• Tidak ada hasil yang ditemukan

pengembangan bahan ajar ipa bermuatan nilai religius untuk

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "pengembangan bahan ajar ipa bermuatan nilai religius untuk"

Copied!
30
0
0

Teks penuh

(1)

Klaster: Utama

Skem : Penelitian Dasar

PROPOSAL

PENELITIAN INTERNAL

PENGEMBANGAN BAHAN AJAR IPA BERMUATAN NILAI RELIGIUS UNTUK MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR SISWA SEKOLAH DASAR

Yunita Sari, S.Pd., M.Pd ( NIDN. 0602068401 ) Sari Yustiana, S.Pd., M.Pd ( NIDN. 0609079001 )

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG

SEMARANG APRIL 2020

(2)
(3)

DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL ... ...i

HALAMAN PENGESAHAN ... ... ii

DAFTAR ISI ... ... iii

RINGKASAN ……….. iv

BAB I LATAR BELAKANG ... ...1

1.1 Pendahuluan ...1

1.2 Rumusan Masalah ...2

1.3 Tujuan Penelitian...3

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... ...4

2.1 Bahan Ajar ...4

2.2 Buku Cerita Bergambar...6

2.3Karakter Religius...8

BAB III METODE PENELITIAN…...9

3.1 Desain Penelitian ...9

3.2 Prosedur Penelitian...9

3.3 Desain Rancangan Produk ...11

3.4 Sumber Data dan Subjek Penelitian...12

3.5 Teknik Pengumpulan Data...12

3.6 Uji Kelayakan...13

3.7 Teknik Analisis Data...13

BAB IV BIAYA DAN JADWAL KEGIATAN ………....14

4.1 Biaya pelaksanaan ………... 14

4.2 Jadwal kegiatan ... ... 15

DAFTAR PUSTAKA...16

(4)

RINGKASAN

Pembelajaran bertujuan untuk memberikan pengetahuan dan nilai-nilai penting kepada siswa. Nilai-nilai penting itu tidak dapat diperoleh siswa jika guru tidak menggunakan sumber pembelajaran yang menarik dalam kegiatan belajar mengajar. Masalah yang sering dihadapi pada anak sekolah dasar adalah penggunaan sumber belajar yang kurang menarik bagi siswa dan dalam pembelajaran tidak selalu menggunakan sumber belajar. Sumber belajar yang ada sifatnya yang terbatas membuat siswa malas belajar. Bahan ajar merupakan salah satu dari sumber belajar. Penggunaan bahan ajar yang kurang menarik dan terbatas membuat siswa malas membaca. Hal ini dapat berdampak pada prestasi belajar siswa. Dalam proses pembelajaran bayak siswa yang menganggap bahwa muatan Ilmu Pengetahuan Alam adalah mata pelajaran yang harus dihafal.

Salah satu untuk mewujudkan pembelajaran yang menarik perhatian peserta didik ialah sumber belajar yang dikemas dalam bentuk buku cerita bergambar dengan menanamkan nilai-nilai religius. Karakter merupakan hal terpenting yang harus ditumbuh kembangkan dengan baik dan benar dalam diri setiap generasi muda. Karakter adalah sebuah dasar dan fondasi utama untuk dapat membentengi diri dari segala hal buruk yang hadir dalam dinamika kehidupan. Buku cerita bergambar merupakan buku bacaan yang didalamnya terdapat cerita dan disertai dengan gambar. Gambar yang tercantum dalam teks sama-sama pentingnya di dalam buku cerita karena gambar sebagai perantara komunikasi dan menyampaikan pesan cerita kepada anak. Dengan kolaborasi antara tulisan dan gambar warna-warni maka akan menumbuhkan minat baca anak dan rasa ingin tahu tentang cerita dari buku tersebut. Dengan buku cerita yang disertai gambar warna-warni anak akan bersemangat membacanya. Dalam pembelajaran di sekolah dasar buku cerita bergambar dapat digunakan sebagai pendukung pembelajaran pada literasi. Maka perlu dilakukan penelitian tentang Pengembangan Bahan Ajar IPA Bermuatan Nilai Religius Untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa Sekolah Dasar.

Model pengembangan yang direncanakan dalam penelitian ini menggunakan model pengembangan 4-D mengikuti alur dari Sivasailam Thiagarajan, Dorothy S. Semmel, dan Melvyn I. Semmel. Model pengembangan 4-D terdiri dari empat tahapan, tahap-tahapannya yaitu Define, Design, Develop, dan Disseminate (Thiagarajan, 1974: 5). Model pengembangan 4-D diadaptasikan menjadi model 4-P, yaitu pendefisian, perancangan, pengembangan, dan penyebaran. Pada penelitian ini bertujuan menghasilkan produk berupa pengembangan bahan ajar ipa bermuatan nilai-nilai religius bagi siswa sekolah dasar.

(5)

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Pendidikan di Indonesia telah mengalami perubahan pada setiap masanya demi mencapai taraf perbaikan pendidikan yang signifikan. Perubahan tersebut ditujukan secara mendasar pada kurikulum yang digunakannya. Kurikulum sendiri merupakan alat untuk mencapai tujuan pendidikan, sekaligus sebagai pedoman dalam melaksanakan pendidikan. Kurikulum terbaru yang saat ini digunakan dalam pendidikan di Indonesia, yaitu kurikulum 2013. Kurikulum 2013 sudah digunakan oleh beberapa sekolah dasar di Indonesia. Dalam pelaksanaannya, kurikulum 2013 pada jenjang pendidikan dasar memiliki arah dan tujuan untuk:

” Membentuk peserta didik yang memiliki keterampilan dan kemampuan dasar membaca, menulis, dan berhitung sebagai bekal untuk memperoleh pengetahuan yang lebih tinggi, mengembangkan potensi peserta didik, serta membentuk mental dan kepribadian peserta didik. (Shobirin, 2016: 13)

Kurikulum 2013 erat kaitannya dengan upaya pemerintah dalam menghasilkan insan Indonesia yang produktif, kreatif, inovatif, dan afektif melalui penguatan sikap (tahu mengapa), keterampilan (tahu bagaimana), dan pengetahuan (tahu apa) yang terintegrasi. UU RI No. 20 Tahun 2003 menjelaskan bahwa Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan yang dimaksud bukan hanya pendidikan yang berkaitan dengan pengetahuan semata, tetapi pendidikan yang mengacu kepada pembentukkan pola perilaku dan karakter.

Karakter merupakan hal terpenting yang harus ditumbuh kembangkan dengan baik dan benar dalam diri setiap generasi muda. Karakter adalah sebuah dasar dan fondasi utama untuk dapat membentengi diri dari segala hal buruk yang hadir dalam dinamika kehidupan.

