BAB III METODE PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN
C. Uji Coba Produk
3. Jenis Data
Peneliti menggunakan dua jenis data yaitu deskriptif kualitatif dan deskiptif kuantitatif. Data kualitatif yaitu data hasil observasi lapangan, hasil wawancara guru biologi, masukan dan saran oleh validator dan siswa dalam proes uji coba. Data kuantitatif yaitu berupa data bilangan yang didapatkan dari sebaran angket analisis kebutuhan siswa, angket validator, angket respon siswa, dan hasil tes.
46
4. Instrumen Pengumpul Data.
a) Wawancara
Tujuan kegiatan ini untuk mendapatkan informasi lebih mendalam dalam memperkuat hasil angket analisis kebutuhan, untuk mengetahui pelaksanaan pembelajaran, metode, bahan ajar, atau pun media yang digunakan. Peneliti menggunakan wawancara tidak berstruktur, namun peneliti memiliki poin-poin yang menjadi pegangan dalam memperoleh informasi tersebut. Wawancara ini ditunjukkan kepada bapak Rois sebagai guru biologi kelas sepuluh di SMAN 1 Muncar.
b) Observasi
Observasi dilakukan di hutan mangrove kawasan pantai cemara kawang Muncar untuk menggali informasi mengenai komponen, karakteristik, dan interaksi yang terjadi di dalam ekosistem hutan mangrove sebagai bahan konten materi yang dikaitkan dengan materi ekosistem dalam pengembangan infografis tersebut.
c) Angket
Pengumpulan data pada angket ini yaitu dengan pemberian sejumlah pertanyaan atau pernyataan tertulis responden yang terlibat (Sugiyono, 2017: 142). Disini menggunakan tiga macam angket, ialah.: 1) angket analisis kebutuhan; 2) angket validator; dan 3) angket respons siswa. Untuk angket analisis kebutuhan diberikan pada siswa kelas X MIPA 2 SMAN 1 Muncar Banyuwangi. Untuk angket
validasi ditunjukkan kepada validator ahli materi, ahli media, dan validator pengguna. Untuk respons siswa ditunjukkan kepada siswa kelas X MIPA 2 SMAN 1 Muncar Banyuwangi.
Tabel 3.1 Kisi-kisi penyusunan angket ahli materi
No. Aspek Komponen
1. Aspek Isi/Materi.
Relevan antara materi dengan KI.dan KD.
Kelengkapan. suatu materi.
Keluasan. suatu materi.
Kedalaman suatu materi..
Kemudahan. dalam pemahaman materi Kejelasan materi
Keruntutan materi
Ketepatan ejaan sesuai PUEBI Kosakata yang mudah dipahami
Keefektifan dan ketepatan struktur kalimat Diadopsi dari (Septiani, dkk, 2021: 87) Tabel 3.2 Kisi-kisi penyusunan angket ahli media
No. Aspek. Komponen
1. Aspek.
Penyajian/
Tampilan.
Tata letak tampilan Kejelasan teks
Kemenarikan gambar Kualitas gambar
Keselarasan antara gambar dan informasi Komposisi warna
Pemilihan latar belakang
Kemudahan untuk memahami desain (layout)
Kejelasan materi
Kemudahan siswa mengakses materi
Diadopsi dari (Septiani, dkk, 2021: 87) d) Tes
Pada instrumen tes kali ini digunakan soal pilihan ganda. Soal disusun dan disesuaikan dengan isi konten materi pada infografis yaitu tentang ekosistem yang telah dikaitkan dengan potensi lokal ekosistem hutan mangrove di kawasan pantai cemara kawang Muncar. Tes
48
diberikan guna mengetahui keefektifan produk yang diberikan sebelum (pretest) dan sesudah (posttest) menggunakan infografis.
5. Teknik Analisis Data
Analisis data penelitian ini terdiri dari analisis data validasi dan data respon yang bertujuan untuk. memperoleh tingkat kevalidan produk dan respons siswa dengan menentukan presentasenya serta keefektifan produk yang dikembangkan dengan uji paired samples t-test.
a. Analisis Data.Hasil Validasi
Bentuk analisis data ini berupa skor hasil pengisian angket yang nantinya dibagikan pada validator. Hasil pengisian angket valiasi dilakukan berdasarkan data skala likert yang digunakan untuk penghitungan skor nya dalam uraian yaitu:
Tabel 3.3 Skor Validasi Produk
Kriteria. Skor.
