• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERAN AYAH DALAM HIDUP DOA KELUARGA KRISTIANI

N/A
N/A
Risna Valentine

Academic year: 2024

Membagikan "PERAN AYAH DALAM HIDUP DOA KELUARGA KRISTIANI"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

p-ISSN: 2615-4188 ; e-ISSN : XXX-XXXX

DOI : - https://e-jurnalstpbonaventura.ac.id/

PERAN AYAH DALAM HIDUP DOA KELUARGA KRISTIANI Paulinus Tibo1, Kristoforus Ukat2 dan Fefriyanti Raja Gukguk

1Program Pendidikan Keagamaan Katolik, Sekolah Tinggi Pastoral St Bonaventuran Delitua Medan, Jln. Sibiru-biru Delitua Medan , Indoesia

*e-mail: [email protected], [email protected] dan [email protected]

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran ayah dalam hidup doa keluarga Kristiani. Penelitian ini dilatarbelakangi adanya fakta dilapangan bahwa menganggap peran seorang ayah hanya sekedar mencari nafkah tetapi kurang menyadari bahwa melaksanakan doa dalam keluarga juga sangat penting dan hidup doa dalam keluarga Kristiani belum berjalan dengan maksimal. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif. Berdasarkan penelitian kualitatif maka penentuan informan dilakukan dengan cara purposive sampling dan snowball sampling. Temuan penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan data yang terdapat teknik wawancara, observasi dan dokumentasi. Tempat peneliti melakukan penelitian adalah di Stasi Santo Vincentius Sumbeikan Paroki Santo Yosef Lawe Desky. Temuan penelitian ini terdapat peran ayah yang belum melaksanakan hidup doa keluarga Kristiani secara keseluruhan. Dan hasil penelitian mengenai pelaksanaan hidup doa keluarga Kristiani, keluarga mengupayakan pelaksanaan doa secara rutin didalam keluarga dengan berusaha melaksanakan doa pribadi, doa pagi dan doa malam, doa sebelum/sesudah makan dalam keluarga Kristiani.

Kata kunci: Peran Ayah, Hidup Doa, dan Keluarga Kristiani.

1Dosen STP St. Bonaventura KAM, 2021

2Dosen Sekolah Tinggi Pastoral St. Petrus Keuskupan Atambua

Jurnal Ilmu Kateketik Pastoral Teologi, Pendidikan, Antropologi, dan Budaya

(2)

Abstract

This research aims to determine the role of fathers in the prayer life of Christian families. This research is motivated by facts in the field that consider the role of a father as merely earning a living but are less aware that carrying out prayer in the family is also very important and prayer life in Christian families is not running optimally. The research method used is a qualitative research method. Based on qualitative research, the determination of informants was carried out using purposive sampling and snowball sampling. The findings of this research use data collection techniques including interview, observation and documentation techniques. The place where the researcher conducted the research was at Santo Vincentius Sumbeikan Station, Santo Yosef Lawe Desky Parish. The findings of this research are the role of fathers who have not implemented the prayer life of the Christian family as a whole. And the results of research regarding the implementation of Christian family prayer life, families strive to carry out prayer regularly in the family by trying to carry out personal prayers, morning and evening prayers, prayers before/after meals in Christian families.

Key words: The Role of the Father, the Prayer Life, and the Christian Family.

PENDAHULUAN

Keluarga merupakan sekolah pertama dan utama dalam pendidikan anak.

Penanggungjawab pendidikan anak ialah orangtua. Orangtua terdiri dari seorang bapak dan seorang ibu. Mereka memiliki tugas dan tanggungjawabnya masing- masing dalam mendidik anak. Dewasa ini, keluarga merupan tempat untuk membangun relasi komunikasi yang baik antara anggota keluarga. Mereka hidup bersam sebagai satu keluarga di dalam suatu rumah dan terbentuklah satu rumah tangga.

Paus Yohanes Paulus II, dikutip dari Alfonsus mengatakan:

Agar keluarga-keluarga menjadi “Gereja rumah tangga” atau ecclesia domestica. Artinya, keluarga dapat menjadi “ruang belajar” pertama dan utama

(3)

bagi anak-anak dalam mengetahui, memahami dan menghayati nilai-nilai kerohanian. Keluarga bisa menjadi “ruang doa” bagi anak karena adanya suasana religius dan keteladanan iman dari semua anggota keluarga.3

Keluarga sebagai sarana untuk mengembangkan hidup rohani anak.

Kehidupan rohani anak hendaknya orangtua yang mengajarkan mengenai penghayatan dan pemahaman mengenai kehidupan rohani. Kehidupan rohani, dapat diwujudkan dengan cara mengajarkan anak mengenai hal berdoa maupun iman Kristiani dalam keluarga. Melalui kegiatan berdoa, iman anak akan semakin teguh kepada Allah. Dokumen Konsili Vatikan II Gaudium Et Spes tentang

“pengembangan perkawinan dan keluarga merupakan tugas semua orang”

menegaskan:

Keluarga merupakan suatu pendidikan untuk memperkaya kemanusiaan.

Supaya keluarga mampu mencapai kepenuhan hidup dan misinya, diperlukan komunikasi hati penuh kebaikan, kesepakatan suami-istri, dan kerja sama orangtua yang tekun dalam pendidikan anak-anak. Kehadiran aktif ayah sangat membantu pembinaan mereka, tetapi juga pengurusan rumah tangga oleh ibu, yang terutama dibutuhkan oleh anak-anak yang masih muda, perlu dijamin, tanpa maksud supaya pengembangan peranan sosial wanita yang sewajarnya dikesampingkan. Melalui pendidikan hendaknya anak-anak dibina sedemikian rupa sehingga nanti bila sudah dewasa, mereka mampu penuh tanggung jawab mengikuti panggilan mereka, juga panggilan religius, serta memilih status hidup mereka.4

Orangtua terdiri ayah dan ibu tetapi yang terutama dimaksudkan orangtua di sini secara khusus adalah ayah. Ayah sebagai tokoh sentral yang akan dibahas selanjutnya pada doa dalam keluarga.

