KEBEBASAN
BEREKSPRESI
KELOMPOK 1
Dosen Pengampu : Rostam Ahmad Efendi, S.Pd., S.H., M.MSI.
ANGGOTA KELOMPOK
TRI SUCI RAMADANI PULUNGAN
Abstract
Problem
02
RAFFI HAZIZI RIZKI
Kebebasan berekspresi adalah hak mendasar yang memungkinkan setiap individu untuk mengemukakan pendapat, ide, gagasan, dan pandangan mereka tanpa takut akan diskriminasi atau hukuman dari pihak lain.
Hak ini diakui sebagai bagian dari Hak Asasi Manusia (HAM) dan sering dianggap sebagai pilar penting dalam membangun masyarakat demokratis.
03 Menjamin hak setiap individu untuk menyampaikan pendapat secara bebas, baik dalam bentuk lisan, tulisan, maupun visual, sehingga dapat berkontribusi pada pengembangan pemikiran individu maupun masyarakat. Terutama di era digital saat ini, kebebasan berekspresi menjadi semakin penting karena teknologi memudahkan akses dan penyebaran informasi secara cepat.
Defenisi : Tujuan :
Pengantar Kebebasan
Berekspresi
Hukum perlindungan bicara memberikan perlindungan kepada individu untuk berekspresi, asalkan tidak melanggar batasan yang dapat merugikan pihak lain. Di Indonesia, hak ini dijamin dalam:
UUD 1945 Pasal 28E Ayat (3): Setiap orang berhak atas kebebasan berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pendapat.
1.
UUD 1945 Pasal 28F: Setiap orang berhak untuk berkomunikasi dan memperoleh informasi serta menyampaikan informasi melalui berbagai saluran.
2.
UUD 1945 Pasal 28G Ayat (1): Setiap orang berhak atas perlindungan diri dan merasa aman dari ancaman.
3.
04
Ujaran Kebencian (Hate Speech) 1.
Ujaran kebencian yang menghina atau menyerang individu atau kelompok berdasarkan suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) tidak dilindungi hukum. Ujaran kebencian ini diatur dalam Pasal 28 ayat (2) UU ITE, yang melarang penyebaran informasi untuk menimbulkan kebencian atau permusuhan terhadap kelompok tertentu.
Pelanggaran ini dapat dijerat dengan hukuman pidana.
Jenis Bicara yang Tidak Dilindungi oleh Hukum
Hukum Perlindungan Bicara
2. Fitnah dan Pencemaran Nama Baik (Defamation) Bicara yang memfitnah atau mencemarkan nama baik individu atau entitas juga tidak dilindungi. Pasal 27 ayat (3) UU ITE dan KUHP Pasal 310-311 mengatur mengenai pencemaran nama baik dan fitnah, di mana perbuatan ini bisa dikenakan sanksi pidana, terutama jika disebarkan melalui media digital atau publik.
05
3. Konten Pornografi
Konten yang mengandung unsur pornografi, terutama yang melibatkan anak-anak, tidak dilindungi di Indonesia. UU Nomor 44 Tahun 2008 tentang Pornografi mengatur bahwa penyebaran, produksi, atau konsumsi konten pornografi adalah pelanggaran hukum dan dapat dikenakan hukuman pidana.
Jenis Bicara yang Tidak Dilindungi oleh Hukum
4. Penistaan Agama
Di Indonesia, penistaan agama adalah jenis bicara yang sangat sensitif dan tidak dilindungi hukum. Undang-Undang Nomor 1/PNPS Tahun 1965 tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan/atau Penodaan Agama melarang tindakan atau pernyataan yang dianggap menistakan agama, yang bisa memicu konflik antarumat beragama.
5. Hoaks dan Penyebaran Berita Bohong
Penyebaran hoaks atau berita bohong yang dapat menimbulkan keresahan publik adalah tindakan yang dilarang di Indonesia.
Pasal 28 ayat (1) UU ITE melarang penyebaran informasi palsu yang dapat menyebabkan kerugian konsumen di dunia elektronik, sementara Pasal 14 dan 15 UU Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana menjerat penyebaran berita bohong yang menimbulkan keonaran di kalangan rakyat.
