• Tidak ada hasil yang ditemukan

Peran Morfologi Bahasa Indonesia Bagi Perkembangan Bahasa Anak Usia Dini

N/A
N/A
Faisal Septianto

Academic year: 2024

Membagikan "Peran Morfologi Bahasa Indonesia Bagi Perkembangan Bahasa Anak Usia Dini"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

PERAN MORFOLOGI DALAM BAHASA INDONESIA BAGI PERKEMBANGAN BAHASA ANAK USIA DINI

Disusun Sebagai Bentuk Pengerjaan Ujian Tengah Semester Mata Kuliah Morfologi, Fonologi, dan Dasar Sastra Indonesia

Dosen Pengampu : Prof. Dr. St. Y. Slamet, M.Pd.

Disusun Oleh :

Nama : Astrella Galuh Putri, A.

NIM : K7123042

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

2024

(2)

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa. Atas rahmat dan hidayah-Nya, penulis dapat menyelesaikan tugas makalah yang berjudul “Morfologi Dalam Bahasa Indonesia" dengan tepat waktu.

Makalah disusun untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Morfologi, Fonologi, dan Dasar Sastra Indonesia. Selain itu, makalah ini bertujuan menambah wawasan tentang morfologi bagi para pembaca dan juga bagi penulis.

Penulis mengucapkan terima kasih kepada Prof. Dr. St. Y. Slamet, M.Pd. selaku dosen pengampu Mata Kuliah Morfologi, Fonologi, dan Dasar Sastra Indonesia. Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada semua pihak yang telah membantu diselesaikannya makalah ini.

Penulis menyadari makalah ini masih jauh dari sempurna. Oleh sebab itu, saran dan kritik yang membangun di harapkan demi kesempurnaan makalah ini.

Surakarta, 19 April 2024

(3)

Penulis

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Bahasa adalah lambang bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia yang bersifat arbitrer dan konvensional serta memiliki makna. Arbitrer berarti bahasa bersifat manasuka, sedangkan konvensional berarti bahasa bersifat kesepakatan bersama. Selain arbitrer dan konvensional, bahasa harus bermakna. Jika tidak bermakna, maka tidak dapat disebut bahasa. Perkembangan kosakata bahasa Indonesia bertumbuh sangat pesat. Kosakata sebagai satuan analisis terbesar dalam kajian morfologi merupakan salah satu komponen bahasa yang ada dalam linguistik.

Dalam berbahasa, penggunaan bahasa tidak terlepas dari kajian fonologi, morfologi, sintaksis, dan leksikal. Morfologi merupakan cabang linguistik yang berhubungan dengan morfem dan kata. Morfem dan kata sama-sama merupakan satuan bahasa terkecil dan bermakna. Satuan bahasa terkecil berarti tidak dapat dibagi menjadi yang lebih kecil lagi dan bermakna berarti harus memiliki makna (Ichsan et al., 2015).

Dalam proses morfologi, yang menjadi bentuk terkecil adalah morfem dan bentuk terbesarnya ialah kata (Asrina, 2021). Penggunaan kata-kata dalam berbahasa adalah sesuatu yang penting untuk dipelajari. Secara etimologis, istilah morfologi dalam bahasa Indonesia berasal dari kata morphology dalam bahasa Inggris. Istilah itu terbentuk dari dua buah morfem, yaitu morph ‘bentuk’ dan logy ‘ilmu’. Istilah morfologi merujuk kepada ‘Ilmu yang mengenai bentuk’ (Chaer dalam Suparno, 2015). Di dalam linguistik, morfologi berarti mengkaji berbagai bentuk kata dan proses pembentukan kata. Artinya setiap bentuk bahasa (linguistic form) yang berupa seluk beluk kata, menjadi objek sasaran untuk dikaji, misalnya, selain kata desain, terdapat kata mendesain, mendesainkan, terdesain, banyak desain, desain-desain, desain rumah, pendesainan bersusun, tampilan desain, dan sebagainya. Mengamati kata-kata tersebut dapat dikatakan bahwa kata dalam bahasa Indonesia memiliki beragam bentuk.

