Peradaban Islam Indonesia
Dr.Drs.H.Rozihan.,SH.MAg
Materi
Pendekatan
Islam dan Dekolonisasi di Indonesia
Islam dan Modernisasi di Indonesia
Islam dan Demokratisasi di Indonesia
Islam dan Globalisasi di Indonesia
Islam dan Dekolonisasi
Pembentukan Identitas Nasional
Pembentukan Negara Republik Indonesia
Pertarungan Ideologi
Dekolonisasi Sosial-Ekonomi
Islam dan Modernisasi
Modernisasi ummat Islam
Represi terhadap politik Islam
Mobilitas Sosial Ummat Islam
Perubahan basis politik Islam
Akomodasi politik ummat Islam
Islam dan Demokratisasi
Islam sebagai kekuatan demokrasi
Kebangkitan politik Islam
Diaspora politik Islam
Akomodasi konstitusional
Islam dan Globalisasi
Lompatan teknologi informasi dan telekomunikasi
Perubahan geo-politik global
Kebangkitan Islam global / transnasional
Literatur
Syed Muhammad Naquib Al-Attas, ISLAM DALAM SEJARAH DAN KEBUDAYAAN MELAYU (Mizan, 1990)
Kuntowijoyo, DINAMIKA SEJARAH UMAT ISLAM INDONESIA (Shalahudin Press,1994)
Kuntowijoyo, PARADIGMA ISLAM: INTERPRETASI UNTUK AKSI (2008)
Herbert Feith & Lance Castles, PEMIKIRAN POLITIK INDONESIA 1945- 1965 (LP3ES, 1988)
Deliar Noer, Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900-1942 (LP3ES, 1982)
Dennys Lombard, NUSA JAWA Jilid 1-3 (Gramedia, 2008)
Kusuma, RM. A.B., LAHIRNYA UNDANG-UNDANG DASAR 1945 (2004)
Ahmad Mansur Suryanegara, API SEJARAH 1-2 (2009)
Syamsudin Arif, ISLAM DI NUSANTARA: HISTORIOGRAFI DAN
METODOLOGI (2011)
Pendekatan
Teori otochtoni yang digunakan oleh Syed Muhammad Naquib
Al-Attas
Teori tahap kesadaran ummat Islam Indonesia dari
Kuntowijojo
Teori Otoktoni
Teori otoktoni menyatakan bahwa dalam suatu kebudayaan terdapat unsur asli yang bersifat tetap sekalipun datang pengaruh kebudayaan lain.
Di Eropa teori ini melahirkan gerakan Rennaisance yang peradaban Eropa kepada warisan Yunani Romawi. Sementara agama Kristen dipandang sebagai kebudayaan asing yang menyebabkan terjadinya zaman kegelapan di Eropa
Teori Otoktoni
Menurut teori otoktoni, kebudayaan asli Indonesia tidak berubah sekalipun Islam menjadi agama mayoritas. Kebudayaan Islam adalah kebudayaan asing yang menempel tipis pada permukaan kebudayaan asli Indonesia
Analog dengan otoktoni di Eropa, agar peradaban Indonesia maju maka bangsa Indonesia harus kembali kepada kebudayaan asli yang dipandang pernah melahirkan kejayaan Sriwijaya dan Majapahit
Teori Otoktoni
Teori ini digunakan oleh pemerintah Hindia-Belanda untuk melahirkan lapisan Indonesia baru yang terbaratkan melalui pendidikan bagi para priyayi pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20
Tujuan strategisnya adalah untuk menciptakan kelompok sosial baru yang mampu melawan kekuatan subversif para ulama dan penguasa Islam
Teori Otoktoni
Teori otoktoni ini berhasil mengkonstruksi pengetahuan baru tentang Indonesia yang berwatak nasionalistik dan anti-Islam
Tetapi secara politis tidak sepenuhnya berhasil untuk menciptakan para
loyalis kolonial karena dari kalangan para priyayi terbaratkan itupun muncul gerakan nasionalis yang anti-kolonial
Tahap Kesadaran Ummat Islam
Berdasarkan basis pengetahuan, ummat Islam mengalami perkembangan tahap kesadaran :
1. Tahap mitos –didasarkan pada kepercayaan mistis-relijius → kerajaan utopia (Ratu Adil)
