• Tidak ada hasil yang ditemukan

pengentasan perilaku agresi peserta didik melalui layanan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "pengentasan perilaku agresi peserta didik melalui layanan"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

PENGENTASAN PERILAKU AGRESI PESERTA DIDIK MELALUI LAYANAN BIMBINGAN KELOMPOK OLEH GURU BK

DI SMP NEGERI 25 PADANG Oleh:

Sari Guciani

Mahasiswa Bimbingan dan Konseling STKIP PGRI Sumatera Barat

ABSTRACT

Background of this research is student’s behavior phenomenon in the school like brawl, figh that do by student’s in the class, indecent behavior. Therefore, student’s of result study is not good, do not success in Ujian Nasional (UN), etc. This problem identify teacher’s approaches are important to solve that problems through counseling approaches. That’s are: 1) removing student’s aggression through group counseling, which can see from group counseling application. 2) removing student’s behavior aggression through group counseling which can see from the advantages of group counseling. Design of this research is descriptive research. Means, describing of condition, facts, and reality in the field about removing of student’s agression behavior through group counseling. There are 6 informant in this research. The informant divide into two categories are 2 counselor as core informant and 4 students as additional informant instrument of this research is interview. Technique of data collection is reduction of data, presenting the data, and taking of conclution. The result of this research shows that: 1) counselor did group counseling well to remove student’s behavior agression. 2) the advantage of group counseling is there are changing student’s behavior become good behavior, and student’s feel happy to do group counseling.

Refering to this research is recommended to counselors to avoid student’s behavior agression through group counseling.

Keywords: Behavior aggression, student’s, group counseling, counselor

A. Latar Belakang Masalah

Sejarah kekerasan sudah dimulai sejak sejarah kemanusiaan berawal. Sejak zaman Nabi Adam, perilaku kekerasan pada spesies manusia sudah dilacak.

Kasus pembunuhan Habil oleh Qabil, misalnya, menunjukkan bahwa sejarah kekerasan sudah sangat lama. Dewasa ini, kekerasan berkembang dengan bentuk dan modus yang beraneka ragam.

Kekerasan tersebut terjadi baik pada level individual maupun sosial, horizontal ataupun struktural. Kekerasan antar Negara, kekerasan agama, kekerasan etnik, dan kekerasan massa sudah sedemikian jamak terjadi di depan kesadaran kita. Kekerasan dalam keluarga, sekolah, tempat kerja, ataupun masyarakat tidak sulit dicarikan kasus- kasusnya. Contoh kasus kekerasan yang sering terjadi adalah perkelahian pelajar

yang terjadi di lingkungan sekolah dan luar sekolah dan pemukulan antar peserta didik di dalam kelas. Hampir setiap hari, kita selalu disuguhi berita kekerasan.

Ibarat menu makanan, berita kekerasan merupakan bentuk dari perilaku agresi yang menjadi menu harian yang tidak terlewatkan.

Berkaitan dengan itu, para peneliti mengenai agresipun menaruh perhatian yang cukup serius. Dewasa ini, penelitian mengenai agresi sedang mengalami pergeseran yang tadinya lebih fokus pada perilaku agresi semata atau situasi-situasi yang mempengaruhinya, tapi sekarang agresi dikaitkan dengan perkembangan individual dari perilaku agresi.

Pengertian agresi adalah hasil dari proses kemarahan yang memuncak.

Sedangkan dari definisi motivasional perbuatan agresif adalah perbuatan yang bertujuan untuk menyakiti orang lain.

(2)

Dari pengertian behavioral perbuatan agresif adalah sebagai respon dari perangsangan yang disampaikan oleh organisme lain. Menurut Willis (2005:121).

Menurut Strickland (Hanurawan, 2001:80) perilaku agresi adalah tindakan yang diniatkan untuk melukai, menyebabkan penderitaan dan untuk merusak orang lain. Selanjutnya Mac Nail & Stewart (Hanurawan 2000:81) menjelaskan bahwa perilaku agresi adalah suatu perilaku atau tindakan yang diniatkan untuk mendominasi atau berperilaku melalui kekuatan verbal atau kekuatan fisik, yang diarahkan kepada objek sasaran perilaku agresi. Objek sasaran perilaku agresi meliputi lingkungan fisik, orang lain, dan diri sendiri.

