PERPAJAKAN
“ PAJAK PENGHASILAN PASAL 23”
DOSEN PENGAMPU : Dr. Sulvariany Tamburaka, SE.M.Si,ACPA.CTA OLEH KELOMPOK 3 :
Keisha Zahwa As Sipata B1C122023
Kevin Kurniawan Amuni B1C122024
Made Yanti Sudyaningsih B1C122025
Maria Santi Sima Leki B1C122026
Melda B1C122027
Mikas Andini B1C122028
Muhamad Hasan B1C122029
Nabillah Nur Halizah B1C122030
Nalya Agustin B1C122031
Nana Shofiana B1C122031
Novi Aulia B1C122033
Nur Septiawati B1C122034
KELAS : A
PROGRAM STUDI AKUNTANSI (S1) FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS HALU OLEO KENDARI
2023
i
KATA PENGANTAR
Dengan menyebut nama Allah SWT. yang maha pengasih dan maha penyayang, kami panjatkan puji syukur atas kehadirat-nya yang telah melimpahkan nikmat, rahmat, serta hidayah-nya kepada kami, sehingga kami bisa menyelesaikan makalah ini.
Tidak lupa kami ucapkan terimakasih kepada Ibu Dr. Sulvariany Tamburaka, SE.M.Si,ACPA.CTA selaku dosen pengampuh mata kuliah PERPAJAKAN . Kami juga mengucapkan terimakasih kepada anggota kelompok kami yang sudah membantu untuk mengumpulkan data data dalam pembuatan makalah ini. Makalah kami ini menjelaskan tentang : “ PAJAK PENGHASILAN PPH PASAL 23 ”
Dalam penulisan makalah ini, kami mengakui masih banyak kekurangan baik pada teknis penulisan maupun isi materi. Maka dari itu, kami mohon segala bentuk saran dan kritik dari berbagai pihak. Akhirnya, kami berharap semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi penulis dan pembaca.
Kendari, November 2023
Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR...i
DAFTAR ISI...ii
BAB I PENDAHULUAN...1
1.1 Latar Belakang...1
1.2 Rumusan Masalah...2
1.3 Tujuan Penulisan...2
BAB II PEMBAHASAN...3
2.2 Pemotong PPh Pasal 23...4
2.3 Penghasilan Yang Dikenakan (Objek) PPh Pasal 23...4
2.4 Penghasilan Yang Di Kecualikan Dari Pemotong PPh Pasal 23...6
2.5 Menghitung PPh Pasal 23...6
2.5 Menghitung PPh Pasal 23...10
2.6 Contoh Perhitungan Contoh 1...10
2.7 PPh Atas Dividen, Bunga, Sewa, dan Hadiah...11
2.8 Saat Terutang, Penyetoran, dan Pelaporan...16
2.9 Surat Pemberitahuan Masa Dan Bukti Pemotongan...17
BAB III PENUTUP...31
3.1 Kesimpulan...31
3.2 Saran...31
DAFTAR PUSTAKA...32
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
Pajak Penghasilan Pasal 23 (PPh pasal 23) yaitu pajak penghasilan yang dikenakan atas penghasilan wajib pajak dalam Negri atau bentuk usaha tetap yang menerima atau memperoleh penghasilan yang berasal dari modal penyerahan jasa atau penyelengaraan kegiatan selain yang telah dipotong pajak sebagaimana yang dimaksud PPh Pasal 21.
Dalam UU pajak penghasilan Pasal 23 No. 36 Tahun 2008 dimana yang dapat memotong PPh 23 adalah badan pemerintah. Wajib pajak dalam negri, penyelenggara kegiatan, bentuk usaha tetap, perwakilan perusahaan luar negri lainnya dan wajib pajak orang dalam negri tertentu yang di tunjuk Direktur Jendral Pajak.
Dengan diterbitkanya UU Pajak Penghasilan Pasal 23 No. 36 Tahun 2008 tentang kententuan umum dan tatacara perpajakan maka telah terjadi reformasi perpajakan yang dilakukan pihak Direktorat Jendral Pajak sehingga wajib pajak diharapkan menjadi lebih patuh dan diberikan segalabentuk kemudahan dalam proses perpajakan. Disamping itu penghasilan yang diperoleh atas kegiatan usaha badan akan dikenakan pajak penghasilan badan. Badan Pengelola Keuangan Dan Barang Milik Daerah Kabupaten Minahasa Utara merupakan intansi pemerintah yang bergerak di bagian keuangan.
Sebagai intansi yang taat akan pajak maka BPKBMD Kab Minut berkewajiban untuk melakukan perhitungan dan pelaporan pajak penghasilan sesuai ketentuan yang mengacu pada undang-undang perpajakan yang berlaku dalam hal ini khususnya Pajak Penghasilan Pasal 23. Berdasarkan uraian tersebut, untuk memperoleh gambaran yang lebih jelas tentang perpajakan khususnya bagaimana suatu intansi menentukan besar pajak penghasilan dalam hal ini pajak penghasilan pasal 23, yang harus dilaporkan dan disetorkan kepada Pajak Penghasilan Pasal 23 (PPh pasal 23) yaitu pajak penghasilan yang dikenakan atas penghasilan wajib pajak dalam Negri atau bentuk usaha tetap yang menerima atau memperoleh penghasilan yang berasal dari modal penyerahan jasa atau penyelengaraan kegiatan selain yang telah dipotong pajak sebagaimana yang dimaksud PPh Pasal 21.