Andy mengatakan:

Banyak ayah berpikir bahwa ia masih memiliki banyak waktu untuk berbicara dengan anaknya, namun hal ini membuatnya tidak pernah mempunyai waktu dan tidak pernah menyediakan waktu untuk anak-anaknya. Para ayah menyediakan waktu ketika menegur anak-anaknya karena mereka menghadapi masalah sehingga di mata anak-anak, ayah adalah tokoh pemberi hukuman, selalu galak, dan tukang marah.5

3 Alfonsus Sutarno, Chatolic Parenting, (Yogyakarta: Kanisius, 2013), hlm. 39.

4 Konsili Vatikan II “Konstitusi Pastoral tentang Gereja Di Dunia Dewasa Ini Gaudium Et Spes”, diterjemahkan oleh R. Hardawiryana SJ, (Jakarta: Obor, 1993), hlm. 591.

5 Andy Budi Janto Sutedja, Ayah Sukses dan Anak Sukses, (Yogyakarta: ANDI, 2009), hlm. 36.

(4)

Sebagian ayah hanya memiliki waktu untuk anaknya apabila anaknya menghadapi masalah. Seringkali anak beranggapan apabila ayah menasihati ataupun menegur akan kesalahannya, ayah tersebut adalah sosok yang kejam dan penghukum. Ayah melakukan tindakan tersebut bukan bermaksud untuk menghakimi, tetapi ayah berkeinginan agar anak-anaknya tidaklah menjadi anak yang tidak mempunyai masa depan yang buruk. Sinode VI Keuskupan Agung Medan menegaskan:

Masih ada pemahaman yang salah khususnya di kalangan ayah bahwa tugasnya hanya pencari nafkah bagi keluarga. pembinaan atau pendampingan anak dipandang melulu sebagai tugas kaum ibu atau menjadi urusan sekolah dan Gereja. Kebersamaan dalam keluarga dianggap tidak penting. Banyak orangtua yang kurang mampu mengapresiasi dan mendukung anaknya tetapi lebih cenderung mempersalahkan dan menghukum.6

Ayah hendaknya mengetahui tugas dan tanggungjawabnya dalam keluarga. Tugas dan tanggungjawab seorang ayah hanya mencari nafkah saja bagi keluarga, tetapi sebagai teladan keluarga terkhusus anak-anaknya dengan cara memerhatikan kehidupan rohani anak. Kepemimpinan ayah dalam keluarga sebagai pembimbing dan bertanggungjawab terhadap keluarga. Sang ayah hendaknya hidup di bawah wewenang Kristus dan bertanggungjawab kepada Allah dalam hal memimpin dan memelihara keluarga melalui kasih. Kasih yang begitu besar akan mengalir dalam keluarga dan melalui kasih, keluarga akan semakin lebih mendekatkan diri kepada Allah. Paus Yohanes Paulus II menegaskan:

Doa keluarga memiliki sifat-sifat khasnya sendiri. Doa keluarga adalah doa yang dipersembahkan bersama suami-istri, bapak-ibu bersama dengan anak- anak. Persatuan dalam doa merupakan konsekuensi maupun tuntutan demi persatuan yang diberikan oleh sakramen Baptis dan sakramen Perkawinan.7

Hubungan sejati dari keluarga yaitu bersumber dari kerohanian yang mendalam dengan Tuhan. Keutuhan keluarga akan diteguhkan dan memperoleh keharmonisan dalam keluarga apabila terlaksananya doa keluarga.

Doa keluarga dapat menyatukan antara anggota keluarga satu sama lain. Dalam berdoa, keluarga diharapkan untuk berkomunikasi kepada Allah dengan rendah

6 Keuskupan Agung Medan, Keadaan Keluarga Katolik di Keuskupan Agung Medan, (Medan: Keuskupan Agung Medan, 2016), hlm. 119-120.

7 Paus Yohanes Paulus II, Amanat Apostolik Familiaris Consortio (Keluarga Kristiani Dalam Dunia Modern), diterjemahkan oleh A. Widyamartaya, (Yogyakarta: Kanisius, 1994), hlm. 105.

(5)

hati dan menaruh iman yang besar kepada Allah. Allah begitu dekat dengan kita, apabila beriman kepada Allah segala kebutuhan dalam keluarga akan tercapai.

Paulinus Tibo (2018) “Praktik Hidup Doa Dalam Keluarga Sebagai Gereja Rumah Tangga” mengatakan:

Doa adalah jembatan bagi umat Kristiani untuk berjumpa dan berbicara pada Allah. Dalam doa, manusia dapat membuka hati kepada Allah sebagai ungkapan rasa syukur atas kehidupannya. Hidup doa hendaknya menjadi bagian yang fundamental dalam keluarga sebagai komunitas orang beriman.8

Hubungan antara doa dan kehidupan keluarga Kristiani begitu dekat.

Karena lewat doa, keluarga Kristiani yang ada dan hidup karena inisiatif dari Allah sendiri. Melibatkan Allah dalam hidup keluarga, menjadikan sebagai sumber kekuatan untuk menyangkal segala kekuatan duniawi yang mengancam keutuhan keluarga. Persoalan yang mengakibatkan hancurnya keutuhan dalam keluarga, misalnya: pertengkaran dalam keluarga, perceraian, perselingkuhan, dsb. Oleh sebab itu, doa sangat penting dilaksanakan dalam keluarga. Ayah yang mengarahkan anggota keluarga untuk melaksanakan kehidupan doa yang diawali dari dalam keluarga. Bilamana doa berjalan dengan baik didalam keluarga, maka kehidupan keluarga akan melibatkan diri Allah dalam segala persoalan keluarga dan mendapatkan solusi dari persoalan tersebut.

Berdasarkan uraian berikut, ada beberapa fakta yang terjadi di lapangan bahwa para ayah menjalankan tugas dan tanggungjawabnya masih kurang optimal dalam keluarga. Veronika Fransiska Situmorang (2018) sebagai peneliti sebelumnya di Stasi Santo Vincentius Sumbeikan Paroki Santo Yosef Lawe Desky.

