• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pentingnya Sejarah dalam Pendidikan

N/A
N/A
Amirah Fathan

Academic year: 2024

Membagikan "Pentingnya Sejarah dalam Pendidikan"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

PENDAHULUAN

Menurut Khakim, (2016:15) Sejarah pernah menjadi bagian dari sastra.Sejarah merupakan jenis dari sastra non-imajinatif.Sastra non-imajinatif dapat diartikan sebagai karya yang tidak berasal dari khayalan semata dan didasarkan pada data-data real yang ilmiah. Karya tulis jenis ini mengambil informasi dari sumber terpercaya, lalu mengemasnya dalam tulisan estetis agar lebih menarik dan menggugah pembacanya.Sejarah merupakan uraian dari peristiwa atau kejadian yang benar benar(real)terjadi dimasa masa lampau.

Sejarah merupakan hal yang penting.Melalui peristiwa yang sudah terjadi di masa lampau dapat memudahkan kita untuk menangani masalah masalah yang mungkin akan muncul dimasa depan dan juga sebagai sarana menambah pengalaman.Menurut Daliman (2015:4) menyatakan, dengan belajar sejarah akan memungkinkan seseorang untuk dapat memandang sesuatu secara keseluruhan. Sejarah juga memiliki peranan penting untuk pembentukan identitas dan kepribadian bangsa. Dengan mempelajari sejarah kita akan mampu menghindari berbagai kesalahan dan kekurangan masyarakat masa lalu untuk kemudian memperbaiki masa depan.Seiring perkembangan teknologi,sejarah tercurah dalam bentuk karya sastra sejarah,berupa puisi,cerpen maupun novel.

Masyarakat pada umumnya tertarik pada karya sastra dalam bentuk novel.Menurut Nurgiyantoro (2005:4) ,Novel dapat diartikan sebagai sebuah karya fiksi yang menawarkan sebuah dunia yang berisi model kehidupan yang ideal, imajinatif, yang dibangun melalui unsur unsur intrinsiknya, seperti peristiwa, plot, cerita, penokohan, tema, latar, sudut pandang penceritaan bahasa atau gaya bahasa yang kesemuanya tentu bersifat naratif.Novel sejarah,dinamakan demikian karena memang di dalam karya tersebut banyak terkandung unsur unsur sejarah.Kali ini kita dihadapkan dengan karya sastra sejarah dalam bentuk novel yaitu Novel Pulang karya Tere Liye.Novel ini mengandung unsur sejarah.

Fakta sejarah yang dijadikan sebagai bahan penulisan karya ini mengandung tiga alasan.Pertama, mencoba menerjemahkan peristiwa sejarah itu ke dalam bahasa imajiner dengan maksud untuk memahami peristiwa sejarah menurut kadar kemampuan pengarang.Kedua, karya sastra dapat menjadi sarana bagi pengarangnya untuk menyampaikan pikiran, perasaan, dan tanggapan mengenai suatu peristiwa sejarah.

Ketiga, seperti juga karya sejarah, karya sastra dapat merupakan penciptaan kembali sebuah peristiwa sejarah sesuai dengan pengetahuan dan daya imajinasi pengarang (Kuntowijoyo, 1987:127).

Pada kesempatan ini akan coba mengutip unsur unsur sejarah yang tersirat pada Novel Pulang Karya Tere Liye.Unsur-unsur sejarah tersebut meliputi peristiwa sejarah,tokoh-tokoh sejarah,lokasi terjadi peristiwa sejarah,penyebab terjadinya sejarah dan proses terjadinya sejarah.Sejarah biasanya berisi penggambaran objek,pikiran,kejadian maupun hubungan hubungan.Begitu juga karya sastra dalam bentuk novel tidak jauh beda dengan sejarah.Sebuah novel juga mengungkapkan berupa hal hal gambaran koheren, yang dapat dipahami dan dapat dibayangkan oleh pembaca.Karya sastra tidak tunduk kepada metode-metode tertentu.Karya sastra seperti kata Henry James, mempunyai sedikit saja pembatasan tetapi mempunyai

(2)

kesempatan yang tak terhitung jumlahnya.Bagi pengarang sastra satu-satunya kaidah adalah kejujuran,seorang novelis harus belajar untuk bertanggungjawab sehingga dirinya berharga di dalam kebebasan itu (James, 1951:417).