Sangat Baik (SB) . 5.
Baik (B) . 4.
Cukup (C) . 3.
Kurang (K) . 2.
Sangat Kurang (SK) . 1.
Sumber : Sugiyono (2017: 94)
Untuk perhitungan presentasenya dihitung dengan rumus dari Akbar (2017: 83) :
%
Keterangan :
V-ah = Validasi ahli
TSe = Total skor empirik yang diperoleh TSh = Total skor yang diharapkan
Kemudian hasil presentase dapat dikategorikan berdasarkan kevalidan produk pada tabel dibawah ini.:
Tabel 3.4 Kriteria Kevalidan Produk Kriteria Validitas
(%)
Kategori.
85,01% – 100%.. Sangat valid atau dapat digunakan tanpa revisi.
70,01% – 85,00%. Cukup valid atau dapat digunakan namun perlu revisi kecil.
50,01% – 70,00%. Kurang valid dapat digunakan namun perlu revisi besar.
20,01% – 50,00%. Tidak valid atau tidak boleh dipergunakan.
0% – 20%. Sangat tidak valid atau tidak boleh dipergunakan.
Sumber : (Akbar, 2017: 41) b. Analisis Respons Siswa
Analisis data respons siswa terhadap kemenarikan produk berbentuk skor dari hasil angket yang nantinya diisi dan dibagikan pada siswa. Skala likert digunakan untuk penghitungan skor nya dalam uraian yaitu:
Tabel 3.5 Skor Respons Siswa
Kriteria. Skor.
Sangat Baik (SB) . 5.
Baik (B). 4.
Cukup (C) .. 3.
Kurang (K) . 2.
50
Sangat Kurang (SK) . 1.
Sumber : Sugiyono (2017: 94)
Untuk perhitungan presentasenya dihitung dengan rumus dari Akbar (2017: 83) :
%
Keterangan :
V-ah = Validasi audience
TSe = Total skor empirik yang diperoleh TSh = Total skor yang diharapkan
Kemudian hasil presentase dapat dikategorikan berdasarkan kemenarikan produk pada tabel dibawah ini :
Tabel 3.6 Kriteria Hasil Respon Siswa Kriteria Validitas (%) Kategori
81,00% – 100,00 %.. .Sangat Menarik.
61,00% – 80,00%.. .Menarik.
41,01% – 60,00%.. .Cukup Menarik.
21,00% – 40,00%.. .Tidak Menarik.
00,00% – 20,00%.. .Sangat Tidak Menarik.
Sumber : Akbar (2017 : 42) c. Analisis Keefektifan Produk
Analisis ini dilakukan guna menguji dan mengetahui efektivitas dari produk yang dikembangkan dengan mengukur perbandingan hasil pretest dan posttest. Adapun desain eksperimen menggunakan One Group Pretest Posttest Design.
Berikut model desain. eksperimen diadaptasi dari Jakni (2016:
70) :
Keterangan:
O1 : Nilai pre-test (sebelum diberi perlakuan) .
X : Perlakuan.
O2 : Nilai post-test (setelah diberi perlakuan)
Untuk penggunaan desain ini, terdapat uji prasyarat untuk penentuan uji statistik yang digunakan. Uji prasyarat nya yatu uji normalitas dari data pretest dan postest. Uji ini bertujuan untuk melihat data populasi berdistribusi normal atau pun tidak. Jika berdistribusi normal, maka pengolahan data berupa statistik parametrik seperti uji T (t-test) (Jakni, 2016: 139). Adapun uji statistik data menggunakan software SPSS versi 26. Interpretasi uji yang dipakai adalah jenis Shapiro-Wilk, karena jumlah sampel ≤50. Data dikatakan berdistribusi normal apabila nilai signifikansi P (Sig.) >
0,05 (Setyawan, 2021:12).
