakaan sekolah disediakan buku-buku yang pengadaanya disesuaikan dengan kurikulum sekolah. Hal ini dapat menunjang penyelenggaraan pendidikan di sekolah.
2) Fungsi informatif, Perpustakaan tidak hanya menyediakan bahan-bahan pustaka yang berupa buku-buku, tetapi juga menyediakan bahan-bahan yang bukan berupa buku. Hal ini akan memberikan informasi atau keterangan yang diperlukan oleh murid-murid.
3) Fungsi tanggungjawab administrative, Fungsi ini tampak pada kegiatan sehari-hari di perpustakan sekolah, dimana setiap ada peminjaman dan pengembalian buku selalu dicatat oleh guru pustakawan. Setiap siswa yang akan masuk ke perpustakaan sekolah harus menunjukkan kartu anggota atau kartu pelajar.
4) Fungsi riset, Didalam perpustakaan harus tersedia bahan pustaka. Adanya bahan pustaka yang lengkap, siswa dan guru dapat melakukan riset, yaitu mengumpulkan data atau keterangan-keterangan yang diperlukan.
5) Fungsi reaktif, Fungsi ini tidak berarti secara fisik pergi mengunjungi tempat-tempat tertentu, tetapi secara psikologisnya.
Perpustakaan sekolah memiliki peranan penting (Mujiati, 2008) antara lain:
1. Perpustakaan merupakan sumber ilmu pengetahuan dan pusat kegiatan belajar mengajar.
2. Perpustakaan merupakan sumber ide-ide baru yang dapat mendorongkemauan para siswa untuk dapat berpikir secara rasional dan kritis serta memberikan petunjuk untuk mencipta.
3. Perpustakaan akan memberikan jawaban yang cukup memuaskan bagi para siswa, sebagai tuntutan rasa keingintahuan terhadap sesuatu, benar-benar telah terbangun.
4. Kumpulan bahan pustaka (koleksi) di perpustakaan memberikan kesempatan membaca bagi para siswa yang mempunyai waktu dan kemampuan yangberaneka ragam.
5. Perpustakaan memberikan kesempatan kepada para siswa untuk mempelajari cara mempergunakan perpustakaan yang efisien dan efektif.
6. Perpustakaan akan membantu para siswa dalam meningkatkan kemampuan membaca dan memperluas perbendaharaan bahasa.
7. Perpustakaan dapat menimbulkan cinta membaca, sehingga dapat mengarahkan selera dan apresiasi siswa dalam pemilihan bacaan.
8. Perpustakaan memberikan kepuasan akan pengetahuan di luar kelas.
9. Perpustakaan merupakan pusat rekreasi yang dapat memberikan hiburan yang sehat.
10. Perpustakaan memberikan kesempatan kepada para siswa dan guru untuk mengadakan penelitian.
11. Perpustakaan merupakan batu loncatan bagi para siswauntuk melanjutkan kebiasaan hidup membaca di sekolah yang lebih tinggi.
12. Bila keinginan membaca sudah tumbuh dan berkembangpada diri siswa, maka peprustakaan juga dapat mengurangi jajan anak, yang ini biasanya dapat berpengaruh negatif terhadap kesehatan anak.
13. Bahkan perpustakaan juga bagi anak-anak dapat menjauhkan diri dari tindakan kenakalan, yang bias menimbulkan suasana kurang sehat dalah hubungan berteman diantara mereka.
Perpustakaan sekolah memiliki peranan sebagai pengumpul, pemelihara gagasan, dan pikiran-pikiran manusia dari zaman ke zaman (Dian Sinaga, 2011, p.
21). Berdasarkan fungsi dan peranan perpustakaan sekolah di atas, dapat diketahui bahwa perpustakaan sekolah berperan dalam menunjang keberhasilan dalam belajar. Perpustakaan sekolah merupakan sumber belajar bagi siswa.
4. Pemanfaatan Koleksi Perpustakaan Sekolah
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008 : 711), “pemanfaatan adalah proses, cara, perbuatan memanfaatkan sesuatu”. Jadi pemanfaatan merupakan suatu usaha memanfaatkan sesuatu untuk memperoleh apa yang diinginkan. Berdasarkan pengertian tersebut, yang dimaksud dengan Pemanfaatan Perpustakaan Sekolah adalah proses, cara, perbuatan memanfaatkan suatu unit kerja dari suatu lembaga pendidikan sekolah yang menyimpan suatu koleksi bahan pustaka baik berupa buku-buku maupun bukan berupa buku yang diatur secara sistematis sebagai
11
sumber informasi bagi guru dan siswa guna menunjang proses belajar di sekolah.
Ciri utama perpustakaan sekolah adalah adanya fungsi pemanfaatan terhadap koleksi yang dimiliki, yaitu bahan pustaka baik buku maupun bukan buku yang dimanfaatkan secara efisien.
Pemanfaatan perpustakaan sekolah (Badafal, 2009, p. 5) meliputi:
1) Perpustakaan sekolah dapat menimbulkan kecintaan murud-murid terhadap membaca.
2) Perpustakaan sekolah dapat memperkaya pengalaman belajar murid- murid.
3) Perpustakaan sekolah dapat mempercepat proses penguasaan teknik membaca.
4) Perpustakaan sekolah dapat membantu perkembangan kecakapan berbahasa.
5) Perpustakaan sekolah dapat melatih murid-murid ke arah tanggungjawab.
6) Perpustakaan sekolah dapat memperlancar murid-murid dalam menyelesaikan tugas-tugas sekolah.
7) Perpustakaan sekolah dapat membantu guru-guru menemukan sumber- sumber pengajaran.
8) Perpustakaan sekolah dapat membantu murid-murid, guru-guru, dan anggota staf sekolah dalam mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Manfaat perpustakaan sekolah (Dian Sinaga, 2011, p. 15) adalah sebagai berikut:
1) Perpustakaan sekolah adalah tempat dimana siswa dapat menemukan informasi, fakta, dan data yang belum diketahuinya.
2) Di perpustakaan sekolah, siswa dapat berlatih ketrampilan-ketrampilan tertentu yang akan berguna bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan berguna bagi kehidupannya
3) Dengan adanya perpustakaan sekolah, siswa dapat mengadakan penelitian dan percobaan-percobaan sederhana yang sesuai dengan kemampuannya.
4) Perpustakaan dapat dimanfaatkan sebagai tempat rekreasi dan mengisi waktu luang atau waktu senggang di sela-sela kesibukan belajar.
