• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

2.3 Konsep Perawatan Sinkop

2.3.9 Prognosis

Menurut Dewanto dkk (2009), penderita sinkop dengan disfungsi ventrikel (takikardi ventrikel) memiliki prognosis buruk. Beberapa gangguan jantung yang menyebabkan sinkop, tidak berhubungan dengan meningkatnya kematian, seperti takikardi supraventrikuler dan sick-sinus syndrome.

Kelompok penderita sinkop dengan prognosis baik adalah:

a. Pasien usia muda tanpa penyakit jantung dan EKG yang normal b. Neutrally-mediated syncope

c. Hipotensi ortostatik 2.4 Perawatan Epistaksis 2.4.1 Pengertian epistaksis

Epistaksis atau perdarahan hidung adalah jenis perdarahan spontan patologis yang sering. Biasanya terjadi sebagai erosi spontan salah satu pembuluh superfisial mukosa dekat dengan tepi septum hidung (Munir, Haryono, dan Rambe, 2006).

2.4.2 Etiologi

Menurut Punagi (2017) perdarahan hidung diawali oleh pecahnya pembuluh darah yang berjalan di submukosa hidung. Epistaksis dapat ditimbulkan oleh sebab- sebab lokal dan umum atau kelainan sistemik.

a. Lokal 1. Trauma

Perdarahan dapat terjadi karena trauma ringan misalnya bersin, mengorek hidung, trauma seperti terpukul, jatuh dan sebagainya.

Iritasi gas yang merangsang dan trauma pada saat pembedahan dapat juga menyebabkan epistaksis.

2. Infeksi

Infeksi hidung seperti rinosinusitis serta granuloma spesifik, seperti lupus, sifilis dan lepra dapat menyebabkan epistaksis.

3. Neoplasma

Epistaksis yang berhubungan dengan neoplasma biasanya sedikit dan intermitten, kadangkadang ditandai dengan mukus yang bernoda darah. Neoplasma yang dapat menyebabkan epistaksis masif seperti hemangioma, karsinoma, serta angiofibroma nasofaring.

4. Kelainan kongenital

Kelainan kongenital yang sering menyebabkan epistaksis adalah perdarahan telangiektasis herediter.

5. Pengaruh lingkungan

Epistaksis sering terjadi pada udara yang kering dan saat musim dingin yang disebabkan dehumidifikasi mukosa nasal.

6. Operasi b. Sistemik

1. Kelainan darah, misalnya leukemia, trombositopenia, dan hemophilia

2. Penyakit kardiovaskuler, misalnya hipertensi dan arteriosklerosis 3. Infeksi Akut, biasanya infeksi akut pada demam berdarah, influenza,

morbili dan tifoid 4. Gangguan endokrin

Pada saat hamil terjadi peningkatan estrogen dan progesteron yang tinggi di pembuluh darah yang menuju ke seluruh membran mukosa dalam tubuh termasuk di hidung yang menyebabkan mukosa edema dan rapuh sehingga terjadi epistaksis.

5. Alkoholisme

Meningkatnya tekanan intravaskular yang dapat mengakibatkan pecahnya pembuluh darah sehingga terjadi epistaksis.

6. Penyakit Von Willebrand.

2.4.3 Manifestasi klinis Epistaksis

Menurut Budiman (2011), manifestasi klinis dari epistaksis dapat ditandai dengan tanda-tanda seperti berikut :

a. Darah berwarna merah cerah yang keluar dari lubang hidung, berasal dari hidung interior

b. Darah yang berwarna merah gelap atau cerah dari bagian belakang tenggorokan, berasal dari hidung posterior (umumnya disalah artikan sebagai hemoptisis karena adanya ekspektorasi)

c. Pusing dan terkadang sulit bernapas

d. Perembesan di belakang septum nasal, di telinga tengah dan di sudut mata e. Hemoragi parah (berlangsung lebih dari 10 menit setelah ditekan)

berakibat: hipotensi, denyut nadi cepat, dispnea dan pucat, darah yang hilang bisa mencapai 1 liter setiap jam pada orang dewasa

