PENDAHULUAN
Identifikasi Masalah
Pembatasan Masalah
Rumusan Masalah
Apa perlunya pengembangan materi pembelajaran modul berbasis pendidikan karakter dengan teknik praktik terbimbing pada materi menulis cerpen untuk Kelas IX MTs Jâ-alHaq Kota Bengkulu. Bagaimana profil prototipe materi pembelajaran modul berbasis pendidikan karakter dengan teknik praktik terbimbing pada materi menulis cerpen untuk kelas IX MTs Jâ-alHaq Kota Bengkulu.
Tujuan Penelitian
Manfaat Penelitian
Modul yang dihasilkan dapat menjadi bahan pertimbangan atau masukan bagi guru dalam pengembangan bahan ajar modul materi menulis cerpen berbasis pendidikan karakter. Dapat dijadikan sebagai bahan masukan untuk meningkatkan budi pekerti dan akhlak siswa khususnya di kelas IX MTs Jâ-alHaq Kota Bengkulu pada mata pelajaran Bahasa Indonesia untuk menulis teks cerpen di sekolah yang dikaitkan dengan kegiatan sekolah berbasis pendidikan karakter.
LANDASAN TEORI
Pengembangan
Rumusan masalah pada penelitian “Pengembangan Modul Bahan Ajar Berbasis Nilai Pendidikan Karakter dengan Teknik Praktek Terbimbing pada Bahan Menulis Cerpen Kelas IX MTs Jâ-alHaq Kota Bengkulu” adalah sebagai berikut. Apa hasil perbaikan bahan ajar modul berbasis pembentukan karakter dengan teknik pelatihan terbimbing oleh ahli menulis cerpen untuk kelas IX MTs Jâ-alHaq Kota Bengkulu.
Bahan Ajar
Modul
Adapun pada penelitian “Pengembangan Bahan Ajar Modul Berbasis Pendidikan Karakter dengan Teknik Praktek Terbimbing pada Bahan Menulis Teks Cerita Pendek di Kelas IX MTs Jâ-alHaq Kota Bengkulu”, terdapat beberapa permasalahan yang jelas terbagi menjadi tiga faktor, yaitu sebagai berikut. Pengembangan bahan ajar modul berbasis pendidikan karakter dengan teknik praktik terbimbing untuk materi menulis teks cerpen kelas IX di MTs Jâ-alHaq Kota Bengkulu” melakukan penelitian berdasarkan tingkat penelitian dan pengembangan level 1 yaitu penelitian tanpa pengujian.
Pendidikan Karakter
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pendidikan karakter bertujuan untuk mengembangkan sikap afektif siswa berdasarkan nilai-nilai agama dan tradisi budaya nasional, sehingga siswa memiliki jiwa kepemimpinan, bertanggung jawab, mandiri, kreatif dan ramah dalam sehingga bangsa mempunyai generasi penerus bangsa yang tangguh, berkompeten, berakhlak mulia dan mengikuti kemajuan zaman dengan berlandaskan keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Jadi, pendidikan karakter berfungsi untuk membentuk dan mengembangkan perilaku baik peserta didik serta memperkuat peran warga negara untuk berkontribusi dalam pembentukan karakter peserta didik dan menyaring budaya asing yang bertentangan dengan nilai-nilai kebangsaan.
Teknik Latihan Terbimbing
Siswa mendapatkan informasi tentang langkah-langkah menulis teks cerita pendek untuk pemula, contoh teks cerita pendek dengan teknik latihan terbimbing berbantuan peta konsep, dan cara menulis unsur kebahasaan teks cerita pendek dari guru. Guru menjelaskan langkah-langkah menulis teks cerita pendek untuk pemula, contoh teks cerita pendek dengan teknik latihan terbimbing berbantuan peta konsep, dan cara menulis unsur kebahasaan teks cerita pendek.
Menulis
Esai dibedakan menjadi beberapa bentuk yaitu esai naratif, esai deskriptif, esai ekspositori, esai argumentatif, dan esai persuasif. Karangan naratif adalah suatu bentuk tulisan yang berupaya menciptakan, menceritakan, dan menyusun tindakan perbuatan manusia dalam suatu peristiwa secara kronologis atau berlangsung dalam satuan waktu. Narasi sugestif adalah narasi yang bermaksud menyampaikan pesan kepada pembaca agar pembaca seolah-olah melihat.
