BAB III METODE PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN
B. Prosedur Penelitian dan Pengembangan
Adapun prosedur model Plomp (Plomp dan Nieeven, 2013: 19) tersusun dari tiga langkah yang meliputi:
1) Preliminary Research. (Penelitian pendahuluan)
Preliminary research adalah tahap awal pada model plomp. Tahap ini lebih dominan pada validitas konten saja, sehingga tidak terlalu banyak pada konsistensi isi dan kepraktisan dari pengembangan produk. Tujuan tahap pertama ini adalah untuk mengerti serta memahami apa yang menjadi latar belakang suatu masalah selama proses pmbelajaran. Istilah preliminary research disebut juga analisis kebutuhan atau analisis masalah. Disini terdapat beberapa analisis yang tersusun dari tiga tahap yaitu :
a. Analisis kebutuhan dan konteks
Tahap analisis ini dilakukan untuk mengetahui kebutuhan siswa.
Tahap ini diawali dengan wawancara kepada guru biologi kelas X MIPA SMAN 1 Muncar dan angket analisis kebutuhan yang disebarkan pada siswa kelas X MIPA SMAN 1 Muncar. Kedua hal tersebut dilakukan untuk mengetahui rangkaian pelaksanaan pembelajaran, mulai dari metode yang digunakan, sumber belajar nya,
40
perangkat pembelajaran, kendala-kendala serta karakteristik siswa dalam kegiatan belajar mengajar berlangsung.
Selain analisis kebutuhan kepada siswa, juga dilakukan pengkajian konteks potensi lokal ekosistem hutan mangrove yang ada di kawasan pantai cemara kawang Muncar sebagai sumber konten materi yang dikaitkan dengan materi yang digunakan pada pengembangan infografis.
b. Pengkajian teori dan literatur :
Pengkajian teori dan literatur ini dilakukan dengan studi literatur atau studi pustaka serta dengan meninjau buku-buku yang berkaitan dengan pengembangan produk yaitu infografis.
c. Pengembangan kerangka konseptual
Tahap ini dilakukan dalam menentukan materi yang dibutuhkan dalam penelitian pengembangan media ini yang berupa infografis untuk mencapai indikator sesuai ketetapan pada pencapaian kompetensi tersebut, terutama pada materi ekosistem yang dikaitkan dengan potensi lokal ekosistem hutan mangrove di kawasan pantai cemara Muncar. Tahapan ini juga dilakukan analisis pada kurikulum dengan merumuskan indikator yang relevan dengan kompetensi inti (KI), kompetensi dasar (KD), serta tujuan pembelajaran materi ekosistem pada kurikulum 2013 edisi revisi.
2) Development or Prototyphing Phase (Pengembangan atau fase prototipe) Development or Prototyphing phase adalah tahap kedua pada model plomp. Langkahnya lebih berfokus pada konsistensi atau validitas konstruk pada konsistensi (validitas konstruk) dan utama nya pada kepraktisan dengan secara bertahap memperhatikan keefektifan dalam pengembangan produk.
Tahapan ini tersusun dari 2 fase yaitu : a. Tahap perancangan :
Tahap ini dilakukan dengan menyusun prototipe pada infografis.
Penyusunannya diawali dengan penyusunan poin-poin konten materi infografis terlebih dahulu atau sketsa dari infografis yang akan dikembangkan. Kemudian dilanjutkan dengan pembuatan copywriting konten materi yang sudah disesuaikan dengan KI dan KD, nantinya akan didesain dalam infografis. Untuk pembuatan copywriting disesuaikan juga dengan hasil observasi pengkajian konteks di ekosistem hutan mangrove kawasan pantai cemara kawang Muncar.
