• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengaturan Pajak Penghasilan Pasal 21/26

N/A
N/A
Aura Khanaya Komariah

Academic year: 2025

Membagikan "Pengaturan Pajak Penghasilan Pasal 21/26"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

PAJAK PENGHASILAN PASAL 21/26

Pengaturan: PPh Pasal 21 mengatur pemotongan pajak atas penghasilan sehubungan dengan pekerjaan, jasa, atau kegiatan Wajib Pajak orang pribadi dalam negeri. PPh Pasal 26 mengatur pemotongan pajak atas penghasilan sehubungan dengan pekerjaan, jasa, dan kegiatan orang pribadi subjek pajak luar negeri.

Metode Pemotongan PPh Pasal 21: Gross up, gross, dan net.

OBJEK PPH 21/26 (PASAL 5 ayat 1 PMK 168/2023)

● Penghasilan Pegawai Tetap (teratur maupun tidak teratur).

● Penghasilan Pensiunan (teratur).

● Imbalan anggota dewan komisaris/pengawas (tidak teratur).

● Penghasilan Pegawai Tidak Tetap (upah harian, mingguan, satuan, borongan, bulanan).

● Imbalan Bukan Pegawai (honorarium, komisi, fee, imbalan sejenis).

● Imbalan Peserta Kegiatan (uang saku, representasi, rapat, honorarium, hadiah, penghargaan).

● Uang manfaat pensiun yang diambil sebagian oleh Pegawai.

● Penghasilan atau imbalan Mantan Pegawai (jasa produksi, tantiem, gratifikasi, bonus, imbalan tidak teratur).

● Penghasilan dapat diberikan dalam bentuk apapun, termasuk natura/kenikmatan.

● Penghasilan Pegawai Tetap dapat berupa gaji, tunjangan, bonus, THR, jasa produksi, tantiem, gratifikasi, premi, imbalan kegiatan, pembayaran iuran jaminan sosial dan asuransi oleh pemberi kerja.

NON OBJEK PPH 21/26 (PASAL 7 PMK 168/2023)

● Pembayaran manfaat/santunan asuransi.

● Penggantian/imbalan natura/kenikmatan yang dikecualikan.

● Iuran program pensiun/hari tua yang dibayar pemberi kerja.

● Bantuan, sumbangan, zakat, infak, sedekah, sumbangan keagamaan.

● Harta hibahan dari keluarga sedarah atau usaha mikro kecil.

● Beasiswa yang memenuhi persyaratan.

● Bagian laba anggota persekutuan/firma/perseroan komanditer.

● Pajak penghasilan yang ditanggung pemerintah.

REMUNERASI

● Imbalan berupa uang atau barang (langsung/tidak langsung).

Imbalan Langsung (Benefit in cash): Gaji pokok, tunjangan, bonus, komisi.

Imbalan Tidak Langsung (Benefit in kind/non-cash): Jaminan pensiun, program asuransi, cuti.

JENIS REMUNERASI

Benefit in cash: Objek pajak PPh 21 bagi penerima, dapat dibebankan sebagai biaya bagi pemberi jika terkait 3M (mendapatkan, menagih, memelihara penghasilan).

Benefit in kind (natura) & Benefit in kind (kenikmatan): Terdapat pengecualian objek pajak, dapat menjadi biaya bagi pemberi.

CONTOH PEMBERIAN NATURA/KENIKMATAN

Seragam: Natura (benefit in kind) bukan objek PPh 21, tunjangan (benefit in cash) objek PPh 21.

Parsel/Bingkisan: Hari besar keagamaan (pengecualian jika diterima seluruh pegawai), bukan hari besar keagamaan (pengecualian hingga Rp3.000.000 per pegawai per tahun).

PEMOTONG PPh PASAL 21/26 (PASAL 2 PMK No. 168/2O23)

● Pemberi kerja.

(2)

● Bendahara/pemegang kas pemerintah.

● Dana pensiun, badan penyelenggara jaminan sosial tenaga kerja, badan lain yang membayar uang pensiun/tunjangan hari tua/jaminan hari tua.

● Orang pribadi/badan yang membayar honorarium/imbalan.

● Penyelenggara kegiatan.

● Tidak semua pemberi penghasilan merupakan pemotong PPh Pasal 21.

METODE PEMOTONGAN PPh PASAL 21

Gross Up Method: Beban pajak ditanggung perusahaan dan dimasukkan sebagai penghasilan bruto karyawan.

Gross Method: Karyawan menerima gaji yang telah dipotong PPh 21.

TARIF EFEKTIF RATA-RATA (TER)

● Perhitungan menggunakan TER bulanan (penghasilan bruto sebulan x tarif TER bulanan) kecuali masa pajak terakhir.

SUBJEK PPH PASAL 21/26 (Pasal 3 ayat (1) PMK 168/2023)

● Pegawai tetap (Jan-Nov: Ph Bruto x TER Bulanan, Des/terakhir: PKP setahun x Tarif Pasal 17).

● Pegawai tidak tetap (bulanan: Ph Bruto x TER Bulanan, tidak bulanan: Rp0-2,5jt/hari = Ph Bruto x TER Harian, >Rp2,5jt/hari = Ph Bruto x 50% x Tarif Pasal 17).

● Bukan pegawai (>= Ph Bruto x 50% x Tarif Ps 17).

● Peserta kegiatan (= Ph Bruto x Tarif Ps 17).

● Program pensiun (= Ph Bruto x Tarif Ps 17).

