BUNGA BANGSA DOLOPO KABUPATEN MADIUN
Oleh :
NUR AULIA RIZKI NIM : 201402094
PROGRAM STUDI KEPERAWATAN STIKES BHAKTI HUSADA MULIA MADIUN
2018
BUNGA BANGSA DOLOPO KABUPATEN MADIUN
Diajukan untuk memperoleh
gelar Sarjana Keperawatan (S.Kep) pada Program Studi S1 Keperawatan STIKES Bhakti Husada Mulia Madiun
Oleh :
NUR AULIA RIZKI NIM : 201402094
PROGRAM STUDI KEPERAWATAN STIKES BHAKTI HUSADA MULIA MADIUN
2018
v
1. Puji syukur ku panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan Kekuatan dan Kesabaran dalam menyelesaikan tugas akhir ini (SKRIPSI).
Karya kecil ini saya persembahkan untuk:
2. Kepada kedua orang tua ku Bapak Ismanu dan Ibu Janatin yang tak pernah lelah menyayangiku, menasehatiku, dan slalu memberikan motivasi untuk tetap bersemangat…
3. Dosen pembimbing dan penguji Ibu Asrina Pitayanti, S.Kep.,Ns.M.Kes, Ibu Retno Widiarini, S.KM.M.Kes, Ibu Kartika, S.Kep.,Ns.M.Kes Terimakasih banyak atas waktu, arahan, dan nasehat yang telah kalian berikan kepada saya hingga selesainya Skripsi ini.
4. Yang selalu mengingatkan setiap hari untuk mengerjakan skripsi, mas Zulfikar Fa’ni Islam. Terimakasih sudah menemani sampai di titik ini dengan segala kesabaranmu.
5. Segenap teman-teman angkatan 2014, khususnya sahabat-sahabat semua di kelas Keperawatan 8B terimakasih atas segala dukungan dan semangat yang telah kalian berikan.
vi Saya yang bertanda tangan di bawah ini : Nama : Nur Aulia Rizki NIM : 201402094
Judul : Pengaruh Pendidikan Kesehatan Terhadap Keterampilan Perawatan Sinkop dan Epistaksis pada Siswa di MI Plus Bunga Bangsa Kecamatan Dolopo Kabupaten Madiun
Menyatakan dengan sebenarnya bahwa skripsi ini berdasarkan pemikiran dan pemaparan asli dari saya sendiri. Jika terdapat karya orang lain, saya akan mencantumkan sumber yang jelas.
Demikian pernyataan ini saya buat dengan sesungguhnya dan apabila di kemudian hari terdapat penyimpangan dan ketidakbenaran dalam pernyataan ini, maka saya bersedia menerima sanksi akademik dan sanksi lain sesuai dengan peraturan yang berlaku di STIKES Bhakti Husada Mulia Madiun.
Demikian pernyataan ini saya buat dalam keadaan sadar tanpa paksaan dari pihak manapun.
Madiun, Juli 2018
Nur Aulia Rizki NIM. 201402094
vii
Nama : Nur Aulia Rizki
Jenis Kelamin : Perempuan
Tempat dan Tanggal Lahir : Madiun, 25 Nopember 1995
Agama : Islam
Email : [email protected]
Riwayat Pendidikan :
1. Lulus Dari Pendidikan RA Muslimat Bunga Bangsa Dolopo Tahun 2002 2. Lulus Dari MI Plus Bunga Bangsa Dolopo Tahun 2008
3. Lulus Dari Madrasah Tsanawiyah Darul Huda Ponorogo Tahun 2011 4. Lulus Dari Madrasah Aliyah Darul Huda Ponorogo Tahun 2014
5. Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Bhakti Husada Mulia Madiun 2014- sekarang
viii
PENGARUH PENDIDIKAN KESEHATAN TERHADAP KETERAMPILAN PERAWATAN SINKOP DAN EPISTAKSIS PADA SISWA DI MI PLUS BUNGA BANGSA KECAMATAN DOLOPO KABUPATEN MADIUN
76 halaman + 9 tabel + 8 gambar + 14 lampiran
Sinkop dan epistaksis adalah suatu keadaan yang sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Setiap hari senin biasanya sering terjadi peserta didik yang mengalami sinkop. Sedangkan epistaksis prevalensinya meningkat pada anak-anak usia <10 tahun dan meningkat kembali di usia >35 tahun. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui apakah ada pengaruh pendidikan kesehatan terhadap keterampilan perawatan sinkop dan epistaksis pada siswa di MI Plus Bunga Bangsa Kecamatan Dolopo Kabupaten Madiun.
Jenis penelitian ini adalah penelitian pre eksperimen yaitu one group pre test post test design. Teknik sampel menggunakan simple random sampling dengan jumlah sampel adalah 55 responden. Pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan lembar observasi SOP perawatan sinkop dan epistaksis. Analisa data menggunakan uji statistik wilcoxon.
Setelah dilakukan pendidikan kesehatan keterampilan siswa meningkat yaitu siswa yang memiliki keterampilan baik sejumlah 41 siswa (74,5%) dan siswa yang memilik keterampilan cukup sejumlah 14 siswa (25,5%).
Berdasarkan hasil analisa statistik wilcoxon diperoleh p value 0,000 < 0,05 artinya ada pengaruh pendidikan kesehatan terhadap keterampilan perawatan sinkop dan epistaksis pada siswa di MI Plus Bunga Bangsa Kecamatan Dolopo Kabupaten Madiun.
Kesimpulan dari penelitian ini bahwa pendidikan kesehatan dapat mempengaruhi keterampilan siswa dalam perawatan pada korban sinkop dan epistaksis. Pelatihan sinkop dan epistaksis ini diharapkan dapat meningkatkan keterampilan perawatan sinkop dan epistaksis di lingkungan sekolah MI Plus Bunga Bangsa dan dipraktekkan petugas UKS dengan baik.
Kata Kunci : Keterampilan, Pendidikan Kesehatan, Sinkop, Epistaksis Kepustakaan : 33 (2000-2017)
ix
THE EFFECT OF HEALTH EDUCATION ON SYNCOPE AND EPISTAXIS ON TREATMENT OF SKILL IN THE STUDENTS MI PLUS BUNGA BANDA DOLOPO SUBDISTRICT MADIUN DISTRICT
76 page + 9 table+ 8 pictures + 14 appendix
Syncope and epistaxis is a condition that are often meted in every life. Every Monday is usually an often of students ecperience syncope. While epistaxis of prevalence increased in children at age < 10 years and increased again at age > 35 years. The purpose of this research was to determine there is an effect of health education on syncope and epistaxis treatment of skill in the students MI Plus Bunga Banda Dolopo Subdistrict Madiun District.
This research is research pre eksperimental that is one group pre test post test design. The sample technique using simple random sampling with the amount sample is 55 respondents. Data collection in this research used observation sheet SOP of syncope and epistaxis treatment. Data analysis using wilcoxon statistic test.
After the health education, the stundents skill is increase that is students which have a good skill is 41 stundents (74,5%) and stundents which have an enough skill is 14 students (25,5%).
Based on the results of wilcoxon statistic test obtained p value 0,000 < 0,05 is there is an effect health education on syncope and epistaxis treatment of skill in the students MI Plus Bunga Bangsa Dolopo Subdistrict Madiun District.
The conclusion of this research that is health education can affect of student skills in the treatment of syncope and epistaxis victims. This syncope and epistaxis training is expected to increase syncope and epistaxis treatment of skill in the environment school MI Plus Bunga Bangsa and be practiced by UKS good uffocial.
