BAB II KAJIAN PUSTAKA
B. Kajian Teori
1. Penelitian dan Pengembangan
a. Pengertian Penelitian dan Pengembangan
Penelitian dan pengembangan adalah penelitian yang memiliki tujuan dalam perancangan dan pengembangan sebuah intervensi misalnya seperti program, strategi dan materi belajar-mengajar, produk, dan sistem sebagai solusi dalam permasalahan pendidikan (Plomp dan Nieveen, 2013:
15). Secara lebih mudah dipahami penelitian ini memiliki tujuan terbentuknya produk valid yang dibutuhkan dalam Pendidikan.
Dalam penelitian pengembangan dilakukan suatu analisis kebutuhan terlebih dahulu untuk menghasilkan produk. Agar produk ini memiliki fungsi bagi masyarakat, maka perlu dilakukan uji keefektifan pada produk yang dikembangkan, sehingga produk ini sifatnya longitudinal atau (bertahap bisa multi years) (Sugiyono, 2017: 297).
b. Penelitian Pengembangan Model Plomp
Desain pengembangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah adalah model plomp. Terdapat tiga tahapan dalam desain ini yaitu, preliminary research, development or prototyping phase, dan assessment phase (Plomp dan Nieeven, 2013: 19).
Berikut adalah tahapan-tahapannya : 1) Preliminary research
Tahap ini adalah tahap pertama pada model Plomp. Tahap preliminary research adalah penelitian pendahuluan dalam penelitian
20
pengembangan. Yang dilakukan ditahap pertama ini meliputi analisis kebutuhan, kajian kepustakaan, serta mengembangkan kerangka konseptual untuk penelitian tersebut. Pada tahap ini lebih berfokus pada validitas konten saja, sehingga tidak tidak terlalu banyak pada konsistensi isi dan kepraktisan dari produk yang dikembangkan (Plomp dan Nieeven, 2013: 19).
2) Development or prototyping phase
Tahap ini adalah tahap kedua yaitu pengembangan atau fase prototipe, maka langkah nya lebih berfokus pada konsistensi (validitas konstruk) dan utama nya pada kepraktisan dengan secara bertahap memperhatikan keefektifan dalam pengembangan produk.
Pengembangan urutan prototipe akan direvisi berdasarkan evaluasi formatif. Evaluasi ini ditunjukkan untuk melakukan perbaikan pada produk yang berlangsung dalam semua tahapan pada penelitian pengembangan. Evaluasi formatif dilakukan dengan penilaian para ahli yang menghasilkan kevalidan produk yang diharapkan. Pada evaluasi formatif terdiri dari beberapa evaluasi bertahap yaitu self evaluation (evaluasi oleh diri sendiri) atau screening pada produk. Dilanjutkan dengan tinjauan oleh para ahli (expert review) atau validasi pada produk yang dikembangkan. Kemudian dilakukan evaluasi one-to-one atau evaluasi satu per satu dengan perwakilan target audien tertentu. Setelah itu dilanjutkan dengan evaluasi pada kelompok kecil (small group) atau
disebut sebagai mikroevalusi terhadap produk yang dikembangkan (Plomp dan Nieeven, 2013: 36).
3) Assesment phase
Tahap ini adalah tahap terakhir pada model plomp yang disebut fase penilaian. Tahapan ini juga disebut sebagai semi evaluasi sumatif yang lebih berfokus pada kepraktisan dan keefektifan pada produk yang dikembangkan. Evaluasi sumatif bertujuan untuk menyimpulkan tentang pemenuhan spesifikasi produk sesuai ketentuan nya (Plomp dan Nieeven, 2013: 19). Pada tahap ini dilakukan uji lapangan (field test) atau uji kelompok besar terhadap produk yang dikembangkan.
2. Media Pembelajaran
a. Pengertian Media Pembelajaran
Menurut Arsyad (2014: 3), istilah media menurut bahasa latin yaitu
“medius” yang secara harfiah berarti tegah, pengantar, atau perantara. Arti media pada bahasa arab merupakan perantara. Sehingga media dapat dianggap menjadi pengantaran pesan dari pengirim kepada yang menerima pesan.
