BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
2.4 Konsep Perawatan Epistaksis
2.4.7 Pencegahan Epistaksis
Menurut Freeman (2007), pencegahan epistaksis yaitu dengan cara sebagai berikut : a. Gunakan semprotan hidung atau tetes larutan garam, yang keduanya dapat
dibeli, teteskan pada kedua lubang dua sampai tiga kali dalam sehari.
Untuk membuat tetes larutan ini dapat mencampur satu sendok the garam ke dalam secangkir gelas, didihkan selama 20 menit lalu biarkan sampai hangat kuku
b. Gunakan alat untuk melembabkan udara di rumah
c. Gunakan gel larut air di hidung, oleskan dengan cotton bud. Jangan memasukkan cotton bud melebihi 0,5 – 6cm ke dalam hidung
d. Hindari meniup melalui hidung terlalu keras e. Bersin melalui mulut
f. Hindari memasukkan benda keras ke dalam hidung, termasuk jari
g. Batasi penggunaan obat-obatan yang dapat meningkatkan perdarahan seperti ibuprofen atau aspirin
h. Konsultasi ke dokter jika alergi tidak bisa d tangani oleh obat alergi biasa
i. Berhenti merokok, karena merokok bisa menyebabkan hidung kering dan menyebakan iritasi
2.4.8 Perawatan sederhana pada korban epistaksis
Menurut Kindersley (2009), pertolongan pertama yang dapat dilakukan pada korban epistaksis adalah sebagai berikut:
a. Bantulah korban untuk duduk dengan mencondongkan tubuhnya ke depan. Mintalah untuk bernapas melalui mulutnya. Pencet hidung korban selama 10 menit, kemudian lepaskan.
b. Minta korban untuk meludahkan cairan berlebihan yang ada di mulutnya.
Jika perdarahan belum berhenti, pencet kembali hidungnya selama 10 menit, lalu lepaskan. Jika masih berdarah lagi, pencet lagi.
c. Setelah perdarahan berhenti, gunakan kapas yang telah direndam air suam-suam kuku untuk membersihkan wajah korban. Sarankan korban untuk beristirahat dan tidak meniup hidungnya. Jika dalam beberapa jam setelahnya korban mengorek (atau meniup) hidungnya, perdarahan dapat terjadi kembali.
Gambar 2.5 Perawatan Epistaksis 2.4.9 Anamnesis epistaksis
Menurut Adam et al (1997), anamnesis yang penting ditanyakan pada korban epistaksis adalah:
c. Riwayat perdarahan sebelumnya d. Lokasi terjadinya perdarahan
e. Apakah ada darah yang mengalir ke dalam tenggorokan atau keluar dari hidung bila korban duduk tegak?
f. Frekuensi perdarahan
g. Riwayat gangguan perdarahan dalam keluarga
h. Hipertensi i. Diabetes mellitus j. Penyakit hati
k. Penggunaan antikoagulan
l. Trauma hidung yang belum lama 2.4.10 Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan laboratorium yang perlu dilakukan untuk korban epistaksis adalah:
a. Pemeriksaan darah tepi lengkap b. Fungsi hemostatis
c. Uji faal ginjal dan faal hati
d. Pemeriksaan foto hidung, sinus paranasal, dan nasofaring
e. CT scan dan MRI dapat diindikasikan untuk menentukan adanya rinosinusitis, benda asing, dan neoplasma. Jika diperlukan pemeriksaan radiologi hidung, sinus paranasal dan nasofaring dapat dilakukan setelah keadaan akut dapat diatasi (Soepardi dkk, 2000).
2.2.1 Pencegahan epistaksis berlanjut
Menurut Hagen & Millman (2013), upaya untuk mencegah berlanjutnya epistaksis yaitu dengan cara sebagai berikut:
a. Jangan hembuskan napas dari hidung atau membungkuk sampai beberapa jam setelah perdarahan. Pertahankan kepala lebih tinggi dari posisi jantung anda. Jangan mengorek hidung.
b. Jika perdarahan kembali terjadi, hembuskan napas dengan hati-hati untuk membersihkan hidung dari bekuan darah, dan semprotkan kedua sisi hidung dengan semprotan nasal dengokestan yang mengandung oksimetazolin atau fenilefrin. Jepit hidung anda kembali.
