19
Universitas Kristen Petra
3. METODOLOGI PENELITIAN
3.1. Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif. Penelitian deskriptif adalah penelitian yang ditujukan untuk mendeskripsikan fenomena-fenomena yang ada, baik fenomena alamiah maupun fenomena buatan manusia. Fenomena itu bisa berupa bentuk, aktivitas, karakteristik, perubahan, hubungan, kesamaan, dan perbedaan antara fenomena yang satu dengan fenomena lainnya (Sukmadinata, 2006, p.72) Sedangkan penelitian kuantitatif adalah penelitian dengan memperoleh data yang berbentuk angka atau data kuantitatif yang diangkakan (Sugiyono, 2003, p.14).
Penelitian kuantitatif dengan format deskriptif bertujuan untuk menjelaskan, meringkas berbagai kondisi, berbagai situasi, atau berbagai variabel yang timbul di masyarakat yang menjadi objek penelitian ini, berdasarkan apa yang terjadi. Kemudian mengangkat ke permukaan karakter atau gambaran tentang kondisi, situasi ataupun variabel tersebut (Sugiyono, 2008, p.67).
Pada penelitian ini peneliti akan mendeskripsikan motivasi masyarakat Surabaya dalam berwisata ala backpacker dan flashpacker yang diukur melalui kuantifikasi faktor pendorong dan faktor penarik.
3.2. Populasi dan Sampel 3.2.1. Populasi
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek atau subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2003, p.72).
Populasi dalam penelitian ini adalah backpacker dan flashpacker Surabaya.
3.2.2. Sampel
Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut. Pengambilan sampel disebabkan karena keterbatasan dana, tenaga dan waktu yang dimiliki peneliti untuk melakukan penelitian. Hasil yang
20
Universitas Kristen Petra
didapat dari sampel tersebut akan diberlakukan untuk populasi. Maka dari itu sampel yang diambil harus benar-benar representatif (Sugiyono, 2003, p.73).
Sampel dalam penelitian ini adalah warga Surabaya berusia 18-60 tahun yang telah melakukan perjalanan wisata ala backpacker dan flashpacker dalam waktu 6 bulan terakhir. Metode penarikan sampel yang digunakan oleh peneliti adalah non-probability yang berarti setiap anggota populasi tidak memiliki kesempatan atau peluang yang sama sebagai sampel. Teknik yang akan digunakan adalah purposive sampling yaitu peneliti meneliti dan mempertimbangkan sendiri anggota populasi yang akan dipergunakan sebagai sampel (Sekaran, 1994).
Roscoe (1975) dalam Uma Sekaran (2013) memberikan acuan umum untuk menentukan ukuran sampel, yaitu :
a. Ukuran sampel lebih dari 30 dan kurang dari 500 adalah tepat untuk kebanyakan penelitian.
b. Jika sampel dipecah ke dalam subsampel (pria/wanita, junior/senior, dsb), ukuran sampel minimum 30 untuk setiap kategori adalah tepat.
c. Dalam penelitian multivariate (termasuk analisis regresi berganda), ukuran sampel sebaiknya sepuluh kali lebih besar dari jumlah variabel dalam penelitian.
d. Untuk penelitian eksperimental sederhana dengan kontrol eksperimen yang ketat, penelitian yang sukses adalah mungkin dengan ukuran sampel kecil antara 10 sampai dengan 20.
Menurut Suharsimi Arikunto (1993), jika populasinya besar atau lebih dari 1000 maka diambil 10% - 15% atau 20% - 25% atau lebih tergantung setidak- tidalnya dari :
a. Kemampuan peneliti dilihat dari segi waktu, tenaga dan dana.
b. Sempit luasnya wilayah pengamatan dari setiap subjek karena hal ini menyangkut banyak sedikitnya data.
c. Besar kecilnya resiko ditanggung oleh peneliti. Untuk penelitian dengan resiko besar, tentu saja sampel lebih besar akan lebih baik.
d. Data yang diambil adalah homogeny sehingga perlu diambil sampel.
Oleh karena itu penulis menentukan pengambilan sampel adalah sebanyak 100 responden dengan syarat karakteristik yaitu berusia lebih dari 18 tahun dan
21
Universitas Kristen Petra
pernah melakukan perjalanan wisata ala backpacker dan flashpacker serta berdomisili di Surabaya.
