219
PENYESUAIAN DIRI DALAM ORGANISASI
PJP. Ginting
Fakultas Ekonomi Universitas Mpu Tantular [email protected]
Abstrak
Penyesuaian diri sebagai satu faktor yang penting dalam meningkatkan kinerja pegawai dalam sebuah organisasi.Manusia dapat mempunyai attitude terhadap bermacam-macam hal: benda-benda, orang-orang, kejadian-kejadian, lembaga-lembaga, norma-norma, kegiatan-kegiatan, nilai-nilai dan lain lain.Menyesuaiakan diri diartikan dalam pengertian luas sebagai kemampuan mengubah diri sesuai dengan keadaan lingkungan, atau kemampuan mengubah lingkungan sesuai keinginan.Pegawai yang memiliki penyesuaian diri positif memiliki ketajaman dalam melihat realita secara wajar untuk memenuhi kebutuhannya menyesuaikan tindakannya, dan membangkitkan potensi dirinya. Efeknya pegawai mampu membuat perimbangan sosial antar organisasi dan hasil yang diperolehnya.
Kata kunci : atittude (penyesuaian diri), kinerja, organisasi
LATAR BELAKANG
Manusia dilahirkan sebagai mahluk individu dan mahluk sosial dalam lingkungan sosial.
Manusia memiliki posisi dan peranan yang berbeda dalam lingkungan sosial dan struktur sosial.
Dengan posisi dan peranan tersebut manusia menjalani, mempertahankan, dan memenuhi kebutuhan hidupnya dari hari ke hari.
Kebutuhan manusia bukan saja untuk mempertahankan kehidupan, tetapi juga meningkatkan kualitas kehidupan itu sendiri. Dalam memenuhi kebutuhan kehidupan tersebut, manusia melakukannya dengan berbagai bentuk : merekayasa potensi sosial secara optimal, mengembangkan dan menggunakan potensi-potensi dengan cara kreatif dan konstruktif, memperkaya kualitas kehidupan dengan memperluas rintangan.dan kualitas pengalaman, membentuk hubungan yang hangat dan berarti dengan sesama, membangun semangat berkarya dilingkungan masyarakat, berusaha menjadi manusia yang dapat memberikan nilai yang berguna bagi orang lain.
Bentuk-bentuk upaya dan kegiatan yang dilakukan manusia sebagaimana tersebut di atas di samping banyak menyita waktu, tenaga dan biaya, juga serangkaian penyesuaian diri dalam naik turunnya irama kehidupan sosial.Penyesuaian diri sebagai satu faktor yang penting dalam meningkatkan kinerja pegawai dalam sebuah organisasi. Namun tidak mudah dilakukan. Hal ini disebabkan oleh kurangnya inisiasi dari pimpinan untuk memberikan dorongan, kesempatan, waktu, maupun biaya bagi pegawai dalam meningkatkan kemampuan dirinya sesuai dengan tuntutan pekerjaan. Seharusnya program peningkatan kemampuan pegawai melalui pendidikan formal dan non formal mendapatkan porsi anggaran biaya cukup untuk pegawai. Peningkatan kemampuan pegawai sudah menjadi keharusan dalam rangka menjawab tuntutan tugas yang terus berkembang.
Namun dalam kenyataan tidak dilaksanakan sebagaimana mestinya.Akibatnya pegawai sering mengalami hambatan dalam pelaksaan tugas-tugas pekerjaannya. Situasi demikian menyebabkan rendahnya tingkat kinerja pegawai.
220 PEMBAHASAN
Dalam teori ilmu sosial dan psikologi dikenal istilah attitude yang diberi pengertian sikap terhadap objek tertentu, yang dapat merupakan sikap pandangan atau sikap perasaan, tetapi sikap tersebut disertai dengan kecenderungan untuk bertindak sesuai dengan sikap objek itu. Jadi attitude bisa diterjemahkan dengan tepat sebagai sikap dan kesediaan beraksi terhadap suatu hal. Attitude senantiasa terarahkan kepada sesuatu hal, suatu objek.
Manusia dapat mempunyai attitude terhadap bermacam-macam hal : benda-benda, orang- orang, kejadian-kejadian, lembaga-lembaga, norma-norma, kegiatan-kegiatan, nilai-nilai, dan lainlain. Manusia tidak dilahirkan dengan sikap pandangan atau sikap perasaan tertentu, tetapi attitude-attitude tersebut dibentuk sepanjang perkembangannya.