2.5 Sekolah
2.5.1 Pengertian sekolah
Sekolah adalah sistem interaksi sosial suatu organisasi keseluruhan terdiri atas interaksi pribadi terkait dalam suatu hubungan organik (Atmodiwiro, 2000).
Sedangkan menurut undang-undang no. 2 tahun 1989 sekolah adalah satuan pendidikan yang berjenjang dan berkesinambungan untuk menyelenggarakan kegiatan belajar mengajar.
2.5.2 Tanggung jawab sekolah
Sekolah memiliki tanggung jawab yang besar terhadap perkembangan peserta didik dan peningkatan mutu pendidikan di sekolah dengan mendayagunakan komponen-komponen sekolah secara maksimal dalam kehidupan bermasyarakat yang bersifat nyata di sekitarnya (Daryanto, 2007).
2.5.3 Fungsi sekolah
Menurut Simanjuntak (2000), dibidang pendidikan dan sosial sekolah memeliki fungsi yaitu membina dan mengembangkan sikap mental peserta didik dan menyelenggarakan pendidikan yang bermutu dengan melaksanakan pengelolaan komponen-komponen sekolah, melaksanakan administrasi sekolah dan melaksanakan supervise.
Secara garis besar, fungsi sekolah:
a. Mendidik calon warganegara yang dewasa b. Mempersiapkan calon warga masyarakat c. Mengembangkan cita-cita profesi kerja
d. Mempersiapkan calon pembentuk keluarga yang baru e. Pengembangan pribadi (realisasi pribadi)
45 3.1 Kerangka Konseptual
Kerangka konseptual adalah kerangka hubungan antara konsep-konsep yang ingin diamati atau diukur melalui penelitian-penelitian yang dilakukan (Notoatmodjo, 2010)
Pendidikan Kesehatan
Faktor-faktor yang
mempengaruhi pendidikan kesehatan:
1. Tingkat pendidikan 2. Tingkat sosial ekonomi 3. Adat istiadat
4. Kepercayaan masyarakat 5. Ketersediaan waktu di
masyarakat
Sinkop Epistaksis
Siswa
Keterampilan Perawatan
Epistaksis 1. Baik 2. Cukup 3. Kurang Sinkop
1. Baik 2. Cukup 3. Kurang
Keterangan:
: diteliti : berpengaruh
: tidak diteliti
Gambar 3.1 Bagan Kerangka Konsep pengaruh Pendidikan kesehatan terhadap keterampilan perawatan sinkop dan epistaksis di MI Plus Bunga Bangsa Dolopo Madiun
Dari kerangka konsep di atas, faktor yang mempengaruhi pendidikan kesehatan adalah tingkat pendidikan, tingkat sosial ekonomi, adat istiadat, kepercayaan masyarakat, dan ketersediaan waktu di masyarakat (Saragih, 2010). Dari lima faktor tersebut akan mempengaruhi keberhasilan suatu pendidikan kesehatan yang menciptakan keterampilan perawatan pada sinkop dan epistaksis. Tingkat keterampilan perawatan sinkop dan epistaksis ada 3, yaitu baik, cukup, dan kurang.
3.2 Hipotesis Penelitian
Hipotesis adalah jawaban sementara dari rumusan masalah atau pertanyaan penelitian (Nursalam, 2016). Hipotesis pada penelitian ini adalah:
H1 diterima: ada pengaruh pendidikan kesehatan terhadap keterampilan perawatan sinkop dan epistaksis di MI Plus Bunga Bangsa Dolopo Madiun.
H1 ditolak : tidak pengaruh pendidikan kesehatan terhadap keterampilan perawatan sinkop dan epistaksis di MI Plus Bunga Bangsa Dolopo Madiun.
47 4.1 Desain Penelitian
Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah Pra experiment yaitu one group pre test post test design. Adapun desain dalam penelitian ini dapat dijelaskan pada skema sebagai berikut (Nursalam, 2013).
