PENGEMBANGAN INFOGRAFIS EKOSISTEM HUTAN MANGROVE BERBASIS POTENSI LOKAL DI KAWASAN PANTAI CEMARA KAWANG MUNCAR SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN MATERI EKOSISTEM
BAGI SISWA KELAS X MIPA SMAN 1 MUNCAR BANYUWANGI TAHUN PELAJARAN 2021-2022
SKRIPSI
Oleh :
Nofida Rahmatul Ummah NIM : T20188056
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI KIAI HAJI ACHMAD SIDDIQ JEMBER FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
SEPTEMBER 2022
i
PENGEMBANGAN INFOGRAFIS EKOSISTEM HUTAN MANGROVE BERBASIS POTENSI LOKAL DI KAWASAN PANTAI CEMARA KAWANG MUNCAR SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN MATERI EKOSISTEM
BAGI SISWA KELAS X MIPA SMAN 1 MUNCAR BANYUWANGI TAHUN PELAJARAN 2021-2022
SKRIPSI
Diajukan kepada Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh
gelar Sarjana Pendidikan (S. Pd) Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan
Program Studi Tadris Biologi
Oleh :
Nofida Rahmatul Ummah NIM : T20188056
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI KIAI HAJI ACHMAD SIDDIQ JEMBER FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
SEPTEMBER 2022
ii
PENGEMBANGAN INFOGRAFIS EKOSISTEM HUTAN MANGROVE BERBASIS POTENSI LOKAL DI KAWASAN PANTAI CEMARA KAWANG MUNCAR SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN MATERI EKOSISTEM
BAGI SISWA KELAS X MIPA SMAN 1 MUNCAR BANYUWANGI TAHUN PELAJARAN 2021-2022
SKRIPSI
Diajukan kepada Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh
gelar Sarjana Pendidikan (S. Pd) Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan
Program Studi Tadris Biologi
Oleh :
Nofida Rahmatul Ummah NIM : T20188056
Disetujui Dosen Pembimbing
M. Wildan Habibi, M. Pd NUP : 201701148
iii
PENGEMBANGAN INFOGRAFIS EKOSISTEM HUTAN MANGROVE BERBASIS POTENSI LOKAL DI KAWASAN PANTAI CEMARA KAWANG MUNCAR SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN MATERI EKOSISTEM
BAGI SISWA KELAS X MIPA SMAN 1 MUNCAR BANYUWANGI TAHUN PELAJARAN 2021-2022
SKRIPSI
telah disetujui dan diterima untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh gelar Sarjana Pendidikan (S. Pd)
Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Program Studi Tadris Biologi
Hari : Jum’at
Tanggal : 16 September 2022 Tim Penguji
Ketua
Dr. Hj. Umi Farihah, M.M, M.Pd NIP. 196806011992032001
Sekretaris
Ira Nurmawati, M.Pd NIP. 20160370 Anggota :
1. Dr. A Suhardi, St., M.Pd ( ) 2. Mohammad Wildan Habibi, M.Pd ( )
Menyetujui, Dekan Fakultas Tarbiyah
Prof. Dr. Hj. Mukni’ah, M.Pd.I NIP. 196405111999032001
iv MOTTO
(ُرْىُشُّنلا ِهْيَلِإَو ِهِقْزِّر ْنِم اْىُلُكَو َاهِبِكاَنَم ْيِف اْىُشْماَف ًلاْىُلَذ َضْرَأْلا ُمُكَل َلَعَج ْيِذَّلأوُه ٥١
)
“Dialah yang menjadikan bumi untuk kamu yang mudah dijelajahi, maka jelajahilah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nyalah kamu (kembali setelah) dibangkitkan”. (QS. Al-Mulk [67]:
15) (Departemen agama RI, 2007).
v
PERSEMBAHAN
Puji Syukur saya panjatkan kepada Allah SWT yang telah memberikan kelancaran serta kemudahan terhadap tugas saya dalam menyelesaikan skripsi ini.
Skripsi ini saya persembahkan kepada:
1. Kepada orang tua saya (Bapak Yatiman) dan (Ibu Aminah) saya yang selalu senantiasa mendoakan, kasih sayang, dan mendukung saya secara moril serta tenaga dalam hidup saya.
2. Terima kasih kepada keluarga besar saya (Isrorul Mufida sekeluarga dan Nurul Lailiyah sekeluarga) yang telah memberikan doa dan dukungan serta semangat dalam menyelesaikan skripsi ini.
vi
KATA PENGANTAR
Segenap puji syukur peneliti sampaikan kepada Allah karena rahmat dan karunia-Nya, perencanaan, pelaksanaan, dan penyelesaian skripsi ini sebagai salah satu syarat untuk mendapatkan gelar S1 dalam program sarjana yang dapat terselesaikan dengan lancar.
Kesuksesan ini dapat peneliti peroleh karena dukungan banyak pihak. Oleh karena itu, peneliti menyadari dan menyampaikan terima kasih yang sedalam- dalamnya.
1. Bapak Prof. Dr. H. Babun Suharto, SE., MM selaku Rektor UIN KH Achmad Siddiq Jember yang telah memberikan fasilitas dan dukungan sehingga peneliti bisa menyelesaikan pendidikan di UIN KH Achmad Siddiq Jember.
2. Ibu Prof. Dr. Hj. Mukni’ah, M.Pd.I selaku Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan UIN KH Achmad Siddiq Jember yang telah memberikan fasilitas selama proses studi dan kemudahan dalam penyelesaian di UIN KH Achmad Siddiq Jember.
3. Ibu Dr. Indah Wahyuni, M.Pd selaku Ketua dan Sekretaris Jurusan Sains Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan yang telah memberikan persetujuan pada skripsi ini.
4. Ibu Dr. Hj. Umi Farihah, M.M., M.Pd. selaku Ketua Program Studi Tadris Ilmu Pengetahuan Alam, Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan UIN KH Achmad Siddiq Jember yang telah membantu serta membimbing dalam pengajuan judul.
vii
5. Bapak M. Wildan Habibi, M.Pd selaku Dosen Pembimbing Skripsi yang telah banyak meluangkan waktu, nasihat, saran, tenaga, membimbing peneliti hingga terselesainya skripsi ini.
6. Bapak Drs. Akip Effendy, M.Pd selaku Kepala Sekolah SMAN 1 Muncar, Banyuwangi yang telah memberikan izin untuk melaksanakan penelitian ini.
7. Bapak Rois Amrullah Akbar, M.Pd selaku guru Biologi kelas X di SMAN 1 Muncar, Banyuwangi yang telah bersedia dan membantu selama proses penelitian serta senantiasa memberikan saran dan masukan yang membangun dalam penelitian ini.
8. Sahabat-sahabat tercinta yang telah membantu, memberikan dukungan, motivasi, serta semangat pada peneliti.
9. Teman-teman Tadris Biologi UIN KH Achmad Siddiq Jember angkatan 2018 terkhusus kelas Biologi 2 yang telah berjuang dan saling memotivasi satu sama lain.
10. Seluruh pihak yang tidak dapat disebutkan oleh peneliti yang telah membantu peneliti dalam menyelesaikan skripsi.
Peneliti menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kata sempurna, oleh karena itu segala kritik dan saran yang membangun sangat peneliti harapkan.
Semoga skripsi ini dapat bermanfaat serta memberikan kontribusi pengetahuan yang berharga.
Jember, 08 September 2022 Peneliti
viii ABSTRAK
Nofida Rahmatul Ummah, 2022: Pengembangan Infografis Ekosistem Hutan Mangrove Berbasis Potensi Lokal Di Kawasan Pantai Cemara Kawang Muncar Sebagai Media Pembelajaran Materi Ekosistem Bagi Siswa Kelas X MIPA SMAN 1 Muncar Banyuwangi
Kata Kunci: Infografis Ekosistem Hutan Mangrove, Potensi Lokal, Media Pembelajaran
Pendidikan merupakan hal yang penting bagi kehidupan manusia, terlebih dalam pengembangan SDM yang berkualitas. Namun dalam dunia pendidikan terdapat masalah yang sering terjadi, yaitu lemahnya proses pembelajaran. Kualitas proses pembelajaran dapat ditingkatkan dengan memfungsikan media pembelajaran.
Ekosistem ialah materi biologi yang objek kajiannya sering dijumpai di kehidupan nyata, namun keterangan materi yang banyak seringkali membuat siswa kurang minat mempelajarinya. Sehingga lebih menarik jika materi dibelajarkan dengan media pembelajaran yang mendekatkan siswa dengan objek nyata disekitarnya.
Berdasarkan wawancara guru biologi SMAN 1 Muncar media pembelajaran yang digunakan terbatas dengan buku teks dan LKS, sehingga perlu dikembangkan media pembelajaran berupa Infografis.
Rumusan masalah yang diteliti adalah: 1) Bagaimana kevalidan infografis ekosistem hutan mangrove berbasis potensi lokal di kawasan pantai cemara kawang Muncar?, 2) Bagaimana respon siswa terhadap infografis ekosistem hutan mangrove berbasis potensi lokal di kawasan pantai cemara kawang Muncar?, 3) Bagaimana keefektifan infografis ekosistem hutan mangrove berbasis potensi lokal di kawasan pantai cemara kawang Muncar dan tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan kevalidan, respons siswa, dan keefektifan infografis ekosistem hutan mangrove berbasis potensi lokal di kawasan pantai cemara kawang Muncar.
