• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penyelidikan dan Penyidikan

N/A
N/A
Asri Samosir

Academic year: 2025

Membagikan "Penyelidikan dan Penyidikan"

Copied!
22
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Penyelidikan Dan Penyidikan

Penyelidikan berarti seringkaian tindakan mencari dan menemukan sesuatu keadaan atau peristiwa yang berhubungan dengan kejahatan dan pelanggaran tindak pidana atau yang diduga sebagai tindak pidana. Pencarian dan usaha menemukan peristiwa yang diduga sebagai tindak pidana, bermaksud untuk menentukan sikap pejabat penyelidik, apakah peristiwa yang ditemukan dapat dilakukan “penyidikan” atau tidak sesuai dengan cara yang diatur oleh KUHAP (pasal 1 butir 5).

Dari penjelasan di atas, “penyelidikan” merupakan tindakan tahap pertama permulaan “Penyidikan” akan tetapi harus diingat, penyelidikan bukan tindakan yang berdiri sendiri terpisah dari fungsi “penyidikan”. Peneyelidikan merupakan bagian yang tak terpisa dari fungsi penyidikan. Kalau dipinjam kata-kata yang dipergunakan bukti petunjuk pedomen peksanaan KUHAP.1 Peneyelidikan

“merupakan salah satu cara atau metode atau sub dari pada fungsi penyidikan yang mendahului tindakan lain, yaitu tindakan yang berupa penangkapan, penahanan, penggeledahan, penyitaan, pemeriksaan surat, pemanggilan, tindakan pemeriksaan, dan penyerahan berkas kepada penuntut umum”. Jadi, sebelum dilakukan tindakan penyidikan, dilakukan dulu penyelidikan oleh pejabat

1M. Yahya Harahap, Pembahasan Dan Permasalahan Dan Penerapan KUHAP (Penyidikan Dan Penuntutan) Sinar Grafika, Jakarta, 2002, hlm. 101-102

(2)

peyelidik, dengan maksud dan tujuan untuk mengumpulkan “bukti permulaan”

atau “bukti yang cukup” agar dapat dilakukan tindak lanjut penyidikan barangkali penyelidikan dapat disamakan dengan pengertian “tindakan pengusutan” sebagai usaha mencari dan menemukan jejek berupa keterangan dan bukti-bukti sesuatu peristiwa yang diduga tindak pidana. Sebelum KUHAP berlaku, terhadap pengertian penyelidikan, dipergunakan perkataan opsporning atau orderzoek, dan dalam peristilahan inggris dan infestigation2akan tetapi pada masa HIR pengertian penyidikan atau pengusutan selalu dipergunakan secara kacau. Tidak jelas batas fungi pengusutan (opsporning) dengan penyidikan.

Sehingga menimbulkan ketidak jelasan pengertian dan penindakan. M. Yahya Harahap mejelaskan bahwa penegasan pengertian ini sekarang sangat berguna demi untuk kejernihan fungsi pelaksanaan penegakan hukum. Dengan penegasan dan pembedaan antara penyelidikan dan penyidikan:

1. Telah tercipta penahapan tindakan guna menghindarkan cara-cara penegakan hukum yang tergesa-gesa seperti yang di jumpai pada masa- masa yang lalu. Akibat dari cara penindasan yang tergesa-gesa, dapat menimbulkan sikap dan tingka lakuh aparat penyidik kepolisian sering tergelincir kearah mempermuda dan menganggap sepeleh nasip seseorang yang diperiksa.

2. Dengan adanya tahap penyelidikan, diharap tumbuh sikap hati-hati dan rasa tanggung jawab hukum yang lebih bersifat manusiawi dalam

2R. Soesilo, Taktik dan Teknik Penyidikan Perkara Kriminal; Politca Bogor, 1989, hlm. 13.

(3)

melaksanakan tugas penegakan hukum. Menghindari cara-cara yang menjurus pada pengutamaan pemerasan pengakuan dari pada menemukan keterangan dan bukti-bukti. Apalagi jika pengertian dan tujuan penahapan pelaksanaan fungsi penyelidikan dan penyidikan dihubungkan dengan ketentuan pada Pasal 17, KUHAP semakin memperjelas pentingnya arti penyelidikan, sebelum dilanjutkan dengan tahapan penyidikan, agar terjadi tindakan yang tidak melanggar hak-hak asasi yang merendahkan harkat martabat manusia.

