Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Peradaban Islam Dan Nusantara Dosen Pengampu: Dr. Moh. Nor Afandi,M.Pd.I.
Disusun Oleh Kelompok 08 :
Anisa Rani (231101010028)
Nasichatul Lailiyah (231101010073) Putri Aqila Watazkiyyah (232101010023)
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI KIAI HAJI ACHMAD SIDDIQ JEMBER FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
MEI 2024
ii
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Alhamdulillah puji syukur kehadirat Allah Subhanahu Wata’ala yang telah memberikan rahmat dan hidayah sehingga saya bisa menyelesaikan makalah ini tepat waktu. Makalah ini berjudul “Kesastraan dalam Al-Qur’an Kontemporer”.
Sholawat serta salam semoga tetap tercurah limpahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW.
Selanjutnya kami ucapkan terimakasih kepada Bapak dosen Dr. Akhsin Ridho, M.Pd.I yang telah memberikan tugas makalah ini dengan arahan dan bimbingan yang baik.
Saya menyadari bahwasanya makalah ini masih jauh dari kata sempurna, untuk itu saya menerima saran serta kritikan yang membangun yang dapat saya terima. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca.
Aamiin.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Jember, November 2023
Penyusun
iii
KATA PENGANTAR ... ii
DAFTAR ISI ... iii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang ... 1
B. Rumusan Masalah ... 2
C. Tujuan Penulisan ... 2
BAB II PEMBAHASAN ... 3
A. Sejarah Penguasaan Spanyol ... 3
B. Kemajuan Peradaban Islam Spanyol ... 6
C. Kemunduran Peradaban Islam Spanyol ... 11
BAB III PENUTUP ... 13
A. Kesimpulan ... 13
B. Saran ... 14
DAFTAR PUSTAKA ... 15
1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Andalusia, sebuah wilayah di Semenanjung Iberia yang mencakup Spanyol dan Portugal, memiliki sejarah panjang dan kompleks yang dipengaruhi oleh berbagai budaya dan agama. Salah satu periode paling menarik dan berpengaruh dalam sejarah Andalusia adalah masa kekuasaan Islam, yang berlangsung dari tahun 711 hingga 1492.
Kekuasaan Islam di Andalusia dimulai dengan penaklukan Iberia oleh pasukan Umayyah yang dipimpin oleh Thariq bin Ziyad, yang mengalahkan Visigoth yang menguasai Iberia pada tahun 711 M. Pada awalnya, Andalusia menjadi provinsi dari Kekhalifahan Umayyah, kemudian berubah menjadi keamiran (756-929), lalu menjadi kekhalifahan independen (929-1031), dan akhirnya terpecah menjadi kerajaan-kerajaan kecil yang dikenal sebagai "taifa"
atau "Muluk ath-Thawaif" dalam bahasa Arab (1031-1492).
Selama masa kekuasaan Islam di Andalusia, wilayah ini menjadi pusat pendidikan, kebudayaan, dan ilmu pengetahuan dunia. Berbagai ilmuwan Muslim terkenal, seperti Ibn Sina (Avicenna), Ibn Rushd (Averroes), dan Al- Khwarizmi (Algorizm), menerima pendidikan di Andalusia dan berkontribusi pada kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi pada masa itu. Bangunan- bangunan bersejarah seperti Istana Alhambra, Masjid Raya Cordoba, dan Medinat Az-Zahra (Istana Khalifah) juga menjadi karya agung arsitektur dunia pada masa tersebut.
Namun, seiring berjalannya waktu, Spanyol menjadi negara Katolik, menyebabkan banyak Muslim Spanyol kehilangan identitas mereka atau bermigrasi ke negara lain. Kebangkitan kembali Islam di Spanyol dimulai pada tahun 1970, dan jejak sejarah Islam di Spanyol dapat ditemukan di pintu masuk al-Andalus.
Dalam makalah ini, kita akan membahas lebih dalam mengenai sejarah Islam di Andalusia, mencakup masa kekuasaan Islam, perkembangan budaya dan ilmu pengetahuan, serta perubahan-perubahan yang terjadi sepanjang sejarah wilayah ini.