(4)

Interaksi dalam berbagai kegiatan umumnya selalu menggunakan bahasa karena lebih mudah dimengerti dan dipahami. Bahasa menjadi salah satu sarana dalam menyampaikan gagasan, mengekspresikan diri, dan mengungkapkan perasaan. Bahasa sebagai alat komunikasi sudah diperoleh sejak lahir sampai usia lima tahun dengan istilah pemerolehan bahasa. Pada proses pemerolehan bahasa anak efektifnya diawali sejak dini karena pada usia dini otak anak akan lebih cepat menguasai bahasa. Pada usia 6 – 15 tahun anak sedang mengalami masa emas dimana otak akan sangat elastis sehingga memungkinkan seorang anak memperoleh bahasa pertama dengan mudah dan cepat. Pada beberapa penelitian terlebih dahulu yang telah teruji, hipotesis menyatakan bahwa periode masa emas pemerolehan bahasa di atas 15 tahun akan menyebabkan keterlambatan berbicara. Taringan menyebutkan berbicara merupakan keterampilan untuk mengucapkan bunyi-bunyi artikulasi atau kata-kata dalam mengasumsikan diri (Elberti, 2021). Teori Chomsky mengemukakan hanya manusia yang dapat menguasai bahasa karena manusia sejak lahir dibekali dengan alat pemerolehan bahasa Language Acquisition Device (LAD). Penguasaan bahasa pada anak dialami secara alamiah, Yulianto menuturkan LAD bagian fisiologis dari otak khusus untuk memproses bahasa dan tidak berhubungan dengan kemampuan kognitif, motorik maupun psikomotorik (Fakhrunnia, Habsari Rahayu, 2017). Pada saat usia 3 sampai 4 tahun, secara khusus anak mampu memperoleh beribu-ribu pembendaharaan kosakata. Sentosa menerangkan akuisi bahasa ialah proses berlangsungnya di dalam otak seorang anak dalam memperoleh bahasa pertama atau bahasa Ibu (Sentosa &

Apriliani, 2018). Anak normal akan memperoleh bahasa pertama dalam waktu yang singkat karena sudah dilengkapi LAD atau piranti pemeroleh bahasa.

B. Rumusan Masalah

1. Apa yang dimaksud dengan morfologi?

2. Apa yang dimaksud dengan morfem?

3. Bagaimana pemerolehan morfologi pada anak?

4. Apa faktor yang mempengaruhi pemerolehan bahasa pada anak?

5. Apa fungsi morfologi dalam bahasa Indonesia bagi manusia?

C. Tujuan

(5)

1. Untuk mengetahui pengertian morfologi.

2. Untuk mengetahui dan memahami tentang morfem.

3. Untuk mengetahui pemerolehan morfologi pada anak.

4. Untuk mengetahui faktor yang mempengaruhi pemerolehan bahasa pada anak.

5. Untuk mengetahui fungsi morfologi dalam bahasa Indonesia bagi manusia.

D. Manfaat

1. Penulis mengetahui dan memahami morfologi dengan baik.

2. Penulis mengetahui dan memahami tentang morfem.

3. Penulis mengetahui pemerolehan morfologi pada anak.

4. Penulis mengetahui faktor yang mempengaruhi pemerolehan bahasa pada anak.

5. Penulis mengetahui fungsi morfologi dalam bahasa Indonesia bagi manusia.

(6)

BAB II

ISI DAN PEMBAHASAN

A. Pengertian Morfologi

Morfologi adalah istilah yang tidak ada hubungannya dengan bahasa ketika pertama kali diciptakan oleh filsuf dan penyair Jerman Johan Wolfgang von Goethe pada abad kesembilan belas. Morfologi pertama kali diciptakan dalam konteks biologis. Namun, kata ‘morfologi’ berasal dari kata Yunani ‘morph’ yang berarti ‘bentuk / bentuk’. Jadi, kita dapat mengatakan bahwa morfologi adalah filosofi ‘logos’ dari bentuk. Dalam biologi dan geologi, morfologi berarti struktur atau bentuk tubuh dan bumi masing-masing. Jadi, dalam ilmu linguistik juga morfologi harus mengacu pada suatu kajian yang berkaitan dengan bentuk-bentuk bahasa. Bentuk bahasa yang paling dasar adalah kata. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa morfologi adalah studi tentang bentuk kata (Siregar, 2020).

Lebih spesifiknya lagi, morfologi merupakan cabang ilmu linguistik yang mempelajari pembentukan kata dan struktur internalnya. Morfologi merupakan bagian dari ilmu bahasa yang bidangnya menyelidiki seluk-beluk bentuk kata.

