i
PENGEMBANGAN MEDIA PAPAN KANTONG PINTAR (PAKAPIN) DALAM MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA
SISWA KELAS V di MI AL HUDA GUMUKMAS – JEMBER TAHUN PELAJARAN 2021/2022
SKRIPSI
diajukan kepada Universitas Islam Negeri Kiyai Haji Achmad Siddiq Jember untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh
gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd) Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan
Jurusan Pendidikan Islam dan Bahasa
Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah
Oleh : Putri Handayani NIM : T20184046
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI KIAI HAJI ACHMAD SIDDIQ JEMBER FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
JUNI 2022
ii
PENGEMBANGAN MEDIA PAPAN KANTONG PINTAR (PAKAPIN) DALAM MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA
SISWA KELAS V di MI AL HUDA GUMUKMAS – JEMBER TAHUN PELAJARAN 2021/2022
SKRIPSI
diajukan kepada Universitas Islam Negeri Kiyai Haji Achmad Siddiq Jember untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh
gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd) Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan
Jurusan Pendidikan Islam dan Bahasa
Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah
Oleh :
Putri Handayani NIM : T20184046
Disetujui Pembimbing
Dr. Nino Indrianto, M.Pd NIP. 198606172015031006
iii
PENGEMBANGAN MEDIA PAPAN KANTONG PINTAR (PAKAPIN) DALAM MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA
SISWA KELAS V di MI AL HUDA GUMUKMAS – JEMBER TAHUN PELAJARAN 2021/2022
SKRIPSI
diajukan kepada Universitas Islam Negeri KH Achmad Siddiq Jember untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd.)
Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Jurusan Pendidikan Islam dan Bahasa
Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah Hari : Senin
Tanggal : 27 Juni 2022
Tim Penguji :
Ketua Sidang Sekretaris
Dr. Hartono, M.Pd Muhammad Kholil, M.Pd NIP. 198609022015031001 NIP. 198606132015031005 Anggota :
1. Dr. Lailatul Usriyah, M.Pd.I ( )
2. Dr. Nino Indrianto, M.Pd ( )
Menyetujui
Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan
Prof. Dr. Hj. Mukni’ah, M.Pd.I NIP : 196405111999032001
iv MOTTO
v
PERSEMBAHAN
Terucap syukur Alhamdulillah atas kehadirat Allah SWT dalam mengakhiri masa studi di ku di Universitas Kiyai Haji Achmad Siddiq Jember.
Kupersembahkan karya sederhana ini kepada orang orang yang telah berjuang selama ini, mengajariku tentang makna hidup serta mengajari tentang kedewasaan dalam menjalani lika-liku kehidupan agar lebih berarti :
1. Ayah dan Ibu tercinta, Kariyono dan Almh Siti Aminah yang telah memanjatkan doa disetiap sujudnya untuk masa depan putrinya, kasih sayang yang tak pernah hilang dan telah menjadi motivator dalam menyelesaikan skripsi ini.
2. Bapak Jupri selaku kakek yang telah merawat, mendidik, serta membesarkan dengan penuh kasih sayang, ketulusan dan keikhlasannya tanpa mengeluh dan yang menjadikan alasan saya untuk semangat menyelesaikan skripsi ini.
3. Ibu Zulaikhah, S.Pd selaku guru sekaligus orang tua yang telah mendukung dan membantu dalam mengejar cita-cita hingga saat ini.
vi
KATA PENGANTAR
Bismillahirrohmanirrohim
Segala puji kepada Allah dzat yang telah melimpahkan segala rahmat dan hidayah kepada hamba-Nya yang tiada tara. Dzat yang memiliki segalanya.
Shalawat dan salam tercurahkan bagi kekasih-Nya, junjungan Nabi besar Muhammad SAW yang telah membawa kita ke jaman yang terang benderang ini,
„ad-din al-islam‟.
Mengingat selesainya tugas penulisan ini tidak dapat dilepaskan dari peran berbagai pihak, maka kami haturkan terima kasih dan rasa penghargaan sedalam- dalamnya kepada :
1. Bapak Prof. Dr. H. Babun Suharto SE., MM. selaku Rektor UIN KHAS Jember yang telah memberikan segala fasilitas dan membantu kelancaran atas terselesainya skripsi ini.
2. Ibu Prof. Dr. Hj. Mukni’ah., M.Pd.I selaku dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan UIN KHAS Jember yang telah mengizinkan peneliti melakukan penelitian ini.
3. Bapak Dr. Rif’an Humaidi, M.Pd.I, selaku ketua Jurusan Pendidikan Islam dan Bahasa yang telah mengizinkan peneliti melakukan penelitian ini.
4. Bapak Dr. Hartono, M.Pd selaku ketua Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan yang telah membantu dalam proses perkuliahan yang penulis tempuh saat ini.
vii
5. Bapak Dr. Nino Indrianto, M.Pd selaku Dosen Pembimbing yang telah banyak memberi konstribusi baik arahan, kritikan, saran, motivasi, dorongan dan bimbingannya sehingga dapat menyelesaikan skripsi ini 6. Kepada dosen UIN KHAS Jember yang telah memberikan ilmunya dengan
sabar dan ikhlas selama penulis menempuh ilmu di kampus mulai awal hingga akhir.
7. Kepada Bapak Muhammad Zaenal Mustofa, M.Pd selaku kepala Madrasah Ibtidaiyah Al Huda Gumukmas Jember yang telah memberikan izin ataspenelitian kepada penulis.
8. Kepada Bapak Misbahul Munir, S.Sos, M.Pd sel;aku guru kelas V MI Al Huda Gumukmas Jember yang selalu membantu memberikan arahan, bimbingan, serta motivasi dalam penelitian.
9. Seluruh guru di MI Al Huda Gumukmas yang telah membimbing dan mengijinkan untuk melakukan penelitian di sekolah MI Al Huda Gumukmas.
10. Kepada siswa-siswi kelas V MI Al Huda Gumukmas yang bersedia menjadi objek dalam penelitian ini.
11. Kepada teman terbaik saya Muhammad Faisol Aziz Fanani yang telah mendukung, memotivasi dalam keadaan apapun dari awal perkuliahan hingga saat ini.
12. Kepada sahabt-sahabat saya Yulia Novita Sari, Umi Hamidatul Khofifah, Ana Wardatul Jannah, Aulia Nur Hayati dan Dewiyatul Jannah yang selalu ada dalam kondisi apapun.
viii
13. Kepada teman-teman kelas PGMI D2 dan seluruh teman-teman yang ada di sekitar yang menjadi teman hingga saat ini.
Teriring doa semoga amal kebaikan dari semua pihak mendapat pahala terbaik dan berlipat ganda dari Allah SWT karena sesungguhnya Allah Maha Berkuasa untuk melakukan semua itu.. Amiin. Semoga Allah SWT melimpahkan rahmat dan karunia-Nya kepda kita semua. Penulis menyadari bahwa di dunia ini tidak ada yang sempurna, begitu juga dalam penulisan skripsi ini yag tidak lepas dari kekurangan dan kesalahan.
Semoga karya ilmiah ini dapat bermanfaat bagi siapa saja yang membacanya dan menjadi referensi untuk perbaikan pendidikan khususnya pada jenjang Pendidikan Dasar.
Penulis
Putri Handayani NIM. T20184046
ix
ABSTRAK
Putri Handayani, 2022 : Pengembangan Media Papan Kantong Pintar Dalam Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas V di MI Al-Huda Gumukmas Jember Tahun Pelajaran 2021/2022.
Kata Kunci : Pengembangan, Media Papan Kantong Pintar, Hasil Belajar Matematika.
Dengan adanya kreatifitas guru dalam mengembangkan media pembelajaran akan berdampak positif bagi peserta didik. Seperti halnya minimnya pengembangan media di MI Al-Huda Gumukmas Jember. Matematika merupakan mata pelajaran yang sering kali dianggap mata pelajar yang paling sulit oleh peserta didik. Padahal apabila pendidik mampu mengolah pembelajaran dengan pengembangan media yang baik, maka mata pelajaran matematika tidak akan dianggap mata pelajar sulit oleh peserta didik. di MI Al Huda Gumukmas Jember sangat minim pengembangan media pembelajaran, sehingga hasil belajar matematika peserta didik kurang maksimal.
Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan media papan kantong pintar (pakapin) yang valid, layak, dan efektif untuk meningkatkan hasil belajar matematika siswa kelas V di MI Al Huda Gumukmas Jember tahun pelajaran 2021/2022.
