• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengembangan Kreativitas Anak Melalui Permainan Warna

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "Pengembangan Kreativitas Anak Melalui Permainan Warna"

Copied!
112
0
0

Teks penuh

(1)

i

MENGEMBANGKAN KREATIVITAS ANAK

MELALUI PERMAINAN WARNA DENGAN MEDIA BENANG PADA KELOMPOK B DI RAUDHATUL ATHFAL MIFTAHUL ULUM

SUCOLOR MAESAN BONDOWOSO

SKRIPSI

Oleh:

Maftuhatul Musyarrofah NIM: T20185036

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI KIAI HAJI ACHMAD SIDDIQ JEMBER FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN

JUNI 2023

(2)

ii

(3)

iii

(4)

iv

MOTTO

أً ـْيَش َنْوُمَلْعَـت َلَ ْمُكِتّٰهَّمُا ِنْوُطُب ْنِّم ْمُكَجَرْخَا ُهّٰ للاَو َةَدِٕـْفَْلَاَو َراَصْبَْلَاَو َعْمَّسلا ُمُكَل َلَعَجَّو ۙ

ْمُكَّلَعَل ۙ

َنْوُرُكْشَت

Artinya:“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberimu pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, agar kamu bersyukur”. (Q.S. An-Nahl : 78)1*

1 *Al-Qur’anul karim (Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an, 2007), 275

(5)

v

PERSEMBAHAN

Alhamdulillah seiring rasa Syukur kehadirat Allah SWT dan teriring Sholawat serta salam Kepada Nabi Muhammad SAW, serta dengan ketulusan hati saya persembahkan karya ini kepada:

1. Kedua orang tuaku tercinta, Ayahanda Ach. Muslih dan Ibunda Siti Faizah yang telah mendidikku, selalu memberikan dukungan materi dan pengorbanan yang tak kenal lelah, serta tak pernah putus kasih dan sayangnya, senantiasa memberikan kesejukan dalam hatiku, serta selalu memberikan do’a dan dukungan untuk keberhasilanku, semoga kedua orang tuaku sehat selalu, barakah umur dan murah rejeki.

2. Kakakku Muh. Nasihuddin Latif yang selalu memberikan semangat, inspirasi serta do’a akan untuk kesuksesanku.

(6)

vi

KATA PENGANTAR ميحرلا نمحرلا الله مسب

Alhamdulillahi Robbil‘Alamin, segenap puji syukur penulis haturkan kepada Allah SWT atas segala Rahmat, dan karuniaNya, perencanaan, pelaksanaan, dan penyelesaian skripsi sebagai salah satu syarat menyelesaikan program sarjana, dapat terselesaikan dengan lancar. Sholawat beserta salam tetap tercurah limpahkan kepada Nabi Besar Sang Baginda kita yakni Nabi Muhammad SAW, karena melalui beliau umat manusia dapat menempati hidup menuju kesuksesan dan keselamatanya addhinul Islam (agama islam).

Dalam penyelesaian skripsi ini, penulis peroleh karena dukungan banyak pihak. Oleh karena itu, penulis menyadari dan menyampaikan banyak terimakasih yang sedalam-dalamnya kepada:

1. Bapak Prof. Dr. H. Babun Suharto, SE., MM., selaku Rektor Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember yang selalu memimpin kampus dengan baik serta memberikan fasilitas yang memadai selama kami menuntut ilmu di Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember.

2. Ibu Prof. Dr. Hj. Mukni’ah, M.Pd.I., selaku Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan yang telah mengizinkan penulis melakukan penelitian ini, serta selalu memiliki kinerja yang semangat untuk mengembangkan kemajuan fakultas Tarbiyah dan Ilmu keguruan.

3. Bapak Dr. Rif’an Humaidi, M.Pd.I selaku ketua Jurusan Pendidikan Islam dan Bahasa yang telah memfasilitasi selama proses perkuliahan berlangsung khususnya di Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember

4. Ibu Dr. Istifadah, S.Pd. M.Pd.I., selaku Koordinator Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember yang telah membimbing dan memberikan arahannya dalam program perkuliahan yang kami tempuh.

(7)

vii

5. Bapak Dr. Mohammad Zaini M.Pd.I, selaku dosen pembimbing yang telah meluangkan waktu serta tenaga dan pikiran dalam mendampingi dan mengarahkan penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

6. Seluruh Dosen Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan khususnya yang telah memberikan ilmunya kepada penulis sebagai bekal dalam mengarungi kehidupan dunia dan akhirat.

7. Kepala perpustakaan Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember yang telah memberikan wadah dan sumber literatur sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.

8. Ibu Lutfa Mashuda, S.Pd selaku kepala sekolah RA Miftahul Ulum Sucolor yang telah memberikan idzin kepada penulis untuk melakukan penelitian.

Semoga Allah SWT memberkan balasan serta hikmah kepada beliau atas segala ilmu yang telah Bapak/Ibu berikan kepada penulis. Hanya ucapan banyak terimakasih dan do’a tulus yang dapat penulis berikan. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat khususnya bagi penulis dan bagi pembaca. Aamiin Allahumma Aamin.

Bondowoso, 17 Oktober 2022 Penulis

Maftuhatul Musyarrofah NIM. T20185036

(8)

viii ABSTRAK

Maftuhatul Musyarrofah, 2022: Mengembangkan Kreativitas Anak Melalui Permainan Warna dengan Media Benang pada Kelompok B Di Raudhatul Adhfal Miftahul Ulum Sucolor Maesan Bondowoso.

Kata Kunci:Kreativitas, Permainan Warna Media Benang

Kreativitas pada anak merupakan kemampuan untuk membuat kombinasi- kombinasi baru atau melihat hubungan-hubungan baru antar unsur, data atau hal- hal yang sudah ada sebelumnya. Salah satu kegiatan dalam mengembangkan kreativitas pada anak di kelompok B Raudhatul Adhfal Miftahul Ulum Sucolor Maesan Bondowoso adalah melalui Permainan Warna dengan Media Benang.

Berdasarkan fokus penelitian yang diteliti dalam skripsi ini yaitu: 1) Bagaimana Perencanaan dalam mengembangkan kreativitas anak melalui permainan warna dengan media benang pada kelompok B di RA Miftahul Ulum Sucolor Maesan Bondowoso?, 2) Bagaimana Pelaksanaan dalam mengembangkan kreativitas anak melalui permainan warna dengan media benang pada kelompok B di RA Miftahul Ulum Sucolor Maesan Bondowoso?, dan 3) Bagaimana Evaluasi kegiatan permainan warna dengan media benang untuk mengembangkan kreativitas anak pada kelompok B tahun di RA Miftahul Ulum Sucolor Maesan Bondowoso? Fokus penelitian tersebut sekaligus menjawab tujuan penelitian ini.

Tujuan penelitian ini adalah: 1) Untuk mendeskripsikan Perencanaan dalam mengembangkan kreativitas anak melalui permainan warna dengan media benang pada kelompok B di RA Miftahul Ulum Sucolor Maesan Bondowoso, 2) Untuk mendeskripsikan Pelaksanaan dalam mengembangkan kreativitas anak melalui permainan warna dengan media benang pada kelompok B di RA Miftahul Ulum Sucolor Maesan Bondowoso, dan 3) Untuk mendeskripsikan Evaluasi kegiatan permainan warna dengan media benang untuk mengembangkan kreativitas anak pada kelompok B di RA Miftahul Ulum Sucolor Maesan Bondowoso.

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan jenis studi kasus. Teknik pengumpulan datanya berupa observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data menggunakan teori Miles dan Huberman meliputi reduksi data, display data, dan kesimpulan. Serta keabsahan data menggunakan triangulasi sumber dan triangulasi teknik.

Penelitian ini disimpulkan 1) Perencanaan kegiatan permainan warna dengan media benang pada kelompok B di RA Miftahul Ulum Sucolor Maesan Bondowoso, sebelum di mulai pembelajaran guru sudah menyiapkan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Harian (RPPH), 2) Pelaksanaan kegiatan permainan warna dengan media benang pada kelompok B di RA Miftahul Ulum Sucolor Maesan Bondowoso meliputi: pertama kegiatan pembukaan terdiri dari berbaris, salam pembuka dan berdoa sebelum belajar; kedua, kegiatan inti dimana guru menjelaskan prosedur permainan warna, memberikan contoh dilanjutkan siswa melakukan permainan ini secara mandiri, dan ketiga penutup, meliputi menanyakan perasaan siswa selama kegiatan hari, berdiskusi tentang kegiatan yang sudah dilakukan, menginformasikan kegiatan untuk esok hari, pesan dan kesan untuk anak dari guru, berdoa setelah belajar dan salam, serta 3) Evaluasi kegiatan permainan warna dengan media benang pada kelompok B di RA Miftahul Ulum Sucolor Maesan Bondowoso, guru menggunakan penilaian hatian, ceklist, dan hasil karya.