Octavia (2014: 11) megungkapkan bahwa secara umum karakter merupakan perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan kebangsaan, yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata krama, budaya, dan adat istiadat.

(6)

Pembelajaran bertujuan untuk memberikan pengetahuan dan nilai-nilai penting kepada siswa. Nilai-nilai penting itu tidak dapat diperoleh siswa jika guru tidak menggunakan sumber pembelajaran yang menarik dalam kegiatan belajar mengajar. Masalah yang sering dihadapi pada anak sekolah dasar adalah penggunaan sumber belajar yang kurang menarik bagi siswa dan dalam pembelajaran tidak selalu menggunakan sumber belajar. Sumber belajar yang ada sifatnya yang terbatas membuat siswa malas belajar. Bahan ajar merupakan salah satu dari sumber belajar. Penggunaan bahan ajar yang kurang menarik dan terbatas membuat siswa malas membaca. Hal ini dapat berdampak pada prestasi belajar siswa. Dalam proses pembelajaran bayak siswa yang menganggap bahwa muatan Ilmu Pengetahuan Alam adalah mata pelajaran yang harus dihafal.

Berdasarkan hasil observasi dan hasil wawancara dengan Ibu Lutfi Haryati (guru kelas 1) SDN Beji 03 pada bulan Maret 2020. Ditemukan berbagai kendala untuk diantaranya keterbatasan guru dalam mengembangkan sumber belajar di dalam proses pembelajaran.

Sumber belajar yang tersedia di sekolah belum memenuhi kebutuhan siswa. Nilai kelas 1 yang mencapai KKM (Kriteria Ketuntasan Minimum) kurang dari separuh dari jumlah siswa di kelas 1 dan hasil belajar siswa belum maksimal. Nilai-nilai religus dalam bahan ajar yang tersedia disekolah belum sepenuhya ada. Hanya pada tema-tema tertentu saja.

Salah satu untuk mewujudkan pembelajaran yang menarik perhatian peserta didik ialah sumber belajar yang dikemas dalam bentuk buku cerita bergambar dengan menanamkan nilai-nilai religius. Buku cerita bergambar merupakan buku bacaan yang didalamnya terdapat cerita dan disertai dengan gambar. Gambar yang tercantum dalam teks sama-sama pentingnya di dalam buku cerita karena gambar sebagai perantara komunikasi dan menyampaikan pesan cerita kepada anak. Dengan kolaborasi antara tulisan dan gambar warna-warni maka akan menumbuhkan minat baca anak dan rasa ingin tahu tentang cerita dari buku tersebut. Dengan buku cerita yang disertai gambar warna-warni anak akan bersemangat membacanya. Dalam pembelajaran di sekolah dasar buku cerita bergambar dapat digunakan sebagai pendukung pembelajaran pada literasi. Buku cerita bergambar akan mendorong peserta didik terbiasa untuk membaca dan memahaminya, karena membaca merupakan bagian dari program yang diluncurkan oleh pemerintah yaitu gerakan literasi sekolah (GLS). Degan adanya pengembangan bahan ajar ini diharapkan prestasi belajar dan nilai karakter religius dapat meningkat.

Buku cerita bergambar bukan hanya dijadikan sebagai bacaan namun juga dapat dimanfaatkan sebagai media pembelajaran di kelas, sehingga siswa lebih fokus dan senang mengikuti pembelajaran. Buku cerita bergambar ini juga dapat dijadikan bahan bacaan untuk

(7)

semua peserta didik baik dari kelas rendah maupun tinggi. Peserta didik bukan hanya sekedar melihat gambar namun juga mengetahui informasi didalamnya secara singkat. Ketika pembelajaran guru dapat menjadikan gambar dalam buku sebagai materi permainan untuk siswa, sehingga pembelajaran lebih menarik dan menyenangkan. Dari latar belakang di atas maka perlu dilakukan penelitian tentang Pengembangan Bahan Ajar IPA Bermuatan Nilai Religius Untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa Sekolah Dasar.

1.2 Rumusan Masalah

Atas dasar uraian diatas, permasalahan utama dalam penelitian ini yang dirumuskan adalah:

1. Apakah bahan ajar ipa bermuatan nilai religius untuk meningkatkan prestasi belajar siswa sekolah dasar valid ?

2. Apakah bahan ajar ipa bermuatan nilai religius untuk meningkatkan prestasi belajar siswa sekolah dasar praktis?

3. Apakah bahan ajar ipa bermuatan nilai religius untuk meningkatkan prestasi belajar siswa sekolah dasar efektif ?

1.3 Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini ialah menghasilkan bahan ajar pendamping atau sebagai suplemen belajar siswa SD. Secara operasional tujuan penelitian ini menghasilkan tiga hal sebagai berikut:

1. Untuk mengetahui apakah bahan ajar ipa bermuatan nilai religius untuk meningkatkan prestasi belajar siswa sekolah dasar valid ?

2. Untuk mengetahui apakah bahan ajar ipa bermuatan nilai religius untuk meningkatkan prestasi belajar siswa sekolah dasar praktis?

3. Untuk mengetahui apakah bahan ajar ipa bermuatan nilai religius untuk meningkatkan prestasi belajar siswa sekolah dasar efektif ?

(8)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Bahan Ajar

Bahan ajar merupakan segala bentuk bahan yang digunakan untuk membantu guru atau instruktur dalam melaksanakan proses pembelajaran di kelas. Bahan tersebut bisa berupa tertulis maupun tidak tertulis. Bahan ajar atau materi pembelajaran (instructional materials) secara garis besar terdiri dari pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang harus dipelajari siswa dalam rangka mencapai standar kompetensi yang telah ditentukan

Prastowo (2012:40) menjelaskan bahwa bahan ajar memiliki berbagai bentuk dan jenis, diantaranya: bahan cetak (printed), bahan ajar dengan atau program audio, bahan ajar pandang dengar (audio visual), bahan ajar interaktif (interactive teaching materials) seperti CD interaktif.Dikmenjur dalam buku panduan pengembangan bahan ajar (Depdiknas, 2008:

6) menyatakan “bahan ajar adalah seperangkat materi pembelajaranyang disusun secara sistematis, menampilkan sosok utuh dari kompetensi yang akan dikuasai peserta didik.

Peserta didik dapat mempelajari suatu kompetensi (KD) secara sistematis sehingga secara akumulatif mampu menguasai semua kompetensi secara utuh dan terpadu”.