Penelitian ini adalah penelitian Reseacrh and Development (R&D) dengan menggunakan model penelitian ADDIE yang terdiri dari 5 tahapan yaitu analisis, desain, pengembangan, implementasi, dan evaluasi. Subjek dari penelitian ini peserta didik kelas V di MI Al-Huda Gumukmas – Jember Tahun Pelajaran 2021/2022 yang berjumlah 40 siswa. Produk akhir dari pengembangan ini adalah media papan kantong pintar. Pengembangan media pakapin ini divalidasi oleh 3 validator yaitu validasi ahli media, validasi ahli materi, dan validasi ahli pembelajaran.
Hasil penelitian ini membuktikan bahwa tingkat validitas media papan kantong pintar menujukkan rata-rata prosentase sebesar 93% yang artinya media papan kantong pintar dikategorikan sangat valid. Data keefektifan diperoleh dari hasil belajar peserta didik menggunakan pretest, posttest dan angket respon peserta didik Data yang diperoleh sebelum diberikan perlakuan, rata-rata nilai pretest hasil belajar pada kelas V adalah 54,48. Sedangkan setelah diberikan perlakuan, rata-rata nilai posttest hasil belajar adalah 78,1. Hal ini menunjukkan bahwa media pakapin dapat meningkatkan hasil belajar matematika siswa kelas V. Sedangkan analisis respon peserta didik diukur dengan menggunakan angket respon siswa terhadap media pakapin. Hasil rata-rata respon peserta didik yang ditunjukkan dalam tabel tersebut, menunjukkan bahwa media pakapin mendapatkan respon yang sangat baik dari peserta didik dengan prosentase rata – rata 88,1%. Analisis kepraktisan media pakapin dilihat melalui pengamatan observer (rekan peneliti) yang diukur dari hasil keterlaksanaan proses pembelajaran. Berdasarkan hasil pengukuran secara keseluruhan, prosentase rata rata nilai keterlaksanaan pembelajaran menggunakan media pakapin dalam meningkatkan hasil belajar matematika siswa kelas V adalah 86,5%. Berdasarka kategori tersebut, maka pembelajaran menggunakan media pakapin dalam meningkatkan hasil belajar matematika terlaksana dengan sangat jelas.
x
DAFTAR ISI
Hal
HALAMAN SAMPUL ... i
LEMBAR PERSETUJUAN ... ii
LEMBAR PENGESAHAN ... iii
MOTTO ... iv
PERSEMBAHAN ... v
KATA PENGANTAR ... vi
ABSTRAK ... ix
DAFTAR ISI ... x
DAFTAR TABEL ... xii
DAFTAR GAMBAR ... xiii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Tujuan Penelitian dan Pengembangan ... 6
C. Spesifikasi Produk yang Diharapkan ... 6
D. Pentingnya Penelitian dan Pengembangan ... 7
E. Asumsi Keterbatasan Penelitian dan Pengembangan ... 8
F. Definisi Istilah atau Definisi Operasional ... 8
BAB II KAJIAN PUSTAKA ... 12
A. Penelitian Terdahulu... 12
B. Kajian Teori ... 20
BAB III METODE PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN ... 39
A. Model Penelitian dan Pengembangan ... 39
B. Prosedur Penelitian dan Pengembangan ... 39
xi
C. Uji Coba Produk ... 46
D. Desain Uji Coba ... 47
1. Subjek Uji Coba ... 48
2. Jenis Data ... 49
3. Instrumen Pengumpulan Data ... 50
4. Teknik Analisis Data ... 57
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN ... 62
A. Penyajian Data Uji Coba ... 62
B. Analisis Data ... 83
C. Revisi Produk ... 90
BAB V KAJIAN DAN SARAN ... 93
A. Kajian Produk yang Telah Direvisi ... 93
B. Saran Pemanfaatan, Diseminasi, dan Pengembangan Produk Lebih Lanjut ... 95
DAFTAR PUSTAKA ... 99
xii
DAFTAR TABEL
No. Uraian Hal
2.I Penelitian Terdahulu ... 17
3.1 Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar ... 39
3.2 Indikator danTujuan Pembelajaran ... 40
3.3 Kriteria Kevalidan Media Pakapin ... 57
4.1 Hasil Validasi Media ... 69
4.2 Validasi Materi ... 70
4.3 Validasi Ahli Pembelajaran... 72
4.4 Hasil Pretest Siswa Kelas V ... 77
4.5 Hasil Postest Siswa Kelas ... 79
4.6 Hasil Validasi ... 82
4.7 Data Analisis oleh Observer ... 84
4.8 Analisis Data Menggunakan N-Gain Score ... 86
xiii
DAFTAR GAMBAR
No. Uraian Hal
3.1 Alur Penelitian dan Pengembangan Model ADDIE ... 38
3.2 Peta Konsep Materi Bangun Ruang ... 41
3.3 Desain Uji Coba Produk ... 45
4.1 Pengumpulan alat dan bahan ... 64
4.2 Pembuatan penopang untuk roda putar ... 65
4.3 Tampilan Pakapin sebelum direvisi ... 67
4.4 Tampilan roda putar sebelum direvisi ... 68
4.5 Proses Dokumentasi ... 74
4.6 Kegiatan Berdiskusi Kelompok ... 75
4.7 Penggunaan media Pakapin ... 76
4.8 Diagram Peningkatan Hasil Belajar Matematika ... 88
4.9 Tampilan Nomor Dalam Kantong Lebih Simpel dan Menarik ... 90
4.10 Jarum Penunjukkan Pada Roda Putar Lebih Jelas dan Terbaca ... 91
1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pada umumnya, anak di lingkungan sekolah dasar mengalami proses perkembangan pada tingkat pola pikirnya, dimana dari lingkungan sekitar menuju ke lingkungan luas belum mampu berpikir secara umum. Tahapan pemikiran anak pada pendidikan dasar masih belum formal dan bersifat konkret. Artinya, kemapuan anak di tingkatan pendidikan dasar sering kali sesuai dengan apa yang dilihatnya. Mereka masih kesulitan untuk berpikir yang tidak ada di depannya atau dihadapannya. Hal ini menimbulkan sering kali minimnya hasil belajar anak karena pendidik mengajarkan menggunakan teori saja tanpa melibatkan apa yang dapat dilihat dan diraba oleh peserta didik.
Dalam Undang – Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Bab VI Tentang Sistem Pendidikan Nasional menjelaskan bahwa Pendidikan Dasar merupakan jenjang pendidikan yang melandasi jenjang pendidikan menengah.1 Pendidikan dasar berbentuk sekolah dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) atau bentuk lain yang sederajat serta sekolah menengah pertama (SMP) dan Madrasah Tsanawiyah (MTs), atau bentuk lain yang sederajat. Menurut Ki Hajar Dewantara pendidikan merupakan upaya untuk memajukan budi pekerti, pikiran, serta jasmani
1 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang SISDIKNAS (Bandung: Citra Umbara, 2006), 72.
anak, agar dapat memajukan kesempurnaan hidup yaitu hidup dan menghidupkan anak yang selaras dengan alam dan lingkungan masyarakatnya.2
Secara khusus, pendidik hendaknya mampu berperan tak hanya sebagai pengajar tetapi juga sebagai pebimbing, perantara sekolah dan masyarakat, administrator, fasilitator dan lain sebagainya. Islam juga telah mengajarkan tentang pentingnya pendidikan yang harus dilalui dari beberapa proses. Sebagaimana firman Allah SWT dalam Al Qur’an surat An- Nahl ayat 43 yang berbunyi :
ِزْكِّذلاَلْهَا اْىُلَ ـْساَف ْمِهْيَلِا ْيِحْىُّو اًلاَجِر اَّلِا َكِلْبَق ْهِم اَىْلَسْرَا اَمَو اَل ْمُتْىُك ْنِا
ََۙنْىُمَلْعَت
Yang artinya : Dan kami tidak mengutus sebelum engkau (Muhammad), melainkan orang laki-laki yang Kami beri wahyu kepada mereka, maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.
Hasil belajar merupakan gambaran mengenai bagaimana peserta didik memahami materi yang telah disampaikan oleh pendidik. Hasil belajar merupakan bentuk nilai yang berupa huruf atau angka yan diperoleh oleh peserta didik setelah melakukan kegiatan pembelajaran.
Untuk memperoleh hasil belajar yang maksimal maka diperlukan berbagai usaha dan cara. Salah satu bentuk usaha dalam meniigkatkan hasil belajar
2 Armos Neolaka dan Grace Amalia, Landasan Pendidikan : Dasar Pengenalan Diri Sendiri Menuju Perubahan Hidup (Depok : Kencana, 2017), 12.
peserta didik adalah dengan memanfaatkan media pembelajaran. Media pembelajaran dapat digunakan sebagai alat bantu dalam menyampaikan materi yang akan diajarkan oleh pendidik kepada peserta didik agar materi tersebut mudah diterima dan dipahami oleh peserta didik.