Peranan attitude dalam kehidupan manusia sangat besar, sebab apabila sudah dibentuk pada diri manusia, maka akan turut menentukan tingkah lakunya terhadap objek-objek attitudenya.
Adanya sikap-sikap tertentu menyebabkan manusia akan bertindak secara khas terhadap objek- objeknya.Manusia sebagai makhluk sosial, dalam perjalanan hidup: kegiatan-kegiatannya, rencana- rencananya, pandangan-pandangannya, dan tujuan-tujuannya memiliki dan mempergunakan attitude sosial yaitu cara-cara kegiatan yang sama berulang-ulang terhadap objek sosial, attitude sosial menyebabkan terjadinya cara-cara tingkah laku yang dinyatakan berulang-ulang terhadap suatu objek sosial, dan biasanya tidak hanya dinyatakan oleh seseorang, tetapi oleh sekelompok orang, misalnya tindakan tidak terlambat memulai pekerjaan disuatu organisasi yang dinyatakan berkali-kali oleh para pegawainya menunjukkan adanya attitude sosial para pegawai terhadap disiplin organisasinya.
Menjadi pegawai yang baik atau pegawai yang buruk dalam suatu organisasi bergantung pada terdapatnya attitude sosial positif atau negatif dari para pegawai. Dengan demikian attitude mempunyai peranan penting dalam interaksi sosial. Attitude mempunyai segi motivasi, segi dinamis menuju kesuatu tujuan dalam pergaulan dan interaksi sosial.Berbicara tentang interaksi sosial, ialah interaksi manusia sebagai individu berinteraksi dengan manusia individu lainnya dan dengan interaksi sosialnya itu mewujudkan segi kesosialannya sebagai manusia.
Dalam terminologi ilmu sosial, interaksi sosial selalu diawali tentang pemahaman akan kepribadian manusia. Allport (dalam Gerungan) merumuskannya sebagai berikut: “kepribadian manusia adalah organisasi dinamis dari sistem psiko fisik dalam individu yang turut menentukan cara-cara yang khas dalam individu yang turut menentukan cara-cara yang khas dalam menyesuaikan dirinya dengan lingkungannya
Pribadi manusia tidak dapat dirumuskan sebagai suatu keseluruhan atau kesatuan an sich (suatu individu saja) tanpa sekaligus meletakan hubungannya dengan lingkungannya, justru kepribadian itu menjadi kepribadian apabila keseluruhan sistem psikofisiknya, termasuk bakat kecakapan dan ciri-ciri kegiatannya, menyatakan dirinya dengan khas dalam menyesuaikan dirinya dengan lingkungannya.
Kepribadian individu, kecakapan-kecakapannya, ciri-ciri kegiatannya, bakatnya, hanya menjadi kepribadian individu kalau melakukan interaksi dengan lingkungannya. Individu memerlukan hubungan dengan lingkungannya yang menggiatkannya, merangsang perkembangannya, atau yang memberikan sesuatu yang ia perlukan.
Menurut Woodworth pada dasarnya terdapat empat jenis hubungan antara individu dengan lingkungannya yaitu :
(a) Individu dapat bertentangan dengan lingkunganya, (b) Individu dapat menggunakan lingkungannya,
(c) Individu yang berpatisipasi (ikut serta) dengan lingkungannya, dan
(d) Individu dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya.Lingkungannya yang dimaksud dalam pernyataan ini ialah secara luas, baik lingkungan fisik, lingkungan psikis, ataupun lingkungan rohaniah.
221
Manusia menyesuaikan dirinya sekaligus dengan ketiga macam lingkungan itu, tetapi kerap kali dengan tekanan pada salah satu dari lingkungan tersebut.Menyesuaikan diri juga diartikan dalam pengertian luas sebagai kemampuan mengubah diri sesuai dengan keadaan lingkungan, atau kemampuan mengubah lingkungan sesuai dengan keinginan (keadaan diri). Penyesuaian diri yang pertama disebut dengan penyesuaian diri autoplastis, sedangkan penyesuian diri yang kedua disebut dengan penyesuian diri aloplastis.