B. Rumusan Masalah
1. Jelaskan tentang sejarah penguasaan islam di (Andalusia) spanyol ?
2. Pada tahun keberapa peradaban islam di (Andalusia) mengalami kemajuan
?
3. Pada tahun keberapa keberapa peradaban islam di (Andalusia) mengalami kemunduran ?
C. Tujuan Penulisan
1. Menyediakan pemahaman yang lebih mendalam mengenai sejarah Islam di Andalusia untuk memperkaya pengetahuan pembaca tentang interaksi budaya dan agama di wilayah ini.
2.
Mengkaji periode kekuasaan Islam di Andalusia, dari penaklukan awal hingga runtuhnya kerajaan-kerajaan kecil.3. Meneliti bagaimana Islam mempengaruhi perkembangan budaya, seni, dan ilmu pengetahuan di Andalusia, termasuk kontribusi para ilmuwan Muslim terkenal.
3
BAB II PEMBAHASAN A. Sejarah Penguasaan Spanyol
Pemerintahan Islam yang pertama kali menduduki Spanyol adalah Khalifah dari Bani Umayyah (Musa bin Nushair), ia seorang gubernur dan panglima perang yang cakap di bawah naungan Khalifah Al-Walid bin Abdul Malik. yang berpusat di Damaskus. Sebelum penaklukan Spanyol, umat Islam telah menguasai Afrika Utara dan menjadikannya sebagai salah satu propinsi dari dinasti Bani Umayyah. Penguasaan sepenuhnya atas Afrika Utara itu terjadi di zaman Khalifah Abd Malik (685-705 M). Khalifah Abd Malik mengangkat Ibnu Nu’man al Ghassani menjadi gubernur di daerah itu.
Pada masa Khalifah al Walid (705-715 M), Hasan Ibnu Nu’man sudah digantikan oleh Musa Ibnu Nushair. Di saat al Walid berkuasa, Musa Ibnu Nushair sukses memperluas wilayah kekuasaannya dengan menduduki daerah Aljazair dan Maroko. Selain itu, ia juga menyempurnakan penaklukan ke berbagai wilayah bekas kekuasaan Bangsa Barbar di sejumlah pegunungan sehingga mereka menyatakan loyal dan berjanji tidak akan membuat kekacauan seperti yang telah mereka lakukan sebelumnya.1
Penaklukan atas wilayah Afrika Utara itu dari pertama kali dikalahkan sampai menjadi salah satu provinsi dari Khalifah Bani Umayah memakan waktu selama 53 tahun, yaitu mulai tahun 30 H (masa pemerintahan Muawiyah ibn Abi Sufyan) sampai tahun 83 H (masa al-Walid). Sebelum dikalahkan dan kemudian dikuasai Islam, dikawasan ini terdapat kantung-kantung yang menjadi basis kekuasaan kerajaan Romawi, yaitu kerajaan Gotik.
Dalam proses penaklukan Spanyol terdapat tiga pahlawan Islam yang dapat dikatakan paling berjasa memimpin satuansatuan pasukan ke sana.
Mereka adalah Tharif ibn Malik, Tharik ibn Ziyad, dan Musa ibn Nushair.
Tharif dapat disebut sebagai perintis dan penyelidik.Ia menyeberangi selat yang
1 Luiz Egon Richter, Augusto Carlos, and De Menezes Beber, “Jurnal Peradaban,” n.d., 1–20.
berada diantara Maroko dan benua Eropa itu dengan satu pasukan perang lima ratus orang di antaranya adalah tentara berkuda, mereka menaiki empat buah kapal yang disediakan oleh Julian.
Ia menang dan kembali ke Afrika Utara membawa harta rampasan yang tidak sedikit jumlahnya. Didorong oleh keberhasilan Tharif dan kemelut yang terjadi dalam tubuh kerajaan Visigothic yang berkuasa di Spanyol pada saat itu, serta dorongan yang besar untuk memperoleh harta rampasan perang, Musa ibn Nushair pada tahun 711 M mengirim pasukan ke Spanyol sebanyak 7000 orang di bawah pimpinan Thariq ibn Ziyad.