Kegiatan doa dilaksanakan di dalam keluarga, sebab keluarga adalah tempat pendidikan doa yang pertama, yang didasarkan sakramen perkawinan sehingga keluarga menjadi Gereja Rumah Tangga atau Gereja kecil. Temuan penelitian adalah keluarga Katolik telah melaksanakan doa dalam keluarga baik secara bersama-sama maupun secara pribadi. Bentuk-bentuk doa yang dilakukan oleh keluarga Katolik di Stasi Santo Vincentius Sumbeikan adalah seperti doa pagi dan doa malam, doa sebelum/sesudah makan, doa ulang tahun, doa kelahiran anak, doa syukur atas keberhasilan studi, doa dalam keadaan sakit. Dari berbagai bentuk-bentuk doa yang dilakukan oleh keluarga doa sesudah makan tidak terlaksana dengan baik karena umat belum terbiasa melaksanakan doa sesudah makan dalam keluarga.

8 Paulinus Tibo, “Praktik Hidup Doa Dalam Keluarga Sebagai Gereja Rumah Tangga”, Jurnal Jumpa Vol.

VI, No. 1, 2018, hlm. 69.

(6)

Penulis ingin meneliti kembali terkait bagaimana penerapan peran ayah dalam keluarga serta pelaksanaan hidup doa dalam keluarga. Sebagian para ayah menganggap peran ayah hanya sebatas mencari nafkah dan kurang menyadari bahwa hal rohani juga penting dalam keluarga. Timbullah masalah dari peran ayah yang terjadi dalam keluarga. Para ayah kurang memahami pentingnya doa bersama dalam keluarga. Apabila kegiatan doa dilaksanakan dalam keluarga, maka keluarga tersebut menjadi keluarga yang di cita-citakan yakni ecclesia domestica atau Gereja kecil. Penulis melihat adanya permasalahan yang kerap terjadi pada peran ayah dalam keluarga yaitu; para ayah lebih menghabiskan waktu di warung bukan lagi menghabiskan waktu dengan keluarganya, lebih dominan kaum ibu pergi ke gereja dibandingkan dengan kaum ayah. Tugas ibu, sekolah dan Gereja dianggap melulu sebagai tugas dan tanggungjawab dalam membina hidup rohani anak.

METODE PENELITIAN

Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif.

Berdasarkan penelitian kualitatif maka penentuan informan dilakukan dengan cara purposive sampling dan snowball sampling.

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Peran Ayah Dalam Hidup Doa Keluarga Kristiani

Ayah merupakan seorang pemimpin yang hendak dapat diteladani dalam keluarga. Ayah sebagai pemimpin mampu mengatur keluarga dan menjadi panutan ataupun teladan bagi keluarga. Tokoh ayah dapat digambarkan seperti St.Yosef, suami Maria. Yosef merupakan teladan dari seorang ayah yang memberikan dirinya secara tulus dan penuh untuk menjadi ayah Yesus dan suami bagi Maria. Peran Yosef di sini tidak bisa dilepaskan dari peran seorang ayah, untuk menjaga dan memelihara keluarga, namun juga untuk mendidik anak. Yosef adalah kepala keluarga, pemimpin rumah tangga. Yosef memegang peran penting dan besar dalam keluarga Nazaret. Peran itu dijalankan dengan penuh tanggungjawab.9 Meskipun demikian, Yosef dan Maria saling membutuhkan dan sebagai partner untuk kehidupan keluarga. Begitu juga dengan ayah dan ibu di rumah mempunyai tugas yang sama dalam rumah tangga. Tetapi dalam keluarga, ayah sebagai penggerak utama dalam membangun hubungan keluarga Kristiani.

9 Bdk. T. Krispurwana, Keluarga Kudus, (Yogyakarta: Kanisius, 2018), hlm. 96.

(7)

Allah menciptakan Adam untuk menetapkan Adam sebagai seorang ayah dengan tujuan untuk mewakili diri-Nya di bumi. Dalam menyatakan dan menghidupkan kembali di bumi ini kebapaan Allah, seorang ayah dipanggil untuk menjamin perkembangan semua anggota keluarga secara selaras dan bersatu: ia akan menjalankan tugas ini dengan memikul tanggung jawab yang berjiwa besar atas hidup yang dikandung di bawah jantung ibunya, dengan melibatkan diri secara lebih giat dalam tugas mendidik, yang dipikulnya bersama dengan istrinya, dengan melakukan kerja yang tidak pernah menjadi sebab perpecahan dalam keluarga tetapi justru meningkatkan kesatuan dan kemantapannya, dan dengan memberikan kesaksian hidup seorang Kristiani yang dewasa, yang secara efektif mengantar anak-anak kedalam pengalaman yang hidup mengenai Kristus dan Gereja.10

Mengingat kembali peran ayah dalam keluarga, bahwa seorang ayah hendaknya menunjukkan dirinya sebagai “Kristus” yang melayani. Dari penjelasan tersebut, melayani maksudnya memberikan diri seutuhnya. Ayah merupakan tokoh penting dalam keluarga. Tugas ayah dalam dan untuk keluarga mempunyai arti penting yang unik dan tak tergantikan. Ayah sebagai pemimpin keluarga melaksanakan perannya yang mengayomi keluarga hingga menuntun anggota keluarganya dalam kehidupan rohani.

Peran ayah dijalankan dengan setulus hati tanggungjawabnya atas pekerjaan maupun hidup doa keluarga secara efektif yang menghantarkan pengalaman hidup religius anggota keluarga. Penanaman nilai-nilai hidup doa yang dipimpin oleh ayah akan membentuk pengalaman religius pada anak. Dengan pengalaman tersebut mengenai pentingnya nilai-nilai rohani sehingga anak akan merasakan penghayatan iman didalam keluarga. Maka orangtua terkhusus ayah yang menjadi penggerak utama didalam keluarga hendaknya mengarahkan anggota keluarga kepada penghayatan iman didalam keluarga. Salah satu bentuk penghayatan iman yang dilaksanakan didalam keluarga yaitu hidup doa didalam keluarga Kristiani.11

Di dalam keluarga Kristiani, ayah sebagai penggerak utama didalam keluarga hendaknya mengambil bagian dalam hidup doa keluarga Kristiani sebagai bentuk pelayanan ataupun pemberian diri untuk keluarga. Untuk mengetahui peran ayah dalam hidup doa keluarga Kristiani, adapun beberapa peran ayah dalam hidup doa keluarga Kristiani yaitu;

10 Bdk. Paus Yohanes Paulus II, Op.Cit., hlm. 53-54.

11 Keuskupan Agung Medan, Tridarma Orangtua Dalam Keluarga Sebagai Gereja Rumah Tangga, (Medan:

Keuskupan Agung Medan, 2016), hlm. 21.

