• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERILAKU AGRESI PESERTA DIDIK DAN PENANGANANNYA OLEH GURU KELAS

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "PERILAKU AGRESI PESERTA DIDIK DAN PENANGANANNYA OLEH GURU KELAS"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

PERILAKU AGRESI PESERTA DIDIK DAN PENANGANANNYA OLEH GURU KELAS

(Studi di Madrasah Ibtidaiyah Swasta Mata Air Padang)

ARTIKEL ILMIAH

MELARISI NPM: 12060068

PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

(STKIP) PGRI SUMATERA BARAT 2016

PERILAKU AGRESI PESERTA DIDIK DAN PENANGANANNYA OLEH GURU KELAS

(Studi di Madrasah Ibtidaiyah Swasta Mata Air Padang)

ARTIKEL ILMIAH

MELARISI NPM: 12060068

PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

(STKIP) PGRI SUMATERA BARAT 2016

PERILAKU AGRESI PESERTA DIDIK DAN PENANGANANNYA OLEH GURU KELAS

(Studi di Madrasah Ibtidaiyah Swasta Mata Air Padang)

ARTIKEL ILMIAH

MELARISI NPM: 12060068

PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

(STKIP) PGRI SUMATERA BARAT

2016

(2)

Perilaku Agresi Peserta Didik dan Penanganannya Oleh Guru Kelas (Studi di Madrasah Ibtidaiyah Swasta Mata Air Padang)

By:

Melarisi*

Zulfikar, S.Pd.I.,M.Pd..**

Wira Solina, M.Pd.**

*Students

** Advisor I

** Advisor II

Program Studi Bimbingan dan Konseling, STKIP PGRI Sumatera Barat ABSTRACT

This research was motivated by the learners act of aggression hurts the victim, either physical or psychological. The purpose of this study decrypt (1) Aggressive behavior of students in verbal form, (2) Aggressive behavior in physical form, (3) Handling of aggressive behavior of students by classroom teachers at private Madrasah Ibtidaiyah Swasta Mata Air Padang. This type of research is qualitative descriptive. The subjects are: Learners act of aggression, the class teacher, friend of learners act of aggression. Instruments that researchers use are interviews and documentation study. Data analysis techniques are data reduction, data presentation and conclusion. Results of the study revealed that; (1) The behavior of aggression in the form of verbal committed learners in schools that is derogatory name friend's parents, threatening a fight, laugh friend, (2) Conduct physical aggression committed learners in schools that is hit friends, kicking a chair, pushing the body friend to the table, (3) Handling of aggressive behavior of students by classroom teachers is to give advice, provide motivation and the inculcation of religious morals, and positive activities in school..

Keywords: Aggression Behaviour, Handling

Pendahuluan

Pendidikan mempunyai peran yang sangat strategis dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan upaya mewujudkan cita-cita bangsa Indonesia dalam mewujudkan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa.

Pendidikan Nasional berfungsi untuk mengembangkan kemampuan peserta didik dan membentuk watak serta kepribadian yang berguna untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, berakhlak mulia, mandiri, berilmu pengetahuan, demokratis dan bertanggung jawab. Permasalahan tersebut erat sekali dengan Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 Tahun 2003, yang menyatakan bahwa:

Tujuan Pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Selain itu, pendidikan nasional bertujuan membentuk peserta didik berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri sertamenjadi warga negara yang demokratis dan dapat bertanggung jawab.

Secara formal dan istrumental, sekolah dasar masuk pada kategori pendidikan dasar. Pendidikan dasar menurut Undang- Undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 tahun 2003 pasal 17 ayat 2 merupakan jenjang pendidikan yang melandasi jenjang menengah; pendidikan dasar berbentuk Sekolah Dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) atau bentuk lain yang sederajat serta Sekolah Menengah Pertama ( SMP) dan Madrasah Tsanawiyah (MTs), atau bentuk lain sederajat.

Pendidikan dasar yang dimaksudkan dalam Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 tahun 2003 tersebut adalah pendidikan yang berbentuk sekolah dasar atau madrasah ibtidaiyah dan sekolah

1

(3)

menengah atau Madrasah Tsanawiyah, dengan demikian sekolah dasar masuk kategori pada pendidikan dasar.