Jenis penelitian ini adalah Research and Develompement (R&D) dengan model pengembangan Plomp yang meliputi tiga tahapan yaitu 1) Preliminary research, 2) Development or Protothyping phase, 3) Asssesment phase. Populasi penelitian ini adalah siswa kelas X MIPA SMAN 1 Muncar. Teknik pengumpulan data yang digunakan meliputi angket, tes, observasi, dan wawancara.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1) Infografis ekosistem hutan mangrove berbasis potensi lokal di kawasan pantai cemara kawang Muncar dinyatakan sangat valid dan layak digunakan dengan presentase kevalidan oleh ahli materi sebesar 98%, ahli media 94%, dan validator pengguna 91%. 2) Hasil uji respon siswa terhadap infografis ekosistem hutan mangrove berbasis potensi lokal di kawasan pantai cemara kawang Muncar didapatkan presentase sebesar 84% pada uji one-to- one, 89,33% pada uji small group evaluation, dan 90,66% uji field test yang termasuk kategori “sangat menarik”. 3) Hasil uji efektivitas pretest dan posttest menggunakan uji paired sample t-test diperoleh nilai sig 0,000 < 0,05, sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara hasil belajar siswa sebelum dan sesudah menggunakan infografis. Sehingga infografis ekosistem hutan mangrove berbasis potensi lokal di kawasan pantai cemara kawang Muncar efektif digunakan sebagai media dalam proses pembelajaran.
ix
DAFTAR ISI
Hal
HALAMAN JUDUL ... i
LEMBAR PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii
LEMBAR PENGESAHAN ... iii
MOTTO ... iv
PERSEMBAHAN ... v
KATA PENGANTAR ... vi
ABSTRAK ... viii
DAFTAR ISI ... ix
DAFTAR TABEL ... xi
DAFTAR GAMBAR ... xiii
DAFTAR LAMPIRAN ... xiv
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Rumusan Masalah ... 7
C. Tujuan Penelitian dan Pengembangan ... 8
D. Spesifikasi Produk yang Diharapkan ... 8
E. Pentingnya Penelitian dan Pengembangan ... 9
F. Asumsi dan Keterbatasan Penelitian dan Pengembangan ... 10
G. Definisi Istilah ... 11
BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Penelitian Terdahulu... 13
B. Kajian Teori ... 19
BAB III METODE PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN A. Model Penelitian dan Pengembangan ... 38
B. Prosedur Penelitian dan Pengembangan ... 39
C. Uji Coba Produk ... 44
1. Desain Uji Coba ... 44
2. Subjek Uji Coba ... 45
3. Jenis Data ... 45
4. Instrumen Pengambilan Data ... 46
x
5. Teknik Analisis Data ... 48 BAB IV HASIL PENELITIAN AN PENGEMBANGAN
A. Penyajian Data Uji Coba ... 53 B. Analisis Data ... 78 C. Revisi Produk ... 83 BAB V KAJIAN DAN SARAN
A. Kajian Produk yang Telah Direvisi ... 95 B. Saran Pemanfaatan, Diseminasi, dan Pengembangan Produk Lebih
Lanjut ... 97 DAFTAR PUSTAKA ... 99 LAMPIRAN-LAMPIRAN
RIWAYAT HIDUP
xi
DAFTAR TABEL
No Uraian Hal
Tabel 2.1 Persamaan dan perbedaan penelitian terdahulu ... 15
Tabel 3.1 Kisi-kisi penyusunan angket ahli materi ... 47
Tabel 3.2 Kisi-kisi penyusunan angket ahli media ... 47
Tabel 3.3 Skor Validasi Produk ... 48
Tabel 3.4 Kriteria Kevalidan Produk ... 49
Tabel 3.5 Skor Respons Siswa ... 49
Tabel 3.6 Kriteria Hasil Respon Siswa ... 50
Tabel 4.1KI dan KD ... 57
Tabel 4.2 Sub Judul Materi ... 59
Tabel 4.3 Judul Sub Judul dan copywriting ... 60
Tabel 4.4 Data Validasi Ahli Materi ... 66
Tabel 4.5 Data Validasi Ahli Media ... 67
Tabel 4.6 Data Validasi Validator Pengguna ... 69
Tabel 4.7 Hasil Validasi Keseluruhan ... 70
Tabel 4.8 Respons siswa One-to-one ... 71
Tabel 4.9 Respons siswa Small Group Evaluation ... 73
Tabel 4.10 Nilai Tes Hasil Belajar (Pretest-Posttest)... 75
Tabel 4.11 Respons Siswa Field Test ... 78
Tabel 4.12 Komentar saran ahli materi ... 84
xii
Tabel 4.13 Perbaikan Produk ahli materi ... 85
Tabel 4.14 Komentar saran ahli media ... 86
Tabel 4.15 Perbaikan produk ahli media... 87
Tabel 4.16 Komentar saran validator pengguna ... 90
Tabel 4.17 Perbaikan produk validator pengguna ... 92
xiii
DAFTAR GAMBAR
No. Uraian Hal
Gambar 4.1 Tampilan aplikasi canva... 64
Gambar 4.2 Tampilan proses desain ... 64
Gambar 4.3 Tes Uji Normalitas ... 76
Gambar 4.4 Uji Paired Sample T-Test ... 77
xiv
DAFTAR LAMPIRAN
No Uraian Hal
Lampiran 1. Pernyataan Keaslian Tulisan ... 103
Lampiran 2. Matriks Penelitian ... 104
Lampiran 3. Surat Permohonan Bimbingan ... 107
Lampiran 4. SK Dosen Pembimbing ... 108
Lampiran 5. Hasil Wawancara Guru Biologi ... 109
Lampiran 6. Kisi-kisi Angket Analisis Kebutuhan Siswa ... 110
Lampiran 7. Hasil Angket Analisis Kebutuhan Siswa... 111
Lampiran 8. Permohonan Ujian Seminar Proposal ... 112
Lampiran 9. Permohonan Izin Penelitian ... 113
Lampiran 10. Surat Keterangan Selesai Penelitian... 114
Lampiran 11. Hasil Observasi Lapangan ... 115
Lampiran 12. Surat Permohonan Validasi Materi ... 118
Lampiran 13. Surat Permohonan Validasi Media ... 119
Lampiran 14. Surat Permohonan Validator Pengguna ... 120
Lampiran 15. Kisi-kisi Instrumen Validasi Ahli Materi ... 121
Lampiran 16. Lembar Angket Validasi Ahli Materi... 122
Lampiran 17. Kisi-kisi Instrumen Validasi Ahli Media ... 125
Lampiran 18. Lembar Angket Validasi Media ... 126
Lampiran 19. Kisi-kisi Instrumen Validator Pengguna ... 129
xv
Lampiran 20. Lembar Angket Validator Pengguna ... 130
Lampiran 21. Lembar Angket Analisis Kebutuhan Siswa ... 134
Lampiran 22. Kisi-kisi Instrumen Angket Respons Siswa ... 136
Lampiran 23. Lembar Angket Respons Siswa ... 137
Lampiran 24. Hasil Validasi Ahli Materi ... 139
Lampiran 25. Hasil Validasi Ahli Media ... 142
Lampiran 26. Hasil Validasi Validator Pengguna ... 147
Lampiran 27. Hasil Angket Respons Siswa One-to-one... 151
Lampiran 28. Hasil Angket Respons Siswa Small Group Evaluation ... 152
Lampiran 29. Hasil Angket Respons Siswa Field Test... 153
Lampiran 30. Lembar Instrumen Validasi RPP ... 155
Lampiran 31. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) ... 158
Lampiran 32. LKPD Ekosistem Hutan Mangrove ... 164
Lampiran 33. Kisi-kisi Soal Pretest dan Posttest ... 167
Lampiran 34. Soal Pretest dan Posttest ... 169
Lampiran 35. Hasil Nilai Pretest dan Posttest Siswa ... 175
Lampiran 36. Hasil Perhitunan SPSS ... 176
Lampiran 37. Dokumentasi ... 177
Lampiran 38. Jurnal Penelitian ... 178
Lampiran 39. Hasil Produk Infografis Ekosistem Hutan Mangrove ... 179
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan merupakan sesuatu hal yang penting dan dibutuhkan dalam hidup manusia, dan setiap manusia berhak untuk mendapatkannya dengan harapan dapat berkembang didalamnya. Adanya pendidikan mampu memberikan kontribusi yang besar untuk kehidupan seseorang dalam pengembangan sumber daya manusia (SDM) yang handal, dapat bersaing secara sehat serta berkepribadian yang berkualitas (Alpian, dkk, 2019: 67). Oleh karena nya pendidikan ini perlu dihadirkan dengan sebaik-baiknya, sehingga harapannya terjadi peningkatan kualitas pada sumber daya manusia yang dimiliki. Namun lemahnya proses pembelajaran menjadi salah satu permasalahan yang sering terjadi di dunia pendidikan (Nurrita, 2018: 172). Teori dan konsep lebih banyak diterima oleh siswa di dalam kelas, namun teori yang dipelajarinya jarang diaplikasikan dalam kehidupan secara. Sehingga hal ini membuat siswa kurang memaknai apa yang sedang dipelajari dalam proses pembelajaran.
