• Tidak ada hasil yang ditemukan

penggunaan media audio visual dalam mata

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "penggunaan media audio visual dalam mata"

Copied!
114
0
0

Teks penuh

Mei 2020 berjudul: Pemanfaatan Media Audiovisual Pada Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam Bagi Anak Tuna Rungu Di SLB Negeri 5 Kota Bengkulu. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh informasi penggunaan media audiovisual pada topik pendidikan agama Islam bagi anak tunarungu di SLB Negeri 5 Kota Bengkulu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses pembelajaran pendidikan agama Islam yang diterapkan oleh guru mata pelajaran PAI kepada siswa tunarungu di SLB Negeri 5 Kota Bengkulu menggunakan media pembelajaran audiovisual.

Proses pembelajaran di SLB Negeri 5 Kota Bengkulu sama dengan proses pembelajaran di sekolah pada umumnya, yang membedakan hanya pada siswa tuna rungu. Berdasarkan latar belakang di atas, penulis ingin memperdalam pembahasan mengenai proses pembelajaran pada anak berkebutuhan khusus tunarungu dengan judul yang diperoleh penulis, “Penggunaan media audio visual pada mata pelajaran agama Islam bagi anak tunarungu. di SLB Negeri 5 Kota Bengkulu". Bagaimana pemanfaatan media audio visual dalam mata pelajaran pendidikan agama islam bagi anak tuna rungu di SLB Negeri 5 Kota Bengkulu.

Tujuan yang ingin dicapai peneliti ini adalah untuk mengetahui bagaimana penggunaan media audiovisual dalam mata Pendidikan Agama Islam pada anak tunarungu di SLB Negeri 5 Kota Bengkulu. Memberikan masukan bagi siswa berkebutuhan khusus agar lebih semangat dalam mengikuti proses pembelajaran.

KAJIAN PUSTAKA

Pengertian Media Pembelajaran

Pengertian Media Audiovisual

Dari beberapa uraian di atas dapat kita simpulkan bahwa media pembelajaran adalah suatu alat pendidikan yang digunakan untuk segala hal yang dapat digunakan sebagai media untuk menyampaikan pesan-pesan yang lebih mudah dipahami dan menimbulkan semangat belajar pada siswa. Alat yang meliputi media audiovisual seperti televisi, video-VCD, audio slide dan film. Media audiovisual merupakan perpaduan antara gambar dan suara yang saling mendukung sehingga dapat memaksakan perasaan dan pikiran pada pemirsanya.

Media audiovisual merupakan media yang terdiri dari media visual yang diselaraskan dengan media audio, sehingga memungkinkan terjadinya komunikasi dua arah antara guru dan siswa dalam proses belajar mengajar. Sedangkan menurut Azhard Arsyad, media audiovisual adalah media audiovisual yang memadukan unsur suara dalam penggunaannya. Berdasarkan beberapa definisi di atas, penulis menyimpulkan bahwa media audiovisual adalah media yang digunakan dalam pembelajaran yang memadukan unsur audio (suara) dan visual (gambar).

Karena media audio visual merupakan media yang menggunakan teknologi komputer yang dapat mengatasi keterbatasan pengalaman siswa serta mengatasi batas ruang dan waktu. Misalnya benda yang sangat besar misalnya gunung, atau benda yang sangat kecil misalnya bakteri, dengan bantuan media audio visual kita dapat menampilkannya di dalam kelas. Media audio visual merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan hasil belajar siswa, hasil belajar merupakan salah satu indikator keberhasilan pembelajaran yang dapat meningkatkan hasil belajar siswa.

Macam-macam Media Audiovisual

Gerakan wudhu dan sholat juga dapat diperlihatkan di kelas, hal ini tentunya membuat pembelajaran menjadi lebih efektif. Apa yang dilihat oleh mata dan apa yang didengar oleh telinga lebih cepat dan mudah diingat dibandingkan dengan apa yang hanya dilihat atau didengar saja. Dalam dunia pendidikan, televisi juga dapat digunakan sebagai media pembelajaran dalam bentuk audiovisual yang mengandung unsur gambar dan unsur suara.

Televisi merupakan suatu alat elektronik yang hakikatnya sama dengan gambar hidup yang didalamnya terdapat gambar dan suara. Televisi dapat menyiarkan peristiwa terkini secara langsung melalui siaran berita atau siaran langsung yang dapat disaksikan oleh pemirsanya. Selain kelebihan, video juga mempunyai kekurangan yaitu hanya tersedia sedikit video di pasaran yang dapat digunakan dan sesuai dengan tujuan pembelajaran.

Fungsi Media Audiovisual

Fungsi motivasi, Seorang guru dalam memberikan motivasi kepada siswanya, akan lebih efektif jika dibantu dengan penggunaan media audio visual. Fungsi budaya, karakter dan karakteristik siswa sangat beragam, hal ini dapat diatasi dengan menggunakan media audiovisual. Media audio visual juga memiliki beberapa keunggulan antara lain dengan menghadirkan media audio visual sehingga seluruh siswa dapat menikmati media tersebut sekaligus menyerap ilmu pengetahuan melalui media tersebut.