(9)

ix DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL ... i

PERSETUJUAN PEMBIMBING... ii

PENGESAHAN TIM PENGUJI ... iii

MOTTO ... iv

PERSEMBAHAN ... v

KATA PENGANTAR ... vi

ABSTRAK ... viii

DAFTAR ISI ... ix

DAFTAR TABEL... xi

DAFTAR GAMBAR ... xii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Konteks Penelitian ... 1

B. Fokus Penelitian ... 7

C. Tujuan Penelitian ... 7

D. Manfaat Penelitian ... 8

E. Definisi Istilah ... 9

F. Sistematika Penelitian ... 10

BAB II KAJIAN KEPUSTAKAAN ... 11

A. Penelitian Terdahulu ... 11

B. Kajian Teori ... 16

(10)

x

BAB III METODE PENELITIAN ... 41

A. Pendekatan dan Jenis Penelitian... 41

B. Lokasi Penelitian ... 42

C. Subyek Penelitian ... 42

D. Teknik Pengumpulan Data ... 43

E. Teknik Analisis Data ... 46

F. Keabsahan Data ... 48

G. Tahap-tahap Penelitian ... 49

BAB IV PENYAJIAN DAN ANALISIS DATA ... 51

A. Gambaran Obyek Penelitian ... 51

B. Penyajian Data dan Analisis... 55

C. Pembahasan Temuan ... 71

BAB V PENUTUP ... 77

A. Kesimpulan ... 77

B. Saran ... 78

DAFTAR PUSTAKA ... 80

(11)

xi

DAFTAR LAMPIRAN Uraian

1. Pernyataan Keaslian Tulisan 2. Matrik Penelitian

3. Pedoman Penelitian 4. Surat Izin Penelitian

5. Surat Keterangan Selesai Penelitian 6. Jurnal Penelitian

7. RPPH

8. Penilain Harian 9. Penilaian Hasil Karya 10. Penilaian Observasi 11. Dokumentasi Penelitian 12. Biodata Penulis

(12)

xii

DAFTAR TABEL

No. Uraian Hal

Tabel 2.1 Persamaan dan Perbedaan Skripsi... 14 Tabel 4.1 Temuan penelitian ... 70

(13)

xiii

DAFTAR GAMBAR

No. Uraian Hal

Gambar 4.1 Wawancara peneliti dengan guru kelas kelompok B ... 58

Gambar 4.2 Wawancara peneliti dengan kepala sekolah ... 60

Gambar 4.3 Kegiatan Baris-berbaris Sebelum Masuk Kelas ... 62

Gambar 4.4 Kegiatan Pembiasaan Didalam Kelas ... 63

Gambar 4.5 Alat dan Bahan Permainan Warna dengan Media Benang ... 65

Gambar 4.6 Pelaksanaan Kegiatan Permainan Warna dengan Media Benang ... 66

Gambar 4.7 Hasil karya anak dalam kegiatan bermain warna dengan media benang ... 69

(14)

1 BAB I PENDAHULUAN

A. Konteks Penelitian

Pendidikan merupakan suatu usaha yang dilakukan manusia untuk mengembangkan keterampilan dan potensi yang dimilikinya melalui kegiatan pembelajaran yang mencakup pembelajaran informal, formal dan nonformal.

Pendidikan kita dapatkan dari pendidikan sejak usia dini sampai pendidikan dijenjang perguruan tinggi. Pendidikan anak usia dini merupakan salah satu bentuk penyelenggaraan pendidikan yang menitik beratkan pada peletakan dasar ke arah pertumbuhan dan perkembangan fisik (koordinasi motorik halus dan kasar), kecerdasan (daya pikir, daya cipta, kecerdasan emosi, kecerdasan spiritual), sosial emosional (sikap dan perilaku serta beragama), bahasa dan komunikasi, sesuai dengan keunikan dan tahap-tahap perkembangan yang dilalui oleh anak usia dini.1

Pendidikan merupakan aset penting bagi kemajuan sebuah bangsa, oleh karena itu semua warga Negara harus dan wajib mengikuti jenjang pendidikan, baik jenjang pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, pendidikan menengah maupun tinggi. Dalam bidang pendidikan seorang anak dari lahir memerlukan pelayanan yang tepat dalam pemenuhan kebutuhan pendidikan disertai dengan pemahaman mengenai karakteristik anak sesuai pertumbuhan dan perkembangannya akan sangat membantu dalam

1Dwi Nurhayati Adhani, Nina Hanifah, dan Imro’atun Hasanah, Meningkatkan Kreativitas Anak Melalui Kegiatan Bermain Warna, Jurnal PG-PAUD Trunojoyo Madura, Vol.4 No.1, 2017

(15)

menyesuaikan proses belajar bagi anak dengan usia, kebutuhan dan kondisi masing-masing baik secara intelektual, emosional dan sosial.

Pendidikan juga merupakan salah satu hal penting untuk menentukan maju mundurnya suatu bangsa. Pendidikan sebagai sumber daya insane sepatutnyalah mendapat perhatian secara terus menerus dalam upaya peningkatan mutunya.

Pendidikan yang bermutu dan berkualitas dapat menunjang kemajuan suatu bangsa, karena dengan pendidikan yang bermutu dan berkualitas akan mampu mencetak dan menghasilkan sumberdaya manusia yang bermutu dan berkualitas pula. Oleh karena itu, perlu dilakukan pembaruan dalam bidang pendidikan waktu kewaktu tanpa henti.2

Dalam Undang-undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 1 ayat 14 menyatakan bahwa:

“Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut3.”

Anak usia dini adalah individu yang sedang mengalami proses pertumbuhan dan perkembangan yang sangat pesat bahkan sering dikatakan sebagai “golden age” (usia keemasan) yaitu usia yang sangat berharga di banding usia selanjutnya. Anak usia dini merupakan anak pada rentang usia 0-8 tahun. Pada usia tersebut sangat menentukan bagi anak untuk mengembangkan seluruh potensinya dalam membentuk karakter dan

2Nilawati Tadjuddin, Pendidikan Anak Usia Dini (Bandar Lampung: 2009), h. 3.

3 Tim Redaksi Fokus Media, Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, (Jakarta: RedaksiFokus, 2004), h. 7.

(16)

kepribadian. Dimana anak sangat peka mendapatkan rangsangan-rangsangan baik yang berkaitan dengan semua aspek perkembangan kecerdasan anak melalui bermain.4

Pada masa keemasan atau golden age anak memiliki kemampuan belajar biasa, keinginan anak untuk belajar menjadikan anak aktif dan eksploratif. Anak dalam mengembangkan pengetahuannya dia belajar seraya bermain. Bagian bermain adalah kegiatan yang serius namun mengasyikkan.

Melalui aktifitas bermain, anak akan mencoba berkreasi tentang segala yang dapat mengembangkan kemampuan berimajinasi, berfikir dan bereksplorasinya.

Kreativitas anak belajar melalui bermain sangat penting sekali untuk dipahami oleh guru dan orang tua dalam memberikan stimulasi (rangsangan) kepada anak sedini mungkin, dimana masa usia dini merupakan masa yang paling tepat untuk memupuk dan meningkatkan kreativitas anak agar dapat menjadi manusia yang kreatif, yang sangat diharapkan dimasa mendatang.5 Oleh karenanya maka Allah swt selalu mendorong manusia untuk berpikir.

Dalam islam terdapat ayat Al-Qur’an yang menjelaskan pentingnya pendidikan anak usia dini, yaitu dalam surat An-Nahl ayat 78 berbunyi sebagai berikut:

ْنِّم ْمُكَجَرْخَا ُهّٰ للاَو ِتّٰهَّمُا ِنْوُطُب ۢ

ـْيَش َنْوُمَلْعَـت َلَ ْمُك ا ً ۢ

ـْفَْلَاَو َراَصْبَْلَاَو َعْمَّسلا ُمُكَل َلَعَجَّو ۢ َةَد ًِ ۢ

ۢ

نْوُرُكْشَت ْمُكَّلَعَل

4Badru Zaman Dkk, Media dan Sumber Belajar TK, (Tanggerang Selatan: Universitas Terbuka, 2013), h. 15

5 Diana Vidya Fakhriyani, Pengembangan Kreativitas Anak Usia Dini,Universitas Islam Madura, Jurnal Pemikiran Penelitian Dan Sains, (2016), h. 6

(17)

Artinya: “Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur. (QS. An- Nahl:78)6

Kreativitas anak dapat dikembangkan melalui bermain karena bila diimbangi dengan bermain anak dapat belajar mengendalikan dirinya sendiri, memahami kehidupan, memahami dunianya sendiri. Jadi bermain merupakan cermin perkembangan anak.