PENGURANG PENGHASILAN KENA PAJAK

Pegawai Tetap: Biaya Jabatan (5% dari penghasilan bruto, maks. Rp6.000.000/tahun atau Rp500.000/bulan), iuran pensiun/hari tua, zakat/sumbangan keagamaan.

Pensiunan: Biaya Pensiun (5% dari penghasilan bruto, maks. Rp2.400.000/tahun atau Rp200.000/bulan), zakat/sumbangan keagamaan.

PENGURANG PENGHASILAN BRUTO PEMBERI KERJA

● Biaya yang berkaitan dengan kegiatan usaha (termasuk upah, gaji, honorarium, bonus, gratifikasi, tunjangan).

● Biaya penggantian/imbalan natura/kenikmatan.

STRATEGI TAX SAVING PPH 21/26

● Pemanfaatan Insentif PPh.

● Maximizing Deductions (metode gross up).

● Pemanfaatan Tax Treaty WPLN (Surat Keterangan Domisili).

● Manajemen Kompensasi Lebih Bayar.

STUDI KASUS

● Contoh perhitungan PPh 21 dengan metode gross dan gross up pada perusahaan PT.

Puasa Ramadhan, Tbk (PTPR).

● Kesimpulan: Metode mix method menghasilkan tax saving lebih besar.

KESIMPULAN

● Metode mix method (gross untuk sebagian karyawan dan gross up untuk sebagian lainnya) menghasilkan tax saving atau cash advantage lebih besar bagi perusahaan.

● Penerapan metode gross berdampak pada rendahnya PKP dan pajak terutang karyawan, namun tidak memberikan tax saving maksimal bagi perusahaan.

Sources:

● Kelompok 7_Fiskal A_PPT PPh 21/26.pdf

(3)

Judul: Manajemen Pajak pada PPh PotPut Lainnya

Pengantar: Dokumen ini membahas manajemen pajak terkait Pajak Penghasilan Potong dan Pungut (PPh PotPut), yang merupakan mekanisme pemungutan pajak di mana pihak pembayar (pemotong) memotong atau memungut pajak dari penghasilan yang dibayarkan kepada pihak penerima (yang dipotong/dipungut).

Poin-Poin Utama:

1. Definisi Manajemen Pajak: Upaya berkelanjutan untuk mengatur beban pajak secara efisien, efektif, dan ekonomis sesuai dengan peraturan yang berlaku. Tujuannya adalah meminimalkan beban pajak, memaksimalkan laba setelah pajak, mengurangi risiko pemeriksaan pajak, dan memenuhi kewajiban perpajakan.

2. MindMap PPh PotPut: Dokumen ini menyajikan peta konsep (MindMap) yang menggambarkan berbagai jenis PPh PotPut, termasuk PPh Pasal 21, 22, 23, 26, 4(2) Final, PPh 15, PPh 19, PPh 31D, Bea Materai, PPN, dan PPnBM. Peta ini mengelompokkan jenis pajak berdasarkan objeknya (sewa, jasa, barang, dll.).

3. Perlakuan PPh PotPut untuk Wajib Pajak Luar Negeri (WPLN):

○ Identifikasi status lawan transaksi sebagai WPLN.

○ Penentuan hak pemotongan PPh Pasal 26:

■ Gunakan tax treaty (perjanjian penghindaran pajak berganda) jika ada dan WPLN menyerahkan Form DGT atau SKD (Surat Keterangan Domisili).

■ Beda penghasilan pasif (bunga, dividen, royalti) dan aktif (jasa atau kegiatan usaha).

○ Jika WPLN adalah treaty partner: Tarif tax treaty berlaku untuk penghasilan pasif.

Untuk penghasilan aktif, perhatikan apakah ada Bentuk Usaha Tetap (BUT) di Indonesia.

(4)

○ Jika WPLN bukan treaty partner atau tidak ada Form DGT: Tarif domestik (20%) berlaku untuk penghasilan pasif. Untuk penghasilan aktif, perhatikan juga keberadaan BUT.

4. Mengelola Perbedaan Interpretasi: Perbedaan interpretasi peraturan PPh PotPut sering terjadi dan menimbulkan risiko bagi payor (pemotong).

○ Risiko payor: Jika tarif yang digunakan terlalu rendah, bisa dianggap kurang memotong dan dikenakan SKPKB (Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar) dan sanksi.

○ Klausul Indemnity/Warranty dalam Kontrak: Payor sering memasukkan klausul yang mewajibkan payee (yang dipotong) menanggung kekurangan pajak jika ada koreksi.

○ Strategi Payee: Melakukan riset perpajakan, meminta opini konsultan pajak, atau mengajukan private ruling ke DJP (Direktorat Jenderal Pajak).

5. Rekonsiliasi Objek PPh PotPut:

Selaku Pemotong: Perbedaan bisa terjadi karena beda interpretasi, kesalahan jumlah objek, beda waktu, tidak ada bukti pendukung, atau beda kurs.

Selaku Pihak yang Dipotong: Rekonsiliasi dilakukan dengan membandingkan catatan komersial dengan SPT Masa PPh PotPut. Perbedaan umumnya karena beda waktu atau beda kurs.

6. Perencanaan Pajak PPh PotPut:

Pemotong: Bertujuan mencapai efisiensi pajak dengan meminimalkan sanksi karena tidak/kurang potong, telat setor, atau telat lapor.

Yang Dipotong: Memaksimalkan pemanfaatan hak pengkreditan pajak (jika PPh yang dipotong bukan final).