Jika diperhatikan dengan saksama, motifasi dan tujuan penyelidikan, merupakan tuntutan tanggung jawab kepada aparat penyidik, untuk tidak melakukan tindakan penegakan hukum yang merendahkan harkat martabat manusia. Sebelum melangka melakukan pemeriksaan penyidikan seperti penangkapan atau penahanan, harus lebih dulu mengumpulkan fakta dan bukti sebagai landasan tindak lanjut penyidikan maka perlu dilakukan pemeriksaan pendahulian. Pemeriksaan pendahuluan, yaitu pemeriksaan penyidikan atau pemeriksaan sebelum dilakukan pemeriksaan dimuka persidangan.3

Berkaiatan dengan hal tersebut maka pemeriksaan pendahuluan didalamnya terdapat langkah yang dilakukan yang sebetulnya dapat tercakup di dalam tindakan penyelidikan dan penyidikan. Penyidikan sendiri didalamnya tercakup berbagai tindakan tercakup berbagai tindakan termasuk tindakan paksa. Namun, pada bagian ini difokuskan pada tindakan penyidikan bahwa penyelidikan ini

3S. Tanusubroto, dasar-dasar hukum acara pidan, Bandung, Penerbit Armico, 1984 hlm. 29.

(4)

merupakan suatu bagian kegiatan yang dilakukan oleh pihak kepolisian sebelum melakukan penyidikan.

Penyelidikan berasal dari kata “selidik” yang berarti memeriksa dengan saksama atau mengawasi gerak-gerik musuh sehingga penyelidikan dan diartikan sebagai pemeriksaan, penelitian, atau pengawasan. Definisi istilah peneyelidikan itu sendiri dapat dijumpai dalam Pasal 1 butur 5 KUHAP, sebagaimana yang telah disebutkan dibagian peristilahan.4

Penyelidikan bukanlah merupakan fungsi yang berdiri sendiri melainkan merupakan hanya salah satu cara atau metode sub dari fungsi penyidikan yang mendahului tindakan upaya paksa lainya. Adapun maksud dan tujuan dilakukan penyelidikan adalah untuk mencari dan menemukan suatu peristiwa yang diduga sebagai tindak pidana guna menentukan dapat atau tidaknya dilakukan penyidikan.

Suatu pemahaman terhadap arti, dimaksud untuk menyusun defenisi yang lengkap dari kesatuan unsur-unsur yang terurai kedalam rumusan pengertian dari arti itu diperoleh pengetahuan yang menggerakkan kesadaran bersikap tindak, akibat terdorong oleh karena suda mengetahui dan paham. Maka merupakan hal-hal uang tidak tampak, tetapi terkandung nyata ada dibelakang dari yang tercipta atau adanya unsur-unsur pengetahuan itu.5 Di dalam buku pedoman Pelaksanaan

4 H. Rusli Muhammad, Hukum Acara Pidana Kontemporer, Citra Aditya Bakti, Bandung, 2007, hlm. 51-52

5 Nikolas Simanjuntak, Acara Pidana Indonesia dalam Sirklus Hukum, Ghalia Indonesia, Bogor, 2009, hlm. 48

(5)

KUHAP dijelaskan latar belakang, motifasi, dan urgensi diintrodusirnya fungsi penyelidikan yaitu:

a. Adanya perlindungan dan jaminan terhadap hak asasi manusia.

b. Adanya penyertaan dan pembatasan dan ketat dalam menggunakan upaya paksa.

c. Katanya pengawasan dan adanya lembaga ganti rugi dan rehabilitasi.

d. Semua peristiwa yang terjadi diduga sebagai tindak pidana itu nampaknya bentuk secara jelas sebagai tindak pidana, maka melangka lebih lanjut dengan penyidikan, dengan konsukwensi digunakanya upaya paksa, perlu ditentukan terlebih dahulu berdasarkan data dan keterangan yang didapat dari hasil penyelidikan bahwa peristiwa yang terjadi dan diduga sebagai tindak pidana itu benar adanya merupakan tindak pidana sehingga dapat dilanjutkan dengan tindakan penyidikan.6

Adapum pejabat yang berwenang dalam melakukan penyelidikan jika memperhatikan Pasal 1 Ayat (3) KUHAP, yang melakukan penyelidikan adalah penyelidik. Sementara itu, Pasal 1 Ayat (4) KUHAP bahwa : Penyidik adalah pejabat polisi negara Republik Indonesia yang diberi wewenang oleh undang- undang untuk melakukan penyidikan.

Berdasarkan ketentuan pasal tersebut tidak ada instansi atau pejabat lain yang dapat melakukan penjelidikan keculai oleh instansi atau pejabat Kepolisian.

6Ibid.53

(6)

Dengan demikian, jaksa atau pejabat lain tidak diberkenangkan melakukan penyelidikan, kecuali dalam hal diatur dalam undang-undang khusus. Adapun kewenangan penyelidik meliputi ketentuan yang diperinci pada Pasal 5 KUHAP, yang dapat dibagi dalam dua bagian, yaitu kewenangan berdasarkan kewajiban (hukum) dan kewenangan berdasarkan perintah penyidik. Meliputi:

a. Menerima laporan atau pengaduan dari seseorang tentang adanya tindak pidana;

b. Mencari keterangan dan barang bukti;

c. Menyuruh berhenti seseorang yang dicurigai dan menanyakan serta memeriksa tanda pengenal dari; dan

d. Mangadakan tindakan lain menurut hukum yang bertanggung jawab.