Narasi sugestif merupakan rangkaian peristiwa yang disajikan dari berbagai peristiwa sedemikian rupa sehingga dapat merangsang imajinasi pembaca. Luar Angkasa, 2013.), h. Dalam narasi sugestif, pengarang diperbolehkan menggunakan imajinasi atau imajinasinya untuk menghidupkan cerita tersebut.50 Jadi narasi sugestif adalah cerita yang menceritakan tentang peristiwa-peristiwa dari kehidupan manusia dengan berbagai permasalahannya dan dapat membangkitkan imajinasi pembacanya sehingga pembacanya seolah-olah dapat melihat, mendengar dan merasakan peristiwa-peristiwa dalam cerita. Oleh karena itu, untuk menulis cerita pendek, Anda dapat mengikuti langkah-langkah mengembangkan penulisan esai naratif.
Langkah-langkah menulis karangan naratif adalah 1) menentukan tema dan pesan yang ingin disampaikan dalam cerita, 2) menetapkan sasaran pembaca, 3) menyusun peristiwa pokok dalam bentuk kerangka alur, 4) membagi peristiwa pokok menjadi awal cerita, tengah cerita, dan akhir cerita, 5) merinci peristiwa pokok dalam rincian peristiwa sebagai cerita pendukung, 6) urutan tokoh, penokohan dan sudut pandang 51 Jadi menulis teks cerita pendek Anda dapat mengikuti langkah-langkah menulis esai naratif.
Teks Cerpen
Oleh karena itu, sudut pandang disebut juga sebagai tujuan pengarang menyampaikan peristiwa dalam cerita berdasarkan sudut pandang tersebut. Ada beberapa jenis sudut pandang yang digunakan pengarang untuk memposisikan dirinya dalam cerita, yaitu: a) sudut pandang berpusat pada orang pertama, yaitu pengarang memposisikan dirinya sebagai pembicara dalam cerita dan ditandai dengan kata-kata aku, aku dan seterusnya b) Sudut pandang Rakyat Sisi pertama yaitu pengarang tidak memposisikan dirinya sebagai tokoh utama melainkan pengarang menyampaikan cerita melalui tokoh utama dengan segala gerak-geriknya dalam cerita. Sudut pandang orang pertama masih bercirikan kata aku, aku. 73 Dengan demikian, sudut pandang orang pertama terdiri dari dua jenis, yaitu sudut pandang orang pertama tokoh utama dan sudut pandang orang pertama pelaku sekunder.
Sudut pandang orang ketiga terdiri dari dua macam, yaitu 1) Sudut pandang orang ketiga terbatas, yaitu pengarang merujuk pada seluruh tokoh dan. Angkasa, Bandung), hal.137. . memposisikannya sebagai orang ketiga, tetapi hanya dapat menggambarkan apa yang dilihat, didengar, dan dipikirkan oleh satu tokoh saja, dan 2) sudut pandang orang ketiga yang disadari, yaitu pengarang merujuk pada masing-masing tokoh dan memposisikan dirinya sebagai orang ketiga. Pengarang bisa membuat beberapa tokoh melihat, mendengar dan berpikir ketika tidak ada orang yang hadir.74 Jadi sudut pandang orang ketiga ada dua jenis, yaitu sudut pandang orang ketiga terbatas dan sudut pandang orang ketiga penuh.
Berdasarkan penjelasan di atas, terdapat empat macam sudut pandang, yaitu sudut pandang orang pertama pelaku utama, sudut pandang sampingan, sudut pandang orang ketiga terbatas, dan sudut pandang orang ketiga mahatahu.
Penelitian Relevan
Berdasarkan uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa materi interaktif berorientasi nasionalisme memperoleh hasil yang sangat baik yaitu memperoleh nilai rata-rata sebesar 85,54 yang termasuk dalam kategori baik. sebagai bahan pembelajaran. dikembangkan. Nilai akhir yang diperoleh meliputi cover 81.23, materi 90.17, visual 87.00, latihan soal 85.00, evaluasi 87.25, keseluruhan 87.40 dengan nilai rata-rata 86.34.82 Persamaan penelitian yang dilakukan oleh Ixsir Eliya dengan peneliti adalah jenis penelitian dan bahan ajar yang dikembangkan sedangkan perubahan penelitiannya adalah subjek penelitian, tempat penelitian dan bahan yang dikembangkan. Berdasarkan enam langkah tersebut, hasil yang diperoleh adalah siswa mendukung pengembangan modul pembelajaran bahasa Indonesia yang terintegrasi dengan nilai-nilai karakter cerita tradisional anak. Hal ini dibuktikan dengan hasil analisis kuesioner yang memperoleh rata-rata respon sebesar 84,66% setuju dengan pernyataan yang disajikan dalam kuesioner.