Dalam dunia pendidikan pada saat ini tak lepas dari semakin berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi. Teknologi menjadi bagian penting sebagai pendukung meningkatnya kualitas pendidikan. Salah satu pengaruh teknologi di dunia pendidikan adalah banyaknya pemanfaatan media pembelajaran yang menarik dan menyenangkan. H. Malik (1994) menjelaskan bahwa media pembelajaran adalah ssegala ssuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan (bahan pembelajaran), sehingga dapat merangsang perhatian, minat, pikiran dan perasaan dalam kegiatan belajar untuk mencapai suatu pembelajaran tertentu.3 Media dalam proses pembelajaran merupakan segala sesuatu yang bersifat merangsang pikiran, perasaan, dan kemauan peserta didik sehingga dapat mendorong terciptanya proses pembelajaran yang baik untuk menambah informasi dan ilmu pengetahuan yang telah disampiakan oleh pendidik sehingga tujuan pembelajaran tercapai dengan baik.4
Banyak sekali macam – macam media pemelajaran yang dapat digunakan dalam pembelajaran di kelas. Saalah satu media pembelajaran yang dapat digunakan adalah media papan kantong pintar. Media papan
3 Rudy Sumiharsono dan Hisbiyatul Hasanah, Media Pembelajaran, (Jember : Pustaka Abadi, 2017), 10.
4 Ilyas Ismail, Teknologi Pembelajaran Sebagai Media Pembelajaran ( Makasar : Cendekia Publisher, 2020), 43.
kantong pintar ini merupakan media pembelajaran yang diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik dalam mengikuti pembelajaran terutama mata pelajaran matematika. Dimana aktivitas belajar dengan permainan yang dirancang dalam pembelajaran kooperatif memungkinkan siswa dapat belajar lebih rileks disamping menumbuhkan tanggung jawab, kerja sama, persaingan sehat, dan keterlibatan belajar. Media dalam proses pembelajaran merupakan segala sesuatu yang bersifat merangsang pikiran, perasaan, dan kemauan peserta didik sehingga dapat mendorong terciptanya proses pembelajaran yang baik untuk menambah informasi dan pemahaman serta ilmu pengetahuan yang telah disampaikan oleh pendidik sehingga tujuan pembelajaran tercapai dengan baik.5Penggunaan media pembelajaran menarik dan kreatif apat menarik perhatian peserta didik agar menciptakan pembelajaran yang menyenangkan dan bermakna.6 Kurangnya keterampilan guru dalam menggunakan media, menyebabkan pembelajaran menjadi membosankan. Padahal mata pelajaran matematika adalah mata pelajaran yang menurut beberapa peserta didik menjadi mata pelajaran yang sulit dan membosankan. Untuk itu penggunaaan media pembelajaran sangat dibutuhkan dalam proses pembelajaran. Adanya media pembelajaran yang tepat dan menarik dapat menumbuhkan pola berpikir peerta didik, dapat meningkatkan kefektifan pembelajaran sehingga kemudian bisa meningkatkan hasil belajar peserta didik.
5 Rudy Sumiharsono dan Hsibiyatul Hasanah, “Media Pembelajaran”, (Jember : Pustaka Abadi,2017), 10.
6 Rudi Suliana, “Media Pembelajaran, Hakikat, Pengembangan, Pemanfaatan, dan Penilaian”, (Bandung, CV. Wacana Prima,2009),6.
Dari uraian diatas, maka alasan peneliti melakukan penelitian ini adalah di Lembaga Pendidikan Dasar khususnya di Madrasah Ibtidaiyah Al Huda Gumukmas Jember perkembangan prestasi baik di bidang akaemik maupun non akademik meningkat, daya tarik masyarakat sekitar untuk bersekolah di MI Al Huda Gumukmas lebih tinggi dibanding sekolah di lembaga sekitarnya, tenaga pendidik yang ada di MI al Huda merupakan guru – guru kompeten di bidangnya, tenaga pendidik sering mengikuti pelatihan- pelatihan kependidikan seperti workshop dan seminar.7 Hanya saja dalam penggunaan media pembelajaran kurang maksimal. Pada saat pembelajaran terlihat kurangnya keaktifan atau respo peserta didik terhadap materi pembelajaran. Padahal media pembelajaran sangat penting digunakan dalam proses pembelajaran untuk meningkatkan hasil belajar peserta didik agar dapat menerima materi pembelajaran dengan baik. Untuk itu peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN PAPAN KANTONG PINTAR (PAKAPIN) DALAM MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA KELAS V MI AL HUDA GUMUKMAS JEMBER TAHUN PELAJARAN 2021/2022. Dengan harapan kedepannya MI AL HUDA Gumukmas semua guru dapat memanfaatkan berbagai macam media pembelajaran yang menarik dan sesuai dengan pembelajaran yang diajarkan.
7 Moh Zaenal Mustofa, diwawancarai oleh Putri Handayani, Jember, 18 April 2022.
B. Tujuan Penelitian dan
Pengembangan
1. Menghasilkan produk berupa media pembelajaran pada mata pelajaran matematika kelas V di MI Al Huda Gumukmas Jember tahun pelajaran 2021/2022.
2. Mengetahui kelayakan media pembelajaran Pakapin pada mata pelajaran matematika kelas V di MI Al Huda Gumukmas Jember tahun pelajaran 2021/2022.
3. Mengetahui keefektifan pengembangan media pembelajaran Pakapin pada mata pelajaran matematika kelas V di MI Al Huda Gumukmas Jember tahun pelajaran 2021/2022.
C. Spesifikasi Produk yang Diharapkan
Media yang akan dikembangakan dalam penelitian adalah media papan kantong pintar sebagai media pembelajaran matematika kelas V di MI AL Huda Gumukmas yang dirancang sesuai dengan pembelajaran yang akan di ajarkan pada mata pelajaran matematika materi bangun ruang.
Sehingga mampu menumbuhkan suasana pembelajaran yang menyenangkan.
Media papan kantong pintar ini terbuat dari triplek yang dilapisi kain flanel berukuran 60 cm x 40 cm dan terdapat kantong kantong yang terbuat dari kain flanel. Pembuatan papan terbuat dari triplek ini bertujuan agar media tidak mudah rusak dan awet atau dapat dipergunakan berkali kali.
Sedangkan pembuatan kantong yang berbahan dasar kain flanel juga
bertujuan agar media bisa awet dan tidak mudah ruak jika terkena air.
Karena jika kantong terbuat dari kertas, maka jika terkena sedikit air pun kantong akan rusak. Dalam media ini terdapat 8 kantong yang disesuaikan dengan pembentukan kelompok dan juga jumlah soal yang disediakan.
Penggunaan media pakapin ini dibantu dengan roda putar sebagai pendukung pengambilan kantong. Jadi pengambila soal atau pertanyaan yang ada di dalam kantong, disesuaikan dengan penentuan jarum panah yang ditunjukkan pada roda putar setelah peserta didik memutarnya. Hal ini bertujuan agar dalam pengambilan soal itu adil tidak ada pilih memilih sesuai keinginan.
D. Pentingnya Penelitian dan Pengembangan
Dengan mengembangkan media pembelajaran yang menarik, inovatif, dan menyenangkan peserta didik akan lebih aktif dan semangat dalam mengikti kegiatan belajar mengajar terutama pada pembelajarn matematika yang dianggap mata pelajaran yang sulit. Media pembelajaran PAKAPIN pada pembelajaran matematika mengarahkan kegiatan belajar yang positif. Dengan pengembangan media ini peserta didik diharapkan tidak lagi menganggap sulit mata pelajaran matematika, melainkan matematika menjadi pelajaran yang disukai oleh peserta didik. Tak hanya disukai, tetapi diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar matematika.
E. Asumsi Keterbatasan Penelitian dan Pengembangan
Asumsi pengembangan media pembelajaran Pakapin adalah media pembelajaran yang dikembangkan dari media papan berkantong yang diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik pada mata pelajaran matematika terutama pada materi bangun ruang.
Beberapa keterbatasan dari pengembangan media Pakapin ini adalah :
1. Media pembelajaran Pakapin terbatas pada mata pelajaran matematika materi bangun ruang.
2. Subjek penelitian adalah peserta didik kelas V di MI AL Huda Gumukmas tahun 2021.
3. Media pembelajaran Pakapin kurang cocok digunakan pada peserta didik yang berkebutuhan khusus.
F. Definisi Istilah atau Definisi Operasional 1. Pengembangan Media Pembelajaran
Pengembangan adalah suatu proses mengembangkan, membuat produk atau menghasilkan produk, divalidasi dan diuji cobakan keefektifan produk yang telah dibuat. Pengembangan adalah suatu proses mengembangkan yang berangkat dari kebutuhan, bukan keinginan.