2. Tahap ideologi – didasarkan pada formulasi normatif-rasionalistik → negara Islam
3. Tahap ide – didasarkan pada basis ilmu-
pengetahuan dan teknologi → peradaban
Islam
Tahap Kesadaran Ummat Islam
Berdasarkan tahap kesadaran itu, ummat Islam Indonesia mengalami perkembangan kesadaran :
1. Sebagai kawula (abdi) dalam sistem patrimonialisme kerajaan Islam
2. Sebagai wong cilik (rakyat kecil) dalam masyarakat kolonial yang terindustrialisasi
3. Sebagai ummat dalam pergerakan nasional kemerdekaan Indonesia
4. Sebagai warga negara dalam negara RI
Tahap Kesadaran Ummat Islam
Basis Pengetahuan Tahap Kesadaran
MITOS Kawula
IDEOLOGI Wong Cilik Ummat
IDE Ummat
Warga Negara
Islam dan Dekolonisasi
Pembentukan Identitas Nasional
Pembentukan Negara Republik Indonesia
Pertarungan Ideologi
Dekolonisasi Sosial-Ekonomi
Pembentukan Identitas Nasional
Secara umum identitas nasional terbentuk sebagai reaksi dan
perlawanan atas warisan dan nilai- nilai kolonialisme Barat
Identitas nasional Indonesia sangat dipengaruhi oleh tiga paham utama, yakni Islam, nasionalisme, dan
marxisme
Aliran Pemikiran Politik Indonesia (Feith & Castle)
Pembentukan Identitas Nasional
Islam mengacu pada nilai-nilai Islam tradisional maupun modern
Nasionalisme mengacu pada nilai-nilai tradisi dan sekularisme politik.
Nasionalisme adalah perwujudan teori otoktoni
Marxisme mengacu pada kesadaran
kelas dan nilai-nilai keadilan sosial.
Pembentukan Identitas Nasional
Islam merupakan faham pertama yang mempengaruhi pembentukan identitas nasional melalui peran para ulama yang diperkuat dengan organisasi Islam
Kemunculan nasionalisme dan marxisme
tetap dipengaruhi secara dialektis oleh
ajaran Islam yang merupakan ideologi
tempatan, sehingga muncul konflik dan
akomodasi dalam kedua ideologi tersebut
Pembentukan Identitas Nasional
Pembentukan identitas nasional adalah bagian dari proses dekolonisasi dengan tujuan untuk mengubah struktur kolonial menjadi struktur nasional
Tetapi, bagi ummat Islam pembentukan identitas nasional juga merupakan proses dekolonisasi pengetahuan dari struktur
pengetahuan sekuler menjadi struktur
pengetahuan islami
Pembentukan Negara Indonesia
Pembentukan negara Indonesia secara formal melibatkan dua kekuatan utama, yakni Islam dan nasionalis baik di BPUPK dan PPKI
Sementara kekuatan sosialis pimpinan St Sjahrir berperan dalam mendesak
Soekarno-Hatta untuk memproklamasikan
kemerdekaan RI tgl 17 Agustus 1945
Pembentukan Negara Indonesia
Setelah kemerdekaan, kelompok sosialis mengambil alih kekuasaan dari kaum nasionalis dan Islam pada KNIP (parlemen) dan menggeser kedudukan Presiden Soekarno hanya sbg Kepala Negara
Sementara itu kekuatan tentara tetap dikuasai oleh kaum nasionalis dan Islam yang melancarkan perlawanan bersenjata thd Belanda
Pembentukan Negara Indonesia
Pada awal kemerdekaan terjadi perbedaan strategi antara kaum nasionalis dan Islam vis-à-vis kaum sosialis
Kaum nasionalis dan Islam yang sudah terlatih secara militer oleh Jepang memilih jalan perjuangan bersenjata, selain perjuangan politik di
pemerintahan
Kaum sosialis yang anti-fasisme Jepang memilih jalan diplomasi
Pembentukan Negara Indonesia
Jalan diplomasi kaum sosialis melalui
Perjanjian Linggarjati dan Renville gagal mempertahankan integritas negara
Indonesia.