(8)

1) Ayah Sebagai Imam

Ayah hendaknya memimpin istri dan anak-anaknya beribadah kepada Tuhan. Ia hendaknya memberikan waktunya untuk memimpin keluarganya untuk berdoa, memuji dan menyembah Tuhan. Ia bertanggungjawab terhadap pertumbuhan rohani keluarganya.12

Bentuk-bentuk mengamalkan keimaman orangtua (ayah) di dalam keluarga, yaitu:

a) Berdoa bersama waktu pagi dan malam atau melakukan ibadat keluarga, seperti doa Rosario, doa Angelus atau doa-doa Katolik

b) Pergi ke gereja bersama didalam keluarga

c) Membawa anak ke penjiarahan-penjiarahan rohani13 2) Ayah Sebagai Guru

Ayah berperan sebagai guru berarti sumber pengetahuan bagi anak. Ayah hendaknya mengajarkan dan mengatur keluarganya dengan bijaksana. Ia hendaknya mengatur kehidupan keluarganya bukan dengan kekuatannya sendiri, tetapi dengan mengandalkan kuasa Tuhan. Ia tidak boleh menggunakan kekuasaannya dengan sewenang-wenang (otoriter) tetapi dengan hikmat Ilahi.14 Bentuk-bentuk mengamalkan keguruan orangtua (ayah) didalam keluarga, yaitu:

a) Membiasakan anak membaca Kitab Suci didalam keluarga dan bagi anak- anak

b) Mendorong anak-anak ambil bagian aktif didalam pembinaan gerejawi:

Asmika, Komuni Pertama, Krisma, Areka, dan OMK15 3) Ayah Sebagai Gembala

Ayah sebagai gembala hendaknya menjaga serta membimbing anggota keluarga kepada firman Tuhan dan nilai-nilai moral yang sesuai dengan kehendak Allah.

Dengan membimbing, ayah akan ikut terlibat dalam mempraktikkan hidup rohani di dalam keluarga.16

Bentuk-bentuk mengamalkan kegembalaan orangtua (ayah) didalam keluarga, yaitu:

a) Mempraktikkan kebiasaan makan bersama b) Rekreasi bersama didalam keluarga

12 Bdk. Heru Tri Budiyanto, Otoritas Dalam Keluarga, [Tanpahalaman]

(http://kirbatbaru.org/index.php/component/prechit/message/otoritas-dalam-keluarga/read?Itemid=0, diakses pada tgl. 29 Januari 2020, hari. Rabu, pukul. 12:39 WIB)

13 Keuskupan Agung Medan, Op.Cit., hlm. 24.

14 Bdk. Heru Tri Budiyanto, Op.Cit., [Tanpa halaman]

15 Keuskupan Agung Medan, Op.Cit., hlm. 23.

16 Bdk. Heru Tri Budiyanto, Op.Cit., [Tanpa halaman]

(9)

c) Mengadakan kunjungan antar keluarga Katolik17

B. Hidup Doa Dalam Keluarga Kristiani

Doa merupakan ungkapan manusia untuk berkomunikasi kepada Tuhan. Doa sering kali merupakan satu-satunya tindakan yang dapat dilakukan manusia terutama dalam keadaan tak berdaya. Dalam kehidupan manusia, doa dapat membantu manusia dalam perjalanannya kembali kepada Tuhan.18

J. Love mengatakan:

Dalam doa, kita dapat mengeluarkan segala ungkapan perasaan kita, berkeluh kesah, menangis ataupun bahagia kepada Tuhan. Dengan berdoa, kita dapat memohonkan berbagai kebutuhan pribadi maupun kebutuhan bagi orang lain. Dengan berdoa, batin dan jiwa kita juga semakin lebih tenang karena doa merupakan sarana untuk berkomunikasi dengan Tuhan.19

Pada saat berdoa, doa tidak hanya menciptakan hubungan harmonis dengan Allah melainkan juga dengan sesama. Dengan berdoa, seseorang dapat lebih mendekatkan diri kepada Allah dan dapat mengasihi sesamanya sehingga timbul kesadaran untuk mengampuni sesama. Manusia dapat bertemu dengan Allah dalam doa apabila mengarahkan hati, pikiran, dan perasaaan kepada-Nya. Dalam doa juga, manusia dapat mengungkapkan rasa syukur atas kebaikan Allah kepada umat-Nya.

Salah satu wujud hidup doa dalam keluarga yaitu doa bersama dalam keluarga. Doa bersama dalam keluarga memiliki ciri-ciri tersendiri. Doa keluarga dilakukan bersama-sama: suami dan istri bersama-sama, orangtua dan anak- anak bersama-sama. Persekutuan dalam doa merupakan konsekuensi dan persyaratan persekutuan, yang dikurniakan melalui Sakramen Baptis dan Pernikahan. Peristiwa-peristiwa hidup yang dialami sebagai tantangan dalam kehidupan keluarga hendaknya di syukuri sebagai bentuk ucapan syukur kepada Allah. Bentuk ucapan syukur keluarga selaku Gereja rumahtangga yaitu berdoa bersama dalam keluarga.20 Doa itu berupa misalnya; doa kelahiran anak dan dan ulang tahun, ulang tahun pernikahan orangtua, keberangkatan, perpisahan dan pulangnya anggota, keputusan-keputusan penting dan berjangkauan jauh, kematian mereka yang sangat dicintai, dan sebagainya.

C. Bentuk-Bentuk Hidup Doa Dalam Keluarga Kristiani 17 Keuskupan Agung Medan, Op.Cit., hlm. 25.

18 Bdk. C. Ismulcokro, Doa Bagi Anakku, (Malang: Dioma, 2009), hlm. 134.

19 J. Love, Kumpulan Doa Kerahiman Ilahi, (Jakarta: Obor, 2016), hlm. 4.

20 Bdk. Konferensi Waligereja Indonesia, Familiaris Consortio (Keluarga), (Jakarta: Departemen Dokumentasi dan Penerangan KWI, 2011), hlm. 91.