Keywords: Skill, health education, syncope, epistaxis Literature: 33 (2000-2017)
x
Lembar Persetujuan ... iii
Lembar Pengesahan ... iv
Persembahan ... v
Lembar Pernyataan Keaslian Penelitian... vi
Daftar Riwayat Hidup ... vii
Abstrak ... viii
Daftar Isi... x
Daftar Tabel ... xiii
Daftar Gambar ... xiv
Daftar Lampiran ... xv
Daftar Singkatan... xvi
Daftar Istilah... xvii
Kata Pengantar ... xx
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Rumusan Masalah ... 7
1.3 Tujuan Penelitian ... 7
1.4 Manfaat Penelitian ... 8
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Konsep Pendidikan Kesehatan 2.1.1 Pengertian Pendidikan Kesehatan ... 9
2.1.2 Tujuan Pendidikan Kesehatan ... 9
2.1.3 Faktor yang Mempengaruhi Pendidikan Kesehatan ... 10
2.1.4 Metode Pendidikan Kesehatan ... 11
2.1.5 Media Pendidikan Kesehatan ... 13
2.2 Konsep Keterampilan 2.2.1 Pengertian Keterampilan ... 18
2.2.2 Faktor Yang Mempengaruhi Keterampilan ... 18
2.3 Konsep Perawatan Sinkop 2.3.1 Pengertian Sinkop ... 19
2.3.2 Etiologi Sinkop ... 20
2.3.3 Manifestasi Klinis Sinkop ... 21
2.3.4 Jenis-jenis sinkop ... 21
2.3.5 Anamnesis ... 30
2.3.6 Pemeriksaan Fisik dan Penunjang ... 30
2.3.7 Pemeriksaan Neurologis ... 31
2.3.8 Indikasi Rawat Korban Sinkop ... 32
2.3.9 Prognosis ... 33
2.4 Konsep Perawatan Epistaksis 2.4.1 Pengertian Epistaksis ... 33
xi
2.4.7 Pencegahan Epistaksis ... 39
2.4.8 Perawatan Sederhana Epistaksis ... 40
2.4.9 Anamnesis ... 41
2.4.10 Pemeriksaan Penunjang Epistaksis ... 42
2.4.11 Pencegahan Epistaksis Berlanjut ... 42
2.5 Konsep Sekolah 2.5.1 Pengertian Sekolah ... 43
2.5.2 Tanggung Jawab Sekolah ... 43
2.5.3 Fungsi Sekolah ... 44
BAB 3 KERANGKA KONSEPTUAL DAN HIPOTESA PENELITIAN 3.1 Kerangka Konseptual ...45
3.2 Hipotesa Penelitian ...46
BAB 4 METODOLOGI PENELITIAN 4.1 Desain Penelitian ...47
4.2 Populasi dan Sampel 4.2.1 Populasi ...48
4.2.2 Sampel ...48
4.2.3 Kriteria Sampel ...49
4.3 Teknik Sampling ...49
4.4 Kerangka Kerja Penelitian ...50
4.5 Variabel Penelitian dan Definisi Operasional 4.5.1 Indentifikasi Variabel ...51
4.5.2 Definisi Operasional Variabel ...51
4.6 Instrumen Penelitian ...52
4.7 Lokasi dan Waktu Penelitian ...52
4.8 Prosedur Pengumpulan Data ...52
4.9 Pengolahan dan Analisis Data 4.9.1 Teknik Pengolahan Data ...54
4.9.2 Tehnik Analisis Data ...57
4.10 Etika Penelitian ...59
BAB 5 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 5.1 Hasil Penelitian 5.1.1 Gambaran dan Lokasi penelitian ...61
5.1.2 Data Umum ...62
5.1.3 Data Khusus ...63
5.2 Pembahasan ...66
xii
xiii Tabel
Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel
5.1 5.2 5.3 5.4 5.5 5.6 5.7 5.8
Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin………
Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Usia……….
Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Status Tempat Tinggal……….
Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Sumber Informasi Sinkop dan Epistaksis………...
Tingkat Keterampilan Perawatan Sinkop dan epistaksis sebelum diberikan pendidikan kesehatan……….
Keterampilan Perawatan Sinkop dan Epistaksis setelah diberikan pendidikan kesehatan………
Hasil Perbandingan tingkat keterampilan pretest dan post test pada perawatan sinkop dan epistaksis………
Hasil Uji Statistik antara tingkat keterampilan perawatan sinkop dan epistaksis sesudah diberikan Pendidikan Kesehatan………..
62 62 63 63 64 65 66 66
xiv
Gambar 2.2 Perawatan Sinkop ... 23
Gambar 2.3 Epistaksis Anterior ... 37
Gambar 2.4 Epistaksis Posterior ... 38
Gambar 2.5 Perawatan Epistaksis ... 41
Gambar 3.2 Bagan Kerangka Konsep ... 45
Gambar 4.1 Desain Penelitian... 47
Gambar 4.2 Kerangka Kerja Penelitian ... 50
xv
Lampiran 4 Data demografi ... 81
Lampiran 5 SOP perawatan sinkop dan epistaksis ... 83
Lampiran 6 SAP ... 87
Lampiran 7 Tabulasi Skor sinkop dan epistaksis ... 99
Lampiran 8 Tabulasi rata-rata skor sinkop dan epistaksis ... 105
Lampiran 9 Jumlah skor pretest post test sinkop dan epistaksis ... 109
Lampiran 10 Leaflet perawatan sinkop dan epistaksis ... 110
Lampiran 11 Surat keterangan telah melakukan penelitian ... 112
Lampiran 12 Hasil SPSS ... 113
Lampiran 13 Kartu bimbingan skripsi ... 120
Lampiran 14 Dokumentasi ... 123
xvi
DAFTAR SINGKATAN
EKG : Eektrokardiografi
MRI : Magnetic Resonance Imaging
SOP : Standar Operasional Prosedur
TIA : Transient Imaging Ischemic Attack
UKS : Usaha Kesehatan Sekolah
xvii
karena mempunyai kemampuan mendestruksi tulang dan meluas ke jaringan sekitarnya.
Arteriosklerosis : Keadaan dengan hilangnya elastisitas dari arteri
Atresia koanal : Tertutupnya satu atau kedua posterior kavum nasi oleh membrane abnormal atau tulang.
Audio aid : alat bantu dengar
Audio visual aid : Alat bantu lihat-dengar Basic literary skill : Kemampuan dasar sastra
Bill board : Media papan
Booklet : Pesan dalam bentuk gambar/tulisan
Bruit : Bunyi yang dihasilkan akibat turbulensi ketika darah melewati pembuluh arteri yang mengalami penyempitan
Cleaning : Pengecekan kembali
Coding : Pemberian kode
Congenital : Kelainan bawaan
Dehidrasi : Kekurangan cairan
Diabetes mellitus : Penyakit yang ditandai dengan kadargula darah yang tinggi
Disfungsi autonom : Gangguan sistem saraf otonom
Editing : Penyuntingan data
Enabling faktor : Faktor kemungkinan
Ephilepsy : Kejang
Epistaksis : Mimisan
Fenilefrin : Obat untuk meredakan sementara
tersumbatnya hidung, sinus, dan telinga.
Film strip : Putaran film
Flip chart : Kumpulan ringkasan, skema gambar, tabel yang dibuka secara berurutan, tersusun rapid an baik berdasarkan topic materi pembelajaran
Flyer : Selebaran
Granuloma : Nodul kecil yang terlihat diberbagai penyakit
Guidance and counceling : Bimbingan dan penyuluhan
Heat exhaustion : Terkena terik matahari saat lemah letih
Heat stroke : Sengatan matahari
Hemangioma : Suatu tumor jaringan lunak yang sering
xviii
Hipoperfusi serebral : Kurangnya asupan nutrisi yang diperlukan otak
Inform consent : Lembar persetujuan
Input : Sasaran
Intermitten : Untuk sementara waktu
Interpersonal skill : Kemampuan pribadi
Ipsilateral : 2 bagian tubuh yang letaknya pada sisi yang sama (kanan/kiri)
Kardiogenik : Yang berkaitan dengan jantung
Karsinoma : Segala jenis tumor (kanker) yang tumbuh dari sel di lapisan permukaan penutup membrane pembatas dari organ
Katapleksi : Suatu keadaan abnormal yang ditandai oleh gangguan kesadaran, sikap, dan otot tubuh
Koagulopati : Gangguan pembekuan darah atau
perdarahan yang berlebih
Leaflet : Poster mini
Leukemia : Kanker darah yang berawal dari sumsum tulang belakang, tempat sel darah dibuat Mann Whitney : Uji non parametris yang digunakan untuk
mengetahui perbedaan median 2 kelompok bebas apabila skala data variabel terikatnya ordinal atau interval/ratio tetapi tidak berdistribusi normal
Morbili : Campak, penyakit virus akut
Nasal dekongestan : Obat yang memberikan efek melegakan hidung hanya dalam waktu jangka pendek
Neoplasma : Pertumbuhan abnormal namu bukan
kanker yang mungkin terjadi diberbagai bagian tubuh
Nonsycopal attack : Bukan serangan pingsan
Output : Harapan
Oksimetazolin : Obat yang digunakan untuk meringankan simtomatik dari kongesti hidung dan nasofaring karena flu, sinusitis, hay fever, atau alergi saluran napas atas lainnya Parestesia : Sensasi abnormal pada kulit berupa
kesemutan, tertusuk atau terbakar pada
xix
Probabilitas : kemungkinan
Random : acak
rinosinusitis : Gabungan dari rhinitis dan sinusitis
Scoring : Pemberian skor
Serebrovaskuler : Pembuluh darah otak
Sinkop : Pingsan
Slide : Layar
Subclavian steal syndrome : Penyakit arteri perifer
Tabulating : Tabel data
Technical skill : Kemampuan tehnik
Telengiectasis herediter : Pelebaran pembuluh darah yg diturunkan Tifoid : Penyakit yang terjadi karena karena
infeksi bakteri Salmonella Typhi dan umumnya menyebar melalui makanan dan minuman yang terkontaminasi
Transient Ischemic Attack : Stroke ringan
Trombositipenia : Kekurangan trombosit
Vertigo : Salah satu bentuk sakit kepala dimana penderita mengalami persepsi gerakan yang tidak semestinya yang disebabkan yang disebabkan oleh gangguan vestibular
Visual aid : Alat bantu penglihatan
Wilcoxon test : Uji nonparametris untuk mengukur signifikansi perbedaan antara 2 kelompok data berpasangan berskala ordinal atau interval tetapi tidak berdistribusi tidak normal
xx
Segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Pengaruh Pendidikan Kesehatan Terhadap Keterampilan Perawatan Sinkop dan Epistaksis pada siswa di MI Plus Bunga Bangsa Dolopo Kabupaten Madiun” dengan baik. Tersusunnya skripsi ini tentu tidak lepas dari bimbingan, saran dan dukungan moral kepada penulis, untuk itu penulis mengucapkan terima kasih kepada :
1. Ibu Hj.Arina Manasikana, S.Pd.I selaku Kepala Sekolah MI Plus Bunga Bangsa Dolopo Kabupaten Madiun yang telah memberikan ijin dan kesempatan untuk melakukan penelitian dan seluruh Stafnya
2. Bapak Zainal Abidin, SKM.,M.Kes (Epid) selaku Ketua STIKES Bhakti Husada Mulia Madiun
3. Mega Arianti Putri, S.Kep.,Ns.,M.Kep, selaku Ketua Prodi Studi Keperawatan yang telah memberikan kesempatan, fasilitas untuk mengikuti dan menyelesaikan pendidikan di Prodi Keperawatan
4. Kartika, S.Kep.,Ns.,M.K.M selaku dewan penguji yang telah memberikan bimbingan dan masukan yang bermanfaat sehingga skripsi ini dapat terselesaikan dengan baik
5. Ibu Asrina Pitayanti, S.Kep.,Ns.,M.Kes selaku dosen pembimbing 1 beserta Ibu Retno Widiarini, SKM.,M.Kes selaku dosen pembimbing 2 yang selalu membimbing dengan penuh kesabaran dan ketelatenan
xxi banyak membantu.