Dalam lingkungan organisasi, pegawai-pegawai harus melakukan penyesuaian diri baik secara autoplastis maupun aloplastis, dan keduanya sekaligus. Penyesuaian diri secara autoplastis dalam organisasi mengharuskan pegawai membina kemampuannya, mengubah dirinya, menyesuikan dirinya dengan sistem kerja dan pengaturan menejemen organisasi. Pada saat yang sama dalam proses kegiatan organisasi pegawai-pegawai yang menjumpai kelemahan-kelemahan dalam sistem kerja atau sistem-sistem lain dalam organisasi harus mampu mengubahnya, menyempurnakannya menjadi yang lebih baik.
Kosa kata penyesuaian diri dipadankan dengan adaptasi, dan sering juga disebut dengan istilah adjusment. Secara konsepsional penyesuaian diri banyak dipergunakan dalam ilmu sosial seperti sosiologi, psikologi sosial dan manajemen dalam kaitannya dengan pengembangan diri dan kepemimpinan. Penyesuaian diri berkaitan dengan kemampuan untuk mengubah diri sesuai dengan lingkungan, atau sebaliknya mengubah lingkungan sesuai dengan keadaan dirinya.
Menurut Haryadi etal., “penyesuaian diri sesuai dengan lingkungan disebut autoplastis sedangkan mengubah lingkungan sesuai dengan keadaan dirinya disebut alloplastis”Penyesuaian diri yang autoplastis bersifat pasif sedangkan alloplastis bersifat aktif. Penjelasan di atas menunjukkan suatu kemampuan tentang bagaimana individu mengubah dirinya atau mengubah lingkungannya sehingga terjadi kesesuaian dan harmonisasi.Menurut Calhoun dan Acocella bahwa
“penyesuaian diri dapat didefinisikan sebagai interaksi individu yang kontinyu dengan diri sendiri, dengan orang lain, dan dengan dunia individu.
Definisi ini menunjukkan bahwa penyesuaian diri dapat digambarkan sebagai usaha individu untuk saling mempengaruhi antara dirinya sendiri, dengan orang lain dan dunia luar lingkungannya.
Diri sendiri ialah jumlah keseluruhan dari apa yang telah ada pada individu: tubuh, perilaku, dan pemikiran serta perasaan individu. Sedangkan orang lain adalah mereka yang berpengaruh besar kepada individu sebagaimana individu juga berpengaruh besar terhadap mereka.
Dunia luar atau lingkungan adalah penglihatan dan penciuman serta suara yang mengelilingi ketika individu menyelesaikan urusan, akan mempengaruhi individu dan individu mempengaruhi mereka. Dilihat dari pemahaman di atas, maka secara prinsip penyesuaian diri merupakan proses menyelaraskan antara kondisi diri individu sendiri dengan sesuatu objek atau perangsang melalui kegiatan belajar. Dalam proses penyesuaian diri selalu terjadi interaksi antara dorongan-dorongan dari dalam diri individu dengan suatu perangsang atau tuntutan lingkungan sosial.
Dengan perkataan lain menyesuaikan diri berarti mengubah diri sesuai dengan keadaan lingkungan tetapi juga mengubah lingkungan sesuai dengan keadaan diri. Sunarto dan Hartono mendeskripsikan penyesuaian diri:
a. Penyesuaian berarti adaptasi, dapat mempertahankan eksistensinya, dapat memperoleh kesejahteraan jasmani dan rohaniah, dan dapat mengadakan relasi yang memuaskan dengan tuntutan sosial,
b. Penyesuaian dapat juga diartikan sebagai konformitas yang berarti menyesuaikan sesuatu dengan standar atau pinsip,
c. Penyesuaian dapat diartikan sebagai penguasaan yaitu memiliki kemampuan untuk membuat rencana dan mengorganisasi respon sedemikian rupa sehingga bisa mengatasi segala macam konflik, kesulitan dan frustasi-frustasi secara efisien,
d. Penyesuaian dapat diartikan sebagai kematangan sosial yaitu secara positif memiliki respon emosional yang tepat pada setiap situasi.
222
Berdasarkan uraian di atas maka penyesuaian diri merupakan cara seseorang menyatu dengan lingkungan dengan mempergunakan berbagai karakteristik dan kemampuan diri untuk mencapai tujuan yang diinginkan sebagai pemenuhan tuntutan yang berasal dari dalam dan luar dirinya.M.