(10)

1. Doa Pribadi

Paus Yohanes Paulus II menegaskan: doa pribadi merupakan suatu intensi doa yang dilakukan pribadi untuk berkomunikasi dengan Tuhan. Doa pribadi membutuhkan kenyamanan dan keheningan ketika berdoa karena kita merasakan kehadiran Tuhan. Keluarga Kristiani menggunakan doa pribadi yang beraneka ragam bentuknya. Keanekaragaman ini menjadi saksi tentang kekayaan luar biasa yang dikaruniakan oleh Roh untuk menghidupkan doa Kristiani, juga bermanfaat untuk memenuhi berbagai kebutuhan dan situasi hidup orang-orang yang menghadap Tuhan dalam doa. Doa pribadi terlaksana dalam keluarga apabila hidup doa dapat dihayati maknanya dari doa itu sendiri.21 2. Doa Bersama Dalam Keluarga

Doa bersama dalam keluarga merupakan kehidupan keluarga yang dalam segala situasi yang silih berganti dipandang sebagai panggilan dari Allah dan dihayati sebagai tanggapan manusia sebagai putra atau putri-Nya terhadap panggilan-Nya. Suka maupun duka, harapan dan kekecewaan, kelahiran anak dan ulang tahun, ulang tahun pernikahan orangtua, keberangkatan, perpisahan dan pulangnya anggota, keputusan-keputusan yang penting dan berjangkauan jauh, kematian mereka yang sangat dicintai dan sebagainya. Peristiwa yang terjadi didalam kehidupan kita termasuk kasih Allah yang tak berkesudahan untuk kita alami sebagai pengalaman hidup.22

Komisi Liturgi Konferensi Waligereja Indonesia menegaskan:

Doa bersama dalam lingkup keluarga sangat dianjurkan oleh Gereja, karena lewat kegiatan ini mereka dapat menikmati janji Tuhan untuk hadir di tengah dua atau tiga orang yang berhimpun dalam nama-Nya. Kecuali itu, lewat doa bersama ini setiap anggota keluarga saling meneguhkan dan saling membangun sebagai orang beriman yang memiliki semangat kebersamaan serta keguyuban yang tinggi. Doa bersama menunjukkan kerukunan, kesatuan, dan persaudaraan.23

Doa bersama dalam keluarga hendaknya dilaksanakan bersama dengan suami, istri dan anak-anak di tempat yang sama. Doa sebagai sarana untuk keluarga agar dapat memudahkan berkomunikasi dengan Tuhan. Melalui doa, keluarga dapat mencari solusi dari permasalahan-permasalahan dalam keluarga, mengucapkan syukur atas segala anugerah yang diberikan Tuhan untuk

21 Bdk. Paus Yohanes Paulus II, Op.Cit., hlm. 108.

22 Bdk. Yeremias Bala Pito Duan, Op.Cit., hlm. 69.

23 Bdk. Komisi Liturgi KWI, Puji Syukur, (Jakarta: Obor, 1992), hlm.179.

(11)

keluarga, dan membantu keluarga untuk mengungkapkan segala harapan dan kekecewaan.

Adapun bentuk-bentuk doa dalam keluarga yang dapat dilakukan secara bersama-sama dan di tempat yang sama antara lain:

1. Doa Pagi dan Doa Malam

Sejak awal mula, orang-orang Kristen berdoa paling sedikit pada pagi hari sebelum dan sesudah makan, serta pada malam hari. Seseorang yang tidak berdoa secara teratur cepat atau lambat tidak akan berdoa sama sekali.

Siapapun manusia yang sungguh mencari-Nya akan terus mengirimkan tanda kerinduannya atas kebersamaan dan persahabatan dengan Allah; pada saat bangun di pagi hari menyerahkan seluruh kegiatan kepada Allah, memohon berkat dan kehadiran-Nya dalam setiap pertemuan dan kebutuhan; bersyukur kepada-Nya terutama pada waktu makan dan di akhir kegiatan setiap hari.

Seluruh kehidupan kita serahkan semua ke dalam tangan-Nya, mohon pengampunan dan berdoa untuk kedamaian diri sendiri dan sesama.24

2. Doa Sebelum/Sesudah Makan

Pengalaman hidup doa merupakan suatu wujud nyata beriman kepada Allah yang hendaknya ditanamkan sejak dini dari dalam diri anak, karena iman anak sangat perlu bagi perkembangan rohaninya. Cara mengembangkan iman rohani anak di dalam keluarga, misalnya; doa sebelum dan sesudah makan bersama. “Makan bersama dalam keluarga merupakan suatu perjamuan melalui peristiwa itu sesungguhnya telah menghadirkan peristiwa terakhir Yesus dengan rasul-rasul-Nya”. Makan bersama menciptakan suasana komunikasi yang baik di rumah kemudian ditutup dengan doa yang dilakukan secara bersama sebagai sarana untuk membina hubungan antar pribadi dalam keluarga.25

3. Devosi Dalam Keluarga

Devosi merupakan suatu sikap bakti yang berupa penyerahan seluruh pribadi kepada Allah dan kehendak-Nya sebagai perwujudan cinta kasih. Gereja memiliki tradisi doa yang sangat kaya seperti doa Rosario, doa Novena, dan sebagainya.