Dalam pelaksanaan proses pembelajaran tentunya melibatkan peran seorang guru dan siswa. Keduanya sangat mendukung jalannya pembelajaran untuk tercapainya tujuan pendidikan, terlebih peran guru sebagai role model utama yang tidak hanya sebagai orang yang mentransfer ilmu dalam proses pembelajaran, tetapi juga diharapkan mampu berinovasi dalam meningkatkan kualitas suatu proses pembelajaran. Beberapa upaya untuk peningkatan mutu pendidikan antara lain perbaikan sarana dan prasarana, pengubahan kurikulum, peningkatan kualitas
2
guru dalam proses pembelajaran, penyempurnaan sistem penilaian, dan upaya lainnya termasuk komponen pendidikan (Paramita, dkk, 2018: 83). Komponen pendidikan meliputi pendidik, peserta didik, tujuan pendidikan, alat pendidikan (Saat, 2015: 1). Salah satu komponen yang penting untuk diperhatikan adalah alat pendidikan yaitu berupa bervariasinya sebuah media pembelajaran. Media pembelajaran merupakan alat yang mampu menunjang ketika pelaksanaan proses pembelajaran. Dengan media pembelajaran pelaksanaan pembelajaran akan menjadi lebih efektif serta efisien, dan dapat terbangun keadaan yang baik antara siswa dan guru. Menurut Tafonao (2018: 103), peningkatan kualitas proses pembelajaran dapat dilakukan dengan memfungsikan media pembelajaran dengan baik sebagaimana mestinya. Kehadiran media pembelajaran, menjadikan pembelajaran lebih bermakna, terlebih dalam pemberian materi kepada siswa, guru tidak hanya dengan penyampaian kata saja, namun juga membuat materi yang disajikan dapat dipahami secara nyata oleh siswa (Nurrita, 2018: 176).
Stimulus yang baik dapat terbentuk dari penggunaan media pembelajaran terhadap minat belajar siswa, sehingga minat belajar juga dapat meningkat (Mansur dan Rafiudin, 2020: 38).
Adapun surat At-Thaha ayat 53 berikut ini :
ٓ
ٓ
ٓۦ
Artinya : Yang telah menjadikan bagimu bumi sebagai hamparan dan yang telah menjadikan bagimu di bumi itu jalan-jalan, dan menurunkan dari langit air hujan. Maka kami tumbuhkan dengan air hujan itu berjenis-jenis dari tumbuh-
tumbuhan yang bermacam-macam. (QS: At-Thaha: 53) (Departemen agama RI, 2007).
Dari ayat tersebut memiliki makna, bumi yang membentang sebagai hamparan untuk kehidupan dapat mempermudah makhluk hidup mendapatkan yang dibutuhkan. Allah SWT menurunkan air hujan kemudian terbentuk aliran sungai yang mengalir deras, air hujan juga mampu menumbuhkan berbagai tumbuhan yang bermacam-macam. Ayat tersebut membuktikan bahwa adanya sebuah interaksi yang membentuk suatu ekosistem yaitu antara komponen abiotik berupa air untuk menumbuhkan dengan hidupnya tumbuhan yang termasuk komponen biotik. Begitupun apa yang ada di dalam ayat ini relevan dengan mata pelajaran biologi yaitu materi ekosistem.
Ekosistem merupakan salah satu materi pokok dalam mata pelajaran biologi, tepatnya di kelas X MIPA SMA/MA sederajat yang pokok bahasannya yaitu hubungan timbal balik antara makhluk hidup dengan lingkungan sekitarnya.
Objek belajar serta bahan kajian materi tersebut sering kita jumpai di kehidupan nyata, namun keterangan materi yang banyak seringkali membuat siswa kurang minat dalam belajar serta memahami materi tersebut. Sehingga akan lebih menarik jika materi dibelajarkan dengan media pembelajaran yang mendekatkan siswa dengan objek nyata tersebut di lingkungan sekitarnya. Hal ini selaras dengan karakteristik kurikulum 2013 yang berlaku dalam pendidikan di Indonesia, yaitu menyebutkan bahwa pembelajaran yang saat ini ditawarkan lebih menekankan pada aplikasi dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga siswa akan diperhadapkan pada materi pembelajaran yang terkait langsung dengan objek
4
nyata dari lingkungan nya (Situmorang, 2016: 51). Salah satu pemanfaatan objek langsung dari lingkungan yaitu dengan mengkaji serta memanfaatkan potensi lokal yang ada di daerah masing-masing. Menurut Nofiana dan Julianto (2018:
34), pelaksanaan proses pembelajaran dengan pendayagunaan potensi dan keunggulan lokal daerah dimungkinkan mampu meningkatkan kemampuan konten, konteks, serta proses sains pada siswa. Hal ini juga didukung oleh Ilma dan Wijarini (2018: 36) yang hasil penelitian nya menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar siswa dengan menggunakan suatu bahan ajar yang berbasis lokal dan pembelajaran tersebut menjadi lebih bermakna bagi siswa.
Berdasarkan hasil wawancara pada tanggal 19 Januari 2022 dengan bapak Rois selaku guru biologi di SMAN 1 Muncar Kabupaten Banyuwangi diketahui bahwa dalam pembelajaran biologi membutuhkan suatu media pembelajaran yang dapat mendukung dalam proses pembelajaran siswa, namun media pembelajaran yang tersedia kurang efektif dan sangat terbatas, yaitu terbatas pada media cetak yang didominasi oleh teks hitam putih yaitu berupa buku paket dan LKS saja (Wawancara, 2022). Adapun buku paket yang digunakan adalah buku yang dipinjamkan oleh perpustakaan kepada siswa dan LKS yang merupakan kepemilikan setiap siswa. Ketika proses pembelajaran berlangsung, kegiatan siswa yang dilakukan lebih banyak pada melihat, mendengar, dan sesekali mengajukan pertanyaan atau pun menyampaikan pendapatnya, namun hal tersebut hanya dilakukan oleh beberapa siswa saja, sebagian besar siswa lebih memilih diam. Guru juga menyebutkan siswa di SMAN 1 Muncar memiliki kecenderungan belajar dengan menggunakan indera penglihatan atau diebut
dengan gaya belajar visual. Berdasarkan hasil analisis kebutuhan yang dilakukan, 90,5% menyebutkan bahwa dengan penggunaan media pembelajaran siswa lebih mudah dalam pemahaman materi yang diberikan dan 100 % siswa tertarik dengan media pembelajaran yang dilengkapi dengan ilustrasi ataupun gambar.
Terbatasnya media tersebut membuat siswa cenderung lebih cepat merasa bosan, sehingga minat belajarnya dapat berkurang. Oleh karena nya, media pembelajaran sangat dibutuhkan untuk berjalannya proses pembelajaran yang menarik serta mampu menumbuhkan minat belajar siswa sehingga motivasi belajarnya juga meningkat.
Selain itu, selama ini guru melaksanakan pembelajaran dengan buku yang isinya masih sekedar materi umum saja, belum pernah mengaitkan dengan potensi lokal daerah. Sedangkan Muncar memiliki potensi lokal daerah yang dapat dimanfaatkan dalam pembelajaran selain dari sektor perikanannya, yaitu potensi hutan mangrovenya. Hutan mangrove ini dapat dikaitkan dengan materi pembelajaran yaitu ekosistem di kelas X MIPA SMA/MA pada kurikulum 2013 KD 3.10, yang menyebutkan bahwa peserta didik diharapkan mampu menganalisis komponen-komponen ekosistem dan interaksi antar komponen tersebut. Hutan mangrove di Muncar merupakan salah satu mangrove daerah Banyuwangi yang memiliki luasan cukup besar dan kondisi yang masih baik yang ada di kawasan Teluk Pang-Pang Banyuwangi. Hutan mangrove daerah Muncar ini memiliki luas area sekitar 850 Ha yang tersebar di dua desa yaitu desa Wringinputih dan Kedungringin (Neka, 2019: 32). Salah satu bagian lokasi hutan mangrove di Muncar yang berada di kawasan teluk pang-pang dan dapat
6
dimanfaatkan sebagai sumber informasi dalam pembelajaran adalah hutan mangrove di kawasan pantai cemara kawang Muncar.
Dari hasil angket analisis kebutuhan dan wawancara kepada pada 34 siswa, sebagian besar siswa mengetahui ekosistem hutan mangrove di kawasan pantai cemara kawang Muncar hanya sebagai tempat wisata saja. Sehingga disini harapannya siswa tidak hanya mengetahui potensi lokal ekosistem hutan mangrove tersebut sebagai tempat wisata saja, tetapi siswa juga dapat mengetahui bahwa potensi lokal ekosistem hutan mangrove di daerahnya dapat dimanfaatkan sebagai sumber belajar dalam memahami materi pembelajaran di sekolah, selain itu siswa dapat berpartisipasi aktif dalam menjaga serta melestarikan potensi lokal di daerah Muncar yaitu berupa ekosistem hutan mangrove tersebut.
