PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Muhaidin mengatakan, pengembangan ekowisata hiu paus di desanya dilakukan melalui survei persepsi masyarakat, pemetaan partisipatif, dan forum diskusi terpadu. Muhaidin menginginkan ekowisata hiu paus di Desa Labuhan Jambu bisa langsung dikelola secara mandiri oleh masyarakat, yakni dengan membentuk kelompok pengembangan wisata yang anggotanya terdiri dari masyarakat sekitar objek wisata, sehingga masyarakat bisa langsung merasakan manfaat dari pengalaman pengembangan pariwisata tersebut. . Kenyataannya, berbagai bentuk wisata hiu paus dapat disediakan secara mandiri oleh masyarakat di bawah koordinasi kelompok sadar wisata atau pengembang wisata, untuk meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat.
Rumusan Masalah
Tujuan Penelitian
Manfaat Penelitian
Kajian Pustaka
4 Ika Nurwahyuni, “Pengetahuan dan Peran Kelompok Sadar Wisata (POKDARWIS) dan Masyarakat Dalam Pengembangan Sarana Wisata Waduk Sempor Kabupaten Kebumen”, (Skripsi, FIS UNNES Semarang, Semarang, 2019). Sri Lestari Gintulangi “Peran Kelompok Sadar Wisata Dalam Pengembangan Pariwisata Botubarani Kecamatan Kabila Bone Kabupaten Bone Bolango”. 6 Sri Lestari Gintulangi “Peran Kelompok Sadar Wisata Dalam Pengembangan Pariwisata Botubarani Kecamatan Kabila Bone Kabupaten Bone Bolango”, JPPE, Vol.
Kerangka Teori
Namun, perbedaan penting adalah bahwa wisata bahari terjadi (kebanyakan) pada, di dalam dan di bawah media yang asing bagi manusia. Hal ini secara signifikan mempengaruhi sifat kegiatan wisata bahari karena, pertama, sebagian besar bergantung pada peralatan (seperti perahu dan kapal lainnya) dan, kedua, masalah keselamatan merupakan hal yang lebih penting. Argumen ini berlaku untuk sebagian besar kegiatan wisata bahari, seperti menyelam, selancar, memancing, berlayar, ski air, kayak laut, selancar angin.
Metode Penelitian
Hiu paus memiliki sejumlah ciri biologis, yaitu pertumbuhan dan proses perkembangan seksual/seksual yang lambat, generasi muda (breeder) yang dihasilkan relatif sedikit, serta umur yang panjang. Pada tahun 1999, hiu paus ditetapkan masuk dalam lampiran II Convention on Migratory Species (CMS), yang berarti hiu paus akan mengalami dampak yang signifikan hanya jika perlindungan dan pengelolaannya dilakukan melalui kerja sama internasional. Penelitian ini dilakukan di Wisata Hiu Paus di Desa Labuhan Jambu, Kecamatan Tarano, Kabupaten Sumbawa.
Sumber data primer adalah jenis data yang diperoleh dan diteliti langsung dari sumber utama yaitu informan melalui wawancara, observasi dan dokumentasi untuk memperoleh data yang valid.22. Dengan demikian, sumber data primer yang diperoleh peneliti adalah hasil informasi yang diperoleh dari Pokdarwis (ketua) dewan desa dan anggota Bumdes. Sumber data sekunder adalah data yang diperoleh dari dokumen grafis (tabel, catatan, notulensi rapat, dan lain-lain), foto, film, rekaman video, benda dan lain-lain yang dapat memperkaya data primer.23.
Dalam penelitian ini data sekunder yang digunakan adalah dokumen pemerintah desa berupa profil desa dan dokumen mengenai wisata hiu paus di desa Labuhan Jambu. Observasi partisipatif adalah observasi dimana peneliti terlibat langsung dalam aktivitas sehari-hari orang yang diamati atau dijadikan sumber data penelitian.25. Metode ini diperoleh dari sumber data non-manusia, sumber ini merupakan sumber yang akurat dan stabil sebagai cerminan dari kondisi sebenarnya dan lebih mudah untuk dianalisis berulang kali.
Analisis data akan dilakukan peneliti mengenai hasil observasi, wawancara dan dokumentasi yang dilakukan terhadap peran Pokdarwis dalam pengembangan wisata hiu paus di Desa Labuhan Jambu Kecamatan Tarano.
Sistematika Pembahasan
Analisis data adalah upaya mengolah data, mengorganisasikan data, memilahnya ke dalam satuan-satuan yang dapat dikelola, mencari dan mencari pola, menemukan apa yang penting dan apa yang perlu dipelajari, serta memutuskan apa yang akan disertakan bersama orang lain dalam analisis data. .31 .
