68 | Jurnal Keamanan Maritim | Volume 7 Nomor 1 Tahun 2021
PERAN DIPLOMASI MARITIM DALAM MENANGANI KRISIS DI LAUT NATUNA UTARA ANTARA INDONESIA – CHINA
THE ROLE OF MARITIME DIPLOMACY IN HANDLING CRISIS AT LAUT NATUNA UTARA BETWEEN INDONESIA - CHINA
Merisa Dwi Juanita1, Supartono2, Purwanto3
PROGRAM STUDI KEAMANAN MARITIM FAKULTAS KEAMANAN NASIONAL
UNIVESITAS PERTAHANAN
([email protected], [email protected], [email protected])
Abstrak - Krisis di Laut Natuna Utara terjadi dipicu adanya pelanggaran IUU Fishing (Ilegal, unreported, and unregulated) oleh kapal nelayan dan Coast Guard China yang merugikan ekonomi dan menyinggung hak berdaulat Indonesia sehingga mengakibatkan gangguan keamanan maritim. China berdalih Laut Natuna Utara adalah traditional fishing ground berdasarkan nine dash line sebagai dasar untuk memiliki hak dan kepentingan atas kawasan perairan disebut relevant waters, Klaim tersebut dibantah Menteri Luar Negeri Indonesia dengan menegaskan wilayah Laut Natuna Utara milik Indonesia berdasarkan UNCLOS 1982 dan tidak akan pernah mengakui klaim China. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis koordinasi Kementerian dan Lembaga dalam menangani krisis di Laut Natuna Utara dan peran diplomasi maritim oleh Kementerian Luar Negeri di forum Internasional dengan menggunakan metode kualitatif dan teknik analisis data triangulasi serta konsep diplomasi pertahanan maritim, teori pembuatan keputusan luar negeri, konsep keamanan maritim. Peneliti menganalisis bagaimana proses koordinasi dapat mendukung diplomasi maritim untuk menangani krisis di Laut Natuna Utara dan peran aktif Kementerian Luar Negeri di forum internasional untuk menjaga kepentingan nasional namun tetap dapat menjaga mitra baik dengan China di tengah krisis yang terjadi. Hasil penelitian menunjukan kurangnya intergrasi koordinasi pada Kementerian dan Lembaga menangani krisis Laut Natuna Utara, serta metode ASEAN Way belum optimal dikarenakan perbedaan pandangan isu IUU Fishing di Internal ASEAN. Peneliti menyarankan evaluasi komprehensi pada koordinasi Kementerian dan Lembaga serta hadirnya political will Presiden untuk mengatasi krisis bekerjasama dengan negara non- ASEAN di bidang teknonologi maritim sebagai upaya mencegah IUU Fishing di Laut Natuna Utara Kata Kunci: Peran, Diplomasi Maritim, IUU Fishing, Keamanan Maritim, Laut Natuna Utara
Abstract - The crisis in the Laut Natuna Utara was triggered by violations of IUU Fishing (Illegal, unreported, and unregulated) by fishing boats and the Chinese Coast Guard which harmed the economy and offended Indonesia's sovereign rights and caused maritime security disturbances.
China argues that the Laut Natuna Utara is a traditional fishing ground based on the nine dash line as a basis for having rights and interests in the water area called relevant waters. This claim was denied by the Indonesian Foreign Minister by emphasizing that the Laut Natuna Utara belongs to Indonesia based on UNCLOS 1982 and will never admit the China claim. This study aims to analyze the coordination of Ministries and Institutions in dealing with crises in the Laut Natuna Utara and the role of maritime diplomacy by the Ministry of Foreign Affairs in international forums using qualitative methods with triangulation data analysis techniques with the concept of maritime defense diplomacy, foreign decision-making theory, and the concept of security. maritime.
Researchers analyzed how the coordination process could support maritime diplomacy to deal with the crisis in the Laut Natuna Utara and the active role of the Ministry of Foreign Affairs in international forums to safeguard national interests while maintaining good partnerships with
China in the midst of the crisis. The results showed that the lack of integrated coordination in Ministries and related institutions and the ASEAN Way method was not optimal due to differences in viewing the issue of IUU Fishing in ASEAN Internal. Researchers suggest a comprehensive evaluation of the coordination of Ministries and Institutions and the presence of the President's political will to overcome the crisis in collaboration with non-ASEAN countries in the field of maritime technology as an effort to prevent IUU fishing in the Laut Natuna Utara.
Keywords: The Role, Maritime Diplomacy, IUU Fishing, Maritime Security, Laut Natuna Utara
Pendahuluan
Aktifitas nelayan ikan China di perairan Laut Natuna Utara kerap menimbulkan gesekan diplomatik dengan Indonesia. Dalam laporan Komando Armada I Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut berturut-turut pada tanggal 19, 24, dan 30 Desember 2019 kapal nelayan China diikuti oleh Coast Guard telah melewat i batas ZEE Indonesia pada 130 mil laut dari perairan Ranai di kawasan Laut Natuna Utara yang merupakan bagian dari kawasan perairan Laut China Selatan. Sebagai respon Indonesia melayangkan nota protes sebagai tindakan diplomatik untuk menegaskan tidak memiliki masalah batas ZEE dengan China, dan aktivitas China di Laut Natuna Utara adalah kegiatan ilegal yang melanggar IUU Fishing (Ilegal, unreported, and unregulated) telah merugikan Indonesia, bukan hanya secara ekonomi namun menyinggung hak berdaulat Indonesia.
Kegiatan nelayan dan Coast Guard China tersebut terlah berulang kali menaikan
tensi diplomasi antara Indonesia dan China.
Laut Natuna Utara adalah hak berdaulat Indonesia berdasarkan Hukum Laut Internasional (United Nations Convention for the Law of the Sea disingkat UNCLOS 1982). Menteri Luar Negeri Indonesia Retno Marsuadi menyatakan menolak istilah relevant waters China karena tidak sesuai dengan UNCLOS 1982, serta klaim China terhadap Laut China Selatan telah dimentahkan di Mahkamah Arbritrase Internasional pada tahun 2016.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Geng Shuang menyatakan China tidak melanggar UNCLOS 1982 dan menyebut apakah Indonesia menerima atau tidak, fakta tersebut tidak akan mengubah klaim China terhadap wilayah di Laut China Selatan bagian perairan di Laut Natuna Utara. Indonesia tidak termasuk negara yang mengklaim Laut China Selatan, karena secara hukum laut internasional UNCLOS 1982 wilayah perairan di Laut Natuna Utara
70 | Jurnal Keamanan Maritim | Volume 7 Nomor 1 Tahun 2021 merupakan bagian dari hak berdaulat
Indonesia. Penggunaan nama Laut Natuna Utara diajukan Indonesia ke PBB sebagai penamaan kawasan perairan dimulai dari titik dasar hingga batas terluar perairan yurisdiksi ZEEI (Zona Ekonomi Ekslusif Indonesia) dan Landas Kontinen di wilayah perairan Natuna Utara. (SAMUDRANESIA, 2019).
Dalam menangani konflik di perairan Laut Natuna Utara, Indonesia menggunakan jalur diplomasi untuk mengendalikan eskalasi konflik agar tidak meluas ke tindakan militer yang ofensif serta menjaga hubungan dengan negara lain dan dunia internasional.
(Sisriadi, 2016) Publik mengetahui konflik di Laut Natuna Utara berkisar pada tahun 2016 dan 2019, namun faktanya klaim China atas wilayah laut Indonesia di perairain utara Kepulauan Natuna telah dimulai sejak tahun 1993, pada saat itu sikap Indonesia cenderung tidak memperbesar masalah dengan melakukan tindakan non konfrontatif. (C Schofield, IMA Arsana, 2009) Perjalanan diplomasi maritim Indonesia pada konflik di perairan Laut Natuna Utara telah diupayakan dari tahun 1994 oleh Menteri Luar Negeri Ali Alatas, namun tidak mendapat respon dari pihak China,
dilanjutkan pada 1995 baru Pemerintah China menanggapinya.
Kementerian Luar Negeri memiliki tugas melakukan diplomasi untuk menyelenggarakan urusan pemerintahan dalam bidang politik dan hubungan dengan luar negeri. Namun bukan berarti Kementrian Luar Negeri bekerja sendiri, permasalahan di Laut Natuna Utara adalah permasalahan kompleks yang juga melibatkan Kementrian, Lembaga, dan Badan yang Pemerintah Indonesia.
