• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengaruh Pembelajaran Pendidikan Agama Islam terhadap Akhlak Peserta Didik di SMK Negeri 2 Makassar

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "Pengaruh Pembelajaran Pendidikan Agama Islam terhadap Akhlak Peserta Didik di SMK Negeri 2 Makassar"

Copied!
84
0
0

Teks penuh

(1)

HALAMAN JUDUL

PENGARUH PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM TERHADAP AKHLAK PESERTA DIDK DI

SMK NEGERI 2 MAKASSAR

Skripsi

Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan Meraih Gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd) Jurusan Pendidikan Agama Islam

pada Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Alauddin Makassar

Oleh:

IMAM WAHYUDI NIM: 20100117013

FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN UIN ALAUDDIN MAKASSAR

2022

(2)

iii

PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI

Mahasiswa yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama : Imam Wahyudi

NIM : 20100117013

Tempat, Tanggal Lahir : MAKASSAR, 17 Mei 1999

Jurusan : Pendidikan Agama Islam

Fakultas : Tarbiyah dan Keguruan

Alamat : JL. Talasapalapang 2 Komp. P&K Blok F/4 Kota Makassar

Judul : Pengaruh Pembelajara Pendidikan Agama Islam terhadap Akhlak Peserta Didik di SMK Negeri 2 Makassar

Menyatakan dengan sebenarnya dan penuh kesadaran bahwa skripsi ini benar adalah hasil karya sendiri. Jika di kemudian hari terbukti bahwa ini merupakan duplikat, tiruan, plagiat, atau dibuat oleh orang lain, sebagian atau seluruhnya, maka skripsi dan gelar yang diperoleh karenanya batal demi hukum.

Samata, 27 Desember 2021 Penulis,

IMAM WAHYUDI NIM. 20100117013

(3)

ii

PENGESAHAN SKRIPSI

Skripsi berjudul, “ Pengaruh Pembelajaran Pendidikan Agama Islam terhadap Akhlak Peserta Didik di SMK Neger 2 Makassar ”, yang disusun oleh Imam Wahyudi, NIM: 20100117013 , mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Alauddin Makassar, telah diuji dan dipertahankan dalam sidang Munaqasyah Skripsi yang diselenggarakan pada hari Jumat, tanggal 11 Maret 2022 M, bertepatan dengan 8 Sya’ban 1443 H, dinyatakan telah dapat diterima sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan dalam Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Jurusan Pendidikan Agama Islam dengan beberapa perbaikan.

Samata-Gowa, 11 Maret 2022 M.

8 Sya’ban 1443 H.

DEWAN PENGUJI:

Nomor SK 816 Tahun 2022

Ketua : Dr. H. Syamsuri, S.S., M.A.

Sekretaris : Dr. Muhammad Rusmin B., M.Pd.I.

Munaqisy I : Prof. Dr. H. Muhammad Amri, Lc. M.Ag. (… ... ) Munaqisy II : Dr. Salahuddin, M.Ag. ( ... ) Pembimbing I : Dra. Hj. Ummu Kalsum, M.Pd.I. ( ... ) Pembimbing II : Dr. Nuryamin, M.Ag. ( ... )

Diketahui oleh:

Dekan Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Alauddin Makassar,

Dr. H. Marjuni, M.Pd.I.

NIP 197810112005011006

(……….…………...) (……….…………...)

(4)

iv

KATA PENGANTAR

Assalamu Alaikum Wr. Wb.

ِتاَئِِّيَس ْنِم َو اَنِسُفْنَأ ِر ْو ُرُش ْنِم ِللهاِب ُذوُعَن َو ْهُرِفْغَتْسَن َو ُهُنْيِعَتْسَن َو ُهُدَمْحَن ِ َّ ِلِلَ َدْمَحْلا َّنِإ ُالله َّلاِإ َهَلِإ َلا ْنَأ ُدَهْشَأَ .ُه َلَيِداَه َلاَف ُهْلِلْضُي ْنَم َو ُهَلَّل ِضُم َلاَف ُالله ِهِدْهَي ْنَم ،اَنِلاَمْعَأ ُهُل ْوُس َر َو ُهُدْبَع اًدَّمَحُم َّنَأ ُدَهْشَأ َو ُهَل َكْي ِرَش َلا ُهَدْح َو

Segala puji bagi Allah subhanahu wa taala, atas berkat, taufik dan hidayah- Nya kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul

“Pengaruh Pembelajara Pendidikan Agama Islam terhadap Akhlak Peserta Didik di SMK Negeri 2 Makassar” sebagai salah satu syarat menyelesaikan program Sarjana (S1) pada jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Alauddin Makassar. Selawat serta salam senantiasa tercurahkan kepada baginda Nabi Besar Muhammad shallallahu alaihi wasallam, para sahabat, keluarga serta pengikut-pengikutnya hingga akhir zaman.

Sepenuhnya penulis menyadari bahwa pada proses penyusunan skripsi ini dari awal hingga akhir terdapat banyak kendala dan rintangan yang dihadapi, namun atas pertolongan Allah subhanahu wa taala dan arahan dari berbagai pihak sehingga segala kendala, tantangan dapat dihadapi dan terselesaikan dengan baik.

Karena itu, penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu sehingga skripsi ini dapat selesai.

(5)

v

Selanjutnya, penulis juga ingin menyampaikan permohonan maaf dan terima kasih kepada orang tua penulis, saudara dan kerabat atas segala sesuatau yang telah dilakukan dan diberikan hingga penulis bisa sampai pada tahap ini, kepada ibu Hasnia, Rizky Wahyuni, Muh Nur Ichsan yang penuh dengan rasa kesabaran dan keikhlasan serta rasa kasih sayang telah merawat, membesarkan, mendidik serta memanjatkan doa-doa tulus yang tak ada hentinya kepada penulis.

Serta kepada saudara-saudara, keluarga, sahabat, teman penulis yang senantiasa memotivasi dan semangat dalam penyusunan skripsi ini. Begitu pula penulis ingin menyampaikan banyak terima kasih kepada:

1. Prof. H. Hamdan Juhannis, M.A., Ph.D., sebagai Rektor UIN Alauddin Makassar, Prof. Dr. H. Mardan, M.Ag., selaku Wakil Rektor I, Prof. Dr.

H. Wahyuddin Naro, M.Hum., selaku Wakil Rektor II, Prof. Dr. H.

Darussalam, M.Ag., selaku Wakil Rektor III, Dr. H. Kamaluddin Abunawas, M.A., seelaku Wakil Rektor IV, yang selama ini berusaha mengkoordinasi dan memajukan UIN Alauddin Makassar dan menjadi tempat penulis menuntut ilmu.

2. Dr. H. A. Marjuni, S.Ag., M.Pd.I., selaku Dekan Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Alauddin Makassar, serta Dr. M. Shabir U, M.Ag., selaku Wakil Dekan I, Dr. M. Rusdi, M.Ag., selaku Wakil Dekan II, Dr. H. Ilyas, M.Pd., M.Si., selaku Wakil Dekan III, yang telah memberikan pelayanan yang baik kepada penulis selama kuliah.

3. Dr. H. Syamsuri, S.S., M.A., selaku Ketua Jurusan Pendidikan Agama Islam dan Dr. Muhammad Rusmin B., M.Pd. I., selaku Sekretaris Jurusan Pendiidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Alauddin

(6)

vi

Makassar serta stafnya atas pelayanan, kesempatan, petunjuk, dn arahannya selama penyelesaian skripsi.

4. Dra. Hj. Ummu Kalsum, M.Pd.I. selaku pembimbing I dan Dr. Nuryamin, M.Ag. selaku Pembimbing II yang telah bersedia memberikan waktu, pikiran, dan tenaga dalam membimbing dan mengarahkan penulis sejak awal hingga selesainya skripsi ini.

5. Prof. Dr. Muhammad Amri, Lc.M.Ag. selaku Penguji I dan Dr.

Salahuddin, M.Ag. selaku Penguji II yang telah memberikan saran, koreksi, masukan, ilmu, serta motivasi dalam perbaikan skripsi ini.

6. Para Dosen, Karyawan, Karyawati Fakultas Tarbiyah dan Keguruan yang telah memberikan sumbangsih berupa bantuan, baik secara langsung maupun tidak langsung.

7. Kepada rekan-rekan seperjuangan mahasiswa PAI angkatan 2017 (LEA17ERS), teman kelas PAI 1.2 yang telah mendukung dan mendoakan penulis sehingga bisa sampai pada tahap ini.

8. Kepala sekolah dan para guru serta staf di SMK Negeri 2 Makassar yang telah memberikan dukungan dan arahan dalam proses penelitian.

Penulis menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu penulis dalam penyusunan skripsi ini. Semoga setiap bantuan yang telah diberikan Allah balas dengan kebaikan yang lebih baik. Aamiin.