Morfologi adalah cabang linguistik yang mengidentifikasi satuan-satuan dasar bahasa sebagai satuan gramatikal (Verhaar dalam Siregar, 2020). Para ahli juga mempunyai pendapat tersendiri mengenai pengertian dari morfologi. Menurut Chaer morfologi adalah bagian dari ilmu bahasa yang membicarakan atau mempelajari seluk beluk struktur kata, serta pengaruh perubahan struktur kata terhadap golongan dan arti kata (Chaer dalam Nurul, 2015). Menurut Kridalaksana morfologi secara etimologi berasal dari kata morf yang berarti

“bentuk” dan kata logi berarti “ilmu”. Jadi secara harafiah kata morfologi berarti

(7)

ilmu mengenai bentuk (Kridalaksana dalam Nurul, 2015). Sedangkan morfologi menurut Alwi, morfologi adalah “subdisiplin” linguistik yang menelaah bentuk, proses dan pembentukan kata (Alwi dalam Nurul, 2015). Menurut Verhaar ilmu morfologi menyangkut struktur “internal” kata (Verhaar dalam Nurul, 2015).

Seperti kata tertidur kata ini terdiri atas dua morfem yakni –ter dan tidur. (ter- diberi garis karena tidak pernah berdiri sendiri). Berbagai pendapat para ahli tentang morfologi dapat ditarik kesimpulan bahwa morfologi adalah ilmu yang mempelajari bentuk kata.

B. Pengertian Morfem

Dalam ruang kajian morfologi dikenal sebuah unsur dasar atau satuan terkecil dalam lokus pengamatannya. Di mana satuan unsur terkecil itu disebut sebagai morfem. Morfem adalah unit tata bahasa terkecil dari suatu bahasa. Ahli bahasa yang menyelidiki kata, pembentukan kata, dan struktur kata disebut morfologi.

Mereka kebanyakan mengidentifikasi dan mempelajari morfem yang membangun kata-kata baru. Setiap morfem harus memberikan arti tertentu pada kata. Kata

‘menakjubkan’ dapat dibagi menjadi dua morfem ‘heran’ dan ‘penuh’. Bersama- sama, kedua morfem ini membentuk kata baru dengan fungsi tata bahasa baru (Siregar, 2020). Sebagai satuan gramatikal, morfem membentuk satuan yang lebih besar dan mempunyai makna. Sebagai satuan terkecil, morfem tidak dapat dipecah menjadi bagian-bagian yang lebih kecil, yang masing-masing bagian tersebut mengandung makna. Kata terkecil itu tersebut menyiratkan adanya satuan gramatikal yang lebih besar dari morfem. Inilah yang dalam ilmu bahasa disebut sebagai kata, frasa, klausa dan kalimat. Dengan demikian, morfem menjadi bagian pembentuk atau konstituen satuan-satuan gramatikal yang lebih besar tersebut (Kushartanti dalam Siti dan Ibnu, 2020).

C. Pemerolehan Morfologi Pada Anak

Pemerolehan bahasa anak umumnya mencakup pemerolehan semantik, sintaksis, Morfologi, dan fonologi. Anita menjelaskan pemerolehan morfologi merupakan suatu proses penguasaan yang berfokus pada seluk beluk kata dan proses

(8)

pembentukan kata tersebut berupa penggunaan kata berafiks, morfofonemik, dan reduplikasi (Anita, 2021). Senada dengan itu, Widyanasari mengungkapkan pemerolehan bahasa morfologi adalah bentuk morfem bebas dalam bentuk kata maupun morfem dalam bebas terikat pada anak (Ika, 2020). Morfem adalah unsur yang terkecil dalam ujaran suatu bahasa, kata adalah gabungan fonologi dan gramatik. Morfologi memberikan kata dasar dan imbuhan sebagai unit morfologi dalam berbagai kata dan kalimat yang tercipta. Saat ini, kesadaran morfologi anak sangat dibutuhkan untuk dapat memahami makna dalam sebuah kata atau kalimat agar tidak terjadi kesalahpahaman. Lingkungan berpengaruh dalam proses pemerolehan bahasa sebagai stimulus pembendarahaan kata anak. Zasriantina menyebutkan pemerolehan bahasa dapat diperoleh dari interaksi anak dengan lingkungan sekitar (Zasrianita, 2020). Oleh karena itu, LAD akan bekerja dengan maksimal setelah mendapatkan stimulus lingkungan. keterlambatan dan kecepatan anak dalam pemerolehan bahasa didasari oleh beberapa faktor. Kapoh menjelaskan ada lima faktor yang dapat mempengaruhinya berupa; (a) faktor urutan usia, kematangan umur berkaitan dengan kematangan pada alat-alat bicara anak sehingga kematangan akal dan hal lainnya akan mengikut dalam pengalaman anak; (b) faktor kesehatan, kondisi fisik yang sehat akan melakukan banyak kegiatan dan pengetahuan yang didapat dari sekeliling anak, tetapi bila anak memiliki kondisi fisik yang kurang baik maka proses pemerolehan bahasanya akan mendapat keterlambatan; (c) faktor perbedaan jenis kelamin, pemerolehan bahasa pada anak perempuan umumnya lebih cepat dibandingkan dengan anak laki-laki. Beberapa penelitian menemukan dalam jumlah kosa kata, panjang kalimat, dan pemahaman perempuan lebih unggul pada lima tahun pertama; (d) faktor kecerdasan, anak yang memiliki kemampuan diatas rata-rata kemampuan akal seusianya akan lebih cepat memperoleh bahasa karena kecerdasan akan berdampak dalam kemampuan memperhatikan, menemukan hubungan-hubungan, dan memahami arti kata; (e) faktor milieu, anak yang tumbuh dalam lingkungan berkecukupan untuk pendidikan akan membuat anak mendapatkan kesempatan besar dalam memaknai bahasa dengan baik dan benar. Sebaliknya dengan anak yang hidup dan tumbuh dalam lingkungan kurang berkecukupan, sekalipun memiliki kecerdasan seperti anak pada umumnya, namun tingkat pertumbuhan bahasanya dalam mencapai kosakata berbeda (Kurniawan et al., 2015). Semua