Pemerintah Indonesia secara resmi mempublikasikan peta terbaru pada 14 Juli 2017 dengan mengganti penamaan Laut China Selatan di perairan bagian kedaulatan Indonesia menjadi Laut Natuna Utara dinilai sebagai salah satu cara diplomatik pengukuhan kedaulatan wilayah Indonesia dikarenakan posisi strategis yang rentan akan aksi penangkapan ikan ilegal oleh perahu swasta maupun berbendera negara asing.
Merujuk pada pernyataan Kementrian Luar Negeri telah memanggil Duta Besar China Xiao Qian dan pihak China telah mencatat poin keberatan dari Pemerintah Indonesia yang menegaskan bahwa ZEE Indonesia telah ditetapkan oleh UNCLOS dan China sebagai pihak yang meratifikasi harus
menghormatinya. Selanjutnya, ditegaskan bahwa Indonesia tidak memiliki tumpang tindih yuridiksi dengan China dan tidak akan pernah mengakui nine dash line karena penarikan garis bertentangan dengan UNCLOS yang telah diputuskan pada Arbritase Internasional 2016.
Kesuksesan diplomasi adalah ketika mencapai kepentingan nasional. Dalam paradigma keamanan nasional diplomasi adalah salah satu strategi yang dapat menentukan kebijakan nasional. Dalam proses penentuan strategi keamanan nasional terdapat ekonomi, diplomasi, dan militer. Maka efektifitas diplomasi dapat dijabarkan dalam formulasi jumlah kekuatan dan asset essensial (jumlah yang paling berpeluang untuk menang) dalam hal ini unsur postur kekuatan militer penting karena dalam politik urusan pertahanan dan militer adalah satu kesatuan yang dapat menentukan analisis kebijakan. (Said, 2012).
Maka keberhasilan diplomasi maritim untuk konflik di Laut Natuna Utara adalah terjaganya keamanan maritim wilayah hak berdaulat Indonesia dengan China dapat menerima hak berdaulat Indonesia dan nelayan ikan China serta Coast Guard nya tidak lagi mencari ikan di wilayah ZEEI dengan
alasan apapun. Diplomasi maritim yang dilakukan oleh Indonesia berlangsung lama dan berjalan stagnan sehingga ketegangan di Laut Natuna Utara kerap terjadi dan menjadi kebiasaan yang dilakukan oleh nelayan dan Coast Guard China. Berulang kali konflik yang sama terjadi dan nota diplomatik yang dilayangkan oleh Kementrian Luar Negeri dengan pembahasan yang sama yakni menolak klaim nine-dash Line China.
Pelanggaran yang sama dan respon yang sama, dengan demikian permasalahan akan terus terjadi dan menjegal kegiatan positif seperti kerjasama kedua negara kedepannya. .
Secara hukum, perairan di Laut Natuna Utara adalah hak berdaulat Indonesia dunia internasional pun menunggu apa yang akan dilakukan oleh Indonesia, karena pada akhirnya Indonesia tidak bisa melakukan pencegahan dengan kekerasan yang akan melebarkan eskalasi konflik, Indonesia merupakan negara hukum yang akan dan terus menghormati UNCLOS 1982 dengan resolusi konfliknya yaitu menggunakan jalur diplomasi tanpa negosiasi kedaulatan maupun hak berdaulat. Rumusan masalah dari penelitian ini adalah
72 | Jurnal Keamanan Maritim | Volume 7 Nomor 1 Tahun 2021
“Peran diplomasi maritim yg dilakukan oleh K/L sejauh ini belum membuahkan hasil yg baik dan signifikan terkait masalah yang ada di Laut Natuna Utara. Hal ini disebabkan belum adanya koordinasi dan saling kerja sama diantara K/L selain itu minimnya Diplomat yg memiliki pengetahuan terkait Keamanan Maritim”
Dengan pertanyaan penelitian : 1. Bagaimana koordinasi yang
dilakukan oleh Kementrian dan Lembaga dalam menangani konflik di Laut Natuna Utara antara Indonesia dan China ? 2. Bagaimana peran aktif
Kementerian Luar Negeri menggunakan diplomasi maritim dalam menangani krisis di Laut Natuna Utara dengan China?
Metode Penelitian
Dalam melakukan penelitian, peneliti akan menggunakan metode kualitatif untuk memahami arti kontekstual dari pembahasan maka peneliti harus terlibat langsung agar dapat memahami proses pemberian makna dari penelitian yang dilakukan.
Menurut Creswell metode kualitatif dengan menggunakan Konsep Diplomasi
Pertahanan Maritim oleh Kementrian Luar Negeri dalam mengelola krisis yang merupakan perpaduan konseptual dari berbagai studi “diplomasi pertahanan”
dan “diplomasi maritim” dengan menitikberatkan pada “pertahanan maritim”
Kendati pembahasan terkait diplomasi maritim masih baru, peneliti berharap dengan perubahan lingkungan strategis maritim Indonesia di Laut Natuna Utara serta Laut lainnya dalam lingkung kedaulatan maupun hak berdaulat Indonesia serta meningkatnya potensi konflik di Laut China Selatan menjadikan diplomasi sebagai strategi yang dapat dipakai guna menghindari penggunaan militer yang berlebihan.
(KEMENLU, CSIS, 2016)
Indikator keberhasilan diplomasi terletak pada kualitas dan kemampuan komunikasi strategis yang dijalankan oleh unsur-unsur pertahanan negara.
Lebih lanjut pada Buku Putih Diplomasi Maritim (2017) dan berdasarkan mandat Dokumen Kebijakan Kelautan Indonesia yang menyatakan bahwa terjadi perkembangan lingkungan strategis yang pesat yang diwarnai oleh ketegangan dan potensi sumber konflik baru yang dapat menganggu ketahanan regional, Indonesia diharap dapat
menunjukan kepemimpinan dalam bidang kelautan secara regional maupun global dengan cara meningkatkan kerjasama bilateral strategis dan dapat memainkan peran kepemimpinan dalam menciptakan kondisi keamanan regional sebagai bentuk implementasi politik luar negeri bebas aktif dengan mengedepankan diplomasi yang efektif.
(Kemhan, 2017)
Kemudian, Teori Pembuatan Keputusan Luar Negeri oleh William D.
Coplin menjelaskan untuk memahami mengapa suatu negara berperilaku
sejalan dengan wilayah kepentingan nasional mereka, sebagai yang melakukan penelitian harus memahami juga mengapa atau faktor apa yang melatarbelakangi para pemimpin pemangku kebijakan dalam membuat keputusan. Menurut William D. Coplin dalam bukunya Pengantar Politik Internasional: Suatu Telaah Teoritis, bahwa kebijakan luar negeri merupakan hasil dari aspek pertimbangan yaitu kondisi politik dalam negeri, kapabilitas ekonomi dan militer, dan konteks Internasional. (Coplin, 1992).
Gambar 1. Model Pembuatan Keputusan Luar Negeri Sumber: Coplin, 1992
1. Kondisi Dalam Negeri
Coplin menjelaskan policy influencer system merupakan para aktor politik domestik yang berpengaruh pada pengambilan keputusan dibagi empat kategori yakni:
a. Bureaucratic influencer : Individu, organisasi, badan pemerintah
b. Partisan influencer : kelompok politik, partai politik
c. Interest influencer : kelompok yang memiliki kepentingan sama
d. Mass influencer : opini masyarakat yang dikumpulkan oleh media 2. Kapabilitas Ekonomi dan Militer
74 | Jurnal Keamanan Maritim | Volume 7 Nomor 1 Tahun 2021 Kemampuan negara dalam
memenuhi kebutuhan rakyatnya menjadi faktor penting pertimbangan keputusan luar negeri terkait faktor pertumbuhan ekonomi sebagai ketahanan nasional negara tersebut dan kapabilitas militer sebagai ketahanan nasional yang mencakup aspek kekuatan dan kelemahan militer negara.
3. Konteks Internasional
Pada konteks internasional terdapat tiga elemen penting dalam membahas dampak konteks internasional terhadap politik luar negeri suatu negara, yakni : geografis, ekonomis, dan politis
Kemudian, yang terakhir Konsep Keamanan Maritim yang pengertiannya berbeda tergantung kepada kepentingan politik, ekonomi, bahkan sisi ideologis satu pihak. Keamanan maritim merupakan bagian dari keamanan nasional, maka praktek keamanan nasional negara akan menentukan bagaimana keamanan maritim dalam kebijakan nasional. (Amaruli Octavian, Bayu Yulianto, 2014). Petter Roell mengungkapkan pemikirannya terhadap konsep keamanan maritim. Menurut Roell dalam operasi keamanan maritim terhadap kewenangan untuk bertindak jelas adalah tanggung jawab pemerintah.
