• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 5 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

5.2 Pembahasan

5.2.1 Tingkat keterampilan perawatan sinkop dan epistaksis sebelum dilakukan Pendidikan Kesehatan

Hasil penelitian yang dilakukan pada 55 responden di MI Plus Bunga Bangsa Dolopo Kabupaten Madiun, berdasarkan tabel 5.5 dapat diketahui bahwa sebagian besar responden yaitu 34 responden (61,8 %) memiliki keterampilan perawatan sinkop dan epistaksis yang kurang sebelum dilakukan Pendidikan Kesehatan.

Keterampilan untuk perawatan sinkop kurang, dilihat dari keterampilan pada point 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9 dan 10 pada SOP perawatan sinkop.

Data yang didapat di MI Plus Bunga Bangsa menunjukkan bahwa kemampuan dalam tindakan perawatan memindahkan korban ke tempat yang aman, teduh, dan tidak berada dalam keramaian, menekan dahi korban, mengangkat sudut rahang bawah korban, periksa napas melalui hidung, lihat pergerakan dada, rabi nadi yang ada pada leher, menaikkan tungkai korban 15 - 30 cm, melonggarkan pakaian yang ketat, dan memperhatikan cedera pada korban jatuh masih belum sempurna. Sedangkan untuk keterampilan perawatan epistaksis kurang dilihat dari point 14, 15, 16, 17, 18, 19, 20, 21, dan 22 pada SOP perawatan epistaksis. Siswa di MI Plus Bunga Bangsa menunjukkan kemampuan dalam perawatan menyiapkan 2 buah mangkok, menyiapkan air suam-suam kuku, menjelaskan pada korban tujuan tindakan yang akan dilakukan, megatur lingkungan sekitar korban, menyuruh korban duduk dan tubuhnya dicondongkan ke depan, meminta bernapas melalui mulut, memencet hidung korban selama 10 menit, meminta korban meludahkan cairan berlebih, dan memencet kembali hidung korban selama 10 menit masih belum sempurna.

Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi keterampilan seseorang menurut Widyatun (2005) adalah motivasi, pengalaman, dan keahlian.

Pengalaman mendapatkan informasi melalui pendidikan kesehatan dari sumber informasi yang akurat dapat meningkatkan keterampilan seseorang

dalam melakukan suatu prosedur. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Purwanto (2010) yang mengemukakan bahwa pengalaman merupakan salah satu faktor intern yang mempengaruhi pengetahuan seseorang. Situasi dan sifat-sifat orang dilingkungannya yang dekat responden juga mempengaruhi responden tentang pengetahuan perawatan sinkop dan epistaksis di sekolah.

Dari uraian di atas peneliti berpendapat bahwa dalam melakukan suatu pertolongan gawat darurat yang dilakukan, petugas UKS MI Plus Bunga Bangsa belum memiliki keahlian dalam melakukan perawatan sinkop dan epistaksis. Oleh karena itu perlu adanya suatu pelatihan yang dapat meningkatkan keterampilan setiap anggotanya. Pendidikan kesehatan yang berisi praktek demonstrasi memberikan pengalaman dan keahlian di suatu bidang tertentu. Diharapkan siswa yang mendapatkan pendidikan kesehatan sinkop dan epistaksis agar memiliki keterampilan yang baik.

5.2.2 Tingkat keterampilan perawatan sinkop dan epistaksis sesudah dilakukan Pendidikan Kesehatan

Hasil penelitian yang dilakukan pada 55 responden di MI Plus Bunga Bangsa Dolopo Kabupaten Madiun, berdasarkan tabel 5.6 dapat diketahui responden yang telah diberikan intervensi Pendidikan Kesehatan sebagian besar menunjukkan keterampilan perawatan sinkop dan epistaksis yang baik yang berjumlah 41 responden (74,5 %).