5) Perpustakaan adalah sebagai tempat untuk mencari, menelaah, dan menggali ilmu pengetahuan yang diperlukan dalam proses belajar mengajar.
Berdasar pendapat di atas, Pemanfaatan Perpustakaan Sekolah yang efektif dan efisien terhadap koleksi perpustakaan sekolah bagi siswa dapat dirinci sebagai berikut:
1) Peminjaman buku
Koleksi yang dimiliki perpustakaan yaitu terdiri dari buku pelajaran, buku informasi, dan bukan buku (nonbook material). Koleksi- koleksi tersebut diharapkan dapat dimanfaatkan olehpemakainya, baik untuk dibaca di ruang perpustakaan maupun untuk dipinjam.
2) Aktivitas membaca buku
Membaca adalah jendela dunia yaitu tempat untuk melihat, mengetahui, memahami, dan meramalkan masa lalu, masa kini, maupurn masa depan dunia.
3) Mencatat isi buku untuk memperoleh informasi
Siswa dapat mencari bahan-bahan dan keterangan di perpustakaan sekolah dengan cara mencatat hal-hal yang ddirasa penting untuk menyelesaikan tugas-tugas sekolah.
4) Frekuensi kunjungan
Frekuensi kunjungan merupakan kegiatan yang berupa aktivitas mengunjungi perpustakaan baik untuk membaca maupun meminjam buku. Frekuensi kunjungan pemakai perpustakaan dapat dilihat dari jumlah kunjungan.
5) Waktu kunjungan Pemanfaatan perpustakaan sekolah juga dapat dilihat dari waktu kunjungan.
13
Waktu kunjungan ke perpustakaan sekolah bukan saat jam pelajaran berlangsung tetapi dengan cara memanfaatkan waktu luang untuk mengunjungi dan belajar di perpustakaan.
Berdasarkan pengertian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa Pemanfaatan Perpustakaan Sekolah adalah penggunaan perpustakaan sekolah oleh siswa yang terdiri dari bahan pustaka baik untuk dibaca di ruang perpustakaan maupun untuk dipinjam. Perpustakaan sekolah tampak bermanfaat apabila benar- benar memperlancar pencapaian tujuan proses belajar mengajar di sekolah. Salah satu indikasi manfaat tersebut adalah berupa tingginya prestasi belajar siswa. Selain itu siswa juga mampu mencari, menemukan, menyaring, dan menilai informasi, serta selalu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Dengan demikian perpustakaan sekolah mempunyai fungsi seperti yang sudah dijelaskan diatas salah satunya memperlancar pencapaian tujuan proses belajar mengajar di sekolah yang ditunjukkan dengan tingginya prestasi belajar siswa. Untuk itu peneliti menggunakan pemanfaatan perpustakaan sekolah sebagai variabel yang mempengaruhi prestasi belajar siswa.
5. Koleksi Perpustakaan Sekolah
Menurut Perpustakaan Nasional RI (2006:11) koleksi perpustakaan adalah jenis bahan pustaka yang dikumpulkan atau diadakan, diolah, disimpan, dan dimanfaatkan oleh siswa/guru untuk menunjang kegiatan proses belajar mengajar di sekolah.
Perpustakaan sekolah memiliki berbagai macam koleksi, koleksi perpustakaan sekolah meliputi: buku (fiksi dan non fiksi), buku referensi, penerbitan berkala (majalah, buletin, surat kabar) (Noerhayati Soedibyo, 1998, p.
15).
Jenis koleksi di perpustakaan sekolah (Zuhri, 2003, p.4) sebagai berikut:
1. Koleksi Buku yaitu:
a) Buku non fiksi meliputi:
1) Buku teks atau buku pelajaran. Buku teks meliputi buku pegangan guru dan siswa yang ditetapkan oleh Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan. Buku teks berisi materi pelajaran untuk pegangan guru dan siswa dalam melaksanakan proses belajar mengajar. Buku teks diwajibkan sesuai dengan pedoman kurikulum terbaru.
2) Buku teks pelengkap. Buku-buku yang materinya bersifat melengkapi isi buku-buku teks utama. Buku jenis ini diterbitkan oleh berbagai penerbit swasta dan disahkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
3) Buku rujukan (referensi), meliputi: Kamus, ensiklopedia, almanak, buku tahunan, buku petunjuk, terbitan pemerintah, sumber biografis seperti apa dan siapa (Who is Who), bibliografi, indeks dan abstrak, sumber geografi seperti atlas, globe. Buku rujukan membantu siswa mendapatkan informasi tentang:
a. Makna suatu istilah, tabel atau informasi yang ditemukan dalam buku teks atau bacaan lainnya.
b. Pengetahuan dasar tentang suatu masalah yang sedang dibahas dalam kelas.
c. Keterangan tambahan bagi guru dan siswa.
d. Keterangan dimana suatu informasi atau bahan dapat diperoleh.
b) Buku Fiksi
Buku ini memuat cerita-cerita tentang kehidupan maupun kegiatan dalam bentuk imaginatif dan berfungsi sebagai bacaan hiburan.
Buku fiksi berperan untuk mendorong minat baca siswa.
2. Majalah dan Surat Kabar
Perpustakaan sekolah sebaiknya berlangganan satu surat kabar terbitan daerah maupun terbitan pusat. Surat kabar memuat informasi yang paling baru artinya peristiwa yang terjadi sesuai dengan fakta. Majalah dan terbitan berkala lainnya dipilih sesuai dengan tingkatan sekolah. Isi majalah dalam bentuk penyajian yang singkat dan mengandung informasi baru.
3. Bahan Bukan Buku
15
Bahan bukan buku, yaitu : kaset, slide, foto, gambar, lukisan, dan lain sebagainya yang dimiliki oleh perpustakaan sekolah, dalam pelaksanaan proses belajar mengajar.
B. Kemandirian Belajar
1. Pengertian Kemandirian Belajar
Kata kemandirian berasal dari kata dasar diri yang mendapat awalan ke dan akhiran an yang kemudian membentuk suatu suku kata keadaan atau kata benda (Mohammad Ali, 2008, p. 109). Sedangkan belajar ialah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungan (Abu Ahmadi dan Widodo Supriyono, 1991, p. 121). Belajar ialah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya (Slameto, 2010, p. 2). Di dalam kaitannya dengan belajar, mandiri dapat diartikan belajar sendiri atau belajar dengan inisiatif sendiri. Belajar mandiri adalah kegiatan belajar aktif, yang didorong oleh niat atau motif untuk menguasai sesuatu kompetensi guna mengatasi sesuatu masalah, dan dibangun dengan bekal pengetahuan atau kompetensi yang telah dimiliki (Mudjiman, 2007, p. 7).