Setelah penyidik melakukan tindakan penyelidikan untuk menentukan apakah suatu peristiwa tersebut adalah pidana maka tindakan selanjutnya penyidik melakukan tindakan penyidikan; Rusli Muhammad menjelakan bahwa antara penyelidikan dan penyidikan jika penyidikan diataur dalam Pasal 102-Pasal 136 Bagian Kedua BAB ke XIV KUHAP, penyidik dan penyidik pembantu diatur dalam Pasal 6 jo. Pasal 13 Bagian Kesatu dan Kedua BAB IV KUHAP.

Penyidikan sepertinya tidak sama dengan penyelidikan, tetapi kedua istilah tersebut sunggu berbeda. Perbedaanya dapat dilihat dari sudut pejabat yang melaksanakanya. Penyelidik pejabat yang melaksanakanya adalah penyelidik yang terdiri atas pejabat Polri saja tanpa ada pejabat lainya penyidikan dilakukan oleh penyidik yang terdiri atas pejabat Kepolisian dan pejabat pegawai sipil tertentu.

(7)

Perbedaan lain, yakni pada segi penekananya mengenai perbedaan penyelidikan dan penyidikan, Penyelidikan penekananya pada tindakan “mencari dan menemukan peristiwa” yang dianggap diduga sebagai tindak pidana, sedangkan penyidikan titik berat penekananya diletakkan pada tindakan, “mencari serta mengumpulkan bukti” supaya tindak pidana yang ditemukan menjadi terang, serta agar dapat menemukan atau menentukan siapa pelakunya. Bahwa jika memeperhatikan keseluruhan ketentuan didalam KUHAP, dapat diketahui bahwa proses penyidikan yang dilakukan oleh penyidik dapat digambarkan sebagai berikut:

Sumber bahan masukan suatu tindak pidana kedalam proses peradilan pidana berupa pengetahuan atau persangkaan telah terjadinya suatu perbuatan pidana dapat diperoleh penyidik dari berbagai sumber, yaitu dari: Laporan, Pengaduan, Tertangkap tangan, Diketahui sendiri oleh aparat penegak hukum dari hasil penyelidikan.

Selanjutnya dijelaskan bahwa penyidik mempunyai kewajiban untuk segera melakukan tindakan penyelidikan apabila mengetahui, menerima laporan, atau pengaduan tentang terjadinya suatu peristiwa yang patut diduga sebagai suatu perbuatan pidana, sebagaimana disebutkan dalam Pasal 106 KUHAP.

Apabilah penyidik mengetahui sendiri bahwa telah terjadi suau perbautan pidana, dengan sendirinya ia wajib melakukan tindakan penyidikan yang diperlukan, seperti melakukan tindakan pertama ditempat kejadian, menyuru berhenti seseorang tersangka dan memeriksa tanda pengenalnya, melakukn

(8)

penangapan, penahanan, dan sebagainya sesuai dengan kewenangan penyidik yang tertung dalam Pasal 7 Ayat (1) KUHAP.

Namun, dalam hal penyidik menerima laporan atau pengaduan bahwa telah terjadi suatu perintiwa yang diduga sebagai suatu perbauatan pidana, maka sebelum dilakukan tindakan hukum berupa pemanggilan atau upaya paksa, hendaknya penyidik mencari dan mengumpulkan bukti-bukti terlebih dahulu untuk menyakinkan bahwa peristiwa tersebut merupakan perbuatan pidana. Selain dari laporan atau pengaduan seseorang atau masyarakat tentang adanya suatu tindak pidana, sumber bahan masukan lain dapat berasal dari hasil pengetahuan aparat penegak hukum itu sendiri, yaitu dari penyelidikan oleh penyelidik.

Dimulainya penyidikan juga dapat dilakukan dari hasil kejadian tertangkap tangan. Tertangkap tangan atau (heterdaad),seperti yang dijelaskan dalam Pasal 1 butir 19 adalah tertangkapnya seseorang pada waktu7

a. Sedang melakukan tindak pidana atau tenga melakukan tindak pidana, pelaku dipergoki oleh orang lain;

b. Atau segera sesuda beberapa saat tindak pidana itu dilakukan;

c. Atau sesaat kemudian diseruhkan oleh khalayak ramai sebagai orang yang melakukanya;

d. Atau sesaat kemudian pada orang tersebut ditemukan benda yang diduga keras telah dipergunakan untuk melakukan tindak pidana yang menunjukan bahwa ia adalah pelakunya;

7M. Yahya Harahap, Op, Cit., hlm. 117-118

(9)

Terhadap semua bahan masukan perkara yang masuk kepada penyelidik, selanjutnya dilakukan tindakan-tindakan yang diperlukan dalam penyidikan.

