PENGUPAHAN BURUH TANI SEBAGAI PEKERJA HARIAN LEPAS DALAM TINJAUN HUKUM EKONOMI SYARIAH DI DESA TUGUSARI
KECAMATAN BANGSALSARI KABUPATEN JEMBER
SKRIPSI
Diajukan Kepada Universitas Islam Negeri Kiai Ahmad Siddiq Jember untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh
Gelar Sarjana Hukum (S.H) Fakultas Syariah
Program Studi Hukum Ekonomi Syariah
Oleh :
DEWI TRIWULANDARI NIM : S20192042
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI KIAI HAJI ACHMAD SIDDIQ JEMBER
FAKULTAS SYARIAH
JULI 2023
IMPLEMENTASI PENGUPAHAN BURUH TANI SEBAGAI PEKERJA HARIAN LEPAS DALAM TINJAUN HUKUM EKONOMI SYARIAH
(STUDI KASUS DESA TUGUSARI KECAMATAN BANGSALSARI KABUPATEN JEMBER)
SKRIPSI
Diajukan Kepada Universitas Islam Negeri Kiai Ahmad Siddiq Jember untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh
Gelar Sarjana Hukum (S.H) Fakultas Syariah
Program Studi Hukum Ekonomi Syariah Oleh :
DEWI TRIWULANDARI NIM : S20192042
Dosen Pembimbing,
Dr. H. Ahmad Junaidi, M.Ag.
Nip. 197311052002121002
PENGUPAHAN BURUH TANI SEBAGAI PEKERJA HARIAN LEPAS DALAM TINJAUN HUKUM EKONOMI SYARIAH DI DESA TUGUSARI
KECAMATAN BANGSALSARI KABUPATEN JEMBER)
SKRIPSI
Telah diuji dan di terima untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh
Gelar Sarjana Hukum (S.H) Fakultas Syariah
Program Studi Hukum Ekonomi Syariah
Hari :Senin Tanggal : 03 Juli 2023
Tim Penguji
Ketua Sidang Sekretaris
Dr. Martoyo, S.H.I., M.H Moh. Syifa’ul Hisan, S.EI., M.S.I NIP. 197812122009101001 NUP. 201603100
Anggota:
1. Dr. Hj. Mahmudah, S.Ag., M.EI ( )
2. Dr. H. Ahmad Junaidi, M.Ag ( )
Menyetujui , Dekan Fakultas Syari‟ah
Prof. Dr. Moh. Noor Harisuddin, M. Fil.I.
NIP. 197809252005011002
MOTTO
ِوّللا ُلْوُسَر َلاَق َلاَق َرَمُع ِنْب ِوّللا ِدْبَع ْنَع َّفَِيَ ْنَا َلْبَ ق ُهَرْجَأ َيرِجَْلْا اْوُطْعَأ ْمَّلَسَو ِوْيَلَع ُوّللا ىَلَص
ُوَقَرَع
Artinya :Dari Abdullah bin Umar ia berkata: Rasulullah Shallallahu 'alaihi Wasallam bersabda: Berikanlah upah kepada pekerja sebelum kering
keringatnya (HR Ibnu Majjah No 2434 /4332).
1
1 Ibnu Majah,Sunan Ibnu Majah, Dalam Ensik Lopedia Hadits4 Sunan Ibnu Majah,Ed.
PERSEMBAHAN
Puji syukur Alhamdulillah atas karunia Allah SWT, sehingga saya dapat menyelesaikan karya sederhana dengan penuh perjuangan untuk melawan rasa malas dan pengorbanan untuk meraih semangat. Tulus dari hati karya ini saya persembahkan untuk:
1. Teruntuk kedua orang tua kandung saya, ibu Ani dan bapak Pardi terimakasih atas doa dan dzikir serta semangat dan curahan kasih sayang yang telah diberikan tiada henti dan tanpa pamrih sehingga saya dapat meneyelesaikan tugas akhir perkuliahan ini.
2. Kedua orang tua angkat saya, ibu Nurhayati dan bapak Sutrisno terimakasih telah memberikan dukungan, motivasi yang luas, dan pengorbanan dalam hidup ini terimakasih atas doa yang tak pernah henti dipanjatkan dan curahan kasih sayang yang telah diberikan tanpa henti, terimakasih bunda dan bapak telah memberikan kasih sayang yang melebihi dari anak kandung sendiri.
3. Kakak kandung saya, Faruq dan Umar terima kasih selalu memberikan semangat dan doa yang tidak pernah lelah mengiringi langkahku selama menuntut ilmu dan curahan kasih sayang yang telah diberikan.
4. Terimakasih kepada Nenek ku tercinta sudah merawatku dan menyayangiku seperti cucunya sendiri terimakasih atas doanya yang selalu dipanjatkan untuk ku.
5. Teruntuk teman teman seperjuangan angkatan 2019 terimakasih sudah selalu
memberi motivasi dan semangat untuk saya.
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, segala puji syukur penulis panjatkan atas segala Rahmat dan karunia yang telah diberikan oleh Allah SWT karena pada kesempatan ini penulis dapat menyelesaikan Skripsi yang merupakan salah satu syarat agar bisa mendapatkan gelar sarjana Hukum Ekonomi Syariah, Sholawat serta salam tetap tercurah limpahkan kepada Nabi Besar Muhammad Shallawahu Alaihi Wasalaam.
karena berkat beliaulah dapat menyelesaikan dan terangkis dari zaman kegelapan menuju zaman terang benderang.
Dengan mengucapkan kata Alhamdulillah. penulis dapat menyadari, bahwa betapa banyaknya hal yang tidak ada pada diri penulis, maka dari itu, kesuksesan ini dapat menulis dan menyelesaikan karena dukungan dan bimbingan dari banyak pihak. Dan tak lupa kami haturkan serta rasa hormat kami ucapkan kepada para pihak yang telah membimbing dan memberi bantuan untuk menyusun Skripsi ini, oleh karena itu penulis menyampaikan banyak banyak terimakasih yang tulus dan sedalam-dalamnya kepada :
1. Bapak prof. Dr. H. Babun Suharto, S. E.,M. M selaku rektor Universitas Kiai Haji Achmad Siddiq Jember.
2. Prof. Dr. M. Noor Harisddin, M. Fil.i., Selaku Dekan Fakultas Syariah Universitas Kiai Haji Achmad Siddiq Jember.
3. Dr. Busriyanti, M.ag selaku ketua jurusan Hukum Islam di Fakultas Syariah Universitas Kiai Haji Achmad Siddiq Jember.
4. Dr. H. Ahmad Junaidi, M. Ag Selaku Ketua Program Studi Hukum Ekonomi Syariah Universitas Kiai Haji Achmad Siddiq Jember sekaligus pembimbing skripsi yang tidak pernah lelah dan terus menerus membimbing dalam penyelesaian skripsi ini.
5. Seluruh Dosen Universitas Kiai Haji Achmad Siddiq Jember khususnya
seluruh jajaran dosen fakultas syariah Universitas Kiai Haji Achmad Siddiq
Jember.
Semoga segala hal yang telah Bapak dan Ibu dosen berikan kepada penulis senantiasa mendapatkan Ridho dari Allah Subahanallahu Wa Ta‟ala, dan penulis berdoa semoga segala kebaikan, dan bantuan partisipasi semua mendapatkan balasan pahala dari Allah SWT dan penulis sampaikan banyak terimaksih.
.
Wassalamualaikum wr.wb
Jember, 05 juni 2023
Penulis
ABSTRAK
DEWI 2023 : Pengupahan Buruh Tani Sebagai Pekerja Harian Lepas Dalam Tinjauan Hukum Ekonomi Syari‟ah.
Ujrah adalah upah dalam bahasa Arab, upah merupakan persentase atau jumlah tertentu yang diberikan atas suatu penyerahan jasa atas suatu pekerjaan yang telah dikerjakan oleh tenaga kerja. upah dapat di definisikan sebagai jumlah uang yang dibayarkan oleh orang yang memberi pekerjaan kepada seseorang pekerja atas jasanya sesuai dengan perjanjian menurut fiqih muamalat bahwa transaksi uang dengan kerja manusia disebut dengan ujrah/upah, dalam pandangan sariat islam upah adalah hak dari orang yang telah bekerja dan kewajiban orang yang mepekerjakan untuk membayarnya.
Didalam skripsi ini Fokus penelitian yang diteliti adalah? 1) Mengapa terjadi penundaan pemberian upah di Desa Tugusari Kecamatan Bangsalsari Kabupaten Jember ?2) Bagaimana tinjauan Hukum Ekonomi Syari‟ah terhadap penundaan pemberian upah di Desa Tugusari Kecamatan Bangsalsari Kabupaten Jember?