Masa kanak-kanak merupakan masa yang tepat untuk memulai memberikan berbagai stimulus stimulus agar anak dapat berkembang secara optimal. Apa yang dipelajari seseorang dimasa yang akan datang yaitu pemberian pendidikan bagi anak usia dini dan anak-anak pra sekolah (TK) akan lebih bermakna jika dilakukan metode pendidikan yang dapat menyenangkan, edukatif sesuai dengan bakat dan pembawaannya. Oleh karena itu mereka butuh alat bermain sebagai media pendidikan dan pembelajaran di Taman Kanak-kanak.

Media merupakan alat yang sangat membantu dalam proses belajar mengajar terutama di Taman Kanak-kanak. Dengan adanya media dapat mempermudah guru dalam menyampaikan materi ajar kepada anak didiknya.

Pentingnya media dalam belajar mengajar adalah dapat membawa dan membangkitkan rasa senang dan gembira bagi anak-anak dan memperbarui semangat mereka untuk memantapkan pengetahuan pada anak-anak serta menghidupkan suasana kegiatan pembelajaran. Adapun fungsi media adalah perangsang dan alat yang disediakan guru untuk mendorong anak belajar

6Al-Qur’anul karim (Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an, 2007), 275

(18)

cepat dan merupakan alat bantu pendengaran dan penglihatan bagi peserta didik dalam rangka memperoleh pengalaman yang signifikan.

Berdasarkan pendapat di atas, dapat dipahami bahwa media dalah sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan atau informasi dari pengirim kepada penerima sehingga dapat merangsang fikiran, perasaan dan minat serta perhatian peserta didik sedemikian rupa sehingga proses belajar yang aktif dan menyenangkan terjadi.

Warna adalah suatu proses yang terjadi dimana cahaya mengenai suatu benda. Setiap orang pasti menyukai warna terutama anak-anak karena kehadiran warna mampu memberikan keindahan, kesenangan dan nilai estetika. Selain itu, warna juga dianggap memiliki pengaruh terhadap psikologi seseorang.

RA Miftahul Ulum Sucolor Maesan Bondowoso, merupakan subjek penelitian pada penelitian ini khususnya pada kelompok B. Pembelajaran kreativitas terprogram dalam bentuk pembelajaran menggunakan permainan warna dengan benang, berdasarkan hasil observasi yang dilakukan peneliti.

Terdapat permainan baru yang digunakan untuk meningkatkan kreativitas anak di RA Miftahul Ulum yaitu menggunakan permainan warna dengan benang. Seperti contoh yang telah peneliti ketahui, cara dalam melakukan permainan warna dengan media benang yaitu: pertama guru menyediakan kertas HVS, benang kasur, dan juga pewarna makanan. Kemudian anak memasukkan benang tersebut kedalam pewarna yang sudah di siapkan. Lalu dengan benang yang sudah tercampur warna, guru membebaskan anak untuk

(19)

membentuk apa saja sesuai imajinasi anak dengan menggunakan benang tersebut.7 Dengan permainan tersebut dapat berharap bisa meningkatkan kreativitas anak. Berbeda dengan lembaga lain, biasanya dalam meningkatkan kreativitas menggunakan permainan mewarnai, menggambar, melukis. Namun dalam hal ini, RA Miftahul Ulum menggunakan permainan yang menurut peneliti jarang ditemui di lembaga-lembaga lainnya.

Dalam hal ini, lembaga RA Miftahul Ulum Sucolor dipilih sebagai tempat untuk penelitian dan perlu ditingkatkan lagi kreativitasnya, untuk mengembangkan kreativitas pada usia dini bisa melalui permainan warna dengan media benang di RA Miftahul Ulum Sucolor. Kreativitas ini penting dimiliki oleh setiap manusia terutama anak usia dini. Karena kecerdasan ini penting mengungkapkan pikiran, keinginan dan pendapat yang dimiliki oleh seseorang. Kecerdasan ini sangat perlu dilatih sejak dini, karena anak-anak yang sejak dini dilatih kreativitasannya akan memudahkan anak tersebut untuk merangsang otaknya dalam berimajinasi, kreatif, menemukan ide-ide baru dan inovatif.

Dari uraian diatas, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang mengembangkan kreativitas anak yang berjudul MENGEMBANGKAN KREATIVITAS ANAK MELALUI PERMAINAN WARNA DENGAN MEDIA BENANG PADA KELOMPOK B DI RA MIFTAHUL ULUM SUCOLOR MAESAN BONDOWOSO.

7 Observasi, RA Miftahul Ulum, Maesan, 13 Juli 2022

(20)

B. Fokus Penelitian

Berdasarkan latar belakang diatas, penelitian ini dilaksanakan pada semester Ganjil Tahun Pelajaran 2022/2023 dengan fokus penelitian sebagai berikut:

1. Bagaimana Perencanaan kegiatan dalam Mengembangkan kreativitas anak melalui permainan warna dengan media benang pada kelompok B di RA Miftahul Ulum Sucolor Maesan Bondowoso?

2. Bagaimana Pelaksanaan kegiatan Mengembangkan Kreativitas Anak Melalui Permainan warna dengan media benang pada kelompok B di RA Miftahul Ulum Sucolor Maesan Bondowoso?

3. Bagaimana Evaluasi kegiatan permainan warna dengan media benang untuk mengembangkan kreativitas anak pada kelompok B di RA Miftahul Ulum Sucolor Maesan Bondowoso?

C. Tujuan Penelitian

1. Untuk mendeskripsikan Perencanaan kegiatan dalam mengembangkan kreativitas anak melalui permainan warna dengan media benang pada kelompok B di RA Miftahul Ulum Sucolor Maesan Bondowoso.

2. Untuk mendeskripsikan Pelaksanaan kegiatan dalam mengembangkan kreativitas anak melalui permainan warna dengan media benang pada kelompok B di RA Miftahul Ulum Sucolor Maesan Bondowoso.

3. Untuk mendeskripsikan Evaluasi kegiatan permainan warna dengan media benang untuk mengembangkan kreativitas anak pada kelompok B di RA Miftahul Ulum Sucolor Maesan Bondowoso.

(21)

D. Manfaat Penelitian

Penelitian yang dilakukan ini diharapkan dapat memberikan manfaat baik secara teoritis maupun secara praktis.

1. Manfaat Teoritis

Penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan keilmuan peneliti tentang pendidikan anak usia dini dalam mengembangkan kreativitas anak usia dini dan juga dapat meningkatkan kompetensi yang dimiliki peneliti dalam melaksanakan pembelajaran di lembaga Raudatul Adfal.

2. ManfaatPraktis a. Bagi Peneliti

Hasil penelitian ini diharapkan sebagai pengembangan pengetahuan dan dapat menambah wawasan serta memperoleh pengalaman tentang penelitian dalam mengembangkan kreativitas anak melalui permainan warna dengan media benang.

b. Bagi UIN Kiai Haji Achamd Siddiq Jember

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi pendidikan dan juga dapat menjadi referensi tambahan bagi mahasiswa yang ingin Mengembangkan Kreativitas Anak Melalui Permainan Warna Dengan Media Benang.

(22)

c. Bagi Lembaga

Dalam hasil penelitian ini diharapkan dapat memperluas wawasan pembaca terkait Mengembangkan Kreativitas Anak Melalui Permainan Warna Dengan Media Benang.

E. Definisi Istilah

Definisi istilah berisi tentang pengertian istilah-istilah penting yang menjadi titik penelitian didalam judul penelitian. Tujuannya agar tidak terjadi kesalahpahaman terhadap makna istilah sebagaimana dimaksud peneliti.

Adapun beberapa definisi istilah dalam penelitian ini, yaitu:

1. Kreativitas

Kreativitas adalah kemampuan yang mencerminkan kelancaran, keluwesan, dan orisinalitas dalam berpikir, juga merupakan salah satu kemampuan manusia yang dapat membantu kemampuan-kemampuan lain yang dimiliki oleh seseorang. Kreativitas merupakan kemampuan anak menciptakan gagasan baru yang asli dan imajinatif, dan juga kemampuan mengadaptasi gagasan baru dengan gagasan yang sudah dimiliki.

2. Permainan Warna dengan Media Benang

Permainan warna dengan media benang yaitu kegiatan dimana anak memasukkan benang kedalam pewarna makanan kemudian meletakkan benang diatas kertas HVS lalu anak membentuk pola sesuai imajinasinya kemudian kertas ditutup dan benang di tarik sehingga membentuk suatu pola tertentu, hasil dari permainan tersebut bukti dari ke kreativitasan anak.

(23)

F. Sistematika Pembahasan

Sistematika pembahasan berisi tentang deskripsi alur pembahasan skripsi yang dimulai dari bab pendahuluan hingga bab penutup.8 Adapun uraian sistematika pembahasan sebagai berikut:

Bab satu, merupakan bagian pendahulan. yang meliputi tentang latar belakang masalah, fokus penelitian, tujuan penelitian, manfaat penelitian, definisi istilah dan diakhiri dengan sistematika pembahasan.

