PERPAJAKAN 1
“PAJAK PENGHASILAN PASAL 26”
OLEH KELOMPOK 2:
ASTI B1C122010
ASYILA DWIPUTRI DESWINA DARWIS B1C122011
BAHAR B1C122012
DWI MULYANI B1C122013
EDOARJO B1C122014
FADLAN HIDAYAT B1C122015
FAHREZI SESY OLHAYAN B1C122016
FIKRAN B1C122017
HERI HARRDIANSYAH B1C122019
HERU HERMAWAN R. B1C122020
INTAN B1C122021
ISRAWATI B1C122022
PROGRAM STUDI S-1 AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS HALU OLEO KENDARI
2023
KATA PENGANTAR
Puji syukur saya panjatkan kepada Allah SWT yang dengan karunia-NYA sehingga kami diberikan kemudahan dalam membuat dan menyelesaikan makalah
“PAJAK PENGHASILAN PASAL 26”. Maksud pembuatan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas dari Dosen pada mata kuliah Perpajakan 1. Selain itu, makalah ini juga bertujuan untuk menambah wawasan bagi para pembaca dan juga bagi penulis.
Saya mengucapkan terima kepada Ibu Dr. Sulvariany Tamburaka, SE, M.Si, ACPA, CTA selaku dosen yang telah memberikan tugas ini sehingga dapat menambah pengetahuan dan wawasan sesuai dengan bidang studi yang saya tekuni.
Kami menyadari bahwa pembuatan makalah ini tentu masih ada kekurangan, sehingga kami membutuhkan saran, kritik dan masukan dalam pembuatan makalah selanjutnya. Kami berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua.
Kendari, November 2023
Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR...i
DAFTAR ISI...ii
BAB I PENDAHULUAN...1
1.1 Latar Belakang...1
1.2 Rumusan Masalah...1
1.3 Tujuan...1
BAB II PEMBAHASAN...2
2.1 Dasar Hukum Penggenaan Pajak...2
2.2 Pengertian Pajak Penghasilan 26...2
2.3 Pemotong Pajak Penghasilan 26...3
2.4 Penghasilan Yang Dipotong PPh Pasal 26...3
2.5 Tarif Dan Perhitungan Pajak Penghasilan Pasal 26...3
2.6 Sifat Pemotongan / Pemungutan, Penyetoran, Dan Pelaporan Pajak Penghasilan Pasal 26...6
2.7 Penyetoran dan Pelaporan PPh Pasal 26...6
BAB III PENUTUP...8
3.1 Kesimpulan...8
3.2 Saran...8 DAFTAR PUSTAKA...9
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pajak Penghasilan Pasal 26 merupakan pajak yang dikenakan atau dipotong atas penghasilan yang berasal dari Indonesia yang diterima atau diperoleh oleh Wajib Pajak luar negeri selain bentuk usaha tetap di Indonesia.
Penghasilan yang dikenakan Pajak Penghasilan Pasal 26 termasuk dividen, bunga, royalti, sewa, hadiah, pensiun, dan pembayaran berkala lainnya.
Pemotong PPh Pasal 26 harus menyampaikan Surat Pemberitahuan Massa dan menyetorkan pajak yang dipotong sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Selain itu, pemotongan PPh Pasal 26 atas penghasilan dari bentuk usaha tetap di Indonesia harus dibayar lunas sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan.
Dengan demikian, makalah ini memberikan pemahaman yang mendalam tentang Pajak Penghasilan Pasal 26 dan prosedur pemotongan serta penyetoran pajak yang relevan untuk memperluas pengetahuan tentang peraturan perpajakan di Indonesia.