Sastra dan sejarah memiliki hubungan timbal balik dan saling berkaitan.Menurut Roesmiati (2016:33) hubungan sastra dan sejarah dapat dikategorikan menjadi tiga kategori. 1) Karya sastra yang merekonstruksi sejarah berdasarkan sumber sumber yang tepercaya dan bisa dipertanggung jawabkan.Disini,sastra sejarah mencapai titik temu,yaitu keduanya adalah naratif baik tokoh maupun latarnya.Meskipun karya sastra pada dasarnya subjektif,novel sejarah dalam kategori ini sedikit banyak bertendensi objektif dalam arti sejauh mungkin berdasarkan fakta; 2) Karya sastra yang merekam sekaligus menanggapi suatu peristiwa sejarah.Dalam batas tertentu,karya sastra tersebut merupakan bagian dari peristiwa sejarah itu sendiri.

Menurut Mahaya (2005:361) jika karya satra itu lebih banyak mengangkat fakta sejarah,tidak sedikit pula masyarakat yang memperlakukannya sebagai karya sejarah.Suatu sejarah dapat digambarkan penulis dalam bentuk karya sastra.Misalnya tempat-tempat sejarah,nama tokoh sejarah, dan peristiwa sejarah dapat digambarkan penulis dalam bentuk novel, cerpen, bahkan puisi.Begitupula dengan karya sastra juga dapat menjadi sumber untuk penulisan sejarah.Melalui novel kita dapat menambah pengetahuan tentang sosial dan budaya.Dengan demikian dapat kita lihat apakah benar bahwa ada keterkaitan antara peristiwa yang ada di novel dengan fakta yang ada pada literatur.

A. Novel

Dalam Kamus Besar Indoneisa (KBBI) novel adalah karangan prosa yang panjang dan mengandung rangkaian cerita tentang kehidupan seseorang dengan orang di sekelilingnya dengan menonjolkan watak dan sifat pelaku.Secara etimologis,novel yang berasal dari bahasa Italia “novella” memiliki arti

“baru”,“berita”,atau “cerita pendek mengenai suatu hal yang baru”.Sementara itu, susunan di dalam novel juga diatur karena di dalam novel harus mengandung unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik Unsur tersebut membuat novel menjadi salah satu karya sastra yang dapat dinikmati dan diambil manfaatnya oleh pembaca.

Novel dibangun berdasarkan masalah/konflik yang terjadi atau yang dihadapi oleh para tokoh yang ada didalam cerita tersebut.Sehingga novel dapat disebut sebagai karya sastra yang kompleks,itulah sebabnya kenapa novel lebih panjang dibandingkan karya sastra lainnya.

Novel merupakan salah satu media belajar.Melalui novel kita dapat mengetahui tentang sosial dan budaya suatu masyarakat.Dengan demikian sedikit banyaknya dapat kita lihat apakah benar bahwa ada kesinambungan fakta antara peristiwa yang ada pada novel dengan fakta yang ada pada literatur.Novel juga termasuk karya fiktif.

(3)

Editorial Padi (2013;45) novel adalah sebuah karya fiksi prosa yang tertulis dan naratif. Biasanya dalam bentuk cerita. Novel lebih panjang (setidaknya 40.000 kata) dan lebih kompleks dari cerpen, dan tidak dibatasi keterbatasan struktural dan metrikal sandiwara atau sajak. Umumnya, sebuah novel bercerita tentang tokoh-tokoh dan kelakukan mereka dalam kehidupan sehari-hari, dengan menitik beratkan pada sisi-sisi yang aneh dari naratif tersebut.

Menurut Alterbernd dan Lewis (1996:14) mengartikan fiksi sebagai prosa naratif yang bersifat imajinatif namun,biasanya masuk akal dan mengandung keberanian yang mendramatisasikan hubungan hubungan antar manusia.Fiksi menceritakan berbagai masalah kehidupan manusia dalam interaksinya dengan lingkungan dan sesama interaksinya dengan diri sendiri,serta interaksinya dengan Tuhan.Membaca sebuah karya fiksi berarti menikmati cerita menghibur diri untuk memperoleh kepuasan batin.Betapa syaratnya pengalaman dan permasalahan yang ditawarkan, sebuah karya fiksi haruslah tetap merupakan cerita yang menarik,tetap merupakan bangunan struktur yang koheren,dan tetap mempunyai tujuan estetik (Wellek & Warren, 1956:212).