(9)

faktor memiliki dampak yang berbeda-beda pada proses pemerolehan bahasa anak termasuk dampak pada aspek kognitif, afektif dan psikomotorik.

D. Faktor yang Mempengaruhi Pemerolehan Bahasa Pada Anak

Pemerolehan bahasa pada anak itu bermacam-macam, ada yang lambat, sedang, dan cepat. Biasanya hal tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu :

a. Faktor Alamiah

Piranti pemerolehan bahasa yang dimiliki pada anak sejak lahir oleh Chomsky disebut Language Acquisition Device (LAD) itu bersifat alamiah. (Chaer, 2009).

Peranti alamiah tersebut akan berkembang setelah mendapatkan rangsangan dari lingkungan sekitarnya tetapi jika tidak dirangsang oleh lingkungan anak tersebut tetap dapat mampu memperoleh bahasa di sekitarnya karena sifatnya yang

Alamiah tersebut.

b. Faktor Perkembangan Kognitif

Perkembangan bahasa anak itu sejalan dengan perkembangan kognitif yang diperolehnya. Keduanya memiliki hubungan yang bersifat saling melengkapi.

Yang mana dalam prosesnya pemerolehan bahasa dibantu oleh perkembangan kognitif dan sebaliknya kemampuan kognitif berkembang dibantu dengan perkembangan bahasa yang berada di lingkup sosial. Kognitif dalam berbahasa memiliki hubungan atau keterkaitan. Lenneberg menyatakan pada usia kematangan kognitif (2 tahun) hingga usia pubertas, otak seorang anak itu masih lentur sehingga memungkinkan adanya pemerolehan bahasa pertama yang mudah dan cepat oleh anak. Ia juga mengatakan bahwa sesudah pubertas proses berbahasa secara alamiah agak terhambat oleh selesainya fungsi-fungsi otak tertentu, khususnya fungsi verbal otak sebelah kiri (Zasrianita, 2020). Slobin berpendapat bahwa perkembangan kognitif dan mental merupakan faktor penentu dalam pemerolehan bahasa, anak memperoleh bahasa pertama itu dengan mengenal banyak struktur dan fungsi bahasa, dan dengan aktif ia membuat batasan-batasan pengetahuan tentang lingkungannya, dan mengembangkan

(10)

kemampuan berbahasanya dengan kemampuan yang ia miliki. Slobin berpendapat pemerolehan linguistik pada anak selesai kemungkinan pada usia 3-4 tahun, kemudian perkembangan selanjutnya menggambarkan pertumbuhan kognitif anak. Jadi faktor kognitif dan mental merupakan faktor penentu pemerolehan bahasa, yang mana pada usia dua tahun (kematangan kognitif) sampai usia pubertas itu merupakan waktu seorang anak dapat mendapatkan bahasa dengan mudah dan cepat. Hubungan antara bahasa dan kognitif, keduanya itu memiliki hubungan yang erat dan memiliki keterikatan untuk saling melengkapi.

c. Faktor Latar Sosial

Meliputi struktur keluarga, golongan sosial, dan lingkungan masyarakat yang bisa saja terjadi perbedaan dalam pemerolehan bahasa. Dikatakan bahwa jika semakin tinggi interaksi sosial yang dilakukan maka semakin tinggi peluang seorang anak dalam memperoleh bahasa. Sebaliknya, jika semakin rendah interaksi sosial keluarga tersebut maka semakin rendah peluang anak dalam memperoleh bahasa.

