1 PENDAHULUAN
Latar Belakang
Di tengah derasnya arus globalisasi dan pasar bebas dunia, aktivitas ekspor dan impor tidak bisa dipisahkan dari aktivitas ekonomi sebuah negara.Hal ini mendorong perlunya multimoda transportasi yang ditunjang oleh infrastruktur dasar dari aktivitas tersebut, salah satunya adalah pelabuhan.Pelabuhan darat berperan dalam memfasilitasi dan mengembangkan perdagangan internasional (Harlambides et al. 2011).Menurut Keputusan Menteri Perhubungan tentang Penyelenggaraan Laut No. Km 26 Tahun 1998, pelabuhan adalah tempat yang terdiri dari daratan dan perairan di sekitarnya dengan batas-batas tertentu sebagai tempat kegiatan pemerintahan dan kegiatan ekonomi yang dipergunakan sebagai tempat kapal bersandar, berlabuh, naik turun penumpang atau bongkar muat barang yang dilengkapi dengan fasisilitas keselamatan pelayaran dan kegiatan penunjang pelabuhan serta sebagai tempat perpindahan intra dan antar moda transportasi. Pelabuhan sendiri pada umumnya dibagi atas tiga yaitu pelabuhan laut (sea port), pelabuhan darat (dry port) dan pelabuhan udara (air port) (Suyono 2001).Konsep pelabuhan darat telah mengintegrasi pelayanan dasar logistik, pelayan logistik dengan nilai tambah dan pelayanan keuangan komersil (Fahmiasari 2017).
Pada perkembangannya, muncul konsep pelabuhan darat (dry port) sebagai pengembangan dari infrastruktur pelabuhan laut (sea port). Pelabuhan darat adalah suatu kawasan di pedalaman yang dapat melaksanakan fungsi suatu pelabuhan laut (Suyono 2001). Fungsi tersebut seperti kepabeanan, fasilitas bongkar muat, lapangan penumpukan di bawah pengawasan kepabeanan, agen pelayaran, dan bank.Pelabuhan darat dikategorikan berdasarkan jaraknya yaitu jarak pendek, jarak menengah dan jarak panjang (Roso et al. 2009). Salah satu pelabuhan darat terbesar di Indonesia berada di Cikarang yang berada dalam kawasan bisnis Jababeka.Pelabuhan tersebut adalahCikarang Dry Port (CDP).
Pelabuhan darat ini menjadi penunjang aktivitas ekspor dan impor terutama pada kawasan industri Jababeka. Core business Cikarang Dry Portadalah bergerak di bidang pelabuhan dan ekspor impor. CDP juga beraksentuasi pada aspek rantai pasok logistik dengan ditunjuknya CDP sebagai perusahaan yang memiliki pusat logistik berikat.Salah satu komoditas pertanian yang dikelola adalah kapas.
Cikarang Dry Portsangat strategis karena berlokasi di Kawasan Industri Jababeka. Lokasinya terletak di jantung zona terbesar manufaktur Jawa Barat.
Ada lebih dari 2 500 industri perusahaan, baik perusahaan multinasional dan Usaha Kecil dan Menengah (UKM) yang berada di zona tersebut. Ada sekitar 200 hektar dialokasikan untuk port kering yang mudah diakses oleh jalan raya dan kereta api sistem. Nilai tambah pada aspek kereta api selain mengurangi waktu tunggu akan mengurangi emisi gas karbon (Jeevan et al. 2015). Pada perjalanannya, ada kendala dan masalah terkait pengembangan bisnis terutama pada strategi pemasaran seperti strategi pengembangan harga. Ada perbedaan yang signifikan di antara tarif kompetitor di JICT dan CDP.
Cikarang Dry Port merupakan bagian dari program Bea Cukai Sistem Perdagangan muka dan Indonesia Logistik Cetak Biru Indonesia yang
2
dicanangkan oleh pemerintah. Hal ini bertujuan untuk merampingkan dan meningkatkan daya saing negara dalam hal rantai pasok dan distribusi barang. The SAFE Framework, Organisasi Kepabeanan Dunia dan Kepatuhan Standar Internasional lainnya harus diterapkan untuk meningkatkan perdagangan internasional. Hal ini akan memudahkan dalam memasok pemain rantai pasok baik di Indonesia maupun di luar negeri.