Menurut Furqon (2005: 35) secara kronologis peserta didik sekolah dasar pada umumnya berusia 6 sampai dengan 13 tahun atau sampai tiba saatnya individu menjadi matang secara seksual. Pada masa ini anak mulai keluar dari lingkungannya pertama yaitu keluarga dan mulai memasuki lingkungn kedua yaitu sekolah. Oleh karena itu, permulaan masa kanak kanak sering ditandai dengan masuknya mereka kelas 1(

satu) sekolah dasar.

Kowitz, GT (Furqon, 2005: 45) mengemukakan bahwa beberapa rintangan yang muncul di Sekolah dasar pada umumnya disebabkan oleh karakteristik itu anak sendiri. Saat yang belum matang anak memasuki sekolah, keterampilan akademis yang belum merata untuk semua mata pelajaran dalam bidang studi, kemampuan sosial yang kurang berkembang, penyesuaian pribadi yang negatif dan harapan harapan orangtua, kelompok, dan lembaga pendidikan itu sendiri terlalu tinggi sehingga tidak realistis. Peserta didik sebagai individu selalu beperilaku, beraktivitas baik aktivitas fisik maupun psikis, yang nampak, yang dilakukan secara sadar ataupun tanpa disadari. Secara umum biasa dibedakan antara perilaku kognitif, atau intelektual atau yang bersifat pemikiran, perilaku motorik dan afektif. Keragaman perilaku individu dilatarbelakangi oleh faktor bawaan yang diterima dari keturunan, faktor pengalaman kerena pengaruh lingkungannya. Individu memperoleh sejumlah kecakapan melalui pengalaman dalam interkasi dengan lingkungan, baik fisik, sosial, budaya, ekonomis, politis, dan keamanan.

Individu menampilkan dirinya kepada pihak luar, terutama kepada individu yang lain melalui kegiatan atau perilakunya.

Perilaku atau kegiatan individu menyangkut hal hal yang disadari dan juga tidak disadari.

Menurut Sigmund Frued (Sukmadinata, 2009: 40) dalam hidupnya individu tidak pernah berhenti melakukan kegiatan atau berperilaku. Kegiatan-kegiatan individu mungkin dilakukan dengan sadar, tetapi mungkin juga setengah atau bahkan tidak sadar. Perilaku atau kegiatan individu seringkali dikelompokkan menjadi tiga

kategori yaitu kegiatan kognitif, afektif dan psikomotor. Kegiatan kognitif berkenaan dengan penggunaan pikiran seperti mengenal, memahami, memecahkan masalah. Kegiatan afektif berkenaan dengan penghayatan perasaan, sikap, moral dan nilai, sedangkan psikomotor menyangkut aktivitas yang mengandung gerakan motorik. Perilaku psikomotor dapat nampak keluar, sedangkan kegiatan kognitif dan afektif hanya sebagian kecil, namun ketiga ranah tersebut saling berkaitan untuk melakukan kegiatan atau berperilaku.

Setiap perilaku yang merugikan atau menimbulkan korban pada pihak orang lain dapat disebut sebagai perilaku agresi.

Perilaku agresi dapat bersifat verbal seperti menghina, memaki, marah, dan mengumpat.

Sedangkan untuk perilaku agresi non-verbal atau bersifat fisik langsung adalah perilaku memukul, mendorong, berkelahi, menendang, dan menampar. Perilaku menyerang, memukul, dan mencubit yang ditunjukkan oleh peserta didik atau individu bisa dikategorikan sebagai perilaku agresi.

Perilaku agresi peserta didik dapat dilakukan oleh siapa saja dan kapan saja selama tidak ada bentuk pengawasan dari pihak keluarga, sekolah dan lingkungan setempat atau tindakan yang cepat dalam mencegah dan mematikan tingkah laku agresi. Jika tidak ada pengawasan dan pencegahan dari pihak sekolah peserta didik akan lebih leluasa melakukan tingkah laku agresi. Bandura (Sobur, 2003: 441) menyatakan bahwa “ Dalam kehidupan sehari- hari, perilaku agresif dipelajari dari model yang dilihat dalam keluarga, dalam lingkungan kebudayaan setempat, atau melalui media masa”.

Myers (2012:83) mendefenisikan

“Agresi sebagai perilaku fisik atau verbal yang bertujuan menyakiti terwujud dalam dua bentuk hostile aggression yang tumbuh dari emosi marah, dan instrumental aggression yang tujuan untuk menyakiti adalah alat untuk sesuatu yang lain”.

Individu mempelajari respons agresif dengan mengalami dan mengamati model yang mencotohkan untuk berbuat agresif.