Gambaran Umum
- Profil Desa Labuhan Jambu
- Letak Geografis Desa Labuhan Jambu
- Potensi Sumber Daya Manusia
Pensiunan PNS/TNI/POLRI 3 orang 1 orang Pengusaha kecil dan menengah 104 orang 32 orang Pelayanan kesehatan alternatif 1 orang. Sebelah utara berbatasan dengan Desa Labuhan Pidang - di sebelah selatan berbatasan dengan Desa Labuhan Aji - di sebelah timur berbatasan dengan Desa Bantu Lanteh - di sebelah barat berbatasan dengan Desa Teluk Saleh. Sumber daya manusia merupakan salah satu faktor yang berperan penting dalam memajukan sektor pariwisata khususnya wisata hiu paus, namun sumber daya manusia yang ada di Desa Labuhan Jambu masih tergolong minim sehingga berdampak pada pengembangan pariwisata, dimana sumber daya manusia menjadi penggeraknya. kekuatan bagi industri pariwisata.
Wisata hiu paus di Desa Labuhan Jambu dapat menjadi objek wisata prioritas jika dikembangkan dengan baik, namun pengembangannya masih sangat terbatas karena sumber daya manusia di Desa Labuhan Jambu sendiri masih terbilang minim.
Keterlibatan Pemerintah Terhadap Pengembangan Wisata Hiu
- Pokdarwis
- Bumdes
- Sentra Wisata Hiu Paus Berbasis Masyarakat
Begitu pula dengan Bumdes di Desa Labuhan Jambu yang merupakan salah satu lembaga yang mengelola wisata hiu paus agar dapat berkembang dengan baik. Pemerintah daerah dan mitra bekerja sama dengan kota Labuan Jambu telah mempelajari agregasi hiu paus Teluk Saleh (Teluk Saleh) sejak tahun 2017. Hingga tahun 2022, 98 individu hiu paus telah teridentifikasi di teluk tersebut, namun kami belum mengetahuinya. berapa jumlah seluruhnya.
Faktor-faktor yang mempengaruhi partisipasi masyarakat Desa Labuhan Jambu dalam pengembangan pariwisata di Walvishai terbagi menjadi dua faktor yaitu faktor pendorong dan faktor penghambat. Hiu paus (Rhincodon typus) adalah ikan terbesar di dunia, tingginya mungkin mencapai 18 meter dan berat 20 ton. Populasi hiu paus di Indonesia merupakan kombinasi dari beberapa kelompok penduduk dan musiman, termasuk Teluk Saleh.
Kelompok hiu paus yang bermigrasi ke perairan tertentu diduga didorong oleh keberadaan sumber makanan yang melimpah di perairan tersebut. Koordinasi: untuk memastikan pengelolaan hiu paus dapat dilakukan secara terpadu, disediakan fasilitas komunikasi grup WA (aparat desa, masyarakat, dll). Pelayanan wisata hiu paus berbasis komunitas di Desa Labuhan Jambu meliputi: homestay, transportasi, pelayanan makanan dan minuman, pemandu snorkeling dan atraksi tambahan.
Speedboat merupakan salah satu jenis transportasi laut yang dapat digunakan untuk menuju Bagan yang terkenal terdapat hiu paus.
Peran Pokdarwis Dalam Pengembangan Wisata Hiu Paus Di
- Memperkenalkan, Melestarikan Dan Memanfaatkan
- Mengelola Wisata Hiu Paus Desa Labuhan Jambu
- Bekerjasama Dengan Stakeholder Atau Organisasi
Peran Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Labuhan Jambu dalam Mengembangkan Potensi Wisata Hiu Paus di Desa Labuhan Jambu, Kecamatan Tarano, Kabupaten Sumbawa; Seperti Desa Labuhan Jambu yang mempunyai potensi wisata berupa wisata hiu paus yang kemudian dikelola secara menarik. Memberikan dorongan, motivasi dan menciptakan peluang bagi masyarakat sebagai pelaku utama pengembangan wisata hiu paus;
Pengelola konservasi dan pariwisata hiu paus berbasis masyarakat adalah Badan Usaha Milik Desa Labuhan Jambu dengan struktur organisasi sebagaimana tercantum dalam lampiran keputusan ini. Pengelola mempunyai wewenang dan tanggung jawab untuk mengelola konservasi hiu paus dan pariwisata masyarakat di dalam dan di luar Desa Labuhan Jambu sebagaimana tercantum dalam lampiran keputusan ini. Masa jabatan pengelola wisata hiu paus terhitung sejak tanggal yang ditentukan dan kemudian diperpanjang kembali melalui musyawarah.
Segala sesuatu yang berkaitan dengan wisata hiu paus, seperti keuangan dan kerusakan peta penangkapan ikan, oleh karena itu menjadi tanggung jawab BUMDes Labuhan Jambu. Begitu pula dengan pokdarwis di Desa Labuhan Jambu yang juga bekerja sama dengan pemangku kepentingan lainnya seperti pihak desa dalam pengembangan wisata hiu paus. Kami berharap kementerian lain dan pemerintah daerah dapat bekerja sama dalam mengembangkan wisata hiu paus.
Ajak juga masyarakat untuk mengikuti seminar tentang pentingnya menjaga dan mengembangkan wisata hiu paus itu sendiri.”38.