3.3. Deskripsi Data
Data penelitian adalah informasi yang diperoleh melalui penelitian dengan cara ilmiah berupa rasional, empiris dan sistematis sehingga menghasilkan data yang valid (Sugiono, 2001).
3.3.1. Data Pimer
Data primer adalah sumber data yang langsung memberikan data kepada pengumpul data (Sugiyono, 2008, p.402). Penulis memperoleh data primer melalui penyebaran kuesioner kepada responden. Kuesioner dibagi menjadi tiga bagian untuk memudahkan dalam pengumpulan data:
− Bagian pertama, responden akan ditanya mengenai karakteristik dan profil responden yang meliputi usia, jenis kelamin, pekerjaan dan status sosial.
− Bagian kedua, responden akan ditanya tentang karakteristik mereka dalam melakukan perjalanan wisata. Bagian ini akan mengelompokkan responden, apakah mereka merupakan backpacker atau flashpacker.
− Bagian ketiga, responden akan ditanya tentang faktor yang memotivasi mereka untuk melakukan perjalanan wisata.
Kuesioner menggunakan jenis pertanyaan yang sama, di mana pada bagian pertama hingga ketiga merupakan pertanyaan tertutup. Peneliti membatasi pilihan-pilihan respon yang tersedia bagi responden. Kuesioner akan diukur menggunakan skala Likert.
Uji beda biasanya digunakan untuk mencari perbedaan, baik antara dua sampel data atau antara beberapa sampel data. Dalam kasus tertentu, juga bisa mencari perbedaan antara suatu sampel dengan nilai tertentu. Dalam hal ini uji beda akan digunakan untuk mengelompokkan responden, apakah merupakan backpacker atau flashpacker.
Sedangkan skala Likert yaitu skala yang digunakan untuk mengukur persepsi, sikap atau pendapat seseorang atau kelompok mengenai suatu peristiwa atau fenomena sosial, dalam hal ini faktor pendorong dan penarik masyarakat Surabaya dalam melakukan berwisata ala backpacker dan flashpacker. Peneliti
22
Universitas Kristen Petra
akan menyediakan lima pilihan skala, yaitu (1) Sangat tidak setuju; (2) Tidak setuju; (3) Netral; (4) Setuju; (5) Sangat setuju.
3.3.2. Data Sekunder
Data sekunder adalah data yang tidak langsung memberikan data kepada peneliti, misalnya penelitian harus melalui orang lain atau mencari melalui dokumen (Sugiyono, 2008). Penulis memperoleh data sekunder dengan melakukan studi pustaka melalui pengumpulan data-data dari buku-buku literatur, jurnal, laporan, dan sumber-sumber lainnya yang berhubungan dengan faktor pendorong dan faktor penarik untuk berwisata ala backpacker dan flashpacker.
3.4. Definisi Operasional Variabel
Variabel penelitian adalah suatu atribut atau sifat atau nilai dari orang atau objek atau kegiatan yang mempunyai variasi tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2003).
Untuk mengetahui apakah responden masuk ke dalam kelompok backpacker atau flashpacker, peneliti mengajukan pernyataan yang menyangkut tentang karakteristik responden, apakah responden merupakan backpacker atau flashpacker. Indikatornya adalah sebagai berikut :
Tabel 3.1. Definisi Operasional Variabel Klasifikasi Responden
Variabel Sub Variabel Indikator
Karakteristik responden
Backpacker Saya lebih memilih menginap di homestay atau hostel daripada di hotel ketika berwisata.
Saya lebih mementingkan mode transportasi yang murah, kenyamanan nomor dua.
23
Universitas Kristen Petra
Tabel 3.1. Definisi Operasional Variabel Klasifikasi Responden (Sambungan)
Saya suka ke tempat wisata yang murah meriah.
Saya hanya membawa gadget seperlunya saja ketika berwisata.
Flashpacker Saya lebih suka menginap di budget hotel daripada hotel berbintang karena saya bisa lebih hemat dan tetap merasa nyaman.
Saya suka ke tempat wisata yang menawarkan pengalaman berharga dan hal-hal baru bagi saya walaupun biayanya mahal.