2.4.4 Tipe-tipe epistaksis

Menurut Mangunkusumo dan Wardhani (2007) berdasarkan lokasinya, epistaksis dapat dibagi atas :

a. Epistaksis anterior

Epistaksis anterior berasal dari pleksus kiesselbach (Little’s Area), perdarahan biasanya ringan, terjadi pada permukaan mukosa hiperemsis atau karena kebiasaan mengorek hidung yang seruing terjadi pada anak- anak. Selain itu juga dapat berasal dari arteri ethmoidalis anterior. Daerah ini rentan terhadap kelembapan udara yang di inspirasi dan trauma.

Akibatnya dapat terjadi ulkus, rupture, atau kondisi patologik lainnya yang selanjutnya akan menyebabkan perdarahan. Perdarahan dapat berhenti sendiri (spontan) dan dapat dikendalikan dengan tindakan sederhana.

Gambar 2.3 Epistaksis Anterior b. Epistaksis posterior

Epistaksis posterior dapat berasal dari arteri sfenopalatina (area Woodruff, di bawah bagian posterior kanka nasalis inferior) dan arteri ethmoid posterior. Perdarahan biasanya hebat dan jarang berhenti dengan sendirinya. Pasien mengeluh darah di belakang tenggorokannya. Sering ditemukan pada pasien hipertensi, arteriosklerosis atau pasien dengan penyakit kardiovaskuler.

Gambar 2.4 Epistaksis Posterior 2.4.5 Patofisiologi epistaksis

Pada orang yang berusia menengah dan lanjut, pemeriksaan arteri kecil dan sedang terlihat perubahan progresif dari otot pembuluh darah tunika media menjadi jaringan kolagen. Perubahan tersebut bervariasi dari fibrosis interstitial sampai perubahan yang komplet menjadi jaringan parut. Perubahan tersebut memperlihatkan gagalnya kontraksi pembuluh darah karena hilangnya otot tunika media yang menjadi jaringan kolagen sehingga mengakibatkan perdarahan yang banyak dan lama.

Pada orang yang lebih muda, pemeriksaan di lokasi perdarahan setelah terjadinya epistaksis memperlihatkan area yang tipis dan lemah. Kelemahan dinding pembuluh darah ini disebabkan oleh trauma atau iskemia lokal (Munir et al, 2006) 2.4.6 Komplikasi epistaksis

Menurut Iskandar (2006), komplikasi epistaksis dapat terjadi sebagai akibat dari epistaksis itu sendiri dan juga akibat dari upaya penanggulangan yang dilakukan.

Perdarahan yang hebat dapat menyebabkan aspirasi darah ke dalam saluran napas bawah, juga dapat menyebabkan syok, anemia, dan gagal ginjal. Turunnya tekanan darah secara mendadak dapat menyebabkan hipoksia, edema serebri, insufisiensi koroner sampai infark miokard sehingga dapat menyebabkan kematian.

2.4.7 Pencegahan epistaksis

Menurut Freeman (2007), pencegahan epistaksis yaitu dengan cara sebagai berikut : a. Gunakan semprotan hidung atau tetes larutan garam, yang keduanya dapat

dibeli, teteskan pada kedua lubang dua sampai tiga kali dalam sehari.

Untuk membuat tetes larutan ini dapat mencampur satu sendok the garam ke dalam secangkir gelas, didihkan selama 20 menit lalu biarkan sampai hangat kuku

b. Gunakan alat untuk melembabkan udara di rumah

c. Gunakan gel larut air di hidung, oleskan dengan cotton bud. Jangan memasukkan cotton bud melebihi 0,5 – 6cm ke dalam hidung

d. Hindari meniup melalui hidung terlalu keras e. Bersin melalui mulut

f. Hindari memasukkan benda keras ke dalam hidung, termasuk jari

g. Batasi penggunaan obat-obatan yang dapat meningkatkan perdarahan seperti ibuprofen atau aspirin

h. Konsultasi ke dokter jika alergi tidak bisa d tangani oleh obat alergi biasa

i. Berhenti merokok, karena merokok bisa menyebabkan hidung kering dan menyebakan iritasi