Devosi untuk membantu keluarga-keluarga Kristen berdoa. Terdapat banyak doa devosi kepada Yesus, Bunda Maria, dan kepada orang-orang Kudus, seperti devosi kerahiman Ilahi melalui Beata Faustina, devosi kepada Santa Perawan

24 Lani dkk (ed.), Katekismus Populer, (Yogyakarta: Kanisius, 2012), hlm. 281.

25 Bdk. Paulinus Tibo, Op.Cit., hlm. 75.

(12)

Maria, devosi kepada Santo Yosef, devosi kepada Santo Antonius Padua, Devosi kepada Santo Jude, dan lain-lain.26

Gereja di masa lampau memberi perhatian serta dorongan yang khas untuk menyajikan praktik devosi tertentu kepada umat beriman. Doa Rosario merupakan salah satu devosi kepada Bunda Maria yang dianjurkan Gereja supaya keluarga Kristiani berdoa Rosario tidak diragukan lagi karena berdevosi kepada Bunda Maria termasuk doa yang terbaik dan paling efektif. Devosi kepada Bunda Maria yang diungkapkan dalam cinta kasih yang tulus dan sungguh-sungguh untuk meneladani sikap baik dari Bunda Maria. Devosi ini merupakan suatu upaya untuk memantapkan persekutuan kasih dalam keluarga dan memantapkan spiritualitas pernikahan dan keluarga sebab Bunda Maria secara istimewa menjadi Bunda untuk keluarga-keluarga Kristiani.27

3. Aspek-Aspek Hidup Doa Dalam Keluarga

Dalam berdoa, umat datang untuk menyadari ketergantungan dirinya kepada Allah dan memberikan kebebasan kepada dirinya untuk melakukan yang benar secara moral dalam cinta. Dalam doa, khayalan-khayalan mengenai diri sendiri dipisahkan, dan kepercayaan diri sendiri untuk berelasi dengan Allah semakin diteguhkan.28 Relasi dengan Allah semakin diteguhkan, adapun aspek-aspek hidup doa dalam keluarga yaitu; iman, harapan, dan kasih.

1) Iman

Iman merupakan tanggapan manusia atas wahyu Allah. Tanggapan manusia inilah bentuk penyerahan diri manusia kepada Allah. Iman terlihat nyata perlunya kasih Allah yang menggerakkan hati serta akal budi akan iman kebenaran. Dalam mewujudkan iman hendaknya manusia melakukan perbuatan kebajikan-kebajikan terhadap Allah dan juga sesama.

Katekismus Gereja Katolik no. 1814 menegaskan: Iman merupakan kebajikan ilahi, olehnya kita percaya akan Allah dan segala sesuatu yang telah Ia sampaikan dan wahyukan kepada kita dan apa yang Gereja kudus ajukan supaya dipercayai. Karena Allah adalah kebenaran itu sendiri. Dalam iman

“manusia beriman berikhtiar seluruh dirinya kepada Allah” (DV 5). Karena itu, manusia beriman beriktiar untuk mengenal dan melaksanakan kehendak Allah.

“Orang benar akan hidup oleh iman” (Rm. 1:17), Iman yang hidup “bekerja oleh kasih” (Gal 5:6).29

26 Ibid., hlm. 76.

27 Bdk. Ibid., hlm. 94.

28 Bdk. Ibid., hlm. 133.

29 Konferensi Waligereja Indonesia, Katekismus Gereja Katolik, (Ende: Nusa Indah, 2007), hlm. 451.

(13)

Iman yang hidup apabila didasari oleh kasih. Kasih kepada Allah dan juga kepada sesama. Untuk menyatakan iman manusia kepada Allah dapat dilakukan dengan cara berdoa. Berdoa dapat dilakukan secara pribadi maupun bersama-sama. Doa merupakan sarana untuk berkomunikasi dengan Tuhan. Berkomunikasi dengan Tuhan sebagai bentuk perwujudan iman kepada-Nya. Tuhan yang tak dapat dilihat dengan mata telanjang tetapi dengan iman kepercayaan dapat merasakan kehadiran-Nya lewat berdoa.

2) Harapan

Harapan merupakan kebajikan ilahi yang olehnya kita rindukan Kerajaan surga dan kehidupan abadi sebagai bentuk kebahagiaan, dengan berharap kepada janji-janji Kristus dan tidak mengandalkan kekuatan manusia, tetapi bantuan rahmat Roh Kudus. “Marilah kita berpegang teguh kepada pengakuan tentang harapan, sebab Ia, yang menjanjikannya setia” (Ibr 10:23). Allah telah

“melimpahkan Roh Kudus untuk umat-Nya melalui Yesus Kristus Juruselamat supaya umat sebagai orang yang dibenarkan oleh kasih karunia-Nya berhak menerima kehidupan abadi, sesuai dengan pengharapan kita” (Tit 3:6-7).30

3) Kasih

Kasih merupakan bagian yang terpenting dari hubungan antara suami dan istri serta antara hubungan keluarga dan anak-anak. Orangtua sebagai sarana untuk menyalurkan kasih. Orangtua telah memberikan kasih kepada anak- anaknya, tidaklah secara dengan sendirinya mereka menjadi orangtua yang efektif. Kasih hendaknya diekspresikan kepada anak-anaknya yang dapat menyenangkan para orangtua.31

D. Temuan Penelitian

Peran ayah sebagai imam, mempraktikkan usahanya untuk mengajak keluarga berdoa bersama dan mengajak keluarga untuk pergi ke gereja bersama sudah berjalan dengan baik, namun usahanya untuk mengajak keluarga ke tempat penjiarahan rohani belum terlaksana bersama didalam keluarga karena kesibukan dalam pekerjaan di Stasi Santo Vincentius Sumbeikan, Paroki Santo Yosef Lawe Desky.

1) Ayah sebagai Guru

Peran ayah sebagai guru, mempraktikkan usahanya untuk membiasakan anak membaca Kitab Suci hanya dilakukan oleh beberapa ayah saja, namun usaha ayah untuk mengambil bagian didalam pembinaan gerejawi terlaksana.

30 Bdk. Ibid., hlm. 452.

31 Bdk. Pujiati Gultom, Pentingnya Kasih Dalam Keluarga Kristen, [Tanpa halaman] (http://www.e- jurnal.ukrimuniversity.ac.id/file/P211.pdf, diakses pada tgl. 25 Desember 2019, hari. Rabu, pukul. 08:10 WIB)

(14)

Misalnya; sebagai lektor dan doa umat di Stasi Santo Vincentius Sumbeikan, Paroki Santo Yosef Lawe Desky.