Bab dua, merupakan kajian kepustakaan. Bab ini membahas tentang kajian terdahulu yang terkait dengan penelitian yang akan dilakukan dan kajian teori yang dijadikan sebagai pijakan dalam melakukan penelitian.

Bab tiga, merupakan bab yang membahas tentang metode penelitian.

Bab ini membahas tentang metode penelitian yang meliputi pendeketan dan jenis penelitian, lokasi penelitian, subyek penelitian, teknik pengumpulan data, analisis data, keabsahan data, serta tahap-tahap penelitian.

Bab empat, merupakan bab yang membahas penyajian data. Bab ini membahas tentang gambaran obyek penelitian, penyajian data, analisis, serta pembahasan temuan.

Bab lima, merupakan bab yang membahas tentang penutup. yang meliputi kesimpulan dan saran-saran. Fungsi bab ini adalah memperoleh suatu gambaran dari hasil penelitian, sedangkan saran-saran dapat membantu memberikan saran yang bersifat konstruktif yang terkait dengan penelitian.

8Tim penyusun, PedomanPenulisanKaryaIlmiah, 48.

(24)

BAB II

KAJIAN KEPUSTAKAAN

A. Penelitian Terdahulu

Bagian ini peneliti mencantumkan berbagai hasil penelitian terdahulu yang terkait dengan penelitian yang hendak dilakukan, kemudian membuat ringkasannya, baik penelitian yang sudah terpublikasikan atau belum terbuplikasikan (skripsi, Tesis disertasi, artikel yang dimuat pada jurnal ilmiah, dan sebagainya.9 Beberapa penelitian terdahulu yang sudah pernah dilakukan sebelunnya terkait dengan penelitian ini antara lain:

1. Jurnal karya Dwi Nurhayati Adhani, Nina Hanifah, Imro’atun Hasanah, 2018. Dengan judul“Meningkatkan Kreativitas Anak Melalui Kegiatan Bermain Warna”10

Dalam penelitian ini ditemui bahwa teknik pengumpulan data dilakukan melalui Penelitian Tindakan Kelas (PTK).Hasil penelitian dalam penelitian tindakan kelas ini menunjukkan dari Siklus I ke Siklus II.Hal tersebut dibenarkan dengan adanya data prosentase yang diperoleh data prosentase yang diperoleh pada kondisi awal 25%, (Belum Berkembang) hampir semua anak belum meliki kemampuan kreativitas yang baik.Siklus I didapat prosentase 50, 53% (Mulai Berkembang) dengan dua anak yang (Berkembang Sesuai Harapan). Sedangkan pencapaian pada siklus II

9 Tim Penyusun, Pedoman Penulisan Karya ILmiah (Jember: IAIN Jember, 2020), 44

10 Dwi Nurhayati Adhani, Nina Hanifah, Imro’atun Hasanah, Meningkatkan Kreativitas Anak Melalui Kegiatan Bermain Warna, Jurnal PG-PAUD Universitas Trunojoyo Madura, Vol 4, No.1, (2018), 87

11

(25)

sebesar 83,11% (Berkembang Sangat Baik). Siklus II ini sedikit anak yang mendapat (Berkembang Sesuai Harapan).

2. Jurnal karya Aisyah, 2018. Dengan judul “Permainan warna berpengaruh terhadap kreativitas anak usia dini”11

Dalam penelitian ini ditemui bahwa teknik pengumpulan data dilakukan melalui tehnik check list dan observasi dengan jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif eksperimen. Sedangkan analisis data dilakukan dengan tehnik pre test dan post test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa anak-anak begitu bergairah dan bersemangat saat melakukan berbagai kegiatan permainan warna sehingga dari satu anak yang muncul tergolong kreatif saat pre test (sebelum kegiatan permainan warna) dan dapat meningkat sesudah kegiatan permainan warna (saat post test).

3. Skripsi dari Linawati, 2018. Dengan judul “Pengembangan kreativitas dalam sentra persiapan untuk anak usia 5-6 tahun di TA-TK AL Azhar Syifa Budi 2017/2018”12

Dalam penelitian ini ditemui bahwa teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi dan dokumentasi dengan jenis penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan peran sentra dalam pengembangan kreativitas melalui tiga tahap, yaitu tahap persiapan, tahap pelaksanaan,

11 Aisyah, Permainan Warna Berpengaruh Terhadap Kreativitas Anak Usia Dini, Jurnal PG- PAUD Universitas PGRI Adi Buana Surabaya, Vol 1, No.2 , (2018), 118-123

12Linawati 2018, Pengembangan kreativitas dalam sentra persiapan anak usia 5-6 tahun di TA-TK AL Azhar Syifa Budi, IAIN Surakarta.

(26)

dan tahap evaluasi. Pada proses ini kreativitas dapat dikembangkan dan pelaksanaannya sesuai dengan standar.

4. Skripsi dari Alma rara anggia, 2018. Dengan judul “Pengembangkan kreativitas anak melalui permainan warna dengan media benang usia 5-6 tahun di RA Perwanida I Bandar Lampung”13

Penelitian ini dilakukan dengan fokus masalah, yaitu: “Bagaimanakah Mengembangkan Kreativitas Anak Melalui Permainan Warna Dengan Media Benang Pada Anak Usia 5-6 tahun di RA Perwanida I Bandar Lampung ? dan bertujuan untuk mengembangkan kreativitas anak melalui permainan warna dengan media benang pada usia 5-6 tahun di RA Perwanida I Bandar lampung.

Hasil yang dilakukan dari penelitian ini adalah dapat menyimpulkan bahwasanya perkembangan kreativitas pada anak khususnya anak-anak kelas B2 RA Perwanida I Bandar Lampung mampu berkembang dengan adanya peran-peran guru yang sangat di butuhkan dalam perkembangan anak-anak agar mampu tercapai secara optimal dengan baik.

5. Skripsi dari Lailatul Sholehah, 2019. Dengan judul “Penggunaan teknik finger paiting sebagai upaya meningkatkan kreativitas anak dalam pembelajaran seni melukis di kelas A1 RA DWP UIN Sunan Kalijaga”14

Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengetahui apakah penggunaan teknik Finger Painting dapat meningkatkan anak usia 5-6 tahun di kelas

13Alma rara anggia 2018, Mengembangkan kreativitas anak melalui permainan warna dengan media benang usia 5-6 tahun di RA Perwanida I Bandar Lampung, UIN Raden Intan Lampung.

14Lailatu Sholehah 2019, Penggunaan teknik finger paiting sebagai upaya meningkatkan kreativitas anak dalam pembelajaran seni melukis di kelas A1 RA DWP UIN Sunan Kalijaga , UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta.

(27)

A1 RS DWP UIN Sunan Kalijaga (2) mengetahui kreativitas anak dalam pembelajaran teknik melukis sebelum menggunakan teknik finger painting (3) mengetahui krativitas anak dalam pembelajaran seni melukis sesudah menggunakan teknik finger painting.

Penelitian ini merupakan jenis penelitian tidakan kelas yang mengambil latar di RA DWP UIN Sunan Kalijaga. Pengumpulan data yang dilakukan yaitu dengan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi.

Teknik analisis data yang digunakan yaitu dengan menghitung persetase hasil melukis anak melalui dari pratindakan, siklus I dan siklus II mendeskripsikannya dalam bentuk narasi.

Tabel 2.1

Persamaan dan Perbedaan Skripsi

No Nama/ Tahun Judul Persamaan Perbedaan

1 2 3 4 Penelitian

Sebelumnya

Penelitian Ini

1 Dwi Nurhayati Adhani, Nina Hanifah, Imro’atun Hasanah, 2018

Meningkatkan Kreativitas Anak Melalui Kegiatan Bermain Warna di RA Muslimat NU 107

Sama-sama meneliti tentang kreativitas.

Penelitian terdahulu menggunakan penelitian tindakan kelas (PTK).

Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif.

2 Aisyah, 2018 Permainan warna berpengaruh terhadap

kreativitas anak

a. Sama-sama meneliti tentang kreativitas.

b. Sama-sama menggunakan

Penelitian terdahulu menggunakan penelitian kualitatif

Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif

(28)

usia dini permainan warna.

eksperimen. deskriptif.

3 Linawati, 2018. Pengembangan kreativitas dalam sentra persiapan untuk anak usia 5-6 tahun di TA-TK AL Azhar Syifa Budi 2017/2018.

a. Sama-sama meneliti tentang kreatifitas.

b. sama-sama menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif.

Penelitian terdahulu meneliti tentang

Pengembangan kreativitas dalam sentra persiapan untuk anak usia 5-6 tahun

Penelitian ini meneliti tentang mengembangk an kreatifitas anak melalui permainan warna dengan media benang pada kelompok B .

4 Alma rara anggia, 2018.

pengembangkan kreativitas anak melalui

permainan warna dengan media benang usia 5-6 tahun di RA Perwanida I Bandar

Lampung.

a. sama-sama meneliti tentang kreativitas.

b. sama-sama menggunakan permainan warna dengan benang.