Widodo & Jasmadi (Lestari 2013: 1) bahan ajar adalah seperangkat sarana atau alat pembelajaran, metode, batasan-batasan, dan cara mengevaluasi yang didesain secara sistematis dan menarik dalam rangka mencapai tujuan yang diharapkan, yaitu mencapai kompetensi dan subkompetensi dengan segala kompleksitasnya.

Pengertian ini menjelaskan bahwa suatu bahan ajar haruslah dirancang dan disusun dengan kaidah pembelajaran yakni disesuaikan materi pembelajaran, disusun berdasarkan atas kebutuhan pembelajaran, terdapat bahan evaluasi untuk mengetahui pencapaian atau penguasaan hasil pembelajaran, serta bahan ajar tersebut menarik untuk dipelajari oleh peserta didik. Melalui bahan ajar guru akan lebih mudah dalam melaksanakan pembelajaran dan peserta didik akan lebih terbantu dan mudah dalam belajar.

Dengan adanya bahan ajar, guru akan lebih runtut dalam mengajarkan materi kepada peserta didik dan tercapai semua kompetensi yang telah ditentukan. Bahan ajar yang

(9)

digunakan oleh guru dapat berbentuk bahan ajar tertulis seperti buku, modul, handout, atau dapat juga berbentuk bahan ajar tidak tertulis seperti kaset, radio bahkan bahan ajar berbasis web. Dalam kegiatan belajar mengajar di kelas bahan ajar dapat digunakan sebagai pedoman bagi guru dan peserta didik yang akan mengarahkan semua aktivitasnya dalam proses pembelajaran sehingga membantu peserta didik dalam memahami pembelajaran atau dengan kata lain bahwa “Bahan ajar adalah seperangkat materi yang disusun secara sistematis baik tertulis maupun tidak sehingga tercipta lingkungan atau susunan yang memungkinkan siswa untuk belajar” (Daryanto & Dwicahyono, 2014: 171).

Dalam dunia pendidikan khususnya di sekolah dasar, seorang pengajar menggunakan buku pegangan guru dan siswa sebagai salah satu sumber belajar. Namun pada dasarnya buku teks yang diberikan oleh pemerintah belum sepenuhnya memenuhi kebutuhan belajar siswa sehingga guru membutuhkan sumber belajar lain yang mendukung proses pembelajaran di kelas seperti yang di ungkapkan oleh Majid (2013: 42) mengatakan bahwa “selain buku teks pelajaran baik itu buku paket dan LKS, guru menggunakan buku panduan guru, buku pengayaan, buku referensi, dan sumber belajar lainnya”. Maknanya guru perlu mengadopsi sumber belajar lain agar pembelajaran dapat lebih mudah dipahami oleh peserta didik. Salah satu yang dapat dilakukan guru agar pembelajaran lebih menarik ialah guru dapat mengembangkan bahan ajar yang sudah ada menjadi lebih menarik agar peserta didik tidak mudah bosan ketika mengikuti pembelajaran di kelas.

Agar pengembangan sebuah bahan ajar menjadi lebih baik, guru hendaknya memperhatikan kaidah-kaidah yang harus dipenuhi dalam menyusun bahan ajar seperti pendapat Widodo (Lestari, 2013: 2) menjelaskan bahwa “ada 5 kekhususan dalam penyusunan bahan ajar, yaitu 1) Self instructional 2) Self contained 3) Stand alone 4) Adaptive 5) User friendly”. Penjelasan dari kekhususan dalam menyusun bahan ajar tersebut adalah sebagai berikut:

1) Self instructional

Artinya meminimalkan keinginan peserta didik untuk bergantung kepada orang lain agar peserta didik terbiasa untuk belajar percaya diri.

2) Self contained

Semua materi yang dipelajari menyatu dalam satu set baik itu kompetensi yang diharapkan atau subkompetensi bagian-bagian kecil lain.

3) Stand alone

(10)

Artinya dalam pengunaannya, bahan ajar bisa digunakan tanpa harus terkait kepada bahan ajar yang lain.

4) Adaptive

Artinya bahan ajar dapat dengan mudah menyesuaikan terhadap perkembangan ilmu dan tehnologi.

5) User friendly

Artinya perintah dari penjelasan informasi yang disampaikan bersifat menolong.

2.2 Buku Cerita Bergambar

Buku cerita bergambar adalah buku yang memadukan gambar menarik dengan kombinasi tulisan-tulisan yang isinya baik itu gambar maupun tulisannya sama-sama mempunyai fungsi yaitu untuk menyampaikan kisah seperti pendapat Tompkins &

Hoskissom (Ratnasari & Zubaidah, 2017: 269) “buku cerita bergambar mempunyai teks singkat, umumnya terdiri dari 32 halaman yang terdiri dari kata-kata dan gambar yang digabungkan dalam cerita untuk menyampaikan informasi”. Peranan gambar sangat penting bagi anak-anak dalam proses belajar. Pada umumnya anak lebih tertarik membaca buku yang mempunyai banyak gambar. Karena dirangkai sedemikian rupa sehingga lebih memikat perhatian anak, para orang tua maupun guru akan lebih mudah dalam menyampaikan materi dengan baik menggunakan cerita bergambar yang disukai oleh peserta didik (Lestari, dkk.

2016: 136).

Tujuan di buatnya buku cerita bergambar ini agar meningkatkan pemahaman peserta didik terhadap nilai moral yang diajarkan melalui pemaparan cerita di buku tersebut.

Karenanya, buku cerita bergambar sedikitnya memiliki dua manfaat di antaranya 1) dapat dijadikan sebagai wahana membaca yang mengasyikan bagi anak-anak yang belum cakap membaca atau bisa dikatakan anak-anak yang baru mau memulai untuk belajar membaca, 2) dapat juga memberikan kemudahan kepada anak untuk dapat memahami isi cerita dengan banyak mendapat bantuan dari gambarnya yang indah, penuh warna, dan informatif karena tulisan yang disuguhkan bukan merupakan tulisan panjang yang sulit dimengerti (Toha, 2010: 18).

Dari beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa buku cerita bergambar adalah perpaduan dari gambar dan juga tulisan yang dikemas dalam satu buku. Tujuan adanya buku cerita bergambar ini ialah untuk membantu anak untuk memahami isi cerita

(11)

melalui sajian gambar, serta untuk memotivasi anak untuk senang membaca buku karena terdapat gambar-gambar yang menarik di dalam buku tersebut.