Gambar 4.1 Desain penelitian One Group Pre test Post test Pre test Perlakuan Post test
Keterangan:
01 : sebelum diberikan pendidikan kesehatan sinkop dan epistaksis X : pemberian pendidikan kesehatan sinkop dan epistaksis
02 : setelah diberikan pendidikan kesehatan sinkop dan epistaksis
Dengan randomisasi (R) maka dalam kedua kelompok mempunyai sifat yang sama sebelum dilakukan intervensi (perlakuan). Karena pada kedua kelompok sama pada awalnya, maka perbedaan hasil post test pada kelompok tersebut dapat disebut sebagai pengaruh dari intervensi atau perlakuan (Notoatmodjo, 2012).
01 X 02
4.2 Populasi dan Sampel 4.2.1 Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah semua siswi kelas 5 MI Plus Bunga Bangsa Dolopo Madiun yang berjumlah 64 siswa yang menjadi petugas UKS.
4.2.2 Sampel
Sampel yang diambil dari penelitian ini adalah siswa yang menjadi petugas UKS dan memenuhi kriteria. Besar sampel dihitung menggunakan Rumus Slovin sebagai berikut:
n = N 1 + N (d)2 Keterangan :
n : besar sampel
N : besar populasi
D : tingkat signifikan p (0,05) n = 64
1 + 64(0,05)2 n = 64
1 + 64(0,0025) n = 64
1 + 0,16 n = 64
1,16
n = 55,17 = 55
Sehingga dengam menggunakan rumus diatas maka besar sampel yang diperlukan untuk tingkat keterampilan perawatan sinkop dan epistaksis penelitian ini adalah n=55, yang berarti 55 siswa.
4.2.3 Kriteria sampel
Sampel didapat dari populasi yang memenuhi kriteria inklusi.
a. Kriteria inklusi dalam penelitian ini adalah:
1. Dapat berkomunikasi dengan baik 2. Bersedia menjadi responden penelitian 3. Sehat jasmani dan rohani
b. Kriteria eksklusi adalah siswa yang tidak hadir saat penelitian.
4.3 Teknik Sampling
Dalam penelitian ini menggunakan teknik sampling probabilitas (random sampling). Dengan menggunakan pengambilan sampel secara acak sederhana (simple random sampling), dimana sampel diambil secara acak sehingga semua sampel mempunyai kesempatan yang sama untuk dipilih sebagai sampel dalam penelitian.
Alasan peneliti dalam pemilihan pengambilan sampel secara acak sederhana ini karena populasi bersifat homogen, dan ukuran besar populasi sudah pasti.
4.4 Kerangka Kerja
Gambar 4.2 Kerangka Kerja Penelitian Pengaruh Pendidikan Kesehatan terhadap keterampilan perawatan sinkop dan epistaksis
Populasi Siswa kelas 5 MI Plus Bunga Bangsa Dolopo Madiun sebanyak 64 siswa
yang menjadi petugas UKS
Sampel Siswa kelas 5 MI Plus Bunga Bangsa Dolopo Madiun sebanyak 55 siswa
yang sesuai dengan kriteria inklusi Sampling : Teknik simple random sampling
Desain penelitian : Pra Eksperimen dengan pendekatan one group pretest- posttest
Pengolahan Data pre post test perawatan sinkop dan epistaksis Editing, scoring, coding, tabulating, entry data, cleaning
Analisis data: uji wilcoxon test
Hasil, pembahasan dan kesimpulan pengaruh pendidikan terhadap keterampilan perawatan sinkop dan epistaksis
Pre test Pendidikan kesehatan
sinkop dan epistaksis Post test
4.5 Variabel Penelitian dan Definisi Operasional 4.5.1 Identifikasi Variabel
Dalam penelitian ini terdapat dua variabel yaitu:
1. Variabel Independen (bebas)
Variabel independen dalam penelitian ini adalah Pendidikan Kesehatan 2. Variabel Dependen (terikat)
Variabel dependen dalam penelitian ini adalah Keterampilan Perawatan Sinkop dan Epistaksis.