Sebagai perantara, media pembelajaran diartikan sebagai alat untuk pemantauan pelaksanaan pembelajaran sehingga suatu informasi atau pesan dapat tersampaikan dengan lebih jelas, efektif, serta efisien sesuai dengan tujuan pendidikan (Nurrita, 2018: 174). Oleh karena nya, seorang guru berperan untuk menghadirkan sebuah media pembelajaran inovatif agar informasi pesan dapat tersampaikan dan dapat diterima oleh siswa.
22
Adanya media pembelajaran selain memudahkan guru dalam menyampaikan materi pelajaran, juga sebaliknya dapat memudahkan siswa dalam proses pemahaman materi yang diberikan oleh guru.
b. Manfaat Media Pembelajaran
Menurut Nurrita (2018: 178) manfaat media pembelajaran adalah, sebagai berikut :
1) Manfaat media pembelajaran bagi guru yaitu :
- Sebagai pedoman untuk guru dalam mencapai tujuan pembelajaran sehingga materi dapat tersampaikan dengan lebih sistematis.
- Mendukung proses penyajian materi yang menarik dalam peningkatan kualitas pembelajaran.
2) Manfaat media pembelajaran bagi siswa yaitu :
- Sebagai peningkat motivasi dan minat belajar siswa sehingga siswa dapat berfikir dan menganalisis materi pembelajaran.
- Siswa lebih mudah memaknai proses pembelajaran dari materi yang sajikan.
c. Fungsi Media Pembelajaran
Menurut Nurrita (2018: 177) fungsi media yaitu bagi guru, yaitu membantu dalam penyampaian informasi atau materi kepada siswa dan bagi siswa media menjadi sumber belajar dalam mendapatkan pesan atau informasi dari seorang guru, serta pemahaman pengetahuan dapat terbentuk pada diri siswa.
d. Macam-macam media pembelajaran
Menurut Arsyad (2014: 79), media pembelajaran terbagi menjadi lima yaitu :
1) Media berbasis manusia
Contohnya yaitu guru, instruktur, tutor, bermain peran, kerja kelompok, dan lainnya.
2) Media berbasis cetakan
Contohya yaitu buku teks, buku penuntun, jurnal, majalah, dan kertas lembaran.
3) Media berbasis visual
Contohya yaitu charts, buku, peta, grafik, peta, ilustrasi atau gambar, bingkai atau pun slide.
4) Media berbasis audio-visual
Contohnya yaitu video, film, tape recorder, televisi, dan lainnya.
5) Media berbasis komputer.
Contohnya yaitu video yang interaktif dan pengajaran dengan bantuan komputer.
3. Infografis
a. Pengertian Infografis
Infografis menurut istilah dari bahasa Inggris “Infographic”, adalah kumpulan dari kata info dan grafik. Istilah tersebut mengacu pada bentuk visualisasi data untuk penyampaian informasi kompleks agar lebih mudah dan cepat dipahami oleh pembaca (Kominfo, 2018: ix). Adanya infografis
24
bertujuan untuk menjadikan seseorang lebih mudah mengingat serta mengetahui sebuah informasi tanpa harus membaca keseluruhan dari teks yang panjang. (Resnantika, dkk, 2018: 185). Infografis dalam pendidikan dapat digunakan untuk menyusun materi pembelajaran yang kompleks menjadi lebih sederhana, sehingga siswa lebih mudah menerima serta memahaminya.
Adapun pengembangan infografis kali ini berisi tentang konteks materi pembelajaran yang diintegrasikan dengan potensi lokal daerah sesuai pada kurikulum yang berlaku. Kriteria suatu infografis harus tersusun oleh beberapa komponen dalam suatu pembelajaran. Berikut ini adalah beberapa kriteria oleh Kominfo (2018:2). 1) Materi pembelajaran mengacu sesuai dengan tujuan pembelajaran, diamil berdasarkan kegiatan riset, dan referensi dari beberapa sumber yang valid; 2) Media yang dikembangkan berisi struktur visual yang bagus dengan keterbacaan yang lugas, dan (shareability) mudah untuk dibagikan; 3) Siswa, yaitu infografis ini sesuai dengan kebutuhan siswa dalam belajar.
b. Karakteristik Infografis
1) Sumber informasi objektif bisa meletakkan pengertian yang benar pada bentuk informasi yang terbuka bebas.