1.2 Rumusan Masalah
Adapun Rumusan Masalah Dari Makalah Dari Makalah Ini sebagai berikut : 1. Apa Yang Dimaksud Dengan Pajak Penghasilan Pph Pasal 23 ? 2. Apa Saja Pemotong Pph Pasal 23 ?
3. Apa Saja Penghasilan Yang Di Kenakan (Objek)Pph Pasal 23 ?
4. Apa Saja Penghasilan Yang Di Kecualikan Dari Pemotong Pph Pasal 23?
5. Bagaimana Menghitung Pph Pasal 23 ? 6. Apa Saja Contoh Perhitungan ?
7. Apa Saja Pph Atas Dividen, Bunga, Sewa Dan Hadiah ?
8. Apa Saja Saat Terutang, Penyetoran Dan Pelaporan Pph Pasal 23 ? 9. Apa Saja Surat Pemberitahuan Masa Dan Bukti Pemotongan ? 1.3 Tujuan Penulisan
1. Untuk Mengetahui Pengertian Pajak Penghasilan Pph Pasal 23 2. Untuk Mengetahui Pemotong Pph Pasal 23
3. Untuk Mengetahui Penghasilan Yang Di Kenakan (Objek)Pph Pasal 23
4. Untuk Mengetahui Penghasilan Yang Di Kecualikan Dari Pemotong Pph Pasal 23 5. Untuk Mengetahui Menghitung Pph Pasal 23
6. Untuk Mengetahui Contoh Perhitungan
7. Untuk Mengetahui Pph Atas Dividen, Bunga, Sewa Dan Hadiah
8. Untuk Mengetahui Saat Terutang, Penyetoran Dan Pelaporan Pph Pasal 23 9. Untuk Mengetahui Surat Pemberitahuan Masa Dan Bukti Pemotongan
BAB II PEMBAHASAN 2.1 Pajak Penghasilan Pasal PPh 23
Pajak Penghasilan Pasal 23 (PPh Pasal 23) merupakan pajak yang dikenakan pada penghasilan atas modal, penyerahan jasa, atau hadiahdan penghargaan, selain yang telah dipotong PPh Pasal 21. Pihak pemberi penghasilan (pembeli atay penerima jasa) akan memotong dan melaporkan PPh pasal 23 tersebut kepada kantor pajak. Objek PPh Pasal 23 telah ditambahkan oleh pemerintah hingga menjadi 62 jenis jasa lainnya seperti yang tercantum dalam PMK No. 141/PMK.03/2015. Ketentuan dalam Pasal 23 UU PPh mengatur pemotongan pajak atas penghasilan yang diterima atau diperoleh WP DN dan BUT yang berasal dari modal, penyerahan jasa, atau penyelenggaraan kegiatan selain yang telah dipotong pajak sebagaimana dimaksud dalam pasal 21, yang dibayarkan atau terutang oleh badan pemerintah atau Subjek Pajak DN, penyelenggara kegiatan, BUT, atau perwakilan perusahaan luar negeri lainnya.
PPh Pasal 23 atau PPh 23 merupakan salah satu jenis pajak penghasilan (PPH) yang ada di Indonesia. Secara singkat, PPh 23 adalah pajak yang dikenakan pada penghasilan atas modal, penyertaan jasa, hadiah, bunga, deviden, royalti, atau hadiah dan penghargaan, selain yang dipotong PPh Pasal 21. Pemotongan PPh 23 dilakukan oleh pihak pemberi penghasilan sehubungan dengan pembayaran berupa dividen, bunga, royalti, sewa, dan jasa kepada Wajib Pajak, dan Bentuk Usaha Tetap (BUT).
Penghasilan jenis ini terjadi karena adanya transaksi antara pihak yang memberikan penghasilan dengan pihak yang menerima penghasilan. Adapun, objek pajak dari PPh 23 adalah meliputi penghasilan yang dibayarkan kepada pihak lain atau rekanan berupa sewa dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan harta, misalnya, sewa kendaraan atau sewa sound system. Dalam hal ini sewa tanah dan bangunan tidak termasuk. PPh 23 juga diterapkan dalam imbalan sehubungan dengan jasa teknik, jasa manajemen, dan jasa konsultas, misalnya, jasa perbaikan, jasa kebersihan, dan jasa katering.
Direktorat Jenderal Pajak menerapkan tarif umum dari PPh 23 adalah 2 persen dikali dengan jumlah bruto. Jumlah bruto yang dimaksud adalah seluruh penghasilan yang dibayarkan, disediakan untuk dibayarkan, atau pembayarannya sudah jatuh tempo. Jumlah
bruto yang dikenakan, merupakan jumlah transaksi yang belum dikenakan Pajak Pertambahan Nilai (PPN). Untuk lebih lengkap tentang tarif PPh 23 yuk kita bahas 2.2 Pemotong PPh Pasal 23
1. Badan pemerintah
2. Subjek pajak badan dalam negreri 3. Penyelenggara dalam negeri 4. Bentuk usaha tetap
5. Perwakilan perusahaan di luar negeri lainnya
6. Orang Pribadi sebagai wajib pajak dalam negeri tertentu, yang ditunjuk oleh kepala kantor pelayanan pajak sebagai pemotong PPh Pasal 23, yaitu:
a. Akuntan, arsitek, dokter, notaries, pejabat pembuat akta tanah (PPAT), kecuali camat, pengacara, dan konsultan, yang melakukan pekerjaan bebas b. Orang pribadi yang menjalankan usaha yang menyelenggarakan pembukuan atas
pembayaran berupa sewa.