Melihat kondisi di lapangan, peneliti berinisiatif mengembangkan media pembelajaran yang dapat mendukung pelaksanaan pembelajaran siswa. Infografis adalah salah satu dari media pembelajaran yang dapat dikembangkan berdasarkan hasil analisis kebutuhan siswa yang cenderung menyukai gambar dengan materi yang disusun dengan sederhana dan mudah dipahami. Infografis adalah representasi visual dari informasi, data, atau ilmu pengetahuan dalam bentuk grafis. Infografis mengubah informasi sangat kompleks menjadi informasi yang lebih sederhana, menarik, dan lebih mudah dibaca (Resnantika A, dkk, 2018:
184). Sehingga materi ekosistem yang didominasi dengan teks panjang menjadi lebih sederhana dalam bentuk infografis. Berdasarkan penelitian sebelumnya oleh Mansur dan Rafiudin (2020:47), penggunaan media infografis terbukti efektif menjadi sumber belajar yang baik serta mampu meningkatkan minat belajar
siswa, hal ini dibuktikan dengan penilaian produk yang valid yaitu kategori yang sangat layak dan dilihat dari siswa yang lebih interaktif dalam pembelajaran.
Sehingga dengan adanya infografis tersebut, maka dapat membuat siswa berpartisipasi aktif dalam mempelajari materi yang diajarkan, khusus nya pada materi ekosistem.
Berdasarkan latar belakang tersebut, peneliti tertarik melaksanakan penelitian dengan judul “Pengembangan Infografis Ekosistem Hutan Mangrove Berbasis Potensi Lokal Di Kawasan Pantai Cemara Kawang Muncar Sebagai Media Pembelajaran Materi Ekosistem Bagi Siswa Kelas X MIPA SMAN 1 Muncar Banyuwangi”.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana kevalidan infografis ekosistem hutan mangrove berbasis potensi lokal di kawasan pantai cemara kawang Muncar sebagai media pembelajaran materi ekosistem bagi siswa kelas X MIPA SMAN 1 Muncar Banyuwangi?
2. Bagaimana respon siswa terhadap infografis ekosistem hutan mangrove berbasis potensi lokal di kawasan pantai cemara kawang Muncar sebagai media pembelajaran materi ekosistem bagi siswa kelas X MIPA SMAN 1 Muncar Banyuwangi?
3. Bagaimana keefektifan infografis ekosistem hutan mangrove berbasis potensi lokal di kawasan pantai cemara kawang Muncar sebagai media pembelajaran materi ekosistem bagi siswa kelas X MIPA SMAN 1 Muncar Banyuwangi?
8
C. Tujuan Penelitian dan Pengembangan
1. Mendeskripsikan kevalidan infografis ekosistem hutan mangrove berbasis potensi lokal di kawasan pantai cemara kawang Muncar sebagai media pembelajaran materi ekosistem bagi siswa kelas X MIPA SMAN 1 Muncar Banyuwangi.
2. Mendeskripsikan respon siswa terhadap infografis ekosistem hutan mangrove berbasis potensi lokal di kawasan pantai cemara kawang Muncar sebagai media pembelajaran materi ekosistem bagi siswa kelas X MIPA SMAN 1 Muncar Banyuwangi.
3. Mendeskripsikan keefektifan infografis ekosistem hutan mangrove berbasis potensi lokal di kawasan pantai cemara kawang Muncar sebagai media pembelajaran materi ekosistem bagi siswa kelas X MIPA SMAN 1 Muncar Banyuwangi.
D. Spesifikasi Produk yang Diharapkan
Spesifikasi produk yang diharapkan dari penelitian pengembangan ini yaitu:
1. Sebagai media pembelajaran berupa infografis yang berbasis potensi lokal hutan mangrove di kawasan pantai cemara kawang Muncar.
2. Media pembelajaran yang dikembangkan sesuai dengan KI dan KD yang berlaku yaitu pada materi ekosistem kelas X MIPA SMA/MA.
3. Infografis yang akan dikembangkan termasuk jenis infografis statis dengan berbentuk cetak atau hardcopy.
4. Pengembangan infografis ini dilengkapi susunan yang meliputi judul, konten materi, tata letak, icon dan simbol, ilustrasi dan gambar, warna, dan tipografi
dilengkapi gambar serta desain yang menarik disertai dengan kode QR (Quick Response).
E. Pentingnya Penelitian dan Pengembangan
Pentingnya penelitian dan pengembangan infografis ekosistem hutan mangrove berbasis potensi lokal pada materi ekosistem ini sebagai media pembelajaran yang dapat digunakan oleh guru dalam menunjang proses pembelajaran dan harapan nya dapat memberikan manfaat teoritis dan praktis.
1. Manfaat Teoritis
Secara teoritis adanya penelitian ini diharapkan dapat memberikan sebuah inovasi media pembelajaran dari potensi lokal yaitu hutan mangrove di Kawasan pantai cemara kawang Muncar untuk digunakan dalam proses pembelajaran biologi.
2. Manfaat Praktis a. Bagi pendidik
Membantu guru dalam penyampaian informasi pada siswa serta dapat menunjang kegiatan belajar dan mengajar pada materi ekosistem.
b. Bagi Siswa
Harapan dari penelitian adalah dapat memberikan informasi tentang infografis ekosistem hutan mangrove berbasis potensi lokal di kawasan pantai cemara Muncar sebagai media pembelajaran biologi pada materi ekosistem serta dapat meningkatkan ketertarikan dan semangat nya dalam pembelajaran.
10
c. Bagi Sekolah
Memberikan inovasi media pembelajaran dan bahan pertimbangan bagi sekolah untuk menggunakan media pembelajaran yang dapat mendukung serta menunjang pelaksanaan pembelajaran di sekolah.
d. Bagi peneliti
Memberikan pengalaman dan wawasan baru tentang pengembangan media pembelajaran dari potensi lokal yang mendukung pembelajaran biologi di sekolah.
F. Asumsi dan Keterbatasan Penelitian dan Pengembangan 1. Asumsi Penelitian dan Pengembangan
a. Produk yang dihasilkan berupa infografis dari potensi lokal sumber daya alam yaitu hutan mangrove di kawasan pantai cemara kawang Muncar yang dapat digunakan sebagai media pembelajaran biologi pada materi ekosistem.
b. Kehadiran media pembelajaran yang dikembangkan dapat membuat minat serta motivasi belajar siswa meningkat, memahami materi dan memudahkan guru dalam penyampaian materi pembelajaran.
2. Keterbatasan Penelitian dan Pengembangan
a. Penelitian ini difokuskan pada pengembangan infografis dengan konten materi dari potensi lokal sumber daya alam yaitu hutan mangrove di kawasan pantai cemara kawang Muncar bagi siswa kelas X MIPA SMA Negeri 1 Muncar Banyuwangi.
b. Materi yang dikembangkan terbatas pada materi ekosistem pada kelas X MIPA SMA di semester genap.
G. Definisi Istilah atau Definisi Operasional
Berikut penjelasan istilah dalam penelitian dan pengembangan ini :
1. Penelitian dan pengembangan adalah metode yang digunakan oleh peneliti dengan tujuan menghasilkan suatu produk tertentu pada penelitian nya. Adapun produk yang dihasilkan adalah infografis yang diintegrasikan dengan potensi lokal mangrove daerah Muncar bagi siswa kelas X MIPA SMA Negeri 1 Muncar Banyuwangi. Penelitian ini menggunakan desain pengembangan model plomp.
2. Media pembelajaran adalah alat yang mampu mendukung dan menunjang pelaksanaan pembelajaran.
3. Infografis merupakan representasi visual dari informasi, data, atau materi yang kompleks menjadi lebih sederhana dengan bentuk grafis, sehingga lebih mudah dipahami oleh pembaca.
4. Materi ekosistem adalah materi pada kelas X MIPA SMA/MA semester genap yaitu pada KD. 3.10 dan 4.10 yang isinya adalah menganalisis komponen- komponen ekosistem dan interaksi komponen tersebut.
5. Potensi lokal adalah sumber daya alam yang menjadi suatu ciri khas dari daerah tersebut yang jika dikembangkan akan menghasilkan manfaat bagi masyarakat tersebut.
12
6. Hutan Mangrove merupakan vegetasi pantai tropis dan subtropis dalam komuitasnya yang tumbuh dan berkembangnya dipengaruhi oleh pasang surut air laut.
13 BAB II
KAJIAN PUSTAKA A. Penelitian Terdahulu
1. Penelitian Terdahulu
Berikut adalah penelitian terdahulu yang dianggap sesuai dengan penelitian yang akan dilakukan :
1) Penelitian oleh Hamsi Mansur dan Rafiudin (2020: 37) yang berjudul
“Pengembangan Media Pembelajaran Infografis Untuk Meningkatkan Minat Belajar Siswa”. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan produk berupa infografis yang valid dan efektif dalam meningkatkan minat belajar siswa. Hasil dari penelitian ini adalah media pembelajaran Infografis dinyatakan valid dan sangat layak yang ditunjukkan dari hasil validasi ahli media dengan presentase 81,67% dan ahli materi dengan presentase sebesar 79,69% termasuk dalam kategori layak. Dan setelah diuji coba kan, media pembelajaran infografis ini mampu meningkatkan minat belajar mahasiswa dari 53,33% ketika belum menggunakan media infografis ini menjadi 81,78% sesudah menggunakan media infografis tersebut.
