• Tidak ada hasil yang ditemukan

pengaruh tingkat penambahan probiotik - UNISMA Repository

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "pengaruh tingkat penambahan probiotik - UNISMA Repository"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH TINGKAT PENAMBAHAN PROBIOTIK ENKAPSULASI Lactobacillus salivarius PLUS

MIKROMINERAL DALAM PAKAN TERHADAP BOBOT DAN KOMPONEN TELUR PUYUH

SKRIPSI

Oleh : UMAR SAHID NPM. 215.01.04.1035

PROGRAM STUDI PETERNAKAN FAKULTAS PETERNAKAN UNIVERSITAS ISLAM MALANG

MALANG

2020

(2)

PENGARUH TINGKAT PENAMBAHAN PROBIOTIK ENKAPSULASI Lactobacillus salivarius PLUS

MIKROMINERAL DALAM PAKAN TERHADAP BOBOT DAN KOMPONEN TELUR PUYUH

SKRIPSI

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Peternakan (S.Pt.) Pada Fakultas Peternakan Universitas Islam Malang

Oleh : UMAR SAHID NPM. 215.01.04.1035

PROGRAM STUDI PETERNAKAN FAKULTAS PETERNAKAN UNIVERSITAS ISLAM MALANG

MALANG

202

(3)

PENGARUH TINGKAT PENAMBAHAN PROBIOTIK RINGKASAN

UMAR SAHID. PENGARUH TINGKAT PENAMBAHAN PROBIOTIK ENKAPSULASI Lactobacillus Salivarius PLUS MIKROMINERAL DALAM PAKAN TERHADAP BOBOT DAN KOMPONEN TELUR PUYUH (Dibimbing oleh Dr. Ir. Umi Kalsum, M.P. sebagai Pembimbing Utama dan Ir. H. Sunaryo, M.Si sebagai Pembimbing Anggota).

Penelitian ini dilaksanakan di Laboraturium Peternakan Universitas Islam Malang dan peternakan burung puyuh milik Bapak Eko di Desa Pandan Mulyo, Kecamatan Tajinan, Kabupaten Malang. Pelaksanaan penelitian mulai tanggal 01 Juli sampai 10 Juli 2020. Penelitian ini bertujuan menganalisa pengaruh tingkat penambahan probiotik enkapsulasi Lactobacillus salivarius plus mikromineral dalam pakan terhadap bobot dan komponen telur puyuh.

Materi yang digunakan adalah probiotik Lactobacillus salivarius dan burung Puyuh umur 120 hari sebanyak 320 ekor. Metode yang digunakan adalah metode percobaan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 4 ulangan. Perlakuan meliputi pemberian probiotik, perlakuan A= tanpa probiotik, B= 0,2%, C= 0,4%, dan D=0,6%.

Setiap unit percobaan terdiri dari 20 ekor burung puyuh. Variabel yang diamati adalah berat telur dan komponen telur meliputi: berat putih telur puyuh, berat kuning telur puyuh, dan berat kerabang telur puyuh.

Hasil penelitian diperoleh bahwa penambahan probiotik Lactobacillus salivarius terenkapsulasi berpengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap berat bobot telur dan bobot putih telur. Rataan nilai (gram) pada perlakuan A = 11.055a, perlakuan B = 11.919bc, perlakuan C = 11.783b, dan perlakuan D = 12.146c. Rata-rata berat putih telur puyuh (gram) perlakuan A = 5.639a perlakuan B = 6.348b perlakuan C =6.248b dan perlakuan D =6.375b. Penambahan probiotik lactobacillus salivarius terenkapsulasi tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap berat kuning telur dan kerabang telur puyuh. Rata-rata berat kuning telur puyuh (gram) perlakuan A = 3.855 perlakuan B = 3.975 perlakuan C =3.929 dan perlakuan D = 4.162. Rata-rata berat kerabang telur puyuh (gram) pada perlakuan A = 1.549 perlakuan B =1.595 perlakuan C =1.609 dan perlakuan D =1.608.