Saya suka membawa gadget lengkap selama berwisata (cth. Kamera dengan aksesorisnya, laptop)
Saya lebih suka berlibur menggunakan pesawat karena lebih cepat dan lebih nyaman daripada transportasi lain.
Sumber : Olahan penulis (2017)
Berdasarkan pendapat ahli yang telah dipaparkan dalam bab 2, penulis menentukan untuk menggunakan teori faktor pendorong dan penarik yang
24
Universitas Kristen Petra
dipaparkan oleh Ryan (1991), dimana faktor pendorong antara lain terdiri dari : escape, relaxation, play, strengthening, family bonds, prestige, social interaction, romance, educational oppotunity, self-fulfilment dan wish fulfilment, sedangkan faktor penarik terdiri dari : positive image, safety, attractions dan climate. Hal ini dikarenakan peneliti merasa variabel yang dipaparkan oleh Ryan (1991) lebih mendalam dan lebih rinci daripada yang dipaparkan oleh Crompton (1979).
Dalam faktor penarik yang dikemukakan oleh Ryan, tidak terdapat deskripsi yang rinci dari setiap elemen yang diapaparkan sehingga peneliti mencoba untuk mencari deskripsi menurut beberapa ahli lain.
Variabel yang dibahas dalam penelitian ini antara lain :
Tabel 3.2. Definisi Operasional Variabel Faktor Pendorong dan Penarik
Variabel Sub Variabel Indikator
1. Motivasi Hal-hal yang mendorong masyarakat Surabaya untuk berwisata ala Backpacker dan Flashpacker.
Faktor Pendorong
− Escape
Masyarakat Surabaya ingin melepaskan diri dari pekerjaan/rutinitas sehari-hari.
Saya ingin melepaskan diri sejenak dari rutinitas sehari-hari (cth: kerja, sekolah).
Saya ingin menikmati waktu sendirian dengan cara berwisata (me time).
− Relaxation
Masyarakat Surabaya ingin bersantai dan melakukan penyegaran.
Saya ingin mencari suasana yang berbeda di luar Surabaya.
Saya ingin bersantai secara fisik dan pikiran dengan cara berwisata.
Tabel 3.2. Definisi Operasional Variabel Faktor Pendorong dan Penarik (Sambungan)
25
Universitas Kristen Petra
− Play
Masyarakat Surabaya ingin menikmati berbagai permainan dan merasakan kegembiraan.
Saya ingin mencoba wahana permainan di destinasi wisata.
Saya ingin mencoba permainan tradisional di destinasi wisata.
− Strengthening family bonds
Masyarakat Surabaya ingin mempererat hubungan dengan keluarganya dengan cara berwisata
Saya ingin menikmati quality time dengan keluarga saya.
Saya ingin mewujudkan keinginan orang tua saya (cth: pergi bersama mereka umroh, pergi bersama ke tempat wisata yang sudah lama diimpikan).
− Prestige
Masyarakat Surabaya ingin diakui dan diterima oleh orang lain
Saya ingin orang lain tahu tentang perjalanan wisata saya melalui social media.
Saya ingin dikenal orang sebagai seorang
backpacker/flashpacker.
Saya ingin berkunjung ke tempat yang pernah dikunjungi oleh teman saya.
Saya ingin berkunjung ke tempat wisata yang sedang menjadi tren saat ini.
Tabel 3.2. Definisi Operasional Variabel Faktor Pendorong dan Penarik (Sambungan)
26
Universitas Kristen Petra
Saya ingin mencoba alat- alat khusus traveling (cth:
ransel, pakaian quick-dry, sleeping bag) yang sudah saya beli sebelumnya.
− Social interaction Masyarakat Surabaya ingin berinteraksi dengan orang baru dan masyarakat lokal.
Saya ingin berinteraksi dengan masyarakat lokal di sekitar destinasi wisata.
Saya ingin mendapatkan teman baru selama perjalanan (memperluas networking).
− Romance
Masyarakat Surabaya ingin menghabiskan waktu dengan orang yang bisa memberikan suasana romantis.
Saya ingin memperbaiki hubungan / berbulan madu dengan pasangan saya.
− Educational opportunity
Masyarakat Surabaya ingin mendapatkan pengetahuan dan pengalaman baru selama berwisata.