Thariq ibn Ziyad lebih banyak dikenal sebagai penaklukan Spanyol karena pasukannya lebih besar dan hasilnya lebih nyata. Pasukannya terdiri dari sebagian besar suku Barbar yang didukung oleh Musa ibn Nushair dan sebagian lagi orang Arab yang dikirim Khalifah alWalid. Pasukan itu kemudian menyeberangi selat di bawah pimpinan Thariq ibn Ziyad. Sebuah gunung tempat pertama kali Thariq dan pasukannya mendarat dan menyiapkan pasukannya, dikenal dengan nama Gibraltar (Jabal Thariq).
Dalam pertempuran di Bakkah, Raja Roderick dapat dikalahkan. Dari situ seperti Cordova, Granada dan Toledo (Ibu kota kerajaan Goth saat itu).
Kebudayaan Islam memasuki Eropa melalui beberapa jalan, antara lain melewati Andalusia.Ini karena kaum muslimin telah menetap di negeri itu sekitar abad 8 abad lamanya. Pada masa itu kebudayaan Islam di negeri itu mencapai puncak perkembangannya. Kebudayaan Islam di Andalusia mengalami perkembangan yang pesat diberbagai pusatnya, misalnya Cordova, Sevilla, Granada, dan Toledo.
Kemenangan pertama yang dicapai oleh Thariq ibn Ziyad membuka jalan untuk penaklukan wilayah yang lebih luas lagi. Selanjutnya, keduanya berhasil menguasai seluruh kota penting di Spanyol, termasuk bagian utaranya mulai dari Saragosa sampai Navarre. Gelombang perluasan wilayah berikutnya muncul pada masa pemerintahan Khalifah Umar ibn Abdil Aziz tahun 99 H/717
5
M, dengan sasarannya menguasai daerah sekitar pegunungan Pyrenia dan Prancis Selatan.2
Gelombang kedua terbesar dari penyerbuan kaum muslimin yang geraknya dimulai pada permulaan abad ke-8 M ini, telah menjangkau seluruh Spanyol dan melebar jauh ke Prancis Tengah dan bagian-bagian penting dari Italia. Kemenangan kemenangan yang dicapai umat Islam terlihat begitu mudah. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor yaitu, faktor internal dan eksternal.3
Faktor internal : 1) Para pemimpin dari pejuang Islam adalah tokoh tokoh yang kuat. 2) Para prajurit umat Islam mempunyai kekompakan, persatuan dan rasa percaya diri yang sangat tinggi dalam penaklukan di wilayah Spanyol. 3) Ajaran Islam yang ditunjukan para tenatara Islam yaitu sifat toleransi, persaudaraan dan tolong menolong yang menyebabkan kaum pribumi menyambut kehadiran Islam di Spanyol.
Faktor eksternal : 1) Sikap penguasa Gotik yang tidak toleran terhadap aliran agama yang berkembang pada saat itu. Penguasa Gotik memaksa aliran agama kepda masyarakat. Penganut agama yahudi yang merupakan komunitas terbesar dari penduduk Spanyol dipaksa untuk dibaptis menurut agama Kristen.dalam kondisi ini mereka merasa tertindas secara teologis, yang menyebabkan mereka berharap datangnya juru pembebas. Dan juru pembebas tersebut mereka temukan dari orang orang Islam. Demi kepentingan mempertahankan keyakinan, mereka bersekutu dengan tentara Islam melawan pengusa Gotik.
Faktor selanjutnya adalah 2) Perselisihan antra raja Rodrick dan Witiza (wali kota Toledo), disatu pihak dan ratu Julian dipihak lain. Oppas dan Achila kakek dan anak Witiza menghimpun kekuatan untuk menjatuhkan Rodick, bahkan berkoalisi dengan kaum muslimi di Afrika Utara. Demikian pula ratu Julian memberikan pinjaman empat buah kapal yang dipakai oleh Tharif, Thariq
2 Rusniati Rusniati, “Masuknya islam di spanyol (Studi Naskah Sejarah Islam),” Al-Din: Jurnal Dakwah Dan Sosial Keagamaan 4, no. 1 (2019): 108–19.