2) Runtutan peristiwa dalam bentuk infografis akan mudah dimengerti pembaca.
3) Konten isi dari informasi disajikan dengan bentuk visual yang baik dan tepat.
4) Menggunakan elemen yang tepat.
5) Mampu memberikan ekspresi bahasa visual yang sensasional.
6) Menyaring informasi yang perlu disampaikan (Taufik, 2012: 160).
c. Jenis-jenis Infografis
Menurut Kominfo (2018: ix), Terdapat dua format dalam mempublikasikan Infografis yaitu :
a. Infografis statis adalah infografis yang bentuknya terdiri dari gambar statis yang berisi tabel, grafis, teks, gambar ataupun ilustrasi.
b. Infografis Dinamis adalah infografis yang bentuknya video yang terdiri dari komposisi visual gerak atau biasa disebut animasi dari elemen yang digunakan dengan alur yang dapat dimengerti dengan mudah.
d. Unsur-unsur Infografis
Standar elemen-elemen pada infografis menurut Kominfo (2018:
9) yaitu :
a. Infografis Statis : (1) Judul, (2) Tata letak, (3) Ikon dan symbol, (4) Gambar dan ilustrasi, (5) Warna, (6) Tipografi
b. Infografis Dinamis : (1) Musik latar, (2) Sound effect, (3) Voiceover, (4) Animasi dan Efek visual, (5) Transisi
e. Langkah-langkah pembuatan infografis statis
a. Membuat draft poin infografis (sketsa infografis).
26
b. Membuat output copywriting atau isi konten materi yang akan ditampilkan pada infografis
c. Memilih style dan template yang akan digunakan d. Memproses desain infografis
e. Preview hasil dari infografis yang telah dibuat.
f. Mereview kembali dan proofreading.
g. Final art. File di export menjadi infografis yang siap untuk dipublikasikan (Kominfo, 2018: 29).
f. Kelebihan dan kekurangan infografis
Menurut Salsabila, dkk (2021: 280) keunggulan infografis adalah dapat memperjelas penyajian informasi yang mendukung dalam pelaksanaan pembelajaran, meningkatkan ketertarikan siswa terhadap materi, serta dapat membantu mengatasi keterbatasan indera dan ruang.
Kekurangannya adalah infografis lebih menekankan pada persepsi indera mata, sifat komunikasinya juga hanya satu arah, dan media infografis ini sulit untuk dipahami jika tidak terbiasa mengenalnya, sehingga membutuhkan bimbingan yang lebih terstruktur (Leryan, 2020:
31).
4. Materi Ekosistem a. Pengertian Ekosistem
Ekosistem merupakan interaksi atau pun hubungan saling timbal balik antara makhluk hidup satu dengan makhluk hidup lainnya, dan mahluk hidup kepada lingkungan nya. Komponen ekosistem terbagi
menjadi dua yaitu komponen hidup (biotik) dan komponen tak hidup (abiotik). Suatu ekosistem akan seimbang jika keseimbangan dan kelestarian ekosistem tersebut dijaga, hal ini melibatkan semua mahkluk hidup tak terkecuali manusia. Proses secara alamiah akan terjaga kelamgsungannya dengan ekosistem yang seimbang.
b. Komponen Ekosistem
Menurut Subardi (2009: 191), terdapat dua komponen di dalam ekosistem yaitu :
1) Komponen Abiotik
Komponen dalam ekosistem yang sifatnya tidak hidup.
Komponen tersebut meliputi : tanah; air; udara; suhu; sinar matahari;
kelembapan; altitude dan latitude.
