• Tidak ada hasil yang ditemukan

pengaruh penerapan pendekatan pendidikan matematika

N/A
N/A
Nguyễn Gia Hào

Academic year: 2023

Membagikan "pengaruh penerapan pendekatan pendidikan matematika"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH PENERAPAN PENDEKATAN PENDIDIKAN MATEMATIKA REALISTIK TERHADAP KEMAMPUAN KOMUNIKASI MATEMATIS

SISWA KELAS IX SMPN 5 LINTAU BUO TAHUN PELAJARAN 2013/2014

Henni Desviana*, Mukhni**, Rina Febriana**

*)Mahasiswa Program Studi Pendidikan Matematika STKIP PGRI Sumatera Barat

**) Staf Pengajar Program Studi Pendidikan Matematika STKIP PGRI Sumatera Barat

ABSTRAK

This research was motivated by the poor ability of students' mathematical communication in grade IX SMPN 5 Lintau Buo 2013/2014, and the learning still considered less meaningful for students. This research aimed to determine whether the students' mathematical communication that apply realistic mathematics education (RME)approach is better than the students' mathematical communication with conventional learning. Type of research is experimental research with design random on the subject. The population in this research were all students in grade IX SMPN 5 Lintau Buo 2013/2014. The method of taking the class sample is done randomly. Class IX.1 selected as experimental class and grade IX.4 selected as the control class. The instruments used in this research were a quiz and final test. The test was an essay form. Data analysis technique used was the t test one party. Results of data analysis showed that both classes were normally distributed and homogeneous on the real level (a) = 0,05.

Hypothesis test result obtained p-value = 0.031 which is smaller than a = 0,05, so this research hypothesis acceptable. It can be concluded that students 'mathematical communication skills using RME approach is better than the students' mathematical communication using conventional learning in class IX SMPN 5 Lintau Buo 2013/2014.

Key word: Realistic Mathematics Education (RME), communication skills.

PENDAHULUAN

Matematika merupakan salah satu ilmu dasar yang memegang peranan penting dalam pembentukan pola pikir siswa. Pola pikir tersebut dapat terbentuk dalam pembelajaran matematika apabila setiap siswa mampu memahami matematika dengan baik. Menyadari pentingnya

peranan matematika, maka pemerintah berusaha meningkatan mutu pendidikan matematika, dengan usaha yang dilakukan pemerintah maka seharusnya kualitas pembelajaran matematika mengalami peningkatan ke arah yang lebih baik.

Pembelajaran matematika akan memberikan hasil yang baik jika

(2)

tujuan yang akan dicapai dapat dipenuhi. Kenyataan pada beberapa sekolah khususnya pada tingkat sekolah menengah rendahnya hasil belajar matematika siswa masih menjadi permasalahan yang terus dihadapi oleh pihak sekolah. Masalah tersebut juga ditemui di SMPN 5 Lintau Buo. Hal ini disebabkan karena dalam proses pembelajaran kebanyakan siswa belum bisa menginterprestasikan berbagai masalah dalam bahasa dan pernyataan-pernyataan matematis, siswa juga mengalami kesalahan dan kesulitan dalam membuat grafik.

Berdasarkan permasalahan tersebut menunjukkan bahwa kemampuan komunikasi matematis siswa masih rendah. Hal ini mengacu kepada indikator yang menunjukkan komunikasi matematis yaitu menjelaskan ide atau membuat model situasi menggunakan grafik dan menyatakan peristiwa sehari-hari dalam bahasa atau simbol matematika (Sumarno dalam Afgani 2011: 4.16).

Hal yang sama juga disebutkan dalam permendiknas di atas yaitu siswa harus mengomunikasikan gagasan dengan simbol, tabel, diagram atau

media lain untuk memperjelas keadaan atau masalah.

Salah satu pendekatan pembelajaran yang diperkirakan mampu mengatasi permasalahan ini adalah dengan menggunakan pendekatan Pendidikan Matematika Realistik (PMR). PMR dalam pembelajarannya mengaitkan dan melibatkan lingkungan sekitar, pengalaman nyata yang pernah dialami siswa dalam kehidupan sehari-hari serta menjadikan matematika sebagai aktivitas siswa.

Menurut Hadi (2005: 37) di dalam PMR pembelajaran harus dimulai dari sesuatu yang riil sehingga siswa dapat terlibat dalam proses pembelajaran bermakna. Karakteristik PMR itu adalah penggunaan konteks dalam eksplorasi fenomenologis, penggunaan model untuk mengkontruksi konsep, sifat aktif dan interaktif dalam pembelajaran dan kesalingterkkaitan antara aspek-aspek atau unit matematika (De Lange dalam Shadiq 2010:11. Karakteristik PMR inilah yang menunjukkan langkah-langkah pembelajaran PMR yang dilakukan. Langkah-langkah pendekatan PMR tersebut dapat

meningkatkan kemampuan

komunikasi matematis siswa.