Kemandirian belajar diartikan sebagai aktivitas belajar yang berlangsungnya lebih didorong oleh kemauan sendiri, pilihan sendiri, dan tanggaung jawab sendiri dari pembelajaran (Umar, 2005, p. 50). Kemandirian belajar dalam hal ini mengandung pengertian sebagai kemampuan belajar siswa untuk belajar sendiri tanpa ketergantungan terhadap orang lain, karena sangat berpengaruh pada kesiapan kerja siswa. Konsep kemandirian belajar bertumpu pada prinsip bahwa setiap individu yang belajar hanya akan sampai kepada perolehan hasil belajar, mulai dari keterampilan, pengembangan penalaran, pembentukan sikap sampai pada penemuan diri sendiri, apabila ia mengalami sendiri dalam proses perolehan hasil belajar tersebut.
2. Ciri-Ciri Kemandirian Belajar
Berdasarkan pengertian kemandirian belajar tersebut, maka ciri-ciri kemandirian belajar dapat dikenali. Dalam bukunya, M.Chabib mengutip pendapatnya Brawer bahwa ciri-ciri perilaku mandiri (M Chabib Thoha, 1996, pp.
122–124) adalah:
1) Seseorang mampu mengembangkan sikap kritis terhadap kekuasaan yang datang dari luar dirinya. Artinya mereka tidak segera menerima begitu saja pengaruh orang lain tanpa dipikirkan terlebih dahulu segala kemungkinan yang akan timbul.
2) Adanya kemampuan untuk membuat keputusan secara bebas tanpa dipengaruhi oleh orang lain.
Ciri-ciri program belajar mandiri yang bermutu meliputi hal-hal sebagai berikut:
1. Kegiatan belajar untuk siswa dikembangkan dengan cermat dan rinci.
Pengajaran sendiri berlangsung dengan baik apabila bahan disusun menjadi langkah-langkah yang terpisah dan kecil, masing-masing membahas satu konsep tunggal atau sebagian dari bahan yang diajarkan. Besar langkah bisa berbeda-beda, namun urutannya perlu diperhatikan dengan teliti.
2. Kegiatan dan sumber pengajaran dipilih dengan hati-hati dengan memperhatikan sasaran pengajaran yang dipersyaratkan
3. Penguasaan siswa terhadap setiap langkah harus diperiksa sebelum ia melanjutkan ke langkah berikutnya. Karena itu, kita perlu menanyai atau menantang siswa untuk menunjukkan kepahaman mereka atau penggunaan bahan yang dipelajari.
4. Siswa kemudian harus segera menerima kepastian (balikan) tentang kebenaran jawabannya atau upaya lainnya. Setiap keberhasilan menimbulkan rasa percaya diri pada siswa untuk melanjutkan ke langkah berikutnya.
5. Apabila muncul kesulitan, siswa mungkin perlu mempelajari lagi atau membina bantuan pengajar. Jadi, siswa secara terus-menerus ditantang,
17
harus menyelesaikan kegiatan yang diikutinya, langsung mengetahui hasil belajar atau usahanya, dan merasakan keberhasilan.
Ciri-ciri belajar mandiri (Mudjiman, 2007, p. 14) adalah sebagai berikut:
1) Kegiatan belajarnya bersifat self directing (mengarahkan diri sendiri dan tidak dependent).
2) Pertanyaan-pertanyaan yang timbul dalam proses pembelajaran dijawab sendiri atas dasar pengalaman, bukan mengharapkan jawabannya dari guru atau orang luar.
3) Tidak mau didekte guru, karena tidak mengharapkan secara terus menerus diberitahu.
4) Lebih senang dengan partisipasi aktif dari pada pasif mendengarkan ceramah guru.
5) Selalu memanfaatkan pengalaman yang telah dimiliki (konstruktivistik), karena sebagai orang dewasa mereka tidak dating belajar dengan kepala kosong.
Dari pendapat para ahli tersebut maka indikator yang mengacu pada kemandirian belajar adalah sebagai berikut :
1) Penuh inisiatif dalam memecahkan tugas dan permasalahan belajar.
a) Bersikap aktif
b) Muncul ide-ide untuk tugas
2) Mempunyai rasa percaya diri yang tinggi a) Optimis pada lemampuan sendiri
b) Tidak terpengaruh dengan situasi dan kondisi negative 3) Tidak bergantung pada orang lain
a) Kemauan belajar tinggi b) Kemampuan mengontrol diri
4) Siswa bertanggung jawab terhadap kebutuhan belajar a) Kesadaran untuk belajar
b) Menyelesaikan tugas atau belajar secara mandiri
3. Keuntungan Kemandirian Belajar
Jerold E. Kemp yang diterjemahkan oleh Asril Marjoan mengemukakan keuntungan dari belajar mandiri (Asril, 1994, p.156) adalah sebagai berikut:
1) Meghasilkan peningkatan baik dari segi jenjang belajar maupun kadar ingatan. Jumlah siswa yang gagal dalam menunjukkan kinerja yang tidak memuaskan dapat dikurangi secara nyata.
2) Memberikan kesempatan baik kepada siswa yang lamban maupun yang cepat untuk menyelesaikan pelajaran sesuai dengan tingkat kemampuan masing-masing dalam kondisi belajar yang cocok.
3) Rasa percaya diri dan tanggung jawab pribadi yang dituntut dari siswa berlanjut sebagai kebiasaan dalam kegiatan pendidikan lain, tanggung jawab atas pekerjaan dan tingkah laku pribadi.
4) Menyebabkan lebih banyak perhatian tercurah kepada siswa perseorangan dan memberi kesempatan yang lebih luas untuk berlangsungnya interaksi antar siswa.
5) Kegiatan dan tanggung jawab pengajar yang terlibat dalam program belajar mandiri berubah karena waktu untuk penyajian menjadi berkurang dan dia mempunyai waktu lebih banyak untuk memantau siswa dalam pertemuan kelompok dan untuk konsultasi perseorangan.
4. Faktor Yang Mempengaruhi Kemandirian Belajar
Kemandirian belajar sebagaimana belajar pada umumnya banyak dipengaruhi oleh beberapa faktor. Sumadi menggolongkan faktor-faktor yang mempengaruhi kemandirian belajar di bagi menjadi dua yaitu factor eksternal dan faktor internal (Sumadi Suryabrata, 2005, pp. 233–237).