Kewenangan tersebut dapat berupa kebijakan, keputusan berdaulat, serta mempengaruhi kolaborasi maritim.
Pelanggaran IUU Fishing yang dilakukan oleh China jelas menganggu lingkungan keamanan maritim Indonesia, perilaku tersebut adalah kejahatan terhadap sumber daya pangan, kelestarian lingkungan laut, dan kedaulatan Indonesia. Upaya diplomasi maritim yang dilakukan oleh Kementerian Luar Negeri serta institusi terkait ada di poin B yakni upaya untuk menegakan kedaulatan, keutuhan wilayah serta di poin E keamanan sumber daya, akses ke sumber daya laut. Hal tersebut didukung dengan adanya UU No. 5 Tahun 1983 tentang ZEE yang menyatakan bahwa sumber daua alam yang terdapat di dasar laut dan tanah dibawahnya serta ruang air diatasnya harus dilindungi dan dikelola dengan cara tepat, terarah, dan bijaksana. (RI, 1983)
Hasil dan Pembahasan
Koordinasi Laut Natuna Utara
Peneliti hanya menemukan data koordinasi yang dilakukan di dalam negeri dengan Kementerian dan Lembaga terkait hanya pada tahun 2020 saja, dalam rapat koordinasi juga dibahas beberapa permasalahan laten seperti
banyaknya instansi yang terlibat di Laut Natuna Utara, manajemen konflik, atensi publik pada nota diplomatik Kemenlu, stabilitas kawasan di ASEAN, major power Amerika Serikat dan China, interdepedensi ekonomi dengan China dan pertimbangan adanya pandemi global COVID-19 di tengah krisis Laut Natuna Utara. Sebelum meningkatnya krisis di Laut Natuna Utara, persoalan terkait siapa yang seharusnya bertindak adalah masalah yang terus diangkat di akar rumput namun tidak dibahas secara komprehensif oleh Pemerintah RI di level atas dengan sinergi antar institusi Pemerintah RI. Tiap Kementerian, Lembaga, dan Badan bahkan perusahaan seperti PT Pertamina pun memiliki peran di Laut Natuna Utara.
Hal ini bukan hanya terbatas di Laut Natuna Utara saja, namun secara umum di seluruh perairan Indonesia.
Pembahasan tersebut akhirnya diangkat dan atas arahan Presiden untuk menyatukan kekuatan untuk menjaga kedaulatan Indonesia, pada Rapat Koordinasi tanggal 21 Februari 2020 ditandatanganinya kesepakatan 13 stakeholders untuk menjaga persatuan di perairan Laut Natuna Utara dan di tanggal 26 Februari 2020 telah ditunjuk BAKAMLA sebagai dilapangan single
agency dalam krisis di Laut Natuna Utara dan diharap diikutsertakan dalam koordinasi dengan pihak pusat maupun teknis. Situasi krisis di Laut Natuna Utara dengan kapal nelayan China yang melanggar IUU Fishing dan ZEEI meningkat di tahun 2020. Perwakilan dari Kemenkomarves Sora Lokita menjelaskan manajemen konflik yang dibahas dalam forum melihat sengketa yang ada di Laut China Selatan itu eskalasinya sebenarnya tidak naik, karena kedua negara menghindari penggunaan kekuatan berlebihan yang menjadi pemicu perang. Adanya dinamika dirasakan oleh Kementerian Pertahanan seharusnya dilibatkan dalam Kementerian teknis untuk mengkoordinasikan dengan TNI dengan melakukan operasi intelejen yang juga merupakan bagian dari diplomasi.
Peran Aktif Kementerian Luar Negeri Dalam Diplomasi Maritim terkait Krisis di Laut Natuna Utara antara Indonesia dan China
Situasi di Laut Natuna Utara termasuk dalam kategori krisis yang mengancam keamanan maritim dan upaya diplomasi pertahanan maritim yang digunakan untuk mempertahankan kepentingan nasional Indonesia dalam menjaga kedaulatan di perairan Natuna.
76 | Jurnal Keamanan Maritim | Volume 7 Nomor 1 Tahun 2021 Pelaksana instrumen diplomasi maritim
oleh Kementerian Luar Negeri berdasarkan tugas fungsinya dalam hubungan internasional, walaupun dalam perumusan kebijakan tidak berdiri sendiri, seperti koordinasi yang menghasilkan kebijakan dan keputusan luar negeri dengan penggunaan diplomasi maritim. Impelementasi telah diupayakan bahkan sebelum insiden pelanggaran oleh Coast Guard dan kapal nelayan ikan China tahun tahun 2009, setidaknya diplomat Indonesia telah mengetahui akan adanya imbas dari konflik Laut China Selatan ke perairan Natuna.
Merujuk pada Arsana dan Schofield (2014) dalam catatan Lembaga Ilmu Penelitian Indonesia (2017) yang menyebutkan bahwa di tahun 1990 Indonesia telah menginisiasi workshop
“Managing Potential Conflicts in the South China Sea” dihadiri juga oleh China, yang memuat peta “historic waters” China yang tumpang tindih dengan ZEEI di sekitar Kep. Natuna. Walaupun workshop tersebut membahas secara umum di Laut China Selatan namun jelas bahwa potensi konflik tersebut juga mengarah ke Laut Natuna Utara yang merupakan bagian dari Laut China Selatan.
Selanjutnya, di tahun 1993 China terang-
terangan mengklaim wilayah perairan laut Indonesia di utara Kep. Natuna, dan yang dilakukan oleh Indonesia adalah cenderung tidak memperbesar masalah (downplaying the issue) dengan pendekatan non-konfrontatif pada China. Bahkan, menurut pernyataan Ahmad Gunawan Wicaksono di tahun yang sama delegasi China ini pada lokakarya di surabaya menyebarkan peta nine dash line, Kemlu meminta klarifikasi China melalui nota diplomatik (verbal note) tahun 1994, 1996, 1998 tidak ada balasan, bahkan sampai sekarang tidak ada penjelasan dari China ke internasional apa yang dimaksud sembilan garis putus-putus tersebut.
(Sinaga, 2017)
Selanjutnya di tahun 1995, secara resmi Indonesia mengirimkan nota diplomatik ke China terkait klaim yang dilakukan di utara Kep. Natuna yang dilakukan tahun 1993, Menlu Ali Alatas berusaha melakukan klarifikasi terkait klaim China namun tidak memperoleh jawaban yang memuaskan. Telatnya upaya yang dilakukan juga muncul pada tahun 2010, ketika China di Mei 2009 mendepositkan peta “nine dash line” ke PBB, dan Indonesia baru menyatakan penolakaannya pada Juli 2010, yang dilakukan oleh China adalah
mengabaikan nota diplomatik Indonesia, yang pastinya bukan kali pertama pengabaian nota diplomatik resmi tersebut dilakukan China. Dengan munculnya kejadian diusirnya kapal nelayan dengan tembakan di tahun 2016 mengejutkan publik merupakan puncak gunung es, karena Indonesia terus melakukan diplomasi non-konfrontatif dan China secara terbuka dan berani bermain di perairan Laut Natuna Utara hingga sekarang. Juru Bicara Kemenlu China Hua Chunying menyatakan secara resmi bahwa adanya klaim tumpang tindih hak dan kepentingan dengan Indonesia di bagian perairan Laut China Selatan. Sementara Indonesia karena tidak mengakui klaim tumpang tindih seperti pernyataan China, dan protes yang dilakukan China dipandang sebagai upaya campur tangan hak berdaulat Indonesia di wilayah lautnya.
Dimulai dari 2016 krisis seperti dibuka untuk publik, bahwa memang benar ada dan terjadi berulang kali pelanggaran yang dilakukan oleh kapal nelayan dan coast guard China bahkan hingga sekarang. Upaya lanjutan dari Diplomasi Maritim adalah dengan penamanaan resmi dari Indonesia untuk perairan di utara Kep. Natuna di tahun 2017, dengan nama Laut Natuna Utara
yang akhirnya memicu China mengeluarkan surat protes ke Indonesia dengan menyatakan penamaan tersebut tidak ada artinya sama sekali dan menjadikannya tidak kondusif. Kemudian di tahun 2019 terjadi tiga kali pelanggaran yang dilakukan oleh kapal nelayan yang diikuti oleh Coast Guard China yang menjadi atensi publik. Di tahun 2020 China melakukan hal yang sama. Rangkaian diplomasi maritim dilakukan oleh Pemerintah Indonesia dengan Kementerian Luar Negeri yang menjadi leading sector kemudian dipertanyakan bagaimana efektivitas diplomasi yang dilakukan serta bagaimana koordinasi dengan Kementerian serta Lembaga yang terkait sehingga permasalahan ini kerap terjadi karena dinilai mengandalkan nota diplomatik. Kementerian Luar Negeri merespon mengapa Indonesia tidak melakukan tindakan assertive terhadap China seperti yang dilakukan Filipina dari semua sumber peneliti ditemukan bahwa Indonesia menganggap China partner dagang yang besar juga Indonesia merupakan anggota dari Program BRI (Belt and Road Iniatiative) China, maka dari itu walaupun di situasi krisis di Laut Natuna Utara berhati-hati namun tetap mempertahankan kedaulatan negara.