Fiksi pertama-tama menyarankan pada prosanaratif,yang dalam hal ini adalah novel dan cerpen,bahkan kemudian fiksi sering dianggap bersinonim dengan novel (Abrams, 1981:

61).Kebenaran dalam dunia fiksi adalah kebenaran yang sesuai dengan keyakinan pengarang,keyakinan yang diyakini keabsahannya sesuai dengan pandangannya terhadap masalah hidup dan kehidupan.

Menurut Teeuw (1984:121) mengemukakan bahwa sastra memaparkan berbagai peristiwa yang masuk akal dan harus terjadi berdasarkan tuntutan konsistensi dan logika cerita. Wellek Warren (1989:278-9) mengemukakan bahwa realitas dalam karya fiksi merupakan ilusi kenyataan dan kesan yang meyakinkan yang ditampilkan,namun tidak selalu merupakan kenyataannya sehari-hari.Pembeda fiksi novel dan cerita pendek,perbedaan antara novel yang pertama dan yang terutama dapat dilihat dari segi formalitas bentuk,segi panjang,cerita sebuah cerita yang panjang ,katakanlah berjumlah ratusan halaman jelas tidak dapat disebut sebagai cerpen melainkan lebih tepat sebagai novel Novel lebih panjang (setidaknya 40.000 kata).

Tidak salah jika novel masuk kedalam salah satu jenis karya sastra karena karya sastra sendiri bersifat imajinatif, kreatif, dan fiktif sehingga mampu menarik perhatian khalayak,memberi nikmat dan perasaan menyenangkan bagi pembacanya melalui keindahan isi dan bentuk berupa penggunaan bahasa dan gaya bahasa yang memikat.

Novel memiliki unsur pembangun(unsur intrinsik)sebagai struktural novel. Untuk memahami keseluruhan makna sebuah novel harus dianalisis struktur pembentuknya sebagai suatu kesatuan yang utuh.Menurut Brooks dan Warren (dalam Tarigan, 2017:125) “Tema adalah dasar atau makna suatu cerita atau novel”.Dengan demikian, tema dapat dianggap sebagai dasar cerita atau gagasan dasar umum yang

(4)

menopang sebuah karya sastra.Tema menjadi salah satu unsur cerita rekaan yang memberikan kekuatan dan sekaligus sebagai unsur pemersatu semua fakta dan sarana cerita yang mengungkapkan permasalahan kehidupan.Aminuddin (2015:91) menyatakan bahwa“Tema adalah ide yang mendasari suatu cerita sehingga berperan juga sebagai pangkal tolak pengarang dalam memaparkan karya fiksi (novel) yang diciptakannya.

Stanton (dalam Wahyuningtyas dan Santosa, 2011:5) menyatakan bahwa,“Alur adalah cerita yang berisi urutan kejadian, namun tiap kejadian itu hanya dihubungkan secara sebab akibat, peristiwa yang satu disebabkan terjadinya peristiwa lain.”Sedangkan Aminuddin (2015:83) menyatakan bahwa,“Alur adalah rangkaian cerita yang dibentuk oleh tahapan-tahapan peristiwa sehingga menjalin suatu cerita yang dihadirkan oleh para pelaku dalam suatu cerita.”Tahapan peristiwa yang menjalin suatu cerita bisa terbentuk dalam rangkaian peristiwa yang berbagai macam. Sejalan dengan itu, Brooks (dalam Tarigan, 2017:126) menyatakan bahwa,“Alur atau plot adalah struktur gerak yang terdapat dalam fiksi”.Thobroni (2013:150) menyatakan bahwa,“Alur adalah jalan cerita.”Alur (plot) memiliki tahapan-tahapan.

Novel juga memiliki jenis,berdasarkan genre seperti genre romantis, fantasi, misteri, horror, sejarah, komedi, Islami dan lainnya.Sedangkan berdasarkan nyata dan tidak nyata yaitu novel fiksi dan novel non- fiksi.