1. Faktor eksternal
Faktor yang berasal dari luar diri pelajar. Faktor ini dibedakan menjadi 2 (dua) golongan, yaitu:
1) Faktor-faktor non sosial
Yang termasuk faktor ini sangat banyak jumlahnya yakni meliputi faktor- faktor yang berasal dari luar selain manusia, misalnya : keadaan udara, suhu udara, cuaca, waktu (pagi/siang/ malam), tempat (letak,
19
gedung), alat-alat yang dipakai untuk belajar (alat tulis, buku-buku, alat peraga).
2) Faktor-faktor sosial
Yang dimaksud faktor-faktor sosial disini adalah faktor manusia (sesama manusia) baik manusia itu hadir (ada) maupun kehadirannya itu dapat disimpulkan, jadi tidak langsung hadir. Kehadiran orang lain pada waktu seseorang sedang belajar, banyak sekali mengganggu belajar.
Misalnya kalau satu kelas muridnya sedang mengerjakan ujian, lalu terdengar banyak anak-anak lain bercakap-cakap di samping kelas, atau seseorang sedang belajar di kamar, satu atau dua orang hilir mudik keluar masuk kamar belajar itu, dan sebagainya.
2. Faktor internal
Yaitu faktor yang berasal dari dalam diri pelajar. Faktor ini di golongkan menjadi dua, yaitu :
1) Faktor Fisiologis
Faktor ini dibedakan dalam dua macam yaitu:
a) Keadaan jasmani pada umumnya. Keadaan akan dapat mempengaruhi kegiatan belajar, seperti kekerungan gizi dapat menyebabkan seseorang itu kurang bersemangat dalam belajar.
b) Keadaan fungsi jasmani tertentu, yang dimaksud di sini adalah kurang berfungsinya indra seseorang yang indranya atau salah satunya akan berpengaruh dalam kegiatan belajar.
2) Faktor psikologis
Yang dimaksud faktor ini diantaranya adalah motif, sikap, perhatian, bakat, tanggapan, pengamatan, minat dan intelegensi.
Berbagai macam pendapat di atas tentang kajian kemandirian belajar dapat dirangkum bahwa kemandirian belajar adalah suatu aktivitas belajar yang dilakukan dengan sendiri atau mandiri tanpa ketergantungan terhadap orang lain, bertanggung jawab sendiri dalam menyelesaikan masalah dalam belajarnya. Selain itu juga dapat menghasilkan peningkatan baik dari segi prestasi belajar maupun kadar ingatan serta mampu untuk membuat keputusan secara bebas tanpa dipengaruhi oleh orang lain. Adapun untuk mencapai kemandirian belajar sebagai berikut : Penuh inisiatif
dalam memecahkan tugas dan permasalahan belajar, mempunyai rasa percaya diri yang tinggi, tidak bergantung pada orang lain, bertanggung jawab terhadap kebutuhan belajar. Dengan semakin tinggi kemandirian belajar siswa, maka akan berdampak terhadap prestasi belajar siswa di sekolah.
C. Prestasi Belajar
1. Pengertian Prestasi Belajar
Belajar adalah proses dimana seseorang mengubah perilaku berdasarkan pengalaman berinteraksi dengan lingkungan yang relatif stabil (Oemar, 2003: 27;
Slameto, 2010: 2; dan Muhibbin, 2010: 92). Derajat usaha atau keberhasilan yang dapat diberikan seorang guru kepada seorang siswa dalam kurun waktu tertentu ditinjau dari tujuan dan nilai-nilai yang terkandung dalam kurikulum (Muhibbin, 2010: 141; Arikunto, 2010: 276; Sumadi, 2006: 297; Syaiful, 2006: 297 ). Dalam pengertian umum atau lebih sehari-hari, belajar adalah pengumpulan sejumlah pengetahuan. Pengetahuan ini diperoleh dari seseorang yang lebih tahu atau yang sekarang disebut guru, dan dikumpulkan secara bertahap dalam pembelajaran hingga menjadi banyak. Orang yang banyak ilmunya diidentikkan dengan orang yang banyak belajar, orang yang kurang ilmunya diidentikkan dengan orang yang kurang belajar, dan orang yang tidak berilmu diidentikkan dengan orang yang tidak belajar.
Dalam pelaksanaan pendidikan di sekolah, proses kegiatan belajar mengajar merupakan kegiatan yang paling penting, karena berhasil tidaknya tujuan pendidikan tergantung dari proses belajar mengajar yang dialami oleh siswa. Oleh karena itu, nilai sangat erat kaitannya dengan pembelajaran. Pada dasarnya, belajar adalah proses yang mengarah pada perubahan. Proses tersebut berlangsung baik secara formal maupun informal. secara resmi, Berarti seseorang menjalani masa belajar di lembaga yang secara formal dijalankan oleh seseorang dan mengikuti model pembelajaran tertentu.
Dari beberapa implikasi di atas dapat disimpulkan bahwa prestasi akademik adalah hasil yang diperoleh setelah proses pembelajaran berlangsung, yaitu penguasaan pengetahuan dan keterampilan yang ditunjukkan melalui tes
21
pembelajaran dan hasil akhir berupa nilai. Konsep belajar adalah proses dan merupakan unsur yang sangat fundamental dalam setiap jenis dan jenjang pendidikan, sebagian orang beranggapan bahwa belajar hanyalah kumpulan atau hafalan fakta-fakta yang disajikan dalam bentuk informasi atau topik.
2. Faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar
Prestasi akademik yang dicapai oleh seorang individu merupakan hasil interaksi berbagai faktor yang mempengaruhi individu (faktor internal) dan faktor eksternal (faktor eksternal). Pengenalan faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi akademik penting dalam membantu siswa mencapai prestasi akademik terbaiknya.
Prestasi akademik merupakan hasil dari proses belajar mengajar, dimana banyak faktor yang saling mempengaruhi, dan tingkat prestasi akademik dipengaruhi oleh faktor-faktor tersebut.
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Hasil Belajar Menurut Alisuf Sabri, ada berbagai faktor yang mempengaruhi hasil belajar siswa dan faktor-faktor tersebut secara garis besar dapat dikelompokkan menjadi dua kategori, yaitu faktor internal dan eksternal (Sabri, 1996, pp.56-60).
a. Faktor Internal Siswa (dari dalam diri)
1) Faktor fisiologis siswa, seperti status kesehatan dan fisik, serta panca indera, terutama kondisi penglihatan dan pendengaran.