Sebuah buku cerita bukan hanya berupa buku yang menyatukan antara tulisan dengan penyajian dihiasi gambar. Tentunya buku cerita memiliki beberapa persyaratan agar buku tersebut dikatakan layak untuk di gunakan terutama anak-anak sebagai medium untuk membaca seperti pendapat Effendi, dkk. (2013) mengatakan:

Buku cerita yang baik memiliki ketentuan, di antaranya: a) tampilan visual buku didesain dengan menggunakan tambilan full color b) tampilan visual buku cerita lebih menonjolkan gambar dibandingkan dengan tulisannya c) ragam huruf dalam buku cerita mempunyai tingkat keterbacaan yang efektif bagi anak-anak d) judul buku cerita telah mewakili keseluruhan isi cerita e) tampilan warna mampu memberikan persepsi dan mudah ditangkap oleh alat pengelihatan.

Penjelasan mengenai persyaratan agar buku cerita di katakan layak untuk gunakan adalah sebagai berikut:

a) Tampilan visual buku didesain dengan menggunakan tambilan full color Maknanya dalam sebuah buku tidak hanya memuat satu warna saja atau justru warnanya di buat hitam putih. Warna yang ditampilkan harus semenarik mungkin bisa menggunakan beberapa warna dasar ataupun warna yang digradasikan.

b) Tampilan visual buku cerita lebih menonjolkan gambar dibandingkan dengan tulisannya

Maknanya proporsi antara tulisan dan gambar harus disesuaikan. Jangan sampai tulisan yang dimuat justru menutupi gambar dan mendominasi karena fungsi dari buku cerita bergambar adalah menampilkan gambar yang mendukung jalannya cerita. Selain itu isi dan tema cerita memberikan pembelajaran nilai-nilai moral yang berkaitan dengan kegiatan sehari-hari.

c) Ragam huruf dalam buku cerita mempunyai tingkat keterbacaan yang efektif bagi anak-anak

Maknanya jangan terlalu banyak variasi tulisan dalam buku. Apalagi memilih tulisan-tulisan seperti tulisan latin yang biasanya anak masih merasa sulit untuk membacanya.

d) Judul buku cerita telah mewakili keseluruhan isi cerita

(12)

Maknanya pilihlah kata yang sederhana namun memikat dan memancing rasa penasaran atau rasa ingin tahu anak untuk membaca lebih lanjut

e) Tampilan warna mampu memberikan persepsi dan mudah ditangkap oleh alat pengelihatan

Maknanya jangan memilih warna yang terlalu mencolok sehingga membuat mata cepat sakit saat membaca. Sebaliknya, memilih warna yang mendominasi warna gelap akan menimbulkan kesan menyeramkan. Solusinya adalah memilih warna-warna yang sudah familiar dilihat oleh anak.

2.3 Karakter Religius

Religious dalam bahasa Indonesia bermakna religius yang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti bersifat religi atau keagamaan, atau yang bersangkut - paut dengan religi. Menurut Muhaimin (2015: 288) menyatakan bahwa kata religius memang tidak selalu identik dengan agama. Kata religuis lebih tepat diterjemahkan sebagai keberagamaan.

Keberagamaaan lebih melihat aspek yang di dalam lubuk hati nurani pribadi, sikap personal yang sedikit banyak merupakan misteri bagi orang lain karena menapaskan intimitas jiwa, citra rasa yang mencakup totalitas ke dalam pribadi manusia, bukan pada aspek yang bersifat formal Proses pembentukan budaya religius didahului dengan penanaman nilai religius dalam pembelajaran. Nilai religius merupakan dasar dari pembentukan budaya islami, karena tanpa adanya penanaman nilai religius, maka budaya islami tidak akan terbentuk. Budaya islami yang merupakan bagian dari budaya sekolah sangat menekankan peran nilai.

Pusat Kurikulum dan Perbukuan Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pendidikan Nasional berjudul “Pedoman Pelaksanaan Pendidikan Karakter (2011)” telah mengidentifikasi 18 sejumlah nilai pembentuk karakter yang merupakan hasil kajian empirik Pusat Kurikulum yang bersumber dari agama, pancasila, budaya dan tujuan pendidikan nasional. Nilai-nilai tersebut salah satunya adalah Karakter religius (sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang dianutnya, toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, dan hidup rukun dengan pemeluk agama lain).

2.4 Kerangka Berfikir

Masalah yang sering dihadapi pada anak sekolah dasar adalah penggunaan sumber belajar yang kurang menarik bagi siswa dan dalam pembelajaran tidak selalu menggunakan sumber belajar. Sumber belajar yang ada sifatnya yang terbatas membuat siswa malas

(13)

belajar. Bahan ajar merupakan salah satu dari sumber belajar. Penggunaan bahan ajar yang kurang menarik dan terbatas membuat siswa malas membaca. Hal ini dapat berdampak pada prestasi belajar siswa. Dalam proses pembelajaran bayak siswa yang menganggap bahwa muatan Ilmu Pengetahuan Alam adalah mata pelajaran yang harus dihafal.

Salah satu untuk mewujudkan pembelajaran yang menarik perhatian peserta didik ialah sumber belajar yang dikemas dalam bentuk buku cerita bergambar dengan menanamkan nilai-nilai religius. Buku cerita bergambar merupakan buku bacaan yang didalamnya terdapat cerita dan disertai dengan gambar. Gambar yang tercantum dalam teks sama-sama pentingnya di dalam buku cerita karena gambar sebagai perantara komunikasi dan menyampaikan pesan cerita kepada anak. Dengan kolaborasi antara tulisan dan gambar warna-warni maka akan menumbuhkan minat baca anak dan rasa ingin tahu tentang cerita dari buku tersebut. Dengan buku cerita yang disertai gambar warna-warni anak akan bersemangat membacanya. Dalam pembelajaran di sekolah dasar buku cerita bergambar dapat digunakan sebagai pendukung pembelajaran pada literasi. Buku cerita bergambar akan mendorong peserta didik terbiasa untuk membaca dan memahaminya, karena membaca merupakan bagian dari program yang diluncurkan oleh pemerintah yaitu gerakan literasi sekolah (GLS). Degan adanya pengembangan bahan ajar ini diharapkan prestasi belajar dan nilai karakter religius dapat meningkat.

Gambar. 2.1 Kerangka berfikir Bahan ajar yang tersedia terbatas Nilai-nilai religius dalam bahan ajar sedikit.

Guru belum mengembangkan bahan ajar

Tindakan

Pengembangan Bahan Ajar IPA Bermuatan Nilai Religius

Pelaksanaan

Penggunaan Bahan Ajar IPA Bermuatan Nilai Religius

Prestasi belajar siswa meningkat Karekter religius siswa meningkat

(14)

BAB III

METODE PENELITIAN 3.1 Desain Penelitian

Penelitian ini menggunakan jenis penelitian dan pengembangan (R&D).