Dapat disimpulkan bahwa pemberian probiotik Lactobacillus salivarius berpengaruh positif terhadap bobot telur dan berat putih telur.

Dengan pemberian probiotik LS 0,2% telah dapat meningkatkan bobot telur dan bobot putih telur. Disarankan untuk meningkatkan bobot telur dan komponen telur sebaiknya digunakan pemberian probiotik LS pada

(4)

puyuh sebanyak 0,2% dari pakan yang diberikan. Serta disarankan untuk diteliti lebih lanjut tentang pengaruh pemberian probiotik terhadap kadar lemak dan kadar kolestrol telur puyuh.

(5)

EFFECT OF ADDITIONAL PROBIOTICS SUMMARY

UMAR SAHID. EFFECT OF ADDITIONAL PROBIOTIC LEVEL OF Lactobacillus Salivarius PLUS MICROMINERAL IN FEED ON WEIGHT AND COMPONENTS OF PUYUH EGG (Supervised by Dr. Ir. Umi Kalsum, M.P. as Main Advisor and Ir. H. Sunaryo, M.Si as Member Advisor).

This research was conducted at the Animal Husbandry Laboratory of the Islamic University of Malang and Mr. Eko's quail farm in Pandan Mulyo Village, T Crafts District, Malang Regency. The research was conducted from July 1 to July 10, 2020. This study aims to analyze the effect of the addition of the probiotic encapsulation Lactobacillus salivarius plus microminerals in feed on the weight and components of quail eggs.

The materials used were 320 days of probiotic Lactobacillus salivarius and 120 days old quail. The method used was an experimental method using a completely randomized design (CRD) with 4 treatments and 4 replications. The treatments included giving probiotics, treatment A

= without probiotics, B = 0.2%, C = 0.4%, and D = 0.6%. Each experimental unit consisted of 20 quails. The observed variables were egg weight and egg components including: weight of quail egg white, weight of quail egg yolk, and weight of quail egg shell.

The results showed that the addition of the encapsulated Lactobacillus salivarius probiotic had a very significant effect (P <0.01) on egg weight and egg white weight. Average value (grams) of treatment A = 11.055a, treatment B = 11.919bc, treatment C = 11.783b, and treatment D

= 12.146c. The average weight of quail egg whites (grams) treatment A = 5.639a treatment B = 6.348b treatment C = 6.248b and treatment D = 6.375b. The addition of encapsulated lactobacillus salivarius probiotic had no significant effect (P> 0.05) on egg yolk weight and quail egg shells. The average weight of quail egg yolk (grams) treatment A = 3,855 treatment B

= 3,975 treatment C = 3,929 and treatment D = 4,162. The average weight of quail egg shells (grams) in treatment A = 1.549 treatment B = 1.595 treatment C = 1.609 and treatment D = 1.608.

It can be concluded that the provision of Lactobacillus salivarius probiotic has a positive effect on egg weight and egg white weight. With the provision of 0.2% LS probiotic, it has been able to increase egg weight and egg white weight. It is recommended to increase egg weight and egg components, it is better if the LS probiotic for quail is used as much as 0.2% of the feed given. And it is advisable to further investigate the effect of probiotics on fat levels and cholesterol levels of quail eggs.

(6)
(7)

BAB I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Probiotik adalah mikroba yang dapat hidup atau berkembang dalam usus dan dapat menguntungkan inangnya. Baik secara langsung maupun tidak langsung dari hasil metabolitnya, sehingga mikroba yang menguntungkan dapat berkembang dengan baik (Kompiang, 2009).

Penggunaan probiotik secara langsung akan meningkatkan efektivitas mikroba usus yang pada giliranya meningkatkan pertumbuhan.