Samata, 27 Desember 2021 Penulis

Imam Wahyudi NIM 20100117013

(7)

vii DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

PENGESAHAN SKRPSI ... ii

PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI ... ii

KATA PENGANTAR ... iv

DAFTAR ISI ... vii

DAFTAR TABEL ... ix

PEDOMAN TRANSLITERASI ARAB-LATIN DAN SINGKATAN... x

ABSTRAK ... xvi

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Rumusan Masalah ... 4

C. Hipotesis ... 5

D. Definisi Operasional Variabel ... 5

E. Kajian Pustaka ... 6

F. Tujuan dan Kegunaan Penelitian ... 8

BAB II TINJAUAN TEORETIS ... 11

A. Pembelajaran Pendidikan Agama Islam... 11

B. Akhlak ... 21

BAB III METODOLOGI PENELITIAN ... 31

A. Jenis dan Lokasi Penelitian ... 31

B. Pendekatan Penelitian ... 31

C. Populasi dan Sampel ... 32

D. Metode Pengumpulan Data ... 34

E. Instrumen Penelitian ... 34

F. Validasi dan Reliabilitasi Instrumen Penelitian ... 36

G. Teknik Pengolahan dan Analisis Data ... 37

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 43

A. Hasil Penelitian ... 43

B. Pembahasan ... 55

BAB V PENUTUP ... 61

(8)

viii

A. Kesimpulan ... 61 B. Implikasi ... 62 KEPUSTAKAAN ... 63 LAMPIRAN

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

(9)

ix

DAFTAR TABEL

Tabel 1.1 Indikator Variabel ... 6

Tabel 3.1 Jumlah populasi peserta didik di SMK Negeri 2 Makassar ... 32

Tabel 3.2 Jumlah Sampel Peserta Didik Kelas X Jurusan Listrik di SMK Negeri 2 Makassar ... 34

Tabel 3.3 Skor Alternatif Jawaban Angket ... 35

Tabel 3.4 Ktegorisasi Nilai ... 39

Tabel 4.1 Hasil Perhitungan Angket Pembelajaran Pendidikan Agama Islam ... 44

Tabel 4.2 Distribusi Frekuensi Data Dari Angket Pembelajaran Pendidikan Agama Islam ... 46

Tabel 4.3 kategori pengaruh pembelajaran pendidikan agama islam terhadap peserta didik di SMK Negeri 2 Makassar ... 47

Tabel 4.4 Hasil Perhitungan Angket Akhlak Peserta Didik di SMK Negeri 2 Makassar ... 48

Tabel 4.5 Distribusi Frekuensi Akhlak Peserta Didik di SMK Negeri 2 Makassar ... 50

Tabel 4.6 Kategori Akhlak Peserta Didik Di SMK Negeri 2 Makassar ... 51

Tabel 4.7 Hasil Tes Normalitas Kolmograf Smirnov Z Pada Pembelajaran Pendidikan Agama Islam terhadap Akhlak Peserta Didik ... 52

Tabel 4.8 Hasil Tes Homogenitas Pada Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Terhadap Akhlak Peserta Didik ... 52

Tabel 4.9 Variable entered/removed ... 53

Tabel 4.10 Model summary ... 53

Tabel 4.11 ANOVA ... 54

Tabel 4.12 Coefficients ... 54

(10)

x

PEDOMAN TRANSLITERASI ARAB-LATIN DAN SINGKATAN

A. Transliterasi Arab-Latin

Daftar huruf bahasa Arab dan transliterasinya kedalam huruf Latin dapat dilihat pada tabel berikut:

1. Konsonan

Huruf Arab Nama Huruf Latin Nama

ا Alif tidakdilambangkan tidak dilambangkan

ب Ba b Be

ت Ta t Te

ث s\a s\ es (dengan titik di atas)

ج Jim j Je

ح h}a h} ha (dengan titik di bawah)

خ Kha kh ka dan ha

د Dal d De

ذ z\al z\ zet (dengan titik di atas)

ر Ra r Er

ز Zai z Zet

س Sin s Es

ش Syin sy es dan ye

ص s}ad s} es (dengan titik di bawah)

ض d{ad d} de (dengan titik di bawah)

ط t}a t} te (dengan titik di bawah)

ظ z}a z} zet (dengan titik di bawah)

ع ‘ain apostrof terbalik

غ Gain g Ge

ف Fa f Ef

ق Qaf q Qi

ك Kaf k Ka

ل Lam l El

م Mim m Em

ن Nun n En

و Wau w We

هـ Ha h Ha

ء hamzah Apostrof

ى Ya y Ye

(11)

xi

Hamzah (ء) yang terletak diawal kata mengikuti vokalnya tanpa diberi tanda apapun. Jika ia terletak ditengah atau diakhir, maka ditulis dengan tanda (’)

2. Vokal

Vokal bahasa Arab, seperti vokal bahasa Indonesia, terdiri atas vokal tunggal atau monoftong dan vokal rangkap atau diftong. Vokal tunggal bahasa Arab yang lambangnya berupa tanda atau harakat, transliterasinya sebagai berikut:

Vokal rangkap bahasa Arab yang lambangnya berupa gabungan antara harakat dan huruf, transliterasinya berupa gabungan huruf, yaitu:

Contoh:

َفْيَك: kaifa

َلْوَه : haula

3. Maddah

Maddah atau vokal panjang yang lambangnya berupa harakat dan huruf, transliterasinya berupa huruf dan tanda,yaitu:

Contoh:

َتاَم : ma>ta

ىَمَر : rama>

Tanda Nama Huruf Latin Nama

َا fath}ah a A

ا Kasrah i I

ا d}amah u U

Tanda Nama Huruf Latin Nama

ْىَى fath}ah dan ya>’ ai a dan i

ْوَـى fath}ah dan wau au a dan u

Harakat dan Huruf Nama Huruf dan

Tanda Nama

ﹶى... ﹶا... fath}ah dan alif atau ya>’ a> a dan garis di atas

ىى kasrah dan ya>’ i> i dan garis di atas

و ى d}amah dan wau u> u dan garis di atas

(12)

xii

َلْي ق : qi>la

تْو َيَ : yamu>tu

4. Ta>’ marbu>t}ah

Transliterasi untuk ta>’ marbu>t}ah ada dua, yaitu: ta>’ marbu>t}ah yang hidup atau me nd apa t harakat fath}ah, kasrah, dan d}ammah, transliterasinya adalah [t]

Sedangkan ta>’ marbu>t}ah yang mati atau mendapat harakat sukun, transliterasinya adalah [h].

Kalau pada kata yang berakhir dengan ta>’ marbu>t}ah diikuti oleh kata yang menggunakan kata sandang al- serta bacaan kedua kata itu terpisah, maka ta>’marbu>t}ah itu ditransliterasikan dengan ha (h).

Contoh:

لاَفْط َْلْا ةَضْوَر : raud}ah al-at}fal>

ةَل ضاَفْلا ةَنْـي دَمْلَا : al-madi>nah al-fa>d}ilah

ةَمْكْلَْا : al-h}ikmah

5. Syaddah (Tasdi>d)

Syaddah atau tasydi>d yang dalam sistem tulisan Arab dilambangkan dengan sebuah tanda tasydi>d (), dalam transliterasi ini dilambangkan dengan perulangan huruf (konsonan ganda) yang diberi tanda syaddah.

Contoh:

َانَّبَر : rabbana>

اَنْـيََّنَ : najjaina>

قَْلَْا : al-haqq

َم ع ـن : nu“ima

و دَع : ‘aduwwun

Jika huruf ى ber-tasydid di akhir sebuah kata dan didahului oleh huruf kasrah ( ( ي ى maka ia ditransliterasi seperti huruf maddah menjadi i>.

Contoh:

ي لَع : ‘ali> (bukan ‘Aliyy atau ‘Aly)

ب َرَع : ‘arabi> (bukan ‘Arabiyy atau ‘Araby)

6. Kata Sandang

Kata sandang dalam sistem tulisan Arab dilambangkan dengan huruf لا (alif lam ma‘arifah). Dalam pedoman transliterasi ini, kata sandang ditransliterasi seperti biasa, al-, baik ketika ia diikuti oleh huruf syamsiyyah maupun huruf qamariyyah. Kata sandang tidak

(13)

xiii

mengikuti bunyi huruf langsung yang mengikutinya. Kata sandang ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya dan dihubungkan dengan garis mendatar (-).

Contoh:

سْمَّشلَا : al-syamsu (bukan asy-syamsu)

ةَلَزْلَّزلَا : al-zalzalah (bukan az-zalzalah)

ةَفَسْلَفْلَا : al-falsafah

دَلا بْلَا : al-bila>d

7. Hamzah

Aturan transliterasi huruf hamzah menjadi apostrof (’) hanya berlaku bagi hamzah yang terletak di tengah dan akhir kata. Namun, bila hamzah terletak di awal kata, ia tidak dilambangkan, karena dalam tulisan Arab ia berupa alif.