Mahmud Dimiyati menyebutkan penyesuaian diri dengan istilah adjustment. Selanjutnya dijelaskan
“adjusment yang baik adalah adjustment yang memuaskan motif-motif untuk hidup, sosial, dan motif-motif yang lebih tinggi secara bersama-sama dengan tingkah laku dan perbuatan yang efektif dalam dunia nyata.
”Seseorang yang secara sepihak memuaskan dorongan-dorongan lainnya maka orang tersebut tidak bisa dikatakan mampu menyesuaikan diri dengan baik. Suatu pemuasan dikatakan baik apabila individu memuaskan semua dorongan yang dianggap sebagai suatu sistem yang bulat dengan perbuatan efektif dalam dunia nyata. Hal tersebut menunjukkan individu dikatakan berhasil dalam melakukan penyesuaian diri apabila dia dapat memenuhi kebutuhannya dengan cara-cara yang wajar atau dapat diterima oleh lingkungan tanpa merugikan lingkungannya. Penyesuaian diri adalah proses yang berlangsung secara terus menerus dan tidak pernah berakhir sepanjang hidupnya. Manusia dalam kehidupannya menjalankan sejumlah peran dan melakukan sejumlah aktivitas. Manusia selalu dituntut melakukan penyesuaian diri atas peran dan kegiatannya. Banyak orang kurang memiliki dasar-dasar penyesuaian diri, akhirnya penyesuaian diri itu lebih sulit, memerlukan waktu lebih lama dan hasil akhirnya kurang memuaskan.
Peran penyesuaian diri dalam sebuah organisasi yang melaksanakan serangkaian pekerjaan telah lama disoroti oleh para ahli. Salah satu diantaranya adalah Hurlock yang mengatakan : Penyesuaian diri adalah dasar bagi penyesuaian pekerjaan. Kesalahan melakukan penyesuaian diri menyebabkan kekecewaan dan ketidakpuasan dalam aktivitas pekerjaan. Penyesuaian diri harus dibangun dari latar belakang pengalaman individu pegawai yang sukses, sehingga mempunyai pengaruh terhadap penyesuaian pekerjaan dan menumbuhkan kepuasan dan motivasi kerja.Dalam suatu organisasi, pegawai yang melakukan aktivitas pekerjaan, kecenderungannya selalu berusaha mencari peluang- peluang dan meningkatkan fungsi dan perannya dalam suatu organisasi. Karena itu pegawai berupaya secara terus menerus mengasah kemampuannya sambil menyesuaikan diri secara harmonis terhadap tuntutan pekerjaan organisasi.Penyesuaian diri dalam organisasi adalah proses pegawai mencapai keseimbangan diri dalam memenuhi kebutuhan pribadi dan kepentingan lingkungan organisasi. Kemampuan mencapai keseimbangan ini barangkali tidak akan pernah tercapai sepanjang hayat. Namun demikian usaha terus-menerus harus dilakukan agar tercipta karakteristik pegawai yang sanggup mengatasi berbagai tekanan dan tantangan dalam organisasi.
Pegawai-pegawai dengan kepribadian yang sehat dan berhasil dalam penyesuaian diri pada suatu organisasi, bilamana pegawai tersebut mampu memenuhi kebutuhan jasmani dan psikisnya dengan cara-cara yang wajar dan diterima oleh organisasi. Maka perlu dikembangkan penyesuaian diri yang positif dan menghindarkan penyesuaian diri yang keliru.
Terdapat beberapa karakteristik penyesuaian diri yang positif yaitu:
a. kemampuan menerima dan memahami diri sebagaimana adanya. Karakteristik ini mengandung pengertian bahwa orang yang mempunyai penyesuaian diri yang positif adalah orang yang sanggup menerima kelemahan-kelemahan, kekurangan-kekurangan di samping kelebihan-kelebihannya. Individu tersebut mampu menghayati kepuasan terhadap keadaan dirinya sendiri, dan membenci apalagi merusak keadaan dirinya betapa pun kurang memuaskan menurut penilaiannya. Hal ini bukan berarti bersikap pasif menerima keadaan yang demikian melainkan ada usaha aktif disertai kesanggupan mengembangkan segenap bakat, potensi, serta kemampuannya secara maksimal.