Pengembangan bahan ajar bahasa Indonesia berbasis Kurikulum 2013 yang mengintegrasikan nilai-nilai karakter bangsa mencapai beberapa hasil yang termasuk dalam kategori “sangat valid”, yaitu hasil validasi rencana pelaksanaan pembelajaran dengan skor rata-rata. dari 3,77. Skor validasi lembar kegiatan siswa rata-rata 3.64.84. Persamaan antara penelitian yang dilakukan oleh Muhammad Saleh Sultan dengan peneliti adalah jenis metode penelitian. Pada aspek kelayakan penyajian diperoleh skor rata-rata sebesar 4,31 dengan kategori sangat layak sebesar 86,2%, pada aspek kelayakan grafis sebesar 4,43 dengan kategori sangat layak sebesar 88,6%.
Pada aspek kelayakan isi diperoleh skor rata-rata sebesar 4,35 dengan kategori sangat layak sebesar 87%, pada aspek kelayakan kebahasaan diperoleh skor rata-rata sebesar 4,28 dengan kategori sangat layak sebesar 85,6%, pada aspek penerapan experiential learning. model skor rata-rata 4,42 dengan kategori 88,4% cukup tercapai.
Kerangka Berpikir
Kemudian peneliti melakukan studi pendahuluan dan mampu mengidentifikasi pentingnya pengembangan bahan ajar modular berbasis pendidikan karakter dengan teknik praktik terbimbing pada bahan ajar menulis cerpen. Setelah dilakukan revisi produk, diperoleh hasil akhir berupa bahan ajar modul berbasis pendidikan karakter, dengan teknik praktik terbimbing pada materi menulis cerpen. Rancangan awal bahan ajar modul berbasis pendidikan karakter dengan menggunakan teknik praktik terbimbing pada materi menulis cerpen.
Uji validitas ahli dalam merancang bahan ajar modul berbasis pendidikan karakter dengan teknik praktik terbimbing pada materi menulis cerpen. Hasil uji validitas ahli terhadap desain bahan ajar modul berbasis pendidikan karakter dengan teknik praktik terbimbing pada materi menulis cerpen. Bahan ajar modul berbasis pendidikan karakter dengan teknik praktik terbimbing pada materi menulis cerpen.
Belum terdapat modul berbasis pendidikan karakter pada materi menulis cerpen Teknik Latihan Terbimbing.
METODOLOGI PENELITIAN
Tempat dan Waktu Penelitian
Sumber Data dan Data
Penelitian ini dilakukan di Kelas IX MTs Jâ-alHaq Kota Bengkulu dan waktu penelitian dilakukan pada semester genap tahun ajaran 2021. Siswa kelas IX MTs Jâ-alHaq Kota Bengkulu digunakan sebagai sumber data penelitian. Mengenai pentingnya pengembangan modul dalam pembelajaran menulis teks cerita pendek menurut sudut pandang guru, nilai-nilai pendidikan karakter yang setuju untuk diintegrasikan ke dalam modul menurut sudut pandang guru, dan masukan guru mengenai desain pembelajaran modul menulis teks cerita pendek berbasis pendidikan karakter dengan teknik latihan terbimbing. Berikut data uji validasi produk oleh ahli, untuk mengetahui valid atau tidaknya modul yang dikembangkan, validasi produk dilakukan oleh ahli uji validasi yaitu Dr. validator bahan ajar), Bpk. Hengki Satrisno, M.P.d.I (validator pendidikan karakter), Bpk. Muhammad Alfian., M.A (validator bahasa), Bpk. Bustomi, M.Pd., (validator materi).
Penelitian ini menggunakan dokumen berupa foto pada saat pemberian angket dan uji validasi produk.
Teknik Pengumpulan Data
Instrumen Penelitian
Dengan bantuan angket, kami mengetahui kebutuhan siswa dan guru terhadap materi pembelajaran modul dalam pembelajaran menulis cerpen, kami menentukan nilai-nilai pendidikan karakter yang bersedia dimasukkan dalam materi pembelajaran cerpen. modul dalam belajar menulis cerita pendek. dari sudut pandang siswa dan guru, untuk memperoleh masukan dari siswa dan guru tentang modul yang akan dikembangkan oleh peneliti. Selain angket analisis kebutuhan, angket juga diberikan kepada para ahli untuk uji validasi guna mengetahui validitas produk yang dikembangkan dengan variabel yang diteliti dan fakta lapangan. Lembar validitas modul digunakan untuk mengetahui valid atau tidaknya modul yang dihasilkan berdasarkan pendapat validator.
Validitas materi terdiri dari tiga aspek yaitu kepustakaan, pendidikan karakter dan kegrafikan modul yang dikembangkan.
Teknik Analisis Data
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Prototipe Bahan Ajar
Penilaian Uji Validitas dan Saran Perbaikan
Hasil Perbaikan Prototipe Bahan Ajar
Pembahasan
PENUTUP
Saran-saran