Contoh:

َنْو ر م َْتَ : ta’murun>

عْوَّـنلَا : al-nau‘

ءْيَش : syai’un

تْر م أ : umirtu

8. Penulisan Kata Arab yang Lazim Digunakan dalam Bahasa Indonesia

Kata, istilah atau kalimat Arab yang ditransliterasi adalah kata, istilah atau kalimat yang belum dibakukan dalam bahasa Indonesia. Kata, istilah atau kalimat yang sudah lazim dan menjadi bagian dari perbendaharaan bahasa Indonesia, atau sering ditulis dalam tulisan bahasa Indonesia, atau lazim digunakan dalam dunia akademik tertentu, tidak lagi ditulis menurut cara transliterasi di atas. Misalnya, kata al-Qur’an (dari al-Qur’a>n), alhamdulillah, dan munaqasyah. Namun, bila kata-kata tersebut menjadi bagian dari satu rangkaian teks Arab, maka harus ditrans-literasi secara utuh.

Contoh:

Fi>Zila>l al-qur’a>n al-Sunnah qabl al-tadwi>n

9. Lafz} al-Jala>lah (الله)

Kata “Allah” yang didahului partikel seperti huruf jarr dan huruf lainnya atau berkedudukan sebagai mud}a>f ilaih (frasa nominal), ditransliterasi tanpa huruf hamzah.

Contoh:

الله نْي د di>nulla>h لله بِ billa>h

(14)

xiv

Adapun ta>’ marbu>t}ah di akhir kata yang disandarkan kepada lafz} al-jala>lah, ditransliterasi dengan huruf [t].

Contoh:

ةَْحَْر ْ فِ ْم ه

هالل hum fi>rah}matilla>h

10. Huruf Kapital

Walau sistem tulisan Arab tidak mengenal huruf kapital (All Caps), dalam transliterasinya huruf-huruf tersebut dikenai ketentuan tentang penggunaan huruf kapital berdasarkan pedoman ejaan Bahasa Indonesia yang berlaku (EYD). Huruf kapital, misalnya, digunakan untuk menuliskan huruf awal nama diri (orang, tempat, bulan) dan huruf pertama pada permulaan kalimat. Bila nama diri didahului oleh kata sandang (al-), maka yang ditulis dengan huruf kapital tetap huruf awal nama diri tersebut, bukan huruf awal kata sandangnya. Jika terletak pada awal kalimat, maka huruf A dari kata sandang tersebut menggunakan huruf kapital (Al-). Ketentuan yang sama juga berlaku untuk huruf awal dari judul referensi yang didahului oleh kata sandang al-, baik ketika ia ditulis dalam teks maupun dalam catatan rujukan (CK, DP, CDK, dan DR). Contoh:

Wa ma> Muh}ammadunilla>rasu>l

Inna awwala baitin wud}i‘alinna>si lallaz\i> bi Bakkata muba>rakan Syahru Ramad}a>n al-laz\i> unzila fi>h al-Qur’a>n

Nas}i>r al-Di>n al-T{u>si>

Abu> Nas}r al-Fara>bi>

Al-Gaza>li>

Al-Munqiz\ min al-D}ala>l

Jika nama resmi seseorang menggunakan kata Ibn (anak dari) dan Abu> (bapak dari) sebagai nama kedua terakhirnya, maka kedua nama terakhir itu harus disebutkansebagai nama akhir dalam daftar pustaka atau daftar referensi. Contoh:

11. Daftar Singkatan

Beberapa singkatan yang dibakukan adalah:

swt. = subh}a>nahu> wa ta‘a>la>

saw. = s}allalla>hu ‘alaihi wa sallam a.s. = ‘alaihi al-sala>m

Abu> al-Wali>d Muh}ammad Ibn Rusyd, ditulis menjadi: Ibn Rusyd, Abu> al-Wali>d Muh}ammad (bukan: Rusyd, Abu> al-Wali>d Muh}ammad Ibn)

Nas}r H{a>mid Abu> Zaid, ditulis menjadi: Abu> Zaid, Nas}r H{a>mid (bukan: Zaid, Nas}r H{ami>d Abu>)

(15)

xv

H = Hijrah

M = Masehi

SM = Sebelum Masehi

l. = Lahir tahun (untuk orang yang masih hidup saja)

w. = Wafat tahun

QS …/…: 4 = QS al-Baqarah/2: 4 atau QS A<l ‘Imra>n/3: 4

HR = Hadis Riwayat

(16)

xvi ABSTRAK Nama : Imam Wahyudi

NIM : 20100117013

Judul :“Pengaruh Pembelajaran Pendidikan Agama Islam terhadap Akhlak Peserta Didik di SMK NEGERI 2 MAKASSAR

Skripsi ini mengkaji tentang “Pengaruh Pembelajaran Pendidikan Agama Islam terhadap Akhlak Peserta Didik di SMK Negeri 2 Makasar” yang bertujuan untuk: 1) mengetahui pembelajaran pendidikan agama islam di SMK Negeri 2 Makassar di 2) untuk memperoleh gambaran tentang akhlak peserta didik di SMK Negeri 2 Makassar; 3) untuk mengetahui bagaimana pengaruh pembelajaran pendidikan agama islam terhadap akhlak peserta didik di SMK Negeri 2 Makassar

Penelitian ini adalah penelitian jenis Kuantitatif yang terdiri dari dua variabel yakni variabel pengaruh pembelajaran Pendidikan agama islam (X) dan variabel akhlak (Y). Populasi pada penelitian ini adalah seluruh kelas X di SMK Negeri 2 Makassar yang berjumlah 280 peserta didik sedangkan sampelnya adalah kelas X jurusan listrik yang berjumlah 28 peserta didik.

Instrumen yang digunakan dalam pengumpulan data adalah angket yang digunakan untuk mendapatkan data pembelajaran Pendidikan agama islam dan mendapatkan data akhlak peserta didik. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif dan inferensial.

Melalui kedua teknik analisis data di atas maka hasil penelitian menunjukkan bahwa pengaruh pembelajaran pendidikan agama islam berada pada kategori sedang dengan persentase 71% yang nenunjukkan bahwa pengaruh pembelajaran pendidikan agama islam dapat membantu pembentukan akhlak peserta didik. Hasil angket akhlak peserta didik dari 28 peserta didik terdapat 5 peserta didik kategori tinggi dengan persentase 18%, sebanyak 17 peserta didik kategori sedang dengan persentase 61% dan 6 kategori rendah dengan persentase 21%. Maka disimpulkan bahwa dari hasil angket akhlak peserta didik di SMK Negeri 2 Makassar berada pada kategori sedang dan terdapat pengaruh pembelajaran pendidikan agama islam terhadap akhlak peserta didik di SMK Negeri 2 Makassar dimana Thitung > Ttabel yaitu 3,237 > 2,056 dan nilai sig. 0,003 < 0,05 maka HI diterima. Maka dapat disimpulkan bahwa pembelajaran pendidikan agama islam berpengaruh terhadap akhlak peserta didik di SMK Negeri 2 Makassar.

Implikasi dari penelitian ini adalah:1) Pembelajaran pendidikan agama islam menjadi salah satu faktor penting dalam akhlak peserta didik 2) Tenaga pendidik pendidikan agama islam, harus professional dalam proses pembelajaran bidang study pendidikan agama islam dengan menggunakan metode pendidikan agama islam seperti, membiasakan semua hal-hal yang baik meninggalkan yang dilarang Allah, sekaligus dirinya menjadi teladan bagi peserta didiknya. 3) Lembaga pendidikan atau sekolah perlu memberikan perhatian yang maksimal terhadap tingkah laku peserta didik dengan peraturan dan pengawasan yang baik, juga pihak sekolah juga harus memberi fasilitas yang memadai dalam pembelajaran pendidikan agama islam. Selain itu sekolah juga harus bermitra dengan orang tua murid untuk Bersama

(17)

xvii

mengawasi perilaku secara penuh terhadap putra putrinya.

Kata Kunci: Pembelajaran, Pendidikan Agama Islam, Akhlak.

(18)

1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

Pembelajaran pendidikan agama Islam adalah pembelajaran yang sangat penting bagi peserta didik dalam menjalani kehidupan agar dapat menjadi pribadi yang baik. Pembelajaran merupakan suatu proses yang meliputi serangkaian tindakan yang dilakukan oleh guru dan siswa berdasarkan hubungan timbal balik yang terjadi dalam pengaturan Pendidikan untuk mencapai tujuan tertentu.1

Dalam pembelajaran Pendidikan agama Islam tentunya dibutuhkan proses kerja sama antara guru dan peserta didik dalam memanfaatkan potensi dan sumber yang ada baik potensi yang terdapat dalam diri peserta didik seperti minat, bakat, dan kemampuan dasar yang dimiliki termamsuk gaya belajar maupun potensi yang ada diluar peserta didik seperti lingkungan, sarana sumber belajar sebagai upaya untuk mencapai tujuan pembelajaran pendidikan agama Islam.

