• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengenalan tentang Kiblat dalam Tafsir

N/A
N/A
syauqi zakka maula

Academic year: 2024

Membagikan "Pengenalan tentang Kiblat dalam Tafsir"

Copied!
3
0
0

Teks penuh

(1)

ARAH KIBLAT

Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Tafsir Ahkam Dosen Pengampu:

Achmad Soib., M.Ag

Disusun Oleh:

M. Abdul Qodir Syauqi Z.M (2022080109) Fabiyan Apriyansyah (2022080120)

Awit Windi Ati (2022080090)

FAKULTAS SYARI’AH DAN HUKUM STUDI ILMU AL-QUR’AN DAN TAFSIR UNIVERSITAS SAINS AL-QUR’AN JAWA TENGAH

DI WONOSOBO 2024

(2)

A. Pengertian

Menghadap ke arah kiblat adalah salah satu syarat sah dalam menjalankan shalat. Oleh karena itu mengetahui secara pasti tentang hukum menghadap kiblat dan cara menentukan arah kiblat sangat diperlukan agar ibadah yang dilakukan dapat benar-benar menghadap pada kiblat.

Kata ”kiblat” berasal dari kata Arab al-qiblah yang secara harfiah berarti arah (al-jihah), dan merupakan bentuk fi’lah dari kata al-muqābalah, sehingga berarti keadaan menghadap. Al- Manawi dalam kitabnya at-Tauqif ’alā Muhimmat at-Ta ’ārif menjelaskan bahwa ”kiblat”

adalah segala sesuatu yang ditempatkan di muka, atau sesuatu yang kita menghadap kepadanya.1

Kiblat berasal dari bahasa Arab yang artinya adalah arah yang merujuk ke suatu tempat dimana bangunan Ka‟bah di Masjidil Haram, Makkah, Arab Saudi. Ka‟bah juga sering disebut dengan Baitullah (Rumah Allah). Menghadap arah Kiblat merupakan suatu yang penting dalam syariat Islam. Menurut hukum syariat, menghadap ke arah kiblat diartikan sebagai seluruh tubuh atau badan seseorang menghadap ke arah Ka'bah yang terletak di Makkah yang merupakan pusat tumpuan umat Islam bagi menyempurnakan ibadah-ibadah tertentu.

Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa arah kiblat secara istilah adalah suatu arah yang wajib dituju oleh Umat Islam ketika mengerjakan ibadah shalat karena merupakan salah satu syarat sahnya sholat.

B. Ayat tentang Arah kiblat Surah al-Baqarah [2]: 144

ِ ماَرَََحْلا ِدِج ََْسَمْلا َرْط َََش َكَََهْجَو ّلَوَََف اَهى ََٰضْرَت ًةَلْبِق َكّنَيّلَوُنَلَف َمّسلا ىِف َكِهْجَو َبّلَقَت ىٰرَن ْدَق

ۗ ۖ ِۚءۤا

اَمَو ْمِهّبّر ْنِم ّقَحْلا ُهّنَا َنْوُمَلْعَيَل َبٰتِكْلا اوُتْوُا َنْيِذّلا ّنِاَو ٗهَرْط َش ْمُكَهْوُجُو اْوّلَوَف ْمُتْنُك اَم ُثْيَحَوۗ ۗ َنْوُلَمْعَي اّمَع ٍلِفاَغِب ُهّٰللا ١٤٤

/ةرقبلا ) 2

: 144 (

Artinya: “ Sungguh, Kami melihat wajahmu (Nabi Muhammad) sering menengadah ke langit. Maka, pasti akan Kami palingkan engkau ke kiblat yang engkau sukai. Lalu, hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidilharam. Di mana pun kamu sekalian berada, hadapkanlah wajahmu ke arah itu. Sesungguhnya orang-orang yang diberi kitab41) benar- benar mengetahui bahwa (pemindahan kiblat ke Masjidilharam) itu adalah kebenaran dari Tuhan mereka. Allah tidak lengah terhadap apa yang mereka kerjakan.