Sebagaimana pendapat yang mengemukakan “penelitian Research and Development adalah metode penelitian yang digunakan untuk menghasilkan produk tertentu, dan menguji keefektifan produk tersebut” (Sugiyono, 2016: 297). Tujuan akhir penelitian pengembangan adalah menghasilkan produk yang dianggap efektif karena telah melalui tahap-tahap pengujian dan revisi; produk yang dihasilkan sesuai dengan kebutuhan lapangan sesuai dengan analisis kebutuhan; proses pengembangan produk dihasilkan secara ilmiah dengan menganalisis data secara empiris (Sanjaya, 2013: 130).

Model pengembangan yang direncanakan dalam penelitian ini menggunakan model pengembangan 4-D mengikuti alur dari Sivasailam Thiagarajan, Dorothy S. Semmel, dan Melvyn I. Semmel. Model pengembangan 4-D terdiri dari empat tahapan, tahap-tahapannya yaitu Define, Design, Develop, dan Disseminate (Thiagarajan, 1974: 5). Model pengembangan 4-D diadaptasikan menjadi model 4-P, yaitu pendefisian, perancangan, pengembangan, dan penyebaran. Pada penelitian ini bertujuan menghasilkan produk berupa pengembangan bahan ajar ipa bermuatan nilai-nilai religius bagi siswa sekolah dasar.

3.2 Prosedur Penelitian 1. Studi Pendahuluan

Studi pendahuluan dilakukan dengan dua cara yaitu dalam bentuk studi pustaka dan survei lapangan. Studi pustaka dilakukan untuk mengetahui acuan untuk dikembangkan yang kedua survei lapangan untuk mengidentifikasi masalah yang kemudian dicari pemecahan solusinya.

2. Pengembangan Prototipe

Pengembangan di bidang pendidikan menurut pendapat Borg dan Gall (Suwahono, 2012: 153) memiliki dua tujuan utama, yaitu: (1) mengembangkan produk dan (2) menguji keefektifan produk. Fungsi pertama merupakan pengembangan sedangkan fungsi kedua merupakan validasi. Prosedur pengembangan model Thiagarajan terdiri dari empat tahap, yaitu tahap define (pendefinisian), tahap design (perancangan), tahap develop (pengembangan), dan tahap disseminate (penyebaran). Empat tahap prosedur pengembangan tersebut akan dijelaskan sebagai berikut:

(15)

1) Tahap I: Define (pendefinisian)

Tahap pendefinisian merupakan tahap untuk menetapkan dan mendefinisikan syarat-syarat yang dibutuhkan dalam pengembangan pembelajaran. Penetapan syarat-syarat yang dibutuhkan dilakukan dengan memperhatikan serta menyesuaikan kebutuhan pembelajaran untuk peserta didik.

2) Tahap II: Design (Perancangan)

Tahap perancangan bertujuan untuk merancang materi dipilih untuk pembuatan produk buku cerita bergambar yang dilakukan setelah data awal terkumpul, langkah berikutnya adalah desain produk yang meliputi rancangan keseluruhan isi buku yang akan dibuat. Sebelum tahap design (rancangan) produk dilanjutkan ke tahap berikutnya, yaitu rancangan produk bahan ajar berbentuk buku cerita bergambar perlu divalidasi Validasi rancangan produk dilakukan oleh para pakar ahli dari bidang studi yang sesuai. Berdasarkan hasil validasi dari para pakar ahli tersebut, terdapat kemungkinan rancangan produk masih perlu diperbaiki sesuai dengan saran validator agar produk tersebut dapat dikatakan layak untuk digunakan.

3) Tahap III: Develop (Pengembangan)

Tahap pengembangan adalah tahap untuk menghasilkan produk pengembangan yang dilakukan melalui dua langkah, yakni: (1) penilaian ahli (expert appraisal) yang diikuti dengan revisi, (2) uji coba pengembangan (developmental testing).

Tujuan pada tahap pengembangan ini untuk menghasilkan bentuk akhir petunjuk praktikum setelah melalui revisi berdasarkan masukan para pakar ahli/praktisi dan data hasil uji coba. Langkah yang dilakukan pada tahap ini adalah sebagai berikut:

1) Validasi produk

Validasi produk dapat dilakukan dengan menghadirkan beberapa pakar atau tenaga ahli. Untuk itu, peneliti menghadirkan beberapa ahli yang dianggap berkompeten untuk menilai produk ini. Dari penilaian dan saran itu akan diketahui kelemahan dan kekuatan dari produk yang dihasilkan.

2) Pengujian Tahap I

Pengujian tahap 1 ini dilakukan pada kelompok kecil yaitu satu guru kelas dan direncanakan 10 responden berasal dari kalangan peserta didik di SD Negeri Beji 01. Mereka diminta untuk membaca buku yang telah dihasilkan, setelah itu diminta untuk mengisi angket berkaitan dengan desain produk dan respon mereka terhadap buku tersebut.

(16)

3) Revisi Produk

Setelah mengolah data yang didapat dari ujicoba tahap 1, maka langkah berikutnya adalah revisi produk yaitu memperbaiki kekurangan-kekurangan produk yang didapatkan dari respon guru dan respon peserta didik terhadap produk buku cerita bergambar, hal ini letak tahap pengembangan dalam penelitian R&D.

4) Pengujian Tahap II

Setelah produk direvisi, maka produk ini diujicobakan kembali namun dengan jumlah responden yang lebih besar dan dilakukan di SD yang berbeda yaitu SD Negeri Bji 03. Uji cobaakan dilakukan terhadap satu guru kelas dan 30 peserta didik kelas. Prosedurnya, peserta didik diberikan buku cerita bergambar lalu diminta untuk membaca dan mempelajari. Berikutnya responden juga diminta untuk mengisi angket terkait pendapat mereka tentang buku cerita bergambar.

5) Revisi Produk dan Penyempurnaan

Revisi dilakukan kembali setelah memperoleh data dari uji coba tahap II yang selanjutnya dilaksanakanproses penyempurnaan. Revisi kali ini langsung lanjutkan dengan proses penyempurnaan.

4) Tahap IV: Disseminate (Penyebarluasan)

Produk yang telah direvisi, selanjutnya diseminasi (disebarluaskan) dengan cara disumbangkan ke sekolah sebagai bahan bacaan untuk peserta didik. Buku ini akan diletakkan di perpustakaan supaya buku tersebut dapat di baca oleh semua peserta didik.