2.4.8 Perawatan sederhana pada korban epistaksis

Menurut Kindersley (2009), pertolongan pertama yang dapat dilakukan pada korban epistaksis adalah sebagai berikut:

a. Bantulah korban untuk duduk dengan mencondongkan tubuhnya ke depan. Mintalah untuk bernapas melalui mulutnya. Pencet hidung korban selama 10 menit, kemudian lepaskan.

b. Minta korban untuk meludahkan cairan berlebihan yang ada di mulutnya.

Jika perdarahan belum berhenti, pencet kembali hidungnya selama 10 menit, lalu lepaskan. Jika masih berdarah lagi, pencet lagi.

c. Setelah perdarahan berhenti, gunakan kapas yang telah direndam air suam-suam kuku untuk membersihkan wajah korban. Sarankan korban untuk beristirahat dan tidak meniup hidungnya. Jika dalam beberapa jam setelahnya korban mengorek (atau meniup) hidungnya, perdarahan dapat terjadi kembali.

Gambar 2.5 Perawatan Epistaksis 2.4.9 Anamnesis epistaksis

Menurut Adam et al (1997), anamnesis yang penting ditanyakan pada korban epistaksis adalah:

c. Riwayat perdarahan sebelumnya d. Lokasi terjadinya perdarahan

e. Apakah ada darah yang mengalir ke dalam tenggorokan atau keluar dari hidung bila korban duduk tegak?

f. Frekuensi perdarahan

g. Riwayat gangguan perdarahan dalam keluarga

h. Hipertensi i. Diabetes mellitus j. Penyakit hati

k. Penggunaan antikoagulan

l. Trauma hidung yang belum lama 2.4.10 Pemeriksaan penunjang

Pemeriksaan laboratorium yang perlu dilakukan untuk korban epistaksis adalah:

a. Pemeriksaan darah tepi lengkap b. Fungsi hemostatis

c. Uji faal ginjal dan faal hati

d. Pemeriksaan foto hidung, sinus paranasal, dan nasofaring

e. CT scan dan MRI dapat diindikasikan untuk menentukan adanya rinosinusitis, benda asing, dan neoplasma. Jika diperlukan pemeriksaan radiologi hidung, sinus paranasal dan nasofaring dapat dilakukan setelah keadaan akut dapat diatasi (Soepardi dkk, 2000).

2.2.1 Pencegahan epistaksis berlanjut

Menurut Hagen & Millman (2013), upaya untuk mencegah berlanjutnya epistaksis yaitu dengan cara sebagai berikut:

a. Jangan hembuskan napas dari hidung atau membungkuk sampai beberapa jam setelah perdarahan. Pertahankan kepala lebih tinggi dari posisi jantung anda. Jangan mengorek hidung.

b. Jika perdarahan kembali terjadi, hembuskan napas dengan hati-hati untuk membersihkan hidung dari bekuan darah, dan semprotkan kedua sisi hidung dengan semprotan nasal dengokestan yang mengandung oksimetazolin atau fenilefrin. Jepit hidung anda kembali.

2.5 Sekolah

2.5.1 Pengertian sekolah

Sekolah adalah sistem interaksi sosial suatu organisasi keseluruhan terdiri atas interaksi pribadi terkait dalam suatu hubungan organik (Atmodiwiro, 2000).

Sedangkan menurut undang-undang no. 2 tahun 1989 sekolah adalah satuan pendidikan yang berjenjang dan berkesinambungan untuk menyelenggarakan kegiatan belajar mengajar.

2.5.2 Tanggung jawab sekolah

Sekolah memiliki tanggung jawab yang besar terhadap perkembangan peserta didik dan peningkatan mutu pendidikan di sekolah dengan mendayagunakan komponen-komponen sekolah secara maksimal dalam kehidupan bermasyarakat yang bersifat nyata di sekitarnya (Daryanto, 2007).