Bandura, 1979 (Myers, 2012: 83) berpendapat bahwa tindakan agresi dimotivasi oleh berbagai pengalaman yang tidak menyenangkan (aversive) seperti frustasi, sedih, dan penghinaan. Pengalaman

(4)

tertentu membangkitkan secara emosional.

Akan tetapi keputusan untuk bertindak agresif atau tidak bergantung pada konsekuensi yang perkirakan. Agresi cendrung terjadi pada saat kita terpacu dalam kondisi aman serta mendapatkan imbalan.

Menurut Rahman (2013: 197)

“Agresi sering kali diartikan sebagai perilaku yang dimaksudkan untuk melukai orang lain baik fisik maupun psikis”.

Selanjutnya, Taylor, dkk (2009: 497) mendefinisikan agresi sebagai setiap tindakan yang dimaksudkan untuk menyakiti orang lain. Banyak tindakan agresif ditetapkan oleh norma sosial dan karenanya dianggap prososial. Jenis agresi ini termasuk tindakan yang tidak diharuskan oleh norma sosial tetapi ada di dalam batas-batasnya, tindakan ini tidak melanggar standar moral yang diterima luas.

Menurut Willis (2010: 121) prilaku agresi Jika dipandang dari definisi emosional, adalah hasil dari proses kemarahan yang memuncak, sedangkan dari definisi motivasional perbuatan agresi adalah perbuatan yang bertujuan untuk menyakiti orang lain. Perbuatan agresi adalah respon dari perangsangan yang disampaikan oleh organisme lain. Rahman (2013: 206) menyatakan agresi bukanlah perilaku yang sifatnya sederhana dan mudah diidentifikasi. Pada kenyataanya, agresi tampil dalam bentuk sangat yang beragam, dan berhimpitan dengan konsep konsep lain seperti permusuhan, asertivitas, marah, violence, ataupun bullyng. Strickland (Hanurawan, 2010: 80), menyatakan

“Perilaku agresi adalah setiap tindakan yang diniatkan untuk melukai, menyebabkan penderitaan, dan untuk merusak orang lain”.

Berdasarkan observasi yang penulis lakukan pada Sabtu 19 Desember 2015, bahwa diperoleh gambaran ada beberapa peseta didik Madrasah Ibtidaiyah Swasta Mata Air Padang yang berperilaku agresi.

Perilaku agresi yang dilakukan beberapa peserta didik seperti, berkelahi disat jam istirahat dan saling memukul, saling menghina, saling mendorong, menendang teman. Peserta didik menunujukan perilaku agresi cenderung kepada teman yang lemah.

Wawancara penulis dengan salah satu guru kelas pada Rabu, 22 Desember 2015, terungkap bahwa guru cukup kesulitan

menghadapi peserta didik yang bersikap agresi, perilaku agresi cenderung dilakukan oleh siswa kelas IV, dan V. Guru kelas juga menemukan perilaku agresi peserta didik saat proses belajar berlangsung, peserta didik berkata kata kotor kepada teman, bersorak mentertawakan teman di kelas, mengancam teman, menganggu teman belajar. Guru kelas juga sering mengingatkan peserta didik untuk tidak saling berkelahi ataupun bermusuhan dengan teman.

Bedasarkan observasi dan wawanacara tersebut peneliti ingin mengambil dan mengangkat masalah ini, karena banyaknya peserta didik yang berperilaku agresif sehingga dapat menyakiti korban dari perilaku yang dilakukan bisa merugikan baik fisik ataupun psikis, dengan demikian perlunya penanganannya dari guru kelas. Oleh karena itu peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul ”Perilaku Agresi Peserta Didik dan Penangananya oleh Guru Kelas (Studi di Madrasah Ibtidaiyah Swasta Mata Air Padang)”.

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, dapat diidentifikasi masalah penelitian ini sebagai berikut:

1. Adanya peserta didik yang menganggu teman belajar.

2. Adanya Peserta didik yang saling menghina sesama teman.

3. Adanya peserta didik yang mengancam teman.

4. Adanya peserta didik yang berkata-kata kotor.

5. Adanya Peserta didik yang menendang teman.

6. Adanya Peserta didik yang saling mendorong teman.

7. Adanya peserta didik yang memukul teman.

8. Adanya peserta didik yang bersorak- sorak mentertawakan teman di kelas

Berdasarkan identifikasi masalah yang telah diuraikan, maka focus masalah pada penelitian ini sebagai berikut:

1. Perilaku agresi peserta didik dalam bentuk verbal.

2. Perilaku agresi peserta didik dalam bentuk fisik.

3. Penanganan perilaku agresi peserta didik oleh guru kelas.

Berdasarkan rumusan masalah, maka rumusan masalah penelitian ini adalah:

(5)

Bagaimana Bagaimana perilaku agresi peserta didik dan penanganannya oleh guru kelas?”.

Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui:

1. Perilaku agresi peserta didik dalam bentuk verbal.

2. Perilaku agresi peserta didik dalam bentuk non verbal (fisik).

3. Penanganan perilaku agresi peserta didik oleh guru kelas.

Metode Penelitian

Penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif . Menurut Yusuf (2005: 83) penelitian deskriptif adalah “Penelitian yang bertujuan mendeskripsikan secara sistematis, faktual dan akurat mengetahui fakta-fakta dan sifat populasi tertentu atau mencoba menggambarkan secara detail”. Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa penelitian deskriptif bukan hanya terbatas menyimpulkan saja, namun dapat melihat, meninjau dan menggambarkan objek yang diteliti sebagaimana adanya dan menarik kesimpulan setelah menemukan analisis terhadap data yang diperoleh.

Menurut Poerwandari (Afifuddin &

Saebani, 2012: 130) penelitian kualitatif adalah “Penelitian yang menghasilkan dan mengolah data yang sifatnya deskriptif seperti transkripsi wawancara, catatan lapangan, gambar, foto, rekaman, video dan lain-lain”. Arikunto (2010: 185) berpendapat bahwa penelitian kualitatif adalah “Suatu penelitian yang dilakukan secara intensif terinci dan mendalam terhadap suatu organisasi dan lembaga atau gejala tertentu.

Pelaksanaan penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 2 sampai 26 Juni 2016, dan tempat atau lokasi penelitian dilaksanakan adalah di Madrasah Ibtidaiyah Swasta Mata Air Padang.

Penetapan subjek/ informan penelitian terlebih dahulu peneliti menentukan informan kunci. Informan kunci dalam penelitian ini adalah peserta didik yang berperilaku agresif berjumlah 2 orang, dan 2 orang guru kelas dari peserta didik yang beperilaku agresif, dan yang menjadi informan tambahan dalam penelitian ini adalah teman dekat dari peserta didik yang berperilaku agresi.

Teknik pengumpulan data yang peneliti gunakan dalam penelitian ini wawancara dan studi dokumentasi. Menurut Gorden (Herdiansyah, 2013: 29)

“Wawancara merupakan percakapan antara dua orang dimana salah satunya bertujuan untuk menggali dan mendapatkan informasi untuk suatu tujuan tertentu. Menurut Yusuf (2005: 252) studi dokumentasi adalah sumber informasi yang ditemukan dalam bentuk foto, dalam bahan statsistik, dalam dokumentasi atau berbagai bacaan lainnya

Teknik keabsahan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik Triangulasi. Sebagaimana yang dikemukakan Moleong (2008: 327) yaitu Triangulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain. Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan.

Hasil dan Pembahasan A. Hasil Penelitian

1. Perilaku agresi peserta didik dalam bentuk verbal

a. Perilaku agresi menghina

Berdasarkan wawancara yang dilakukan terungkap bahwa agresi menghina yang dilakukan peserta didik kepada teman adalah menghina nama atau panggilan orang tua teman, menghina pekerjaan orang tua teman.

b. Perilaku agresi mengancam

berdasarkan wawancara yang dilakukan, bahwa agresi mengancaman yang diberikan peserta didik juga dalam bentuk pertengkaran, tidak mau berteman, ancaman-ancaman tersebut yang membuat teman merasa takut dan agar keinginan dipenuhi.

c. Perilaku agresi menyoraki

Berdasarkan wawancaa yang telah dialkukan, terungkap bahwa agresi menyoraki yang dilakukan peserta didik, mentertawakan teman yang membuat teman malu, Perilaku yang dilakukan karena sakit hati dan kesal kepada teman sehinnga menimbulkan pertengkaran dan perlawananan fisik.