Saya ingin belajar bahasa lokal daerah tempat wisata yang saya kunjungi.
Saya ingin mencicipi kuliner khas tempat wisata yang saya kunjungi.
Saya ingin mempelajari sejarah tempat wisata yang saya kunjungi.
Tabel 3.2. Definisi Operasional Variabel Faktor Pendorong dan Penarik (Sambungan)
27
Universitas Kristen Petra
Saya ingin mengetahui perkembangan tempat wisata yang pernah saya kunjungi.
− Self-fulfilment
Masyarakat Surabaya ingin menemukan diri sendiri di lingkungan yang baru.
Saya ingin menemukan jadi diri saya dengan cara berwisata.
− Wish-fulfilment Masyarakat Surabaya ingin merealisasikan mimpi yang telah lama diimpikan
Saya ingin pergi ke tempat wisata yang sudah lama saya impikan.
Faktor Penarik
− Positive image Tempat wisata yang dituju mempunyai citra yang positif bagi masyarakat Surabaya
Destinasi wisata yang akan saya kunjungi memiliki nilai budaya yang menarik untuk dikunjungi.
Destinasi wisata yang akan saya kunjungi memiliki nilai sejarah yang menarik untuk dikunjungi.
Masyarakat disekitar destinasi wisata ramah kepada wisatawan.
Destinasi wisata yang akan saya kunjungi biaya
hidupnya terjangkau.
Tabel 3.2. Definisi Operasional Variabel Faktor Pendorong dan Penarik (Sambungan)
28
Universitas Kristen Petra
− Safety Keamanan
masyarakat Surabaya selama menuju dan berada di tempat wisata.
Destinasi wisata yang akan saya tuju aman.
− Attraction
Atraksi wisata yang banyak dituju
masyarakat Surabaya selama berwisata.
Destinasi wisata yang akan saya kunjungi terkenal dengan keindahan alamnya.
Destinasi wisata yang akan saya kunjungi memiliki peninggalan sejarah yang menarik.
Destinasi wisata yang akan saya kunjungi terkenal dengan wisata belanja.
Destinasi wisata yang akan saya kunjungi mengadakan event tertentu (cth: konser musik, festival)
− Climate
Iklim tujuan wisata yang tidak sama dengan di Surabaya.
Destinasi wisata yang akan saya kunjungi memiliki iklim yang berbeda dengan Surabaya.
Sumber : Olahan penulis (2017)
3.5. Teknik Analisa Data
Dalam melakukan analisa data, peneliti akan menggunakan program SPSS Versi 19 untuk mengolah data-data yang didapat.
3.5.1. Uji Validitas dan Reliabilitas
29
Universitas Kristen Petra
Dalam penelitian ini, data mempunyai kedudukan yang paling tinggi, karena data merupakan penggambaran variabel yang diteliti dan berfungsi sebagai alat pembuktian hipotesis. Benar tidaknya data sangat menentukan bermutu tidaknya instrumen pengumpulan data. Pengujian instrumen biasanya terdiri dari uji validitas dan reliabilitas.
Validitas dan reliabilitas adalah dua hal yang berbeda namun memiliki konsep yang berhubungan (Sekaran 1994). Suatu instrumen dikatakan valid jika instrumen tersebut dapat mengukur apa yang seharusnya diukur dan dikatakan reliable jika konsisten dan stabil (Sekaran, 1994).
Pengukuran validitas dan reliabilitas mutlak dilakukan, karena jika instrumen yang digunakan sudah tidak valid dan reliable maka dipastikan hasil penelitiannya pun tidak akan valid dan reliabel. Sugiyono (2008) menjelaskan perbedaan antara penelitian yang valid dan reliable dengan instrumen yang valid dan reliable adalah bahwa penelitian yang valid artinya bila terdapat kesamaan antara data yang terkumpul dengan data yang sesungguhnya terjadi pada objek yang diteliti.
Uji validitas adalah tingkat sah dan validnya alat ukur yang digunakan.