4.5.2 Definisi Operasional Variabel Definisi
Operasional
Parameter Alat Ukur Skala Skor Independen:
Pendidikan kesehatan
Pemberian penyuluhan tentang kesehatan untuk memberikan infirmasi guna
meningkatka n
pengetahuan sinkop dan epistaksis di
MI Plus
Bunga Bangsa Dolopo Kabupaten Madiun
Pendidikan kesehatan dibagi
menjadi dua:
sebelum dan sesudah mendapat pendidikan kesehatan
1.
- - -
Dependen:
Keterampilan
Reaksi atau respon dari
Keterampilan perawatan
Lembar observasi
Ordinal Skor penilaian
perawatan sinkop dan epistaksis
seorang murid terhadap stimulus atau obyek dalam melakukan perawatan sinkop dan epistaksis di
MI Plus
Bunga Bangsa Dolopo Kabupaten Madiun
menyadarkan korban sinkop dan menghentika n perdarahan pada korban epistaksis
perawatan sinkop dan lembar observasi Perawatan epistaksis
kemampuan :
Baik: x ≥36 Cukup: 24 ≤ x < 36 Kurang: x <
24 (Azwar, 2011)
4.6 Instrumen Penelitian
Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah lembar observasi dan SOP perawatan sinkop dan epistaksis. Lembar observasi diisi sesuai dengan keterampilan siswa dalam mempraktekkan perawatan sinkop dan epistaksis yang ada di SOP.
4.7 Lokasi Penelitian
Penelitian ini akan dilaksanakan di MI Plus Bunga Bangsa Kecamatan Dolopo Kabupaten Madiun.
4.8 Waktu Penelitian
Waktu penelitian dilakukan pada bulan April sampai Juli 2018.
4.9 Prosedur Pengumpulan Data
a. Menyampaikan persetujuan judul penelitian sebagai pengantar surat permohonan izin melaksanakan penelitian kepada ketua STIKES Bhakti
Husada Mulia Madiun untuk melakukan penelitian di MI Plus Bunga Bangsa Dolopo Madiun.
b. Menyampaikan surat permohonan ijin melaksanakan penelitian kepada bagian Instansi kantor MI Plus Bunga Bangsa untuk melaksanakan penelitian di MI Plus Bunga Bangsa
c. Pelaksanaan penelitian di MI Plus Bunga Bangsa Dolopo Madiun.
d. Sebelum penelitian dilakukan, peneliti menberikan penjelasan kepada responden tentang tujuan, manfaat, prosedur penelitian, serta kontrak waktu dan meminta inform consent. Kontrak waktu diperlukan untuk menghindari adanya responden yang drop out pada saat penelitian berlangsung.
e. Setelah menyetujui penelitian responden yang setuju diminta menandatangani surat pernyataan kesediaan menjadi responden.
f. Untuk melihat tingkat keterampilan perawatan siswa, peneliti memberikan pre test tentang SOP perawatan sinkop dan epistaksis.
g. Kemudian dilakukan penyuluhan tentang perawatan sinkop dan epistaksis sesuai dengan SOP.
h. Setelah itu, peneliti memberikan post test tentang SOP perawatan sinkop dan epistaksis untuk mengetahui tingkat keterampilan setelah dilakukan penyuluhan.
i. Untuk pengumpulan data (fakta/kenyataan hidup) diperlukan adanya alat dan cara pengumpulan data yang valid, andal (reliabel), dan aktual.
j. Standar operasional prosedur yang telah dipraktekkan dan diisi, kemudian dikumpulkan dan diolah lalu diperiksa kelengkapan oleh peneliti kemudian dilakukan analisa.
4.10 Pengolahan dan Analisis Data 4.9.1 Teknik Pengolahan Data
Ada tahapan dalam pengolahan data yang harus dilalui yaitu:
a. Editing
Peneliti memeriksa kembali semua data yang telah dikumpulkan melalui standar operasional prosedur, hal ini untuk mengecek kembali apakah standar operasional prosedur sudah dipraktekkan.