2) Faktor psikologis siswa, seperti minat, bakat, kecerdasan, motivasi, dan kemampuan kognitif seperti kemampuan intelektual (bahan apersepasi) yang dimiliki siswa.
b. Faktor Eksternal Siswa (yang berasal dari luar diri)
Faktor lingkungan siswa. Faktor ini terbagi menjadi dua, yaitu yang pertama adalah faktor lingkungan alam atau non sosial, seperti suhu, kelembaban, waktu, lokasi sekolah, dll. Faktor lingkungan sosial seperti manusia dan budaya.
Untuk melengkapi pernyataan di atas tentang faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar siswa, penulis dengan ini mengutip dari Sumandi
Suryabrata dalam bukunya “Psikologi Pendidikan”, dan Muhibbi Syah dalam bukunya “Psikologi Pendidikan dengan pendekatan baru”.
1. Faktor Internal
Salah satu faktor yang mempengaruhi prestasi siswa adalah faktor internal (berasal dari dalam diri siswa), yaitu faktor yang ada dalam diri individu yang sedang belajar, baik faktor fisik maupun psikologis (Sumadi Suryabrata, 2005, pp. 235–236).
a. Faktor fisiologis menurut Suryabrata meliputi kondisi fisik secara umum dan terutama fungsi panca indera.
1) Jasmani pada umumnya ini dapat dikatakan melatar belakangi aktifitas belajar; keadaan jasmani yang segar akan lain pengaruhnya dengan keadaan jasmani yang kurang segar. Jika fisiknya tidak sehat maka belajarnyapun akan terganggu karena tidak konsentrasi.
2) Panca indra adalah bagian-bagian tubuh yang berfungsi untuk menerima rangsangan sesuai dengan modalitas masing-masing.
b. Faktor psikologis menurut Syah (Syah, 2010, p. 134), yang terdiri dari kecerdasan siswa, sikap siswa, bakat siswa, minat siswa, dan motivasi siswa.
1) Kecerdasan atau intelegensi adalah suato kemampuan mentol yang melibatkan proses berfikir secara rasional, oleh karena itu kecerdasan tidak dapat di amati secara langsung melainkan harus disimpulkan dari berbagai tindakan nyata yang merupakan menifestosi dari proses berkir rasional.
2) Sikap siswa adalah gejala internal yang berdimensi afektif berupa kerandrungan untuk mereaksi atau merespon dengan cara yang relatif tetap terhadap objek orang, barang dan sebagainya, baik secara positif maupun negatif.
3) Bakat adalah kemampuan yang spesifik yang diberikan pada individu pada suatu kondisi yang memungkinkan tercapainya pengetahuan, kecakapan atau keterampilan tertentu melalui suatu latihan.
4) Minat adalah keinginan atau kegairahan yang tinggi terhadap sesuatu, faktor ini muncul biasanya dari sesuatu yang digemari atau disukai.
23
5) Motivasi adalah keadaan dalam diri individu atau organisme yang mendorong prilaku kerah tujuan. Oleh karena itu motivasi mempunyai dua aspe, yaitu:
a) Motivasi intristik ialah hal dan keadaan yang berasal dari dalam diri siswa sendiri yang dapat mendorongnya melakukan tindakan belajar,
b) Motivasi ekstrinsik ialah hal dan keadaan yang datang dari luar individu siswa yang juga mendorongnya untuk melakukan kegiatan belajar. Contohnya pujian dan hadiah.
2. Faktor Eksternal Siswa (yang berasal dari luar diri siswa).
Seperti faktor internal siswa, menurut Syah (Syah, 2010, p. 135) faktor eksternal siswa juga terdiri atas dua macam, yakni: faktor lingkungan sosial dan faktor lingkungan nonsosial.
a. Lingkungan yang terdiri dari alam dan sosial 1) Lingkungan alam
Maksudnya adalah keadaan cuaca yang mempengaruhi minat belajar anak misalnya pada musim hujan anak-anak malas untuk pergi ke sekolah karena jalan menuju sekolah mereka banjir.
2) Lingkungan nonsosial
Faktor lingkungan non sosial terdiri dari tiga, yaitu: lingkungan sekolah, masyarakat, dan lingkungan keluarga.Lingkungan masyarakat dan teman-teman sepermainan di sekitar tempat tinggal siswa, kondisi gedung sekolah, dan letaknya, rumah tempat tinggal keluarga siswa dan letaknya, alat alat belajar, keadaan cuaca dan waktu belajar siswa yang digunakan siswa. Menurut Syah, faktor-faktor ini turut menentukan tingkat keberhasilan belajar siswa.
Lingkungan yang sangat mempengaruhi kegiatan belajar adalah orang tua dan keluarga- keluarga siswa itu sendiri, sifat-sifat orang tua, praktek pengelolaan keluarga, ketegangan keluarga dan letak demograsi keluarga (letak rumah) semua akan memberikan dampak baik atau buruk terhadap kegiatan belajar dan hasil yang dicapai siswa.
Kesimpulannya, penulis dapat menyimpulkan bahwa ada faktor internal dan faktor dari lingkungan yang mempengaruhi prestasi akademik, dan bahwa kinerja siswa sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor dalam dirinya (internal) dan eksternal (eksternal). Prestasi akademik siswa pada dasarnya merupakan hasil interaksi dari faktor-faktor tersebut. Oleh karena itu, sangat penting bagi guru untuk mengenali faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja siswa dan membantu siswa mencapai hasil terbaik sesuai dengan kemampuan pribadinya. Prestasi akademik tergantung pada banyak faktor, antara lain: (1) Faktor internal meliputi faktor fisik (kesehatan fisik dan mental) dan faktor psikologis (kecerdasan, fokus, minat, bakat, motivasi, kemandirian, kematangan, kesiapan). (2) Faktor eksternal yaitu faktor yang berasal dari luar diri siswa itu sendiri, antara lain: lingkungan belajar sekolah, keluarga dan masyarakat, guru dan metode mengajar, dan infrastruktur yang digunakan dalam penelitian.
Oleh karena itu prestasi akademik dipengaruhi oleh banyak faktor, baik faktor internal, faktor dari dalam diri siswa, maupun faktor eksternal dari luar siswa.
Faktor yang mempengaruhi prestasi akademik yang digunakan untuk variabel penelitian ini adalah kemandirian belajar (salah satu faktor internal siswa) dan pemanfaatan perpustakaan sekolah (salah satu faktor eksternal siswa).