Penelitian terdahulu menggunakan penelitian tindakan kelas (PTK).

Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif.

5 Lailatul Sholehah, 2019.

Penggunaan teknik finger paiting sebagai upaya

meningkatkan kreativitas anak dalam

pembelajaran seni melukis di kelas A1 RA DWP UIN Sunan Kalijaga.

Sama-sama meneliti tentang kreativitas.

a. penelitian terdahulu menggunakan penelitian tindakan kelas (PTK).

b. penelitian terdahulu menggunakan seni melukis.

c. Penelitian terdahulu mengambil sampel di kelompok A.

a. Penelitian ini

menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif.

b. penelitian ini

menggunakan permainan warna.

c. penelitian ini mengambil sampel di kelompok B.

(29)

Dari keempat penelitian terdahulu dapat diambil kesimpulan bahwa sama-sama mengkaji tentang kreativitas anak usia dini, akan tetapi yang membedakan terletak pada fokus, media dan metode penelitiannya.

Sedangkan pada penelitian yang dilakukan oleh peneliti menggunakan metode kualitatif pada anak usia dini kelompok B di Bondowoso dengan mengembangkan kreativitas anak melalui permainan warna dengan media benang pada kelompok B di RA Miftahul Ulum Sucolor Maesan Bondowoso.

Proses penelitian yang dilakukan oleh peneliti dengan penelitian terdahulu memiliki persamaan dan perbedaan, persamaan hasil penelitian oleh peneliti dengan penelitian terdahulu sama-sama membahas tentang kreativitas anak, dan perbedaan hasil peneliti dangan penelitian terdahulu peneliti menggunakan jenis penelitian kualitatif deskriptif dan penelitian terdahulu menggunakan penelitain tindakan kelas (PTK) dan penelitian kualitatif eksperimen.

B. Kajian Teori

Bagian ini berisi tentang pembahasan teori yang dijadikan sebagai perspektif dalam penelitian. Pembahasan teori yang terkait dengan penilain secara lebih luas dan mendalam akan semakin memperdalam wawasan peneliti dalam mengkaji permasalahan yang hendak dipecahkan sesuai dengan fokus penelitian dan tujuan penelitian.15

15Tim Pedoman, 92.

(30)

1. Kreativitas Anak Usia Dini a. Pengertian Kreativitas

Ditinjau dari berbagai aspek kehidupan, pengembangan kreativitas sangatlah penting. Banyak permasalah serta tantangan hidup menuntut kemampuan adaptasi secara kreatif dan kepiawaian dalam mencari pemecahan masalah yang imajinatif. Kreativitas yang berkembang dengan baik akan melahirkan pola pikir yang solutif yaitu ketrampilan dalam mengenali permasalahan yang ada, serta kemampuan membuat perencanaan-perencanaan dalam mencari pemecahan masalah.16

Kreativitas dapat diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menciptakan suatu produk baru. Kreativitas juga berhubungan dengan kemampuan untuk membuat kombinasi-kombinasi baru atau melihat hubungan-hubungan baru antar unsure, data atau hal-hal yang sudah ada sebelumnya.17

Munandar mendefinisikan kreativitas adalah kemampuan yang mencerminkan kelancaran, keluwesan, dan orisinalitas dalam berfikir serta kemampuan untuk mengolaborasi suatu gagasan, kreativitas merupakan salah satu kemampuan manusia yang dapat membantu kemampuan-kemampuan lain yang dimiliki oleh seseorang.

Menurut Gordon dan Browne mengatakan bahwa kreativitas merupakan kemampuan anak menciptakan gagasan baru yang asli dan

16 Yudrik Jahja, Psikologi Perkembangan, (Jakarta: Kencana Prenadamedia Group, 2011), h. 68.

17 Aisyah, Permainan Warna Berpengaruh Terhadap Kreativitas Anak Usia Dini, Jurnal PG- PAUD Universitas PGRI Adi Buana Surabaya, Vol 1, No.2 , (2018), 118-123

(31)

imajinatif, dan juga kemampuan mengadaptasi gagasan baru dengan gagasan yang sudah dimiliki.

Kebanyakan orang beranggapan bahwa kreativitas dapat dinilai dari hasil atau apa yang diciptakan oleh seseorang, padahal kreativitas tidak selalu membuahkan hasil yang dapat diamati dan dinilai. Dengan kata lain belum tentu anak yang menghasilkan karya atau lukisan yang bagus, baik dan rapi memiliki kreativitas lebih dari anak lain. Guru juga harus melihat proses dan makna dari kegiatan melukis yang dilakukan oleh anak. Berdasarkan pada “Pedoman Diagnostik Potensi Perseta Didik” disebutkan bahwa indikator kreatifitas sebagai berikut:18

1. Memiliki rasa ingin tahu yang besar 2. Sering mengajukan pertanyaan yang baik

3. Memberikan banyak gagasan dan usul terhadap suatu masalah 4. Mampu menyatakan pendapat secara spontan dan tidak malu-malu 5. Mempunyai/menghargai rasa keindahan

6. Mempunyai pendapat sendiridan dapat mengungkapkannya, tidak mudah terpengaruh orang lain

7. Memiliki rasa humor tinggi

8. Mempunyai daya imajinasi yang kuat

9. Mampu mengajukan pemikiran, gagasan pemecah masalah yang berbeda dari orang lain (orisinil)

10. Dapat bekerja sendiri

18 Hamid Muhammad, Pedoman Diagnostik Potensi Peserta Didik, Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional, 2004, hal,71

(32)

11. Senang mencoba hal-hal baru

12. Mampu mengembangkan atau merinci suatu gagasan (kemampuan elaborasi)

b. Ciri-ciri Kreativitas

Salah satu aspek penting dalam kreativitas adalah memahami ciri-cirinya, upaya menciptakan suasana yang kondusif bagi perkembangan kreativitas yang hanya mungkin dilakukan jika memahami terlebih dahulu sifat-sifat kemampuan kreatif dan lingkungan yang turut mempengaruhinya.

Munandar mengatakan bahwa, ciri-ciri anak kreativitas adalah sebagai berikut:

1) Dorongan ingin tau besar

2) Sering mengajukan pertanyaan yang baik

3) Memberikan banyak gagasan dan usulan terhadap suatu masalah 4) Bebas dalam menyatakan pendapat

5) Mempunyai rasa keindahan

6) Menonjol dalam salah satu bidang seni

7) Mempunyai pendapat sendiri dan dapat mengungkapkannya, tidak mudah terpengaruh orang lain

8) Rasa humor tinggi, memiliki daya imajinasi baik

9) Keaslian (orisinalitas) tinggi (tampak dalam ungkapan gagasan, karangan dan sebagainya; dalam pemecahan masalah menggunakan cara-cara orisinalitas, yang jarang diperlihatkan anak-anak lain)

(33)

10) Dapat bekerja sendiri, senang mencoba hal-hal baru.19

Sementara itu Supriadi mengatakan bahwa ciri-ciri kreativitas dapat dikelompokkan dalam 2 (dua) kategori, yaitu kognitif dan non kognitif. Ciri kognitif diantaranya orisinalitas, fleksibilitas, kelancaran dan elaborasi. Sedangkan ciri nonkognitif diantaranya motivasi sikap dan kepribadian kreatif. Kedua ciri ini sama pentingnya, kecerdasan yang tidak ditunjang dengan kepribadian kreatif tidak menghasilkan apapun.20

c. Pembentukan Kreativitas

Kreativitas seorang anak akan tumbuh dan berkembang dengan dukungan fasilitas yang memadai dan juga kesempatan yang ada. Oleh karena itu, orang tua dan guru harus menyadari dan memberikan fasilitas dan kesempatan yang baik untuk anak. Berikut adalah pembentukan kreativitas anak dengan pendekatan 4 P menurut Utami munandar.21 1) Pribadi (Person)

Kreativitas adalah ungkapan (ekspresi) dari keunikan individu dalam interaksi dengan lingkungannya. Ungkapan kreatif ialah yang mencerminkan orisinalitas dari individu tersebut. Dari ungkapan pribadi yang unik ialah dapat diharapkan timbulnya ide- ide baru dan produkproduk inovatif. Oleh karena itu pendidik

19 Utami Munandar, Pengembangan Kreativitas Anak Berbakat, (Jakarta: Rhineka Cipta, 2002), h.

27

20 Supriadi Dedi, Kreativitas, Kebudayaan dan Perkembangan IPTEK, (Bandung: Alfabeta, 2001), h. 6

21 Utami Munandar, Op.Cit. h. 45

(34)

hendaknya dapat menghargai keunikan pribadi dan bakat-bakat siswanya (jangan mengharapkan semua melakukan atau menghasilkan hal-hal yang sama, atau mempunyai minat yang sama). Guru hendaknya membantu siswa menemukan bakat- bakatnya dan menghargainya.