Menurut Pasal 1 butir (2) KUHAP, arti penyidikan dimaksud sebagai serangkaian tindakan penyidik dalam hal dan menrut cara yang diatur dalam KUHAP, untuk mencari serta mengumpulkan bukti untuk membuat terang tindak pidana yang terjadi guna menemukan tersangkanya. Rumusan itu mengandung sekurang- kurangnya tiga unsur sebagai kata kunci, yakni (1) bukti yang dicari dan dikumpulkan, (2) tindak pidana menjadi terang, dan (3) tersangka ditemukan.

Kesejajaran mana diatas itu dengan penyelidikan masi tampak tetapi titik beratnya suda berbeda. ‘Mencari’ didalam penyelidikan bertujuan supaya

‘menemukan’ yang kemudian menjadi ‘mengumpulkan didalam penyidikan, karena suda ada yang ditemukan, tetapi belum terkumpul. Untuk itu, berarti penyidik ditugaskan untuk mengumpulkan, tetapi suda tau itu ada. Walaupun itu masi tercerai berai, tentu sasaran temuan penyelidik adalah digunakan delik telah meningkat menjadi terang, ada delik dan tersangka didalam penyidikan. Terang, karena suda ada terkumpul bukti kualitas hukum, yang sebelumnya dalam penyelidikan masi sedang dicari-cari ruang lingkup wewenang, tugas dan kewajiban penyidik menjadi tampak lebih luas jangkauanya dari pada penyelidik.

Ketentun normatif untuk diikuti tetap bagi penyidik tidak diatur kedalam satu bab tersendiri didalam KUHAP, tetapi aturan itu ada tersebar di berbagai pasal dan ayat yang relevan dengan tindakan yang akan dilakukanya.

(10)

Nemun dari makna pengertian itu menempakkan adanaya penyelidikan menjadi bagian tugas perbantuan dari dan kepada penyidikan sekali lagi pelaksanaan tugas itu pastilah tidak gampang, dan memerlukan ketrampilan tersendiri karena ada berbagai implikasi praktis dan teoritis yang serius didalamnya.8

B. Tahap Prapenuntutan Perkara Pidana

Istilah prapenuntutan muncul dalam Pasal 14 butir b KUHAP tentang wewenang penuntun umum yang menyebutkan bahwa: Prapenuntutan apabila ada kekurangan pada penyidikan dengan memperhatikan ketentuan pada Pasal 110 Ayat (3) dan Ayat (4), dengan memberi petunjuk dalam rangka menyempurnakan penyidikan dari penyidik. Berberda dengan istilah-istilah yang disebutkan dalam Pasal 1 KUHAP semua istilah itu mendapat defenisi yang lengkap, namun prapenuntutan tidak dijumpai defenisinya. Jika memperhatikan Pasal 14 butir (b) di atas, ruangnya yang dimaksud dengan istilah prapenuntutan itu ialah : tindakan penuntut umum untuk memberi petunjuk dalam rangka penyempurnaan penyidikan oleh penyidik.

Menurut Andi Hamza pengertian terasa jangkal karena memberikan petunjuk kepada penyidik untuk menyempurnakan penyidikan disebut prapenuntutan. Hal seperti ini dalam aturan lama (HIR), termasuk penyidikan lanjutan. Lebih lanjut,

8Antara Lain Buku Yang Ditulis. Oleh Chaeruddin Ismail, Polisi Yang Keder, Memformat Polisi Sipil Pada Masyarakat Demokrasi, Penerbit Citra, Jakarta, 2001 Beberapa Teknik Dan Taktik Penyidikan (Observasi, Interview, Surveilance, Undercover) Bisa Dikemukakan Didalanya, Tetapi Tidak Memadai, Hlm. 49-Dst.

(11)

dikatakan bahwa pembentuk undang-undang hendak menghindari kesan seakan- akan jaksa atau penuntut umum itu mempunyai wewenang penyidikan lanjutan sehingga hal itu disebut prapenuntutan.9 Tampaknya perlu ada perumusan baku dan tepat mengenai prapenuntutan itu sehingga tidak ada kesan bahwa prapenuntutan itu kata lain adalah penyidikan lajutan.

Oleh karena itu, penulis menyarankan prapenuntutan itu dapat dirumuskan sebagai tindakan jaksa penuntut umum untuk memeriksa dan meneliti kembali keseluruhan berkas perkara yang disampaikan oleh penyidik termasuk tindakan mempersiapkan dan kelengkapan jaksa penuntut umum sebelum melakukan penuntutan perkara ke sidang pengadilan.

Dengan pengertian seperti ini, ketentuan yang terdapat didalam Pasal 138 KUHAP dapat dijadikan sebagai contoh dari rangkaian tindakan dari prapenuntutan itu. Pasal tersebut selengkapnya berbunyi:

(1) Penuntut umum setelah menerima hasil penyidikan dari penyidik segera mempelajari dan menelitinya dalam waktu tujuh hari wajib memberi tahukan kepada penyidik apakah hasil penyidikan itu suda lengkap atau belum.