2.5.3 Fungsi sekolah

Menurut Simanjuntak (2000), dibidang pendidikan dan sosial sekolah memeliki fungsi yaitu membina dan mengembangkan sikap mental peserta didik dan menyelenggarakan pendidikan yang bermutu dengan melaksanakan pengelolaan komponen-komponen sekolah, melaksanakan administrasi sekolah dan melaksanakan supervise.

Secara garis besar, fungsi sekolah:

a. Mendidik calon warganegara yang dewasa b. Mempersiapkan calon warga masyarakat c. Mengembangkan cita-cita profesi kerja

d. Mempersiapkan calon pembentuk keluarga yang baru e. Pengembangan pribadi (realisasi pribadi)

45 3.1 Kerangka Konseptual

Kerangka konseptual adalah kerangka hubungan antara konsep-konsep yang ingin diamati atau diukur melalui penelitian-penelitian yang dilakukan (Notoatmodjo, 2010)

Pendidikan Kesehatan

Faktor-faktor yang

mempengaruhi pendidikan kesehatan:

1. Tingkat pendidikan 2. Tingkat sosial ekonomi 3. Adat istiadat

4. Kepercayaan masyarakat 5. Ketersediaan waktu di

masyarakat

Sinkop Epistaksis

Siswa

Keterampilan Perawatan

Epistaksis 1. Baik 2. Cukup 3. Kurang Sinkop

1. Baik 2. Cukup 3. Kurang

Keterangan:

: diteliti : berpengaruh

: tidak diteliti

Gambar 3.1 Bagan Kerangka Konsep pengaruh Pendidikan kesehatan terhadap keterampilan perawatan sinkop dan epistaksis di MI Plus Bunga Bangsa Dolopo Madiun

Dari kerangka konsep di atas, faktor yang mempengaruhi pendidikan kesehatan adalah tingkat pendidikan, tingkat sosial ekonomi, adat istiadat, kepercayaan masyarakat, dan ketersediaan waktu di masyarakat (Saragih, 2010). Dari lima faktor tersebut akan mempengaruhi keberhasilan suatu pendidikan kesehatan yang menciptakan keterampilan perawatan pada sinkop dan epistaksis. Tingkat keterampilan perawatan sinkop dan epistaksis ada 3, yaitu baik, cukup, dan kurang.

3.2 Hipotesis Penelitian

Hipotesis adalah jawaban sementara dari rumusan masalah atau pertanyaan penelitian (Nursalam, 2016). Hipotesis pada penelitian ini adalah:

H1 diterima: ada pengaruh pendidikan kesehatan terhadap keterampilan perawatan sinkop dan epistaksis di MI Plus Bunga Bangsa Dolopo Madiun.

H1 ditolak : tidak pengaruh pendidikan kesehatan terhadap keterampilan perawatan sinkop dan epistaksis di MI Plus Bunga Bangsa Dolopo Madiun.

47 4.1 Desain Penelitian

Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah Pra experiment yaitu one group pre test post test design. Adapun desain dalam penelitian ini dapat dijelaskan pada skema sebagai berikut (Nursalam, 2013).

Gambar 4.1 Desain penelitian One Group Pre test Post test Pre test Perlakuan Post test

Keterangan:

01 : sebelum diberikan pendidikan kesehatan sinkop dan epistaksis X : pemberian pendidikan kesehatan sinkop dan epistaksis

02 : setelah diberikan pendidikan kesehatan sinkop dan epistaksis

Dengan randomisasi (R) maka dalam kedua kelompok mempunyai sifat yang sama sebelum dilakukan intervensi (perlakuan). Karena pada kedua kelompok sama pada awalnya, maka perbedaan hasil post test pada kelompok tersebut dapat disebut sebagai pengaruh dari intervensi atau perlakuan (Notoatmodjo, 2012).

01 X 02

4.2 Populasi dan Sampel 4.2.1 Populasi

Populasi dalam penelitian ini adalah semua siswi kelas 5 MI Plus Bunga Bangsa Dolopo Madiun yang berjumlah 64 siswa yang menjadi petugas UKS.