b. Coding
Peneliti dalam penelitian ini memberikan kode terhadap kelompok variabel sebagai berikut:
1. Usia
10 : Kode 1
11 : Kode 2
12 : Kode 3
2. Jenis kelamin
Laki-laki : Kode 1
Perempuan : Kode 2
3. Status tempat tinggal
Bersama orang tua : Kode 1 Menumpang saudara : Kode 2
4. Sumber informasi tentang sinkop dan epistaksis
Dari guru : Kode 1
Dari tenaga kesehatan : Kode 2
Dari koran : Kode 3
Dari majalah : Kode 4
Dari TV : Kode 5
Dari radio : Kode 6
Dari internet : Kode 7 c. Scoring
Skor item pertanyaan pada lembar standar operasional prosedur 1 = tidak dilakukan
2 = dilakukan sebagian
3 = dilakukan semua tapi belum sempurna 4 = dilakukan sempurna
Penilaian kemampuan:
a) Baik : jika skor jawaban x ≥ (µ+1.ϭ) x ≥ (30+1.6) = jadi x ≥ 36
b) Cukup : jika skor jawaban (µ-1- 1.ϭ) ≤ x < (µ+1.ϭ) (30-1.6) ≤ x < (30+1.6) jadi 24 ≤ x < 36
c) Kurang : jika skor jawaban x < (µ - 1.ϭ)
x < (30-1.6) jadi x < 24 Dengan ketentuan:
µ = ½ (Xmaks + Xmin) x total pada item pernyataan = ½ (4+1) x 12
= 30
ϭ = 1/6 (Imaks – Imin) = 1/6 (48-12)
= 6
Xmaks = skor tertinggi pada item pernyataan (4) Xmin = skor terrendah pada item pernyataan (1) Imaks = jumlah total skor tertinggi (48)
Imin = jumlah total skor terrendah (12) Baik : skor jawaban ≥ 36
Cukup : skor jawaban 24 ≤ x < 36 Rendah : skor jawaban x < 24 d. Tabulating
Semua data di atas dimasukkan akan dimasukkan ke komputer dan dianalisis secara statistik.
e. Data Entry
Data dalam bentuk “kode” (angka atau huruf) dimasukkan ke dalam program SPSS Versi 16 atau “Software” computer. Dalam proses ini dituntut ketelitian
dari orang yang melakukan “data entry”. Apabila tidak, maka terjadi bias meskipun hanya memasukkan data.
f. Cleaning
Apabila semua data dari setiap sumber data atau responden selesai dimasukkan perlu dicek kembali untuk kemungkinan adanya kesalahan kode dan scoring yang tidak lengkap, kemudian dilakukan pembetulan atau koreksi.
Proses ini disebut pembersihan data atau (data cleaning).
4.9.2 Teknik Analisis Data a. Analisa Univariat
1. Distribusi frekuensi dalam penelitian ini untuk data kategorik sebagai berikut: usia, jenis kelamin, dan sumber informasi perawatan sinkop dan epistaksis
P = Ʃƒ/Nx100%
P: populasi ƒ: frekuensi
2. Uji Kenormalan Data
Untuk mengetahui normalitas data perlu dilakukan uji normalitas dengan menggunakan nilai Kolmogorov-smirnov dan standar errornya, bila nilai Kolmogorov-smirnov dibagi standar errornya menghasilkan angka ≤ 2, maka distribusinya normal.
b. Analisa Bivariat (Uji Hipotesis)
Analisa bivariat dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh dua variabel yang meliputi variabel bebas dan variabel terikat. Dalam penelitian ini, analisa bivariat digunakan untuk mengetahui pengaruh pendidikan kesehatan terhadap keterampilan perawatan sinkop dan epistaksis pada siswa (pretest dan posttest) dan data berskala ordinal dengan menggunakan uji wilcoxon test.
Penelitian ini menggunakan teknik analisa data Uji wilcoxon test. Penggunaan wilcoxon test adalah untuk menguji pengaruh suatu perlakuan terhadap suatu besaran variabel yang ingin ditentukan. Rancangan ini paling umum dikenal dengan rancangan rata-rata nilai post test dari suatu sampel. Level yang sering digunakan untuk standar error adalah 0,05.