7. Kesalahan dan Solusi: Kesalahan bisa terjadi dalam penerapan tarif, pasal, data withholder/withholdee, jumlah PPh terutang, atau masa pajak. Solusinya adalah pemindahbukuan (overbooking), pembetulan SPT, atau pengajuan SKB (Surat Keterangan Bebas).

8. Surat Keterangan Bebas (SKB): Dokumen yang membebaskan wajib pajak dari pemotongan/pemungutan PPh 21, 22, 23, dan 22 impor (bukan PPh final).

○ Syarat pengajuan SKB: Menyampaikan SPT Tahunan, surat pernyataan, dan dokumen pendukung.

○ Wajib Pajak yang dapat mengajukan SKB: Yang mengalami kerugian fiskal, berhak kompensasi kerugian, PPh sudah dibayar lebih besar, atau penghasilannya dikenakan PPh final.

9. Kesimpulan: Manajemen pajak PPh PotPut penting untuk meminimalkan beban pajak dan memaksimalkan laba. Kompleksitas PPh PotPut menimbulkan berbagai isu, dan terdapat perencanaan pajak serta solusi untuk mengatasi masalah yang mungkin timbul.

Semoga ringkasan ini jelas dan membantu Anda memahami materi dari dokumen tersebut.

Sources:

● Kelompok 8_Fiskal A_Manajemen Pajak PPh PotPut (2).pdf

BATAS

(5)

Judul: Manajemen Pajak Menghadapi Pemeriksaan Pajak

Garis Besar Dokumen: Dokumen ini membahas konsep pemeriksaan pajak, peraturan yang terkait, tujuan dan kriteria pemeriksaan, tipe-tipe pemeriksaan, jangka waktu pemeriksaan, standar pelaksanaan, alur pemeriksaan, perubahan peraturan, pengungkapan wajib pajak selama pemeriksaan, tujuan manajemen pajak dalam menghadapi pemeriksaan, manajemen pajak sebelum, saat, dan setelah pemeriksaan, serta faktor penghambat manajemen pajak.

Poin-Poin Utama:

1. Konsep Teoritis Pemeriksaan Pajak:

○ Pemeriksaan pajak berakar dari teori penegakan hukum terkait tindakan kriminal dari perspektif ekonomi.

○ Sistem perpajakan di Indonesia menganut self assessment.

2. Pengertian Pemeriksaan Pajak:

○ Serangkaian kegiatan menghimpun dan mengolah data, keterangan, dan/atau bukti secara objektif dan profesional untuk menguji kepatuhan kewajiban perpajakan atau tujuan lain dalam peraturan perundang-undangan perpajakan.

○ OECD mendefinisikan pemeriksaan pajak sebagai evaluasi terhadap pelaporan kewajiban pajak dan pemenuhan kewajiban lainnya.

3. Penyebab Pemeriksaan dan Akibat:

○ Pajak bagi wajib pajak →Wajib Pajak cenderung mengurangi pembayaran pajak (legal atau ilegal).

=> Legal → Tax Planning → How to get effective tax rate

=> Ilegal → Tax Avoidance (legal), Tax Evasion → Tidak disarankan

○ Pajak bagi Negara → Negara mengoptimalkan pemungutan pajak.

→ Cara Pemerintah melakukan Tax Audit dan Modern Tax Administration.

4. Perkembangan Regulasi Pemeriksaan Pajak:

○ Beberapa peraturan yang mengatur tata cara pelaksanaan hak dan kewajiban perpajakan, tata cara pemeriksaan, pedoman pemeriksaan terhadap wajib pajak yang mempunyai hubungan istimewa, dan standar pemeriksaan.

5. Tujuan Pemeriksaan Pajak:

○ Menguji Kepatuhan Pemenuhan Kewajiban Perpajakan (Pengembalian LB Pasal 17B KUP, SPT LB selain Pengembalian LB Pasal 17B KUP, SPT menyatakan rugi,

(6)

dll.)

○ Tujuan Lain (Pemberian NPWP secara jabatan, Penghapusan NPWP, Pengukuhan PKP secara jabatan, dll.)

6. Kriteria Pemeriksaan Pajak:

Pemeriksaan Rutin: Terkait pemenuhan hak dan/atau pelaksanaan kewajiban perpajakan.

Pemeriksaan Khusus:

Risk Based Audit: Berdasarkan analisis risiko yang menunjukkan indikasi ketidakpatuhan.

Audit Based on Data: Berdasarkan data konkret yang menunjukkan indikasi ketidakpatuhan.

7. Tipe-Tipe Pemeriksaan:

Pemeriksaan Lengkap: Mencakup seluruh pos dalam SPT/SPOP secara mendalam.

Pemeriksaan Terfokus: Terfokus pada satu atau beberapa pos dalam SPT/SPOP secara mendalam.

Pemeriksaan Spesifik: Terfokus pada satu atau beberapa pos secara sederhana.

8. Jangka Waktu Pemeriksaan:

Jangka Waktu Pengujian: Terhitung sejak Surat Pemberitahuan Pemeriksaan disampaikan.

Jangka Waktu PAHP & Pelaporan: Terhitung sejak SPHP disampaikan. (Rincian ada pada tabel dan halaman dokumen)

9. Standar Pelaksanaan Pemeriksaan Pajak:

○ Persiapan sesuai tujuan pemeriksaan.

○ Pengujian berdasarkan metode dan teknik pemeriksaan.

○ Hasil temuan berdasarkan bukti yang kuat.