Kegagalan tsb dipulihkan oleh perjuangan bersenjata yang banyak melibatkan ummat Islam, tetapi kegagalan itu juga mendorong pembentukan DI / NII di wilayah yang
berdasarkan Perjanjian Renville dikuasai
oleh pemerintah Belanda
Pembentukan Negara Indonesia
Keberhasilan perjuangan bersenjata mendorong persetujuan KMB yang
menghasilkan penyerahan kedaulatan dari Kerajaan Belanda kpd Republik Indonesia Serikat
Berdasarkan KMB, Kerajaan Belanda
menyerahkan seluruh wilayah Hindia-Belanda dengan kompensasi ekonomi dan keuangan
(pelunasan utang Belanda, perlindungan
perusahaan 2 swasta Belanda, dan kewajiban
tunduk pada aturan IMF dan Bank Dunia)
Pembentukan Negara Indonesia
Pembentukan negara Republik Indonesia akhirnya ditentukan oleh peran pemimpin Islam, Mohammad Natsir, yang mengajukan mosi integral dan berhasil mengembalikan mempersatukan negara Indonesia dalam wadah NKRI
Mosi integral menutup perjuangan revolusi kemerdekaan dalam rangka membentuk
negara NKRI yang berdaulat sepenuhnya
Pembentukan Negara Islam
Keterlibatan secara formal dalam penyusunan UUD di BPUPK dan PPKI membuat ummat Islam berperan besar dalam pembentukan konsepsi dasar dan sistem ketatanegaraan Indonesia
Keterlibatan ummat Islam dalam perjuangan
bersenjata dan pemerintahan awal kemerdekaan memberikan legitimasi historis yang utuh bagi
peran ummat Islam dalam pembentukan negara RI
Pertarungan Ideologi
Keterlibatan pemimpin Islam dalam penyusunan UUD di BPUPK dan PPKI memungkinkan ummat Islam mengungkapkan konsepsi ideologi dan negara secara formal
Secara umum konsepsi ideologi dan negara disusun sebagai bentuk dekolonisasi terhadap konsepsi negara kolonial Hindia-Belanda, sekalipun tetap
mempertahankan struktur dasar pemerintahan Hindia-Belanda
Pertarungan Ideologi
Berkenaan dengan konsepsi dan struktur formal negara terjadi kesepakatan antara
Islam dan nasionalis, tetapi dalam hal ideologi negara terjadi perbedaan diametral
menyangkut peran agama dalam kehidupan negara.
Kaum nasionalis menghendaki negara bersikap netral thd agama, sementara pemimpin Islam menghendaki negara RI merepresentasikan
mayoritas penduduk yang beragama Islam
Pertarungan Ideologi
Pada BPKUK terjadi kesepakatan ideologis berupa Piagam Jakarta 22 Juni 1945 yang dirancang sebagai disain bagi pernyataan kemerdekaan RI dan preambule UUD.
Tetapi, setelah proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945 terjadi perubahan konstelasi yg mengakibatkan kaum nasionalis
melakukan manuver politik yang
memanfaatkan ‘kegentingan situasi’ yang membuat para pemimpin Islam gagal
mempertahankan kesepakatan awal dan
terpaksa menerima kesepakatan baru
Pertarungan Ideologi
Selama masa revolusi kemerdekaan, pertarungan ideologi antara Islam dan nasionalis tidak mencuat, tetapi mulai muncul konflik keras antara Islam dan nasionalis vis-à-vis komunis yang memberontak di Madiun
Pertarungan ideologi muncul kembali setelah revolusi kemerdekaan, terutama di dalam Konstituante
Pertarungan Ideologi
Sama halnya pada waktu BPUPK dan PPKI, secara umum terdapat kesepakatan di antara annggota Konstituante soal konsep negara Indonesia, tetapi terjadi perbedaan mendasar tentang ideologi negara; antara ideologi Islam dan
Pancasila
Konflik ideologi itu ditengahi oleh Presiden Soekarno dengan mengeluarkan Dekrit Presiden 5 Juli 1945 yang di dalamnya secara formal mengakui
eksistensi Piagam Jakarta 22 Juni 1945
Dekolonisasi Sosial-Ekonomi
Para pemimpin Indonesia (Islam, nasionalis, sosialis) sepakat bahwa dekolonisasi sosial-ekonomi harus dilakukan setelah dekolonisasi politik selesai. Karena itu selama revolusi kemerdekaan 1945-1949 revolusi sosial- ekonomi tidak dapat dilaksanakan
Dekolonisasi sosial-ekonomi bertujuan untuk mengubah struktur sosial-
ekonomi kolonial menjadi struktur sosial-ekonomi nasional, termasuk yang terdapat dalam kesepakatan KMB
Dekolonisasi Sosial-Ekonomi
Upaya dekolonisasi sosial-ekonomi sudah
dimulai sejak Kabinet Hatta yang membentuk Komisi Ahli Siasat Ekonomi.