2) Penelitian oleh Via Wulandari, Zainul Abidin, dan Henry Praherdhiono (2019) yang berjudul “Pengembangan Media Pembelajaran E-Book Infografis Sebagai Penguatan Kognitif Siswa X MIA”. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan produk yang efektif dan valid yaitu berupa e-book infografis. Hasil dari penelitian ini yaitu terbentuk nya E-
14
book infografis yang valid dan layak untuk digunakan dengan presentase 93,35% dari ahli materi, 99,26% dari ahli media. Serta respon dari 41 siswa dinyatakan efektif yang terlihat dari hasil meningkatnya nilai pada post test atas pre test yang dilakukan.
3) Penelitian oleh AR Acep Pebri, Kasrina, dan Irdam Idrus (2019) yang berjudul “Pengembangan Lembar Kerja Peserta Didik Berdasarkan Kajian Mangrove Di Kawasan Taman Wisata Alam Panjang Bengkulu”.
Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan produk berupa LKPD dari hasil pengkajian ekosistem mangrove yang berada di kawasan Taman Wisata Alam Pantai Panjang Bengkulu. Hasil penelitian ini adalah LKPD yang dinyatakan dalam kriteria yang sangat valid dengan presentase 84% oleh 3 validator, dan dari hasil uji keterbacaan terhadap 30 siswa dihasilkan sebuah LKPD dengan kriteria sangat baik dalam presentasenya yaitu 92%. Sehingga LKPD ini layak digunakan dalam pembelajaran.
4) Penelitian oleh Sukirno, Setyoko, dan Indrianty (2020) yang berjudul
“Pengembangan Bahan Ajar Biologi SMA Kontekstual Berbasis Potensi Lokal Hutan Mangrove”. Penelitian ini bertujuan untuk pembuatan produk dalam bentuk buku teks biologi SMA dari potensi lokal mangrove Kuala Langsa. Hasil penelitian ini yaitu produk berupa buku teks dinyatakan valid oleh validator dengan kategori sangat baik yang ditunjukkan presentase sebesar 81,70%, serta hasil praktisi dan respon
siswa dengan kategori sangat baik yaitu presentase sebesar 83,3 %, dan 80,28%.
5) Penelitian oleh Indra Putra (2021) yang berjudul “Media Pembelajaran Biologi berbentuk infografis Tentang Materi Sistem Imun Pada Manusia”. Penelitian ini bertujuan untuk pembuatan produk dalam bentuk infografis dengan materi tentang sstem imun pada manusia. Hasil penelitian ini yaitu produk berupa infografis yang dinyatakan valid oleh validator ahli dengan kategori sangat baik yang ditunjukkan presentase sebesar 88,11%, serta hasil uji kepraktisan oleh guru biologi diperoleh presentase 85%, dan hasil uji praktikalitas oleh siswa siperoleh presentase 85,24%.
Tabel 2.1
Persamaan dan perbedaan penelitian terdahulu No. Nama, Tahun,
dan Judul
Persamaan Perbedaan
1. Hamsi Mansur dan Rafiudin (2020)
Pengembangan Media
Pembelajaran Infografis Untuk Meningkatkan Minat Belajar Siswa
Produk yang dikembangkan dalam bentuk infografis.
Menggunakan jenis penelitian (R&D).
Model desain pengembangan adalah model desain ADDIE
Materi yang
dikembangkan adalah pada mata kuliah epistemologi
dan logika
Pendidikan
Lokasi penelitian di Universitas Lambung Mangkurat program studi Teknologi Pendidikan.
Sedangkan pada penelitian saat ini :
Menggunakan desain model plomp
16
Materi ekosistem pada kelas X SMA/MA yang di integrasikan dengan potensi lokal ekosistem hutan
mangrove di
kawasan pantai cemara kawang Muncar dengan lokasi penelitian di SMA Negeri 1 Muncar
2. Via Wulandari, Zainul Abidin, dan Henry Praherdhiono (2019)
Pengembangan Media
Pembelajaran E- Book Infografis Sebagai
Penguatan
Kognitif Siswa X MIA
Produk yang dikembangkan yaitu media pembelajaran infografis.
Menggunakan jenis penelitian (R&D)
Bentuk pengemasan infografis yaitu dalam bentuk e-book pada materi atmosfer di mata pelajaran geografi di kelas X MIA SMA.
Model desain pengembangan adalah Sadiman, Sedangkan dalam penelitian saat ini :
Produk berupa infografis dalam bentuk cetak pada materi ekosistem kelas X SMA/MA yang di integrasikan dengan ekosistem hutan mangrove di kawasan pantai cemara kawang Muncar dengan model
pengembangan yaitu model Plomp.
3. AR Acep Pebri, Kasrina, dan Irdam Idrus (2019)
Pengembangan
Persamaan
penelitian ini adalah penggunaan jenis penelitian (R&D)
Menggunakan
Pengembangan
produk yang
dilakukan adalah Lembar Kerja Peserta Didik
Lembar Kerja Peserta Didik Berdasarkan Kajian Mangrove Di Kawasan Taman Wisata Alam Panjang Bengkulu
Mangrove sebagai objek kajian di materi ekosistem di kelas X IPA SMA/MA
Penelitian yang dilakukan sampai uji keterbacaan atau respon siswa terhadap produk yang melibatkan siswa.
(LKPD)
Lokasi potensi lokal Mangrove yaitu di kawasan Taman Wisata Alam Pantai Panjang Bengkulu
Sedangkan dalam penelitian saat ini
produk yang
dikembangkan
adalah infografis dalam bentuk cetak
pada materi
ekosistem kelas X SMA/MA yang di integrasikan dengan potensi lokal ekosistem hutan
mangrove di
kawasan pantai cemara kawang Muncar dengan model
pengembangan yaitu model Plomp.
4. Sukirno, Setyoko, dan Indrianty (2020)
Pengembangan
Bahan Ajar
Biologi SMA Kontekstual Berbasis Potensi Lokal Hutan Mangrove
Menggunakan jenis penelitian (R&D)
Objek potensi lokal mangrove.
Produk yang
dikembangkan yaitu bahan ajar berupa buku teks
Desain model pengembangan menggunakan ADDIE
Lokasi objek potensi lokal mangrove yaitu di Mangrove Kuala Langsa
Konteks materi pembelajaran yang diambil yaitu pada materi
keanekaragaman hayati.
Sedangkan penelitian ini produk adalah
18
infografis dalam bentuk cetak pada materi ekosistem kelas X SMA/MA dengan objek potensi lokal ekosistem hutan mangrove di kawasan pantai cemara kawang Muncar dengan model
pengembangan yaitu model Plomp.
5. Indra Putra (2021) Media
Pembelajaran Biologi berbentuk infografis Tentang Materi Sistem
Imun Pada
Manusia
Menggunakan jenis penelitian (R&D)
Produk yang dikembangkan sama-sama infografis
Desain model pengembangan menggunakan 4D-
Model yang
dipangkas menjadi 3 saja yaitu Define, Design, Develop.
Konteks materi pembelajaran yang diambil yaitu pada materi sistem imun pada manusia.
Sedangkan penelitian ini produk adalah infografis dalam bentuk cetak pada materi ekosistem kelas X SMA/MA dengan objek potensi lokal ekosistem hutan mangrove di kawasan pantai cemara kawang Muncar dengan model
pengembangan yaitu model Plomp.
B. Kajian Teori
1. Penelitian dan Pengembangan
a. Pengertian Penelitian dan Pengembangan
Penelitian dan pengembangan adalah penelitian yang memiliki tujuan dalam perancangan dan pengembangan sebuah intervensi misalnya seperti program, strategi dan materi belajar-mengajar, produk, dan sistem sebagai solusi dalam permasalahan pendidikan (Plomp dan Nieveen, 2013:
15). Secara lebih mudah dipahami penelitian ini memiliki tujuan terbentuknya produk valid yang dibutuhkan dalam Pendidikan.
Dalam penelitian pengembangan dilakukan suatu analisis kebutuhan terlebih dahulu untuk menghasilkan produk. Agar produk ini memiliki fungsi bagi masyarakat, maka perlu dilakukan uji keefektifan pada produk yang dikembangkan, sehingga produk ini sifatnya longitudinal atau (bertahap bisa multi years) (Sugiyono, 2017: 297).
b. Penelitian Pengembangan Model Plomp
Desain pengembangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah adalah model plomp. Terdapat tiga tahapan dalam desain ini yaitu, preliminary research, development or prototyping phase, dan assessment phase (Plomp dan Nieeven, 2013: 19).
Berikut adalah tahapan-tahapannya : 1) Preliminary research
Tahap ini adalah tahap pertama pada model Plomp. Tahap preliminary research adalah penelitian pendahuluan dalam penelitian
20
pengembangan. Yang dilakukan ditahap pertama ini meliputi analisis kebutuhan, kajian kepustakaan, serta mengembangkan kerangka konseptual untuk penelitian tersebut. Pada tahap ini lebih berfokus pada validitas konten saja, sehingga tidak tidak terlalu banyak pada konsistensi isi dan kepraktisan dari produk yang dikembangkan (Plomp dan Nieeven, 2013: 19).