Instrumen dikatakan valid berarti menunjukkan alat ukur yang dipergunakan untuk mendapatkan data valid itu atau dapat dipergunakan untuk mengukur apa yang hendak diukur (Sugiyono, 2003). Dengan demikian, instrumen yang valid merupakan instrumen yang benar-benar tepat untuk mengukur apa yang hendak diukur. Uji validitas digunakan untuk mengukur sah atau valid tidaknya suatu kuesioner. Suatu kuesioner dikatakan valid jika pertanyaan pada kuesioner mampu untuk mengungkapkan sesuatu yang akan diukur oleh kuesioner tersebut.
Pengukuran validitas dapat dilakukan dengan 3 cara yaitu :
a. Melakukan korelasi antar skor butir pertannyaan dengan total skor konstruk atau variabel.
b. Melakukan korelasi bivariate antara masing-masing skor indikator dengan total skor konstruk.
c. Uji dengan Confirmatory Factor Analysis (CFA).
Dalam penelitian ini, uji validitas dilakukan dengan melihat hasil corrected item total correlation menggunakan SPSS 19. Masrun (1979)
30
Universitas Kristen Petra
menyatakan bahwa bilamana koefisien korelasi antara skor suatu indikator dengan skor total seluruh indikator positif dan lebih besar 0.3 (r>0.3), maka instrumen tersebut dianggap valid. Serupa dengan teori Masrun (1979), Azwar (1999) menyatakan bahwa semua item yang mencapai koefisien korelasi minimal 0,30 daya pembedanya dianggap memuaskan dan dikatakan valid.
Reliabilitas sebenarnya adalah alat untuk mengukur suatu kuesioner yang merupakan indikator dari variabel atau konstruk. Suatu kuesioner dikatakan reliabel atau handal jika jawaban seseorang terhadap pertanyaan adalah konsisten atau stabil dari waktu ke waktu.
Uji reliabilitas berguna untuk menetapkan apakah instrumen yang dalam hal ini kuesioner dapat digunakan lebih dari satu kali, paling tidak oleh responden yang sama akan menghasilkan data yang konsisten. Dengan kata lain, reliabilitas instrumen mencirikan tingkat konsistensi. Nilai koefisien reliabilitas dianggap reliable atau dapat diandalkan jika mempunyai nilai aplha lebih dari 0.6.
Pengukuran reliabilitas dapat dilakukan dengan dua cara yaitu :
a. Repeated Measure atau pengukuran ulang. Disini seseorang akan disodori pertanyaan yang sama pada waktu yang berbeda, dan kemudian dilihat apakah ia tetap konsisten dengan jawabannya.
b. One Shot atau pengukuran sekali saja. Disini pengukurannya hanya sekali dan kemudian hasilnya dibandingkan dengan pertanyaan lain atau mengukur korelasi antar jawaban pertanyaan.
3.5.2. Analisis Statistik Deskriptif
Analisis statistik deskriptif adalah suatu cara menggambarkan persoalan yang berdasarkan data yang dimiliki yakni dengan cara menata data tersebut sedemikiran rupa sehingga dengan mudah dapat dipahami tentang karakteristik data, dijelaskan dan berguna untuk keperluan selanjutnya. Adapun kriteria yang digunakan untuk mengkategorikan responden tentang variabel penelitian dilakukan sebagai berikut :
Kuesioner bagian 2 menentukan responden termasuk ke dalam kelompok backpacker atau flashpacker. Pernyataan 1-4 adalah pernyataan yang mencirikan karakteristik backpacker, sedangkan pernyataan 5-8 mencirikan karakteristik
31
Universitas Kristen Petra
seorang flashpacker. Jika responden lebih banyak menjawab ‘ya’ pada bagian karakteristik backpacker maka responden merupakan backpacker. Jika responden lebih banyak menjawab ya pada kategori flashpacker maka responden merupakan flashpacker.
Untuk menghitung kuesioner di bagian 3, penulis menggunakan kriteria sebagai berikut:
1 = Sangat tidak setuju 2 = Tidak setuju 3 = Netral 4 = Setuju 5 = Sangat setuju
Dengan demikian untuk melakukan kategori persepsi responden digunakan interval sebagai berikut :
Tabel 3.3. Interval Kategori Jawaban Responden.
Interval Kategori 1.00 – 1.80 Sangat Tidak Setuju 1.81 – 2.60 Tidak Setuju 2.61 – 3.40 Netral 3.41 – 4.20 Setuju 4.20 – 5.00 Sangat Setuju
Sumber : Olahan penulis.