Setelah data berdistribusi normal, dilanjutkan dengan pengujian signifikansi rata-rata yang dilakukan dengan uji paired sample t-test untuk mengetahui efektivitas produk menggunakan SPSS versi 26. Uji ini digunakan untuk mengetahui adanya perbedaan nilai rata-rata antara sebelum dan sesudah menggunakan produk (Siregar, 2013:
O1 X O2
52
188). Hasil uji coba yang kemudian dibandingkan dengan ttabel dengan taraf α = 5% atau 0,05.
Dan dengan hipotesis penelitian yaitu:
H0: Tidak ada perbedaan yang signifikan antara hasil belajar sebelum dan sesudah penggunaan infografis
Ha: Ada perbedaan yang signifikan antara hasil belajar sebelum dan sesudah penggunaan infografis
Pengambilan keputusannya yaitu :
1) Jika sig < α (0,05) maka hasilnya signifikan, yang artinya H0 ditolak, Ha diterima.
2) Jika sig > α (0,05) maka hasilnya tidak signifikan, yang artinya H0 diterima, Ha ditolak.
53 BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN A. Penyajian Data Uji Coba
Infografis ekosistem hutan mangrove berbasis potensi lokal di kawasan pantai cemara kawang Muncar dikembangkan menggunakan model plomp. Hasil dari tahapan-tahapan nya yaitu sebagai berikut :
1) Preliminary Research (Penelitian Pendahuluan)
Preliminary research adalah tahapan awal pada model plomp. Pada tahap ini bertujuan untuk mengetahui dasar permasalahan yang ada dalam proses pembelajaran. Istilah preliminary research disebut juga analisis kebutuhan atau analisis masalah. Disini tersusun dari tiga tahap yaitu :
a. Analisis kebutuhan dan konteks
Analisis kebutuhan dan konteks dilakukan untuk mengetahui kebutuhan siswa. Tahap ini diawali dengan wawancara kepada guru biologi kelas X MIPA SMAN 1 Muncar dan angket analisis kebutuhan yang disebarkan kepada siswa kelas X MIPA SMAN 1 Muncar. Hasil wawancara menunjukkan bahwa dalam pembelajaran biologi membutuhkan suatu media yang dapat mendukung pembelajaran siswa, karena media yang ada kurang efektif dan sangat terbatas pada buku LKS dan paket yang dipinjam dari perpustakaan. Dalam proses pembelajaran guru menggunakan LKS ataupun paket tersebut sebagai acuan dan media yang digunakan.
54
Dan berdasarkan hasil analisis kebutuhan siswa, menunjukkan bahwa 90,5% siswa menyatakan dengan penggunaan media pembelajaran dapat lebih mudah dalam memahami materi yang
diberikan dan 100 % siswa tertarik dengan media pembelajaran yang dilengkapi dengan ilustrasi ataupun
gambar.
Ekosistem hutan mangrove yang ada di kawasan pantai cemara kawang Muncar merupakan suatu potensi lokal dari sumber daya alam yang bermanfaat bagi masyarakat dan lingkungannya. Hasil pengkajian yang dilakukan yaitu hutan mangrove ini memiliki luas kurang lebih 20 Ha yang disampaikan oleh bapak Umar selaku ketua KUB Mina Sero Laut. Sebelumnya wilayah tersebut merupakan wilayah yang tereksploitasi dan rusak, hingga akhirnya masyarakat sekitar sadar akan pentingnya keberadaan hutan mangrove. Dan akhirnya masyarakat menjadikan kawasan hutan ini menjadi kawasan konservasi bagi pohon cemara dan juga pohon mangrove tersebut. Setiap hutan mangrove memiliki suatu pola zonasi, setiap lokasi memiliki zonasi yang berbeda- beda, hutan mangrove disini memiliki pola zonasi campuran yang didalamnya terdapat beberapa spesies atau jenis pohon mangrove yang meliputi Rhizopora mucronata, Rhizopora apiculata, Sonneratia alba, dan Sonneratia caseolaris. ekosistem hutan mangrove ini disusun oleh komponen biotik dan abiotik yang khas yang meliputi ikan gelodok, kepiting uca, kepiting bakau, burung trinil, burung blekok, algae hijau,
ikan kerongan, udang werus, udang ronggeng, kerang totok, kerang darah, tiram daging, keong bakau, kelomang bakau, teritip, udang windu, dan cacing bakau. Dan komponen abiotic yang meliputi tanah berlumpur, tanah berpasir, cangkang kerang, air laut (surut), air laut (pasang), keasaman (pH), cahaya matahari, suhu (27-33℃), salinitas (25%).