Anak yang dari golongan status sosial yang rendah biasanya menunjukkan perkembangan pemerolehan bahasa yang lamban. Selain itu, perbedaan akses ke bahasa anak menunjukkan bahwa, dibandingkan dengan anak kelas bawah, kelompok kelas menengah lebih mampu menggunakan bahasa eksplisit. Keahlian anak untuk berinteraksi dengan lingkungannya dengan cara yang mudah dimengerti penting untuk menjadi anggota golongan. Anak-anak dengan keterampilan komunikasi yang kuat lebih mungkin diterima oleh kelompok sosial daripada anak-anak dengan keterampilan komunikasi yang buruk

d. Faktor Keturunan

1. Jenis Kelamin, jenis kelamin juga mempengaruhi penguasaan bahasa anak- anak. Umumnya anak perempuan lebih unggul dari anak laki-laki. Meski dari sejumlah kajian ilmiah, para ahli belum sepenuhnya menjelaskan hal ini.

2. Intelegensi, intelegensi atau kecerdasan juga mempengaruhi penguasaan bahasa anak, yang berkaitan dengan kemampuan anak mencerna hal tertentu melalui pikiran. Karena setiap anak memiliki bagian-bagian otak seperti IQ setiap anak yang berbeda beda.

(11)

3. Kepribadian, Gaya/Cara Pemerolehan, Kreativitas anak dalam menanggapi sesuatu memang menentukan bahasa, dan perolehan kemampuan berbicara serta perilaku yang menjadi kepribadian seorang anak mempengaruhi perubahan bahasa dan tutur kata sampai batas tertentu.

E. Fungsi Morfologi dalam Bahasa Indonesia bagi Manusia

Fungsi ini membantu kita memahami bagaimana kata-kata dibentuk, bagaimana mereka mengandung makna, dan bagaimana struktur morfologis mempengaruhi komunikasi. Berikut adalah beberapa fungsi utama morfologi :

1. Pembentukan Kata

Fungsi utama morfologi adalah membantu kita memahami bagaimana kata-kata dibentuk dari morfem-morfem. Melalui proses afiksasi, reduplikasi, konversi, komposisi, dan kliping, morfologi memainkan peran penting dalam menghasilkan berbagai bentuk kata dengan makna yang berbeda.

2. Pemberian Makna

Morfologi membantu memberikan makna pada kata-kata. Morfem-morfem tertentu dapat mengandung makna tertentu. Misalnya, akhiran “-kan” dalam bahasa Indonesia menunjukkan bahwa kata tersebut merupakan kata kerja yang mengindikasikan tindakan dilakukan kepada suatu objek.

3. Analisis Struktur Kata

Dengan memahami morfologi, kita dapat menganalisis struktur kata untuk mengidentifikasi bagian-bagian pembentuk kata, seperti akar kata, awalan, dan akhiran. Analisis ini membantu dalam menganalisis sintaksis dan semantik suatu kalimat.

4. Memahami Perubahan Makna

(12)

Morfologi membantu menjelaskan bagaimana perubahan morfem dalam kata dapat mengubah makna kata tersebut. Misalnya, kata “tidur” menjadi “tertidur”

menggambarkan perubahan status dari aktif menjadi pasif.

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pemerolehan bahasa Indonesia pada tataran fonologi, morfologi, sintaksis, dan semantik pada anak usia dini yang berusia

Tujuan dari penelitian ini adalah melalui kegiatan bermain peran mikro dapat meningkatkan kemampuan berbicara bahasa Indonesia anak karena melalui bermain peran

dalam perkembangan dan pertumbuhan mereka. Dengan bahasa mereka bisa berbicara, bercerita, bahkan bernyanyi. Karena pendidikan bahasa pada anak usia dini sangatlah

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pemerolehan bahasa Indonesia pada tataran fonologi, morfologi, sintaksis, dan semantik pada anak usia dini yang berusia

Dan i 9 hasil laporan penelitian tentang pembelajaran bahasa Arab untuk anak usia dini di Indonesia semuanya membahas tentang metode pembelajaran bahasa Arab dan pengaruhnya

Peran Orangtua Dalam Perkembangan Kepribadian Anak Usia Dini Masa depan anak tergantung dari pengalaman yang diterima oleh anak baik di lingkungan keluarga maupun lingkungan social

Tingkat kemampuan bahasa anak usia 4-5 tahun setelah dilakukannya bermain peran untuk kategori mulai berkembang ada 2 orang anak dengan persentase 18%, berkembang sesuai harapan ada 6

Metode Bermain Aktif Tabel 3 Distribusi Frekuensi Perkembangan Bahasa Anak Sebelum dan Setelah Bermain Aktif Bagi anak usia pra sekolah, perkembangan bahasa dapat dilakukan dalam