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui mengapa terjadi penundaan pemberian upah di Desa Tugusari Kecamatan Bangsalsari Kabupaten Jember.untuk mengetahui bagaimana tinjauan Hukum Ekonomi Syari‟ah terhadap penundaan pemberian upah di Desa Tugusari Kecamatan Bangsalsari Kabupaten Jember.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, jenis penelitian kualitatif Studi kasus yang menggali fenomena yang terjadi, serta analisis datanya yaitu menjelaskan objeknya dalam bentuk narasi yang didapat dari pengamatan observasi, wawancara dan dokumentasi. Pemeriksaan keabsahan data dilakukan dengan triangulasi sumber data.
Berdasarkan hasil dari penelitan tersebut dapat disimpulkan
1.) bahwa pengupahan di Desa Tugusari dalam pemberian upah tidak pernah tepat waktu dalam pengupahannya dan sering diundur dalam mengupah, dengan alasan barang tersebut belum dijual. 2.) dikutip dalam Hukum Ekonomi Islam bahwa pengupahan tidak boleh ditunda-tunnda dengan secara sengaja, karena upah adalah sebuah hak buruh pekerja. penundaan upah tidak dibolehkan karena upah adalah sebuah hak pekerja yang diberikan oleh pemberi kerja dan penundaan dalam bekerja ini dalam islam termasuk kedholiman atau Dosa besar karena dalam penundaan di Desa Tugusari Tersebut sangatlah lama dan penundaan waktu pengupahan itu termaktub dalam Al-Haitsami dalam kitabnya Az-Zawajir‟an Iqtirafil Kaba‟ir (11/263)
Kata Kunci : Penundaan, Pengupahan, Buruh
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ... i
HALAMAN PERSETUJUAN ... ii
HALAMAN PENGESAHAN ... iii
MOTTO ... iv
PERSEMBAHAN ... v
KATA PENGANTAR ... vi
ABSTRAK ... viii
DAFTAR ISI ... ix
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang ... 1
B. Fokus Penelitian ... 5
C. Tujuan Penelitian ... 5
D. Manfaat Penelitian ... 6
E. Defisini Istilah ... 7
F. Sistematika Pemabahasan ... 9
BAB II KAJIAN KEPUSTAKAAN ... 11
A. Penelitian Terdahulu ... 11
B. Kajian Teori ... 17
BAB III METODE PENELITIAN ... 45
A. Pendekatan Dan Jenis Penelitian ... 45
B. Lokasi Penelitian ... 46
C. Subyek Penelitian ... 46
D. Teknik Pengumpulan Data ... 47
E. Analisis Data ... 49
F. Keabsahan Data ... 49
G. Tahapan-Tahap Penelitian ... 50
BAB IV PENYAJIAN DATA DAN ANALISIS ... 52
A. Gambaran Obyek Penelitian ... 52
B. Penyajian Data dan Analisis ... 54
C. Pembahasan Temuan ... 65
BAB V PENUTUP ... 71
A. Simpulan ... 71
B. Saran-Saran ... 72
DAFTAR PUSTAKA ... 73
Lampiran-Lampiran
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
berkehidupan dimasyarakat sejatinya tidak pernah luput dari permasalahan kerja sama yang biasa disebut dengan gotong royong dan kerja sama ini disebut pula dengan kata Muamalah, Muamalah adalah suatu kerja sama dalam melakukan sebuah aktivitas Ibadah Mahdah dengan manusia- manusia lainnya. Ibadah Mahdah ini ditentukan Rukun dan Syaratnya, didalam Ibadah Mahdah ini adalah sebuah hubungan vertikal seperti hambanya dengan Tuhannya yaitu Allah SWT.
2Muamalah adalah sebuah kerja sama yang berkaitan dengan bisnis atau tentang pengupahan yang berkaitan dengan Akad dimana Akad tersebut diatur didalam Hukum Ekonomi Syariah atau lebih dikenal dengan kata Muamalah.
Didalam Muamalah ada yang beranggapan bahwa yang mengkaji
dengan serius tentang Muamalah sangatlah sedikit, karena ada yang
beranggapan bahwa Muamalah ini hanya urusan duniawi yang tidak ada
kaitannya dengan nilai keTuhanan maka dari itu yang mengkaji tentang
Muamalah sangatlah sedikit, yang beranggapan seperti itulah yang tidak
benar, dikarenakan seorang Muslim apapun aktivitas yang dilaksanakan
sehari-hari harus berkaitan dengan nilai keTuhanannya. Sebagai sesorag
muslim yang taat terhadap ajarannya, Jasa dan kegiatan transaksi dalam jual
beli harus dilaksanakan sesuai perintah Allah dan rasulnya. seiring waktu
berlalu kemajuan terhadap peradaban manusia semakin lama semakin berkembang, begitu pula dalam hal ilmu pengetahuan. Dengan adanya kemajuan tersebut tentu dalam hal jual beli atau transaksi lainnya juga mengalami kemajuan , sehingga pembahasan klasik mengenai jual beli atau transaksi dinilai tidak relevan lagi. Tentu ini menjadi salah satu faktor masalah bagi Umat Muslim untuk menilai bentuk transaksi modern yang sedang berkembang apakah sesuai dengan prinsip Muamalah dalam Agama Islam.
Adanya tenagakerja merupakan salah satu yang ditimbulkan dari faktor toleransi yang di berikan antara pekerja dengan orang yang memberikan pekerjaan yang memiliki tujuan untuk pemanfaatan tenaga kerja dalam memproduksi suatu barang atau jasa. Adapun ketentuan mengenai ketenagakerjaan yang dijelaskan dalam UU nomor 13 tahun 2003 pasal 1 ayat 3 yang menyatakan bahwa pekerja atau buruh dalam hal ini merupakan seseorang yang bekerja untuk mendapatkan penghasilan berupa upah atau dalam bentuk lain. upah sendiri merupakan hak yang diperoleh pekerja setelah pekerjaan itu selesai. Adapun upah dalam hal ini berupa uang atau bentuk lain yang diperoleh sebagai bentuk imbalan dari seseorang yang memberikan pekerjaan. Mekaniseme dan bentuk upah sebelumnya harus disepakati sesuai dengan kesepakatan yang berdasarkan pada undang-undang termasuk hak hak lain yang dibenarkan dalam undang-undang tersebut, buruh harus mendapatkan semua.
2 Imam Mustofa, Fiqih Muamalah Konteporer (Jakarta : PT Raja Grafindo Persada,
menyediakan jasa juga termsauk dari bentuk Muamalah, mekanisme dalam praktik bentuk tersebut ialah adanya perjanjian atau transaksi antara pemberi jasa dengan orang yang memberikan jasa pekerjaan. Seseroang yang memberi pekjerjaan disebut dengan juragan sedangkan seseorang yang menerima jasa disebut dengan kariyawan. Bentuk Muamalah ini juga disebut sebagai bentuk kerja sama, yang menurut Fikih Muamalah digolongkan menjadi Akad Ijarah, yakni Akat sewa menyewa jasa, dengan sistem menerima upah dari seseorang yang memberikan pekerjaan.
3Istilah upah dalam Agama Islam disebut dengan Ijarah, namun Ijarah sendiri memiliki arti Akad sewa menyewa, dalam pembahasan ini istilah Ijarah tidak hanya diartikan sebagai Akat sewa menyewa dan lingkup barang saja, namun pembahasan ini juga berbicara manfaat tentang tenaga atau jasa yang juga disebut sebagai upah. Upah sendiri merupakan salah satu sarana pekerja untuk memenuhi kebutuhannya. Sewa-menyewa yang dimaksud dalam Ijarah sendiri berasal dari istilah Al Iwadh yang memiliki arti pengganti atu upah. Sayyid Sabid berpendapat:
اًرْجَأ ُباَوَّ ثلا َيُِّسُ ُوْنِمَو ،ُضَوِعْلا َوُىَو ِرْجَْلْا ْنِم ٌةَّقَ تْشُم ُةَراَج ِْلَْا
Artinya :Ijarah diambil dari kata Al-Ajr yang artinya Iwadh (imbalan),dari pengertian ini pahala (Tsawab) dimakan Ajr (upah/pahala ).
Didalam Hukum Islam kegiatan Ijarah guna untuk mencapai kesejahteraan manusia sebagaimana telah difirmankan dalam Q.S Al-Qashas (28):
2016), Hal. 6.
َلاَق َكِلٰذ ِْنْيَ ب َكَنْ يَ بَو اََّيََّا ۗ
ِْيَلَجَْلْا ُتْيَضَق
َلَف َناَوْدُع َّيَلَع ُوّٰللاَو ۗ ىٰلَع اَم ُلْوُقَ ن ٌلْيِكَو
Artinya : Salah seorang dari kedua wanita itu berkata ya bapakku, ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) adalah orang yang kuat lagi dapat dipercaya.
4Berdasarkan penjelasan diatas, bahwa bentuk Ijarah yang dilakukan harus memikiki kemanfaatan yang jelas. Manfaat yang dihasilkan harus diketahui agar dapat dinilai apakah manfaat tersebut bertentangan dengan Syara‟ atau ajaran Agama Islam. manfaat atas obyek yang disewakan baik berupa benda maupun harta benda disebut sebagai harta yang bersifat Isti‟maly. Didalam ayat tersebut menjelaskan bahwa setiap upah harus harus diberikan sesuai dengan tingkat pekerjaannya, artinya besaran upah yang diberikan atau diproleh sesuai dengan jenis dan tingkat pekerjaannya.