3. Upaya Meningkatkan Prestasi Belajar
Prestasi belajar siswa merupakan kelanjutan dari pembahasan faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar siswa (Mulyasa, 2004, p. 195). Karena berhasil atau tidaknya seorang siswa dalam belajar sangat tergantung pada keadaan atau kondisi yang melatarbelakangi faktor-faktornya. Apakah faktor-faktor ini dalam keadaan positif (cukup, baik, atau sesuai) atau dalam keadaan negatif. Untuk meningkatkan prestasi akademik, “kondisi fisik, kondisi sosial emosional, lingkungan, Memulai kelas, pembagian kerja, kontrol, sikap optimis, memanfaatkan waktu, cara membaca, dan meningkatkan kecepatan membaca siswa.
Faktor dan kondisi yang mempengaruhi prestasi belajar siswa yang baik memerlukan tubuh yang sehat, dalam tubuh yang sehat jika tubuh sakit, kurang gizi, dan kurang istirahat, maka tidak mungkin belajar secara efektif. Situasi sosial yang
25
emosional, siswa dengan perubahan suasana hati yang tinggi atau tekanan mental, dan anak yang tidak menyukai mata pelajarannya sendiri tidak dapat belajar secara efektif karena keadaan ini sangat mempengaruhi konsentrasi pikiran, kemauan dan perasaan.
Kondisi positif, meliputi faktor internal, eksternal dan pendekatan pembelajaran, maka siswa pasti berhasil secara akademis dan menjadi siswa yang berprestasi. Sebaliknya, jika faktor-faktor tersebut ditemukan oleh siswa dalam kondisi negatif, maka siswa tersebut pasti akan menemui banyak masalah dalam studinya dan tidak akan mencapai hasil akademik yang baik.
Faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar siswa berada dalam keadaan negatif, dan keadaan dimana siswa tersebut mengalami kegagalan belajar disebut kesulitan belajar. Kesulitan belajar bukan berarti semua faktor yang mempengaruhi belajar siswa itu bermasalah, tetapi bisa jadi hanya satu atau beberapa faktor saja yang bermasalah, misalnya anak yang inteligensinya tinggi bisa menjadi anak yang kurang baik secara akademik jika lingkungannya tidak mendukung.
Fenomena kesulitan belajar pada siswa biasanya bermanifestasi sebagai penurunan prestasi akademik atau prestasi akademik, namun kesulitan belajar juga dapat dibuktikan dengan kelainan perilaku seperti berteriak di dalam kelas, mengusik teman, sering tidak masuk sekolah (Syah, 2010, p. 170).
Banyak langkah-langkah yang dapat ditempuh guru, antara lain agar kesulitan belajar siswa dapat ditanggulangi maka seorang pendidik atau orang tua perlu melakukan beberapa hal yang baik dan menggembirakan antara lain:
a. Kasih sayang yang ikhlas.
b. Perhatian dan pengertian yang besar.
c. Bimbingan arahan yang kontinyu.
d. Bijaksana dalam menghadapi kesukaran belajar.
Berdasarkan uraian di atas, penulis berkesimpulan bahwa hal yang mendorong prestasi belajar itu dipengaruhi oleh faktor-faktor yang datang dari dalam dirinya sendiri, dan faktor dari luar diri sendiri, kedua faktor tersebut akan
selalu berinteraksi, sehingga secara langsung ataupun tidak langsung akan mempengaruhi prestasi belajarnya.
D. Kerangka Pikir
Pemanfaatan Koleksi Perpustakaan Sekolah dapat menumbuhkan keinginan untuk membaca yang kemudian dapat meningkatkan prestasi belajarnya.
Kemandirian Belajar siswa dapat memberikan dorongan dari dalam diri siswa untuk belajar lebih giat dan mandiri dalam menyelesaikkan tugas-tugas belajarnya.
Pemanfaatan Koleksi Perpustakaan Sekolah yang tinggi oleh siswa diharapkan dapat mempermudah proses belajar siswa sehingga dapat meningkatkan Prestasi Belajar. Sehingga semakin tinggi Pemanfaatan Koleksi Perpustakaan Sekolah dan Kemandirian Belajar siswa maka semakin tinggi Prestasi Belajar, sebaliknya semakin rendah Pemanfaatan Koleksi Perpustakaan Sekolah dan Kemandirian Belajar maka semakin rendah Prestasi Belajar siswa pula.
Dari tabel diatas peneliti akan mengkaji dan meneliti apakah ada pengaruh pemanfaatan koleksi perpustakaan dan kemandirian belajar terhadap prestasi belajar siswa kelas XII IPS SMA SWASTA ERIA MEDAN.
E. Penelitian Yang Relevan
1. Penelitian yang pernah dilakukan oleh Putri Pertiwi Ningrum, Sri Wahyuni, Salman Alfarisy Totalia (2019) dengan judul “Pengaruh Pembelajaran Sekolah Lima Hari, Kemandirian Belajar terhadap Pemanfaatan Koleksi
Perpustakaan (X1)
Kemandirian Belajar (X2)
Prestasi Belajar (Y)
27
Prestasi Belajar Siswa XII Pemasaran SMK Negeri 1 Surakarta Ajaran 2018/2019”. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: pertama, terdapat pengaruh positif dan signifikan Antara sistem pembelajaran sekolah lima hari terhadap prestasi belajar siswa kelas XII Pemasaran SMK Negeri 1 Surakarta Tahun Ajaran 2018/ 2019, seperti yang ditunjukan oleh nilai thitung = 2,440> ttabel= 2,003. Kedua, terdapat pengaruh positif yang signifikan antara kemandirian belajar terhadap Prestasi belajar siswa kelas XII Pemasaran SMK Negeri 1 Surakarta Tahun Ajaran 2018/ 2019, Seperti yang ditunjukan oleh nilai thitung =6,424
>ttabel=2,003. Ketiga, terdapat pengaruh yang signifikan sistem pembelajaran sekolah lima hari dan kemandirian belajar secara bersama- sama terhadap prestasi belajar siswa kelas XII Pemasaran SMK Negeri 1 Surakarta Tahun Ajaran 2018/2019, seperti yang ditunjukan oleh Fhitung =21,153 >Ftabel =3,168.
2. Penelitian yang pernah dilakukan oleh Rina Handayani (2019) dengan judul “Pengaruh pemanfaatan sumber belajar dan kemandirian belajar siswa terhadap prestasi belajar ekonomi siswa kelas XI IPS SMA Negeri 1 Nguter tahun ajaran 2018/2019”.Hasil penelitian menunjukkan persamaan regresi berganda sebesarY = 25.702 + 0,752 X1 + 0,303 X2.