1.2 Rumusan Masalah
1. pengertian pajak penghasilan 26 2. dasar hukum pajak penghasilan 26 3. pemotongan pajak penghasilan 26 4. tarif mengenai pph 26
5. sifat pemotongan dan pemungutan pph 26 1.3 Tujuan
1. Mengetahui pengertian pajak penghasilan 26 2. Mengetahui dasar hukum pph 26
3. Mengetahui pemotongan pph 26 4. Mengetahui tarif pph 26
5. Mengetahui sifat pemotongan dan pemunggut pph 26
BAB II PEMBAHASAN
2.1Dasar Hukum Penggenaan Pajak
1. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008 Tentang Perubahan Keempat Atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 Tentang Pajak Penghasilan.
2. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 624/KMK 04/1994 Tentang Pemotongan Pajak Penghasilan Pasal 26 atas Penghasilan Berupa Premi Asuransi dan Premi Reasuransi yang Dibayar Kepada Perusahaan Asuransi di Luar Negeri
3. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 434/KMK 04/1999 Tentang Pemotongan Pajak Penghasilan Pasal 26 atas Penghasilanyang Diterima atau Diperoleh Wajib Pajak Luar Negeri Selain Bentuk Usaha Tetap atas Penghasilan Berupa Keuntungan dan Penjualan Saham
4. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 14/PMK.03/2011 tentang Perlakuan Perpajakan atas Penghasilan Kena Pajak sesudah Dikurangi Pajak dari Suatu Bentuk Usaha Tetap
5. Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-61/PJ/2009 tentang Tata Cara penerapan Persetujuan Penghindaran Pajak Berganda Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-25/PJ/2010 tentang Perubahan atas Peraturan
6. Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-62/PJ/2009 tentang Pencegahan Penyalahgunaan Persetujuan Penghindaran Pajak Berganda Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor SE-23/PJ 43/1995 Tentang Penjelasan Petunjuk Pemotongan PPh Pasal 21 dan Pasal 26 (Seri PPh Pasal 21 Nomor 4)
7. Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor SE-25/PJ 4/1995 tentang Pemotongan Pajak Penghasilan Pasal 26 atas Penghasilan berupa Premi Asuransi dan Premi Reasuransi yang dibayar kepada perusahaan asuransi di Luar Negeri
2.2Pengertian Pajak Penghasilan 26
Pajak Penghasilan pasal 26 adalah pajak penghasilan yang dikenakan/dipotong atas penghasilan yang bersumber dari Indonesia yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak (WP) luar negeri selain bentuk usaha tetap (BUT) di Indonesia. Bentuk usaha tetap merupakan subjek pajak yang perlakuan perpajakannya dipersamakan dengan subjek pajak badan.
Undang - Undang Nomor 36 Tahun 2008 menganut dua sistem pengenaan pajak atas penghasilan yang diterima atau diperoleh pajak tersebut adalah : . pemenuhan sendiri kewajiban perpajakannya bagi Wajib Pajak luar negeri yang menjalankan usaha atau melakukan kegiatan melalui suatu bentuk usaha tetap di Indonesia : . pemotongan oleh pihak yang wajib membayar bagi Wajib Pajak luar negeri lainnya . Pasal 26 Undang - Undang Nomor 36 Tahun 2008 mengatur tentang pemotongan atas penghasilan yang bersumber dari Indonesia yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak luar negeri selain bentuk usaha tetap.
2.3Pemotong Pajak Penghasilan 26
Pemotongan Pajak Penghasilan Pasal 26 ( PPh Pasal 26 ) wajib dilakukan oleh:
1. Badan pemerintah
2. Subjek Pajak dalam negeri , 3. Penyelenggara kegiatan 4. Bentuk usaha tetap
5. Perwakilan perusahaan luar alegeri lainnya yang melakukan pembayaran kepada Wajib Pajak luar negeri selain bentuk usaha tetap.