78 | Jurnal Keamanan Maritim | Volume 7 Nomor 1 Tahun 2021 Situasi yang tidak memungkinkan
untuk bertindak lebih jauh adalah adanya interdepedensi ekonomi satu sama lain, yang apabila perang terjadi akan menganggu stabilitas kawasan. Serta, situasi terkini yakni pandemi global COVID-19 semakin mendorong kerjasama satu sama lain untuk tidak bertindak gegabah dengan menjadikan krisis menjadi konflik terbuka yang dapat merusak ekonomi dan stabilitas keamanan maritim kedua negara, dan ASEAN lebih luasnya.
Koordinasi Kementerian dan Lembaga dalam Menangani Krisis di Laut Natuna Utara antara Indonesia dan China
Penanganan krisis di Laut Natuna Utara yang berlarut-larut telah mendorong Pemerintah Indonesia untuk menunjuk lembaga berwenang serta bagaimana impelementasi diplomasi maritim dalam menangani krisis di Laut Natuna Utara dipengaruhi faktor menggunakan model proses pengambilan keputusan luar negeri oleh William D. Coplin.
Gambar 2. Model Pembuatan Keputusan Politik Sumber : Diolah Peneliti, 2021
1. Kondisi Dalam Negeri
Pada kondisi dalam negeri dapat disebut faktor internal yang melibatkan berbagai aktor politik yang memiliki kepentingan tertentu, para aktor politik disebut “policy influencer”. Para influencer memberi saran dan infomasi yang dapat diolah oleh pembuat
kebijakan. Namun hal tersebut membutuhkan kerjasama komprehensif stakeholders yang bukan hanya sekedar duduk bersama dan mendiskusikan isu saja. Dibutuhkan koordinasi membutuhkan solusi konkrit yang inovatif dan dapat diimpelemntasikan dengan baik, sehingga tujuan koordinasi
tercapai hingga ke hilir. Terjalinnya koordinasi strategis mendukung keberhasilan diplomasi. Dengan demikian, keberhasilan dari diplomasi maritim diperlukan kerjasama keberlanjutan yang komprehensif, bukan sekedar duduk berunding bersama namun harus ada hasil yang signifikan menjadikannya lebih dari sekedar sebuah solusi, tapi dapat di implementasikan dengan tepat dan akurat.
Dalam catatan peneliti setidaknya ada 13 stakeholders pada isu Laut Natuna Utara, dimana masing-masing pihak memiliki landasan kuat dalam bertindak menurut tugas dan fungsinya yang oleh William D. Coplin dikategorikan menjadi empat bagian.
a. Bureaucratic influencer : Kementerian dan Lembaga yang terlibat, peneliti mengikutsertakan empat Kementerian vital dalam permusan kebijakan diplomasi.
b. Partisan influencer : DPR RI dan para tokoh politik yang pendukung Presiden Jokowi pada Pemilu 2015 uang menghasilkan visi Poros Maritim Dunia.
c. Interest influencer : Nelayan dan masyarakat pesisir
d. Mass influencer : Desakan publik untuk segera mengatasi krisis di
Laut Natuna Utara yang telah berlarut lama
Analisa koordinasi yang dilakukan peneliti pada kondisi dalam negeri diawali pembahasan pada pemahaman para bureaucratic influencer pejabat di Kementerian dalam membedakan krisis di Laut Natuna Utara dan Laut China Selatan sangat lemah, peneliti meyakini penting kiranya pemahaman dasar membedakan isu antara Laut Natuna Utara dan Laut China Selatan diperlukan sebelum duduk bersama antar Kementerian, karena beda masalah maka beda ancamannya serta beda output dan outcome yang ingin dicapai. Disinilah menjadi titik awal ketidak teraturan koordinasi yang diikuti absennya political will dari para Presiden sebelum Joko Widodo untuk menaikan persoalan maritim menjadi isu yang penting untuk diselesaikan dengan adanya absen selama peristiwa penting 2016 tidak ada koordinasi strategis yang outcome nya dapat meluruskan wewenang agar K/L dapat bersinergi.
Dinamika koordinasi juga mempengaruhi kualitas hasil dan efektifitas diplomasi maritim.
Pemerintah mengadakan rapat koordinasi untuk menyatukan semua pihak yang terlibat namun di lapangan
80 | Jurnal Keamanan Maritim | Volume 7 Nomor 1 Tahun 2021 terjadi miss-koordinasi yang dapat
menghambat komunikasi serta efektivitas yang telah diupayakan. Dalam proses politik terdapat isu real namun sensitif yakni terkait anggaran dan political will Presiden. Peneliti tidak menemukan koordinasi komprehensif membahas khusus Laut Natuna Utara dari hulu ke hilir sebelum mencuat nya di 2020, padahal setidaknya permasalahan telah terjadi berulang kali. Selanjutnya adalah bagaimana implementasi dari rapat koordinasi yang dipimpin oleh Kemenkopolhukam pada 15 Februari 2020 terkait mengupayakan 30 kapal dari Pantura berlayar di Laut Natuna Utara, tercatat pada 10 Maret 2020 kapal dari Pantura sejumlah 29 dengan 1 sedang diperbaiki melaut di ZEE Indonesia.
Tujuan dari adanya kapal Pantura adalah untuk mencari ikan dan juga memanfaatkan dan mejaga teritori Indonesia yang dikawal oleh BAKAMLA.
Fakta dilapangan program yang direncanakan selama dua sampai tiga bulan terdapat banyak kendala salah satunya adalah kekecewaan yang disampaikan nahkoda kapal bahwa hasil tangkapan tidak sesuai harapan, dengan kondisi demikian para nahkoda kapal meminta perluasan pencarian ikan hingga ke perbatasan Indonesia-
Malaysia, namun telak kerugian ekonomi yang dihasilkan karena disana juga tidak sesuai harapan, hingga para nelayan memutuskan setelah program selesai akan kembali ke Tegal. Implementasi lapangan yang tidak sesuai rencana ini merugikan negara karena biaya operasional pemberangkatan nelayan Pantura ke Natuna adalah 1,2 miliar per kapal, namun tidak berjalan sesuai harapan. (Firdaus, 2020)
Peneliti juga menemukan ketimpangan ekesekusi dari kepercayaan dari Kemenkomarves yang menyatakan permasalahan Laut Natuna Utara bukan untuk diselesaikan namun dikendalikan, dan pembahasan manajemen konflik terkait eskalasi yang tidak naik karena kedua negara menghindari penggunaan kekuatan berlebihan yang menjadi pemicu perang. Dengan keyakininan tersebut dalam rapat koordinasi tersebut peneliti mempertanyakan mengapa tidak ada pembahasan manajemen krisis.
Konteksnya adalah situasi lapangan eskalasinya memang tidak meluas ke perang tapi layer antara perang dan damai itu banyak Mengabaikan manajemen krisis dalam koordinasi menjawab minimnya instrumen- instrumen krisis maritim Indonesia, seperti dalam perselisihan oleh nelayan
dan coast guard China yang mengancam keamanan maritim Indonesia di masa lalu, masa kini, bahkan masa depan apabila tidak ada perubahan dan menggunakan cara lama. Apakah karena aspek anggaran ini juga basis pertahanan di Laut Natuna Utara tidak tersinkronasi dengan baik? kualitas rapat koordinasi menjadi blackhole diplomasi maritim? hal itu menarik untuk diteliti lebih lanjut.