Adapun interaksi yang terjadi di hutan mangrove yaitu keong dengan akar Rhizopora mucronata, keong dengan tanah lumpur, air laut dengan tanah lumpur, semut rang-rang dan daun Sonneratia alba, burung trinil dan ikan gelodok, kepiting uca dan kepiting bakau, burung blekok dengan pohon mangrove (S. alba, S. caseolaris, R. mucronate, R.
apiculate), cacing dengan tanah hutan mangrove, pohon mangrove dengan pohon mangrove jenis lainnya. Ekosistem hutan mangrove ini juga berada di kawasan dekat dengan pabrik tambak udang, sehingga terdapat ketidakseimbangan lingkungan yang terjadi yaitu adanya pembuangan limbah yang mengarah langsung ke ekosistem tersebut, sehingga dapat mengganggu pertumbuhan pohon mangrove dan habitat di sekitarnya. Selain sebagai tempat koservasi hutan mangrove disini juga dimanfaatkan sebagai sumber ekonomi masyarakat dilihat dari adanya jaring tempat perkembangbiakan kepiting bakau, dan juga tempat bagi nelayan mencari ikan di pantai setelah rimbunan pohon mangrove, hutan mangrove juga sebagai penyaring sampah dan mengurangi adanya abrasi oleh air laut, dapat dilihat dari adanya sampah yang berkumpul di bawah akar-akar pohon mangrove tersebut.
56
b. Pengkajian teori dan literatur :
Pada penelitian kali ini peneliti melakukan peninjauan pada sumber literatur yang digunakan oleh guru di sekolah yaitu terbatas pada LKS dan buku paket yang dipinjamkan oleh pihak perpustakaan sekolah.
Adapun LKS dan buku paket di dominasi dengan media berwarna hitam putih sehingga dapat membuat siswa merasa monoton dan kurang tertarik dalam mempelajari materi yang diberikan.
Dan untuk pengembangan infografis ini peneliti menggunakan beberapa buku tentang studi pustaka pada jurnal dan juga buku yang berkaitan dengan pengembangan infografis ini, diantaranya buku dari kominfo yang berjudul kiat bikin infografis keren, hutan mangrove dan manfaatnya oleh Dewi K, dan lainnya yang dapat menunjang kebutuhan dalam pengembangan ini.
c. Pengembangan kerangka konseptual
Pengembangan kerangka konseptual dilakukan untuk menentukan materi yang dibutuhkan dalam penelitian pengembangan media ini yang berupa infografis untuk mencapai indikator sesuai ketetapan pada pencapaian kompetensi tersebut.
Pada tahap ini juga dilakukan dengan menganalisis kurikulum pada kompetensi inti (KI), kompetensi dasar (KD), dan tujuan pembelajaran materi ekosistem pada kurikulum 2013 edisi revisi. Analisis kurikulum ini bertujuan untuk melihat cakupan materi dan dalam perumusan indikator yang sesuai dengan KI dan KD.
Adapun hasil analisis kurikulum sebagai berikut : Tabel 4.1 KI dan KD
Kompetensi Inti (KI) Kompetensi Dasar (KD) 1. Menghayati dan mengamalkan ajaran
agama yang dianutnya
1.3 Peka dan peduli terhadap permasalahan lingkungan hidup, menjaga dan menyayangi lingkungan sebagai manifestasi pengalaman ajaran agama yang dianutnya.