2.4Penghasilan Yang Dipotong PPh Pasal 26
Jenis - jenis penghasilan yang wajib dipotong Pajak Penghasilan Pasal 26 ( Objek pph Pasal 26 ) adalah:
a. dividen
b. bunga termasuk premium , diskonto , dan imbalan sehubungan dengan jaminan pengembalian utang
c. rovalti , sewa , dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan harta
d. imbalan sehubungan dengan jasa , pekerjaan , dan kegiatan e. hadiah dan penghargaan
f. pensiun dan pembayaran berkala lainnya g. premi swap dan transaksi lindung nilai lainnya h. keuntungan karena pembebasan utang
2.5Tarif Dan Perhitungan Pajak Penghasilan Pasal 26
Tarif Tarif yang dikenakan adalah 20 % untuk setiap jenis penghasilan yang dikenakan PPh Pasal 26 atau sesuai dengan persetujuan penghindaran pajak berganda ( P3B ) antarnegara atau tax treaty ,
Tarif 20 % dikenakan dari dasar pengenaan pajak , dengan ketentuan sebagai berikut .
2. Tarif 20 % dari penghasilan neto
3. Tarif 20 % dari penghasilan kena pajak setelah dikurangi Pajak Penghasilan.
Penghitungan PPh Pasal 26
1. PPh Pasal 26 = 20 % x Penghasilan bruto
Penghitungan tersebut diterapkan untuk penghasilan yang bersumber dari modal dalam bentuk:
a. Dividen
b. Bunga, termasuk premium , diskonto , premi swap , dan imbalan karena jaminan pengembalian utang
c. Royalti , sewa , dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan harta
d. Imbalan sehubungan dengan jasa , pekerjaan , dan kegiatam e. Hadiah dan penghargaan
f. Pensiun dan pembayaran berkala lainnya.
Contoh :
PT Perdana adalah penerbit buku cerita anak - anak . Pada bulan Maret 2016 , perusahaan membayarkan royalti sebesar Rp100.000.000 kepada Akira Toriyama sebagai pengarang bulat cerita anak - anak DRAGON BALL Akira Toriyama adalah Wajib Pajak luar negeri.
PPh Pasal 26 yang dipotong oleh PT Perdana adalah 20 % x Rp100.000.000 = Rp20.000.000
2. Pph pasal 26 = 20% x penghasilan neto
Penghasilan neto = Perkiraan penghasilan neto x prnghasilan bruto Penghitungan tersebut diterapkan untuk
a. penghasilan dari penjualan harta di Indonesia
b. premi asuransi dan reasuransi yang dibayarkan kepada perusahaan asuransi luar negeri.
Besarnya perkiraan penghasian neto diming berdasarkan kondisi sebagai berikut
Untuk premi yang dibavac tertanggung kepada perusahaan asuransi di luar negen baik secara langsung maupun melalui pialang , besarnya perkiraan penghasilin neto adalah SD ( lima puluh persen ) dari jumlah premi yang dibayar ( penghasilan bruto ) sehingga
PPh Pasal 26 = 20 % x Penghasilan neto
= 20 % x 150 % x Penghasilan bruto ) = 10 % x Penghasilan bruto
= 10 % x Jumlah premi yang dibayar
Untuk premi yang dibayar perusahaan asuransi yang berkedudukan di Indonesia kepada perusahaan asuransi di luar negeri , baik secara langsung maupun melalui plalang adalah 10 % ( sepuluh persen ) dari jumlah premi yang dibayar ( penghasilan bruto ) sehingga
PPh Pasal 26 = 20 % x Penghasilan neto
= 20 % x 110 % x Penghasilan bruto ) = 2 % x Penghasilan bruto
= 2 % x Jumlah premi yang dibayar
Untuk premi yang dibayar perusahaan reasuransi yang berkedudukan di Indonesia kepada perusahaan asuransi di luar negeri , baik secara langsung maupun melalui pialang adalah 5 % ( lima persen ) dari jumlah premi yang dibayar ( penghasilan bruto ) sehingga
PPh Pasal 26 = 20 % Penghasilan neto
= 20 x 150 x Penghasilan bruto )
= 1 % x Jumlah prenti yang dibayar Contoh:
PT Ananda merupakan perusahaan persewaan gedung kantor . Pada tahun 2016 ; perusahaan mengasuransikan bangunan bertingkat ke perusahaan asuransi di luar negeri Building Life Inc. Premi yang dibayar oleh PT Ananda kepada Building Life Inc : sebesar Rp1.000.000.000.