2.3 Penghasilan Yang Dikenakan (Objek) PPh Pasal 23
Penghasilan yang dikenakan PPh Pasal 23 (selanjutnya disebut Objek PPh Pasal 23) sesuai dengan Pasal 23 UU No. 36 Tahun 2008, yaitu:
1. dividen;
2. bunga termasuk premium, diskonto, dan imbalan sehubungan dengan jaminan pengembalian utang;
3. royalti;
4. hadiah, penghargaan, bonus, dan sejenisnya selain yang telah dipotong Pajak Penghasilan adalah penghasilan yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak dalam negeri orang pribadi yang berasal dari penyelenggara kegiatan sehubungan dengan pelaksanaan suatu kegiatan. Perbedaan penghasilan berupa hadiah dan penghargaan yang dipotong PPh Pasal 21 dengan yang dipotong PPh Pasal 23 adalah untuk PPh Pasal 23, Wajib Pajaknya bisa Wajib Pajak dalam negeri orang pribadi maupun Wajib Pajak dalam negeri badan, tetapi untuk PPh Pasal 21 Wajib Pajaknya adalah Wajib Pajak dalam negeri orang pribadi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 ayat (1) huruf e UU PPh;
5. sewa dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan harta, kecuali sewa dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan harta yang telah dikenai Pajak enghasilan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (2) U
6. imbalan sehubungan dengan jasa teknik, jasa manajemen, jasa konstruksi, jasa konsultan, dan jasa lain selain jasa yang telah dipotong Pajak Penghasilan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 UU PPh.
Jenis jasa lain yang dikenakan PPh Pasal 23 (sesuai Peraturan Menteri Keuangan Nomor 141/PMK.03/2015), meliputi;
1. jasa penilai (appraisal) 2. jasa aktuaris
3. jasa kauntansi, pembukuan, dan atestasi laporan keuangan 4. jasa hukum
5. jasa arsitektur
6. jasa perancang kota dan arsitektur lanskap (landscape) 7. jasa perancang (design)
8. jasa pengeboran (drilling) di bidang penambangan migas, kecuali yang dilak BUT 9. jasa penambangan dan jasa penunjang selain di bidang usaha panas bumi
penambangan migas
10. jasa penambangan dan jasa penunjang selai di bidang usaha panas bumi dan penambangan migas
11. jasa penjunjang di bidang penerbangan dan bandar udara 12. jasa penebangan hutan
13. jasa pengolahan limbang
14. jasa penyedia tenaga kerja dan/atau tenaga ahli (outsourcing services) 15. jasa perantara dan/atau keagenan
16. jasa di bidang perdagangan surat-surat berharga, kecuali yang dilakukan oleh Bursa 17. Efek, KSEI, dan KPEI
18. jasa kustodian/penyimpanan/penitipan, kecuali yang dilakukan olehh KSEI 19. jasa pengisian suara (dubbing) dan/atau sulih suara
20. jasa mixing film
2.4 Penghasilan Yang Di Kecualikan Dari Pemotong PPh Pasal 23
Beberapa jenis penghasilan yang tidak dikenakan pemotongan pph pasal 23 sesuai dengan pasal 23 ayat 4 UU No.36 Tahun 2008 yaitu :
1. Penghasilan yang dibayar atau terutang kepada bank
2. sewa yang dibayarkan atau terutang sehubungan sewa guna usaha dengan hak opsi 3. dividen atau bagian laba yang diterima atau diperoleh perseroan Wajib Pajak dalam
negeri, koperasi, badan usaha milik negara, stau badan usaha milik daerah, dan penyertaan modal pada badan usaha yang didirikan dan bertempat kedudukan di Indonesia dengan syarat:
dividen berasal dari cadangan laba yang ditahan dan
bagi perseroan terbatas, badan usaha milik negara dan badan usahs milik daerah yang menerima dividen, kepemilikan saham pada badan yang memberikan dividen paling rendah 25% (dua puluh lima persen) duri jumlah modal yang disetor;
4. bagian laba yang diterima atau diperoleh anggota dari perseroan komanditer yang modalnya tidak terbagi atas saham saham. persekutuan, perkumpulan, firma, dan kongsi, termasuk pemegang unit penyertaan kontrak, investasi kolektif
5. sisa hasil usaha koperasi yang dibayarkan oleh koperasi kepada anggotanya;
6. penghasilan yang dibayar atau terutang kepada badan usaha atas jasa keuangan yang berfungsi sebagai penyalur pinjaman dan/atau pembiayaan. Badan usaha yang dimaksud adalah perusahaan pembiayaan yang telah mendapat izin Menteri Keuangan: BUMN/BUMD yang khusus memberikan pembiayaan kepada usaha.
mikro, kecil, menengah, dan koperasi (UMKM) termasuk perseroan terbatas (PT) Permodalan Nasional Madani. Penghasilan yang dimaksud adalah imbalan yang diberikan atas penyaluran pinjaman/pembiayaan termasuk pembiayaan syariah.
2.5 Menghitung PPh Pasal 23
PPh Pasal 23 dihitung dengan mengalikan tarif dan jumlah bruto penghasilan, yang diformulasikan sebagai berikut.
PPh Pasal 23 Tarif x Dasar Pengenaan Pajak Dasar Pengenaan Pajak – Jumlah Bruto Penghasilan
Tarif
Tarif PPh Pasal 23 sebagai berikut.
1. Tarif 15% (lima belas persen) dikenakan atas penghasilan berupa:
dividen,
bunga,
oyalty,
hadiah, bonus, dan penghargaan lain yang tidak dipotong PPh Pasal 21.