Dalam Islam, perkembangan manusia tidak lepas dari pengaruh lingkungan dan bawaan tetapi yang paling penting mempengaruhi perkembangan manusia adalah kedua orang tuanya sendiri. Seperti pada hadits Rasulullah SAW:

ْلا ِلَثَمَك ،ِهِناَسِِّجَمُي ْوَأ ِهِنا َرِّ ِصَنُي ْوَأ ِهِناَد ِِّوَهُي ُها َوَبَأَف ،ِة َرْطِفْلا ىَلَع ُدَل ْوُي ٍد ْوُل ْوَم ُّلُك ُجِتْنَت ِةَمْيِهَب

َءاَعْدَج ْنِم اَهْيِف ى َرَت ْلَه ،َةَمْيِهَبْلا

Artinya:

Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fithrah. Kemudian kedua oramg tuanyalah yang akan menjadikan anak itu menjadi Yahudi, Nasrani atau Majusi sebagaimana binatang ternak yang melahirkan bintang ternak yang

1Hayati, Sri. 2017, Belajar dan pembelajaran berbasis cooperative Learning, (Graha Cendekia, 2017) h.15

(19)

2

sempurna. Apakah kalian melihat ada cacat padanya? (HR. Bukhari No.5188).2

Dalam QS. ar-Rum/30:30:

ِهاللّٰ ِقْلَخِل َلْيِدْبَت َلا ۗاَهْيَلَع َساَّنلا َرَطَف ْيِتَّلا ِ هاللّٰ َت َرْطِف ۗاًفْيِنَح ِنْيِِّدلِل َكَهْج َو ْمِقَاَف ُُۙمِِّيَقْلا ُنْيِِّدلا َكِلٰذ ۗ

َُۙن ْوُمَلْعَي َلا ِساَّنلا َرَثْكَا َّنِكٰل َو

Terjemahnya:

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada Allah: (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah (itulah) agama yang lurus tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.3

Ayat di atas menunjukkan bahwa manusia lahir membawa fitrah (potensi), tetapi fitrah itu dapat berkembang, dan akan berkembang sesuai dengan manusia itu sendiri. Dalam hal ini perkembangan fitrah tersebut dapat berkembang melalui pendidikan. Baik itu pendidikan dalam keluarga, sebagaimana unsur terkecil dalam masyarakat, maupun pendidikan formal yaitu melalui pembelajaran disekolah.

Pendidikan islam bertugas disamping menginternalisasikan (menanamkan dalam pribadi) nilai-nilai islam, juga meningkatkan anak didik agar mempu melakukan pengamalan nilai-nilai itu secara dinamis dan fleksibel. Hal ini berrati pendidikan islam secara optimal harus mampu mendidik anak agar memiliki kedewasaan dan kematangan dalam beriman, bertakwa, dan mengamalkan hasil pendidikan yang diperoleh, sehingga menjadi pemikir sekaligus pengamal ajaran islam, yang dialogis terhadap perkembangan kemajuan zaman.4

Ahli-ahli pendidikan Islam sependapat bahwa tujuan terakhir dari pendidikan adalah moralitas dalam arti yang sebenarnya. Akhlak yang tinggi

2 Muhammad Fuad Abdul Baqi, Lu’lu wal marjan, terj. Ahmad Fadhil, Muttafaqun ‘Alaih Shahih Bukhari Muslim: Himpunan Hadits Shahih yang Disepakati Imam Bukhari dan Imam Muslim (Cet. I; Jakarta: Beirut Publishing, 2015), h. 1094.

3 Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya (Jakarta: al-Huda, 2015), h.408.

4 Muzayyin Arifin, Filsafat Pendidikan Islam (Jakarta, Bumi Aksara, 2010), h.111

(20)

3

sehingga ia dapat mengurus dirinya, berpikir sendiri, mencari hakikat, berkata benar dan membela kebenaran, jujur dalam amal perbuatannya, bersedia mengorbankan kepentingan diri sendiri untuk kepentingan bersama, berpegang pada keutamaan dan menghindari sifat-sifat tercela.5

Pendidikan agama Islam tidak terlepas dari pembahasan tentang akhlak, karena salah satu tujuan pendidikan agama Islam adalah membiasakan anak-anak atau siswa berakhlak mulia. Dalam Sistem Pendidikan Nasional (SISDIKNAS) UU RI No. 20 tahun 2003 yang juga menyatakan:

Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang martabat dalam rangka mercendaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.6

Artinya proses pendidikan diarahkan pada internalisasi nilai-nilai ajaran Islam serta aktualisasinya sebagai etika sosial dalam kehidupan sehari-hari.

Pendidikan agama Islam salah satu cakupannya tentang akhlak karena akhlak yang baik mampu menjadi syarat sempurnanya keimanan seseorang.

Pada kenyataannya, saat ini banyak remaja yang telah terjangkit demoralisasi dan kemorosotan moral. Penulis melihat saat ini akhlak seolah-olah dianggap tidak lagi penting dalam tatanan kehidupan dan pergaulan para remaja atau pelajar. Hal ini terbukti dengan mulai banyaknya kemaksiatan, banyaknya remaja yang kini kurang sopan dan santun kepada orang yang lebih tua, pemakaian narkoba, pergaulan bebas dan sebagainya, yang dilakukan generasi muda terlebih lagi dilakukan oleh remaja yang masih usia sekolah.

5Muhammad Athiyyah Al-Abrasyi, Prinsip-Prinsip Dasar Pendidikan Islam (bandung, CV Pustaka Setia), h.114

6 Depdiknas, UU SISDIKNAS 003, (Jakarta: Sinar Grafika,2003) h.5

(21)

4

Kenakalan di lingkungan sekolah banyak disebabkan oleh faktor pribadi, keluarga, dan komunitas yang beraneka ragam. Kenakalan terdiri atas dua hal yaitu ringan dan berat. Kenakalan ringan contohnya mencontek, tidak mengerjakan PR, berperilaku tidak sopan, menghina guru, bermain HP saat jam pelajaran dan lainnya. Sedangkan kenakalan yang berat adalah mabuk dan tawuran.7

Kenyataan ini relevan dengan kondisi dan situasi yang ada di lingkungan sekolah pada saat sekarang ini. Sehingga penulis memperoleh gambaran pada observasi awal bahwa masih adanya peserta didik yang melanggar aturan sekolah, seperti tidak memperhatikan guru saat menerangkan pelajaran, masih adanya indikasi yang mencontek dan kurang hormat terhadapa guru.

Berdasarkan paparan latar belakang di atas, peneliti tertarik untuk melakukan tindakan penelitian dan ingin mengetahui seberapa besar pengaruh pendidikan agama Islam terhadap akhlak peserta didik dan karena itulah peneliti termotivasi untuk meneliti “Pengaruh Pendidikan Agama Islam terhadap Akhlak Siswa di SMK Negeri 2 Makassar”.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan Latar Belakang di atas, maka penelitian merumuskan pokok permasalahan sebagai berikut:

1. Bagaimana pembelajaran pendidikan agama Islam di SMK Negeri 2 Makassar?

2. Bagaimana akhlak peserta didik di SMK Negeri 2 Makassar?

7Moh, Rifa‟I, dkk, PAI INTERDISIPLINER (Layanan Khusus CIBI, Kenakalan Remaja, Integrasi IMTAQ & IPTEK, Pendidikan Anti Kekerasan, dan Kurikulum Berbasis Karakter), (Yogyakarta : Deepublish), 2016. h 29-30

(22)

5

3. Apakah ada pengaruh pembelajaran pendidikan agama Islam terhadap akhlak peserta didik di SMK Negeri 2 Makassar?

C. Hipotesis

Agar penelitian lebih terstruktur, maka perlu dirumuskan dengan proposisi atau pendugaan terlebuh dahulu mengenai masalah yang diteliti yaitu hipotesis.

Hipotesis adalah jawaban sementara terhadap rumusan maslah penelitian, rumusan masalah penelitian telah dinyatakan dalam bentuk kalimat pertanyaan. Dikatakan sementara, karena jawaban yang diberikan baru didasarkan pada teori yang relevan, belum didasarkan fakta-fakta empiris yang diperoleh melalui pengumpulan data.8

Adapun latar belakang dan rumusan masalah yang telah dipaparkan di atas, maka hipotesis dalam penelitian ini adalah “pengaruh pembelajaran pendidikan agama islam berpengaruh secara signifikan terhadap akhlak peserta didik di SMK Negeri 2 Makassar.”

D. Definisi Operasional Variabel

Definisi operasional diperlukan sebagai penjelas untuk menghindari kesalapahaman pembaca dalam menafsirkan variabel variabel yang terdapat dalam judul penelitian, sedangkan ruang lingkup penelitian di perlukan untuk menjelaskan batasan penelitian. Oleh karena itu, seorang peneliti merasa perlu menjelaskan definisi operasional variabel dan ruang lingkup penelitian.

1. Pembelajaran Pendidikan Agama Islam

Pembelajaran pendidikan agama islam adalah suatu pembelajaran yang mengajarkan agama sebagai landasan dasar untuk mengembangkan bidang

8 Sugiono, Metodologi Penelitian Pendidikan, (Cet. XVI: Bandung: Alfabeta, 2012), h.96

(23)

6

keilmuan dan dapat menjadi landasan moral dan etika sosial dalam kehidupan sehari-hari.