Apabila nilai rata-rata yang diperoleh 1.00 – 1.80, berarti responden sangat tidak setuju dan sangat tidak termotivasi untuk berwisata ala backpacker dan flashpacker yang terdapat pada indikator terkait. Jika rata-rata nilai berada pada interval 1.81 – 2.60, berarti responden tidak setuju dan tidak termotivasi untuk
32
Universitas Kristen Petra
berwisata ala backpacker dan flashpacker berdasarkan indikator terkait. Jika rata- rata nilai berada pada interval 2.61 – 3.40, berarti responden kadang-kadang setuju dan cukup termotivasi untuk berwisata ala backpacker dan flashpacker berdasarkan pada indikator terkait. Jika rata-rata nilai berada pada interval 3.41 – 4.20, berarti responden setuju dan termotivasi untuk berwisata ala backpacker dan flashpacker berdasarkan pada indikator terkait. Jika rata-rata nilai berada pada interval 4.21 – 5.00, berarti responden sangat setuju dan sangat termotivasi untuk berwisata ala backpacker dan flashpacker berdasarkan pada indikator terkait.
3.5.2.1. Distribusi Frekuensi
Distribusi frekuensi adalah tabel yang menjelaskan variabel jawaban responden. Variasi jawaban responden ini berdasarkan butir-butir pertanyaan yang membahas masalah penelitian yang ada dalam kuesioner (Kuncoro, 2003). Tabel distribusi frekuensi ini akan menjelaskan profil responden serta jumlah backpacker dan flashpacker.
3.5.2.2. Rata-rata Hitung (Mean)
Mean adalah nilai rata-rata dari beberapa buah data. Nilai mean dapat ditentukan dengan membagi jumlah data dengan banyaknya data. Mean merupakan suatu ukuran pemusatan data. Mean suatu data juga merupakan statistik karena mampu menggambarkan bahwa data tersebut berada pada kisaran mean data tersebut. Mean atau rata-rata dinyatakan sebagai berikut.
Keterangan :
X= rata-rata (mean) n= jumlah data
Untuk menentukan klasifikasi penelitian terhadap variabel-variabel penelitian, baik ditinjau dari indikator pengukuran maupun sampel penelitian, dilakukan berdasarkan interval kelas dengan formula sebagai berikut :
33
Universitas Kristen Petra
3.5.3. Analisa Faktor
Analisa faktor merupakan teknik analisa multivariasi yang digunakan untuk menguji hubungan saling tergantung. Selain itu analisis ini digunakan untuk menghindari adanya multikolinearitas yang berlebihan serta untuk meringkas variabel-variabel ke dalam faktor yang tidak saling berkorelasi. Terdapat dua fungsi penggunaan teknik analisis faktor, yaitu :
a. Mengidentifikasikan seperangkat dimensi-dimensi yang terpendam (tidak secara mudah diamati) dalam sekumpulan variabel yang banyak.
b. Mengidentifikasi variabel-variabel yang tepat untuk analisis lebih lanjut (regresi korelasi atau analisis diskriminan).
Proses analisa faktor mencoba menemukan hubungan antara sejumlah variabel-variabel sehingga dapat dibuat satu atau beberapa kumpulan variabel yang lebih sedikit dari jumlah variabel awal (Santoso, 2008). Tujuan utama analisa faktor adalah untuk menjelaskan struktur hubungan antara banyak variabel dalam bentuk faktor atau variabel laten atau variabel bentukan. Dengan analisis faktor. Peneliti mengidentifikasi dimensi suatu struktur dan kemudian menentukan sampai seberapa jauh setiap variabel dapat dijelaskan oleh setiap dimensi. Begitu dimensi dan penjelasan setiap variabel diketahui, maka dua tujuan utama analisis faktor dapat dilakukan yaitu data summarization dan data reduction.
Dalam analisis faktor tidak ada variabel dependen dan indpenden. Proses analisis faktor sendiri mencoba menemukan hubungan (interrelationship) antar sejumlah variabel-variabel yang saling dependen dengan yang lain, sehingga bisa dibuat satu atau beberapa kumpulan variabel yang lebih sedikit dari jumlah awal.