○ Pelaksanaan pemeriksaan di kantor DJP atau tempat wajib pajak.

○ Dokumentasi pelaksanaan pemeriksaan dalam kertas kerja pemeriksaan.

10. Alur Pemeriksaan Pajak: (Rincian alur ada pada diagram di halaman dokumen) 11. Matriks Perubahan Peraturan:

○ Perbandingan antara PMK-17/PMK-256 dan PMK-15 terkait pembagian pemeriksaan, simplifikasi peraturan, perubahan jangka waktu, penambahan kriteria, pembatasan perpanjangan jangka waktu pengujian, dan lain-lain. (Rincian ada pada tabel di halaman dokumen)

12. Pengungkapan WP dalam Laporan Tersendiri selama Pemeriksaan:

○ Pasal 8 ayat (4) UU KUP dan Pasal 7 ayat (2) huruf b PMK 15/2024 mengatur pengungkapan ketidakbenaran pengisian SPT oleh wajib pajak.

13. Tujuan Manajemen Pajak dalam Menghadapi Pemeriksaan Pajak:

○ Antisipasi Koreksi Pajak yang Besar.

○ Antisipasi Terjadinya Sengketa Pajak/ Tax Dispute.

14. Manajemen Pajak:

Sebelum Pemeriksaan Pajak: Pemeliharaan administrasi pembukuan dan arsip, menyiapkan dokumen, melakukan tax review.

Sebelum SP2 Rilis: Pengajuan pengembalian pendahuluan kelebihan pembayaran pajak, pengajuan SKB.

Saat Pemeriksaan Pajak: Menyerahkan data dan dokumen, memberikan tanggapan, melaksanakan hak dan kewajiban, menghadiri panggilan, menyampaikan statement saat closing conference, menyesuaikan tax planning,

(7)

meminta temuan bertahap, menyusun surat tanggapan SPHP, mengajukan quality assurances.

Setelah Pemeriksaan Pajak: Mengajukan keberatan atas SKP, memperhatikan perbandingan cost dengan beban sanksi, melakukan tax review.

15. Faktor Penghambat Manajemen Pajak:

○ Sumber Daya Manusia (SDM).

○ Fasilitas data dan dokumen yang kurang memadai.

○ Target Kantor Pelayanan Pajak (KPP).

○ Keterbatasan dana untuk memakai jasa konsultan pajak.

Semoga rangkuman ini membantu dan tidak ada kesalahan interpretasi. Jika ada detail spesifik yang ingin Anda ketahui lebih lanjut, silakan tanyakan.

BATAS

Judul: Manajemen Pajak: Menghadapi Keberatan, Banding, dan Peninjauan Kembali

Garis Besar Dokumen: Dokumen ini membahas upaya hukum yang dapat ditempuh Wajib Pajak dalam menghadapi sengketa pajak dengan Direktorat Jenderal Pajak (DJP).

Upaya-upaya hukum tersebut meliputi Keberatan, Banding, dan Peninjauan Kembali. Dokumen ini juga membahas konsep dasar pemeriksaan pajak, penelitian pajak, alur upaya hukum pajak, definisi manajemen pajak dalam sengketa, penyebab sengketa, serta strategi manajemen pajak dalam menghadapi sengketa.

Poin-Poin Utama:

1. Latar Belakang:

○ Jumlah sengketa pajak dengan DJP pada periode 2020-2024 menunjukkan angka yang signifikan.

○ Pemeriksaan pajak dapat menghasilkan Surat Ketetapan Pajak (SKP) seperti SKPN, SKPKB, SKPLB, dan SKPKBT.

○ Penelitian pajak dapat menghasilkan Surat Tagihan Pajak (STP).

2. Pemeriksaan dan Penelitian Pajak:

Pemeriksaan Pajak: Serangkaian kegiatan menghimpun dan mengolah data untuk menguji kepatuhan Wajib Pajak.

Penelitian Pajak: Kegiatan menilai kelengkapan dan kebenaran pengisian Surat Pemberitahuan (SPT).

3. Alur Upaya Hukum Pajak:

○ Jika Wajib Pajak tidak setuju dengan STP, dapat mengajukan keberatan.

○ Jika Wajib Pajak tidak setuju dengan SKP (SKPN, SKPKB, SKPLB, SKPKBT), dapat mengajukan keberatan ke DJP.

○ Jika Wajib Pajak tidak setuju dengan keputusan keberatan, dapat mengajukan banding ke Pengadilan Pajak.

○ Jika Wajib Pajak tidak setuju dengan putusan banding, dapat mengajukan Peninjauan Kembali (PK) ke Mahkamah Agung.

4. Manajemen Pajak dalam Sengketa:

○ Manajemen pajak dalam sengketa adalah upaya Wajib Pajak untuk mengelola

(8)

masalah perpajakan secara baik, ekonomis, efektif, dan efisien tanpa melanggar peraturan.

○ Tujuannya adalah mengurangi biaya langsung, biaya waktu, dan biaya psikologis dalam penyelesaian sengketa.

5. Sengketa Pajak:

○ Sengketa pajak adalah perselisihan antara Wajib Pajak dan fiskus setelah diterbitkannya keputusan oleh otoritas pajak.

○ Upaya penyelesaian sengketa meliputi keberatan, banding, dan gugatan.

○ Faktor penyebab sengketa: peraturan perundang-undangan, penerapan peraturan, serta sistem, prosedur, dan kebijakan.

6. Keberatan:

○ Upaya administratif yang dapat dilakukan Wajib Pajak atas SKP atau pemotongan/pemungutan yang dianggap tidak adil.

