• Tidak ada hasil yang ditemukan

“PENGURANGAN RESIKO BENCANA TSUNAMI/ABRASI DALAM PERUBAHAN IKLIM”

N/A
N/A
Nuraulia Haya Maghfirah

Academic year: 2023

Membagikan "“PENGURANGAN RESIKO BENCANA TSUNAMI/ABRASI DALAM PERUBAHAN IKLIM”"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

“PENGURANGAN RESIKO BENCANA

TSUNAMI/ABRASI DALAM PERUBAHAN

IKLIM”

Kelompok 4

(2)

KELOMPOK 4

NURAULIA HAYA MAGHFIRAH D131201010 LULA MARCHSYANDA ADIPUTRI D131201061 SOPHIA RANTI D131201070

SITI MEISARI SOFYAN D131201057 AULIA DIVA ARTAMEVIA D131201069

(3)

LATAR BELAKANG

Indonesia merupakan negara yang sangat rawan bencana alam sehingga menghadapi tantangan yang sangat besar dalam pengelolaan bencana alam. Letak Geografis Indonesia yang berada di daerah pertemuan 3 lempeng tektonik besar, yaitu lempeng Eurasia, lempeng Indo-Australia, dan lempeng Pasifik serta terletak di daerah katulistiwa menyebabkan di Indonesia sering terjadi bencana alam.

Perubahan iklim merupakan ancaman terbesar bagi kehidupan umat manusia saat ini. Hal tersebut karena perubahan iklim yang terjadi saat ini berpotensi meningkatkan frekuensi kejadian ekstrim di berbagai wilayah di dunia. Dampak perubahan iklim sangat kompleks karena terjadi pada berbagai sektor yang mencakup bebagai aspek kehidupan, antara lain kesehatan, pertanian, kehutanan, infrastrukur, transportasi, pariwisata, energi dan sosial.

Berbagai potensi bencana alam terkait perubahan iklim dapat menimbulkan kerugian dalam bentuk kehilangan harta benda dan korban jiwa. Potensi kerugian yang ditimbulkan oleh bencana tersebut, dapat dikurangi melalui mitigasi.

(4)

TUJUAN

1. Mengetahui pengurangan resiko bencana tsunami dalam perubahan iklim

2. Mengetahui pengurangan resiko bencana abrasi dalam perubahn iklim

(5)

PENGURANGAN RESIKO BENCANA

Risiko bencana secara teknis adalah salah satu kegiatan untuk penanggulangan suatu bencana alam yang dapat dilihat melalui tiga indikator yakni ancaman/bahaya, kerentanan, dan kapasitas. Menurut Djauhari Noor (2006:263) menyatakan bahwa risiko bencana (disaster risk) adalah tingkat kerusakan dan kerugian yang sudah diperhitungkan dari suatu kejadian atau peristiwa alam. Risiko bencana ditentukan atas perkalian antara faktor bahaya dan faktor kerentanannya (Wiyono, 2018)

Rumus bencana:

Risiko =

(6)

PERUBAHAN IKLIM

Perubahan iklim adalah perubahan iklim yang diakibatkan langsung atau tidak langsung oleh aktivitas manusia yang menyebabkan perubahan komposisi atmosfir secara global dan selain itu juga berupa perubahan variabilitas

alamaiah yang teramati pada kurun waktu yang dapat dibandingkan (Susilawati, 2021).

Dampak perubahan iklim terhadap kesehatan dapat terjadi secara langsung maupun tidak langsung:

• Mempengaruhi kesehatan manusia secara langsung berupa paparan langsung dari perubahan pola cuaca (suhu, curah hujan,kelembaban, kenaikan muka air laut dan peningkatan frekuensi cuaca ekstrem).

• Mempengaruhi kesehatan manusia secara tidak langsung. Mekanisme yang terjadi adalah perubahan iklim mempengaruhi faktor lingkungan seperti perubahan kualita lingkungan (kualitas air,udara dan makanan), penipisan lapisan ozon,penurunan sumber daya air,kehilangan fungsi ekosistem, dan degradasi lahan yang pada akhirnya tersebut mempengaruhi kesehatan manusia.

6

(7)

TSUNAMI

tsunami adalah sebuah ombak yang terjadi setelah sebuah gempa bumi, gempa laut, gunung api meletus, atau hantaman meteor dilaut. Tsunami tidak terlihat saat masih berada jauh di tengah lautan, namun begitu mencapai wilayah dangkal, gelombang menghampiri pantai, ketinggiannya meningkat sementara kelanjutannya menurun, Gelombang tersebut bergerak pada kejauhan tinggi, hampir tidak dapat dirasakan efeknya oleh kapal laut (misalnya) saat melintas di laut dalam, tetapi meningkat ketinggian hingga mencapai 30 meter atau lebih di daerah pantai.

(8)

KETERKAITAN PENGURANGAN RISIKO

BENCANA TSUNAMI TERHADAP PERUBAHAN IKLIM

8

Perubahan iklim yang menyebabkan mencairnya es di kutub utara membuat kerak bumi memantul kembali dan memicu pergerakan kerak bumi yang menyebabkan gempa bumi. Ketika gempa bumi terjadi, potensi terjadinya tanah longsor bawah laut pun meningkat, yang kemudian mengakibatkan terjadinya tsunami.

