• Tidak ada hasil yang ditemukan

peningkatan ketenangan jiwa melalui khidmah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "peningkatan ketenangan jiwa melalui khidmah"

Copied!
78
0
0

Teks penuh

(1)

PENINGKATAN KETENANGAN JIWA MELALUI KHIDMAH DI SIMA’AN AL-QUR’AN

(STUDI KASUS SANTRI PONDOK PESANTREN RIYADLUT THOLIBIN CAMPUREJO SAMBIT PONOROGO)

SKRIPSI

O l e h:

Moh. Abdul Aziz NIM. 303180024

Pembimbing

Irma Rumtianing UH, M.SI.

NIP. 197402171999032001

JURUSAN BIMBINGAN PENYULUHAN ISLAM FAKULTAS USHULUDDIN, ADAB, DAN DAKWAH INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) PONOROGO

2022

(2)

ABSTRAK

Abdul Aziz, Moh. 2022. Peningkatan Ketenangan Jiwa melalui Khidmah di Sima’an Al-Qur’an (Studi Kasus Santri Pondok Pesantren Riyadlut Tholibin Campurejo Sambit Ponorogo). Skripsi. Jurusan Bimbingan Penyuluhan Islam Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ponorogo. Pembimbing: Irma Rumtianing UH, M. SI.

Kata kunci: Ketenangan Jiwa, Sima’an Al-Qur’an, Santri

Ketenangan Jiwa merupakan hal yang sangat di damba-dambakan oleh semua orang tak terkecuali Santri Pondok Pesantren Riyadluth Tholibin yang notabennya adalah seorang pelajar dan dalam mencari ketenangan jiwa tersebut santri Pondok Pesantren Riyadlut Tholibin mengabdikan diri sebagai khuddam Sima’an Mantab Rabu Pahing Ponorogo. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui kontribusi santri dalam kegiatan Sima’an Mantab Rabu Pahing dan mengetahui dampak yang dirasakan setelah mengikuti kegiatan Sima’an Mantab Rabu Pahing.

Untuk menjawab rumusan masalah yang ada, penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Subjek penelitian adalah santri Pondok Pesantren Riyadluth Tholibin sebanyak 10 santri/partisipan.

Teknik pengumpulan data melalui wawancara dan observasi. Teknik analisis data dengan menyusun data yang telah diperoleh kemudian mengorganisasikan ke dalam pola serta membuat kesimpulan yang mudah di pahami.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kontribusi Santri Pondok Pesantren Riyadlut Tholibin dalam Sima’an Al-Qur’an Mantab Rabu Pahing adalah sebagai khuddam atau pembantu dalam bidang perlengkapan khususnya dalam hal lighting, sound system, WC keliling, dan menyebarkan kotak amal. Dampak yang dirasakan santri setelah mengikuti kegiatan Sima’an Mantab Rabu Pahing diantaranya ketika melakukan pekerjaan atau kegiatan di pondok, tingkah laku santri yang cenderung tidak tergesa-gesa dan lebih tenang, serta tampak damai dan tentram dalam kesehariannya. Hal tersebut menunjukkan bahwa salah satu fungsi Al-Qur’an sebagai obat penenang hati dan penyakit hati dapat dilihat pada tingkah laku santri.

Dalam kegiatan harian, para santri juga menunjukkan sikap tawakkal, berserah diri kepada Allah swt dengan memegang teguh bahwa Allah senantiasa menyertai hamba-Nya. Kekhawatiran akan masa depan maupun kehidupan, segala sesuatunya telah diserahkan kepada Allah. Untuk itu terciptalah jiwa yang tenang dan damai.

(3)
(4)
(5)
(6)
(7)

1 BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Perkembangan teknologi di era modern ini menjadi bukti bahwa pemikiran manusia semakin maju dan efektivitas kerja yang semakin mudah dan instan. Tentunya hal tersebut tidak lepas dari kompetisi sesama manusia dalam mencapai tujuan hidup sehingga melahirkan sifat individualistis, egoistis, dan materialistis yang berdampak pada hati mereka kegelisahan, kecemasan, stress, dan depresi. Melihat kenyataan sepeti itu yang telah mencapai ujung kenikmatan materi justru bertolak belakang dari apa yang menjadi ekspektasi, yaitu mereka dihadapi rasa cemas. Berbagai permasalahan tersebut sering berdampak buruk pada kesehatan mental setiap individu yang akan berujung pada gangguan mental atau kejiwaan.1

Finkelor mengungkapkan bahwa semakin maju masyarakat, maka semakin banyak kompleksitas hidup yang dijalaninya, maka semakin sulitlah orang mencapai ketenangan hidup. Kesenjangan sosial seiring kebutuhan hidup meningkat menimbulkan ketegangan emosi yang mengakibatkan seseorang mencari ketenangan hidup, sehingga banyak yang mengalami kecemasan dan kegelisahan.2 Hal-hal seperti itu tidak dapat

1 Haryanto, S. Psikologi Shalat: Kajian Aspek-aspek Psikologis Ibadah Shalat.

(Yogyakarta: Mitra Pustaka, 2002), 19.

2 Dorthy, C. Finkelor, Bagaimana Emosi Berperan Dalam Hidup Anda, Kebencian, Kecintaan Dan Ketakutan Kita, (Yogyakarta: Zenit Publister, 2004), 3-4.

(8)

dibiarkan begitu saja karena akan menganggu aktivitas manusia sehari-hari.

Bahkan sumber kebahagiaan sejati ialah bukan dari orang lain, namun bagaimana individu tersebut mampu mengelola keseimbangan akal, hati dan jasmani. Apabila hanya akal yang bekerja, tanpa diiringi jasmani dan hati (rohani) tidak akan mencapai keseimbangan. Begitu pula dengan sebaliknya, bila jasmani saja tanpa ada kinerja akal dan hati (rohani) maka kurang maksimal. Sehingga sumber ketenangan yang hakikatnya akan melahirkan sebuah kebahagiaan ialah dari keseimbangan antara akal, jasmani dan hati (rohani) yang mampu dikelola atau dipimpin dengan baik oleh mindset individu atau seseorang itu sendiri.

Manusia sebagai makhluk Allah Swt. yang berakal mempunyai kelebihan dibanding makhluk-makhluk yang lain baik secara fisik maupun psikis, jasmani maupun rohani. Dari segi dhohir manusia mempunyai postur tubuh yang tegak dan anggota badan yang serba berfungsi sedangkan dari segi bathin mempunyai akal untuk berfikir sekaligus nafsu untuk merasa, akal mampu membedakan mana yang baik dan buruk, sedangkan untuk merasakan yang lain, keduanya tidak bekerja secara berpisah, melainkan saling memberi pertimbangan.3 Adapun faktor terpenting yang mengubah kehidupan manusia menjadi tidak bahagia adalah rasa lelah dan tidak ada ketenangan, serta kegoncangan jiwa dari salah satu problem kehidupannya, seperti murung, cemas, pikiran dan kehawatiran yang menekan, dan lain sebagainya. Maka hal ini memerlukan penanganan dan konsultasi kejiwaan.

3 Amin Syukur, Pengantar Studi Islam, (Semarang: CV. Bima Sejati, 2000), 1.

(9)

Dan ini tergantung kepada tingkat kemampuan untuk menahan suasana yang menekan itu.4 Dengan demikian, ciri orang yang sehat secara mental antara lain, kemampuan untuk tegap menantang kegoncangan, tekanan, dan berbagai hambatan, tanpa terganggu keseimbangannya, tidak kacau pikirannya dan lain sebagainya.

Dalam menjalankan kehidupan sehari-hari tentunya kinerja jiwa dan akal sehat manusia saling bekerja sama, apalagi sebuah hati yang akan menjadi titik dasar penggerak akan dibawa kemana tubuh manusia itu.

Menuju kepada sikap munkar atau ma’ruf semua tergantung manusia mengambil peran untuk sebuah kedamaian yaitu ketenangan jiwa. Maka, untuk meraih hal tersebut membutuhkan rangkaian terapi yang bisa dilakukan melalui peningkatan ketenangan jiwa salah satunya selalu bersama dengan Al-Qur’an. Esensi ketenangan jiwa yang diperoleh dari Sima’an akan dapat membangkitkan kolaborasi yang baik antara hati, fikiran dan daya gerak tubuh manusia. Karena Al-Qur’an diturunkan sebagai penentram jiwa juga dapat sebagai obat baik psikologi maupun jasmani atas izin-Nya.