○ Syarat pengajuan: diajukan tertulis dalam Bahasa Indonesia, mengemukakan alasan, diajukan dalam 3 bulan sejak diterima SKP, melunasi pajak yang disetujui, satu keberatan untuk satu SKP/pemotongan/pemungutan, tidak sedang dalam proses pengajuan Pasal 36.

○ Sanksi jika keberatan ditolak/dikabulkan sebagian/menambah pajak terutang:

denda 30% dari pajak terutang dalam SK dikurangi jumlah yang dibayar sebelum keberatan.

○ Hak pemohon: keberatan dianggap dikabulkan jika >12 bulan, mendapatkan imbalan bunga jika SK keberatan menyatakan kelebihan bayar, meminta keterangan tertulis DJP.

7. Banding:

○ Upaya hukum yang diajukan atas dasar ketidakpuasan terhadap SK Keberatan.

○ Syarat pengajuan: diajukan tertulis dalam Bahasa Indonesia, mengemukakan alasan yang jelas, diajukan dalam 3 bulan sejak diterima SK Keberatan, melunasi minimal 50% pajak terutang, satu banding untuk satu SK Keberatan, melampirkan SK Keberatan.

○ Proses banding: banding biasa dan banding cepat.

○ Sanksi jika banding ditolak/dikabulkan sebagian: denda 60% dari jumlah pajak dalam putusan banding dikurangi pembayaran sebelum keberatan.

○ Hak pemohon: putusan terbuka dalam 12 bulan, keterangan tertulis atas dasar SK Keberatan, imbalan bunga jika putusan menyatakan kelebihan bayar, waktu pelunasan pajak ditangguhkan 1 bulan sejak putusan banding.

8. Gugatan:

○ Upaya hukum terhadap pelaksanaan penagihan pajak atau keputusan yang dapat diajukan gugatan.

○ Objek gugatan: pelaksanaan surat paksa, keputusan pencegahan, keputusan terkait pelaksanaan keputusan perpajakan, penerbitan SKP/SK Keberatan yang tidak sesuai prosedur.

○ Ketentuan umum dan khusus gugatan.

○ Hak pemohon: menunda penagihan pajak, memperoleh kompensasi.

9. Peninjauan Kembali (PK):

○ Upaya hukum luar biasa terhadap putusan pengadilan yang telah berkekuatan hukum tetap.

○ Syarat pengajuan: alasan-alasan dan jangka waktu pengajuan yang diatur dalam UU Pengadilan Pajak.

(9)

○ Persyaratan administratif dan berkas yang diperlukan (Bundel A dan Bundel B).

○ Keputusan PK: mengabulkan/sebagian, menolak, tidak dapat diterima, putusan sela/menangguhkan.

○ Sanksi: jika putusan PK menyebabkan pajak terutang bertambah, dikenai denda 60% dari selisih pajak menurut putusan PK dan pajak yang telah dibayar sebelum keberatan.

10. Strategi Manajemen Pajak:

○ Tujuan: mengoptimalkan/meminimalkan beban pajak dalam sengketa, mendapatkan keadilan atas penagihan pajak, SKP, SK, dan/atau putusan.

○ Strategi: mempersiapkan dan menjaga bukti dokumentasi, memperkuat konsep akuntansi dan perpajakan, menjaga konsistensi pencatatan, melakukan analisis biaya dan manfaat, memahami dan memenuhi persyaratan formal, bersifat kooperatif, mencabut permohonan jika tidak yakin, melunasi seluruh pajak terutang.

11. Studi Kasus:

○ Contoh kasus CV ARTA LESTARI yang mengajukan restitusi PPN dan sengketa dengan DJP.

○ Analisis manajemen pajak yang diterapkan CV ARTA LESTARI.

12. Kesimpulan dan Saran:

○ Sengketa pajak terjadi karena perbedaan interpretasi regulasi atau kesalahan administratif.

○ Penyelesaian sengketa melalui keberatan, banding, dan PK.

○ Keberhasilan upaya hukum bergantung pada kelengkapan dokumen, pemahaman regulasi, dan argumentasi yang kuat, serta mempertimbangkan biaya dan waktu.

○ Wajib Pajak disarankan untuk memastikan kelengkapan dokumen, memperdalam pemahaman regulasi, dan berkonsultasi dengan ahli pajak.

Sources:

● PPT Kelompok 10 Manajemen Pajak_Fiskal A_2023.pdf BATAS

Judul: Manajemen Pajak Internasional

Garis Besar Dokumen: Dokumen ini membahas konsep manajemen pajak, khususnya dalam konteks internasional. Materi mencakup definisi manajemen pajak, ruang lingkup penghasilan dalam perpajakan, pajak penghasilan internasional, tujuan, dasar hukum, PPh Pasal 24 (Kredit Pajak Luar Negeri/KPLN), PPh Pasal 26, isu-isu transaksi internasional (pemajakan berganda, transfer pricing, arm's length principle, harmful tax competition, e-commerce, beneficial owner), cara pencegahan pemajakan berganda, tax treaty, tax haven, upaya efisiensi pajak dalam transaksi internasional, kebijakan negara berkembang (Indonesia), studi kasus, dan kesimpulan.

Poin-Poin Utama:

1. Definisi Manajemen Pajak: Usaha menyeluruh yang dilakukan terus-menerus oleh wajib pajak agar semua urusan perpajakan dapat dikelola dengan baik, ekonomis, efektif, dan

(10)

efisien, sehingga memberikan kontribusi maksimum bagi kelangsungan usaha tanpa mengorbankan kepentingan penerimaan negara dan keadilan perpajakan. Empat fungsi manajemen pajak: perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengendalian.