3.3 Desain Rancangan Produk

Desain buku cerita bergambar sebagai bahan ajar ini memiliki rancangan sebagai berikut:

1. Buku ini dilengkapi dengan ilustrasi gambar yang memiliki warna beragam bertujuan untuk meningkatkan minat baca anak.

2. Pengerjaan buku cerita bergambar ini menggunakan teknik gabungan antara manual dengan komputer. Sketsa digambar secara manual atau dengan cara menggunakan tangan kemudian discan, dan diwarnai secara digital dengan komputer menggunakan program Photoshop dan layout menggunakan program CorelDraw.

(17)

3. Pengembangan buku cerita mengambil SK dan KD dari mata pelajaran tematik kelas I semester 1.

4. Buku dibuat dengan ukuran B5 (18.2 cm x 25.7 cm) dengan mempertimbangkan agar mudah dipegang oleh peserta didik dan menyesuaikan rak di perpustakaan agar ketika buku di susun secara horisontal tidak banyak memakan tempat.

5. Teknik penjilidan yang digunakan menggunakan teknik penjilidan finishing stapler tengah. Sementara isi buku menggunakan cetak bolak- balik

3.4 Sumber Data dan Subjek Penelitian 1. Sumber data

Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi, wawancara terhadap guru dan peserta didik untuk memperoleh permasalahan dan survei kebutuhan.

Observasi dilakukan siswa kelas 1 SD Negeri Beji 03, serta wawancara kepada guru kelas 1 SD Negeri Beji 03. Data kemudian dianalisis untuk mendapatkan informasi mengenai kebutuhan guru untuk mengembangkan bahan ajar yang lebih menarik.

2. Subjek penelitian

Subjek dalam penelitian pengembangan ini adalah guru dan peserta didik SD Negeri Beji 03 Bejumalah 30 siswa.

3.5 Teknik Pengumpulan Data

Dalam penelitian ini menggunakan teknik tes dan non tes dengan menggunakan tes prestasi belajar siswa dan pedoman observasi, pedoman wawancara, dan angket yang meliputi angket validasi ahli, angket respon guru, dan angket respon peserta didik.

1. Teknik Tes

Tes adalah salah satu alat yang digunakan untuk mengukur atau alat untuk mengumpulkan informasi karakteristik oleh suatu objek. Mengukur kemampuan siswa dalam memahami materi yang disampaikan. Tes dilakukan sebanyak dua kali yaitu pretes dan postes.

2. Teknik non tes

Dalam penyusunan kisi-kisi angket menggunakan dua indikator yaitu karakteristik bahan ajar dan karakteristik buku cerita. Indikator tersebut dijelaskan seperti pada tabel berikut ini:

(18)

1) Angket Validasi Ahli

Angket validasi produk ahli dibuat berdasarkan pada indikator karakteristik bahan ajar dan buku cerita bergambar yang digunakan dalam pengembangan produk.

2) Angket respon guru

Angket respon guru disusun berdasarkan indikator mengenai karakteristik bahan ajar dan buku cerita bergambar yang digunakan dalam pengembangan produk. Pengisian angket respon guru terhadap produk bahan ajar berbentuk buku cerita bergambar dilakukan pada saat melakukan uji coba terbatas.

3) Angket respon peserta didik

Selain angket respon yang di peruntukkan untuk guru, peserta didik juga di minta untuk memberikan tanggapannya terkait dengan produk buku cerita bergambar yang dibuat.

Adapun tanggapan peserta didik tersebut disesuaikan dengan kisi-kisi angket respon peserta didik sebagai berikut:

3.6 Uji Kelayakan

Produk buku cerita bergambar diketahui layak atau tidak dilakukan dengan memakai uji kelayakan. Dalam penelitian ini uji kelayakan menggunakan tiga pengujian yaitu: uji validasi ahli, uji skala kecil serta uji skala besar, yang menjadi penguji bagi uji validasi adalah 3 dosen. Dalam uji skala kecil dan uji skala besar, yang berperan sebagai penguji adalah guru dan peserta didik SD Negeri Beji 01 dalam uji skala kecil serta guru dan peserta didik SD Negeri Beji 03 dalam uji skala besar.

3.7 Teknik Analisis Data

Teknik yang digunakan pada penelitian ini ada dua teknik analisis data yaitu deskriptif kualitatif dan analisis kuantitatif. Hasil dari data kualitatif berupa masukan atau saran perbaikan produk dari validator yang dideskripsikan sebagai pedoman perbaikan produk yang dikembangkan. Sedangkan hasil dari data kuantitatif berupa nilai tes prestasi belajar dan skor penilaian dari validator produk, guru kelas serta pengisian lembar angket peserta didik.

3.7.1 Analisis data Angket

(19)

1. Uji Validasi Ahli

Ahli yang berperan sebagai penguji untuk mengetahui apakah produk dinyatakan layak atau tidak yaitu berasal dari 3 dosen.

2. Uji Skala Kecil dan Skala Besar 1) Angket respon guru

Respon tanggapan guru yang berkaitan dengan bahan ajar berbentuk buku cerita bergambar menggunakan skala likert. Sesuai dengan yang disampaikan oleh Musfiqon (2012: 129) “Penerapan skala likert ini lebih dapat mengakomodir situasi secara detail, karena ada lima alternatif jawaban”.

2) Angket respon peserta didik

Respon tanggapan peserta didik terhadap bahan ajar buku cerita bergambar yang berbentuk data kualitatif, akan diubah dengan skala Guttman.

3.7.2 Analisis Data Tes

Uji Keefektifan menggunakan Tes prestasi belajar. Tes ini untuk mengetahui ketuntasan peserta didik pada ranah kognitif.Dilakukan untuk mengetahui pemahaman peserta didik, instrument tes berupa soal pilihan ganda sebanyak 20 soal.

Analisis yang digunakan pada data tes menggunakaan uji gain ternormalisasi. Tes yang dilakukan yaitu pretes dan postes dengan bentuk soal pilihan ganda, Uji gain digunakan untuk mengetahui peningkatan prestasi belajar siswa sebelum dan sesudah belajar menggunakan bahan ajar IPA bermuatan nilai religius.

Hasil tes siswa baik pretes maupun postes akan dihitung skornya menggunakan sistem tanpa denda yaitu yang dihitung hanya jawaban yang benar saja dan yang salah tidak mempengaruhi skor, sistem perhitungan ini sesuai panduan dari Widoyoko (2018) dengan rumus sebagai berikut :

Dengan cacatan :

Sk = skor yang diperoleh peserta tes B = jumlah jawaban yang benar

Sk = B

(20)

Terjadi peningkatan atau tidak bisa dihitung menggunakan rumus gain ternormalisasi yang dikembangkan oleh Hake (dalam Sundayana, 2016:151) seperti tabel dibawah. Hasil tes dikatan ternormanisasi apabila mencapai nilai minimal 0,30 dengan intrepretasi “sedang”.