Al-Qur’an adalah petunjuk sekaligus obat, sumber ilmu pengetahuan. Dalam kesehatan mental, Al-Qur’an adalah metode yang membuat seorang muslim menjadi tenang, nyaman, selaras, damai dan tentram. Membaca Al-Qur’an ataupun mendengarkannya dapat meningkatkan ketenangan dan ketentraman jiwa, maka setiap kali orang

4 Musthofa Fahmi, Penyesuaian Diri, (Jakarta: Bulan Bintang, 1982), 107.

(10)

muslim membaca atau mendengarkannya berarti setiap kali pula seorang muslim memperoleh ketenangan dan ketentraman jiwa. Apabila seorang muslim sering membaca dan mendengarkan Al-Qur’an maka ia akan terhindar dari keterpurukan dan perasaan yang menekan. Semua problematika kehidupan yang menimpa seorang muslim diadukan kepada Allah Swt. Sehingga dzikir, do’a, dan tilawah Al-Qur’an dijawab oleh Allah Swt. Dari sini, akan memunculkan ketenangan batin dan ketentraman jiwa.5

Al-Qur’an merupakan kitab Allah Swt. Yang paling sempurna dan mempunyai banyak barokah. Al-Qur’an dapat diamalkan untuk mengobati penyakit jiwa, hati, menghilangkan kebodohan, was-was dan keraguan dalam menjalankan syariat. Amaliyah tersebut berkaitan pengobatan dengan Al-Qur’an pada hakikatnya merupakan amaliyah Rasulullah Saw, para sahabat, dan tabi’in. Dalam penerapan di kehidupan sehari-hari, Al- Qur’an dilantunkan ke telinga masyarakat dengan berbagai cara. Mulai dari kegiatan sorogan Qur’an bilgoib atau binnadhor, kajian Qur’an, seminar nasional tafsir Qur’an, Musabaqah Tilawatil Qur’an, sampai pada kegiatan rutinan Sima’an Al-Qur’an yang di implementasikan dalam rangka membumikan Al-Qur’an, yaitu supaya masyarakat lebih mencintai Al- Qur’an dan selalu bersama Al-Qur’an.

Seperti halnya Sima’an Al-Qur’an yang ada di Ponorogo diperkenalkan langsung oleh KH. Chamim Djazuli (Gus Miek) pada tahun

5 Khoirunnas Rajab, Obat Hati, (Yogyakarta: Pustaka Pesantren, 2010), 91.

(11)

1988-1995.6 Dalam pengembaraanya di seluruh pelosok daerah, beliau menemukan sebuah realita bahwasannya dibalik perkembangan zaman yang begitu pesat gaung membaca dan mendengarkan Al-Qur’an mulai redup. Sehingga timbullah gagasan untuk mengambil langkah silang untuk mendirikan semaan Al-Qur’an.7 Di Ponorogo Gus Miek menggandeng KH.

Hasyim Sholeh Mayak untuk menyebarluaskan dan memperkenalkan sima’an kepada masyarakat, permulaan sima’an Al-Qur’an bertempat di Masjid Tegalsari, kemudian secara resmi dibuka pada Hari Rabu Pahing 16 Agustus 1988 yang bertempat di kediaman KH. Hasyim Sholeh yaitu di Pondok Pesantren Darul Huda Mayak. Sejak itulah secara rutin setiap hari Rabu Pahing dilaksanakan semaan Al-Qur’an Mantab Ponorogo hingga berjalan sampai sekarang.8

Dibalik keberhasilan acara rutinan Sima’an Rabu Pahing Mantab tentunya terdapat pihak yang mendukung suksesnya acara seperti santri Pondok Pesantren Riyadlut Tholibin yang berperan sebagai khoddam Sima’an dan masyarakat yang sangat antsusias. Dalam kaitannya dengan obyek penelitian, yakni di Pondok Pesantren Riyadlut Tholibin santri yang ada di Pondok tersebut mendapat amanah untuk mensukseskan kegiatan Sima’an Al-Qur’an Mantab Rabu Pahing Ponorogo yang rutin dilaksanakan secara bergantian di seluruh penjuru wilayah Ponorogo. Berkaitan dengan

6 Muhammad Nurul Ibad, Suluk Jalan Terabas Gus Miek, (Tulungagung: Koja Aksara, 2007), 16.

7 Panitia Ziaroh Wali Songo, Napak Tilas Masyayikh (Ponorogo Mayak: MA Darul Huda, 2004), 34.

8 Keterangan dari KH. M. Tanwir sesepuh Majlis Sima’an Al-Qur’an Mantab Ponorogo

(12)

latar belakang yang telah dipaparkan diatas, santri Pondok Pesantren Riyadlut Tholibin notabennya ialah pelajar atau mahasiswa yang memiliki psikologi yang berbeda dan hal tersebut berpengaruh terhadap pola pikir, perilaku dan ketenangan jiwa mereka. Apalagi, motivasi mereka untuk selalu bersama Alquran berbeda-beda pula. Sehingga penulis ingin meneliti lebih dalam tentang dampak kegiatan tersebut terhadap santri Pondok Pesantren Riyadlut Tholibin. Maka dalam penelitian ini, penulis ingin mengetahui responsibilitas sami’in utamanya santri yang ikut andil pada kegiatan ini dalam sebuah karya ilmiah (skripsi) yang berjudul:

“Peningkatan Ketenangan Jiwa melalui Khidmah di Sima’an Al- Qur’an (Studi Kasus Santri Pondok Pesantren Riyadlut Tholibin Campurejo Sambit Ponorogo”

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan rumusan masalah yang telah dipaparkan, maka yang menjadi rumusan masalah adalah sebagai berikut:

1. Bagaimana kontribusi santri pada kegiatan Sima’an Al-Qur’an Mantab Rabu Pahing Ponorogo?

2. Bagaimana dampak kegiatan Sima’an Al-Qur’an Mantab Rabu Pahing Ponorogo terhadap peningkatkan ketenangan jiwa pada santri Pondok Pesantren Riyadlut Tholibin?

(13)

C. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah:

1. Untuk menjelaskan kontribusi santri dalam kegiatan Sima’an Al-Qur’an Mantab Rabu Pahing Ponorogo.

2. Untuk menganalisis dampak kegiatan Sima’an Al-Qur’an Mantab Rabu Pahing Ponorogo terhadap santri Pondok Pesantren Riyadlut Tholibin.

D. Manfaat Penelitian

Dengan adanya penelitian ini diharapkan dapat berguna untuk santri Pondok Pesantren Riyadlut Tholibin, pengasuh serta sami’in sami’at penderek Sima’an Al-Qur’an Mantab Rabu Pahing Ponorogo baik bersifat teoritis maupun bersifat praktis.

1. Manfaat Teoritis

a. Dengan adanya penelitian ini diharapkan mampu menambah pengetahuan tentang ilmu ketenangan jiwa dalam dakwah Islam serta mengenai kegiatan Sima’an Al-Qur’an Mantab Rabu Pahing Ponorogo dapat mengembangkan syiar agama menjadi lebih luas, b. Menambah literatur kepustakaan khususnya untuk menambah

wawasan dan sebagai rujukan penelitian selanjutnya,

c. Sebagai rujukan dan referensi untuk penelitian selanjutnya, dan d. Sebagai bahan bacaan dalam rangka mempertajam wawasan

manfaat Al-Qur’an untuk peningkatan ketenangan jiwa.

(14)

2. Manfaat Praktis

a. Sebagai sarana santri dalam penerapan meningkatkan ketenangan jiwa di dikehidupan sehari-hari melalui implementasi nilai-nilai kebahagiaan yang bersumber pada Al-Qur’an.

b. Sebagai sumber keilmuan untuk menambah wawasan santri dalam meningkatkan ketenangan jiwa dan peningkatan cinta kepada Al- Qur’an di masyarakat.

c. Membumikan Al-Qur’an di lingkungan Pondok Pesantren Riyadlut Tholibin.

E. Telaah Pustaka

Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, telaah pustaka atau kajian pustaka yang mengungkap teori-teori yang relevan dengan masalah-masalah yang di teliti sangat penting dilakukan.

Hal ini dilakukan penulis agar dapat mengetahui dan memahami sejauh mana penerapan ilmu ketenangan jiwa para santri Riyadlut Tholibin pada kegiatan Sima’an Al-Qur’an Mantab Rabu Pahing Ponorogo serta untuk menunjukkan dan membuktikan orisinalitas sebuah karya yang bertujuan untuk menghindari plagiasi karya orang lain dan pengulangan penelitian.

Terkait dengan tema penelitian proposal, penulis telah melakukan serangkaian telaah atau mengkaji keilmuan dari berbagai literatur atau pustaka dan terdapat karya ilmiah yang hampir sama, hanya saja memiliki

(15)

beberapa perbedaan seperti tema, objek kajian, fokus permasalahan penelitian dan yang lainnya.

Pembahasan tentang ilmu ketenangan jiwa bukanlah hal yang asing untuk dilakukan, apalagi kajian tentang ketenangan jiwa sudah banyak dikupas dalam bentuk jurnal, skripsi, dan bentuk karya ilmiah lainnya.

Dalam penelitian ini, penulis menemukan beberapa karya bagus dalam bentuk buku atau karya tulis yang lain walaupun tidak menjelaskan secara eksplisit yang bersentuhan dengan ilmu ketenangan jiwa melalui kegiatan Sima’an Al-Qur’an dalam dakwah Islam.

Pertama, skripsi Ayu Efita Sari IAIN Tulungagung pada tahun 2015 yang telah memberikan inspisari jernih berjudul Pengaruh Pengamalan Dzikir Terhadap Ketenangan Jiwa di Majlisul Dzakirin Kamulan Durenan Trenggalek. Yang menjadi subjek penelitiannya adalah jamaah Majlisul Dzakirin dimana Ayu Efita Sari menjabarkan bahwa dzikir merupakan cara untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt. Dengan demikian jamaah akan mendapatkan ketenangan jiwa jika dilakukan dengan konsentrasi penuh penghayatan. Termasuk fenomena yang terjadi di masyarakat yaitu gangguan mental atau kejiwaan. Maka salah satu peran agama adalah memberikan kenyamanan penganutnya dalam menghadapi lika-liku kehidupan dalam agama Islam tersebut diimplementasikan dalam bentuk dzikir untuk menghadapi atau sebagai salah satu sarana terapi agama terhadap berbagai goncangan yang terjadi seperti frustasi, kecewa bahkan tindakan yang menimbulkan kematian.