2. Menghayati dan mengamalkan perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli (gotong royong, kerja sama, toleransi, damai), santun responsive dan pro-aktif dan menunjukkan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dan pergaulan dunia
2.1 Berprilaku ilmiah: teliti, tekun, jujur terhadap data dan fakta, disiplin, tanggung jawab, dan peduli dalam observasi dan eksperimen, berani dan santun dalam mengajukan pertanyaan dan berargumentasi, peduli lingkungan, gotong royong, bekerjasama, cinta damai, berpendapat secara ilmiah dan kritis, responsif dan proaktif dalam setiap tindakan dan dalam melakukan pengamatan dan
percobaan di dalam
kelas/laboratorium maupun di luar kelas/laboratorium
3. Memahami, menerapkan, menganalisis pengetahuan faktual, konseptual, prosedural berdasarkan rasa ingintahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah.
3.10 Menganalisis komponen- komponen ekosistem dan interaksi antar komponen tersebut.
4. Mengolah, menalar, dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri dan mampu menggunakan metoda sesuai kaidah keilmuan.
Menyajikan karya yang menunjukkan interaksi antar komponen ekosistem (jaring- jaring makanan, siklus Biogeokimia).
58
Indikator Pembelajaran :
1. Mendeskripsikan bentuk interaksi yang terjadi dalam ekosistem hutan mangrove kawasan pantai cemara kawang Muncar.
2. Mengidentifikasi komponen penyusun ekosistem hutan mangrove kawasan pantai cemara kawang Muncar.
3. Menganalisis dampak ketidakseimbangan lingkungan yang terjadi di ekosistem hutan mangrove kawasan pantai cemara kawang Muncar.
4. Membuat rantai makanan berdasarkan fakta di dalam ekosistem hutan mangrove Kawasan pantai cemara kawang Muncar.
Adapun konten materi yang dibutuhkan dalam penelitian ini adalah bab ekosistem, yang disajikan sebagai berikut :
1. Profil ekosistem hutan mangrove di kawasan pantai cemara Muncar.
2. Komponen penyusun ekosistem hutan mangrove di kawasan pantai cemara Muncar.
3. Interaksi yang terjadi pada ekosistem hutan mangrove di kawasan pantai cemara Muncar.
4. Rantai makanan ekosistem hutan mangrove di kawasan pantai cemara Muncar.
5. Ketidak seimbangan ekosistem hutan mangrove di kawasan pantai cemara Muncar.
6. Manfaat ekosistem hutan mangrove di kawasan pantai cemara Muncar.
7. Peran manusia pada ekosistem hutan mangrove di kawasan pantai cemara Muncar.
2) Development or Prototyphing Phase (Pengembangan atau Fase Prototipe) Development or Prototyphing phase adalah tahap kedua pada model plomp. Pada fase ini lebih berfokus pada konsistensi atau validitas konstruk pada konsistensi (validitas konstruk) dan utama nya pada kepraktisan dengan secara bertahap memperhatikan keefektifan dalam pengembangan produk.
Fase ini terdiri dari dua tahapan yaitu : a. Tahap perancangan :
Tahap ini dilakukan dengan menyusun prototipe pada infografis sebagai berikut :
1. Penyusunannya diawali dengan penyusunan poin-poin konten materi infografis terlebih dahulu atau sketsa dari infografis yang akan dikembangkan.
Adapun poin-poin tersebut diantaranya adalah :
Judul : Tahukah kamu ekosistem hutan mangrove di kawasan pantai cemara kawang Muncar?
Tabel 4.2 Poin-poin sub media
No. Poin-poin Sub Media
1. Kompetensi Dasar (KD) dan Tujuan Pembelajaran 2. Peta Konsep
3. Profil Ekosistem Hutan Mangrove Kawasan Pantai Cemara Muncar
4. Komponen Ekosistem Hutan Mangrove Kawasan Pantai Cemara Muncar
5. Interaksi pada Ekosistem Hutan Mangrove Kawasan Pantai Cemara Muncar
6. Rantai Makanan pada Hutan Mangrove Kawasan Pantai
60
Cemara Muncar
7. Fakta Unik Daur Karbon pada Hutan Mangrove Kawasan Pantai Cemara Muncar
8. Ketidak seimbangan Hutan Mangrove Kawasan Pantai Cemara Muncar
9. Manfaat Hutan Mangrove Kawasan Pantai Cemara Muncar 10 Peranku untuk Hutan Mangrove Kawasan Pantai Cemara
Muncar 11. Pojok Ilmu
2. Kemudian dilanjutkan dengan pembuatan copywriting yang disesuaikan juga dengan hasil observasi pengkajian konteks di ekosistem hutan mangrove kawasan pantai cemara kawang Muncar dan nantinya akan didesain dalam infografis. Hasil copywriting dilengkapi dengan penambahan gambar yang sesuai pada redaksi tulisan yang diperoleh dari hasil observasi di ekosistem hutan mangrove kawasan pantai cemara kawang Muncar.