Syarat sahnya Ijarah ada dua yaitu jelasnya upah dan pekerjaan dan apabila salah satunya tidak jelas maka rusaklah akad itu adapun cara perhitungan upah adalah dengan mempertimbangkan berapa waktu ia telah bekerja, kedudukan ijarah dalam hal pembayaran sifatnya harus jelas.
Didalam pengupahan tidaklah ada perbedaan antara pengupahan laki laki dan perempuan.semua rata diperlakukan sama tidak ada perbedaan dan mendapatkan kesempatan yang sama dalam mendapatkan kesempatan kerja.
5Seperti halnya yang terjadi terhadap penundaan pembayaran atau upah buruh yang ada di Desa Tugusari Kecamatan Bangsalsari Kabupaten jember,
3 Abd Ar-Rahman Al-Jaziri, Kitab Al-Fiqh‟ala Mazahb Al-arba‟ah (Mesir Maktabah Tijariyah Kubra, tt,), III: 96
4. Departemen Agama Republic Indonesia, QS Al-Qashas Ayat 23.
5 Pasal 5 UU No.13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan
penundaan upah buruh sering terjadi dengan alasan barangnya belum dijual dan sebagainya, upah adalah sebuah hak bagi setiap pekerja, dan pemberian upah sangatlah adil, tidak ada perbedaan antara buruh tani laki laki maupun perempuan akan tetapi permasalahan dari hal ini adalah sebuah penundaan dalam pengupahan, perlu di teliti lebih dalam masalah ini, karena dalam permasalahan tersebut sering terjadi di Desa Tugusari Kecamatan Bangsalsari Kabupaten Jember, Akan tetapi keterlambatan sebuah pengupahan tidak membuat seorang pekerja berhenti bekerja, justru para buruh tetap bekerja sesuai perintah yang mempunyai di pedesaan tugusari kecamatan bangsalsari kabupaten jember meskipun didalam pengupahan terjadi sebuah hambatan.
Oleh karena itu dengan adanya kenyataan yang terjadi peneliti tertarik untuk mengambil judul Pengupahan Buruh Tani Sebagai Pekerja Harian Lepas Dalam Tinjaun Hukum Ekonomi Syariah di Desa Tugusari Kecamatan Bangsalsari Kabupaten Jember.
B. Fokus Penelitian
1. Mengapa terjadi penundaan pemberian upah di Desa Tugusari Kecamatan Bangsalsari Kabupaten Jember?
2. Bagaimana tinjauan Hukum Ekonomi Syari‟ah terhadap penundaan pemberian upah di Desa Tugusari Kecamatan Bangsalsari Kbupaten Jember?
C. Tujuan Penelitian
1. Untuk mengetahui terjadi penundaan pemberian upah di Desa Tugusari
Kecamatan Bangsalsari Kabupaten Jember.
2. Untuk mengetahui tinjauan Hukum Ekonomi Syari‟ah terhadap penundaan pemberian upah di Desa Tugusari Kecamatan Bangsalsari Kabupaten Jember.
D. Manfaat Peneliti
Di Dalam pembahasan masalah yang dilakukan oleh peneliti, serta manfaat dan kegunaan bagi pembaca merupakan manfaat yang terkait dalam suatu masalah, peneliti memberikan harapan besar agar manfaat bisa dilaksanakan oleh pembaca, manfaat penelitian terbagi menjadi dua yaitu manfaat secara teoritis dan praktis:
1. Manfaat Teoretis
penelitian ini diharapkan untuk memperkaya sebuah perkembangan pengetahuan dan wawasan yang berhubungan dengan upah serta menambah keilmuan dalam mengangkat permasalahan yang berkaitan dengan upah dalam aspek Hukum Ekonomi Syariah, dan yang berkenaan dengan pengupahan buruh tani sebagai pekerja harian lepas di dalam tinjauan Hukum Ekonomi Syariah.
2. Manfaat Praktis
Penelitian ini dapat memberikan sebuah masukan dan penukaran
pendapat bagi sebuah aparat penegak Hukum ataupun masyarakat untuk
mengetahui terhadap pengupahan pada buruh tani harian lepas, dan agar
bisa menjadi sebuah pengalaman bagi peneliti mengenai kasus
pengupahan yang ada di Desa Tugusari Kecamatan Bangsalsari Kabupaten
Jember.
a. Bagi Masyarakat
Penelitian ini dapat untuk memberikan sebuah pengetahuan bagi masyarakat terkait dengan pengupahan yang layak dengan sesuai pekerjaan pada buruh tani harian lepas.
b. Bagi Lembaga Universitas Kiai Achmad Siddiq Jember
Bagi lemabaga UIN penelitian ini semoga bisa menjadi bahan rujukan terkait pengupahan buruh tani sebagai pekerja harian lepas dan juga semoga bisa menjadi bahan perbandingan bagi mahasiswa lain terutama bagi mahasiswa prodi Hukum Ekonomi Syariah.
c. Bagi Peneliti
penelitian ini diharapakan menambah sebuah wawasan untuk penulis dan pembaca khusunya dalam praktek pengupahan buruh tani sebagai pekerja harian lepas dalam tinjaun Hukum Ekonomi Syariah serta menjadi sebuah penelitian syarat tugas akhir untuk memperoleh gelar sarjana.
E. Definisi Istilah
Definisi istilah sendiri berisi penjabaran atau pengertian mengenai
istilah-istlah penting dalam penelitian ini sebagai titik pembahsan dalam
penelitian ini. Tujuan adanya Istilah Istilah terebut untuk menghidari kesalah
pahaman atas masalah yang akan dibahas. Oleh karena itu peneliti
menetapkan beberapa Istilah penting dalam penelitian ini, yakni sebagai
berikut:
1. Upah
Isitilah upah didalam Agama Islam dikenal dengan Ijarah. Secara bahasa kata Ijarah sendiri berasal dari kata Al-rju‟ yang memiliki arti ganti atau upah. Sedangkan jika di tinjau dari segi istilah Al-Arju‟ sendiri di artikan sebagai bentuk perjajian dalam perpindahan atas suatu barang atau jasa tanpa ada mengikuti perpindahan kepemilikan atas jasa dan barang itu sendiri. sedangkan Ijarah menurut Hanafiyah diartikan sebagai perjanjian atau Akad atas pengambilan manfaat disertai dengan pengupahan. Upah sendiri termasuk kegiatan yang diperbolehkan dan kedudukannya sama seperti jual beli, namun upah sendiri lebih dinilai sebagai pengganti suatu jasa dari seuatu pekerjaan yang diberikan oleh pemberi jasa (juragan, BOS, majikan) kepada seseorang yang menerima pekerjaan (kariyawan, buruh dan semcamnya).
62. Buruh Tani
buruh tani didalam Islam disebut seorang buruh atau orang yang harus diperlakukan sebaik mungkin oleh seorang majikan atau pemberi kerja, dan buruh tani berdasarkan kamus besar bahasa indonesia yaitu buruh yang mendapatkan upah dengan bekerja milik orang lain.
73. Pekerja Harian Lepas
Pekerja harian lepas di dalam Istilah adalah seorang yang melakukan suatu pekerjaaan secara borongan dengan menerima upah
6 Alisa Sertika,Persepektif Hukum Islam Terhadap Pembayaran Upah Buruh Tani Setelah Panen (Studi Pada Masyarakat Desa Tanjung Anom, Kecamatan Ambarawa Kabupaten Pringsewu), Skripsi (Lampung: UIN Raden Intan, 2017), 11.
harian, mingguan, atau bulanan yang dilihat dari hasil kerjanya.
8jadi pekerja harian lepas adalah seseorang yang bekerja sebagai buruh tani yang melakukan sebuah pekerjaan milik orang lain dengan menerima upah.
4. Hukum Ekonomi Syariah
Hukum Ekonomi Syriah adalah sesuatu yang berkaitan dengan praktek jual beli, perdagangan atau pengupahan yang didasarkan oleh Hukum.
9Yang dimaksud dalam penelitian ini adalah sebuah upah mengupah atau yang biasa disebut dengan istilah (Ijarah).
F. Sistematika Pembahasan
Bab pertama membahas tentang pendahuluan yang memuat latar belakang, fokus permasalahan, tujuan penelitian, manfaat dan definisi istilah serta sistematika pembahasan.
Bab kedua berisi tentang kajian pustaka , yang memuat penelitan terdahulu, kajian teori yang membahas tentang sistem pegupahan buruh tani harian lepas dalam tinjauan Hukum Ekonomi Syariah.