4.2.2 Sampel

Sampel yang diambil dari penelitian ini adalah siswa yang menjadi petugas UKS dan memenuhi kriteria. Besar sampel dihitung menggunakan Rumus Slovin sebagai berikut:

n = N 1 + N (d)2 Keterangan :

n : besar sampel

N : besar populasi

D : tingkat signifikan p (0,05) n = 64

1 + 64(0,05)2 n = 64

1 + 64(0,0025) n = 64

1 + 0,16 n = 64

1,16

n = 55,17 = 55

Sehingga dengam menggunakan rumus diatas maka besar sampel yang diperlukan untuk tingkat keterampilan perawatan sinkop dan epistaksis penelitian ini adalah n=55, yang berarti 55 siswa.

4.2.3 Kriteria sampel

Sampel didapat dari populasi yang memenuhi kriteria inklusi.

a. Kriteria inklusi dalam penelitian ini adalah:

1. Dapat berkomunikasi dengan baik 2. Bersedia menjadi responden penelitian 3. Sehat jasmani dan rohani

b. Kriteria eksklusi adalah siswa yang tidak hadir saat penelitian.

4.3 Teknik Sampling

Dalam penelitian ini menggunakan teknik sampling probabilitas (random sampling). Dengan menggunakan pengambilan sampel secara acak sederhana (simple random sampling), dimana sampel diambil secara acak sehingga semua sampel mempunyai kesempatan yang sama untuk dipilih sebagai sampel dalam penelitian.

Alasan peneliti dalam pemilihan pengambilan sampel secara acak sederhana ini karena populasi bersifat homogen, dan ukuran besar populasi sudah pasti.

4.4 Kerangka Kerja

Gambar 4.2 Kerangka Kerja Penelitian Pengaruh Pendidikan Kesehatan terhadap keterampilan perawatan sinkop dan epistaksis

Populasi Siswa kelas 5 MI Plus Bunga Bangsa Dolopo Madiun sebanyak 64 siswa

yang menjadi petugas UKS

Sampel Siswa kelas 5 MI Plus Bunga Bangsa Dolopo Madiun sebanyak 55 siswa

yang sesuai dengan kriteria inklusi Sampling : Teknik simple random sampling

Desain penelitian : Pra Eksperimen dengan pendekatan one group pretest- posttest

Pengolahan Data pre post test perawatan sinkop dan epistaksis Editing, scoring, coding, tabulating, entry data, cleaning

Analisis data: uji wilcoxon test

Hasil, pembahasan dan kesimpulan pengaruh pendidikan terhadap keterampilan perawatan sinkop dan epistaksis

Pre test Pendidikan kesehatan

sinkop dan epistaksis Post test

4.5 Variabel Penelitian dan Definisi Operasional 4.5.1 Identifikasi Variabel

Dalam penelitian ini terdapat dua variabel yaitu:

1. Variabel Independen (bebas)

Variabel independen dalam penelitian ini adalah Pendidikan Kesehatan 2. Variabel Dependen (terikat)

Variabel dependen dalam penelitian ini adalah Keterampilan Perawatan Sinkop dan Epistaksis.

4.5.2 Definisi Operasional Variabel Definisi

Operasional

Parameter Alat Ukur Skala Skor Independen:

Pendidikan kesehatan

Pemberian penyuluhan tentang kesehatan untuk memberikan infirmasi guna

meningkatka n

pengetahuan sinkop dan epistaksis di

MI Plus

Bunga Bangsa Dolopo Kabupaten Madiun

Pendidikan kesehatan dibagi

menjadi dua:

sebelum dan sesudah mendapat pendidikan kesehatan

1.