2) Pendorong (Press)

Bakat kreatif siswa akan terwujud jika ada dorongan dan dukungan dari lingkungannya, ataupun jika ada dorongan yang kuat dalam dirinya sendiri (motivasi internal) untuk menghasilkan sesuatu.

Bakat kreatif dapat berkembang dalam lingkungan yang mendukung tetapi dapat pula terhambat dalam lingkungan yang tidak menunjang. Didalam keluarga, disekolah, didalam lingkungan pekerjaan maupun didalam masyarakat harus ada penghargaan dan dukungan terhadap sikap dan perilaku kreatif individu atau kelompok individu

3) Proses (Process)

Untuk mengembangkan kraetivitas, anak perlu diberikan kesempatan untuk bersibuk diri secara kreatif. Pendidik hendaknya dapat merangsang anak untuk melibatkan dirinya dalam kegiatan kreatif, dengan membantu mengusahakan sarana dan prasarana yang diperlukan. Dalam hal ini yang penting ialah memberikan kebebasan kepada anak untuk mengekspresikan

(35)

dirinya secara kreatif, tentu saja dengan persyaratan tidak merugikan orang lain atau lingkungan.

Pertama-tama yang perlu ialah proses bersibuk diri secara kreatif tanpa perlu selalu atau terlalu cepat menuntut dihasilkannya produk-produk kreatif yang bermakna. Hal itu akan datang dengan sendirinya dalam iklim yang menunjang menerima, dan menghargai. Perlu pula diingat kurikulum sekolah yang terlalu padat sehingga tidak ada peluang untuk kegiatan kreatif dan jenis pekerjaan yang monoton, tidak menunjang siswa untuk mengungkapkan dirinya secara kreatif.

4) Produk

Kondisi yang memungkinkan seseorang menciptakan produk kreatif yang bermakna ialah kondisi pribadi dan kondisi lingkungan, yaitu sejauh mana keduanya mendorong (“press”) seesorang untuk melibatkan dirinya dalam proses (kesibukan, kegiatan) kreatif.

Dengan dimilikinya bakat dan ciri-ciri pribadi kreatif, dan dengan dorongan (internal maupun eksternal) untuk bersibuk diri secara kreatif, maka produk-produk kreatif yang bermakna dengan sendirinya akan timbul hendaknya pendidik menghargai produk kreativitas anak dan mengkomunikasikannya kepada yang lain, misalnya dengan mempertunjukkan atau memamerkan hasil karya anak. Ini akan lebih menggugah minat anak untuk berkreasi.

(36)

Berdasarkan paparan metode pengembangan kreativitas melalui 4P di atas dapat disimpulkan bahwa aspek kreativitas dapat meningkat dengan 4 faktor yang meliputi pribadi, dorongan, proses, dan produk.22

d. Cara Mengembangkan Kreativitas Anak Usia Dini

Orang tua merupakan sosok yang sangat berperan untuk mengembangkan kreativitas anak disekolah. Sedangkan guru merupakan sosok yang sangat berperan ketika anak di sekolah.

Menurut Mayesty yang dikutip oleh yuliani nurani sujiono terdapat 8 cara membantu anak dalam mengekspresikan kreativitas, yaitu:

1) Membantu anak menerima perubahan

2) Membantu anak menyadari bahwa beberapa masalah tidak mudah dipecahkan

3) Membantu anak untuk mengenali berbagai masalah memiliki solusi 4) Membantu anak untuk belajar menafsirkan dan menerima

perasaannya

5) Memberikan penghargaan pada kreativitas anak

6) Membantu anak untuk merasa nyaman dalam melakukan aktivitas kreatif dan dalam memecahkan masalah

7) Membantu anak untuk menghargai perbedaan dalam dirinya

22 Utami Munandar, Op.Cit, h. 46

(37)

8) Membantu anak dalam membangun ketekunan dalam dirinya.23 e. Tujuan Pengembangan Kreativitas Anak

Kreativitas merupakan salah satu potensi yang dimiliki anak, potensi kreatif anak perlu dipupuk agar terus berkembang dan berguna bagi kehidupan anak selanjutnya.

Pengembangan kreativitas anak di PAUD bertujuan untuk:

1) Mengenalkan cara mengekspresikan diri melalui hasil karya dengan mengunakan teknik-teknik yang dikuasainya.

2) Mengenalkan cara dalam menemukan alternative pemecahan masalah.

3) Membuat anak memiliki sikap keterbukaan terhadap berbagai pengalaman dengan tingkat kelenturan dan toleransi yang tinggi terhadap ketidakpastian.

4) Membuat anak memiliki kepuasan diri terhadap apa yang dilakukannya dan menghargai hasil karya orang lain.

5) Membuat anak kreatif, yakni: a) lancar mengemukakan gagasan, b) lentur dalam menemukan pemecahan masalah, c) Orisinil dalam pemikiran, d) mampu mengelaborasi gagasan, ulet, sabar dan gigih dalam menghadapi rintangan/situasi tertentu.24

23 Yuliani Nuraini Sujiono, Bermain kreatif berbasis Kecerdasan Jamak, (Jakarta: PT Indeks, 2013), h. 39

24 Yuliani Nuraini Sujiono, Bermain kreatif berbasis Kecerdasan Jamak, (Jakarta: PT Indeks, 2013), h. 40

(38)

f. Faktor Pendukung dan Penghambat Kreativitas 1) Faktor Pendukung Kreativitas

Kreativitas merupakan potensi yang dimiliki seseorang yang dapat dikembangkan. Dalam mengembangkan kreativitas ini terdapat faktor-faktor yang dapat mendukung upaya dalam menumbuh kembangkan kreativitas. Berikut ini akan dijelaskan pendapat para ahli mengenai faktor-faktor apa saja yang dapat mendorong peningkatan kreativitas.

Hurlock mengemukakan beberapa faktor pendorong yang dapat meningkatkan kreativitas, yaitu:

a) Waktu, anak kreatif membutuhkan waktu untuk menuangkan ide/gagasan atau konsep-konsep dan mencobanya dalam bentuk baru atau original. Anak-anak TK jika sudah mencoba sesuatu mereka tidak mau atau sulit untuk pindah pada kegiatan yang lain.

b) Kesempatan menyendiri, anak membutuhkan waktu dan kesempatan menyendiri untuk mengembangkan imajinasinya.

Adakalanya anak tidak mau membaur dengan teman-temannya karena sedang melakukan sesuatu yang menarik perhatiannya.

c) Dorongan, terlepas seberapa jauh hasil belajar anak memenuhi standar orang dewasa, mereka memerlukan dorongan atau motivasi untuk kreatif, bebas dari ejekan. Anak kreatif biasanya dianggap tidak sama dengan teman lain dan mungkin berbuat

(39)

sesuatu yang aneh menurut orang dewasa dan membuat orangtua khawatir.

d) Sarana, untuk merangsang dorongan eksperimen dan eksplorasi perlu disediakan sarana bermain. Kondisi yang dapat diciptakan untuk meningkatkan kreativitas anak antara lain dengan menyediakan waktu, memberi kesempatan anak untuk menyendiri, pemberian dorongan atau motivasi serta penyediaan sarana.25

2) Faktor Penghambat Kreativitas

Dalam mengembangkan kreativitas, seseorang dapat mengalami berbagai hambatan, kendala atau rintangan yang dapat merusak dan bahkan dapat mematikan kreativitasnya.

Imam Musbiin menyatakan ada 8 penghambat kreativitas anak diantaranya sebagai berikut:

a) Tidak ada dorongan bereksplorasi, yakni tidak adanya rangsangan dan kurangnya pertanyaan yang membangkitkan rasa ingin tahu anak dapat menghambat kreativitas anak.

b) Jadwal yang terlalu ketat, karena penjadwalan kegiatan yang terlalu padat membuat anak kehilangan salah satu unsur dalam pengembangan kreativitas karena anak tidak dapat mengeskplorasi dengan kemampuannya.

25 Elizabeth B Hurlock, Perkembangan Anak, (Jakarta: Erlangga, 2013), h. 11

(40)

c) Terlalu menekankan kebersamaan keluarga. Adakalanya anak membutuhkan waktu untuk menyendiri, karena dengan kesendiriannya anak belajar mengembangkan imajinasinya sebagai bekal untuk menumbuhkan kreativitasnya. Mandiri untuk anak sangat diperlukan. Memberi kepercayaan akan menjadikan anak percaya diri.

d) Tidak boleh berkhayal, karena dengan berkhayal anak belajar mengembangkan kreativitas melalui imajinasinya. Orang tua hanya perlu mengarahkan dan memfasilitasi anak untuk mengembangkan imajinasi mereka.

e) Orang tua konservatif, yaitu orang tua yang biasanya tidak berani menyimpang dari pola sosial lama. Orang tua model ini biasanya cepat khawatir dengan proses kreativitas anak yang berada diluar garis kebiasaanya. Kondisi orang tua yang dapat meningkatkan kreativitas anak adalah yang selalu mendorong dan membimbing anak untuk menggunakan lingkungan rumah maupun sekolah sebagai sarana eksperimentasi dan eksplorasi.

f) Over protektif, karena perlindungan yang berlebihan pada anak akan menghilangkan kesempatan mereka bereksplorasi dengan cara baru atau berbeda. Kreativitas anak akan terhalang oleh aturan dan ketakutan orang tua yang sebetulnya belum tentu benar dan bahkan dapat mematikan kreasi anak untuk bereskplorasi.

