Dr.Drs.H.Rozihan.,SH.MAg
Pendekatan
Islam dan Dekolonisasi di Indonesia
Islam dan Modernisasi di Indonesia
Islam dan Demokratisasi di Indonesia
Islam dan Globalisasi di Indonesia
Pembentukan Identitas Nasional
Pembentukan Negara Republik Indonesia
Pertarungan Ideologi
Dekolonisasi Sosial-Ekonomi
Modernisasi ummat Islam
Represi terhadap politik Islam
Mobilitas Sosial Ummat Islam
Perubahan basis politik Islam
Akomodasi politik ummat Islam
Islam sebagai kekuatan demokrasi
Kebangkitan politik Islam
Diaspora politik Islam
Akomodasi konstitusional
Lompatan teknologi informasi dan telekomunikasi
Perubahan geo-politik global
Kebangkitan Islam global / transnasional
Syed Muhammad Naquib Al-Attas, ISLAM DALAM SEJARAH DAN KEBUDAYAAN MELAYU (Mizan, 1990)
Kuntowijoyo, DINAMIKA SEJARAH UMAT ISLAM INDONESIA (Shalahudin Press,1994)
Kuntowijoyo, PARADIGMA ISLAM: INTERPRETASI UNTUK AKSI (2008)
Herbert Feith & Lance Castles, PEMIKIRAN POLITIK INDONESIA 1945- 1965 (LP3ES, 1988)
Deliar Noer, Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900-1942 (LP3ES, 1982)
Dennys Lombard, NUSA JAWA Jilid 1-3 (Gramedia, 2008)
Kusuma, RM. A.B., LAHIRNYA UNDANG-UNDANG DASAR 1945 (2004)
Ahmad Mansur Suryanegara, API SEJARAH 1-2 (2009)
Syamsudin Arif, ISLAM DI NUSANTARA: HISTORIOGRAFI DAN METODOLOGI (2011)
Teori otochtoni yang digunakan oleh Syed
Muhammad Naquib Al-Attas
Teori tahap kesadaran ummat Islam Indonesia dari
Kuntowijojo
Teori otoktoni menyatakan bahwa dalam suatu
kebudayaan terdapat unsur asli yang bersifat tetap sekalipun datang pengaruh kebudayaan lain.
Di Eropa teori ini melahirkan gerakan
Rennaisance yang peradaban Eropa kepada
warisan Yunani Romawi. Sementara agama Kristen dipandang sebagai kebudayaan asing yang
menyebabkan terjadinya zaman kegelapan di
Eropa
Menurut teori otoktoni, kebudayaan asli Indonesia tidak berubah sekalipun Islam menjadi agama
mayoritas. Kebudayaan Islam adalah kebudayaan asing yang menempel tipis pada permukaan
kebudayaan asli Indonesia
Analog dengan otoktoni di Eropa, agar peradaban Indonesia maju maka bangsa Indonesia harus
kembali kepada kebudayaan asli yang dipandang pernah melahirkan kejayaan Sriwijaya dan
Majapahit
Teori ini digunakan oleh pemerintah Hindia-Belanda untuk melahirkan lapisan Indonesia baru yang
terbaratkan melalui pendidikan bagi para priyayi pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20
Tujuan strategisnya adalah untuk menciptakan
kelompok sosial baru yang mampu melawan kekuatan subversif para ulama dan penguasa Islam
Teori otoktoni ini berhasil mengkonstruksi
pengetahuan baru tentang Indonesia yang berwatak nasionalistik dan anti-Islam
Tetapi secara politis tidak sepenuhnya berhasil untuk menciptakan para loyalis kolonial karena dari
kalangan para priyayi terbaratkan itupun muncul gerakan nasionalis yang anti-kolonial
Berdasarkan basis pengetahuan, ummat Islam mengalami perkembangan tahap kesadaran :
1.
Tahap mitos –didasarkan pada kepercayaan mistis-relijius → kerajaan utopia (Ratu Adil)
2.
Tahap ideologi – didasarkan pada formulasi normatif-rasionalistik → negara Islam
3.
Tahap ide – didasarkan pada basis ilmu-
pengetahuan dan teknologi → peradaban Islam
Berdasarkan tahap kesadaran itu, ummat Islam Indonesia mengalami perkembangan kesadaran :
1.
Sebagai kawula (abdi) dalam sistem patrimonialisme kerajaan Islam
2.
Sebagai wong cilik (rakyat kecil) dalam masyarakat kolonial yang terindustrialisasi
3.
Sebagai ummat dalam pergerakan nasional kemerdekaan Indonesia
4.