2. Kapabilitas Ekonomi dan Militer Kapabilitas ekonomi Indonesia untuk mensejahterakan masyarakatnya secara keseluruhan masih jauh dari target tercapai dan tentu menjadi pertimbangan bagaimana diplomasi maritim Indonesia saat berhadapan dengan China. Dalam pernyataan dari Kementerian Luar Negeri dengan adanya pandemi global COVID-19 yang mengakibatkan semakin tergantungnya posisi Indonesia pada China dan mengindari tindak jauh pada krisis di Laut Natuna Utara demi menjaga stabilitas kawasan dan kebutuhan negara yang sedang terdesak. Ketergantungan Indonesia pada China bukan hal buruk karena seluruh negara dihadapkan pada interdepedensi untuk saling bekerjasama dalam pembangunan negara menjadi lebih baik. Di masa kritis hal tersebut menjadi kontradiktif karena dapat
menumpulkan posisi tawar diplomasi maritim pada krisis di Laut Natuna Utara, namun apabila Pemerintah RI dalam forum diplomasi dapat menemukan strategi yang efektif hal tersebut dapat meningkatkan intensistas kerjasama menangani kritis dinamakan win win solution tanpa negosiasi kedaulatan NKRI.
Dalam beberapa tahun terakhir hutang Indonesia pada China mengalami kenaikan yang signifikan di masa Presiden Jokowi. China adalah investor terbesar Indonesia, dan Indonesia adalah pasar tebesar China di ASEAN. (Aldila, 2020). Terlebih Indonesia bergabung dengan program BRI yang digagas China untuk menguatkan dominasinya dengan memberi bantuan pendanaan pengembangan projek infrastuktur Indonesia dan kawasan. Saling ketergantungan ini disebutkan dalam wawancara peneliti dengan perwakilan BPPK Kemenlu. Dengan adanya pandemi global COVID-19 adanya peningkatan kerjasama di bidang kesehatan, Indonesia menjadi negara prioritas penerima vaksin Sinovac dan menjadikan Indonesia pusat produksi vaksin. Dengan ketergantungan tersebut jelas berimplikasi pada politik dan mempengaruhi daya tawar diplomasi
82 | Jurnal Keamanan Maritim | Volume 7 Nomor 1 Tahun 2021 maritim pada krisis di Laut Natuna Utara
dengan menghindari tindakan agresif.
Kapabilitas militer juga menjadi faktor penting sebagai kekuatan diplomasi pertahanan maritim Indonesia.
Pada wawancara dengan seluruh Kementerian yang terlibat menyatakan strategi pertahanan menjaga kedaulatan adalah prinsip defensif aktif. Inisiden kapal nelayan ikan China yang didampingi oleh Coast Guard menjadi warning bukan hanya bagi Bakamla sebagai single agency di Laut Natuna Utara saja, namun untuk TNI pada pertahanan negara, Natuna adalah salah satu pulau terluar yang posisinya berbatasan dengan Laut China Selatan daerah penuh konflik kepentingan.
Setidaknya setelah dia coast guard pergi di Laut Natuna Utara pada insiden Desember 2019 kembali berdatangan 3 kapal berhaga mengawasi. Dalam pertahanan peneliti kira akan lebih baik melihat speksifikasi kapal coast guard China dibekali perlengkapan senjata setara kapal militer untuk operasi laut.
Setidaknya Haijing 2901 dan 3901 dilengkapi persenjataan berat berupa 76 mm rapid fire, dengan dua senjata auxiliary serta dua senjata anti-pesawat.
Coast Guard China juga siap mengoperasikan enam kapal patroli tipe
818 yang beratnya 3.500 ton dan panjang 134 meter. Kapal patroli tersebut dilengkapi senjata PJ-26 76 mm sebagai senjata utama. Serta untuk tipe 818 memiliki sepasang sistem senjata jarak dekat 30 mm. tipe 630. Dibanding dengan Coast Guard Indonesia yang hanya dilengkapi oleh keris. Ini sangat tidak berimbang bahkan kapal penjaga pantai spesifikasi yang dimiliki Bakamla sama sekali tidak memberi efek deteren.
Kedua kapal Coast Guard dilengkapi landasan helikopter dan hanggar yang dapat dijadikan landasan untuk pesawat udara nirawak (drone). Kekuatan China memiliki 200 kapal Coast Guard yang siap untuk berjaga kapanpun diperintahkan yang dapat mengancam keselamatan awak nya. (CNN, 2020). Hasil dari rapat koordinasi Bakamla dijadikan single agency di Laut Natuna Utara, walau demikian beberapa kali kerjasama natara Bakamla dan TNI AL terlibat dan dapat mengusir kapal nelayan dan coast guard China pada September 2020. Tercatat pada tahun 2016 pertahanan di Natuna diperkuat pengerahan TNI Angkatan Darat, 800 prajurit di dan ditambah jumlahnya hingga 2.000. TNI AU menambah pesawat tempur karena saat ini di Natuna kekurangan fasilitas untuk mengakomodasi sejumlah besar
pesawat. Di sektor pertahanan udara juga mengerahkan radar di beberapa bagian pulau untuk melakukan operasi pengawasan selama 24 jam. TNI AL setidaknya telah mengirim tujuh kapal perang ke perairan Natuna untuk berkeliling dan "menjaga kedaulatan"
dan ditahun 2019 diturunkan 9 kapal perang.
Staregi pertahanan tambahan lainnya, Indonesia telah menandatangani perjanjian dengan untuk menerima teknologi dan peralatan militer, yang sebagian besarnya dikirim untuk digunakan di Pulau Natuna. Dengan kebijakan luar negeri bebas aktif dan pertahan defensif aktif, Indonesia berminat untuk bergabung dengan latihan perang gabungan dengan Amerika Serikat di wilayah Natuna sebagi perluasan diplomasi pertahanan maritim dengan menjalin kerjasama dengan Amerika Serikat. Setidaknya sampai tahun 2016, sudah dua kali latihan dilakukan bersama Amerika Serikat di Batam yang berjarak 480 km dari Natuna. Latihan ini termasuk pada penggunaan pengawasan dan pesawat patroli, seperti penggunaan pesawat P-3 Orion, yang kemampuanya dapat mendeteksi kapal di permukaan dan kapal selam. Setidaknya strategi ini telah
menghabiskan 196 miliar untuk memperkuat pangkalan militer di Pulau Natuna.
Merujuk pada konsep keamanan maritim yang digunakan oleh penulis, permasalahan IUU Fishing adalah kejahatan serius yang dapat menganggu keamanan maritim negara dan untuk mengupayakan terciptanya keamanan maritim, diperlukan kekuatan militer TNI AL untuk menempati posisi strategis dalam stabilitas keamanan maritim Indonesia. Dengan melakukan operasi dan dukungan peralatan ALUTSISTA yang canggih mendukung penguatan diplomasi pertahanan maritim. Selain itu juga dengan kombinasi diplomasi akan secara efektif memberikan efek pertahanan nasional yang kuat. Namun faktanya dalam Tabel Koordinasi 4.2.1 yang peneliti temukan Kementerian Pertahanan dan TNI secara umum hanya dilibatkan pada Rapat Paripurna dan Rapat Koordinasi dengan DPR RI Komisi I, padahal secara tugas dan fungsi untuk permasalahan pertahanan Kementerian Pertahanan seharusnya dilibatkan dalam setiap sesi karena permasalahan lebih dari IUU Fishing tapi penjagaan Pulau Terluar yang faktanya di lapangan Bakamla belum sepenuhnya berfungsi dengan maksimal karena terbatas pada
84 | Jurnal Keamanan Maritim | Volume 7 Nomor 1 Tahun 2021 kekurangan kapal sehingga pengawasan
wilayah laut kurang optimal.
Jumlah kapal besar 10 dan kapal kecil 20 untuk wilayah perairan Indonesia yang luas telah menjadi kesulitan yang dapat di back up oleh TNI, bahkan dengan kapal dari Kementerian dan Lembaga lain seharusnya bisa menjadi kesatuan kekuatan keamanan dan pertahanna wilayah Indonesia. Outcome dari rapat koordinasi yaitu penunjukan Bakamla menjadi single agency untuk keamanan laut. Namun bagaimana implementasi lapangannya? sejauh ini peneliti menemuka sampai September 2020 Bakamla telah menunjukan sinergi baik dengan TNI AL dalam menjaga hak berdaulat dan kedaulatan di Laut Natuna Utara dengan melakukan pengusiran kapal nelayan China. Maka dari itu, pelibatan TNI dan Kemhan seharusnya bukan hanya pada tataran teknis saja namun juga pada ranah kebijakan perumusan diplomasi pertahanan maritim di setiap rapat koordinasi agar adanya check and balance yang diperlukan untuk mendukung aksi operasi penjagaan laut secara maksimal untuk mendukung efektivitas diplomasi maritim.