2) Komponen Biotik
Komponen dalam ekosistem yang sifatnya hidup. Berdasarkan fungsinya dibedakan menjadi berikut yaitu : Produsen (memiliki kemampuan untuk melakukan sinstesis zat-zat organik); Konsumen (mendapatkan makanan dari organisme lain); Detritivor (sisa organisme yang sudah hancur); Dekomposer (penguraian zat organic menjadi zat anorganik) (Subardi, 2009: 193).
Sedangkan berdasarkan cara mendapatkan makanan nya dibagi menjadi 2 yaitu : 1) Organisme Autotrof (mampu mensistesi zat makanan nya sendiri. Autotrof dibedakan yaitu fotoautotrof dan kemoautotrof); 2) Organisme heterotrof (tidak dapat membuat
28
makanan nya sendiri). Ekosistem berdasarkan satuan organisasi kehidupan terdiri dari beberapa tingkatan yaitu : Individu, populasi, komunitas, ekosistem, bioma, biosfer (Subardi, 2009: 195).
c. Interaksi Antar Komponen Ekosistem 1) Interaksi antar komponen biotik
Semua organisme selalu berhubungan dengan organisme lain, baik antar organisme yang sejenis, organisme yang berbeda jenis, dan interaksi yang terjadi antar populasi. (Yusa dan Maniam: 199).
Berikut macam-macam interaksi antar komponen biotik :
Interaksi antar organisme
Menurut Huda (2020: 10), Interaksi ini dikategorikan sebagai berikut :
1) Netral : Hubungan antara organisme di habitat yang sama dan kedua organisme ada di tengah-tengah yaitu tidak diuntungkan dan tidak dirugikan.
2) Predasi : Hubungan yang terjadi antara yang dimakan dengan yang memakan (predator).
3) Parasitisme : Hubungan yang terjadi antara organisme yaitu dengan kondisi satu organisme beruntung, sedangkan organisme lainnya juga tidak rugi.
4) Komensalisme : Interaksi yang terjadi diantara dua organisme yang spesies nya berbeda dan hidup dalam lingkup bersama.
Interaksi antarpopulasi
Menurut Huda (2020: 11), Interaksi dalam komunitas dapat terjadi antar populasi baik langsung ataupun tidak langsung.
Berikut contohnya :
1) Kompetisi : Interaksi akan terjadi apabila antarpopulasi memiliki kepentingan yang sama, sebagai akibatnya akan terjadi persaingan untuk memperoleh kebutuhan nya.
2) Alelopati : Interaksi yang terjadi ketika satu populasi membuat zat yang dapat menghambat pertumbuhan populasi lain.
Interaksi Antar Komunitas
Interaksi yang terjaadi pada daerah tertentu dengan perbedaan populasi namun posisi tempat yang sama. Tidak hanya melibatkan organisme, interaksi ini juga melibatkan aliran energi dan makanan (Huda, 2020: 11).
2) Interaksi antara komponen biotik dan abiotik
Interaksi antara kedua komponen ini dapat menyebabkan terjadinya beberapa hal : aliran energi, tingkat trofik, keanekaragaman hayati, dan siklus materi. Keberadaan interaksi tersebut membuat ekosistem menjadi seimbang. (Huda, 2020: 12).
30
d. Tipe-tipe ekosistem
Tipe ekosistem terbagi menjadi dua yaitu : 1) Ekosistem Darat
Ekosistem yang memiliki bentuk lingkungan fisiknya berupa daratan.
Ekosistem darat alami yang terkenal di Indonesia terbagi menjadi tiga yaitu : 1) Ekosistem vegetasi dataran rendah ; 2) Ekosistem pegunungan; 3) Vegetasi Monsun (Yusa dan Maniam, 2016: 207) 2) Ekosistem Perairan
Ekosistem yang memiliki bentuk lingkungan fisiknya berupa perairan.
Yang termasuk dalam ekosistem perairan yaitu : - Ekosistem Air Tawar
Ekosistem ini menunjukkan adanya suhu yang bervariasi, kekurangan cahaya, dan dipengaruhi oleh iklim dan cuaca.