Sebagai warga negara dalam negara RI
Basis Pengetahuan Tahap Kesadaran
MITOS Kawula
IDEOLOGI Wong Cilik Ummat
IDE Ummat
Warga Negara
Pembentukan Identitas Nasional
Pembentukan Negara Republik Indonesia
Pertarungan Ideologi
Dekolonisasi Sosial-Ekonomi
Secara umum identitas nasional terbentuk sebagai reaksi dan
perlawanan atas warisan dan nilai- nilai kolonialisme Barat
Identitas nasional Indonesia sangat dipengaruhi oleh tiga paham
utama, yakni Islam,
nasionalisme, dan marxisme
Aliran Pemikiran Politik Indonesia (Feith & Castle)
Islam mengacu pada nilai-nilai Islam tradisional maupun modern
Nasionalisme mengacu pada nilai-nilai tradisi dan sekularisme politik.
Nasionalisme adalah perwujudan teori otoktoni
Marxisme mengacu pada kesadaran
kelas dan nilai-nilai keadilan sosial.
Islam merupakan faham pertama yang mempengaruhi pembentukan identitas nasional melalui peran para ulama yang diperkuat dengan organisasi Islam
Kemunculan nasionalisme dan marxisme tetap dipengaruhi secara dialektis oleh
ajaran Islam yang merupakan ideologi
tempatan, sehingga muncul konflik dan
akomodasi dalam kedua ideologi tersebut
Pembentukan identitas nasional adalah bagian dari proses dekolonisasi dengan
tujuan untuk mengubah struktur kolonial menjadi struktur nasional
Tetapi, bagi ummat Islam pembentukan
identitas nasional juga merupakan proses
dekolonisasi pengetahuan dari struktur
pengetahuan sekuler menjadi struktur
pengetahuan islami
Pembentukan negara Indonesia secara formal melibatkan dua kekuatan utama, yakni Islam dan nasionalis baik di BPUPK dan PPKI
Sementara kekuatan sosialis pimpinan St Sjahrir berperan dalam mendesak
Soekarno-Hatta untuk memproklamasikan
kemerdekaan RI tgl 17 Agustus 1945
Setelah kemerdekaan, kelompok sosialis mengambil alih kekuasaan dari kaum nasionalis dan Islam pada KNIP (parlemen) dan menggeser kedudukan Presiden Soekarno hanya sbg Kepala Negara
Sementara itu kekuatan tentara tetap dikuasai oleh kaum nasionalis dan Islam yang melancarkan
perlawanan bersenjata thd Belanda
Pada awal kemerdekaan terjadi perbedaan strategi antara kaum nasionalis dan Islam vis-à-vis kaum sosialis
Kaum nasionalis dan Islam yang sudah terlatih secara militer oleh Jepang memilih jalan perjuangan
bersenjata, selain perjuangan politik di pemerintahan
Kaum sosialis yang anti-fasisme Jepang memilih jalan diplomasi
Jalan diplomasi kaum sosialis melalui
Perjanjian Linggarjati dan Renville gagal
mempertahankan integritas negara Indonesia.
Kegagalan tsb dipulihkan oleh perjuangan bersenjata yang banyak melibatkan ummat Islam, tetapi kegagalan itu juga mendorong pembentukan DI / NII di wilayah yang
berdasarkan Perjanjian Renville dikuasai oleh
pemerintah Belanda
Keberhasilan perjuangan bersenjata mendorong persetujuan KMB yang menghasilkan penyerahan kedaulatan dari Kerajaan Belanda kpd Republik Indonesia Serikat
Berdasarkan KMB, Kerajaan Belanda
menyerahkan seluruh wilayah Hindia-Belanda dengan kompensasi ekonomi dan keuangan (pelunasan utang Belanda, perlindungan
perusahaan
2swasta Belanda, dan kewajiban
tunduk pada aturan IMF dan Bank Dunia)
Pembentukan negara Republik Indonesia akhirnya ditentukan oleh peran pemimpin Islam, Mohammad Natsir, yang mengajukan mosi integral dan berhasil mengembalikan mempersatukan negara Indonesia dalam wadah NKRI
Mosi integral menutup perjuangan revolusi kemerdekaan dalam rangka membentuk
negara NKRI yang berdaulat sepenuhnya
Keterlibatan secara formal dalam penyusunan UUD di BPUPK dan PPKI membuat ummat Islam berperan besar dalam pembentukan konsepsi dasar dan sistem ketatanegaraan Indonesia
Keterlibatan ummat Islam dalam perjuangan bersenjata dan pemerintahan awal
kemerdekaan memberikan legitimasi historis yang utuh bagi peran ummat Islam dalam
pembentukan negara RI
Keterlibatan pemimpin Islam dalam penyusunan UUD di BPUPK dan PPKI memungkinkan ummat Islam
mengungkapkan konsepsi ideologi dan negara secara formal
Secara umum konsepsi ideologi dan negara disusun sebagai bentuk dekolonisasi terhadap konsepsi negara kolonial Hindia-Belanda, sekalipun tetap
mempertahankan struktur dasar pemerintahan Hindia- Belanda
Berkenaan dengan konsepsi dan struktur
formal negara terjadi kesepakatan antara Islam dan nasionalis, tetapi dalam hal ideologi
negara terjadi perbedaan diametral
menyangkut peran agama dalam kehidupan negara.