- - -

Dependen:

Keterampilan

Reaksi atau respon dari

Keterampilan perawatan

Lembar observasi

Ordinal Skor penilaian

perawatan sinkop dan epistaksis

seorang murid terhadap stimulus atau obyek dalam melakukan perawatan sinkop dan epistaksis di

MI Plus

Bunga Bangsa Dolopo Kabupaten Madiun

menyadarkan korban sinkop dan menghentika n perdarahan pada korban epistaksis

perawatan sinkop dan lembar observasi Perawatan epistaksis

kemampuan :

Baik: x ≥36 Cukup: 24 ≤ x < 36 Kurang: x <

24 (Azwar, 2011)

4.6 Instrumen Penelitian

Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah lembar observasi dan SOP perawatan sinkop dan epistaksis. Lembar observasi diisi sesuai dengan keterampilan siswa dalam mempraktekkan perawatan sinkop dan epistaksis yang ada di SOP.

4.7 Lokasi Penelitian

Penelitian ini akan dilaksanakan di MI Plus Bunga Bangsa Kecamatan Dolopo Kabupaten Madiun.

4.8 Waktu Penelitian

Waktu penelitian dilakukan pada bulan April sampai Juli 2018.

4.9 Prosedur Pengumpulan Data

a. Menyampaikan persetujuan judul penelitian sebagai pengantar surat permohonan izin melaksanakan penelitian kepada ketua STIKES Bhakti

Husada Mulia Madiun untuk melakukan penelitian di MI Plus Bunga Bangsa Dolopo Madiun.

b. Menyampaikan surat permohonan ijin melaksanakan penelitian kepada bagian Instansi kantor MI Plus Bunga Bangsa untuk melaksanakan penelitian di MI Plus Bunga Bangsa

c. Pelaksanaan penelitian di MI Plus Bunga Bangsa Dolopo Madiun.

d. Sebelum penelitian dilakukan, peneliti menberikan penjelasan kepada responden tentang tujuan, manfaat, prosedur penelitian, serta kontrak waktu dan meminta inform consent. Kontrak waktu diperlukan untuk menghindari adanya responden yang drop out pada saat penelitian berlangsung.

e. Setelah menyetujui penelitian responden yang setuju diminta menandatangani surat pernyataan kesediaan menjadi responden.

f. Untuk melihat tingkat keterampilan perawatan siswa, peneliti memberikan pre test tentang SOP perawatan sinkop dan epistaksis.

g. Kemudian dilakukan penyuluhan tentang perawatan sinkop dan epistaksis sesuai dengan SOP.

h. Setelah itu, peneliti memberikan post test tentang SOP perawatan sinkop dan epistaksis untuk mengetahui tingkat keterampilan setelah dilakukan penyuluhan.

i. Untuk pengumpulan data (fakta/kenyataan hidup) diperlukan adanya alat dan cara pengumpulan data yang valid, andal (reliabel), dan aktual.

j. Standar operasional prosedur yang telah dipraktekkan dan diisi, kemudian dikumpulkan dan diolah lalu diperiksa kelengkapan oleh peneliti kemudian dilakukan analisa.

4.10 Pengolahan dan Analisis Data 4.9.1 Teknik Pengolahan Data

Ada tahapan dalam pengolahan data yang harus dilalui yaitu:

a. Editing

Peneliti memeriksa kembali semua data yang telah dikumpulkan melalui standar operasional prosedur, hal ini untuk mengecek kembali apakah standar operasional prosedur sudah dipraktekkan.

b. Coding

Peneliti dalam penelitian ini memberikan kode terhadap kelompok variabel sebagai berikut:

1. Usia

10 : Kode 1

11 : Kode 2

12 : Kode 3

2. Jenis kelamin

Laki-laki : Kode 1

Perempuan : Kode 2

3. Status tempat tinggal

Bersama orang tua : Kode 1 Menumpang saudara : Kode 2

4. Sumber informasi tentang sinkop dan epistaksis

Dari guru : Kode 1

Dari tenaga kesehatan : Kode 2

Dari koran : Kode 3

Dari majalah : Kode 4

Dari TV : Kode 5

Dari radio : Kode 6

Dari internet : Kode 7 c. Scoring

Skor item pertanyaan pada lembar standar operasional prosedur 1 = tidak dilakukan