Setelah dilakukan pendidikan kesehatan keterampilan siswa untuk melakukan perawatan sinkop mengalami peningkatan, yaitu pada point 3, 4, 5,

6, 7, 8, 9 dan 10 yang berisi tindakan memindahkan korban ke tempat yang aman, teduh, dan tidak berada dalam keramaian, menekan dahi korban, mengangkat sudut rahang bawah korban, periksa napas melalui hidung, lihat pergerakan dada, rabi nadi yang ada pada leher, menaikkan tungkai korban 15 - 30 cm, melonggarkan pakaian yang ketat, dan memperhatikan cedera pada korban jatuh. Siswa yang sebelumnya banyak yang mendapatkan skor 1 setelah diberikan pendidikan kesehatan banyak yang mendapatkan skor 3 dan 4 pada lembar observasinya. Hal tersebut juga terjadi pada keterampilan perawatan epistaksis siswa mengalami peningkatan dalam keterampilannya, yaitu pada point 14, 15, 16, 17, 18, 19, 20, 21, dan 22 yang berisi menyiapkan 2 buah mangkok, menyiapkan air suam-suam kuku, menjelaskan pada korban tujuan tindakan yang akan dilakukan, megatur lingkungan sekitar korban, menyuruh korban duduk dan tubuhnya dicondongkan ke depan, meminta bernapas melalui mulut, memencet hidung korban selama 10 menit, meminta korban meludahkan cairan berlebih, dan memencet kembali hidung korban selama 10 menit, siswa yang sebelumnya banyak mendapatkan skor 1 setelah diberikan pendidikan kesehatan banyak yang mendapatkan skor 3 dan 4.

Perubahan tingkat keterampilan ini disebabkan karena pada pendidikan kesehatan terdapat pemberian informasi, dimana didalamnya ada proses belajar. Proses belajar menurut Notoatmodjo (2010), dapat diartikan sebagai proses untuk menambah pengetahuan, pemahaman, dan keterampilan yang dapat diperoleh dari pengalaman atau melakukan studi (proses belajar

mengajar). Dengan belajar individu diharapkan mampu menggali apa yang terpendam dalam dirinya dengan mendorong untuk berpikir dan mengembangkan kepribadiannya dengan membebaskan diri dari ketidaktahuannya. Menurut (Budiman dan Agus Riyanto, 2014), informasi yang diperoleh baik dari pendidikan formal maupun nonformal dapat memberikan pengaruh sehingga menghasilkan perubahan atau peningkatan pengetahuan. Hal ini sejalan dengan tujuan dilakukannya penyuluhan kesehatan yang dikemukakan oleh Notoatmodjo (2010), yakni peningkatan perilaku masyarakat di bidang kesehatan, tercapainya perubahan perilaku, individu, keluarga dan masyarakat sebagai sasaran utama penyuluhan kesehatan dalam membina perilaku sehat dan lingkungan sehat serta berperan aktif dalam upaya meningkatkan derajat kesehatan yang optimal sesuai dengan konsep sehat sehingga dapat menurunkan angka kesakitan dan kematian.

Dari uraian di atas peneliti menyimpulkan perubahan tingkat keterampilan menunjukkan bahwa pendidikan kesehatan sangat berpengaruh terhadap tingkat keterampilan responden dalam melakukan perawatan sinkop dan epistaksis. Kemampuan merawat seseorang yang mengalami sinkop dan epistaksis harus cepat, tepat, dan benar, sehingga tidak berdampak kekurangan oksigen dan darah sampai mengalami kematian.

5.2.3 Pengaruh Pendidikan Kesehatan terhadap keterampilan perawatan sinkop dan epistaksis

Pengaruh pendidikan kesehatan terhadap keterampilan siswa dalam perawatan sinkop dan epistaksis telah dilakukan uji statistik wilcoxon pada tingkat kemaknaan α (0,05) dengan nilai (p) yang diperoleh sebesar 0,000, karena nilai (p) lebih kecil dari nilai (α), maka Ho ditolak H1 diterima, yang berarti ada pengaruh yang signifikan antara pendidikan kesehatan terhadap keterampilan perawatan sinkop dan epistaksis. Kesimpulannya adalah ada pengaruh pendidikan kesehatan terhadap keterampilan perawatan sinkop dan epistaksis pada siswa di MI Plus Bunga Bangsa Dolopo Kabupaten Madiun.