Dilansir dari waancara dengan Kemenlu terbatasnya kekuatan Bakamla
dalam law enforcement menjadikan diplomasi maritim terhambat. Peneliti menganalisa strategi pertahanan dari TNI dan keamanan laut dari Bakamla harus dikembangkan dengan operasi lapangan yang berkelanjutan, bukan hanya untuk satu waktu saja karena tak aman mengabaikan kemungkinan ancaman dimasa depan, dengan melihat situasi di Laut Natuna Utara yang terus terjadi akan menjadi poin posisi tawar menguatkan diplomasi maritim Indonesia.
3. Konteks Internasional
Pada konteks internasional terdapat tiga aspek, geografi, politik, dan ekonomi. Secara geografis diketahui periaran Laut Natuna Utara memiliki posisi yang strategis bukan hanya kekayaan sumber daya laut yang melimpah namun juga sebagai wilayah proxy dengan Amerika Serikat. Diketahui Amerika Serikat memiliki kepentingan di kawasan Laut China Selatan dan telah memprediksi langkah yang dilakukan China merupakan bentuk provokasi kekuatan untuk mendominasi wilayah Laut China Selatan beserta negara pesisir yang mengklaimnya. Dapat dikatakan Laut China Selatan adalah “panggung”
geopolitik dan Indonesia terkena dampak dari “pertunjukan” tersebut.
“Pertunjukan” yang dilakukan oleh China adalah dengan membangun pangkalan militer, gelar kekuatan seperti provokasi di wilayah perairan Indonesia demi mewujudkan cita-cita untuk mendapat keamanan dan melakukan investasi energi. Serta pada aspek ekonomi dengan bergabungnya Indonesia menjadi mitra BRI telah dijelaskan sebelumnya. Maka, sebagai timbal baliknya penegakan kekuatan maritim juga dilakukan oleh Indonesia dengan konsep Poros Maritim Dunia.
Pada konteks politik, Indonesia adalah penggagas ASEAN merasa penting kiranya menjadi honest broker pada pendekatan kolektif konstruktif yang sedang fokus diupayakan oleh Kemlu dan Kemhan di ASEAN adalah CoC sebagai tindakan politis untuk mendapatkan posisi sentral menjadi penengah. China tegabung menjadi mitra wicara di ASEAN dan dengan demikian Indonesia dapat menggunakan ASEAN untuk mendapat perhatian China dengan pendekatan softpower di Laut Natuna Utara. Namun yang perlu digaris bawahi DoC dan CoC bukanlah shortcut penyelesaian masalah. Serta, di kawasan Indonesia bukan negara claimant Laut China Selatan dan fokusnya pada Laut Natuna Utara. CoC bukanlah mekanisme
dalam menyelesaikan sengketa apalagi untuk Laut Natuna Utara.
Diplomasi Maritim dalam Menangani Krisis di Laut Natuna Utara antara Indonesia dan China
Keterkaitan antara obyek penelitian koordinasi antar Kementerian dan Lembaga dan efektfitas diplomasi maritim adalah pada indikator keberhasilan, yang faktornya ada di komunikasi strategis yang dijalankan oleh unsur-unsur pertahanan negara.
(Kemhan, 2017). Secara teoritis Diplomasi Pertahanan Maritim merupakan perpaduan antara dua konsep bidang Ilmu Hubungan Internasional dan Kebijakan Strategis Pasca-Perang Dingin menjadikan Diplomasi Pertahanan Maritim dipandang sebagai turunan atau subset dari diplomasi pertahanan dan atau diplomasi maritim yang menjadikan Kemenlu bukanlah aktor tunggal dalam diplomasi, keterlibatan TNI, Bakamla, serta Kementerian dan Lembaga lain dalam perumusan kebijakan sangat penting, dengan demikian tiap keputusan yang dilakukan oleh Kemlu sebagai ujung tombak adalah keputusan Pemerintah Indonesia seperti dalam landasar konseptual Diplomasi Pertahanan Maritim.
Partisipasi Indonesia di EAS dinilai cukup sentral dengan perannya sebagai
86 | Jurnal Keamanan Maritim | Volume 7 Nomor 1 Tahun 2021 ketua bersama India dan Australia.
Sebagai ketua Indonesia mendorong kolaborasi ASEAN dan mitra wicara melalui kerja sama riset & teknologi maritim, manajemen sumber daya maritim berkelanjutan.
Persoalan Indonesia adalah lemahnya teknologi maritim berimbas pada salah satunya sistem pengelolaan perikanan. Sistem ini yang menjadi permasalahan umum dalam mewujudkan sektor perikanan berkelanjutan di Indonesia. Kondisi di Laut Natuna Utara dapat dikatakan tidak berimbang, dimana overfishing dilakukukan oleh kapal nelayan dari negara lain, yang paling sering ada Vietnam dan China dengan teknologi tingginya dapat mengeruk ikan di tahun 2009 saja setidaknya Indonesia mengalami kerugian hingga 24 miliyar dengan 130- 150 ton ikan dicuri oleh 8 dari 30 kapal yang tertangkap, 22 kapal dapat meloloskan diri. Ini menjadi polemik berkepanjangan karena Indonesia lemah dalam teknologi kemaritiman yang dapat dimamfaatkan oleh nelayan.
Dengan pengembangan teknologi maritim dapat membantu industri perikanan di Natuna (juga wilayah lainnya) dengan mengoptimalkan Sentra Kelautan dan Perikanan Terpadu (SKPT)
Natuna. Outcome yang diharapkan adalah agar tidak hanya menjadi penyalur hasil tangkapan nelayan namun lebih pada tugas strategi menjaga kedulatan di ujung utara perairan Indonesia. EAS memiliki mekanisme yang strategi dengan didukung keberadaan Partner Dialog ASEAN (ASEAN+) dan ASEAN PMC/ARF diharapkan akan mewujudkan EAS sebagai arsitektur regional Asia Timur. Sebagai ketua EAS Indonesia mendorong forum untuk menjaga balance of power di kawasan.
Panasnya kepentingan dan persaingan di kawasan secara ekonomi, politik, dan kekuatan dari major power dapat berdampak besar pada kestabilan kawasan ASEAN. Upaya yang dilakukan di forum EAS nyatanya bukan hanya untuk Kepentingan nasional Indonesia namun juga untuk ASEAN mempertahankan sentralitasnya di kawasan. Bagi major power kawasan perairan ASEAN menjadi titik konflik dan untuk Indonesia sendiri hal ini menganggu kestabilan di Laut Natuna Utara. Untuk balance of power dalam forum EAS Indonesia berupaya mendapat banyak kerjasama dengan negara maju untuk meningkatkan teknologi maritim yang dapat membantu ketahanan maritim Indonesia.
Forum kedua, Indonesia berperan aktif di forum ARF yang pada dasarnya adalah forum dialog dan kerjasama.
Keanggoatan ARF dinilai strategis karena bukan hanya ASEAN namun juga 10 negara mitra wicara ASEAN yakni Amerika Serikat, Uni Eropa, Kanada, Selandia Baru, India, China, Korea Selatan dan Jepang). Penulis menilai keanggotan yang strategis dapat menjadi pengembangan diplomasi yang efektif untuk meningkatkan awareness dan confidence building polemik yang dihadapi anggota ARF. Upaya Kemlu menempatkan Indonesia sebagai pengangagas Statement on Cooperation to Prevent, Deter and Eliminate IUU Fishing berjalan tidak sesuai ekspektasi.
Negosiasi di berbagai level untuk mencari dukungan juga telah dijalankan namun pada akhirnya konsensus atas draft Statement tidak bisa dicapai.
Percobaan pertama di ARF setidaknya menjadi gambaran bagi Kemlu atas dinamika yang dihadapi dalam forum negosiasi terkhusus pada isu IUU Fishing agar dapat ditindak bukan hanya secara perdata tapi pidana yang mana melibatkan berbagai negara anggota maupun mitra wicara dalam praktiknya tidak mudah, setiap negara memiliki kepentingan nasionalnya. Setidaknya,
dalam percobaan ini tingkat konsistensian Indonesia di forum dapat membangun awareness terhadap isu IUU Fishing kawasan Asia Pasifik yang kerugiannya sangat besar maka diperlukan pengaturan yang kuat untuk mengatasinya.
Kepentingan nasional Indonesia yang diupayakan oleh Kemlu di forum internasional selanjutnya adalah di AMF, Indonesia adalah penggagas sekaligus nahkoda dalam forum AMF. Keanggotan AMF sejak 2010 melibatkan negara ASEAN dan Mitra Wicara yang sama dengan EAS (Amerika Serikat, Rusia, Australia, Cina, India, Jepang, Korea Selatan, dan Selandia Baru) umumnya AMF adalah forum kerjasama untuk mencegah konflik antar anggota dengan membawa permasalahan di meja perundingan untuk menghasilkan keputusan yang saling menguntungkan.