Kaum nasionalis menghendaki negara bersikap
netral thd agama, sementara pemimpin Islam
menghendaki negara RI merepresentasikan
mayoritas penduduk yang beragama Islam
Pada BPKUK terjadi kesepakatan ideologis berupa Piagam Jakarta 22 Juni 1945 yang dirancang sebagai disain bagi pernyataan kemerdekaan RI dan preambule UUD.
Tetapi, setelah proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945 terjadi perubahan konstelasi yg mengakibatkan kaum nasionalis melakukan manuver politik yang memanfaatkan
‘kegentingan situasi’ yang membuat para
pemimpin Islam gagal mempertahankan
kesepakatan awal dan terpaksa menerima
kesepakatan baru
Selama masa revolusi kemerdekaan, pertarungan ideologi antara Islam dan nasionalis tidak mencuat, tetapi mulai muncul konflik keras antara Islam dan nasionalis vis-à-vis komunis yang memberontak di Madiun
Pertarungan ideologi muncul kembali setelah revolusi kemerdekaan, terutama di dalam Konstituante
Sama halnya pada waktu BPUPK dan PPKI, secara umum terdapat kesepakatan di antara annggota Konstituante soal konsep negara Indonesia, tetapi terjadi perbedaan mendasar tentang ideologi
negara; antara ideologi Islam dan Pancasila
Konflik ideologi itu ditengahi oleh Presiden
Soekarno dengan mengeluarkan Dekrit Presiden 5
Juli 1945 yang di dalamnya secara formal mengakui
eksistensi Piagam Jakarta 22 Juni 1945
Para pemimpin Indonesia (Islam, nasionalis, sosialis) sepakat bahwa dekolonisasi sosial-ekonomi harus
dilakukan setelah dekolonisasi politik selesai. Karena itu selama revolusi kemerdekaan 1945-1949 revolusi sosial-ekonomi tidak dapat dilaksanakan
Dekolonisasi sosial-ekonomi bertujuan untuk
mengubah struktur sosial-ekonomi kolonial menjadi struktur sosial-ekonomi nasional, termasuk yang
terdapat dalam kesepakatan KMB
Upaya dekolonisasi sosial-ekonomi sudah
dimulai sejak Kabinet Hatta yang membentuk Komisi Ahli Siasat Ekonomi.
Tetapi, secara formal dan terencana,
dekolonisasi mulai disusun pada Kabinet NKRI pertama, yaitu Kabinet Natsir, yang menyusun Rencana Urgensi Ekonomi yang kemudian disusul dengan penyusunan
Repelita, sekalipun baru diselesaikan pada
tahun 1958
Pada masa Orde Lama, ummat Islam tidak dilibatkan secara formal dalam dekolonisasi sosial-ekonomi. Arah
dekolonisasi sosial-ekonomi dikendalikan oleh PKI yang terbukti gagal.
Tetapi, tanpa disadari hasil dekolonisasi sosial-ekonomi yang dilakukan sejak
kabinet Natsir telah melahirkan lapisan
ummat Islam baru yang terdidik.
Lapisan ummat Islam terdidik itu merupakan hasil dari program pendidikan dasar pada 1950- an melalui pembentukan Sekolah Rakyat dan integrasi pelajaran agama ke dalam pendidikan umum (desekulerisasi)
Program ini mengakibatkan terjadi mobilitas
sosial ummat Islam ke dalam sektor modern
yang mengubah formasi sosial masyarakat
Indonesia pada tahun 1970-an
Mobilitas sosial ummat Islam hasil pendidikan nasional membuat
perubahan penting dalam tahap
kesadaran ummat Islam dari tahap ideologis menjadi tahap ilmu.
Ummat Islam terdidik itu merupakan modal sosial penting bagi proses
modernisasi yang dilakukan oleh Orde
Baru
Dekolonisasi sosial-ekonomi
membentuk kesadaran baru ummat Islam sebagai warga negara yang aktif
Kesadaran sebagai warga negara ini secara perlahan mendorong integrasi ke dalam struktur negara RI sehingga pada penghujung Orde Baru mulai
menggeser kedudukan politik kaum
elit lama yang terdidik Belanda