Tabel. Interpretasi Gain Ternormalisasi yang Dimodifikasi Nilai Gain Ternormalisasi Interpretasi

-1,00 ≤ g < 0,00 Turun

g = 0,00 Tetap

0,00 < g < 0,30 Rendah

0,30 ≤ g < 0,70 Sedang

0,70 ≤ g ≤ 1,00 Tinggi

Gain ternormalisasi (g) = skor postes - skor pretes skor ideal - skor pretes

(21)

BAB IV

BIAYA DAN JADWAL PENELITIAN

4.1 Anggaran Biaya

Segala anggaran yang timbul dari kegiatan penelitian ini dibebankan oleh anggaran LPPM UNISSULA yakni delapan juta rupiah, dengan rincian sebagai berikut:

Tabel.4.1 Rencana Anggaran Biaya Penelitian Tahun 2020 1. Honorarium

Item Honor Volume Satuan Honor Jumlah

Honor Validasi Produk Bahan Ajar

3 Buku Ajar 250.000 750.000

Honor Pembantu lapangan ( Guru )

2 Orang 250.000 500.000

Honor Desain dan Editor Bahan Ajar

25 Lembar 52.000 1.300,000

Sub Jumlah 1 2.550.000 2. Bahan Habis Pakai dan Peralatan

Item Bahan Volume Satuan Harga Jumlah

Fotocopy Proposal ( Arsip) 3 Eksemplar 50.000 150.000

Buku tulis 10 Buah 5.000 50.000

Tipe X 4 Buah 6.000 24.000

Bolpoin 10 Buah 3.000 30.000

Materai 2 Buah 7.000 14.000

Map Plastik 4 Buah 25.500 102.000

Flasdisk 1 Buah 120.000 120.000

Cetak Bahan Ajar untuk validasi ahli

3 Eksemplar 55.000 165.000

Cetak Bahan Ajar Uji Coba Skala Kecil full color

15 Eksemplar 55.000 825.000

Fotocopy soal pretes skala kecil

15 Eksemplar 3.000 45.000

Fotocopy soal post tes skala kecil

15 Eksemplar 3.000 45.000

Cetak Bahan setelah revisi uji skala besar

30 eksemplar 55.000 1.650.000

Fotocopy soal pretes skala besar

30 Eksemplar 3.000 90.000

(22)

Fotocopy soal post tes skala besar

30 Ekseplar 3.000 90.000

Sub jumlah 2 3.400.000 3. Perjalanan

Item perjalanan Volume Satuan Harga Jumlah

Transport observasi 1 kali 255.000 255.000

Transpor penenuan jadwal penelitian

1 kali 255.000 255.000

Trasport minta validasi dari guru

1 Kali 255.000 255.000

Transport uji coba skala kecil 1 Kali 255.000 255.000

Transport uji coba skala besar 1 Kali 255.000 255.000

Sub jumlah 3 1.275.000 4. Lain-Lain

Item Volume Satuan Harga Jumlah

Biaya Publikasi Artikel 1 kali 1.275.000 1.275.000

Sub jumlah 4 1.275.000

Total 8.500.000

4.2 JADWAL PENELITIAN

Adapun jadwal kegiatan penelitian sebagai berikut:

Tabel 4.2. Jadwal Penelitian Tahun 2019

No Nama Kegiatan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12

1 Koordinasi dengan guru SD 2. Penyusunan Proposal

3 Pembuatan Bahan Ajar

4 Validasi Ahli

5 Revisi berdasarkan Ahli

6 Ujicoba Skala kecil

7 Revisi hasil ujicoba skala kecil

8 Ujicoba Skala besar

9 Revisi hasil uji coba skala besar 10 Penyusunan Laporan

(23)

DAFTAR PUSTAKA

Daryanto, Dwicahyono, A. (2014). Pengembangan Perangkat Pembelajaran (Silabus, RPP, PHB, Bahan Ajar). Yogyakarta: Gava Media.

Effendy, Y., Bangsa, G dan Yunadi, H.D. (2013). “Perancangan Buku Cerita Bergambar Dang Gedunai untuk Anak Usia 4-5 Tahun”. Jurnal DKV Adiwara, Universitas Kristen Petra. 1, (2), 1-10.

Lestari, I. (2013). Pengembangan Bahan Ajar Berbasis Kompetensi: Sesuai dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Padang: Akademia.

Lestari, M.A, Marlina, E dan Permana, A. (2016). "Efektivitas Penggunaan Media Buku Cerita Bergambar Dalam Penanaman Nilai-Nilai Moral Siswa SD Kelas Rendah".

Pedagogi Jurnal Penelitian Pendidikan.03, (02), 134–144.

Prastowo, A. (2012). Panduan Kreatif Membuat Bahan Ajar Inovatif. Yogyakarta: Diva Press.

Ratnasari, E.M., & Zubaidah, E. (2017). "Pengaruh Penggunaan Buku Cerita Bergambar Terhadap Kemampuan Berbicara Anak". Jurnal Pendidikan Dan Kebudayaan. 9(2), 267–275.

Sanjaya, W. (2013). Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta:

Kencana.

Sari, Y. (2017). PengembanganBahan Ajar Komik IPA Dengan Penanaman Nilai Budai Pada Siswa Kelas IV Sekolah Dasar. Jurnal Pendidikan Sekolah Dasar (JPsd), 3(2), 129- 142.

Sari, Y., &Ulia, N. (2018). Efektivitas Bahan Ajar Komik Ipa Terhadap Hasil Belajar Siswa Kelas V Sekolah Dasar. Jurnal Ilmiah Pendidikan Guru SD, 2(02).

Sobirin, M. (2016) Konsep dan Implementasi Kurikulum 2013 di Sekolah Dasar. Yogyakarta:

Deepublish

Sugiyono. (2016). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung: PT Alfabet.

Thiagarajan, S, dkk. (1974). Instructional Development for Training Teachers of Exceptional Children. Washinton DC: National Center for Improvement Educational System.

Toha-Sarumpet, R.K. (2010). Pedoman penelitian sastra anak : edisi revisi. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia.

(24)

Organisasi TIM Peneliti dan Pembagian Tugas

No Nama dan NIK Fakultas Bidang Ilmu

Alokasi Waktu

Uraian Tugas 1. Yunita Sari, M.Pd

NIK. 211315025 NIDN. 0602068401

FKIP PGSD 8 Jam/

minggu

Ketua Penelitian

Koordinator penelitian terkait uji lapangan dan pengembangan bahan ajar.