Dengan inisiasi yang dilakukan Indonesia menjadi salah satu aksi untuk meyakinkan negara kawasan Indonesia adalah negara kepulauan yang memiliki otoritas di perairannya dan mengajak negara kawasan untuk serius mendisukusikan persoalan keamanan maritim.
Dalam kepentingannya Indonesia mengedepankan aspek economic well-
88 | Jurnal Keamanan Maritim | Volume 7 Nomor 1 Tahun 2021 being¸salah satunya permasalahan IUU
Fishing ditengah dinamika kepentingan nasional global di kawasan. Pada tahun 2016, Indonesia mengangkat masalah IUU Fishing saat menjadi tuan rumah AMF ke-6 di Manado dengan mengusulkan pentingnya ada pengembangan pengaturan regional untuk menanggulangi IUU Fishing. Bagi Indonesia, persoalan IUU Fishing sentral karena telah sangat merugikan ekonomi serta mengancam keberlangsungan lingkungan laut, sumber daya perikanan, dan kedaulatan negara. Merujuk pada Konsep Keamanan Maritim dan laporan United Nation Office on Drugs and Crime (UNODC) menyebutkan IUU Fishing ini bukan hanya menyangkut ekonomi saja namun pada kedalauatn negara dan integritas teritorial. Faktanya, banyak kasus yang terbukti berkaitan dengan kegiatan kelompok kejahatan transnasional, money laundry, korupsi, narkoba bahkan hingga perdagangan dan penyelundupan manusia.
Permasalahan IUU Fishing memerlukan instrumen yang mengikat diluar mekanisme ASEAN. Kerugian serta dampak besar menurut Indonesia urgent apabila tidak danya regulasi regional pengaturan untuk menanggulangi IUU Fishing. Untuk kawasan Asia Pasifik
setidaknya produksi ikan Indonesia dapat mencapai 5,4 juta ton tiap tahunnya dan setidaknya menyumbang jumlah 11% dari 50% yang dihasilkan di Asia Pasifik di produksi ikan dunia. Efektifitas di forum AMF sayangnya tidak sepenuhnya mendapat dukungan dari negara ASEAN dengan alasan terdapat perbedaan kepentingan dan perbedaan pemahanan mendasar terkait IUU Fishing. Memang apabila dirunut pelaku dari IUU Fishing di wilayah Indonesia adalah adalah negara di kawasan ASEAN sendiri, di Laut Natuna Utara negara yang paling sering melanggar adalah Vietnam dan China dan penolakan tersebut didasarkan kekhawatiran mereka terhadap instrumen regional tersebut dapat berdampak negatif pada perekonomian negara mereka, dengan demikian adanya boomerang kebijakan. Sangat disayangkan kepentingan nasional Indonesia tidak sepenuhnya terpenuhi di forum AMF, dan setelah itu penyelenggaraan AMF tidak ada negara lain yang bersedia menjadi tuan rumah hingga pada dukungan Filipina sesama negara kepulauan untuk melaksanakan AMF ke-7 di Sekretariat ASEAN, Jakarta (Rijal, 2018)
Dari sini dapat terlihat bahwa negara ASEAN sendiri tidak sepenuhnya
berkomitmen penuh dalam forum AMF dan output dari AMF tidak menjadi fokus bersama dapat dikatakan terjadi uncertainty condition di forum AMF selajutnya karena hanya dua negara yang bersemangat dalam forum maritim yakni Indonesia dan Filipina. Kemelu mengakui bahwa tujuan dari AMF untuk mensinergikan kerjasama maritim belum tercapai karena perwakilan badan sektoral ASEAN tidak sepenuhnya hadur dan tidak semua negara ASEAN mewakili badan sektoralnya. Semua kembali pada sigar dari AMF yang merupakan forum dialog dan tidak memiliki instrument of power yang sifatya mengikat negara anggota serta dalam proses di AMF mengukti praktik umum ASEAN tanpa aktifitas program yang terencana sistemais, dampaknya agenda dalam AMF dapat di atur oleh negara non- ASEAN yang seharusnya menjadi negara yang dapat dijadikan tumpuan kerjasama. AMF adalah forum sarat akan kepentingan Indonesia yang pada praktiknya tidak sesuai ekspektasi.
Pada kerangka kebijakan luar negeri dan kebijakan pertahanan untuk menangani krisis Pemerintah RI melalui Kementerian Luar Negeri menekankan penggunaan diplomasi pertahanan maritim tanpa negosiasi sesuai dengan
prinsip bebas aktif. Sebagai negara middle power di kawasan setidaknya Indonesia mengupayakan pendekatan kolektif konstruktif dan pada pertahanan Indonesia berkali-kali menunjukan kekuatannya dengan mengerahkan kekuatan darat, laut, udara di perarain Natuna. Kebijakan pertahanan defensif aktif dengan menguatkan ALUTSISTA merupakan penguatan kapasitas militer yang digunakan untuk mengantisipasi ancaman, penguatan pertahanan negara juga untuk IUU Fishing yang marak terjadi di Laut Natuna Utara oleh China.
Pembahasan terkait efektivitas dari upaya diplomasi secara lebih terkhusus dan keluar dari zona nyaman menurut Evan Laksmana dari CSIS Indonesia dirasa sulit, karena bukan kekurangan ide tapi kekurangan political will untuk memikirkan dan menjalankan ide tersebut. Dulu misalnya Pak Havas menamakan Laut Natuna Utara yang sudah terjadi, dulu juga ada ide untuk melakukan diplomasi yang sifatnya personal ada komitmen antar informan tanpa diinfokan ke kedua negara. Tapi nyatanya tidak sustainable, karena yang menjadi ide penting bukan diplomasinya tapi sistem crisis management, bukan menyelesaikan tapi mencegah krisis, itu
90 | Jurnal Keamanan Maritim | Volume 7 Nomor 1 Tahun 2021 yang terpenting karena dua hal tersebut
berbeda.
Kemudian, upaya diplomasi maritim yang dilakukan oleh Kemenlu di forum internasional seperti pengiriman surat protes ke PBB dan nota diplomatik serta pemanggilan duta besar dinilai kurang ampuh sebagai efek gentar.
Darimana kita tahu diplomasi itu efektif atau tidak. Sejauh permasalahannya adalah pada kedaulatan illegal fishing di ZEE, bukan karena China melewati ZEE kita. Karena melewati ZEE itu sah dibawah UNCLOS tapi mengambil kegiatan sumber daya alam jelas melanggar. Karena itu persoalan hak berdaulat, diplomasinya hanya menjalankan nota protes dari Kemenlu, ada saatnya dipanggil dubesnya. Tapi mayoritas penegakan hukum di laut, karena persoalannya adalah hak berdaulat dengan mengambil sumber daya alam.
Sejauh ini respon dari Indonesia bersifat simbolis seperti pengiriman pesawat F-16 ke Laut Natuna Utara, padahal secara praktek tidak menangkal apapun, ataupun memecahkan masalah karena memang seperti yang kita lihat adalah model respon yang dilakukan cukup sering tiap kali ada masalah, selalu men-deploy sesuatu, ada nota protes
tapi tetap berulang. Jadi, selama Pemerintah melakukan respon yang sama China telah mengetahui dan merespon dengan yang sama pula, terus berputar ditempat yang sama.
Kesimpulan
Diplomasi maritim merupakan instrumen softpower yang digunakan oleh Kementerian Luar Negeri dalam mengatasi krisis di Laut Natuna Utara antara Indonesia dan China, dalam prosesnya Kementerian Luar Negeri tidak dapat berdiri sendiri, diperlukan koordinasi antar Kementerian dan Lembaga yang strategis karena penguatan diplomasi dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal yang diharapkan dapat mendukung keberhasilan diplomasi maritim, berikut adalah kesimpulan dari hasil penelitian yang dilakukan :
a. Pelaksanaan koordinasi tidak mampu secara tuntas mengatasi krisis yang terjadi karena rapat koordinasi hanya respon Pemerintah RI bukan untuk memperbaiki sistem sehingga koordinasi tidak berkelanjutan dan masih adanya egos sektoral, penyusunan program tanpa riset lapangan, interdepedensi ekonomi
dan kurangnya ALUTSISTA, telah menghambat optimalitas diplomasi maritim. Pemerintah RI dapat berinvestasi dengan meningkatkan pemberdayaan sumber daya manusia dengan memfasilitasi kapal besar dan canggih pada nelayan Natuna untuk melaut di Laut Natuna Utara dengan maksimal dan sebagai agen pertahanan di Laut Natuna Utara yang didampingi oleh Kapal BAKAMLA dan TNI.
b. Pelaksanaan diplomasi maritim tidak optimal karena menggunakan pola dan strategi ASEAN Way sehingga tidak ada perubahan diplomasi maritim dalam menangani krisis di Laut Natuna Utara dan tidak ada political will dari Presiden untuk mengatasi krisis dengan membuka jalan kerjasama dengan China untuk dengan China untuk menghindari Laut Natuna Utara dengan jangka waktu lama. Kerjasama dengan Jepang dan Jerman juga dapat membantu teknologi kemaritiman Indonesia untuk mendukung nelayan dan industri perikanan di Natuna serta wilayah lainnya yang
akan menguatkan keamanan maritim Indonesia.