Contohnya ada 8 variabel yang bersifat idependen satu dengan yang lain. Dengan analisis faktor, 8 variabel tersebut mungkin bisa diringkas menjadi 3 kumpulan variabel baru. Kumpulan variabel tersebut disebut dengan factor, dimana factor tetap mencerminkan variabel-variabel aslinya (Kusnendi, 2008). Tahapan untuk melakukan analisa faktor adalah sebagai berikut:
1. Pembuatan Matrik Korelasi
34
Universitas Kristen Petra
Pembentukan analisa dilakukan berdasarkan matrik korelasi atau variabel.
Agar analisa faktor dapat dilakukan, maka variabel-variabel tersebut harus berkorelasi satu sama lain untuk menentukan ada tidaknya korelasi antar variabel. Untuk mengukur tingkat interkorelasi antar variabeldan dapat tidaknya dilakukan analisa faktor digunakan besaran Kaiser Meyer Oklin Measure of Sampling Adequacy (KMO-MSA). Makin kecil KMO maka korelasi antar pasangan variabel tidak dapat dijelaskan satu sama lain dan analisa faktor dianggap tidak tepat. Agar analisa dianggap layak dan dapat diterima, besaran KMO-MSA minimal atau lebih besar dari 0,5.
2. Menentukan Pendekatan yang Digunakan dalam Analisis
Analisa faktor menggunakan pendekatan komponen utama (principal component analysis) yang mempertimbangkan variabel total dari data yang diamati. Tujuan analisis adalah mengetahui faktor pendorong dan penarik masyarakat Surabaya dalam berwisata ala backpacker dan flashpacker.
Untuk meringkas informasi yang terkandung dalam variabel asal, sejumlah faktor yang disaring ini ditentukan oleh eigen value dari faktor tersebut.
Faktor yang memiliki eigen value lebih besar dari 1 dipertahankan dalam model. Besaran eigen value menerangkan besarnya bagian variasi yang disumbang oleh faktor tersebut dari keseluruhan nilai variasi yang diamati.
3. Menentukan Rotasi Matrik Faktor
Tujuan rotasi faktor adalah untuk memperjelas variabel yang masuk dalam faktor tertentu. Rotasi faktor merupakan suatu upaya menghasilkan faktor penimbang baru yang lebih mudah untuk diiterpretasikan dengan cara mengalikan faktor penimbang awal dengan suatu matriks transformasi yang bersifat orthogonal, yaitu memutar sumbu 90 derajat. Prosesnya menggunakan varimax yang terbukti sangat berhasil sebagai pendekatan analitik untuk mendapatkan rotasi orthogonal suatu faktor (Ghozali 254).
Varimax merupakan metode rotasi orthogonal untuk meminimalisasi jumlah indikator yang mempunyai factor loading tinggi pada tiap faktor.
4. Membuat Tabel Componennt Transformation Matrix
Tabel component transformation matrix menunjukkan besarnya korelasi antar komponen atau faktor baru yang terbentuk. Syaratnya nilai korelasi
35
Universitas Kristen Petra
yang berada pada garis diagonal menunjukkan disekitar angka 0,5 sehingga dikatakan bahwa komponen faktor yang terbentuk sudah cukup tepat atau dapat diandalkan. Nilai terbesar pada garis diagonal juga mengindikasikan faktor yang paling dominan dari suatu variabel.
3.5.4. Analisis Cluster
Analisis cluster adalah suatu analisis statistik yang bertujuan memisahkan objek ke dalam kelompok yang mempunyai siifat berbeda antar kelompok yang satu dengan yang lain. Dalam analisis ini tiap-tiap kelompok bersifat homogen antar anggota dalam kelompok atau variasi objek dalam kelompok yang terbentuk sekecil mungkin. Tujuan utama analisis cluster menggabungkan objek-objek yang mempunyai kesamaan kedalam sebuah kelompok atau cluster. Analisis cluster dilakukan untuk mengelompokkan responden berdasarkan penilaiannya terhadap variabel faktor pendorong dan penarik backpacker dan flashpacker.
Pengelompokan ini digunakan untuk membentuk segmentasi responden yang kemudian akan dilihat segmen atau target yang perlu diperhatikan profil dan harapannya (Santoso, 2008).