Berdasarkan uraian materi di atas, dapat disimpulkan bahwa yang berhubungan dengan faktor penyebab perilaku agresi peserta didik adalah lebih mengarah kepada faktor psikologis karena keadaan frustasi dan menyakitkan misal berkelahi dengan teman sehingga terjadi tindakan kekerasan seperti:

pemukulan, tindakan orang lain yang sengaja menyakitkan sehingga menyebabkan peserta didik berperilaku agresi.

Berbagai fenomena perilaku peserta didik dewasa ini seperti tawuran, penyalahgunaan obat-obatan terlarang dan psikotropika, perilaku seksual menyimpang, degradasi moral, pencapaian hasil belajar yang tidak memuaskan, tidak lulus ujian, gagal Ujian Nasional (UN) dan lain sebagainya.

Hal ini mengindikasikan perlu adanya upaya pendekatan selain proses pembelajaran guna memecahkan berbagai masalah tersebut. Upaya tersebut adalah melalui pendekatan bimbingan dan konseling yang dilakukan di luar situasi proses pembelajaran yaitu melaksanakan kegiatan bimbingan kelompok.

Bimbingan kelompok dapat mengentaskan perilaku agresi peserta didik seperti yang dikemukakan oleh Hikmawati (2010:20) bimbingan kelompok adalah Layanan yang membantu peserta didik dalam pengembangan pribadi, kemampuan hubungan sosial, kegiatan belajar, karir

dan jabatan. Selanjutnya Prayitno (2012:151) menjelaskan bahwa:

Bimbingan kelompok adalah:

membahas topik-topik tertentu yang mengandung permasalahan aktual (hangat) dan menjadi perhatian peserta. Melalui dinamika kelompok intensif, membahas topik-topik itu mendorong perkembangan perasaan pikiran, persepsi, wawasan dan sikap yang menunjang diwujudkan tingkah laku yang efektif.

Berdasarkan pendapat di atas, jelas bahwa layanan bimbingan kelompok merupakan layanan yang memberikan manfaat bagi peserta didik. Manfaat yang dirasakan dengan berbagai macam perolehan yang dapat membantu mengembangkan perasaan, pikiran, persepsi dan sikap yang menunjang diwujudkan tingkah laku yang efektif.

Menurut Prayitno (2012:170), layanan bimbingan kelompok diselenggarakan melalui lima tahap-tahap kegiatan, yaitu: 1) Tahap pembentukan, 2) Tahap peralihan, 3) Tahap kegiatan, 4) Tahap penyimpulan, dan 5) Tahap penutupan.

Berdasarkan tahap-tahap kegiatan layanan bimbingan kelompok di atas, yang dikaitkan dengan pengentasan permasalahan perilaku Agresi peserta didik adalah pelaksanaan kegiatan bimbingan kelompok sesuai dengan tahapan layanan bimbingan kelompok.

Berdasarkan hasil observasi selama melaksanakan PPLBK Kependidikan dan PPLBK Sekolah yang dilaksanakan pada tanggal 8 Juli sampai 16 Desember 2013 di SMP N 25 Padang. Terlihat adanya perilaku agresi peserta didik yaitu:

adanya peserta didik yang mencuri Hand Phone (HP) peserta didik lainnya, peserta didik yang meminta uang secara paksa kepada peserta didik lainnya, ada peserta didik yang memukul dan menendang peserta didik yang perempuan, ada peserta didik yang mengambil alat-alat tulis peserta didik lainnya secara paksa, ada peserta didik pada jam istirahat yang berkelahi di luar sekolah, serta adanya peserta didik yang saling dorong- mendorong teman ketika pulang sekolah, sehingga ada temannya yang terjatuh.

(3)

Berdasarkan perilaku agresi peserta didik di atas melalui pendekatan layanan bimbingan kelompok yang telah dilakukan untuk mengatasi perilaku di atas, hasil yang diperoleh layanan bimbingan kelompok berjalan dengan lancar sesuai dengan tahap-tahap pelaksanaan bimbingan kelompok dan manfaat dari bimbingan kelompok yaitu peserta didik agresi dapat mengurangi perilaku agresi dengan melakukan pendekatan persahabatan dengan anggota kelompok dalam kegiatan bimbingan kelompok.