Proses Pendidikan Kesehatan yang efektif menuju tercapainya tujuan penelitian dipengaruhi beberapa faktor, yaitu metode pendidikan, materi, pesan yang terkandung dalam kegiatan tersebut (Notoatmodjo, 2010).

Penyampaian pendidikan kesehatan dapat dilakukan melalui berbagai metode.

Menurut Notoatmodjo (2010), pemilihan metode pendidikan harus mempertimbangkan keterbatasan waktu, biaya, tenaga, sarana serta kondisi peserta pendidikan. Metode pendidikan yang digunakan pada penelitian ini adalah metode ceramah dan demonstrasi. Menurt Hasibuan (2009), metode ceramah adalah suatu cara dalam menerangkan dan menjelaskan ide pengertian atau pesan secara lisan kepada individu atau kelompok sasaran sehingga memperoleh informasi tentang kesehatan. Metode demontrasi juga berperan sangat penting dalam penelitian ini karena metode yang digunakan memperagakan atau memperlihatkan bagaimana jalannya suatu proses terjadinya kegiatan. Metode demonstrasi merupakan metode mengajar yang

sangat efektif dikarenakan mempermudah para responden untuk menerapkan ilmu secara langsung (Sudjana, 2010).

Berdasarkan uraian di atas peneliti menyimpulkan bahwa dilakukannya pendidikan kesehatan dengan metode ceramah dan demonstrasi dapat diterima dalam proses belajar siswa siswi dengan lebih mudah karena mereka bisa melihat secara langsung dan dengan mencoba mempraktekkan secara bergantian sehingga merubah keterampilan perawatan sinkop dan epistaksis pada siswa MI Plus Bunga Bangsa Kecamatan Dolopo Kabupaten madiun menjadi lebih baik.

73 BAB 6

KESIMPULAN DAN SARAN

Pada bab ini akan disajikan kesimpulan dan saran dari hasil penelitian yang berjudul ”Pengaruh Pendidikan Kesehatan Terhadap Keterampilan Perawatan Sinkop dan Epistaksis pada Siswa di MI Plus Bunga Bangsa Kecamatan Dolopo Kabupaten Madiun”

6.1 Kesimpulan

Berdasarkan pengumpulan data, analisa dan pembahasan dapat disimpulkan sebagai berikut:

1. Tingkat keterampilan perawatan sinkop dan epistaksis siswa di MI Plus Bunga Bangsa Dolopo Kabupaten Madiun sebelum dilakukan Pendidikan Kesehatan sebagian besar cukup yaitu 34 responden (61,8 %).

2. Tingkat keterampilan perawatan sinkop dan epistaksis siswa di MI Plus Bunga Bangsa Dolopo Kabupaten Madiun sesudah dilakukan Pendidikan Kesehatan sebagian besar baik yaitu 41 responden (74,5 %).

3. Ada pengaruh Pendidikan Kesehatan terhadap keterampilan perawatan sinkop dan epistaksis di MI Plus Bunga Bangsa Kecamatan Dolopo Kabupaten Madiun.

6.2 Saran

1. Bagi guru pembina UKS MI Plus Bunga Bangsa

Diharapkan dapat dijadikan sebagai penyuluhan tentang sinkop dan epistaksis untuk meningkatkan perawatannya yang sesuai dengan teori.

2. Bagi Petugas UKS

Setelah pemberian Pendidikan Kesehatan disarankan kepada petugas kesehatan sekolah mempraktekkan perawatan sinkop dan epistaksis sesuai SOP sesuai dengan penelitian ini.

3. Bagi peneliti selanjutnya

Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sumber referensi bagi peneliti selanjutnya dan dapat dikembangkan di tempat lain dengan metode penelitian yang berbeda.