2. Tarif 2% (dua persen) dikenakan atas penghasilan berupa
Sewa
bimbalan jaka yang tidak dipotong PPh Pasal 21.
Dasar Pengenaan Pajak
Dasar pengenaan pajak dalam PPh Pasal 23 adalah jumlah bruto penghasilan. Jumlah bruto penghasilan adalah jumlah dividen, bunga, royalti, penghargaan, bonus, sewa, dan imbalan jasa lain. Berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 141 PMK.03/2015, jumlah bruto imbalan jasa lain tidak termasuk Pajak Pertambahan Nila Selain itu, jumlah bruto untuk imbalan lain ditentukan sebagai berikut.
1. Untuk jasa katering, jumlah bruto penghasilan adalah seluruh jumlah penghasilan dengan nama dan dalam bentuk apa pun yang dibayarkan, disediakan untuk dibayarkan, atau telah jatuh tempo pembayarannya
Contoh:
CV Sofan merupakan usaha jasa katering. Dalam rangka penerimaan mahasiswa baru di Universitas Palagan, CV Sofan dan Universitas Palagan kontrak penyediaan makan berupa snack dan makan siang sebanyak 500 paket selama 3 hari dengan harga Rp25,000 per paket.
Jumlah bruto penghasilan sebagai dasar pengenaan pajak adalah 3 x 500 x Rp25.000 Rp37.500.000, PPh Pasal 23 yang dipotong oleh Universitas Palagan adalah 2%
Rp37.500.000 – Rp750.000.
2. Untuk jasa selain jasa katering, jumlah bruto penghasilan adalah seluruh jumlah dengan nama dan bentuk apa pun yang dibayarkan, disediakan untuk dibayarkan atau telah jatuh tempo pembayarannya, tidak termasuk poin-poin berikut.
a. Pembayaran gaji, upah, honorarium, tunjangan, dan pembayaran lain sebagai imbalan sehubungan dengan pekerjaan yang dibayarkan oleh Wajib Pajak penyedia tenaga kerja kepada tenaga kerja yang melakukan pekerjaan berdasarkan kontrak dengan pengguna jasa. Hal ini berlaku sepanjang disertai kontrak kerja dan daftar pembayaran gaji, upah, dan pembayaran lain berkaitan dengan pekerjaan.
1. CV Sarana merupakan usaha bidang pengadaan tenaga kerja. CV Sarana melakukan kontrak dengan Bank Artha dalam penyediaan 15 orang tenaga Teller dengan ga masing-masing Rp3.000.000 per bulan. Imbalan jasa penyediaan tenaga Teller adalah Rp10.000.000. Tenaga Teller selanjutnya menjadi pegawai Bank Artha. Jumlah penghasilan bruto sebagai dasar PPh adalah Rp 10.000.000
2. CV Sarana melakukan kontrak dengan Hotel Nyaman berkaitan dengan penyediaan tenaga cleaning service (CS). Nilai kontrak sebesar Rp90.000.000, terdiri atas gaji 40 orang tenaga CS masing-masing Rp2.000.000 dan imbalan jasa penyediaan tenaga CS sebesar Rp 10.000.000.
a. Jika CV Sarana tidak memberikan rincian penbayaran gaji tenaga CS kepada Hotel Nyaman, jumlah penghasilan bruto sebagai dasar pengenaan pajak adalah Rp90.000.000.
b. Jika CV Sarana memberikan rincian pembayaran gaji tenaga CS kepada Hotel Nyaman, jumlah penghasilan bruto sebagai dasar pengenaan pajak adalah Rp10,000,000, CV Sarana memotong PPh Pasal 21 atas pembayaran gali kepada tenaga CS.
b. Pembayaran kepada penyedia jasa atas pengadaan/pembelian barang atau material yang terkait dengan jasa yang diberikan.
c.Pembayaran kepada pihak ketiga yang dibayarkan melalui penyedia jasa, terkait jasa yang diberikan oleh penyedia jasa
d. Pembayaran kepada jasa yang merupakan penggantian (reimbursement) atas yang telah dibayarkan penyedia jasa kepada pihak ketiga dalam rangka pemberian jasa bersangkutan.
Contoh:
PT Yogya melakukan kontrak kerja dengan PT Advertising PT Advertising merupakan usaha agen periklanan. Pembuatan dan pemasangan ikdan dipesankan dari perusahaan
yang khusus menangani pembuatan dan pemasangan iklan, yait PT Dinda. Kontrak antara PT Yogya dan PT Advertising senilai Rp158.000.000 dengan rincian sebagai berikut.
1) Jasa pembuatan materi iklan (dibuat sendiri oleh PT Advertising) sebesar Rp50.000.000.
2) Fee agen (diterima oleh PT Advertising) sebesar Rp8.000.000.
3) Biaya pembuatan dan pemasangan iklan membuat adalah PT Dinda sehinggaPT Advertising membayar kepada PT Dinda) sebesar Rp 100.000.000.
Apabila PT Advertising tidak menunjukkan/melampirkan bukti pembayaran senilai Rp100,000.000 PT Yogya, jumlah bruto sebagai dasar pengenaan PPh Pasal 23 adalah Rp158.000.000. Bukti pembayaran senilai Rp100.000.000 merupakan bukti pembayaran oleh PT Advertising kepada PT Dinda atas pembuatan dan pemasangan iklan. PT Dinda merupakan subkontraktor PT Advertising
Apabila PT Advertising menunjukkan/melampirkan bukti pembayaran senilai Rp100.000.000 kepada PT Yogya, jumlah bruto sebagai dasar pengenaan PPh Pasal 23 adalah Rp50.000.000+ Rp8.000.000 Rp58.000.000. PT Advertising memotong PPh Pasal 23 atas pembayaran kepada PT Dinda dengan dasar pengenaan pajak senilai jumlah bruto kontrak yaitu Rp100.000.000.