2. Akhlak

Akhlak merupakan ilmu yang menentukan batas antara baik dan buruk, terpuji atau tercela menyangkut perilaku manusia yang meliputi perkataan, pikiran dan perbuatan manusia lahir batin.

Tabel 1.1 Indikator Variabel

No. Variabel Indikator Variabel

1.

Pembelajaran Pendidikan Agama

Islam

1. Pengulangan materi pembelajaran 2. Adanya aktivitas siswa

3. Menciptakan hubungan yang positif antar guru dan murid

4. Adanya penilaian

2. Akhlak

1. Akhlak siswa kepada Allah SWT

2. Akhlak kepada guru atau kepada orang yang lebih tua

3. Akhlak siswa kepada teman

4. Akhlak siswa dalam mengikuti kegiatan proses belajar mengajar

E. Kajian Pustaka

Beberapa sumber dalam literatur ditemukan penelitian yang memiliki relevansi dengan penelitian yang akan di laksanakan oleh peneliti. Adapun penelitian tersebut sebagai berikut:

1. Penelitian yang dilakukan oleh Zakiya mahasiswi UIN Syarif Hidayatullah dengan judul “Pengaruh Pendidikan Agama Islam terhadap Akhlak Siswa di SMAN 51 Jakarta. Hasil penelitian bahwa nilai r hitung sebesar 0,364, r table

(24)

7

0,250 dan termasuk kategori yang rendah (nilai r hitung pada rentang 0,20 – 0,39) dengan KD sebesar 13,2%. Karena nilai r hitung >r table dengan demikian Ha diterima dan Ho ditolak, dengan demikian dapat ditarik kesimpulan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan antara pendidikan agama Islam terhadap akhlak siswa SMAN 51 Jakarta. Dan ini berarti kontribusi yang diberikan hanya sebesar 13,2%.

2. Penelitian yang dilakukan oleh Ika Malgi Ulfa mahasiswi UIN Syarif Hidayatullah dengan judul “Pengaruh Pendidikan Agama Islam terhadap Akhlak Siswa di SD ISLAM MIFTAHUL DINIYAH DI KELURAHAN PONDOK CABE UDIK. Hasil penelitian bahwa korelasi antara pengaruh pendidikan agama Islam terhadap akhlak siswa adalah sebesar 0,491 yang berarti korelasi positif antara pendidikan agama Islam (x) dengan akhlak (Y).

dan pengaruh pendidikan agama Islam terhadap akhlak siswa adalah sebesar 24,10 %. yang artinya pendidikan agama Islam telah memberikan pengaruh terhadap akhlak siswa sebesar 24,10 % dan 75,9 % adalah faktor lain.

3. Penelitian yang dilakukan oleh Suarifatul Barokah mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah dengan judul “Pengaruh Pendidikan Agama Islam terhadap Akhlak Siswa di SMK GITA KRITTI 1 JAKARTA. Berdasarkan hasil penelitian dapat diambil kesimpulam bahwa ada pengaruh positif antara pengaruh mata pelajaran pendidikan agama Islam terhadap pembentukan akhlak siswa. Hal itu dapat diketahui berdasarkan hitungan korelasi antar hasil penelitian angket pengaruh mata pelajaran pendidikan agama Islam terhadap pembentukan akhlak siswa sebesar rxy = 5,80 yang terletak antara rentang 0,40 – 0,70 yang menunjukkan korelasi yang sedang atau cukup.

(25)

8

4. Penelitian yang dilakukan oleh Nova Mutiara Dewi mahasiswi UIN Raden Intan Lampung dengan judul “Pengaruh Pembelajaran Pendidikan Agama Islam terhadap Akhlak Siswa di SMK Widya Yahya Gading Rejo Kabupaten Pringsewu”. Dapat ditarik kesimpulan bahwa ada pengaruh yang signifikan antara Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Terhadap Akhlak Siswa di SMK Widya Yahya Gading Rejo Kabupaten Pringsewu. Pengaruh di sini adalah bahwasanya pembelajaran pendidikan agama Islam memiliki pengaruh positif terhadap akhlak siswa di SMK Widy Yahya Gading Rejo. Adapun Koefisien Determinasi diperoleh sebesar 21,9%. Maka dapat diartikan bahwa pengaruh Pembelajaran Pendidikan Agama Islam dengan Akhlak Siswa sebesar 21,9%

sedangkan 78,1% dipengaruhi variable lain.

F. Tujuan dan Kegunaan Penelitian 1. Tujuan Penelitian

Penelitian Ini pada dasarnya bertujuan untuk mendeskripsikan jawaban atas pertanyaan yang dikemukakan pada rumusan masalah. Tujuan peneltian ini dirumuskan sebagai berikut:

a. Untuk mengetahui pembelajaran pendidikan agama Islam di SMK Negeri 2 Makassar.

b. Untuk memperoleh gambaran tentang akhlak speserta didik di SMK Negeri 2 Makassar.

c. Untuk mengetahui bagaimana pengaruh pendidikan agama Islam terhadap akhlak peserta didik di SMK Negeri 2 Makassar.

(26)

9

2. Kegunaan Penelitian

Berdasarkan tujuan penelitian yang ingin dicapai, maka penelitian ini diharapkan mempunyai kegunaan. Adapun kegunaan penelitian ini adalah sebagai berikut:

a. Kegunaan Teoritis

1) Penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan ilmiah untuk memperluas dunia ilmu pendidikan.

2) Memberikan sumbangan untuk peningkatan kualitas pendidikan dan sumber daya manusia.

b. Kegunaan Praktis

1) Dapat digunakan dalam upaya pengembangan hasil belajar sekaligus sebagai bahan pertimbangan agar mata pelajaran pendidikan agama Islam dapat diajarkan dengan baik.

2) Bagi pembaca pada umumnya, hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan rujukan referensi untuk melakukan kajian lebih lanjut.

(27)

11 BAB II

TINJAUAN TEORITIS A. Pembelajaran Pendidikan Agama Islam

1. Belajar dan Pembelajaran

Belajar adalah suatu proses kegiatan secara berkelanjutan dalam rangka mewujudkan terciptanya perubahan tingkah laku peserta didik secara konstruktif yang mencakup aspek kognitif, afektif dan psikomotorik.1 Sedangkan menurut Slameto dalam Hayati belajar merupakan proses upaya setiap orang untuk memperoleh perubahan perilaku baru yang merupakan hasil dari pengalaman pribadi dalam berinteraksi dengan lingkungan. Perubahan kedewasaan, pertumbuhan, dan perkembangan tidak termasuk perubahan dalam makna belajar.2 Sementara itu Suardi berpendapat bahwa belajar merupakan suatu proses dimana perilaku berubah secara terus menerus antar berbagai elemen dan berlangsung seumur hidup, siklus hidup tersebut didorong oleh motivasi, emosi, sikap dan aspek lainnya yang pada akhirnya mengarah pada perilaku yang diharapkan.3 Belajar juga didefinisikan oleh Roziqin dalam Akhiruddin, dkk bahwa belajar adalah suatu proses yang dilakukan oleh seorang individu untuk memperoleh perubahan perilaku yang permanen, baik yang dapat diamati maupun yang tidak dapat diamati secara langsung, yang terjadi sebagai akibat dari pelatihan atau pengalaman berinteraksi dengan lingkungannya.4

Belajar merupakan kegiatan mencari informasi baru agar mendapatkan pengetahuan yang bermanfaat baik bagi dirinya sendiri maupun orang lain. Hasil dari proses belajar dapat diamati melalui perubahan. Misalnya seorang siswa

1 Saefuddin, A. & Berdiati, I. Pembelajaran Efektif . (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2014), h. 7

2 Hayati, Sri, Belajar & Pembelajaran Berbasis Cooperative Learning. Magelang, Graha Cendekia, 2017), h. 9

3Suardi, Belajar dan Pembelajaran. (Yogyakarta: Deepublish, 2018) h. 5

4Akhiruddin dkk, Belajar dan Pembelajaran. (Makassar: CV. Cahaya Bintang Cemerlang, 2014), h.11

(28)

12

diajarkan tentang pentingnya mencuci tangan. Setelah tahu bahwa mencuci tangan itu penting, maka siswa tersebut akan lebih menjaga kebersihan tangannya. Contoh perilakunya yaitu kebiasaan siswa tersebut sebelum makan tidak mencuci tangan, tetapi setelah belajar siswa tersebut jika ingin makan maka mencuci tangannya terlebih dahulu.