3 Abustani Ilyas et al., “Sejarah Dan Perkembangan Islam Di Spanyol Dan Sisilia,” SEIKAT: Jurnal Ilmu Sosial, Politik Dan Hukum 1, no. 2 (2022): 134–46,
dan Musa. 3) Faktor lainnya yang tidak kalah pentingnya adalah bahwa tentara Rodrick tidak mempunyai semangat perang, yang disebabkan bertambah kuatnya pasukan tentara Islam setelah berkoalisinya kedua raja dan ratu tersebut.
B. Kemajuan Peradaban Islam Spanyol
Tak dapat dipungkiri bahwa Islam memainkan peranan yang penting di Spanyol selama sekitar delapan abad. Di Spanyol, Bangsa Arab memperoleh kemenangan paling besar dan paling lama di Eropa walaupun juga penderitaan yang dramatis terjadi di sana. Sejarah panjang yang dilewati umat Islam Spanyol menurut Hamka (1994: 293-294) terbagi dalam tiga masa saja, yaitu masa saat diperintah oleh wakil khalifah dari Damaskus, masa diperintah oleh para amir, dan masa dipimpin oleh seorang khalifah. Namun menurut Badri Yatim (1994: 92), masa Islam di Spanyol itu dapat dibagi menjadi enam periode sebagai berikut.4
1. Periode Pertama (711-755 M)
Periode ini, dimulai dari ekspansi Islam ke Spanyol yang dipimpin oleh Torik bin Ziyad. Pada periode ini perpolitikan di Spanyol belum stabil, pasalnya pemerintahan berada di bawah para wali yang diangkat oleh Khalifah Bani Umayyah yang berpusat di Damaskus. Dalam periode ini terjadi banyak gangguan keamanan di beberapa wilayah, baik gangguan itu dari luar dan dari dalam, semisal perselisihan antara elit penguasa dan perbedaan etnis dan golongan, hal ini mengakibatkan sering terjadinya perang saudara, semisal pertarungan antara Arab Selatan dan Arab Utara.
Dalam karya yang ditulis oleh Mahayuddin Hj. Yahya dan Ahmad Jaelani Halimi bahwa perpecahan ini faktor yang paling mendasar terletak pada strata sosial, dimana Arab Yaman lebih tinggi, pasalnya ia lebih dahulu datang ke semenanjung ini. Dan dari luar karena pada masa
4 Richter, Carlos, and Beber, “Jurnal Peradaban.”
7
ini adalah masa peletakkan dasar, asas dan invasi Islam di Spanyol, tentunya banyak pihak-pihak non muslim yang belum tunduk.
Periode ini sentralisasi kekuasaan masih di bawah Daulat Umayyah di Damaskus. Pada periode ini juga Islam di Spanyol tidak menemukan figur sejati, ini dapat dilihat dari terjadinya dua puluh kali pergantian wali. Dari berbagai fenomena ini mengakibatkan Islam di Spanyol belum memasuki kegiatan bangun membangun baik di bidang peradaban maupun kebudayaan. Dalam catatan Badri Yatim periode ini berakhir dengan datangnya ‘Abdu al-Rahman Al-Dakhil.
2. Periode Kedua (755-912 M)
Pada masa ini, Spanyol diperintah oleh seorang amir (panglima atau gubernur) tetapi tidak tunduk kepada pusat pemerintahan yang ketika itu dipegang oleh Khalifah Abbasiyah di Bagdad. Amir pertama adalah Abdurrahman I yang memasuki Spanyol tahun 138 H/755M dan diberi gelar al Dakhil (yang masuk ke Spanyol).