8. Teman-teman keperawatan angkatan 2014 yang telah memberi dorongan dan bantuan berupa apapun dalam penyusunan tugas skripsi ini.
Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan skripsi ini masih banyak kekurangan, oleh karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu diharapkan demi kesempurnaan skripsi ini.
Akhir kata penulis sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan serta dalam penyusunan skripsi ini dari awal sampai akhir. Semoga Allah SWT senantiasa meridhai segala usaha kita.Aamiin
Wassalamualaikum Wr.Wb
Madiun, Juli 2018 Peneliti
Nur Aulia Rizki NIM. 201402094
1 BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Sinkop (pingsan) dan epistaksis (mimisan) adalah suatu keadaan yang sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Kebanyakan dari individu pernah mengalami sinkop setidaknya sekali seumur hidup. Dalam sebuah kegiatan sekolah seperti upacara bendera setiap hari senin biasanya sering terjadi peserta didik yang mengalami sinkop. Penyebabnya pun bisa beragam, seperti kondisi tubuh yang tidak fit atau karena memang fisiknya lemah.
Sinkop adalah suatu kehilangan kesadaran sesaat akibat hipoperfusi serebral global yang ditandai dengan onset (kejadian) yang cepat, jangka waktu pendek, dan recovery penuh secara spontan (Setyohadi, 2015). Adapun epistaksis biasanya di alami oleh anak usia TK-SD, yaitu kejadian yang dapat
disebabkan oleh pembuluh darah yang masih tipis dan peka karena suatu benturan atau trauma akibat mengkorek-korek hidung, bersin yang terlalu kuat, perubahan cuaca yang ekstrim (panas, kering) dan tekanan udara juga dapat menjadi pemicu terjadinya epistaksis yang terjadi secara sepontan. Perlu penanganan segera secara cepat dan tepat dari kedua kasus di atas.
Kejadian sinkop dan epistaksis pada siswa disekolah bisa terjadi sewaktu-waktu, oleh karena itu siswa sekolah sebaiknya mampu menguasai penatalaksaannya melalui pertolongan pertama. Di Amerika diperkirakan 3%
dari kunjungan pasien di gawat darurat disebabkan oleh sinkop dan merupakan 6% alasan seseorang datang ke rumah sakit. Puncak prevalensi sinkop terjadi pada remaja yang berusia 15 tahun (Gaggioli, et al., 2014).
Dalam penelitian Saedi (2013) catatan kunjungan pasien yang dilakukan di sebuah klinik rawat jalan kardiologi dari Maret 2006 sampai dengan September 2007, menemukan prevalensi angka kejadian sinkop sebanyak 9%.
Jumlah kejadian sinkop pada anak berusia 5-14 tahun sebanyak 4,14%, usia 15-44 tahun sebanyak 44,8%, usia 45-64 tahun sebanyak 31% dan usia 65 tahun keatas dengan prevalensi 20%. Sedangkan untuk epistaksis sering dijumpai pada siswa dan angka kejadiannya menurun setelah pubertas (Lubis
& Saragih, 2007). Dan untuk kejadian sinkop di tingkat SD, dalam sebulan terdapat 4 siswa korban pre sinkop dan 3 korban sinkop di SD Muhammadiyah Tamantirto Bantul, Yogyakarta (Saedi, 2013).
Epistaksis dapat terjadi pada segala umur, terutama terjadi pada anak- anak dan usia lanjut. Prevalensi epistaksis meningkat pada anak-anak usia dibawah 10 tahun dan meningkat kembali di usia 35 tahun keatas. Epistaksis jarang terjadi pada bayi tanpa adanya suatu keadaan koagulopati atau patologis pada hidung (misalnya, atresia koanal, neoplasma). Anak-anak yang lebih tua dan remaja juga memiliki insiden lebih jarang. Prevalensi epistaksis cenderung lebih tinggi pada laki-laki (58%) dibandingkan perempuan (42%).
Penyalahgunaan kokain pada penderita remaja cenderung meningkatkan epistaksis. Epistaksis diperkirakan terjadi pada 60% manusia selama hidupnya
dan 6% dari mereka mencari penanganan medis (Punagi, 2017). Untuk kejadian epistaksis di tingkat SD yaitu di SDN Sambiduwur didapatkan data siswa yang mengalami epistaksis pada tahun 2015 sejumlah 19 siswa (Basri, 2016).
Dampak dari seseorang yang sering mengalami sinkop memiliki mortalitas yang lebih tinggi dan mengalami penurunan kualitas hidup dibandingkan yang tidak pernah pingsan. sinkop dapat memiliki morbiditas tinggi yang sering kambuh dan disertai cedera fisik (Ntusi, et al., 2015).
Sedangkan untuk epistaksis biasanya di alami oleh anak usia TK-SD. Menurut Soepardi, dkk (2007), komplikasi dari epistaksis yang berlangsung lama berakibat perdarahan hebat kemudian dapat terjadi syok dan anemia.
Seringkali seseorang yang mengalami epistaksis dibawa ke Unit Rawat Jalan karena perdarahan berlangsung terus menerus atau berulang, tidak peduli tingkat keparahan perdarahan akan tetap menimbulkan kecemasan bagi orang tua (Lubis & Saragih, 2007).
Pertolongan pertama pada korban sinkop sebenarnya hanya dengan tindakan sederhana, yaitu buka jalan napas, periksa pernapasan, lalu naikkan tungkai korban 15-30 cm, kemudian longgarkan pakaian yang ketat. Jika korban terjatuh, periksa adanya cedera (Thygerson, 2011). Sedangkan untuk penanganan epsitaksis yaitu duduk tegak, lalu menjepit hidung dengan jempol dan jari telunjuk dan bernapas melalui mulut. Kemudian menjepit hidung selama 5-10 menit. Untuk mencegah berlanjutnya perdarahan yaitu jangan
menghembuskan napas dari hidung atau membungkuk sampai beberapa jam setelah perdarahan dan pertahankan posisi kepala lebih tinggi dari posisi jantung dan jangan mengorek hidung (Hagen, Millman, 2013).
Berdasarkan dampak dari sinkop dan epistaksis tersebut, maka perlu diberikan pertolongan pertama yang tepat. Akan tetapi ketika ada kejadian gawat darurat masyarakat masih sering mengalami kepanikan. Mereka ragu untuk melakukan pertolongan pertama dikarenakan minimnya pengetahuan akan ilmu kesehatan. Hal itu juga terjadi di sekolah yang disebabkan kurangnya pengetahuan untuk melakukan pertolongan pertama (Junaidi, 2011).
Pada tanggal 2 Januari 2018 peneliti mengunjungi MI Plus Bunga Bangsa Dolopo Madiun untuk melakukan survey pendahuluan. Hasil survey pendahuluan yang dilakukan di UKS MI Plus Bunga Bangsa Dolopo Madiun, menurut keterangan guru kasus siswa yang mendatangi UKS adalah karena mimisan, sinkop, pusing, nyeri perut, dan luka lecet akibat jatuh. Kejadian epistaksis di sekolah sering terjadi, dalam sebulan ada 5 siswa (1,3%) dari 372 siswa dengan penyebab kelelahan, jatuh kemudian mengalami trauma di hidung, dan karena cuaca sangat panas. Beberapa siswa sering mengalami epistaksis berulang. Untuk penanganan epistaksis pihak UKS hanya membersihkan darah yang keluar dengan kasa dan dipulangkan serta guru memberi laporan pada wali murid. Beberapa siswa mengalami epistaksis berulang karena setelah epistaksis berhenti sering mengorek hidungnya lagi
yang berujung terjadinya epistaksis berulang dalam sehari. Guru juga menyampaikan darah siswa mengucur sampai ke tangan dan membasahi pakaian seragam murid karena terlambat mendapat penanganan. Siswa yang mengalami sinkop dalam sebulan ada 4 siswa (1,07%) dari 372 siswa.