(3)

Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana perkembangan komunikasi matematis siswa kelas IX SMPN 5 Lintau Buo dengan menerapkan pendekatan PMR dan untuk mengetahui apakah kemampuan komunikasi matematis siswa dengan menerapkan pendekatan PMR lebih baik daripada kemampuan komunikasi matematis siswa yang menggunakan pembelajaran konvensional pada siswa kelas IX SMPN 5 Lintau Buo.

METODOLOGI PENELITIAN Penelitian ini dilakukan pada tanggal 6 September sampai tanggal 20 September 2013 di SMPN 5 Lintau Buo. Jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian eksperimen dengan rancangan penelitian random terhadap subjek.

Instrumen penelitian ini adalah kuis dan tes akhir berupa soal esai yang mengandung indikator kemampuan komunikasi matematis yaitu menghubungkan benda nyata, gambar dan diagram ke dalam ide matematika; menjelaskan ide, situasi dan relasi matematika dengan bentuk gambar atau bentuk aljabar; membuat konjektur, menyusun argumen dan membuat generalisasi.

Menganalisis data diperlukan alat ukur untuk melihat perkembangan komunikasi matematis siswa dengan menggunakan rubrik analitik.

Menurut Iryanti (2004: 13), ”rubrik adalah pedoman penskoran. Rubrik analitik adalah pedoman untuk menilai berdasarkan beberapa kriteria yang ditentukan”. Dengan menggunakan rubrik ini dapat dianalisa kelemahan dan kelebihan seorang siswa terletak pada kriteria yang mana. Melalui rubrik analitik dapat dianalisis hasil kuis dan tes akhir. Tekhnik analisis data dalam pengujian hipotesis menggunakan uji t. Uji t dilakukan dengan MINITAB.

Pengujian digunakan untuk mengetahui apakah hipotesis diterima atau ditolak.

HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan hasil deskripsi dan analisis data diperoleh gambaran kemampuan komunikasi matematis siswa kelas sampel seperti berikut.

Tabel 1. Persentase Ketuntasan dan Rata-Rata Nilai Kuis Siswa Kelas Eksperimen

No Kuis Jumlah Siswa

Tuntas Rata rata Jumlah %

1 I 21 10 47,62 65,57

2 II 22 16 72,72 82,32

3 III 20 14 70,00 82,80 4 IV 21 17 80,95 81,67

(4)

Tabel 1 menunjukkan bahwa terjadinya peningkatan dan penurunan persentase ketuntasan siswa. Hal yang sama juga ditunjukkan untuk rata-rata nilai kuis siswa.

Kemampuan komunikasi matematis siswa juga dapat dilihat dari hasil tes akhir seperti yang terlihat pada tabel 2.

Tabel 2. Perhitungan Rata-Rata 𝒙 , Simpangan Baku (S) Tes Akhir Kelas Sampel

Kelas 𝒙 S Tuntas Jumlah % Ekspe-

rimen

79,34 14,38 14 63,64 Kontrol 71,38 14,87 9 42,86

Tabel 2 menunjukkan rata-rata siswa kelas eksperimen lebih tinggi daripada nilai rata-rata siswa kelas kontrol dan simpangan baku kelas eksperimen lebih rendah daripada kelas kontrol. Hal ini berarti siswa kelas kontrol lebih beragam daripada kelas eksperimen. Skor tertinggi juga diperoleh siswa kelas eksperimen yaitu 100, sedangkan pada kelas kontrol nilai tertinggi 92. dapat disimpulkan bahwa kemampuan komunikasi matematis siswa kelas eksperimen lebih baik daripada kemampuan komunikasi matematis siswa kelas kontrol.

Berdasarakan pengujian hipotesis yang menggunakan uji t satu pihak

dengan MINITAB, diperoleh P-value

= 0,031 lebih kecil daripada α=0,05, maka hipotesis yang diajukan diterima. Jadi, dapat disimpulkan bahwa kemampuan komunikasi matematis siswa dengan menerapkan pendekatan PMR lebih baik daripada kemampuan komunikasi matematis siswa dengan menerapkan pembelajaran konvensional siswa kelas IX SMPN 5 Lintau Buo tahun pelajaran 2013/2014.

Pada pembelajaran PMR di kelas eksperimen yang mengawali pembelajaran dengan memunculkan masalah kontekstual. Guru dalam hal ini berperan sebagai fasilitator untuk membantu dalam mengkontruksi pengetahuan atau pengalaman belajar siswa. siswa dibantu juga dengan adanya LKS pada proses belajar.

Berikut ini adalah hasil LKS yang dikerjakan siswa.

Gambar 1. Hasil penemuan siswa pada LKS1

Gambar 2. Hasil penemuan siswa pada LKS2

(5)

Gambar 1 dan gambar 2 meminta siswa menemukan sendiri konsep untuk syarat-syarat dua segitiga yang kongruen dan sebangun. Siswa dalam hal ini mengembangkan pengalaman belajarnya baik itu dari pelajaran sekolah maupun di luar sekolah (real).