Pembayaran atas imbalan jasa tersebut harus disertai dengan bukti-bukti meliputi kontrak daftar pembayaran gaji, upah, honorarium, tunjangan dan pembayaran lain, faktur pembayaran atas pengadaan/pembelian barang atau material, faktur tagihan dari pihak ketiga disertai dengan perjanjian secara tertulis, faktur tagihan dan/atau bukti pembayaran yang telah dibayarkan oleh penyedia jasa kepada pihak ketiga. Apabila tidak terdapat bukti-bukti tersebut, jumlah bruto penghasilan sebagai dasar pengenaan PPh Pasal 23 menjadi sebesar nilai kontrak/pembayaran tidak dikurangi dengan pembayaran kepada tenaga kerja, pembelian material/bahan, dan pembayaran kepada pihak ketiga.
2.5 Menghitung PPh Pasal 23
Penghitungan PPh Pasal 23 sesuai jenis penghasilan dijelaskan pada tabel berikut ini.
Jenis Penghasilan tarif Dasar
Pengenaan
Pajak PPh Pasal 23
deviden 15% jumlah bruto 15% x jumlah bruto
bunga oyalty
Hadiah, bonus, dan penghargaan lain, yang tidak dipotong PPh Pasal 21
sewa 2% jumlah bruto 2% x jumlah bruto
Imbalan jasa (teknik, manajemen, konstruksi, konsultan, jasa lain) yang tidak dipotong PPh Pasal 21
2.6 Contoh Perhitungan Contoh 1
PT Bumerang merupakan salah satu pemegang saham PT Angkasa. Pada bulan Maret 2019 PT Angkasa membagi dividen tunai Rp. 1.000 per lembar. PT Bumerang memiliki saham pada PT Angkasa sebanyak 20.000 lembar (20% dari total modal disetor PT Angkasa).
PPh Pasal 23 dihitung sebagai berikut.
Dasar pengenaan pajak = jumlah bruto dividen= Rp. 1.000 x 20.000= Rp. 20.000.000 PPh Pasal 23 = 15% x Rp. 20.000.000 = Rp. 3.000.000
Contoh 2
PT Ceria meminjam uang dari PT Langit Biru sebesar Rp. 150.000.000. Dalam pinjam meminjam tersebut disepakati jangka waktunya dua tahun, bunga 17% per tahun dibayar setiap 6 bulan, yaitu bulan Juli dan Desember.
PPh Pasal 23 dihitung sebagai berikut.
Dasar pengenaan pajak=jumlah bruto bunga
=7% x Rp. 150.000.000 x 6/12 = Rp. 5.250.000 PPh Pasal 23 =15% x Rp. 5.250.000 = Rp. 787.500
Contoh 3
PT Davina pada bulan Maret 2019 membayarkan royalti sebagai berikut.
Penerima Jumlah Royalti Ketrengan
Tuan A Rp. 35.000.000 Memiliki NPWP, Menikah
PT B Rp. 124.000.000 Memiliki NPWP
Nona C Rp. 14.000.000 Tidak Memiliki NPWP,
Tidak Menikah, Tanpa Tanggungan
Fa. D Rp. 70.000.000 Memiliki NPWP
PPh Pasal 23 dihitung dengan cara berikut :
Penerima Jumlah Royalti Ketrengan
Tuan A Rp. 35.000.000 15% X Rp 35.000.000 =
Rp. 5.250.000
PT B Rp. 124.000.000 15% X Rp 124.000.000 =
Rp 18.600.000
Nona C Rp. 14.000.000 15% X 2 X Rp 15.000.000
= Rp 4.500.000
Fa. D Rp. 70.000.000 15 % X Rp 70.000.000 = Rp
10.500.000
2.7 PPh Atas Dividen, Bunga, Sewa, dan Hadiah
Penghasilan berupa dividen, bunga, sewa, dan hadiah secara umum merupakan objek PPh Pasal 23. Akan tetapi, terdapat beberapa perlakuan atas pengenaan PPh dividen, bunga, sewa, dan hadiah.
PPh atas Dividen
Pengenaan PPh atas dividen dibedakan sebagai berikut.
a. Dividen yang diterima Wajib Pajak Luar Negeri dikenakan tarif 20% (dua puluh persen) bersifat final.
b. Dividen yang diterima oleh Wajib Pajak Orang Pribadi dalam negeri dikenakan tarif 10% (sepuluh persen) bersifat final (dibahas dalam Bab 4 - PPh Pasal 17 ayat (2c)).
c. Dividen yang diterima oleh Wajib Pajak berbentuk Koperasi yang dividen tersebut berasal dari cadangan laba tidak dibagi dikecualikan dari pengenaan PPh (bukan objek pajak).
d. Dividen yang diterima oleh Wajib Pajak berbentuk Perseroan Terbatas (PT) dan Badan Usaha Milik Negara (BUMN)/Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) dengan syarat:
1. dividen tersebut berasal dari cadangan laba tidak dibagi, dan
2. PT dan BUMN/BUMD tersebut mempunyai kepemilikan saham pada pemberi dividen paling rendah 25% (dua puluh lima persen) dari jumlah modal saham disetor, dikecualikan dari pengenaan PPh (bukan objek pajak).
e. Dividen selain memenuhi ketentuan huruf a sampai d dikenakan tarif 15% (lima belas persen) (PPh Pasal 23 bersifat tidak final).