Keterangan siswa saat wawancara, penanganan sinkop di MI Plus Bunga Bangsa yaitu membawa korban ke UKS dan diberi perawatan dengan minyak kayu putih atau freshcare. Setelah korban siuman dianjurkan minum air putih atau teh hangat kemudian korban disuruh untuk beristirahat.
Untuk siswa yang mengeluh nyeri perut petugas UKS sudah mampu menangani keluhan tersebut dengan mengoleskan minyak kayu putih di perut korban. Sedangkan untuk penanganan pusing, korban dianjurkan untuk minum obat pereda nyeri seperti asam mefenamat. Bagi yang pusingnya hebat dan tidak segera sembuh, petugas UKS langsung melaporkan ke guru untuk memanggilkan orang tua korban. Untuk luka lecet akibat jatuh, dioleskan betadine di area luka kemudian diberi kasa dan hansaplast.
Pada tanggal 8 Januari 2018 peneliti kembali melakukan wawancara di MI Plus Bunga Bangsa. Hasil wawancara yang dilakukan pada 5 siswa petugas UKS, ditemukan data bahwa petugas UKS sudah pernah mendapatkan pendidikan kesehatan dari guru tentang perawatan epistaksis dan sinkop, tetapi untuk perawatannya yang spesifik menurut teori mereka belum mengetahui. Sehingga sering kebingungan dalam mengambil tindakan.
Pendidikan kesehatan mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap keterampilan seseorang, karena setelah mendapat pendidikan kesehatan seseorang akan mendapatkan ilmu pengetahuan baru sehingga hal tersebut akan mempengaruhi keterampilan seseorang. Hal tersebut dibuktikan dengan penelitian Eka Saputra (2015) yang berjudul Pengaruh Pendidikan Kesehatan Terhadap Keterampilan Guru Dalam Melakukan Pertolongan Pertama pada Siswa yang Mengalami Pingsan (Sinkop) menunjukkan nilai p value 0.001, hal tersebut dapat diartikan terdapat pengaruh yang signifikan antara pendidikan kesehatan dengan keterampilan dalam pertolongan pada kasus pingsan (sinkop). Berdasarkan penelitian Tri Darmasto (2015) yang berjudul Pengaruh Pendidikan Kesehatan tentang Penanganan Epistaksis menunjukkan nilai p value 0,000 (p < 0,005). Dimana ada perbandingan nilai pretest dan post test sehingga menunjukkan pengaruh yang signifikan antara pemberian pendidikan kesehatan untuk penanganan epistaksis. Dan diperkuat dengan penelitian Dahlan (2014) yang berjudul Pengaruh Pendidikan Kesehatan tentang Bantuan Hidup Dasar (BHD) terhadap Keterampilan Tenaga Kesehatan dengan menunjukkan nilai p-value = 0,000 (p < 0,005) dimana terdapat pengaruh yang signifikan setelah diberikan pendidikan kesehatan tentang Bantuan Hidup Dasar (BHD).
Berdasarkan latar belakang di atas, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang pengaruh pendidikan kesehatan terhadap
keterampilan siswa dalam perawatan sinkop dan epistaksis pada siswa di MI Plus Bunga Bangsa Dolopo Madiun.
1.2 Rumusan Masalah
Rumusan masalah pada penelitian ini adalah “adakah pengaruh pendidikan kesehatan terhadap keterampilan siswa dalam perawatan sinkop dan epistaksis pada siswa di MI Plus Bunga Bangsa Dolopo Madiun?”
1.3 Tujuan
1.3.1 Tujuan Umum
Untuk menganalisis pengaruh pendidikan kesehatan terhadap keterampilan perawatan sinkop dan epistaksis di MI Plus Bunga Bangsa Dolopo Madiun Tahun 2018.
1.3.2 Tujuan Khusus
1. Mengidentifikasi keterampilan siswa dalam perawatan sinkop dan epistaksis di MI Plus Bunga Bangsa Dolopo Madiun sebelum diberikan pendidikan kesehatan Tahun 2018.
2. Mengidentifikasi keterampilan siswa dalam perawatan sinkop dan epistaksis di MI Plus Bunga Bangsa Dolopo Madiun setelah diberikan pendidikan kesehatan Tahun 2018.
3. Menganalisis pengaruh pendidikan kesehatan terhadap keterampilan dalam perawatan sinkop dan epistaksis pada siswa MI Plus Bunga Bangsa Dolopo Madiun Tahun 2018.
1.4 Manfaat
1.4.1 Manfaat Teoritis
Penelitian ini diharapkan dapat mendukung teori dalam memberikan intervensi keperawatan di bidang keperawatan gawat darurat yang ada di sekolah.
1.4.2 Manfaat Praktis
1. Stikes Bhakti Husada Mulia Madiun
Diharapkan hasil penelitian ini dapat dijadikan sumber informasi dalam perawatan sinkop dan epistaksis pada anak-anak di lingkup sekolah.
2. Sekolah
Diharapkan hasil penelitian ini dapat menambah informasi serta serta wawasan pengetahuan siswa tentang perawatan sinkop dan epistaksis.
3. Peneliti lain
Diharapkan hasil penelitian ini dapat dijadikan referensi untuk penelitian selanjutnya dengan menambah variabel lainnya.
9 BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pendidikan Kesehatan
2.1.1 Pengertian pendidikan kesehatan
Pendidikan kesehatan dalam arti pendidikan secara umum adalah segala upaya yang direncanakan untuk mempengaruhi orang lain, baik individu, kelompok, atau masyarakat, sehingga mereka melakukan apa yang diharapkan oleh pelaku pendidikan atau promosi kesehatan. Dan batasan ini tersirat unsure-unsur input (sasaran dan pendidik dari pendidikan), proses (upaya yang direncanakan untuk mempengaruhi orang lain) dan output (melakukan apa yang diharapkan). Hasil yang diharapkan dari suatu promosi atau pendidikan kesehatan adalah perilaku kesehatan, atau perilaku untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan yang kondusif oleh sasaran dari promosi kesehatan (Notoatmodjo, 2012).
2.1.2 Tujuan pendidikan kesehatan
Promosi kesehatan mempengaruhi 3 faktor penyebab terbentuknya perilaku tersebut menurut Green dalam (Notoatmodjo, 2012) yaitu :
a. Promosi kesehatan dalam faktor-faktor predisposisi
Promosi kesehatan bertujuan untuk memunculkan kesadaran, memberikan atau meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang pemeliharaan dan peningkatan kesehatan bagi dirinya sendiri, keluarga maupun masyarakatnya. Disamping itu, dalam konteks promosi kesehatan juga memberikan pengertian tentang
tradisi, kepercayaan masyarakat dan sebagainya, baik yang merugikan maupun yang menguntungkan kesehatan. Bentuk promosi ini dilakukan dengan penyuluhan kesehatan, pameran kesehatan, iklan-iklan layanan kesehatan, billboard, dan sebagainya.
b. Promosi kesehatan dalam faktor-faktor enabling (penguat)
Bentuk promosi kesehatan ini dilakukan agar masyarakat dapat memberdayakan masyarakat agar mampu mengadakan sarana dan prasarana kesehatan dengan cara memberikan bantuan teknik, memberikan arahan, dan cara-cara mencari dana untuk pengadaan sarana dan prasarana.
c. Promosi kesehatan dalam faktor reinforcing (pemungkin)
Promosi kesehatan dalam faktor ini bermaksud untuk mengadakan pelatihan bagi tokoh agama, tokoh masyarakat, dan petugas kesehatan itu sendiri dengan tujuan agara sikap dan perilaku petugas dapat menjadi teladan, contoh atau acuan bagi masyarakat tentang hidup sehat.
2.1.3 Faktor-faktor yang mempengaruhi pendidikan kesehatan
Beberapa faktor yang perlu diperhatikan agar pendidikan kesehatan dapat mencapai sasaran (Saragih, 2010) yaitu :
a. Tingkat Pendidikan
Pendidikan dapat mempengaruhi cara pandang seseorang terhadap informasi baru yang diterimanya. Maka dapat dikatan bahwa semakin tinggi tingkat
pendidikannya, semakin mudah seseorang menerima informasi yang didapatnya.
b. Tingkat sosial ekonomi
Semakin tinggi tingkat sosial ekonomi seseorang, semakin mudah pula dalam menerima informasi baru.
c. Adat istiadat
Masyarakat kita masih sangat menghargai dan menganggap adat istiadat sebagai sesuatu yang tidak boleh diabaikan.
d. Kepercayaan masyarakat
Masyarakat lebih memperhatikan informasi yang disampaikan oleh orang- orang yang sudah mereka kenal, karena sudah ada kepercayaan masyarakat dengan penyampaian informasi.
e. Ketersediaan waktu di masyarakat
Waktu penyampaian informasi harus memperhatikan tingkat aktifitas masyarakat untuk menjamin tingkat kehadiran masyarakat dalam penyuluhan.