DAFTAR PUSTAKA

Adam GL, Boies LR, Higler PA. 1997. (eds) Buku Ajar Penyakit THT, Edisi Keenam, Philadelphia : WB Saunders, 1989. Editor Effendi H. Cetakan III.

Jakarta: EGC.

Agus, Riyanto dan Budiman. 2013. Kapita Selekta Kuesioner Pengetahuan dan Sikap dalam Penelitian Kesehatan. Jakarta: Salemba Medika.

Atmodiwiro, Soebagio. 2000. Manajemen Pendidikan. Jakarta: PT. Ardadizya.

Azwar, Saifuddin. 2011. Sikap Manusia Teori dan Pengukurannya. Yogyakarta:

Pustaka Pelajar.

Budiman, B, Al Hafiz. 2011. Epistaksis Berulang dengan Rinosinusitis Kronik, Spina, pada Septum dan Telengiektasis, Jurnal. Prodi Kedokteran Universitas Andalas Padang. http (diakses 28 Desember 2018)

Corwin, Elisabeth J. 2009. Buku Saku Patofisiologi. Jakarta: EGC.

Daryanto S.S. 1997. Kamus Bahasa Indonesia Lengkap. Surabaya: Apollo.

Darmasto, Tri. 2015. Pengaruh Pendidikan Kesehatan Tentang Pertolongan Pertama Epistaksis Terhadap Pengetahuan Guru Dalam Penanganan Pertama Epistaksis Pada Siswa SDN Kelurahan Jatisari Sambi Boyolali. Jurnal.Prodi Keperawatan Stikes Kusuma Husada Surakarta. http (diakses 28 Desember 2017).

Dewanto, Suwono, Priyanto dan Turana, Yuda. 2009. Panduan Praktis Diagnosis dan Tatalaksana Penyakit Syaraf. Jakarta: EGC.

Freeman R, Nosebleed. 2007. Health Information Home (Serial Online).

http://my.clevelandclinic.org/disorders/Nosebleed/hic_Nosebleed_Epistaxis.

aspx. (diakses 18 Januari 2018).

Gaggioli G, Laffi M, Montemanni M, Mocini A, Rubartelli P, Brignole M. 2013.

Risk of Syncope During Work. Clinical Research.

DOI:10.1093/europace/eut247. (diakses 05 Januari 2018).

Ginsberg, Lionel. 2009. Lecture Notes Neurologi. Jakarta: Erlangga.

Hagen, Philip, Millman. 2013. Kitab Sehat Mayo Clinic. Jakarta: Mizan Publika.

Iverson. 2001. Keterampilan Dasar. Jakarta: PT. Grapindo Persada.

Kindersley, Dorling. 2009. Pertolongan Pertama Untuk Bayi Dan Anak. Jakarta:

Erlangga.

Munir, Delfitri, Haryono, Yuritna, Rambe, Andrina Y.M. 2006. Departemen Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok, Bedah Kepala Leher Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara. Sumatera Utara: Majalah Kedokteran Nusantara

Mangunkusumo E, Wardani RS. Epistaksis. Dalam: Soepardi. EA, Iskandar N, Bashiruddin J, Restuti RD, Editors. 2007. Buku Ajar Telinga Hidung Tenggorok Kepala dan Leher. Edisi Keenam. Jakarta: FKUI.

Notoatmodjo, S. 2010. Promosi Kesehatan Teori dan Aplikasi. Jakarta : Rinerika Cipta.

Notoatmodjo, S. 2012. Promosi Kesehatan Teori dan Aplikasi. Jakarta : Rinerika Cipta.

Ntusi N A B, Coccia C B I, Cipido BJ, Chin A. 2015. An Approach To The Clinical Assesment And Management Of Syncope In Adults. Continuing Medical Education. DOI:10.7196/SAMJnew.8065. (diakses tanggal 18 Januari 2018).

Nursalam. 2016. Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan. Edisi 4. Jakarta: Salemba Medika

Punagi, Abdul Qadar. 2017. Epistaksis Diagnosis dan Penatalaksanaan Terkini.

Sulawesi Selatan: Digi Pustaka.