Pembelajaran adalah perpaduan dari dua aktivitas yaitu aktivitas mengajar dan aktivitas belajar. Dimana aktivitas mengajar yang dimaksud adalah peranan seorang pendidik dalam konteks mengupayakan terciptanya jalinan komunikasi harmonis antara pengajar itu sendiri dengan peserta didik.5

Pembelajaran merupakan suatu sistem, yang terdiri dari berbagai komponen yang saling berhubungan satu dengan yang lain.6 Komponen tersebut meliputi: tujuan, materi, metode, dan evaluasi. Pembelajaran merupakan suatu kegiatan yang melibatkan seseorang atau interaksi dua orang maupun lebih dengan memanfaatkan berbagai sumber belajar sehingga memperoleh hal-hal positif.7 Budimansyah dalam Hayati menuturkan bahwa pembelajaran merupakan suatu proses yang meliputi serangkaian tindakan yang dilakukan oleh guru dan siswa berdasarkan hubungan timbal balik yang terjadi dalam pengaturan pendidikan untuk mencapai tujuan tertentu. UU nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) pasal 1 ayat 20 bahwa pembelajarann diartikan sebagai proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar.8

Berdasarkan beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran adalah proses interaksi antara pendidik dan peserta didik untuk

5Wibawanto, W. Desain dan Pemrograman Multimedia Pembelajaran Interaktif. (Jember:

Penerbit Cerdas Ulet Kreatif, 2017), h. 19

6 Rusman, Kurniawan, D., & Cepi, R. Pembelajaran Berbasis teknologi Informasi dan Komunikasi. (Jakarta: PT. Rajagrafindo Persada, 2013), h. 15

7Susilana, R., & Riyana, C. Media Pembelajaran: Hakikat, Pengembangan, Pemanfaatan dan Penilaian. (Bandung: Wacana Prima, 2009) h.13

8Hayati, Sri. Belajar & Pembelajaran Berbasis Cooperative Learning. (Magelang, Graha Cendekia, 2017), h. 17

(29)

13

mendapatkan pengetahuan, keterampilan dan hal-hal positif lainnya. Dengan kata lain, pembelajaran adalah proses untuk membantu peserta didik agar dapat belajar dengan baik. Dalam pembelajaran, tugas pendidik paling utama adalah mengkondisikan lingkungan dan fasilitas yang ada agar menunjang terjadinya perubahan perilaku bagi peserta didik.

2. Unsur – Unsur Pembelajaran

Pembelajaran merupakan aspek kegiatan manusia yang kompleks, yang tidak sepenuhnya dapat dijelaskan. Pembelajaran secara simple dapat diartikan sebagai produk interkasi kelanjutan antara pengembangan dan pengalaman hidup.

Menurut oemar harnalik, pembelajaran adalah suatu kombinasi yang tersusun meliputi unsur-unsur manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan, dan prosedur yang saling mempengaruhi mencapai tujuan pembelajaran.9

Adapun unsur pembelajaran menurut Oemar hamalik ialah:

a. Motivasi belajar menuntut sikap tanggap dari pihak guru serta kemampuan untuk mendorong motivasi dengan berbagai upaya pembelajaran.

b. Sumber yang digunakan sebagai bahan ajar terdapat pada buku pelajaran, guru, dan sumber masyarakat.

c. Pengadaan alat-alat bantu belajar dilakukan oleh guru, peserta didik sendiri, dan bantuan orang tua.

d. Menjamin dan membina suasana belajar yang efektif.

e. Subjek belajar yang berada dalam kondisi kurang mantap perlu diberikan binaan.10

Dalam penyampaian pembelajaran hendaknya dalam mengembangkan suatu pembelajaran dapat memanfaatkan apa saja yang terdapat dalam unsur pembelajaran seperti memberikan motivasi, memebrikan fasilitas yang memadai dan lain-lain. Sehingga hal tersebut menjadi komponen penunjang keberhasilan suatu pembelajaran.

9 Oemar Harnalik, kurikulum dan pembelajaran (Jakarta: Bumi Aksara, 2010), h.17

10 Oemar Hamalik, Kurikulum dan Pembelajaran (Jakarta: Bumi Aksara, 2011), h.68

(30)

14

3. Pengertian Pendidikan Agama Islam

Sebelum penulis menjabarkan pengertian dari kata pendidikan agama Islam, terlebih dahulu penulis akan menjelaskan tentang istilah Pendidikan. Istilah Pendidikan berasal dari kata didik dengan memberinya awalan “pe” dan akhiran

“kan” mengandung arti perbuatan (hal, cara dan sebagainya). Istilah pendidikan ini semula dari Bahasa Yunani, yaitu pedagogik, yang berarti bimbingan yang diberikan kepada anak. Istilah ini kemudian diterjemahkan kedalam Bahasa inggris dengan education yang berarti pengembangan atau bimbingan. Dalam Bahasa arab diterjemahkan dengan tarbiyah yang berarti pendidikan.11

Menurut Ki hajar Dewantara dalam Azyumardi Azra, pendidikan pada umumnya berarti daya upaya untuk menunjukkan budi pekerti (kekuatan batin), pikiran (intelek), dan jasmani anak-anak, selaras dengan alam masyarakatnya.12

Kemudian dijelaskan juga dalam Ngalim Purwanto bahwa “Pendidikan adalah segala usaha orang dewasa dalam pergaulannya dengan anak-anak untuk memimpin perkembangan jasmani dan rohani kearah kedewasaan”.13

Dari definisi di atas, penulis menyimpulkan bahwa pendidikan merupakan usaha menanamkan sesuatu kepada peserta didik melalui berbagai kegiatan yang dilaksanakan secara sadar dan sengaja, berupa bimbingan, pimpinan, bantuan, pengajaran dan latihan yang ditujukan kepada peserta didik dalam pertumbuhan jasmani dan rohaninya menuju tujuan yang diharapkan.

Setelah menguraikan tentang pendidikan selanjutnya penulis akan mengemukakan tentang pengertian pendidikan agama Islam. Islam adalah agama yang diturnkan oleh Allah Swt kepada hamba-Nya melalui rasul. Dalam Islam memuat sejumlah ajaran, yang tidak sebatas aspek ritual tetapi juga mencakup

11 Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam (Jakarta: Kalam Mulis, 2004) cet-4, h.2

12Azyumardi Azra, Pendidikan Islam Tradisi dan modernisasi Menju Millenium Baru.

(Jakarta: PT Logos Wacana Ilmu, 2002), cet. IV, h.4

13 Ngalim Purwanto, Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis, (Bandung: Remaja Karya) h.15

(31)

15

aspek peradaban. Dengan misi utamanya sebagai rahmatan lil ‘alamin, Islam hadir dengan menyuguhkan tata nilai yang bersifat plural dan inklusif yang merambah dalam semua ranah kehidupan

Pendidikan Islam adalah pendidikan yang bertujuan untuk membentuk pribadi muslim seutuhnya, mengembangkan seluruh potensi manusia baik yang berbentuk jasmani maupun rohani.14 Sedangkan menurut dzakiah darajat pendidikan Islam adalah Pembentukan kepribadian muslim.15

Pendidikan agama Islam memiliki peranan yang sangat penting dalam kehidupan kita khususnya umat muslim, sebagaimana diketahui bahwasanya tujuan pendidikan agama Islam itu sendiri adalah membentuk dan menciptakan seorang anak didik agar memiliki akhlak yang mulia, beriman dan bertakwa kepada Allah SWT., senantiasa berbuat kebaikan, serta mengamalkan ajaran-ajaran Islam.

Menurut peraturan pemerintah Republik Indonesia nomor 55 tahun 2007 tentang pendidikan agama dan keagamaan pasal 1 ayat 1:

Pendidikan agama adalah pendidikan yang memberikan pengetahuan dan membentuk sikap, kepribadian, dan keterampilan peserta didik dalam mengamalkan ajaran agamanya, yang dilaksanakan sekurang-kurangnya melalui pelajaran/kuliah pada semua jalur, jenjang dan jenis pendidikan.16

Pendidikan Agama Islam itu sendiri menurut Ahmad D. Marimba, adalah bimbingan jasmani, rohani berdasarkan hukum-hukum agama Islam menuju kepada terbentuknya kepribadian utama menurut ukuran-ukuran Islam.17 Lebih lanjut Prof. Dr. H. Abudin Nata, MA dalam bukunya Metodologi Studi Islam, ditulis bahwa “upaya membimbing, mengarahkan, dan membina peserta didik yang dilakukan secara sadar dan terencana agar terbina suatu kepribadian yang utama dengan nilai-nilai ajaran Islam.” 18

14Haidar Putra Daulay, Pendidikan Islam Dalam Perspektif Filsafat, (Jakarta, Kencana 2014), h. 11

15 Zakiah Dardjat, dkk, Ilmu Pendidikan Islam (Jakarta: PT Bumi Aksara), 2008, h 28

16Abd.rozak, Fauzan, dan Ali Nurdin, Kompilasi Undang-Undang & Peraturan Bidang Pendidikan, (Jakarta: FITK Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, 2010), h. 144.

17Ahmad D. Marimba, Pengantar filsafat Pendidikan Islam, h.23.

18Abudin Nata, Metodologi Studi Islam, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2006), h.340.