b. Kemampuan menerima dan menilai kenyataan lingkungan diluar dirinya secara objektif, sesuai dengan perkembangan rasional dan perasaan. Orang yang memiliki penyesuaian diri positif yang memiliki ketajaman dalam memandang realita, dan mampu memperlakukan realitas atau kenyataan secara wajar untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhannya. Ia dalam
223
berperilaku selalu bersikap mau belajar dari orang lain sehingga secara terbuka ia mau menerima masukan dari orang lain.
c. Kemampuan bertindak sesuai dengan potensi, kemampuan yang ada pada dirinya dan kenyataan objektif diluar dirinya. Karakteristik ini ditandai oleh kecenderungan seseorang untuk tidak menyianyiakan kekuatan yang ada pada dirinya dan akan melakukan hal-hal diluar jangkauan kemampuannya. Hal ini terjadi perimbangan yang rasional antara energi yang dikeluarkan dengan hasil yang diperoleh, sehingga timbul kepercayaan terhadap diri maupun lingkungannya.
d. Memiliki perasaan yang aman dan memadai. Individu yang tidak lagi dihantui oleh rasa cemas ataupun ketakutan dalam hidupnya serta tidak mudah dikecewakan oleh keadaan sekitarnya. Perasaan aman mengandung arti bahwa orang tersebut mempunyai harga diri yang mantap,tidak lagi merasa terancam dirinya oleh lingkungan dimana ia berada, dapat menaruh kepercayaan terhadap lingkungan dan dapat menerima kenyataan terhadap keterbatasan maupun kekurangan-kekurangan dari lingkungannya.
e. Rasa hormat pada manusia dan mampu bertindak toleran. Karakteristik ini ditandai oleh adanya pengertian dan penerimaan keadaan di luar dirinya walaupun sebenarnya kurang sesuai dengan harapan dan keinginannya.
f. Terbuka dan sanggup menerima umpan balik. Karakteristik ini ditandai dengan kemampuan bersikap dan berbicara atas dasar kenyataan sebenarnya,ada kemauan belajar dari keadaan sekitarnya, khususnya belajar mengenai reaksi orang lain terhadap perilakunya.
g. Memiliki kestabilan psikologis terutama kestabilan emosi. Hal ini tercermin dalam memelihara tata hubungan dengan orang lain,yakni tata hubungan yang hangat penuh perasaan, mempunyai pengertian yang dalam, dan sikap yang wajar.
h. Mampu bertindak sesuai dengan norma yang berlaku, serta selaras dengan hak dan kewajibannya. Individu mampu mematuhi dan melaksanakan norma yang berlaku tanpa adanya paksaan dalam setiap perilakunya.Sikap dan perilakunya selalu didasarkan atas kesadaran akan kebutuhan norma, dan atas keinsyafan sendiri.
Menurut Sunarto dan Hartono bahwa karakteristik penyesuaian diri dapat bersifat positif dan bersifat negatif. Penyesuaian diri yang positif, ditandai dengan hal-hal : tidak adanya ketegangan emosional, tidak menunjukkan adanya mekanisme-mekanisme psikologis, tidak menunjukkan adanya frustasi pribadi, memiliki pertimbangan rasional dan pengarahan diri, mampu dalam belajar, menghargai pengalaman, dan bersikap realistik dan objektif. Sedangkan penyesuaian diri yang negatif (salah) ditandai dengan bentuk perilaku yang salah, tidak terarah, emosional, sikap yang tidak realistis, dan agressif.
Penyesuaian diri secara positif, individu akan melakukannya dalam berbagai bentuk, antara lain :
a. Penyesuaian diri dengan menghadapi masalah secara langsung dengan segala akibatnya.
b. Penyesuaian diri dengan melakukan eksplorasi.Individu mencari bahan pengalaman untuk dapat menghadapai dan memecahkan masalahnya.
c. Penyesuaian diri dengan coba-coba.Individu melakukan suatu tindakan coba-coba, jika menguntungkan diteruskan dan jika gagal tidak diteruskan.
d. Penyesuaian diri dengan substitusi atau mencari pengganti. Jika individu merasa gagal dalam menghadapi masalah, maka ia memperoleh penyesuaian dengan mencari pengganti.
e. Penyesuaian diri dengan menggali kemampuan pribadi. Individu mencoba menggali kemampuan- kemampuan khusus dalam dirinya, dan kemudian dikembangkan sehingga dapat membantu penyesuaian diri.
f. Penyesuaian diri dengan belajar. Individu melalui belajar akan banyak memperoleh pengetahuan dan ketrampilan yang dapat membantu menyesuaikan diri.