Pengembangan media pembelajaran adalah suatu proses mengembangkan, membuat produk dan di validasi yang berangkat dari kebutuhan pembelajaran.
2. Media Papan Kantong Pintar
Media pembelajaran pakapin adalah media pembelajaran matematika yang berupa papan berkantong dalam bentuk media visual.
Media pakapin ini dibuat dari bahan dasar sterofoam yang berbentuk papan dengan diberi kantong – kantong yang terbuat dari kertas buffalo sebagai kantong untuk meletakkan materi yang akan diajarkan. Dengan menggunakan media ini diharapkan pembelajaran menjadi lebih menarik dan menyenangkan juga dapat meningkatkan hasil belajar. Tak hanya itu dengan desain yang menarik diharapkan agar memudahkan peserta didik dalam pembelajaran dan juga memudahakn pendidik untuk menyampaikan materi pelajaran dengan lebih efektif dan efisien.
3. Hasil Belajar Matematika
Hasil belajar adalah suatu usaha untuk merubah tingkah laku peserta didik dengan menggunakan bahan pengajaran yang dilakukan secara sistematis. Perubahan tingkah laku yang dimaksud disini adalah berupa afektif, kognitif, dan psikomotorik. Hal yag dilakukan untuk mengetahui hasil belajar dalah dengan dilakukannya tes baik tes lisan maupun tes tulis yang dilakukan oleh pendidik kepada peserta didik.
Mata pelajaran matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang penting untuk di berikan kepada peserta didik mulai dari sekolah dasar hingga sekolah menengah atas dengan kemampuan menghitung dan mengolah data. Mata pelajaran matematika ini juga dapat dijadikan
sarana pemecahan masalah dan mengomunikasikan ide atau gagasan menggunakan symbol, table, diagram, dan media lainnya.
Hasil belajar matematika adalah suatu usaha untuk merubah tingkah laku peserta didik dengan menggunakan bahan pengajaran yang dilakukan secara sistematis baik dari segi afektif, kognitif, maupun psikomotorik.
4. Kelayakan Media Pakapin
Kelayakan media pakapin diketahui atau ditentukan dari hasil validasi oleh 3 validator. Validasi sesndiri merupakan permohonan persetujuan atau pengesahan terhadap kesesuaian produk pengembangan dengan kebutuhan. Proses validasi memiliki tujuan untuk mengetahui layak tidaknya produk yang dihasilkan, atau kali ini adalah media pakapin yang dikembangkan sehingga dapat digunakan dalam proses pembelajaran. Uji validasi dapat dilakukan oleh ahli (ahli media, ahli materi, dan ahli pembelajaran).
5. Keefektifan Media Pakapin
Keefektifan merupakan pengukuran yang mengacu pada ingkatan bahwa media pakapin dalam penelitian ini ditentukan oleh hasil pegamatan observer, respon peserta didik dan hasil belajar matematika.
Keefektifan sangat penting untuk mengetahui tingkat penerapan teori, media, atau model dalam situasi tertentu pada penelitian pengembangan.
Keefektifan juga dapat diartikan sebagai suatu pengukuran dalam
penelitian untuk mengetahui tingkat konsistensi produk pengembangan yang sesuai dengan tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan.
12
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Penelitian Terdahulu
Pada bagian ini berisi hasil kajian pustaka yang meghubungkan kerangka acuan komprehensif mengenai konsep, prinsip, atau teori yang digunakan sebagai landasan dalam memecahkan masalah yang dihadapi atau dalam mengembangkan produk yang diharapkan. Kerangka acuan disusun berdasarkan kajian berbagai aspek teoritis dan empiris yang terkait dengan permasalahan dan upaya yang akan ditempuh untuk memecahkannya.8
Penelitian terdahulu yang relevan dengan penelitian ini diantaranya sebagai berikut :
a. Penelitian yang ditulis oleh Nur Arsi tahun 2020 yang berjudul “penerapan media Pakapin (papan kantong pintar) untuk meningkatkan keaktifan siswa kelas 1 pada mata pelajaran tematik di MIS Nurul Yaqin” penelitian jurusan Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah Fakultas Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam negeri Sulthan Thaha Saifuddin Jambi Tahun 2020.
Hasil penelitian ini menunjukan media Pakapin (papan kantong pintar) dapat meningkatkan hasil belajar siswa d alam siklus 1 dan siklus 2.dengan nilai aktifittas belajar siswa pada siklus 1 sebesar % dan siklus 2 % sedangkan meningfkatkan hassil siswa belajar dapat diukur dari setiap
8 Tim Penyusun, “Pedoman Penulisan Karya Tulis Ilmiah”, (Jember : IAIN Jember Press, 2018),45.
siklus, hasil belajar siswa pada siklus II. Penelitian ini menggunakan penelitian tindakan kelas, dengan desain jhon eliot, sedangkan pengumpulan data dilakukan dengan teknik, wawancara, observasi, dokumentasi.9
Persamaan dari penelitian terdahulu dengan penelitian yang dilakukan adalah sama – sama membahas tentang media papan kantong pintar dan sama – sama meneliti di lembaga madrasah ibtidaiyah. Yang membedakan penelitian ini dengan penelitian yang akan dilakukan adalah terletak pada metode penelitian. Yang mana penelitian ini menggunakan metode penelitian tindakan kelas, sedangkan penelitian yang dilakukan adalah menggunakan penelitian R&D (Research and Development) atau penelitian dan penembangan, dan juga lokasi dan kelas penelitian juga berbeda.
b. Penelitian yang ditulis oleh Retno Septiya Anggraini tahun 2019 yang berjudul “Pengembangan Media Pakapin (Papan Kantong Pintar) Pada Mata Pembelajaran Tematik Kelas 1 SD/MI” penelitian jurusan Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah Fakultas Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Intan Lampung Tahun 2019.
Berdasarkan hasil validasi ahli materi memperoleh presentase rata-rata 93,125% dengan kriteria “sangat layak”. Hasil validasi ahli media memperoleh presentase rata-rata 93,75% dengan kriteria “sangat layak”.
Hasil validasi dengan praktisi pendidikan memperoleh presentase rata-rata
9 Nur Arsi, ”Penerapan Media Pakapin (Papan Kantong Pintar) untuk Meningkatkan Keaktifan Siswa Kelas 1 Pada Pembelajaran Tematik DIMIS Nurul Yaqin”, Skripsi : UIN Sulthan Thaha Islam Saifuddin Jambi, 2020,12.
94,24% dengan kriteria “sangat layak”. Berdasarkan hasil uji coba kelas kecil memproleh rata-rata 85,57% dengan kriteria “sangat layak” dan uji coba kelas besar memperoleh prsentase rata-rata 83,63% dengan kriteria
“sangat layak”.10
Persamaan dari penelitian terdahulu dengan penelitian yang dilakukan adalah sama – sama membahas tentang pengembangan media papan kantong pintar, sama sama menggunakan metode penelitian R&D ( Reasearch and Development) atau penelitian pengembangan, dan juga sama – sama meneliti di lembaga madrasah ibtidaiyah. Yang membedakan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya adalah terletak pada lokasi dan kelas penelitian. c. Penelitian yang ditulis oleh Rahma Isnaini tahun 2021 yang berjudul
“Pengembangan Media PAKAPINDO (Papan Kantong Pintar Doraemon) Pada Pembelajaran Tematik Kelas 3 MI Nurul Iman Pematang Gajah”
penelitian Program studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah Fakultas Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Thaha Syaifuddin Jambi Tahun 2021.
Berdasarkan hasil penelitian pengembangan, pengembangan media dilakukan pra observasi terlebih dahulu kemudian melakukan observasi ke sekolah dan setelah itu mulai mengembangkan media yang dibuat. Dimana media Pakapindo ini mendapatkan presentase skor ahli desain sebesar
10 Retno Septiya, “Pengembangan Media Pakapin (Papan Kantong Pintar) Pada Pembelajaran Tematik Kelas I SD/MI”, Skripsi : Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Intan Lampung, 2019, 2.