2.1.4 Metode Pendidikan Kesehatan
Menurut Notoadmodjo (2012), berdasarkan pendekatan sasaran yang ingin dicapai, penggolongan metode pendidikan ada 3 (tiga), yaitu:
a. Metode berdasarkan pendekatan perorangan
Metode ini bersifat perorangan dan biasanya digunakan untuk membina perilaku baru, atau membina seseorang yang mulai tertarik pada suatu
perubahan perilaku atau inovasi. Dasar digunakannya pendekatan perorangan ini karena setiap orang mempunyai masalah atau alasan yang berbeda-beda sehubungan dengan penerimaan atau perilaku baru tersebut. Ada 2 bentuk pendekatannya yaitu:
1. Bimbingan dan penyuluhan (guidance and Counceling) 2. Wawancara
b. Metode berdasarkan pendekatan kelompok
Penyuluh berhubungan dengan sasaran secara kelompok. Dalam penyampaian promosi kesehatan dengan metode ini kita perlu mempertimbangkan besarnya kelompok sasaran serta tingkat pendidikan formal dari sasaran. Ada 2 jenis tergantung besarnya kelompok, yaitu kelompok besar dan kelompok kecil.
c. Metode berdasarkan pendekatan massa
Metode pendekatan massa ini cocok untuk mengkomunikasikan pesan-pesan kesehatan yang ditujukan kepada masyarakat. Sehingga sasaran dari metode ini bersifat umum, dalam arti tidak membedakan golongan umur, jenis kelamin, pekerjaan, status sosial ekonomi, tingkat pendidikan, dan sebagainya, sehingga pesan-pesan kesehatan yang ingin disampaikan harus dirancang sedemikian rupa sehingga dapat ditangkap oleh massa.
2.1.5 Media pendidikan kesehatan 2.1.5.1 Fungsi Media
Media sebagai alat bantu menyampaikan pesan-pesan kesehatan. Alat-alat bantu tersebut mempunyai fungsi sebagai berikut (Notoatmodjo, 2012):
a. Menimbulkan minat sasaran pendidikan b. Mencapai sasaran yang lebih banyak
c. Membantu dalam mengatasi banyak hambatan dalam pemahaman
d. Menstimulasi sasaran pendidikan untuk meneruskan pesan-pesan yang diterima orang lain
e. Mempermudah penyampaian bahan atau informasi kesehatan f. Mempermudah penerimaan informasi oleh sasaran/masyarakat
g. Mendorong keinginan orang untuk mengetahui, kemudian mendalami dan akhirnya mendapatkan pengertian yang lebih baik
h. Membantu menegakkan pengertian yang diperoleh 2.1.5.2 Tujuan Media
Media ini memilik beberapa tujuan yaitu:
a. Tujuan yang akan dicapai
1. Menanamkan pengetahuan/pengertian, pendapat dan konsep-konsep 2. Mengubah sikap dan persepsi
3. Menanamkan perilaku/kebiasaan yang baru
b. Tujuan penggunaan alat bantu
1. Sebagai alat bantu dalam latihan/penataran/pendidikan 2. Untuk menimbulkan perhatian terhadap suatu masalah 3. Untuk mengingatkan suatu pesan/informasi
4. Untuk menjelaskan fakta-fakta, prosedur, tindakan 2.1.5.3 Bentuk Media
Ada beberapa bentuk media penyuluhan antara lain (Notoatmodjo, 2012) a. Berdarkan stimulasi indra
1. Alat bantu lihat (visual aid) yang berguna dalam menstimulasi indra penglihatan
2. Alat bantu dengar (audio aid) yaitu alat yang dapat membantu untuk menstimulasi indra pendengar pada waktu penyampaian bahan pendidikan/pengajaran
3. Alat bantu lihat-dengar (audio visual aids) b. Berdasarkan pembuatannya dan penggunaannya
1. Alat peraga atau media yang rumit, seperti film, film strip, slide, dan sebagainya yang memerlukan listrik dan proyektor
2. Alat peraga sederhana, yang mudah dibuat sendiri dengan bahan-bahan setempat
c. Berdasarkan fungsinya sebagai penyalur media kesehatan 1. Media cetak
a) Leaflet
Merupakan bentuk penyampaian informasi kesehatan melalui lembaran yang dilipat. Keuntungan menggunakan media ini antara lain: sasaran dapat menyesuaikan dan belajar mandiri serta praktis karena mengurangi kebutuhan mencatat, sasaran dapat melihat isinya disaat santai dan sangat ekonomis, berbagai informasi dapat diberikan atau dibaca oleh anggota kelompok sasaran, sehingga bisa didiskusikan, dapat memberikan informasi yang detail yang mana tidak diberikan secara lisan, mudah dibuat, diperbanyak dan diperbaiki serta mudah disesuaikan dengan kelompok sasaran.
b) Booklet
Booklet adalah suatu media untuk menyampaikan pesan-pesan kesehatan dalam bentuk tulisan dan gambar. Booklet sebagai saluran, alat bantu, saran dan sumber daya pendukungnya untuk menyampaikan pesan harus menyesuaikan dengan isi materi yang akan disampaikan.
Manfaat booklet sebagai media komunikasi pendidikan kesehatan adalah:
1. Menimbulkan minat sasaran pendidikan
2. Membantu di dalam mengatasi banyak hambatan
3. Membantu sasaran pendidikan untuk belajar lebih banyak dan cepat
4. Merangsang sasaran pendidikan untuk meneruskan pesan-pesan yang diterima kepada orang lain.
5. Mempermudah penyampaian bahasa pendidikan
6. Mempermudah penemuan informasi oleh sasaran pendidikan 7. Mendorong keinginan orang untuk mengetahui lalu mendalami
dan akhirnya mendapatkan pengertian yang lebih baik 8. Membantu menegakkan pengertian yang diperoleh.
c) Flyer (selembaran) d) Flip chart (lembar balik)
Media penyampain pesan atau informasi kesehatan dalam bentuk buku dimana tiap lembar berisi gambar peragaan dan lembaran baliknya berisi kalimat sebagai pesan kesehatan yang berkaitan dengan gambar. Keunggulan menggunakan media ini antara lain:
mudah dibawa, dapat dilipat maupun digulung, murah, efisien, dan tidak perlu peralatan yang rumit. Sedangkan kelemahannya yaitu terlalu kecil untuk sasaran yang berjumlah relative besar, mudah robek dan tercabik.
e) Rubrik (tulisan-tulisan surat kabar), poster, dan foto 2. Media Elektronik
a) Video dan film strip
Keunggulan penyuluhan dengan metode ini adalah dapat memberikan realita yang mungkin sulit direkam kembali oleh mata dan pikiran sasaran, dapat memicu diskusi mengenai sikap dan perilaku, efektif untuk sasaran yang jumlahnya relatif penting dapat diulang kembali, mudah digunakan, dan tidak memerlukan ruangan yang gelap.
Sementara kelemahan media ini yaitu memerlukan sambungan listrik, peralatannya beresiko untuk rusak, perlu adanya kesesuaian antara kaset dengan alat pemutar, membutuhkan ahli professional agar gambar mempunyai makna dalam sisi artistik maupun materi, serta membutuhkan banyak biaya.
b) Slide
Keunggulan media ini yaitu dapat memberikan berbagai realita walaupun terbatas, cocok untuk sasaran yang jumlahnya relatif besar, dan pembuatannya relatif murah, serta peralatannya cukup ringkas dan mudah digunakan. Sedangkan kelemahannya memerlukan sambungan listrik, peralatannya beresiko mudah rusak, dan memerlukan ruangan sedikit lebih gelap.
c) Media Papan
2.2 Konsep Keterampilan 2.2.1 Pengertian keterampilan
Keterampilan berasal dari kata terampil yang berarti cakap, mampu, dan cekatan. Iverson (2001) mengatakan bahwa keterampilan membutuhkan pelatihan dan kemampuan dasar yang dimilik setiap orang, yang dapat lebih membantu menghasilkan sesuatu yang lebih bernilai dengan lebih cepat.
Menurut Robbins (2000), keterampilan dibagi menjadi 4 kategori, yaitu:
a. Basic Literacy Skill: suatu keahlian dasar yang sudah pasti harus dimilik setiap orang seperti membaca, menulis, berhitung, dan mendengarkan.
b. Technical Skill: suatu keahlian secara teknis yang didapat dari pembelajaran dalam bidang teknik seperti mengoperasikan computer dan alat digital lainnya.
c. Interpersonal Skill: suatu keahlian setiap orang dalam berkomunikasi satu sama lain seperti mendengarkan seseorang, memberi pendapat dan bekerja secara tim
d. Problem Solving: suatu keahlian seseorang dalam memecahkan masalah dengan menggunakan logika atau perasaan.
2.2.2 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Keterampilan
Menurut Notoatmodjo (2007), keterampilan merupakan aplikasi dari pengetahuan sehingga tingkat keterampilan seseorang berkaitan dengan tingkat pengetahuan.