Abdurrahman al Dakhil adalah keturunan Bani Umayyah yang berhasil melarikan diri dan lolos dari kejaran Bani Abbasiyah yang telah menaklukkan Bani Umayyah di Damaskus. Abdurrahman melakukan pengembaraan ke Palestina, Mesir, dan Afrika Utara, hingga akhirnya tiba di Cheuta. Di wilayah ini, ia memperoleh bantuan dari Bangsa Barbar dalam menyusun kekuatan militer. Selanjutnya, ia sukses mendirikan Dinasti Bani Umayyah di Spanyol. Pemerintah setelah Abdurrahman al-Dakhil adalah Hisyam I, Hakam I, Abd al Rahman al Ausath, Muhammad Ibnu Abd al Rahman, Munzir Ibnu Muhammad, dan Abdullah Ibnu Muhammad.
Pada periode ini, umat Islam Spanyol mulai memperoleh banyak kemajuan, baik dalam bidang politik maupun dalam bidang peradaban.
Abd Rahman al Dakhil mendirikan masjid Kordova dan sekolah- sekolah di kota-kota besar Spanyol. Hisyam I dikenal berjasa sebagai pembaharu dalam kemiliteran. Dialah yang memprakarsai tentara bayaran di Spanyol. Ia juga orang pertama yang menjadikan Madzhab
Maliki sebagai Madzhab resmi negara. Adapun Abd. Al Rahman al Ausath dikenal sebagai penguasa yang cinta ilmu. Pemikiran filsafat mulai masuk, terutama di zaman Abdurrahman al Ausath, yang mengundang para ahli dari dunia Islam lainnya untuk datang ke Spanyol. Akhirnya, kegiatan ilmu pengetahuan di Spanyol kian berkembang.
Gangguan politik serius yang terjadi pada periode ini justru datang dari umat Islam sendiri. Golongan pemberontak di Toledo pada tahun 852 M membentuk negara kota yang berlangsung selama 80 tahun. Di samping itu, sejumlah orang yang tak puas menuntut terjadinya revolusi.
Pemberontakan yang dipimpin oleh Hafsun dan anaknya, Umar, yang berpusat di pegunungan dekat Malaga merupakan yang gangguan penting. Selain itu, perselisihan antara orang-orang Barbar dan orang Arab masih seringkali terjadi (Yatim, 1994: 96).
3. Periode Ketiga (912-1013 M)
Periode ini berlangsung mulai dari pemerintahan ‘Abd al-Rahman III yang bergelar Al-Nasir. ‘Abd al-Rahman III merupakan penguasa pertama yang memakai gelar khalifah dari kalangan Bani Umayah di Spanyol. Terdapat tiga Khalifah yang terpotret pada periode ini yaitu
‘Abd al-Rahman III (912-961 M), Hakam II (961-976 M), dan Hisham II (976-1009 M). Pada periode ini umat Islam di Spanyol mencapai puncak kemajuan dan kejayaan menyaingi Daulah ‘Abbasiyah di Bagdad. ‘Abd alRahman al-Nasir mendirikan Universitas Cordova.
Perpustakaannya memiliki koleksi ratusan ribu buku. Hakam II juga seorang kolektor buku dan pendiri perpustakaan. Masyarakat ada periode ini menikmati kesejahteraan dan kemakmuran, sedangkan pembangunan kota berlangsung dengan cepat.
Namun sejak Hisham naik tahta dalam usia sebelas tahun, merupakan awal kemelut dari periode ini dan perjalanan Bani Umayah di Andalus, pasalnya kendali pemerintahan ada di tangan militer. Hingga
9
akhirnya pada periode ini gelar khalifah dibubarkan, yang berlanjut dengan berdirinya negara kecil yang berpusat di kota-kota tertentu. 5 4. Periode Keempat (1013-1086)
Pada periode ini, Spanyol terpecah menjadi lebih dari tiga puluh negeri kecil di bawah pemerintahan raja-raja golongan atau al Muluk al Thawaif, yang antara lain berpusat di suatu kota seperti Seville, Cordova, dan Toledo. Pemerintahan terbesar diantaranya adalah Abbadiyah di Seville.