90,7%, presentase skor ahli bahasa sebesar 88%, presentase kor ahli tematik sebesar 89,3%, presentase skor ahli pembelajaran sebesar 88,3%. Desain pengembangan media pembelajaran pakapindo yaitu meliputi model pengembangan ADDIE (Analisis, Design, Development, Implementation, Evaluation) yang mana pembelajaran yang dibahas adalah pembelajaran pada tema 3 subtema 4 pemelajaran 1 yaitu tentang konverensi waktu dan proses pembuatan garam.11
Persamaan dari penelitian terdahulu dengan penelitian yang akan dilakukan adalah sama – sama membahas tentang pengembangan media papan kantong pintar dengan menggunakan metode penelitian R&D (Research and Development) atau penelitian pengembangan dan juga sama – sama meneliti di lebaga marasah ibtidaiyah. Yang membedakan penelitian ini dengan penelitian yang akan dilakukan adalah pembelajaran, lokasi, dan kelas penelitian.
d. Penelitian yang ditulis oleh Widia Astuti tahun 2021 yang berjudul Pengembangan Media Sederhana Papan Kantong Pintar (Pakapin) Pada Materi Energi dan Perubahannya Kelas III Sekolah Dasar penelitian Jurusan Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah Fakultas Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau Pekanbaru Tahun 2021.
11 Rahma Isnaini, ”Pengembangan Media Pakapindo (Papan Kantong Doraemon) Pada Pembelajaran Tematik Kelas 3 MI Nurul Iman Pematang Suruh), Skripsi : Universitas Islam Negeri Sultan Thaha Syaifuddin Jambi, 2021, 68.
Berdasarkan hasil penelitian pengembangan diperoleh data bahwa tingkat validitas produk media pembelajaran papan kantong pintar pada materi Energi dan Perubahannya adalah sangat valid dengan rata-rata 97,5%
dari ahli materi dan 87,5 dari ahli media. Sedangkan tingkat kepraktisan produk adalah sangat praktis dengan rata-rata penilaian dari guru 96,2% dan rata-rata penilaian dari peserta didik sebesar 89%. Sehingga media dpaat digunakan oleh peserta didik dan guru dalam proses pembelajaran.12
Persamaan penelitian ini dengan penelitian yang dilakukan yaitu sama sama menggunakan penelitian R&D (Research and Development) dengan menggunakan model ADDIE. Namun yang membedakan penelitian ini dengan penelitian yang akan dilakukan adalah kelas yang dilakukan penelitian, materi yang digunakan, dan juga penelitian ini meneliti di Sekolah Dasar sedangkan penelitian yang akan dilakukan di Madrasah Ibtidaiyah.
e. Skripsi yang ditulis oleh Kamaladini tahun 2021 yang berjudul
“Pengembangan Media papan Pintar untuk Meningkatkan Motivasi Peserta Didik Pada Tema 7 Sub Tem 2 Pembelajaran 5 di Kelas V Sekolah Dasar”
penelitian Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Mataram Tahun 2021.
12 Widia Astuti, ”Pengembangan Media Sederhana Papan Kantong Pintar (Pakapin) Pada Materi Energi dan Perubahannya Kelas III Sekolah Dasar”, (Skripsi : Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau Pekanbaru, 2021), 70.
Berdasarkan hasil penelitian dan pengembangan diperoleh hasil validasi yang menujukkan kevalidan yang terbukti dengan hasil validasi media, materi dan validator praktisi yaitu 97,45% yang dikategorikan sangat layak. hasil kepraktisan media pembelajaran papan pintar diperoleh dari data kelas 2 sebagai uji lapangan utama didapatkan data prosentase 89,69% pada kriteria sangat praktis. Dari hasil gain standar sebesar 0.95 yang menunjukkan peningkatan motivasi siswa berada pada kriteria tinggi.13
Persamaan penelitian ini dengan penelitian yang dilakukan yaitu sama sama menggunakan penelitian R&D (Research and Development) dan meneliti di lingkunga Pendidikan Dasar. Yang membedakan penelitian ini dengan penelitian yang dilakukan terletak pada materi yang digunakan,kelas penelitian, model penelitian ini menggunakan model penelitian Borg and Gall sedangkan penelitian yang akan dilakukan menggunakan model penelitian ADDIE, penelitian ini meneliti di Sekolah Dasar sedangkan penelitian yang dilakukan meneliti di Madrasah Ibtidaiyah.
13 Kamaladini, “Pengembangan Media Papan Pintar untuk Meningkatkan Motivasi Peserta Didik Pada Tema 7 Sub Tema 2 Pembelajaran 5 di Kelas I Sekolah Dasar”, (Skripsi : Universitas Muhammadiyah Mataram, 2021), 83.
Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu No Nama dan
Judul Penelitian
Persamaan Perbedaan
1 Nur Arsi 2020, Penerapan media pakapin (papan kantong pintar) untuk meningkatkan keaktifan siswa kelas 1 pada mata pelajaran tematik di MIS Nurul Yaqin
a. Menggunakan media pakapin
b. Meneliti di lembaga Madrasah Ibtidaiyah
a. Meneliti tentang peningkatan aktifitas siswa
b. Metode penelitian PTK c. Kelas penelitian
d. Mata pelajaran e. Materi pelajaran
2 Retno Septiya Anggraini 2019, Pengembangan media pakapin (papan kantong pintar) pada mata pelajaran tematik kelas 1 MI
a. Menggunakan media pakapin
b. Menggunakan metode penelitian R&D c. Meneliti di lembaga
Madrasah Ibtiaiyah
a. kelas penelitian b. mata pelajaran c. materi pelajaran
3 Rahma Isnaini 2021,
Pengembangan media
pakapindo (papan kantong doraemon) pada pembelajaran tematik kelas 3 MI Nurul Iman Pematang Gajah
a. Menggunakan media papan kantong pintar b. Menggunakan metode
penelitian R&D c. Menggunakan model
penelitian ADDIE d. Meneliti di lembaga
Madrasah Ibtidaiyah
a. Kelas penelitian b. Mata pelajaran c. Materi pelajaran
4 Widia Astuti 2021,
Pengembangan Media
Sederhana
a. Menggunakan media papan kantong pintar b. Menggunakan metode
penelitian R&D c. Menggunakan model
a. Kelas penelitian b. Mata pelajaran c. Materi pelajaran
d. Penelitian di sekolah dasar
Papan Kantong Pintar (Pakapin) Pada Materi Energi dan Perubahannya Kelas III Sekolah Dasar
penelitian ADDIE
5 Kamaladini 2021,
Pengembangan Media papan Pintar untuk Meningkatkan Motivasi Peserta Didik Pada Tema 7 Sub Tem 2
Pembelajaran 5 di Kelas V Sekolah Dasar
a. Menggunakan metode penelitian R&D b. Kelas penelitian
a. Media papan pintar b. Menggunakan model
penelitian Borg and Gall
c. Fokus penelitian meningkatkan motivasi belajar
d. Penelitian di Sekolah Dasar
Dari kelima penelitian tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa perbedaannya penelitian ini dengan penelitian sebelumnya terletak pada kelas penelitian, mata pelajaran, fokus penelitian, kelas penelitian serta metode penelitian. Penelitian yang pertama menggunakan metode penelitian PTK dan fokus penelitiannya tentang peningkatan aktivitas siswa menggunakan media pakapin. Sedangkan penelitian 2 sampai 4 menggunakan metode penelitian R&D (Research and Develompent) dengan model penelitian ADDIE dan penelitian kelima menggunakan model penelitian Borg and Gall. Adapun persamaanya adalah sama menggunakan media pembelajaran papan kantong pintar (pakapin), hanya saja pada penelitia kelima menggunakan media papan pintar.
B. Kajian Teori
1. Pengembangan Media Pembelajaran a. Pengertian Pengembangan
Penelitian dan pengembangan merupakan suatu proses atau langkah – langkah yang digunakan untuk mengembangkan produk atau menyempurnakan produk yang telah ada sebelumnya. Penelitian dan pengembangan merupakan suatu metode yang digunakan untuk menghasilkan produk, dan diuji cobakan keefektifan produk yang telah dibuat. Pengembangan bukan hanya sekedar menciptakan produk, tetapi juga mempertanggungjawabkan produk yang telah diciptakan.14 Menurut Borg & Gall pengembangan adalah suatu proses yang digunakan untuk mengembangkan produk dan memvalidasi produk pendidikan. Dan menurut
s
eel dan Richey (1994) pengembangan merupakan prosedur kajian sistematik terhadap desain, pengembangan dan evaluasi program, proses dan produk yang memenuhi kriteria validitas, praktis, dan efektif.Sehingga dapat disimpulkan bahwa pengembangan adalah suatu proses mengembangkan produk untuk digunakan, bukan untuk menguji teori dengan prosedur yang sitematik yang memenuhi kriteria validitas, kepraktisan, dan keefektifan.
14 Sugiono, “Metode Penelitian dan Pengembangan Pendekatan Kualitatif, Kuantitatif, dan R&D”, (Bandung, Alfabeta,2015), 407.
b. Pengertian media pembelajaran
Media merupakan teknologi pembawa pesan yang digunakan dan dimanfaatkan untuk keperluan proses pembelajaran. Media adalah bentuk alat peraga yang mnyajikan pesan dan informasi tentang fakta, konsep, prosedur, dan prinsip pokok bahasanya. Media digunakan atau dibuat oleh guru untuk menyampaikan pembelajaran guna tercapainya tujuan pembelajaran.