Setelah penyusunan materi dilanjutkan dengan pemilihian style dan template yang akan digunakan termasuk bentuk elemen, warna, dan jenis font yang digunakan. Selanjutnya dilakukan proses desain infografis tersebut. Infografis dibuat atau di desain menggunakan aplikasi desain yaitu canva. Jika produk sudah jadi maka perlu dilakukan preview dan review kembali untuk benar-benar menjadi final art atau infografis yang siap di publikasikan. Selanjutnya
42
penyajian infografis akan dibagikan dalam bentuk cetak pada kertas Art Paper 150 dengan ukuran A3, sehingga siswa dapat melihat secara langsung infografis yang digunakan dalam pembelajaran. Pemilihan penyajian infografis sesuai dengan penelitian oleh Wulandari, dkk, (2019: 141), bahwa untuk spesifikasi ukuran infografis statis cetak yang dapat digunakan yaitu ukuran A3 dan A4.
b. Tahap pengembangan
Tahap ini dilakukan dengan pengembangan infografis secara bertahap melewati beberapa evaluasi formatif untuk perbaikan prototipe yang dikembangkan. Evaluasi formatif ini tersusun dari evaluasi oleh diri sendiri (self evaluation), peninjauan oleh para ahli (expert review), evaluasi perseorangan (one-to-one), evaluasi kelompok kecil (small group evaluation).
Di tahap ini akan dibuat bentukan awal produk berupa infografis yang disebut sebagai prototipe 1 (satu) yang dilihat kembali dan di evaluasi secara individu oleh peneliti (self evaluation) sebelum ditinjau oleh para ahli. Setelah pengevaluasian oleh peneliti, prototipe 1 (satu) tersebut akan dilakukan pemvalidasian produk oleh para ahli (expert review) meliputi ahli materi, ahli media, validator pengguna sesuai dengan standar kevalidan. Selanjutnya hasil dari validasi beserta saran dan masukan akan dipakai untuk perevisian prototipe 1
(satu) yang nantinya akan dihasilkan prototipe 2 (dua) yang valid dan siap untuk dilanjutkan menuju uji coba selanjutnya.
Tahap yang pertama dilakukan ialah uji one-to-one yang dilakukan pada 3 siswa, pengambilan sampel tiga orang pada uji coba perseorangan sesuai dengan penelitian dengan model plomp oleh Zagoto dan Dakhi (2018: 167). Hasil uji coba kemudian dilakukan untuk perevisian prototipe 2 (dua) untuk menghasilkan prototipe 3 (tiga). Kemudian dilanjutkan uji small group evaluation terhadap 12 siswa kelas X MIPA 2 SMAN 1 Muncar Banyuwangi, Pengambilan sampel 12 siswa sesuai dengan pernyataan oleh Sugiyono (2015:36) bahwa uji evaluasi kelompok kecil dilakukan 6-12 orang siswa. Hasil uji ini digunakan untuk merevisi prototipe 3 (tiga) menghasilkan prototipe 4 (empat) yang telah siap di uji coba lapangan (field test).
3) Assessment Phase (Fase Penilaian)
Assesment phase adalah tahapan akhir pada model plomp. Tahap ini merupakan tahap penilaian yang berfokus kepada kepraktisan dan keefektifan pengembangan suatu produk. Tahapan ini dilakukan uji coba lapangan (field test). Hal ini dilakukan dengan pengambilan respons siswa pada pengembangan produk dan penilaian tes hasil belajar seperti pada penelitian oleh Zagoto dan Dakhi (2018: 168) yang melakukan tes hasil belajar untuk melihat keefektifan produk sebagai tolak ukur pengunaan produk selama proses pembelajaran berlangsung.
44
Untuk mengetahui keefektifan produk dilakukan menggunakan desain eksperimen one group pretest posttest design, yaitu perbandingan sebelum dan sesudah penggunaan media pembelajaran infografis tersebut (Jakni, 2016: 70). Siswa akan diberikan pre-test dan post-test dan juga pemberian angket respons siswa. Tahap penilaian ini akan dilakukan terhadap 34.siswa kelas X MIPA 2 SMAN. 1 Muncar Banyuwangi.
Pengambilan sampel yang berjumlah 34 siswa sesuai dengan penelitian oleh Sugiyono (2015:36) bahwa uji coba lapangan dilakukan dengan 30- 100 siswa. Pada setiap tahap uji coba, peneliti akan membagikan infografis yang sudah divalidasi oleh validator dan juga angket untuk penilaians respon siswa terhadap produk tersebut.
C. Uji Coba Produk