Temuan yang diperoleh siswa sudah benar tetapi belum sempurna. Jadi siswa perlu mengomunikasikan hasil jawabannya di depan kelas untuk di didiskusikan secara bersama-sama, barulah diperoleh jawaban yang tepat.

Untuk LKS 3 dan LKS 4 siswa sudah banyak menjawab dengan benar.

Tes akhir di kelas sampel diadakan pada pertemuan kelima, dan diperoleh data mengenai kemampuan komunikasi matematis siswa.

Indikator komunikasi matematis yang dilihat dalam tes akhir ini yaitu ada tiga indikator yaitu, (1) Menghubungkan benda nyata dan gambar ke dalam ide matematika (2) Menjelaskan ide, situasi dan relasi matematika dengan benda nyata, gambar, grafik atau bentuk aljabar (3) Membuat konjektur, menyusun argumen dan generalisasi. Ke-tiga indikator komunikasi matematis yang dilihat pada waktu tes akhir, secara keseluruhan siswa kelas eksperimen

sudah mampu memenuhi ke-tiga indikator tersebut dengan baik, seperti yang terlihat pada jawaban siswa dari soal berikut ini.

Contoh jawaban siswa.

Gambar 3. Contoh Lembar Jawaban Tes Akhir Siswa Kelas Eksperimen

Gambar 4. Contoh Lembar Jawaban Tes Akhir Siswa Kelas Kontrol

Berdasarkan gambar 3 terlihat siswa kelas ekperimen sudah mampu dalam memenuhi indikator menjelaskan ide, situasi dan relasi matematika dengan bentuk gambar yaitu dengan menggambar bentuk rangka kursi tersebut, dan siswa juga mampu

Gambar berikut menunjukkan sebuah kursi lipat dengan tiang penyangga AD dan BC.

Jarak kedua ujung atas AB adalah 36 cm, dan jarak kedua ujung bawah CD adalah 45 cm. Hitunglah panjang tiang AO jika panjang tiang penyangga AD adalah 90 cm”

(6)

membuat konjektur serta menjelaskan ide, situasi dan relasi matematika dengan bentuk aljabar. Sedangkan gambar 4 terlihat siswa kelas kontrol juga sudah mampu dalam memenuhi indikator tersebut, tetapi masih terdapat beberapa kesalahan seperti dalam membuat konjektur untuk menentukan perbandingan sis-sisi bersesuaian sehingga di dalam hasil perhitungannya tidak tepat.

Berdasarkan uraian diatas, secara keseluruhan terlihat pelaksanaan pendekatan PMR selama proses pembelajaran berjalan dengan baik, dan dapat disimpulkan bahwa kemampuan komunikasi matematis siswa yang menerapkan pendekatan PMR lebih baik daripada kemampuan komunikasi matematis siswa yang menerapkan pembelajaran konvensional.

Jadi, berdasarkan hasil analisis data dan pengujian hipotesis diketahui bahwa kemampuan komunikasi matematis siswa kelas eksperimen lebih baik daripada kelas kontrol. Itu terlihat dari jumlah siswa yang tuntas, rata-rata kelas serta persentase ketercapaian siswa tiap-tiap indikator secara keseluruhan memperoleh hasil yang tinggi. Ini menunjukkan

pendekatan PMR memiliki pengaruh yang positif terhadap kemampuan komunikasi matematis siswa.

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh maka dapat disimpulkan sebagai berikut: Perkembangan komunikasi matematis siswa kelas IX SMPN 5 Lintau Buo dengan menerapkan pendekatan matematika realistik sudah cukup baik di setiap pertemuan, Kemampuan komunikasi matematis siswa dengan penerapan pendekatan PMR lebih baik daripada kemampuan komunikasi matematis siswa dengan pembelajaran konvensional di kelas IX SMPN 5 Lintau Buo.

DAFTAR RUJUKAN

Afani, Jarnawi. (2011). Analisis Kurikulum Matematika.

Jakarta: Universitas Terbuka Hadi, Sutarto. (2005). Pendidikan

Matematika Realistik dan Implementasinya.

Banjarmasin: Tulip Banjarmasin.

Shadiq, Fajar. (2010). Pembelajaran Matematika dengan Pendekatan Realistik di SMP. Yogyakarta:

PPPPTK Matematika.

Syafriandi. (2001). Analisis Statistik

Inferensial Dengan

Menggunakan Minitab. Padang:

Universitas Negeri Padang.

Referensi

Dokumen terkait

Varying mnemonic density can be detected in historical texts, such as in a US history book that devotes twenty-four pages to the three year period 1775 to 1777, and the same number

KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh, maka dapat disimpulkan bahwa hasil belajar matematika siswa dengan menerapkan metode tutor sebaya diiringi permainan bingolebih