Uji wilcoxon test dapat dilakukan dengan program spss 2016 yaitu dengan nilai α = 0,05. Dengan kesimpulan:
1. H1 diterima jika pendidikan kesehatan berpengaruh terhadap keterampilan perawatan sinkop dan epistaksis.
2. H1 ditolak jika pendidikan kesehatan tidak berpengaruh terhadap keterampilan perawatan sinkop dan epistaksis.
4.11 Etika Penelitian
Nursalam (2008) mengatakan setiap penelitian yang menggunakan subjek manusia tidak boleh bertentangan dengan etika sehingga diperlukan:
a. Lembar persetujuan menjadi responden (informed consent)
Lembar persetujuan menjadi responden diberikan kepada subjek yang akan diteliti. Peneliti menjelaskan maksud dan tujuan riset yang akan dilakukan.
Jika bersedia diteliti harus menandatangani lembar persetujuan dan tetap menghormati hak-haknya.
b. Tanpa nama (Anonymity)
Untuk menjaga kerahasiaan, peneliti tidak mecantumkan nama pada lembar pengumpulan data, cukup dengan memberi nomor kode pada masing-masing lembar tersebut.
c. Kerahasiaan (Confidentiality)
Kerahasiaan dijamin oleh peneliti, karena kelompok data tertentu saja yang akan disajikan atau dilaporkan sebagai hasil riset.
60 BAB 5
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Pada bab ini penulis menyajikan hasil dan pembahasan penelitian tentang pengaruh pendidikan kesehatan terhadap keterampilan perawatan sinkop dan epistaksis pada siswa di MI Plus Bunga Bangsa Kecamatan Dolopo Kabupaten Madiun. Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 27 April sampai 30 April 2018, penelitian ini dilakukan di MI Plus Bunga Bangsa Kecamatan Dolopo Kabupaten Madiun. Pengumpulan data dilakukan pada 55 siswa yang menjadi petugas UKS di MI Plus Bunga Bangsa Dolopo Kabupaten Madiun. Hari pertama tanggal 27 April 2018 peneliti melakukan pretest pada seluruh responden untuk mengukur tingkat keterampilan dalam perawatan sinkop dan epistaksis. Setelah diberikan pre test, pada hari yang sama peneliti memberikan pendidikan kesehatan perawatan sinkop dan epistaksis. Kemudian pada tanggal 30 April 2018 peneliti memberikan post test
berupa lembar observasi yang sama dengan pretest untuk melihat perubahan keterampilan siswa dalam perawatan sinkop dan epistaksis. Data hasil penelitian dibagi menjadi dua bagian, yaitu: data umum dan data khusus. Data umum akan menyajikan mengenai karakteristik responden berdasarkan umur, jenis kelamin, status tempat tinggal, sumber informasi sinkop dan epistaksis, sedangkan data khususnya menyajikan hasil perubahan keterampilan siswa dalam perawatan sinkop dan epistaksis sebelum dan sesudah dilakukan pendidikan kesehatan dan hasil uji
statistik Wilcoxon test untuk mengetahui pengaruh pendidikan kesehatan terhadap keterampilan siswa dalam perawatan sinkop dan epistaksis.
5.1 Hasil Penelitian
5.1.1 Gambaran dan Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian berada di Kecamatan Dolopo Kabupaten Madiun, Jawa Timur. Sekolah MI Plus Bunga Bangsa mempunyai 13 kelas. Kegiatan dari UKS di sekolah ini adalah pemeriksaan kebersihan diri yaitu meliputi pmeriksaan kebersihan gigi dan mulut, rambut, kuku, mata, telinga, dan pakaian yang dilakukan 2 bulan sekali kepada seluruh siswanya. Pengambilan sampel data dilakukan dengan mengambil sampel dari kelas 5 yang menjadi petugas UKS MI Plus Bunga Bangsa Kecamatan Dolopo Kabupaten Madiun. Responden sebelumnya belum pernah mendapatkan pendidikan kesehatan tentang sinkop dan epistaksis dari petugas kesehatan seperti puskesmas dan sebagainya.