PPh atas Bunga
Pengenaan PPh atas bunga dibedakan sebagai berikut.
a. Bunga yang diterima oleh Wajib Pajak Luar Negeri dikenakan tarif 20% (dua puluh persen) bersifat final.
b. Bunga berupa bunga obligasi atau diskonto obligasi yang diperdagangan di bursa efek Indonesia dikenakan tarif 15% (lima belas persen) bersifat final (dibahas dalam Bab 4 - PPh Pasal 4 ayat (2)).
c. Bunga yang dijanjikan oleh nasabah kepada bank dianggap berasal dari pengenaan PPh (bukan objek pajak).
d. Bunga yang ditawarkan oleh bank kepada nasabah dikenakan tarif 20% (dua puluh persen) bersifat final (dibahas dalam Bab 4 - PPh Pasal 4 ayat (2)).
e. Bunga yang diterima oleh anggota koperasi atas simpanan di koperasi dengan jumlah tidak melebihi Rp240.000 (dua ratus empat puluh ribu rupiah) sebulan dikecualikan dari pengenaan PPh (bukan objek pajak).
f. Bunga yang diterima oleh anggota koperasi atas simpanan di koperasi dengan jumlah melebihi Rp240.000 (dua ratus empat puluh ribu rupiah) sebulan dikenakan tarif 10%
(sepuluh persen) bersifat final (dibahas dalam Bab 4-PPh pasal 4 ayat (2)).
g. Bunga pinjaman selain memenuhi ketentuan huruf a sampai dengan f dikenakan tarif 15% (lima belas persen) (PPh Pasal 23 bersifat tidak final).
PPh atas Sewa
Pengenaan PPh atas sewa dibedakan sebagai berikut.
a. Sewa tanah dan/atau bangunan dikenakan tarif 10% (sepuluh persen) bersifat final (dibahas dalam Bab 4 - PPh Pasal 4 ayat (2)).
b. Sewa selain tanah dan/atau bangunan, misalnya sewa kendaraan, alat-alat berat, mesin- mesin, dan lain-lain dikenakan tarif 15% (lima belas persen) (PPh Pasal 23 bersifat tidak final).
PPh atas Hadiah
Pengenaan PPh atas hadiah dibedakan sebagai berikut.
a. Hadiah penghargaan yang diterima oleh Wajib Pajak luar negeri selain Bentuk Usaha Tetap dikenakan tarif 20% (dua puluh persen) bersifat final.
b. Hadiah undian dikenakan tarif 25% bersifat final (dibahas dalam Bab 4 - PPh Pasal 4 ayat (2)).
c. Hadiah penghargaan yang diterima Wajib Pajak orang pribadi dikenakan tarif Pasal 17 UU PPh sesuai ketentuan PPh Pasal 21 (dibahas dalam Bab 5).
d. Hadiah penghargaan yang diterima Wajib Pajak badan dikenakan tarif 15% (lima belas persen) PPh Pasal 23.
Perbedaan pengenaan PPH atas deviden, bunga, sewa, dan hadiah dirangkum pada tabel berikut:
Jenis Penghasilan Penerima
Penghasilan
Jenis PPH PPH Terutang
Deviden 1. Wajib Pajak luar negeri
2. Wajib Pajak orang pribadi 3. Koperasi dengan
syarat tertentu) 4. PT,
BUMN/BUMD dengan syarat tertentu ")
5. Selain penerima no. 1 s.d4
PPh Pasal 26 (final) PPh Pasal 17 ayat (2) huruf C
Bukan Objek Pajak Bukan Objek Pajak
PPh Pasal 23 (tidak final)
20% x jumlah bruto 10% x jumlah bruto -
-
15% x jumlah bruto Bunga 1. Wajib Pajak luar
negeri
PPh Pasal 26 (final) 20% x jumlah bruto 2. Wajib Pajak
dalam negeri atas bunga obligasi dan/atau diskonto
PPh Pasal 4 ayat (2) 15% x jumlah bruto (final)
obligasi
3. Bank penerima
bunga dari
nasabah.
4. Wajib Pajak dalam negeri atas bunga deposito, tabungan, dan simpanan lain di bank.
5. Anggota koperasi penerima
simpanan (tidak
lebih dari
Rp240.000 sebulan).
6. Anggota koperasi penerima bunga simpanan (leboh dari Rp240.000 sebulan)
Bukan objek pajak -
PPh Pasal 4 ayat (2) 20% x jumlah bruto (final)
Bukan objek pajak -
PPh Pasal 4 ayat (2) 10% x jumlah bruto
Sewa 1. Wajib Pajak luar
negeri
2. Wajib Pajak dalam negeri
(atas sewa
tanah/bangunan).
3. Wajib Pajak dalam negeri (atas sewa selain
tanah dan
bangunan).
PPh Pasal 26 (final) PPh Pasal 4 ayat (2)
PPh Pasal 23 (final)
20% x jumlah bruto 10% x jumlah bruto
2% x jumlah bruto
Hadiah 1. Wajib Pajak luar negeri selain BUT.