Faktor-faktor yang mempengaruhi keterampilan secara langsung menurut Widyatun (2005), yaitu:
a. Motivasi
Merupakan sesuatu yang membangkitkan keinginan dalam diri seseorang untuk melakukan berbagai tindakan. Motivasi inilah yang mendorong seseorang bisa melakukan tindakan sesuai dengan prosedur yang sudah diajarkan.
b. Pengalaman
Merupakan suatu hal yag akan memperkuat kemampuan seseorang dalam melakukan sebuah tindakan (keterampilan). Pengalaman membangun seseorang untuk bisa melakukan tindakan-tindakan selanjutnya yang lebih baik yang dikarekan sudah melakukan tindakan-tindakan sebelumnya.
c. Keahlian
Keahlian yang dimiliki seseorang akan membuat terampil dalam melakukan keterampilan tertentu. Keahlian akan membuat seseorang mampu melakukan sesuai dengan yang sudah diajarkan sebelumnya.
2.3 Perawatan Sinkop 2.3.1 Pengertian sinkop
Sinkop (pingsan) adalah suatu kehilangan kesadaran sesaat akibat hipoperfusi serebral global yang di tandai dengan onset yang cepat, jangka waktu pendek, dan recovery penuh secara spontan (Setyohadi, 2015).
Jatuh pingsan adalah hilangnya kesadaran dan kontrol otot untuk sesaat, yaitu beberapa detik sampai beberapa menit yang mengakibatkan seseorang jatuh secara mendadak (Saubers, 2011).
2.3.2 Etiologi sinkop
Menurut Thygerson (2011), sinkop dapat dipicu dari beberapa faktor seperti berikut :
a. Dehidrasi
b. Berdiri terlalu lama
c. Posisi tubuh naik secara mendadak seperti dari jongkok lalu berdiri d. Tekanan emosi
e. Kehilangan darah f. Batuk-batuk g. Hipoglikemia h. Sakit perut
i. Gangguan pada jantung
Menurut Dewanto dkk (2009), Sinkop juga dapat dibagi menurut etiologinya, yaitu :
a. Neutrally mediated syncopal syindrome, sinkop vasovagal, sinkop sinus karotis, sinkop situasional (sinkop karena adanya perdarahan akut, sinkop akibat batuk, bersin)
b. Disfungsi otonom, syndrome disfungsi otonom primer (disfungsi otonom murni, atropi sistem multiple, penyakit perkinson dengan disfungsi otonom) c. Sinkop akibat aritmia jantung : disfungsi nodus SA, gangguan konduksi
atrioventrikular
d. Penyakit structural jantung atau kardio pulmoner e. Serebrovaskuler (subclavian steal syndrome) 2.3.3 Manifestasi klinis sinkop
Menurut Sukanta (2011), gejala ringan yang sering terjadi pada penderita sinkop adalah sebagai berikut :
a. Kelelahan yang menyeluruh b. Sakit kepala atau pusing c. Mata berkunang-kunang d. Haus
e. Nafas sesak dan pendek
2.3.4 Jenis-jenis sinkop dan perawatannya
Menurut Iskandar (2011), jenis-jenis sinkop adalah sebagai berikut : a. Sinkop biasa
Sinkop jenis ini biasanya terjadi pada mereka yang berdiri lama di bawah terik matahari, kekurangan asupan makanan, tidak sarapan oagi terlebih dahulu, atau pada orang-orang tua yang berdiri sesudah berbaring lama di tempat tidur. Pingsan ini juga dapat terjadi karena penyakit anemia (kurang
darah), kelelahan, tekanan darah rendah (hipotensi), ketakutan terhadap sesuatu, atau tidak tahan melihat darah
Perawatan pada sinkop biasa menurut Thygerson (2011) adalah sebagai berikut:
1. Buka jalan napas, periksa pernapasan, dan berikan perawatan yang sesuai 2. Naikkan tungkai korban 15-30 cm
3. Longgarkan pakaian yang ketat
4. Jika korban terjatuh, periksa adakah cedera
Gambar 2.1 Perawatan Sinkop buka jalan napas
Gambar 2.2 Perawatan Sinkop Cari pertolongan medis jika korban:
1. Mengalami episode pingsan berulang 2. Tidak secara cepat menjadi responsive
3. Menjadi tidak berrespon saat duduk atau berbaring 4. Pingsan tanpa alasan
b. Sinkop karena panas (Heat Exhaustion)
Sinkop jenis ini terjadi pada mereka yang sehat, namun karena bekerja atau berkegiatan di tempat yang sangat panas sehingga pingsan. Biasanya korban mula-mula merasakan jantung yang berdebar-debar, mual, muntah, sakit kepala, kemudian pingsan. Keringat yang bercucuran pada orang pingsan diudara yang sangat panas merupakan petunjuk yang akurat
Tindakan perawatannya adalah :
1. Bawa dan baringkan penderita di tempat yang teduh atau sejuk, lalu lakukan pertolongan pada seperti pada pertolonga pingsan biasa. Beri korban minum air garam dalam keadaan dingin
2. Tindakan ini dilakukan saat korban telah sadar kembali c. Sinkop karena sengatan terik matahari (Heat Stroke)
Sinkop karena sengatan terik matahari merupakan keadaan yang lebih berat dari pingsan karena heat exhaustion. Sengatan terik matahari terjadi karena kontak langsung dengan matahari dalam jangka waktu yang lama, tubuh bereaksi dengan mengeluarkan keringat banyak dalam waktu yang cukup lama sehingga menyebabkan kelenjar keringat kelelahan dan tidak mampu mengeluarkan keringat lagi. Hal ini berdampak panas yang mengenai tubuh tidak dihambat oleh pengeluaran keringat yang telah berkurang sehingga terjadi psinkop.
Gejala sengatan panas matahari biasanya didahului oleh keringat yang
mendadak menghilang. -
-
C. Muka korban dan pernapasannya cepat.
Tindakan perawatannya adalah :
1. Tubuh korban harus segera didinginkan dengan membawanya ke tempat yang teduh, banyak angin (kalau perlu pakai kipas angin atau di ruangan ber-AC). Kompres kepalanya dengan air dingin atau es dalam kantong 2. Jika memungkinkan, selubungi korban dengan sprei basah dan sesekali
menyiramkan air dingin sampai kulit kembali berwarna normal
3. Gosok atau pijatlah anggota badan kea rah jantung untuk memperlancar peredaran darah
4. Usahakan agar korban tidak menggigil dengan jalan memijit-mijit kaki dan tangannya
5. C, hentikan pengompresan dan
bawa korban ke rumah sakit
6. Korban memerlukan perawatan di rumah sakit karena penanganannya membutuhkan waktu lebih dari satu hari
d. Sinkop karena kencing manis (Diabetes Mellitus)
Penderita penyakit kencing manis dapat mengalami sinkop karena dosis insulin yang diberikan berlebihan sehingga glukosa sangat rendah. Dengan demikian pasokan glukosa ke otak rendah atau karena zat keton dalam darah sangat tinggi. Oleh karena itu, sebaiknya para penderita kencing manis selalu memberikan keterangan bahwa dirinya menderita diabetes. Jika ia mendapat suntikan insulin, perlu juga disebutkan dosis dan jenis insulin yang diberikan
sehingga apabila pingsan di jalan para penolong dapat segera mengetahui penyebabnya.
Gejala kelebihan zat keton: akan terlihat kondisi penderita sangat sakit, kulit kering, dan kemerahan. Penderita haus, tidak merasa lapar, napas bau aseton, serta napasnya dalam dan cepat.
Gejala kelebihan insulin: penderita terlihat lemah dan pucat. Tidak haus namun merasa sangat lapar. Biasanya napas tidak bau aseton dan napasnya normal/tidak cepat.
Tindakan perawatan untuk korban siknop karena kelebihan zat insulin adalah:
Korban ditolong seperti pada sinkop biasa. Ditambah beri asupan gula lewat dubur. Jika sudah sadar berikan minuman yang mengandung banyak gula sampai kondisinya pulih
Tindakan perawatan untuk korban sinkop karena kelebihan zat keton adalah : 1. Penderita harus segera dibawa ke rumah sakit sambil bandanya diselimuti 2. Jika penolong ragu apakah karena kelebihan insulin atau zat keton, maka
berikan saja pertolongan dengan pemberina minum air gula secukupnya 3. Dengan pemberian gula akan menolong penderita karena jika bukan
karena kelebihan insulin tidak merugikan, tetapi jika karena insulin penderita akan segera pulih. Namun setelah itu, korban segera dibawa ke rumah sakit
e. Sinkop karena keracunan Tindakan perawatannya adalah:
Bersihkan saluran pernapasan korban dari lender, kotoran atau muntahan.
Dalam kasus keracunan, penolong jangan memberikan napas buatan dengan cara mulut ke mulut karena bahay kontaminasi dari korban ke penolong.