Dikutip pada situs resminya pada cikarang dryport.com, Cikarang Dry Port menawarkan layanan one stop untuk penanganan kargo dan solusi logistik untuk ekspor internasional dan impor serta distribusi domestik. CDP menyediakan pelabuhan terpadu dan jasa logistik dengan puluhan logistik dan pemain rantai pasokan seperti eksportir, importir, operator, operator terminal, kontainer stasiun barang, gudang berikat, transportasi, logistik pihak ketiga (3PL), kosong depo kontainer, serta bank dan fasilitas pendukung lainnya. Formalitas dokumen untuk port clearance dan bea cukai dapat diselesaikan di Cikarang Dry Port karena CDPmerupakan gerbang perpanjangan dari Pelabuhan InternasionalTanjung Priok. Cikarang Dry Port juga bergerak di bidang pelabuhan untuk aktivitas ekspor dan impor. CDP beraksentuasi pada aspek rantai pasok logistik dengan ditunjuknya CDP sebagai perusahaan yang memiliki pusat logistik berikat yang salah satu komoditas pertanian yang dikelola adalah kapas yang dapat dilihat pada Lampiran 1. Kewenangan ini diatur pada Peraturan Pemerintah Nomor 85 Tahun 2015Tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 2009 Tentang Tempat Penimbunan Berikat dan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 272/PMK.04/2015Tentang Pusat LogistikBerikat.
Menurut Account Manager CDP, Reggie S Ponto, pusat logistik berikat merupakan bentuk dari keseriusan intervensi pemerintah kepada aktivitas rantai pasok dengan menekan biaya yang tinggi bila harus mendatangkan cotton dari negara perantara lain seperti Singapura, Malaysia dan negara lainnya. Hal yang menjadi keunggulan dari Cikarang Dry Port sebagai pelabuhan terminal peti kemas.Hal ini dipercaya mampu menurunkan lama waktu tunggu bongkar muat atau dwellingtime. Permasalahan ini menjadi hangat diperbincangkan ketika Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo, melakukan inspeksi di Pelabuhan JICT di Tanjung Priok. Presiden menginstruksikan waktu tunggu harus kurang dari 3.1 hari karena akan mengganggu sistem rantai pasok dan harga barang.
Menurut GM Commercial Cikarang Dry Port, Imam Wahyudi, adanya sistem Dry Port di Cikarang akan membantu penumpukan peti kemas menjadi terurai serta dapat mendukung penurunan dwelling time di Pelabuhan Tanjung Priok hingga menjadi 2.1hari (Rahajeng 2016).
CDP saat ini baru melayani 60 000 – 70 000 TEUs (twenty-feet equivalent units) per tahun dari yang ditetapkan oleh perusahaan pada Tahun 2017 sebesar 100 000 TEUs. Pangsa pasarnya sekitar 3 persen dari 62 persen arus barang kawasan industri Cikarang, Bekasi, yang dikapalkan melalui Pelabuhan Tanjung Priok. Dalam jangka panjang, CDP akan meningkatkan kapasitas lapangan penumpukan peti kemas hingga menjadi 2.5 juta TEUs per tahun dari saat ini 400 000 TEUs per tahun seperti dapat dilihat pada Gambar 1.
3
Sumber: Cikarang Dry Port
Gambar 1 Volume PenjualanKontainerPetiKemas
Perumusan Masalah
Berdasarkan kondisi tersebut, maka perumusan masalah yang dijadikan fokus dalam penelitian ini adalah:
1. Bagaimana kondisi perushaan saat ini?
2. Faktor-faktor internal dan ekstenal apa saja yang mempengaruhi pengembangan perusahaan dari Cikarang Dry Port?
3. Strategi apa yang tepat untuk Cikarang Dry Port dalam melakukan pengembangan bisnis pelabuhan darat?
Tujuan Penelitian
Berdasarkan uraian dari latar belakang dan rumusan masalah, maka tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Menganalisis kondisi perusahaan saat ini.