B. Karya Sastra

Secara umum sastra dapat diartikan sebagai hasil ciptaan manusia yang lahir dari imajinatif ataupun pengalaman sipengarang kemudian dikomunikasikan dengan kandungan pesan yang relevan.Menurut Bahtiar (2017:2) Penulis menciptakan tulisan yang indah untuk mengungkapkan ide atau fantasinya.Karya sastra sebagai wadah pengungkapan gagasan kehidupan atau makna nilai,yang pada akhirnya bermuara pada pemenuhan batin.

Menurut Ali Imron dan Farida, (2017:4) menyatakan karya sastra adalah suatu hasil karya seni baik lisan maupun tertulis yang lazim menggunakan bahasa sebagai mediumnya dan memberikan gambaran tentang kehidupan dengan segala kompleksitas, problema, dan keunikannya baik tentang cita-cita, keinginan dan harapan, kekuasaan, pengabdian, makna dan tujuan hidup, perjuangan, eksistensi, dan ambisi manusia, juga cinta, benci, iri hati, tragedi dan kematian, serta hal-hal yang bersifat transedental dalam kehidupan manusia.

Karya sastra terwujud karena adanya keinginan pengarang untuk mengungkapkan presensinya yang berisi ide,gagasan,pendapat,dan pesan tertentu yang diilhami dari imajinasi,pengalaman serta realitas sosial pengarang dan menggunakan media untuk menyampaikannya. Karya sastra merupakan fenomena sosial budaya yang melibatkan kreativitas manusia. Karya sastra lahir dari pengekpresian endapan pengalaman yang telah ada dalam jiwa pengarang secara mendalam melalui proses imajinasi.

(5)

Waluyo (2002:680) berpendapat bahwa karya sastra hadir sebagai wujud nyata imajinatif kreatif dari seorang sastrawan dengan proses yang beda antar pengarang yang lain, terutama dalam penciptaan cerita fiksi.Proses tersebut bersifat individualis artinya cara yang digunakan tiap tiap pengarang dapat berbeda.

Sastra diartikan oleh Endraswara (2012 :8) sebagai filsafat hidup yang indah. Pengertian tersebut sejalan dengan Sehandi (2014 :2) yang menganggap sastra sebagai: (1) karya fiksi yang memiliki sifat imajinatif; (2) suatu karya dengan bahasa yang indah dan berguna untuk menandakan hal-hal lain; dan (3) teks-teks yang bahasanya dibuat pengarang dengan manipulatif sehingga mampu menghasilkan efek lain yang asing (deotomatisasi).

Karya sastra memuat problema problema kehidupan, kesusastraan membuka peluang bagi representasi dunia,manusia memberi peluang untuk terjadinya percakapan percakapan(world of discourses) (Hassan, 1988: 58).Dengan demikian apabila seseorang dihadapkan dengan karya sastra,maka akan menemukan problema problema.Promblema tersebut akan dapat ditemukan bila pembaca membaca dengan baik.

Rene Wellek dan Warren, (1990 :37-34) mengatakan dalam wilayah sastra perlu terlebih dahulu ditarik perbedaan antara sastra disatu pihak dengan teori sastra, kritik sastra, dan sejarah sastra.Sastra adalah kegiatan kreatif dengan begitu kita dapat mengartikan karya sastra adalah sebuah hasil dari kreatifitas.Karya sastra sebagai gambaran kehidupan masyarakat yang dapat dinikmati,dipahami atau dapat menjadi acuan hidup dan dapat dimanfaatkan oleh masyarakat. Wicaksono, (2018 :2-3) menyatakan bahwa karya sastra menampilkan gambaran kehidupan dan kehidupan itu sendiri adalah suatu kenyataan sosial.

Karya sastra adalah hasil dari pengekpresian sastrawan berupa karya tulis atau lisan berdasarkan pemikiran,pendapat,pengalaman hingga ke perasaan dalam bentuk imajinatif cerminan kenyataan atau data asli yang dibalut dalam kemasan estetis melalui media bahasa.Sumarjo dana Saini (1997 : 3) Sastra adalah ungkapan pribadi manusia yang berupa pengalaman,pemikiran,perasaan,ide,semangat,keyakinan dalam suatu bentuk gambaran konkret yang membangkitkan pesona dengan alat Bahasa.