(16)

Dengan metode berdzikir atau bermeditasi yaitu dengan jalan dzikir hati, maka manusia akan menjadi tenang dan damai (Tathmainnul Qulb) sebagai terapi hati tidak terlewatkan dalam kitab Al-Qur’an seperti yang telah dijelaskan oleh Moh. Sholeh dalam kajian ini.9 Karena sesungguhnya dzikir menjadi obat hati dan fasilitas untuk berbincang serta selalu mengingat dengan sang Maha Suci.

Kedua, skripsi Siti Rifa’ah IAIN Walisongo Semarang 2013 bertajuk Pengaruh Motivasi Membaca Al-Qur’an Terhadap Ketenangan Jiwa Santriwati Pondok Pesantren Putri Al-Hikmah Tugurejo Tugu Semarang juga mengulas tentang perbedaan motivasi yang dimiliki oleh santriwati di pesantren tersebut yang menjadi kajian obyek penelitian.

Tentunya, motivasi dalam membaca Al-Qur’an yang dimiliki oleh santriwati berpengaruh besar terhadap ketenangan jiwa mereka. Meskipun dalam kajian ini membaca Al-Qur’an merupakan kewajiban dan tata tertib pesantren, namun dorongan santriwati dalam kuantitas membaca Al-Qur’an menjadi esensi perbedaan yang nyata pada ketenangan dan ketentraman jiwa mereka. Karena, apabila seorang muslim rutin membaca Al-Qur’an, maka ia dapat terhindar dari perasaan dan keterpurukan dari jiwa yang menekannya. Apabila segala persoalan hidup yang dialami oleh seorang muslim diadukan kepada Tuhannya melalui dzikir, doa dan tilawah Al- Qur’an maka disinilah muncul ketenangan batin dan ketentraman jiwa.10

9 Moh. Sholeh, Tahajud Manfaat Praktis Ditinjau Dari Ilmu Kedokteran Terapi Religius, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005), 27.

10 Khairunnas Rajab, Obat Hati, (Yogyakarta: Pustaka Pesantren, 2010), 91.

(17)

Ketiga, jurnal yang ditulis oleh Sarihat Cihat Nawawi yang diterbitkan dari MAGHZA Jurnal IAIN PURWOERTO tahun 2021 yaitu menerangkan tentang Rahasia Ketenangan Jiwa Dalam Al-Qur’an.

Sebanyak 1.824 pengidap gangguan jiwa telah dibutkikan dalam survey yang menjalani proses kesembuhan dengan hasil penelitian bahwa secara keseluruhan dari pengidap jiwa 90% penderita mengidentifikasi diri sebagai seseorang yang religius (beragama). Dalam hal ini ranah psikologi Islam mengkaji mengenai adanya pengaruh agama yang diimplementasikan melalui beberapa ibadah. Sehingga agama memang merupakan sarana untuk mewujudkan keimanan, kedamaian sebagai anugrah agar seorang manusia memiliki ketenangan hidup, tujuan hidup yang benar dan menumbukan optimisme.11

Keempat, pembahasan tentang peningkatan spiritualitas melalui kegiatan dzikir dan doa terdapat pada skripsi Samsudin IAIN Ponorogo 2020 berjudul Dampak Kegiatan Dizkrul Ghofilin Terhadap Peningkatan Spiritualitas Masyarakat Di Dusun Wotan Desa Ngumpul Kecamatan Balong Kabupaten Ponorogo yang menjelaskan adanya krisis hubungan antara manusia dengan Tuhannya. Sedangkan persoalan hidup yang semakin kompleks dan timbul sebagai akibat dari interaksi nilai-nilai kebudayaan baru yang dikuasai oleh teknologi dan pengetahuan.12 Sehingga sejauh mana kontribusi agama terhadap penanganan kasus tersebut

11 Sarihat Cihat Nawawi, Rahasia Ketenangan Jiwa dalam Al-Qur’an, Jurnal Ilmu Al- Qur’an dan Tafsir Vol. 6 No. 1, (IAIN Purwokerto, 2021), 35.

12 Edi Yusuf Nur Samsu Santoso, Amuk Massa, (Yogyakarta: Alief Press, 2004), 15.

(18)

merupakan kunci bagaimana manusia menjalankan syariat dan mendekati Tuhannya sebagai jalan untuk memecahkan masalah hidup yang terjadi melalui dzikir dan doa yang bisa menjadi kendaraan dalam rangka meraih ridho Ilahi.

Kelima, Duwi Sahiri IAIN Ponorogo pada tahun 2017 dalam skripsinya yang berjudul Metode Dakwah Gus Miek Dalam Sema’an Al- Qur’an Mantab Rabu Pahing Ponorogo yang menjabarkan tenteng praktik sima’an Al-Qur’an yang didirikan oleh Gus Miek sebagai sarana dakwah kepada masyarakat. Di tengah-tengah kehidupn yang modern ini perlu akulturasi sistem dakwah dan mendalami Al-Qur’an sebagai upaya mewujudkan atau mentradisikan kembali membaca Al-Qur’an. Dengan jamaah yang berjumlah ribuan ini, menunjukkan bahwa masyarakat memiliki motif tertentu sehingga masih mempertahankan kegiatan Sima’an Al-Qur’an di tengah kehidupan yang semakin glamor dan instan.13

Beberapa penelitian di atas membuktian bahwa dengan semakin dekatnya manusia bersama Al-Qur’an akan dapat membentuk imunitas keimanan yang lebih baik dan pengolahan kinerja antara hati, otak dan fisik untuk mencapai ketentraman melalui ketenangan jiwa yang di dapat dari membaca ataupun menyimak bacaan Al-Qur’an. Dengan jiwa yang tenang bersama Al-Qur’an, kehidupan akan lebih tertata karena manusia siap menghadapi permasalahan dengan bekal keimanan dan mindset yang

13 Duwi Sahiri, Metode Dakwah Gus Miek Dalam Sema’an Al-Qur’an Mantab Rabu Pahing Ponorogo, (SKRIPSI: IAIN PONOROGO, 2017), 2.

(19)

religius nan bijaksana sesuai syariat agama Islam. Adapun persamaan penelitian ini dengan telaah pustaka yang telah dipaparkan diatas ialah sama-sama meneliti tentang keutamaan Al-Qur’an namun dalam sisi lain penulis mengambil kaidah peningkatan ketenangan jiwa sebagai pembeda dengan penelitian sebelumnya.

Adapun bentuk karya tulis yang berbicara terkait peningkatan ketenangan jiwa melalui kegaiatan Sima’an Mantab Rabu Pahing Ponorogo terhadap santri Pondok Pesantren Riyadlut Tholibin Campurejo Sambit Ponorogo secara khusus baik berbentuk skripsi, tesis dan disertasi sepanjang penulis mengkaji dan eksplorasi belum menemukan karya yang mirip dengan judul tersebut. Namun telaah pustaka yang telah ditemukan sangat menginspirasi dan membantu analisis permasalahan yang ada.

F. Metode Penelitian

1. Pendekatan dan Jenis Penelitian

Dalam sebuah penelitian, penetapan metode yang akan digunakan sangat penting dilakukan. Karena pada dasarnya metode merupakan sebuah jalan yang berkaitan dengan cara kerja yang tepat untuk melakukan sesuatu. Sedangkan penelitian ialah suatu rangkaian kegiatan untuk mencari, mencatat dan merumuskan juga menganalisis

(20)

sampai menyusun laporannya.14 Jadi metode penelitian ialah suatu jalan atau cara untuk melakukan suatu penelitian.

Pada penelitian ini, penulis menggunakan metode kualitatif yang bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis fenomena, peristiwa, aktifitas sosial, sikap, persepsi, kepercayaan, dan pemikiran orang secara individual maupun kelompok.15

Metode penelitian kualitatif merupakan sebuah metode penelitian berlandaskan pada filsafat postpositivisme, digunakan untuk meneliti pada kondisi obyek yang alamiah dimana peneliti adalah sebagai instrumen kunci, dan teknik pengumpulan data dilakukan secara triangulasi (gabungan), analisis data bersifat induktif atau kualitatif, dan hasil penelitian kualitatif lebih menekankan makna dari pada generalisasi.16

Adapun jenis penelitian ini termasuk penelitian studi kasus, yakni untuk mempelajari secara menyeluruh mengenai suatu unit sosial tertentu yang termasuk individu, kelompok, dll.17 Penelitian ini dimaksudkan untuk memperoleh data-data yang berkaitan dengan peningkatan ketenangan jiwa melalui kegiatan Sima’an Al-Qur’an Mantab Rabu Pahing Ponorogo terhadap santri Pondok Pesantren

14 Chlid Narbuko, Abu Achamadi, Metodelogi Penelitian (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2015), 1.

15 Nana Syaodih Sukmadinata, Metode Penelitian Pendidikan (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2007), 60.

16 Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D (Bandung: Penerbit Alfabeta, 2016), 9.