2) Development or prototyping phase
Tahap ini adalah tahap kedua yaitu pengembangan atau fase prototipe, maka langkah nya lebih berfokus pada konsistensi (validitas konstruk) dan utama nya pada kepraktisan dengan secara bertahap memperhatikan keefektifan dalam pengembangan produk.
Pengembangan urutan prototipe akan direvisi berdasarkan evaluasi formatif. Evaluasi ini ditunjukkan untuk melakukan perbaikan pada produk yang berlangsung dalam semua tahapan pada penelitian pengembangan. Evaluasi formatif dilakukan dengan penilaian para ahli yang menghasilkan kevalidan produk yang diharapkan. Pada evaluasi formatif terdiri dari beberapa evaluasi bertahap yaitu self evaluation (evaluasi oleh diri sendiri) atau screening pada produk. Dilanjutkan dengan tinjauan oleh para ahli (expert review) atau validasi pada produk yang dikembangkan. Kemudian dilakukan evaluasi one-to-one atau evaluasi satu per satu dengan perwakilan target audien tertentu. Setelah itu dilanjutkan dengan evaluasi pada kelompok kecil (small group) atau
disebut sebagai mikroevalusi terhadap produk yang dikembangkan (Plomp dan Nieeven, 2013: 36).
3) Assesment phase
Tahap ini adalah tahap terakhir pada model plomp yang disebut fase penilaian. Tahapan ini juga disebut sebagai semi evaluasi sumatif yang lebih berfokus pada kepraktisan dan keefektifan pada produk yang dikembangkan. Evaluasi sumatif bertujuan untuk menyimpulkan tentang pemenuhan spesifikasi produk sesuai ketentuan nya (Plomp dan Nieeven, 2013: 19). Pada tahap ini dilakukan uji lapangan (field test) atau uji kelompok besar terhadap produk yang dikembangkan.
2. Media Pembelajaran
a. Pengertian Media Pembelajaran
Menurut Arsyad (2014: 3), istilah media menurut bahasa latin yaitu
“medius” yang secara harfiah berarti tegah, pengantar, atau perantara. Arti media pada bahasa arab merupakan perantara. Sehingga media dapat dianggap menjadi pengantaran pesan dari pengirim kepada yang menerima pesan.
Sebagai perantara, media pembelajaran diartikan sebagai alat untuk pemantauan pelaksanaan pembelajaran sehingga suatu informasi atau pesan dapat tersampaikan dengan lebih jelas, efektif, serta efisien sesuai dengan tujuan pendidikan (Nurrita, 2018: 174). Oleh karena nya, seorang guru berperan untuk menghadirkan sebuah media pembelajaran inovatif agar informasi pesan dapat tersampaikan dan dapat diterima oleh siswa.
22
Adanya media pembelajaran selain memudahkan guru dalam menyampaikan materi pelajaran, juga sebaliknya dapat memudahkan siswa dalam proses pemahaman materi yang diberikan oleh guru.
b. Manfaat Media Pembelajaran
Menurut Nurrita (2018: 178) manfaat media pembelajaran adalah, sebagai berikut :
1) Manfaat media pembelajaran bagi guru yaitu :
- Sebagai pedoman untuk guru dalam mencapai tujuan pembelajaran sehingga materi dapat tersampaikan dengan lebih sistematis.
- Mendukung proses penyajian materi yang menarik dalam peningkatan kualitas pembelajaran.
2) Manfaat media pembelajaran bagi siswa yaitu :
- Sebagai peningkat motivasi dan minat belajar siswa sehingga siswa dapat berfikir dan menganalisis materi pembelajaran.
- Siswa lebih mudah memaknai proses pembelajaran dari materi yang sajikan.
c. Fungsi Media Pembelajaran
Menurut Nurrita (2018: 177) fungsi media yaitu bagi guru, yaitu membantu dalam penyampaian informasi atau materi kepada siswa dan bagi siswa media menjadi sumber belajar dalam mendapatkan pesan atau informasi dari seorang guru, serta pemahaman pengetahuan dapat terbentuk pada diri siswa.
d. Macam-macam media pembelajaran
Menurut Arsyad (2014: 79), media pembelajaran terbagi menjadi lima yaitu :
1) Media berbasis manusia
Contohnya yaitu guru, instruktur, tutor, bermain peran, kerja kelompok, dan lainnya.
2) Media berbasis cetakan
Contohya yaitu buku teks, buku penuntun, jurnal, majalah, dan kertas lembaran.
3) Media berbasis visual
Contohya yaitu charts, buku, peta, grafik, peta, ilustrasi atau gambar, bingkai atau pun slide.
4) Media berbasis audio-visual
Contohnya yaitu video, film, tape recorder, televisi, dan lainnya.
5) Media berbasis komputer.
Contohnya yaitu video yang interaktif dan pengajaran dengan bantuan komputer.
3. Infografis
a. Pengertian Infografis
Infografis menurut istilah dari bahasa Inggris “Infographic”, adalah kumpulan dari kata info dan grafik. Istilah tersebut mengacu pada bentuk visualisasi data untuk penyampaian informasi kompleks agar lebih mudah dan cepat dipahami oleh pembaca (Kominfo, 2018: ix). Adanya infografis
24
bertujuan untuk menjadikan seseorang lebih mudah mengingat serta mengetahui sebuah informasi tanpa harus membaca keseluruhan dari teks yang panjang. (Resnantika, dkk, 2018: 185). Infografis dalam pendidikan dapat digunakan untuk menyusun materi pembelajaran yang kompleks menjadi lebih sederhana, sehingga siswa lebih mudah menerima serta memahaminya.
Adapun pengembangan infografis kali ini berisi tentang konteks materi pembelajaran yang diintegrasikan dengan potensi lokal daerah sesuai pada kurikulum yang berlaku. Kriteria suatu infografis harus tersusun oleh beberapa komponen dalam suatu pembelajaran. Berikut ini adalah beberapa kriteria oleh Kominfo (2018:2). 1) Materi pembelajaran mengacu sesuai dengan tujuan pembelajaran, diamil berdasarkan kegiatan riset, dan referensi dari beberapa sumber yang valid; 2) Media yang dikembangkan berisi struktur visual yang bagus dengan keterbacaan yang lugas, dan (shareability) mudah untuk dibagikan; 3) Siswa, yaitu infografis ini sesuai dengan kebutuhan siswa dalam belajar.
b. Karakteristik Infografis
1) Sumber informasi objektif bisa meletakkan pengertian yang benar pada bentuk informasi yang terbuka bebas.
2) Runtutan peristiwa dalam bentuk infografis akan mudah dimengerti pembaca.
3) Konten isi dari informasi disajikan dengan bentuk visual yang baik dan tepat.
4) Menggunakan elemen yang tepat.
5) Mampu memberikan ekspresi bahasa visual yang sensasional.
6) Menyaring informasi yang perlu disampaikan (Taufik, 2012: 160).
c. Jenis-jenis Infografis
Menurut Kominfo (2018: ix), Terdapat dua format dalam mempublikasikan Infografis yaitu :
a. Infografis statis adalah infografis yang bentuknya terdiri dari gambar statis yang berisi tabel, grafis, teks, gambar ataupun ilustrasi.
b. Infografis Dinamis adalah infografis yang bentuknya video yang terdiri dari komposisi visual gerak atau biasa disebut animasi dari elemen yang digunakan dengan alur yang dapat dimengerti dengan mudah.
d. Unsur-unsur Infografis
Standar elemen-elemen pada infografis menurut Kominfo (2018:
9) yaitu :
a. Infografis Statis : (1) Judul, (2) Tata letak, (3) Ikon dan symbol, (4) Gambar dan ilustrasi, (5) Warna, (6) Tipografi
b. Infografis Dinamis : (1) Musik latar, (2) Sound effect, (3) Voiceover, (4) Animasi dan Efek visual, (5) Transisi
e. Langkah-langkah pembuatan infografis statis
a. Membuat draft poin infografis (sketsa infografis).
26
b. Membuat output copywriting atau isi konten materi yang akan ditampilkan pada infografis
c. Memilih style dan template yang akan digunakan d. Memproses desain infografis
e. Preview hasil dari infografis yang telah dibuat.
f. Mereview kembali dan proofreading.
g. Final art. File di export menjadi infografis yang siap untuk dipublikasikan (Kominfo, 2018: 29).
f. Kelebihan dan kekurangan infografis
Menurut Salsabila, dkk (2021: 280) keunggulan infografis adalah dapat memperjelas penyajian informasi yang mendukung dalam pelaksanaan pembelajaran, meningkatkan ketertarikan siswa terhadap materi, serta dapat membantu mengatasi keterbatasan indera dan ruang.
Kekurangannya adalah infografis lebih menekankan pada persepsi indera mata, sifat komunikasinya juga hanya satu arah, dan media infografis ini sulit untuk dipahami jika tidak terbiasa mengenalnya, sehingga membutuhkan bimbingan yang lebih terstruktur (Leryan, 2020:
31).