(41)

g) Disiplin otoriter, karena disiplin otoriter mengarah pada anak tidak boleh menyimpang dari perilaku yang digariskan orang tua. Akibatnya, kreativitas anak menjadi terhalang oleh aturan- aturan yang belum tentu benar.

h) Penyediaan alat permainan yang terstuktur. Alat permainan yang terlalu terstuktur menghilangkan kesempatan anak melakukan bermain secara kreatif. Alat permainan yang memberi kesempatan bereksplorasi akan lebih baik digunakan untuk mengembangkan kreativitas anak.26

Dari pemaparan di atas, orang tua atau guru harus dapat memilih alat permainan yang tepat. Beberapa penghambat tersebut di atas hendaknya diperhatikan oleh guru maupun orang tua agar tidak mematikan kreativitas anak. Harapannya dengan memahami faktor penghambat kreativitas tersebut para guru TK dapat meminimalisir kesalahan dalam memberikan pelayanan pada anak didik.

2. Pendidikan Anak Usia Dini a. Pengertian Anak Usia Dini

Sebelum menjelaskan tentang anak usia dini terlebih dahulu tentu akan membahas tentang anak itu sendiri. Adapun yang dimaksud dengan anak merupakan generasi penerus bangsa dan sumber insan bagi pembangunan nasional, maka harus diperhatikan dan dibina sedini mungkin agar menjadi yang berkualitas dan

26 Imam Musbiin, Buku Pintar PAUD (dalam Perspektif Islam), (Yogyakarta: Laksana, 2010), h.107

(42)

berguna bagi bangsa.27 Sehingga kelak ketika dewasa anak benar- benar tumbuh menjadi pribadi yang mampu diandalkan baik oleh keluarga, masyarakat, bangsa maupun negara.

Usia dini merupakan periode awal yang paling penting dan mendasar sepanjang rentang pertumbuhan dan perkembangan manusia. Anak usia dini adalah individu yang sedang mengalami proses pertumbuhan dan perkembangan yang sangat pesat, bahkan dikatakan sebagai lompatan perkembangan. Anak usia dini memiliki rentang usia yang sangat berharga disbanding usia-usia selanjutnya karena perkembangan kecerdasannya sangat luar biasa.28

Menurut Mansyur anak usia dini adalah kelompok anak yang berada dalam proses pertumbuhan dan perkembangan yang bersifat unik. Mereka memiliki pola pertumbuhan dan perkembangan yang khusus sesuai dengan tingkat pertumbuhan dan perkembangannya.

Anak usia dini merupakan anak yang berada pada rentang usia 0-6 tahun atau disebut dengan usia keemasan (Golden Age), yaitu merupakan masa yang kritis bagi anak yang apabila kebutuhan tumbuh kembangnya tidak dipenuhi dengan baik maka akan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak pada tahap selanjutnya. Usia ini adalah usia yang sangat menentukan dalam pembentukan karakter dan kepribadian anak. Usia dini merupakan periode awal yang paling penting dan mendasar dalam

27 Mansyur, Pendidikan Anak Usia Dini dalam Islam,(Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2011), h.10

28 Mukhtar Latif Dkk, Pendidikan Anak Usia Dini, (Jakarta: Prenada Media Group, 2014), h.130

(43)

sepanjang rentang pertumbuhan dan perkembangan kehidupan manusia. Pada masa ini khususnya usia 4-6 tahun anak mengalami masa peka, dimana anak sensitive untuk menerima berbagai stimulus.29

Dari uraian di atas dapat penulis simpulkan bahwa anak usia dini adalah anak yang berada pada rentang usia 0-6 tahun yang sedang mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang sangat pesat, bersifat unik yang menentukan dalam pembentukan karakter dan kepribadian anak sehingga diperlukan stimulasi yang tepat agar dapat tumbuh dan berkembang dengan maksimal. Dimana anak sangat peka mendapatkan rangsangan-rangsangan baik yang berkaitan dengan semua aspek perkembangan kecerdasan anak melalui bermain.

b. Karakteristik Anak Usia Dini

Adapun karakteristik anak usia dini dibawah ini sebagai berikut:

1) Memiliki Rasa Ingin Tahu yang Besar

Anak usia dini sangat ingin tahu dunia sekitarnya. Pada masa bayi rasa ingin tahu ini ditunjukkan dengan berusaha mencari tahu apa yang menjadi perhatiannya. Anak juga gemar bertanya kepada seseorang yang menurutnya dapat membantu menghilangkan rasa ingin tahunya.

29 Dina Setyawati, Upaya Meningkatkan Kreativitas Anak Melalui Fun Cooking di Kelompok B TK Puspasari Margosari, Pengasih Kulon Progo, (Universitas Negeri Yogyakarta: Oktober 2013), h. 7

(44)

2) Merupakan Pribadi yang Unik

Meskipun banyak kesamaan dalam pola umum perkembangan anak usia dini, setiap anak memiliki ke khasannya sendiri dalam bakat, minat, gaya, sikap dan sebagainya. Keunikan tersebut berasal dari faktor genetik dan juga lingkungan untuk itu pendidik perlu menerapkan pendekatan individual dalam menangani anak usia dini.

3) Suka Berfantasi dan Berimajinasi

Fantasi adalah kemampuan membentuk tanggapan baru dengan pertolongan tanggap yang sudah ada. Sedangkan imajinasi adalah kemampuan untuk menciptakan objek atau kejadian tanpa didukung data yang nyata. Anak usia dini sangat suka membayangkan dan mengembangkan berbagai hal jauh melampaui kondisi nyata.

4) Masa Potensi untuk Belajar

Masa ini juga sering disebut masa “Golden Age” atau masa keemasan. Karena pada rentang usia ini anak mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang sangat pesat diberbagai aspek. Pendidik perlu memberikan berbagai stimulasi yang tepat agar masa peka ini tidak terlewatkan begitu saja. Tetapi mengisinya dengan hal-hal yang dapat mengoptimalkan tumbuh kembang anak.

(45)

5) Menunjukkan Sifat Egosentris

Pada usia ini anak memandang segala sesuatu dari sudut pandangnya sendiri. Anak cenderung mengabaikan sudut pandangnya sendiri. Anak cenderung mengabaikan sudut pandang orang lain. Hal itu terlihat dari perilaku anak yang masih suka berebut mainan, masih menangis, dan merengek.

6) Memiliki Rentang Daya Konsentrasi yang Pendek

Anak usia dini memiliki rentang perhatian yang sangat pendek. Perhatian anak akan mudah teralih pada hal lain terutama yang lebih menarik perhatiannya. Sebagai pendidik dalam menyampaikan pembelajaran hendaknya memperhatikan pembelajaran ini.30

3. Permainan Warna dengan Media Benang a. Pengertian Permainan Warna

Permainan dan bermain memiliki arti dan makna tersendiri bagi anak. Permainan mempunyai arti sebagai sarana mensosialisasikan diri (anak) artinya permainan digunakan sebagai sarana membawa anak kedalam masyarakat. Permainan sebagai sarana untuk mengukur kemampuan dan potensi diri anak. Anak akan menguasai berbagai macam benda, memahami sifat-sifatnya maupun peristiwa yang berlangsung didalam lingkungannya.31

30Hartati. Sophia, Perkembangan Belajar pada Anak Usia Dini, (Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi,2005)

31 Tadrikoatun Musfiroh, Cerdas Melalui Bermain, (Yogyakarta: Grasindi, 2008), h. 1

(46)

Albert H. Munsell berpendapat warna merupakan elemen penting dalam semua lingkup disiplin seni rupa, bahkan secara umum warna merupakan bagian penting dari segala aspek kehidupan manusia.32

Menurut Sir Isaac Newton ia melakukan percobaan dan menyimpulkan, apabila dilakukan pemecahan warna spektrum dari sinar matahari, akan ditemukan warna-warna yang beraneka ragam yang terdiri dari merah, jingga, kuning, hijau, biru dan ungu. Warna- warna tersebut dapat kita lihat pada pelangi.

Dari pendapat para ahli diatas dapat disimpulkan bahwa permainan warna adalah suatu proses perpaduan warna yang satu dengan warna yang lain sehingga menghasilkan warna baru. Setiap orang pasti menyukai warna terutama anak-anak karena kehadiran warna mampu memberikan keindahan, kesenangan dan nilai estetika.