Buku Padi Editor (2013:3) jenis wujud sastra dilihat dari bentuknya,sastra terdiri atas empat bentuk,yaitu:

a. Prosa, bentuk sastra yang diuraikan menggunakan Bahasa bebas dan panjang tidak bergantung oleh aturan aturan seperti dalam puisi

b. Puisi, bentuk sastra yang diuraikan dengan menggunakan Bahasa yang singkat dan padat serta indah.Untuk puisi lama,selalu terikat oleh kaidah atau aturan aturan tertentu,yaitu:

1. Jumlah baris tiap tiap baitnya

2. Jumlah kata atau suku kata dalam tiap tiap kalimat atau barisnya.

3. Irama

4. Persamaan bunyi kata

(6)

c. Prosa liris,bentuk sastra yang disajikan seperti bentuk puisi namun menggunakan Bahasa yang bebas terurai seperti pada prosa.

d. Drama, yaitu bentuk yang dituliskan dengan menggunakan Bahasa yang bebas dan panjang,serta disajikan menggunakan dialog atau monolog.Drama ada dua pengertian,yaitu drama dalam bentuk naskah dan drama yang dipentaskan.

Jenis lain dari sastra berdasarkan kenyataan data yang disusun yaitu sastra non-imajinatif dan sastra imajinatif.Kategori ini mengambil data real berupa berita atau sejarah,lalu dikemas dalam tulisan estetis agar lebih menarik bagi pembaca.Sementara itu,meskipun karya tulisan adalahh fiksi,ia tetap mencerminkan kenyatan.Saryono (2009:18) bahwa sastra mempunyai kemampuan untuk merekam pengalaman yang empiris-natural maupun pengalaman yang nonempiris-supernatural.

Adapun jenis-jenis karya sastra menurut Sumatdjo & Sini (1997:18) yaitu sastra imajinatif dan sastra non-imajinatif.Sastra imajinatif terbagi menjadi dua kategori yaitu puisi,prosa dan drama.Prosa fiksi dapat dibadi menjadi beberapa jenis seperti novel,cerita pendek(cerpen) dan novelet.

Sastra non-imajinatif adalah karya yang tidak berasal dari khayalan semata dan didasari data data real yang ilmiah.Karya tulis ini mengambil informasi dari sumber terpercaya.Beberapa contohnya adalah esai,biografi,kritik,otobiografi,sejarah,memoir,catatan harian,surat surat dan lainnya.

Sastra sendiri memiliki fungsi yang beragam bagi kehidupan manusia.Berdasarkan ungkapan Amir (2013) bahwa beberapa sastra memilki fungsi yaitu hiburan,Pendidikan,keindahan,moral dan religion.Karya sastra ini tidak hanya memberikan perasaan bahagia kepada pembacanya melainkan juga memberikan pendidikan melalu nilai nilai ekstrinsik yang terkandung didalamnya.

Ada beberapa poin yang menjadi ciri ciri dari karya sastra.Karya sastar biasa nya memperhatikan pemilihan diksi yang tertata baik, dan indah.Tujuannya bacaan tidak terkesan monoton dan datar.Memuat isi yang penuh dengan persoalan, namun mengandung kesan atau pesan-pesan yang menarik dan bermanfaat bagi pembaca.Karya sastra memiliki nilai sentimentil, atau menumbuhkan kesan bagi para pembacanya. Jika karya sastra tidak memiliki kesan, maka nilai karya sastra tidak akan terkenang dan dikenal oleh masyarakat.Karya sastra merupakan hasil karya, atau ciptaan yang dikreasikan. Sebagai bentuk ungkapan emosi yang bersifat spontan maupun di rencanakan oleh sastrawan.Karya sastra juga bersifat otonom, yaitu berupaya untuk mencari keselaran dalam berkomunikasi agar menemukan relevansi pemahaman Bersifat koherensi.Jadi pastikan apa yang ditulis antara bentuk dan isi harus saling berkesinambungan.Selain memudahkan pemahaman pembaca, juga ada hubungan yang bersifat sebab akibat.Karya sastra menyuguhkan unsur pertentangan.Dimana pertentangan inilah yang dijadikan sebagai daya tarik dari sebuah cerita.Pertentangan yang ditimbulkan inilah yang akan menimbulkan impresi dan emosi dari penikmatnya.Ciri yang terakhir,sastra mengungkapkan hal-hal yang belum pernah diungkapkan sebelumnya, sekaligus dapat mengungkapkan beragama sosial yang asing dan tabu.