Tetapi, secara formal dan terencana,
dekolonisasi mulai disusun pada Kabinet NKRI pertama, yaitu Kabinet Natsir, yang menyusun Rencana Urgensi Ekonomi yang kemudian
disusul dengan penyusunan Repelita, sekalipun
baru diselesaikan pada tahun 1958
Dekolonisasi Sosial-Ekonomi
Pada masa Orde Lama, ummat Islam tidak dilibatkan secara formal dalam dekolonisasi sosial-ekonomi. Arah dekolonisasi sosial-
ekonomi dikendalikan oleh PKI yang terbukti gagal.
Tetapi, tanpa disadari hasil dekolonisasi
sosial-ekonomi yang dilakukan sejak kabinet
Natsir telah melahirkan lapisan ummat Islam
baru yang terdidik.
Dekolonisasi Sosial-Ekonomi
Lapisan ummat Islam terdidik itu merupakan hasil dari program pendidikan dasar pada 1950-an
melalui pembentukan Sekolah Rakyat dan
integrasi pelajaran agama ke dalam pendidikan umum (desekulerisasi)
Program ini mengakibatkan terjadi mobilitas
sosial ummat Islam ke dalam sektor modern yang
mengubah formasi sosial masyarakat Indonesia
pada tahun 1970-an
Dekolonisasi Sosial-Ekonomi
Mobilitas sosial ummat Islam hasil
pendidikan nasional membuat perubahan penting dalam tahap kesadaran ummat Islam dari tahap ideologis menjadi tahap ilmu.
Ummat Islam terdidik itu merupakan modal sosial penting bagi proses
modernisasi yang dilakukan oleh Orde
Baru
Dekolonisasi Sosial-Ekonomi
Dekolonisasi sosial-ekonomi membentuk kesadaran baru ummat Islam sebagai
warga negara yang aktif
Kesadaran sebagai warga negara ini secara perlahan mendorong integrasi ke dalam
struktur negara RI sehingga pada
penghujung Orde Baru mulai menggeser
kedudukan politik kaum elit lama yang
terdidik Belanda
Islam dan Modernisasi
Modernisasi dan Pembangunan
Modernisasi ummat Islam
Represi terhadap politik Islam
Mobilitas Sosial Ummat Islam
Perubahan basis politik Islam
Akomodasi politik ummat Islam
Modernisasi dan Pembangunan
Pada 1970-an terjadi proses modernisasi di Indonesia lewat program pembangunan yang berorientasi pada pertumbuhan dan stabilitas politik
Program pembangunan didukung Barat lewat IMF dan Bank Dunia untuk melawan gelombang
komunisme di Asia Tenggara
Tetapi pada awal Orde Baru, Islam merupakan kekuatan politik yang tidak diterima karena
formasi sosial-politik masih dikuasai oleh elit lama
yang sekular
Modernisasi Ummat Islam
Pada awal tahun 1970-an ummat Islam yang sudah relatif terdidik adalah modal sosial penting bagi keberhasilan program modernisasi (pembangunan) Orde Baru
Dengan modal sosial ummat Islam itu, proses modernisasi dapat menjangkau hingga ke pelosok desa yang mayoritas dihuni oleh kalangan ummat Islam
Modernisasi Ummat Islam
Pada awal Orde Baru proses modernisasi masih dikendalikan oleh kaum terdidik lama yakni
teknokrat Kristen-Katholik dan sosialis yang bekerjasama dengan militer-nasionalis (ABRI) sebagai penguasa politik
Di bawah kendali ketiga kekuatan itu, ummat Islam dimobilisasi untuk terlibat dalam proses
modernisasi, tetapi secara politis dihambat untuk
berpartisipasi dalam kehidupan politik
Mobilitas Sosial Ummat Islam
Sekalipun secara politik terhambat, tetapi modernisasi semakin memperluas lapisan sosial ummat Islam yang terdidik
Lapisan ummat Islam terdidik tsb kemudian melakukan mobilitas sosial ke dalam struktur modern, baik di pemerintahan maupun swasta