2 = dilakukan sebagian

3 = dilakukan semua tapi belum sempurna 4 = dilakukan sempurna

Penilaian kemampuan:

a) Baik : jika skor jawaban x ≥ (µ+1.ϭ) x ≥ (30+1.6) = jadi x ≥ 36

b) Cukup : jika skor jawaban (µ-1- 1.ϭ) ≤ x < (µ+1.ϭ) (30-1.6) ≤ x < (30+1.6) jadi 24 ≤ x < 36

c) Kurang : jika skor jawaban x < (µ - 1.ϭ)

x < (30-1.6) jadi x < 24 Dengan ketentuan:

µ = ½ (Xmaks + Xmin) x total pada item pernyataan = ½ (4+1) x 12

= 30

ϭ = 1/6 (Imaks – Imin) = 1/6 (48-12)

= 6

Xmaks = skor tertinggi pada item pernyataan (4) Xmin = skor terrendah pada item pernyataan (1) Imaks = jumlah total skor tertinggi (48)

Imin = jumlah total skor terrendah (12) Baik : skor jawaban ≥ 36

Cukup : skor jawaban 24 ≤ x < 36 Rendah : skor jawaban x < 24 d. Tabulating

Semua data di atas dimasukkan akan dimasukkan ke komputer dan dianalisis secara statistik.

e. Data Entry

Data dalam bentuk “kode” (angka atau huruf) dimasukkan ke dalam program SPSS Versi 16 atau “Software” computer. Dalam proses ini dituntut ketelitian

dari orang yang melakukan “data entry”. Apabila tidak, maka terjadi bias meskipun hanya memasukkan data.

f. Cleaning

Apabila semua data dari setiap sumber data atau responden selesai dimasukkan perlu dicek kembali untuk kemungkinan adanya kesalahan kode dan scoring yang tidak lengkap, kemudian dilakukan pembetulan atau koreksi.

Proses ini disebut pembersihan data atau (data cleaning).

4.9.2 Teknik Analisis Data a. Analisa Univariat

1. Distribusi frekuensi dalam penelitian ini untuk data kategorik sebagai berikut: usia, jenis kelamin, dan sumber informasi perawatan sinkop dan epistaksis

P = Ʃƒ/Nx100%

P: populasi ƒ: frekuensi

2. Uji Kenormalan Data

Untuk mengetahui normalitas data perlu dilakukan uji normalitas dengan menggunakan nilai Kolmogorov-smirnov dan standar errornya, bila nilai Kolmogorov-smirnov dibagi standar errornya menghasilkan angka ≤ 2, maka distribusinya normal.

b. Analisa Bivariat (Uji Hipotesis)

Analisa bivariat dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh dua variabel yang meliputi variabel bebas dan variabel terikat. Dalam penelitian ini, analisa bivariat digunakan untuk mengetahui pengaruh pendidikan kesehatan terhadap keterampilan perawatan sinkop dan epistaksis pada siswa (pretest dan posttest) dan data berskala ordinal dengan menggunakan uji wilcoxon test.

Penelitian ini menggunakan teknik analisa data Uji wilcoxon test. Penggunaan wilcoxon test adalah untuk menguji pengaruh suatu perlakuan terhadap suatu besaran variabel yang ingin ditentukan. Rancangan ini paling umum dikenal dengan rancangan rata-rata nilai post test dari suatu sampel. Level yang sering digunakan untuk standar error adalah 0,05.

Uji wilcoxon test dapat dilakukan dengan program spss 2016 yaitu dengan nilai α = 0,05. Dengan kesimpulan:

1. H1 diterima jika pendidikan kesehatan berpengaruh terhadap keterampilan perawatan sinkop dan epistaksis.

2. H1 ditolak jika pendidikan kesehatan tidak berpengaruh terhadap keterampilan perawatan sinkop dan epistaksis.

4.11 Etika Penelitian

Nursalam (2008) mengatakan setiap penelitian yang menggunakan subjek manusia tidak boleh bertentangan dengan etika sehingga diperlukan:

a. Lembar persetujuan menjadi responden (informed consent)

Lembar persetujuan menjadi responden diberikan kepada subjek yang akan diteliti. Peneliti menjelaskan maksud dan tujuan riset yang akan dilakukan.