Berdasarkan latar belakang tersebut peneliti tertarik untuk melakukan penelitian ini dengan judul” Pengentasan Perilaku Agresi Peserta Didik Melalui Layanan Bimbingan Kelompok di Kelas

VIII SMPN 25 Padang”.

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, penulis dapat mengidentifikasi masalah sebagai berikut:

1. Adanya peserta didik yang mencuri Hand Phone peserta didik lainnya.

2. Adanya peserta didik yang meminta uang secara paksa kepada peserta didik lainnya.

3. Ada peserta didik yang memukul dan menendang peserta didik yang perempuan.

4. Ada peserta didik yang mengambil alat-alat tulis peserta didik lainnya secara paksa.

5. Ada peserta didik pada jam istirahat berkelahi di luar sekolah.

6. Ada peserta didik yang saling dorong-mendorong teman ketika pulang sekolah, sehingga ada temannya yang terjatuh.

Berdasarkan latar belakang masalah dan identifikasi masalah yang telah diuraikan, maka fokus penelitian adalah:

1. Pengentasan perilaku Agresi peserta didik melalui layanan Bimbingan Kelompok dilihat dari tahap pelaksanaan layanan Bimbingan Kelompok.

2. Pengentasan perilaku Agresi peserta didik dilihat dari manfaat layanan Bimbingan Kelompok.

Berdasarkan identifikasi masalah yang dikemukakan sebelumnya, maka permasalahan penelitian dapat dirumuskan yaitu: Bagaimana

pengentasan perilaku agresi peserta didik melalui layanan Bimbingan Kelompok di Kelas VIII SMP N 25 Padang.?

Berdasarkan latar belakang masalah dan identifikasi masalah yang telah diuraikan, maka pembahasan penelitian ini dibatasi dan diarahkan pada:

1. Pengentasan perilaku Agresi peserta didik melalui layanan Bimbingan Kelompok dilihat dari tahap pelaksanaan layanan Bimbingan Kelompok.

2. Pengentasan perilaku Agresi peserta didik melalui layanan Bimbingan Kelompok dilihat dari manfaat layanan Bimbingan Kelompok.

Hasil akhir penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat, antara lain:

1. Peserta didik, dengan bimbingan kelompok diharapkan dapat memberikan bantuan terhadap perilaku agresi peserta didik agar mengubah perilaku peserta didik ke arah yang lebih baik sehingga proses belajar dapat berjalan dengan lancar dan memperoleh hasil belajar yang memuaskan.

2. Guru BK sebagai pelaksana kegiatan layanan bimbingan kelompok di sekolah, dengan adanya informasi dari hasil penelitian ini, maka dapat digunakan sebagai bahan masukan terhadap guru BK dalam menindak lanjuti kegiatan yang akan dilakukan untuk mengatasi perilaku agresi.

3. Kepala sekolah, sebagai bahan pertimbangan untuk menyadari bahwa pentingnya pelaksanaan kegiatan bimbingan kelompok di sekolah oleh guru BK yang merupakan program bimbingan dan konseling untuk mengentaskan perilaku agresi peserta didik.

4. Pengelola Program Studi Bimbingan dan Konseling, sebagai bahan masukan agar dapat mempersiapkan lulusan yang memiliki wawasan yang luas dan pengalaman yang matang.

5. Peneliti, dalam rangka memperluas wawasan dan pengetahuan tentang bimbingan kelompok dalam mengatasi perilaku agresi di lingkungan sekolah nantinya.

(4)

6. Peneliti Selanjutnya, yakni sebagai acuan terkait dengan penelitian tersebut, kemudian sebagai bahan masukkan bagi peneliti supaya hasil penelitian lebih sempurna.

B. Metodologi Penelitian

Penelitian yang dilakukan termasuk penelitian kualitatif yang menghasilkan data deskriptif. Menurut Moleong (2010:6): Penelitian kualitatif adalah penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan, dll.

Secara holistik dan dengan cara deskriptif dalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode ilmiah.