Mobilitas sosial ini menghasilkan akomodasi sosial-politik negara thd ummat Islam
Represi thd Ummat Islam
Tujuan stabilitas politik serta dominasi kaum Kristen-Katholik-sosialis-militer nasionalis menyebabkan terjadinya represi terhadap ummat Islam
Represi tersebut dilakukan melalui fusi-partai Islam yang diikuti dengan kebijakan asas tunggal Pancasila
Represi semakin meningkat setelah muncul kekuatiran atas pengaruh Revolusi Iran (1979) dan perang Afghanistan (1980-1989)
Respons Politik Ummat Islam
Karena secara sosial terjadi mobilitas tetapi
terhambat secara politis, ummat Islam pada era Orde Baru memberikan dua respons utama:
Respons akomodatif yang diungkapkan oleh Nurcholish Madjid sebagai “Partai Islam No, Islam Yes”
Respons konfrontatif yang diungkapkan dengan berbagai perlawanan baik terbuka (spt. Peristiwa Tanjung Priok, Ustad Abu) maupun tertutup (gerakan dakwah
kampus / LDK / Tarbiyah / Usrah)
Respons Politik Ummat Islam
Respons akomodatif menyebabkan terjadinya
akomodasi negara terhadap ummat Islam. Setelah reformasi respons akomodatif ini menciptakan
politik diaspora (menyebar ke semua kekuatan politik)
Respons konfrontatif berperan untuk memelihara ideologi dan basis politik Islam. Setelah reformasi respons konfrontatif melahirkan partai-partai
Islam
Perubahan Basis Politik Ummat
Modernisasi telah mengubah basis politik ummat Islam yang semula didominasi oleh kaum santri (petani-
tradisional dan pedagang) meluas kepada kaum birokrat dan profesional
Di satu pihak, perubahan basis ini mengakibatkan Islam terakomodasi oleh negara dan menguasai posisi penting di pemerintahan, tetapi di pihak lain menyebabkan
ummat Islam dependen thd negara dan tidak mandiri
Sikap politik ummat Islam pun berubah cenderung
menjadi lebih pragmatis dibandingkan ideologis
Akomodasi Ummat Islam
Perubahan terpenting pada masa Orde Baru adalah akomodasi ummat Islam oleh negara
Akomodasi ini terjadi karena mobilitas ummat Islam serta perubahan politik di tingkat nasional dan global
Perubahan lingkungan politik nasional terjadi setelah Soeharto mengalihkan basis dukungan politik kpd ummat Islam dan Golkar setelah
pemerintah AS mempersiapkan PANGAB Jendral
Beni Moerdani yang Katholik sebagai Presiden
menggantikan Soeharto
Akomodasi Ummat Islam
Pada saat bersamaan, mobilitas politik ummat Islam di pemerintahan telah semakin luas sehingga Soeharto dengan mudah mengalihkan basis politik kepada
ummat Islam dan Golkar
Setelah itulah terbentuk ICMI, Soeharto naik haji, pergantian Pangab oleh Jendral Faisal Tanjung yang berasal dari santri, disetujuinya UU Peradilan Agama, dibukanya bank syariah, kompilasi hukum Islam,
Soeharto menjadi Ketua OKI, dll
Akomodasi Ummat Islam
Akomodasi ummat Islam menyebabkan pendukung lama Orde Baru (Kristen-Katholik, sosialis, militer- nasionalis) tersingkir dari pusat pemerintahan dan mengambil sikap sebagai oposisi sejak awal 1990- an.
Oposisi pendukung lama Orde Baru ini
mengelompok dalam berbagai LSM, pers, dan gerakan sosial-budaya yang didukung oleh
jaringan luas di negara-negara Barat
Akomodasi Ummat Islam
Pada saat bersamaan, selepas Komunisme Eropa Timur runtuh, dukungan Barat thd Orde Baru
melemah yang menyebabkan kekuatan oposisi
semakin kuat dan akhirnya berhasil menumbangkan rezim Orde baru pada 1998.