Tetapi gunakan tindakan pertolongan pernapasan dengan cara lain. Apabila racun tidak dapat dikenali, maka sementara berikan larutan norit (larutan arang batok kelapa di dalam air), putih telur, susu, dan air sebanyak- banyaknya untuk mengencerkan racun yang masuk dalam tubuh.
f. Sinkop karena minuman keras
Minuman keras misalnya yang beralkohol tinggi dapat membuat seseorang jadi mabuk. Bahkan, jika mabuk berat dapat menyebabkan pingsan.
Tindakan perawatannya adalah: suruh korban tidur sampai pengaruh alkoholnya hilang. Lamanya tidur dipengaruhi seberapa banyak minum alcohol. Biasanya memerlukan 1-2 hari untuk tidur.
g. Sinkop karena perdarahan otak
Pingsan jenis ini biasanya karena tekanan darah mendadak tinggi dan menyebabkan pembuluh darah otak pecah yang disebut stroke perdarahan.
Gejalanya adalah sakit kepala, mual, muntah, dan pingsan/koma. Setelah sadar dapat mengalami gangguan pada beberapa bagian tubuhnya,
diantaranya sulit berbicara, kelumpuhan separuh badan, dan bisa timbul kejang.
Tindakan perawatannya adalah:
Penderita harus segera dibawa ke rumah sakit. Apabila masih sadar, dapat diberi paracetamol atau sejenisnya sebagai pereda nyeri kepala.
h. Sinkop karena kesedihan
Kesedihan yang amat sangat dapat mengakibatkan seseorang menjadi labil emosinya dan dapat memicu terjadinya pingsan.
Tindakan perawatannya adalah:
Lakukan seperti pada sinkop biasa. Kalau perlu berikan obat penenang i. Sinkop karena cedera kepala
Korban dikatakan cedera atau gegar otak apabila muncul gejala mual, muntah, dan penurunan kesadaran sampai koma setelah kepalanya terbentur.
Tindakan perawatannya adalah:
1. Bersihkan mulut dan saluran pernapasan korban dari kotoran, lender, ataupun muntahan
2. Lalu baringkan korban dengan kepala miring ke samping untuk memudahkan muntahan keluar
3. Korban jangan sering diangkat atau dipindahkan 4. Bila ada perdarahb segera hentikan
5. Saat mengusung korban, perlakukan seperti penderita mengalami patah tulang leher
6. Penderita yang sudah sadar, harus tetap berbaring dan dicegah agar tidak gelisah
7. Setelah pertolongan dilakukan, segera bawa ke rumah sakit j. Sinkop karena nyeri
Tindakan perawatannya adalah:
Jika tidak terjadi tanda-tanda shock, korban ditolong sepertipada pertolongan sinkop biasa. Untuk menguranyi nyeri dapat diberikan obat pereda nyeri.
k. Sinkop karena perdarahan
Perdarahan berat dapat membuat penderita pingsan. Hal tersebut bisa terjadi karena darah banyak keluar sehingga korban kekurangan darah atau ia tidak tahan melihat darah sehingga pingsan.
Tindakan perawatannya adalah:
Jika tidak ada tanda-tanda shock, korban ditolong seperti pada sinkop biasa kemudian dihentikan perdarahannya.
2.3.5 Anamnesis
Menurut Dewanto dkk (2009), anamnesis sinkop meliputi episode sinkop yang mencakup: faktor pencetus, aktivitas sebelum terjadinya sinkop, posisi pasien saat serangan sinkop misalnya berdiri, duduk, atau tidur, karena dapat membantu membedakan apakah sinkop kardiogenik atau nonkardiogenik. Klinisi juga sebaiknya mengumpulkan informasi mengenai gejala-gejala sebelum timbulnya sinkop, yaitu : rasa ingin pingsan, kepala terasa ringan, vertigo, kelemahan, diaphoresis, perasaan tidak nyaman di perut, mual, penglihatan kabur, pucat, dan parestesia sering terjadi sebelum sinkop. Sepertiga dari pasien (terutama lansia) hanya menampilkan sedikit gejala prodromal, bahkan ada yang tidak mengalaminya. Pada kasus-kasus demikian biasanya diikuti oleh trauma fisik, misalnya terjatuh.
Riwayat penggunaan obat juga harus diteliti dengan seksama, terutama obat- obat yang sering dihubungkan dengan penyebab sinkop, antara lain:
a. Obat-obatan yang menurunkan tekanan darah b. Obat-obatan yang mempengaruhi kesadaran c. Obat-obatan yang mempengaruhi curah jantung d. Obat-obatan yang memperpanjang interval QT 2.3.6 Pemeriksaan fisik dan penunjang
Menurut Dewanto dkk (2009), pemeriksaan fisik dan penunjang untuk korban sinkop adalah sebagai berikut:
a. Pemeriksaan jantung yang lengkap dan menyeluruh dapat memberikan gambaran mengenai penyebab sinkop
b. Tanda-tanda vital
c. Pemeriksaan neurologis sebagai barometer perbaikan ataupun perburukan gejala. Status mental biasanya normal
d. Identifikasi trauma
e. Beberapa pemeriksaan bedside dapat membantu menunjukkan sumber sinkop
f. Pemeriksaan EKG 12 sadapan 2.3.7 Pemeriksaan neurologis
Pemeriksaan neurologis pada sinkop berdasarkan gangguannya yaitu:
disfungsi autonom, gangguan serebrovaskuler, nonsycopal attack, dan evaluasi psikiatrik. Pada disfungsi autonom, sistem autonom tidak mampu menyesuaikan pada perubahan posisi sehingga menyebabkan hipotensi ortostasik dan sinkop. Derajat sinkop didasarkan pada lamanya dapat berdiri sebelum akhirnya duduk. Hipotensi dan gangguan miksi merupakan jenis disfungsi otonomi lainnya (Dewanto dkk, 2009).
Gangguan serebrovaskuler juga menjadi salah satu penyebab terjadinya sinkop. Gangguan tersebut dikarenakan steal syndrome dan TIA. Steal syndrome ini terjadi stenosis pada proximal arteri subclavicula (ditandai dengan bruit pada leher bawah dan penurunan tekanan darah dan volume nadi lengan ipsilateral) yang dapat menyebabkan aliran retrogard arteri vertebralis ke bawah saat lengan digerakkan
(Ginsberg, 2007). TIA (Transient Ischemik Attack) gangguan fungsi otak singkat yang reversibel akibat hipoksia serebral (Corwin, 2009).
Nonsycopal attack menjadi pemicu terjadinya sinkop meliputi epilepsy yang disebabkan oleh lepasnya listrik paroksimal dalam neuron serebral yang menyebabkan berbagai pola klinis berbeda termasuk sinkop (Rubenstein dkk, 2007). Katapleksi juga termasuk dalam nonsycopal attack. Penderita katapleksi mengalami serangan yang tiba-tiba dan hilangnya kelenturan otot temporal pada tubuh, sehingga seluruh otot lurik dalam tubuh terpengaruh dan bisa memicu terjadinya sinkop (Rafknowledge, 2004). Jenis nonsycopal attack yang terakhir adalah drop attack yang merupakan kehilangan tonus otot yang tiba-tiba (Ginsberg, 2007).
2.3.8 Indikasi rawat korban sinkop
Perawatan pasien sinkop di rumah sakit mempertimbangkan 2 tujuan yang mendasari, yaitu diagnosis dan terapi. Kasus sinkop yang pada evaluasi awal belum diketahui penyebabnya dapat dirawat di rumah sakit. Kasus sinkop yang sudah ketahui diagnosanya pada evaluasi klinis awal, keputusan di rawat di rumah sakit tergantung pada prognosis dan etiologi yang mendasari dan perawatan yang dibutuhkan. Terapi yang diperoleh pasien sinkop meliputi terapi non farmakologis seperti pencegahan sekunder, ekspansi volume dan latihan ortostatik. Dan terapi farmakologisnya yaitu seperti penyakit-β, agonis-α, dan alat pacu jantung (Dewanto, 2009).
2.3.9 Prognosis
Menurut Dewanto dkk (2009), penderita sinkop dengan disfungsi ventrikel (takikardi ventrikel) memiliki prognosis buruk. Beberapa gangguan jantung yang menyebabkan sinkop, tidak berhubungan dengan meningkatnya kematian, seperti takikardi supraventrikuler dan sick-sinus syndrome.
Kelompok penderita sinkop dengan prognosis baik adalah:
a. Pasien usia muda tanpa penyakit jantung dan EKG yang normal b. Neutrally-mediated syncope
c. Hipotensi ortostatik 2.4 Perawatan Epistaksis 2.4.1 Pengertian epistaksis
Epistaksis atau perdarahan hidung adalah jenis perdarahan spontan patologis yang sering. Biasanya terjadi sebagai erosi spontan salah satu pembuluh superfisial mukosa dekat dengan tepi septum hidung (Munir, Haryono, dan Rambe, 2006).
2.4.2 Etiologi
Menurut Punagi (2017) perdarahan hidung diawali oleh pecahnya pembuluh darah yang berjalan di submukosa hidung. Epistaksis dapat ditimbulkan oleh sebab- sebab lokal dan umum atau kelainan sistemik.
a. Lokal 1. Trauma
Perdarahan dapat terjadi karena trauma ringan misalnya bersin, mengorek hidung, trauma seperti terpukul, jatuh dan sebagainya.