Berdasarkan aliran airnya, ekosistem ini terbagi dua yaitu air yang mengalir (lotik), seperti sungai dan air yang tidak mengalir (lentik), seperti rawa dan danau. Habitat air tawar ini juga saling berkesinambungan antara habitat darat dan habitat laut (Yusa dan Maniam, 2016: 207).
- Ekosistem Air Laut
Ekosistem ini mempunyai kadar garam atau salinitas yang tinggi sekitar 3,5%. Namun, setiap daerah memiliki tingkat salinitas yang berbeda-beda. Ekosistem air laut lainnya contohnya
yaitu ekosistem estuari, ekosistem terumbu karang, dan ekosistem pantai (Yusa dan Maniam, 2016: 206).
e. Aliran energi dalam ekosistem
Serangkaian proses berpindahnya energi dari satu bentuk ke bentuk energi lainnya. Dari energi utama di bumi yaitu matahari, kemudian dilanjutkan ke produsen, produsen ke konsumen primer, consumer primer ke konsumen tingkat tinggi sampai pada proses penguraian di tanah (Huda, 2020: 19).
f. Rantai makanan dan jaring-jaring makanan
Rangkaian pemindahan materi dan energi melibatkan serangkaian organisme di peristiwa makan memakan dan berlangsung secara searah.
Dan jarring-jaring makanan merupakan rantai makanan yang proses nya saling berkesinambungan dan membentuk suatu jalinan yang kompleks.
(Subardi, 2009: 200).
g. Daur Biogeokimia
Daur Biogeokimia adalah proses pelibatan unsur senyawa kimia dengan perpindahan serangkaian organisme (Subardi, 2009: 201).
Terdapat beberapa daur yaitu : a. Daur Nitrogen (N)
Daur nitrogen merupakan pemindahan nitrogen dari atmosfer ke dalam tanah. Nitrogen adalah penyusun senyawa terbesar di atmosfer.
Nitrogen (N2) dapat diserap oleh tumbuhan dalam bentuk nitrat (NO3).
Sehingga N2 di perlu di fiksasi terlebih dahulu untuk menghasilkan
32
nitrat, fiksasi dapat dilakukan oleh bakteri pada akar leguminosa dan ganggang. Halilintar juga menyebabkan terbentuknya nitrat, kemudian baru nitrat tumbuhan akan menyerap nitrat membentuk protein tumbuhan sebagai konsumsi bagi manusia atau hewan yang jika dikeluarkan akan menghasilkan feses, urin, ataupun ekstret lain dari nitrogen. Zat yang dihasilkan tersebut akan diuraikan oleh mikroorganisme membentuk ammonium. Ammonium kemudian diubah menjadi nitrit melalui nitritasi dan nitrit diubah menjadi nitrat melaui nitrifikasi oleh bakteri dan tumbuhan bagian akar akan menyerap kembali senyawa nitrat tersebut. Dan nitrat di dalam tanah akan diubah menjadi nitrogen bebas (N) untuk kembali ke udara (Subardi, 2009: 202).
b. Daur Karbon (C)
Daur karbon yang berlangsung dimulai dari adanya karbon dioksida (CO2) yang ada di udara dan larut dalam air. Kemudian tumbuhan akan mengubah karbon dioksida (CO2) menjadi karbohidrat melalui fotosintesis. Hasil dari fotosintesis adalah Oksigen (O2) dan digunakan untuk respirasi oleh hewan maupun manusia yang menghasilkan CO2 kembali (Huda, 2020: 38).
c. Daur fosfor (P)
Fosfor dalam bentuk ATP. Energi ini merupakan salah satu energi yang dibutuhkan oleh makhluk hidup, khususnya manusia.