Kendala Yang Dihadapi Pokdarwis Dalam Pengembangan
- Minimnya Sumber Daya Manusia (SDM)
- Manajemen Pengelolaan
- Keterbataan Anggaran
- Kurangnya Kesadaran Masyarakat Tentang Keberadaan
Sumber daya manusia dapat dikatakan menghambat perkembangan wisata hiu paus jika melakukan tindakan yang tidak sesuai aturan. “Namun disini kami mencoba berkolaborasi dengan sumber daya manusia yang ada di desa Labuhan Jambu untuk menyediakan layanan wisata hiu paus berbasis komunitas di bawah naungan BUMDe Labuhan Jambu.”40. Sebab sejak dibukanya wisata hiu paus kita masih banyak yang kurang, termasuk pengelolaannya.
Kita tidak bisa mengelola sistem tiket di satu tempat, dan hal ini juga menjadi salah satu faktor penghambatnya, sehingga pengelolaan wisata hiu paus belum maksimal dari sistem pengelolaannya, karena ketika data wisata dibutuhkan maka kita akan kesulitan dalam mendapatkannya. data akurat jumlah wisatawan yang datang ke pelabuhan Jambu atau yang melihat hiu paus.”41. “Sistem pengelolaan wisata cetacea di desa Labuhan Jambu masih belum maksimal, salah satu faktornya adalah kurangnya komunikasi antara pengelola dan operator yang terlibat di dalamnya, sehingga sering terjadi miskomunikasi antara pengelola dan operator.” 42. Salah satu kendalanya adanya kekurangan anggaran dalam pengembangan wisata cetacea di desa Labuhan Jambu.
Keterbatasan dana anggaran menjadi kendala kami untuk bisa mengembangkan wisata hiu paus, karena apapun yang ingin kami kembangkan atau bangun selalu berkaitan dengan anggaran. “Anggaran juga menjadi salah satu kendala dalam pengembangan wisata hiu paus, karena proses untuk memajukan wisata hiu paus memerlukan dana yang cukup besar, padahal selama ini kami hanya menerima dana dari pemerintah kota dan Kementerian. Kelautan dan Perikanan.”44 .Kurangnya kesadaran masyarakat terhadap keberadaan wisata hiu paus sebagai objek wisata yang perlu dikembangkan. Paus merupakan salah satu objek wisata yang perlu dikembangkan.
Kurangnya kesadaran masyarakat terhadap pihak pengelola untuk mengembangkan wisata hiu paus, terdapat sebagian oknum yang berperan sebagai operator ilegal yang mengambil wisatawan yang kurang kooperatif.
PEMBAHASAN
Analisis Peran Pokdarwis Dalam Pengembangan Wisata
PENUTUP
KESIMPULAN
Peran Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Labuhan Jambu dalam pengembangan potensi wisata hiu paus di desa Labuhan Jambu, Kecamatan Tarano, Kabupaten Sumbawa; 1)..Introduksi, konservasi dan pemanfaatan potensi wisata di Desa Labuhan Jambu, 2). Kendala yang dihadapi Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Labuhan Jambu dalam mengembangkan potensi wisata hiu paus di Desa Labuhan Jambu, Kecamatan Tarano, Kabupaten Sumbawa; 1).
SARAN
Kurangnya kesadaran masyarakat terhadap keberadaan wisata hiu paus sebagai objek wisata yang perlu dikembangkan. Alandera Elsa, “Upaya Kelompok Sadar Wisata Bukit Pangonan Dalam Membangun Masyarakat Sadar Wisata di Desa Pajaresuk Kabupaten Pringsewu”, Skripsi, Lampung: FDIK UIN Raden Intan Lampung, 2018. Kontribusi Upaya Pengembangan Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata), Edu Geografi, Vol 5, Nomor 2, Juli 2017.
Arifin Zainudin Ahmad, “Peran Pemerintah Daerah Dalam Pengembangan Kawasan Desa Wisata di Desa Bintan Bekapur, Desa Bintan Bekapur, Desa Bintan Buyu, Kecamatan Teluk Bintan, Kabupaten Bintan”, Skripsi, Tanjung Pinang: Universitas Maritim Raja Ali Haji, 2017 Farida Anisa, “Kontribusi Edukasi Pokdarwis (Kelompok Penjangkauan Pariwisata) Terhadap Upaya Pengembangan Desa Wisata” Edu Geografi, Volume 5, Edisi 2 Juli 2017. Gintulangi Lestari Sri, “Peran Kelompok Penjangkauan Pariwisata Dalam Pengembangan Pariwisata Botubarani Kecamatan Kabila Bone, Kabupaten Bone Bolango”, JPPE, Vol.
Nurfadila, “Peran Pemerintah Dalam Pengelolaan Obyek Wisata Alam Lewaja di Kabupaten Enrekang,” Skripsi, Makassar: Universitas Muhammadiyah Makassar, 2018. Suranny Eka Lilyk, “Mengembangkan Potensi Desa Wisata Dalam Rangka Peningkatan Perekonomian Perdesaan di Wonogiri Regency", Litbang Sukowati, Jilid 5, Nomor 1. Theofilus Retmana Putra, Peran Pokdarwis Dalam Pengembangan Daya Tarik Wisata di Desa Wisata Tembi Kecamatan Sewon Kabupaten Bantul, Biro Penerbitan Planologi Undip, Vol.9, No.