Namun, pada akhir Orde Baru kekuatan sosial dan politik ummat Islam relatif sudah kokoh sehingga
tidak dapat digeser kembali oleh kekuatan lama Orde Baru
Implikasinya, muncul konflik antara Kristen-Katholik-
sosialis vis-à-vis Islam
Islam dan Demokratisasi
Islam sebagai kekuatan demokrasi
Demokrasi pasca-Orde Baru
Kebangkitan politik Islam
Diaspora politik Islam
Akomodasi syari’ah
Islam sebagai Kekuatan Demokrasi
Sejak zaman pergerakan Islam adalah kekuatan demokrasi yang konsisten
Gagasan demokrasi berkembang di kalangan para pemimpin ummat Islam dan diperjuangkan secara
konkrit dalam pemerintahan sejak awal kemerdekaan
Tetapi, demokrasi yang diperjuangkan ummat Islam adalah demokrasi-sosial-berketuhanan (theo-sosio-
demokrasi) yang bertolak belakang dengan demokrasi-
liberal-kapitalistik atau demokrasi-sosial-marxistis
Islam sebagai Kekuatan Demokrasi
Pada masa Orde Lama dan Orde Baru, Islam adalah kekuatan utama yang konsisten
memperjuangkan demokrasi di Indonesia. Contoh:
Pembelaan Sungkar dan Baasyir.ppt
Pada masa reformasi, Islam menjadi kekuatan
utama dalam proses demokratisasi di Indonesia
sehingga Indonesia menjadi negara demokrasi
muslim terbesar di dunia dan negara demokrasi
ketiga terbesar di dunia setelah India dan AS
Demokratisasi Pasca-Orde Baru
Namun, demokrasi pasca-Orde Baru bukan hanya desain ummat Islam,
melainkan juga hasil perjuangan kaum oposisi yang memperoleh bantuan dana dari pemerintah AS.ppt
Konsekuensinya, pasca-Orde Baru berlaku sistem demokrasi yang berwatak neo-liberal yang melahirkan perlawanan dari sebagian ummat Islam, termasuk dengan jalan kekerasan bersenjata
Kebangkitan Politik Islam
Sistem demokrasi memungkinkan ummat Islam membentuk partai politik Islam secara formal dan mengikuti proses pemilu demokratis
Kebangkitan partai politik Islam mematahkan slogan “Partai Politik No, Islam Yes” pada masa Orde Baru
Hanya saja perubahan basis politik Islam era-
Orde Baru telah menyebabkan partai Islam
kehilangan basis ideologis sehingga tidak
berhasil memperoleh suara mayoritas
Kebangkitan Politik Islam
Namun, keberadaan partai politik Islam sangat berperan untuk
mempertahankan ideologi Islam yang berfungsi sebagai standar politik secara ideal bagi ummat Islam
Keberadaan partai Islam memberikan ruang artikulasi bagi ummat Islam untuk memperjuangkan kepentingan agama Islam secara terbuka dalam bingkai
demokrasi
Diaspora Politik Islam
Pragmatisme politik ummat Islam yang terbentuk selama Orde Baru menyebabkan terjadinya
diaspora politik Islam ke dalam berbagai partai
politik, terutama partai nasionalis-relijius, seperti Partai Demokrat, Golkar, PKB, PAN, Gerindra,
Hanura.