17 Iqbal Hasan, Pokok-pokok Materi Metodoogi Penelitian dan Aplikasinya (Bogor: Ghalia Indonesia, 2002), 11.

(21)

Riyadlut Tholibin Campurejo Sambit Ponorogo. Berdasarkan metode, penelitian ini didekati dengan metode deskriptif, yaitu meneliti suatu objek, suatu kondisi, status kelompok manusia dan suatu sistem pemikiran pada masa sekarang.18 Tujuan penelitian deskriptif ini adalah menerangkan gambaran dan data yang akurat mengenai fakta serta hubungan dengan fenomena yang diselidik terkumpul berbentuk kata- kata bukan angka-angka.19

2. Lokasi Penelitian dan Subjek Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Pondok Pesantren Riyadlut Tholibin yang bertempat di Campurejo, Sambit, Ponorogo. Dalam penelitian ini yang menjadi subyek penelitiannya yaitu santri Pondok Pesantren Riyadlut Tholibin sebanyak 10 partisipan. Adapun obyek penelitian ini yaitu yang berkaitan dengan rumusan masalah yang telah diuraikan di atas diantaranya menjelalaskan kontribusi santri Pondok Pesantren Riyadlut Tholibin dalam kegiatan Sima’an Mantab Rabu Pahing Ponorogo dan bagaimana dampak kegiatan Sima’an Al-Qur’an Mantab Rabu Pahing Ponorogo dalam meningkatkan ketenangan jiwa pada santri Pondok Pesantren Riyadlut Tholibin.

3. Data dan Sumber Data

Pada penelitian ini, penulis akan memberikan penjelasan dan jawaban pokok permasalahan yang sedang diteliti dengan

18 Muhammad Nasir, Metode Penelitian (Jakarta:Ghalia Indonesia, 1998), 63.

19 Sudarwan Danim, Menjadi Peneliti Kualitatif (Bandung: Pustaka Setia, 2002), 51.

(22)

mengumpulkan data yaitu melalui data primer dan data sekunder sebagai berikut:

a. Data Primer

Data primer merupakan data utama yang didapatkan secara langsung dari subjek penelitian yaitu peneliti melakukan wawancara dengan lurah pondok, pengurus Sima’an Mantab Rabu Pahing, dan santri yang terlibat kegiatan Sima’an Mantab Rabu Pahing juga survei di tempat penelitian yaitu Pondok Pesantren Riyadlut Tholibin.

b. Data Sekunder

Data sekunder merupakan data pelengkap yang dibutuhkan dalam penelitian sebagai data pendukung dari data primer. Data sekunder sebagai sumber informasi penelitian yaitu melalui referensi buku atau situs yang berkaitan dengan ketenangan jiwa sehingga dapat menunjang dan melengkapi informasi penelitian ini dan dokumentasi selama pelaksanaan kegiatan Sima’an Mantab Rabu Pahing Ponorogo. Dalam melengkapi data ini peneliti melakukan dokumentasi saat kegiatan Sima’an Al-Qur’an Rabu Pahing Mantab berlangsung dan menjadikan buku atau situs internet yang berkaitan dengan penelitian yaitu teori ketenangan jiwa sebagai data pelengkap atau sekunder.

4. Teknik Pengumpulan Data

Terdapat beberapa teknik yang digunakan dalam penelitian ini:

(23)

a. Observasi

Observasi merupakan sebuah metode pengumpulan data melalui pengamatan dan pengindraan untuk memperoleh informasi tentang perilaku manusia seperti terjadi dalam kenyataan sehingga diperoleh gambaran yang lebih jelas tentang kehidupan sosial yang sulit diperoleh dengan metode lain.20 Dalam penelitian ini penulis melakukan atau melibatkan diri menjadi jamaah dan mengamati secara langsung di lokasi penelitian yang disebut dengan participant observation. Dengan obeservasi jenis ini, penulis dapat memperoleh data yang lebih lengkap, tajam dan mengetahui sampai tingkat mana dari setiap perilaku yang terjadi.

b. Wawancara

Wawancara adalah suatu teknik pengumpulan data yang digunakan apabila peneliti ingin melakukan studi pendahuluan untuk menemukan permasalahan yang harus diteliti dan mengetahui hal-hal dari responden yang lebih mendalam dan jumlah respondennya sedikit atau kecil.21 Pada penelitian ini, penulis melakukan wawancara untuk mencari informasi terkait penelitian kepada pengurus Sima’an Mantab Rabu Pahing, pengasuh dan lurah Pondok Pesantren Riyadlut Tholibin, beserta santri yang menjadi khuddam (pembantu atau pengabdi).

20 Djam’an Satori, Metodoogi Penelitian Kualitatif (Bandung: Alfabeta, 2010), 104-105.

21 Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D (Bandung: Alfabeta, 2016), 137.

(24)

c. Dokumentasi

Merupakan teknik pengumpulan data yang tidak langsung ditujukan kepada subjek penelitian. Penulis mengambil dokumentasi melalui foto kegiatan Sima’an Al-Qur’an Mantab Rabu Pahing yang berlangsung.

5. Teknik Pengolahan Data

Proses pengolahan data yang dilakukan dalam penelitiankualitatif adalah peneliti akan melakukan proses pengolahan data setelah data terkumpul secara keseluruhan. Selanjutnya penulis melakukan penafsiran data yang sudah diperoleh melalui tahapan memberikan makna atau artipada transkip wawancara, catatan lapangan dan komentar peneliti.

6. Teknik Analisis Data

Analisis data pada penelitian ini dilakukan mulai dari sebelum memasuki lapangan, selama kegiatan di lapangan, dan setelah selesai melakukan kegiatan di lapangan. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis data kualitatif, dengan mengikuti model Miles & Huberman. Miles & Huberman menjelaskan bahwa aktivitas yang dilakukan dalam analisis data kualitatif ini ra interaktif dan berlangsung secara terus menerus sampai tuntas, sehingga datanya sudah jenuh. Aktivitas dalam analisis data, yaitu data reduction, data display, dan conclusion drawing/verification.22

22 Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D, 245–246.

(25)

1. Data Reduction (Reduksi Data)

Data yang diperoleh dari lapangan jumlahnya cukup banyak, untuk itu maka perlu dicatat secara teliti dan rinci. Seperti yang telah dikemukakan, semakin lama peneliti ke lapangan, maka jumlah data akan semakin banyak, kompleks dan rumit. Untuk itu perlu segera dilakukan analisis data melalui reduksi data.

Mereduksi data berarti merangkum, memilih hal-hal yang pokok, memfokuskan pada hal-hal yang penting, dicari tema dan polanya yang sesuai dengan bentuk peningkatan ketenangan jiwa santri Pondok Pesantren Riyadlut Tholibin melalui khidmah simaan Al- Qur’an.

Dengan demikian, reduksi data yang diperoleh peneliti berupa data-data santri, sikap sifat dan perilaku santri serta bentuk ketenangan melalui pelaksanaan simaan. Reduksi data ini merupakan menyederhanakan data yang ada, dan diambil intisarinya saja sehingga bisa ditemukan tema pokok, fokus penelitian, permasalahan, dan dampak yang ada.

2. Data Display (Penyajian Data)

Setelah data direduksi, maka langkah selanjutnya adalah mendisplaykan data. Dalam penelitian kualitatif, penyajian data bisa dilakukan dalam bentuk uraian singkat, bagan, hunungan antar kategori, flowchart, dan sejenisnya. Bila pola-pola yang ditemukan telah didukung oleh data selama penelitian, maka pola tersebut

(26)

sudah menjadi pola yang baku yang tidak lagi berubah. Pola tersebut selanjutnya didisplaykan pada laporan akhir penelitian, dan terfokus pada hal-hal yang berkaitan dengan judul penelitian, yaitu peningkatan ketenangan jiwa santri melalui khidmah di simaan Al- Qur’an (studi kasus santri pondok pesantren riyadlut tholibin Campurejo Sambit Ponorogo)

3. Conclusion Drawing/ Verification

Langkah ketiga dalam analisis data kualitatif menurut Miles

& Huberman adalah penarikan kesimpulan dan verifikasi.

Kesimpulan dalam penelitian kualitatif adalah merupakan temuan baru yang sebelumnya belum pernah ada. Temuan dapat berupa deskripsi atau gambaran suatu obyek yang sebelumnya masih remang-remang atau gelap sehingga setelah diteliti menjadi jelas, dapat berupa hubungan kausal atau interaktif, hipotesis atau teori.23 Pada langkah ini sudah semakin jelas apa yang menjadi fokus dan permasalahan dalam penelitian ini, sehingga tujuan diadakannya penelitian ini sudah bisa diambil kesimpulan akhir.

7. Teknik Pengecekan Keabsahan Data

Pemeriksaan terhadap keabsahan data pada dasarnya, selain digunakan untuk menyanggah balik yang dituduhkan kepada penelitian kualitatif yang mengatakan tidak ilmiah, juga merupakan sebagai unsur yang tidak terpisahkan dari tubuh pengetahuan penelitian kualitatif.

23 Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D, 245–253.