Tabel 4.3 Poin poin sub media dan copywriting No. Poin-poin sub media Copywriting
1. Kompetensi Dasar (KD) dan Tujuan Pembelajaran
KD 3.10 Menganalisis komponen- komponen ekosistem dan interaksi antar komponen tersebut.
Tujuan Pembelajaran
1. Siswa dapat mendeskripsikan bentuk interaksi yang terjadi dalam ekosistem hutan mangrove kawasan pantai cemara kawang Muncar.
2. Siswa dapat mengidentifikasi komponen penyusun ekosistem hutan mangrove kawasan pantai cemara kawang Muncar.
3. Siswa dapat menganalisis dampak ketidakseimbangan lingkungan yang terjadi di ekosistem hutan mangrove kawasan pantai cemara kawang Muncar 4. Siswa dapat membuat rantai makanan
berdasarkan fakta di dalam ekosistem
hutan mangrove Kawasan pantai cemara kawang Muncar.
2. Peta Konsep Angka + sub judul masing-masing 3. Profil Ekosistem Hutan
Mangrove Kawasan Pantai Cemara Muncar
Ekosistem hutan mangrove Muncar merupakan ekosistem yang berada di kawasan konservasi mangrove dan Cemara, terletak di kawasan teluk Pang-pang, Desa Wringinputih, Kecamatan Muncar, Kabupaten Banyuwangi.
Tumbuh di wilayah estuari (payau) dan dalam keberlangsungan hidupnya dipengaruhi oleh pasang surut air laut di tanah yang berlumpur dan berpasir.
Keberadaan di masyarakat memiliki fungsi ekologis, biologis, ekonomis, dan lainnya.
Hutan mangrove ini memiliki pola zonasi campuran, yang mana setiap spesies tumbuh berulang dari arah pantai hingga kearah daratan dan tumbuh saling bercampur di antara beberapa spesies. Spesies tersebut meliputi Rhizopora mucronata, Rhizopora apiculata, Sonneratia alba, dan Sonneratia caseolaris.
4. Komponen Ekosistem Hutan Mangrove Kawasan Pantai Cemara Muncar
Biotik : Pohon mangrove, ikan gelodok, kepiting uca, kepiting bakau, burung trinil, burung blekok, algae hijau, ikan kerongan, udang werus, udang ronggeng, kerrang totok, kerrang darah, tiram daging, keong bakau, kelomang bakau, teritip, udang windu, dan cacing bakau.
Abiotik : Tanah berlumpur, tanah berpasir, cangkang kerrang, air laut (surut), air laut (pasang), keasaman (pH), cahaya matahari, suhu (27-33℃), salinitas (0-25%). (+ gambar masing-masing nama)
5. Interaksi pada Ekosistem Hutan Mangrove Kawasan Pantai Cemara Muncar
Biotik-Biotik (Keong dengan akar Rhizopora mucronata)
Biotik-Abiotik (keong dan tanah lumpur) Abiotik-Abiotik (Air laut dengan Tanah Lumpur)
Biotik-Abiotik -> Netralisme (Kepiting uca dan kelomang bakau), Parasitisme (semut rang-rang dengan daun Sonneratia alba), Komensalisme (Burung blekok dengan Rhizopora mucronate), Mutualisme (cacing
62
dengan tanah hutan mangrove), Predasi (Burung trinil memangsa ikan gelodok), Kompetisi Interspesifik (mangrove berkompetisi mendapatkan sinar matahari) (+ gambar masing-masing interaksi)
6. Rantai Makanan pada Hutan Mangrove Kawasan Pantai Cemara Muncar
Gambar komponen rantai makanan di ekosistem hutan mangrove (disertakan keterangan mengenai yang teribat dalam rantai makanan tersebut)
7. Fakta Unik Daur Karbon pada Hutan Mangrove Kawasan Pantai Cemara Muncar
Hutan mangrove adalah penyimpan dan penyerap karbon dioksida yang tinggi.