Kriteria probiotik yang baik adalah mempunyai kestabilan kualitas dan mempunyai daya simpan yang baik. Untuk menjaga kestabilan kualitas probiotik tersebut harus didukung adanya proteksi dengan teknologi yang sesuai, sehingga mikroba probiotik mampu tumbuh dengan kuantitas dan kualitas yang baik serta mampu mempertahankan diri dari gangguan lingkungan lainya. Selanjunya dinyatakan bahwa syarat probiotik yang baik adalah mikroba probotik harus tetap dalam keadaan hidup (Setiawan, 2009), daya untuk bertahan hidup ketika melalui saluran pencernaan dan manfaat kesehatan yang dapat dibuktikan. Untuk menjaga vialibitas bakteri maka perlu usaha melindugni bakteri, salah satunya dengan metode enkapsulasi.

Triana (2006) menyatakan dengan adanya enkapsulasi sel mikroba dengan bahan enkapsulan dari jenis protein yang mengandung nitrogen yang tinggi mampu melindungi sel-sel secara sempurna sehingga ketahanan atau viabilitas sel probiotik selama proses pembuatan produk (enkapsulasi) dan penyimpanan, serta meningkatkan ketahanan selama

(8)

dalam jalur pencernaan (PH rendah dan cairan empedu pada unggas yang mengkonsumsinya.

Probiotik dapat berasal dari berbagai sumber, salah satunya berasal dari usus burung puyuh (Kalsum,Sutanto, Achmanu, dan Sjofyan, 2012). Pada umumnya probiotik berasal dari golongan bakteri asam laktat (BAL), khususnya genus Lactobacillus dan Bifidobacterium yang merupakan bagian dari flora normal pada saluran pencernaan (Sujaya, Utami, Suriani, Widarini, Nocianitri, dan Nursini 2008). Pemberian probiotik dapat memperbaiki mikroekologi usus yang berdampak pada kesehatan inang. Selama ini jumlah mikroorganisme patogen yang terletak di saluran pencernaan lebih banyak oleh sebab itu perlu penambahan mikroorganisme non patogen untuk pengoptimalan proses penyerapan zat makanan.

Hasil penelitian Amiludin (2016) menyatakan bahwa mikroba yang digunakan sebagai probiotik bakteri enkapsulasi Lactobacillus salivarius plus mikromineral 0,5% dapat mempertahankan jumlah sel bakteri sehingga tidak perlu memfasilitasi bakteri dengan aktivitas air 0,91 karena kualitas probiotik itu diukur dari jumlah bakteri yang dapat hidup.

Candinegara (2006) menyatakan bahwa penambahan probiotik dalam pakan dapat menyebabkan peningkatan aktivitas mikroba, aktivitas enzim dan daya cerna protein serta energi metabolis pakan dalam saluran pencernaan burung puyuh, akibatnya akan mempercepat laju pergerakan makanan sehingga penyerapan zat- zat makanan menjadi lebih besar,

(9)

lebih lanjut akan berdampak terjadi peningkatan efesiensi penggunaan pakan dan laju produksi burung puyuh.

Indikator ini dapat dijadikan acuan untuk diadakan penelitian penggunaan probiotik dalam pakan pada burung puyuh petelur. Sejauh ini penambahan bakteri enkapsulasi Lactobacillus salivarius plus mikromineral 0,5% ke dalam pakan burung puyuh belum dilakukan, oleh sebab itu perlu dilakukan penelitian penambahan probiotik tersebut pengaruhnya terhadap berat telur dan komponen telur puyuh.

1.2 Rumusan Masalah

Bagaimana pengaruh penambahan probiotik Lactobacillus salivarius terenkapsulasi plus mrikomineral dalam pakan terhadap bobot dan komponen telur puyuh.

1.3 Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh pemberian probiotik Lactobacillus salivarius terenkapsulasi plus mikromineral dalam pakanterhadap bobot dan komponen telur puyuh.