(27)

Keabsahan data dilakukan untuk membuktikan apakah penelitian yang dilakukan benar-benar merupakan penelitian ilmiah sekaligus untuk menguji data yang diperoleh. Adapun uji keabsahan data yang dapat dilaksanakan:

a. Perpanjangan Pengamatan

Perpanjangan pengamatan dapat meningkatkan kredibilitas atau kepercayaan data. Dengan perpanjangan pengamatan berarti peneliti kembali ke lapangan, melakukan pengamatan, wawancara lagi dengan sumber data yang ditemui maupun sumber data yang lebih baru. Perpanjangan pengamatan berarti hubungan antara peneliti dengan sumber akan semakin terjalin, semakin akrab, semakin terbuka, saling timbul kepercayaan, sehingga informasi yang diperoleh semakin banyak dan lengkap. Perpanjangan pengamatan untuk menguji kredibilitas data penelitian difokuskan pada pengujian terhadap data yang telah diperoleh. Data yang diperoleh setelah dicek kembali ke lapangan benar atau tidak, ada perubahan atau masih tetap. Setelah dicek kembali ke lapangan data yang telah diperoleh sudah dapat dipertanggungjawabkan atau benar berarti kredibel, maka perpanjangan pengamatan perlu diakhiri.

b. Meningkatkan kecermatan dalam penelitian

Meningkatkan kecermatan atau ketekunan secara berkelanjutan maka kepastian data dan urutan kronologis peristiwa

(28)

dapat dicatat atau direkam dengan baik, sistematis. Meningkatkan kecermatan merupakan salah satu cara mengontrol atau mengecek pekerjaan apakah data yang telah dikumpulkan, dibuat, dan disajikan sudah benar atau belum. Untuk meningkatkan ketekunan peneliti dapat dilakukan dengan cara membaca berbagai referensi, buku, hasil penelitian terdahulu, dan dokumen-dokumen terkait dengan membandingkan hasil penelitian yang telah diperoleh.

Dengan cara demikian, maka peneliti akan semakin cermat dalam membuat laporan yang pada akhirnya laporan yang dibuat akan semakin berkualitas.

c. Triangulasi

Triangulasi yaitu teknik pemeriksaan keabsahan data dengan memanfaatkan sesuatau yang lain diluar data tersebut untuk keperluan pengecekan atau pembanding terhadap data yang bersangkutan.

G. Sistematika Pembahasan

Untuk memberi gambaran tentang pembahasan dalam penelitian ini, penulis akan menguraikan rincian pembahasan yang akan diteliti dan dikaji.

Bab I merupakan bab pendahuluan yang berisi latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, kegunaan penelitian, telaah pustaka, metode penelitian dan sistematika pembahasan.

(29)

Bab II berisi tentang kajian teori yang memaparkan tentang Konsep ketenangan jiwa dalam Islam, pengertian ketenangan jiwa dan teori ketenangan jiwa dalam berbagai perspektif.

Bab III, pada bab ini penulis akan menjelaskan data yang diperoleh untuk menjawab rumusan masalah yang ada. Yaitu meliputi profil Pondok Pesantren Riyadlut Tholibin, Kontribusi santri terhadap sima’an mantab rabu pahing dan dampak sima’an mantab rabu pahing terhadap santri.

Bab IV menjelaskan tentang analisis sima’an al-qur’an mantab rabu pahing terhadap terbentuknya ketenangan jiwa santri pondok pesantren riyadlut tholibin.

Bab V atau bab terakhir merupakan bagian penutup dan berisi kesimpulan dan saran yang membangun untuk penelitian selanjutnya.

(30)

25

BAB II KAJIAN TEORI

A. Sima’an

Simaan Al-quran atau Tasmi’ adalah memperdegarkan hafalan kepada orang lain, misalnya kepada sesama teman Tahfidz atau kepada senior yang lebih lacar merupakan hal positif. Kegiatan tersebut merupakan salah satu metode untuk tetap memelihara hafalan supaya tetap terjaga, serta agar bertambah lancar sekaligus untuk mengetahui letak ayat-ayat yang keliru ketika pembacaan hafalan berlangsung. Kegiatan semaan ini, seorang teman yang menyimak akan membenarkanya jika terjadi kekeliruan dalam bacaan hafalan teman yang membacanya.24

Dalam majalah NU Oniline Sabtu tanggal 03 November 2012 Hamzah menerangkan bahwa semaan adalah tradisi membaca dan mendengarkan pembacaan dikalangan masyarakat dan pesantren pada umumnya. Kata semaan berasal dari bahasa Arab sami’a – yasma’u, yang artinya mendengar atau mendengarkan. Kata tersebut diserap ke dalam bahasa Indonesia menjadi “simaan” atau “simak”, dan dalam bahasa Jawa disebut “semaan”.

dalam penggunaanya kata ini tidak diterapkan secara umum sesuai asal maknanya, tetapi digunakan secara khusus kepada suatu aktivitas tertentu para santri atau masyarakat umum yang membaca dan mendengarkan

24 Wiwi Alawiyah Wahid, Cara Cepat Bisa Menghafal Al Quran, (Yogyakarta: Diva Press, 2012), 98.

(31)

lantunan ayat sucu Alquran. Tidak hanya sekedar membaca dan mendengarkan Alquran, penggunaan kata semaan saat ini secara ketat disematkan kepada sejumblah orang yang membaca dan menghafalkan Alquran dengan cara menghafalnya.

B. Ketenangan Jiwa

1. Pengertian Ketenangan Jiwa

Ketenangan jiwa merupakan sebuah rumpun kata yang berasal dari kata “tenang” yang secara etimologi berarto tidak gusar atau suasana jiwa yang berada dalam keseimbangan sehingga menyebabkan seseorang tidak terburu-buru ataupun gelisah. Kata tenang dalam bahasa arab ditunjukkan dengan kata ath-thuma’ninah yang memiliki arti ktentraman hati kepada sesuatu dan tidak terguncang atau resah.25 Jadi ketenangan jiwa ialah kesehatan mental dimana orang yang jiwanya tenang mengartikan bahwa orang tersebut mengalami keseimbangan fungus-fungsi jiwanya atau tidak sedang mengalami gangguan jiwa sedikitpun sehingga dapat menyesuaikan diri dengan situasi yang dihadapi serta mampu merasakan kebahagiaan di dalam hidupnya. Selain itu ketenangan jiwa mampu menjadikan seseorang memiliki integritas yang baik dan dapat dengan mudah memulihkan berbagai ketegangan dan konclik batin secara spontandan otomatis.

Maka ia bisa meraih keseimbangan batin dan jiwa.

25 Umi Kulsum, Ketenangan Jiwa Dalam Keberhasilan Pendidikan Remaja, 2015, 4-5.

(32)

Menurut Imam Al-Ghazali jiwa yang tenang merupakan jiwa yang diliputi dengan sifat-sifat yang menyebabkan selamat dan bahagia. Di antaranya merupakan sifat sabar, syukur takut siksa, cinta Tuhan, rela akan hukuman Tuhan, mengharapkan pahala dan memperhitungkan amal perbuatan dirinya selama hidupnya dan lain- lain. Adapun metode yang diterapkan Al-Ghazali bernuansa spiritual- intuitif berupa seperangkat olah batin dengan kombinasi antara dimensi fikir dan rasa (dhawa).

Dalam sunia sufi nafs dalam bahasa Arab mempunyai banyak arti, dan salah satunya adalah jiwa. Oleh karena itu ilmu jiwa dalam bahasa Arab disebut “Ilmu Nafs” dan persoalan nafs ini telah banyak dibahas dalam kajian filsafat, psikologi dan juga tasawuf.

a. Pengertian Jiwa Menurut Filsafat

Jiwa dalam perspektif filsafat, diklasifikasikan dengan bermacam-macam makna, antara lain:

1) Jiwa merupakan substansi yang berjenis khusus, yang dilawankan dengan substansi materi, sehingga manusia dipandang memiliki jiwa dan raga.

2) Jiwa merupakan suatu jenis kemampuan, yakni semacam pelaku atau pengaruh dalam berbagai kegiatan.

3) Jiwa adalah sebagai jenis proses yang tampak pada organisme organisme hidup.

(33)

4) Ada yang menyamakan pengertian jiwa dengan pengertian tingkah laku.26

b. Pengertian Jiwa Menurut Psikologi

Jiwa dalam konteks psikologi, lebih dihubungkan dengan tingkah laku, sehingga yang dimaksud dengan ilmu jiwa adalah ilmu tentang tingkah laku, suatu ilmu itu harus logis dan empiris, sedangkan jiwa itu sendiri tidak dapat diselidiki secara empiris maka dari itu yang diselidiki dalam psikologi adalah perbuatan- perbuatan yang dipandang sebagai gejala-gejala dari jiwa, atau tingkah laku manusia itu telah menggambarkan sisi kejiwaannya.

Teori-teori psikologi, baik Psikoanalisa (yang menempatkan keinginan bawah sadar sebagai penggerak tingkah laku), teori Behaviorisme (yang menempatkan manusia sebagai makhluk yang tidak berdaya menghadapi lingkungan sebagai stimulus), maupun teori Humanisme (yang memandang manusia sebagai makhluk yang memiliki kemauan baik dalam merespon lingkungan), semua memandang jiwa sebagai sesuatu yang berada di belakang tingkah laku.27

Noer Rohmah dalam bukunya yang berjudul Pengantar Psikologi Agama menjelaskan bahwa pengertian tentang jiwa sebagai berikut:

26 Noer Rohmah, Pengantar Psikologi Agama, 305.

27 Hasan Langgulung, Manusia dan Pendidikan, (Jakarta: Al-Husna, 1983), 26.

(34)

1) Jiwa adalah sesuatu yang mengalami pertumbuhan dan perkembangan kualitas, seiring dengan berkembangnya fisik manusia mulai dari janin sampai dewasa.

2) Bahwa jiwa dibesarkan oleh bertambahnya pengalaman dan ilmu pengetahuan yang diserapnya. Jiwa terlahir dalam keadaan tidak tahu apa-apa, dan menjadi dewasa ketika mampu menyerap ilmu sebanyak-banyaknya dan menambah hikmah yang terkandung didalamnya.

3) Bahwa jiwa bisa bersama-sama ada dengan fisik. Namun sekali waktu juga terpisah dari fisiknya. Dan keduanya masih tetap hidup sendiri-sendiri.