Koefisien regresi bernilai positif artinya pemanfaatan sumber belajar berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap prestasi belajar siswa dan kemandirian belajar siswa berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap prestasi belajar siswa. Hal ini berarti semakin baik pemanfaatan sumber belajar mengakibatkan semakin tinggi prestasi belajar siswa dan semakin tinggi pengaruhkemandirian belajar siswa mengakibatkan semakin tinggi prestasi belajar siswa. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa (1) pemanfaatan sumber belajar berpengaruh positif dan signifikan terhadap prestasi belajar siswa yang ditunjukkan dengan nilai probabilitas <0>Kata kunci: pemanfaatan sumber belajar, kemandirian belajar siswa, prestasi belajar.
3. Penelitian yang pernah dilakukan oleh Annisa Putri Siregar (2017) dengan judul “Pengaruh Pemanfaatan Digital Library UNIMED dan
Kemandirian Belajar Terhadap Minat Belajar Mahasiswa Tata Niaga Stambuk 2013 Universitas Negeri Medan”. Berdasarkan hasil analisis regresi linear berganda diperoleh persamaan garis secara linear. Hasil analisis uji t untuk variabel pemanfaatan digital library Unimed (X1) diperoleh nilai > (5,510 > 1,660)). Dengan demikian, maka hipotesis pertama diterima yang berarti ada pengaruh positif dan signifikan antara pemanfaatan digital library Unimed (X1) terhadap minat belajar (Y).
Untuk variabel kemandirian belajar (X2) diperoleh nilai > (10,179 >
1,660), dengan demikian, maka hipotesis kedua diterima yang berarti ada pengaruh positif dan signifikan antara kemandirian belajar (X2) terhadap minat belajar (Y). Berdasarkan uji f diperoleh bahwa). Dengan demikian, maka hipotesis ketiga diterima yang berarti ada pengaruh yang positif dan signifikan antara pemanfaatan digital library Unimed dan kemandirian belajar terhadap minat belajar mahasiswa Tata Niaga stambuk 2013 Universitas Negeri Medan.
F. Hipotesis
Berdasarkan kajian pustaka di atas, maka dalam penelitian ini akan mengemukakan hipotesis sebagai berikut:
H0 : Terdapat Pengaruh antara Pemanfaatan Koleksi Perpustakaan Sekolah terhadap Prestasi Belajar siswa kelas XII SMA SWASTA ERIA MEDAN.
H1 : Tidak adanya Pengaruh antara Pemanfaatan Koleksi Perpustakaan Sekolah terhadap Prestasi Belajar siswa kelas XII SMA SWASTA ERIA MEDAN.
H0 : Terdapat pengaruh antara Kemandirian Belajar terhadap Prestasi Belajar siswa kelas XII SMA SWASTA ERIA MEDAN.
H1 : Tidak adanya pengaruh antara Kemandirian Belajar terhadap Prestasi Belajar siswa kelas XII SMA SWASTA ERIA MEDAN.
29 BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis dan Pendekatan Penelitian
Jenis Penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kuantitatif. Penelitian kuantitatif adalah semua informasi atau data diwujudkan dengan angka dan analisisnya menggunakan analisis statistik. Dilihat dari tujuannya penelitian ini merupakan penelitian ex post facto. Ex post facto sendiri merupakan salah satu dari beberapa penelitian yang termasuk ke dalam penelitian kuantitatif.
Peneliti tidak ikut terlibat dalam proses terjadinya gejala tersebut. Ex-post facto (penelitian sesudah kejadian atau after the fact). Atas dasar penelitian ex – post facto, data dalam penelitian ini diambil secara langsung pada diri responden.
Sedangkan jika dilihat berdasarkan sifat masalah, penelitian ini merupakan penelitian regresi karena bertujuan mengetahui ada tidaknya pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat.
Dalam penelitian ini, memiliki tiga variabel yaitu pemanfaatan perpustakaan sekolah (X1) dan kemandirian belajar (X2) sebagai variabel bebas (Indefendent variable) serta prestasi belajar siswa (Y) sebagai variabel terikatnya (defendant variable).
B. Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan di SMA SWASTA ERIA MEDAN yang beralamat di Jl. Sisingamangaraja No.195, RW.02, Teladan Bar., Kec. Medan Kota, Kota Medan, Sumatera Utara 20216. Waktu penelitian ini dilakukan mulai dari bulan Desember 2022 sampai dengan bukan Februari 2023.
C. Subjek Penelitian
Subjek penelitian ini adalah seluruh siswa kelas XII SMA SWASTA ERIA MEDAN Tahun Ajaran 2022/2023.
D. Populasi dan Sampel
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas: objek atau subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang diterapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Adapun yang menjadi Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas XII SMA SWASTA ERIA MEDAN Tahun Ajaran 2022/2023. Penentuan jumlah sampel dalam penelitian ini menggunakan tabel yang dikembangkan dari Isaac dan Michael, untuk tingkat kesalahan 5%.
E. Teknik Pengumpulan Data 1. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data adalah cara-cara yang dapat digunakan oleh peneliti untuk mengumpulkan data yang diperlukan (Suharsimi Arikunto, 2002, p.
134). Adapun teknik pengumpulan data yang digunakana dalam penelitian ini adalah:
a. Angket
Angket (kuesioner). Angket merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada responden untuk dijawab (Sugiyono, 2009, p. 142).
Sedangkan menurut Suharsimi Arikunto merupakan daftar pertanyaan yang diberikan kepada orang lain dengan maksud agar orang yang diberi tersebut bersedia memberikan respon sesuai dengan permintaan pengguna (Suharsimi Arikunto, 2002, p. 136).
b. Dokumentasi
Dokumentasi dapat diartikan sebagai cara untuk memperoleh data yang menggunakan barang-barang tertulis. Barang-barang tertulis tersebut dapat
31
berupa buku kerja, data statistik, catatan harian, peta, gambar, dan sebagainya. Dokumentasi yang digunakan berupa nilai ujian akhir semester (UAS) semester ganjil kelas XII SMA Swasta ERIA Medan.
2. Instrumen Penelitian
Instrumen dalam penelitian ini digunakan untuk memperoleh data dari ketiga variabel, maka diperlukan dua cara pengambilan data yaitu menyebar angket atau kuesioner untuk variabel pemanfaatan perpustakaan sekolah dan kemandirian belajar sedangkan data prestasi belajar dapat diperoleh dari dokumentasi. Hasil dari angket penelitian ini diolah dengan menggunakan skala likert sehingga diperoleh data kuantitas masing-masing variabel. Metode skala likert ini digunakan karena angket ini untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi seseorang yang selanjutnya disebut variabel. Variabel yang akan diukur dijabarkan menjadi sub variabel kemudian dijabarkan menjadi komponen-komponen yang dapat diukur.