2. Penghasilan dalam Perpajakan: Memiliki cakupan luas, tidak terbatas pada gaji atau upah, sesuai dengan Accretion Theory of Income yang menekankan pada kemampuan ekonomi untuk menguasai barang dan jasa. Pasal 4 ayat 1 UU PPh menyatakan objek pajak adalah "setiap tambahan kemampuan ekonomis." Dalam kegiatan ekonomi global, pengenaan pajak mempertimbangkan yurisdiksi dan aturan perpajakan lintas negara.

3. Pajak Penghasilan Internasional: Kesepakatan perpajakan antar negara melalui Persetujuan Penghindaran Pajak Berganda (P3B) atau tax treaty. Indonesia menganut asas campuran: Asas Domisili (outbound) dan Asas Sumber (inbound). Tujuan pajak internasional: keadilan, pencegahan penghindaran pajak, peningkatan transparansi, dan mendukung perdagangan/investasi global.

4. Dasar Hukum: UU Domestik: Undang-Undang Pajak Penghasilan No. 36 Tahun 2008, khususnya Pasal 2, 3, 5, 15, 18, 24, 26, dan 32A.

5. PPh Pasal 24 (KPLN): Subjek: WPDN yang terutang pajak atas seluruh penghasilan, termasuk dari luar negeri. Objek: Penghasilan dari luar negeri. Metode KPLN: ordinary credit. Batasan KPLN dihitung dengan formula dan sumber penghasilan ditentukan berdasarkan jenis penghasilannya (saham, bunga, sewa, jasa, BUT, dll.).

6. PPh Pasal 26: Dikenakan atas penghasilan yang diterima WPLN dari Indonesia selain BUT. Kriteria SPLN tercantum dalam Pasal 2 ayat 4 UU PPh. Objek dan tarif: 20% dari jumlah bruto atau perkiraan penghasilan neto.

7. Isu Transaksi Internasional:

Pemajakan Berganda (Double Taxation): Konflik antara negara yang dapat menimbulkan pemajakan berganda: Residence-Residence Conflict, Source-Residence Conflict, dan Source-Source Conflict.

Transfer Pricing: Penetapan harga dalam transaksi antar perusahaan berelasi, diatur dalam Pasal 18 ayat (3) UU PPh dan PMK 213/2016. Metode: Comparable Uncontrolled Price, Cost Plus Method, Resale Price Method, Transactional Net Margin, Profit Split Method.

Arm's Length Principle: Transaksi antara pihak yang memiliki hubungan khusus harus dilakukan dengan harga wajar. Hubungan istimewa: kepemilikan saham, penguasaan, hubungan keluarga sedarah/semenda satu derajat.

Harmful Tax Competition: Persaingan tidak sehat antarnegara di bidang pajak dengan insentif pajak besar. Dampak: merusak sistem pajak global, mengurangi penerimaan negara lain.

E-commerce: Transaksi digital dengan objek pajak produk dan jasa digital.

Pemajakan diatur dalam PMK Nomor 81 Tahun 2024.

Beneficial Owner: Penerima manfaat sebenarnya dari penghasilan (dividen, bunga, royalti). Diatur dalam Pasal 10, 11, dan 12 DTA.

8. Cara Pencegahan Pemajakan Berganda:

Tax Credit: Full Tax Credit Method dan Ordinary Tax Credit (dibatasi sebesar pajak terutang di Indonesia).

Tax Treaty: Perjanjian antar dua negara untuk pembagian hak pemajakan dan menghindari pemajakan berganda. Model: OECD Model dan UN Model.

Syarat Memanfaatkan Tax Treaty: Perbedaan aturan UU PPh dan Tax Treaty, WPLN menyertakan SKD, tidak ada penyalahgunaan Tax Treaty, penerima penghasilan adalah beneficial owner.

(11)

Tax Haven: Negara/yurisdiksi dengan tarif pajak rendah, tidak ada pertukaran informasi, tidak ada transparansi, dan tidak ada persyaratan aktivitas substansial perusahaan.

9. Upaya Efisiensi Pajak dalam Transaksi Internasional:

○ Strategi Tidak Timbulnya BUT: Mematuhi time test (batas hari kehadiran), memberikan jasa secara daring, mengatur jadwal kehadiran tenaga ahli.

○ Pemanfaatan Agen Independen: Agen independen dikenakan pajak di Indonesia, bukan perusahaan asing.

○ Kerja Sama dengan Perusahaan Lokal: Perusahaan lokal yang akan berperan sebagai penjual.

○ Jasa Maklon atau Kantor Perwakilan Dagang Asing: Kantor perwakilan hanya melakukan promosi atau survei pasar.

○ Efisiensi Pajak untuk Passive Income: Sertifikat Domisili (COD), Beneficial Owner, Lampiran Kontrak, Kewajiban Administrasi.

10. Kebijakan Negara Berkembang (Indonesia): Menarik investasi asing dengan tarif pajak rendah, tax holiday, tax allowance, dan belajar dari kunci kesuksesan Vietnam (layanan terpadu, keamanan, stabilitas, kondisi ketenagakerjaan).

11. Studi Kasus: Louis Co. (Luksemburg) mengekspor sepatu yang diproduksi oleh PT Makmur (Indonesia) dengan harga yang lebih rendah dari harga pasar wajar. Analisis:

Praktik transfer pricing dan penerapan arm's length principle.