Penelitian ini akan dilaksanakan di SMPN 25 Padang terhadap guru BK yang telah melaksanakan layanan bimbingan kelompok. Di sini akan dilihat apakah guru BK dapat mengentaskan perilaku agresi peserta didik melalui layanan bimbingan kelompok.

Menurut Bungin (2011: 76) bahwa informan penelitian adalah subjek yang memahami objek penelitian. Informan penelitian ini ditentukan setelah peneliti menentukan informan kunci (key informants) dan selanjutnya dari informan kunci ditetapkan informan berikutnya.

Informan kunci yang ditetapkan berdasarkan pertimbangan bahwa informan kunci harus mengetahui dengan jelas tujuan penelitian serta terkait permasalahan mengetahui dengan jelas tujuan penelitian serta terkait dengan permasalahan yang diteliti yaitu guru BK yang menjadi informan kunci dalam penelitian ini ada dua orang guru BK yang terlibat dalam layanan bimbingan kelompok.

Informan ditentukan atas dasar pertimbangan bahwa informan tersebut memiliki pengalaman yang banyak mengenai latar penelitian dan benar-benar terkait dengan permasalahan yang diteliti.

Informan tambahan ditetapkan melalui teknik purposive random sampling yaitu penentuan sampel yang dilandasi tujuan dan pertimbangan-pertimbangan terlebih dahulu yaitu mengingat jumlah guru BK di sekolah 5 orang peneliti menentukan

informan kunci dalam penelitan 2 orang guru BK yang telah melaksanakan layanan bimbingan kelompok. Penentuan informan tambahan diperoleh dari saran informan kunci. Informan tambahan dalam penelitian ini adalah: peserta didik kelas Delapan (VIII) 2 dan VIII 4 yang berjumlah 4 orang.

Agar memperoleh data yang dibutuhkan dalam penelitian ini, maka peneliti menggunakan beberapa alat pengumpulan data wawancara, dan studi dokumentasi.

Menjamin keabsahan data dan kepercayaan data penelitian yang peneliti peroleh dapat dilakukan dengan cara sebagaimana dikemukakan Sugiyono (2011:302-311), yaitu: kepercayaan (credibility), keteralihan (transferability), dapat dipercaya (depenability).

Data yang telah dikumpulkan seterusnya dianalisis, Miles dan Huberman (Sugiyono, 2011:277-283) menjelaskan dalam penelitian kualitatif ada 3 tahapan analisis, yaitu: reduksi data (data reduction), penyajian data ( display data), penarikan kesimpulan (verifikasi) C. Hasil Penelitian

Hasil penelitian mengungkapkan bahwa:

1) Guru BK dalam mengentaskan perilaku agresi peserta didik telah melaksanakan kegiatan bimbingan kelompok dengan baik sesuai dengan tahap-tahap kegiatan bimbingan kelompok. kegiatan bimbingan kelompok berjalan dengan lancar dan guru BK dan peserta didik sudah mampu menerapkan kegiatan bimbingan kelompok sehingga dapat mencapai tujuan yang diharapkan.

2) Manfaat dari kegiatan bimbingan kelompok adanya perubahan perilaku peserta didik ke arah yang lebih baik, peserta didik juga senang mengikuti kegiatan bimbingan kelompok, memperoleh kesempatan untuk berpendapat, memilki pemahaman yang objektif, menimbulkan sikap yang positif dan melaksanakan kegiatan-kegiatan nyata yang membuahkan hasil. Memperoleh kesempatan untuk berpendapat anggota kelompok sudah aktif berani mengeluarkan pendapat, dapat menanggapi pendapat anggota

(5)

kelompok, dan terbuka dalam kegiatan bimbingan kelompok. Memiliki pemahaman yang objektif, peserta didik dapat memiliki pemahaman baru, dan mampu mengambil kesimpulan dari pembahasan topik.

Memiliki sikap yang positif, peserta didik agresi sudah dapat menghargai pendapat teman, menyampaikan pendapat dengan baik dan sopan, sudah memiliki rasa percaya diri.

Melakukan kegiatan-kegiatan nyata yang membuahkan hasil, peserta didik agresi ada yang ikut organisasi di Sekolah seperti OSIS dan LPI.