4) Jiwa merupakan sesuatu yang bisa terkena pengaruh dari luar berupa tekanan positif maupun negatif, berupa rasa senang, sedih, kecewa, puas, bahagia, dan lain-lain.

5) Jiwa bisa berinteraksi dengan dunia luar lewat fasilitas yang dimiliki badan, yaitu berupa panca indera dan indera keenam alias hati. Salah satu fungsi yang paling dasar adalah memahami.

6) Bahwa kualitas jiwa juga bergantung kepada kualitas fisik, terutama otak. Jika kualitas fisik dan otak mengalami gangguan, maka jiwa juga bakal mengalami gangguan, karena fungsi jiwa ternyata direpresentasikan oleh sel-sel yang terdapat di otak.

(35)

7) Bahwa jiwa adalah sosok yang bertanggung jawab terhadap segala perbuatan yang dilakukan oleh seorang manusia. Jiwa memiliki kebebasan untuk memilih kebaikan atau keburukan dalam hidupnya, dan segala akibat dari perbuatannya akan kembali kepadanya.28

c. Pengertian Jiwa Menurut Al-Qur’an

Kata “Jiwa” dalam Al-Qur’an diwakili dengan kata “Nafs”.

Meskipun makna nafs yang secara umum bisa diartikan sebagai diri. Penggunaan kata nafs yang berarti jiwa difirmankan Allah dalam Al-Qur’an tidak kurang dari 31 kali, sedangkan kata nafs yang berarti diri telah difirmankan tidak kurang 279 kali dalam Al- Qur’an.29

Ketenangan jiwa merupakan istilah yang tidak asing di telinga manusia. Ketenangan jiwa merupakan dua kata yang bersatu membentuk sebuah makna. Kata ketenangan itu sendiri berasal dari kata tenang yang mendapat imbuhan awalan ke dan akhiran an. Tenang berarti diam tidak bergerak, tidak gelisah, tidak kacau, tidak rebut, aman dan tentram tentang perasaan hati, keadaan dan sebagainya, tenang, ketentraman hati, batin dan pikiran.30 Sedangkan jiwa ialah seluruh kehidupan batin manusia yang menjadi unsur kehidupan berupa daya rohaniah yang

28 Noer Rohmah, Pengantar Psikologi Agama, 311-312.

29 M. Yudhie Haryono, Al-Qur’an Kritis, 307.

30 Tim Penyusun, Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Indonesia, (Kalarta: Balai Pustaka, 1993), 927.

(36)

berfungsi sebagai penggerak manusia dan menjadi symbol kesemprunaan manusia. Dalam surat Asy-Syams (91: 7-11)

اَهٰى َّوَس اَم َو ٖسۡفَن َو َت َو اَه َروُجُف اَهَمَهۡلَأَف ٧

اَهٰى َوۡق ٨ َهٰىَّك َز نَم َحَلۡفَأ ۡدَق ا

٩

اَهٰىَّسَد نَم َباَخ ۡدَق َو ١٠

اَهٰى َوۡغَطِب ُدوُمَث ۡتَبَّذَك ١١

Artinya: “7. dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya) 8. maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya 9. sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu 10. dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya 11. (Kaum) Tsamud telah mendustakan (rasulnya) karena mereka melampaui batas”

Ayat tersebut menerangkan bahwa jiwa manusia mengandung sisi pengingkaran (keburukan) dan ketakwaan (kebaikan) yang mendorong manusia untuk memilih akan melakukan tindakan kebaikan atau kejahatan. Sehingga manusia yang membersihkan jiwanya merupakan manusia yang beruntung karena jiwa itu sendiri yang akan menggerakkan seseorang berbuat fasik atau bertakwa yang telah diberikan kesempatan oleh Allah untuk memilihnya.31 Jadi ketenangan jiwa merupakan kesehatan jiwa atau mental yang maknanya apabila seseorang berjiwa tenang berarti kejiwaannya seimbang karena tidak mengalami gangguan

31 Qurotul Uyun, Kesehata Jiwa Menurut Paradigma Islam, (Yogjakarta: Univrsitas Gadjah Mada, 2022) International Conference of Nusantara Philosophy, 3.

(37)

penyakit jiwa dan dapat menghadapi masalah juga mampu menyesuaikan diri dengan situasi yang menghimpit sekalipun untuk meraih kebahagiaan hidup. Jiwa yang tenang akan mensortir fikiran dan hati juga fisik untuk lebih santai menghadapi masalah serta hiruk pikuk terjadi.

Banyak manusia yang kurang peduli dengan kesehatan mentalnya sendiri yaitu berusaha untuk bersikap tenang dalam segala aktivitas atau masalah yang menghadang. Padahal pada hakikatnya jiwa yang tenang adalah jiwa yang senantiasa mengajak kepada fitrah Ilahiyah Tuhannya atau disebut muthmainnah. Hal ini bisa dilihat dari sikap dan gerak-gerik seseorang yang tenang, penuh pertimbangan, tidak tergesa-gesa, matang dan tepat sehingga tidak mengambil sikap apriori dan negative thinking, namun tetap menelusuri hikmah yang ada di setiap eksistensi masalah yang menggandrungi kehidupannya.32

2. Indikator Ketenangan Jiwa a. Sabar

Sabar merupakan sebuah sifat yang dianjurkan untuk dimiliki atau didapat pada setiap karakter manusia. Sabar sebagai sifat baik yang menjadi landasan seseorang untuk mampu

32 Hamdani Bakran Adz-Dzaky, Konseling dan Psikoterapi Islam, (Yogjakarta: PT. Fajar Pustaka), 31.

(38)

mengkoordinir segala sikap untuk tetap stabil dalam menerapkan atau mengeluarkan energi positif.

Secara etimologi, sabar berarti teguh hati tanpa mengeluh di jumpa bencana. Menurut pengertian Islam, sabar ialah tahan menderita sesuatu yang tidak disenangi dengan ridha dan ikhlas serta berserah diri kepada Allah Swt. Sabar itu membentuk jiwa manusia menjadi kuat dan teguh tatkala menghadapi bencana (musibah).

Kebahagiaan, keuntungan, keselamatan, hanya dapat dicapai dengan usaha tekun terus menerus dengan penuh kesabaran, keteguhan hati, sebab sabar adalah azas untuk melakukan segala usaha, tiang untuk realisasi segala cita-cita.

Sabar bukan berarti menyerah tanpa syarat. Tetapi sabar adalah terus berusaha dengan hati yang tetap berikhlas sampai cita- cita dapat berhasil dan dikala menerima cobaan dari Allah Swt.

Wajiblah ridha dan hati yang ikhlas.33 b. Optimis

Sikap optimis dapat digambarkan sebagai cahaya dalam kegelapan dan memperluas wawasan berfikir. Dengan optimis, cinta akan kebaikan tumbuh di dalam diri manusia dan

33 Faishal Aushafi, Pengaruh Dzikir Terhadap Ketenangan Jiwa Pedagang Pasar Johar Pasca Kebakaran, (Semarang: Universitas Negeri Walisongo, 2017), 35-36.

(39)

menumbuhkan perkembangan baru dalam pandangannya tentang kehidupan.

Tidak ada satu penyebab pun yang mampu mengurangi jumlah problem dalam kehidupan manusia seperti yang diperankan optimism. Ciri-ciri kebahagiaan itu tampak pada wajah-wajah orang yang optimis tidak saja dalam hal kepuasaan tetapi juga seluruh kehidupan baik dalam situasi positif maupun negatif.

Disetiap saat kebahagiaan menerangi jiwa orang yang optimisme.34 1) Merasa dekat dengan Allah Swt

Orang yang tentram jiwanya akan merasa dekat dengan Allah Swt. Dan akan selalu merasa pengawasan Allah Swt.

Dengan demikian akan hati-hati dalam bertindak dan menentukan langkahnya, ia akan berusaha untuk menjalankan apa yang diperintahkan Allah Swt. Dan akan menjauhi segala yang tidak di ridhai Allah Swt.

Adanya perasaan dekat dengan Allah Swt. Manusia akan merasa tentram hidupnya karena ia akan merasa terlindungi dan selalu dijaga oleh Allah Swt. Sehingga ia merasa aman dan selalu mengontrol segala perbuatannya.35

Seseorang bisa dikatakan jiwanya tenang jika seorang tersebut menunjukkan perilaku atau sikap yang baik dalam

34 Faishal Aushafi, Pengaruh Dzikir Terhadap Ketenangan Jiwa Pedagang Pasar Johar Pasca Kebakaran, (Semarang: Universitas Negeri Walisongo, 2017), 35-36.

35 Faishal Aushafi, Pengaruh Dzikir Terhadap Ketenangan Jiwa Pedagang Pasar Johar Pasca Kebakaran, (Semarang: Universitas Negeri Walisongo, 2017) 35-37.

(40)

kehidupan sehari-hari. Perilaku atau sikap tersebut adalah sabar, optimis, dan merasa dekat dengan Allah Swt.

3. Sima’an untuk Meningkatkan Ketenangan Jiwa

Simaan merupakan kegiatan membaca Al-Qur’an yang dilakukan oleh satu orang dan diperdengarkan di hadapan orang lain (pada umumnya banyak orang). Secara objektif, sima’an Al-Qur’an menunjukkan keadaan sosial santri yang yang bersifat kontekstual.36 Simaan selain sebagai bentuk pembiasaan diri juga sebagai upaya untuk senantiasa mendekatkan diri kepada Allah swt. Dengan simaan, upaya pembinaan diri seperti di dalam pesantren dapat dilakukan sebagai salah satu upayanya.