Salah satu kasus yaitu: Provinsi Papua Barat mempunyai potensi tinggi terhadap bencana tsunami. Hampir di semua pantai yang mengelilingi Papua Barat berpotensi untuk terjadi bencana tsunami, mengingat bahwa sumber gempa penyebab tsunami bisa berasal dari perairan bukan hanya wilayah Papua Barat tetapi juga dari perairan di sekitarnya termasuk di luar Indonesia.

(9)

UPAYA PENGURANGAN RISIKO BENCANA TSUNAMI

• mitigasi struktural yang dapat dilakukan antara lain membangun pemecah ombak, peredam abrasi, penahan sedimentasi (groin), pemukiman panggung, dan membuat zona evakuasi bencana.

• Pada skala lingkungan, kegiatan mitigasi bencana dapat dimulai dengan peningkatan kesadaran masyarakat terhadap ancaman di wilayahnya masing-masing

• Adapun pengurangan resiko bencana tsunami yang dilakukan pada contoh kasus yaitu dengan membuat peta bahaya, kerentanan dan resiko bencana di Provinsi Papua Barat melalui pertimbangan berbagai parameter, yaitu DEM SRTM 30 meter, topografi pantai, batimetri kawasan pantai, sumber gempa penyebab tsunami, konfigurasi bentuk pantai, dan sejarah kejadian tsunami.

(10)

ABRASI

10

Abrasi merupakan suatu peristiwa mundurnya garis pantai pada wilayah pesisir pantai yang rentan terhadap aktivitas yang terjadi di daratan maupun di laut.

(11)

KETERKAITAN PENGURANGAN RISIKO

BENCANA ABRASI TERHADAP PERUBAHAN IKLIM

Implikasi abrasi dan dampak perubahan iklim cenderung negatif, khususnya jika melanda di tempat manusia bermukim dan beraktivitas. Keduanya dapat mengurangi ruang hidup, merusak infrastruktur, mengganggu aktivitas ekonomi, merusak titik potensial untuk wisata, merusak keseimbangan lingkungan, mendorongdislokasi paksa penduduk, dan mengurangi keunggulan strategis pertahanan.

Abrasi dan dampak perubahan iklim yang melanda pulau-pulau kecil dapat membahayakan navigasi kapal, karena ketika pulaupulau kecil berada di bawah air akan sulit dilihat kapal yang melintas sehingga berpotensi menimbulkan kecelakaan

(12)

UPAYA PENGURANGAN RISIKO BENCANA ABRASI

12

• Menggunakan bangunan pengaman pantai dan penanaman mangrove di sepanjang pantai. Bangunan fisik memiliki keterbatasan umur pemakaian, sehingga penekanan upaya pengurangan risiko bencana dilakukan menggunakan mangrove

• Upaya mitigasi struktural dengan revetment juga dapat dilakukan dengan melakukan penataan Batuan Andesit. Strategi mitigasi dengan penataan Batuan Andesit di Kabupaten Rembang kebanyakan dilakukan pada kawasan pantai yang memiliki tipologi pantai berpasir.

• Metode campuran. Metode adaptasi campuran merupakan upaya meminimalkan abrasi dengan melakukan penanaman pohon beserta bangunan penahan abrasi. Salah satu bangunan penahan abrasi yang dibangun berupa buis dan talud.

(13)

KESIMPULAN

Terjadinya perubahan iklim akan mengakibatkan bencana tsunami dan abrasi.

Oleh karena itu perlu adanya pengurangan resiko bencana dengan melalukan upaya mitigasi berupa sistem peringatan dini tsunami yang efektif, pengembangan infrastruktur pantai yang tahan terhadap tsunami, penanaman mangrove di sepanjang pantai, dan pembangunan talud.

13

Referensi

Dokumen terkait

Sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah dan masyarakat dalam pengurangan resiko bencana menempatkan perguruan tinggi baik mahasiswa maupun dosen sebagai

Upaya mitigasi bencana banjir yang diterapkan untuk pengurangan resiko bencana yaitu dengan Pengembangan Masyarakat Tangguh Bencana di Desa Tegalmade yang terletak

Upaya mitigasi bencana banjir yang diterapkan untuk pengurangan resiko bencana yaitu dengan Pengembangan Masyarakat Tangguh Bencana di Desa Tegalmade yang terletak

Pra-syarat menjadi Sekolah Siaga Bencana harus memenuhi beberapa parameter pengurangan resiko berbasis sekolah yang digunakan antara lain: (1) kebijakan pendidikan

Membuka kemungkinan part isipasi masyarakat dalam upaya pengurangan resiko bencana, melalui kebij akan khusus, membuat j ej aring, pengelolaan sumberdaya yang st rat egis,

Oleh sebab itu penelitian ini bertujuan: 1) Mengetahui tingkat pemahaman warga sekolah tentang bencana banjir, 2) Mengetahui tingkat kesadaran warga sekolah terhadap upaya

Strategi berbasis masyarakat, memungkinkan pelestarian lingkungan dan pengurangan resiko bencana selain memiliki relevansi historis juga akan menjadikan semua

Sehingga dalam proses pengurangan resiko bencana dapan diharapkan dan dapat diterapkan pada sebuah realita yang mana terdapat suatu kejadian bencana alam yang membuat