Rafknowledge. 2004. Insomnia dan Gangguan Tidur Lainnya. Jakarta: Elex Media Komputindo.

Robbins. 2000. Keterampilan Dasar. Jakarta: PT. Raja Grafindo.

Rubenstein, David, dkk. 2007. Lectures Notes Kedokteran Klinis. Dialih bahasakan Oleh Yasmin, Asih, dkk. Jakarta: EGC.

Saputra, Eka. 2015. Pengaruh Pendidikan Kesehatan Terhadap Keterampilan Guru Dalam Melakukan Pertolongan Pertama Pada Siswa Yang Mengalami Pingsan (sinkop) Di SD Muhammadiyah Tamantirto Bantul Yogyakarta.

Jurnal. Prodi S1 Keperawatan. Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

http. (diakses tanggal 28 Desember 2017).

Saedi S, Oraii S & Hajsheikholeslami F. 2013. A Cross Sectional Study on Prevalence and Etiology of Syncope in Tehran. Acta Medica Iranica.

(diakses 2 Januari 2018).

Saragih, F,.S. 2010. Pengaruh Penyuluhan Terhadap Pengetahuan dan Sikap Ibu Tentang Makanan Sehat dan Gizi Seimbang di Desa Merek Raya Kecamatan Raya Kabupaten Simalungun Tahun 2010. Skripsi. Universitas Sumatera Utara ( USU )

Saubers, Nadin. 2011. Semua yang Harus Anda Ketahui Tentang P3K. Yogyakarta:

Mitra Setia.

Setyohadi, B. 2015. Kegawatdaruratan Penyakit Dalam. Jakarta: Interna Publishing.

Soepardi, dkk. 2007. Buku Ajar Telinga Hidung Tenggorok Kepala & Leher. Edisi keenam. Jakarta: FKUI.

Sudjana. 2010. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya

Sukanta, Putu Oka. 2008. Pijat Akupresur Untuk Kesehatan. Jakarta: Penebar Plus.

Thygerson, Alton. 2011. Pertolongan Pertama. Jakarta: Erlangga.

Widyatun. 2005. Ilmu Perilaku, Cetakan Pertama. Jakarta: Rineka Cipta.

Lampiran 1

Lampiran 2

Lampiran 3

LEMBAR PERMOHONAN MENJADI RESPONDEN Kepada

Yth. Calon Responden Di Tempat

Dengan hormat,

Saya yang bertanda tangan di bawah ini adalah mahasiswa Program Studi Ilmu Keperawatan STIKES Bhakti Husada Mulia Madiun,

Nama : Nur Aulia Rizki NIM : 201402094

Bermaksud melakukan penelitian berjudul “Pengaruh Pendidikan Kesehatan Terhadap Keterampilan Perawatan Sinkop dan Epistaksis pada siswa di MI Plus Bunga Bangsa Dolopo Kabupaten Madiun”. Sehubungan dengan ini, saya mohon kesediaan saudara untuk menjadi responden dalam penelitian yang akan saya lakukan. Kerahasiaan data pribadi saudara akan sangat kami jaga dan informasi yang akan saya gunakan untuk kepentingan penelitian.

Demikian permohonan saya, atas perhatian dan kesediaan saudara saya ucapkan terimakasih.

Madiun, April 2018

Nur Aulia Rizki 201402094

LEMBAR PERSETUJUAN MENJADI RESPONDEN (Informed Consent)

Yang bertanda tangan dibawah ini :

Nama :

Umur :

Alamat :

Setelah saya mendapatkan penjelasan mengenai tujuan, manfaat, jaminan kerahasiaan dan tidak adanya resiko dalam penelitian yang akan dilakukan oleh mahasiswa Program Studi Keperawatan STIKES Bhakti Husada Mulia Madiun yang bernama Nur Aulia Rizki mengenai berjudul “Pengaruh Pendidikan Kesehatan Terhadap Keterampilan Perawatan Sinkop dan Epistaksis pada siswa di MI Plus Bunga Bangsa Dolopo Kabupaten Madiun”. Saya mengetahui informasi yang akan saya berikan ini sangat bermanfaat bagi pengetahuan keperawatan di Indonesia. Untuk itu saya akan memberikan data yang diperlukan dengan sebenar- benarnya. Demikian pernyataan ini saya buat untuk dipergunakan sesuai keperluan.