Pembelajaran adalah suatu sistem yang terdiri dari berbagai komponen, diantaranya meliputi : tujuan pembelajaran, sumber belajar, media pembelajaran, strategi pembelajaran, dan evaluasi pembelajaran.
Pembelajaran juga dapat diartikan sebagai suatu kegiatan yang melibatkan masyarakat yang bertujuan untuk memperoleh pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai psoitif melalui pemanfaatan berbagai sumber belajar. Pembelajaran melibatkan peserta didik sebagai pembelajar dan pendidik sebagai fasilitator. 15
Media pembelajaran merupakan komponen pembelajaran yang berperan penting dalam kegiatan belajar mengajar. Menurut Munadi, media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dijadikan sebagai sarana menyampaikan atau menyalurkan pesan dari sumber secara terencana sehingga tercipta lingkungan belajar yang kondusif dimana penerimanya
15 Shoffan Shoffa, Iis Holisin, dkk. “Perkembangan Media Pembelajaran di Perguruan Tinggi”, (Bojonegoro : Agrapana Media, 2021), 6.
dapat melaksanakan proses belajar mengajar yang efisien dan kondusif.
Sedangkan menurut Kustandi dan Sucipto, media pembelajaran diartikan sebagai alat yang dapat membantu proses pembelajaran yang berfungsi untuk memperjelas penyampaian pesan sehingga dapat mencapai tujuan pembelajaran dengan baik dan sempurna. Berikutnya, MenurutArsyad media dalam proses pembelajaran diartikan sebagai alat – alat grafis, photografis, atau elektrolis untuk menangkap, memproses, dan menyusun kembali informasi verbal dan visual. Artinya media adalah alat yang digunakan untuk menyampaikan pesan – pesan pembelajaran.16
Dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan atau sebagai bahan pembelajaran, sehingga mampu merangsang minat, perhatian, perasaan peserta didik da pikiran dalam kegiatan belajar mengajar untuk mencapai tujuan pembelajaran. Dengan tercapainya tujuan pembelajaran, tentunya akan dapat menjadikan pmbelajaran menadi maksimal dan dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik.
c. Tujuan Media Pembelajaran
Adapun tujuan media pembelajaran menurut Sumantri, yaitu sebagai berikut : pertama, memberikan kemudahan kepada peserta didik untuk memahami konsep, prinsip, sikap, dan juga keterampilan terntentu.
Dengan media pembelajaran guru dapat memberikan contoh konsep,
16 Nurdyansyah, Media Pembelajaran Inovatif, (Sidoarjo : UMSIDA Press, 2019), 45.
prinsip, dan sikap yang abstrak serta menunjukkan langkah konkret dan contoh keterampilan yang akan dibentukkan pada peserta didik. Kedua, memberikan pengalaman belajar yang berbeda dan bervariasi sehingga mampu merangsang minat belajar peserta didik.
Dengan media pembelajaran, guru tidak hanya menjelaskan pembelajaran secara verbal saja, tetapi dapat dilakukan dengan gambar, video, teks, dan suara. Ketiga, menumbuhkan sikap dan keterampilan tertentu dalam teknologi. Media dapat menyajikan bentuk konkret atau contoh dari sikap- sikap atau keterampilan yang hendak ditanamkan peserta didik. dengan media pembelajaran, peserta didik akan lebih tertarik untuk menggunakan atau mengoperasikan media sehingga mampu membentuk sikap positif peserta didik perkembangan sekaligus terampil dalam menggunakan teknologi. Keempat, menciptakan situasi belajar yang tidak mudah dilupakan oleh peserta didik. hal ini juga dapat meningkatkan daya tahan (eksistensi) peserta didik terhadap materi yang sudah dipelajari oleh peserta didik. 17
d. Landasan Media Pembelajaran
Landasan media pembelajaran memiliki beberapa tinjauan diantaranya: landasan filosofis, psikologis, teknologis, dan empiris.
Landasan filosofis berpandangan bahwa dengan digunakannya berbagai
17 Hasnul Fikri dan Ade Sri madona, Pengembangan Media Pembelajaran Berbasis Multimedia Interaktif, (Yogyakarta : Samudra Biru, 2018), 12.
jenis media media hasil teknologi baru di dalam kelas, mengakibtakan proses pembelajaran kurang manusiawi. Pandangan guru terhadap peserta didik dalam proses pembelajaran sangat berarti. Jika guru menganggap peserta didik sebagai anak yang memiliki kepribadian, harga diri, motivasi, dan memiliki kemampuan pribadi yang berbeda dengan yang lain, maka menggunakan media hasil teknologi baru atau tidak, kegiatan pembelajaran yang akan dilakukan tetap saja menggunakan pendekatan humanis.
Landasan psikologis berpandangan bahwa dengan memperhatikan unik dan kompleksnya poses pembelajaran, maka pemilihan media dan metode pembelajaran akan berpengaruh terhadap hasil belajar peserta didik.
oleh sebab itu, pemilihan media harus memperhatikan kompleksitas dan keunikan proses belajar, memahami makna persepsi serta faktor-faktor yang berpengaruh proses pembelajaran yang berlangsung optimal dan efektif.
Berkaitan dengan hubungan konkrit-abstrak dan kaitannya dengan penggunaan media pembelajaran ada beberapa pendapat yang dikemukakan.
Pertama, Jerome Bruner, mengemukakan bahwa dalam pembelajaran hendaknya menggunakan urutan dari belajar dengan gambaran atau film (iconic representation of experiment) kemudian belajar dengan symbol, yaitu menggunakan kata-kata (symbolic representation). Kedua, Charles F.Haban, mengemukakan bahwa sebenarnya nilai dari media itu terletak pada tingkat realistiknya dalam penanaman konsep yang membbuat jenjang berbagai jenis media dari nyata sampai abstrak. Ketiga, Edgar Dale, membuat jenjang
konkrit-abstrak dari peserta didik yang berpartisipasi pada pengalaman nyata, menuju peserta didik sebagai pengamat kejadian nyata, dan dilanjutkan ke peserta didik sebagai pengamat terhadap kejadian yang disajikan dengan media, dan terakhir peserta didik sebagai pengamat yang disajikan dengan simbol.
Landasan teknologis berpendapat bahwa teknologi pembelajaran merupakan sautu teori dan praktek perancangan, pengembangan, pengelolaan, dan penilaian proses juga sumber belajar. Teknologi pembelajaran dapat diartikan sebagai proses kompleks dan terpadu yang melibatkan orang, prosedur, ide, peralatan, dan organisasi untuk menganalsisi masalah, mencari cara pemecahan, melaksanakan, mengevaluasi, dan mengelola pemecahan-pemecahan dalam kegiatan belajar yang terkontrol.
Landasan empiris menunjukkan bahwa terdapat interaksi antara penggunaan media dan karakteristik belajar peserta didik dalam menentukan hasil belajar peserta didik. Artinya peserta didik akan mendapatkan keuntungan apabila menggunakan media pembelajaran sesuai dengan tipe dan gaya belajarnya. Peserta didik yang memiliki tipe belajar visual akan memperoleh keuntungan apabila pembelajaran yang dilakukan menggunakan media visual seperti gambar, diagram, video atau film.
Sedangkan peserta didik yang memiliki pola belajar auditif akan mendapatkan keuntungan apabila belajar dengan menggunakan medi seperti
radio, rekaman suara, dan ceramah guru. Berdasarkan landasan empiris tersebut, maka pemilihan media pembelajaran bukan atas dasar kesukaan guru, tetapi harus mempertimbangkan kesesuaian antara karakteristik peserta didik, karakteristik materi pelajaran, dan karaktersrik media itu sendiri. 18 e. Klasifikasi Media Pembelajaran
Klasifikasi media pembelajaran menurut Bretz terdiri dari media cetak, media audio, media semi gerak, media visual diam, media visual gerak, media audio, media audio visual diam, media audio visual gerak. Kemudian ada klasifikasi media pembelajaran menurut Arsyad yaitu terdiri dar benda nyata, bahan yang tidak di proyeksikan, rekaman audio – audio dalam kaset atau piringan, gambar diam yang diproyeksikan, gambar bergerak yang di proyeksikan, gabungan media. Sedangkan yang terakhir ada klasifikasi media menurut Leshin, Pollock dan Reigeluth adalah media berbasis manusia, media berbasis cetak, media berbasis visual, media berbasis audio – visual, medi berbasis computer. 19
f. Fungsi Media Pembelajaran
Pada awalnya media pembelajaran hanya berfungsi sebagai alat bantu visual dalam pembelajaran, yaitu berupa sarana yang mampu memberikan pengalaman visual kepada peserta didik antara lain mendorong motivasi
18 Daryanto, “Media Pembelajaran : Peranannya Sangat Penting Dalam Mencapai Tujuan Pembelajaran”, (Yogyakarta : Penerbit Gava Media, 2016), 12.