1.4 Kegunaan Penelitian

Sebagai informasi tentang pemberian probiotik Lactobacillus salivarius terankuplasi plus mikromineral dalam pakan terhadap bobot dan komponen telur puyuh.

(10)

1.5 Hipotesis Penelitian

Hipotesis dari penelitian ini adalah pemberian probiotik Lactobacillus salivarius terankuplasi plus mikromineral dalam pakan berpengaruh positif terhadap bobot dan komponen telur puyuh.

(11)

BAB VI. KESIMPULAN

6.1 Kesimpulan

1. Pemberian probiotik Lactobacillus salivarius terenkapsulasi berpengaruh positif terhadap Bobot telur.

2. Dengan pemberian probiotik Lactobacillus salivarius terenkapsulasi 0,2% telah dapat meningkatkan bobot telur.

3. Pemberian probiotik Lactobacillus salivarius terenkapsulasi berpengaruh positif hanya terhadap pada bobot putih telur dan tidak berpengaruh terhadap bobot kuning telur dan kerabang telur.

4. Pemberian probiotik Lactobacillus salivarius terenkapsulasi 0,2%

telah dapat meningkatkan bobot putih telur.

6.2 Saran

1. Untuk meningkatkan bobot telur dan komponen telur sebaiknya digunakan pemberian probiotik Lactobacillus salivarius pada puyuh sebanyak 0,2% dari pakan yang diberikan.

2. Disarankan untuk penelitian lebih lanjut tentang pengaruh pemberian probiotik Lactobacillus salivarius terhadap kadar lemak dan kadar kolestrol telur puyuh.

(12)

DAFTAR PUSTAKA

(Badan Pusat Statistik, 2014). https://www.bps.go.id/

linkTableDinamis/view/id/868. (Diakses 08 Maret 2020)

Abidin, Z. 2012. Meningkatkan Produktivitas Puyuh Si Kecil yang Penuh Potensi, Agromedia Pustaka, Jakarta.

Amiludin, 2016. Pengaruh Penambahan Mikromineral Pada Proses Enkapsulasi Lactobacillus salivarius terhadap Jumlah Mikroba dan AW. Fakultas Peternakan UNISMA.

Amrullah, l.K. 2003. Nutrisi Ayam Petelur.Satu Gunungbudi Bogor.

Anggorodadi, R., 1985. Kemajuan Mutakhir Ilmu Makanan Ternak Unggas. Universitas Indonesia Press. Jakarta.

Anonim 1, 2012. pengertian tepung jagung. (online). (pdf, diakses 17 juni 2020).

Astawan, M dan Hasyim (2016). Manajemen Ternak Unggas Petelur Solo:

Tiga Serangkai.

Astawan, M. (2004). Bersahabat dengan kolestrol. Solo: Tiga Serangkai Candinegara, T. 2006. Pemanfaatan Feed Additive dan Feed Supplement.

Terkini.

Deman, M.J. 1993. Kimia Makanan. Penerbit ITB, Bandung.

Dziezak, J. D. 1998. Microencapsulation and Encapsulated Ingedients.

Food Technology. Symposium on The Controlled Release of Bioactive Materials, Deerfield, IL: Controlled Release Society, Inc.

New York.

Eishu R. I., K. Sato, T. Oikawa, T. Kunieda, and H. Uchida, 2005. Effects of dietary protein levels on prodection and caracteristics of Japanese quail egg. The J. of Poultry Science, 42: 130-139.

Ensminger, M E, 1992. Poultry science Interstate Publisher Inc, Danville, Illinois.

Fuller, R. 1987. A Review Probitic in Man and Animal. IKAPI.

Fuller, R.1992. Probiotic the Scientific Basic. 1 Sd Ed. Chapman and Hall London, New York.

(13)

Hartono, T., 2004. Permasalahan Puyuh dan Solusinya. Penebar Swadaya, Jakarta.

Haryoto. (2002). Pengawetan Telur Segar. Kanisius (Anggota IKAPI).