2) Ayah sebagai Gembala

Peran ayah sebagai gembala, mempraktikkan kebiasaan makan bersama terlaksana. Pelaksanaan makan bersama terdiri atas ayah, ibu, dan anak. Ayah mengajak anggota keluarga makan bersama dan sebelum makan bergiliran memimpin doa, rekreasi dalam keluarga belum terlaksana hanya dilaksanakan secara pribadi dan kegiatan kunjungan antar keluarga Katolik terlaksana di Stasi Santo Vincentius Sumbeikan, Paroki Santo Yosef Lawe Desky.

3) Hidup Doa Keluarga Kristiani

Pelaksanaan hidup doa didalam keluarga hanya dilaksanakan oleh beberapa keluarga saja di stasi. Pelaksanaan hidup doa dijalankan keluarga pada saat; doa kelahiran anak, doa ulang tahun dan doa untuk kematian orang yang sangat dicintai di Stasi Santo Vincentius Sumbeikan Paroki Santo Yosef Lawe Desky.

4) Bentuk-Bentuk Doa Dalam Keluarga Kristiani (1) Doa Pribadi

Pelaksanaan doa pribadi terlaksana didalam keluarga. Pelaksanaan hidup doa dijalankan secara pribadi pada saat; doa sebelum tidur, doa sebelum pergi ke ladang, doa sebelum pergi ke tempat keluarga, doa sebelum anak-anak ujian, doa keberhasilan, doa kelahiran anak, doa ulang tahun, doa sebelum menanam tanaman dan rencana keluarga, doa kematian untuk orang yang dicintai. Namun yang sering dijalankan secara pribadi yaitu doa sebelum tidur di Stasi Santo Vincentius Sumbeikan Paroki Santo Yosef Lawe Desky.

(2) Doa Bersama Didalam Keluarga 1) Doa Pagi dan Doa Malam

Pelaksanaan doa pagi dan doa malam didalam keluarga Kristiani di Stasi Santo Vincentius Sumbeikan, Paroki Santo Yosef Lawe Desky. Doa pagi hanya dilaksanakan oleh beberapa orang saja di stasi. Doa pagi jarang dilaksanakan didalam keluarga hanya dilaksanakan secara pribadi sedangkan doa malam yang dilaksanakan bersama didalam keluarga ketika pada saat makan malam bersama dengan keluarga. Sebelum makan, mereka terlebih dahulu berdoa.

Berdoa yang dilaksanakan yaitu doa spontan sebagaimana memohon berkat Tuhan atas hidangan yang tersedia dan juga tak lupa untuk bersyukur kepada- Nya.

2) Doa Sebelum/Sesudah Makan

(15)

Doa sebelum makan dilaksanakan didalam keluarga. Sebelum menyantap makanan, keluarga Kristiani memulainya dengan berdoa. Doa sebelum makan didalam keluarga di Stasi Santo Vincentius Sumbeikan, Paroki Santo Yosef Lawe Desky sering terlaksana dan pada umumnya dilaksanakan bersama dengan keluarga. Sedangkan doa sesudah makan sangat jarang dilaksanakan didalam keluarga. Pelaksanaan doa sebelum makan terlaksana tetapi doa sesudah makan jarang dilaksanakan. Sebelum berdoa, ayah memimpin doa spontan dengan mengucapkan syukur atas pemberian Tuhan. Selesai berdoa, keluarga bersama- sama menyantap makanan yang sudah terhidang. Selesai makan, doa sesudah makan tidak terlaksana”.

3) Devosi Dalam Keluarga

Pelaksanaan devosi dalam keluarga di Stasi Santo Vincentius Sumbeikan, Paroki Santo Yosef Lawe Desky hanya dilakukan beberapa keluarga saja tetapi secara keseluruhan belum terlaksana didalam keluarga. Devosi terlaksana ketika bergiliran ke rumah-rumah umat di stasi. Misalnya; doa Rosario dan jalan salib di Stasi Vincentius Sumbeikan. Devosi dalam keluarga tidak terlaksana tetapi devosi terlaksana ketika bergiliran ke rumah-rumah umat di stasi.

SIMPULAN

Peran ayah dalam hidup doa keluarga Kristiani yaitu mengajak keluarga berdoa bersama didalam keluarga berjalan dengan baik. Usaha ayah terlaksana ketika ayah mengarahkan anggota keluarga untuk berkumpul kemudian membiasakan diri untuk berdoa sebelum makan dan bergiliran memimpin doa.

Usaha ayah untuk mengajak keluarga pergi ke gereja bersama berjalan dengan baik. Usaha ayah terlihat ketika ayah mengarahkan anggota keluarga untuk pergi ke gereja bersama-sama dan mengusahakan untuk tepat waktu dalam mengikuti ibadat sabda. Namun, kegiatan pergi ke penjiarahan rohani belum terlaksana. Hal ini disebabkan karena faktor ekonomi yang mendorong ayah untuk bergiat dalam bekerja sehingga dalam pelaksanaan pergi ke penjiarahan rohani dilaksanakan secara pribadi.

Usaha ayah untuk membiasakan anak membaca Kitab Suci belum terlaksana. Hal ini disebabkan karena belum terbiasa untuk melakukannya tetapi setiap bulan Kitab Suci pada bulan September, anggota keluarga mengusahakan membaca Kitab Suci minimal 1-2 kali dalam sebulan. Selain kegiatan membaca Kitab Suci, ada juga kegiatan mengambil bagian secara aktif dalam pembinaan gerejawi. Usaha ayah untuk mengambil bagian secara aktif dalam pembinaan

(16)

gerejawi terlaksana. Keaktifan dalam mengambil bagian sebagai lektor ataupun doa umat.

Usaha ayah untuk membiasakan makan bersama didalam keluarga terlaksana. Hal ini terlihat ketika ayah mengajak keluarga untuk membiasakan makan bersama didalam keluarga. Ayah memimpin doa sebelum makan secara spontan dan bergiliran memimpin doa. Selain kegiatan makan bersama, kegiatan rekreasi didalam keluarga juga belum terlaksana. Rekreasi didalam keluarga belum terlaksana karena faktor ekonomi yang mendorong ayah untuk giat dalam bekerja sehingga dalam pelaksanaannya hanya dilakukan secara pribadi.

Mengenai kunjungan keluarga Katolik sudah dilakukan didalam keluarga.

Kegiatan kunjungan keluarga Katolik terlaksana pada waktu sakit, kemalangan dan pesta.