Desain bahan ajar 2. Sari Yustiana

NIK. 211316029 NIDN. 0609079001

FKIP PGSD 6 Jam

/minggu

Anggota peneliti

Penyusunan Instrumen pembelajaran.

Analisis Data

(25)

Biodata Ketua dan Anggota Tim Pengusul A. Biodata Ketua TIM Pengusul

Nama Yunita Sari

NIDN/NIDK 0602068401

Pangkat/Jabatan Penata Muda Tk.1/IIIb/ Asisten Ahli E-mail [email protected]

No. HP 081391879252

ID Sinta 6652243

h-Index 2

Publikasi artikel

No. Judul Artikel

Peran (First author, Corresponding author, atau co-

author)

Nama Jurnal, Tahun terbit,

Volume, Nomor, P- ISSN/E-ISSN

URL artikel (jika ada)

1

Pengembangan Bahan Ajar Komik

IPA Dengan

Penanaman Nilai Budai Pada siswa Kelas IV Sekolah Dasar

First author

Jurnal Pendidikan Sekolah Dasar Tahun 2017 Vol 3 No 2 ISSN 2540- 9093

https://jurnal.untirta.ac.id /index.php/

jpsd/article/view/2134/1666

2

Efektivitas Bahan Ajar Komik IPA Terhadap Hasil Belajar Siswa Kelas V Sekolah Dasar

First author

Jurnal Ilmiah Pendidikan Guru Sekolah Dasar

Tahun 2018 Vol.2 No. 2 ISSN 2615- 1960

http://trilogi.ac.id/journal/ks/index.ph p/ JIPGSD/article/view/131/112

3.

The Effectiveness Of Inquiry

Learning Model Within Nature As Media On Natural Science Score For 5th Graders Of Elementary School

First author

Seminar Internasional ICONECT 2018 ISBN:

978-602- 1180-91-4 di Univ. Muria Kudus

http://pgsd.umk.ac.id/files/prosiding/i conect2018/24__YUNITA_page_151- 157.pdf

(26)

4.

Pengaruh Keterampilan Mengklasifikasi Dalam Metode Pembelajaran Eksperimen Terhadap Hasil Belajar Siswa Kelas V Sekolah Dasar

First author

Seminar Nasional Pendidikan di UNS ISBN:

978-602- 97496-5-6

http://snpgsd.fkip.uns.ac.id/prosiding/

5.

The Student Criticak Thinking Skill on Science Learning subject at 5th Grade in Inquiri Learning

Co author

JPSD Vol 5 No.1 Maret 2019 ISSN 2540-9093 EISSN 2503- 0558

http://jurnal.untirta.ac.id/index.php/j psd

6

Pembelajaran Visual, Auditory dan Kinestetik Terhadap Keaktifan dan Pemahaman Konsep

Matematika Siswa Sekolah Dasar

Co Author

Jurnal Al Ibtida IAIN Syekhnurjati Cirebon Vol.5 No. 2 Tahun 2018

ISSN: 2442- 5133 e-ISSN:

2527- 7227

http://syekhnurjati.ac.id/jurnal/i ndex.php/ibtida/article/view/2890

B. Biodata anggota pengusul Nama Sari Yustiana NIDN/NIDK 0609079001

Pangkat/Jabatan Penata Muda Tk.1/IIIb/ Asisten Ahli E-mail [email protected]

ID Sinta 6652243

h-Index 1

(27)
(28)

SURAT PERNYATAAN

SURAT PERNYATAANKESEDIAAN KERJA SAMA

Yang bertandatangan di bawah ini:

1. Nama : Maria Muryani, S.Pd, M.Si

2. NIP : 196405281986082003

3. Jabatan : Kepala Sekolah SD Negeri Beji 03

4. Alamat : Desa Kliboyo RT.09 RW.03 Kecamatan Tulis Batang

Menyatakan bersedia untuk bekerjasama dalam pelaksanaan kegiatan penelitian dengan judul

“ Pengembangan Bahan Ajar IPA Bermuatan Nilai Religius Untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa Sekolah Dasar”, dengan:

Nama Ketua Tim Pengusul : Yunita Sari, S.Pd., M.Pd

Perguruan Tinggi : Universitas Islam Sultan Agung (UNISSULA) Semarang

Bersama ini pula kami menyatakan dengan sebenarnya bahwa di antara Kepala Sekolah dan Pelaksanaan penelitian tidak terdapat ikatan kekeluargaan dan usaha dalam wujud apapun juga.

Demikian Surat Pernyataan ini dibuat dengan penuh kesadaran dan tanggungjawab tanpa ada unsur pemaksaan di dalam pembuatannya untuk dapat digunakan sebagaimana mestinya.

Semarang, April 2020 Yang membuat pernyataan

Kepala Sekolah

Maria Muryani, S.Pd, M.Si NIP.196405281986082003

(29)

Contoh Bahan Ajar Yang Pernah di Buat

(30)

Gambar

Tabel 4.2.  Jadwal Penelitian Tahun 2019

Referensi

Dokumen terkait

Uji coba awal menghasilkan beberapa poin penting yaitu: (1) hasil wawancara kepada guru kelas tentang bahan ajar bahasa Indonesia bermuatan nilai kewirausahaan; (2)

Pada tahapan ini semua yang telah dilakukan pada tahapan analisis, desain dan pengembangan akan implementsikan dalam bentuk bahan ajar dan aplikasi AR yang

Hasil penelitian menunjukkan bahwa bahan ajar dinyatakan layak dengan predikat bagus, kemampuan literasi matematis peserta didik yang menggunakan bahan

Bahan ajar salah satu komponen yang penting dalam memajukan peserta didik dalam belajar, kiranya perlu disusun bahan ajar atau sumber belajar khususnya pada

Oleh karena itu, bahan ajar yang menyajikan materi fisika terintegrasi dengan aktivitas kecakapan hidup sangat penting untuk membekali siswa sekolah menengah dalam

b Fungsi bahan ajar bagi peserta didik 1 Peserta didik dapat belajar tanpa harus ada pendidik atau teman peserta didik lain; 2 Peserta didik dapat belajar kapan saja dan di mana saja

Penyampaian bahan ajar hiden Kurikulum berbasis Madrasah dalam Menunjang tercapainya Karakter Religius peserta didik Secara garis besarnya, dalam menyampaikan bahan ajar terdapat dua

Dengan adanya penelitian ini diharapkan bahan ajar dapat menjadi sarana pendukung dalam penyampaian materi pada proses pembelajaran dan memudahkan peserta didik khususnya kelas IV di