Bab ketiga berisi metode penelitian, bab ini memuat tetantang jenis penelitian dan metode penelitian yang digunakan, serta lokasi penelitian sebagai objek penelitian, subjek peneltian. Teknik yang duganakan dalam
7 Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta:Pusat Bahasa,2008), h. 214
8 Ketasapoetra.G., Hukum Perburuhan Di Indonesia Berlandaskan Pancasila (Jakarta:Sinar Grafika 1986), hlm. 57.
9 Abdri Soemitra, Hukum Ekonomi Syariah Dan Fiqh Muamalah Di Lembaga Keuangan Dan Bisnis Kontemporer (Jakarta : Kencana, 2019), 2
pengumpulan data dilakukan dengan dukomentasi, wawancara, dan observasi serta penjabaran mengenai tahapan penelitian.
Bab keempat berisi tentang penyajian dan analisis data pada bab ini memaparkan dan analisis terhadap data yang telah di peroleh, dengan menyesuaikan dari fokus penelitian mengenai pengupahan buruh tani harian lepas berdasarakan Hukum Ekonomi Syariah di Desa Tugu Sari Kecematan Bangsal Sari Kabupaten Jember.
Dan bab kelima berisi penutup. Pada bab ini memuat kesimpulan dari
hasil penelitian dan saran-saran mengenai pengupahan buruh tani harian lepas
berdasarakan Hukum Ekonomi Sariah di Desa Tugu sari Kecamatan
BangsalSari Kabupaten Jember.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA A. Penelitian Terdahulu
Penelitian terdahulu ini adalah penelitian yang sangat relavan (yeng memiliki hubungan) dengan penelitian sebelumnya, hal ini dapat dilakukan untuk menghindari plagiarisme dari karya sebelumnya dalam penelitian ini menemukan beberapa skripsi yang berhubungan dengan peneliti yaitu : 1. judul Sistem Pengupahan Buruh Aneka Camilan UD. Mentari Jaya Putra
di Desa Patemon Kecamatan Tanggul Kabupaten Jember dalam Perspektif Ekonomi Islam.
Rumusan masalah 1.) Bagaimana bentuk akad perjanjian pengupahan buruh aneka cemilan UD. Mentari Jaya Putra di Desa Tugusari Kecamatan Bangsasari Kabupaten Jember? 2.) bagaimana cara penentuan besar uah upah buruh aneka cemilan UD. Mentari Jaya Putra di Desa Tugusari Kecamatan Bangsasari Kabupaten Jember? 3.) kapan pelaksanaan pemberian upah buruh neka cemilan UD. Mentari Jaya Putra di Desa Tugusari Kecamatan Bangsasari Kabupaten Jember?
Metode penelitian yang digunakan yakni analisis deskriptif dengan pendekatan kualitatif dengan mengungkap fakta dilapangan.
Hasil dari penelian ini dapat disimpulkan bahwa perjanjian atau
kontrak dalam pemberian upah yang dilakukan oleh UD. Mentari Jaya
Putra, dilakukan dengan sistem borongan. Yang mana sistem penentu
besaran upah berdasarkan seberapa banyak hasil produksi yang dihasilkan.
Sedangkan berdasarkan sistem Ekonomi Islam bentuk pemberian upah tersebut termasuk pada jenis pekerjaan dan hasil produksi.
10Adapun persamaan dari penelitian ini yakni sama-sama meneliti dan membahas tentang sistem pengupahan terhadap Tenaga kerja sedangkan perbedaan dari penelitian ini yakni objek, kajian teori dan fokus penelitian yang berbeda.
2. judul Implementasi Pengupahan Terhadap Buruh Diperusahaan UD.
Bumi Rahayu Kabupaten Polewali Mandar Persepektif Siyasah Syar‟iyyah Rumusan Masalah 1.) Bagaiamana sistem pengupahan terhadap buruh di UD Bumi Rahayu Kabupaten Polewali Mandar? 2.) Bagaimana respon buruh terhadap pengupahan di di UD Bumi Rahayu Kabupaten Polewali Mandar? 3.) Bagaimana pandangan respon buruh terhadap pengupahan di UD umi Rahayu Kabupaten Polewali Mandar?
Metode penelitian yang digunakan yakni analisis deskriptif dengan pendekatan kualitatif dengan mengungkap fakta dilapangan.
Hasil dari penelian ini dapat disimpulkan bahwa dalam skripsi tersebut menjelaskan tentang implementasi pengupahan terhadap buruh.
Persamaan di dalam penelitian ini adalah sama-sama menggunakan teori Ijarah sedangkan Perbedaan dari peneliti ini adalah fokus masalah.
3. judul sistem pemberian upah buruh tani di Desa maras kec. Air Nipis, kab.
Bengkulu Selatan prespektif Ekonomi Islam.
10 Engga Nurhadiansyah, Sistem Pengupahan Buruh Aneka Camilan UD. Mentari Jaya Putra Di Desa Patemon Kecamatan Tanggul Kabupaten Jember dalam Perspektif EkonomiIslam (Jember: IAIN Jember, 2017).
Rumusan masalah 1.) Bagaimana sistem pemberian upah pada buruh tani di Desa Maras Kecamatan Air Nipis Kabupaten Bengkulu Selatan? 2.) Bagaiamana pandangan ekonomi islam terhadap sistem pemberian upah pada buruh tani di Desa Maras Kecamatan Air Nipis Kabupaten Bengkulu Selatan?
Metode penelitian yang digunakan yakni analisis deskriptif dengan pendekatan kualitatif dengan mengungkap fakta dilapangan.
Hasil kesimpulan dari penelitian ini membahas mengenai sisem dalam pemberian upah terhadap buruh tani yang ada di suatu daerah terebut.
11Persamaan dari peneliti sama - sama menjelaskan tentang sistem pengupahan pada buruh tani dan juga sama sama menjelaskan tentang akad Ijarah. Sedangkan Perbedaanya dari peneliti menjelaskan tentang pemberian upah dahulu sebelum pekerja.
4. judul Tinjauan Ekonomi Islam dalam Keberadilan Sistem Pengupahan Buruh Tani Jeruk di Desa Sidomulyo Kecamatan Semboro Kabupaten Jember.
Rumusan masalah 1.) bagaimana pemahaman masyarakat terhadap praktek upah kerja diupah dalam perspektif hukum Islam diDusun pucuan Desa Sidomulyo Kecamatan Semboro? 2.) bagaiamana praktek kerja diupah dengan kerja dalam perspektif hukum Islam diDusun pucuan Desa Sidomulyo Kecamatan Semboro? 3.) bagaimana analisis hukum Islam
11 Siti Nurhanik, Sistem Pengupahan Buruh Tani di Desa Selop Amioro Kecamatan Imogiri Kabupaten Bantul Ditinjau dari Hukum Islam (Yogyakarta: UIN Sunan Kalijaga, 2008)
terhadap praktek kerja diupah dengan kerja diDusun pucuan Desa Sidomulyo Kecamatan Semboro?
Metode penelitian yang digunakan yakni analisis deskriptif dengan pendekatan kualitatif dengan mengungkap fakta dilapangan.
Hasil kesimpulan dari penelitian ini membahas sistem pemberian upah oleh bos atau juragan jeruk terhadap pekerja atau petani jeruk berdasarkan Ekonomi Islam dan ketentuan berdasarkan upah minum. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan jenis studi kasus.
Adapun persamaan dari penelitian ini yakni menggunakan metode penelitian yang sama dalam meneliti sistem pengupahan. Namun perbedaan dari penelitian ini ialah memiliki fokus penelitian berbeda yang mana fokus penelitian pada skripsi ini membahas sistem pengupahan terhadap petani jeruk berdasarkan Ekonomi Islam dan sesuai ketentuan UMR kab. Jember.
5. judul Sistem Pengupahan Buruh Di Perusahaan Daerah Perkebunan (PDP) Kahyangan Jember Cabang Panti Perspektif Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 Tentang Cipta Kerja Dan Hukum Ekonomi Syariah”
Rumusan masalah 1.) bagaimana sistem pengupahan buruh
diperusahaan daerah perkebunan (DPD) Kahyangan Jember Panti
Perspektif Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 Tentang Cipta Kerja
Dan Hukum Ekonomi Syariah? 2.) bagaiamana sistem pengupahan buruh
diperusahaan Daerah Perkebunan Kahyangan Jember Cabang Panti Dalam Perspektif Hukum Ekonomi Syariah?
Metode penelitian yang digunakan yakni analisis deskriptif dengan pendekatan kualitatif dengan mengungkap fakta dilapangan.
Hasil kesimpulan dari penelitian ini membahas sistem pengupahan buruh diperusahaan perkebunan (PDP) kahyangan panti yang ada disuatu daerah tersebut.
Persamaan yang dibahas peneliti adalah sama-sama membahas tentang pengupahan buruh tani sedangkan perbedaan dari peneliti berada didalam rumusan masalah.
Tabel 2.1
Perbedaan dan Persamaan Penelitian Terdahulu
No Nama Judul Persamaan Perbedaan
1. Engga
Nurhardiansah
Sistem Pengupahan Buruh Aneka Camilan UD.