6. Ucapan yang Mengancam atau Menghasut Kekerasan
Bicara yang mengandung ancaman kekerasan atau hasutan untuk melakukan tindak pidana tidak dilindungi oleh hukum.
Hal ini diatur dalam Pasal 368 KUHP dan dapat dikenakan pidana jika ancaman atau hasutan tersebut mengarah pada tindakan kriminal, termasuk terorisme.
06
Informasi yang salah atau sengaja menyesatkan menyebar sangat cepat melalui media sosial dan internet. Hal ini bisa berdampak negatif pada masyarakat dan menimbulkan salah paham yang luas.
Penyebaran
Misinformasi dan Disinformasi
01
Banyak platform media sosial yang menerapkan kebijakan sensor dan moderasi konten untuk mengurangi konten berbahaya.
Namun, ini seringkali dianggap membatasi kebebasan berbicara, terutama jika sensor dilakukan secara tidak transparan.
Sensor dan Pembatasan Konten oleh Platform
Digital
02
Teknologi informasi mempermudah terjadinya cyber bullying dan pelecehan daring.
Korban cyber bullying dapat mengalami dampak psikologis serius, dan ini memicu perdebatan mengenai batas kebebasan berekspresi dan perlindungan terhadap pengguna.
Cyber Bullying dan Pelecehan Online
03
Isu berbicara terkait dengan
penggunaan teknologi informasi
07
Banyak perusahaan teknologi mengumpulkan data pengguna untuk berbagai tujuan, seperti iklan tertarget dan analisis perilaku. Hal ini menimbulkan kekhawatiran tentang privasi, terutama jika pengguna tidak sepenuhnya menyadari sejauh mana data mereka dipantau dan digunakan. Penggunaan data ini sering dianggap melanggar privasi dan kebebasan individu dalam berekspresi.
Pemantauan Data Pengguna oleh Perusahaan Teknologi
04
Isu berbicara terkait dengan penggunaan teknologi informasi
Teknologi deepfake memungkinkan pembuatan video dan gambar palsu yang tampak sangat nyata. Hal ini dapat menimbulkan kekhawatiran, terutama dalam konteks menyebarkan informasi yang menyesatkan atau merusak reputasi seseorang. Deepfake juga menjadi tantangan baru dalam menjaga kebenaran informasi di era digital, karena bisa menyesatkan publik dan memicu konflik sosial.
Ancaman Deepfake dan Manipulasi Media
05
Ekspresi nonverbal adalah komunikasi yang tidak melibatkan kata-kata, melainkan menggunakan bahasa tubuh, ekspresi wajah, atau tindakan tertentu. Contohnya adalah protes diam, di mana seseorang memilih diam sebagai bentuk perlawanan atau penyampaian sikap tanpa perlu berbicara.
08
Ekspresi Nonverbal
Ekspresi visual mencakup karya seni seperti grafiti, mural, atau gambar yang berfungsi untuk menyampaikan pesan atau kritik sosial. Misalnya, grafiti dengan pesan anti-korupsi di ruang publik, yang menggambarkan pandangan masyarakat terhadap isu tersebut dan mendorong perubahan.
Ekspresi Visual
Ekspresi simbolis menggunakan simbol atau tanda tertentu untuk menunjukkan dukungan atau pandangan terhadap suatu isu.
Contoh yang sering digunakan adalah pita warna untuk mendukung penderita penyakit tertentu, atau bendera sebagai tanda patriotisme dan identitas nasional.
Ekspresi Simbolis
Ekspresi Nonverbal, Visual
dan Simbolis
Kebebasan berekspresi adalah hak penting dalam masyarakat demokratis, namun harus diimbangi dengan regulasi untuk melindungi keamanan dan ketertiban umum serta menghindari dampak negatif bagi pihak lain.
Di era digital, kebebasan ini memiliki ruang lebih luas, namun juga membawa tantangan etika dan tanggung jawab baru. Masyarakat perlu lebih bijak dalam mengekspresikan pendapat, agar kebebasan ini tetap bermanfaat tanpa menimbulkan kerugian.
09
Kesimpulan
THANK
YOU