4. Materi Ekosistem a. Pengertian Ekosistem
Ekosistem merupakan interaksi atau pun hubungan saling timbal balik antara makhluk hidup satu dengan makhluk hidup lainnya, dan mahluk hidup kepada lingkungan nya. Komponen ekosistem terbagi
menjadi dua yaitu komponen hidup (biotik) dan komponen tak hidup (abiotik). Suatu ekosistem akan seimbang jika keseimbangan dan kelestarian ekosistem tersebut dijaga, hal ini melibatkan semua mahkluk hidup tak terkecuali manusia. Proses secara alamiah akan terjaga kelamgsungannya dengan ekosistem yang seimbang.
b. Komponen Ekosistem
Menurut Subardi (2009: 191), terdapat dua komponen di dalam ekosistem yaitu :
1) Komponen Abiotik
Komponen dalam ekosistem yang sifatnya tidak hidup.
Komponen tersebut meliputi : tanah; air; udara; suhu; sinar matahari;
kelembapan; altitude dan latitude.
2) Komponen Biotik
Komponen dalam ekosistem yang sifatnya hidup. Berdasarkan fungsinya dibedakan menjadi berikut yaitu : Produsen (memiliki kemampuan untuk melakukan sinstesis zat-zat organik); Konsumen (mendapatkan makanan dari organisme lain); Detritivor (sisa organisme yang sudah hancur); Dekomposer (penguraian zat organic menjadi zat anorganik) (Subardi, 2009: 193).
Sedangkan berdasarkan cara mendapatkan makanan nya dibagi menjadi 2 yaitu : 1) Organisme Autotrof (mampu mensistesi zat makanan nya sendiri. Autotrof dibedakan yaitu fotoautotrof dan kemoautotrof); 2) Organisme heterotrof (tidak dapat membuat
28
makanan nya sendiri). Ekosistem berdasarkan satuan organisasi kehidupan terdiri dari beberapa tingkatan yaitu : Individu, populasi, komunitas, ekosistem, bioma, biosfer (Subardi, 2009: 195).
c. Interaksi Antar Komponen Ekosistem 1) Interaksi antar komponen biotik
Semua organisme selalu berhubungan dengan organisme lain, baik antar organisme yang sejenis, organisme yang berbeda jenis, dan interaksi yang terjadi antar populasi. (Yusa dan Maniam: 199).
Berikut macam-macam interaksi antar komponen biotik :
Interaksi antar organisme
Menurut Huda (2020: 10), Interaksi ini dikategorikan sebagai berikut :
1) Netral : Hubungan antara organisme di habitat yang sama dan kedua organisme ada di tengah-tengah yaitu tidak diuntungkan dan tidak dirugikan.
2) Predasi : Hubungan yang terjadi antara yang dimakan dengan yang memakan (predator).
3) Parasitisme : Hubungan yang terjadi antara organisme yaitu dengan kondisi satu organisme beruntung, sedangkan organisme lainnya juga tidak rugi.
4) Komensalisme : Interaksi yang terjadi diantara dua organisme yang spesies nya berbeda dan hidup dalam lingkup bersama.
Interaksi antarpopulasi
Menurut Huda (2020: 11), Interaksi dalam komunitas dapat terjadi antar populasi baik langsung ataupun tidak langsung.
Berikut contohnya :
1) Kompetisi : Interaksi akan terjadi apabila antarpopulasi memiliki kepentingan yang sama, sebagai akibatnya akan terjadi persaingan untuk memperoleh kebutuhan nya.
2) Alelopati : Interaksi yang terjadi ketika satu populasi membuat zat yang dapat menghambat pertumbuhan populasi lain.
Interaksi Antar Komunitas
Interaksi yang terjaadi pada daerah tertentu dengan perbedaan populasi namun posisi tempat yang sama. Tidak hanya melibatkan organisme, interaksi ini juga melibatkan aliran energi dan makanan (Huda, 2020: 11).
2) Interaksi antara komponen biotik dan abiotik
Interaksi antara kedua komponen ini dapat menyebabkan terjadinya beberapa hal : aliran energi, tingkat trofik, keanekaragaman hayati, dan siklus materi. Keberadaan interaksi tersebut membuat ekosistem menjadi seimbang. (Huda, 2020: 12).
30
d. Tipe-tipe ekosistem
Tipe ekosistem terbagi menjadi dua yaitu : 1) Ekosistem Darat
Ekosistem yang memiliki bentuk lingkungan fisiknya berupa daratan.
Ekosistem darat alami yang terkenal di Indonesia terbagi menjadi tiga yaitu : 1) Ekosistem vegetasi dataran rendah ; 2) Ekosistem pegunungan; 3) Vegetasi Monsun (Yusa dan Maniam, 2016: 207) 2) Ekosistem Perairan
Ekosistem yang memiliki bentuk lingkungan fisiknya berupa perairan.
Yang termasuk dalam ekosistem perairan yaitu : - Ekosistem Air Tawar
Ekosistem ini menunjukkan adanya suhu yang bervariasi, kekurangan cahaya, dan dipengaruhi oleh iklim dan cuaca.
Berdasarkan aliran airnya, ekosistem ini terbagi dua yaitu air yang mengalir (lotik), seperti sungai dan air yang tidak mengalir (lentik), seperti rawa dan danau. Habitat air tawar ini juga saling berkesinambungan antara habitat darat dan habitat laut (Yusa dan Maniam, 2016: 207).
- Ekosistem Air Laut
Ekosistem ini mempunyai kadar garam atau salinitas yang tinggi sekitar 3,5%. Namun, setiap daerah memiliki tingkat salinitas yang berbeda-beda. Ekosistem air laut lainnya contohnya
yaitu ekosistem estuari, ekosistem terumbu karang, dan ekosistem pantai (Yusa dan Maniam, 2016: 206).
e. Aliran energi dalam ekosistem
Serangkaian proses berpindahnya energi dari satu bentuk ke bentuk energi lainnya. Dari energi utama di bumi yaitu matahari, kemudian dilanjutkan ke produsen, produsen ke konsumen primer, consumer primer ke konsumen tingkat tinggi sampai pada proses penguraian di tanah (Huda, 2020: 19).
f. Rantai makanan dan jaring-jaring makanan
Rangkaian pemindahan materi dan energi melibatkan serangkaian organisme di peristiwa makan memakan dan berlangsung secara searah.
Dan jarring-jaring makanan merupakan rantai makanan yang proses nya saling berkesinambungan dan membentuk suatu jalinan yang kompleks.
(Subardi, 2009: 200).
g. Daur Biogeokimia
Daur Biogeokimia adalah proses pelibatan unsur senyawa kimia dengan perpindahan serangkaian organisme (Subardi, 2009: 201).
Terdapat beberapa daur yaitu : a. Daur Nitrogen (N)
Daur nitrogen merupakan pemindahan nitrogen dari atmosfer ke dalam tanah. Nitrogen adalah penyusun senyawa terbesar di atmosfer.
Nitrogen (N2) dapat diserap oleh tumbuhan dalam bentuk nitrat (NO3).
Sehingga N2 di perlu di fiksasi terlebih dahulu untuk menghasilkan
32
nitrat, fiksasi dapat dilakukan oleh bakteri pada akar leguminosa dan ganggang. Halilintar juga menyebabkan terbentuknya nitrat, kemudian baru nitrat tumbuhan akan menyerap nitrat membentuk protein tumbuhan sebagai konsumsi bagi manusia atau hewan yang jika dikeluarkan akan menghasilkan feses, urin, ataupun ekstret lain dari nitrogen. Zat yang dihasilkan tersebut akan diuraikan oleh mikroorganisme membentuk ammonium. Ammonium kemudian diubah menjadi nitrit melalui nitritasi dan nitrit diubah menjadi nitrat melaui nitrifikasi oleh bakteri dan tumbuhan bagian akar akan menyerap kembali senyawa nitrat tersebut. Dan nitrat di dalam tanah akan diubah menjadi nitrogen bebas (N) untuk kembali ke udara (Subardi, 2009: 202).
b. Daur Karbon (C)
Daur karbon yang berlangsung dimulai dari adanya karbon dioksida (CO2) yang ada di udara dan larut dalam air. Kemudian tumbuhan akan mengubah karbon dioksida (CO2) menjadi karbohidrat melalui fotosintesis. Hasil dari fotosintesis adalah Oksigen (O2) dan digunakan untuk respirasi oleh hewan maupun manusia yang menghasilkan CO2 kembali (Huda, 2020: 38).
c. Daur fosfor (P)
Fosfor dalam bentuk ATP. Energi ini merupakan salah satu energi yang dibutuhkan oleh makhluk hidup, khususnya manusia.