Yogyakarta

Kalsum, U. H. Sutanto, Achmanu and O. Sjofyan. 2012. Effect of a probiotic containing Lactobacillus on the laying performance and egg Quality of Japanese Quals. Publish in Livestock Research for Rular Development

Khalim, I.R., (2012). Efek Pemberian Bungkil Biji Jarak Pagar (Jantropha Curcas L) Difermentasi Rhizopus Olisgoporus Terhadap Kualitas Telur Puyuh. Skripsi Fakultas Peternakan. Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Kompiang, I.P. 2009. Pemanfaatan Mikroorganisme Sebagai Probiotik Untuk Meningkatkan Produksi Ternak Unggas Di Indonesia. J.

Pengembangan Inovasi Pertanian 2(3), 2009: 177-191

Krasaekoopt, W., B., dan Bhandari,. dan Khaylasapati, (2002). Evaluation of encapsulation techniques of probiotic for yoghurt. International Dairy Journal 13: 3-13.

Lasztity, R. 1986. The Chemistry of Cereal Protein. CRC Press Inc. USA.

Listyowati, E. dan K. Rospitasari, 1992. Puyuh tata Laksana Budidaya secara komersial. Penebar Swadaya. Jakarta.

Luthana, Y.K. 2008. Maltodekstrin. http://www.yongkikastanyaluthana.

wordpress.com (diakses 07 Maret 2020).

Muchtdi, T. R., Sugiyono, M., dan Ayustaningwarno, F. (2010). Ilmu Pengetahuan Bahan Pangan. Jakarta: ALFABETA, CV.

Neville, Ba, O'Toole, PW. (May 2010). "Probiotic properties of Lactobacillus salivarius and closely related Lactobacillus species.". Future Microbiol 5 (5): 759–74. doi:10.

Osfar, S. 2019 Ilmu Nutrisi Ternak Non Ruminansia penerbit UB press Ramlan, M., (2007). Pengaruh Substitusi bungkil kedelai dengan bungkil

jarak pohon (Richinos communis Linn) terhadap komposisi gigi, fisik dan kualitas telur puyuh (Coturnix coturnix japonica). Skripsi Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Ridwan, BU.; koning, CJ.; Besselink, MG,; Timmerman, HM.; Brouwer, EC.; Verhoef, J.; Gooszen, HG.; Akkermans, LM. (Jan 2008).

Antimicrobial Activity of a Multispecies Probiotic (Ecologic 641) Against Pathogens Isolated From Infected Pancreatic Necrosis"(PDF). Lett Appl Microbial 46 (1): 61-70.

(14)

Santoso, dan Wijanarko, P.B. (1982) Mutu Telur Ayam Ras Segar Pada Berbagai Tingkat Pemasaran di Daerah Bogor.

Saputro, T. 2014. Sumber Mineral Untuk Ternak.

(http://www.ilmuternak.com/2014/10/sumber-mineral-untuk ternak.

html , diakses pada tanggal 10 Maret 2020).

Sastrosupadi, A. 2000. Rancangan Percobaan Praktis Bidang Pertanian.

Yogyakarta: Kanisius.

Sastrosupadi, A. 2000. Rancangan Percobaan Praktis Bidang Pertanian.

Yogyakarta: Kanisius.

Setiawan, D. 2006. Performa Produksi Burung Puyuh (Coturnix coturnix japonica) pada Perbandingan Jantan dan Betina yang Berbeda.

Skripsi. Program Studi Teknologi Produksi Ternak Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Sihombing,G., Avivah, dan S. Praswoto. 2006. Pengaruh penaambahan zeolite dalam ransum terhadap kualitas telur burung puyuh.

Agrotechnology Research Jurnal. 23: 455-481.

Solihah, W. N. 2017. Rancangan Acak Lengkap (Ral). Progam Studi Pendidikan Biologi Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Purwokerto.