2. Perilaku Agresi peserta didik dalam bentuk fisik

(6)

a. Perilaku agresi memukul

Berdasarkan wawancara yang telah dilakukan, bahwa agresi memukul yang dilakukan peserta diidk adalah memukul kepala teman karena kesal, peserta didik di sekolah juga ikut- ikutan dalam perkelahian jika ada peserta didik saling pukul disekolah b. Perilaku agresi menendang

Berdasarkan wawancara yang telah dialkukan, perilaku menendang yang diberikan kepada teman yang lemah yaitu menendang kaki teman, menendangkan sepatu teman.

perlakuan yang dilakukan karena marah dan sakit hati kepada lawannya.

c. Perilaku agresi mendorong

Berdasarkan wawancara yang telah dialkukan, bahwa agresi mendorong mendorong yang dilakukan peserta didik yaitu mendorongkan badan teman ke meja, mendorong teman dari belakang, dan teman yang di dorong terjatuh dan kesakitan.

3. Penanganan perilaku agresi oleh guru kelas

a. Penanaman moral

Berdasarkan hasil wawancara terungkap bahwa, penaman moral yang berikan guru di sekolah dalam menanganai peserta didik yang berperilaku Agresi adalah memberikan nasehat, serta penanaman nilai kegaman yang diberikan di sekolah serta guru kelas juga menerapkan sopan santun kepada peserta didik

b. Pengembangan tingkah laku nonagresi

Berdasarkan hasil wawancara yang telah dilakukan bahwa, upaya yang dilakukan guru kelas dalam menangani anak yang berperilaku agresi adalah dengan tingkah laku nongaresi, dengan memberikan aktivitas-aktivas dan kegiatan- kegiatan yang dilakukan di sekolah.

Hal ini dapat mengurangi perilaku agesi peserta didik, karena guru kelas memberikan kegiatan-kegiatan positif.

c. Kemampuan memberikan empati Berdasarkan hasil wawancara yang telah dilakukan bahwa, penanganan

yang diberikan guru dengan memberikan empati adalah dapat mengerti atas kekecewaan peserta didik terhadap teman, guru kelas juga memberikan perhatian kepada peserta didik yang berperilaku agresi untuk mengetahui perubahan–

perubahan perilaku yang terjadi pada diri peserta didik.

B. Pembahasan

1.

Perilaku Agresi verbal Peserta Didik Berdasarkan hasil penelitian bahwa perilaku agresi peserta didik secara verbal yaitu menyakiti teman melalui kata-kata, perilaku menyakiti verbal yang dilakukan peserta didik yaitu menghina, mengancam, menyoraki.

Perilaku agresi yang dilakukan peserta didik disebabkan karena marah dan sakit hati kepada teman.

Menurut Davidoff (Rahman, 2013: 208) “Marah adalah adalah emosi yang mempunyai ciri-ciri aktivitas sistem syaraf simpatetik yang tinggi dan adanya perasaan tidak suka yang sangat kuat yang disebabkan atas kesalahan, yang mungkin nyata atau mungkin pula tidak.

Peserta didik yang berperilaku agresi dengan menyakiti teman dengan kata- kata seperti menghina dapat dikatakan sebagai agresi yang bersifat psikologis.

Sesuai dengan ini menurut Stricland, 2001 (Hanurawan 2010: 81) perilaku agresi psikologis adalah perilaku yang mengabaikan stimulus komunikasi yang diberikan oleh orang lain dengan dengan maksud memberikan akibat psikologis negatif terhadap orang lain tersebut.

akibat psikologis negatif itu antara lain adalah rasa kecewa, cemas, atau merasa diabaikan.

2.

Perilaku Agresi Fisik

Berdasarkan hasil penelitian bahwa perilaku agresi yang dilakukan peserta didik kepada teman yaitu memukul, menendang, mendorong. Hal ini terjadi karena peserta didik merasa sakit hati kepada temannya. Perilaku agresi juga dilakukan peserta didik karena becanda kepada teman. Agresi fisik yang dilakukan peserta didik mengakibatkan teman merasa kesakitan.

Menurut Berkowitz (Koeswara, 1988: 5) agresi dapat dibedakan yaitu agresi

(7)

instrumental dan agresi benci. Agresi instrumental adalah agresi yang dilakukan oleh organisme atau individu sebagai alat untuk mencapai tujuan tertentu. Sesuai dengan pendapat moore dan Fine (Koeswara, 1988:115) peserta didik yang berperilaku agresi fisik itu mereka saling mendorong dan saling memukul antara satu dengan yang lain sehingga terjadinya perkelahian yang tidak diinginkan.