Berdasarkan hasil penelitian direkomendasikan kepada guru BK serta pihak terkait untuk bisa mengatasi perilaku agresi peserta didik melalui layanan bimbingan kelompok.

D. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian tentang pengentasan perilaku agresi peserta didik melalui layanan bimbingan kelompok oleh guru BK di Kelas VIII SMP Negeri 25 Padang, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:

a. Pengentasan perilaku agresi peserta didik melalui layanan bimbingan kelompok oleh guru BK dilihat dari pelaksanaan layanan bimbingan kelompok yaitu guru BK sudah melaksanakan kegiatan bimbingan kelompok dengan baik sesuai dengan tahap-tahap kegiatan bimbingan kelompok. Guru BK sudah ahli dan berpengalaman dalam melakukan kegiatan bimbingan kelompok sehingga memudahkan dalam pelaksanaannya. Pengentasan perilaku agresi peserta didik melalui layanan bimbingan kelompok oleh guru BK memperoleh perubahan tingkah laku ke arah yang lebih baik bagi peserta didik agresi yang secara keseluruhan tergantung kepada keahlian guru BK dalam pelaksanaan kegiatan bimbingan kelompok.

b. Pengentasan perilaku agresi peserta didik melalui layanan bimbingan kelompok oleh guru BK dilihat dari manfaat layanan bimbingan kelompok yaitu peserta didik agresi aktif dalam

kegiatan bimbingan kelompok, berani mengeluarkan pendapat, memiliki pemahaman baru tentang topik bahasan, menimbulkan sikap positif yaitu saling menghargai pendapat teman, terbuka dalam berpendapat, memiliki rasa percaya diri dan dapat ikut dalam kegiatan organisasi di Sekolah.

E. Saran

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, maka peneliti menyarankan kepada berbagai pihak yang terkait, sebagai berikut:

1. Guru BK, diharapkan kegiatan bimbingan kelompok lebih terlaksana, supaya lebih bisa membantu mengentaskan perilaku agresi peserta didik agar kegiatan bimbingan kelompok lebih maksimal.

2. Koordinator BK, diharapkan lebih bisa memahami kegiatan bimbingan kelompok dan dapat melakukan kegiatan lanjutan bimbingan kelompok agar layanan BK bisa berjalan lebih optimal.

3. Kepala sekolah, diharapkan bisa lebih memahami tentang BK dan peserta didik sehingga bisa mencari jalan keluar untuk mengatasi perilaku agresi peserta didik seperti bisa menambah jam Bk untuk guru BK agar seimbang antara jadwal dan waktu pelaksanaan layanan bimbingan kelompok.

4. Pengelola program studi BK, agar bisa menyiapkan para calon guru BK yang mempunyai pengetahuan dan keahlian dalam layanan BKp di sekolah sehingga bisa membantu mengatasi perilaku agresi peserta didik di Sekolah.

5. Peneliti selanjutnya, bisa melakukan penelitian lanjutan seperti bagaimana efektifitas layanan bimbingan kelompok dalam mengatasi perilaku agresi peserta didik yang dilaksanakan oleh guru BK.

(6)

KEPUSTAKAAN

Bungin, Burhan. 2011. Penelitian Kualitatif. Jakarta: Kencana.

Hikmawati Fenti. 2010. Bimbingan dan Konseling. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Hanurawan, Fattah. 2010. Psikologi Sosial.

Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Moleong, J Lexi. 2010. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja Roskakarya.

Sugiyono. 2011. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R & D. Bandung:

Alfabeta.

Willis, Sofyan S. 2010. Remaja dan Masalahnya. Bandung: Alfabeta

Referensi

Dokumen terkait

Saran Berdasarkan hasil penelitian ini dibuktikan adannya pelaksanaan layanan bimbingan klasikal dalam mengurangi perilaku prokrastinasi akademik peserta didik SMA Negeri 5 Metro,

Pelaksanaan Layanan Penguasaan Konten dalam Pembinaan Perilaku Belajar Kognitif Peserta Didik di Kelas VIII SMP Adabiah Padang Berdasarkan hasil pengolahan data yang peneliti lakukan,