Madiun, April 2018 Responden

……….

Lampiran 4

DATA DEMOGRAFI SISWA MI PLUS BUNGA BANGSA

Tanggal praktek : No responden : A. Identitas Responden

Jawablah beberapa pertanyaan ini sebagai identitas diri anda, yaitu sebagai berikut:

1. Inisial nama :

2. Umur :

10 tahun 11 tahun 12 tahun

3. Jenis kelamin

Laki-laki Perempuan 4. Status tempat tinggal

Bersama orang tua Menumpang saudara

5. Sumber informasi tentang sinkop dan epistaksis Dari guru

Dari tenaga kesehatan Dari Koran

Dari majalah Dari TV Dari radio Dari internet

Lampiran 5

SOP (STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR) PERAWATAN KORBAN SINKOP (PINGSAN)

Pengertian Suatu tindakan perawatan pada korban yang mengalami pingsan untuk menyetabilkan keadaan korban agar segera sadar

Tujuan - Memperbaiki aliran darah ke otak

- Menenangkan dan memberikan rasa nyaman korban setelah sadar

Prosedur Uraian Skor

1 2 3 4

I. Persiapan alat:

1. Bantal (opsional)

II. Persiapan korban dan lingkungan:

2. Atur lingkungan sekitar korban 3. Pindahkan korban ke tempat yang

aman, teduh, dan tidak berada dalam keramaian

III. Pelaksanaan - Buka jalan napas

4. Tekan dahi korban

5. Angkat sudut rahang bawah korban - Periksa pernapasan

6. Periksa napas melalui hidung 7. Lihat pergerakan dada

8. Raba nadi yang ada pada leher 9. Naikkan tungkai korban 15-30 cm 10. Longgarkan pakaian yang ketat IV. Hal yang perlu diperhatikan:

11. Jika korban terjatuh, periksa apakah ada cedera

12. Jika korban muntah, letakkan kepalanya dalam kedudukan miring untuk mencegah muntahan terselak masuk ke paru-paru

 Petunjuk pengisian skor dengan tanda checklist:

1 = tidak dilakukan 2 = dilakukan sebagian

3 = dilakukan semua tapi belum sempurna 4 = dilakukan sempurna

 Skor penilaian kemampuan:

Baik : x ≥ 36 Cukup : 24 ≤ x < 36 Kurang : x < 24

 Jumlah skor penilaian keterampilan perawatan sinkop:

 Masuk dalam kategori:

SOP (STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR) PERAWATAN KORBAN EPISTAKSIS (MIMISAN)

Pengertian Suatu tindakan perawatan pada korban yang mengalami perdarahan dari hidung yang sering ditemukan sehari-hari

Tujuan - Perdarahan segera berhenti

- Mencegah darah masuk ke saluran pernapasan - Tidak terjadi pembengkakan di area hidung

Prosedur Uraian Skor

1 2 3 4

I. Persiapan alat:

1. Kapas

2. Mangkok 2 buah 3. Air suam-suam kuku

II. Persiapan korban dan lingkungan 4. Jelaskan pada korban tujuan

tindakan yang akan dilakukan 5. Atur lingkungan sekitar korban III. Pelaksanaan

6. Korban didudukkan dan tubuhnya di condongkan ke depan.

7. Mintalah bernapas melalui mulut dan

8. Pencet hidung korban selama 10 menit

9. Minta korban meludahkan cairan berlebih

10. Pencet kembali hidungnya selama 10 menit. Jika masih berdarah, pencet lagi

11. Setelah perdarahan berhenti, gunakan kapas yang dibasahi air

suam-suam kuku untuk

membersihkan wajahnya.