12. Kesimpulan: Manajemen pajak internasional penting untuk efisiensi pajak dalam transaksi lintas negara. Pemahaman regulasi, tax treaty, dan isu-isu terkait diperlukan untuk menghindari pemajakan berganda dan memastikan kepatuhan pajak.

Judul: Manajemen Pajak saat Penutupan Usaha (Sesuai PPT)

Berdasarkan: Kelompok 8 - Fiskal A (2023)

Dosen Pengampu: Dr. Ning Rahayu, MSi

II. Tahap Likuidasi Perseroan (PASAL 147 – PASAL 152 UU PT):

Pengumuman dan Pemberitahuan Pembubaran Perseroan: Likuidator wajib memberitahukan kepada seluruh kreditor mengenai pembubaran perseroan dalam Surat Kabar dan Berita Negara Republik Indonesia (BNRI) dan Menteri untuk dicatat dalam daftar perseroan yang sedang dalam proses likuidasi paling lambat 30 hari sejak tanggal pembubaran perseroan.

Pencatatan dan Pembagian Harta Kekayaan: Likuidator wajib membereskan harta kekayaan perseroan dalam proses likuidasi. Dalam hal likuidator memperkirakan bahwa utang perseroan lebih besar dari kekayaan perseroan, likuidator wajib mengajukan permohonan pailit perseroan.

Pengajuan Keberatan oleh Kreditur: Kreditur dapat mengajukan keberatan atas rencana pembagian kekayaan hasil likuidasi paling lambat 60 hari sejak tanggal pengumuman pembubaran perseroan. Apabila pengajuan keberatan ditolak oleh

(12)

likuidator, kreditur dapat mengajukan gugatan ke pengadilan negeri paling lambat 60 hari sejak tanggal penolakan keberatan.

Pertanggungjawaban Likuidator: Likuidator bertanggung jawab kepada Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) atau pengadilan yang mengangkatnya atas likuidasi perseroan yang dilakukan dan kurator bertanggung jawab kepada hakim pengawas atas likuidasi perseroan yang dilakukan.

Pengumuman Hasil Likuidasi: Likuidator wajib memberitahukan kepada Menteri dan mengumumkan hasil akhir proses likuidasi dalam surat kabar setelah RUPS memberikan pelunasan dan pembebasan kepada likuidator atau setelah pengadilan menerima pertanggungjawaban likuidator yang ditunjuknya. Pemberitahuan dan pengumuman hasil likuidasi dilakukan paling lambat 30 hari sejak tanggal pertanggungjawaban likuidator atau kurator diterima oleh RUPS, pengadilan atau hakim pengawas.

III. Perlakuan Perpajakan dalam Proses Likuidasi:

UU PPh:

○ Pasal 4 ayat (1) huruf d angka 3, keuntungan karena likuidasi.

○ Penjelasan Pasal 4 ayat (1) huruf g angka 2, pembayaran kembali karena likuidasi yang melebihi jumlah modal yang disetor.

○ Penjelasan Pasal 4 ayat (1) huruf k, keuntungan karena pembebasan utang yang mungkin terjadi karena likuidasi.

UU PPN: Pasal 1A ayat (2) huruf e, BKP berupa aktiva yang semula tidak untuk diperjualbelikan, yang masih tersisa pada saat pembubaran perusahaan merupakan non objek PPN.

UU KUP: Pasal 20 ayat (2) huruf c, apabila memiliki utang pajak dapat dilakukan penagihan seketika dan sekaligus jika terdapat tanda-tanda Penanggung Pajak akan membubarkan badan usaha.

IV. Kewajiban Perusahaan dalam Proses Likuidasi:

Pembayaran pesangon kepada karyawan: Dalam Pasal 95 ayat (4) UU Ketenagakerjaan, jika perusahaan dilikuidasi, maka pembayaran kepada karyawan harus didahulukan, hal ini dilakukan guna menjamin hak dan keadilan karyawan jika nantinya perusahaan sudah tidak beroperasi kembali.

Pelunasan utang pajak beserta sanksinya (jika ada): Dalam Pasal 20 ayat (2) huruf c UU KUP, penagihan seketika dan sekaligus dapat dilakukan apabila terdapat tanda-tanda bahwa Penanggung Pajak akan membubarkan badan usaha.

Penghapusan NPWP: Dalam Pasal 2 ayat (6) huruf b UU KUP, penghapusan NPWP dapat dilakukan oleh DJP apabila WP Badan dilikuidasi karena penghentian atau penggabungan usaha.

V. Manajemen Pajak atas Isu PPh Pot-Put untuk Proses Likuidasi:

● Umumnya, dalam perjanjian kontraktual, tanggung jawab administrasi PPh Pot-Put berada di tangan pihak yang melakukan pembayaran atas penghasilan yang diterima oleh pihak lain. Namun, jika pihak pembayar penghasilan tersebut akan menghentikan kegiatan usahanya melalui proses likuidasi, maka terdapat sejumlah opsi pengelolaan pajak yang dapat dipertimbangkan untuk mengurus kewajiban Pot-Put, yaitu:

1. Pembayaran imbalan/penghasilan disepakati sebelum likuidasi.

2. Pihak pembayar yang dilikuidasi mengalihkan kewajiban pengadministrasian Pot-Put kepada pemegang sahamnya.

3. Kewajiban pengadministrasian Pot-Put dilakukan oleh penerima penghasilan atas nama pembayar penghasilan.

● Ketiga alternatif tersebut mencerminkan prinsip konsensualisme dalam manajemen pajak,

(13)

yang merujuk pada ketentuan Pasal 1320 KUHPerdata mengenai syarat sah perjanjian, serta prinsip kebebasan berkontrak sebagaimana diatur dalam Pasal 1338 KUHPerdata.