(2) Dalam hal hasil penyelidikan ternyata belum lengkap, penuntut umum mengembalikan berkas perkara kepada penyidik disertai petunjuk tentang hal yang dilakukan untuk dilengkapi dan dalam waktu empat

9Andi Hamza, Loc, Cit., hlm. 159.

(12)

belas hari sejak tanggal penerimaan berkas, penyidik harus suda menyampaikan kembali berkas perkara itu kepada penuntut umum.

Berdasarkan ketentuan Pasal 138 tersebut diatas dapat dikatakan bahwa serangkaian tindakan yang dilakukan jaksa penuntut umum sebagai wujud dari prapenuntutan itu adalah pertama, setelah penerima hasil penyidikan kemudian mempelajari dan menelitinya.10 Tindakan ini dapat berakibat diterimanya atau dikembalikanya berkas perkara yang diajukan penyidik itu, jika berkas perkara diterima, berarti berkas perkara tersebut dinyatakan telah memenuhi selengkapanya. Apabila demikian, jaksa penuntut umum segera membuat surat dakwaan, pembuatan surat dakwaan ini termasuk pula rangkaian tindakan prapenuntutan.

Selain dari pada itu bahwa prapenuntutan adalah kewenangan yang dimiliki oleh jaksa dalam menyelesaikan perkara pidana sebagaimana yang ditemukan dalam Pasal 14 huruf b KUHAP dimana dalam melakukan prapenuntutan jaksa melakukan penelitian terhadap berkas perkara yang dikirimkan oleh penyidik kepada penuntut umum untuk meneliti keterangan berkas perkara baik itu kelengkapan formil maupun kelengkapan materil.

Sehingga berkas perkara ini yang telah diteliti dapat segera diajukan dipersidangan sebagai objek yang akan diuji dalam pemeriksaan persidangan pengadilan untuk mencari kebenaran dan keadilan.

10Rusli Muhammad, Op. Cit., hlm. 273-274.

(13)

Mengenai prapenuntutan juga dijelaskan bahwa pada saat penyidik “mulai”

melakukan penyidikan terhadap suatu peristiwa yang diduga tindak pidana, penyidik, “memberitahukan” hal itu kepada penuntut umum memberitahukan semacam ini ditentukan dalam Pasal 109 Ayat (1) KUHAP:’’ Dalam penyidik telah mulai melakukan penyidikan suatu peristiwa yang merupakan tindak pidana, penyidik meberitahukan hal itu kepada penuntut umum”. Apa alasan pemberitahuan tersebut sebagai “kewajiban”, sedang Pasal 109 Ayat (1) tidak memuat perkataan wajib, dan dalam penjelasan Pasal 109, juga tidak dijumpai perkataan wajib, untuk mendukung pendapat pemberitahuan merupakan kewajiban dapat diajukan beberapa alasan yakni :

1. Berdasarkan asas deferensiasi fungsioanal antara penyidik dengan penuntut umum sekaligus dikaitkan dengan asas saling pengawasan dan korelasi antara jajaran penegak hukum yang dianut KUHAP, memperkuat kesimpulan, pemberitahuan bersifat “wajib”. Sebab kalau pemberitahuan itu bukan wajib sifatnya, akan hilang makna kepastian hukum yang terkandung didalamnya. Akibatnya, akan menimbulkan sikap pada penyidik semaunya sendiri. Jika hatinya senang dia memberitahukan, tapi kalau malas boleh juga tidak memberitahukan.

2. Atau kita ambil pendapat Mahkama Agung yang dituangkan dalam dakwaan bahwa pemberitahuan penyidik kepada penuntut umum dalam rangkaian ketentuan Pasal 109 Ayat (1) adalah merupakan “kewajiban”

atas dasar bahwa pemberitahuan tersebut merupakan rangkaian tugas

(14)

yustisial yang bersifat “imperatif” tentang kapan saat pemberitahuan disampaikan penyidik kepada penuntut umum, harus tepat pada saat penyidik melakukan tindakan penyidikan.11

Sejak disampaikan surat pemberitahuan dimulainya penyidikan kepada penuntut umum sebagai mana dimaksud pada Pasal 109 Ayat 1 KUHAP, terjalinlah hubungan koordinasi fungsional antara penyidik dan penuntut umum dalam penanganan perkara yang bersangkutan. Bahwa dalam praktek tidak jarang terjadi bahwa penyidik telah menjalin hubungan dengan penuntut umum dalam bentuk konsultasi.

Hal ini biasanya terjadi jika penyidik akan memulai menyidik suatu perkara pidana tetapi penyidik dihadapkan kepada keraguan, terutama tentang hal-hal yang berhubungan dengan pembuktian seperti yang dijelaskan diatas bahwa dalam konsultasi antara penyidik dan penuntut umum tersebut, penuntut umum memberikan petunjuk dan saran-saran guna keberhasilan pelaksanaan tugas penyidikan, yang kelak hasilnya menjadi dasar bagi penuntut umum. Untuk melaksakan tugas penuntutan.