IV. Hal yang perlu diperhatikan

12. Untuk perdarahan besar dan tidak mau segera berhenti, segera bawa ke dokter

 Petunjuk pengisian skor dengan tanda checklist:

1 = tidak dilakukan 2 = dilakukan sebagian

3 = dilakukan semua tapi belum sempurna 4 = dilakukan sempurna

 Skor penilaian kemampuan:

Baik : x ≥ 36 Cukup : 24 ≤ x < 36 Kurang : x < 24

 Jumlah skor penilaian keterampilan perawatan epistaksis:

 Masuk dalam kategori:

Lampiran 6

SATUAN ACARA PENYULUHAN PERAWATAN SINKOP DAN EPISTAKSIS

I. Latar Belakang

Kejadian sinkop dan epistaksis pada siswa disekolah bisa terjadi sewaktu- waktu, oleh karena itu siswa sekolah sebaiknya mampu menguasai penatalaksaannya melalui pertolongan pertama. Di Amerika diperkirakan 3% dari kunjungan pasien di gawat darurat disebabkan oleh sinkop dan merupakan 6%

alasan seseorang datang ke rumah sakit. Epistaksis dapat terjadi pada segala umur, terutama terjadi pada anak-anak dan usia lanjut. Prevalensi epistaksis meningkat pada anak-anak usia di bawah 10 tahun dan meningkat kembali di usia 35 tahun keatas. Studi pendahuluan yang dilakukan di MI Plus Bunga Bangsa didapatkan kejadian sinkop dalam sebulan dialami 4 siswa (1,07%) dari 372 siswa dan untuk kejadian epistaksis dalam sebulan dialami 5 siswa (1,3%) dari 372 siswa.

Perawatan yang dilakukan petugas UKS belum sesuai dengan perawatan menurut teori yang benar dan hanya sekedarnya.

Upaya meningkatkan keterampilan siswa dalam perawatan sinkop dan epistaksis ini yaitu dengan dilakukanya pendidikan kesehatan.

II. Tujuan Instruksional Umum

Setelah mengikuti pendidikan kesehatan, para siswa petugas UKS mampu memahami dan meningkatkan keterampilan dalam perawatan sinkop dan epistaksis.

III. Tujuan Instruksional Khusus

Setelah mengikuti pendidikan kesehatan selama 3 jam 35 menit, para siswa petugas UKS mampu memahami dan meningkatkan kemampuannya dalam perawatan sinkop dan epistaksis.

1. Menyebutkan pengertian sinkop dan epistaksis

2. Menyebutkan etiologi/penyebab terjadinya sinkop dan epistaksis 3. Menyebutkan tanda dan gejala sinkop dan epistaksis

4. Menyebutkan jenis sinkop dan epistaksis

5. Mempraktekkan cara perawatan sinkop dan epistaksis sesuai SOP IV. Sasaran

Semua petugas UKS MI Plus Bunga Bangsa Dolopo Kabupaten Madiun yang beranggotakan kelas 5.

V. Tempat

Ruang kelas MI Plus Bunga Bangsa Dolopo Kabupaten Madiun VI. Waktu

Bulan 27 - 30 April 2018 VII. Narasumber

Leader : Nur Aulia Rizki Moderator : Indah Budi Lestari Observer : Diah Ayu Kumala Dewi Materi : Dalam bentuk leaflet

VIII. Metode 1. Ceramah 2. Tanya jawab 3. Demonstrasi

IX. Media dan Alat Pengajaran

1. Materi perawatan sinkop dan epistaksis

2. Perlengkapan perawatan sinkop dan epistaksis yaitu:

a. SOP Perawatan sinkop b. SOP Perawatan epistaksis X. Kegiatan Penyuluhan

No Tanggal dan Waktu

Kegiatan pendidikan kesehatan Kegiatan peserta

1 27 April 2018 Pembukaan 1 jam

Memberikan salam Perkenalan

Menjelaskan tujuan penyuluhan Memberikan pretest berupa SOP tentang perawatan sinkop dan epistaksis