Mentari Jaya Putra di Desa Patemon
Kecamatan Tanggul Kabupaten Jember dalam Perspektif Ekonomi Islam
Persamaan oleh penulis dan Engga Nurhardiansah sama sama meneliti tentang pengupahan
Perbedaan penulis membahas tentang Implemetasi Pengupahan Buruh Tani Sebagai Pekerja Harian Lepas Dalam Tinjaun Hukum Ekonomi Syariah Studi Kasus Desa Tugusari Kecamatan Bangsalsari Kabupaten Jember sedangkan Engga
Nurhardiansah membahas tentang Sistem
Pengupahan Buruh Aneka Camilan UD. Mentari Jaya Putra.
2. Ryan Rahman Ronaldo
Implementasi Pengupahan Terhadap Buruh Diperusahaan UD.
Bumi Rahayu Kabupaten Polewali
Persamaan oleh penulis dengan Ryan Rahman Ronaldo sama sama meneliti tentang
Perbedaan penulis
membahas tentang
Implemetasi Pengupahan
Buruh Tani Sebagai
Pekerja Harian Lepas
Dalam Tinjaun Hukum
No Nama Judul Persamaan Perbedaan Mandar Persepektif
Siyasah Syar‟iyyah
implemetasi pengupahan
Ekonomi Syariah
sedangkan Ryan Rahman Ronaldo membahas tentang Implementasi Pengupahan Terhadap Buruh Diperusahaan UD.
Bumi Rahayu Kabupaten Polewali Mandar
Persepektif Siyasah Syar‟iyyah.
3. Vibi
Kridalaksana
Sistem Pemberian Upah Buruh Tani DiDesa Maras Kecamatan Air Nipis Kabupaten Bengkulu Selatan Persepektif Ekonomi Islam
Penulis denga Vibi Kridalaksana sama mebahas tentang
pengupahan pada buruh tani
Perbedaan penulis membahas tentang
implementasi pengupahan buruh tani sebagai pekerja harian lepas sedangkan Vibi Kridalaksana membahas sistem pemberian upah buruh tani.
4. Siti Lailatul Khasanah
Tinjauan Ekonomi Islam dalam
Keberadilan Sistem Pengupahan Buruh Tani Jeruk di Desa Sidomulyo
Kecamatan Semboro Kabupaten Jember
Penulis dengan Siti Lailatul Khasanah sama mebahas tentang pengupahan
Perbedaan penulis membahas tentang pengupahan buruh tani sebagai pekerja harian lepas sedangkan Siti Lailatul Khasanah membahas tentang Tinjauan Ekonomi Islam dalam Keberadilan Sistem Pengupahan Buruh Tani Jeruk
5. Rosti agung hidayah
Sistem Pengupahan Buruh Di Perusahaan Daerah Perkebunan (PDP) Kahyangan Jember Cabang Panti Perspektif Undang- Undang Nomor 11 Tahun 2020 Tentang Cipta Kerja Dan Hukum Ekonomi Syariah
Persamaan dengan penulis sama sama menjelaskam tentang
pengupahan buruh
Perbedaan penulis membahas tentang pengupahan buruh tani sebagai pekerja harian lepas dalam tinjauan Hukum Ekonomi Syariah sedangkan rosti agung hidayah membahas
tentang pengupahan buruh diperusahaan (PDP) kahyangan dalam
perspektif undang-undang no 11 tahun 2020.
Sumber : Kajian Terdahulu
B. Kajian Teori 1. Ijarah
a. Pengertian Ijarah
Menurut KBBI upah adalah uang atau sebagainya yang yang diberikan oleh pemberikerja untuk pekerja sebagai balas jasa atau sebagai bayaran tenaga kerja yang ditugaskan dalam melakukan sesuatu untuk dikerjakan. didalam pasal 1 ayat 13 tahun 2003 menjelaskan tentang ketenaga kerjaan, dan di dalam pasal ini yang dimaksud dalam upah adalah hak bekerja atau buruh yang diperoleh dan dinyatakan dalam bentuk uang sebagai imbalan dari pengusaha.
12upah menurut istilah adalah sebuah imbalan sebagai bayaran untuk seorang buruh atau pekerja yang ditugaskan oleh pemberi kerja dan pembayaran itu dibayarkan dengan menurut perjanjian yang telah disepakati bersama sebelum melakukan sebuah pekerjaan.
13Dan perlu diketahui tentang makna operasional Ijarah yang artinya upah mengupah didalam Ijarah ini berasal dari kata Al-Ajrun yang berarti menurut bahasanya ialah Al-Iwadh arti didalam bahasa indonesia Al- Iwadh ini ialah ganti dan upah.
14Secara etimologi, Al-Ajru yang berarti pengganti atau Al-Alwadh. Oleh karena itu, dalam konteks pahala, Ats-Tsawabu juga disebut sebagai Al-Ajrun atau upah.
15Ijarah
12 Sadono, Mikro Ekonomi, Teori Pengantar, Edisi Ketiga (Jakarta : Rajawalipers, 2006),351
13Khumedo Ja‟far, Hukum Perdata Islam Indnesia (Banarlampung : IAIN Raden Intan Lampung), h .23
14 Sohari Sahrani, Ru‟fah Abdullah, Fikih Muamala (Bogor : Ghalia Indonesia. 2011).167
15 Abdul Rahman Ghazaly, DKK, Fiqih Muamalah (Jakarta : Prenadamedia Group, 2015)
dalam bahasa Arab merujuk pada pembayaran yang diberikan kepada seseorang yang telah melakukan suatu pekerjaan dengan memberikan imbalan sebagai upah atas apa yang telah dilakukannya. Upah, dalam arti kata, berasal dari bentuk kalimat Fi'il "Ajara-Ya'juru Ajrun". Ajrun memiliki makna yang sama dengan kata Al-Iwadh yang berarti upah, ganti, atau imbalan. Secara umum, Ijarah merujuk pada transaksi yang memperoleh manfaat yang Halal dari barang eksklusif atau pekerjaan dengan imbalan yang telah disepakati.
16Pengertian upah dalam perspektif Syariat Islam adalah hak yang wajib diterima oleh pekerja dan kewajiban bagi pemberi kerja untuk memberikannya.
17Secara umum upah diartikan sebagai kompensansi yang ditrima oleh pekerja setelah proses pekerjaan itu selesai sebagi bentuk penghasilan yang diterima dalam bentuk barang maupun uang. Gaji yang dimaksud di sini merujuk pada pendapatan pekerja dan dapat dilihat dari dua perspektif, yaitu perspektif moneter dan nonmoneter. Ini mencakup jumlah uang yang diterima oleh pekerja dalam periode tertentu, seperti sebulan, seminggu, atau sehari, dan merujuk pada nilai nominal tenaga kerja. Gaji harus mempertimbangkan berbagai faktor, termasuk jumlah uang yang diterima. Gaji dapat menjadi alasan untuk memiliki penghasilan,
16 Abdullah Bin Muhammad Ath-Thayyar Ensiklopedi, Fiqh Muamalah Dalam Pandangan 4 Mazhab.311
17 M. Yazid Affandi, Fiqih Muamalah dan Implementasinya Dalam Lembaga Keuangan Syari‟ah (Yoqyakarta : Logun Pustaka), h .165
karena itu dianggap sebagai cara untuk mencari kekayaan atau uang.
Dalam Islam, juga dianjurkan untuk mencari gaji.
18didalam bahasa Arab dikemukakan bahwa upah ini seringkali dinamakan Ajru dan Ajr yang berarti upah atau hadiah. dan kata Ajr ini memiliki makna balasan atas pekerja.
Ada Beberapa pandangan para ahli mengenai upah/gaji antara lain : 1) Gary Dessler berpendapat gaji tenaga kerja yaitu sesuatu yang
berbentuk bayaran yang diberikan kepada tenaga kerja yang telah melakukan sebuah pekerjaan.
2) Afzalur Rahman dalam bukunya doktrin Ekonomi Islam jilid II menjelaskan bahwa upah adalah sejumlah uang yang dibayarkan kepada pekerja oleh pemberi kerja dengan sesuai perjanjian.
193) Menurut Sadono Soekirno upah adalah sebuah bayaran yang
didapatkan dengan berbagai bentuk jasa yang diberikan atau disediakan oleh pemberi kerja kepada pekerja.
204) Imam Saepomo menjelaskan bahwa upah adalah sebuah bayaran atau gaji yang diterima oleh seorang buruh selama ia melakukan sebuah pekerjaan.
5) Hadi Purwono, menjelaskan bahwa gaji adalah sesuatu yang diputuskan sebagai imbalan atas jasa yang telah diberikan oleh tenaga kerja melalui persyaratan tertentu.
18 Abdullah Abdul Hasain, Ekonomi Islam : Prinsp, Dasar dan Tujuan (Yogyakarta:
Magistra Insania Press, 2004), 99.