Diaspora politik Islam ini menyebabkan terjadinya peleburan antara paham nasionalisme Indonesia dan Islam, sehingga melahirkan ideologi
nasionalis-relijius yang berbeda dengan ideologi nasionalis-sekular seperti yang dianut PDI
Perjuangan
Diaspora Politik Islam
Diaspora politik Islam dan partai Islam dua lini perjuangan ummat Islam di Indonesia
Secara politis, diaspora politik Islam memungkinkan ummat Islam menguasai pemerintahan dan menggerus basis ideologi nasionalis-sekuler
Diaspora politik Islam ini merupakan keberhasilan slogan “Partai Islam No, Islam Yes”
Akomodasi Syari’ah
Dua lini perjuangan politik Islam berhasil
mendorong akomodasi syari’ah dalam sistem hukum nasional, di antaranya : pengakuan
peradilan agama dalam amandemen UUD 1945, otonomi bagi Aceh untuk menerapkan syari’ah
Islam, legislasi perbankan dan lembaga keuangan Islam, perluasan wewenang Peradilan Agama
untuk memeriksa sengketa ekonomi Islam,
berbagai perda bernuansa syari’ah, dll
Islam dan Globalisasi
Lompatan teknologi informasi dan telekomunikasi
Perubahan geo-politik global
Gerakan Islam global / transnasional
Tahap-tahap Peradaban
Nama Tokoh Tahap 1 Tahap 2 Tahap 3 August Comte Mitos Metafisik Positivis
Van Peursen Mitis Ontologis Fungsional
Dissanayake Pertanian Industri Informasi
Alvin Toffler Otot Modal Informasi
Ziauddin Sardar Sejarah Kesadaran Umran
Lompatan Teknologi
Informasi dan Telekomunikasi
Setelah tahun 1970-an terjadi lompatan teknologi informasi dan telekomunikasi yang melahirkan
suatu dunia tanpa batas (the borderless world)
The borderless world ditandai oleh lalu lintas
informasi, barang, manusia, dan modal tidak lagi dibatasi oleh batas-batas negara
Akibatnya, negara-bangsa (the nation state)
kehilangan relevansi dan bergeser ke arah negara-
kawasan (the regional state), spt Uni Eropa dan
Masyarakat ASEAN
Lompatan Teknologi
Informasi dan Telekomunikasi
Ajaran Islam yang berintikan pada pesan (message) sangat sesuai dengan kemajuan
teknologi info-telkom sehingga dengan cepat diadopsi oleh ummat Islam untuk
mengembangkan dakwah Islam
Revolusi Islam Iran adalah peristiwa politik
pertama yang menggunakan teknologi telkom,
yakni tape-recorder, untuk menyebarkan pesan-
pesan revolusi Imam Khomeini
Perubahan Geo-politik Global
Lompatan teknologi informasi-telekomunikasi mendorong kehancuran komunisme di Eropa Timur yang menandai berakhirnya perang-dingin
Demokrasi liberal dan kapitalisme Barat menjadi pemenang dan menciptakan hegemoni di seluruh dunia yang diwujudkan melalui demokratisasi dan
liberalisasi perdagangan internasional
Perubahan Geo-politik Global
Tetapi, hegemoni Barat memperoleh tantangan dari Islam dan China, sehingga terjadi benturan peradaban antara Barat vs Islam-China
Islam menjadi kekuatan perlawanan karena berhasil melawan dominasi militer Barat,
sedangkan China berhasil melawan dominasi ekonomi Barat
Bagi negara-negara Barat, Islam dan China akan sangat berbahaya bila keduanya berhasil
mengembangkan kerjasama ekonomi dan militer
Gerakan
Islam Global / Transnasional
Perkembangan teknologi info-telkom telah melahirkan gerakan transnasional pada tahun 1970/80-an berupa Transnasional Corporation / Multinational Corporation (TNC/MNC) dan LSM / NGO internasional
Tetapi, selepas berakhirnya perang dingin muncul gerakan transnasional baru, yaitu gerakan Islam
transnasional (mujahidin internasional, Hizb al-Tahrir, Ikhwan al-Muslimun) yang semakin berkembang
dengan perkembangan teknologi info-telkom
Gerakan
Islam Global / Transnasional
Gerakan Islam transnasional ini juga berpengaruh pada gerakan Islam di Indonesia
Gerakan tersebut sudah dirintis sejak
tahun 1980-an seiring dengan Revolusi Iran dan perang Afghanistan
Setelah reformasi semakin artikulatif seiring dengan liberalisasi dan
demokratisasi politik di Indonesia
Gerakan
Islam Global / Transnasional
Gerakan Islam transnasional berperan untuk mendorong kesadaran sebagai ummat Islam dengan peradaban agung, sehingga tidak lagi tunduk pada hegemoni Barat
Kesadaran untuk membangun peradaban Islam akan mendorong penguasaan atas ilmu
pengetahuan serta sumber daya strategis lainnya
yang dimiliki ummat Islam di seluruh dunia
SEKIAN