1 (Anwar, 2009 : 25)

(3)

41) Orang-orang yang diberi kitab adalah kaum Yahudi dengan kitab Tauratnya dan Kaum Nasrani dengan kitab Injilnya (lihat surah al-Baqarah [2]: 105). ” 2

C. Asbabun Nuzul

Ayat diatas ini turun ketika Nabi Saw. berada di sebuah pondok yang dapat ditempati terletak di Madinah, dikenal dengan masjid Bani Salamah sehigga di mana saja kamu berada, walaupun ayat ini bukan turun di rumah ataupun tidak di waktu tersebut. Paling tidak inilah yang dapat dimengerti, walaupun sebenarnya bisa diluaskan dari itu.3

Dalam kitab Imam Jalaluddin, Ibnu Ishaq mengatakan,“Ismail bin Khalid memberitahukan kepada saya dari Abu Ishaq dari al-Barra’, bahwa ia mengatakan: Dahulu Nabi Saw. shalat mengarah ke Baitul Maqdis. Dikala itu beliau selalu memandang ke arah langit dengan maksud menunggu datangnya wahyu dari Allah Adapun terkait waktu pengalihan kiblat, Al-Qurtubi dalam kitabnya, Al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an, mengutip pendapat Abu Hatim Al-Basti. Dia berkata bahwa Allah Swt. menurunkan ayat meralihan kiblat kepada Nabi Muhammad saw. pada malam Selasa di pertengahan bulan Syakban yang dinamakan dengan malam Nisfu Sya’ban.4

D.Penafsiran

ِ ماَرَََحْلا ِدِج ََْسَمْلا َرْط َََش َكَََهْجَو ّلَوَََف اَهى ََٰضْرَت ًةَلْبِق َكّنَيّلَوُنَلَف َمّسلا ىِف َكِهْجَو َبّلَقَت ىٰرَن ْدَق

ۗ ۖ ِۚءۤا

اَمَو ْمِهّبّر ْنِم ّقَحْلا ُهّنَا َنْوُمَلْعَيَل َبٰتِكْلا اوُتْوُا َنْيِذّلا ّنِاَو ٗهَرْط َش ْمُكَهْوُجُو اْوّلَوَف ْمُتْنُك اَم ُثْيَحَوۗ ۗ َنْوُلَمْعَي اّمَع ٍلِفاَغِب ُهّٰللا ١٤٤

/ةرقبلا ) 2

: 144 (

2 Qur’an kemenag Surah al-Baqarah [2]: 144 3 (Shihab, 2012:419).

4 (Al-Qurtubi, Tafsir Al-Qurtubi, juz 1, hal. 671).

Referensi

Dokumen terkait

Tujuan penelitian Akurasi Arah Kiblat Mushalla Sekolah Menengah Atas (SMA) ini untuk mengetahui secara obyektif kesesuaian arah kiblat mushalla yang ada di sekolah

Tentang Kiblat (Kiblat Umat Islam Indonesia Menghadap ke Arah Barat)”, skripsi Fakultas Syari’ah IAIN Walisongo Semarang, 2010.. Quthb, Syahid Sayyid, Tafsir Fi Zhilalil

Toleransi arah kiblat dalam perspektif astronomi yang diterjemahkan dari hadis imam Baihaqi diperoleh dari hasil perhitungan arah kiblat berdasarkan titik acuan

SALAK (Sahabat Falak) adalah aplikasi sederhana yang di dalamnya terdapat berbagai program perhitungan falak seperti : Arah dan Rasydul Kiblat, Waktu Shalat,

Menurut Ulama Fiqh ‘ala al-Madzahib al-Arba’ah karangan Abdurrahman al-Jaziri, halaman 194, mengatakan bahwa arah kiblat adalah arah ka’bah atau wujud ka’bah,

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui seberapa besar pengaruh pergeseran lempeng bumi terhadap penentuan arah kiblat, serta mengetahui posisi arah

Muslih Husein menjelaskan pada kata pengantar dalam pedoman praktis dan mudah menentukan arah kiblat dari Sabang sampai Merauke, kompas kiblat ini hakikatnya sama dengan

Maka titik sudut yang besarnya sama dengan bujur Ka’bah ini adalah arah kiblat dari titik kutub Utara.. Selanjutnya jika kita telah mengetahui sudut azimuth kiblat,