19 Afzalur Rahman, Doktrin Ekonomi Jilid II (Yogyakarta : PT Dana Bhakti Waqaf 1995), 361.
6) Dewan peneliti pengupahan nasional mengartikan upah sebagai kompensasi dari pekerja untuk penerima kerja dalam melakukan suatu pekerjaan yang harus dilakukan, sebagai jaminan langsung untuk hidup yang layak dalam produksi, yang dalam hal ini diwujudkan dalam bentuk nilai uang yang telah disepakati dan dibayarkan berdasarkan perjanjian antara pemberi kerja dan penerima kerja.
21b. Dasar Hukum Ijarah
Islam sangat detail dalam menentukan upah. Oleh kerena itu dasar Hukum yang digunakan dalam menentukan upah ialah Al- Qur‟an dan Hadits serta sumber Hukum lainnya. Al-Quran merupakan sumber Hukum dan acuan dalam kehidupan manusia, begitu pula mengenai upah. Adanya aturan mengenai upah dijelaskan langsung didalam surah At-Talaq Ayat 6 yakni sebagai berikut:
ْنِاَف َنْعَضْرَا ْمُكَل َّنُىْوُ تٰاَف َّنُىَرْوُجُا ۗ
Artinya: Jika wanita - wanita itu menyusui anakmu maka berilah mereka upah (QS.At-Talaq {65}:6)
Berdasarakan Ayat tersebut. Syikh Wahbah Az-Zuhailin berpendapat bahwa dalam Allah menganjurkan terhadap seorang suami agar memberi perhatian lebih pada istrinya, serta anjuran kepada suami untuk memberikan tempat tinggal yang layak kepada istri selama masa Iddah. Selain hal tersebut suami juga wajib memberikan
20 Sadono Sukirno, Mikro Ekonomi Pengantar Teori, Edisi III,350.
Nafkah kepada istrinya serta hak-hak yang harus diperoleh baik Nafkah Lahir maupun Batin. Salah satu contoh: apabila istri menyusui anak maka suami juga harus memberikan upah terhadap istrinya.
Dalam urusan kebutuhan istri suami tidak semerta-merta memberikan sesuai kehendaknya sendiri, melaikan harus dimusyawarahkan terlebih dahulu pada istri. Namun apabila istri tidak ingin menyusui seorang anak lantaran menginginkan upah yang besar maka suami wajib mencari perempuan lain untuk menyusui anaknya. Dan apabila seorang istri menahan untuk tidak menyusui dengan alasan ingin upah besar dan sebab lainnya, maka suami wajib untuk melakukan musyawarah agar tetap dapat menyusui anaknya.
Kemudian Rosulallah SAW bersbda :
ْبَق ُيَرْجَأ َريِجَ ْلْا اْوُطْعَأ ْمَّهَسَو ًِْيَهَع ُ ّاللّ ىَهَص ِ ّاللّ ُلْوُسَر َلاَق َلاَق َرَمُع ِهْب ِ ّاللّ ِدْبَع ْهَع َّفِجَي ْنَا َم
ًَُقَرَع Artinya :Dari Abdullah bin Umar ia berkata: Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda: Berikanlah upah kepada pekerja sebelum kering keringatnya (HR Ibnu Majjah No 2434 /4332).
22Dengan adanya Hadits diatas bahwa upah adalah hasil dari kerja keras yang dapat ditingkatkan secara efesien. Setelah selesainya pekerjaan, hak si pekerja harus segera dipenuhi, baik itu upah bulanan,
21Triton PB, Manajemen Sumberdaya Manusia : Persepektif Partneship dan Kolektivitas (Yogyakarta: Tugu Publiser, 2007,), hal.137.
22 Ibnu Majah,Sunan Ibnu Majah, Dalam Ensiklopedia Hadits4 Sunan Ibnu Majah,ed.
Muhammad Ghazali, et. Al (Jakarta: Almahira, 2013),. 441
harian, maupun mingguan yang telah disepakati sebelumnya. Artinya, jika pekerja bisa menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat, maka upahnya akan diberikan dengan cepat sesuai dengan kesepakatan.
Namun, jika pekerja tidak menyelesaikan pekerjaannya sesuai dengan perjanjian tanpa alasan yang jelas, maka majikan atau pemilik lahan tidak berkewajiban untuk memberikan upah. Berdasarkan prinsipnya terdapa beberapa kewajiban dan hak yang harus dipenuhi, selama sebelum adanya proses pekerjaan adanya kesepakatan antara pekerja dan pemberi pekerjaan dengan dan tidak boleh menolak hak dan kewajiban yang telah ditetapkan selama tidak keluar dari koridor sistem pekerjaan tersebut.
Berdasarakan Hadits dan Nash Al-Quran Yang telah disebutkan, bahwa Ijarah menurut parak ulama diperbolehkan karena setiap orang memburuhkan jasa baik jasa barang atau jasa tenaga.
Ijarah sendiri adalah suatu kegiatan yang dinilai penting dalam
kehidupan manusia, lantaran sebagian orang tidak mampu dalam untuk
memenuhi kebutuhan tanpa adanya sewa dan pembayaran upah
terlebih dahulu. Transaksi tersebut juga dinilai sebagai bentuk
pertolongan atau sebagai bentuk peringanan terhadap urusan manusia
yang sangat dianjurkan oleh Agama. Dengan demikian Ijarah
merupakan kegiatan Muamalah adalah kegiatan yang menjadi
kebutuhan manusia dan sarat Islam untuk melegalkannya. Kosep
Ijarah sendiri sebagai contoh toleransi Hukum Islam dalam mengatasi kesulitan yang dihadapi manusia dalam kehidupan.
c. Rukun Dan Syarat Ijarah 1) Rukun Ijarah
Ijarah adalah suatu bentuk yang terdiri dari unsur-unsur yang membentuk suatu hal sehingga hal tersebut terlihat memiliki unsur-unsur tersebut, sementara Rukun Akad menurut Ahli Hukum Mazhab adalah hanya terdiri dari Ijab dan Kobul. Namun, menurut mayoritas ulama, Rukun Ijarah terdiri dari (4) empat unsur:
a) Aqid (Orang Yang Berakad)
Di dalam Aqid yaitu seseorang yang melakukan sebuah Akad upah mengupah atau sewa-menyewa.
23b) Sighat
Sight merupakan sebuah pernyataan keinginan yang umumnya dikenal dengan sebutan Sighat Akad (Sigatul-„Aqd), yang terdiri dari Ijab dan Qabul.
24c) Upah (Ijarah)
Upah adalah imbalan yang diberikan kepada Musta'jir
sebagai penghargaan atas jasa yang telah diberikan atau
manfaat yang diperoleh oleh Mu'jir.
d) Manfaat
Agar dapat mempekerjakan seorang Damusta'jir, perlu ditetapkan jenis pekerjaannya, jadwal kerjanya, besaran gaji yang diberikan, dan kekuatan tenaganya.
25.
2) Ketentuan bayaran
Pembayaran Ijrah berdasarkan ajaran Islam menetapkan bahwa ketentuan dalam pembayaran tersebut tergolong pada metode beriku:
a) Bayaraan sebelumnya sudah melalui proses musyawarah atau Munaqasah secara terbuka. Hal tersebut dilakukan sebagai pendukung setiap individu pelaku Ekonomi, tertanam tanggung jawab besar serta moras sebagai acuan dalam kepentingan umum.
b) Bayaran dijelaskan secara tegas karena termasuk pambayaran atas manfaat.
c) Bayaran sewa tidak boleh berupa manfaat dari jenis apapun yang disepakati dalam pengupahan. Manfaatnya harus jelas, jika tidak dapat menyebabkan perselisihan maka perjanjian tersebut tidak sah karena tidak jelas untuk mencapai kesepakatan tersebut dan dalam manfaat ini harus jelas objek perjanjian dengan penjelasan tempat manfaat, waktu, dan penjelasan objek kerja dalam penyewaan pekerja atau buruh tani.
23 Dimyauddin Djuwaini, Pengantar Fiqih Muamalah (Yogyakarta : Pustaka Belajar, 2010), h. 158
24 Dimyauddin Djuwaini, Pengantar Fiqh,,,h.158
25
d. Bentuk Ujroh
Ujrah ialah upah dalam Bahasa Arab, upah merupakan persentase atau jumlah tertentu yang diberikan atas suatu penyerahan jasa atas suatu pekerjaan yang telah dikerjakan oleh tenaga kerja.
26Upah-mengupah berarti Ijarah hal ini terlihat pada rukun dan syarat upah-mengupah yaitu mu‟jir dan musta‟jir antara yang memberkan upah dengan yang menerima upah. Antara upah dan sewa juga ada perbedaan makna, sewa menyewa digunakan untuk benda, sedangkan upah-mengupah digunakan untuk tenaga.
27Secara umum pengupahan dapat digolongkan kedalam Akad Ijarah dalam Hukum Islam, prinsip utama dalam akad Ijarah adalah saling menguntungkan dan dilarang menzalimi. Penetapan upah pun harus jelas yang meliputi besarnya upah dan tatacara pembayaran upah.
28upah dapat didefinisikan sebagai jumlah uang yang dibayar oleh orang yang memberikan pekerjaan kepada seseorang pekerja atas jasanya sesuai dengan perjanjian, menurut Fikih Muammalah bahwa transaksi uang dengan tenaga kerja manusia disebut ujroh/upah.