Penelitian Pengaruh Pendidikan Kesehatan Terhadap Keterampilan Perawatan Sinkop dan Epistaksis di Desa Kecamatan Dolopo Kabupaten Madiun mulai dilaksanakan tanggal 27 April sampai 30 April 2018. Dengan besar sampel 55 siswa yang diberikan Pedidikan Kesahatan. Pemilihan responden dilaksanakan sesuai kriteria inklusi dan secara acak dengan pengundian kertas yang digulung, kemudian kemudian diberikan penjelasan tentang penelitian meliputi tujuan, manfaat, dan resiko yang ada dari penelitian yang akan dilakukan, apabila siswa tersebut bersedia menjadi responden penelitian ini maka menandatangani lembar persetujuan (inform consent).
5.1.2 Data Umum
1. Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin
Karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin hasilnya dapat dilihat pada tabel berikut ini.
Tabel 5.1 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin di MI Plus Bunga Bangsa Kecamatan Dolopo Kabupaten Madiun tahun 2018
No. Jenis Kelamin Frekuensi Presentase (%)
1. Laki-Laki 26 47,2
2. Perempuan 29 52,7
Jumlah 55 100
Sumber : Data Primer, 2018
Berdasarkan tabel 5.1 menunjukkan bahwa sebagian besar respoden berjenis kelamin perempuan yaitu 29 responden (52,7 %) .
2. Karakteristik Responden Berdasarkan Usia
Karakteristik responden berdasarkan usia hasilnya dapat dilihat pada tabel berikut ini.
Tabel 5.2 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Usia di MI Plus Bunga Bangsa Kecamatan Dolopo Kabupaten Madiun tahun 2018
No. Usia Frekuensi Presentase (%)
1. 10 12 21,8
2. 11 40 72,7
3. 12 3 5,5
Jumlah 55 100
Sumber : Data Primer, 2018
Berdasarkan tabel 5.2 menunjukkan bahwa sebagian besar dari 55 responden beumur 11 tahun, yaitu sejumlah 40 responden (72,2%).
3. Karakteristik Responden Berdasarkan Status Tempat Tinggal
Karakteristik responden berdasarkan status tempat tinggal hasilnya dapat dilihat pada tabel berikut ini.
Tabel 5.3 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Status Tempat Tinggal di MI Plus Bunga Bangsa Kecamatan Dolopo Kabupaten Madiun tahun 2018
No. Status Tempat Tinggal Frekuensi Presentase (%)
1. Bersama Orang Tua 50 90,9
2. Menumpang Saudara 5 9,1
Jumlah 55 100
Sumber : Data Primer, 2018
Berdasarkan tabel 5.3 menunjukkan bahwa sebagian besar responden tinggal bersama orang tua yaitu 50 responden (90,9 %).
4. Karakteristik Responden Berdasarkan Sumber Informasi Sinkop dan Epistaksis Karakteristik responden berdasarkan sumber informasi sinkop dan epistaksis hasilnya dapat dilihat pada tabel berikut ini.
Tabel 5.4 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Sumber Informasi Sinkop dan Epistaksis di MI Plus Bunga Bangsa Kecamatan Dolopo Kabupaten Madiun tahun 2018
No.
Sumber Informasi Sinkop dan Epistaksis
Frekuensi Presentase (%)
1. Guru 29 52,7
2. Tenaga Kesehatan 0 0
3. Koran 0 0
4. Majalah 7 12,7
5. TV 8 14,6
6. Radio 0 0
7. Internet 11 20
Jumlah 55 100
Sumber : Data Pribadi, 2018
Berdasarkan tabel 5.4 menunjukkan bahwa sebagian besar responden mendapatkan informasi sinkop dan epistaksis dari guru yaitu 29 responden (52,7
%) dan tidak ada yang mendapatkan informasi sinkop dan epistaksis dari tenaga kesehatan, Koran, dan radio.