Terlaksananya konsultasi antara penyidik dan penuntut umum, dalam praktek telah dirasakan besar manfaatnya, yaitu dalam hal penyidik menyarahkan berkas perkara pada tahap pertama sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 Ayat (3) huruf a KUHAP, pada umumnya berkas perkara/hasil penyidikan suda lengkap sehingga

11M. Yahya Harahap, Op, Cit., hlm. 130

(15)

dengan demikian bolak-balik b]erkas perkara antara penyidik dan penuntut umum dapat dicegah.

Di samping itu diperoleh pula manfaat yang bersifat timbal balik antara penyidik dan penuntut umum. Karena segalah permasalahan penyidikan yang dihadapi penyidik akan dipecahkan oleh penyidik dan penuntut umum. Kemudian penuntut umumpun memperoleh kemudahan pulah dalam melaksanakan tugas penuntutan perkara yang bersangkutan, karena ia telah memperoleh gambaran yang lengkap tentang perkara itu pelaksanaan penelitian berkas perkara yang diserahkan penyidikpun akan dipermuda, karena sejak awal penuntut umum telah mengikuti dangan saksama pelaksanaan penyidikan, maka dengan muda ia dapat menentukan apakah hasil penyidikan suda lengkap atau belum sehingga dengan demikian pelaksaan proses hukum antara pihak penyidik dengan pihak kejaksaan dapat berjalan dengan baik.12

C. Pengertian Dan Unsur-Unsur Tindak Pidana Korupsi

Pasal 2. Ayat 1 UU RPTPK bahwa setiap orang secara melawan hukum melakukan perbuatan memperkaya diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara, dipidana dengan pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 4 (empat) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun dan denda paling sedikit dua ratus juta

12Harun M. Husein, Penyidikan Dan Penuntutan Dalam Proses Pidana. PT RINEKA CIPTA, Jakarta, 1991, hlm. 197

(16)

rupiah dan paling banyak satu miliar rupiah. Ayat (2) UU RPTPK dalam hal tindak korupsi sebagai mana di maksud dalam Ayat (1) dilakukan dalam keadaan tertentu, pidana mati dapat di jatuhkan.

Penjelasan Pasal 2 Ayat (1) UU RPTPK menerangkan: “ dalam ketentuan ini kata dapat” sebelum frasa’’ merugikan keuangan negara atau perekonomian negara” menunjukkan bahwa tindak pidana korupsi merupakan delik formil, yaitu adanya tindak pidana korupsi, cukup dengan di penuhinya unsur-unsur perbuatan yang di rumuskan, bukan dengan timbulnya akibat. ”bahwa ketentuan tentang tindak pidana korupsi yang terdapat di dalam Pasal 2 Ayat (1) UU RPTPK memang merupakan delik formil, juga di tegaskan di dalam penjelasan umum Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang PTPKyang menerangkan:” dalam undang-undang ini, tindak pidana korupsi dirumuskan secara tegas sebagai tindak pidana formil.

Hal ini sangat penting untuk pembuktian. Dengan dirumuskan tindak pidana korupsi seperti yang terdapat dalam Pasal 2 Ayat (1) UU PTPK sebagai delik formil, maka adanya kerugian keuangan negara atau kerugian perekonomian negara tindakan harus sudah terjadi, karena yang dimaksud dengan delik formil adalah delik yang dianggap telah selesai dengan dilakukannya tindakan yang dilarang dan diancam dengan hukuman oleh undang-undang.13

13 R. Wiyino, Pembahasan Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, Sinar Grafika, Jakarta, 2006 hlm 26-27

(17)

Dengan demikian, agar seseorang dapat dinyatakan bersalah telah melakukan tindak pidana korupsi seperti yang di tentukan dalam Pasal 2 Ayat (1), UU RPTPK tidak perlu adanya alat-alat bukti untuk membuktikan bahwa memang telah terjadi kerugian keuangan negara atau perekonomian Negara14.

Sebagai pelaku dari tindak pidana korupsi yang terdapat dalam Pasal 2 Ayat (1) UU RPTPK telah ditentukan” setiap orang. ’’ Dalam Pasal 2 Ayat (1) tersebut tidak di tentukan adanya suatu syarat, misalnya syarat pegawai Negari yang harus menyertai ” setiap orang ” yang ]melakukan tindak pidana korupsi yang di maksud.