Menurut Myers (2002:80) perilaku agresi fisik adalah perilaku yang diniatkan untuk melukai objek yang menjadai sasaran agresi, atau perilaku agresi yang dilakukan dengan menyerang secara fisik dengan tujuan untuk melukai dan membayangkan seseorang perilaku agresi ini ditandai dengan terjadinya kotak fisik agresor dengan korbannya.

3.

Penanganan Perilaku Agresi Peserta Didik oleh Guru Kelas

Berdasarkan hasil penelitian bahwa upaya guru kelas dalam menagani peserta diidk yang berperilaku agresi adalah dengan penaman moral, mengurangi perilaku agresi dengan nonagresi serta mampu memberikan empati kepada peserta didik. Penanganan agresi dapat dilakukan dengan cara memberikan nasehat, menerapkan sopan santun kepada peserta didik dengan cara bersikap lebih baik, saling mengormati, bertutur kata yang baik, kegiatan positif disekolah untuk mengembangan potensi potensi peserta didik serta mampu memberikan empati kepada peserta didik. Sesuai pendapat Rahman & Sofan Amri tugas guru dapat disebut pendidik dan pemeliharaan anak. Guru sebagai penanggung jawab pendisiplinan anak harus mengontrol setiap aktivitas anak agar tingkah laku anak tidak menyimpang dengan norma-norma yang ada.

Menurut Rahman & dofan Amri menyatakan bahwa guru juga sebagai motivator umtuk memberikan motivasi, guru dapat menganalisis motif yang melatar belakangi peserta didik malas dalam belajar dan menurunnya hasil belajar. Motivasi dapat efektif dilakukan dengan memperhatikan kebutuhan peserta didik.

Dalam menangani anak yang berperilaku agresi dengan langkah memberikan empati dapat dilakukan guru kelas sebagai agen sosialisasi, bahkan segenap orang yang menginginkan terciptanya kemanan, ketertiban, dan ketentraman. Empati merupakan kemampuan seseorang ikut merasakan atau menghayati perasaan dan pengalaman orang lain dengan tidak hanyut dalam suasana orang lain melainkan memahami apa yang dirasakan orang lain.

Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian tentang perilaku agresi peserta didik dan penanganannya oleh guru kelas (Studi di Madrasah Ibtidaiyah Swasta Mata Air Padang), maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:

1. Perilaku Agresi Peserta Didik dalam Bentuk Verbal

Perilaku agresi yang dilakukan peserta didik di Madrasah Ibtidaiyah Swasta Mata Air Padang bahwa peserta didik melakukan kepada temannya adalaah menghina teman, bila keinginan peserta didik tidak di penuhi maka peserta didik akan mengancam, ancaman yang diberikan adalah pertengkaran, ancaman tidak ingin berteman lagi.

Peserta didik juga menyakiti teman dalam bentuk kata-kata dengan mentertawakan nama orang tua teman.

2. Perilaku Agresi Peserta Didik dalam Bentuk Fisik

Perilaku agresi yang dilakukan peserta didik dalam bentuk fisik di Madrasah Ibtidaiyah Swasta Mata Air Padang adalah perilaku memukul yang dilakukan peserta didik kepada temannya, menendang kaki teman sampai kesakitan, dan mendorong teman dari belakang, mendorongkan badan teman ke meja. Perilaku tersebut dilakukan kerena peserta didik merasa sakit hati kepada temannya

3. Penanganan Perilaku Agresi Peserta Didik oleh Guru Kelas

Penanganan yang diberikan guru kelas terhadap peserta didik yang berperilaku agresi adalah guru kelas menanamkan moral kepada peserta didik dengan cara menerapkan sikap sopan santun, memberikan nasehat kepada

(8)

peserta didik yang berperilaku agresi.

Guru kelas juga memberikan aktivitas- aktivitas yang bermanfaat seperti kegiatan diskusi kelompok, kegiatan seni yang diadakan di sekolah, dan kegiatan keagamaan selain itu guru kelas juga memberikan perhatian dan bentuk kepedulian kepada peserta didik yang berperilaku agresi serta memberikan motivasi agar peserta didik tidak melakukan perilaku menyakiti kepada teman dan memberikan dorongan agar peserta didik lebih giat lagi belajar.

Saran

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, maka menyarankan kepada berbagai pihak yang terkait, sebagai berikut:

1. Peserta didik

Agar peserta didik untuk tidak menyakiti teman baik dilakukan melalui kata-kata (verbal) ataupun dilakukan secara fisik, karena akan dapat merugikan diri sendiri dan orang lain. Orang lain akan merasa sakit hati dan kecewa atas perbuatan yang dilakukan.