Al-Qur’an sebagai pembawa petunjuk dan kebahagiaan bagi umat manusia. Az Zuhaili menjelaskan dalam Ensiklopedia Akhlak Muslim: Berakhlak terhadap Sang Pencipta, bahwasanya orang-orang Arab begitu bangga karena al-Qur’an turun menggunakan bahasa mereka. Al-Qur’an menjadi salah satu obat penenang hati, dan obat segala penyakit hati.37 Dengan membaca dan mengamalkannya menjadi salah satu metode, misalnya untuk meningkatkan ketenangan jiwa.

Membaca ini juga dapat dilakukan dengan cara simaan. Dengan begitu,

36 Riyan Fitroh Agung Setiawan, “Makna Tradisi Simaan Khataman Al-Qur’an di Pondok

Pesantren As-Sidah Purwokerto (Studi Living Qur’an)”, Skripsi, (UIN Prof. KH. Saifuddin Zuhri Purwokerto, 2022), 43.

37 Kementerian Agama Republik Indonesia, Al-Qur‟an dan Tafsirnya (Edisi yang Disempurnakan), 532.

(41)

kegiatan membaca dan menyimak bacaan Al-Qur’an ini selain sebagai lading pahala juga sebagai upaya peningkatakan ketenangan jiwa.

C. Teori Jiwa dalam Berbagai Perspektif 1. Pengertian Teori Jiwa

Dalam filsafat, pengertian jiwa diklasifikasikan dengan berbagai macam teori, antara lain:

a. Teori yang memandang bahwa jiwa itu merupakan jenis kemampuan, yakni semacam pelaku atau pengaruh dalam kegiatan- kegiatan.

b. Teori yang menyamakan pengertian jiwa dengan tingkah laku.38 Dalam psikologi, jiwa lebih dihubungkan dengan tingkah laku sehingga yang diselidiki oleh para psikolog adalah perbuatan-perbuatan yang dipandang sebagai gejala-gejala dalam jiwa. Teori-teori psikologi baik psikoanalisa, behaviorisme maupun humanisme memandang jiwa sebagai sesuatu yang berada dibelakang tingkah laku.39 Ketenangan jiwa merupakan juga kesehatan jiwa, kesejahteraan jiwa atau kesehatan mental. Orang yang memiliki jiwa tenang dan tentram berarti orang tersebut mengalami keseimbangan di dalam fungus-fungsi jiwanya sehingga mampu berfikir positif juga bijak dalam menyikapi masalah,

38 Louis O. Kattsoff, Elements Of Philyshophy, alih bahasa Soeyono Soemargono dengan judul Pengantar FIlsafat, (Yogyakarta: Tiara Wacana, 1986), cet. Ke-1, 301.

39 Irwanto, et al., Psikologi Umum (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 1991), 3.

(42)

mampu menyesuaikan atau beradaptasi dengan situasi yang dihadapi dan dapat merasakan kebahagiaan hidup.

Menurut Haidar Bagir dalam bukunya mengutip pandangan aristoteles, bahwa pada puncaknya tujuan dari tindakan-tindakan etis adalah ketenangan dan kebahagiaan. Terkait ketenangan jiwa, al-qur’an telah banyak membicarakannya seperti dalam surat ar-ra’du ayat 28 yang berarti “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah Swt. Ingatlah hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tentram”.

2. Tingkatan Jiwa Manusia

Dalam proses tazkiyatun Nafs, terdapat tujuh tingkatan jiwa, yaitu:

a. Jiwa yang memerintah (Al-Nafs al-ammarah)

Jiwa ini cenderung pada tabiat badan yang bersifat alamiah memerintah pada kelezatan dan hasrat seksual (syahwat) yang terlarang pada syara’ dan mendorong hati pada aspek-aspek rendah.

Dalam tingkatan ini jiwa merupakan tempat berlindung segala kejahatan dan sumber akhlak-akhlak tercela seperti sombong, ambisius, hasrat biologis, hasud, marah, kikir, dendam, dan sebagainya.

(43)

b. Jiwa yang mencela (Al- nafs al-lawwamah)

Jiwa yang menerima pencerahan hati. Dalam tingkatan ini jiwa merupakan sumber memancar penyesalan dan tempat keinginan biologis, kerakusan.

c. Jiwa yang tenteram (Al-nafs al-muthmainnah)

Merupakan jiwa yang menerima pencerahan hati sehingga darinya tenggelam sifat-sifat tercela dan merasa tentram terhadap berbagai kesempurnaan. Pemilik jiwa dalam tingkatan ini berada dalam kondisi mabuk ketuhanan. Kepadanya berhembus nafas-nafas hubungan kemesraan dengan sangat kencang karena keterkaitan yang sangat kuat dengan yang maha benar.40

d. Jiwa yang terilhami (Al-nafs al-mulhimah)

Merupakan jiwa yang diilhami Allah dengan rendah hati, ilmu, merasa cukup dengan rizki yang hanya sedikit dan kedermawanan. Manusia yang memiliki jiwa dalam tingakatan ini memiliki jiwa yang terpancar kesabaran, kesanggupan memikul beban derita dan rasa syukur yang kuat.

e. Jiwa yang Ridha (Al-nafs al-radhiyah)

Yaitu jiwa yang ridha kepada Allah dalam kondisi berserah dan merasa lezat dengan kondisi tergila-gila (hiyaroh). Seperti firman Allah Swt dalam QS. Al-Bayyinah ayat 8:

40 Muhammad Amin Al-Kurdi, Jalan ke Surga Pengembangan menuju Pencerahan Qolbu (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2005), 135-136.

(44)

ِت ۡحَت نِم ي ِر ۡجَت ٖنۡدَع ُتَّٰنَج ۡمِهِ ب َر َدنِع ۡمُهُؤ ا َزَج اَه

دَبَأ اَهيِف َنيِدِل َٰخ ُر َٰه ۡنَ ۡلۡٱ َّر ۖا

ُ َّللَّٱ َي ِض

هَّب َر َيِشَخ ۡنَمِل َكِلَٰذ ُُۚهۡنَع ْاوُض َر َو ۡمُهۡنَع Artinya: “Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah surga 'Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah rida terhadap mereka dan mereka pun rida kepada-Nya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya”

f. Jiwa yang diridhai (Al-nafs al-mardhiyah)

Yaitu jiwa yang di ridhai Allah Swt, padanya namak jejak keridhaan-Nya seperti karomah, keikhlasan, dan dzikir. Dalam tingkatan ini, sang penempuh jalan rohani menginjakkan kakinya yang pertama pada pengenalan Allah (ma’rifatullah) dengan pengenalan yang benar. Pada tingkatan jiwa seperti ini, penampakan amal perbuatan terlihat jelas.41

g. Jiwa yang Sempurna (Al-nafs al-kamilah)

Merupakan segala kesempurnaan menjadi tabiat dan wataknya. Bersamaan dengan itu, jiwa meningkat naik pada kesempurnaan dan diperintah kembali kepada para hamba Allah untuk membimbing dan menyempurnakan mereka. Kondsisinya kekal dengan Allah, berjalan dengan Allah dan menuju Allah serta kembali dari Allah dan kepada Allah. Ilmu-ilmunya terambil dari Allah sebagaimana dikatakan: “setelah melebur diri dalam

41 Ibid,. 136.

(45)

kehendak Allah, jadilah sebagaimana engkau kehendaki, Ilmumu tiada kebodohandan bagi amalmu tiada dosa”.42

3. Ciri-Ciri Jiwa yang Tenang

Perspektif psikologis menjelaskan bahwa jiwa yang sehat dalam bentuknya yang paling sempurna adalah terciptanya ketenangan dan seseorang yang dapat menjaga kestabilan dalam diri sehingga mampu menumbuhkan kepribadian yang normal. Perilaku yang normal ialah perilaku yang dapat mewujudkan interaksi realistis terhadap berbagai problem maupun pertentangan tanpa harus menghindarinya. Hal tersebut dapat dimaknai sebagai kepribadian yang lurus dan memiliki integritas kepribadian dengan ciri perilaku yang kreatif dan realistis, bukan pribadi yang menghindari kenyataan atau membiarkan dirinya terjebak dalam keadaan (problem) tersebut. Adapun jiwa yang tenang memiliki ciri-ciri sebagai berikut:43

a. Dapat menyesuaikan diri

b. Merasa bahagia dengan dirinya sendiri c. Merasa bahagia dengan orang lain

d. Dapat merealisasikan diri dan mampu memanfaatkan skills e. Dapat menghadapi tuntutan hidup

f. Memiliki jiwa yang integral (mampu melaksanakan fungsi secara sempurna sesuai dengan kepribadian yang integral dalam segala

42 Ibid,. 137 .

43 Kartini Kartono dan Jenni Andari, Hygiene Mental dan Kesehatan Mental Dalam Islam, (Bandung: Mandar Maju, 1989), 4-7.

(46)

aspek secara jasmaniyah, rasional, emosional, maupun sosial, dapat menikmati kesehatan juga fenomena perkembangan jasmani dan rohani)

g. Berperilaku normal

h. Mampu hidup dengan damai

4. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Ketenangan Jiwa

Zakiyah Daradjat dan Kartini Kartono berpendapat bahwa terdapat beberapa faktor yang memengaruhi ketenangan jiwa dimana orang yang ingin mencapai ketenangan jiwa harus memenuhi beberapa faktor tersebut di antaranya sebagai berikut:

a. Faktor Agama

Agama merupakan kebutuhan jiwa atau psikis manusia yang akan mengendalikan sikap, perspektif, kelakuan dan cara menghadapi setiap masalah. Pendidikan agama merupakan salah satu unsur terpenting dalam ketenangan jiwa maka pendidikan agama harus dilakukan secara intensif dalam rumah tangga sekolah dan masyarakat.44 Bagi jiwa yang diliputi rasa gelisah agama akan memberikan jalan dan siraman Penang hati tidak sedikit kita mendengarkan orang yang kebingungan dalam hidupnya selama ia