F. Definisi Operasional
Sebagai dasar untuk dapat melakukan pengukuran terhadap variabel- variabel secara kuantitatif, maka variabel-variabel tersebut didefinisikan sebagai berikut:
1. Pemanfaatan Koleksi Perpustakaan Sekolah
Pemanfaatan Koleksi Perpustakaan Sekolah adalah penggunaan perpustakaan sekolah oleh siswa secara optional terutama bahan pustaka yang tersedia baik dibaca di sekolah maupun dipinjam. Pemanfaatan Koleksi Perpustakaan Sekolah dalam penelitian ini diukur dengan pendapat responden tentang peminjaman buku, membaca buku, mencatat isi buku, frekuensi kunjungan, dan waktu kunjungan.
2. Kemandirian Belajar
Kemandirian Belajar merupakan kegiatan yang menunjukan siswa dalam belajar meliputi dari mengatur waktu dan rasa tanggung jawab terhadap tindakannya. Untuk melihat seberapa besar tingkat kemandirian belajar siswa dibuat indikator sebagai berikut: Penuh inisiatif dalam memecahkan tugas dan permasalahan belajar, mempunyai rasa percaya diri yang tinggi,
tidak bergantung pada orang lain, siswa bertanggung jawab terhadap kebutuhan belajar.
3. Prestasi Belajar
Prestasi dalam hal ini prestasi dalam belajar siswa. Prestasi merupakan kecakapan atau hasil kongkrit yang dapat dicapai pada saat atau periode tertentu. Prestasi belajar adalah hasil yang telah dicapai siswa dalam proses pembelajaran.
G. Teknik Analisis Data
Data pada penelitian ini merupakan data primer, yaitu data yang diperoleh secara langsung. Penelitian ini menggunakan analisis data statistik deskriptif, analisis regresi sederhana dan analisis regresi ganda, serta menghitung sumbangan relatif dan efektif. Sebelum menggunakan analisis regresi sederhana dan regresi ganda, data harus lulus uji prasyarat terlebih dahulu. Uji prasyarat analisis yang digunakan yaitu meliputi uji normalitas, linearitas dan uji multikolinearitas.
H. Teknik Keabsahan Data (Validitas dan Realibilitas) 1. Validitas Instrumen
Pengujian validitas instrumen dimaksudkan untuk mendapatkan alat ukur yang sahih dan terpercaya. Sebuah instrumen dikatakan valid apabila mampu mengukur apa yang diinginkan (Suharsimi Arikunto, 2002, p. 172). Hasil uji coba tersebut dianalisis dengan menggunakan rumus korelasi Product Moment dari Karl Pearson. Pertimbangan dengan menganalisis butir yang mengkorelasi skor tiap butir dengan skor totalnya dapat diperoleh indeks validitas tiap butir, dengan demikian setiap satu butir dapat diketahui memenuhi syarat atau tidak. Adapun teknik yang digunakan untuk uji validitas adalah teknik korelasi Product Moment. Pengujian signifikan untuk menilai apakah setiap pernyataan valid atau tidak. Pengujian pertanyaan untuk instrument pada variabel pemanfaatan perpustakaan sekolah dan kemandirian belajar menggunakan teknik korelasi Product Moment.
33
2. Realibilitas Instrumen
Instrumen yang reliabel adalah instrumen yang bila digunakan beberapa kali mengukur obyek yang sama akan menghasilkan data yang sama. Realibilitas instrumen merupakan syarat untuk penguji validitas instrumen, karena itu walaupun instrumen yang valid umumnya pasti reliabel tetapi pengujian reliabilitas instrumen perlu dilakukan. Untuk menguji reliabilitas instrumen penelitian digunakan teknik Alpha Cronbach karena bentuk instrumen penelitian ini membentuk interval.
34
DAFTAR PUSTAKA
Abu Ahmadi dan Widodo Supriyono. (1991). Psikologo Belajar. PT. Rineka Cipta.
Badafal, I. (2009). Pengelolaan Perpustakaan Sekolah. PT. Bumi Aksara.
Dian Sinaga. (2011). Mengelola Perpustakaan Sekolah. Bejana.
M Chabib Thoha. (1996). Kapita Selekta Pendidikan Islam. Pustaka Belajar.
Milburga, C. L. (2010). Membina Perpustakaan Sekolah. Kanisius.
Mohammad Ali. (2008). Psikologi Remaja: Perkembangan Peserta Didik. PT.
Bumi Aksara.
Mudjiman, H. (2007). Belajar Mandiri (Self-Motivated Learning). UNS Press.
Mujiati. (2008). Peranan Perpustakaan Sekolah terhadap Mutu Pendidikan di Sekolah. 25 Januari 2008.
sdspawyatandaha2kdr.wordpress.com/2008/01/25/peranan-perpustakaan- sekolah-terhadap-mutu-pendidikan-di-sekolah
Mulyasa. (2004). Implementasi Kurikulum 2004 Panduan Pembelajaran KBK.
PT. Remaja Rosdakarya.
Noerhayati Soedibyo. (1998). Pengelolaan Perpustakaan (Edisi 2). PT Alumni.
Pawit M. Yusuf. (2007). Pedoman Penyelenggaraan Perpustakaan Sekolah (Edisi 1). Kencana Prenada Media.
Slameto. (2010). Belajar dan Faktor-faktor yang mempengaruhinya. Rineka Cipta.
Soedibyo, N. (2009). Pengelolaan Perpustakaan (Edisi 1). PT Alumni.
Sugiyono. (2009). Metode Penelitian Bisnis. CV. Alfabet.
Suharsimi Arikunto. (2002). Prosedur Penelitian Suatu pendekatan Praktek (Edisi Revi). PT.Rhineka Cipta.
35
Sumadi Suryabrata. (2005). Psikologi Pendidikan. PT. Raja Grafindo Persada.
Suryosubroto. (2002). Proses Belajar Mengajar di Sekolah. PT. Rineka Cipta.
Syah, M. (2010). Psikologi Pendidikan Sebagai Suatu Pendekatan Baru. Remaja Rosdakarya.
Umar, H. (2005). Evaluasi Kinerja Perpustakaan.I. Gramedia Pustaka Utama.