2. Wajib Pajak dalam negeri penerima hadiah undian.
3. Wajib Pajak orang pribadi dalan negeri penerimaan hadiah penghargaan.
PPh pasal 26 (finsl) 20% x jumlah bruto PPh Pasal 4 ayat (2) 25% x jumlah bruto
PPh Pasal 21 (tidak final)
Tarif Pasal 17 x penghasilan kena pajak
4. Wajib pajak dalam negeri penerima hadiah penghargaan
PPh Pasal 23 (tdak final)
15% x jumlah bruto
CONTOH 1
PT Sukses Makmur membagikan dividen tunai sebesar Rp5.000 perlembar kepada para pemegang saham berikut ini:
No Nama Pemegang Saham Jumlah Saham
1 PT Ananda 1.000 lembar
2 BUMN 2.600 lembar
3 PT Setya Jaya 3.000 lembar
4 CV Putera 1.900 lembar
5 Tuan Hakim 1.500 lembar
Total 10.000 lembar
PPh yang di potong oleh PT Sukses Makmur atas pembayaran dividen, dihitung sebagai berikut:
No Nama
Pemegang Saham
% Kepemilikan
Jumlah Deviden
Jenis dan Jumlah
PPh Terutang
Keterangan
1 PT Ananda 1.000 +
10.000 =
10%
1.000 x
Rp5.000 = Rp5.000.000
PPh Pasal 23: 15% x Rp5.000.000
= Rp750.000
Penerima adalah PT, tetapi jumlah penyertaannya kurang dari 25%
dari total modal yang disetor.
2 BUMN 2.600 +
10.000 =
26%
2.600 x
Rp5.000 = Rp13.000.000
Buka Objek Pajak
Penerima adalah BUMN, jumlah penyertaannya lebih dari 25% total modal disetor.
3 PT Setya Jaya
3.000 +
10.000 =
30%
Rp3.0000 x
5.000 =
Rp15.000.000
Bukan Objek Pajak
Penerima adalah
PT, jumlah
penyertaannya lebih dari 25% total modal disetor.
4 CV Putera 1.900 +
10.000 =
19%
1.900 x
Rp5.000 = Rp9.500.000
PPh Pasal 23: 15% x Rp9.500.000
=
Rp1.425.000
Penerima adalah
CV, tidak
mempertimbangkan jumlah penyertaan.
5 Tuan
Hakim
1.500 +
10.000 =
15%
1.500 x
Rp5.000 = Rp7.500.000
PPh Pasal 17 ayat (2) final: 10% x Rp7.500.000
= Rp750.000
Penerima adalah Wajib Pajak orang pribadi dalam negeri.
2.8 Saat Terutang, Penyetoran, dan Pelaporan
Pajak penghasilan pasal 23 terutama pada akhir bulan dilakukan pembayaran atau pada akhir bulan terutangnya pada penghasilan yang bersangkutan. Hal ini yang dimaksud dengan saat terutangnya penghasilan yang bersangkutan adalah saat pembebanan sebagai biaya oleh pemotong pajak sesuai dengan metode pembukuan yang dianutnya.
Pajak penghasilan pasal 23 harus disetorkan oleh Pemotong pajak selambat-lambatnya tanggal 10 bulan Taqwim berikutnya setelah bulan saat terutangnya pajak ke bank persepsi dan kantor pos Indonesia.
Pemotong PPh pasal 23 diwajibkan menyampaikan surat pemberitahuan masa selambat- lambatnya 20 hari setelah masa pajak berakhir.
Pemotongan PPh pasal 23 memberikan tanda bukti lima Tongan kepada orang pribadi atau badan yang dibebankan pada penghasilan yang dipotong.Pelaksanaan, pemotongan, penyetoran, dan pelaporan PPh pasal 23 dilakukan secara desentralisasi, artinya dilakukan di tempat terjadinya pembayaran atau terutangnya penghasilan yang merupakan obyek PPh pasal 23. Hal ini dimaksudkan untuk mempermudah pengawasan terhadap pelaksanaan pemotongan PPh pasal 23 tersebut. Transaksi -transaksi yang merupakan potongan PPh pasal 23 yang pembayaran dilakukan oleh kantor pusat, PPh pasal 23, dipotong, disetor, dan dilaporkan oleh kantor pusat, sedangkan obyek PPh pasal 23 yang pembayarannya dilakukan oleh kantor cabang, misalnya sewa kantor cabang, PPh pasal 23 dipotong, disetor, dan dilaporkan oleh kantor cabang yang bersangkutan.
2.9 Surat Pemberitahuan Masa Dan Bukti Pemotongan Kasus
PT Perdana didirikan pada tahun 2000 dan beralamat di Jl. Tentara Pelajar No. 7, Yogyakarta. NPWP PT Perdana, yaitu 01.555.444.1.541.000. Pembayaran honorarium dan imbalan lain PT Perdana sehubungan dengan PPh Pasal 23 selama bulan Oktober 2016 sebagai berikut.
1. Pada tanggal 10 Oktober 2016, PT Perdana membayar bunga pinjaman kepada Bank Mandiri, Yogyakarta sebesar Rp1.000.000. Bank Mandiri beralamat di Jl. Diponegoro No. 133, Yogyakarta. NPWP Bank Mandiri, yaitu 01.222.333.2.541.000.
2. Pada tanggal 15 Oktober 2016, PT Perdana membayar royalti kepada:
Nama Alamat NPWP Jumlah Royalti
Monalisa Jl. Podang No. 6,
Yogyakarta 04.111.333.1.541.000 Rp20.000.000 Yogananta Jl. Merdeka No. 100,
Yogyakarta - Rp 5.000.000
Riskayanti Jl. Kalimantan No. 10,
Yogyakarta 04.222.555.1.541.000 Rp10.000.000
3. Pada tanggal 20 Oktober 2016, PT Perdana membayar jasa perbaikan mesin produksi yang telah rusak sebesar Rp15.000.000 kepada PT Maju Jaya yang beralamat di Jl.
Godean No. 26, Yogyakarta. NPWP PT Maju Jaya, yaitu 01.446.577.2.542.000.