224
g. Penyesuaian diri dengan inhibisi dan pengendalian diri. Individu berusaha memilih tindakan mana yang harus dilakukan, dan tindakan yang tidak perlu dilakukan. Cara inilah yang disebut inhibisi. Selain itu individu harus mengendalikan dirinya dalam melakukan tindakannya.
h. Penyesuaian diri dengan perencanaan yang cermat. Individu mengambil keputusan dengan pertimbangan yang cermat dari berbagai segi,antara lain segi untung dan ruginya.
Sedangkan penyesuaian diri yang salah memiliki 3 bentuk reaksi, yaitu :
a. Reaksi bertahan, individu berusaha untuk mempertahankan diri seolah-olah tidak menghadapi kegagalan. Bentuk khusus reaksi ini adalah rasionalisasi, represi, proyeksi.
b. Reaksi menyerang, individu dengan perilaku menyerang dengan bentuk reaksi khusus : selalu membenarkan diri sendiri, mau berkuasa dalam setiap situasi, bersikap senang mengganggu orang lain, menunjukkan sikap permusuhan secara terbuka, menunjukkan sikap merusak, memperkosa hak orang lain.
c. Reaksi melarikan diri, individu yang tampak dalam perilaku suka melarikan diri, bentuk reaksi khusus antara lain : berfantasi, banyak tidur, minum-minuman keras, pecandu narkotika, melakukan regresi watak anak kecil.
Sejalan dengan pendapat di atas Pramadi Andrian menjelaskan mengenai karakteristik penyesuaian diri dengan melihat :
a. Self Knowledge atau self insight yaitu kemampuan mengenal kekurangan dan kelebihan.
Kemampuan ini harus ditunjang dengan emosional insight yaitu kesadaran diri akan kelemahan yang didukung oleh sikap yang sehat terhadap kelemahan tersebut,
b. Self Objectivity atau self acceptance, yaitu kemampuan untuk bersikap objektif dan menerima kekurangan dan kelebihan diri, dan kadang kadang juga melakukan pekerjaan yang tidak realistis karena melebihi kemampuan yang dimilikinya,
c. Self Development atau self controll, yaitu kendali diri yang berarti mengarahkan diri, regulasi diri pada impuls-impuls,pemikiran-pemikiran, kebiasaan, emosi, sikap dan tingkah laku yang sesuai. Kendali diri ini mengembangkan kepribadian kearah kematangan dan personal achievement sehingga kegagalan dapat di atasi dengan matang.
Dari berbagai pendapat di atas, dapat dikemukakan beberapa poin penting berkaitan dengan penyesuaian diri. Penyesuaian diri dibangun dari teori ilmu sosial,psikologi sosial, dan manajemen.
Penyesuaian diri bersumber dari attitude yaitu sikap terhadap suatu objek yang jasmaniah, rohaniah dan sosial. Sikap sosial sangat penting dalam interaksi sosial, termasuk interaksi sosial dalam suatu organisasi.
Dalam terminologi ilmu sosial penyesuaian diri menggunakan istilah adaptasi, sedangkan psikologi sosial mempergunakan istilah adjusment. Dalam ilmu manajemen kedua istilah tersebut dipergunakan dalam konteks penjelasan tentang seperangkat perilaku yang berkaitan dengan kemampuan dan ketrampilan yang dibangun individu dalam interaksi dengan lingkungan organisasi.
Penyesuaian diri adalah karakteristik perilaku individu pegawai dalam merespon lingkungan organisasi dalam upayanya memenuhi kebutuhan jasmaniah, rohaniah, dan psikisnya. Penyesuaian diri yang positif timbul dari perilaku positif individu, sebaliknya, penyesuaian diri yang salah atau negatif timbul dari perilaku yang negatif.
Penyesuaian diri pegawai sangat penting eksistensi dan perannya dalam suatu organisasi berkaitan dengan kemampuan mengikuti perubahan organisasi disatu sisi, serta kemampuan untuk bertahan atas segala tantangan dan kegagalan dalam kehidupan organisasi. Penyesuaian diri menumbuhkan keseimbangan yang harmonis antara pemuasan kebutuhan dengan tuntutan-tuntutan organisasi.