Pelaksanaan hidup doa keluarga Kristiani di Stasi Santo Vincentius Paroki Santo Yosef Lawe Desky terlaksana dibeberapa keluarga saja. Pelaksanaan hidup doa didalam keluarga terlaksana ketika pada saat; doa kelahiran anak, doa ulang tahun, dan doa kematian. Pelaksanaan doa pribadi terlaksana didalam keluarga, misalnya; doa sebelum tidur, doa sebelum bekerja dan doa sebelum belajar.

Pelaksanaan doa pagi dan doa malam berjalan dengan baik tetapi pelaksanaannya dilakukan secara pribadi dan bersama didalam keluarga Katolik.

Pelaksanaan sebelum/sesudah makan didalam keluarga berjalan dengan baik.

Pelaksanaan sebelum makan sering dilaksanakan didalam keluarga Katolik tetapi doa sesudah makan jarang terlaksana didalam keluarga. Pelaksanaan devosi didalam keluarga belum terlaksana. Devosi dilaksanakan secara bersama-sama dengan umat di Stasi Santo Vincentius Sumbeikan. Devosi berjalan ketika pada masa Prapaskah, bulan Mei dan Oktober. Devosi diadakan di rumah umat secara bergiliran ataupun diadakan di gereja.

UCAPAN TERIMA KASIH

Bagian ini berisi ucapan terima kasih kepada sponsor atau pendonor dana, atau kepada pihak-pihak yang secara penting berperan dalam pelaksanaan penelitian (jika ada).

DAFTAR PUSTAKA

Alfonsus Sutarno, Chatolic Parenting, Yogyakarta: Kanisius, 2013.

Aloysius Lerebuln, Keluarga Kristiani, Yogyakarta: Kanisius, 2016.

(17)

Andy Budi Janto Sutedja, Ayah Sukses dan Anak Sukses, Yogyakarta: ANDI, 2009.

C. Ismulcokro, Doa Bagi Anakku, Malang: Dioma, 2009.

Dennis J. Billy dan James F. Keating, Suara Hati & Doa, Yogyakarta: Kanisius, 2009.

I Wawang Setyawan, Tantangan Menjadi Orangtua Yang Efektif Menurut Familiaris Consortio, Yogyakarta: Yayasan Pustaka Nusatama, 2010.

J. Love, Kumpulan Doa Kerahiman Ilahi, Jakarta: Obor, 2016.

Juliansyah Noor, Metodologi Penelitian, Jakarta: Prenadamedia Group, 2011.

Keuskupan Agung Medan, Keadaan Keluarga Katolik di Keuskupan Agung Medan, Medan: Keuskupan Agung Medan, 2016.

Keuskupan Agung Medan, Tridarma Orangtua Dalam Keluarga Sebagai Gereja Rumah Tangga, Medan: Keuskupan Agung Medan, 2016.

Konferensi Waligereja Indonesia, Familiaris Consortio (Keluarga), Jakarta:

Departemen Dokumentasi dan Penerangan KWI, 2011.

Konferensi Waligereja Indonesia, Katekismus Gereja Katolik, Ende: Nusa Indah, 2007.

Konferensi Waligereja Indonesia, Kompendium Katekismus Gereja Katolik, Yogyakarta: Kanisius, 2009.

Konsili Vatikan II “Konstitusi Pastoral tentang Gereja Di Dunia Dewasa Ini Gaudium Et Spes”, diterjemahkan oleh R. Hardawiryana SJ, Jakarta: Obor, 1993.

Komisi Liturgi KWI, Puji Syukur, Jakarta: Obor, 1992.

Lani dkk (ed.), Katekismus Populer, Yogyakarta: Kanisius, 2012.

Lexy Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung: PT. Remaja Rosda Karya, 2016.

Paulus Mudjijo dan Paulus Palondongan, Pastoral Sekolah, Jakarta: Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Katolik, 2011. (diktat)

Paus Yohanes Paulus II, Amanat Apostolik Familiaris Consortio (Keluarga Kristiani Dalam Dunia Modern), diterjemahkan oleh A. Widyamartaya, Yogyakarta: Kanisius, 1994.

Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, R&D, Bandung: Alfabeta, 2016.

T. Krispurwana, Keluarga Kudus, Yogyakarta: Kanisius, 2018.

Yeremias Bala Pito Duan, Keluarga Kristiani, Yogyakarta: Kanisius, 2011.

Paulinus Tibo, “Praktik Hidup Doa Dalam Keluarga Sebagai Gereja Rumah Tangga”, Jurnal Jumpa Vol. VI, No. 1, 2018, hlm. 69.

(18)

Referensi

Dokumen terkait

[r]

Pada model 4 dibangun untuk mengetahui hubungan peran ayah dengan praktik pemberian ASI, serta untuk mengetahui besarnya kontribusi variabel sikap ayah dan sikap ibu yang

Relasi antara pria dan wanita secara esensial adalah relasi yang diwarnai dan didasarkan atas cinta; dalam arti ini maka seksualitas manusia harus dipahami sebagai keinginan

Hasil penelitian oleh Liu, Li, Purwono, Chen, & French (2015) secara jelas menunjukkan bahwa kesepian pada remaja juga berkorelasi negatif dengan kehangatan

$\DK DGDODK VHRUDQJ ¿JXU \DQJ EHUSHUDQ WHUKDGDS SHUNHPEDQJDQ GDQ NHEHUKDVLODQ DQDN 6DODK VDWX SHUDQ \DQJ GLODNXNDQ ROHK D\DK \DLWX EDJDLPDQD FDUD D\DK PHUDZDW DQDNQ\D 6XUYHL

Dari hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan peran ayah di dalam pengasuhan anak memberikan gambaran yang cukup positif di berbagai aspek, baik waktu, perhatian

Kelompok pertama yang bermaksud menjelaskan tentang aspek kepemimpinan yaitu para teoritis kesifatan. Bahwa pemimpin mempunyai sifat dan cirri tertentu. Untuk

Hasil penelitian ini adalah walaupun peran-peran ayah yang ditampilkan tidak ada yang tampak lillah (karena Allah) karena film Keluarga Cemara yang tidak mengangkat sisi