4. Pada tanggal 22 Oktober 2016, PT Perdana membayar fee sebesar Rp22.000.000 kepada Kantor Akuntan Dwiananda yang beralamat di Jl. Mrican No. 200, Yogyakarta. NPWP KAP Dwiananda, yaitu 04.322.233.2.541.000.
5. Pada tanggal 29 Oktober 2016, PT Perdana membayar sewa kendaraan untuk mendistribusikan hasil produksi ke beberapa kota sebesar Rp6.000.000. Sewa dibayar kepada Andika Rental yang beralamat di Jl. Adisucipto No. 38, Yogyakarta. NPWP Andika Rental, yaitu 01.111.333.1.541.000.
Diminta:
Hitunglah PPh Pasal 23 yang dipotong PT Perdana.
Buatkan Bukti Pemotongan PPh Pasal 23 untuk setiap Wajib Pajak.
Setorkan PPh Pasal 23 yang telah dipotong.
Buatkan SPT Masa PPh Pasal 23 Oktober 2016 untuk PT Perdana.
Penyelesaian:
Penghitungan PPh Pasal 23 dan bukti pemotongan yang dibuat oleh PT Perdana dijelaskan sebagai berikut.
1. Pembayaran bunga sebesar Rp1.000.000 kepada Bank Mandiri tidak dipotong pajak karena penghasilan yang dibayarkan atau terutang kepada bank merupakan pengecualian dari pengenaan PPh Pasal 23.
2. Berikut ini perhitungan pembayaran royalti dipotong PPh Pasal 23.
Nama
Penulis PPh yang Dipotong
Tambahan PPh karena Tidak Ber-
NPWP
Total PPh yang Dipotong Monalisa 15% × Rp20.000.000 =
Rp3.000.000 - Rp3.000.000
Yogananta 15% × Rp5.000.000 = Rp750.000
100% × Rp750.000
= Rp750.000 Rp1.500.000 Riskayanti 15% × Rp10.000.000 =
Rp1.500.000 - Rp1.500.000
Masing - masing Wajib Pajak dibuatkan bukti pemotongan nomor 01/Ps-23/10/2016, 02/Ps-23/10/2016, dan 03/Ps-23/10/2016.
3. Pembayaran imbalan jasa teknik kepada PT Maju Jaya sebesar Rp15.000.000 dipotong PPh Pasal 23 sebesar:
Tarif 2% x penghasilan bruto
= 2% x Rp 15.000.000
= Rp300.000 → Bukti Pemotongan PPh Pasal 23 nomor 04/Ps-23/10/2016 4. Pembayaran fee kepada Kantor Akuntan Dwiananda & Co. sebesar Rp22.000.000
dipotong PPh Pasal 23 sebesar:
Tarif 2% x penghasilan bruto
= 2% x Rp22.000.000
= Rp440.000 → Bukti Pemotongan PPh Pasal 23 nomor 05/Ps-23/10/2016,
5. Pembayaran sewa kendaraan kepada Andika Rental sebesar Rp6.000.000 dipotong PPh Pasal 23 sebesar:
Tarif 2 % x penghasilan bruto
= 2 % x Rp6.000.000
= Rp120.000 → Bukti Pemotongan PPh Pasal 23 nomor 06/Ps-23/10/2016 . Total PPh Pasal 23 yang dipotong dan disetor adalah :
Penerima Jumlah PPh yang Dipotong/Disetor
Royalti
1. Monalisa Rp3.000.000
2. Yogananta Rp1.500.000
3. Riskayanti Rp1.500.000
Rp6.000.000 Jasa:
1. PT Maju Jaya Rp 300.000
2. Kantor Akuntan Dwiananda & Co. Rp 440.000
Rp 740.000 Sewa:
1. Andika Rental Rp 120.000
Total Rp6.860.000
Bukti Pemotongan yang dilampirkan dalam kasus ini merupakan salah satu lampiran SPT Masa yang diserahkan oleh Pemotong Pajak, yaitu PT Perdana. Bukti Pemotongan seharusnya dibuat rangkap ke-3, yaitu lembar ke-1 untuk Wajib Pajak, lembar ke-2 untuk Kantor Pelayanan Pajak, dan lembar ke-3 untuk Pemotong Pajak.
BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan
Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 23 adalah pajak yang dipotong atas penghasilan yang berasal dari modal, penyerahan jasa, atau hadiah dan penghargaan, selain yang telah dipotong PPh Pasal 21. Dalam melakukan pemotongan PPh Pasal 23 terdapat pemotong pajak yang telah ditentukan oleh peraturan uu PPh pasal 23 begitu pula dengan tarif dan penghasilan apasaja yang tergolong dapat dipotong PPh Pasal 23 ataupun yang dikecualikan. Makalah diatas juga menunjukan kapan saat terutang, pelaporan dan penyetoran PPh pasal 23 yang telah ditentukan oleh UU.
3.2 Saran
Dalam hal pemungutan Pajak Penghasilan Pasal 23 telah dilakukan dengan baik, yaitu dengan cara bekerja sama dengan pihak rekanan sehingga tidak terjadi kesulitan, oleh karena itu untuk masa yang akan datang lebih ditingkatkan jalinan kerja samanya dengan pihak rekanan, dan mempertahankan kepatuhan dalam membayar pajak sesuai dengan peraturan ddan perundang – undandan perpajakan.
DAFTAR PUSTAKA
Resmi, Siti. 2019. Perpajakan: Teori dan Kasus Edisi 11. Jakarta: Salemba Empat.