(7)

C. Unsur Sejarah

Didalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2007 :1011) sejarah mengandung tiga pengertian, pertama sejarah adalah silsilah atau asal usul.Kedua sejarah adalah kejadian atau peristiwa yang benar benar terrjadi dimasalalu atau masa lampau;riwayat;tambo.Ketiga sejarah adalah pengetahuan atau uraian tentang peristiwa dan kejadian yang benar benar terjadi dimasa lampau.

Nilai-nilai sejarah bersifat memberikan pelajaran bagi para pembaca tentang peristiwa pada masa- masa tertentu yang telah terjadi agar dapat dijadikan pedoman dalam kehidupan masa kini dan pada masa yang akan datang. Dengan memuat nilai tersebut,maka dapat mengajarkan penikmat karya sastra dalam memahami nilai-nilai yang baik,luhur,pantas,benar dan indah dari sisi kesejarahan untuk menjalani kehidupan sosial bermasyarakat.Sejarah merupakan uraian dari peristiwa atau kejadian yang benar benar(real)terjadi dimasa masa lampau.Unsur-unsur sejarah meliputi peristiwa sejarah,tokoh-tokoh sejarah,lokasi terjadi peristiwa sejarah,penyebab terjadinya sejarah dan proses terjadinya sejarah.Sejarah biasanya berisi penggambaran objek,pikiran,kejadian maupun hubungan hubungan.Sejarah mengutip fakta yang memang terjadi pada masa lampau lalu dikemas dalam bentuk tulisan yang memaparkan bukti bukti untuk meyakinkan pembacanya.

Sejarah harus berdasarkan fakta yang berarti fakta sejarah.Ali (2005:37)menjelaskan bahwa sejarah bukan semata mata rangkaian fakta belaka,tetapi sejarah adalah sebuah cerita.Sejarah dapat dikemas dalam bentuk karya sastra salah satu nya adalah dalam bentuk novel.

Sjamjuddin (2007:9) mengemukakan bahwa umumnya fakta-fakta erat hubungannya dengan jawaban atas pertanyaan tentang apa,siapa,kapan dan dimana.Fakta-fakta menunjukkan benda-benda (things) yang benar-benar ada/peristiwa apa yang telah pernah terjadi pada masa lalu.Kegiatan masing- masing individu,tanggal-tanggal dari peristiwa-peristiwa,lokasi atau tempat-tempat kejadian,ukuran dari objek-objek semuanya adalah fakta.

Menurut Henry S.Lucas didalam buku kuntowijaya,dalam melihat kebenaran sejarah dalam sebuah novel,sejarah bisa dilihat dari segi keaslian sejarah (historical authenticity),kesetiaan sejarah (historical faithfulness) dan kesetiaan unsur lokal (authenticity of local colour).

Sejarah mengandung nilai nilai yang dapat diaplikasikan di kehidupan sehari hari dan menjadi cerminan diri..Menurut Lukacs (dalam Djokosujatno, 2000:15) novel sejarah merupakan cerminan masa kini dalam suatu masa lalu, atau suatu usaha untuk memahami/menampilkan masa kini melalui masa lalu, yang berarti bahwa tokoh sejarah dapat menduduki tokoh utama tetapi perwatakannya dan tampilanya dalam aksi disesuaikan dengan interpretasi pengarang.Sejarah adalah hasil masyarakat dan kebudayaan pada masa lampau.

(8)

Sejarah memiliki hubungan antara yang terjadi dimasa lampau dengan yang terjadi dimasa sekarang dan untuk mencapai kehidupan yang baik di masa yang akan datang.Sejarah merupakan modal untuk bertindak atau pun menyelesai kan sebuah persoalan dan menjadi acuan untuk masa yang akan datang.Dari sejarah kita dapat belajar untuk menangani masalah masalah yang mungkin akan muncul dimasa depan dan masalah masalah tersebut pernah terjadi di masa lampau sehingga kita dapat mengambil pelajaran atau pun pesan untuk referensi kehidupan.Menurut Daliman (2015:4) menyatakan, dengan belajar sejarah akan memungkinkan seseorang untuk dapat memandang sesuatu secara keseluruhan. Sejarah juga memiliki peranan penting untuk pembentukan identitas dan kepribadian bangsa. Dengan mempelajari sejarah kita akan mampu menghindari berbagai kesalahan dan kekurangan masyarakat masa lalu untuk kemudian memperbaiki masa depan.