Menyebutkan tema materi penyuluhan

Menjawab salam Mendengarkan dan memperhatikan Mempraktekkan SOP sebagai pretest

2 30 April 2018 Inti 30 menit

Menanyakan (review) kepada siswa petugas UKS perawatan sinkop dan epistaksis sesuai pengetahuan mereka Menjelaskan materi perawatan sinkop dan epistaksis

a. Pengertian b. Etiologi/penyebab c. Jenis

d. Tanda gejala

e. Perawatan sinkop dan epistaksis Demonstrasi cara merawat sinkop dan epistaksis

menjawab pertanyaan penyuluh

mendengarkan dan memperhatikan bertanya pada penyuluh bila masih ada yang kurang jelas ikut berpartisipasi aktif dalam demontrasi

3 30 April 2018 Evaluasi 1 jam

Meminta siswa untuk menjawab pertanyaan penyuluh

Meminta setiap siswa untuk mempraktekkan cara perawatan sinkop dan epistaksis dan dinilai keterampilannya

Memberika reward jika menjawab dan mempraktekkan dengan benar dan membetulkan jika masih ada kekurangan

menyebutkan dan mempraktekkan cara perawatan sinkop dan epistaksis

4 Penutup 5 menit

Mengucapkan terima kasih dan salam memperhatikan menjawab salam

VIII. Referensi

Lampiran Materi SAP Pendidikan Kesehatan Perawatan Sinkop dan Epistaksis

1. Konsep Sinkop 1.1 Pengertian Sinkop

Jatuh pingsan adalah hilangnya kesadaran dan kontrol otot untuk sesaat, yaitu beberapa detik sampai beberapa menit yang mengakibatkan seseorang jatuh secara mendadak (Saubers, 2011).

1.2 Etiologi Sinkop

Menurut Thygerson (2011), sinkop dapat dipicu dari beberapa faktor seperti berikut :

a. Dehidrasi

b. Berdiri terlalu lama

c. Posisi tubuh naik secara mendadak seperti dari jongkok lalu berdiri d. Tekanan emosi

e. Kehilangan darah f. Batuk-batuk g. Hipoglikemia h. Sakit perut

i. Gangguan pada jantung 1.3 Jenis Sinkop

Menurut Iskandar (2011), jenis-jenis sinkop adalah sebagai berikut :

a. Sinkop biasa

Sinkop jenis ini biasanya terjadi pada mereka yang berdiri lama di bawah terik matahari, kekurangan asupan makanan, tidak sarapan pagi terlebih dahulu, atau pada orang-orang tua yang berdiri sesudah berbaring lama di tempat tidur. Pingsan ini juga dapat terjadi karena penyakit anemia (kurang darah), kelelahan, tekanan darah rendah (hipotensi), ketakutan terhadap sesuatu, atau tidak tahan melihat darah

b. Sinkop karena panas (Heat Exhaustion)

Sinkop jenis ini terjadi pada mereka yang sehat, namun karena bekerja atau berkegiatan di tempat yang sangat panas sehingga pingsan. Biasanya korban mula-mula merasakan jantung yang berdebar-debar, mual, muntah, sakit kepala, kemudian pingsan. Keringat yang bercucuran pada orang pingsan diudara yang sangat panas merupakan petunjuk yang akurat.

c. Sinkop karena sengatan terik matahari (Heat Stroke)

Sengatan terik matahari terjadi karena kontak langsung dengan matahari dalam jangka waktu yang lama, tubuh bereaksi dengan mengeluarkan keringat banyak dalam waktu yang cukup lama sehingga menyebabkan kelenjar keringat kelelahan dan tidak mampu mengeluarkan keringat lagi.

Hal ini berdampak panas yang mengenai tubuh tidak dihambat oleh pengeluaran keringat yang telah berkurang sehingga terjadi sinkop.

d. Sinkop karena kencing manis (Diabetes Mellitus)

Penderita penyakit kencing manis dapat mengalami sinkop karena dosis

Dokumen terkait