PPh Pasal 26 yang dipotong oleh PT Ananda adalah 20% × 50% Rp1.000.000.000 = Rp100.000.000
3. PPh Pasal 26 = 20 % ( Penghasilan Kena Pajak - PPh terutang )
Penghitungan tersebut diterapkan pada bentuk usaha tetap di Indonesia yang penghasilan atau bagian labanya tidak ditanamkan kembali di Indonesia . Jika penghasilan setelah dikurangi pajak tersebut ditanamkan kembali di Indonesia , atas penghasilan tersebut tidak dipotong PPh Pasal 26.
Contoh:
Suatu bentuk usaha telap di Indonesia memperoleh Penghasilan Kena Pajak sebesar Rp17.500.000.000 .
PPh Pasal 26 dihitung sebagai berikut.
Penghasilan Kena Pajak Rp.
17.500.000.000 PPh terutang: 25% x Rp17.500.000.000 Rp.
4.375.000.000 ( - ) Penghasilan setelah dikurangi pajak Rp.
13.125.000.000 PPh Pasal 26 yang terutang :
20 % x Rp13.125.000.000 Rp.
2.625.000.000
Jika penghasilan setelah dikurangi pajak tersebut ditanamkan kembali di Indonesia atas penghasilan sebesar Rp13,125,000 tidak dipotong PPh Pasal 26.
2.6Sifat Pemotongan / Pemungutan, Penyetoran, Dan Pelaporan Pajak Penghasilan Pasal 26
Sifat Pemotongan / Pemungutan PPh Pasal 26
Pada prinsipnya , pemotongan pajak atas penghasilan Wajib Pajak luar negeri adalah bersifat final , tetapi atas penghasilan berikut ini pemotongan pajaknya tidak besifat final sehingga potongan pajak tersebut dapat dikreditkan dalam Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan . Berikut ini penghasilan - penghasilan yang dimaksud ( pemotongannya tidak bersifat final ).
a. Penghasilan kantor pusat dari usaha atau kegiatan , penjualan barang , atau pemberian jasa di Indonesia yang sejenis dengan yang dijalankan atau yang dilakukan oleh bentuk usaha tetap di Indonesia .
b. Penghasilan berupa dividen bunga , termasuk premium , diskonto , premi swap dan imbalan sehubungan dengan jaminan pengembalian utang : royalti , sewa , dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan harta ; imbalan sehubungan dengan jasa pekerjaan , dan kegiatan ; hadiah dan penghargaan ; pensiun dan pembayaran berkala lainnya ; penghasilan dari penjualan harta di Indonesia : premi asuransi dan reasuransi yang dibayarkan kepada perusahaan asuransi luar negeri penghasilan Kena Pajak sesudah dikurangi pajak dari suatu bentuk usaha tetap di Indonesia , kecuali jika penghasilan tersebut ditanamkan kembali di Indonesia , yang diterima atau diperoleh kantor pusat , sepanjang terdapat hubungan efektif antara bentuk usaha tetap dengan harta atau kegiatan yang memberikan penghasilan tersebut .
c. Penghasilan Wajib Pajak orang pribadi atau badan luar negeri yang berubah status menjadi Wajib Pajak dalam negeri atau bentuk usaha tetap.
2.7Penyetoran dan Pelaporan PPh Pasal 26
Penghasilan berikut ini terutang Pajak Penghasilan Pasal 26 pada akhir bulan dilakukannya pembayaran atau terutangnya penghasilan yang bersangkutan.
jaminan pengembalian utang : royalti , sewa , dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan harta ; penghasilan sehubungan dengan jasa , pekerjaan , dan kegiatan ; hadiah dan penghargaan dengan nama dan dalam bentuk apa pun ; pensiun dan pembayaran berkala lainnya.
b. Penghasilan dari penjualan harta di Indonesia.
c. Premi asuransi dan reasuransi yang dibayarkan kepada perusahaan asuransi luar negeri.