44 Zakiah Daradjat, Pendidikan Agama Dalam Pembinaan Mental, (Jakarta: Bulan Bintang, 1982), 52.

(47)

bergaul tetapi setelah ia mulai mengenal dan menjalankan agama ketenangan jiwa akan datang.45

Adapun pelaksanaan agama dalam kehidupan dapat membentengi kita dari gangguan jiwa karena kegelisahan dan kecemasan umumnya datang dari ketidakpuasan atau segala sumber kekecewaan sedangkan agama dalam dapat menolong kita untuk menerima kekecewaan sementara dengan jalan memohon ridho Allah. Salah satunya dengan jalan salat membaca Al-quran serta berdoa merupakan cara pelegaan batin yang akan mengembalikan ketenangan dan ketentraman jiwa karena semakin dekat seseorang kepada Tuhannya. Dan semakin banyaknya ibadah seseorang maka akan semakin tentram jiwanya serta semakin mampu ia menghadapi segala kekecewaan dan kesukaran dalam hidup.

Demikian pula sebaliknya semakin jauh kita dari agama akan semakin susah baginya untuk mencari ketenangan batin.46

b. Kebutuhan Manusia yang Terpenuhi

Ketenangan dalam hati dapat dirasakan apabila segala aspek kebutuhan manusia, baik yang bersifat fisik maupun psikis terpenuhi. Apabila kebutuhan tersebut tidak terpenuhi maka akan mengakibatkan kegelisahan dalam jiwa yang berdampak pada terganggunya ketenangan hidup. Terdapat beberapa faktor yang

45 Zakiah Daradjat, Peran Agama Dalam Kesehatan Mental, (Jakarta: Gunung Agung, 1970), 61.

46 Ibid, 78-79.

(48)

memengaruhi ketenangan jiwa pada manusi. Secara hakikat ketenangan jiwa yang di dapatka tersebut berpengaruh terhadap kelanjutan kenyamanan hidup manusia. Menurut Kartini Kartono kebutuhan yang harus terpenuhi oleh manusia adalah;47

1) Terpenuhinya kebutuhan pokok.

Kebutuhan pokok merupakan hal yang sangat intens demi kelangsungan hidup manusia dikarenakan setiap manusia pasti memiliki dorongan untuk selalu memenuhi kebutuhan pokok.

Dorongan akan kebutuhan pokok tersebut menuntut pemenuhan, sehingga jiwa menjadi tenang. Meskipun kebutuhan pokok tidak bersifat mutlak, namun secara umum seperti kebutuhan sandang pagan dan papan akan menurunkan ketegangan pada jiwa manusia jika kebutuhan itu terpenuhi.

2) Tercapainya kepuasan

Setiap orang pasti menginginkan kepuasan, baik yang berupa jasmaniah maupun yang bersifat psikis. Seperti, ingin kenyang, aman terlindungi, ingin puas dalam hubungan suami istri, damai merasakan hidup, ingin mendapat simpati dan diakui harkatnya. Secara singkat hal tersebut dapat dikatakan bahwa manusia tidak pernah merasa puas dan ingin segala bidang terpenuhi sesuai kepuasan hati dan hal tersebut dapat

47 Kartini Kartono, Hygiene Mental Dan Kesehatan Mental Dalam Islam, 29-30.

(49)

diminimalisir apabila mendatangkan kemudharatan dengan ara selalu bersyukur.

3) Posisi dan status sosial

Pada setiap individu selalu berusaha mencari posisi sosial dalam lingkungannya. Tiap manusia membutuhkan cinta kasih dan simpati. Sebab cinta kasih dan simpati menumbuhkan rasa diri aman, berani, optimis, dan percaya diri.

Berdasarkan teori diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwasannya faktor-faktor yang memengaruhi ketenangan jiwa adalah faktor agama dan faktor yang terpenuhinya kebutuhan manusia (kebutuhan pokok individu, psikis, dan sosial). Sebagai seorang muslim, orang yang dekat dengan agama maka akan mendapatkan ketenangan jiwa melalui ibadah-ibadah ritual yang ia jalani. Seperti sholat, membaca Al-Qur’an, saling menjaga hubungan sosial yang baik, dan sebagainya. Ketenangan jiwa melalui wadah ini dapat dilaksanakan dengan baik apabila manusia khususnya umat Islam selalu menjaga hubungan dengan Tuhannya dan seimbang selaras dengan menjaga hubungan dengan sesama manusia.

Ketenangan jiwa akan diraih jika seseorang bisa mendapatkan apa yang ia butuhkan. Seseorang akan tenang jika fisiknya tidak terganggu, psikisnya tidak terganggu, dan hubungan sosial dengan orang lain juga terjaga. Namun, sebaliknya, jika fisik dan psikisnya tidak sehat serta hubungan sosialnya tidak terjaga, seseorang akan merasa tidak tenang, seperti gelisah, cemas, khawatir, dan sebagainya.

(50)

5. Aspek-Aspek Ketenangan Jiwa

Menurut Dzakiyah Daradjat, adapun aspek-aspek ketenangan jiwa meliputi aspek kebahagiaan, rasa kasih saying, rasa aman, rasa harga diri, dan rasa ingin tau sebagai berikut:

a. Kebahagiaan

Kebahagiaan sejati seseorang tidak dapat diukur dengan banyaknya harta atau kekayaan, status atau pangkat sosial dalam kemasyarakatan dan atau semua kemewahan yang dimiliki seseorang. Kebahagiaan yang hakiki adalah kebahagiaan yang terletak pada ketenangan seseorang dan sumber kebahagiaan sejati merupakan anugerah dari Allah Swt. Yang sang berharga. Setiap orang pasti menginginkannya, namun hanya sedikit sekali orang yang mendapatkannya. Hal ini dikarenakan banyak manusia yang melupakan zat pemberi kebahagiaan, dan melupakan tentang zat sang pencipta yang merupakan ketenangan di dalam jiwa atau hati yang sebenarnya.48

b. Rasa kasih sayang

Rasa kasih sayang adalah suatu sikap saling menghormati dan mengasihi semua ciptaan Tuhan, baik sesama makhluk hidup maupun benda mati seperti menyayangi diri sendiri berlandaskan hati nurani yang luhur. Rasa kasih sayang bisa didapat dari mana saja, salah satunya adalah ketika membaca Al-Qur’an. Rasa kasih

48 Zakiyah Daradjat, Kesehatan Mental, 33-34.

(51)

sayang tersebut dirasakan oleh orang yang membaca Al-Qur’an dengan niat ikhlas, maka akan merasakan selalu disayang oleh Allah Swt.49

c. Rasa Aman

Rasa aman adalah rasa tanpa ada kekhawatiran pada suatu hal dan hidup tanpa ada rasa takut dengan kondisi kondusif. Hak atas rasa aman merupakan salah satu hak asasi manusia yang paling mendasar. Setiap manusia pasti membutuhkan hak atas rasa aman terhadap dirinya, dalam hal ini keamanan adalah komponen penting untuk menciptakan keadaan agar terpenuhinya hak atas rasa aman pada masyarakat yang ada. Kebutuha akan rasa aman ini diantaranya ialah merasakan keamanan fisik, stabilitas, ketergantungan, perlindungan dan k

Gambar

Gambar 3 1 Pembukaan Majlis Sima’an Mantab Rabu Pahing
Gambar 3 4 Sami’in saat menyimak huffadz membaca Al-Qur’an secara bilghoib
Gambar 3 5 Sami’at saat menyimak huffadz membaca Al-Qur’an secara bilghoib

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis persepsi dan sikap kepercayaan nasabah dalam memperoleh kredit usaha agribisnis pada Bank Konvensional dan Bank Syariah

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis persepsi dan sikap kepercayaan nasabah dalam memperoleh kredit usaha agribisnis pada Bank Konvensional dan Bank Syariah

 Menyelidiki, menganalisis dan membedakan menjelaskan melalui contoh kejadian, peristiwa, situasi atau fenomena alam dan aktifitas sosial sehari-hari yang merupakan penerapan

Dalam penelitian ini, penulis menggunakan metode penelitian evaluasi kualitatif untuk mendeskripsikan dan menganalisis fenomena-fenomena yang terjadi pada PAUD pemilihan

Skala Likert digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi seseorang atau sekelompok orang tentang fenomena sosial. Dalam penelitian, fenomena sosial ini

Sedangkan skala Likert yaitu skala yang digunakan untuk mengukur persepsi, sikap atau pendapat seseorang atau kelompok mengenai suatu peristiwa atau fenomena sosial, dalam

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis persepsi dan sikap kepercayaan nasabah dalam memperoleh kredit usaha agribisnis pada Bank Konvensional dan Bank Syariah

Skala Likert digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi seseorang atau sekelompok orang tentang fenomena sosial. Dalam penelitian, fenomena sosial ini