Pada periode ini, umat Islam Spanyol kembali memasuki masa pertikaian internal. Sayangnya, jika terjadi perang saudara, ada di antara pihak-pihak yang bertikai itu, ada pihak-pihak tertentu yang meminta bantuan kepada raja-raja Kristen. Karena menyaksikan kekacauan dan kelemahan yang menimpa keadaan politik Islam, maka orang-orang Kristen pada periode ini mulai mengambil inisiatif penyerangan untuk pertama kalinya. Akibat fatalnya, kekuatan Islam diketahui mulai menurun dan tiba saatnya untuk dihancurkan (Yatim,1994:96).
5. Periode Kelima (1086-1248)
Periode ini adalah periode yang benar-benar lepas dari gelar khalifah. Pada periode ini terdapat suatu kekuatan yang masih dominan, yaitu kekuasaan dinasti Murabitun (1146-1235 M). sedang dinasiti Murabbitun di Spanyol (1090-1147). Dinasti Murabitun pada mulanya adalah sebuah gerakan agama di Afrika Utara yang didirikan oleh Yusuf ibn Tasyifin. Pada tahun 1062 M, ia berhasil mendirikan sebuah kerajaan yang berpusat di Marakesh. Ia masuk ke Spanyol atas undangan penguasa-penguasa Islam yang tengah mempertahankan kekuasaannya dari serangan raja-raja kristen.
Pada tahun 1143 M, kekuasaan dinasti Murabitun berakhir, baik di Afrika Utara maupun di Spanyol, karena di pimpim oleh penerusnya yang lemah, kemudian digantikan oleh dinasti Muwahhidun. Salah satu
5 Poliana da Silva Finamore et al., “Kemajuan Peradaban Islam,” Journal of Chemical Information and Modeling 53, no. February (2021): 2021,
penyebab runtuhnya dinasti ini di Spanyol menurut K. Hitti adalah ketidak selarasan budaya mereka, yang cendrung tidak beraturan dengan kebudayaan yang mapan. penuh dengan aturan, hal ini dapat dimaklumi sebab orang Barbar adalah masyarakat yang hidup dalam gurun yang serba kekurangan, ini berimbas pada ketidaksiapan mereka dalam menerima budaya tersebut, sehingga hal ini dikalahkan oleh sanak yang mempunyai semangat tinggi, yaitu Dinasti Muwahhidun.
Dinasti Muwahhidun datang ke Spanyol di bawah pimpinan ‘Abdul Mun’im sekitar tahun 1114 dan 1154 M. Dinasti ini didirikan oleh Muhammad ibn Tumar (1078-1130) dari suku Masmuda, Muhammad diberi gelar simbolis al-Mahdi. Kota-kota penting umat Islam di Cordova, Almeria, dan Granada jatuh di bawah kekuasaannya.
Untuk beberapa dekade dinasti ini mengalami banyak kemajuan. Pada tahun 1212 M, dinasti ini ambruk oleh serangan Kristen. Akibat kekalahan yang dialaminya akhirnya memilih meninggalkan Spanyol dan kembali ke Afrika Utara tahun 1235 M.
6. Periode keenam (1248-1492)
Pada periode ini adalah periode terakhir dari perjalanan orang Islam di Spanyol. Islam hanya berkuasa di daerah Granada di bawah dinasti Bani Ahmar (1232-1492 M). peradaban kembali mengalami kemajuan seperti di zaman ‘Abd al-Rahman al-Nasir. Namun secara politik dinasti ini hanya berkuasa di wilayah yang kecil. Pada penghujung kepemimpinan Nasriyah Granada berpenduduk sekitar setengah juta jiwa. Pada periode ini adalah akhir dari ekstensi umat Islam di Spanyol.
Menurut Harun Nasution, pada sekitar tahun 1609 M boleh dikatakan tidak ada lagi umat Islam di daerah ini.