Stadelman, W.J., & Cotterill, O.J., (1995). Eggs Science and technology. 4 th adition. The Avy Publishing, Inc., Westport, Connecticut.

Steel, R. G. D. dan J. H. Torrie. 1993. Prinsip dan Prosedur Statitiska Penerjemah B. Sumantri. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

Sujaya, IN, Utami DNM, Suariani NLP, Widarini NP, Nocianitri KA, Nursini NW. 2008b. Probiotic charactriation of Lactobacillus spp isolated frm Sumbawa mare milk. J Vet 9:33-40.

Suroso, U. Kalsum, M. F. Wadjdi. 2015. Pengaruh Penambahan Probiotik Enkapsulasi Terhadap Konsumsi Pakan, Produksi Telur dan Efisiensi pakan Pada Burung Puyuh. Fakultas Peternakan, Universitas Islam Malang.

Triana E, Yulianto E, dan Nurhidayat N. 2006. Uji Viabilitas Lactobacillus sp. Mar 8 Terenkapsulasi. Biodiversitas. 7 (2): 114-117.

Tuti, W. 2009. Pemanfaatan Tepung Daun Pepaya ( Carida papaya. L L ess) Dalam Upaya Peningkatan Produksi dan kualitas Telur Ayam Sentul. J. Agroland 16 (3) : 268 – 273, Desember 2014 ISSN :0854-641X. Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran.

Wahyu, J., 1997. Ilmu Nutrisi Unggas. Gajah Mada University Press.

Yogyakarta.

(15)

Wuryadadi, Slamet .2011. Buku Pintar Beternak dan Bisnis Puyuh.

Agromedia Pustaka. Jakarta.

Yuwanta, T. 2010. Telur dan Kualitas Telur. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta

Yuwanta, T., 2007. Telur dan Produksi Telur. Universitas Gajah Mada Press. Yogyakarta.

Zainudin, S. dan Syahruddin. 2012. Pemanfaatan Tepung Keong Mas sebagai Substitusi Tepung Ikan dalam Ransum Terhadap Performa dan Produksi Telur Puyuh. Laporan Penelitian. Fakultas Ilmu-Ilmu Pertanian Universitas Negeri Gorontalo, Gorontalo.

Prasetyo, 2013. Penggunaan Level Pakan Protein Daging Ayam Broiler.

Jurnal Ilmu Peternakan,/(1), 289.

Gambar: Penimbangan Kerabang Telur

Sumber: Dokumentasi Pribadi

Referensi

Dokumen terkait

Uji Anova menunjukkan bahwa pemberian pakan yang mengandung daun jaloh dengan penambahan probiotik EM-4 berpengaruh nyata terhadap pertambahan bobot, laju

Hasil penelitian menunjukkan penambahan probiotik cair pada pakan memberikan perbedaan pengaruh terhadap konsumsi pakan, pertambahan berat badan, koversi pakan,

Hl : Penambahan dosis probiotik yang berbeda dalam pakan (secara endogen). diduga berpengaruh terhadap pertumbuhan dan konversi pakan

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji pengaruh berbagai probiotik cair terhadap konsumsi pakan, konsumsi protein, kecernaan protein, bobot badan dan bobot telur

Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa sampai tingkat Penggunaan probiotik enkapsuasi ( 0,3%; 0,5%; dan 0,7% pada pakan burung puyuh meningkatkan

Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan probiotik plus herbal pada pakan dapat meningkatkan kecernaan bahan organik ikan nila merah (Oreochromis niloticus)

Penambahan probiotik berpengaruh nyata terhadap efisiensi pakan ikan lele sangkuriang, hal ini diduga karena penambahan probiotik pada pakan dapat meningkatkan

Hasil penelitian menunjukan bahwa penambahan probiotik Lactobacillus sp dalam bentuk padat atau bentuk cair memberikan efek positif terhadap jumlah konsumsi, konversi pakan, HDP, berat