Jika bersedia diteliti harus menandatangani lembar persetujuan dan tetap menghormati hak-haknya.

b. Tanpa nama (Anonymity)

Untuk menjaga kerahasiaan, peneliti tidak mecantumkan nama pada lembar pengumpulan data, cukup dengan memberi nomor kode pada masing-masing lembar tersebut.

c. Kerahasiaan (Confidentiality)

Kerahasiaan dijamin oleh peneliti, karena kelompok data tertentu saja yang akan disajikan atau dilaporkan sebagai hasil riset.

60 BAB 5

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Pada bab ini penulis menyajikan hasil dan pembahasan penelitian tentang pengaruh pendidikan kesehatan terhadap keterampilan perawatan sinkop dan epistaksis pada siswa di MI Plus Bunga Bangsa Kecamatan Dolopo Kabupaten Madiun. Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 27 April sampai 30 April 2018, penelitian ini dilakukan di MI Plus Bunga Bangsa Kecamatan Dolopo Kabupaten Madiun. Pengumpulan data dilakukan pada 55 siswa yang menjadi petugas UKS di MI Plus Bunga Bangsa Dolopo Kabupaten Madiun. Hari pertama tanggal 27 April 2018 peneliti melakukan pretest pada seluruh responden untuk mengukur tingkat keterampilan dalam perawatan sinkop dan epistaksis. Setelah diberikan pre test, pada hari yang sama peneliti memberikan pendidikan kesehatan perawatan sinkop dan epistaksis. Kemudian pada tanggal 30 April 2018 peneliti memberikan post test

berupa lembar observasi yang sama dengan pretest untuk melihat perubahan keterampilan siswa dalam perawatan sinkop dan epistaksis. Data hasil penelitian dibagi menjadi dua bagian, yaitu: data umum dan data khusus. Data umum akan menyajikan mengenai karakteristik responden berdasarkan umur, jenis kelamin, status tempat tinggal, sumber informasi sinkop dan epistaksis, sedangkan data khususnya menyajikan hasil perubahan keterampilan siswa dalam perawatan sinkop dan epistaksis sebelum dan sesudah dilakukan pendidikan kesehatan dan hasil uji

statistik Wilcoxon test untuk mengetahui pengaruh pendidikan kesehatan terhadap keterampilan siswa dalam perawatan sinkop dan epistaksis.

5.1 Hasil Penelitian

5.1.1 Gambaran dan Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian berada di Kecamatan Dolopo Kabupaten Madiun, Jawa Timur. Sekolah MI Plus Bunga Bangsa mempunyai 13 kelas. Kegiatan dari UKS di sekolah ini adalah pemeriksaan kebersihan diri yaitu meliputi pmeriksaan kebersihan gigi dan mulut, rambut, kuku, mata, telinga, dan pakaian yang dilakukan 2 bulan sekali kepada seluruh siswanya. Pengambilan sampel data dilakukan dengan mengambil sampel dari kelas 5 yang menjadi petugas UKS MI Plus Bunga Bangsa Kecamatan Dolopo Kabupaten Madiun. Responden sebelumnya belum pernah mendapatkan pendidikan kesehatan tentang sinkop dan epistaksis dari petugas kesehatan seperti puskesmas dan sebagainya.

Penelitian Pengaruh Pendidikan Kesehatan Terhadap Keterampilan Perawatan Sinkop dan Epistaksis di Desa Kecamatan Dolopo Kabupaten Madiun mulai dilaksanakan tanggal 27 April sampai 30 April 2018. Dengan besar sampel 55 siswa yang diberikan Pedidikan Kesahatan. Pemilihan responden dilaksanakan sesuai kriteria inklusi dan secara acak dengan pengundian kertas yang digulung, kemudian kemudian diberikan penjelasan tentang penelitian meliputi tujuan, manfaat, dan resiko yang ada dari penelitian yang akan dilakukan, apabila siswa tersebut bersedia menjadi responden penelitian ini maka menandatangani lembar persetujuan (inform consent).

Dokumen terkait