Ketentuan yang berkaitan dengan penyetoran dan pelaporan PPh Pasal 26 adalah:
a. Pajak Penghasilan Pasal 26 yang telah dipotong harus disetorkan selambat - lambatnya tanggal 10 bulan takwim berikutnya setelah bulan saat terutangnya pajak.
b. Pemotong PPh Pasal 26 diwajibkan untuk menyampaikan Surat Pemberitahuan Mass selambat - lambatnya 20 ( dua puluh ) hari setelah masa pajak berakhir.
c. Pemotong PPh Pasal 26 harus memberikan tanda bukti pemotongan PPh Pasal 26 kepada orang pribadi atau badan yang dibebani membayar Pajak Penghasilan yang dipotong.
d. Pemotongan PPh Pasal 26 atas penghasilan berupa Penghasilan Kena Pajak sesudah dikurangi pajak dari semua bentuk usaha tetap di Indonesia , terutang dan harus dibayar lunas selambat - lambatnya tanggal 25 ( dua puluh lima ) bulan ketiga setelah tahun pajak atau bagian tahun pajak berakhir , sebelum Surat Pemberitahuan Tahunan disampaikan Namun , apabila bentuk usaha tetap tersebut meminta perpanjangan jangka waktu penyampaian SPT Tahunan , pemotongan PPh Pasal 26 didasarkan pada penghitungan sementara , terutang dan harus dibayar lunas pada saat surat permohonan perpanjangan disampaikan , tetapi tidak melampaui tanggal dua puluh lima bulan ketiga setelah tahun pajak atau bagian tahun pajak berakhir.
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Pajak Penghasilan Pasal 26 merupakan salah satu aspek penting dalam sistem perpajakan di Indonesia. Pajak ini dikenakan atau dipotong atas penghasilan yang berasal dari Indonesia yang diterima atau diperoleh oleh Wajib Pajak luar negeri selain bentuk usaha tetap di Indonesia. Dalam makalah ini, akan dibahas secara mendalam mengenai dasar hukum, pemotongan pajak, penghasilan yang dipotong, tarif dan penghitungan pajak, serta sifat pemotongan, penyetoran, dan pelaporan pajak
penghasilan yang termasuk dalam kategori Pajak Penghasilan Pasal 26, seperti dividen, bunga, royalti, sewa, hadiah, pensiun, dan pembayaran berkala lainnya. Makalah ini juga akan membahas tenggat waktu penyetoran pajak yang telah ditetapkan, serta kewajiban pemotong PPh Pasal 26 dalam menyampaikan Surat Pemberitahuan Massa. Dengan demikian, makalah ini bertujuan untuk memberikan pemahaman yang mendalam tentang Pajak Penghasilan Pasal 26 dan relevan untuk memperluas pengetahuan tentang peraturan perpajakan di Indonesia.
3.2 Saran
Memperhatikan ketentuan-ketentuan terkait Pajak Penghasilan Pasal 26, termasuk dalam hal pemotongan pajak, penyetoran, dan pelaporan.
Wajib Pajak dan pemotong PPh Pasal 26 perlu memahami dengan baik jenis-jenis penghasilan yang dikenakan pajak ini, serta tenggat waktu penyetoran yang telah ditetapkan. Selain itu, disarankan untuk memastikan bahwa Surat Pemberitahuan Massa disampaikan tepat waktu dan bahwa pajak yang dipotong atau terutang dibayarkan sesuai dengan jadwal yang berlaku. Hal ini penting untuk mematuhi peraturan perpajakan dan menghindari potensi sanksi atau denda akibat kelalaian dalam pemotongan dan penyetoran pajak.
DAFTAR PUSTAKA
Siti Resmi, (2019), Perpajakan: Teori dan Kasus, edisi 11, Jakarta: Salemba Empat.