Rekomendasi a. Teoritis
Diplomasi maritim sebagai pilar Poros Maritim Dunia belum sepenuhnya matang secara konsep dan implementasi, sehingga berdampak pada kurang optimalnya keberhasilan menangani krisis di Laut Natuna Utara antara Indonesia dan China. Diharapkan penelitian selanjutnya dapat membahas strategi Kementerian Luar Negeri untuk menemukan apa yang dapat diperbaiki demi keberhasilan kepentingan nasional Indonesia di Laut Natuna Utara.
b. Praktis
Koordinasi memerlukan evaluasi komprehensif untuk mengatasi ego sektoral dan melibatkan Pemerintah Daerah untuk mengetahui kondisi lapangan sehingga tujuan dari koordinasi tercapai serta pembahasan mitigasi kondisi kritis jangka pendek dan jangka panjang untuk menunjang diplomasi maritim dan keamanan maritim Indonesia. Pada diplomasi maritim diperlukan pengarahan serius terutama di pilar pendukung internal dan eksekusi eksternal yang membutuhkan kerjasama seluruh Kementerian dan Lembaga terkait, meningkatkan strategi dan
92 | Jurnal Keamanan Maritim | Volume 7 Nomor 1 Tahun 2021 kemampuan komunikasi politik dengan
negara mitra, serta menggunakan metode diluar ASEAN agar tidak terpaku pada penyelesaian masalah yang kaku dan lama, Presiden harus berani mengarahkan pada metode non-ASEAN untuk mensukseskan kepentingan nasional Indonesia dalam krisis Laut Natuna Utara antara Indonesia dan China.
Daftar Pustaka
Aldila, N. (2020, Agustus 21). Investasi China di Indonesia 9 Persen, Kedua Terbesar. Retrieved Oktober 10, 2020, from ekonomi.bisnis.com:
https://ekonomi.bisnis.com/read/20 200821/9/1281463/investasi-china-di- indonesia-meningkat-9-persen- kedua-terbesar#:~:text=8%2F2020).- ,China%20menjadi%20salah%20satu%
20negara%20investor%20terbesar%2 0bagi%20Indonesia%20dengan,milia r%20pada%20semester%20I%2F Amaruli Octavian, Bayu Yulianto. (2014).
Budaya, Identitas & Masalah Keamanan Maritim. Jakarta:
Universitas Pertahanan Indonesia.
Amer, R. (2002). “Claims and Conflict Situations” in Timo Kivimaki, (ed), War or Peace in The South China Sea? Copenhagen: NIAS Press.
C Schofield, IMA Arsana. (2009). Beyond the limits?: outer continental shelf opportunities and challenges in East and Southeast Asia.
Contemporary Southeast Asia, 28 - 63\.
CNN. (2020, Januari 8). Fakta Kekuatan Armada Kapal Penjaga Pantai China
di Natuna. Retrieved Februari 2021,
2021, from
www.cnnindonesia.com:
https://www.cnnindonesia.com/tek nologi/20200108125738-199-
463458/fakta-kekuatan-armada- kapal-penjaga-pantai-china-di- natuna
Coplin, W. D. (1992). Pengantar Politik Intenasional: Suatu Telaah Teoritis.
Bandung: Sinar Baru.
Firdaus, F. (2020, April 15). Sebulan Melaut di Perairan Natuna, Nelayan Pantura Merugi. Retrieved Februari 02, 2021, from Gatra.com:
https://www.gatra.com/detail/news /475644/ekonomi/sebulan-melaut- di-perairan-natuna-nelayan-
pantura-merugi-
James Kraska and Raul Pedrozo,. (2013).
International maritime security law.
Leiden: Martinus Nijhoff Publishers.
KEMENLU. (2019, 12 30). Indonesia Protes Pelanggaran RRT di ZEE Indonesia . Retrieved 09 21, 2020, from https://kemlu.go.id:
https://kemlu.go.id/portal/id/read/9 31/siaran_pers/indonesia-protes- pelanggaran-rrt-di-zee-indonesia KEMENLU, CSIS. (2016). Diplomasi
Pertahanan Maritim: . Jakarta:
Badan Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia .
Kemhan. (2017). Kebijakan Kelautan Indonesia. Jakarta: Kemhan.
Lubis, R. (2020, Januari 10). Diplomasi Pertahanan Indonesia melalui ASEAN dalam Menghadapi Polemik Laut Cina Selatan. Retrieved September 14, 2020, from teritorial.com:
https://teritorial.com/opini/diploma
si-pertahanan-indonesia-melalui- asean-dalam-menghadapi-polemik- laut-cina-selatan/
Lutz Feldt, Dr. Peter Roell, Ralph D.
Thiele. (2013). Maritime Security – Perspectives for a Comprehensive Approach . ISPSW Strategy Series:
Focus on Defense and International Security, 1 - 2.
Nurfajriani, R. (2020, 01 05). Konflik Perairan Natuna Antara Indonesia dan Tiongkok, Munculkan Tagar 'Natuna bukan Nacina' di Twitter.
Retrieved 09 21, 2020, from www.pikiran-rakyat.com:
https://www.pikiran- rakyat.com/nasional/pr-
01330094/konflik-perairan-natuna- antara-indonesia-dan-tiongkok- munculkan-tagar-natuna-bukan- nacina-di-twitter
Nye, J. (2005). Soft Power: The Means To Success In World Politics. New York:
Harvard.
Power, G. F. (2020). China Military Strength (2020). Retrieved 10 10,
2020, from
www.globalfirepower.com:
https://www.globalfirepower.com/
country-military-strength- detail.asp?country_id=china
Raco, J. (2010). Metode Penelitian Kualitatif Jenis, Karakteristik, dan Keunggulannya . Jakarta: PT Grasindo.
RI, D. (1983). UU No. 5 Tahun 1983 . Jakarta: DPR RI.
Rijal, N. K. (2018). Kepentingan Nasional Indonesia dalam Inisiasi ASEAN Maritime Forum (AMF). Indonesian Perspective, Vol. 3, No. 2 (Juli- Desember 2018), 159-179.
Said, B. D. (2012). PENTINGKAH ANALISIS KEBIJAKAN DAN ANGGARAN ?
Quaterdeck Edisi September 2012 , Vol.5 No, 15, 2.
SAMUDRANESIA. (2019, Juli 25).
Geopolitik. Retrieved Juli 10, 2020, from samudranesia.id:
http://samudranesia.id/penggunaan -nama-laut-natuna-utara-sah-
secara-hukum-nasional-dan- internasional/
Sebayang, R. (2020, 01 03). Hai China, Ini 4 Sikap RI Demi Laut Natuna!
Retrieved 09 21, 2020, from cnbcindonesia.com:
cnbcindonesia.com/news/20200103 155952-4-127497/hai-china-ini-4- sikap-ri-demi-laut-natuna
Sinaga, L. C. (2017, November 10). Laut Natuna Utara dan Respon Tiongkok.
Retrieved Januari 26, 2021, from http://www.politik.lipi.go.id:
http://www.politik.lipi.go.id/kolom/
kolom-1/politik-internasional/1165- laut-natuna-utara-dan-respon- tiongkok
Sisriadi. (2016). PENGEMBANGAN POSTUR PERTAHANAN MILITER
GUNA MENDUKUNG
TERWUJUDNYA POROS MARITIM DUNIA. WIRA Volume 59 / No. 43, 6- 8.
Yuniar, R. W. (2020, 09 16). Laut China Selatan: Kapal-kapal China diprediksi 'akan masuk lagi' ke Natuna, Indonesia perlu 'investasi di kapal- kapal patroli'. Retrieved 09 21, 2020, from www.bbc.com:
https://www.bbc.com/indonesia/in donesia-54164982