Oleh karena itu, sesuai dengan apa yang di maksud dengan setiap orang yang terdapat dalam Pasal 1 angka 3, menurut hemat penulis pelaku tindak pidana korupsi yang terdapat didalam Pasal 2 Ayat (1) UU RPTPK dapat terdiri atas:

Orang perseorangan, dan/atau Korporasi. Jika di teliti ketentuan tentang tindak pidana korupsi seperti yang terdapat di dalam Pasal 2 Ayat (1) UU RPTPK akan di temui beberapa unsur yang dapat di jabarkan sebagai berikut :

a. Secara melawan hukum

b. Memperkaya diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi, c. Merugikan keuangan negara atau perekonomian negara.

Penjelasan Pasal 2 Ayat (1) UU RPTPK menyebutkan bahwa yang di maksud dengan “secara melawan hukum ” mencakup perbuatan melawan hukum dalam

14P.A.F. Lamintang, Dasar-Dasar Hukum Pidana Indonesia, Bandung, 1984, hlm 202.

(18)

arti formil ”maupun dalam arti materil, yakni meskipun perbuatan tersebut tidak di atur dalam peraturan perundang-undangan, namun apabila perbuatan tersebut dianggap tercela, karena tidak sesuai dengan rasa keadilan atau norma–norma kehidupan sosial dalam masyarakat, maka perbuatan tersebut dapat di pidana.

Dengan adanya kata ” maupun ” dalam penjelasan tersebut, dapat di ketahui bahwa Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang PTPK mengikuti 2 (dua) ajaran sifat melawan hukum secara alternatif, yaitu ajaran sifat melawan hukum formil, atau ajaran melawan hukum materiil.

Roeslan Saleh15 mengemukakan: ” menurut ajaran melawan hukum, yang di sebut melawan hukum materil tidaklah hanya sekedar bertentangan dengan hukum tertulis, tetapi juga bertentang dengan hukum tidak tertulis. Sebaliknya, ajaran

melawan hukum formil berpendapat bahwa melawan hukum adalah bertentangan dengan hukum tertulis saja. Jadi menurut ajaran materiil, di samping memenuhi syarat-syarat formil, yaitu memenuhi semua unsur yang di sebut dalam rumusan delik, perbuatan harus benar-benar dirasakan masyarakat sebagai tidak boleh atau tidak patut.” Dalam kepustakaan hukum pidana, terdapat 2 (dua) fungsinya dari ajaran sifat melawan hukum materiil,16yaitu :

a. Ajaran sifat melawan hukum materiil dalam fungsinya yang positif, yaitu suatu perbuatan, meskipun oleh peraturan perundang-undang tidak ditentukan sebagai melawan hukum, tetapi jika menurut penilaian

15Roslen Saleh, Sifat Melawan Hukum dari Perbuatan Hukum Pidana, Jakarta, 1987, hlm 7

16Moelyatno, Asas-Asas Hukum Pidana, Rineka Cipta, Jakarta, 2015, hlm. 133

(19)

masyarakat perbuatan tersebut bersifat melawan hukum, perbuatan yang dimaksud tetap merupakan yang bersifat melawan hukum;

b. Ajaran sifat melawan hukum materiil dalam fungsinya yang negatif, yaitu suatu perbuatan, meskipun menurut perturan perundang–undangan merupakan perbuatan yang bersifat melawan hukum, tetapi jika menurut penilaian masyarakat perbuatan tersebut tidak bersifat melawan hukum, perbuatan yang di maksud adalah perbuatan yang tidak bersifat melawan hukum.

Oleh karena penjelasan Pasal 2 Ayat (1) UU PTPK menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan ” secara melawan hukum ” dalam Pasal 2 Ayat (1) mencakup perbuatan yang tidak sesuai dengan rasa keadilan atau norma-norma kehidupan sosial dalam masyarakat, meskipun perbuatan tersebut tidak di atur dalam peraturan perundangan-undangan, maka dapat di ketahui bahwa ajaran sifat melawan hukum materiil yang diikuti oleh Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang PTPK adalah ajaran sifat melawan hukum materiil dalam fungsinya yang positif.

Pasal 3 UU Nomo 31 Tahun 1999 tentang PTPK :setiap orang yang dengan tujuan menguntungkan diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi, menyalahgunakan kewenangan, kesempatan atau sarana yang ada padanya karena jabatan atau kedudukan yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara, dipidana dengan pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 20 ( dua puluh) tahun dan

(20)

/atau denda paling singkat lima puluh juta rupiah dan paling banyak satu miliar rupiah.

Terhadap ketentuan yang terdapat dalam Pasal 3 UU PTPK dalam penjelasan Pasal 3 tersebut hanya di sebutkan bahwa kata” dapat ” dalam ketentuan tersebut di artikan sama dengan penjelasan Pasal 2 UU PTPK tersebut. Dengan demikian, untuk mengatahui apa yang di maksud oleh penjelasan Pasal 3 UU PTPK tersebut, perlu diketahui terlebih dahulu apa yang di sebutkan di dalam penjalasan Pasal 2.