Selain manusia, tumbuhan juga menggunakan cadangan fosfat untuk
sintesis dalam tumbuhan. Dan fosfat akan berpindah ke tingkatan trofik yang lebih tinggi melalui adanya rantai makanan. Apabila organisme sudah mati, fosfor yang diekskresikan oleh hewan akan kembali ke lingkungan (Huda, 2020: 40).
d. Daur Sulfur (S)
Proses daur sulfur dimulai dari preduksian sulfur oleh bakteri menjadi sulfida atau hydrogen ulfida. Penguraian bahan organik yang sudah mati biasanya juga menghasilkan hidrogen sulfida. Kemudian tumbuhan menyerap ion sulfat diserap dan mengubahnya menjadi protein. Apabila jaringan tumbuhan atau hewan mati, maka akan terjadi penguraian yang membentuk hydrogen sulfida kembali (Huda, 2020: 40).
e. Daur Air
Daur air terdapat daur pendek dan daur panjang. Daur air pendek dimulai dari penguapan oleh air di laut, kemudian uap air di udara akan mengalami kondensasi sehingga terbentuk titik-titik air yang nantinya jatuh menjadi hujan yang kemudian akan kembali ke lautan. Untuk daur air panjang yaitu dimulai dari adanya berbagai proses penguapan yang kemudian jatuh ke daratan dan akan kembali ke laut melalui sungai atau pun aliran air lainnya (Huda, 2020: 38).
34
5. Potensi Lokal a. Potensi Lokal
Potensi lokal adalah kemampuan, kekuatan, daya yang ada di suatu daerah tertentu, apabila diberdayakan dan dikembangkan maka akan bermanfaat untuk masyarakatnya, potensi yang dimaksud yaitu berupa sumber daya alam yang dimiliki oleh daerah tersebut (Septiani, 2017: 6).
Potensi lokal ini dipengaruhi oleh kondisi geografis, iklim, dan juga bentang alam yang ada didaerah tersebut. Setiap daerah memiliki keadaan alam yang berbeda, sehingga tiap daerah memiliki keunikan serta keragaman yang menjadi ciri khas potensi lokal daerah tersebut.
Sebagai potensi lokal daerah, dalam pendidikan potensi tersebut dapat dimanfaatkan sebagai sumber informasi atau sumber dalam kegiatan belajar siswa, khusus nya pada bidang biologi yang salah satu lingkup keilmuannya adalah lingkungan. Segala potensi lokal yang ada perlu diperhatikan dan dikaji oleh seorang guru untuk bisa dijadikan sebagai sumber belajar siswa dalam pembelajaran. Proses pembelajaran yang lebih bervariasi dan kaya akan materi bagi siswa dapat dioptimalkan dengan adanya potensi lokal tersebut. Sehingga diperlukan ketelitian analisis potensi lokal di masing-masing daerah agar siswa dapat memperoleh kecakapan hidup sesuai dengan karakteristik daerah serta pengalamannya sehari-hari (Situmorang, 2016: 52). Selain itu, pemanfaatan potensi lokal daerah dalam pembelajaran membuat siswa lebih memaknai belajarnya,
karena siswa dihadirkan peristiwa yang sifatnya aktual dan dapat diketahui kebenaran nya.
b. Potensi Lokal Hutan Mangrove Di Kawasan Pantai Cemara Kawang Muncar
Kabupaten Banyuwangi adalah daerah yang memiliki sumber daya alam melimpah di berbagai bagian daerahnya. Salah satu sumber daya alam dengan potensi lokal yang dimiliki adalah hutan mangrove. Hutan mangrove merupakan vegetasi pantai tropis dan subtropis dalam komunitasnya yang tumbuh dan berkembangnya dipengaruhi dengan adanya pasang surut air laut. Umumnya mangrove ditemukan di wilayah pesisir dan tumbuh di lumpur, pasir, air payau dibawah pengaruh pasang surut air laut, tetapi karena ada persyaratan dalam pertumbuhannya seperti pantai yang terlindungi, adanya sedimen dari muara, sehingga tidak semua pantai dapat ditumbuhi oleh mangrove (Rahim dkk, 2017: 2). Komunitas vegetasi ini dapat membentuk ekosistem mangrove sebagai habitat yang mencerminkan adanya interaksi yang saling bertimbal balik antara organisme satu dengan organisme lain, organisme itu sendiri atau lingkungan sekitarnya yaitu di wilayah pesisir.
Hutan mangrove yang ada di Banyuwangi tersebar cukup luas di sepanjang garis pantai, yaitu sekitar 1.333,7 Ha meliputi wilayah pantai utara hingga pantai selatan yang mencakup beberapa kecamatan yaitu Wongsorejo, Kalipuro, Banyuwangi, Kabat, Muncar, Tegaldlimo, Purwoharjo, dan Pesanggaran. Salah satu kawasan ekosistem hutan
36
mangrove di kabupaten Banyuwangi yang memiliki luasan cukup besar dengan kondisi yang masih terjaga adalah ekosistem hutan mangrove Muncar yang ada di kawasan Teluk Pang-Pang Banyuwangi. Ekosistem hutan mangrove daerah Muncar ini memiliki luas area sekitar 850 Ha yang tersebar di dua desa yaitu desa Wringinputih dan Kedungringin. (Neka, 2019: 32). Salah satu bagian lokasi hutan mangrove di Muncar yang berada di kawasan teluk pang-pang adalah hutan mangrove di Kawasan pantai cemara kawang Muncar. Hutan mangrove ini tepatnya berada di dusun kawang, Muncar, Banyuwangi. Untuk luasnya diperkirakan memiliki luas sekitar 20 hektar (Astiningseh, Y. Y, dkk : 2022: 218)
Sebagian besar hewan di pesisir laut mencari makan, bersarang atau pun berkembangbiak di hutan mangrove tersebut. Vegetasi yang ada dengan beraneka ragam biota, burung, serta plasma nutfah didalamnya membuat ekosistem menjadi keunikan tersendiri. Saat ini hutan mangrove di kawasan pantai cemara kawang Muncar ini menjadi salah satu pusat konservasi mangrove yang ada di Banyuwangi, kelestariannya dijaga untuk lingkungan, baik sebagai penahan abrasi dan juga sumber ekonomi bagi masyarakat, tetapi selain hal tersebut hutan mangrove juga berpotensi sebagai sumber informasi dan sumber belajar bagi siswa.
6. Kerangka Berfikir
Dalam pendidikan sering terjadi salah satu permasalahan yaitu lemahnya proses pembelajaran. Salah satu peningkatan kualitas pendidikan untuk menguatkan suatu proses pembelajaran adalah media pembelajarannya. Media pembelajaran yang digunakan di sekolah hanya
terbatas pada media cetak yaitu LKS dari penerbit dan buku paket yang hanya dipinjamkan oleh perpustakaan, membuat minat belajar siswa berkurang. Pada materi ekosistem siswa objek belajar materi sering kita jumpai dalam kehidupan nyata, namun keterangan materi yang banyak seringkali membuat siswa kurang minat dalam belajar serta memahami materi tersebut. Sehingga akan lebih menarik jika materi dibelajarkan dengan media pembelajaran yang mendekatkan siswa dengan objek nyata di lingkungan sekitarnya. Hal yang dapat dilakukan yaitu dengan memanfaatkan potensi lokal yang dimiliki oleh masing-masing daerah tertentu. Potensi lokal ini dapat dimanfaatkan sebagai sumber informasi pembelajaran adalah ekosistem mangrove di daerah Muncar, salah satunya ekosistem hutan mangrove di kawasan pantai cemara kawang Muncar.
Keunikan ekosistem hutan mangrove tersebut dapat diambil dan dijadikan sebagai suatu bahan materi pembelajaran dalam pengembangan media pembelajaran dalam bentuk infografis. Sehingga disini, peneliti termotivasi untuk melaksanakan penelitian pengembangan yaitu media pembelajaran infografis yang menarik dengan konten potensi lokal yaitu ekosistem hutan mangrove di kawasan pantai cemara kawang Muncar yang dikaitkan dengan materi ekosistem dalam pembelajaran biologi.
38 BAB III
METODE PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN A. Model Penelitian dan Pengembangan
Penelitian ini menggunakan model penelitian dan pengembangan. Model ini bertujuan untuk perancangan serta pengembangan sebuah intervensi misalnya program, taktik, bahan belajar-mengajar, produk, dan perangkat menjadi sebuah solusi pada konflik dalam dunia pendidikan (Plomp dan Nieveen, 2013: 15).
Model penelitian ini banyak digunakan di berbagai bidang yaitu bidang alam, sosial, teknik, dan terutama di bidang pendidikan yang menghasilkan suatu produk seperti buku ajar, media pembelajaran, model pembelajaran, instrument pembelajaran, dan lainnya. Penelitian ini menggunakan model pengembangan oleh Plomp atau disebut sebagai model plomp. Peneliti memilih untuk menggunakan desain model plomp karena peneliti dapat menyesuaikan kebutuhan atau pun karakteristik pada penelitian dengan setiap langkah yang tercakup pada kegiatan pengembangan di model ini, sehingga peneliti melihat bahwa plomp lebih luwes dan fleksibel daripada desain model pengembangan lainnya (Bintang, dkk, 2019: 94).
Model plomp tersusun dari beberapa tahapan yang meliputi : preliminary research, prototyphing phase, dan assessment phase (Plomp dan Nieeven, 2013:
19). Tujuan penelitian ini untuk terbentuknya produk valid berupa infografis materi ekosistem yang dikaitkan dengan potensi lokal ekosistem mangrove di kawasan pantai cemara Muncar bagi kelas X MIPA SMAN 1 Muncar. Demikian