VI. Penghapusan NPWP dan Pencabutan NPPKP pada Saat Penutupan Usaha:

● Pada saat penutupan usaha, harus mengajukan permohonan penghapusan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) dan pencabutan Nomor Pengukuhan Pengusaha Kena Pajak (NPPKP) karena kedua hal tersebut tidak otomatis walaupun usahanya telah tutup.

● Penghapusan NPWP: Tindakan menghapuskan NPWP dari administrasi KPP dan/atau DJP.

● Pencabutan pengukuhan PKP: Tindakan mencabut Pengukuhan PKP dari administrasi KPP dan/atau DJP.

● Apabila penghapusan NPWP dan pencabutan NPPKP tidak segera dilakukan saat penutupan usaha, maka dapat menimbulkan tagihan sanksi karena dianggap tidak melaporkan SPT dan tidak melaksanakan kewajiban perpajakan lainnya.

VII. Penghentian Kegiatan Operasional & Status Dormant:

● Pembubaran usaha dengan tidak langsung melikuidasinya, melainkan dengan penghentian kegiatan operasional usaha dan mengkondisikan perusahaan menjadi tidak aktif (dormant).

● Perusahaan masih berharap akan mendapatkan proyek baru, meskipun setelahnya perusahaan akan benar-benar menutup usahanya, oleh karena itu pengurusan legal pembubaran usaha tetap dilakukan.

How:

○ Melakukan efisiensi usaha pada masa dormant: Dapat dilakukan dengan memangkas biaya-biaya operasional, seperti menurunkan biaya gaji pegawai dan menekan biaya sewa gedung dengan melakukan realokasi gedung operasional.

○ Tetap melaksanakan kewajiban perpajakan: Kewajiban perpajakan tetap harus dilakukan meskipun nihil, karena kewajiban subjektif pajaknya belum berakhir (NPWP/NPPKP-nya masih aktif).

○ Dapat dilakukan selama masa daluwarsa penetapan pajak (5 tahun): Tujuannya untuk mengantisipasi adanya tax exposure saat pemeriksaan pajak. Meskipun dapat dipastikan jumlahnya tidak material dan kemungkinan risiko pajak yang ditemukan hanya keterlambatan lapor SPT. Perusahaan dapat mengajukan pembatalan STP atas keterlambatan lapor SPT, sebagaimana diatur dalam Pasal 7 (2) huruf e UU KUP.

VIII. Cost & Benefit Analysis: Dormant vs. Likuidasi:

Dormant (Tidak Langsung):

○ Perusahaan masih harus melakukan kewajiban perpajakannya.

○ Perusahaan yang terlalu lama dormant akan kehilangan kepercayaannya.

○ Perusahaan yang sedang dormant berkemungkinan lebih kecil untuk diaudit sepanjang memberitahukan status dormant ke Account Representative (AR).

○ Ketika perusahaan hidup kembali, tidak perlu membuat NPWP baru.

Likuidasi (Langsung):

○ Perusahaan harus mengajukan permohonan penghapusan NPWP/NPPKP, sehingga otomatis menjadi subject to audit.

○ Harus menyelesaikan seluruh kewajiban perpajakannya & akan dilakukan penagihan seketika dan sekaligus.

○ Jika ingin aktif kembali, harus membuat NPWP/NPPKP baru.

(14)

Sources:

● Kelompok 8_Fiskal A_Manajemen Pajak pada Penutupan Usaha.pdf

Referensi

Dokumen terkait

Objek dan Subjek Pajak PPh Pasal 21 Pada Pegawai Biro Pusat Administrasi Universitas Sumatera Utara.. Objek pajak penghasilan PPh Pasal 21 pada Pegawai Biro

Lili Rahmawati: Penerapan Pajak Penghasilan Pasal 21 pada Kantor Pelayanan Pajak Bumi dan Bangunan Medan Dua, 2007... Lili Rahmawati: Penerapan Pajak Penghasilan Pasal 21 pada

(2) Untuk kriteria lengkap, menganalisis unsur yang memuat objek pajak dan dokumen pendukung lain yang harus dilaporkan dalam Surat Pemberitahuan Masa

(2) Untuk kriteria lengkap, menganalisis unsur yang memuat objek pajak dan dokumen pendukung lain yang harus dilaporkan dalam Surat Pemberitahuan Masa

pemotongan atas penghasilan yang terutang PPh pasal 21 yaitu tarif pajak pasal 17 UU PPh. Besarnya tarif pajak PPh pasal 21 yang diterapkan terhadap WP yang tidak memiliki

Dan dalam melakukan penelitian hanya memperbandingkan antara pemberian tunjangan-tunjangan dan pemberian natura, pemberian tunjangan pajak penghasilan pasal 21, pajak

Pajak penghasilan pasal 21 merupakan pajak atas penghasilan berupa gaji, upah honorarium, tunjangan, dan pembayaran lain dengan nama dan dalam bentuk apapun sehubungan

penyerahan jasa, atau penyelenggaraan kegiatan selain yang telah dipotong Pajak Penghasilan Pasal 21, yang dibayarkan atau terutang oleh badan pemerintah atau subjek pajak dalam