Selain manusia, tumbuhan juga menggunakan cadangan fosfat untuk
sintesis dalam tumbuhan. Dan fosfat akan berpindah ke tingkatan trofik yang lebih tinggi melalui adanya rantai makanan. Apabila organisme sudah mati, fosfor yang diekskresikan oleh hewan akan kembali ke lingkungan (Huda, 2020: 40).
d. Daur Sulfur (S)
Proses daur sulfur dimulai dari preduksian sulfur oleh bakteri menjadi sulfida atau hydrogen ulfida. Penguraian bahan organik yang sudah mati biasanya juga menghasilkan hidrogen sulfida. Kemudian tumbuhan menyerap ion sulfat diserap dan mengubahnya menjadi protein. Apabila jaringan tumbuhan atau hewan mati, maka akan terjadi penguraian yang membentuk hydrogen sulfida kembali (Huda, 2020: 40).
e. Daur Air
Daur air terdapat daur pendek dan daur panjang. Daur air pendek dimulai dari penguapan oleh air di laut, kemudian uap air di udara akan mengalami kondensasi sehingga terbentuk titik-titik air yang nantinya jatuh menjadi hujan yang kemudian akan kembali ke lautan. Untuk daur air panjang yaitu dimulai dari adanya berbagai proses penguapan yang kemudian jatuh ke daratan dan akan kembali ke laut melalui sungai atau pun aliran air lainnya (Huda, 2020: 38).
34
5. Potensi Lokal a. Potensi Lokal
Potensi lokal adalah kemampuan, kekuatan, daya yang ada di suatu daerah tertentu, apabila diberdayakan dan dikembangkan maka akan bermanfaat untuk masyarakatnya, potensi yang dimaksud yaitu berupa sumber daya alam yang dimiliki oleh daerah tersebut (Septiani, 2017: 6).
Potensi lokal ini dipengaruhi oleh kondisi geografis, iklim, dan juga bentang alam yang ada didaerah tersebut. Setiap daerah memiliki keadaan alam yang berbeda, sehingga tiap daerah memiliki keunikan serta keragaman yang menjadi ciri khas potensi lokal daerah tersebut.
Sebagai potensi lokal daerah, dalam pendidikan potensi tersebut dapat dimanfaatkan sebagai sumber informasi atau sumber dalam kegiatan belajar siswa, khusus nya pada bidang biologi yang salah satu lingkup keilmuannya adalah lingkungan. Segala potensi lokal yang ada perlu diperhatikan dan dikaji oleh seorang guru untuk bisa dijadikan sebagai sumber belajar siswa dalam pembelajaran. Proses pembelajaran yang lebih bervariasi dan kaya akan materi bagi siswa dapat dioptimalkan dengan adanya potensi lokal tersebut. Sehingga diperlukan ketelitian analisis potensi lokal di masing-masing daerah agar siswa dapat memperoleh kecakapan hidup sesuai dengan karakteristik daerah serta pengalamannya sehari-hari (Situmorang, 2016: 52). Selain itu, pemanfaatan potensi lokal daerah dalam pembelajaran membuat siswa lebih memaknai belajarnya,
karena siswa dihadirkan peristiwa yang sifatnya aktual dan dapat diketahui kebenaran nya.
b. Potensi Lokal Hutan Mangrove Di Kawasan Pantai Cemara Kawang Muncar
Kabupaten Banyuwangi adalah daerah yang memiliki sumber daya alam melimpah di berbagai bagian daerahnya. Salah satu sumber daya alam dengan potensi lokal yang dimiliki adalah hutan mangrove. Hutan mangrove merupakan vegetasi pantai tropis dan subtropis dalam komunitasnya yang tumbuh dan berkembangnya dipengaruhi dengan adanya pasang surut air laut. Umumnya mangrove ditemukan di wilayah pesisir dan tumbuh di lumpur, pasir, air payau dibawah pengaruh pasang surut air laut, tetapi karena ada persyaratan dalam pertumbuhannya seperti pantai yang terlindungi, adanya sedimen dari muara, sehingga tidak semua pantai dapat ditumbuhi oleh mangrove (Rahim dkk, 2017: 2). Komunitas vegetasi ini dapat membentuk ekosistem mangrove sebagai habitat yang mencerminkan adanya interaksi yang saling bertimbal balik antara organisme satu dengan organisme lain, organisme itu sendiri atau lingkungan sekitarnya yaitu di wilayah pesisir.