11
C. Kemunduran Peradaban Islam Spanyol
Penyebab utama kemunduran dan kehancuran islam di Spanyol antara lain:
1. Konflik Islam dan Kristen
Para penguasa muslim tidak melakukan islamisasi secara sempurna. Mereka sudah merasa puas dengan hanya menagih upeti dari kerajaan-kerajaan kristen taklukannya dan membiarkan mereka mempertahankan hukum dan adat mereka, termasuk posisi hirarki tradisional, asal tidak ada perlawanan.
Namun demikian, kehadiran Arab islam telah memperkuat rasa kebangsaan orang-orang Spanyol kristen. Hal itu menyebabkan kehidupan negara islam di Spanyol tidak pernah berhenti dari pertentangan antara islam dan kriten.
Pada abad ke-11 M umat kristen memperoleh kemajuan pesat, sementara umat islam sedang mengalami kemunduran.6 Bahkan, banyak orang kristen memakai nama-nama Arab dan meniru cara hidup lahiriyah kaum muslimin.
Bahasa Arab menjadi salah satu bahasa utama. Istilah Muzarabes (Arabisasi) yang digalakkan terhadap orang-orang Spanyol kristen menyebabkan bahasa latin hampir terlupakan.
2. Tidak Adanya Ideologi Pemersatu
Di tempat-tempat lain, para mukallaf diperlakukan sebagai orang islam yang sederajat. Namun, di Spanyol sebagaimana politik yang dijalankan Bani Umayyah di Damaskus, orang-orang Arab tidak pernah mau menerima orang-orang pribumi. Setidaknya sampai abad ke-10 M, mereka masih memberikan istilah ‘ibad dan muwalladun kepada para mukallaf yang merupakan suatu ungkapan yang dinilai merendahkan. Akibatnya, kelompok-kelompok etnis non-Arab yang ada sering menggerogoti dan merusak perdamaian yang pada akhirnya mendatangkan dampak besar terhadap sosio-ekonomi negara tersebut. Hal ini menunjukkan tidak adanya
6 Nuraini A Manan, “Kemajuan Dan Kemunduran Peradaban Islam Di Eropa (711M-1492M),”
Jurnal Adabiya 21, no. 1 (2020): 54,
ideologi yang dapat memberi makna persatuan, disamping kurangnya figur yang dapat menjadi personifikasi ideologi itu.
3. Kesulitan Ekonomi
Pada paruh kedua masa islam di Spanyol, para penguasa mambangun kota dan mengembangkan ilmu pengetahuan dengan sangat serius sehingga lalai membina perekonomian. Akibatnya timbul kesulitan ekonomi yang amat memberatkan dan mempengaruhi kondisi politik dan militer. Dengan munculnya dinasti-dinasti kecil menyebabkan kondisi politik yang tidak stabil dan perekonomian morat marik.
4. Tidak Jelasnya Sistem Peralihan Kekuasaan
Hal ini menyebabkan perebutan kekuasaan di antara ahli waris. Bahkan, karena inilah kekuasaan Bani Umayyah runtuh dan Muluk Al-Thawaif muncul. Granada yang merupakan pusat kekuasaan islam terakhir di Spanyol jatuh ke tangan Ferdinand dan Isabella, diantaranya juga disebabkan permasalahan ini.7
5. Keterpencilan
Spanyol islam bagian terpencil dari dunia islam yang lain. Ia selalu berjuang sendirian tanpa mendapat bantuan kecuali dari Afrika utara. Dengan demikian, tidak ada kekuatan alternatif yang mampu membendung kebangkitan kristen disana.8 Ketika islam Spanyol mendapat serangan, bantuan dari wilayah lain tidak bisa segera datang. Akibatnya, ketika kristen bangkit, tidak ada kekuatan alternatif yang mampu membendung serangan mereka (Yatim, 1994: 108).
7 Muh thalib, dahlan, “Kemunduran Dan Hapusnya Islam Di Andalusia Spanyol,” Jurnal Al-Ibrah
07, no. September (2018): 02.