(32)

16

Dari uraian-uraian di atas tentang pendidikan agama Islam dapat disimpulkan bahwa pendidikan agama Islam ialah usaha yang dilakukan dalam pembentukan kepribadian yang sesuai dengan ajaran Islam atau suatu proses bimbingan dan bantuan secara sadar dan sengaja terhadap anak didik yang dilandasi dengan ajran islam, dalam pertumbuhan dan perkembangan jasmani.

4. Tujuan Pembelajaran Pendidikan Agama Islam

Tujuan pendidikan agama Islam adalah untuk meningkatkan keimanan, pemahaman, penghayatan dan pengalaman peserta didik tentang agama Islam sehingga menjadi manusia muslim yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT serta berakhlak mulia dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Istilah “tujuan” secara etimologi berarti arah, maksud atau halauan. Dalam bahasa Arab, “tujuan” disebut “Maqāshid”.Sementara dalam bahasa Inggris diistilahkan dengan “goal, purpose, objectives atau aim”.Secara terminologi, tujuan berarti sesuatu yang diharapkan tercapai setelah sebuah usaha atau kegiatan selesai.

Sementara itu, menurut Yasin dalam Miftahur Rohman dan H airudin Hairudin berpendapat bahwa fungsi tujuan pendidikan mencakup tiga aspek yang semuanya masih bersifat normatif. Pertama, memberikan arah bagi proses pendidikan. Kedua, memberikan motivasi dalam aktivitas pendidikan, karena pada dasarnya tujuan pendidikan merupakan nilai-nilai pendidikan yang ingin dicapai dan diinternalisasi pada anak didik. Ketiga, tujuan pendidikan merupakan kriteria atau ukuran dalam evaluasi pendidikan.19

Pakar-pakar pendidikan Islam, seperti Al-Abrasy mengelompokkan tujuan umum pendidikan Islam menjadi lima bagian, yaitu:

19 Miftahur Rohman dan H airudin Hairudin, ‘Konsep Tujuan Pendidikan Islam Perspektif Nilai-Nilai Sosial-Kultural’, Al-Tadzkiyyah: Jurnal Pendidikan Islam, 9.1 (2018), 21.

(33)

17

a. Membentuk akhlak yang mulia. Tujuan ini telah disepakati oleh orang- orang Islam bahwa inti dari pendidikan Islam adalah mencapai akhlak yang mulia, sebagaimana misi kerasulan Muhammad SAW

b. Mempersiapkan peserta didik untuk kehidupan dunia dan akhirat;

c. Mempersiapkan peserta didik dalam dunia usaha (mencari rizki) yang profesional;

d. Menumbuhkan semangat ilmiah kepada peserta didik untuk selalu belajar dan mengkaji ilmu;

e. Mempersiapkan peserta didik yang profesional dalam bidang teknik dan pertukangan.20

Sehubungan dengan ini maka tujuan mempunyai arti yang sangat penting bagi keberhasilan sasaran yang diinginkan, dan mutu kegiatan yang dilakukan. Oleh karena itu kegiatan yang tanpa disertai tujuan sasarannya akan kabur, akibatnya program dan kegiatannya akan berantakan.

Berkaitan dengan tujuan pendidikan Islam, Muhammad Athiyyah Al- Abrasyi berpendapat bahwa:

1. Akhlak

Menurutnya, pendidikan budi pekerti merupakan jiwa dari pendidikan Islam. Islam telah memberi kesimpulan bahwa pendidikan budi pekerti dan akhlak adalah ruh (jiwa) pendidikan Islam, dan tujuan pendidikan Islam yang sebenarnya adalah mencapai suatu akhlak yang sempurna. Akan tetapi, hal ini bukan berarti bahwa kita tidak mementingkan pendidikan jasmani, akal, ilmu maupun ilmu pengetahuan praktis lainnya, melainkan bahwa kita sesungguhnya memperhatikan segi-segi pendidikan akhlak sebagaimana halnya memperhatikan ilmu-ilmu yang lain. Anak-anak membutuhkan kekuatan dalam jasmani, akal, ilmu, dan juga membutuhkan pendidikan budi pekerti, cita rasa dan kepribadian. Dengan demikian, tujuan pendidikan Islam adalah mendidik budi pekerti dan pembentukan jiwa.

2. Memperhatikan agama dan dunia sekaligus

Sesungguhnya ruang lingkup pendidikan Islam tidak hanya terbatas pada pendidikan agama dan tidak pula terbatas hanya pada dunia semata-

20 Imam Syafi’e, ‘Tujuan Pendidikan Islam’, 6.November (2015), 1–16.

(34)

18

mata.21Indikator lainnya adalah menjadi uswatun hasanah atau teladan/panutan yang baik. Tujuan tertinggi dalam pendidikan Islam juga adalah membentuk pribadi-pribadi peserta didik memiliki akhlak mulia sehingga dapat dijadikan panutan dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Mereka dapat menjadi contoh dalam segala aspek kebaikan, seperti kedisiplinan, kebersihan, amanah, dan sebagainya.22

Dari uraian yang telah dikemukakan, maka penulis dapat mengambil kesimpulan bahwa tujuan utama pendidikan agama Islam adalah menanamkan nilai-nilai keagamaan agar siswa mempunyai kecakapan dalam bersikap dan bertindak. Menjadi manusia yang bertakwa kepada Allah SWT. berakhlak mulia, serta mengamalkan ajaran agama.

5. Fungsi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam

Pendidikan Agama Islam pastinya mempunyai fungsi yang sangat besar dalam proses pendidikan peserta didik. Adapun fungsi pendidikan agama Islam Menurut H.M. Arifin bahwa fungsi pendidikan agama Islam adalah untuk membentuk manusia pembangunan yang bertaqwa kepada Allah SWT. memiliki ilmu pengetahuan dan keterampilan juga memiliki kemampuan mengembangkan diri (individualis) bermasyarakat (sosialitas) serta kemampuan untuk bertingkah laku berdasarkan norma-norma susila menurut agama Islam.23

Dalam pasal 3 UUSPN dinyatakan bahwa fungsi pendidikan nasional adalah untuk mengembangkan kemampuan serta meningkatkan mutu kehidupan dan martabat manusia.24

21 Muhammad Rusmin B., ‘Konsep Dan Tujuan Pendidikan Islam’, Inspiratif Pendidikan, 6.1 (2017), 72

22 Asmal May, "Melacak Peranan Tujuan Pendidikan Dalam Perspektif Islam", Tsaqafah, 11.2 (2015), 209.

23Arifin, Hubungan Timbal Balik Pendidikan Agama Islam Di lingkungan Sekolah dan Keluarga. (Jakarta: Bulan Bintang), Cet. -2. h.18

24Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo, Paradigma Pendidikan Islam (Yogyakarta: Pustaka

Pelajar), Cet-1, h.182

(35)

19

Adapun kurikulum agama Islam untuk sekolah atau madrasah berfungsi sebagai berikut:

a. Pengembangan, yaitu meningkatkan keimanan dan ketakwaan peserta didik kepada Allah SWT. yang telah ditanamkan dalam lingkungan keluarga.

b. Penanaman nilai, sebagai pedoman hidup untuk mencari kebahagiaan hidup didunia dan diakhirat.

c. Penyesuaian mental, yaitu untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan fisik maupun lingkungan sosial dan dapat mengubah lingkungannya sesuai dengan ajaran Islam.

d. Perbaikan, yaitu untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan, keurangan- kekurangan dan kelemahan peserta didik dalam keyakinan, pemahaman dan pengalaman ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari.

e. Pencegahan, yaitu untuk menangkal hal-hal negatif dari lingkungannya atau dari budaya lain yang dapat membahayakan dirinya dan menghambat perkembangannya menuju manusia Indonesia seutuhnya.

f. Pengajaran tentang ilmu pengetahuan keagamaan secara umum, sistem dan fungsionalnya.

g. Penyaluran, yaitu untuk menyalurkan anak-anak yang memiliki bakat khusus di bidang agama Islam agar bakat tersebut dapat berkembang secara optimal sehingga dapat dimanfaatkan untuk dirinya sendiri dan bagi orang lain.25

Secara garis besar penulis menyimpulakan bahwa fungsi dari pendidikan agama Islam adalah dapat membentuk siswa-siswi yang beriman dan bertakwa kepada Allah SWT. mempunyai pegangan hidup, mampu menghindari diri dari perbuatan tercela, dan mempunyai kepercayaan diri dalam mengembangkan potensinya.

6. Ruang lingkup Pengajaran Agama Islam

Kalau dipahami serta dihayati tentang pengertian, sesungguhnya telah tersirat adanya ruang lingkup pendidikan Islam. Namun untuk lebih jelasnya, ruang lingkup pendidikan Islam tersebut dapat dikemukakan sebagai berikut.