UU PTPK yang disebutkan “Dalam ketentuan ini, kata “dapat” sebelum frasa”

merugikan keuangan atau perekonomian negara” menunjukkan bahwa tindak pidana korupsi merupakan delik formil, yaitu adanya tindak pidana korupsi cukup dengan dipenuhinya unsur-unsur perbuatan yang suda dirumuskan, bukan timbulya akibat.” Ternyata maksud dari penjelasan Pasal 3 tersebut hanya menunjukan bahwa tindak pidana korupsi sebagaimana dimaksud dalam pasal 3 juga merupakan delik formil seperti halnya tindak pidana korupsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 Ayat (1). UU PTPK. Jika diteliti ketentuan tentang tindak pidana korupsi yang terdapat dalam Pasal 3, akan ditemuai beberapa unsur sebagai berikut:

a. Menguntungkan diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi;

b. Menyalanggunakan kewenangan kesempatan atau sarana yang ada pada jabatan atau kedudukan;

c. Merugikan keuangan negara atau perekonomian negara.

(21)

Yang dimaksud dengan unsur “menguntungkan” adalah sama artinya dengan mendapatkan untung yaitu pendapatan yang diperoleh lebih besar dari pengeluaran, terlepas dari penggunaan lebih lajut dari pendapatan yang diperolenya.

Yang dimaksud dengan “menyalahgunakan kewenangan, Kesempatan, atau sarana yang ada karena jabatan atau kedudukan” tersebut adalah menggunakan kewenangan, kesempatan, sarana atau kedudukan yang dijabat atau diduduki oleh pelaku tindak pidana korupsi untuk tujuan lain dari maksud diberikanya kewenangan, kesempatan, atau sarana tersebut. Untuk mencapai tujuan menguntungkan diri sendiri atau suatu korporasi tersebut, dalam Pasal 3 UU PTPK telah ditentukan cara yang harus ditempu oleh pelaku tindak pidana korupsi, yaitu : a. Dengan menyalanggunakan kewenangan yang ada pada jabatan atau kedudukan dari pelaku tindak pidana korupsi. Yang dimaksud dengan

“kewenangan” adalah rangkain hak yang melekat pada jabatan atau kedudukan dari pelaku tindak pidana korupsi untuk mengambil tindakan yang diperlukan agar tugas pekerjaanya dapat dilaksanakan dengan baik.

b. Dengan menyalanggunakan kesempatan yang ada pada jabatan atau kedudukan dari pelaku tindak pidana korupsi. Yang dimaksud dengan

“kesempatan” adalah peluang yang dapat dimanfaatkan oleh pelaku tindak pidana korupsi, peluang mana dicantum dalam ketentuan-ketentuan tentang tata kerja yang berkaitan dengan jabatan atau kedudukan yang dijabat atau diduduki oleh pelaku tindak pidana korupsi.

(22)

c. Dengan menyalanggunakan sarana yang ada pada jabatan atau kedudukan dari pelaku tindak pidana korupsi.Yang dimaksud dengan “sarana” adalah syarat, acara atau media dalam kaitanya tentang ketentuan dalam tindak pidana korupsi seperti yang terdapat dalam Pasal 3 UU PTPK maka yang dimaksud dengan “sarana” adalah cara kerja atau metode kerja yang berkaitan dengan jabatan atau kedudukan dari pelaku tindak pidana korupsi.

Referensi

Dokumen terkait

Tindakan penyidik menghentikan penyidikan suatu peristiwa yang diduga sebagai tindak pidana karena untuk membuat suatu terang peristiwa yang diduga dan menentukan

Kerangka pemikiran merupakan alur pemikiran penulis mengenai penelitian yang akan dilakukan yaitu mengenai pelaksanaan penyelidikan dan penyidikan tindak pidana

Menurut pasal 1 huruf 4 KUHAP Penyelidikan adalah serangkaian tindakan penyelidik untuk mencari dan menemukan suatu peristiwa yang diduga sebagai tindak pidana guna

Dalam melakukan penyidikan terkait kasus penyalahgunaan narkotika ini belum terjadi, masih dalam tahap penyelidikan, untuk penyidikan di serahkan ke BNN Provinsi

Teknik penyadapan dalam penyelidikan dan penyidikan tindak pidana narkotika dilakukan setelah terdapat bukti awal dengan cara menggunakan alat-alat elektronik sesuai

Dalam melakukan penyidikan terkait kasus penyalahgunaan narkotika ini belum terjadi, masih dalam tahap penyelidikan, untuk penyidikan di serahkan ke BNN Provinsi

II. atau dalam rangka penyidikan. Kegiatan penyelidikan dilakukan untuk mencari dan menemukan Tindak Pidana. Kegiatan penyelidikan dilakukan untuk mencari dan menemukan Tindak

Serangkaian tindakan penyelidikan untuk mencari dan menemukan suatu peristiwa yang diduga sebagai tindak pidana guna menentukan dapat atau tindakannya dilakukan