29Upah merupkan hak dari seorang buruh sebagai harga atas tenaga yang telah disumbangkannya dalam proses produksi dan
26 Waridah Ernawati, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta Selatan: Imprint Kawan Pustaka, 1991), h. 1069.
27 Anwar Mohammad, Fiqih Islam: Munakahat, Muamalah, Fara‟id dan Jinayat (Bandung:
Al-Ma‟arif, 2014), h. 18
28 Muzzaki Harir M, Sumanto Ahmad, “Tinjauan Hukum Islam Terhadap Upah Pembajak Sawah di Desa Klesem Pacitan”. Jurnal Al-Adalah, Vol. 14 No.2 (2017), h.483
29 Hendrie Anto, Pengantar Ekonomika Mikro Islami (Yogyakarta: Ekonosia, 2013), h.
224.
pemberi kerja wajib membayarnya.
30Dalam Bahasa Arab upah dan sewa disebut dengan Ijarah dan Ijarah berasal dari kata ajru yang artinya menurut Bahasa adalah Iwadh yang arti dalam Bahasa Indonesia ialah upah.
31Sedangkan ujroh menurut istilah adalah Akad yang berkenaan dengan kemanfaatan, dengan memberikan pembayaran atau sewa tertentu. Kata ajru mengandung dua arti, yaitu balasan atau pekerjaan dan pahala. Dalam konteks hukum Islam, pembagian upah masuk dalam wilayah kajian Ijarah. Ijarah berasal dari kata al-ajru yang berarti Al-Iwadh atau ganti, sedangkan menurut pengertian syara‟
Ijarah adalah suatu jenis akad untuk mengambil manfaat untuk jalan konpensasi.
32Antara sewa dan upah ada perbedaan makna oprasional, sewa biasanya digunakan untuk benda misalnya seperti seseorang menyewa kamera untuk suatu acara, sedangkan upah digunakan untuk tenaga, seperti para karyawan bekerja dipabrik dibayar upahnya satu kali dalam seminggu.
33upah adalah harga yang dibayarkan kepada pekerja atas jasanya dalam produksi kekayaan seperti faktor produksi lainnya, tenaga kerja diberikan imbalan atas jasanya yang disebut upah. Dengan kata lain upah adalah harga dari tenaga yang dibayar atas jasanya dalam produksi.
34Islam menawarkan suatu penyelesaian yang sangat
30 Ibid, h. 225.
31 Suhendi Hendi, Fiqih Muamalah (Bandung: Raja Grafindo, 2014), h. 117
32 Abdul Rahman Ghazali, DKK, Fiqih Muamalah (Jakarta: Kencana, 2010), Cet, 1, h,277.
33 Ibid, h. 279.
34 Rahman Afzalur, Doktrin Ekonomi Islam Jilid 2 (Yogyakarta: Dana Bhakti Wakaf, 2007), h. 361.
baik katas masalah upah dan menyelamatkan kepentingan kedua belah pihak, kelas pekerja dan para majikan tanpa melanggar hak-hak yang sah dari majikan, dalam perjanjian kedua belah pihak harus bersikap jujur dan adil dalam semua urusan, sehingga tidak terjadi tindakan aniaya terhadap orang lain juga agar tidak merugikan orang lain demi kepentingan sendiri.
35Kewajiban memberikan upah dalam waktu berakhirnya pekerjaan, bila tidak ada pekerjaan lain, jika Akad sudah berlangsung dan tidak diisyaratkan dengan pembayaran dan tidak ada ketentuan penangguhannya, menurut Abu Hānafiyah wajib diserahkan upahnya secara berangsur sesuai dengan manfaat yang diterimanya.
36e. Waktu Ujrah
Dalam Islam tidak pernah mengharamkan Akad pengupahan dalam bermuamalat atau dalam suatu perdagangan jasa kecuali dalam ruang lingkup perdagangan ada dan mengandung unsur kezaliman, penipuan, atau mempromosikan suatu hal-hal yang dilarang, seperti upah yang melibatkan menjual daging babi, menjual patung, menjual khamr serta barang-barang haram lainnya, ataupun dari barang yang pemanfaatannya untuk kemaksiatan dan diharamkan dalam Islam, maka setiap yang diperaktikan dalam hal itu maka akan menghasilkan suatu upah yang haram atau kotor
37
35 Ibid, h. 363.
36 Suhendi Hendi, Fiqih Muamalah, …., h. 119
37 Yusuf Qardhawi, Halal Haram Dalam Islam (Solo: Era Intermedia, 2000), h. 244.
Ketentuan upah-mengupah harus beda dengan objek yang dikerjakan, menyewa rumah dengan membayar rumah tersebut, atau mengupah suatu pekerjaan dengan pekerjaan serupa, merupakan suatu akad upah-mengupah yang tidak memenuhi syarat dikarenakan hukumnya yang tidak sah dan mengantarkan kepada riba‟.
38Pembayaran upahnya pada waktu berakhirnya pekerjaan, bila tidak ada pekerjaan lain, jika akad sudah berlangsung dan tidak disyaratkan mengenai pembayaran dan tidak ada ketentuan penangguhannya, menurut Abu Hanifah wajib diserahkan upahnya secara berangsur sesuai dengan manfaat yang diterimanya. Menurut Imam Syafi‟I dan Ahmad, sesungguhnya ia berhak dengan Akad itu sendiri.
39Ujrah ini sangat penting dalam soal upah mengupah karena dengan sistem ini akan memperjelas kedua belah pihak mengenai waktu upah itu diberikan. pembayaran upah mencakup beberapa cara, diantaranya:
a. pembayaran Ujrah dalam waktu tertentu, yaitu pembayaran Ujrah menurut jangka waktu yang telah diperjanjikan sebelumnya.
Misalnya, upah jam-jaman, perbulan, per-minggu, per-hari, dan per-jam.
b. pembayaran Ujrah borongan, yaitu sistem pemberian Ujrah yang didasarkan atas perhitungan imbalan untuk suatu pekerjaan tertentu secara menyeluruh sistem pembayaran upah potongan, yaitu sistem
38 Ibid, h. 25.
pemberian upah yang lazimnya dilaksanakan melalui yang dilakukan terhadap harga barang yang dihasilkan. pembayaran upah permufakatan, yaitu sistem pembayaran upah yang pembayarannya diberikan sekelompok buruh atau pekerja yang selanjutnya akan dibagikan di antara mereka sendiri.
c. Ujrah bagi laba atau partisipasi, yaitu sistem pembayaran Ujrah yang memberikan buruh atau karyawan bagian dari laba yang diperoleh majikan atau perusahaan di samping upah utamanya yang sebaiknya diterimae.
d. Ujrah dengan skala berupah, yaitu sistem pemberian upah yang didasarkan pada keadaan harga pasaran dari produk yang dihasilkan oleh usaha yang bersangkutan. Ujrah indeks, yaitu sistem pembayaran upah yang besarnya disalurkan pada indeks biaya hidup rata-rata dari buruh atau pegawai yang bersangkutan, yang tentunya juga didasarkan pada biaya hidup.
40Ujrah yang akan diberikan kepada orang lain telah bekerja dan telah memenuhi kewajibannya menyelesaikan pekerjaan yang diberikan mendapatkan upah yang wujudnya jelas, nilai dan ukurannya dan jelas pula waktu pembayarannya, apa bila tidak jelas wujudnya seperti seperti hujan yang akan turun atau tidak jelas nilainya seperti sekarung jagung yang tidak tentu harganya. Maupun tidak jelas
39 Suhendi Hendi, Fiqih Muamalah, …., h. 125.
40 Halim, Sistem Pengupahan (1985: 84-87)
ukurannya dan tidak jelas waktu pembayarannya, maka upah menguah tersebut tidak sah.
412. Pengupahan
a. Pengertian Pengupahan
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia upah adalah uang dan sebagainya yang dibayarkan sebagai balas jasa atau sebagai pembayar tenaga yang sudah dikeluarkan untuk mengerjakan sesuatu.
42menurut wibowo upah adalah kompensasi dalam bentuk uang yang dibayarkan atas waktu yang telah dipergunakan dan atas waktu yang dibayarkan,
43upah berarti pula imbalan finansial yang langsung dibayarkan kepada para pekerja berdasarkan jam kerja, jumlah barang yang dihasilkan, atau banyaknya pelayanan yang diberikan.
44Didalam konsep islam upah adalah sesuatu imbalan yang diterima oleh seseorang dalam bekerja milik orang lain dalam bentuk imbalan maten didunia (adil dan layak) dan didalam bentuk imbalan di akhirat (imbalan yang lebih baik).