Selain itu, media audiovisual membuat siswa lebih tertarik mempelajari agama Islam, karena melalui media tersebut disajikan suara dan gambar untuk menunjang proses pembelajaran. Dengan demikian, siswa tidak hanya disuguhkan dengan audio, baik dari guru atau media lain, tetapi juga dengan gambar yang memungkinkan siswa lebih cepat memahami apa yang diajarkan.

Langkah-langkah Media Audiovisual

36. mempersembahkan sesuatu, objek tertentu dan pergerakan tertentu yang sukar untuk dipersembahkan secara langsung di dalam bilik darjah.

Kelebihan dan Kelemahan Media Audio Visual

Dikatakan bahwa orang tuli bila tidak dapat mendengar atau mendengar suara. Secara fisik, anak tunarungu tidak berbeda dengan anak pada umumnya. Banyak ahli yang mengemukakan pengertian anak tuna rungu yang pada dasarnya semua mempunyai pengertian yang sama. Selain itu, Mufti Salim (1984:8) menyimpulkan bahwa anak tunarungu adalah anak yang mengalami defisit atau kehilangan pendengaran yang disebabkan oleh rusaknya atau tidak berfungsinya sebagian atau seluruh alat bantu dengar sehingga menyebabkan ia mengalami hambatan dalam perkembangan bahasanya.

Ciri-ciri fisik anak tuna rungu tidak mempunyai ciri-ciri yang unik, karena anak tuna rungu secara fisik tidak mengalami gangguan yang terlihat.Sebagai dampak dari gangguan pendengarannya, anak tunarungu mempunyai ciri-ciri yang unik jika dilihat dari berbagai sudut pandang. Anak yang kehilangan kemampuan mendengar pada tingkat III dan IV pada hakikatnya memerlukan layanan pendidikan khusus 26 5. Egosentrisme melebihi anak normal Ciri ini disebabkan oleh anak tunarungu yang memiliki dunia kecil akibat interaksi dengan lingkungannya yang sempit.

Karena memiliki gangguan pendengaran, anak tunarungu hanya melihat apa yang ada di hadapannya, tanpa mampu mendengar keadaan sekitar. Karena seorang anak tunarungu belajar tentang lingkungannya dengan menggunakan penglihatannya, maka akan timbul rasa ingin tahu yang besar. Memiliki rasa takut terhadap lingkungan yang lebih luas Rasa takut yang menimpa anak tunarungu seringkali disebabkan oleh kurangnya penguasaan terhadap lingkungan terkait dengan rendahnya kemampuan berbahasa mereka.

27 Yuswan, “Sekolah Luar Biasa Sebagai Bentuk Lembaga Pendidikan Luar Biasa”. http://www.academia.edu/26661866/SEKOLAHLUARBIASASEBAGAILEMBAGAPENDIDIKAKHUSU S, diakses 18 Oktober. Penyelenggaraan satuan pendidikan khusus dapat berlangsung secara terpadu antar jenjang pendidikan dan antar jenis ketunaan. Namun saat ini masyarakat lebih mengenal istilah pendidikan khusus dibandingkan dengan istilah pendidikan khusus bagi anak penyandang disabilitas.

28 Yuswan, “Sekolah Luar Biasa Sebagai Bentuk Lembaga Pendidikan Luar Biasa”. http://www.academia.edu/26661866/SEKOLAHLUARBIASASEBAGAILEMBAGAPENDIDIKAKHUSU S, Diakses pada 18 Oktober. SLB Sekolah untuk anak tunanetra b. Sekolah SLB B untuk anak tunarungu c. SLB C merupakan sekolah untuk anak tunagrahita d. Sekolah SLB D untuk anak cacat fisik e. 29 Yuswan, “Sekolah Luar Biasa Sebagai Bentuk Lembaga Pendidikan Luar Biasa”. http://www.academia.edu/26661866/SEKOLAHLUARBIASASEBAGAILEMBAGAPEDIDIKANKHUS US, Diakses pada 18 Oktober.

METODE PENELITIAN

Penggunaan media audiovisual pada mata pelajaran pendidikan agama Islam (PAI) pada anak tunarungu tingkat SMPLB di SLB Negeri 5 Kota Bengkulu. Pada observasi pertama (sebelum pandemi), yang diamati adalah proses pembelajaran PAI yang dilaksanakan di SLB Negeri 5 Kota Bengkulu dengan kategori siswa tunarungu. Setelah video, slide disertai gambar dan contoh langsung dari guru, menunjukkan kapan siswa harus langsung mempraktekkan apa yang telah dijelaskan sebelumnya dengan memparafrasekan huruf apa saja yang termasuk dalam hukum bacaan nun mati/tanwin pada bagian Izhar.