Unsur-unsur sejarah meliputi peristiwa sejarah,tokoh-tokoh sejarah,lokasi terjadi peristiwa sejarah,penyebab terjadinya sejarah dan proses terjadinya sejarah.Sejarah biasanya berisi penggambaran objek,pikiran,kejadian maupun hubungan hubungan.

Untuk menelaah unsur sejarah dalam novel perlu dilakukan pendekatan sejarah. Pendekatan sejarah merupakan salah satu kaedah kritikan teks kesusastraan yang berpengaruh pada abad ke-19 dan awal abad ke-20.Pendekatan ini bersandarkan kepada idea Hippolyte Taine yang percaya kepada signifikan konteks sosial dan karya.Menurut Mana Sikana (1998:57), pendekatan ini berusaha mengapresiasi, menganalisis dan menilai karya kesusastraan dalam konteks aspek-aspek sejarah dan nilai estetikanya.Pendekatan sejarah tidak terlepas dari beberapa terminologi dibawah ini.

Terkait dengan sejarah, ada beberapa terminologi yang berkaitan dengan istilah ini.Terminologi tersebut antara lain:

1. Filsafat Sejarah.Yaitu sebuah studi filosofis tentang sejarah manusia dan berusaha untuk merekam dan menginterpretasikannya.

2. Historisity atau Historicality adalah terminologi yang digunakan dalam tradisi fenomenologi dan hermeneutika (mulai Dilthey, Husserl sampai Heidegger) untuk mengindikasikan sebuah tampilan yang esensial tentang eksistensi manusia.

3. Historisisme adalah sebuah doktrin yang menyatakan bahwa pengetahuan tentang manusia adalah sebuah karakter historis yang tidak bisa direduksi dan bahwa sebuah perspektif ahistoris tidak dapat digunakan untuk memahami komunitas Masyarakat.

4. Dan yang keterakhir Historisis.Metode ini dipakai dan diperkenalkan oleh Muhammad Arkoun. Dia mengatakan bahwa perspektif historisis adalah suatu uraian yang membatasi diri pada penetapan urutan kronologis dan realitas fakta-fakta apapun dalam kaitan dengan analisis teks.

Referensi

Dokumen terkait

Ilmu sejarah sebagai bagian dari ilmu sosial membutuhkan teori interaksionisme simbolik dalam mengungkap kebenaran peristiwa masa lampau. Teori tersebut memiliki

5 results Refleksi dan redefinisi itu sangat penting bagi keberlanjutan Pendidikan Sejarah, karena dari sanalah sumber eksistensi dirinya dalam dinamika ilmu pengetahuan dan

Peran penting spiritual ini bagi kehidupan manusia adalah pendidikan Islam harus didasarkan pada falsafah bahwa pendidikan adalah proses menuju kesempurnaan dengan

Masa perundagian memiliki peran penting dalam perkembangan sejarah di Indonesia, hal ini dikarenakan pada masa ini hubungan antar daerah-daerah di sekitar kepulauan

Semangat itu merupakan bagian penting yang menjiwai lahirnya UU Pendidikan Tinggi, yakni mengatur agar tidak terjadi komersialisasi pendidikan tinggi, menjamin hak akses

Pendidikan sejarah sebagai penguat pendidikan karakter juga dapat dilihat dari pendapat para pakar seperti yang di kemukakan oleh Sapriya 2012:209 Pendidikan sejarah memiliki cakupan

Mendeskripsikan contoh rancangan pembelajaran sejarah dengan menggunakan media audio visual yang bermuatan pendidikan karakter sebagai sarana pembelajaran sejarah untuk

Jawaban ketiga ini menyebabkan tujuan pendidikan sejarah tidak diarahkan untuk menguasai kompetensi atau kemampuan yang dianggap penting hanya oleh ilmu sejarah