Hutan mangrove yang ada di Banyuwangi tersebar cukup luas di sepanjang garis pantai, yaitu sekitar 1.333,7 Ha meliputi wilayah pantai utara hingga pantai selatan yang mencakup beberapa kecamatan yaitu Wongsorejo, Kalipuro, Banyuwangi, Kabat, Muncar, Tegaldlimo, Purwoharjo, dan Pesanggaran. Salah satu kawasan ekosistem hutan
36
mangrove di kabupaten Banyuwangi yang memiliki luasan cukup besar dengan kondisi yang masih terjaga adalah ekosistem hutan mangrove Muncar yang ada di kawasan Teluk Pang-Pang Banyuwangi. Ekosistem hutan mangrove daerah Muncar ini memiliki luas area sekitar 850 Ha yang tersebar di dua desa yaitu desa Wringinputih dan Kedungringin. (Neka, 2019: 32). Salah satu bagian lokasi hutan mangrove di Muncar yang berada di kawasan teluk pang-pang adalah hutan mangrove di Kawasan pantai cemara kawang Muncar. Hutan mangrove ini tepatnya berada di dusun kawang, Muncar, Banyuwangi. Untuk luasnya diperkirakan memiliki luas sekitar 20 hektar (Astiningseh, Y. Y, dkk : 2022: 218)
Sebagian besar hewan di pesisir laut mencari makan, bersarang atau pun berkembangbiak di hutan mangrove tersebut. Vegetasi yang ada dengan beraneka ragam biota, burung, serta plasma nutfah didalamnya membuat ekosistem menjadi keunikan tersendiri. Saat ini hutan mangrove di kawasan pantai cemara kawang Muncar ini menjadi salah satu pusat konservasi mangrove yang ada di Banyuwangi, kelestariannya dijaga untuk lingkungan, baik sebagai penahan abrasi dan juga sumber ekonomi bagi masyarakat, tetapi selain hal tersebut hutan mangrove juga berpotensi sebagai sumber informasi dan sumber belajar bagi siswa.
6. Kerangka Berfikir
Dalam pendidikan sering terjadi salah satu permasalahan yaitu lemahnya proses pembelajaran. Salah satu peningkatan kualitas pendidikan untuk menguatkan suatu proses pembelajaran adalah media pembelajarannya. Media pembelajaran yang digunakan di sekolah hanya
terbatas pada media cetak yaitu LKS dari penerbit dan buku paket yang hanya dipinjamkan oleh perpustakaan, membuat minat belajar siswa berkurang. Pada materi ekosistem siswa objek belajar materi sering kita jumpai dalam kehidupan nyata, namun keterangan materi yang banyak seringkali membuat siswa kurang minat dalam belajar serta memahami materi tersebut. Sehingga akan lebih menarik jika materi dibelajarkan dengan media pembelajaran yang mendekatkan siswa dengan objek nyata di lingkungan sekitarnya. Hal yang dapat dilakukan yaitu dengan memanfaatkan potensi lokal yang dimiliki oleh masing-masing daerah tertentu. Potensi lokal ini dapat dimanfaatkan sebagai sumber informasi pembelajaran adalah ekosistem mangrove di daerah Muncar, salah satunya ekosistem hutan mangrove di kawasan pantai cemara kawang Muncar.
Keunikan ekosistem hutan mangrove tersebut dapat diambil dan dijadikan sebagai suatu bahan materi pembelajaran dalam pengembangan media pembelajaran dalam bentuk infografis. Sehingga disini, peneliti termotivasi untuk melaksanakan penelitian pengembangan yaitu media pembelajaran infografis yang menarik dengan konten potensi lokal yaitu ekosistem hutan mangrove di kawasan pantai cemara kawang Muncar yang dikaitkan dengan materi ekosistem dalam pembelajaran biologi.
38