Pembelajaran PAI hari itu telah usai, peneliti melakukan wawancara kepada guru mata pelajaran PAI yang mengajar jenjang SMPLB di SLB Negeri 5 Kota Bengkulu. Selang beberapa bulan kemudian, tepatnya pada tanggal 13 November 2020, peneliti kembali melakukan observasi sambil meneliti siswa dengan judul yang peneliti ambil yang mengangkat tentang pemanfaatan media audio visual pada mata pelajaran pendidikan agama islam bagi anak tuna rungu di SLB Negeri 5 Kota Bengkulu. Namun karena kondisi saat ini di masa pandemi dan siswa diharuskan belajar di rumah melalui pembelajaran daring, pihak sekolah menginformasikan.

Sebelum melakukan penelitian, peneliti terlebih dahulu meminta data tempat tinggal siswa yang ingin diteliti dan mewawancarai wakil kepala kurikulum SLB Negeri 5 Kota Bengkulu yang bernama Ibu Meri Kostiati. Setelah melakukan wawancara dengan Ibu Meri Kostiati pada tanggal 13 November 2020, peneliti mulai mencari alamat rumah siswa keesokan harinya, mulai tanggal 14-16 November 2020, dan selama 2 atau 3 hari peneliti mencari alamat rumah siswa tersebut. akhirnya menemukan mereka. Pada tanggal 18 November 2020 peneliti pulang ke rumah dan pada hari itu juga peneliti mengunjungi 2 asrama mahasiswa.

Pada hari-hari berikutnya, peneliti melakukan hal yang sama dengan mengunjungi rumah siswa, bertemu dengan orang tua siswa, dan mewawancarai orang tua siswa. Pada tanggal 24 November hingga 7 Desember 2020, peneliti kembali ke rumah para mahasiswa yang ingin diperiksa dan melakukan penelitian. Peneliti mengunjungi rumah siswa secara bergantian dengan 1 orang siswa dan mengadakan 3 kali pertemuan untuk belajar.

Setelah video ilustrasi selesai diputar, peneliti mengulangi penjelasan yang dijelaskan dalam video ilustrasi tersebut dengan singkat agar siswa lebih memahami dan cara menjelaskannya harus dengan suara keras dan menggunakan bahasa isyarat serta dibantu oleh orang tua. Setelah menonton video yang diputar oleh peneliti, peneliti kembali menjelaskan secara singkat dan jelas agar lebih mudah dipahami oleh siswa dan peneliti menjelaskan dengan suara lantang dan menggunakan bahasa isyarat serta dibantu juga oleh orang tua siswa dan tidak lupa peneliti juga meminta siswa untuk mencatat sambil mengingat materi yang disampaikan. Peneliti meminta siswa mencatat hasil materi yang diperolehnya untuk melihat responnya dalam menerima pembelajaran dengan menggunakan media audiovisual ini.

Dari tabel diatas terlihat bahwa jumlah responden dalam penelitian ini adalah siswa tingkat SMPLB di sekolah luar biasa. Mengenai penggunaan media audiovisual dengan menggunakan video seperti yang telah dijelaskan sebelumnya menunjukkan bahwa penggunaan media audiovisual dengan menggunakan video dapat dikategorikan berhasil karena siswa dapat memberikan respon dengan baik, walaupun masih ada siswa yang kurang memberikan respon dengan baik, namun lebih dari separuh peserta. Guru di sekolah tidak menargetkan siswa untuk memahami secara langsung materi apa yang telah diberikan pada saat proses pembelajaran PAI, namun guru menyampaikan materi khususnya materi membaca hukum nun mai/tanwin dan mim matis dengan menggunakan slide gambar dan audio, terlebih dahulu sebagai siswa. diminta untuk memparafrasekan.

Agar siswa semakin semangat mengikuti proses pembelajaran karena penggunaan media audiovisual dalam proses pembelajaran sangat membantu dalam meningkatkan kemampuan pemahaman siswa.

Tabel 4. 1 Data Peserta Didik SDLB Dharma Wanita Provinsi  Bengkulu
Tabel 4. 1 Data Peserta Didik SDLB Dharma Wanita Provinsi Bengkulu

HASIL DAN PEMBAHASAN

KESIMPULAN

Gambar

Tabel 4. 1 Data Peserta Didik SDLB Dharma Wanita Provinsi  Bengkulu
Tabel 4.2 Peserta Didik Tiga Tahun Terakhir  Tingkat SDLB
Tabel 4.3 Data Guru Dan Karyawan SLB Dharma Wanita Provinsi  Bengkulu
Gambar 4.1 Struktur Organisasi Sekolah  5.  Fasilitas Sekolah/ Sarana dan Prasarana Sekolah
+5

Referensi

Dokumen terkait

Rendahnya motivasi belajar siswa dapat ditunjukkan dengan kurangnya keaktifan siswa dalam mengikuti pembelajaran. Ketidakaktifan siswa dalam proses pembelajaran dapat meliputi

Kondisi siswa Selama penelitian yang dilakukan peneliti menemukan data bahwa hambatan-hambatan yang terjadi pada saat implementasi penggunaan media audio visual dalam pembelajaran Ilmu