45Didalam undang-undang Nomor 13 Tahun 2023 tentang ketenaga kerjaan BAB I pasal I angka 30 pengertian upah diartikan sebagai berikut:
41 I Amir Syarifuddin, Garis-Garis Besar Fiqih, Hlm 2018
42 Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 1999), hal.1108
43 Wibowo, Manajemen Kinerja (Jakarta:Raja Grafindo Persada, 2011),h.348
44 Indah Puji Hartati, Buku Praktis Mengembangkan SDM, h 249
45 Ahmad Ifham Sholihni, Buku Pintar Ekonomi Syari‟ah (Jaka:Gramedia), h. 874
Upah adalah hak pekerja/buruh yang diterima dan dinyatakan dalam bentuk uang imbalan dari pengusaha atau pemberi kerja kepada pekerja yang ditetapkan dan dibayarkan menurut suatu perjanjian kerja, kesepakatan atau peraturan perundang-undangan, termasuk tunjangan bagi pekerja dan kluarganya atas suatu pekerjaan dan atau jasa yang telah dilakukan.
46Pemberi kerja atau penerima upah merupakan sesuatu hak yang harus di penuhi oleh pemberi kerja dan dilindungi oleh undang undang.
Setiap seseorang yang bekerja berhak memperoleh penghasilan yang memenuhi penghidupan yang layak bagi manusia.
47Berdasarkan pendapat diatas dapat difahami bahwa upah merupakan sesuatu yang diterima oleh karyawan atau buruh sebagai ganti kontribusi tenaga dan jasa mereka pada perusahaan. Pemberian upah artinya menunjukkan adanya hubungan saling menguntungkan antara karyawan dan lembaga usaha atau perusahaan, dalam konteks timbal balik yang didasari atas pemenuhan hak dan kewajiban karyawan atau buruh mempunyai kewajiban untuk berkontribusi untuk kemajuan sebuah pertanian, dan sebaliknya pemberi kerja memiliki kewajiban memberi imbalan yang layak bagi karyawannya atau buruh yang bekerja.
46 Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2023 Tentang Ketenaga Kerjaan ang Selanjutnya Disebut UUKK Pada Bab 1 Pasal 1 Angka 30
b. Dasar Hukum Upah
Upah merupakan hak buruh atas tenaga dan jasa yang diberikan kepada pemberi kerja. upah mempunyai arti adanya kewajiban pemberi kerja untuk memberikan suatu imbalan kepada pekerja.
Dalam akad Ijarah, hampir semua fuqaha sepakat bahwa ijarah dibolehkan berdasarkan al-Qur‟an, Hadis (As-Sunnah), dan Ijma‟.
Adapun beberapa ulama, seperti Abu Bakar Al-Asham, Ismail bin Ulayyah, Hasan Al-Basri, al-Qasyani, An-Nahrawani, dan Ibnu Kaisan. Mereka tidak membolehkan Ijarah, sebab Ijarah adalah jual beli kemanfaatan, yang tidak dapat dipegang (tidak ada). Sesuatu yang tidak ada tidak dapat dikategorikan jual beli. Setelah beberapa waktu barulah manfaat itu dapat dinikmati sedikit demi sedikit. Sedangkan sesuatu yang tidak ada pada waktu akad tidak boleh diperjualbelikan.
48Surat An-Nahl [16] ayat 97:
ْنَم َلِمَع اًِلِاَص ْنِّم ٍرَكَذ ْوَا ىٰثْ نُا َوُىَو ٌنِمْؤُم وَّنَ يِيْحُنَلَ ف ًةوٰيَح
ًةَبِّيَط ْمُهَّ نَ يِزْجَنَلَو ۗ ْمُىَرْجَا
ِنَسْحَاِب اَم اْوُ ناَك َنْوُلَمْعَ ي
Artinya:”barang siapa yang mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka akan pasti akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik daripada yang mereka kerjakan.
49
47 Edytus Aditsu, Hak Karyawan Atas Gaji dan Pedoman Menghitung :Gail Pokok , Uang Lembur, Gail Sundulan, Insentif-Bonus-THR, Pajak Atas Gall, Iuran Pensiun-Pesangon, Iuran Jamsostek/Dana Sehat (Jakarta Praninta Offset 2008), h. 2
48 Rachmat Syafe‟I, Fiqih Muamalah ( Bandung: Pustaka Setia, 2001), h.123.
Maksud dalam ayat tersebut adalah tentang upah atau kompensasi. Dalam Islam seseorang yang mengerjakan pekerjaan dengan niat karena Allah akan mendapatkan balasan baik didunia (berupa upah) maupun diakhirat ( berupa pahala), yang berlipat ganda.
ْنِاَو ُْتّْدَرَا ْنَا ْوُعِضْرَ تْسَت ا ۗ
ْمُكَد َلْْوَا َلَف
َحاَنُج ْمُكْيَلَع اَذِا ْمُتْمَّلَس اَّم ْمُتْيَ تٰا ۗ
ِفْوُرْعَمْلاِب اوُقَّ تاَو ۗ
َوّٰللا ْوُمَلْعاَو ا ۗ َّنَا َوّٰللا اَِبِ
َنْوُلَمْعَ ت ٌرْ يِصَب
Artinya:“Dan jika kamu ingin menyusukan anakmu kepada orang lain, maka tidak ada dosa bagimu memberikan pembayaran dengan cara yang patut. Bertakwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah maha melihat apa yang kamu kerjakan.
50Yang menjadi dalil diatas adalah ungkapan “apabila kamu memberikan pembayaran yang patut”. Ungkapan tersebut menunjukkanyang diberikan berkat kewajiban membayar upah secara patut. Dalam hal ini termasuk didalamnya jasa penyewaan.
51c. Unsur-Unsur Upah
Surat Edaran Menteri Tenaga Kerja Nomor 07/MEN/1999 tentang Pengelompokan unsur upah dan Pendapatan Non Upah disebutkan sebagai berikut :
1) Termasuk unsur-unsur upah adalah :
a) Upah pokok: merupakan imbalan dasar yang dibayarkan kepada buruh menurut tingkat atau jenis pekerjaan yang besarnya ditetapkan berdasarkan perjanjian kerja.
50 Qs. Al-Baqarah[2]: 233
51 Muhammad Syafi‟I Antonio, Bank Syariah Dari Teori Ke Praktik (Jakarta: Gema Insani Pers, 2001), h.118.
b) Tunjangan tetap: suatu pembayaran yang teratur berkaitan dengan pekerjaan yang diberikan secara tetap untuk buruh dan keluarganya yang dibayarkan bersamaan dengan upah pokok seperti tunjangan anak, tunjangan kesehatan, tunjangan perumahan, tunjangan jabatan, tunjangan kemahalan, tunjangan lauk-pauk.
c) Tunjangan tidak tetap: suatu pembayaran secara langsung maupun tidak langsung berkaitan dengan buruh dan keluarganya serta dibayarkan upah pokok.
d. Bentuk Upah
1) Upah Menurut Prestasi Kerja
Sistem pengupahan ini menghubungkan besarnya gaji secara langsung dengan kinerja yang telah ditunjukkan oleh karyawan. Dengan kata lain, gaji yang diterima oleh karyawan tergantung pada seberapa banyak hasil yang dicapai selama bekerja. Sistem ini dapat diterapkan ketika kinerja dapat diukur secara kuantitatif..
522) Upah Menurut Lama Kerja
Gaji yang diberikan dalam sistem ini berdasarkan tugas yang telah diselesaikan. Penghitungan dari besaran gaji yang diberikan dengan hitungan per bulan, perminggu, perhari, dan
52 Ahmad Ibrahim Abu Sinn, Manajemen Syariah Sebuah Kajian Historis Dan Kontemporer, (Jakarta :PT Rajagrafindo Persada, 2006), h. 113
perjam. Metode penggajian dapat dilakukan apabila tidak dapat mengukur gaji berdasarkan kinerja dari pekerja..
533) Sistem Pengupahan Pada Buruh Tani
Tiap perilaku selalu membutuhkan bantuan orang lain, termasuk praktik pengupahan buruh tani desa Tugusari. Sebagian besar masyarakat di Desa Tugusari menggantungkan hidupnya sebagai buruh tani yang bertani untuk memenuhi kebutuhan setiap harinya dan bahkan menyekolahkan anak-anak sampai ke jenjang pendidikan yang tertinggi. Mereka bekerja keras untuk memastikan kelangsungan hidup dan kebahagiaan keluarga mereka, dan mendapatkan upah dalam bentuk uang atau hasil panen lainnya.
Islam memiliki sistem penetapan upah yang berbeda, termasuk:
a) Sistem Upah Menurut Waktu.
sistem upah berdasarkan waktu adalah sistem pembagian gaji dengan mempertimbangkan durasi pekerjaan.
Penggajian ini biasnya diberikan perbulan, perminggu, perhari dan perjam. Gaji yang diberikan melalui sistem ini dinilai lebih mudah namun juga memiliki kelemahan tersendiri, yakni tidak ada perbedaan karyawan yang berprestasi atau tidak, sehingga efek negatif yang mungkin timbul pada karyawan borongan bekerja lebih baik tidak ada.
53 Ahmad Ibrahim Abu Sinn, Manajemen Syariah h. 115