Selain itu, warna juga dianggap memiliki pengaruh terhadap psikologi seseorang.

b. Pengertian Media Benang 1) Media

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, media merupakan alat (sarana) komunikasi, perantara, atau penghubung. Jika dilihat pula dari asal katanya, ‘Medius’

(bahasa Latin) yang berarti ‘tengah’, maka dapat ditarik

32 Dwi Nurhayati Adhani, Nina Hanifah, Imro’atun Hasanah, Meningkatkan Kreativitas Anak Melalui Kegiatan Bermain Warna, Jurnal PG-PAUD Universitas Trunojoyo Madura, Vol 4, No.1, (2017), 1-81

(47)

kesimpulan bahwa media mengarah pada sebuah sarana/ alat untuk yang digunakan untuk menyajikan informasi.

Menurut Khadijah media banyak dipakai dalam berbagai bidang kehidupan manusia, terutama dalam proses pembelajaran. Media digunakan untuk mempermudah penyampaian informasi, sehingga pesan yang di sampaikan pemberi informasi dapat di terima dengan baik oleh penerima informasi.33

Menurut Ahmad Rohani media merupakan segala sesuatu yang dapat ditangkap oleh indra manusia, yang berfungsi sebagai perantaa, sarana, atau alat untuk proses komunikasi (proses belajar mengajar).

Blake dan Horalsen mengatakan media adalah saluran komunikasi digunakan untuk menyampaikan pesan antara pemberi pesan (sumber) dengan penerima pesan.

Arsyad menyatakan media dapat diartikan sebagai perantara atau pengantar pesan, dari pengirim pesan ke penerimanya.

Sementara itu Syaiful Bahri Djamarah media merupakan sebuah alat bantu, yang bisa berupa apa saja, digunakan untuk menyalurkan pesan dalam rangka mencapai tujuan tertentu.

33 Khadijah, Pengembangan Kognitif Anak Usia Dini, (Medan: Perdana Publishing, 2016), h. 124

(48)

Menurut Hamidjodo media adalah segala bentuk perantara yang dipakai seseorang untuk menyebarkan ide, agar ide tersebut sampai pada penerimanya yang dituju.34

Dari pendapat beberapa para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa media adalah sesuatu yang dapat dipergunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan kemauan anak sedemikian rupa sehingga proses belajar terjadi.

2) Benang

Benang merupakan bahan utama dalam pembuatan tekstil. Benang juga digunakan sebagai bahan untuk menjahit dan untuk ditenun. Benang merupakan bahan pokok pembuatan tekstil, dimana dihasilkan dari serat alam maupun buatan. Benang sebenanrnya adalah lebih tebal dan tidakmudah lentur, dipuntir dan ditekan, walaupun lebih mudah dilipat dari pada kawat.35

Menurut Poespo benang adalah untaian serat-serat yang berkesinambungan dan dipergunakan dalam pembuatan bahan tenun dan bahan rajut.

34 Rita Kurnia, Media Pembelajaran Anak Usia Dini, (Pekanbaru: Bahan Ajar PAUD FKIR UR, 2014), h. 4

35 Anik Lailatul Khoiriah, Pengaruh Jenis Benang Rajut Terhadap Hasil Jadi Tatting Pada Kerah Rebah, Jurnal Universitas Negeri Surabaya, Vol 5, No. 3, (2016)

(49)

Hartanto menyatakan benang merupakan bahan yang dibuat dari seikat serat yang dipilin.

Sementara itu Hardisurya berpendapat benang adalah helaian atau tali halus yang dipintal dari serat, dipakai untuk menjahit atau menenun.

Dari pendapat beberapa para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa benang adalah susunan serat-serat yang teratur kearah memanjang dengan garis tengah dan jumlah antihan tertentu yang diperoleh dari suatu pengolahan yang disebut pemintalan. Serat-serat yang dipergunakan untuk membuat benang, ada yang berasal dari alam dan ada yang dari buatan. Serat-serat tersebut ada yang mempunyai panjang terbatas (disebut stapel) dan ada yang mempunyai panjang tidak terbatas (disebut filamen).

Ada beberapa jenis benang yang biasa digunakan. Tentunya sesuai dengan kebutuhan, yaitu seperti dibawah ini:

a) Benang Jahit

Untuk sebagian besar orang, pasti sudah mengenal benda tersebut. Hampir disetiap rumah pasti ada benang jahit. Karena benda tersebut berfungsi untuk menjahit bahan yang sobek seperti dalam keadaan darurat. Sebelum akhirnya memutuskan untuk pergi ke tukang jahit untuk merapikannya. Selain itu benang jahit juga mudah didapat.

(50)

Cara penggunaannya juga sangatlah mudah. Tidak perlu ada pelajaran khusus untuk menggunakan benang tersebut.

b) Benang Rajut

Benang rajut ini memang sedikit berbeda dengan kedua benda tersebut diatas. Karena selain volume benangnya yang lebih tebal, fungsinya pun berbeda.

Biasanya benang rajut ini digunakan untuk membuat sesuatu. Seperti lukisan, pakaian, topi, sepatu, dll.

Warnanya pun lebih beragam. Bahkan seperti contoh pada gambar ini, dalam satu gulungan, ada lebih dari satu warna yang berbeda-beda.

c) Benang Kasur

Benang kasur disebut juga benang jagung. Benang ini bertekstur kasar, diameter besar, dan kuat. Selain untuk menjahit kasur, benang dari serat selulosa ini juga digunakan untuk aplikasi hiasan pada pakaian.

d) Benang Katun

Benang Katun adalah benang rajut yang terbuat dari serat alami (kapas). Benang ini adalah benang yang biasa digunakan oleh pemula yang baru belajar merajut. Benang katun sifatnya dingin, ringan dan memiliki banyak variasi warna. Benang katun bisa digunakan untuk membuat berbagai macam pernik sulam.

(51)

e) Benang Nilon

Benang nilon adalah bennag rajut yang karena sifatnya yang kuat dan elastis serta mengkilat. Oleh karena itu benang nilon banyak digunakan sebagai bahan tas rajut. Benang nilon yang berukuran kecil bisa digunakan untuk membuat berbagai aksesoris.36

3) Alat dan Bahan

Alat dan bahan yang digunakan untuk melukis dengan benang adalah sebagai berikut:

a) Pewarna makanan atau cat air b) Palete atau piring kecil c) Air secukupnya

d) Kertas HVS, kertas lipat atau kertas polos lainnya e) Benang kasur

f) Tisu atau lap tangan37

4) Langkah-Langkah membuat permainan warna dengan media benang

Berikut adalah cara kerja membuat permainan warna dengan media benang, yaitu:

a) Lipat kertas HVS dahulu menjadi dua bagian, setelah itu buka lebar kembali.

36 Anik Lailatul Khoiriah, Pengaruh Jenis Benang Rajut Terhadap Hasil Jadi Tatting Pada Kerah Rebah, Jurnal Universitas Negeri Surabaya, Vol 5, No. 3, (2016)

37Sudono Anggani, Sumber Belajar dan Alat Permainan, (Jakarta: PT Grasindo, 2006), hal 15

Gambar

Tabel 2.1 Persamaan dan Perbedaan Skripsi..............................................
Tabel 4.1  Temuan Penelitian
FOTO PENELITIAN

Referensi

Dokumen terkait

Sebelum permainan di mulai Anak-anak dibariskan di lapangan dan dibagi menjadi kelompok dilanjutkan untuk setiap siswa yang mau start pertama memegang tali sepanjang

Adapun tujuan khusus yang hendak dicapai dalam penelitian adalah ingin mengetahui pengembangan kecerdasan visual spasial pada anak melalui permainan balok di TK RA

Penelitian ini meyimpulkan bahwa penggunaan permainan plastisin dapat meningkatkan kreativitas anak Playgroup di PAUD Nur Rohmah Plupuh Sragen Tahun Ajaran

Penelitian ini bertujuan mendiskripsikan proses penerapan metode permainan konstruktif dengan lego untuk meningkatkan kreativitas anak, dengan

Permainan Balok merupakan bentuk alat permainan edukatif yang terdiri dari potongan-potongan balok dengan berbagai bentuk, warna dan ukuran. Alat permainan ini

Anak-Anak Sedang Melakukan Hompimpa Sebelum Bermain Permainan Tradisional Engklek Perubahan sikap ataupun karakter pada anak dapat dilihat setelah melaksanakan permainan

Sebagai hasil penelitian ini didapat suatu kesimpulan bahwa sebelum permainan modern mulai menyebar lebih luas di kota Kudus, maka perlu untuk dibuatnya sebuah social campaign yang

Kemampuan motorik halus anak usia 5-6 tahun di RA Miftahul Ulum Bumijawa Kabupaten Tegal berhasil ditingkatkan melalui media playdough, berdasarkan hasil penelitian bahwa anak yang