Sebagai penyimpan karbon, hutan mangrove juga berperan dalam mengurangi dampak perubahan iklim.
78% karbon disimpan di tanah, 20% karbon disimpan di akar yang hidup (biomassa atas), 2% karbon tersimpan di serasah kayu yang sudah mati
8. Ketidak seimbangan Hutan Mangrove Kawasan Pantai Cemara Muncar
Lokasi Mangrove Pantai Cemara Kawang terletak tepat di sebelah pabrik tambak udang. Tambak ini menghasilkan limbah berupa cairan yang mengandung senyawa nitrogen yang dapat mencemari perairan.
Terlebih pembuangan pipanya langsung mengarah ke kawasan pengelolaan hutan mangrove ini. Ketika proses penanaman mangrove berlangsung, mangrove tidak akan tumbuh dengan baik atau bahkan bisa menyebabkan kematian pada mangrove karena cairan limbah tersebut. Disertai pertanyaan menarik disamping tulisan 9. Manfaat Hutan Mangrove
Kawasan Pantai Cemara Muncar
- Fungsi ekologis sebagai pelindung abrasi, penyaring sampah, filtrasi intrusi air laut dan juga penurunan sedimen tanah
- Sebagai tempat edukasi dan konservasi untuk keberadaan biodiversitas mangrove - Fungsi Biologis sebagai penyedia energi, habitat, dan tempat pemijahan bagi biota laut seperti udang, ikan, dan lainnya
- Fungsi ekonomis sebagai sumber ekonomi masyarakat setempat dari sektor pariwisata maupun perikanan
Nb : disertai gambar dari setiap fungsi 10 Peranku untuk Hutan
Mangrove Kawasan Pantai Cemara Muncar
1. Turut berpartisipasi aktif dalam menjaga dan melestarikan ekosistem hutan mangrove Muncar.
2. Melakukan kegiatan penanaman mangrove dan aksi bersih sampah di sekitar ekosistem hutan mangrove secara berkala.
3. Turut dalam menyerukan ke khalayak umum pentingnya peduli terhadap ekosistem hutan mangrove Muncar.
4. Menjaga ekosistem hutan mangrove dimulai dari diri sendiri dengan berminim sampah dalam kegiatan sehari-hari.
11. Pojok Ilmu Gambar dari jenis mangrove dan Bivalvia serta keterangan nama dan nama ilmiahnya.
3. Pemilihian style dan template yang akan digunakan.
Template yang digunakan dalam pembuatan infografis ini disesuaikan berdasarkan alur atau urutan dari konten materi (judul) dan (sub judul) dengan style elemen yang digunakan didominasi dengan bentuk bulat, kotak persegi dan persegi panjang, berwarna dominan biru, dan font dari montserrat family.
4. Proses desain infografis tersebut. Infografis dibuat atau di desain menggunakan aplikasi desain yang bisa diakses melalui internet yaitu canva. Untuk ukuran nya yaitu menyesuaikan dengan ukuran dari cetakan kertas A3 yaitu 31 x 47 cm.
64
Gambar 4.1 Tampilan aplikasi canva
Gambar 4.2 Tampilan proses desain
5. Jika produk sudah jadi desainnya, maka perlu dilakukan preview dan review kembali untuk benar-benar menjadi final art atau infografis yang siap di publikasikan. Kemudian hasil desain di download dengan format png atau pdf untuk di cetak pada kertas art paper atau ivory yang ketebalannya sedang dengan ukuran A3 atau A3+.
b. Tahap pengembangan
Tahap ini dilakukan dengan pengembangan infografis secara bertahap melewati beberapa evaluasi formatif untuk perbaikan prototipe yang dikembangkan. Evaluasi formatif ini tersusun dari evaluasi oleh diri