2. Mengidentifikasi pengaruh faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi pengembangan bisnis Cikarang Dry Port.
3. Memformulasi strategi pengembangan bisnis dan membuat strategi arsitekturCikarang Dry Port.
4.
Manfaat Penelitian
Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat bagi peneliti, Cikarang Dry Port dan pembaca sebagai berikut:
1. Bagi peneliti, mendapatkan pengalaman praktis tentang bagaimana merancang sebuah strategi bisnis pengembangan pada terminal peti kemas 2. Bagi Cikarang Dry Port, akan memperoleh masukan tentang perancangan
strategi pengembangan yang dapat digunakan untuk proses pengambilan keputusan terkait dengan pengembangan sektor bisnis di tengah persaingan bisnis peti kemas.
3. Bagi Pemerintah, sebagai bahan pertimbangan terkait perumusan kebijakan terkait pelabuhan darat.
4
4. Bagi pembaca dapat dijadikan sebagai sumber informasi dan bahan tinjauan pustaka bagi penelitian selanjutnya terkait strategi pengembangan bisnis
Ruang Lingkup Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Cikarang Dry Port dengan melibatkan pihak internal manajemen dan pihak eksternal yang terkait mengenai bisnis peti kemas tersebut. penelitian ini dibatasi pada merumuskan strategi sampai proses pengambilan keputusan oleh manajemen terkait strategi pengembangan bisnis peti kemas di Cikarang Dry Port. Pada penelitian ini pembobotan pairwise untuk analisis matrik IFE dan EFE, formulasi strategi alternatif menggunakan metode SWOT serta pengambilan keputusan manajemen pada metode Strategi arsitektur yang prioritasnya diserahkan pada Pihak internal Cikarang Dry Port.
2 TINJAUAN PUSTAKA
Pelabuhan Darat
Menurut Perpres Nomor 69 Tahun 2001, pelabuhan darat adalah suatu tempat tertentu di daratan dengan batasan yang jelas, dilengkapi dengan fasilitas bongkar muat, lapangan penumpukan dan gudang serta prasarana dan sarana angkutan barang dengan pengemasan khusus dan berfungsi sebagai pelabuhan umum (Nuraeni 2015). Pelabuhan darat yang komperhensif memiliki fasilitas tertentu di antaranya (UNCTAD 1991): (1) Kantor Agen Pelayaran, (2) Jalur kereta api barang, (3) Layanan pengemasan kargo, (4) Layanan Pengiriman barang, (5) Perakitan unit kereta api, (6) Jasa kliring kontainer, (7) Layanan pelacakan kargo terkomputerisasi, (8) Fasilitas perbaikan perti kemas, (9) Fasilitas tempat terbuka dan pengasapan, (11) Fasilitas ruangan pendingin, serta (12) Jembatan timbang.
Cikarang Dry Port memiliki kantor yang berpusat di Kawasan Industri Cikarang yang beroperasi penuh pada hari kerja untuk keperluan aktivitas bongkar muat peti kemas. Selain itu layanan pengemasan kargo dan jasa kliring kontainer terintegrasi dengan fasilitas perbaikan peti kemas dan tempat terbuka serta karantina pada tempat tertentu sesuai dengan kebutuhan dari pelanggan yaitu importir dan eksportir (Nuraeni 2015) dengan total luas lahan penggunaan sebesar 269.009 m2. Pelacakan kargo berbasis komputerisasi dilakukan agar pelanggan dapat melakukan tracking kargo melalui website yang terhubung pada server dari sistem navigasi Cikarang Dry Port. Namun bukan tanpa kekurangan bahwa pelabuhan darat Cikarang Dry Port memiliki keterbatasan padapengembangan teknologi seperti ponsel pintar atau gawai lainnya untuk memonitor bagaimana aktivitas proses bongkar muat pelabuhan serta tracking pada kargo milik pelanggan.
Pemanfaatan pelabuhan darat sebagai alternatif lain dalam proses pengiriman barang atau kargo tidak terlepas dari keputusan pelanggan untuk meninggalkan atau mengambil unit yang memiliki standar tertentu untuk kegiatan