19 Nurdyansyah, Media Pembelajaran Inovatif, 48.
belajar, memperjelas dan mempermudah konsep yang kompleks dn abstrak menjadi lebih sederhana, mudah dipahami, dan juga konkret.
Media dijadikan sebagai komponen sistem pembelajaran yang memiliki fungsi berbeda dengan fungsi komponen-komponen lainnya, yaitu sebagai komponen yang dimuati pesan dalam proses pembelajaran yang digunakan untuk disampaikan kepada peserta didik. dalam proses penyampaiannya media pembelajaran ini berfungsi dengan baik apabila media tersebut dapat digunakan seara perorangan maupun secara berkelompok.20
Media pembelajaran memiliki beberapa fungsi lainnya. Pertama, media pembelajaran dapat membangkitkan motivasi dan minat belajar peserta didik. kedua, media pembelajaran dapat membantu peserta didik untuk meningkatkan pemahaman, memudahkan mendapatkan informasi, menyajikan data dengan menarik dan terpercaya, dan memudahkan untuk menafsirkan data. Ketiga, media pemelajaran sebagai alat bantu pembelajaran yang ikut mempengaruhi situasi, kondisi, dan lingkungan sekitar dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran dengan baik. Keempat, media pembelajaran dapat membangkitkan motivasi dan rangsanagan berpikir peserta didik dalam kegiaan pembelajaran. Kelima media pembelajaran dapat berguna untuk membangkitkan gairah belajar serta memungkinkan peserta didik untuk mampu belajar mandiri sesuai dengan
20 Septy Nurfadilah dkk, “Media Pembelajaran”, (Sukabumi : CV Jejak anggota IKAPI, 2021), 29.
minat dan kemampuannya. Dan yang kelima media pembelajaran juga dapat meningkatkan pengetahuan, memperluas pengetahuan, serta memberikan fleksibilitas dalam penyampaian pesan dari pendidik kepada peserta didik.
g. Manfaat Media Pembelajaran
Pembelajaran adalah sebuah proses komunikasi yang melibatkan tiga komponen pokok, yaitu komponen pengirim pesan (guru), komponen penerima pesan (peserta didik), dan komponen peserta didik itu sendiri yang berupa materi pembelajaran. Dalam proses pembelajaran sering terjadi kegagalan komunikasi yang artinya pesan atau materi yang disampaikan pendidik tidak dapat diterima atau sulit diterima oleh peserta didik yang menimbulkan kesalahan persepsi.
Media pembelajaran memiliki beberapa manfaat diantaranya : pembelajaran lebih menarik, materi yang diberikan lebih jelas, peserta didik tidak mudah bosan, merangsang kepekaan, dan memungkinkan terjadi interaksi langsung.
h. Prinsip – Prinsip Media Pembelajaran
Dalam penggunaan media pembelajaran, prinsip pokok yang harus diperhatikan pada saat kegiatan belajar mengajar adalah bahwa media diarahkan dan digunakan untuk memudahkan peserta didik dalam memahami materi pembelajaran. Agar media pembelajaran dimanfaatkan dengan benar untuk memberikan pehamanan kepada peserta didik, maka ada beberapa prinsip yang harus diperhatikan diantaranya :
a) Media yang digunakan pendidik harus sesaui dengan tujuan pembelajaran.
b) Media yang digunakan sesuai dengan materi pembelajaran yang akan diajarkan.
c) Media pembelajaran sesuai dengan kebutuhan, minat, dan kondisi peserta didik.
d) Media pembelajaran yang diterapkan harus efektif dan efisien.
e) Medi pembelajaran sesuai dengan kemampuan pendidik dalam mengoperasikannya.21
i. Faktor – Faktor Yang Harus Diperhatikan dalam Pemilihan Media Pembelajaran
Secara umum pemilihan media pembelajaran dapat dilakukan dengan mempertimbangkan faktro-faktor sebagai berikut :
a) Objektivitas
Pendidik harus menghindari unsur subjektivitas dalam pemilihan media pembelajaran. Artinya, pendidik dalam pemilihan media pembelajaran pendidik tidak boleh memilih atas kehendak dan kesenangan pribadi.
Untuk itu, dalam menghindari hal yang seperti itu alangkah baiknya pendidik meminta pandangan atau saran dari teman sejawat atau meilbatkan peserta didik dalam pemilihan media pembelajaran.
21 Wina Sanjaya, “Strategi Pembelajaran : Berorientasi Standar Proses Pendidikan”, (Jakarta : Prenadamedia Group, 2006), 173.
b) Program Pengajaran
Program pengajaran yang akan di sampaikan kepada peerta didik harus sesuai dengan kurikulum yang ada dan yang sudah ditetapkan, baik struktur maupun isinya dan juga kedalamannya. Kecuali program hanya digunakan saat mengisi waktu senggang atau waktu luang saja.
c) Sasaran Program
Peserta didik menjadi sasaran program yang menerima informasi pengajaran melalui media pembelajaran. Pada kondisi tertentu dan tingkat usia tertentu peserta didik memiliki kemampuan tertentu pula, baik dari daya imajinasinya, cara berpikirnya, maupun daya tahan dalam belajarnya. Untuk itu, media yang digunakan harus memperhatikan keseusian dengan tingkat perkembangan peserta didik.
d) Situasi dan Kondisi
Yang dimaksud situasi dan kondisi ini yaitu keadaan sekolah serta peserta didik yang akan mengikuti pelajaran.
e) Kualitas teknik
Kualitas teknik media pembelajaran harus diperhatikan kesesuaian dan juga sudah memenuhi syarat.
f) Efektivitas dan efisiensi penggunaan
Keefektifan berkenaan dengan hasil yang ingin dicapai, dan efisiensi berkenaan dengan proses pencapaian hasil tersebut. Keefektifan dalam penggunaan media dibuktikan dengan media pembelajaran dapat
diserapnya secara optimal oleh peserta didik atau tidak. Sedangkan efisiensi meliputi penggunaan media pembelajaran tersebut apakah waktu, tenaga, dan biaya yang dikeluarkan untuk mencapai tujuan seminim mungkin.22
2. Papan Kantong Pintar
Papan kantong pintar adalah media pembelajaran dalam bentuk media visual yang dapat digunakan pada pembelajaran matematika sebagai saraa memudahkan peserta didik unuk memahami suatu pembelajaran matemamatika secara praktis dan mudah.23
Papan Kantong Pintar memiliki keunggulan dan kekurangan.
Kelebihan papan kantong antara lain mempunyai desain yang menarik minat untuk belajar sehingga mudah dicerna oleh peserta didik khususnya pada mata pelajaran matematika, meningkatkan pemahaman peserta didik sehingga dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik. adapaun kekuranganya yaitu pembuatan media membutuhkan waktu yang cukup banyak, bahan yang digunakan cukup banyak sehingga juga membuthkan biaya yang banyak.24
22 Ihsana El Khuluqo, “Belajar dan Pembelajaran”, (Yogyakarta : Pustaka Belajar, 2017), 154.
23 Nur Arsi, “Penerapan Media Pakapin , 12.
24 Rahman Isnanini, Pengembangan Media Pakapindo, 17.
3. Hasil Belajar Matematika a. Pengertian Hasil Belajar
Hasil belajar memiliki makna yaitu perubahan – perubahan yang terjadi pada diri peserta didik, baik yang menyagkut aspek kognitif, psikomotorik, maupun afektif sebagai hasil dari kegiatan pembelajaran.
Sebagaiamana yang dijelaskan oleh Nawawi dalam K. Brahim (2007 : 39) yang mengatakan bahwa hasil belajar sebagai tingkat keberhasilan siswa dalam mempelajari materi pelajaran di sekolah yang diyatakan dalam skor yang diperoleh dari hasil tes mengenal sejumlah materi pelajaran tertentu.
Hasil belajar siswa adalah kemampuan yang diperoleh anak setelah melalui kegiatan belajar. Belajar itu sendiri merupakan suatu proses seseorang yang berusaha untuk memperoleh suatu bentuk perubahan perilaku yang relatif menetap. Dalam kegiatan pembelajaran, atau kegiatan instruksional, biasanya guru menetapkan tujuan belajar. Anak yang berhasil dalam belajar adalah yang berhasil mencapai tujuan – tujuan pembelajaran atau tujuan instruksional.25
25 Ahmad Susanto, “Teori Belajar dan Pembelajaran di Sekolah Dasar”, (Jakarta : Prenamedia, 2013), 5.
b. Mata Pelajaran Matematika
Pembelajaran merupakan komunkasi dua arah, mengajar dilakukan oleh pihak guru sebagai pendidik, sedangkan belajar dilakukan oleh oleh peserta didik. di dalamnya pembelajaran mengandung makna belajar dan mengajar. Belajar tertuju kepada apa yang harus dilakukan oleh seseorang sebagai subjek yang menerima pelajaran, sedangkan mengajar berorientasi pada apa yang harus dilakukan oleh guru sebagai pemberi pelajaran. Menurut Dimyati (2006), pembelajaran adalah kegiatan guru secara terprogram dalam desain instruksional, untuk membuat peserta didik belajar secara aktif, yang menekankan pada penyediaan sumber belajar. Pembelajaran berarti aktivitas guru dalam merancang bahan pengajaran agar proses pembelajaran dapat berlangsung efektif, aktif, dan bermakna.
Matematika merupakan ilmu tentang pola dan hubungan, sebab matematika sering dicari keseragamaan berururtan dan berkaitan dari sekumpulan knsep-konsep tertentu atau model yang merupakan repreentasinya, sehingga dapat dibuat generalisasinya untuk selanjutnya dan dibuktikan kebenarannya secara deduktif (Ibrahim dan Suparmi, 2012:5).26
26 Muhammad Aminuddin, “Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Pada Materi Pecahan Melalui Penerapan Pendekatan Pakem Siswa Kelas V SD Negeri 1 Pengasih Kabupaten Kulon Progo”, Skipsi : Universitas Negeri Yogyakarta, 2013, 28.
Pembelajaran matematika adalah suatu proses pembelajaran yang dibangun oleh guru untuk mengembangkan kreativitas berpikir peserta didik yang dapat meningkatkan kemampuan berpikir peserta didik, serta dapat meningkatkan kemampuan mengkonstruksi pengetahuan baru sebagai upaya meningkatkan penguasaan yang baik dalam materi matematika. Pembelajaran matematika juga dapat diartikan sebagai suatu proses belajar mengajar yang mengandung dua jenis kegiatan yang tidak terpisahkan yaitu kegiatan belajar dan mengajar yang berkolaborasi secara terpadu menjadi kegaiatan pada saat terjadi interaksi antara peserta didik dengan guru di saat pembelajaran matematika sedang berlangsung.
Hasil belajar matematika merupakan kemampuan yang diperoleh peserta didik setelah melalui kegiatan pembelajaran dalam mata pelajaran matematika. Hasil belajar matematika merupakan suatu usaha untuk merubah tingkah laku peserta didik dengan menggunakan bahan pengajaran matematika yang dilakukan secara sistematis. sebagai proses untuk menentukan nilai belajar peserta didik melalui kegiatan penilaian atau pengukuran hasil belajar. Dengan kata lain hasil belajar matematika diartikan sebagai suatu proses untuk menentukan nilai belajar peserta didik melalui kegiatan penilaian atau pengukuran hasil belajar mata pelajaran matematika.
c. Hakikat Pembelajaran Matematika
Pada umumnya guru mengajarkan matematika dengan menerapkan konsep dan operasi matematika, memberikan contoh soal, serta meminta peserta didik untuk mengerjakan soal yag sejenis dengan soal yang telah diajarkan oleh pendidik. Menurut Van de Henvel- Panhuizen (2000) dalam Zainurie (2007), bila peserta didik belajar matematika terpisah dari pengalaman sehari-hari dengan mengaplikasikan matematika. Djamarah (1999:136) menjelaskan mengenai kegiatan belajar mengajar dan tidak ada kejelasan bahan yang disampaikan dapat dibantu dengan adanya media pembelajaran. Media dapat menjadi perwakilan apa yang kurang mampu guru mengucapkan melalui kata kata atau kalimat.
Menurut Mujiono (1994:31) dalam proses belajar mengajar ada empat komponen penting yang berpengaruh bagi keberhasilan belajar peserta didik, yaitu bahan belajar, suasana belajar, medi pembelajaran, dan sumber belajar, serta guru sebagai subjek pembelajaran.27
d. Pentingnya Media Pembelajaran dalam Matematika
Matematika adalah suatu disiplin ilmu yang memiliki ke khususan dibanding dengan disiplin ilmu yang lainnya yang harus memperhatikan hakikat matematika dan kemampuan peserta didik
27 Rostina Sundayana, “Media dan Alat Peraga Dalam Pembelajaran Matematika”, (Bandung : Alfabeta, 2013), 24.
dalam belajar. Tanpa memperhatikan tujuan tersebut kegiatan belajar tidak akan berhasil. Seseorang dikatakan belajar apabila dapat diasumsikan dalam diri orang itu menjadi suatu proses kegiatan yang mengakibatkan suatu perubahan tingkah laku. Dalam proses belajar matemarika, prinsip belajar harus terlebih dahulu dipilih, sehingga sewaktu mempelajari matematika dapat berlangsung dengan lancar.
Misalnya Ketika mempelajari konsep B yang mendasarkan pada konsep A, maka seseorang harus terlebih dahulu memahami konsep A. tanpa memahami konsep A, tidak mungkin seseorang mampu memahami konsep B. Hal ini berarti mempelajari matematika haruslah bertahap dan berurutan serta mendasarkan pada pengalaman belajar yang terdahulu.
Media tentu sangat berperan penting dalam meningkatkan kualitas Pendidikan, termasuk untuk meningkatkan kualitas Pendidikan matematika. Media pembelajaran dapat digunakan untuk meningkatkan pemahaman dan penguasaan objek Pendidikan. Beberapa media pembelajaran yang sering digunakan dalam pembelajaran diantaranya media cetak, elektronik, dan peta. Dengan adanya media pembelajaran, konsep dan symbol matematika yang tadinya bersifat abstrak akan menjadi konkret. Sehingga kita dapat memberikan pengenalan konsep
dan symbol matematika sejak dini, yang disesuaikan dengan taraf berpikir ana atau peserta didik.28
4. Media Pembelajaran dalam Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Media pembelajaran merupakan alat bantu yang digunakan untuk menyampaikan pesan atau materi kepada peserta didik sehingga memudahkan peserta didik untuk memahami materi atau pesan yang disampaikan oleh pendidik. Media pembelajaran memiliki banyak jenis, seperti media pembelajaran visual, media pembelajaran audio, dan media pembelajaran audiovisual. Penggunaan media pembelajaran yang sesuai dan tepat tentunya dapat mempengaruhi proses belajar peserta didik menjadi lebih baik. Dengan adanya media pembelajaran, peserta didik akan mudah menangkap materi yang dijelaskan atau disampaikan oleh peserta didik.
Salah satu manfaat media pembelajaran adalah dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik. Penggunaan media yang tepat pada materi yang tepat tentunya akan merangsang pola pikir peserta didik dan akan memudahkan peserta didik dalam menankap materi yang disampaikan oleh pendidik. Ketika peserta didik mampu menangkap dan memahami materi dengan baik, maka akan dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik.
Matematika merupakan mata pelajaran yang sering dianggap sulit oleh peserta didik karena menggunakan teknik menghitung. Untuk itu media
28 Rostina Sundaya, ‟‟Media dan Alat Peraga Dalam Pembelajaran Matematika”, (Bandung : Alfabeta, 2013), 29.
pembelajaran yang tepat, efektif dan efisien menjadi solusi dalam menyampaikan materi matematika dengan baik. Ketika pendidik menggunakan media pembelajaran pada pembelajaran matematika dan menyebabkan peserta didik lebih mudah dalam memahami apa yang disampaikan, maka akan mudah pendidik mampu meningkatkan hasil belajar matematika peserta didik.
39
BAB III
METODE PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN
A. Model Penelitian dan Pengembangan
Penelitian dan pengembangan merupakan langkah- langkah atau rangkain proses dalam mengembangkan produk yang telah ada agar dapat dipertanggung jawabkan. Proses penelitain dan pengembangan mennunjukkan suatu siklus yang diawali dengan adanya kebutuhan, permasalahan yang membutuhkan pemecahan suatu produk tertentu. Model pengembangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah model pengembangan prosedural yang bersifat deskriptif model ADDIE. Pengembangan model ADDIE merupakan model pengembangan yang berorientasi kelas (Hamzah, 2019). Model ini merupakan model sebuah konsep pengesmbangan produk pembelajaran yang berorientasi pada kebutuhan peserta didik. Artinya, konsep ADDIE diaplikasikan untuk menyusun rancangan pembelajaran yang berdasarkan kinerja peserta didik. model ADDIE menggunakan 5 tahapan yai