Pertama, teori-teori dan konsep-konsep yang diperlukan bagi perumusan desain pendidikan dengan berbagai aspeknya, yakni visi, misi, tujuan, kurikulum, proses belajar mengajar, dan sebagainya. Teori-teori dan konsep-konsep tersebut dibangun dari hasil kajian yang ilmiah dan mendalam terhadap sumber ajaran Islam

25Abdul majid, dan Dian Andayani, Pendidikan Agama Islam Berbasis Kompetensi Konsep dan Implementasi Kurikulum 2004, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya,2004), Cet. 1. h.134-135

(36)

20

yang terdapat dalam al-Qur’an ad as-Sunnah, serta dari berbagai disiplin ilmu yang relevan yakni sejarah, filsafat, psikologi, sosiologi, budaya, politik, hukum, etika, manajemen, teknologi canggih, dan sebagainya.

Kedua, teori dan konsep yang diperlukan untuk kepentingan praktik pendidikan, yaitu mempengaruhi peserta didik agar mengalami perubahan, peningkatan, dan kemajuan, baik dari segi wawasan, keterampilan, mental spiritual, sikap, pola pikir, dan kepribadiannya. Berbagai komponen keterampilan terapan yang diperlukan dalam praktik pendidikan, berupa praktik pedagogis, didaktik, dan metodik, didasarkan pada teori-teori dan konsep-konsep yang terdapat dalam ilmu pendidikan Islam.26

Dengan demikian berarti ruang lingkup dan kajian pendidikan Islam sangat luas sekali karena didalamnya banyak segi atau pihak yang ikut terlibat baik langsung maupun tidak. Adapun ruang lingkup pendidikan Islam adalah perbuatan mendidik, peserta didik, dasar dan tujuan pendidikan Islam, pendidik, materi pendidikan Islam, metode pendidikan, alat pendidikan, evaluasi pendidikan dan lingkungan pendidikan.

Lingkungan pendidikan yang dapat mempengaruhi perkembangan peserta didik menurut M. Ngalim Purwanto ada 3 golongan besar, yaitu:

a. Lingkungan keluarga, yang disebut juga lingkungan pertama;

b. Lingkungan sekolah, yang disebut juga lingkungan kedua; dan c. Lingkungan masyarakat, yang disebut juga lingkungan ketiga.27

26 Mastang Ambo Baba, ‘Dasar-Dasar Dan Ruang Lingkup Pendididkan Islam Di Indonesia’, Jurnal Ilmiah Iqra’, 6.1 (2018), 1–18.

27 M. Ngalim purwanto, Ilmu Pendidikan Teori dan Praktis, (Bandung: PT Remaja Rusdakarya, 2007), h.123

(37)

21

B. Akhlak

1. Pengertian Akhlak

Akhlak merupakan ilmu yang menentukan batas antara baik dan buruk, terpuji atau tercela menyangkut perilaku manusia yang meliputi perkataan, pikiran dan perbuatan manusia lahir batin. Akhlak secara substansial adalah sifat hati, bisa baik bisa buruk, yang tercermin dalam perilaku. Jika sifat hatinya baik yang muncul adalah perilaku baik (akhlaq al-mahmudah) dan jika sifat hatinya buruk, yang muncul adalah perilaku buruk (al-akhlaq al madzmumah).28

Pengertian akhlak secara etimologi, menurut pendekatan etimologi, perkataan “akhlak” berasal dari Bahasa Arab jama’ dari bentuk mufradatnya

“Khuluqun” ( قُلُخ) yang menurut logat diartikan: budi pekerti, perangai, tingkah laku atau tabiat. Kalimat tersebut mengandung segi-segi persesuain dengan perkataan “khalkun” ( قْلَخ) yang berarti kejadian, serta erat hubungan “Khaliq”

( قِلَاخ) yang berarti pencipta dan “makhluk” ( ق ْوُلْخَم) yang berarti diciptakan.29 Pemakaian kata akhlak atau khuluq kedua-duanya dijumpai baik dalam QS.

al-Qalam/68:4 dan QS. Asy-Syuara/26:137 sebagai berikut:

ٍمْيِظَع ٍقُلُخ ىٰلَعَل َكَّنِا َو

Terjemahnya:

Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang luhur.

ُۙ َنْيِل َّوَ ْلاا ُقُلُخ َّلاِا ٓاَذ ٰه ْنِا

Terjemahnya:

(Agama kami) Ini tidak lain hanyalah adat kebiasaan orang dahulu.30

Berpijak pada sudut pandang kebahasaan, zaharuddin AR dan Hasanuddin sinaga dalam Zubaedi mengemukakan bahwa definisi akhlak dalam pengertian

28 Z. Muhibbin Wahyudin, Achmad, M. Ilyas, M. Saifulloh, Pendidikan Agama Islam. h.

53

29Zaharuddin AR. Pengantar Ilmu Akhlak, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2004), cet ke;1, h.1

30 Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya (Jakarta: al-Huda, 2015), h.374

(38)

22

sehari-sehari disamakan dengan “budi pekerti”, kesusilaan, sopan santun, tata kerama (versi Bahasa Indonesia) sedang dalam Bahasa inggrisnya disamakan dengan istilah molal atau ethic.31

Untuk menjelaskan pengertian akhlak dari segi istilah ini, kita dapat merujuk kepada para pakar dibidang ini, sebagai berikut:

a. Menurut Ibn Miskawaih dalam Munirah bahwa akhlak ialah suatu sikap mental atau keadaan jiwa yang mendorong seseorang untuk berbuat tanpa pikir dan pertimbangan. Sementara tingkah laku manusia terbagi menjadi dua unsur yakni unsur watak naluri dan unsur lewat kebiasaan dan Latihan.32

b. Menurut Imam Al-Ghazali dalam Prof. Dr. H. Moh. Ardani bahwa akhlak ialah suatu sikap yang mengakar dalam jiwa yang darinya lahir berbagai perbuatan dengan mudah dan gampang, tanpa perlu kepada pikiran dan pertimbangan.

Jika sikap itu darinya lahir perbuatan yang baik dan terpuji, baik dari segi akal dan syara’, maka ia disebut akhlak baik. Dan jika lahir darinya perbuatan tercela, maka sikap tersebut disebut akhlak yang buruk.33

Jika diperhatikan dengan seksama, tampak bahwa seluruh definisi akhlak sebagaimana tersebut diatas tidak ada yang saling bertentangan, melainkan saling melengkapi, yaitu sifat yang tertanam kuat dalam jiwa yang Nampak dalam perbuatan lahiriah yang dilakukan dengan mudah, tanpa memerlukan pemikiran lagi dan sudah menjadi sebuah kebiasaan.

Keseluruhan dari definisi akhlak tersebut diatas tampak tidak ada yang bertentangan, memiliki kemiripan antara satu dengan lainnya. Definisi-definisi

31Zubaedi, (2013), Desain Pendidikan Karakter, kompetensi dan aplikasinya dalam Lembaga Pendidikan, Jakarta: Prenada Media Group, hal.66

32 Munirah, ‘Akhlak Dalam Perspektif Pendidikan Islam’, Jurnal Pendidikan Dasar Islam, 4.2 (2017), 39–47.

33Prof. Dr. H. Moh. Ardani, Akhlak Tasawuf, (PT. Mitra Cahaya Utama, 2005), cet ke-2, h.29.

Gambar

Tabel 1.1 Indikator Variabel
Tabel 3.1 Jumlah populasi peserta didik di SMK Negeri 2 Makassar
Tabel 3.2 Jumlah Sampel Peserta Didik Kelas X Jurusan Listrik di SMK  Negeri 2 Makassar
Tabel 3.3 Skor Alternatif Jawaban Angket  Alternatif
+7

Referensi

Dokumen terkait

Skripsi dengan judul “Pembinaan Akhlak Siswa melalui Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di SMK Islam 1 Durenan Kabupaten Trenggalek ” yang ditulis oleh Dewi Kharisma

Teori tersebut dibuktikan dengan hasil penelitian yang dilakukan yaitu variabel strategi guru Pendidikan Agama Islam berada pada kategori sedang (69%)

Beranglcat dan i permasalahan Pembelajaran Agama Islam yang dilakukan oleh guru agama di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Ibrahimy 2 Sukorejo Banyuputih Situbondo yang

Implikasi dari kegiatan tersebut diharapkan: 1) Pelaksanaan pembelajaran Pendidikan agama Islam dapat memberikan perubahan sikap dan tingkah laku pada peserta didik

Besarnya pengaruh pembelajaran Pendidikan Agama Islam dan pola asuh orangtua terhadap akhlak peserta didik yang dihitung dengan regresi berganda adalah 0,601 hal

Kreativitas guru pendidikan agama Islam dalam pembinaan akhlak siswa di SMK Negeri 2 Jombang tidak hanya memberikan pembelajaran secara lisan dan tertulis di dalam kelas, tetapi dengan

Tantangan Dalam Implementasi Pembelajaran Kurikulum Merdeka Pada Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam Kelas X di SMK Negeri 2 Lumajang pada tantangan proses perencanaan pembelajaran

Upaya yang Dilakukan Guru Pendidikan Agama Islam untuk Menanggulangi Problematika yang Dihadapi dalam Proses Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di SMK Negeri 4 Payakumbuh Untuk