5.1.3 Data Khusus
Data khusus menyajikan data hasil analisis
1. Keterampilan Perawatan Sinkop dan Epistaksis Sebelum Dilakukan Pendidikan Kesehatan
Tabel 5.5 Keterampilan Perawatan Sinkop dan epistaksis sebelum diberikan perlakuan pendidikan kesehatan pada siswa di MI Plus Bunga Bangsa Dolopo Kabupaten Madiun bulan April 2018
Tingkat Keterampilan
Siswa Skor
Kelompok Sinkop dan Epistaksis Pre Test
f %
Baik x ≥ 36 0 0
Cukup 24 – 35 34 61,8
Kurang x < 24 21 38,2
Total 55 100
Sumber: Data Primer diolah, 2018
Berdasarkan analisa dari tabel 5.5 menunjukkan bahwa tingkat keterampilan perawatan sinkop dan epistaksis yang dilakukan siswa di MI Plus Bunga Bangsa Kec. Dolopo Kab. Madiun sebelum diberikan perlakuan Pendidikan Kesehatan sebagian besar responden yaitu 34 responden (61,8 %), memiliki tingkat keterampilan perawatan sinkop dan epistaksis cukup.
2. Keterampilan Perawatan Sinkop dan Epistaksis Sesudah Dilakukan Pendidikan Kesehatan
Tabel 5.6 Keterampilan Perawatan Sinkop dan Epistaksis setelah diberikan perlakuan pendidikan kesehatan pada siswa di MI Plus Bunga Bangsa Dolopo Kabupaten Madiun bulan April 2018
Tingkat Keterampilan Siswa
Kelompok Sinkop dan Epistaksis Post Test
Skor f %
Baik x ≥ 36 41 74,5
Cukup 24 – 35 14 25,5
Kurang x < 24 0 0
Total 55 100
Sumber: Data Primer diolah, 2018
Berdasarkan analisa dari tabel 5.6 menunjukkan bahwa tingkat keterampilan perawatan sinkop dan epistaksis yang dilakukan siswa di MI Plus Bunga Bangsa Kec. Dolopo Kab. Madiun setelah diberikan perlakuan Pendidikan Kesehatan sebagian besar menunjukkan tingkat keterampilan baik dengan jumlah 41 responden (74,5 %).
3. Hasil Analisa Bivariat
a. Analisa Pengaruh Pendidikan Kesehatan Terhadap Keterampilan Perawatan Sinkop dan Epistaksis pada Siswa di MI Plus Bunga Bangsa dijelaskan dalam tabel di bawah ini:
Tabel 5.7 Hasil Perbandingan tingkat keterampilan pretest dan post test pada perawatan sinkop dan epistaksis
No. Kelompo k
Hasil Mean Median Modus Std.
Deviation Baik Cukup Kurang
1. Pre test 0 (0 %)
34 (61,8 %)
21 (38,2
2,40 2,00 2 0,000
%) 2. Post test 41
(74,5 %)
14 (25,5 %)
0 (0 %)
1,25 1,00 1 0,000
Sumber: Data Primer diolah, 2018
Tabel 5.8 Hasil Uji Statistik antara tingkat keterampilan perawatan sinkop dan epistaksis sesudah diberikan Pendidikan Kesehatan di MI Plus Bunga Bangsa Dolopo Kabupaten Madiun 30 April 2018.
Keterampilan siswa dalam perawatan sinkop dan epistaksis
p-value Mean Rank
Sum of Rank
Z 0,000 24,50 1176,00 -6,308 Sumber: Data Primer diolah, 2018
Berdasarkan hasil perbandingan dan uji statistik dari tingkat keterampilan perawatan sinkop dan epistaksis sesudah diberikan Pendidikan Kesehatan menggunakan Uji Wilcoxon Signed Rank Test. Didapatkan nilai p value = 0,000
≤ ɑ = 0,05, sehingga secara statistik H1 diterima dan H0 ditolak, yang artinya ada pengaruh Pendidikan Kesehatan terhadap tingkat keterampilan perawatan sinkop dan epistaksis di MI Plus Bunga Bangsa Dolopo Kabupaten Madiun.
5.2 Pembahasan
5.2.1 Tingkat keterampilan perawatan sinkop dan epistaksis sebelum dilakukan Pendidikan Kesehatan
Hasil penelitian yang dilakukan pada 55 responden di MI Plus Bunga Bangsa Dolopo Kabupaten Madiun, berdasarkan tabel 5.5 dapat diketahui bahwa sebagian besar responden yaitu 34 responden (61,8 %) memiliki keterampilan perawatan sinkop dan epistaksis yang kurang sebelum dilakukan Pendidikan Kesehatan.