2. Guru kelas

Agar guru kelas dapat menangani perilaku agresi peserta didik yang akan memicu timbulnya perilaku agresi pada peserta didik karena perilaku agresi yang dilakukan bisa melukai korban baik fisik ataupun psikis.

3. Kepala sekolah

Agar dapat terjalinnya kerja sama antara kepala sekolah dan guru kelas untuk mencegah perilaku agesi yang muncul pada peserta didik.

4. Pengelola Program Studi Bimbingan dan Konseling

Agar calon guru Bimbingan dan Konseling pada mata kuliah Bimbingan dan Konseling mempunyai pengetahuan tentang perilaku agresi peserta didik dan penanganannya oleh guru kelas.

5. Peneliti

Untuk mengurangi perilaku agresi peserta didik peneliti dapat menggunakan layanan konseling perorangan, misalnya konseling perorangan menyangkut perilaku agresi peserta didik di sekolah.

6. Peneliti selanjutnya

Agar dapat melakukan penelitian lanjutan bagaimana bentuk perilaku agresi peserta didik di sekolah dasar/

madrasah Ibtidaiyah dan upaya pengentasannya.

Kepustakaan

Afifudin & Beni Ahmad Saebani. 2012.

Metode Penelitian Kualitatif.

Bandung: Pustaka Setia

Arikunto, Suahrsimi. 2010. Prosedur Penelitian (suatu pendekatan praktis edisi revisi). Jakarta: Rineka Cipta.

Furqon. 2005. Konsep dan Aplikasi Bimbingan dan Konseling di Sekolah. Bandung : Pustaka Bani Quraisy.

Hanurawan, Fatah. 2010. Psikologi Sosial.

Bandung: Remaja Rosdakarya.

Herdiansyah, Haris. 2013. Metode Penelitian kualitatif. Jakarta:

Salemba Humanika.

Moleong, Lexy J. 2008. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung:

Remaja Rosda Karya

.

Myers, David. 2012. Psikologi Sosial.

Jakarta: Salemba Humanik.

Rahman, Abdul Agus. 2013. Psikologi Sosial. Jakarta: Grafindo Persada.

Sukmadinata, Nana. S. 2009. Landasan Psikologis Proses Pendidikan.

Bandung: Remaja Rosdakarya.

Willis, Sofyan. 2010. Remaja dan Masalahnya. Badung: Alfabeta.

Yusuf. A. Muri. 2005. Metodologi

Penelitian (Dasar-dasar

penyelidikan ilmiah). Padang: UNP Press.

Referensi

Dokumen terkait

Pengaruh Kompetensi Guru, Motivasi Belajar, dan Kepercayaan Diri Peserta Didik terhadap Penguasaan Kemampuan Kognitif Akuntansi, Serta Implikasinya terhadap Sikap

Pembelajaran yang efektif dilakukan dengan berulang kali sehingga peserta didik menjadi mengerti. Bahan ajar bagaimanapun sulitnya yang diberikan oleh pendidik kepada peserta

Dari wawancara di atas dapat kita simpulkan bahwa orang tua dan guru di sekolah harus saling berdampingan dalam memberikan informasi perkembangan peserta didik baik itu di

Berdasarkan hasil wawancara dengan guru mata pelajaran diperoleh bahwa peserta didik SMA N 6 Semarang masih kurang dalam hal kemampuan berpikir logis dan sikap percaya

Jika guru melibatkan semua peserta didik di dalam kelas yang inklusif, maka guru perlu bertanya pada diri sendiri: “Apakah semua peserta didik mempunyai waktu dan kemampuan

Berdasarkan hasil observasi dan wawancara bersama guru di MTs Negeri Tanjungpinang diperoleh hasil bahwa peserta didik masih kurang untuk menerima pelajaran yang diberikan oleh guru

Selanjutnya, wawancara yang peneliti lakukan dengan 2 orang peserta didik bahwasanya masih ada sebagian temannya yang kurang bisa memahami materi yang diberikan oleh guru, kurang

Upaya guru dalam menanggullangi perilaku membolos peserta didik di sd negeri 78 kota bengkulu Dari hasil observasi dan wawancara yang telah dilakukan di SD Negeri 78 Kota Bengkulu