225
Berdasarkan kepada penjelasan–penjelasan di atas, maka penyesuaian diri disintesakan sebagai penilaian dari seseorang terhadap perilakunya dalam meningkatkan berbagai kemampuan dan ketrampilan sebagai upaya menyesuaikan diri dengan lingkungan organisasi untuk pemenuhan kebutuhan diri dan tuntutan organisasi melalui proses belajar dan kematangan emosional.
Pengukuran terhadap penyesuaian diri dilakukan berdasarkan pada indikator-indikator : mempertahankan eksistensi diri, menerima konformitas, mengembangkan penguasaan lingkungan, dan memperkuat kematangan sosial.
Peningkatan kemampuan sumber daya manusia pegawai dalam rangka pelaksanaan tugas- tugas organisasi merupakan penyesuaian diri yang positif. Penyesuaian diri positif adalah kesanggupan atau kemampuan menerima kelebihan dan kelemahannya sebagai pegawai maupun pegawai lainnya. Pegawai yang memiliki penyesuaian diri positif memiliki ketajaman dalam melihat realita secara wajar untuk memenuhi kebutuhannya, menyesuaikan tindakannya dan membangkitkan potensi dirinya. Efeknya adalah bahwa pegawai mampu membuat perimbangan rasional antara energi yang dikeluarkan untuk organisasi dan hasil yang diperolehnya. Pada akhirnya timbul rasa percaya diri tentang kemampuannya maupun orang lain. Penyesuaian diri dapat dipahami sebagai penyesuaian kemampuan pegawai terhadap pelaksanaan tugas-tugasnya, pada gilirannya membutuhkan kepercayaan diri dan bermuara pada peningkatan Kinerja.
KESIMPULAN
Penyesuaian diri dapat dipadankan dengan adjustment atau attitude yaitu sikap dan kesediaan bereaksi terhadap suatu hal, senantiasa terarahkan kepada suatu objek.
Penyesuaian diri sebagai satu faktor yang penting dalam sebuah organisasi. Karena organisasi berkembang dinamis, maka semua pendukung organisasi harus melakukan reaksi untuk
penyesuaian diri.
Menjadi pegawai yang baik dalam suatu organisasi tergantung pada terdapatnya attitude sosial positif dari pegawai dalam interaksi sosial. Attitude mempunyai segi motivasi, segi dinamis menuju ke suatu tujuan.
Kepribadian individu, kecakapan-kecakapannya, ciri-ciri kegiatannya, bakatnya, hanya menjadi kepribadian individu kalau melakukan interaksi dengan lingkungan organisasi. Individu memerlukan hubungan dengan lingkungan organisasi yang menggiatkannya, merangsang perkembangannya, atau yang memberikan sesuatu yang ia perlukan.
Pegawai yang memiliki penyesuaian diri positif memiliki ketajaman dalam melihat realita secara wajar untuk memenuhi kebutuhannya, menyesuaian tindakannya dan membangkitkan potensi dirinya. Efeknya pegawai mampu membuat perimbangan rasional antara energi yang dikeluarkan untuk organisasi dan hasil yang diperolehnya.
DAFTAR PUSTAKA
Calhoun,J,F., and Acocella,J,R.(2001).Psikologi tentang Penyesuaian dan Hubungan Kemanusiaan.
terjemahan Satmoko.Edisi ketiga.Cetakan Pertama.Semarang: IKIP Semarang Press.
Dimiyati,M.M.(1999).Psikologi Suatu Pengantar.Jakarta: Penerbit Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Gerungan A.W.(2009).Psikologi Sosial.Edisi Ketiga.Bandung: PT Refika Aditama.
Hariyadi,S., Soeparwoto., Hendriyani,R., dan Liftiah.(2003).Psikologi Perkembangan. Cetakan Pertama.Semarang: UPT MKDK Universitas Negeri Semarang.
Hurlock,B.E.(2003).Psikologi Perkembangan terjemahan Sudjarwanto.Jakarta: Erlangga.
Pramadi,A.(1999).Teori Pengembangan Organisasi: Hubungan Antara Kemampuan Penyesuaian Diri Terhadap Tuntutan Tugas dan Hasil Kerja’. Anima. No. 43.
Sunarto., dan Hartono.(2008).Perkembangan Peserta Didik.Jakarta:Penerbit Rineka Cipta.