13
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Sejarah Penguasaan Spanyol mencakup periode penting dalam ekspansi Islam di Eropa. Dimulai dengan kedatangan Islam di Afrika Utara dan penguasaannya atas wilayah tersebut di bawah Khalifah Bani Umayyah, penaklukan Spanyol menjadi langkah berikutnya. Tiga tokoh utama, Tharif ibn Malik, Thariq ibn Ziyad, dan Musa ibn Nushair, memimpin pasukan Islam dalam menaklukkan Spanyol. Perkembangan kebudayaan Islam di Andalusia mencapai puncaknya pada abad ke-8.
2. Perkembangan Islam di Spanyol berlangsung sekitar 800 tahun dan pernah mencapai puncaknya saat di bawah kepemimpinan Abd Rahman III. Saat itu, Spanyol mengalami kemajuan peradaban yang menggembirakan, terlebih di bidang Arsitektur. Meskipun akhirnya Islam harus keluar dari Spanyol, peradaban peninggalan Islam telah membuat Eropa bangkit dari keterbelakangannya. Pemikiran filsafat seperti pemikiran al Farabi, Ibnu Sina, dan Ibnu Rusyd, telah membawa Eropa menjadi kawasan yang maju intelektualitasnya.
3. Penyebab utama kemunduran dan kehancuran Islam di Spanyol meliputi konflik antara Islam dan Kristen, ketiadaan ideologi pemersatu, kesulitan ekonomi, tidak jelasnya sistem peralihan kekuasaan, dan keterpencilan.
Para penguasa Muslim tidak melakukan islamisasi secara menyeluruh, membiarkan kerajaan-kerajaan Kristen tetap mempertahankan hukum dan adat mereka. Namun, kebangkitan rasa kebangsaan di kalangan Kristen Spanyol memicu pertentangan yang tidak pernah berhenti antara kedua agama. Tidak adanya ideologi yang mempersatukan menyebabkan ketidaksetaraan di antara etnis, merusak perdamaian, dan memengaruhi kondisi sosio-ekonomi.
B. Saran
Penulisan makalah ini masih banyak kekurangan, baik dari segi bahasa maupun isi. Oleh karena itu, penulis mengharapkan masukan dan kritik yang bersifat membangun guna membantu penyempurnaan penelitian selanjutnya serta meningkatkan relevansi dan kepustakaan penelitian.
15
DAFTAR PUSTAKA
Finamore, Poliana da Silva, Rodolfo Silva Kós, João Carlos Ferrari Corrêa, D, Luanda André Collange Grecco, Tatiana Beline De Freitas, Julia Satie, et al. “Kemajuan Peradaban Islam.” Journal of Chemical Information and Modeling 53, no. February (2021): 2021.
Ilyas, Abustani, Alimuddin Hasan Palawa, Rahman, and Wahyu Nurhalim. “Sejarah Dan Perkembangan Islam Di Spanyol Dan Sisilia.” SEIKAT: Jurnal Ilmu Sosial, Politik Dan Hukum 1, no. 2 (2022): 134–46.
Manan, Nuraini A. “Kemajuan Dan Kemunduran Peradaban Islam Di Eropa (711M-1492M).”
Jurnal Adabiya 21, no. 1 (2020): 54.
Richter, Luiz Egon, Augusto Carlos, and De Menezes Beber. “Jurnal Peradaban,” n.d., 1–20.
Rusniati, Rusniati. “Masuknya islam di spanyol (Studi Naskah Sejarah Islam).” Al-Din: Jurnal Dakwah Dan Sosial Keagamaan 4, no. 1 (2019): 108–19.
thalib, dahlan, Muh. “Kemunduran Dan Hapusnya Islam Di Andalusia Spanyol.” Jurnal Al-Ibrah 07, no. September (2018): 02.
Hakim, L., Meria, A., Sandora, L., & Aisyah, S. (2020). Dari Minangkabau Untuk Dunia Islam:
Melacak Pemikiran Hamka sebagai Sejarawan Islam. Majalah Ilmiah Tabuah: Talimat, Budaya, Agama dan Humaniora, 24(1), 25-38.
Hasan, Sudirman. "Islam dan peradaban Spanyol: Catatan kritis beberapa faktor penyebab kesuksesan Islam Spanyol." el-Harakah 13.2 (2011).