Iritasi gas yang merangsang dan trauma pada saat pembedahan dapat juga menyebabkan epistaksis.
2. Infeksi
Infeksi hidung seperti rinosinusitis serta granuloma spesifik, seperti lupus, sifilis dan lepra dapat menyebabkan epistaksis.
3. Neoplasma
Epistaksis yang berhubungan dengan neoplasma biasanya sedikit dan intermitten, kadangkadang ditandai dengan mukus yang bernoda darah. Neoplasma yang dapat menyebabkan epistaksis masif seperti hemangioma, karsinoma, serta angiofibroma nasofaring.
4. Kelainan kongenital
Kelainan kongenital yang sering menyebabkan epistaksis adalah perdarahan telangiektasis herediter.
5. Pengaruh lingkungan
Epistaksis sering terjadi pada udara yang kering dan saat musim dingin yang disebabkan dehumidifikasi mukosa nasal.
6. Operasi b. Sistemik
1. Kelainan darah, misalnya leukemia, trombositopenia, dan hemophilia
2. Penyakit kardiovaskuler, misalnya hipertensi dan arteriosklerosis 3. Infeksi Akut, biasanya infeksi akut pada demam berdarah, influenza,
morbili dan tifoid 4. Gangguan endokrin
Pada saat hamil terjadi peningkatan estrogen dan progesteron yang tinggi di pembuluh darah yang menuju ke seluruh membran mukosa dalam tubuh termasuk di hidung yang menyebabkan mukosa edema dan rapuh sehingga terjadi epistaksis.
5. Alkoholisme
Meningkatnya tekanan intravaskular yang dapat mengakibatkan pecahnya pembuluh darah sehingga terjadi epistaksis.
6. Penyakit Von Willebrand.
2.4.3 Manifestasi klinis Epistaksis
Menurut Budiman (2011), manifestasi klinis dari epistaksis dapat ditandai dengan tanda-tanda seperti berikut :
a. Darah berwarna merah cerah yang keluar dari lubang hidung, berasal dari hidung interior
b. Darah yang berwarna merah gelap atau cerah dari bagian belakang tenggorokan, berasal dari hidung posterior (umumnya disalah artikan sebagai hemoptisis karena adanya ekspektorasi)
c. Pusing dan terkadang sulit bernapas
d. Perembesan di belakang septum nasal, di telinga tengah dan di sudut mata e. Hemoragi parah (berlangsung lebih dari 10 menit setelah ditekan)
berakibat: hipotensi, denyut nadi cepat, dispnea dan pucat, darah yang hilang bisa mencapai 1 liter setiap jam pada orang dewasa
2.4.4 Tipe-tipe epistaksis
Menurut Mangunkusumo dan Wardhani (2007) berdasarkan lokasinya, epistaksis dapat dibagi atas :
a. Epistaksis anterior
Epistaksis anterior berasal dari pleksus kiesselbach (Little’s Area), perdarahan biasanya ringan, terjadi pada permukaan mukosa hiperemsis atau karena kebiasaan mengorek hidung yang seruing terjadi pada anak- anak. Selain itu juga dapat berasal dari arteri ethmoidalis anterior. Daerah ini rentan terhadap kelembapan udara yang di inspirasi dan trauma.
Akibatnya dapat terjadi ulkus, rupture, atau kondisi patologik lainnya yang selanjutnya akan menyebabkan perdarahan. Perdarahan dapat berhenti sendiri (spontan) dan dapat dikendalikan dengan tindakan sederhana.
Gambar 2.3 Epistaksis Anterior b. Epistaksis posterior
Epistaksis posterior dapat berasal dari arteri sfenopalatina (area Woodruff, di bawah bagian posterior kanka nasalis inferior) dan arteri ethmoid posterior. Perdarahan biasanya hebat dan jarang berhenti dengan sendirinya. Pasien mengeluh darah di belakang tenggorokannya. Sering ditemukan pada pasien hipertensi, arteriosklerosis atau pasien dengan penyakit kardiovaskuler.
Gambar 2.4 Epistaksis Posterior 2.4.5 Patofisiologi epistaksis
Pada orang yang berusia menengah dan lanjut, pemeriksaan arteri kecil dan sedang terlihat perubahan progresif dari otot pembuluh darah tunika media menjadi jaringan kolagen. Perubahan tersebut bervariasi dari fibrosis interstitial sampai perubahan yang komplet menjadi jaringan parut. Perubahan tersebut memperlihatkan gagalnya kontraksi pembuluh darah karena hilangnya otot tunika media yang menjadi jaringan kolagen sehingga mengakibatkan perdarahan yang banyak dan lama.
Pada orang yang lebih muda, pemeriksaan di lokasi perdarahan setelah terjadinya epistaksis memperlihatkan area yang tipis dan lemah. Kelemahan dinding pembuluh darah ini disebabkan oleh trauma atau iskemia lokal (Munir et al, 2006) 2.4.6 Komplikasi epistaksis
Menurut Iskandar (2006), komplikasi epistaksis dapat terjadi sebagai akibat dari epistaksis itu sendiri dan juga akibat dari upaya penanggulangan yang dilakukan.
Perdarahan yang hebat dapat menyebabkan aspirasi darah ke dalam saluran napas bawah, juga dapat menyebabkan syok, anemia, dan gagal ginjal. Turunnya tekanan darah secara mendadak dapat menyebabkan hipoksia, edema serebri, insufisiensi koroner sampai infark miokard sehingga dapat menyebabkan kematian.
2.4.7 Pencegahan epistaksis
Menurut Freeman (2007), pencegahan epistaksis yaitu dengan cara sebagai berikut : a. Gunakan semprotan hidung atau tetes larutan garam, yang keduanya dapat
dibeli, teteskan pada kedua lubang dua sampai tiga kali dalam sehari.
Untuk membuat tetes larutan ini dapat mencampur satu sendok the garam ke dalam secangkir gelas, didihkan selama 20 menit lalu biarkan sampai hangat kuku
b. Gunakan alat untuk melembabkan udara di rumah
c. Gunakan gel larut air di hidung, oleskan dengan cotton bud. Jangan memasukkan cotton bud melebihi 0,5 – 6cm ke dalam hidung
d. Hindari meniup melalui hidung terlalu keras e. Bersin melalui mulut
f. Hindari memasukkan benda keras ke dalam hidung, termasuk jari
g. Batasi penggunaan obat-obatan yang dapat meningkatkan perdarahan seperti ibuprofen atau aspirin
h. Konsultasi ke dokter jika alergi tidak bisa d tangani oleh obat alergi biasa
i. Berhenti merokok, karena merokok bisa menyebabkan hidung kering dan menyebakan iritasi
2.4.8 Perawatan sederhana pada korban epistaksis
Menurut Kindersley (2009), pertolongan pertama yang dapat dilakukan pada korban epistaksis adalah sebagai berikut:
a. Bantulah korban untuk duduk dengan mencondongkan tubuhnya ke depan. Mintalah untuk bernapas melalui mulutnya. Pencet hidung korban selama 10 menit, kemudian lepaskan.
b. Minta korban untuk meludahkan cairan berlebihan yang ada di mulutnya.
Jika perdarahan belum berhenti, pencet kembali hidungnya selama 10 menit, lalu lepaskan. Jika masih berdarah lagi, pencet lagi.
c. Setelah perdarahan berhenti, gunakan kapas yang telah direndam air suam-suam kuku untuk membersihkan wajah korban. Sarankan korban untuk beristirahat dan tidak meniup hidungnya. Jika dalam beberapa jam setelahnya korban mengorek (atau meniup) hidungnya, perdarahan dapat terjadi kembali.
Gambar 2.5 Perawatan Epistaksis 2.4.9 Anamnesis epistaksis
Menurut Adam et al (1997), anamnesis yang penting ditanyakan pada korban epistaksis adalah:
c. Riwayat perdarahan sebelumnya d. Lokasi terjadinya perdarahan
e. Apakah ada darah yang mengalir ke dalam tenggorokan atau keluar dari hidung bila korban duduk tegak?
f. Frekuensi perdarahan
g. Riwayat gangguan perdarahan dalam keluarga
h. Hipertensi i. Diabetes mellitus j. Penyakit hati
k. Penggunaan antikoagulan
l. Trauma hidung yang belum lama 2.4.10 Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan laboratorium yang perlu dilakukan untuk korban epistaksis adalah:
a. Pemeriksaan darah tepi lengkap b. Fungsi hemostatis
c. Uji faal ginjal dan faal hati
d. Pemeriksaan foto hidung, sinus paranasal, dan nasofaring
e. CT scan dan MRI dapat diindikasikan untuk menentukan adanya rinosinusitis, benda asing, dan neoplasma. Jika diperlukan pemeriksaan radiologi hidung, sinus paranasal dan nasofaring dapat dilakukan setelah keadaan akut dapat diatasi (Soepardi dkk, 2000).
2.2.1 Pencegahan epistaksis berlanjut
Menurut Hagen & Millman (2013), upaya untuk mencegah berlanjutnya epistaksis yaitu dengan cara sebagai berikut: