Pengembangan Perangkat Pembelajaran Berbasis Model Discovery Learning untuk Meningkatkan Kemampuan Pemahaman Konsep dan Disposisi
Matematis Siswa Berbantuan Geoboard Anggi Ramadani Simatupang1 Universitas Islam Negeri Sumatera Utara
[email protected] Siti Maysarah 2.
Universitas Islam Negeri Sumatera Utara [email protected]
ABSTRACT
The purpose of this study is to determine the validity, practicality and effectiveness of learning tools developed based on the discovery lerning model to improve the ability to understand concepts and mathematical dispositions of geoboard-assisted students.
Researchers use the development method or R&D (research and development) with a 4-D model (four-D) developed by Thiagarajan, Semmel and Semmel. Which includes the process of define, design, develop, and disseminate stages. The subjects in this study were grade VII students of Al Manar Medan Private Junior High School. From the results of field trials, it can be concluded that: 1) learning devices that meet the validity criteria with a very valid predicate with each RPP average value is 4.61, Module is 4.56, and LAS is 4.58, 2) practical learning tools based on the validation results from the expert team have met the validity with a little revision and the results of interviews with students / users get positive responses, 3) meet the effectiveness criteria based on the results of the concept comprehension ability test meet classical completeness with a value of 86.36%, the results of teacher observations managing learning have been effective because of the increase from the first meeting to the last meeting, the results of achieving the ideal percentage of time interval are at the threshold of time tolerance of predetermined categories, and from the results of the mathematical disposition ability questionnaire it is concluded that all aspects get a positive response.
Keywords: Learning Tools, Discovery Learning Models, 4-D Development Models, Concept Comprehension Abilities and Mathematical Dispositions
Abstrak
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kevalidan, kepraktisan dan keefektifan perangkat pembelajaran yang dikembangkan berbasis model discovery lerning untuk meningkatkan kemampuan pemahaman konsep dan disposisi matematis siswa berbantuan geoboard. Peneliti menggunakan metode pengembangan atau R&D (research and development) dengan model 4-D (four-D) yang dikembangkan oleh Thiagarajan, Semmel dan Semmel. Yang meliputi proses tahapan define, desaign, develop, dan disseminate. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas VII SMP Swasta Al Manar Medan. Dari hasil uji coba lapangan dapat disimpulkan bahwa: 1) perangkat pembelajaran yang memenuhi kriteria kevalidan dengan predikat valid
dengan masing-masing nilai rata RPP adalah 4,61, Modul adalah 4,56, dan LAS adalah 4,58, 2) perangkat pembelajaran yang praktis berdasakan hasil validasi dari tim ahli telah memenuhi kevalidan dengan sedikit revisi dan hasil wawancara dengan siswa/pengguna mendapatkan tanggapan yang positif, 3) memenuhi kriteria keefektifan berdasarkan hasil tes kemampuan pemahaman konsep memenuhi ketuntasan klasikal dengan nilai 86,36%, hasil pengamatan guru mengelola pembelajaran sudah efektif karena adanya peningkatan dari pertemuan pertama hingga pertemuan terakhir, hasil pencapaian persentase waktu ideal interval berada diambang toleransi waktu kategori yang telah ditetapkan, dan dari hasil angket kemampuan disposisi matematis disimpulkan bahwa semua aspek mendapatkan respon yang positif.
Kata kunci:Perangkat Pembelajaran, Model Discovery Learning, Model Pengembangan 4-D, Kemampuan Pemahaman Konsep dan Disposisi Matematis.
PENDAHULUAN
Matematika adalah disiplin ilmu yang penting dalam kehidupan sehari-hari.
Matematika tidak hanya membantu dalam meningkatkan kemampuan berpikir logis, tetapi juga membantu dalam pengembangan kemampuan pemahaman konsep, keterampilan pemecahan masalah, dan pengenalan pola dan struktur. Dalam pembelajaran matematika memiliki bebarapa tujuan. Satu di antara tujuan pembelajaran matematika sekolah yang dikemukakan oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) menyatakan bahwa “agar siswa memiliki kemampuan memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antar konsep dan mengaplikasikan konsep atau algoritma secara luwes, akurat, efisien dan tepat dalam pemecahan masalah (BSNP, 2006). Dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran matematika diperlukan menggunakan kurikulum, disetiap sekolah sudah menerapkan kurikulum 2013 dan kurikulum merdeka.
Menurut Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003, kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggara kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Tujuan kurikulum pembelajaran matematika merupakan suatu acuan atau pedoman dan arahan yang harus dirumuskan secara jelas dan terencana melalui proses kegiatan belajar dan mengajar yang mempelajari ilmu matematika dengan tujuan membangun pengetahuan matematika agar bermanfaat dan mampu mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari.
Menurut tujuan yang dikemukakan oleh Badan Standar Nasional (BNSP) mendeskripsikan bahwa kemampuan memahami konsep merupakan komponen penting dari tujuan pembelajaran matematika sekolah.Pengertian pemahaman konsep menurut Nasution (dalam Siti Ruqoyyah, 2020), menunjukkan tiga hal pokok dalam pemahaman yaitu kemampuan mengenal, menjelaskan dan mengambil kesimpulan.
Kemampuan pemahaman konsep yang kuat akan memberikan kemudahan dalam meningkatkan pengetahuan prosedural matematika siswa. Jika konsep dasar yang diterima siswa secara salah, maka sukar untuk memperbaiki kembali, terutama jika sudah diterapkan dalam menyelesaikan soal-soal matematika.
Kemampuan yang tidak kalah penting dengan kemampuan pemahaman konsep adalah kemampuan disposisi matematika. Menurut NCTM dalam (Fahmi et al., 2020:
43) menambahkan disposisi matematis sebagai salah satu standar yang harus dicapai dalam pembelajaran matematika. . Pengertian disposisi matematis dinyatakan oleh Kilpatrick, Swafford dan Findel (dalam Fahmi et al., 2020) yaitu kecenderungan terbiasa melihat matematika mudah dipahami, berguna dan berharga, relevan, menyatu dengan keyakinan dalam ketekunan dan efikasi diri. Salah satu aspek keberhasilan belajar siswa adalah disposisi matematisnya. Disposisi matematis yang memungkinkan siswa bertahan dalam menghadapi masalah yang lebih sulit, bertanggung jawab atas pendidikan mereka sendiri, dan mengembangkan kebiasaan matematika yang baik sangat penting.
Selama ini, guru hanya menekankan pengetahuan matematika terhadap siswa tetapi tidak melihat konsep yang dimiliki siswa. Guru hanya memandang matematika sebagai kumpulan pengetahuan yang tidak berubah untuk diajarkan dan dipelajari (Whyte, 2017). Hanya sedikit guru mengajarkan konsep yang lengkap kepada siswa.
Dan juga guru masih kurang memperhatikan kemampuan matematika siswa selama proses belajar mengajar. Akibatnya, siswa kurang bersemangat dalam memecahkan masalah.
Sebagai hasil dari wawacara salah satu guru matematika yang dilakukan di sekolah SMP Swasta Al Manar mengemukakan bahwa siswa lebih cennderung gagal daripada berhasil dalam menyelesaikan permasalahan matematika. Setelah merasa gagal dalam menyelesaikan permasalahan matematika siswa menjadi malas untuk mencari tahu apa yang terjadi atau mencari cara untuk memperbaiki permasalahan yang terjadi. Selain itu, ini adalah bagian dari proses dimana guru masih menggunakan pembelajaran yang biasa. Dalam hal ini guru bertindak sebagai sumber pokok pengetahuan, dan siswa hanya bertanggung jawab menerima pengetahuan tersebut agar proses pembelajaran di kelas dapat terlaksana dengan sebaik-baiknya.
Dan yang paling penting dimana penggunaan perangkat pembelajaran yang tidak sesuai dengan kurikulum seperti hal nya buku ajar yang tidak sesuai dengan RPP yang telah disusun. Ini mempengaruhi kinerja sistem pembelajaran secara keseluruhan, yang sebagaimana berdampak pada rendahnya disposisi matematis siswa.
Menyikapi permasalahan yang terjadi dilapangan selama ini yaitu dalam proses pembelajaran matematika di sekolah, terutama yang berkaitan dengan pentingnya kemampuan pemahaman konsep dan disposisi siswa yang akhirnya mengakibatkan rendahnya hasil belajar matematika. Perlu adanya solusi berupa model pembelajaran yang dapat mengakomodasi peningkatan kemampuan pemahaman konsep dan disposisi matematis siswa. Model discovery learning dianggap cocok untuk mengatasi masalah ini. Pada Discovery Learning materi yang akan disampaikan tidak disampaikan dalam bentuk final akan tetapi peserta didik didorong untuk mengidentifikasi apa yang ingin diketahui dilanjutkan dengan mencari informasi sendiri kemudian mengorgansasi atau membentuk (konstruktif) apa yang mereka ketahui dan mereka pahami dalam suatu bentuk akhir. Penggunaan Discovery Learning, ingin merubah kondisi belajar yang pasif menjadi aktif dan kreatif.
Mengubah pembelajaran yang teacher oriented ke student oriented. Merubah modus Ekspository siswa hanya menerima informasi secara keseluruhan dari guru ke modus Discovery siswa menemukan informasi sendiri
Model discovery learning merupakan model pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan informasi yang berupa konsepkonsep dan prinsip-prinsip dalam suatu proses mental, yang dilakukan melalui kegiatan
percobaan sehingga anak memperoleh pengetahuan yang sebelumnya belum diketahuinya itu tidak melalui pemberitahuan, sebagian atau seluruhnya ditemukan sendiri (Surur et al., 2019).
Salah satu penelitian Esmi Pohan (2012) dengan judul “Peningkatan Kemampuan Penalaran dan Disposisi Matematis Siswa SMA Melalui Pendekatan Pembelajaran Discovery” dapat disimpulkan: (1) Peningkatan kemampuan penalaran dan disposisi matematis siswa dengan menggunakan pendekatan pembelajaran discovery lebih baik daripada siswa yang menggunakan pembelajaran biasa. Dari uraian di atas dapat disimpulkan perlu dikembangkan suatu perangkat pembelajaran yang disesuiakan dengan kondisi siswa. Tujuan dilakukan pengembangan perangkat pembelajaran adalah untuk meningkatkan dan menghasilkan sebuah produk baru.
Perangkat pembelajaran tersebut perlu dikaitkan dengan tujuan yang ingin dicapai dalam proses pembelajaran, terutama dalam meningkatkan kemampuan matematis siswa, khususnya dalam meningkatkan kemampuan pemahaman konsep dan disposisi matematis siswa.
Berdasarkan beberapa penelitian yang dilakukan oleh peneliti terdahulu dapat diambil kesimpulan bahwa model discovery learning lebih efektif dibandingkan dengan pembelajaran biasa. Keefektivan tersebut ditinjau dari segi strategi pembelajaran, keterlibatan siswa dan guru dalam pembelajaran, kemampuan guru mengelola pembelajaran, respon siswa terhadap komponen pembelajaran dan hasil belajar. Perbedaan dari peneltian yang terdahulu bisa dilihat dari produk yang dihasilkan yaitu perangkat pembelajaran. Dari hasil penelitian yang peneliti hasilkan adalah RPP, Modul, dan LAS serta instrument yang mendukung peningkatan kemampuan pemahaman konsep dan kemampuan disposisi matematis siswa.
Penggunaan metode pembelajaran melalui media pembelajaran atau alat peraga diharapkan mampu membantu siswa lebih mudah dan senang untuk mempelajari matematika khusunya pada bangun datar. Salah satu media yang dapat digunakan yaitu geoboard. Menurut Dolhasair (Sopian et al., 2020) geoboard (papan berpaku) adalah pengembangan dari media display atau sering dikenal dengan papan peragaan dan termasuk ke dalam jenis media visual diam yang mengandalkan indra penglihatan. Pada materi abstrak seperti segiempat, alat peraga sangat berguna untuk memvisualisasikannya ke dalam bentuk abstrak. Geoboard dianggap cocok sebagai alat peraga untuk materi segiempat, karena segiempat yang bersifat abstrak akan menjadi konkret jika menggunakan geoboard.
Berdasarkan pemikiran-pemikiran yang telah diuraikan di atas maka peneliti merasa perlu untuk meneliti tentang “Pengembangan Perangkat Pembelajaran Berbasis Model Discovery Learning Untuk Meningkatkan Kemampuan Pemahaman Konsep dan Disposisi Matematis Siswa Berbantuan Geoboard”.
METODE
A. Waktu dan Tempat
Penelitian ini dilaksanakan di SMP Swasta Al-Manar Medan pada semester genap TA. 2023/2024 pada materi segiempat. Kelas yang diuji adalah kelas VII 2 dengan total jumlah 22 siswa. Alasan peneliti memilih sekolah ini, karena penelitian yang sejenis belum pernah dilaksanakan disekolah tersebut.
B. Tahap Pelaksanaan/Rancangan Penelitian
Penelitian ini termasuk penelitian pengembangan atau R&D (Reseach and Developmet) dengan menggunakan model pengembangan perangkat pembelajaran Thiagarajan dikenal dengan model 4-D (four D Model), model ini dikembangakan oleh Thiagaraja. Model Thiagaraja dalam Trianto (2013:189) terdiri dari empat tahap adalah tahap pendefenisian (define), tahap perencanaan (design), tahap pengembangan (develop) dan tahap penyebaran (disseminate).
Pada pegumpulan data penelitian ini dibagi dalam dua tahap, yaitu tahap pertama adalah pengembangan perangkat pembelajaran. Pengembangan perangkat pembelajaran yang meliputi i) validitas rencana pelaksanaan pembelajaran, ii) validitas buku siswa, iii) validitas buku guru, iv) validitas LAS, dan iv) validitas instrumen tes kemampuan pemahaman konsep. Tahap kedua adalah implementasi perangkat pembelajaran dan instrumen penelitian yang dianggap sudah layak berdasarkan hasil ujicoba.
Perangkat pembelajaran yang akan dikembangkan dalam penelitian ini adalah perangkat pembelajaran yang meliputi Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), Modul, dan instrumen penelitian yang meliputi: Lembar Aktivitas Siswa dan Tes Kemampuan Pemahaman Konsep.
Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif. Adapun jenis data yang dianalisis dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Analisis Kevalidan Perangkat Pembelajaran
Validasi ini didasarkan pada pendapat dua orang ahli dalam bidang pendidikan matematika. Berdasar pendapat ahli tersebut akan ditentukan rerata nilai untuk setiap aspek, sehingga diperoleh nilai rata-rata total aspek. Kriteria menyatakan perangkat pembelajaran yang berbasis model discovery learning memiliki derajat validitas yang baik, jika minimal tingkat validitas yang dicapai adalah tingkat valid dengan jumlah nilai 4 ≤ Va < 5.
2. Analisis Butir Soal
Cara menganalisis butir soal dilakukan validitas tes dan reabilitas tes.
3. Analisis Kepraktisan Perangkat Pembelajaran
Perangkat pembelajaran berbasis model discovery learning (draf II) dikatakan praktis jika ahli perangkat menilai bahwa perangkat pembelajaran berbasis model discovery learning yang dibuat dapat digunakan dengan sedikit atau tanpa revisi dan Hasil dari wawancara siswa/pengguna perangkat pembelajaran merasa mudah dalam menggunakannya.
4. Analisis Keefektivan Perangkat Pembelajaran
Perangkat pembelajaran dikatakan efektif jika memenuhi beberapa hal berikut ini.
a. Tingkat Penguasaan Siswa Terhadap Kemampuan Pemahaman Konsep dan Disposisi Matematis
Data yang diperoleh dari hasil postest kemampuan pemahaman konsep dan disposisi matematis siswa. Kriteria yang menyatakan siswa dikatakan telah mampu memahami konsep dan berdisposisi secara matematis apabila terdapat 85% siswa yang mengikuti tes telah memiliki kemampuan pemahaman konsep dan dispos
isi matematis minimal sedang (memperoleh nilai lebih dari atau sama dengan 2,67 atau minimal B-).
b. Analisis Data Aktivitas Siswa
Pencapaian presentase aktivitas siswa dihitung dengan rumus:
Persentase aktivitas siswa= Frekuensi setiap aspek pengamatan
Jumlah frekuensi semua aspek pengamatan x 100 %
Kriteria pencapaian keefektivitas aktivitas siswa dalam pembelajaran adalah jika keenam kategori aktivitas siswa di atas terpenuhi dengan toleransi 5 %. Dengan catatan kriteria batas toleransi 3 dan 5 harus dipenuhi .
c. Analisis Data Kemampuan Guru Mengelola Pembelajaran
Mencari NKG dengan mencari rerata nilai kategori dengan rumus:
NKG=
∑
i=1 mNKi m Keterangan:
NKG adalah nilai kemampuan guru (rerata nilai kategori) NKj adalah nilai kategori ke-j.
m adalah banyaknya aspek penilaian
Kriteria menyatakan guru mampu mengelola pembelajaran dengan perangkat yang dikembangkan dengan tingkat pencapaiann minimal cukup baik dengan nilai 3≤ NKG<4
d. Analisis Data Respon Siswa
Data respon siswa dihitung dengan rumus:
%respon tiap aspek=jumlaℎsiswamemberi respon aspek tertentu
jumlaℎseluruℎsiswa ×100 % Untuk menentukan pencapaian tujuan pembelajaran ditinjau dari respons siswa, apabila banyaknya siswa yang memberi respons positif lebih besar atau sama dengan 85% dari banyak subjek yang diteliti untuk setiap uji coba
HASIL DAN PEMBAHASAN
Jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian pengembangan (Research and Development). Produk yang dihasilkan adalah perangkat pembelajaran matematika berupa rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), lembar aktivitas siswa (LAS), dan Modul tentang materi segiempat berbasis discovery learning berorientasi pada kemampuan pemahaman konsep matematis dan disposisi matematis. model pengembangan 4-D yang dikembangkan oleh Thiagarajan, Semmel, dan Semmel.
Yang meliputi empat tahapan dalam mengembangkan sebuah produk yaitu pendefinisian, perancangan, pengembangan dan penyebaran.
Tahap I Pendefinisian (define) a. Analisis Awal-Akhir
Berdasarkan hasil observasi awal yang peneliti lakukan di SMP Swasta Al Manar menunjukkan bahwa perangkat pembelajaran yang digunakan guru belum dirancang dengan baik. Penyusunan RPP tidak menggunakan model pembelajaran yang dapat menunjang tercapainya tujuan pembelajaran. Selanjutnya buku teks yang digunakan di sekolah sebagian besar masih menggunakan kurikulum 2013, tidak diawali dengan masalah tetapi dimulai dengan konsep sehingga siswa tidak menemukan sendiri konsepnya. LAS juga tidak sinkron dengan buku teks. Hal ini mengakibatkan perangkat pembelajaran tidak sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai.
b. Analisis Siswa
Karakteristik siswa kelas VII tahun ajaran 2023/2024 yang ditelaah meliputi perkembangan kognitif, kemampuan akademik, dan latar belakang sosial ekomoni.
Siswa VII SMP rata-rata 13-14 tahun. Jika dikaitkan dengan tahap perkembangan kognitif menurut piaget, maka siswa kelas VII SMP berada pada tahap perkembangan operasional formal. Model berpikir ilmiah dengan tipe hipothetico-dedutive dan inductive sudah mulai dimiliki anak, dengan kemampuan menarik kesimpulan, menafsirkan dan mengembangkan hipotesa. Oleh karena itu, sangat tepat jika pembelajaran matematika diawali dengan benda konkret atau abstrak yang dekat dengan kehidupan mereka, sehingga diharapkan dapat membantu proses pemahaman siswa. Dengan pembelajaran yang masih bersifat satu arah dimana guru berperan sebagai satu-satunya sumber informasi yang menyampaikan pengetahuannya kepada siswa dan siswa hanya menerima informasi. Dengan pembelajaran tersebut membuat siswa menjadi bosan dan kurang tertarik mengikuti pembelajaran matematika yang mengakibatkan hasil belajar menurun.
c. Analisis Konsep
Analisis konsep berkaitan dengan analisis materi yang akan dipelajari siswa, yaitu dengan dibuatkan peta konsep. Hasil analisis ini akan membentuk peta konsep segiempat sebagai berikut:
d. Analisis Tugas
Analisis ini ditujukan untuk mengidentifikasi keterampilan-keterampilan utama yang diperlukan dalam pembelajaran segiempat dan yang sesuai dengan kurikulum 2013. Rincian analisis tugas untuk materi segiempat pada kompetensi inti yang diamati merujuk pada indikator kompetensi dasar.
e. Perumusan Tujuan Pembelajaran Geometri dan
Pengukuran Bangun Datar Segiempat Jenis-jenis
Segiempat Keliling dan Luas
Segiempat Sifat-sifat Segiempat Masalah Nyata
Segiempat
Perumusan tujuan pelajaran berguna untuk merangkum hasil dari analisis konsep dan analisis tugas untuk menentukan perilaku objek penelitian. Kumpulan objek tersebut menjadi dasar untuk menyususn tes dan merancang perangkat pembelajaran yang akan digunakan oleh peneliti.
Tahap II. Perancangan (Design) a. Penyusunan Tes
Tes yang dimaksud adalah tes kemampuan pemahaman konsep yang berupa soal posttest dan tes kemampuan disposisi matematis siswa yang berupa angket.
b. Pemilihan Media
Pemilihan media dilakukan untuk mengoptimalkan penggunaan perangkat pembelajaran dalam proses pengembangan perangkat pembelajaran pada pembelajaran dikelas. Media yang digunakan dalam penelitian ini adalah geoboard.
c. Pemilihan Format
Format RPP yang disusun sesuai dengan pembelajaran berbasis model discovery learning dalam tiap pertemuan. Modul, disusun dari beberapa literatur terkait materi segiempat. Format LAS disusun untuk siswa agar lebih mudah memahami materi untuk berlatih pemahaman konsep dan disposisi matematis. Lembar pengamatan untuk mengamati aktivitas siswa, kemampuan guru mengelola pembelajaran, dan respon siswa. Format istrumen pemahaman konsep dan disposisi matematis siswa disusun untuk mengukur peningkat siswa dalam pemahaman konsep dan disposisi matematis.
d. Perancangan Awal
Kegiatan yang dilakukan pada langkah ini adalah penulisan rancangan awal perangkat pembelajaran segiempat yang meliputi RPP untuk empat pertemuan yang disesuaikan dengan kurikulum 2013 dan model berbasis discovery learning, Modul yang sesuai dengan model discovery learning , LAS, dan tes kemampuan pemahaman konsep dan disposisi matematis siswa. Rancangan awal ini disebut sebagai Draft 1.
Gambar 1. Design Modul Gambar 2. Desaign LAS Tahap III. Pengembangan (Develop)
Hasil dari tahap define dan design menghasilkan rancangan awal sebuah perangkat pembelajaran yang disebut dengan draf I. Setelah perangkat pembelajaran dengan model discovery learning di desain dalam bentuk draf I, maka dilakukan uji validitas terhadap pakar/ahli (expert review).
a. Hasil Validasi Perangkat Pembelajaran
Sebelum perangkat pembelajaran dan instrumen penelitian diujicobakan, terlebih dahulu perangkat pembelajaran dan instrumen penelitian divalidasikan kepada dua orang validator yang termasuk pakar dalam bidangnya.
Tabel 1. Hasil Validasi oleh Kedua Dosen
Dari hasil validasi, diperoleh kriteria perangkat pembelajaran dan instrumen penelitian yang dikembangkan adalah “valid” dan dapat digunakan dengan “sedikit revisi”, dengan masing-masing nilai rata-rata RPP adalah 4,61, Modul adalah 4,56, dan LAS adalah 4,58. Serta hasil validasi instrumen adalah layak digunakan degan catatan perbaikan dari tim validator.
b. Hasil Uji Coba Lapangan
Setelah perangkat pembelajaran yang dikembangkan telah memenuhi kriteria kevalidan menurut ahli dan hasil uji coba terbatas. Maka selanjutnya perangkat pembelajaran dalam bentuk draf II ini diuji cobakan dilapangan tempat penelitian yaitu siswa kelas VII SMP Swasta Al Manar Medan dengan jumlah siswa 22 orang siswa. Uji coba lapangan ini dilakukan sebanyak 4 kali pertemuan sesuai dengan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang telah dikembangkan. Berikut adalah penjabaran hasil pada uji coba lapangan.
1. Hasil Kepraktisan Draf II Pada Uji Coba Lapangan
Berdasarkan data hasil observasi perangkat pembelajaran berbasis model discovery learning dikatakan praktis jika hasil dari penelitian menunjukkan bahwa para siswa sebagai pengguna perangkat pembelajaran menganggap bahwa perangkat pembelajaran tersebut memenuhi kebutuhan dan harapan. Cara yang digunakan adalah melakukan validasi terhadap para ahli dan melakukan wawacara terhadap siswa tentang perangkat pembelajaran berbasis model discovery learning. Hasil validasi terhadap para ahli memenuhi kevalidan dan hasil wawacara terhadap siswa mendapatkan tanggapan positif da siswa merasakan kemudahan dalam menggunakan perangkat pembelajaran yang dikembangkan.
2. Hasil Keefektifan Draf II Pada Uji Coba Lapangan
Perangkat pembelajaran berbasis model discovery learning dikatakan efektif ditinjau dari:
a) Tingkat Penguasaan Siswa Terhadap Kemampuan Pemahaman Konsep dan Disposisi Matematis
Secara individu siswa dikatakan tuntas jika memperoleh nilai ≥ 2,67 dengan predikat B-, sedangkan secara klasikal minimal persentase siswa yang tuntas
No Komponen Perangkat Pembelajaran
Nilai Rata- Rata Validasi
Kategori
1 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
4,61 Valid
2 Modul 4,56 Valid
3 Lembar Aktivitas Siswa 4,58 Valid
mencapai 85%. Secara umum hasil tes siswa pada kemampuan pemahaman konsep dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 1. Deskripsi Hasil Tes Kemampuan Pemahaman Konsep Siswa
No Keterangan Nilai
1 Nilai Tertinggi 3,73
2 Nilai Terendah 1,33
3 Rata-Rata 2,53
4 Persentase Ketuntasan Klasikal
86,36
Tabel 2. Klasifikasi Penguasaan Kemampuan Pemahaman Konsep Siswa pada Uji Coba Lapangan
Dari hasil kedua tabel diatas bahwa hasil presentase ketuntasan klasikal tes kemampuan pemahaman konsep sebesar 83,36% dan hasil klasifikasi tingkat penguasaan siswa yang memiliki presentase nilai terbesar adalah B dengan nilai 36,36%. Hal ini telah memenuhi kriteria ketuntasan klasikal yang telah ditetapkan.
Gambaran disposisi matematis siswa dapat dilihat melalui rerata skor uji coba lapangan disposisi matematis siswa tiap indikator. Hasil perhitungan dapat dilihat dari tabel dibawah ini.
Tabel 3. Rerata Skor Disposisi Matematis Siswa Tiap Indikator Uji Coba Lapangan
No Tingkat Penguasaan Siswa Hasil
Rentang Angka Huruf Frekuensi Persentase
1. 3,85 – 4,00 A - -
2. 3,51 – 3,84 A- - -
3. 3,18 – 3,50 B+ 7 31,81
4. 2,85 – 3,17 B 8 36,36
5. 2,51 – 2,84 B- 4 18,18
6. 2,18 – 2,50 C+ 2 9,09
7. 1,85 – 2,17 C - -
8. 1,51 – 1,84 C- - -
9. 1,18 – 1,50 D+ 1 4,54
10. 1,00 – 1,17 D - -
Total 22 100
Dari tabel di atas terlihat bahwa persentase indikator tertinggi adalah kepercayaan diri. Hal ini terlihat saat siswa menyelesaikan masalah dalam pembelajaran dan juga dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh guru. Maka dapat diambil kesimpulan yang berkenaan dengan gambaran disposisi matematis siswa berada dalam kategori baik.
b) Hasil Pengamatan Kemampuan Guru Mengelola Pembelajaran
Tabel 4. Hasil Pengamatan Kemampuan Guru dalam Pembelajaran No Indikator Rerata Skor Disposisi Matematis
Uji Coba Lapangan
1 Kepercayaan Diri 29,96
2 Keingintahuan 21,86
3 Ketekunan 16
4 Fleksibilitas 12,96
No Indikator Rerata Skor Disposisi Matematis Uji Coba Lapangan
5 Reflektif 24,27
6 Aplikasi 12,86
7 Apresiasi 6,82
No Aspek yang diamati Pertemuan ke-1 2 3 4 NRKij NKj
1. Tahap I. Membuka Pelajaran
a. Menyampaikan tujuan pembelajaran b. Melakukan kegiatan apersepsi
c. Menyampaikan kompetensi dasar dan indikator yang akan dicapai dan rencana kegiatan
3 3 3
3 3 3
4 4 4
5 5 5
3,75 3,75 3,75
3,75
No Aspek yang diamati Pertemuan ke- NRK1 2 3 4 ij NKj
2. Tahap II. Penyampaian (Kegiatan Inti)
1. Stimulation (stimulasi/pemberian ragsangan) a. Memberikan motivasi kepada siswa dan
mengingatkan siswa mengenai materi prasyarat.
b. Menjelaskan tujuan pembelajaran dan logistik yang digunakan.
c. Menyampaikan beberapa hal yang perlu dilakukan siswa.
d. Menyampaikan masalah/situasi yang ada pada buku siswa.
e. Mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang dapat menghadapkan siswa pada kondisi internal yang mendorong eksplorasi.
2. Problem Statement (pernyataan/identifikasi masalah)
a. Guru memberi kesempatan kepada peserta didik untuk mengidentifikasi sebanyak mungkin agenda-agenda masalah yang relevan dengan bahan pelajaran.
b. Guru membantu siswa dalam merumuskan hipotesis.
3. Data collection (pengumpulan data) a. Mendorong siswa untuk memahami dan
menemukan masalah pada LAS dan mampu menyelesaikannya dengan benar.
b. Guru juga memberi kesempatan kepada para peserta didik untuk mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya yang relevan untuk membuktikan benar atau tidaknya hipotesis.
4. Data processing (pengolahan data) Membimbing siswa untuk mengolah data sehingga siswa mendapat pengetahuan baru.
5. Verification (pembuktian)
Membimbing siswa melakukan pemeriksaan secara cermat untuk membuktikan benar atau tidaknya hipotesis.
6. Generalization(Menarik Kesimpulan /Generalisasi)
Menarik kesimpulan yang dapat dijadikan prinsip umum dan berlaku untuk semua kejadian atau masalah yang sama.
3
3 3 3 4
3
3
3
4
4
3
4 4
3 4 3 4
4
4
3
3
4
4
4 4
4 4 4 3
5
4
3
4
5
5
5 5
5 5 5 5
5
5
5
4
5
5
5
4,00
3,75 4,00 3,75 4,00
4,25
4,00
3,50
3,75
4,50
4,25
4,50
4,02
Kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran juga mengalami perbaikan dari pertemuan pertama hingga pertemuan keempat. Sehingga berdasarkan hasil pengelolaan yang dicapai oleh guru dapat dikatakan bahwa perangkat pembelajaran berbasis model discovery learning ini efektif untuk digunakan dalam proses pembelajaran.
c) Hasil Pencapaian Persentase Waktu Ideal Aktivitas Siswa
Tabel 5. Hasil Analisis Persentase Pencapaian Waktu Ideal Aktivitas Siswa
Dari hasil di atas dapat disimpulkan bahwa aktivitas siswa telah mencapai persentase pencapai waktu ideal, dari keenam indikator di atas terlihat bahwa persentase aktivitas siswa masih berada pada ambang batasan persentase pencapaian waktu ideal atau interval toleransi waktu kategori yang telah ditetapkan.
d) Hasil Angket Respon Siswa
Tabel 6. Hasil Analisis Data Angket Respon Siswa
No Aspek yang diamati Pertemuan ke-
NRKij NKj
1 2 3 4
2.
3. Tahap III. Menutup Pelajaran a. Merangkum isi pelajaran
b. Memberikan tugas pekerjaan rumah.
4 3
4 3
5 3
5 4
4,50 3,25
3,88 4. Tahap IV. Pengelolaan Waktu: 3 3 3 4 3,25 3,25 5. Tahap V. Suasana Kelas:
a. Antusias Siswa b. Antusias Guru
3 4
4 4
5 5
5 5
4,25 4,50
4,38
Nilai Rata-Rata Keseluruhan 3,86
Pertemuan
Persentase Pencapaian Waktu Ideal Aktivitas Siswa untuk Indikator (%)
1 2 3 4 5 6
I 26.39 14.93 20.14 25.35 11.11 2.08
II 26.39 15.63 21.53 23.96 10.76 1.74
III 25.35 15.28 23.61 23.26 10.42 2.08
IV 24.31 15.28 22.92 25.69 10.42 1.39
Rata-Rata
Persentase 25,61 15,28 22,05 24,57 10,68 1,82
Dari hasil respo siswa di atas diperoleh rata-rata persentase untuk aspek pertama 88,18%, aspek kedua 85,45%, aspek ketiga 100%, aspek keempat 93,18%, dan aspek kelima 100%. Persentase rata-rata dari kelima aspek tersebut sebesar 93,36%.
No Aspek
Frekuensi Persentase (%) Senang Tidak
Senang Senang Tidak Senang I Apakah kamu merasa senang atau
tidak terhadap komponen pembelajaran berikut ini?
a. Materi Pelajaran 21 1 95,45 4,55
b. Modul 20 2 90,90 9,09
c. Lembar Aktivitas Siswa 18 4 81,81 18,18
d. Suasana Pembelajar di Kelas 17 5 77,27 22,73
e. Cara Guru Mengajar 21 1 95,45 4,55
Rata-Rata 88,18 11,82
No Aspek
Frekuensi Persentase (%) Senang Tidak
Senang Senang Tidak Senang
II
Apakah komponen pembelajaran berikut ini bagimu baru atau tidak?
a. Materi Pelajaran 18 4 81,81 18,18
b. Modul 20 2 90,90 9,09
c. Lembar Aktivitas Siswa 20 2 90,90 9,09
d. Suasana Pembelajar di Kelas 15 7 68,18 31,82
e. Cara Guru Mengajar 21 1 95,45 4,55
Rata-Rata 85,45 14,55
No Aspek
Frekuensi Persentase (%) Senang Tidak
Senang Senang Tidak Senang III
Apakah kamu berminat atau tidak mengikuti kegiatan pembelajaran selanjutnya seperti yang baru saja
kamu ikuti? 22 0 100 0
Rata-Rata 100 0
No Aspek
Frekuensi Persentase (%) Senang Tidak
Senang Senang Tidak Senang
IV
Apakah kamu dapat memahami dengan jelas atau tidak bahasa yang digunakan dalam:
a. Modul 20 2 90,90 9,09
b. Lembar Aktivitas Siswa (LAS) 21 1 95,45 4,55
Rata-Rata 93,18 2,78
No Aspek Frekuensi Persentase
Ya Tidak Ya Tidak V Apakah kamu tertarik atau tidak dengan penampilan
(tulisan, ilustrasi/gambar dan letak gambar), yang terdapat dalam:
c. Modul 22 0 100 0
d. Lembar Aktivitas Siswa (LAS) 22 0 100 0
Rata-Rata 100 0
Maka berdasarkan hasil angket respon siswa terhadap komponen perangkat pembelajaran yang dikembangkan berdasarkan model discovery learning dapat dikatakan semua aspek mendapatkan respon yang positif sehingga dengan demikian komponen perangkat pembelajaran ini efektif untuk digunakan.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dikemukakan pada bagian sebelumnya, dapat ditarik beberapa kesimpulan: 1) perangkat pembelajaran yang memenuhi kriteria kevalidan dengan predikat valid dengan masing-masing nilai rata RPP adalah 4,61, Modul adalah 4,56, dan LAS adalah 4,58, 2) perangkat pembelajaran yang praktis berdasakan hasil validasi dari tim ahli telah memenuhi kevalidan dengan sedikit revisi dan hasil wawancara dengan siswa/pengguna mendapatkan tanggapan yang positif, 3) memenuhi kriteria keefektifan berdasarkan hasil tes kemampuan pemahaman konsep memenuhi ketuntasan klasikal dengan nilai 86,36%, hasil pengamatan guru mengelola pembelajaran sudah efektif karena adanya peningkatan dari pertemuan pertama hingga pertemuan terakhir, hasil pencapaian persentase waktu ideal interval berada diamabng toleransi waktu kategori yang telah ditetapkan, dan dari hasil angket disposisi matematis respon siswa disimpulkan bahwa semua aspek mendapatkan respon yang positif.
DAFTAR PUSTAKA
BSNP. (2006). Permendiknas RI No. 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi untuk. Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. Global Shadows: Africa in the Neoliberal World Order, 44(2), 8–10.
Fahmi, N. M., Hendrawan, B., Pratiwi, A. S., Permana, R., & Taufik, S. Y. (2020).
PENGANTAR PENDIDIKAN DAN PEMBELAJARAN DI SEKOLAH DASAR. In pengantar pendidikan dan pembelajaran di sekolah dasar. Edu Publisher.
Siti Ruqoyyah, S. M. L. L. (2020). KEMAMPUAN PEMAHAMAN KONSEP DAN RESILIENSI MATEMATIKA DENGAN VBA MICROSOFT EXCEL. Purwakarta:
CV. Tre Alea Jacta Pedagogie. https://books.google.co.id/books?
id=R2IXEAAAQBAJ
Sopian, L. A., Yudha, C. B., & Oktaviana, E. (2020). Penerapan Media Papan Geoboard pada Pembelajaran Matematika. Prosiding Seminar Nasional Pendidikan STKIP Kusuma Negara III, 444–449.
http://jurnal.stkipkusumanegara.ac.id/index.php/semnara2020/article/view/740 Surur, M., Oktavia, S. T., Prodi, D., Ekonomi, P., Prodi, M., & Ekonomi, P. (2019).
Pengaruh Model Pembelajaran Discovery Learning. Jurnal Pendidikan Edutama, 6(1), 11–18.
Whyte, S. (2017). Understanding and enriching problem solving in primary mathematics. Education 3-13, 45(2), 292–294.
https://doi.org/10.1080/03004279.2015.1068823
BSNP. (2006). Permendiknas RI No. 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi untuk. Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. Global Shadows: Africa in the Neoliberal World Order, 44(2), 8–10.
Fahmi, N. M., Hendrawan, B., Pratiwi, A. S., Permana, R., & Taufik, S. Y. (2020).
PENGANTAR PENDIDIKAN DAN PEMBELAJARAN DI SEKOLAH DASAR. In pengantar pendidikan dan pembelajaran di sekolah dasar. Edu Publisher.
Siti Ruqoyyah, S. M. L. L. (2020). KEMAMPUAN PEMAHAMAN KONSEP DAN RESILIENSI MATEMATIKA DENGAN VBA MICROSOFT EXCEL. Purwakarta:
CV. Tre Alea Jacta Pedagogie. https://books.google.co.id/books?
id=R2IXEAAAQBAJ
Sopian, L. A., Yudha, C. B., & Oktaviana, E. (2020). Penerapan Media Papan Geoboard pada Pembelajaran Matematika. Prosiding Seminar Nasional Pendidikan STKIP Kusuma Negara III, 444–449.
http://jurnal.stkipkusumanegara.ac.id/index.php/semnara2020/article/view/740 Surur, M., Oktavia, S. T., Prodi, D., Ekonomi, P., Prodi, M., & Ekonomi, P. (2019).
Pengaruh Model Pembelajaran Discovery Learning. Jurnal Pendidikan Edutama, 6(1), 11–18.
Whyte, S. (2017). Understanding and enriching problem solving in primary mathematics. Education 3-13, 45(2), 292–294.
https://doi.org/10.1080/03004279.2015.1068823